Makam Mbah Jabbar, Kabupaten Tuban

Syekh Abdul Jabar ( Mbah Jabar)Pada mulanya makam Mbah Jabbar dibangun secara sederhana. Luasnya hanya beberapa meter persegi, cungkup makam beratapkan genteng dari tanah dengan dikelilingi tembok kayu.Pagar makam juga terbuat dari kayu. Di sebelah utara makam terdapat mushala yang dipersiapkan bagi para peziarah.Namun mushala ini tampak rapuh dan tua. Pada tahun 1995 atas persetujuan tokoh-tokoh Jojogan, mushala itu dipugar oleh Ny. Hj. Woeryanti Imam Soetopo SH. (Isteri Mantan Komandan Bataliyon Tentara Laut RI di Bojonegoro Oktober 1947-1948 bernama H. R. Imam Soetopo almarhum) sebagai cendera mata darinya.Pembangunan ini dilakukan berdasarkan wasiat suaminya yang lebih dahulu meninggal.

Mushola lama dipindah dan dialih-fungsikan sebagai peng- inapan (tempat menginap) bagi peziarah yang menginap beberapa hari, bulan bahkan bertahun-tahun lamanya.Sedangkan Mushalla

baru dibangun persis di depannya.Mushala itu diresmikan pada tangga 1 8 September tahun 1995. Sekitar tahun 2002, pembangunan di- mulai kembali. Kali ini tidak hanya mushala, akan tetapi semua fa- silitas makam dan bebe­rapa bangunan yang dianggap penting dibangun sedemikian rupa sehingga menjadi tampak megah dan nyaman.Nisan makam Mbah Jabbar dan dua orang isterinya diganti keramik dan dipagari besi stainless.Kain penutup makam juga diganti dengan kain kafan berwarna putih. Cungkup yang dulunya sempit, diperluas sehingga dapat memuat banyak peziarah.Pembangunan makam ini selesai dan diresmikan pada tanggal 31 Maret 2002.Peresmian makam dilaksanakan oleh H. R. Hoejojo Sosropratomo (putera Imam Soetopo almarhum).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm. 196

Makam Andong Wilis, Kabupaten Tuban

FOTO MAKAM Andong WilisDi dukuh Kepoh, Desa Panyuran, Kecamatan Palang, terdapat sebuah makam keramat, makam Kyai Andong Wilis.Makam keramat ini berada di wilayah pantai utara Desa Panyuran.Kesederhanaan makam ini masih sangat terasa.Berbeda dengan makam-makam wali lainnya yang sudah mengalami renovasi beberapa kali, maka makam ini masih dalam keadaan aslinyaAtap aslinya terbuat dari welit (daun kelapa yang dikeringkan dan ditata rapi) masih ditempatkan di tempat asalnya, meskipun di atasnya sudah diatapi genteng.Bangunan utama makam juga masih tetap, terdiri dari dua buah makam membujur ke utara, maesan di bagian kepala ditutup kain putih, dan lantai dari pasir laut serta kijing dari bangunan permanen yang sudah lapuk.Untuk memasuki kompleks makam, orang harus melewati pintu di sebelah tenggara yang berukuran kecil, sehingga orang harus membungkuk. Pendeknya ukuran pintu masuk, dimaksudkan agar orang yang akan masuk berposisi menghormat. Di sebelah selatan makam Andong Wilis dibangun sebuah naasjid, yang diberi nama Masjid Astana Andongwilis.

Makam ini digolongkan sebagai makam tua atau diperkirakan pada awal islamisasi di Jawa, yakni di sekitar pemerintahan Raden Patah.Andong Wilis bukan orang Jawa, tetapi berasal dari Madura. Dalam perjalanan ke barat untuk mendatangi putranya yang belajar agama di Bonang, maka sesampainya di Gresik terjadi pertempuran antara tentara Demak melawan tentara Majapahit.Beliau membela tentara Demak dari terbunuh, dan layon-nya mengambang sampai di Desa Panyuran.Oleli masyarakat, kemudian dimakamkan di pantai Panyuran tersebut.Menurut R. Soeparmo dalam Catatan Sejarah 700 tahun Tuban, Pangeran Andong Wilis berasal dari Pacangan Madura. Menilik nama ini ada kemungkinan yang dimakamkan di situ adalah salah seorang bangSAWan dari Madura.

Asal-usul mengenai Andong Wilis hanya dikenal lewat cerita, bahwa terdapat jenazah tanpa kepala yang ditemukan oleh pen- duduk setempat. Jfenazah ini tidak dapat dipindahkan ke liang lahat meskipun diangkat oleh banyak orang. Setelah maghrib, dari arah utara (laut) terdapat cahaya yang menyilaukan mata dan semakin menepi. Ternyata adalah kepala manusia.Potongan kepala itu semakin menepi dan kemudian tergeletak di dekat mayat tanpa kepala tersebut.Oleh masyarakat yang menunggu mayat, kepala manusia tersebut ditaruh di jasad orang yang meninggal.Tiba-tiba kepala itu menyambung kembali. Setelah kepala menyambung dengan badan, maka jenazah itu bisa diangkat dan dimasukkan ke dalam liang lahat. Untuk menandai

Berbeda dengan cerita sebelumnya, menurut penuturan KH Abdul Matin, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung Semanding, Syekh Andalusy adalah seorang penyiar agama Islam dari Andalusia, Spanyol. Beliau datang ke Nusantara bersama-sama rombongan Syekh Maulana Ibrahim Asmoro, ayahanda Sunan Ngampel. Saat itu, para penyebar agama Islam yang datang ke negeri- negeri jauh telah bersepakat, jika diantara mereka meninggal dunia dalam perjalanan, sementara jarak dengan daerah tujuan masih jauh, maka mayatnya terpaksa dilempar ke laut untuk mengurangi beban kapal dan agar tidak mengganggu perjalanan para mujahid lainnya. Atas takdir Allah, Syekh Andalusy meninggal dalam perjalanan laut menuju ke tanah Jawa. Mayatnya pun kemudian dilempar ke laut, dan dibawa ombak hingga ke tepian pantai Demak.Masyarakat yang menemukannya lalu menguburkan mayat itu, tidak jauh dari pantai tempat si mayat terdampar.

Tetapi belum genap sehari, makam Syekh Andalusy hilang termakan ombak pasang, dan mayatnya terseret hingga terdampar di pantai Lasem.Masyarakat setempat pun lalu menguburkannya di tempat itu.Namun lagi-lagi ombak laut merusak makamnya dan membawa jasad Syekh Andalusy hingga jauh ke tepian pantai Pamanyuran (Panyuran).Warga saat itu hendak mengembalikan jasad Syekh Andalusy ke Demak, karena telah mendengar kabar ada jasad seseorang dari daerah jauh yang hilang saat dikuburkan di Demak.Tetapi saat diangkat, tak ada seorangpun yang mampu mengangkatnya.

Datanglah kemudian Syekh Maulana Ishak yang memang sedang melacak jejak mayat sahabat mujahidnya itu.Setelah mendengar cerita dari warga setempat, Syekh Maulana Ishak lalu memutuskan agar mayat Syekh Andalusy dikubur saja di Dukuh Kepoh, Panyuran itu.Orang-orang tentu bertanya pada Maulana Ishak, itu mayat siapa.Oleh Maulana Ishak dijawab namanya Syekh Andalusy.Berhubung lidah orang Jawa saat itu belum terbiasa dengan lafaz asing, maka jadilah Andongwilis, sampai sekarang ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm.

Makam Syekh Gentaru, Kabupaten Tuban

Makam Syekh Rifa'i (Syekh Gentaru)Makam Syekh Gentaru berada di Dusun Kedungsari, Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Tuban.Menurut cerita yang ada di masyarakat,Syekh Rifa’i adalah ulama kondang di jaman Islam mulai masuk ke tanah Jawa yang dibawa para wali. Nama SyekhRifa’i sendiri memang tak setenar nama-nama para wali yang banyak tersebar di Tuban. Seperti Sunan Bonang, Maulana Ibrahim Asmoroqondi, Sunan Kalijaga, Sunan Bejagung maupun Sunan Geseng.

Akan tetapi keberadaan syiar Islam yang dilakukannya telah diketahui warga.Bahkan, Syekh ini pula dalam syiarnya acap memasuki daerah yang dikenal sebagai kawasan merah.Kawasan yang dihuni para gembong rampok dan begal.Karena ilmu kanuragan yang dimilikinya pula, Syekh ini dikenal sebagai tokoh penakluk. Apalagi konon, Syekh Rifa’i memiliki ilmu Rawa Rontek, yang bisa hidup kembali setelah jasadnya menyentuh tanah. Bahkan jika kepala dipenggal akan menyatu kembali jika tak dimakamkan secara terpisah.

Syeh Rifa’iselalu berpindah-pindah tempat semasa hidupnya. Setelah pengikutnya banyak dan mulai tersebar, Syekh kelahiran jazirah Arab ini akhirnya memutuskan uzlah (laku menyendiri) di Goa Yung Yang. Meski telah bertahun-tahun berkontemplasi dengan Sang Khaliq di dalam goa, namun ajaran dan syiarnya diteruskan para pengikutnya.

Alkisah, kala itu Tuban dipimpin Bupati Wilwatikta. Bupati yang juga orangtua Raden Said, termasuk penguasa yang gigih mempertahankan kekuasaannya.Tokoh ini pula yang dikenal se- bagai bupati yang tegas.Kompleks Goa Srunggo memang acap didatangi Bupati Wilwatikta, selepas berburu hewan buas di hutan jati wilayah setempat. Tak jarang pula ia mengajak istrinya dalam perburuan tersebut. Namun, sang istri selalu mendirikan kemah menunggu suami berburu di sekitar Goa Srunggo. Apalagi Srunggo merupakan goa yang mengeluarkan air bersih yang mengalir kesana kemari.Rindangnya pepohonan menjadikan lokasi ini pilihan penguasa Kabupaten Tuban untuk berwisata.

Di samping Goa Srunggo terdapat goa lain. Yakni Goa Yung Yang.Tempat Syekh Rifa’i bersemedi.Ia berniat mengakhiri hidupnya di goa tersebut sambil melakukan kontemplasi dengan Sang Khaliq. Karena kelebihan yang dimilikinya ia mampu bertahan hingga bertahun-tahun di dalam goa. Hanya sesekali ia ke luar untuk menemui para pengikutnya. Menurut keterangan warga setempat, dinding Goa Yung Yang dulu selalu muncul penampakan Syekh Rifa’i. Warga meyakini itu terjadi karena karomah dan kesaktian sang Syekh.

Istri Wilwatikta sempat menengok dalam goa Yung Yang. Hingga mengetahui di dinding ada penampakan pria ganteng yang santun tersebut.Bahkan, perempuan nomor satu di jajaran Kabupaten Tuban itu meminta suaminya agar sering berburu. Dengan cara itu ia bisa sering bertemu dengan Syekh Rifa’i, sekalipun sekadar melihat wajahnya di dinding goa. Wilwatikta pun akhirnya mencium keanehan dari permaisurinya. Ia pun memerintahkan aparatnyauntuk menelisik dan menyusuri lorong Goa Yung Yang.Disitulah ditemukan Syekh Rifa’i yang masih terlihat sebagai lelaki muda dan gagah.Sosok yang sering hadir dalam mimpi dan igauan istrinya.

Syekh Rifa’i pun akhirnya diseret ke luar goa.Ia diadili oleh Wilwatikta dengan tudingan telah membuat istrinya terpikat. Di tengah amuk api cemburu, Wilwatikta pun menjatuhkan hukuman pancung pada Syekh Rifa’i. Sekalipun Sang Syekh tetap ngotot tidak pernah sengaja menggoda istri penguasa Bumi Ranggalawe tersebut.

Akhirnya Syekh Rifa’i mengajukan syarat untuk membuktikan tidaksalahnya. Jika setelah dipancung darah yang ke luar dari tubuhnya berwarna merah, berarti dia memang bersalah.Akan tetapi jika yang ke luar darah putih berarti dirinya tidak bersalah. Syarat itu disetujui oleh Wilwatikta.Hukuman pancung pun dilakukan.Setelah kepalanya terpenggal yang keluar adalah darah putih.Cairan darah putih tersebut juga memunculkan aroma harum bunga. Selain itu setelah raganya menyentuh tanah, kepalanya kembali menyatu dengan badan, sang jasad pun kembali hidup. Beberapa kali hal itu terjadi, hingga akhirnya setelah kepalanya terpisah dimakamkan berjauhan, meski masih dalam kompleks sumber air Goa Srunggo.

Wilwatikta menyesali keputusannya.Dalam rasa sesal mendalam, penguasa Tuban itu meminta jasad Syekh Rifa’i dimakamkan secara baik.Bukan sebagai pesakitan yang telah melakukan tindak pidana. Sesuai pesan yang disampaikan para pengikutnya, badan Syekh Rifa’i pun akhirnya dimakamkan di wilayah Sidomukti, kini masuk wilayah Kecamatan Kota, Tuban. Sedangkan kepalanya dimakamkan di kompleks Goa Srunggo.Pusara kepala itu yang hingga kini masih banyak didatangi peziarah.Usai pemakaman Wilwatikta mengajak para prajuritnya kembali ke Pendapa Kabupaten Tuban yang berada di Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding, Tuban.

Namun sebelum beranjak terdengar suara tanpa rupa. Yang menyebut, “Siapapun pejabat di Tuban akan lengser jika menginjakkan kakinya di Goa Srunggo.” Sejak saat itu, namaSyekh Rifa’i telah tiada, oleh pengikutnya namanya diganti Syekh Gentaru, yang diambil dari darah putih dari badan beliau yang berbau harum.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm. 214-217

Makam Sunan Geseng, Kabupaten Tuban

Makam Sunan GesengMakam Sunan Geseng terletak di Dusun Pakah Desa Gesing Kecamatan Semanding Tuban.  Sunan Geseng adalah murid dari Sunan Kalijaga.Sebutan Sunan Geseng diberikan Sunan Kalijaga kepada Kyai Cokrojoyo karena begitu setia terhadap perintahnya sehingga merelakan badannya menjadi hangus (geseng).

Dikisahkan, pada suatu siang yang terik, Sunan Kalijaga berjalan melewati pepohonan siwalan (enau, nira, kawung). Di atas pohon tersebut ada seorang lelaki tua bernama Cokrojoyo dari Desa Gesing, sedang menderes buah siwalan (mengambil sari siwalan untuk dibuat gula nira; nyadap kawung).

Sambil melepas lelah di bawah pohon itu, Sunan Kalijaga mendengar Cokrojoyo menyanyikan sebuah tembang :

“Lilo-lilo … lilo-lilo … lilo-lilo …”

Berulang kali tembang itu dinyanyikannya.Sang Sunan menikmatinya dengan seksama dan penuh pesona.Hingga si pen-deres turun dari pohon siwalan.

“Lilo-lilo… gerangan tembang apakah itu, Kek?”.

“Alaah, Kisanak, tiap hari aku bekerja seperti ini, sebagai buruh pen-deres siwalan. Agar hidup yang susah ini tidak terasa susahnya, ya tak lilo-lilo (Ya disabar-sabarkan,  menyabarkan diri)”.

“Bisakah diganti dengan yang lebih baik, Kek?”.

“Diganti yang bagaimana, Kisanak ?”

“Laa ilaaha illallah”.

Sejak itu, Cokrojoyo menjadi murid Sang Sunan.Konon menurut cerita, setelah perjumpaan yang singkat itu, keduanya berpisah. Sekian waktu kemudian, Cokrojoyo bertekad untuk berguru kepada sang Sunan.

Suatu saat mereka bertemu. Sunan Kalijaga lalu menancapkan sebatang bambu di depan Cokrojoyo dan sebelum meninggalkannya, ia memintanya untuk menjaga batang bambu tersebut hingga kembali.

Cokrojoyo pun mematuhi perintah gurunya itu dan menunggunya hingga batang bambu tersebut menjadi “barongan” (rerimbun pohon bambu).

Sekian lama kemudian, kembalilah Sunan Kalijaga dan mendapati Cokrojoyo masih setia di tempat itu.Lalu, sang Sunan membakar barongan itu hingga lantak. Tubuh Cokrojoyo hangus seperti arang, namun tidak terbakar. Sejak itu, Cokrojoyo berjuluk Sunan Geseng.

Hingga kini, makam Sunan Geseng masih berkabut misteri; ada yang mengatakan di dusun Pakah Desa Gesing Kecamatan Semanding Tuban, ada yang di Tirto Magelang, ada juga di Grabak Magelang, dan di Bantul Yogyakarta.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm

Masjid Karomah Winong

Masjid Karomah Winong

Masjid Karomah Winong terletak di Kelurahan Sugiharjo Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Masjid kuno yang terletak di pinggir sungai ini adalah peninggalan Syekh Ahmad Mutamakkin.Syekh Ahmad Mutamakkin, seorang ulama dan kyai yang berasal dari Kampung Cebolek (sekarang berganti nama menjadi dukuh Winong Kelurahan Sugiharjo), sekitar 10 Km dari kota Tuban. Namun, kemudian beliau menetap di Desa Cebolek, Kajen, Pati, hingga wafatnya. Sebagian Muslim di Jawa Tengah, menyebut tokoh ini dengan nama Mbah Mbolek atau Mbah Mutamakkin.

Didalam masjid Karomah Winong masih tersimpan kayu berbentuk lonjong agak bulat yang pernah dipergunakan oleh Syekh Ahmad Mutamakkin untuk menjemur peci/baldu (masyarakat sekitar menyebutnya klebut) dan sebuah batu yang berbentuk asbak. Konon, keris pusaka Syekh Ahmad sekitar masih berada di dalam pohon Sawo kecik yang berada di depan masjid itu.

Mbah Mutamakkin ini keturunan bangsawan Jawa, dari garis bapak adalah keturunari dari Raden Patah (Sultan Demak) yang berasal dari Sultan Trenggono.Sultan Trenggono telah mengawinkan salah satu putrinya dengan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) dari perkawinan itu lahirlah Pangeran Benowo (Raden Hadiningrat) yang mempunyai putra

bernama Pangeran Sambo (Raden Sumohadinegoro) yang menurunkan putra Ahmad Mutamakkin.Sedangkan dari garis ibu, Syekh Mutamakkin adalah keturunan dari Sayyid AliAkbar dari Bejagung, Semanding, Tuban. Sayyid ini mempunyai putra bernama Raden Tanu.Dan, Raden Tanu ini mempunyai seorang putri yang menjadi ibunda Mbah

Mutamakkin.Dipercayai bahwa nama ningrat Mbah Mutamakkin adalah Sumohadiwijaya, yang merupakan putra Pangeran Benawa II (Raden Sumohadinegoro) bin Pangeran Benawa I (Raden Hadiningrat) bin Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) bin Ki Ageng Pengging bin Ratu Pembayun binti Prabu Brawijaya V.

Dalam masa hidupnya Syekh Mutamakkin sepenuhnya mengabdikan diri untuk penyebaran agama Islam di daerahnya, beliau pernah belajar di Yaman kepada Syekh Muhammad Zayn al-Yamani yang merupakan seorang tokoh Sufi dalam tarekat Naqsyabandiyah dan sangat berpengaruh di Yaman saat itu. Tidak diketahui secara pasti

kapan Syekh Mutamakkin berguru kepada Syekh Muhammad Zayn al-Yamani, namun melalui tahun wafatnya ayah Syekh Zayn (Syekh Muhammad al-Baqi ) tahun 1663 dan kematian putranya (Abdul Khaliq Ibn Zayn) tahun 1740 jadi diperkirakan Syekh Zayn hidup antara abad XVI-XVII. Dengan demikian dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa Syekh Mutamakkin berguru pada beliau pada sekitar masa itu.

Lazimnya orang yang hidup pada zaman dahulu, Mutamakkin muda mengembara untuk memenuhi hasrat keinginannya, suatu ketika sampailah pada sebuah tempat, tepatnya di sebelah utara timur laut Desa Kajen sekarang, sebagaimana yang menjadi kebiasaan para pengembara pada waktu itu untuk menngembalikan suasana daerah asalnya sekaligus untuk memudahkan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, diberilah nama daerah itu dengan “Cebolek” seperti desa kelahiran beliau.

Di desa barunya ini Mutamakkin sempat bermukim beberapa saat sampai suatu ketika ada kejadian mistik yang memberikan isyarat kepada beliau untuk menuju ke arah barat, kejadian itu beliau alami setelah menunaikan shalat Isya’ dengan melihat cahaya yang terang berkilauan di arah barat, bagi Syekh Mutamakkin hal ini merupakan isyarat, dan pada esok harinya beliau menghampiri tempat dimana cahaya pada malam hari itu mengarah.

Disana beliau bertemu dengan seorang laki-laki tua yang dalam cerita lokal diyakini

sebagai orang pertama Kajen yang bernama Mbah Syamsuddin. Dalam pertemuan itu terjadi sebuah dialog yang didalamnya ada penyerahan wilayah Kajen dari Mbah Syamsuddin kepada Mutamakkin untuk merawat dan mengelolanya. Makam Mbah Syamsuddin berada disebelah barat makam Syekh Mutamakkin tepatnya di sebelah arah selatan blumbang, yang sampai sekarang sering digunakan para santri untuk riyadlah dan menghafalkan al- Qur’an.

Dalam Serat Cebolek diceritakan bahwa Syekh Mutamakkin merupakan seorang tokoh

yang mempunyai pemikiran kontroversial, yang pada saat itu sedang hangatnya pergumulan dalam pemikiran Islam antara Islam eksoteris yang berpegang teguh terhadap syari’at dan Islam esoteris yang mempunyai kecenderungan terhadap nilai- nilai substansial dalam Islam melalui ajaran kesufian dan tarekat. Syekh Mutamakkin mewakili kelompok kedua dalam pergulatan tersebut, dengan berbagai ajarannya tentang ilmu hakekat yang dalam tasauf mengandaikan bersatunya antara kazvula dan Gusti. Ajaran ini mendapatkan tempat di sebagian besar hati masyarakat saat itu karena memang mereka masih terbawa oleh budaya dan ajaran lama (Hindu-Budha) yang dalam ajarannya identik dengan penerimaan terhadap hal-hal yang berbau mistik.

Sebagai seorang alim, diceritakan Mbah Mutamakkin sangat teguh dalam memegang prinsip dan pendiriannya tentang Aqidah yang diajarkan dalam Islam, meskipun demikian beliau juga senang mengikuti dan mencermati cerita dalam pewayangan, terutama cerita

yang menyangkut lakon Bima Suci atau Dewa Ruci.Saking senangnya beliau termasuk satu-satunya orang yang fasih dan faham betul tentang alur dan penafsiran dalam cerita tersebut.Memang bagi beliau cerita Bima Suci atau Dewa Ruci itu mengandung unsur kesamaan seperti apa yang pernah dipelajarinya dalam ilmu tasauf ketika berguru di Yaman pada Syekh Zain al-Yamani.

Lazimnya seorang sufi, Mbah Mutamakkin gemar melakukan ritual-ritual yang berhubungan dengan peningkatan dalam meningkatkan kedekatan dan ketaqwaan kepada s

ang Khaliq (riyadloh), ritual ini biasanya beliau lakukan dengan melatih me- nahan dan mengurangi kegiatan makan, minum dan tidur, dalam rangka pengekangan hawa nafsu. Suatu ketika Mbah Mutamakkin melakukan riyadlah dengan puasa selama 40 hari.Pada hari terakhir riyadloh, sangi istri diminta untuk memasak yang enak dan lezat setelah itu disuruh untuk mengikat beliau, agar dapat mengalahkan hawa nafsunya. Namun sebagian versi lain mengatakan bahwa kejadian ini (pengikatan) hanya sebagai simbol pertarungan beliau dengan hawa nafsunya, yang akhirnya keluar dari dalam dirinya dua ekor anjing yang dengan lahapnya langsung menghabiskan hidangan yang telah disajikan oleh istrinya.


Mbah Mutamakkin adalah sosok seorang alim yang terbuka, berani, apa adanya dan suka bercanda dan menguji seseorang, sikap dan sifat tersebut pernah membuat seorang musafir merasa terhina karena ketika bertamu di rumah beliau tersinggung oleh perkataan yang dilontarkan Mbah Mutamakkin pada saat menjamu makan nasiberkat (satu porsi nasi dari kenduren) yang dihabiskan sampai bersih.Dikatakan oleh beliau bahwa anjingnya saja tidak suka makan ikan kering, apalagi sampai habis seperti itu. Karena tamu tersebut tidak terima dengan perkataan Mbah Mutamakkin yang dianggapnya sebagai sebuah penghinaan, akhirnya tamu itu membuat selebaran dan diedarkan kepada para ulama yang berisi tentang kehidupan Mbah Mutamakkin yang memelihara anjing dan suka melihat dan mendengarkan wayang, padahal bagi masyarakat Islam hal itu dianggap melanggar peraturan hukum Islam. Karena kejadian itu akhirnya Mbah Mutamakkin sempat disidangkan di Keraton Surakarta dengan penuntut seorang alim dari Kudus yang bernama Khatib Anom untuk dihukum mati dengan dibakar, namun yang terjadi bukan hukuman malah sebaliknya beliau dibebaskan tanpa syarat dan berhasil kembali ke Kajen untuk meneruskan perjuangan atas apa yang menjadi keyakinannya. 235-238
Dua anjing tersebut lalu diberi nama oleh beliau Abdul Qohar dan Qomaruddin yang kebetulan menyamai nama penghulu dan khotib Tuban.Pemberian nama ini bagi sebagian masyarakat yang anti terhadap beliau dianggap sebagai penghinaan atau bahkan sebagai sebuah kritik terhadap para penguasa saat itu.Namun pemberian nama itu mengandung arti dan perlambang bagi Mbah Mutamakkin sendiri, yaitu hamba Allah yang mampu memerangi hawa nafsunya.

Makam Syekh Abdullah Mliwang, Kabupaten Tuban

makam Syekh Abdullah (Mliwang)Makam Syekh Abdullah keberadaannya di atas bukit, dan tepatnya berada di Desa Mliwang, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Mbah Buyut Sumber Banyu.

Tokoh yang diyakini warga desa Mliwang, Kecamatan Kerek, saat ini tak ubahnya pepunden (tokoh gaib) yang dihormati warga setempat. Meski begitu tak satupun warga bisa menjelaskan siapa sebenarnya Mbah Buyut Sumber Banyu.

Di sisi barat makam Mbah Buyut Sumber Banyu, terdapat sebuah makam lagi. Diyakini warga, makam dengan ukuran cungkup (bangunan peneduh makam) lebih kecil ini merupakan makam abdi dari Mbah Buyut.

Senada diungkapkan sesepuh Mliwang, Mbah Tarsimo. Ia menjelaskan, cerita dari generasi ke generasi di Mliwang.

Makam Proklamator

Makam Proklamator masih Jadi Primadona Wisata

Jika datang dan melihat Makam Bung Kamo, otomatis, dibenak kita teringat dan tentu saja tak mungkin terlupakan akan sosok sang Proklamator Kemerdekaan RI sekaligus Presiden pertama RI. Meskipun beliau telah meninggal dunia pada 21 Juni 1970, akan tetapi namanya masih tetap harurn dan dikenang sepanjang jaman, bahkan makarnnyapun masih tetap menjadi prirnadona wisata yang tidak pemah sepi oleh pengunjung. Makam yang terletak di Desa Sentul, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan Kota Blitar ini tepatnya berada di Jl. Slamet Riyadi tetapi saat ini sudah berganti nama menjadi Jl. SoekamoHatta, tepatnya sekitar empat kilometer dari Kota Blitar. Makam yang menempati dan dibangun diatas lahan seluas 1,8 Hektar ini, telah mengalami perubahan beberapa kali pemugaran oleh Pemerintah Kota Blitar. Pemugran ini dimaksudkan untuk pencitraan Makam Bung Kamo sebagai ikon Kota Blitar yang mampu menarik pengunjung untuk berziarah.

Di areal komplek ini sejak 20031alu, juga dilengkapi bangunan perpustakaan dan mini, museum; tujuannya agar para pengunjung dapat lebih mengenal dan mengetahui serta mengeksplor apa yang pemah mereka dengar dan apa yang pemah mereka baca. Di sepanjang jalan menuju makam, dirnulai dari jalan yang menghubungkan perpustakaan di sisi selatan komplek makam sarnpai pada gapura Agung yang berdiri megah ditengah pelataran dalam dilengkapi sarana penunjang ini terbuka untuk umum. Jarak dari Gapura Agung menuju ke makam Bung Kamo tidaklah terlalu jauh, paling- paling hanya sekitar 5 hingga 8 meter dari pusara. Artinya, setiap orang yang berziarah ke makam Bung Kamo bisa mendekat ke pusara Presiden pertama yang diapit oleh kedua orang tuanya yakni Ayah dan ibunya. Agar bisa menampung para penjiarah, maka Areal Makam ini dibangun Joglo dengan luas sekitar 40 meter persegi Bangunan obyek wisata religi bernuansa kebangsaan ini menjadi obyek wisata yang selalu menjadi tujuan utama bagi . turis domistik maupun mancanegara.

Bangunan utama disebut dengan Cungkup Makam Bung Kamo yang berbentuk joglo dikombinasi dengan seni bangunan jawa yang diberi nama Astono Mulyo. Diatas Makam diletakkan sebuah batu pualam hitam bertuliskan : “Disini dimakarnkan Bung Kamo, Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.” . Sebelum dilakukan pemugaran bangunan makam yang berbentuk joglo dan berukuran cukup besar ini, makam tertutup rapat oleh dinding kaca, sehingga peziarah hanya bisa melihat batu nisan dan berdo’a untuk mendoakan Proklamator dari luar kaca penyekat. Untuk itu, sejak tahun 2001 lalu dilakukan pemugaran dan perubahan tata ruang bangunan yang ada di makam. Yaitu saat negeri ini dipimpin oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati sebagai Wapresnya, Setelah pemugaran usai, maka pusara Bung Kamo yang diapit oleh makam kedua orang tuanya, R Sukemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai telah terbuka untuk umum, bahkan setiap peziarah bisa langsung berdoa didekat pusara dan menyentuh batu nisannya.

Sebagai kawasan wisata ziarah and alan, Makam Bung Kamo rata-rata pengunjung mencapai 1.000 peziarah setiap harinya. Menurut data Pemkot Blitar, wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Makam Bung Kamo sepanjang tahun 2010 mencapai 500.000 wisatawan Untuk melengkapi megahnya komplek wisata makam, pemerintah dalam hal ini Pemerintah Pusat, Pemprov dan Pemkot Blitar membangun perpustakaan yang diberi nama” Bung Kamo” dan peresmiannya dilakukan oleh putrinya sendiri Yakni megawati Soekamo Putri yang saat itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia tepatnya pada tanggal 3 Juli 2004 lalu. Bangunan yang terdiri dari empat gedung bertingkat dan dipisahkan oleh pelataran serta kolam yang tertata cantik, rapi memanjang ini, menambah kemegahan dan keeksotisan keberadaan perpustakaan dimaksud. Sesuai  dengan fungsinya yaitu perpustakaan sebagai sarana melestarikan sosok serta pemikiran sang proklamator, terutama bagi generasi muda mendatang. Diareal ini tidak ada yang sulit atau yang ribet, sebab setiap pengunjung bisa masuk ke perpustakaan tanpa dipungut biaya, serta bangunannya didesain secara indah serta dilengkapi pendingin (AC) sehingga sllasananya terkesan sangat nyaman.

Tidak hanya itu,pengunjung juga bisa melihat gambar-gambar dan barang- barang bersejarah peninggalan Bung Kamo semasa beliau berjuang. Tak cuma yang realistis, hal- hal yang berbau magis dan mistispun terdapat pula di sini seperti kopor bersejarah, dan lukisan! gambar Bung Kamo yang bisa. bergetar sendiri. Dengan dilengkapi pengeras suara, terkadang operator juga memutar pidato Sang Proklamator yang terkenal sebagai orator. Ada satu hal penting atau peraturan yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar oleh semua pengunjung perputakaan dan Museum Bung Karno yaitu tidak diperbolehkan mengambil gambar/ mendokumentasikan apapun yang ada di dalam ruangan ini. Gedung Perpustakaan Proklamator ini terdiri atas beberapa bagian untuk menyimpan koleksi. Koleksi khusus berada di Gedung A lantai 1 timur, mengoleksi otobiografi Bung Kama, buku-buku karya Bung Kamo, serta buku-buku tentang Blmg Kamo, karnus, ensiklopedi, indeks, peta, dan lain-lain. Gedung A lantai 1 barat digunakan untuk koleksi foto, lukisan, dan peninggalan Bung Kamo. Lantai 2 Wltuk mengoleksi buku-buku yang berkaitan dengan karya umum, filsafat, agama, ilmu sosial, bahasa, ilmu murni, ilmu terapan/teknologi, kesenian/olahraga, kesusasteraan, sejarah, dan geografi.

Di ruangan itu juga terdapat beberapa terbitan secara berkala, seperti surat kabar, majalah, dan buletin. Sedangkan koleksi buku-buku karangan penulis luar negeri tentang Indonesia terbitan berbagai Negara bisa dijumpai di Gedung B. Ruang audio visual di Gedung C, digunakan untuk menikmati koleksi audio dan visual dalam bentuk CD dengan kapasitas 100 orang. Untuk ruang seminar/talkshow, pelatihan singkat, presentasi, dan sebagainya berkapasitas 50 orang berada di Gedung C, Selain itu, komplek ini juga dilengkapi dengan Amphi Theatre.  Panggung terbuka yang berada di samping gedung perustakaan ini yang diproyeksikan sebagai tempat penarnpilan karya budaya dan keseruan anak bangsa. Panggung tersebut makin semarak pada saat Haul Bung Kamo yang jatuh pada bulanJuni. Perpustakaan tersebut secara kelembagaan di bawah Perpustakaan Nasional, sedangkan personel pengelolanya di bawah Dinas Inkomparda Kodya Blitar yang terdiri atas 31 tenaga perpustakaan, 16 keamanan, dan 7 kebersihan•

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dharma Wanita. Volume III, No. 29, Mei 2011, hlm. 32

Banker peninggalan Jepang di Lumajang

Bunker – Bunker, Proyek Pertahanan Jepang di Lumajang

Di penghujung tahun 1943, Jepang melakukan mobilisir besar-besaran di daerah yang dianggap stretegis untuk menghalau tentara Sekutu, utamanya dari wilayah Australia yang berdekatan dengan wilayah perairan Lumajang. Selain itu, Kabupaten Lumajang dinilai Jepang merupakan wilayah yang cukup penting karena memiliki potensi yang besar untuk eksplorasi sumber daya alam, sumber daya manusia sekaligus merupakan daerah yang cukup strategis untuk pertahanan. Sejumlah bukti yang hingga kini masih ada, mulai dari lapangan terbang dan puluhan bahkan ratusan Bunker yang sudah tertutup pasir mulai dari wilayah Tempeh, Kunir, Pasirian hingga Tempursari.

Meskipun hanya tinggal puing dan sedikit sisa bangunannya saja, hal ini merupakan fakta sejarah bahwa Lumajang merupakan daerah yang juga memiliki pengalaman pahit pada masa penjajahan Jepang. Dengan mengerahkan barisan pemuda semi militer yang tergabung dalam seinendan dan dibantu oleh romusha, proyek ini dikerjakan pada awal tahun 1943. Para pekerja bukan hanya berasal dari daerah Lumajang saja, tetapi dari sejumlah daerah, seperti Probolinggo, Malang, Pasuruan, Bondowoso hingga dari daerah Bojonegoro. Selama kurang lebih sebulan, seinendan dan murid sekolah menengah asal Malang, sebanyak 250 orang diwajibkan untuk mengikuti kinrohosi (kerja bakti), dan mereka ditempatkan di dua barak. Barak itu bertiang bambu, berdinding dan beratap alang-alang.

Pembangunan Lapangan terbang dan sejumlah bunker di daerah Pandawangi, menelan ratusan korban jiwa. Mereka tewas akibat minimnya sarana penunjang kerja, buruknya gizi, barak yang tidak memadahi, kerasnya tekanan tentara Jepang, serta kondisi psikologis yang lemah. Untuk makan saja, mereka harus menunggu berjam-jam, dengan menu makanan yang sangat sederhana, seperti nasi jagung dan ikan asin atau bahkan dengan gaplek (singkong yang dikeringkan). Sedangkan untuk kebutuhan air minum, mereka harus mengkonsumsi air mentah dari sungai setempat. Jika malam, mereka harus tidur tanpa alas atau bahkan selimut, meskipun angin cukup kencang karena berada di daerah pantai yang suhunya sangat dingin.

Mantan romusha, baik dari kalangan pemuda dan pelajar, tidak akan bertahan lama jika mereka selamat setelah pulang dari proyek Pandawangi. Rata-rata mereka stres berkepanjangan, atau gila. Tetapi sebagian besar lainnya, telah tewas.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, Edisi 2011, Lumajang, 2011, 26 * wisata sejarah

Terjadinya Desa Gurah, Desa Nyaen dan Patung Thotok Kerot

Pada suatu hari masyarakat Kediri dikejutkan oleh datangnya seorang rasesksi (raksasa betina). Hingga seisi istana kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Prabu Haji Jayabaya menjadi gempar,  dan karena ketakutan masyarakat hingga raksasa tersebut  lalu diserang beramai-ramai, masyarakat menduga  akan berbuat kerusuhan. Sang raseksi roboh tetapi belum mati.

Tidak lama kemudian Sang Prabu Jayabaya segera menghampiri sang raksasa tadi, lalu ditanyainya. mengenai maksud dan tujuannya masuk ke istana Kediri. Dia menjawab kalau raksasa tersebut mengaku berasal dari hutan Lodoyong di tepi laut selatan, sedangkan kedatangannya ke Kediri adalah ingin mengabdi/diperistri oleh sang Prabu.

Mendengar jawaban itu sang Prabu lalu berkata bahwa kalau keinginannya seperti Tuhan tidak mengijinkan. Tetapi kemudian Sang Prabu memberi petunjuk bahwa besok sepeninggal sang Prabu Jayabaya sekitar dua puluh tahun lagi, di tanah sebelah barat akan ada seorang raja yang bertahta di Prambanan bergelar Prabu Prawatasari. Raja itulah yang nantinya akan menjadi jodoh baginya.

Belum selesai perkataan sang Prabu, raksasa tadi meninggal. Sang Prabu pun sangat heran di dalam hati. Maka kemudian untuk mengingat peristiwa tersebut, desa tempat peristiwa gemuruh/ramai-nya masyarakat mengejar raseksi tersebut, disebut Desa Gumuruh, serta memerintahkan agar raksasa betina tadi diabadikan dalam ujud arca raksasa yang diberi nama reca Nyai (arca perempuan).

Desa tempat keberadaan arca tersebut, disebut Desa NYAEN, Konon sampai sekarang arca tersebut masih berada di desa Nyahen tersebut. Arca tersebut mempunyai tingginya 14 kaki, biji matanya sebesar lepek (alas cangkir), dalam posisi methotok duduk dengan posisi satu lutut berada sejajar tanah satu lutut lagi posisi di atas. Dengan keberadaan posisisi tersebut serta mata yang molotot seakan marah, maka orang menyebutnya RECO THOTOK KEROT.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:

 

Sumur Upas

Dari Pendopo Agung kita mengikuti jalan ke Sentonorejo ke arah selatan kira-kira 300 meter, sampailah pada sebuah gang membelok ke barat dan kira-kira jarak 100 meter akan kita jumpai suatu situs peninggalan purbakala yang disebut Sumur Upas. Yang dinamakan Sumur Upas adalah lubang gua kecil yang sekarang sudah ditutup batu dan dibuatkan cungkup. Di kompleks ini, selain sumuran tadi, kita dapati pula sebuah batu atau mungkin sebuah bagian kaki candi dari batu bata yang tingginya kira-kira 1,50 meter sedang ukuran panjangnya 12,50 meter dan lebarnya 7,50 meter.

Batu tersebut menghadap ke barat dan seberapa jauh di depan bangunan itu kita dapati sumur kuno berbentuk segi empat yang dibuat dengan susunan batu bata. Di atas batur itu sekarang didapati adanya makam. Namun kebenaran apakah itu betul-betul makam, masih sangat diragukan. Di sebelah selatan batur candi tadi kita dapati suatu bentuk semacam parit yang dindingnya dibuat dari batu bata yang sering menimbulkan tanda tanya bagi pengunjung.

Menurut pengamatan kami bentuk semacam parit itu sebenarnya adalah jarak antara dua pondasi atau kaki bangunan yang berdiri saling berdekatan satu di sebelah utara dan yang lain terletak di selatannya. Menurut catatan lama kompleks ini disebut dengan nama Candi Kedaton.

Kira-kira 100 meter di sebelah barat tempat ini kita jumpai dua deretan umpak batu besar-besar membu­jur arah barat ke timur beijumlah 13 buah. Berderet beijajar dua-dua masing-masing dengan jarak ± 4 me­ter. Bentuknya juga segi delapan dan ukurannya sama dengan umpak-umpak yang terdapat di komplek Pendopo Agung. Bedanya, di bagian atas umpak-umpak di sini ber­lubang, tempat menaruh pasak tiang di atasnya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tjokro Soedjono, Trowulan Bekas Ibukota Majapahit [Booklet]. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987/1988