Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

dam-bagongTrenggalek merupakan kabupaten kecil, indah dan menarik. Banyak obyek yang bersifat khas daerah. Kabupaten yang kaya potensi wisata menarik yang dapat menjadi pilihan untuk dikunjungi, baik wisata alam maupun wisata budaya. Salah satu budaya yang terus dilestarikan oleh warga Trenggalek adalah Upacara Adat bersih Dam Bagong atau lebih dikenal dengan sebutan Tradisi Nyadran di Dam Bagong. Upacara adat merupakan salah satu bagian dari adat kebiasaan yang ada di masyarakat, yaitu bentuk pelaksanaan upacara adat yang di dalamnya terdapat nilai budaya yang tinggi dan banyak memberikan inspirasi bagi kekayaan budaya daerah yang dapat menambah keanekaragaman kebudayaan nasional. Upacara tersebut mengajarkan kepada manusia sebagai manusia berbudaya untuk ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian alam seisinya, ikut meningkatkan harkat dan martabat manusia.

Nyadran merupakan tradisi dari daerah Trenggalek yang biasanya diperingati pada Jum’at Kliwon bulan Selo atau bulan jawa. Nyadran biasanya dilakukan di daerah Bagong yaitu tepatnya Dam Bagong dan dihadiri ribuan orang dari Trenggalek sendiri maupun dari luar Trenggalek. Dam Bagong adalah dam pembagi aliran sungai Bagong yang biasa digunakan untuk mengairi persawahan di Kota Trenggalek. Pertama kali Dam Bagong dibangun oleh Adipati Menak Sopal yang juga merupakan pendiri cikal bakal kota Trenggalek.

dam-bagongRitual upacara Nyadran diawali dengan tahlilan di samping makam Adipati Menak Sopal, dilanjutkan dengan ziarah makam yang diikuti oleh para pejabat daerah dan warga masyarakat. Sementara itu, di halaman sekitar komplek pemakaman disajikan hiburan tarian jaranan. Tarian kepahlawanan khas Trenggalek ini disajikan dengan penuh semangat, diiringi gamelan yang dinamis dan menghentak serta nyanyian dari pesinden yang jelita. Tarian ini sangat digemari karena identik dengan tarian magis yang bernuansa mistis. Tak jarang, para penari jaranan kesurupan saat menyajikan tarian ini.

Acara puncak yang paling ditunggu dalam ritual nyadran adalah pelemparan tumbal kepala kerbau atau larung. Dalam upacara Nyadran Dam Bagong ini dikorbankan seekor kerbau yang kemudian disembelih dan kepala, kulit beserta tulang-tulangnya dilempar ke sungai lalu diperebutkan oleh warga masyarakat sekitar. Tujuan ritual nyadran ini sebagai tolak balak, tidak hanya sebagai tolak balak upacara ini juga sebagai simbol agar kehidupan warga Trenggalek gemah ripah loh jinawi. Biasanya beberapa pemuda telah bersiap-siap di dalam sungai dengan bertelanjang dada untuk memperebutkan kepala kerbau yang dilarung. Sorak sorai kegirangan dan rona kegembiraan terpampang di wajah mereka dan wajah para penonton, kala kepala kerbau dan tulang-belulangnya berhasil diketemukan. Ada anggapan bahwa dengan mendapatkan kepala kerbau, mereka akan memperoleh berkah dalam hidupnya. Rangkaian upacara nyadran ditutup dengan pagelaran wayang kulit.

dam-bagong-300x200Dengan penyelenggaraan upacara yang serba lengkap menurut tradisi akan memberikan kemantapan batin kepada pelakunya dalam mengagungkan berkat, rahmat dan perlindunganNya. Hal ini diharapkan pula terjadi dengan dilaksanakannya upacara Tradi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Bagi masyarakat yang hidup dipedesaan, adat atau istiadat merupakan sesuatu yang melibatkan setiap orang di dalam setiap kegiatannya dan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar apabila melahirkan kebersamaan dan pola tingkah laku dalam masyarakat yang bersangkutan. Adapun pelaksanaan tradisi upacara adat “Nyadran” ini oleh masyarakat Kelurahan Ngantru, sebagai ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus sebagai upaya untuk mengenang jasa Adipati Menak Sopal yang telah berjuang untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Trenggalek yang mayoritas sebagai petani. Dalam upacara tradisi nyadran diperlukan kerjasama atau gotong-royong warga masyarakat sekitar Kelurahan Ngantru.

Gotong-royong adalah sekumpulan orang yang bekerja sukarela untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang mereka anggap merupakan kepentingan bersama dan kepentingan umum. Dalam pelaksanaan kegiatan upacara tradisi nyadran peran serta masyarakat sangatlah diperlukan demi kelancaran acara tersebut. Khususnya para petani di daerah tersebut yang mengairi sawahnya dari Dam Bagong. Mereka bergotong-royong dalam mempersiapkan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan saat memperingati upacara tradisi nyadran. Dengan bergotong-royong ini pula masyarakat bisa lebih akrab antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya sekaligus mempererat tali silaturahmi antar masyarakat. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul “Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek”.

Latar Belakang Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Menurut R. Linton (dalam Elly, 2011:27-28), mengatakan bahwa Kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.

Peringatan tradisi nyadran di Dam Bagong tidak terlepaskan dari memperingati dan mengenang Adipati Menak Sopal. Adipati Menak Sopal adalah seorang ulama yang berdakwah menyiarkan Agama Islam di wilayah Trenggalek, mulai dari lereng Gunung Wilis sebelah selatan sampai pantai selatan Samudra Indonesia, mulai dari perbatasan Sawo Ponorogo sampai Ngrowo-Boyolangu. Sehingga secara kuntitas penduduk Trenggalek beragama Islam seluruhnya.

Adipati Menak Sopal juga sebagai pahlawan pertanian di Kabupaten Trenggalek. Karena beliau telah membangun Dam Bagong yang terletak di Kelurahan Ngantru. Dam Bagong ini sangat bermanfaat bagi para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan karena dengan adanya dam tersebut mereka dapat mengairi sawahnya. Sehingga sangat pantas apabila jasa Adipati Menak Sopal itu diperingati setiap tahunnya oleh segenap lapisan masyarakat mulai dari pejabat dan rakyatnya khususnya para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan.

Tradisi nyadran di Dam Bagong ini berawal dari kisah Adipati Menak Sopal yang berjuang membangun Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Sahibul Hikayat yang mengatakan bahwa ada seseorang yang berasal dari Mataram yang bertugas mengatur daerah di Timur Ponorogo yang sekarang disebut daerah Trenggalek atau biasa disingkat Ki Ageng Galek. Dahulu kala Ki Ageng Galek ditugasi untuk mengasuh seorang putri dari Majapahit yaitu Amisayu. Dinamakan Amisayu karena meskipun ayu atau cantik, sayangnya kaki putri tersebut berpenyakit dan berbau amis atau busuk.

Saat itu Ki Ageng Galek merasa bingung bagaimana cara mengobati kaki Putri Amisayu tersebut. Lalu Ki Ageng Galek menyuruh Dewi Amisayu untuk mandi di Sungai Bagongan yang terletak di Kelurahan Ngantru. Pada saat mandi di sungai tersebut tiba-tiba munculah Buaya Putih yang berubah wujud menjadi manusia yang sangat tampan yang bernama Menak Sraba. Kemudian Menak Sraba mengobati luka di kaki Dewi Amisayu dengan cara menjilati. Akhirnya penyakit di kaki Dewi Amisayu bisa sembuh dan Menak Sraba kemudian menikah dengan Dewi Amisayu.

Tidak lama setelah menikah Dewi Amisayu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Menak Sopal sesuai dengan pesan Menak Sraba. Setelah Menak Sopal tumbuh dewasa kemudian dia bertanya kepada ibunya yaitu Dewi Amisayu siapa ayahnya yang sebenarnya. Dengan terpaksa Dewi Amisayu member tahu siapa ayahnya yang sebenarnya adalah buaya putih penjaga Kedung Bagongan. Ketika mengetahui siapa ayahnya Menak Sopal meminta izin kepada ibunya utuk menemui ayah kandungnya. Akhirnya Menak Sopal bertemu dengan ayah kandungnya yaitu Menak Sraba di Demak Bintara. Disana Menak Sopal diajari dan dididik mengenai ajaran Agama Islam.

Sepulang dari tempat ayahnya Menak Sopal berusaha untuk menyebarkan Agama Islam di Trenggalek. Karena pada saat itu mayoritas penduduk sebagai petani maka Menak Sopal berkeinginan membangun tanggul air atau dam yang bisa mengairi sawah mereka. Dalam pembangunan tanggul itu Menak Sopal dibantu warga masyarakat namun pembangunan tanggul itu selalu gagal. Lalu Menak Sopal meminta petunjuk kepada ayahnya bagaimana caranya agar tanggul air itu bisa berhasil dibangun. Menak Sraba (ayah Menak Sopal) memberikan petunjuk supaya ditumbali kepala Gajah Putih.

Menak Sopal mengikuti saran dari ayahnya lalu menyembelih Gajah Putih yang kepalanya dimasukkan ke dalam Sungai Bagongan dan dagingnya dibagikan kepada warga yang ikut bergotong-royong. Setelah diberi tumbal Gajah Putih akhirnya tanggul air bisa berhasil dibuat dan sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dam Bagong. Dari hasil perjuangan Menak Sopal tersebut akhirnya sawah para petani bisa dialiri air dan hasil panen mereka meningkat. Sejak saat itu warga Trenggalek memeluk Agama Islam.

Dalam upacara tradisi nyadran terdapat unsur mistis dan unsur fungsional. Unsur mistis itu saat Dam Bagong meminta tumbal gajah putih agar pembuatan dam dapat terwujud dan dapat mengairi sawah para petani. Sedangkan unsur fungsional terlihat dari tujuan uapacara tradisi nyadran di Dam Bagong yaitu bersyukur kepada Allah SWT dan menghargai perjuangan Adipati Menak Sopal karena sudah membangun Dam Bagong yang mengairi sawah para petani sehinggan pendapatan petani semakin meningkat. Selain itu, agar terhindar dari berbagai macam bahaya atau bencana.

Dari uraian di atas peneliti berkesimpulan bahwa berkat perjuangan Menak Sopal tersebut maka setiap tahun sekali di bulan Selo selalu diperingati upacara tradisi nyadran di Dam Bagong sebagai rasa syukur warga Trenggalek. Namun dalam pelaksanaannya bukan gajah putih lagi yang dijadikan tumbal atau dilarung tetapi diganti dengan kerbau. Karena saat ini sudah tidak ada lagi gajah putih.

Bentuk Ritual Atau Tata Cara Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Walaupun namanya nyadran tetapi sasarannya jelas, bukan untuk makhluk halus tetapi untuk memperingati atas keberhasilan Adipati Menak Sopal membangun Dam Bagong untuk yang pertama kalinya. Pelaksanaan tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru itu dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya tradisi nyadran itu dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon di bulan Selo. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang tetap diperingati sampai sekarang ini.

Berdasarkan hasil wawancara dalam peringatan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru masyarakat harus bergotong-royong dalam mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan saat pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut. Karena dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut banyak sekali perlengkapan yang harus dipersiapkan. Misalnya saja, sebelum pelaksanaan upacara tersebut masyarakat bergotong-royong membersihkan tempat atau makam yang akan digunakan untuk memperingati nyadran di Dam Bagong serta membuat panggung dan mendirikan terop.

Masyarakatlah yang mempersiapkan perlengkapan yang akan dijadikan sebagai perlengkapan nyadran dan ruwatan saat pelaksanaan upacara nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru. Karena banyak sekali bahan atau perlengkapan yang digunakan untuk sesaji dan ruwatan tersebut. Semua perlengkapan yang diperlukan untuk sesaji dan ruwatan itu harus lengkap atau dalam bahasa Jawa “Pepak”.

Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru antara lain sebagai berikut:

  • Penyembelihan kerbau (berkorban) yang dilakukan di dekat Dam Bagong yang bertujuan agar tidak terjadi banjir bandang lagi.
  • Bersesaji yang biasanya dilakukan oleh dalang ketika ruwatan. Banyak sekali perlengkapan yang digunakan untuk membuat sesaji misalnya saja, kembang telon, mule metri dan lain-lain.
  • Berdoa bersama saat melakukan sekarang di makam Adipati Menak Sopal sebagai penghormatan dan menghargai jasa-jasanya.
  • Berprosesi terlihat saat bapak bupati dan masyarakat berjalan dari makam Adipati Menak Sopal menuju Dam Bagong yang akan melemparkan kepala, kaki, kulit serta tulang kerbau ke dalam Dam Bagong.
  • Makan bersama yang dilakukan oleh para undangan dan masyarakat setelah acara larung selesai. Mereka semua makan daging kerbau yang sudah dimasak.
  • Ruwatan Wayang Kulit semalam suntuk yang bertujuan untuk keselamatan masyarakat Kabupaten Trenggalek demi menghindari bahaya dan bencana yang tidak diinginkan serta agar Dam Bagong tetap bisa mengairi sawah- sawah penduduk sehingga tetap bermanfaat.

Wayangan merupakan suatu akulturasi budaya yang sejak zaman kewalian (abad 14 oleh para wali) dijadikan sebagai hiburan dan alat dakwah. Selain itu, juga mampu menyampaikan pesan etis yang bermanfaat berupa pendidikan moral, keutamaan hidup pribadi dan masyarakat.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upacara nyadran sesuai dengan pendapat Depdikbud (1994:20), bahwa dalam suatu sistem upacara yang kompleks mengandung berbagai unsur yang terpenting antara lain sebagai berikut:

  • Sesaji

Pada banyak upacara bersaji, orang memberi makanan yang oleh manusia dianggap lezat, seolah-olah dewa-dewa atau roh itu mempunyai kegemaran yang sama dengan manusia.

  • Berdoa

Biasanya doa bersama diiringi dengan gerak dan sikap-sikap tubuh yang dasarnya merupakan gerak dan sikap menghormati dan merendahkan diri terhadap para leluhurnya, para dewa atau terhadap Tuhan. di dalam berdoa, arah muka atau kiblat merupakan suatu unsur yang amat penting dalam konsep religi. Dalam berdoa, ada pula suatu unsur yaitu kepercayaan bahwa kata-kata yang diucapkan itu mempunyai kekuatan gaib dan sering kali kata yang diucapkan itu dalam suatu bahasa yang tidak dipahami masyarakat, karena bahasa yang digunakan bahasa kuno. Tetapi justru itulah rupanya yang memberikan susunan gaib dan keramat kepada doa itu.

  • Makan bersama

Makan bersama juga merupakan suatu unsur perbuatan yang amat penting dalam upacara adat. dasar pemikiran di belakang perbuatan itu adalah untuk mencari hubungan dengan dewa-dewa, dengan cara mengundang dewa-dewa pada suatu pertemuan makan bersama. Perbuatan makan bersama terdapat dalam banyak upacara keagamaan di dunia, baik sebagai bagian dari upacara- upacara maupun sebagai upacara itu sendiri.

  • Berprosesi atau berpawai

Pada saat berprosesi sering dibawa benda-benda keramat seperti lambing, bendera, dengan maksud supaya kesaktian yang memancar dari benda-benda itu bisa memberi pengaruh pada keadaan sekitar tempat tinggal manusia dan terutama pada tempat-tempat yang dilalui prosesi atau pawai itu. Prosesi sering juga dimaksudkan untuk mengusir makhluk halus, hantu dan segala kekuatan yang menyebabkan penyakit serta bencana dari sekitar tempat tinggal manusia. Hal ini dilakukan tidak dengan benda sakti, tetapi dengan cara menakuti makhluk halus tadi dengan cara prosesi tersebut.

Ada beberapa niatan saat melakukan upacara tradisi nyadara misalnya sebagai berikut:

  1. Ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. (Tasyakuran atau syukuran) atas keberhasilan pembangunan Dam Bagong yang sangat besar manfaatnya bagi penduduk atau rakyat Trenggalek baik yang lama oleh Adipati Menak Sopal dan penggantinya, walaupun yang baru dibangun oleh Pemerintahan Hindia Belanda secara permanen.
    1. Mengenang tokoh pelaku Adipati Menak Sopal, Ki Ageng Galek, Rara Amiswati, Ki Demang Surohandoko dan lain-lain, untuk didoa’kan semoga diterima amalnya dan diampuni dosa-dosanya.
    2. Semua lillahi ta’ala untuk Allah SWT, tidak untuk makhluk halus (jin, syaitan, dan sebagainya).

Upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek mempunyai unsur-unsur upacara yang sama dengan upacara keagamaan pada umumnya.

Hakikat Gotong-royong Dalam Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Manusia tidak dapat memenuhi kebetuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk sosial, pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong masyarakat Trenggalek Keluraham Ngantru khususnya para petani bergotong-royong agar pekerjaan yang dilakukan bisa cepet selesai. Sistem tolong menolong yang dalam bahasa Jawa biasanya disebut “Sambatan” (Sambat=Minta tolong), atau secara umum oleh orang Indonesia disebut gotong- royong. Dalam gotong-royong ini masyarakat tidak memikirkan kompensasi, dalam masyarakat jawa gotong-royong seperti ini tidak hanya terjadi di bidang pertanian saja, namun juga dalam kegiatan pembangunan rumah, upacara adat, dan upacara kematian.

Jiwa atau semangat gotong-royong itu dapat kita artikan sebagai perasaan rela terhadap sesama warga masyarakat. Dalam masyarakat seperti ini, kebutuhan umum akan dinilai lebih tinggi dari pada kebutuhan pribadi, sehingga bekerja bakti untuk umum dinilai sebagai suatu kegiatan yang terpuji dan mulia. Hal ini sama halnya dengan yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek saat memperinganti upacara tradisi nyadran di Dam Bagong. Dalam bergotong-royong tidak terlihat pebedaan antara warga yang berkecukupan dengan warga yang kurang mampu.

Masyarakat sangat kompak pada saat menyiapkan kebutuhan dan perlengkapan yang digunakan saat peringatan upacara tradisi nyadran. Dengan bergotong-royong bisa meningkatkan rasa kebersamaan antar warga dan mempererat tali silaturahmi antar warga. Selain itu, bisa saling kenal antara warga yang satu dengan warga yang lain yang awalnya belum pernah kenal.

Persepsi Masyarakat Tentang Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Nama nyadran kini “Nyadran Dam Bagong ” diganti dengan “Peringatan Dam Bagong” dan disosialisasikan kepada masyarakat agar tidak salah persepsi. Mayoritas warga masyarakat menganggap nyadran ini sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu, juga sebagai rasa terima kasih kepada Adipati Menak Sopal karena telah membangun Dam Bagong, yang sangan bermanfaat bagi masyarakat. karena dengan adanya dam itu para petani di Kelurahan Trenggalek dan Kelurahan Pogalan dapat mengairi sawahnya.

Prospektif Mengenai Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Bagi Masyarakat di Masa Depan

Prospektif masyarakat ke depan mengenai tradisi nyadran di Dam bagong Kelurahan Ngantru, tradisi ini akan tetap dijaga dan dilestarikan, konon ceritanya dulu tradisi nyandran ini pernah tidak diperingaati terus pada tanggal 21 April 2006 di Trenggalek terjadi banjir bandang. Terus pada saat itu ada salah satu warga yang bermimpi kalau tradisi nyadran tersebut tidak diperingati akan terjadi banjir bandang yang lebih besar dari itu. Setelah mengetahui itu semua lalu tradisi tersebut diperingati dengan menyembelih 4 (empat) kerbau karena sudah empat tahun tradisi tersebut tidak diperingati oleh masyarakat Kabupaten Trenggalek.

Berdasarkan prospektif masyarakat sampai kapanpun tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru akan tetap diperingati. Karena sudah menjadi kebudayaan dan icon pariwisata Kabupaten Trenggalek.

——————————————————————————————-Tahes Ike Nurjana, Suwarno Winarno, Yuniastuti. Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-Royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahanngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Universitas Negeri Malang

Sumber Gambar:  wisatatrenggalek.com/2016/09

Edit: 84N70

 

Adat Perkawinan Masyarakat Samin di Ds. Tapelan Kec. Ngraho Kab. Bojonegoro

generasi-keempat-kaum-saminDidalam melaksanakan perkawinan, anak-anak Samin harus mengikuti adat istiadat yang ditetapkan oleh tradisi mereka. Masyarakat Samin menganggap sah menurut adatnya apabila seorang pemuda telah menyukai seorang gadis maka pemuda tersebut beserta orang tuanya maupun para perangkat desa “jawab” artinya melamar pada orang tua gadis. Setelah peristiwa lamaran diterima, perjaka tersebut “Ngawulo” yaitu dengan cara magang atau nyuwito artinya mencari pengalaman atau nyonto di rumah orang tua gadis dan menjadi “Tahanang” artinya perjaka tersebut harus tinggal di rumah gadis dengan maksud agar tidak diganggu gadis lain.

Selama ngawulo pemuda tersebut bekerja membantu orang tua gadis sanbil menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara perkawinan : dari latar belakang inilah, maka peneliti tertarik untuk meneliti sejauh mana pelaksanaan perkawinan adat masyarakat Samin dengan mengambil judul “Adat Perkawinan Masyarakat Samin di Desa Tapelan Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro”.

Masyarakat Samin termasuk golongan masyarakat yang menyerderhanakan semua proses kehidupan sosialnya, termasuk dalam hal perkawinannya. Dalam masyarakat Samin masih berlaku sistim perjodohan, dari perjodohan ini kebanyakan dari meraka menerima perjodohan yang diberikan oleh orang tuanya. Didalam melaksanakan perkawinan anak-anak Samin harus mengikuti adat istiadat yang ditetapkan oleh tradisi mereka yaitu dengan cara magang atau nyuwirto artinya mencari pengalaman atau nyonto (mencontoh). Proses magang ini sama artinya dengan orientasi atau pengenalan sifat masing-masing calon mempelai apabila sudah ada kecocokan hati pada kedua calon mempelai maka dilanjutkan dengan melamar orang tua gadis

Masyarakat Samin masih memakai adat perkawinan yang biasa mereka lakukan, mekipun sekarang nampak perubahan dalam melaksanakan perkawinan guna mengikuti anjuran pemerintah. Pada waktu dulu sebelum melakukan perkawinan, seorang pemuda yang menyukai seorang gadis, dia dan orang tuanya beserta perangkat desa harus “jawab” yang artinya melamar pada orang tua gadis. Setelah pihak perempuan setuju dengan lamaran pihak lelaki, perjaka tersebut harus “ngawulo” atau “nyuwito” dengan mencari pengalaman/ nyonto dirumah orang tua gadis. Selama ngawulo tersebut, perjaka membantu orang tua gadis sambil menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara perkawinan.

Dulu sistem ngawulo ini masih sering berlaku apalagi jika calonnya masih kecil (dalam arti belum dewasa/ aqil balik), si perjaka harus ngawulo bertahun-tahun sampai calonnya tumbuh menjadi dewasa, tetapi cara ngawulo tersebut tidak dipakailagi walaupun nampak hanya dilakukan dalam waktu yang singkat karena pada umumnya sekarang baru diperbolehkannya kawin jika sudah dewasa/ aqil balik.

Pelaksanaan perkawinan yang terjadi pada masyarakat Samin masih tergolong sederhana, hal itu terlihat pada peristiwa lamaran. Saat melakukan lamaran laki-laki tersebut meminta ijin dan restu dari bapak dan ibu gadis yang dimaksud, setelah mendapat ijin dan gadis itu menyatakan setuju untuk dinikahi maka selanjutnya adalah memberitahukan hal itu pada orang tua untuk berkumpul menyaksikan calon pengantin laki-laki berjanji saling mencintai dan saling setia. Janji yang diucapkan “derek kulo ingkang dateng ngiki supoyo sampeyan seksekno ucap kulo, turun kulo wedok, kulo nglegakake janji jeneng lanang, kulo seksekno kandani, yen janji podo duweni janji, karo nyekseni bojonipun dinikahi, tomponen le?” dan pengantin laki-laki jawab “nggih pak”. Setelah acara tersebut selesai, selanjutnya mendatangkan naib dan moden untuk menyaksikan acara yang kedua kali dalam perkawinan mereka dan mencatat secara hukum. Dalam melangsungkan perkawinan dihadapan naib, wali menyerahkan sepenuhnya kepada naib untuk menikahkan anaknya dengan laki-laki tersebut. Setelah itu naib memberikan penjelasan sekali lagi bahwa yang akan dinikahi sudah saling mencintai dan tidak ada paksaan untuk dinikahi dan kejelasan mengenai nama ataupun orang tuanya. Setelah semua dirasa jelas dan saksi- saksi sudah lengkap maka selanjutnya naib membacakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang suami yang dipenuhi dalam rumah tangga nanti. Setelah pengantin laki-laki menjawab bersedia, selanjutnya naib membimbing calon pengantin laki- laki mengucapkan kalimat syahadat dihadapan para saksi dan setelah itu dinyatakan sah menurut naib maupun para seksi maka selanjutnya diadakan penandatanganan bukti surat nikah oleh kedua mempelai. Setelah itu diadakan doa bersama yang dipimpin oleh naib agar pernikahan yang dilangsungkan menjadi langgeng dan bahagia dengan harapan menjadi keluarga yang sakinah.

Setelah proses-proses perkawinan dihadapan naib selesai kemudian diadakan “Brokohan”. Brokohan ini mengandung arti suatu perayaan selamatan atau syukuran yang ditunjukkan kedua mempelai dalam membina rumah tangga langgeng atau rukun. Perayaan ini dilakukan secara sederhana (tergantung kedua binansial rumah tangga). Adapun perlengkapan brokohan itu yang utama adalah tumpeng yang ditempatkan di tampah yang terdiri dari nasi berada di tenggah dan dikelilingi lauk pauk yang berupa urap- urapan, daun mengkudu yang artinya supaya keluarga yang dibina oleh pengantin menjadi sehat lahir dari penyakit. Kemudian telur yang berasal dari ternaknya sendiri yang bertujuan kedua mempelai dikaruniai anak, ikan laut (gerih) yang bertujuan bercukupan sandang pangan. Dan juga dilengkapi lauk-pauk lainnya sebagai bahan perlengkap saja. Selain itu juga ada nasi kabuli yang ditempatkan dipiring yang lauknya terdiri dari serondeng, peyek kedelai, dan ayam goreng. Hal ini bertujuan agar cita-cita dari keluarga yang akan dibina akan dikabulkan. Selain itu juga ada buah yaitu pisang raja yang dimaksudkan pengantin menjadi raja sehari dan minumnya air putih. Dalam brokohan itu mereka hanya mengundang sanak famili dan tetangga sekitar saja. Dalam perkawinan kedua mempelai hanya memakai pakaian seadanya dan tidak dilengkapi dengan pakaian adat atau perlengkapan sebagaimana layaknya seorang pengantin. Dan dalam acara tersebut mereka tidak menerima sumbangan berupa uang, tetapi mereka bisa menerima sumbangan berupa bahan makanan (bahan- bahan dapur).

Apabila ada lingkungan Samin tedapat beberapa orang yang dalam melaksanakan perkawinan tidak sesuai dengan adat yang semestinya, maka mereka akan menjadi bahan pembicaraan dan dikucilkan dari kalangan mereka. Hal itu dilakukan karena mereka melakukan hal yang bertentangan dengan wong Sikejo atau tiyang Sikep ( sebutan orang Samin) yang artinya orang Samin atau masyarakat Samin yang mempunyai sikap atau sikap hidup tersendiri yang dapat dijadikan sebagai cara atau adat istiadat. Jadi pengertian wong sikap yaitu orang atau masyarakat yang mempunyai cara adat atau istiadat tersendiri yang harus dipatuhi. Walaupun dalam masyarakat Samin masih kental dengan adat perkawinannya namun masyarakat Samin dapat dengan mudah untuk menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada terutama dalam hak perkawinan dan sangat patuh terhadap peraturan pemerintah. Hal itu terbukti dengan perkawinan KUA yang mana masyarakat Samin sudah mulai memahami arti pentingnya pencatatan maupun peraturan pemerintah tersebut. Walaupun pengetahuan mereka masih sangat minim sekali tentang UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan mereka berupaya untuk mengikuti segala peraturan.

Dari uraian di atas jelas dikatakan bahwa pelaksanaan adat perkawinan masyarakat Samin masih dipertahankan hanya saja sekarang pelaksanaanya sudah melakukan anjuran dari pemerintah yaitu dengan melakukan perkawinan mereka di KUA.

 

——————————————————————————————-Sarjono, Panitia Penggali dan Penyusunan Sejarah Bojonegoro.1998.

Kamanten Madura, Tata Rias

Adat Madura dalam melaksanakan pernikahan juga di dudukkan di pelaminan. Tentu saja dalam masyarakat pedesaan misalnya tentu berbedadengan masyarakat kota bahkan juga dengan “masyarakat pinggiran Pada masa lain di pedesaan – pedesaan Madura merias mempelai putraputri mereka dengan tata rias yang warnanya sangat menyolok.

Pemilihan warna tidak terlepas dari yang menyolok itu seperti warna merah, biru bahkan bedaknyapun dicampnr dengan warna-warna kuning yang kemilau dan kedua mempelai memakai kacamata hitam. Pada dasarnya penganten Masyarakat Orang Madura di selnuruh Madura memiliki kesamaan .

Manten laki-laki ataupun perempuan memakai celana hitam lengkap dengan ornamen , bordil atau manik-manik. Bagi golongan bangsawan menggunakan blangkon , jas , dasi , kain panjang , hiasan bunga di kepala pola rumbai atau dikeluarkan dan berselop.

Saat mempelai disandingkan, di hadapannya di sajikan tandak dengan gending- gending kesukaan masyarakat sebab saat itu tamu-tamu yang diundang berdatangan. Biasanya para tamu tersebut menari dengan tandak dalam acara tayup. Setelah tengah malam tayub diakhiri tetapi tetabuhan terus menggema.

Bahkan saat itu sudab tiba waktunya pentas drama dimulai,biasanya lakon yang disajikan berjudul Lerap atau Pak Sakera, yaitu lakon-lakon yang penuh perkelahian. Saat permainan pentas berlangsung dan diiringi sorak-sorai penonton, kedua mempelai sudah berada di kamarnya .

Tata rias kemanten Madura di empat daerah kabupaten, masing-masing menurut kesukaan masyarakatnya. Seperti di daerah Sumenep pakaian “legha” yaitu pakaian jenis keluarga kraton , sangat disukai.

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 12 – 13

Adat Perkawinan Madura

Sistem kekerabatan dalam masyarakat Orang Madura sudah tertata baik dan penggunaan istilah dalam keluarga misalnya sudah jelas , antara orangtua, anak serta lainnya yang menyangkut keturunan , seperti nenek, kakek ,paman, bibi , keponakan , ipar, dan lainnya.

Pemisahan tersebut sudah demikian jelasnya sebingga dalam perkawinan misalnya tidak terjadi hal-hal di luar budaya kemanusiaan . Dalam kaitan ini etnik Madura telah mengatur dan membudayakan beberapa hal yang sebenarnya juga dimiliki etnik-etnik lain yang sudah beradap. Dt antara aturan-aturan tersebut dapat klta lihat pada Adat Perkawinan.

Bagi etnik Madura perkawinan merupakan perbuatan yang dimulyakan . Bagi Orang Madura menikahkan anak perempuannya merupakan sesuatu yang memberi “gengsi. Menurut paham “Madura Lama“ makin cepat anak perempuannya menikah makin cepat pula gengsi itu diperolehnya.

Karena itu pada masa lalu banyak dari anak perempuan Madura yang dinikahkan di bawah umur. Tentu saja keadaan seperti itu sangat merepotkan Kantor Pencatat nikah sebab di situ ada aturan tertentu yang membolehkan seseorang melakukan pernikahan , sebut saja bahwa pernikahan bisa dilakukan dalam usia tertentu baik bagi Si Laki-laki maupun Si Perempuan, pasti sekali anak di bawah umur tidak diperkenankan menikah.

Hal ini sudab dipertegas dalam Undang-Undang Perkawinan kita bahwa usia boleb menikah bagi laki-laki paling sedikit berusia 20 tahun dan 16 tahun bagi Si Perempuan.  Perkawinan di Madura pada umumnya melalui proses pertunangan , namun dalam hal perkawinan ini ada hal yang sangat dihindari yaitu pernikahan yang dinamakan :

1.    Robbhu bhata ( Bbs Indonesia : batu bata roboh ) merupakan pernikahan dari dua orang laki-laki bersaudara menikahi dua perempuan yang bersaudara pula.

2.    Salep tarjha ( Bahasa Indonesia : saling menendang, menyilang ). Pernikahan “Salep tarjha ” ini merupakan pernikahan dari dua orang laki-laki dan perempuan bersaudara menikah dengan dua orang laki-laki juga bersaudara.

3.    Mapak Balli (bertemu wali ). Pernikahan ini dinamakan demikian karena ayah dari kedua mempelai bersaudara. ltulah tiga bentuk pernikahan yang sedapat mungkin dihindari oleh Orang Madura.

 

 

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 10 – 11

Pakaian Tradisi Adat Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Tradisi Adat Jawa Ponoragan, Kabupaten Ponorogo ,pakaian resmi pria dewasa bangsawan, nama pakaian bagian atas baju wakthung dan baju kuthungan, bagian bawah : Celana gombor maro gares.

Unsur perlengkapan pakaian :

Bagian kepala memakai tutup kepala: Blangkon Ponoragan terbuat dari kain batik, berwarna hitam atau biru, motifnya cemukiran, namanya udeng cemukiran dan lain-lainnya bermotif kembang melati merata di tepi ikat kepala, namanya udeng gadung melati. Ukurannya sesuai dengan kepala si pemakai, sedangkan bentuknya seperti pada umumnya ikat kepala (blang- kon), tetapi di bagian belakang ada mondolannya. Mondolan adalah : Suatu bagian paling bawah daripada ikat kepala tepatnya terletak di atas tengkuk manusia dan berbentuk bulat panjang. Mondolan ini fungsinya untuk menyimpan rambut si pemakai yang panjang dengan cara ditekuk-tekuk. Konon pada jaman dahulu orang laki-laki di Ponorogo umumnya mempunyai rambut panjang. Oleh sebab itu bila mema­kai blangkon, rambutnya yang panjang harus digelung dulu dan setelah digelung diberi sisir penyu sebagai penguat gelung, kemudian di taruh di bagian belakang blangkonnya. Itulah sebabnya blangkon orang Ponorogo sekarang ada mondolannya. Sedang gelungnya disebut: gelung kadal menek, artinya seperti kadal yang merayap ke atas.

Topi Ponorogo ada 2 macam yaitu, Peci Pacal Gowang, yaitu bentuk tutup kepala yang krowak atau ber- lobang di bagian belakang kepala dan dipakai sete­lah memakai ikat kepala (udeng). Oleh sebab itu ikat kepala jenis jingkingan ini tidak memakai tan- duk seperti ikat kepala jenis pancalan.   Peci-Dines Bentuk tutup kepala ini seperti topi kondektur kereta api dan di bagian muka terdapat hiasan ber­bentuk krown (mahkota). Bahannya kain dril yang tebal, berwarna hitam. Fungsi pada jaman dahulu untuk pakaian pengantin laki-laki.

          Bagian atas memakai Baju wakthung, artinya krowak di buthung atau krowak di bagian punggung. Bahannya dahulu dipakai kain laken, tetapi sekarang dipakai kain catarina, yang berwarna hitam, polos, ti­dak bermotif. Ukurannya disesuaikan dengan badan si pemakai. Model baju dibuat tidak memakai krah, pan jang lengannya sampai pergelangan tangan, bagian bela­kang di “krowak” atau terpotong sampai di atas ikat pinggang. Kancing baju ada 5 biji dengan susunan : di atas 2 biji, di tengah 2 biji dan di bawah 1 biji. Pola pa­kaian.

Baju kuthungan ialah baju bagian dalam yang berlengan pen- dek dan memakai gulon atau krah. Bahannya kain mori, berwarna putih kecuali krahnya berwarna merah, tidak bermotif, ukurannya disesuaikan dengan badan si pemakai. Bentuknya seperti hem lengan pendek, panjangnya hanya sampai pinggang. Jumlah kancing 5 buah (lihat gambar). Perhiasan di dada, bagi bangsawan yang berada (mampu), biasanya pada baju wakthung dilengkapi dengan hiasan dada berupa : jam saku lengkap dengan rantai peraknya (Ponorogo : Perde). Selain jam saku dengan rantainya, ada juga yang me­makai hiasan lain berupa gandul krepyak uang emas yang terdiri dari : dinar ringgit, dinar repes, dinar ukon, dinar talen, dinar ece/ketip. Uang-uang emas ini disusun (ditata) menjadi satu deret- an dari yang terkecil sampai dengan yang terbesar dan digantungkan dari saku kanan ke saku kiri atau dari saku kiri ke kancing baju bagian atas. Bagi rakyat biasa yang kurang mampu, hanya memakai gandul kuku macan. Unsur perhiasan di tangan berupa Cincin yang terbuat dari emas, berwarna kuning dengan motif cere gancet. Ukurannya dibuat sesuai menurut ke­mampuan. Bentuk cere gancet seperti anjing kawin atau anak coro yang berhimpitan.

Bagian bawah Celana gombor maro gares, yaitu celana yang panjang­nya hanya setengah lutut atau separuhnya tulang ke- ring, memakai koloran dari benang lawe yang dipilin atau ditampar/dikelabang menjadi tali, dengan bahan la- kan dan warna hitam, tidak bermotif. Ukurannya agak longgar (gombor). Model celana dibuat longgar atau gombor, di bagian atas diberi jahitan untuk tempat ko­loran dari tali lawe. Celana dibuat tanpa memakai un- juk-unjuk. Panjang celana hanya setengah lutut atau te- patnya di bawah dengkul. Pola celana : lihat gambar. Celana gombor ini ada 2 macam yaitu, Celana gombor maro gares dan Celana gombor dingkik’ an, seperti celana gombor maro gares tetapi di samping dengkul ada kancing 3 biji.

Jarit (kain panjang), bahannya kain mori (batik), berwarna hitam dengan latar ireng, motifnya parang barong atau lar-laran, dengan ukuran seperti kain panjang pada umumnya. Bentuknya empat persegi panjang, jumlah wiron tidak ada ketentuan dan ukuran wiron kurang lebih 2,5 cm. Ikat pinggang terdiri dari 2 macam yaitu :

ü   Sabuk ubet, bahan sabuk ubet ini adalah kain hitam, tidak ber­motif, dengan ukuran panjang ± 1 meter dan lebar ± 20 cm berbentuk panjang.

  • Sabuk epek lengkap dengan ketimangnya berbahan kain beludru, sedang untuk ketimangnya dari besi, kuningan, perak atau emas. Warnanya hitam untuk epeknya dan untuk keti­mangnya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Motif hiasan borci atau dibordir dengan benang emas (untuk epeknya), sedangkan untuk ketimang­nya polos. Ukuran panjang ± 1 meter dan lebar- nya ± 20 centimeter. Bentuk seperti ikat pinggang pada umuinnya.
  • Senjata atau gaman untuk melengkapi pakaian adat ini terdiri dari 2 macam yaitu : 1.Pedang wesi aji lengkap dengan anggarannya, yaitu tempat untuk mengaitkan pedang. Bahannya dari besi untuk pedangnya, sedangkan ang­garannya terbuat dari kulit harimau. Warnanya putih untuk pedangnya, sedangkan anggarannya berwarna coklat, bermotif polos. Bentuknya seperti pedang pa­da umumnya, hanya untuk pedang wesi aji ini diberi anggaran dari kulit harimau, biasanya hanya dipakai oleh golongan bangsawan saja. 2. Keris (Ponorogo : Gabelan) Selain pedang wesi aji, para orang tua di Ponorogo juga memakai atau melengkapi dirinya dengan keris, dari besi berwarna putih, motifnya blangkrak, dengan ukuran seperti ukuran keris pada umumnya. Bentuk seperti bentuk keris pada umumnya. Keris ini diletak- kan di belakang, condong ke sebelah kanan. Oleh se­bab itulah maka bajunya wakthung atau pakal kro­wak di punggung. Keris ini dipergunakan andaikata sudah terdesak sekali untuk menyelamatkan dirinya. Bila hanya bahayaa ringan yang menyerang, maka yang dipergunakan terlebih dahulu adalah pedang.

Alas kaki Unsur perlengkapan bagian kaki memakai alas kaki, disebut selop atau eripu, dengan bahan dan kulit, ber­warna hitam polos. Ukurannya tidak ada ketentuan, jadi sesuai dengan kaki pemakai. Bentuknya, bagian de­pan tertutup rapat dan tinggi selop sejajar. Cripu ini khusus dipakai oleh para bangsawan saja, orang biasa tidak berani memakai.

Cara berpakaian, mula-mula memakai celana gombor maro gares warna hitam dengan kolor lawe. Celana tersebut diikat kencang di pinggang dengan kolor lawe dan setelah diikat, kolornya dibiarkan ngle- wer supaya kelihatan. Setelah itu dipakai kain panjang yang su­dah diwiru besar-besar dengan cara dililitkan melingkari badan dari arah kanan ke kiri, dipakai dari batas pinggang sampai di atas mata kaki.

Kemudian memakai ikat pinggang sabuk ubed warna hitam, seperti memakai setagen yaitu dililitkan di ping- gang. Sabuk ubed ini berfungsi sebagai pengikat antara kain pan­jang dengan pinggang si pemakai agar kain panjang tidak mudah lepas. Setelah itu dipakai ikat pinggang sabuk epek lengkap de­ngan timangnya, agar kain lebih kuat lagi. Lalu dipakai senjata, pedang wesi aji lengkap dengan anggarannya. Pedang ini diletakkan di belakang. Kemudian dipakai ikat kepala blangkon Ponoragan lengkap dengan hiasan mondolannya. Ada pun cara me­makai ikat kepala ini bagi golongan bangsawan disebut “jingking- an” yaitu ikat kepala yang tidak memakai semacam tanduk se­perti halnya ikat kepala jenis pancalan. Setelah itu dipakai peci pacul gowang dan talinya dikaitkan atau diikatkan dengan mon­dolannya agar tidak jatuh, baru dipakai baju kuthungan warna putih. Kelima kancingnya dikancingkan semua. Kemudian dipa­kai baju wakthung, kelima buah kancing dikancingkan semua (tertutup rapat). Setelah itu dipakai alas kaki selop atau cripu. Kemudian memakai keris motif blangkrak. Keris ini diletakkan di belakang, condong ke sebelah kanan dan diselipkan di dalam ikat pinggangnya. Kalau dipakai perhiasan di dada berupa gandul krepyak uang emas atau gandul kuku macan dan perhiasan di tangan berupa cincin.

Fungsi pakaian, ialah untuk bepergian, misalnya melawat ke daerah-daerah lain atau bilamenemui tamu-tamu da­ri luar daerah dan menyambut tamu agung. Selain itu juga dipakai untuk menghadiri acara resmi dalam pesta perkawinan.

  1. Arti simbolis. untuk warna hitam pada baju wakthung dan celana gombor maro gares ialah; Warna hitam dipandang dari segi religius adalah melambangkan ketenteraman dan kelanggengan (abadi). Bahwa orang Ponorogo dahulu mengingin- kan hidupnya tenteram. Bagi masyarakat Ponoro­go, warna hitam merupakan warna yang bersifat langgeng. Oleh sebab itu warna hitam pada baju dan celananya sudah tidak bisa diubah lagi dengan warna yang lain.Warna hitam dipandang dari segi historisnya ialah karena kena pengaruh kebudayaan Solo yang menyenangi warna hitam. Selain itu juga karena daerah Ponorogo merupakan daerah atau tempat pembuangan dari Majapahit (daerah wetan Nglawu) yang pada waktu itu merupakan tempat kegelapan.
  2. Arti simbolis jumlah kancing 5 biji pada bajunya ialah melambangkan bahwa kekuatan manusia itu terletak pada lima jari.
  3. Arti simbolis warna merah’pada krah baju kuthungan atau baju dalamnya ialah bahwa warna merah bagi orang Ponogoro melambangkan keberanian dan juga ka­rena ada pengaruh politik, sehingga sampai sekarang warna tersebut masih tetap dipakai.
  4. Arti simbolis daripada kolor pada celana gombor maro gares ialah karena pada kolor ini ada unsur magisnya dan bagi orang Ponorogo, kolor merupakan senjata ampuh. Menurut sumber keterangan dari salah seorang informan, bahwa yang sungguh-sungguh ampuh itu justru terletak pada kantongannya karena di dalamnya diisi dengan jimat-jimat berupak menyan, rajah atau macam-macam kepercayaan orang. Selain itu agar dapat betul-betul ampuh bila difetakkan di tempat yang keramat (Jawa : disotrekkan), artinya dikeramatkan. Kolor yang ada isinya ini justru diikatkan di luar jarik (kain panjangnya), jadi bukan di dalam celananya.
  5. Arti simbolis motif lar-laran pada kain panjangnya ialah karena motif ini adalah suatu gambaran yang membedakan antara bangsawan dan rakyat biasa atau sebagai simbol status sosial. Jadi yang boleh memakai motif ini hanyalah kaum bangsawan. Demikian juga halnya de­ngan pemakaian selopnya. Selop ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan saja, karena dari selop tersebut dapat menunjukkan tentang status seseorang yaitu bang- sawan. Dalam hal ini rakyat biasa juga tidak boleh me­makainya.
  6. Arti simbolis pemakaian anggaran (bagian dari senjata) yang memakai bahan dari kulit harimau ialah bahwa orang yang memakai anggaran pada senjatanya dikata- kan seperti raja. Maksudnya bila seseorang memakai pakaian adat lengkap dengan senjata dan anggarannya, maka berarti orang tersebut sudah mengenakan pakaian kebesaran sepertilayaknya seorang raja Seseorang yang mengenakan pakaian ini mempunyai maksud agar dihor- mati dan disegani orang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm.127-134

Pakaian Tradisi Adat Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Sehari-hari anak laki – laki  Rakyat biasa, nama pakaian bagian atas Baju Pesa’an, bagian bawah Celana gomboran (dahulu), serta unsur perlengkapan berpakaian  diantaranya:

Bagian kepala kopyah hitam atau tanpa peci, bahan sejenis beludru, motif polos, warna hitam, ukuran di sesuaikan dengan kepala si pemakai, bentuk seperti peci.

Bagian atas : Baju Pesa’an Bahan : kain cina (dahulu) kain katun (sekarang) Motif : polos Warna : segala warna Ukuran : serba longgar tidak pas badan. Bentuk : baju ini berlengan panjang yang longgar cenderung komprang. Bentuk leher bulat tanpa ke- raaig. Saku pada baju 3 buah, yaitu 1 buah di kanan atas dan di kanan-kiri bawah masing-masing 1 buah. Pada samping kiri-kanan baju terdapat belahan. Baju ini tidak memakai kancing, walaupun di bagian kanan atas baju terdapat lubang kancing. Lubang kancing di sini fungsinya hanya sebagai hiasan saja, ciri khas dari baju pesa’an ini terletak pada klimannya se- lebar ± 15 cm. Bagian bawah Celana gomboran Bahan kain katun Motif  polos Warna bebas, Ukuran serba longgar tidak pas badan. Panjang cela­na sampai mata kaki, bentuk : seperti pada umumnya celana panjang, tetapi tidak memakai kolor. Adapun ciri khas dari ben- tuknya, ialah jika dibentangkan lurus seperti sarung. Celana ini mempunyai keliman selebar ± 15 cm.

Sarong Plekat bahan katun, motif  kotak-kotak besar maupun kecil, warna warna-warni, bentuk seperti pada umumnya sarung yang lain.

Alas kaki terompah Bahan kulit sapi motif polos, bentuk seperti sandal  dengan tali lebar.

Cara memakai pakaian. dimulai  memakai celana gomboran dengan cara ke kaki di masukkan dalam pipa celana. Celana tersebut bagian pinggangnya digulung seperti pada umumnya kalau memakai sarung. Setelah itu mengenakan baju pesa’an. Sebagai perlengkapan biasanya memakai sarung yang diselempang miring dari pundak ke badan- nya. Perlengkapan yang terakhir dipakai adalah kopyah (peci) yang dikenakan di kepala dan terompah sebagai alas kaki.

 Fungsi pakaian bagi kalangan anak rakyat biasa mempunyai fungsi ganda. Pakaian ini dapat dipergunakan untuk bermain atau untuk menunaikan ibadah, yaitu sholat (sembahyang) di mesjid. Pada zaman dahulu sebelum ada sekolah formal ke- biasaan anak Madura baik pagi-siang dan sore mengaji di su- rau, maka jika saat mengaji atau sholat di masjid tiba sarung yang diselempangkan tersebut dipakai selayaknya sebagai sarung. Jadi dalam hal ini sarungpun mempunyai fungsi gan­da, yaitu untuk bermain atau keperluan lain sehari-hari dan untuk sholat. Bila waktunya tiba mereka langsung ke surau tanpa pulang lebih dahulu dengan tidak mengotori/mena- jiskan sarung karena tidak di pakai langsung (fungsi praktis). Sampai saat ini kebiasaan mengaji di surau masih dilaksana- kan di desa maupun di kota di Madura, hanya saja sekarang baju pesa’annya diganti dengan kemeja lengan pendek dan ce­lana pendek biasa. Adapun fungsi sarung sampai sekarang ma- sih tetap seperti dulu. Mengenai warna baju saat ini cende- rung berwarna bebas.

Arti simbolis dari warna baju, warna yang beraneka ragam mencerminkan suatu kecerian, kegembiraan sebagaimana yang dialami pada masa kanak-kanak.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 73-75

Pakaian Adat Tradisi Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Resmi Bangsawan Wanita Dewasa , nama Pakaian bagian atas klambi kebaya panjang  bagian bawah Jarit (kain panjang). Sedangkan sebagai unsur perlengkapan pakaianadalah sebagai berikut:

 Bagian kepala :

Wajah Rias wajah dengan menggunakan.

(a)  Wedak gadhung dan wedak teles atau wadak dari bahan beras. Cara membuat wedak gadhung adalah sebagai berikut • Beras direndam dalam air selama kurang lebih 5 atau 7 hari. Tiap hari airnya harus diganti. Setelah itu ditumbuk atau diremas dan di- diamkan untuk beberaoa waktu. Setelah lembut di saring dan sisa/ampas dari beras yang halus itu di­beri ramuan wangi-wangian dari bunga kenanga, kantil dan daun pandan. Kemudian dibentuk bulat- bulat dan dijemur sampai kering. Setelah itu dipo- leskan ke seluruh wajah. Adapun fungsinya agar muka tampak cantik dan segar.

(b)  Celak yaitu hiasan berupa garis di atas dan di ba­wah kelopak mata. Bahannya langes (bahasa Jawa) yaitu, asap api yang mengeras. Warnanya biasanya hitam.

(c)  Nginang (makan sirih), salah satu kebiasaan orang-orang tua di Ponorogo adalah nginang yaitu : mengunyah sirih dengan segala bumbu-bumbunya antara lain : enjet (kapur- sirih), gambir dari isi buah pinang. Sirih ini diku- nyah sampai lembut/halus, setelah itu dibuang dan di bersihkan dengan tembakau yang telah dibentuk bulat. Fungsi daripada makan sirih (nginang) ini adalah untuk menguatkan gigi dan memerahkan bibir.

Rambut

Memakai sanggul gelung konde, di atas sanggul dipakai hiasan bunga melati. Hiasan lain berupa 2 buah tusuk (cucuk) konde. Bahannya emas bermata intan, perak atau baga. Ben­tuknya Sendokan (seperti sendok) dan manggaran (se­perti bunga kelapa).

Telinga

Hiasan di telinga ialah suweng gem bung dengan temung- gul atau intan yang besar di tengah-tengah, serta di ling- kari oleh 8 intan yang kecil-kecil. Di belakang temung- gul ada semacam sekrup dari tembaga sebagai (alat un­tuk mengunci antara suweng dengan telinga agar tidak mudah lepas. Suweng yaitu subang bahannya terbuat dari emas dengan banyak permata, biasanya permata intan atau berlian. Dasar suweng berwarna hitam terbuat dari bahan beludru.

Orang perempuan yang memakai subang sejenis ini, lobang telinganya harus besar (± diameter 1 centime­ter). Jadi bagian dari subang yang akan dimasukkan ke dalam lobang telinga ini bentuknya cukup besar, tidak seperti subang biasanya. Adapun cara untuk memperbesar lobang telinga ini ialah dengan diberi merang atau batang padi. Jika menginginkan lobang tersebut ditambah, maka setiap hari jumlah merangnya harus ditambah pula. Lobang itu semakin hari semakin besar, sam­pai akhirnya cukup untuk diberi subang gembung.

Bagian atas :

Leher

Hiasan di leher berupa kalung rantai terbuat dari emas untuk pelengkapnya dipakai liontin ada beberapa ben­tuk liontin, yitu:

  • Bentuk keris dengan mata beijumlah 9 buah.
  • Bentuk bulan dengan mata beijumlah 6 buah. Ba­han dari emas dan matanya dari intan.

ü   Bentuk kuku macan, bagi mereka yang kurang mampu. Bahannya berupa kuku macan asli dengan warnanya putih kekuningan.

Kebaya panjang dengan memakai Kutubaru. Bahannya kain beludru, berwarna hitam polos. Bentuk­nya seperti pada umumnya kebaya Jawa, ukuran pan­jang kebaya sampai di bawah pinggul atau di bawah pan- tat/menutupi pantat.

Hiasan pada baju kebaya berupa peniti rantai, yang ter­buat dari emas. Bahan emas, motifnya bentuk huruf S atau motif kembang atau motif tebu sekeret.

Bagian dada, dipakai kutang sebagai sarana penutup buah dada supaya bentuknya bagus.

  • Kemben, yaitu sepotong kain penutup dada dan dipa­kai setelah memakai setagen, dari kain batik, bermotif jemputan atau lompong keli, yang berwarna-warni. Ukuran panjang ± 2 meter, lebar ± 40 centimeter.
  • Selendang ciut, yaitu sepotong kain kecil sebagai pelengkap kalau me­makai kain kebaya, bahannya kain batik. Motifnya truntum (satu stel dengan kain panjangnya), dengan warna hitam, ukuran panjang ± 2 meter dan lebar ± 40 cm. Bentuk seperti selendang pada umumnya, yaitu persegi-empat panjang.

Bagian tangan, hiasan di tangan berupa gelang penuh permata yang ber- nama gelang tretes terbuat dari emas. Bentuknya ulan-ulan yaitu menyerupai lilitan ular, atau bentuk untir-untir yang menyerupai spiral (pir).

Bagian bawah :

Kain panjang atau jarit yaitu sehelai .bahan berbentuk empat persegi panjang, berukuran 2% x 1 meter, ter­buat dari batik yaitu kain mori yang dilukisatau digambar, dengan motif bledak atau truntum dengan hiasan lar-laran. Ukuran seperti kain panjang pada umurnya yaitu panjang 2 meter dari lebarnya ± 1 meter. Bentuk empat persegi panjang dengan jumlah wiron antara 20 dan 22.

Setagen

Setagen yaitu sepotong kain yang panjang dan sempit terbuat dari kain tenun yang kuat dipergunakan untuk mengikat antara kain panjang dengan badan (pinggang). Bahannya kain tenun, dengan warna hitam. Ukuran pan­jang ± 5 meter, lebar ± 15 cm.

Alas kaki

Namanya selop beludru atau sandal yang bersulam hias­an mote (manik-manik). Bahannya kulit, berwarna hi­tam dan dihias manik-manik yang berwarna-warni. Fungsinya sebagai pelindung dan penghias kaki. Bentuk selop, tertutup bagian depannya dan tidak terlalu ting- gi, sedangkan sandalnya kadang-kadang terbuka bagian depannya.

Cara berpakaian

Mula-mula dipakai jarit (kain panjang) yang sudah diwiron de­ngan cara dililitkan di badan sampai ke mata kaki. Setelah itu di­pakai setagen yang dililitkan di pinggang agak kencang agar kain tidak mudah terlepas. Kemudian dipakai kemben, yaitu sepo­tong kain batik yang berfungsi sebagai penutup bagian dada sam­pai ke pinggang. Setelah itu dikenakan kebaya panjang, lalu dipa­kai selop dan terakhir selendang.

Fungsi

Fungsi pakaian adat ini ialah untuk pakaian bepergian, misal­nya menghadiri pesta perkawinan atau menyambut tamu agung. Sedangkan fungsi hiasan adalah untuk suatu kebang- gaan atau perlambang suatu kekayaan.

Arti simbolis:

  • Arti simbolis kuku macan sebagai leontin/bandul ka­lung : kecuali untuk perhiasan, pada kuku macan terse- but ada yoni yaitu unsur kekuatan gaib yang fungsinya menjaga keselamatan si pemakai.
  • Arti simbolis warna dasar hitam yang dipakai untuk ke- baya/busana wanita-wanita bangsawan di Ponorogo umumnya melambangkan : kelanggengan dan keabadian atau kewibawaan si pemakai.
  •  Arti simbolis motif truntum pada kain panjang yaitu suatu penghargaan yang diberikan pada mempelai ber- dua, jika kain ini dipakai pada saat menghadiri upacara perkawinan. Selain itu juga memberikan arti suatu kebahagiaan dan keselamatan bagi seluruh tamu yang di- sambut. Sedangkan motif  lar-urip (sayap) adalah suatu gambaran yang membedakan antara bangsawan dan rak­yat biasa (suatu simbol status sosial). Jadi motif  lar- urip ini tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa dan yang boleh mempergunakan hanyalah kaum bangsawan saja. Demikian juga halnya dengan selop (sandal). Selop ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan, karena selop itu menunjukkan tentang status seseorang yaitu bangsa­wan. Rakyat biasa tidak boleh memakainya.
  • Arti simbolis bunga melati pada sanggul yang dipakai adalah suatu perlambang keharuman, keagungan, kesu- cian dan suatu kharisma seorang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 123-127

Pakaian Adat Tradisi Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Resmi Wanita Remaja Bangsawan, nama Pakaian bagian atas klambi kebaya panjang, bagian bawah Jarit (kain panjang). Unsur Perlengkapan Pakaian pada  bagian kepala:

Wajah memakai wedak teles, Rias wajah memakai wedak gadung atau wedak te­les atau wedak yang dibuat dari bahan beras. Ada- pun cara membuat wedak gadung adalah sebagai berikut : Beras direndam dalam air selama 5—7 hari. Tiap hari airnya diganti. Setelah beras diren­dam kemudian ditumbuk (diremat) dan disaring. Setelah lembut, didiamkan untuk beberapa waktu. Sisa atau ampas dari beras yang halus tersebut diberi ramuan wangi-wangian dari bunga kenanga, kantil dan daun pandan. Kemudian dibentuk bu- lat-bulat dan dijemur sampai kering. Cara pema- kaian wedak aden ini ialah dicampur dengan air, lalu dipoleskan ke seluruh wajah. Fungsi wedak adem ialah agar muka tampak cantik berseri-seri.

Celak yaitu hiasan berupa garis di atas dan di ba­wah kelopak mata, bahannya ialah langes (bahasa : Jawa) yaitu asap api yang mengeras. Biasanya api dari lampu teplok yang nyalanya besar biasa mengeluarkan asap ba- nyak dan lama-lama menebal serta mengeras. Jela- ga yang telah mengeras itu berwarna hitam. Inilah yang dijadikan celak.

Rambut, untuk remaja putri biasanya dipakai sanggul berupa gelung konde dengan hiasan di atasnya 2 buah cucuk (tu­suk) konde, bahannya emas, perak atau tembaga, dan bentuknya menyerupai sendok dan manggaran menyerupai manggar (bunga kelapa).  Hiasan telinga memakai gondel (anting-anting), terbuat dari emas, berwarna kuning po­los. beratnya tidak ada ketentuan, biasanya disesuai­kan dengan kemampuan.  Bentuknya seperti bentuk setengah lingkaran.

Bagian atas,  Hiasan di leher berupa kalung rantai (menyerupai se­perti rantai). Bila dari kalangan orang berada atau mampu, maka diberi gandul atau leontin dinar (uane Arab). Bahannya emas, dengan warna kekuning-kuningan de­ngan bentuk seperti rantai dan liontinnya bulat seperti uang logam. Klambi kebaya panjang tanpa Kuthubaru. Bahan pakaian ini ialah beludru berwarna hitam. Bentuknya seperti umumnya kebaya Jawa, dibuat tan­pa memakai kuthubaru, tetapi menggunakan benik atau kancing dinar sebanyak tiga atau lima buah. Ukurannya panjang kebaya sampai di bawah pineeul. Pola badan dan lengan dibuat mengepas di badan agar terlihat jelas bentuk badannya. Itulah tujuannya kebaya remaja putri dibuat tanpa kuthu baru. Kutang sarana penutup buah dada supaya bentuknya bagus dan menarik, bahannya kain mori atau kain belacu yang agak halus biasanya warnanya pada umumnya putih atau hitam, dan bentuknya seperti bentuk kutang pada umumnya. Ukurannya sesuai dengan besar kecilnva dada si pemakai dan biasanya dibuat agak pas agar kelihatan badannya singset dan kencang.

Kemben bahannya kain batik berwarna merah, de­ngan motif cinde atau pelangi. Ukurannya panjang 2,5   meter dan lebar ± 40 centimeter. Fungsinya untuk penutup bagian dada dan sekalian juga untuk penutup stagen. Selendang Cinde bahan selendang ini ialah kain batik dengan warna bermacam-macam. Motifnya ialah udan liris, sinatrio manah atau sido mukti (biasanya satu stel dengan kain panjangnya). Ukuran panjang 2,5 meter dan lebar lebih kurane 40 centimeter.

Fungsi sebagai pelengkap kain kebaya. Hiasan di tangan berupa Gelang rantai atau gelang penuh permata yang bernama gelang tretes. Bahannya emas dan permatanya dari intan. Ben­tuknya seperti rantai biasa dan bentuk ulan-ulan yaitu menyerupai lilitan ular. Cincin dibuat dari emas bermata merah dan putih. Bentuknya cere gancet yaitu bentuk anak coro yang se­dang berdempetan tumpeng tindih. Menpenai beratnya tidak ada ketentuan, disesuaikan denean kemampuan.

Bagian bawah : Jarit (kain paiyang) terbuat dari mori, dengan warna latar pu­tih. Motifnya bahan liris atau sinatrio manah, dengan ukuran seperti kain panjang pada umumnya yaitu, pan­jang 2,5  meter dan lebar satu meter. Bentuk kain empat persegi panjang dengan jumlah wiron panjil, antara sebelas sampai dengan sembilan belas. Setagen dibuat dari kain tenun kentel, berwarna hitam ukuran panjang ± 5 meter dan lebar ± 15 centimeter, stagen berfungsi untuk pengikat kain panjang denpan pinggang agar kain tidak lepas atau melorot dari pinggang. Alas kaki selop atau sandal, Selop dibuat dari bahan beludru, sedangkan sandal di­buat dari bahan kulit. Warnanya biasanya hitam. Model selop, bagian depannya tertutun dengan hak tidak terla- lu tinggi sedang sandal, model srempang (seperti sandal jepit).

Cara berpakaian, Mula-mula dipakai kain panjang yang sebelumnya sudah diwiron dengan jumlah ganjil. Kain dipakai dengan cara dililitkan meling- kari badan dari arah kiri ke kanan, yang panjangnya dari batas ninggang sampai batas mata kaki. Setelah itu, dipakai setagen sebagai pengikat kain panjang di ba­dan (pinggang) agar kain panjang terse but dengan erat dan baik, sehingga tidak mudah lepas. Ada pun memakainya juga dengan cara dililitkan di pinggang dan waktu melilitkannya, setagen ter- sebut agak ditarik supaya ketat dan sinpset. Kemudian, dipakai kemben dengan cara dililitkan pula dari batas dada sampai ke pinggang. Ada pun memakai kemben adalah se­bagai penutup dada, sekaligus untuk menutupi setagen agar tam- nak lebih rapi. Setelah yang baru dipakai klambi kebaya panjang kemudian benik atau kancing dinarnya dikancingkan semua. Kemudian, dipakai selop atau sandal, dan selendang cinde.

Fungsi pakaian untuk menutup bagian tubuh dan alat ke- indahan dalam menghadiri acara-acara resmi pada pesta per- kawinan serta acara resmi dalam menyambut tamu-tamu. Arti simbolis : Kebaya remaja putri ini yang tidak memakai kuthubaru mempunyai makna bahwa remaja putri itu belum pernah mempunyai putra. Hal ini dilambanpkan denpan bentuk badannya yang masih kencang (singset) teruta- ma pada bagian buah dada, sehingga tidak perlu lapi kuthu baru pada kebayanya.  Warna merah dan nutih pada cincin cere gancet, melambangkan bahwa asal manusia adalah dari Bopo dan Biyung (Bapak dan Ibu).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 119-122

Pakaian Adat Tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Resmi Wanita Remaja Rakyat Biasa, nama pakaian, bagian atas kebaya rancongan, bagian bawah : Sarung tenun atau sarung batik. Unsur Perlengkapan Pakaian: Bagian kepala Pada Wajah memakai jimpit di bagian kening kanan, kiri atau di dahi, tempat yang dijimpit disebut leng-pelenpan, bahan dibuat dengan cubitan tangan (dahulu). Sedang saat ini memakai alat kosmetik (lipstik). warna merah. Ukuran : ± 2 cm., bentuk berupa garis kecil membujur.

Hiasan mata celak, bahan dari cairan atau bubuk seperti pasir halus yang didapatkan dari tanah Mekkah Arab, warna hitam pekat atau hitam keabu-abuan, ukuran sepanjang kelopak mata bagian bawah, bentuk berupa garis kecil memanjang mengikuti lengkung kelopak mata bagian bawah.

Rambut disisir ke belakang, kemudian digelung sendhal, gelung Madura ini pada umumnya agak tinggi letaknya, bahan rambut asli (membuat sendiri) tanpa cemara,  bentuk agak bulat penuh (padat) dengan kuncir atau ekor yang merupakan sisa rambut dan terletak tepat di tengah-tengah sanggul.

Harnal Bahan emas bermata selong warna kuning emas Ukuran ± panjang 12 centimeter. Bentuk seperti harnal pada umumnya tetapi agak besar. Hiasan Rambut Terdiri :

Cucuk Bahan dari emas, motif mata uang talenan, warna kuning emas, ukuran bergaris tengah 2 centimeter, bentuk seperti sebuah busung yang terdiri dari untaian mata uang emas (sekeping atau dua keping), tetapi adakalanya terdiri dari uang talenan atau ukonan. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai bagi yang mampu uang ini berjumlah sampai 10 buah atau lebih. Te­tapi bagi masyarakat yang tidak mampu jumlahnya hanya 3 atau 5 buah.

Cucuk Dinar, bahan emas, warna kuning emas, ukuran bergaris tengah 3 centimeter, motif  mata uang (dollar) Amerika, bentuk  seperti sebuah busur yang terdiri dari beberapa kepingan dollar Amerika.  Tapi adakala­nya hanya terdiri dari sebuah dollar saja. Karena ke 2 cucuk (cucuk sisir maupun cucuk di­nar) tersebut terbuat dari emas dan harganya mahal, maka demi keamanannya cucuk tersebut diberi tali dari benang atau kain untuk diikatkan di pangkal sanggul agar tidak mudah lepas.

Bangun tuluk bahan bunga alami, misalnya kembang melati atau tanjung, warna putih, Ukuran : panjang ± 10 centimeter, bentuk diuntai (dironce) menyerupai bentuk busur.

Tutup kepala memakai leng-oleng yang diletakkan di atas kepala, bahan handuk besar atau kain yang tebal. Hiasan telinga Anteng cap-cap bahan emas , motif  polos warna kuning emas, ukuran, bentuk bulat kecil berantai.

Hiasan leher  kalung  bahan emas, motif  Pale obi, mon-temonan atau Brondong. warna kuning emas, ukuran berat kalung ini tergantung dari kemampuan ekonomi si pemakai. Kadang-kadang beratnya  sampai 1 ons atau lebih. Tapi bagi masyara- kat biasa beratnya hanya ± 5 s/d 10 gram. Panjang ± 30 s/d 40 centimeter atau tergantung selera si pemakai, bentuk corak pale obi bentuknya menyerupai batang ubi melintir. Sedang corak mentemonan bentuknya seperti biji buah mentimun yang disambung satu persatu (diuntai) memanjang sampai ukurannya sesuai dengan ukuran lingkar leher. Motif Brondong adalah suatu motif yang menyeru­pai biji jagung yang disambung satu persatu (direnteng) sampai ukurannya seperti kalung. Bentuk ka­lung brondong ini sampai sekarang masih banyak dipakai oleh wanita Madura. Dan motif ini adalah motif  khas kalung Madura.

Kalung tersebut biasanya dikenakan bersama liontin atau bandul, bahan emas warna kuning emas, ukuran tergantung dari bentuk dan kemampu an ekonomi dari si pemakai. Akan tetapi berat bandul ini pada umumnya ± 5 s/d 15 gr, bentuk liontin pada jaman dahulu pada umumnya berbentuk mata uang dollar Amerika (dinar). Untuk saat ini wanita Madura juga banyak mempergunakan liontin yang berbentuk mirip bunga matahari dengan bulatan menonjol di tengah serta kelopak kecil-kecil di pinggirnya.

 Bagian Atas

Kebaya rancongan, bahan dahulu pada umumnya memakai bahan tenun. Saat sekarang memakai bahan elastis, misalnya kain brokat. Motif kain tenun motif polos. Kalau kain brokat berbunga-bunga besar atau kecil dan tembus pandang. Warna kalau dahulu berwarna hitam atau biru. Seka­rang pada umumnya memakai warna-wama menyolok, misalnya merah muda, merah tua, hijau pupus atau ku­ning. Adakalanya warna-warna yang dipakai untuk saat ini  kombinasikan dengan benang-benang emas atau perak yang mengkilap. Bentuk seperti kebaya pada umumnya tetapi tanpa memakai kutu baru. Di bagian pinggang ada 6 buah kupnat, 3 di pinggang kanan dan 3 di pinggang kiri. Keba­ya rancongan ini ciri khasnya pada kelimannya yang lebar ± 15 centimeter.

Kutang bahan katun, motif polos, warna biasanya menyolok kontras dengan kebayanya, misalnya  merah, hijau daun pupus atau biru benhur. Ukuran sesuai badan (ketat). Panjang kutang ada yang pendek ada pula yang panjang sampai ke perut. Bentuk seperti kutang pada umumnya, tetapi bukannya terdapat di depan. Penutupnya bisa kancing, bisa pula tali ikatan. Pada bagian kiri bawah ada 1 buah saku tempat menyimpan uang.

Perhiasan kebaya Peniti Dinar ranteng bahan emas, motif nolos warna kekuning-kuningan, ukuran sesuai dengan kemampuan ekonomi si pemakai. Hiasan tangan gelang dipakai ditangan kanan dan kiri masing-masing 1 buah. Bahan emas memakai mata selong, motif tebu saeros, warna kekuning-kuningan, ukuran tergantung pada lingkar tangan si pemakai. Bentuk seperti keratan tebu. Hiasan jari Cincin 1 buah di tangan kanan atau kiri, bahan emas, motif tebu saeres, warna kekuning-kuningan, ukuran tergantung pada lingkar jari si pemakai, bentuk seperti keratan tebu.

Bagian bawah

Odhet bahan kain motif tenunan polos warna merah, kuning atau hitam ukuran 1,5 meter. Bentuk Lebar 15 centimeter. Panjang lebih kurang seperti zetagen Jawa pada umumnya. Sarung bahan batik Madura memakai tumpal, para gadis pada umumnya senang menggunakan motif batik Storjoan yang berwarna merah agak coklat atau dengan kombinasi bunga hijau dan biru, Ukuran seperti pada umumnya sarung yang dipakai oleh kebanyakan orang. Bentuk : seperti kain panjang hanya tanpa wiru.

Hiasan kaki memakai penggel dipakai pada pergelangan ke dua kaki masing- masing satu buah, bahan perak atau emas, motif polos atau berukir ujungnya dengan gambar kepala ular atau lain-lainnya, warna jika terbuat dari perak berwarna putih dan bila terbuat dari emas berwarna kekuning-kuningan. Ukuran lingkar pergelangan disesuaikan dengan kaki si pemakai, dan beratnya disesuaikan dengan kemam- puan ekonomi pemakainya jika terbuat dari perak ada yang beratnya sampai 3 kg sebuah, dan yang terbuat dari emas tentunya tidak seberat itu.Alas kaki Sandal japit bahan kulit (dahulu), plastik (sekarang). Warna menyolok. Ukuran tergantung kaki si pemakai. Bentuk : seperti sandal japit pada umumnya.

 Cara memakai pakaian.

Mula-mula mengenakan kain tanpa wiru, caranya dengan melilit- kan ke pinggang dari kiri ke kanan. Memakai kainnya agak tinggi (nyingsing) sehingga betisnya kelihatan. Setelah itu mengenakan odhet dililitkan maka salah satu ujungnya yang sengaja dipanjang- kan sebagai tempat penyimpan uang atau benda berharga lainnya diikat simpul. Kemudian bagian atas kain yang masih bersisa dite- kuk ke luar untuk menutupi odhet, sehingga simpul adhet tidak kelihatan. Baru setelah itu mengenakan kotang dan terakhir me­makai kebaya. Sebagai penutup kepala memakai leng-oleng de­ngan cara dililitkan di atas kepala. Adapun cara memakai penggel, penggel dimasukkan ke pergelangan kaki (seperti gelang kaki). Langkah kaki pemakainya tentu saja agak dipaksa-paksa karena berat penggal yang dibawa ke dua kakinya.

Fungsi pakaian dipakai ke remo’ (acara resmi), misalnya menghadiri pesta rakyat dan upacara adat. Arti simbolis : Warna yang dipakai adalah warna-warna yang menyolok jika merah maka merahnya adalah merah darah. Jika hitam, hitamnya harus legam, demikian juga warna-warna yang lain. Orang Madura tidak mengenal warna-warna lembut dan ragu-ragu. Kesungguhan akan pemilihan warna yang me­nyolok menunjukkan karakter orang Madura, yaitu ti­dak pernah ragu-ragu dalam bertindak, bersifat pembrani. Semua warna dianggap suci bagi orang Madura. Selain itu Madura adalah daerah pantai yang seluruh kehidupannya berkaitan dengan unsur-unsur pantai, seperti misalnya : air dan matahari.

Bentuk ngepres (pas) badan untuk menunjukkan kein- dahan lekuk tubuh sipemakai. Hal ini berkaitan erat de­ngan jamu-jamu yang biasa diminum oleh wanita Madu­ra, pantangan beberapa makanan bagi wanita Madura serta pemakaian penggel yang semuanya bertujuan un­tuk membuat badan wanita Madura tersebut tampak indah.

(1)        Fungsi Hiasan : Jimpit Semula adalah sebagai cara pengobatan tradisional (se- macam kerokan kalau di Jawa). Tetapi kini merupakan hiasan kalau pergi ke pesta. Celak mata Untuk memperindah/memberi aksen pada bentuk mata agar kelihatan bulat dan besar. Harnal selain sebagai penguat gelung anita desa menggunakan harnal sebagai senjata jika sewaktu-waktu di serang oleh musuhnya. Khususnya untuk orang Madura baik laki- laki. Maupun perempuan tidak akan gentar jika berkela- hi untuk mempertahankan harga dirinya. Ujung harnal yang runcing seperti garpu adalah termasuk senjata yang paling praktis karena dapat diselipkan di rambut.

Leng-oleng, Untuk memperindah seluruh penampilan dan sebagai alas kalau membawa barang di atas kepala.

Penggel selain untuk menyimpan kekayaan, juga sebagai suatu alat memadatkan otot-otot paha dan pembentuk pantat yang padat.

Arti Simbolis  jimpit selain untuk keindahan, jimpit ini di pergunakan untuk daya tarik kepada lawan jenisnya. Celak mata keagamaan. Karena bahannya dibawa dari Mekkah, maka dianggap si pemakainya akan menuruti ajaran Nabi Muhaijimad s.a.w. Selain itu memakai celak berarti menghindari segala penyakit terutama mata. Anteng Cap-cap Menandakan bahwa pemakainya boleh dipinang. Penggel Lambang kebanggaan seorang wanita karena wanita desa di Madura akan amat bangga bila si suami atau ayahnya dapat memberi hadiah penggel kepadanya. Perhiasan keseluruhan

Bagi wanita Madura dari kalangan rakyat biasa perhiasan yang dipakai merupakan suatu kebanggaan di samping sebagai hiasan keindahan. Perhiasan tersebut merupakan kebanggaan akan hasil payahnya dalam bekerja keras, diperlihatkan melalui apa yang dipakai secara keseluruh­an, baik dari pakaian sampai perlengkapannya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 75-86

Pakaian Adat Tradisional Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian adat upacara  untuk wanita masa dewasa rakyat biasa. Memakai pakaian yang dibedakan menurut letaknya, bagian atas Kebaya Rancongan, bagian bawah samper/sarong batik.

Sedangkan unsur perlengkapan pakaian

Bagian kepala

  • Rambut sebagai mahkota diatur dalam bentuk gellung sendhal, terutama yang berambut panjang. Bentuknya seperti gelung sehari-hari. Rambut disisir ke belakang, digelung dan diberi roncean bunga melati melingkari eellung.
  • Tusuk konde Cucuk harnal, terbuat dari emas atau selaka, berwarna kuning emas atau putih perak ukurannya kecil bergaris tengah ± 1 cm, dengan bentuk seperti harnal pada umumnya tetapi agak kecil.
  • Rias wajah dititik beratkan pada mata, bahannya dari tanah suci Mekkah, berwarna hitam. Bentuknya merupa­kan garis hitam di bawah mata. 

Bagian atas

Kebaya rancongan, bahannya brokat atau katun, dengan memakai model berbunga, atau polos. Adapun warnanya menurut selera, biasanya cenderung menyolok, dan warna yane kuat. Ukuran bagian badan dan lengannya mepres (nas) de­ngan si pemakai. Panjang kebaya persis di atas pinggul dan di bagian depan bentuknya runcing ciri khas dari ke­baya ini ialah pada kelimannya yang lebar ± 15 cm. Bentuk seperti kebaya pada umumnya tetapi tanpa memakai kutu baru. Di bagian pinggang ada 6 buah kup- nat, 3 di pinggang kanan dan 3 di pinggang kiri.

Kutang

Bahannya katun, tidak bermotif. Warnanya biasanya menyolok kontras dengan kebayanya, misalnya merah, hijau daun pupus atau biru benhur. Ukurannya pas ba­dan (ketat). Panjang kutang ada yang pendek ada pula vang panjang sampai ke perut. Bentuk seperti kutang pada umumnya tetapi bukannya terdapat di depan. Pe- nutupnya bisa kancing, bisa pula tali ikatan. Pada ba­gian kiri bawah ada 1 buah saku tempat menyimpan uang.

Perhiasan kebaya Peneti Dinar renteng

Bahannya emas, tidak bermotif, dengan warna keku- ning-kuningan, ukurannya sesuai dengan kemampuan ekonomi si pemakai. Bentuknya bundar berentang dari atas ke bawah semakin banyak jumlah dinarnya, berarti semakin panjang rentengannya.

Bagian bawah

Samper/sarong batik, bahannya kain batik tulis, bermotif bunga, atau bu rung. Warnanya merah soga dengan motif berwarna pu tih atau sebaliknya. Bentuknya seperti pada umumnya kain panjang (seperti pakaian remaja putri).

Alas kaki, untuk di rumah memakai alas kaki bacca.

Cara memakai pakaian

Sebelum gadis berpakaian lengkap, maka disaat upacara disiap- kan si gadis diberi pakaian berupa Samper (kain panjang) batik dan dipakai sampai sebatas dada. Sebelum dimandikan, gadis harus menyediakan bunga di macam. Setelah dimandikan dengan mengenakan samper sebatas dada, si gadis baru memakai pakaian lengkap yaitu kebaya, samper serta tidak lepas dari alas kaki sam­pai waktu menstruasi tersebut habis.

Fungsi pakaian ini, hanya untuk ke kegunaan praktis, selayaknya yang dipakai sehari-hari.

Arti simbolis :

  • Adalah menggambarkan suatu keceriaan kegembiraan (warna pakaian).
  • 41 bunga sebagai perlengkapan upacara iuempunyai arti suatu pengharapan agar kemuliaan dan kegembiraan ter- limpah pada hidupnya kelak.
  • Pada masa haid si gadis tidak diperkenankan menginjak kotoran karena jika ia menginjak kotoran akan mengakibatkan bau yang tidak sedap. Sehingga kelak jika sudah bersuami, suaminya akan menolak.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm.116-118