Kamanten Madura, Tata Rias

Adat Madura dalam melaksanakan pernikahan juga di dudukkan di pelaminan. Tentu saja dalam masyarakat pedesaan misalnya tentu berbedadengan masyarakat kota bahkan juga dengan “masyarakat pinggiran Pada masa lain di pedesaan – pedesaan Madura merias mempelai putraputri mereka dengan tata rias yang warnanya sangat menyolok.

Pemilihan warna tidak terlepas dari yang menyolok itu seperti warna merah, biru bahkan bedaknyapun dicampnr dengan warna-warna kuning yang kemilau dan kedua mempelai memakai kacamata hitam. Pada dasarnya penganten Masyarakat Orang Madura di selnuruh Madura memiliki kesamaan .

Manten laki-laki ataupun perempuan memakai celana hitam lengkap dengan ornamen , bordil atau manik-manik. Bagi golongan bangsawan menggunakan blangkon , jas , dasi , kain panjang , hiasan bunga di kepala pola rumbai atau dikeluarkan dan berselop.

Saat mempelai disandingkan, di hadapannya di sajikan tandak dengan gending- gending kesukaan masyarakat sebab saat itu tamu-tamu yang diundang berdatangan. Biasanya para tamu tersebut menari dengan tandak dalam acara tayup. Setelah tengah malam tayub diakhiri tetapi tetabuhan terus menggema.

Bahkan saat itu sudab tiba waktunya pentas drama dimulai,biasanya lakon yang disajikan berjudul Lerap atau Pak Sakera, yaitu lakon-lakon yang penuh perkelahian. Saat permainan pentas berlangsung dan diiringi sorak-sorai penonton, kedua mempelai sudah berada di kamarnya .

Tata rias kemanten Madura di empat daerah kabupaten, masing-masing menurut kesukaan masyarakatnya. Seperti di daerah Sumenep pakaian “legha” yaitu pakaian jenis keluarga kraton , sangat disukai.

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 12 – 13

Pakaian Upacara Khitanan Adat Tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Upacara Adat Rakyat Biasa, Madura Kabupaten Bangkalan, upacara adat masa Dewasa anak laki-laki, sommadan (khitan), nama pakaian, yang dipakai anak laki-laki, pada bagian badan atas ialah baju hem/baju taqwa, sedangkan di bagian bawah,” sarone plekat. 

Untuk pelengkap pakaian, di kepala dipakai songkok atau ko- piah. Bahan kopiah ialah sejenis beludru, tidak bermotif, atau berwarna hitam. Ukurannya disesuaikan dengan kepala si pemakai, sistim tinggi songkok ± 5 cm, dengan bentuk seperti umumnya peci atau kopiah.

 Bagian atas:

Baju hem/baju taqwa, bahannya terbuat dari katun, warna­nya bebas, tidak bermotif. Bentuknya seperti umumnya ba­ju laki-laki, dengan kraag tegak dan mempunyai saku 1 buah di kiri atas, berlengan pendek.

Bagian bawah :

  • Sarong plekat : Sarung palekat, bahannya terbuat dari katun, dengan motif berkotak-kotak besar atau kecil, dengan warna dasar putih dengan kotak-kotak, hijau atau berwarna biru.
  • Pacol Sabut kelapa bahan pacol ialah sabut kelapa berbentuk bulan sabit.
  • Sabbuk Pacol, terbuat dari katun, dengan bentuk sabuk biasa.
  • Bes Gibes bahan benang besar (benang wol), sedang- kan gagangnya terbuat dari rotan. Adapun warnanya berwarna-warni, dengan ukuran gagangnya kira-kira 3 cm, dan, bentuknya seperti terlihat di gam bar.
  • Alas kaki Bacca’ (dahulu) atau kelompen (sekarang). Alas kaki ini bahannya kayu, berwarna putih kekuning-kuningan de­ngan tali hitam. Bentuknya seperti sandal dengan hak agak yang agak tinggi ± 2 cm, dan tali selebar tiga jari.

Cara memakai pakaian

Mula-mula pacol dikaitkan/dicantelkan pada sabbuk pacol. Ke­mudian sabbuk tersebut di lilitkan di pinggang dan pacol diletak- kan di bagian depan badan mensungkit ke depan. Setelah itu ba- ru dikenakan sarung seperti lazimnya. Karena ada pacol di dalam sarong, maka bagian depan sarong agak naik ke atas. Kemudian memakai hem, lalu kopiah serta mengenakan bacca atau kelom­pen. Paling akhir memegang bes-gibes.

Fungsi :

  • Fungsi baju dan sarong baru yang dikenakan oleh anak yang akan dikhitankan berfungsi untuk memberikan suatu rasa kegembiraan dan kebanggaan sehingga sianak tidak akan takut merasakan sakitnya dikhitan.
  • Fungsi songkok selain berfungsi untuk kerapian dalam berpa- kaian, bagi orang Madura merupakan suatu kesopanan. Aoama Islam yang dianut oleh orang Madura mempu nyai pengaruh yang kuat dalam hal kebersihan dan kerapihan. Mereka selalu ingat akan hadist Nabi Muham­mad s.a.w. yang mengatakan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman.
  • Fungsi bes-gibes untuk penghalau lalat.
  • Fungsi Pacol Untuk menghindari geseran alat kelamin dengan sarong. 

Arti simbolis :

Pakaian dan sarong baru untuk melatih anak mempersiapkan diri menghadapi tingkat kehidupan menjelang dewasa sebagai suatu tingkat kehidupan baru bagi anak itu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 114 – 116

 

Upacara Mesae, Adat Madura

Mesae, artinya memisah, yaitu memisahkan si anak dari susu ibunya. Upacara mesae diadakan jika umur bayi sudah mencapai 9 bulan. Kadang-kadang sampai usia 12 bulan si anak baru disapih.

Sebelum seorang ibu mesae anaknya, lebih dahulu harus meminta nasehat Kyae atau dukon baji, kapan sebaiknya mesae itu dilakukan. Menentukan waktu untuk mesae ini pen­ting agar si anak tidak menjadi rewel atau perajuk.

Menurut petunjuk dukun atau kitab primbon itulah, ke­mudian orang tua si anak melakukan mesae terhadap anaknya. Biasanya waktu yang dipilih menurut perhitungan hari kelahir­an si anak, atau menurut waktu ketika colpak bujel, saat tang­galnya tali pusat.

Di tempat tidur si anak, diletakkan polo’, semacam peri­uk yang diisi dengan topa panglobar, yaitu ketupat yang ber­isi beras kuning, sebagai penolak bala. Di samping tempat tidur si anak diletakkan Tajin senapora, yaitu bubur lemak dimana terdapat irisan telur dan kacang, sebagai penangkal penyakit.

Dalam upacara mesae ini hanya terbatas kepada ibu dan ayah si anak serta -para kerabat dari dua belah fihak yang me­nyaksikannya. Tentu saja peranan dukun dalam upacara ini menentukan, karena dialah yang melaksanakan semua kegiat­an dalam upacara mesae ini.

Ketika semua keperluan upacara tersebut sudah siap, ma­ka dukun menggendong anak yang disapih itu berkeliling ru­mah, sebanyak tiga kali. Setiap kali sampai di pintu muka, du­kun itu membelakangi pintu. Sesudah itu, dukun membawa anak tadi ke tempat tidurnya, yang berdekatan dengan tempat tidur orang tuanya. Di tempat itu dukun itu berucap : “mon polo” nanges, kacong (jika anak berkelamin laki-laki), jebbing nanges”.

Kalimat yang diucapkan itu berarti : “apabila periuk ini manangis, si kacong atau si jebbing itu akan menangis pula” Dengan demikian berakhirnya ucapan itu, dukun menghembus ubun-ubun si anak tiga kali. Dengan perbuatan itu dukun mengharapkan agar si anak sejak saat itu melupakan tetek ibu­nya. Ada kalanya si anak diberi kalung dari perak dengan bandul yang berisi mantra. Dimaksudkan agar si anak tidak mudah kena saban (sawan) dan penyakit lain.

Upacara mesae ini lazimnya diadakan pada waktu siang hari. Pada puting susu si ibu, diberi ramuan dringo, agar si anak tidak mau lagi. Menurut kepercayaan masyarakat Madura, jika si anak yang sudah berusia sekitar setahun tidak di sapih maka anak itu akan bebal atau bodoh.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional daerah Jawa Timur.Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi Daerah 1983-1984, Surabaya September 1984, hlm.50

Upacara Haid, Adat Madura

Bagi seorang gadis di Madura, datangnya haid yang per­tama kali diikuti dengan upacara khusus. Selama ia mengalami haid, ia tidak boleh turun ke tanah, dan lamanya sekitar 7 hari. Setelah waktu haid berakhir, ia dimandikan dengan aeng komkoman. Air mandinya itu berupa air sumur yang diberi ramuan bunga-bunga aneka warna.

Sesu­dah itu ia diberi persalinan yang baik yaitu berupa bajuso/io, yaitu baju kurung berwarna hitam, sarung poleng berwarna hijau atau merah dengan paduan warna yang menyolok. La­zimnya wanita Madura juga memakai kain batik Madura, dengan latar belakang warna merah saga atau konengsaga. Dewasa ini pakaian itu cukup dengan kebaya lengan pendek, dan kain batik Madura.

Bersamaan dengan berakhirnya masa haid itu, diadakan selamatan nase ponar yaitu nasi ketan kuning dengan telor dan sambal.

Menurut salah seorang informan, dahulu ada upacara yang dilakukan secara bertahap sejak hari pertama haid sampai hari ke tujuh. Pada hari pertama ia duduk di atas keppay Mes- ser (kipas Mesir) dan naik tangga pada gigi pertama. Hari kedua naik tangga gigi kedua dan seterusnya sampai gigi tangga ke tujuh.

Dengan duduk di atas kipas Mesir dan naik secara berun­tun dari hari pertama sampai hari terakhir, melambangkan per­alihan masa kanak-kanak kepada masa dewasa.  Sekarang upacara-upacara tersebut sudah jarang sekali dilakukan oleh masyarakat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional daerah Jawa Timur.Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi Daerah 1983-1984, Surabaya September 1984, hlm. 56