Museum Huruf (Font Museum): Jember Punya Destinasi Wisata Literasi dan Sejarah Baru

Penulis:  Prita Hw
-September 5, 2017

Museum Huruf lahir atas dasar persamaan mimpi, kegelisahan, keinginan, dan asa ingin memberikan setitik sumbangsih. Juga kebanggaan bagi tempat dimana kami lahir dan tumbuh. Kami sebagai pemuda Jember mencoba untuk memberikan ruang media dialektika bagi generasi penerus bangsa dalam bentuk museum… – Ade Sidiq Permana

Sepenggal pembuka yang terkesan heroik dan menyimpan semangat luar biasa itu bisa dibaca pada lembar undangan pembukaan (grand opening) Museum Huruf (Font Museum) yang terintegrasi dengan Perpustakaan yang dibuka untuk publik. Pembukaan itu diadakan tepat sehari sebelum malam takbir Idul Adha 1438 H bergema, yaitu pada Rabu, 30 Agustus 2017.

Museum Huruf dan perpustakaan ini sendiri berada tepat di kawasan Semanggi, Jl. Bengawan Solo 27 Jember. Tak hanya museum dan perpustakaan saja, di tempat ini juga terdapat cafe, studio tattoo, souvenir shop Buncis Room, juga homebase sebuah creative advertising bernama MIxmedia yang dimotori oleh Erik, yang juga si empunya tempat.

Lengkaplah sudah tempat ini menjadi ruang publik yang bisa dikunjungi kapan saja. Jika arek lokal ingin menikmati suasana yang nyaman senyaman di rumah sendiri dengan teras yang asri, tempat ini bisa menjadi pilihan.

Terlebih, Museum Huruf dan Perpustakaannya bisa jadi rujukan baru untuk tempat mengenal sejarah bermulanya aksara yang saat ini diakumulasi dan dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis untuk pengentar percakapan kita sehari-hari. Meski ukurannya tidak bisa dikatakan besar, sebuah ruang display utama yang kira-kira berukuran 3 x 5 cm itu cukup padat memuat berbagai koleksi museum.

Berbagai koleksi Museum Huruf yang bisa dinikmati itu terdiri dari koleksi pra aksara, koleksi aksara tertua di Indonesia, koleksi aksara nusantara (Jawa, Bugis, dan lain-lain), koleksi braille, dan koleksi aksara dunia (Jepang, Korea, India, dan lain-lain).

Koleksi-koleksi yang sebagian besar dibuat sendiri serta mendapatkan donasi itu nantinya tidak akan stagnan loh arek lokal, tapi akan terus berkembang. Bahkan, publik juga bisa mendonasikan aksara yang dimilikinya dalam bentuk media cetak, atau yang lainnya.

“Museum ini telah resmi terdaftar di Asosiasi Museum Daerah Jawa Timur dan Direktori Museum Seluruh Indonesia. Kami juga sudah mengirimkan perwakilan untuk pertemuan nasional di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Teman-teman relawan juga dilatih untuk memiliki kemampuan guiding dengan baik.”, begitu ungkap Ade Sidiq Permana, inisiator gagasan pendirian museum yang sekaligus bertindak sebagai Direktur Museum.

Ade meyakini bahwa hidupnya selalu bertalian dengan museum. Laki-laki yang sehari-harinya juga berjibaku dengan permuseuman di Probolinggo ini merasa belum memberikan sesuatu yang berarti untuk kota asalnya sendiri, Jember tercinta. Karena itu, ia berharap, ada museum dan perpustakaan ini menjadi ikon baru sekaligus semangat untuk melestarikan budaya literasi, khususnya aksara, serta membuka wawasan mengenai sejarah, dan perkembangan aksara dan budaya.

Niat tulusnya itu didukung penuh oleh Erik, sahabat sekaligus pemilik tempat yang merasa memiliki visi sama dengan Ade. Meski baginya bukan soal Jembernya yang utama, tapi soal memberikan suatu alternatif ruang publik yang bisa dimaksimalkan untuk kegiatan positif secara komunal.

Ke depan, Museum Huruf dan Perpustakaan ini akan diusahakan untuk dinaungi dalam suatu yayasan yang direncanakan bernama Institut Museum dan Cagar Budaya Nusantara yang sedang dirintis badan hukumnya. Maka dari itu, malam itu juga dibuka public fundraising bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi. Juga akan dikembangkan museum shop yang juga akan menjadi sumber pemasukan lainnya.

Malam itu hadir pula perwakilan Bupati Hj. Faida (Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember), Ibu Desak (Kepala Museum dan Perpustakaan Tembakau Kabupaten Jember), juga  Bapak Haryanto (Direktur Kopi Kahyangan PDP Kabupaten Jember). Semua mengatakan rasa bangga dan kesiapannya untuk bersinergi bersama untuk mendukung keberadaan Museum Huruf dan Perpustakaan ini.

Pun dengan berbagai komunitas kreatif Jember yang juga menambah semarak malam pembukaan yang dilanjutkan dengan tur keliling museum dan dipandu relawan guide. Berbagai komunitas kreatif seperti Kampoeng Batja, Berbagi Happy, Blogger Jember Sueger, Youtuber Jember, Genbi, Komunitas Perupa Jember, Pena Hitam, dan sebagainya menyambut Museum Huruf dan Perpustakaan ini dengan semangat.

Buat arek lokal yang belum sempat berkunjung di malam pembukaan, tenang saja. Masih ada beberapa agenda menarik dalam waktu dekat yang bisa dipilih. Setelah sukses dengan workshopcetak saring dan sosialisasi program Museum Huruf dan Perpustakaan pada 2 September kemarin, pada 8 September pukul 19.00 juga akan ada launching koleksi aksara Sunda dan Seminar Sejarah Aksara Sunda. Dilanjutkan pada 9 Septembernya di waktu yang sama, akan diadakan apresiasi seni dan workshop penulisan aksara Sunda.

Jangan sampai ketinggalan ya rek! Catat juga jam buka dan official account nya :
Jam buka museum : 09.00 – 15.00

Sumber: https://lokalkarya.com/museum-huruf-jember.html

Museum Trinil

Menelusuri Kehidupan Manusia Purba di Museum Trinil TRINIL0003
Mengunjungi Museum Trinil, mengajak kita kembali ke dalam kehidupan jutaan tahun yang lalu. Melihat lamanya waktu, sejarah ini pasti menceriterakan tentang kepurbakalaan. Satu-satunya situs kepurbakalaan berada di Ngawi Jawa Timur adalah Museum Trinil Di museum ini banyak sekali tersimpan fosil-fosil purba, mulai dari tengkorak manusia, gajah serta peralatan yang digunakan untuk mempertahankan diri pada zaman itu.Museum Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kec. Kedunggalar, Kabupaten Ngawi dengan jarak tempuh sekitar 14 km ke arah barat dari pusat kota Ngawi.Sepanjang perjalanan menuju museum kita bisa menikmati indahnya pemandangan desa yang sangat rimbun yang dipenuhi pohon bambu serta rumah penduduk yang memiliki ciri khas pedesaan terbuat dari bambu.TRINIL0004Pintu gerbang museum yang sangat sederhana terlihat setelah masuk ke dalam, sekitar satu kilometer dari jalan raya utama. Memasuki wilayah museum kita harus melapor ke pos penjagaan. Situs Trinil, menurut penelitian, merupakan salah satu tempat hunian kehidupan purba pada zaman Pleistosen Tengahsekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Situs Trinil ini amat penting sebab di situs ini selain ditemukan data manusia purba juga menyimpan bukti konkrit tentang lingkungannya, baik flora maupun faunanya. Museum ini dikelola bersama oleh Pemda Kabupaten Ngawi dan Dirjen Kebudayaan, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jatim yang berada di Trowulan, Mojokerto. Isi Museum Trinil Menginjakkan kaki di halaman museum, wisatawan disambut dengan bangunan gapura museum dengan latar belakang patung gajah purba. Patung gajah ini cukup besar untuk ukuran gajah sekarang, dengan gading yang sangat panjang, dan anatominya lebih mirip Mammoth tetapi tanpa bulu. Selain patung gajah, juga terdapat monumen penemuan Pithecan­thropus erectus yang dibuat oleh Dubois. Pada mo­numen, tertulis: P.e. 175m (gambar anak panah), ONO serta di bawahnya tertera 1891/95. Artinya Pithecanthropus erectus (P.e.) dite­mukan sekitar 175 meter dari monu­men itu, mengikuti arah tanda panah (arah barat daya), pada ekskavasi yang dilakukan dari tahun 1891 hingga 1895. Begitu masuk museum jajaran redaksi Prasetya menemui Pak Sujono juru kunci yang juga cucu dari Wirodihardjo atau Wiro Balung, tokoh yang peduli pada fosil pada jaman Belanda. Setelah cukup menikmati patung gajah dan monumen, wisatawan bisa menggali informasi lebih jauh dengan melihat koleksi museum yang jumlahnya mencapai 1.200 fosil terdiri dari 130 jenis. Di dalam Museum dipamerkan beberapa replika fosil manusia purba berupa replika Phitecantropus Erectus yang ditemukan di Karang Tengah (Ngawi), Phitecantropus Erectus yang ditemukan di Trinil (Ngawi), serta fosil-fosil yang berasal dari Afrika dan Jerman, yakni Australopithecus Afrinacus dan Homo Neanderthalensis. Kendati hanya berupa replika, namun fosil tersebut dibuat mendekati bentuk aslinya. Sementara fosil-fosil yang asli disimpan di beberapa museum di Belanda dan Jerman.Di dalam museum pengunjung bisa menyaksikan diorama manusia purba serta tulang-tulang manusia purba seperti fosil tengkorak manusia purba (Phite­cantropus Erectus Cranium Karang Tengah Ngawi), fosil tengkorak manusia purba (Pithecantropus Erectus Cranium Trinil – Trinil Area), fosil gigi geraham atas gajah (Stegodon Trigonocephalus Upper Molar Trinil Area), fosil tulang paha manusia purba (Phitecantropus Erectus Femur Trinil Area), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau Horn Trinil Area), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus Horn Trinil Area) dan fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus Ivory Trinil Area). Selain itu terdapat beberapa fosil tengkorak beserta peta sebarannya di seluruh dunia dilengkapi dengan lampu-lampu kecil seperti : Australopithecus Afrinacus Cranium Taung Bostwana Afrika Selatan, Homo Neanderthalensis Cranium Neander Dusseldorf Jerman dan Homo Sapiens Cranium. Yang tak kalah menarikny adalah adanya sebuah tugu tempat penemuan manusia purba. Selain fosil manusia. Di dalam museum juga dipamerkan fosil tulang rahang bawah macan (Felis Tigris), fosil gigi geraham atas gajah (Ste­godon Trigonocephalus), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus), serta fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus). Fosil-fosil hewan ini umumnya lebih besar dan panjang daripada ukuran hewan sekarang. Misalnya saja fosil gading gajah purba yang panjangnya mencapai 3,15 meter—bandingkan dengan gajah sekarang yang panjang gadingnya tak lebih dari 1,5 meter. Cikal-bakal Museum Trinil Wirodihardjo atau Wiro Balung (60 tahun) dari Kelurahan Kawu Adalah seorang sukarelawan yang menyadari bahwa tugu itu mempunyai makna besar dan sangat berguna bagi penelitian selanjutnya. Wajar jika dia berpendapat begitu, karena ia telah ikut ekspedisi yang dilakukan oleh ilmuwan Eugene Dubois dan Salenka. Kedatangan orang asing tersebut adalah mahasiswa yang datang silih berganti untuk melakukan ekspedisi dengan biaya yang mahal. Oleh karena itu, sebagai putra daerah, ia merasa ikut bertanggungjawab atas kelestarian tempat itu, dan melanjutkan eksplorasi. Kehadiran Wirodiharjo di Trinil sangat berarti, karena ia menjadi tempat untuk bertanya bagi para pengunjung tentang fosil di Trinil. Pada awalnya, walaupun tempat tersebut sekarang terkenal sebagai daerah fosil, namun waktu itu tidak satupun fosil ia temukan di Trinil. Untuk itu ia mengumpulkan setiap fosil yang ditemukan warga di Sungai Bengawan Solo dengan cara membeli atau ditukar dengan barang atau beras sesuai permintaan warga. Dari hari ke hari, fosil yang dikumpulkan dari tiga desa, sebelah barat Desa Kawu, sebelah utara Desa Gemarang dan sebelah timur Desa Ngancar semakin bertambah banyak. Setelah ditinjau oleh Kepala Seksi Kebudayaan Depdikbud Ngawi, Mukiyo, ia mendapat bantuan tiga almari untuk menyimpan fosil-fosil yang terkumpul. Sejak saat itulah, Wirodiharjo terkenal dengan sebutan Wiro Balung, yang berarti Pak Wiro yang suka mengumpulkan tulang (balung-balung). Pada tahun 1980/1981 Pemprov Jatim mendirikan museum untuk menampung fosil-fosil di atas lahan Wiro Balung yang peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Jatim “Soelarso” pada 20 Nopember 1991. Namun sayang, Wiro Balung tidak bisa menyaksikan peiesmian karena dia telah meninggal dunia pada 1 April 1990 akibat kecelakaan. Setelah Wiro Balung meninggal dunia, keahliannya diteruskan anaknya. Wajah Museum MendatangTRINIL0002 Nama museum Trinil telah dikenal oleh dunia kepurbakalaan. Tapi sayang, masyarakat Ngawi yang notabene sebagai tuan rumah sangat jarang berkunjung ke museum ini. Hal ini terlihat saat tim Prasetya berbincang dengan siswa Sekolah Kesehatan Ngawi, bernama Siska mengungkapkan, Museum ini sangat berguna bagi ilmu pengetahuan, agar kita tahu kehidupan jaman purba. Namun sayang, kondisinya kurang terawat. “Saya berharap museum ini mempunyai fasilitas pendukung yang lain agar lebih banyak masyarakat yang mau berkunjung,” ujarnya. Untuk kembali menarik pengunjung, pihak pengelola telah menata secara rapi taman-taman di sekitar areal museum terlihat bersih, indah, dan asri. Di depan museum juga terdapat pendopo yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat. Untuk wisata sejarah, yang mengurus bukan Pemkab tapi Pemprov. Jadi pemkab hanya menvediakan lahan dan kemudian Pemprov membangunnya,” pintanya. Kita semua pasti berharap, Museum Trinil bisa segera dibenahi, dan menjadi tempat favorit wisata agar wilayah museum menjadi ramai dan geliat ekonomi masyarakat setempat dapat dapat terangkat. ❖

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾ Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Volume V, No. 53, Mei 2013

Situs Gua Gembul, Kabupaten Tuban

Gua Gembul terletak di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, barat daya kota Tuban. Menurut cerita rakyat yang beredar di masyarakat luas, dulu gua itu tempat persembunyian Brandal Lokajaya atau Raden Mas Syahid (kemudian bernama Sunan Kalijaga), putera Bupati Wilatikta Tuban, sewaktu masih gernar bertingkah sebagai seorang penyamun. Cerita lain mengatakan gua itu tempat berkumpul dan bermusyawarah para wali (Wali Songo).

Menurut keterangan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahwa di Gembul dulunya pernah dipakai sebagai tempat berkumpulnya tentara rakyat yang dipimpin Sunan Bonang dengan panglimanya Sayyid Abdurrahman yang terkenal dengan nama Ki Ageng Ganjur (masih leluhur Gus Dur). Ki Ageng Ganjur hidup saat Kerajaan Majapahit akan jatuh. Dulu berkumpulnya di Gembul. Ia diberi nama Ki Ageng Ganjur, konon ia menggunakan “genjur” yaitu sejenis alat gamelan untuk mengomando pasukan. Ki Ageng Ganjur ini ditunjuk sebagai panglima perang Wali Songo sebab ia paling mahir membuat jembatan. Disamping itu, tentara Wali Songo yang akan menyerbu Majapahit itu harus menyeberangi dua sungai besar, yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo.

Ki Ageng Ganjur ini, meski sudah jadi penglima perang, namun ia dalam perjuangannya tetap melanjutkan adatnya para ulama di Tanah Jawa. Ulama itu tradisinya membentuk kekuatan sendiri di masyarakat.Sekarang beliau dimakamkan di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah).Demikian keterangan Gus Dur pada saat menjadi Presiden Republik Indonesia hadir dalam acara Haul Buyutnya KH Asy’ari yang dimakamkan di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang, tahun 2001.Haul diadakan di Pesantren Al Asy’ari Jombang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Tuban Bumi Wali; The Spirit of Harmony, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, hlm.

Makam Mbah Kartowijoyo, Kabupaten Tuban

Secara administratif Situs Bandungrejo dan Makam Mbah Kartowijoyo terletak di Desa Bandungrejo Kecamatan Plumpang, dan secara astronomis berada pada 7°5’0″ LS dan 112°6’31” BT. Keberadaan makam yang terletak di dalam cungkup di Astana Krebut Desa Bandungrejo Kecamatan Plumpang ini sekarang dikenal dengan nama makam Mbah Kartowijoyo. Nama beliau seperti yang tertulis di papan kayu di Astana Krebut adalah Sayyid Abdurrahman Abu Bakar Husein.

Di Astana Krebut Desa Bandungrejo terdapat dua buah batu prasasti, disebut Prasasti Bandungrejo atau Prasasti Tuban, berangka tahun 1277 Saka atau 1355 Masehi. Prasasti Tuban ini terbuat dari batu sebanyak dua buah, yang angka tahun dan isinya bersamaan, ditemukan di Desa Bandungrejo dan merupakan satu-satunya prasasti yang menyebut nama Tuban secara langsung dan jelas. Transkripsi prasasti ini diterjemahkan oleh Drs. Soekarto Kartoatmojo pada tahun 1980. Prasasti ini menyebutkan bahwa pembe- rontakan di tepi sungai dapat dipadamkan oleh orang-orang Tuban (pati kadi dasa hakuti tuban), sehingga dapat aman dan sentosa.

Transkripsi Prasasti Tuban I, adalah sebagai berikut:

  1. isika, irika… dewasaning alaga,
  2. om, takala ni nadhitira,
  3. pati kadi dasa hakuti tuban,
  4. kaparitata sakani-keni dadi rasa jana tata.

Terjemahartnya:

  1. Tahun saka, ketika ada peperangan.
  2. Om, ketika ada peperangan di tepi sungai.
  3. Dapat dipadamkan orang-orang Kuti Tuban.
  4. Dapat tenteram, akhirnya menjadi masyarakat yang aman sejahtera.

Dalam buku Catatan Sejarah 700 Tahun Tuban menyebutkan bahwa menurut cerita rakyat dikatakan ada seorang Pangeran dari Mataram, yang dicintai oleh permaisuri raja Mataram. Kemudian mereka lari menggunakan gethek (perahu kecil) di Bengawan Solo, mengikuti aliran sungai dan menghilir, akhirnya sampai di daerah rawa di Desa Bandungrejo. Ia kemudian mengabdi kepada Kyai Jiwonolo, yang juga disebut Kyai Klebet.

Sedangkan menurut penuturan H. Sunoto, juru kunci makam, Mbah Kartowijoyo adalah seorang Senopati (panglima perang) yang berperang melawan kompeni Belanda pada masa Kerajaan Mataram

dipimpin oleh Amangkurat 11(1677-1703). Menurut silsilah yang berasal dari H. Sunoto, silsilah Mbah Kartowijoyo adalah seBagai berikut.

Para Pemimpin Kesultanan Banten :

  1. Sunan Gunungjati (1479-1568)
  2. Sultan Maulana Hasanuddin (1552 – 1570)
  3. Pangeran Yusuf (1570-1580).
  4. Maulana Muhammad (Banten, 1585-1590).
  5. Abdul MufakirMahmud Abdul Kadir (1605-1640).
  6. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad (1640 -1650)
  7. Sultan Ageng Tirtoyoso (1651-1680).

Sultan Ageng Tirtoyoso menurunkan:

  1. Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) (1683-1687)
  2. Pangeran Purbaya.

Para Pemimpin Kesultanan Cirebon:

  1. Fatahillah (1568-1570)
  2. Pangeran Pasarean
  3. Pangeran Dipati (wafat 1565)
  4. Pangeran Emas/Panembahan Ratu I (1570-1649)
  5. Pangeran Dipati Sedo ing Gayam (Panembahan Adiningkusuma), wafat lebih dulu sehingga digantikan oleh putranya, Pangeran Girilaya. Ia memakai gelar ayahnya Panembahan Adiningkusuma.
  6. Pangeran Rasmi/Pangeran Karim/Pangeran Girilaya/ Panembahan Adiningkusuma/Panembahan Ratu II (1649-1677).

Beliau adalah menantu Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram. Makamnya ada di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat dengan makam raja- raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul. Pangeran Girilaya mempunyai 3 anak, yaitu:

  1. Pangeran Martawijaya (1677-1703),
  2. Pangeran Kartawijaya (1677-1723),
  3. Pangeran Wangsakerta(1677-1713).

Dengan kematian Pangeran Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa.Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten.Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo, yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram.Dengan bantuan Trunojoyo, maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon.

Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing- masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:

  1. Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin.
  2. Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin.
  3. Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati.

Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya irii dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten.Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing.Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan.

Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi   berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tuban Bumi Wali; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm. 223-224

Makam Kyai Madyani Ishak, Kabupaten Tuban

Kyai Madyani Ishak dimakamkan di pemakaman keluarga Nglaren, Rengel, Tuban (sebelah barat Pondok Pesantren Darus- sholih).Cerita rakyat Tuban yang sampai saat ini masih dikenal masyarakat adalah kisah kepahlawanan Kyai Madyani Ishak ketika berhasil membinasakan uling putih (sejenis belut sangat besar berwarna putih) di Sendang Beron, Rengel, Tuban.Versi lisan menyebutkan bahwa pada masa kekuasaan Belanda, Sendang Beron berusaha untuk dijadikan waduk sehingga dapat bermanfaat bagi pertanian. Namun, usaha itu gagal karena tanggul yang dibangun selalu jebol. Penyebab jebolnya tanggul itu akhirnya diketahui bahwa seekor uling putih-lah pelakunya.Semua usaha telah dilakukan oleh Belanda untuk membinasakan uling putih tersebut.Namun, usaha itu sia-sia.

Belanda akhirnya mengadakan sayembara untuk membinasakan uling putih.Kyai Madyani Ishak, putra kelahiran Tuban merasa terpanggil dengan pertimbangan bahwa fungsi bendungan itu akan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kyai Madyani Ishak bersedia untuk mengikuti sayembara.Syaratnya, beliau minta disediakan satu rakit (dua ekor) kerbau untuk menarik uling putih itu dari dasar Sendang Beron.Setelah berdoa, dengan segenap ilmu yang dimiliki, Kyai Madyani bertarung melawan uling putih.Akhirnya, uling putih itu berhasil dibinasakan. Uling putih kemudian ditali dan ditarik dengan satu rakit kerbau yang telah disiapkan. Bangkai uling putih yang berhasil ditarik dari dasar sendang kemudian dikubur di sebelah barat Sendang Beron.Atas keberhasilannya, Kyai Madyani Ishak mendapatkan sebidang tanah di Santren, Rengel, Tuban.

Pertanyaannya, apakah Kyai Madyani Ishak itu hanya sekedar tokoh fiksi ataukah beliau memang hidup dan berkiprah di dunia nyata? Na’im (1992) menyatakan bahwa figur Kyai Madyani Ishak memang merupakan fakta.Hal tersebut dapat dibaca dari pohon silsilah (bertulis huruf Arab) yang ditulisnya.Kyai Madyani Ishak merupakan menantu dari Kyai Harun (Kyai Sholeh Awwal bin Kyai Qomaruddin) dari Sampurnan, Bungah, Gresik.

Salah satu keturunan yang masih menyimpan silsilah tersebut adalah M. Asyaddul Ghufron Zamroni bin Ahmad Zaenal Muslim Al Mukhtar, warga Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Zamroni menuturkan bahwa Kyai Madyani Ishak adalah putra Demang Jono dari Desa Mayang, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Demang Jono adalah putra Abu Jono bin Kyai Abdul Jabbar dari istri Moyo Kerti. Tokoh Moyo Kerti berasal dari Padangan, Bojonegoro.Beliau putri dari Rowo Bayan.

Kyai Madyani Ishak oleh orang tuanya diperintah untuk ber- guru ilmu agama kepada Kyai Harun/Kyai Sholeh Awwal bin Kyai Qomaruddin di Sampurnan, Bungah, Gresik. Ketika menjadi santri, tanda-tanda keistimewaan yang dimiliki oleh Kyai Madyani Ishak sudah diketahui oleh gurunya yaitu Kyai Harun.Oleh karena itu, Kyai Madyani Ishak kemudian diambil menantu oleh Kyai Harun. Beliau dijodohkan dengan putri ke-4 Kyai Harun bernama Rosiyah.

Mengenai kapan Kyai Madyani Ishak hidup dan berjuang di jalan Allah, hal ini dapat dirunut dari kitab-kitab tulisan tangan berhuruf Arab yang diwariskannya.M.Asyaddul Ghufron Zamroni masih menyimpan enam kitab peninggalan beliau.Kitab yang bersampul kulit itu berisi tasyawuf, fiqih, dan taukhid.Sekilas, isi kitab-kitab tersebut dapat diprediksi sebagai ilmu hasil mengaji di Sampurnan, Bungah, Gresik yang ditulis tangan bertahun-tahun kemudian dibukukan.

Pada Kitab Al-Mukharror yang membahas fiqih, di dalamnya ditemukan angka tahun 1241 Hijriah atau tahun Jim Akhir ditulis di Sampurnan (fi qoryatil kamali= Desa Sampurnan, Bungah, Gresik).

Pada Kitab Ushul ditemukan keterangan: ditulis pada hari Senin Wage, setelah Subuh, bulan Dzulkoqdah, tanggal 20 tahun Alip 1249. Bahkan, ditemukan keterangan pada waktu itu beliau berusia 23 tahun.

Merunut dari tahun yang ditemukan di dalam kitab-kitab peninggalan beliau, keberadaan Kyai Madyani Ishak berkisar tahun 1800-an. Ketika itu, Belanda masih menguasai tanah air.Tuban pada masa itu merupakan wilayah kekuasaan Mataram.Hal ini sebagaimana pendapat Sedyawati, dkk.(1997:41) meskipun masih merupakan daerah kekuasaan Mataram, namun pada tahun 1746 Gubernur Jenderal Imhoff menempatkan Tuban di bawah Rembang. Ketika Deandels berkuasa (1808) Tuban menjadi onderprefect Gresik, kemudian dikembalikan Raftles pada Rembang ketika Inggris menguasai kepulauan Nusantara.

Sumber lisan yang menyatakan bahwa pada suatu ketika Belanda mengadakan sayembara untuk membinasakan uling putih yang mengganggu pembangunan tanggul Sendang Beron, Rengel, Tuban memang tidak ditemukan bukti-bukti sejarah.Namun, setidaknya dengan membaca pendapat Sedyawati, dkk. (1997:9) yang menyatakan bahwa pada waktu Belanda berkuasa, Tuban merupakan wilayah Rembang dibagi kedalam distrik: Bancar, Jenu, Rembes, Rengel, Singgahan, dan Jatirogo menjadi benang merah yang dapat menghubungkan keberadaan Kyai Madyani Ishak dengan masa 1800-an.

Pernikahan KyaiMadyani Ishak dan Nyai Rosiyah dikarunia 9 putra, yaitu:

  1. Nyai Baidloh (istri dari Kyai Abdussalam; santri yang diambil menantu Kyai Madyani).Kyai Abdussalam dimakamkan di Santren, Rengel, Tuban.Sedangkan Nyai Baidloh dimakamkan di Sampurnan, Bungah, Gresik).
  2. Kyai Nawawi (Kyai Sholeh Tsani, makam di Sampurnan Bungah. Pemangku Pondok Qomaruddin yang ke-4).
  3. Nyai Maryam istri Kyai Maulono Nguruan, Soko
  4. Kyai Rawi, Rengel
  5. Nyai Aisyah istri dari Kyai Abdul Karim, Rengel
  6. Nyai Fatimah istri H. Ali, Padangan
  7. M. Qurais, Rengel
  8. Nyai Asiyah
  9. Nyai Khannah (istri H. Hasan dari Ngraho, Bojonegoro)

Tidak ada keterangan yang jelas tentang kapan wafatnya Kyai Madyani Ishak. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga Nglaren, Rengel, Tuban (sebelah barat Pondok Pesantren Darussholih). Di kompleks pemakaman tersebut disemayamkan, antara lain:

  1. Kyai Madyani Ishak
  2. Nyai Rosiyah (istri pertama)
  3. Nyai Azdiyah (istri kedua)
  4. Kyai Abdurrohim (menantu)
  5. Kyai M. Rowi, dan
  6. Nyai Fatimah (istri Kyai M. Rowi).

Haul Kyai Madyani Ishak biasa dilaksanakan pada bulan Muharram, tepatnya hari Kamis setelah tanggal 20 Hijriah. Acara yang digelar pukul 13.00 sampai selesai itu diisi dengan acara tahlil dan pengajian umum.Biasanya dihadiri oleh keluarga dari Pondok Pesantren Bungah, Gresik, keluarga, alim ulama, tokoh masyarakat, dan masyarakat sekitar Rengel.

Menurut M. Asyaddul Ghufron Zamroni, peninggalan Kyai Madyani Ishak adalah sebuah langgar yang ada di Santren, Rengel.

Langgar itu telah mengalami berkali-kali pemugaran.Tidak ada sumber tertulis lairmya yang tersisa di langgar yang pertama kali didirikan Kyai Madyani Ishak.

M. Asyaddul Ghufron Zamroni juga menuturkan bahwa keturunan Kyai Madyani Ishak dilarang menanam ubi talas. Alasannya, ada gugon tuhon dari para leluluhurnya, ketika itu ada pohon kelapa yang tiba-tiba tumbang. Secara akal, pohon kelapa itu pastilah menimpa kediaman Kyai Madyani Ishak. Namun, kekuasaan Allah berkehendak lain. Ada serumpun tumbuhan ubi talas yang sanggup menopang pohon kelapa tersebut sehingga tidak menimpa kediaman Kyai Madyani Ishak. Apabila pantangan itu dilanggar, biasanya di sekitar rumah si penanam ubi talas akan banyak ular atau ulat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TUBAN BUMI WALI: The spirit of harmoni. Tuban, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm. 217

Makam Nyai Ageng Manyuro, Kabupaten Tuban

FOTO MAKAM Ki Ageng ManyuroDi Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Tuban, terdapat makam Nyai Ageng Manyuro salah seorang putri sunan ampel,  Nyai Ageng Manyuro dikenal pula dengan Nyai Siti Shari’ah, atau juga disebut Nyai Ageng Ganggeng.

Nama Nyai Ageng Manyuro hanyalah sebuah sebutan sebab beliaua berSuamikan Kyai Ageng Manyuro, adalah seorang petinggi kerajaan di Demak Bintoro.

Dari nama Manyuro inilah kemudian dikenal dengan sebutan Panyuran yang terabadikan sebagai nama desa. Semula makam Nyai Ageng Manyuro sebenarnya dahulu terletak di Desa Panyuran berbatasan dengan Desa Tasikmadu.

Akan tetapi karena Desa Tasikmadu tidak memiliki makam desa, maka makam tersebut diberikan kepada Desa Tasikmadu.

Sekarang, makam Nyai Ageng Manyuro tersebut diakui sebagai wilayah Desa Tasikmadu

hlm. 200