Pakaian Adat Tradisional Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Resmi Pria Remaja,  Rakyat Biasa

Pakaian Resmi Pria Remaja,  Rakyat BiasaNama pakaian

  • Bagian atas : Baju Pesa’an.
  • Bagian bawah : Celana Gomboran.

Perlengkapan pakaian :

 Bagian kepala :

  • Odheng santapan, bahan kain batik biasa, motif telaga Biru atau Storjoan, Warna merah soga. Ukuran sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. seperti pada umumnya ikat kepala yang Bentuk berbentuk segitiga.
  • Odheng tapoghan, bahan kain batik biasa, motif bunga atau lidah api. warna merah soga, ukuran sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. Bentuk : seperti pada umumnya ikut kepala yang berbentuk segitiga, hanya di bagian atas kepala tidak tertutup.

Pakaian bagian atas :

  • Baju Pesa’an Bahan kain cina (dahulu) kain Lasteng tiu, atau Tetoron (sekarang), motif  polos Warna hitam, ukuran serba longgar tidak pas badan, ukuran pinggang dan pipa celana lebar, menyerupai sarung bila dibentangkan, panjang celana sampai mata kaki. Adapun ciri khas dari celana Gomboran ini pada kelimannya yang lebar ± 15 cm. Bentuk seperti pada umumnya celana panjang bia­sa tetapi tidak memakai kolor.
  • Sarong Bahan : sarong Samarinda memakai bahan sutra sedang sarong plekat terbuat dari katun. Motif : ke-2 sarong bermotif kotak-kotak besar ± 5 cm, warna sarong samarinda berwarna menyolok mema­kai benang emas, sedang sarong plekat berwarna dasar putih dengan kotak-kotak berwarna biru atau hijau, ukuran seperti pada umumnya sarong yang lain. Bentuk : seperti pada umumnya sarong yang lain.
  • Ikat pinggang sabbuk katemang Raja atau sabbuk katemang kalep, bahan kulit sapi, motif polos, warna coklat atau hitam, ukuran seperti pada umumnya ikat pinggang yang lain, bentuk lebar ada kantung di depannya untuk menyimpan uang.

Senjata terbagi atas beberapa jenis :

  • Gelati cap garupu/ mata buatan Jerman. Bahan : besi baja Motif : polos Wama : warna besi baja. Ukuran : vang terpanjang 40 cm. Bentuk : seperti pisau dapur, pada umumnya hanya ujungnya runcing.
  • Piol adalah Gobang yang kecil Bahan : besi baja Motif : polos Warna : warna besi baja. Ukuran : pas dengan badan. Bentuk : seperti pisau dapur pada umumnya.
  • Are/Sabit atau clurit, merupakan senjata kelas menengah Bahan : besi baja Motif : polos Warna : warna besi baja. Ukuran : beratnya rata-rata 450 gr. Bentuk : seperti sabit atau clurit pada umumnya. Are/sabit terbagi atas beberapa kelas.
  • Takabuan terbuat dari besi tempaan bermutu terbuat dari besi bekas keris sehingga pamornya tampak. motif  polos, warna besi, ukuran paruhnya pas lengkung perut, bentuk  melengkung seperti bulan sabit, namun agak lebar di bagian tengah dan tebal di punggungnya. Mata pisaunya (paruhnya) lebar dan kemudian mengecil ke arah ujungnya (ujungnya berbentuk lancip). Takabuan biasanya tidak bersarung kecuali yang berukuran kecil. Hanya bagian paruhnya yang ditutupi oleh sarung yang terbuat dari kulit atau rotan (Madura : Selotong).
  • Lancor ayam/bulu ayam atau Kembang toroy/kembang turi, bahan, loyang biasa hasil tempaan pandai besi, se­dang gagangnya terbuat dari kayu sawo, motif polos , warna paruhnya berwarna besi dan gagangnya ber­warna coklat, bentuk melengkung seperti ekor ayam jago, bagian paruhnya sempit, makin ke ujung makin runcing, ga­gangnya bulat panjang seperti bentuk Takabuan dan biasanya diberi paksei tembus agar lebih kuat, namun ada juga pakseinya yang tidak besi baja polos
  • Gobang Bahan besi baja, motif  pada umumnya tembus, warna besi, ukuran  lebih besar dari piol, bentuk : seperti pisau dapur.
  • Calo Montor merupakan senjata kelas berat, bahan besi bekas keris yang ditempa dan diberi warangan (racun). Motif polos, warna hitam (warna besi), bentuk seperti are tapi mempunyai gagang kayu yang panjang. Calo Montor, macamnya antara Lain 🙁1.) Amparan/Labasan Bahan Besi bekas keris yang ditempa dan diberi warangan. warna besi. Motif polos Ukuran beratnya rata-rata 11 ons. Bentuk seperti Calo Montor tetapi paruhnyamenghadap ke luar. (2.) Clonot Bahan motif polos Warna warna hitam besi Bentuk sama seperti Calo Montor tetapi paruh­nya menghadap ke dalam.

Pakaian Resmi Pria Remaja,  Rakyat Biasa.Alas kaki : Terompah bahan  kulit sapi,  ukuran  sesuai dengan ukuran kaki si pemakai, bentuk terbuka tetapi di bagian ujung depan dan belakang terdapat suatu tali sebagai penjapit yang terbuat dari bahan sama. Fungsi alat penjepit ini untuk pengikat antara ibu jari dengan jari yang lain.

Cara memakai pakaian: mula-mula dikenakan celana Gomboran. Caranya setelah ke dua kaki masuk ke kaki celana, kemudian bagian atas celana dilipat ke kiri lalu ke kanan. Setelah itu dilipat ke arah perut dan digu- lung dari atas seperti halnya memakai sarong, sampai panjang ce­lana menjadi 3/4. Sebagai penguat celana memakai sabbuk Katemang Raja (bagi orang kaya) atau sabbuk katcmang kalep. Ke- mudian untuk bagian atasnya dipakai baju kaos. tetapi kadang- kadang ada yang tidak. Setelah itu baru dikenakan baju Pesa’an. Lalu mengenakan odheng santapan atau odheng Tapoghan. Ada- pun cara mengenakan odheng Tapoghan •

Setelah tepi dilipat maka puncak kain diletakkan terbalik (bagian yang lebar berada di bawali). Puncak kain tersebut di taruh di sebelah kiri atau kanan kepala. Jika si pemakai berjalan maka puncak kain yang lebar itu bila tertiup angin akan menepuk (Madura : Napok) si pemakai odheng Tapo- ghan. Sedang jika memakai odheng Santapen, di bagian atas kepala terbuka sedikit sehingga rambutnya kelihatan. Selain memakai baju Pesa’an dan celana Gomboran, ada juga yang melengkapinya dengan sarong. Bila orang itu mampu, ia memakai sarong Samarinda dan orang biasa memakai sarong plekat. Adapun cara memakainya bila sarong disampirkan di bahu namanya eka sandang dan bila di lilitkan di pinggang namanya eka samhung.

Fungsi pakaian

Pakaian dapat berfungsi praktis bila dilihat dari bentuknya yang serba sederhana, bebas dan ringkas. Pakaian ini tidak hanya dapat dipakai untuk ke acara remo (resmi) tetapi juga dapat dipergunakan di rumah. Fungsi lainnya lagi adalah estetis. Apabila dilihat warnanya, warna merah-putih pada kaosnya kontras dengan warna baju pesa’an yang berwarna hitam. Selain ke dua fungsi itu, masih ada fungsi yang lain, yaitu fungsi khusus. Fungsi ini merupakan cermin dari nilai budaya lokal Madura khususnya untuk rakyat biasa.

Fungsi Sarong

Selain sebagai perlengkapan ibadah (sholat), dapat pula digu- nakan sebagai hiasan baju dengan sara disampirkan di bahu.

Arti simbolis :

Kaos lorek merah-putih mempunyai arti bahwa manusia berasal dari Bopo-Biyung (bapak-ibu). Selain itu warna merah dan putih dengan garis yang tegas melambangkan kegagahan, dari jiwa dan semangat berjuang yang gigih. Berjuang dalam melawan musuh maupun mencari naf- kah.

Warna pakaiannya yang hitam mempunyai arti simbolis sesuatu yang murni. Theori di sini berarti dalam segala tindakan orang Madura tidak ragu-ragu, menunjukkan suatu ketegasan hidup. Apa yang diperbuat sudah diper- hitungkan secara matang.

Pakaian Adat Tradisional Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Kepotren

Pakaian Adat Tradisional Madura Kabupaten Bangkalan, pakaian resmi bangsawan wanita remaja (Pakaian Kepotren). Nama pakaian: bagian atas kebaya Bengkal, bagian bawah kain Songket

Perlengkapan Pakaian:

Bagian Kepala : Rambut memakai sanggul bokor nongop (bokor tengkurap) bahannya rambut asli, bentuknya seperti gelung tekuk Jawa, tengahnya diberi bunga bangbabur yaitu irisan daun pandan dibuat bulatan seperti bola lalu dimasukkan ke dalam gelung agar bisa bulat. Kemudian di tengah irisan daun pandan tersebut diberi bunga mawar asli berwarna merah. Di sekeliling sanggul diberi bunga melati asli yang dironce, na- manya pagar temor (pagar timur). Letak sanggul agak tinggi di atas tengkuk.

Hiasan telingan Giwang kerabu, bahan, permata intan atau berlian, serta pengikatnya emas atau suasa warnanya kekuning-kuningan. Ukurannya : lingkar tengah ± 7 mm, dan bentuknya : bulat utuh seperti biji jagung.

Hiasan leher Kembang kates Kalung Kembang kates, bahannya emas bermata intan, dengan motif kembang Kates, dan warna Kuning emas dan putih, bentuk perhiasan  umumnya.

Bagian atas

  • Kebaya Bengkal, bahannya beludru bersulam benang emas, berwarna me­rah kendola, motifnya polos dengan sulaman bermotif madduh empak (sudut empat) dalam kotak-ketak berisi daun si’dratul muntaha, yaitu daun yang paling agung dari surga, dengan ukuran sesuai dengan badan pemakainya, bentuknya seperti kebaya pendek biasa, memakai kutu baru dengan hisan bunga mawar yang sesuai dengan hias­an pada sanggulnya. Hiasan mawar tersebut dari benang emas yang terjalin rapat.
  • Kotang, bahannya katun, dan biasanya warnanya cenderung gelap, ukuran pas dengan badan pemakai. Panjangnya relatif. Bentuknya, seperti kotang pada umumnya, tetapi bukannya terdapat di depan. Penutupnya bisa kancing bisa pula tali ikatan.
  • Hiasan Kebaya: Peneti Ronyok (ketter) yang berarti goyang-goyang. Bahannya emas atau warnanya kuning.
  • Sap-osap (Saputangan),  bahannya beludru atau katun dan bersulam benang emas, dan biasanya motifnya di bagian pinggirnya berhiaskan bunga melati. Warnanya merah Kendola, dengan ukuran 20 x 30 cm. Bentuknya seperti umumnya saputangan.
  • Hiasan Jari (Selok) Bahannya emas. Warnanya kuning emas dengan permata intan. Ukurannya sesuai dengan lingkar jari pemakainya.

Bagian bawah

  • Kain songket bahannya sutra, warnanya merah kendola. Motifnya kotak-kotak dengan motif tumpal di pinggirnya. Bentuk­nya seperti kain songket pada umumnya (tidak memakai wiron).
  • Ikat pinggang : Pending bahannya emas, yang biasanya mengambil mo­tif berkembang-kembang, dan berwarna, kuning emas. Bentuknya, seperti biasanya ikat pinggang tetapi agak lebar.
  • Alas kaki: Selop bahannya kulit sapi, berwarna hitam memakai manik-manik, ukurannya sesuai dengan kaki si pemakai, bentuknya tertutup sewperta umumnya, namun tidak bertumit. 

Cara memakai pakaian :

Mula-mula mengenakan kain panjang/songket tanpa memakai wi- ru. Setelah kain diikat dengan seutas tali lalu dikencangkan de­ngan pending. Kemudian memakai kotang dan kebaya. Saputa- ngan diletakkan di bawah pending ditampakkan di bawah keba­ya. Terakhir mengenakan selop.

Fungsi pakaian :

Dipakai oleh para putri bangsawan untuk menghadiri acara- acara yang bersifat resmi. Bahkan pada jaman dahulu pakaian kepotren ini dipakai un­tuk menghadiri acara formal, misalnya menyambut tamu agung atau menghadap kepada raja dan gubernur Belanda.

Arti simbolis pakaian :

Secara keseluruhan kebaya bengkel mempunyai arti lebar atau luas akalnya. Diharapkan sipemakai dapat mempunyai pikiran yang luas dan terang. Mengenai warna : Warna yang dipakai oleh remaja putri biasanya memakai warna cerah, misalnya jika merah maka merahnya adalah merah kendola (merah pink). Disini men- cerminkan suatu kecerahan, kegembiraan seperti yang ter- pancar dalam warna, tersebut. Sebagai seorang remaja maka segala kegembiraan yang dilukiskan adalah kegembiraan/ kecerahan yang wajar dan tidak berlebihan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm.

Pakaian adat tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Madura1Pakaian adat  tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan. Pakaian Ibadah Pria Dewasa Bangsawan.

Nama pakaian bagian atas kelambi Tagwa, bagian bawah : Sarung kotak-kotak berwarna biru atau hijau. Perlengkapan pakaian bagian kepala , Tutup kepala memakai Odheng Peredan bahannya batik tulis, dengan memakai motif storjaan, Bera’songay atau Toh Biru. Warnanya, warna terang, dan ukurannya sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. Bentuknya seperti pada umumnya ikat kepala yang ber bentuk segitiga. Namun mempunyai kelompok hanya sebuah. Selain itu ujung simpul di bagian belakang hanya satu.

Pakaian Bagian atas memakai, kelambi Tagwa bahan kelambi ialah katun tidak memakai motif, sedangkan. Warna pada umumnya putih, ukuran sesuai dengan tubuh si pemakai, dan bentuknya seperti piyama, tidak memakai leher memakai saku 3 buah, 2 di bawah kanan kiri dan 1 buah di atas. Kancing baju biasanya 5 biji.

Pakaian bagian bawah memakai Ikat pinggang (Sabbuk) bahan sabuk adalah kain tenunan asli. tidak bermotif dengan warna coklat tua. Bentuknya seperti pada umumnya ikat pinggang dengan timang besar di tengah-tengah. Sarung Palekat dari bahan katun, bermotif kotak-kotak besar. Warnanya dasar putih berwarna biru atau hijau. Alas kaki Terompah bahannya kulit sapi, polos, berwarna hitam. Ukurannya sesuai dengan ukuran kaki si pemakai. Bentuknya terbuka tetapi di bagian ujung depan ter- dapat suatu alat penjepit yang terbuat dari bahan yang sama. Fungsi alat penjapit ini untuk pengikat jariyang lain.

Cara memakai pakaian.

Mula-mula memakai sarong, Caranya: Setelah ke dua kaki dimasukkan ke dalarn sarong. Kemudian bagian atas sarong dilipat ke kiri lalu ke kanan. Setelah itu dilipat ke arah perut dan digulung dari atas pan- jang sarong sampai di bawah mata kaki. Sebagai penguat sarong memakai sabbuk. Dan terakhir baru mengenakan Kelambi Taqwa. Adapun cara memakai ikat kepala peredan agak miring di kepala (tidak tegak), boleh miring ke kanan atau miring ke kiri, jika miring ke kiri yang mencuat kelopak ka­nan dan bila miring ke kanan yang mencuat kelopak kiri.

Fungsi pakaian

Kelambi Taqwa ini sebenarnya adalah untuk mengunjungi acara adat, misalnya upacara peled kandung (upacara nujuh bulan kandungan). Baju ini khusus dipakai oleh para sesepuh terutama yang keturunan para kyai atau para ulama. Selain untuk upacara adat, kelambi Taqwa ini juga untuk upacara keagamaan, misalnya untuk sholat idhul fitri atau untuk sholat di masjid. Hanya bila untuk sholat tidak memakai ikat ke­pala melainkan memakai kopiah/peci. Ikat kepala peredan biasa dipakai oleh pejabat yunior bila bepergian ke acara yang resmi.

Arti simbolis dari warna dan bentuk baju :

  • Warna putih, melambangkan suatu kesucian.
  • Bentuk baju, melambangkan arti ke taqwaan si pemakainya kepada Allah Yang Maha Esa.
  • Bentuk peredan, melambangkan pemakainya masih kuncup belum sempurna. Selain itu ujung simpul di bagian belakang yang hanya 1 melambangkan huruf “alif” yang merupakan huruf awal dari bahasa Arab.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 48-49

Pakaian Adat Tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian sehari-hari yang dipakai wanita dewasa, bangsawan Madura, Kabupaten Bangkalan 

Pakaian Tradisi,wanita Dewasa, bangsawan, MaduraBagian atas Kebaya tanpa kutu baru, Bahan bakunya tenun dan voile, bermotif polos. Warnanya tergantung pada kesukaan sipemakai. Biasa­nya cenderung warna gelap. Ukurannya tergantung pada badan si pemakai. Panjang kebaya untuk bangsawan wanita, biasanya di bawah pantat. Jadi pantat harus tertutup. Berbeda deng­an kebaya orang desa yang cenderung panjangnya di atas pantat.

Bentuknya seperti kebaya pendek pada umumnya, tetapi berlengan  panjang. Tanpa memakai kutu baru. Perhiasan Kebaya Paneti rantai. Bahannya emas, motifnya gung atau jagung. Warnanya kekuning-kuningan, sedangkan beratnya relatif disesuaikan dengan kemampuan. Bentuknya seperti biji jagung, berenteng dari atas ke bawah atau memakai paneti biasa (Madura-catot), bahannya emas atau selaka, tidak bermotif. Berwarna kekuning-kuningan, dengan ukuran seperti peniti pada umumnya, berjumlah tiga buah. Bentuknya seperti peniti pada umumnya hanya diuntai dengan rantai kecil.

perlengkapan pakaian Bagian kepala:

Rambut disisir ke belakang kemudian digelung Bokor nongkep. Bentuknya seperti bokor tengkurap atau seperti Gelung Tekuk dari Jawa. Pada bagian dalam gelung diberi bunga cempaka putih atau bunga melati dapat juga bunga gondosuli. Gelung ini biasanya dipakai oleh Ibu muda usia. Ibu-ibu yang sudah lanjut usia biasanya memakai Gelung Mager Sereh yaitu gelung yang bentuknya sama dengan gelung ma- lang hanya ukelnya diisi dengan kembang tanjung dan kembang pandan. Gelung ini biasanya dipakai oleh ibu- ibu tua isteri bekas para pejabat yang berketurunan bangsawan.

Harnal bahannya selaka/tembaga, bermotif polos dan berwarna putih.Ukurannya ukuran harnal ini tebalnya seperti lidi sapu. Bentuknya seperti harnal pada umumnya, tidak mema­kai permata.

Hiasan telinga, Anting,  Anteng shentar penthol. Bahannya emas, motifnya polos, dan warnanya ke- kuning-kuningan. Bentuknya, seperti biji jagung.

Hiasan leher, kalung Bahannya emas, bermotif montemonan atau rantai ber­warna kekuning-kuningan dengan ukuran berat kalung ini ringan sekali. Bentuknya seperti biji mentimun tapi kecil.

Ikat pinggang, memakai setagen, bahan stagen ialah kain tenunan, tidak bermotif, dan warnanya hitam, ukuran, lebar 15 m panjang 2 m. Sabbu’ Epek atau pending. Bahannya, perak, berwarna keputih-putihan, deng­an ukuran sesuai dengan lingkar pinggang si pemakai.

Hiasan Jari memakai Cincin (Madura = serser), bahannya emas, dengan mengambil motif tebu saeres. Warna kekuning-kuning, dan ukurannya tergantung pada lingkar jari si pemakai, beratnya relatip ringan. Bentuknya seperti keratan tebu melingkar.

Hiasan tangan memakai (gelang), bahan gelang ini adalah emas, dengan motif pale obi, tebu saeres atau tretes. Warnanya kekuning-kuningan. Ukurannya tergantung pada lingkar tangan pemakai. Bentukriya pale obi bentuknya seperti batang ubi me- lintir, sedangkan tebu saeres bentuknya seperti kerabat- an tebu. Bentuk tretes penuh dengan permata intan.

Bagian bawah, kain batik tulis atau sarung batik tulis khas Madura, bahannya kain katun, bermotifnya suruh dengan warna dasar merah. Ukurannya 2m x 110, dengan bentuk seperti kain panjang pada umumnya atau biasanya juga dipakai kain panjang, bahannya kain batik tulis, dengan memilih warna latar belakang coklat. Motifnya parang kecil dengan sayap burung yang disetilir, Ukuran: 2 m x 110, dengan bentuknya seperti kain pan­jang pada umum.

Alas Kaki Sandal ceplek, bahannya kulit sapi, tidak bermotif, warnanya hitam atau kecoklat-coklatan  dengan ukuran tergantung kaki si pemakai. Bentuknya seperti sandal biasa dengan tali selebar 3 jari.

Cara memakai pakaian diawali dengan mengenakan kain batik atau sarong batik tanpa me­makai wiron. Sebagai penguat kain memakai sabbuk epek atau pending. Setelah itu baru mengenakan kebaya. Pakaian ini berfungsi sebagai pakaian sehari-hari di rumah.

Arti simbolis:

(1). Pemakaian bunga di rambut mempunyai arti atau makna sebagai berikut:

  • Selain sebagai kesedapan bau bunga ini sesuatu yang dapat dianggap dapat memberikan suatu ketenangan dan ketenteraman.
  • Aroma yang disebarkan memberikan suatu sugesti bagi si pemakai maupun yang melihat suatu kesejukan di hati.
  • Bunga ini diambil dari sekitar rumahnya, oleh karena itu rumah para bangsawan biasanya penuh dengan tanaman bunga yang beraneka ragam.
  • Sampai sekarangpun di rumah para turunan bangsawan masih terlihat suatu kebun bunga terutama bunga melati, mawar dan gondosuli

(2). Arti motif sayap burung pada kainnya.

Motif burung di sini diambil dari unsur burung garuda. Di mana garuda di sini berasal dari kata gaibnya dada, berarti kembalinya kita pada suatu tataan rasa: misalnya rasa pengayoman perlindungan. Karena mereka keturunan raja. Jadi harus memberi suatu rasa perlindung­an bagi rakyatnya.

(3).  Perhiasan emas yang dipakai oleh bangsawan cenderung tidak menyolok akan tetapi kecil (mungil) karena ini adalah salah satu yang membedakan strata sosial antara kaum bangsawan dan rakyat biasa. Kaum bangsawan cenderung tidak menampilkan kekayaan ini secara lahiriah.Turunan bangsawan di sini cenderung mempunyai suatu falsafah yang kuat sekali bahkan rasa (roso) harus di atas segala-galanya, tidak boleh memburu nafsu keduniawan berupa benda.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987.

Pakaian Tradisional , Pria Dewasa, Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Tradisi,Pria Dewasa, bangsawan, MaduraPakaian sehari-hari bangsawan untuk pria dewasa. Bagian atas Rasughan totop ,  Bagian bawah : Samper kembeng 

Unsur Perlengkapan Pakaian

 a). Bagian kepala memakai Odheng Peredhan, bahannya kain batik tulis, berwarna coklat dan hi tarn, dengan motif bunga dan lidah api atau di Madura sendiri motif ini dikenal dengan motif Storjoan, Bera’ Songay atau Toh Biru.

Ukurannya pas dengan kepala, dengan bentuk seperti umumnya odheng Tongkosan. Perbedaannya hanya pa­da: Odheng peredhan ini mempunyai kelopak, sebuah yang berbentuk segitiga. Bila odheng Peredhan ini dipa- kai dalam posisi miring ke kiri maka yang mencuat ke atas adalah kelopak sebelah kanan, tetapi jika dipakai dalam posisi miring ke kanan maka yang mencuat ada­lah kelopak (segitiga) kiri.

Ujung sampul di bagian belakang dari odheng peredhan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga bentuknya menjadi 1 pelintiran yang tegak lurus ke atas melam- bangkan huruf “Alif”. Huruf ini merupakan huruf awal dari bahasa Arab.

b). Pakaian bagian atas

Rasughan totop Gas totop, Bahannya kain tebal sejenis woll, mori atau piki. Warnanya putih, kelabu atau hitam dengan motif polos. Ukurannya agak ngepres (pas) dengan kadan si pemakai. Bentuknya seperti umumnya Beskap Jawa Tengah (Solo) dengan keraag tegak lurus ± 5 cm. Baju ini bila dipakai panjangnya lurus sampai pinggul dan menutupi sabbuknya. 2 buah kupnat di bagian depan dan 2 buah kupnat di bagian belakang fungsinya sebagai pembentuk dari baju secara keseluruhan agar kelihatan pas dan rapih jika dipakai. Baju irri mempunyai hiasan kancing yang berjumlah lima sampai tujuh buah. Untuk kancing yang berjumlah tujuh, biasanya yang dua buah letaknya di kraag dan bentuknya agak kecil dari pada kancing badan. Biasanya dua buah kancing yng terletak di kraag ini terbuat dari kancing yang terbungkus yang terbuat bahan bajunya. Bahan kancing terbuat dari tempurung kelapa atau tulang bentuknya bulat seperti kancing pada umumnya.

Pakaian Tradisi0003 copy copyLengan baju panjang sampai pergelangan tangan dengan hiasan kancing 1 buah. Hiasan lain dari Rasughan totop- ini adalah saku yang berjumlah tiga buah. Satu buah di sebelah kiri atas, dua buah masing-masing di kanan kiri bawah.(2). Rompi (Kotang dalem). Bahannya kain satin, mengambil warna coklat atau hitam dan bermotif polos, dengan ukuran yang disesuai- kan dengan badan si pemakai. Bentuknya seperti kaos (baju) dalam.

c). Pakaian bagian bawah.

Celana 3/4 (tiga perempat), bahannya satin atau mori, dengan mengambil warna abu-abu atau hitam. Biasanya tidak bermotif, hanya di bagian belahan lutut ada hiasan yang terbuat dari mas- mas (semacam borci) disusun sedemikian rupa, sehingga membentuk hiasan berderet selebar 1 cm. Ukuran panjang celana 5 cm di bawah lutut. Bentuknya seperti celana pada umumnya hanya agak sempit serta ada belahan ± 10 cm di samping kanan kiri lutut.

Samper Kembeng (Kain panjang), Samper bahannya batik tulis dengan mengambil warna dasar coklat dengan motif hitam atau sebaliknya. Biasanya motifnya prangpang (motif besar-besar) dan biasa juga mengambil unsur bunga yang disetiir atau unsur bunga suruh, Tapi ada juga yang bermotif Parang- rusak. Ukurannya seperti umumnya ukuran kain panjang ± 2Vi m dan lebar selebar kain mori yaitu ± 110 cm. Betuknya waktu bentuknya seperti kain panjang hanya wironnya agak besar lebih kurang 5 jari atau 1 tebah.

Saposap (Saputangan), bahan sapu tangan ialah katun dengan warna putih.

Setagen, bahan stagen ialah kain tenun asli, berwarna merah, putih dan hitam, tidak bermotif.Ukurannya pas pinggang si pemakai lebar ± 15 s/d 20 cm. Biasanya memakai kancing dan kait (hak) tiga atau em- pat buah, yang fungsinya untuk mengkaitkan antara ujung setagen yang kanan dan kiri hingga setagen tersebut dapat mengancingkan kain panjang yang dipakai.Sabbuk Katemang Raja (Ikat pinggang besar), bahannya kulit sapi, dengan memilih warna coklat atau hitam, tidak bermotif.

Perlengkapan ; Pusaka = Keris;  Dhungket (tongkat), ada 2 buah bentuk tongkat yaitu; Tongkat Senteki tongkat Senteki dari bahan kayu hitam yang didapatkan dari gunung dan tongkat . (teken) Lortop bahannya terbuat dari kayu aren, berwarna hitam, motifnya hanya pada gagangnya terdapat motif kepala ular atau tanduk manjangan. Bentuknya seperti pada umumnya tongkat hanya gagangnya berbentuk ular atau ada yang berbentuk akar dan tanduk menjangan. Anthok (cerutu/once), Bahan anthok ialah tulang berwarna coklat tua atau hitam, dengan bentuk seperti cerutu.

Perhiasan, tangan: Geteng akar (gelang akar). Bahannya akar bahar, berwarna hitam. Motifiiya akar, dengan ukuran sesuai lingkar pergelangan tangan si pemakai. Bentuknya seperti akar melilit tangan. Jari: Selok (seser) atau cincin, bahannya honel Zamrud (selaka) bermata, berwar­na putih.

Dada,  Arjoli rantai bahannya perak atau emas, dengan bentuk seperti kalung rantai arjoli Gam) dengan liontin.

Alas kaki, trompah, bahannya kulit supit, warna coklat atau hitam berbentuk seperti sandal japit atau ada juga yang

seperti selop tertutup.

Cara memakai pakaian. Mula-mula mengenakan celana 3/4. 

Caranya 2 kaki dimasukkan masing-masing ke kaki celana kemu- dian bagian atas celana dipererat dengan tali (kolor). Setelah ce­lana terpakai baru memakai samper (kain panjang) yang diwim selebar 5 jari agar kalau berjalan bisa kelihatan gagah dan mem- percepat langkah serta memudahkan bila menunggang kuda. Kain panjang ini diliitkan ke pinggang seperti pada umumnya orang perempuan memakai kain panjang dan dikencangkan dengan setagen, setelah kain panjang dan setagen dikenakan baru memakai sabbuk Katemang Raja Jika sabbuk Katemang Raja ini sudah terpakai barulah kerispusaka diselipkan di sabbuk tersebut di bagian pinggang belakang. Akan tetapi keris juga bisa digan- tung atau dianggar di sebelah kiri badan. Jika perlengkapan ba­gian bawah sudah dikenakan semua maka rampi dipakai sebagai baju dalam. Terakhir jas totop dipakai dibadan lengkap dengan arloji di saku kiri atas serta tongkat dan once di tangan. Adapun perlengkapan yang terakhir dipakai adalah odheng peredhan se­bagai penutup kepala Selain itu perlengkapan yang lain yang harus dipakai adalah sap-osap atau saputangan ini dipakai di se­belah kiri luar badan diselipkan di sabbuk Katemang Rajatepat- nya bagian paha. Saputangan ini sebelum diselipkan dibentuk dulu segitiga.

Fungsi.

(1)           Rasughan totop ini secara keseluruhan kegunaannya untuk fungsi praktis, pantes, ringkes dan fungsi yang lain adalah menunjukkan sebagai suatu kebudayaan dan tradisi setempat. Rasughan totop dipakai oleh bangsa­wan sebagai baju sehari-hari bila menerima tamu atau bekerja.

(2)           Sedang fungsi dari perlengkapan adalah sebagai berikut: (a). Sabbuk Katemang Raja Dipergunakan untuk menyelipkan pusaka berupa keris serta untuk menyelipkan saputangan agar seken (seret).

(3)           Fungsi wiron besar pada kain panjang selain fungsi estetis juga fungsi praktis, yaitu memudahkan un- tuk melangkahkan kaki. Selain fungsi praktis juga fungsi kemudahan, kewi- bawaan, kegagahan.

(4)           Tongkat dan once di sini fungsinya untuk membedakan antara kalangan bangsawan dan rakyat biasa. Dalam hal ini kewibawaan seorang bangsa­wan tidak ditampilkan melalui sikapnya sajatetapi juga penampilannya. Selain itu tongkat Senteki mempunyai kekebalan jika dipukulkan. Sehingga fungsinya tidak saja sebagai keindahan tetapi juga sebagai senjata.

(5)           Saputangan, kegunaan utamanya ialah un­tuk mengusap tangan, agar baju yang dipakai tidak kotor.

Arti Simbolis.

Hiasan kancing sebanyak 5 buah dan 7 buah dibajujas totop ini mempunyai suatu maksud atau suatu simbol bahwa pada dasarnya manusia mempunyai lapisan raga yang terdiri dari: rambut, kulit, daging, darah dan tulang sumsum. Dapat juga arti 5 buah kancing diambil dari tingkatan sembah dimana menyembah itu mempergunakan 5 jari tangan yang ditangkupkan, menyembah bagi orang Madura adalah mempunyai arti memberi hormat terutama kepada orang tua karena semua kejadian ma­nusia yang ada di dunia berasal dari 2 orang tua yaitu Ayah dan Ibu.

Arti simbolis dari pusaka keris yang diperguna kan adalah mempunyai suatu arti kewibawaan diri.

Arti dari motif pada samper yang dipakai diambil dari unsur bunga suruh (sirih) berkaitan sekali dengan kepribadian serta rasa Ketuhanan.        Warna baju yang dipakai mempunyai arti suatu kesucian, baik warna hitam maupun putih. Kesucian di sini tidak saja pada warna putih warna lainpun yang dipakai dianggap suci dan sungguh-sungguh.

Arti dari motif pada samper yang dipakai diambil dari unsur bunga suruh (sirih) berkaitan sekali dengan kepribadian serta rasa Ketuhanan.Warna baju yang dipakai mempunyai arti suatu kesucian, baik warna hitam maupun putih. Kesucian di sini tidak saja pada warna putih warna lainpun yang dipakai dianggap suci dan sungguh-sungguh.

Arti suci di sini berarti pernyataan suatu sikapnya yang terus terang apa adanya, tidak perlu lagi ditutupi segala apa yang sudah dipakai, apa pun yang terjadi berani ditanggungnya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan,, Jakarta,  1987. hlm. 

Pakaian penganten adat Kabupaten Bangkalan – Madura, rakyat biasa/ masyarakat umum

Pakaian penganten adat  Kabupaten Bangkalan – Madura.

Pakaian pengantin untuk rakyat biasa/ masyarakat umum

Pangantin Adat Bangkalan untuk rakyat biasa- masyarakat umum

Perlengkapan pakaian penganten Laki-laki memakai:

Udeng           :   Tongkosan

Baju               :  Gombaran

Kaos              :  Sakerahan

Kain              :  Sambung (sarung)

Sabuk           :  Kotemang

Clurit            :   Arek bulu ayem

Perlengkapan pakaian penganten wanita memakai:

Gelung                  : Sendalan

Peniti                    : Dinar

Kain                       : Sarung batik/kain panjang

Kebaya                  : kain tipis warna menyolok

Kalong                     : botoran

Anting-anting         : tong gentong

Gelang                     : Palek abi

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Album Seni Budaya Jawa Timur, Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Media Kebudayaan 1982/1983, hlm. 138-139

Pakaian penganten adat masyarakat menengah, Kabupaten Bangkalan – Madura

Pakaian penganten adat  Kabupaten Bangkalan – Madura.

Pakaian pengantin untuk masyarakat menengah

Pangantin Adat Bangkalan untuk masyarakat menengah

Perlengkapan pakaian penganten laki-laki memakai:

Udeng          : Tongkosan

Jas               : Totop berhias arloji

Kain            : Sampir betek

Perlengkapan pakaian penganten wanita memakai:

Kebaya panjang (lampi lanceng) Ujung kebaya bulat

Untuk remaja dengan warna                 : merah, hijau, coklat.

Untuk orang tua dengan warna    : biru tua, hitam

Sentor markis

Gelang bokor nongep   Untuk orang tua.

 Untuk remaja                                      : gelung malang

Kain                                                        : batik

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Album Seni Budaya Jawa Timur, Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Media Kebudayaan 1982/1983, hlm. 136-137

 

Pakaian penganten adat Kabupaten Bangkalan – Madura (bangsawan)

Pangantin Adat Bangkalan untuk Bangsawan

Pakaian penganten adat  Kabupaten Bangkalan – Madura

Pakaian pengantin untuk bangsawan

 

Perlengkapan pakaian penganten laki-laki memakai:

Udeng            : Tongkosan jingga

Jas                 : Totop lonceng

Keris              : Abinan

Bros               : Permata

Slop               : Beludru

Perlengkapan pakaian penganten Wanita memakai:

Pakaian                        : Kalampi lanceng

Hiasan sapu tangan : bunga

Gelung                  : Malang

Kembengeh            : Sap-osap

Kain                      : Sampir songket

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Album Seni Budaya Jawa Timur, Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Media Kebudayaan 1982/1983, hlm. 134-135

Adat Perkawinan Masyarakat Samin

mbah-hardjo-kardi-sesepuh-tokoh-dan-generasi-keempat-kaum-saminDalam perkawinan masyarakat Samin salah satu andaran Kyai Samin terungkap dalam Pangkury yang berbunyi demikian:

Saha malih dadya garan,
anggegulang gelunganing pambudi,
palakrami nguwoh mangun,
mamangun treping widya,
kasampar kasandhung dugi prayogantuk ambudya atmaja tama, mugi-mugi dadi kanthi. (Serta lagi yang mesti kita jadikan senjata)

untuk melatih ketajaman budi,
dapat melalui perkawinan,
yang membuahkan kesanggupan,
yakni semakna dengan merain ilmu yang luhur,
karena dalam perkawinan itu,
kita jatuh bangun dalam upaya mencari ‘cukup’
apalagi tatkala menehasrati aatangnya anak-keturunan,
yangkelak menjadi kawan,
dalam mengarungi bahtera lehidupan)

Tegasnya, menurut ajaran Kesaminan, perkawinan adalah wadah prima bagi manusia untuk belajar, karena melalui lembaga ini kita dapat menekuni ilmu kesunyatan. Bukan saja karena perkawinan nanti mebuahkan keturunan yang akan meneruskan sejarah hidup kita, tetapi juga karena sarana ini menegaskan hakikat ketuhanan, hubungan antara pria dan wanita, rasa sosial dan kekeluargaan, dan tanggung jawab. Jelas, masyarakat Samin memandang sakral terhadap lembaga perkawinan (Sastroatmodjo, 2003:38-39).

Terbawa oleh sikapnyayang menentang pemerintah kolonial Belanda itu, kemudian orang-orang Samin membuat tatanan sendiri, adat-istiadat sendiri, seperti adat-istiadat perkawinan dan kebiasaan-kebiasaan yang menyangkut kematian. Pernikahan dilakukan di masjid, tetapi mereka menolak pembayaran mas kawin, alasannya karena penganut “agama Adam”. Lagi pula pembayaran untuk menyeleng gar akan upacara perkawinan dianggapnya melanggar ajaran. Untuk menghindari kesalahpahaman dari kelompok yang bukan Samin, perkawinan kemudian dilakukan di Catatan Sipil (Mumfangati, 2004:29).

Selanjutnya, Mumfangati (2004:29), menjelaskan pada dasarnya adat perkawinan yang berlaku dalam masyarakat Samin adalah endogami, yakni pengambilan jodoh dari dalam kelompok sendiri, dan menganut prinsip monogami. Dalam pola perkawinan ini yang dipandang ideal adalah isteri cukup hanya satu untuk selamanya: bojo siji kanggo salawase turun-temurun. Sebagai landasan berlangsungnya perkawinan, adalah kesepakatan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita. Kesepakatan ini merupakan ikatan mutlak dalam lembaga perkawinan masyarakat Samin.

Sebagaimana halnya dengan adat-istiadat lainnya, adat- istiadat perkawinan masyarakat Samin akan peneliti deskripsikan menurut gaya dan irama masyarakat tersebut. Tidak dapat dihindari dalam masyarakat mana pun juga, perkawinan itu dimulai dengan lamaran dan prae lamaran. Yang dimaksud dengan prae lamaran adalah persesuaian paham antara pihak lelaki dan orang tua perempuan, antara si jejaka dan si gadis. Baru sesudah itu meningkat ke satu tingkatan yang lebih maju lagi yang biasa disebut orang sekarang lamaran.

Cara melakukan lamaran itulah yang berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain dan seterusnya juga ada dalam upacara-upacara berikutnya. Begitu pun adapt- istiadat perkawinan dalam masyarakat Samin dimulai dengan lamaran dan prae lamaran yang tersendiri pula sesuai dengan kebiasaan masyarakat itu. Lamaran dan prae lamaran dilalui dengan jalan yang biasa saja, dan tidak berliku-liku. Cukup diselesaikan oleh orang tua lelaki dengan orang tua si gadis saja, atau pun ada kalanya hanya diurus langsung oleh si jejaka dan si gadis yang bersangkutan sendiri. Sifat mudah dan sederhana itulah yang kadang-kadang digunakan pula oleh orang-orang luaran untuk mengacau masyarakat yang murni itu. Masyarakat Samin tidak mengenal telangkai atau perantara untuk menghubungkan perkawinan anaknya itu.

Sesudah antara orang tua si lelaki dan orang tua si perempuan atau si jejaka dan si gadis bersesuaian paham, maka itu berarti sudah terikat dalam suatu pertunangan dan berarti pula sudah dilaluinya masa peminangan atau pelamaran. Kesepakatan itu terwujud apabila calon suami dan isteri saling menyatakan padha dhemene (saling suka sama suka). Pernyataan ini bukan sekedar ucapan, tetapi diikuti dengan bukti tindakan dengan melakukan hubungan seksual. Selesai melakukan hubungan seksual, laki-laki calon suami memberitahukan kepada orang tua si gadis calon isteri. Hal itu dilakukan setelah orang tua laki-laki melamar kepada keluarga pihak perempuan dan diterima.

+ ” Oh ya Le, wis tak rukunke,ning ana buktine bocah. Mbesuk nek wis wayahe sikep rabi mbok lakoni, kowe kandha aku.”
(Ohya saya setuju, tetapi harus ada buktinya. Nanti kalau anak saling mencintai dan melakukan hubungan suami isteri memberitahukan saya)
Setelah itu:
–          “Pak lare sampeyan mpun kula wujude tatane wong sikep rabi”. (Pak, putri Bapak dan saya sudah saling mencintai dan semalam saya sudah melakukan kewajiban sebagai suami).

+   “Iya, Nduk?” (Benarkah, Nak?)

—    Nggib” (Ya)

+  “Apa kowe wis padha dhemen tenanf (Apa kamu sudah saling  mencintai?)

–     “Nggih” (Ya)
+  “Nek kowe wis padha dhemen aku mung karek dhemen nyekseni Iho, Ten)

     (Kalau begitu, sebagai orang tua saya tinggal meresmikan, Nak)

Tahapan pertunangan ini harus dilalui oleh si jejaka dengan suatu masa percobaan kepadanya. Masa percobaan ini biasa disebut dengan “magang. Artinya diselidiki dikirim oleh orang tuanya atau datang dengan sukarela ke rumah si gadis untuk menetap tinggal di sana, seraya membantu dan menolong pekerjaan orang tua si gadis itu. Tidak dikatakan berapa jumlah hari si jejaka harus melakukan demikian, hanya semata-mata bergantung kepada kesanggupan dan kemampuan si jejaka dan si gadis itu sendiri, dalam membatasi dirinya masing-masing selaku di luar suami-isteri.

Jika kesanggupan dan kemampuan keduanya untuk membatasi diri itu sudah berakhir, artinya mereka sudah hitiup selaku suami isteri (terangnya mereka sudah melakukan hubungan kelamin), maka ketika itulah orang tua si gadis memberitahukan kepada ” sedulur-sedulur-nya bahwa anaknya sudah kawin.

Satu hal yang harus diingat, anak gadis itu harus memberitahukan kepada orang tuanya pada hari pertama sesudah mereka selaku suami isteri itu. Tidak boleh tarlambat dan tidak ada hari esok untuk menyatakan hal itu. Terlambat dan hari esok berarti melanggar kebiasaan mereka.

“Pak, aku wis lakf – (bapak, saya sudah kawin, kata si gadis itu kepada orang tuanya keesokan harinya).

” Ya, takkandhakna sedulurakeh”, – (Ya akan saya beritahukan saudara-saudara kita semuanya”, ayahnya menjawab).

Pada hari yang sudah ditentukan, orang tua si gadis itu pun mengundang “sedulur-sedulur”nya untuk turut menyaksikan peresmian pengantin itu. Orang tua si gadis memberitahukan kepada yang hadir sebagaimana yang telah disampaikan oleh anaknya itu.

Apabila si jejaka tidak membantah, berarti apa yang dikatakan oleh si gadis pada orang tuanya dan selanjutnya diteruskan kepada yang hadir adalah benar. Dengan demikian resmilah sudah perkawinan itu. Para tamu sudah memakluminya dan sesudah selesai berpesta sekedarnya, mereka itu pun minta diri untuk pulang ke rumahnya masing-masing.

Tatacara perkawinan yang berlaku dalam masyarakat Samin menunjukkan bahwa sahnya perkawinan dilakukan sendiri oleh orang tua laki-laki, si gadis. Dasar pengesahan perkawinan ini adalah pernyataan padha dhemen antara seorang laki-laki dengan seorang gadis dengan buktiyang dilukiskan seperti tersebut di atas. Tampak bahwa lembaga perkawinan masyarakat Samin itu hingga sekarang masih berlaku. Meskipun ada kalanya masyarakat Samin yang mengawinkan anaknya tidak dengan cara adat Samin, tetapi hampir semuanya tetap dengan cara adat mereka yang sudah berlaku lama.

Prasongko (1981), menjelaskan tentang sahnya perkawinan kecuali ayah si gadis anggota kerabat ayah si gadis, yang dalam hal ini berperan sebagai wali yang berhak menjadi wali antara lain saudara laki-laki sekandung ayah, saudara-saudara sepupu ayah, anak laki-laki dan saudara laki-laki ayah, dan anggota kerabat lain menurut garis ayah (laki-laki) ke atas, misalnya kakek (orang tua laki-laki ayah), saudara laki-laki kakek baik sekandung maupun sepupu. Jadi generasi ayah ke atas yang terhitung berdasar pancer lanang atau tunggal bibit dapat menjadi wali dalam perkawinan. Bilamana tidak dapat menemukan wali, maka dapat orang lain (wali njileh).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 92 – 97

Sumber gambar: Berita Jatim.COM media online

Adat-Istiadat dan Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Samin

Adat-istiadat masyarakat Samin ditandai oleh sikap dan perilaku atau perbuatan yang tidak (selalu) mengikuti adapt-istiadat dan aturan-aturan yang berlaku di desa atau masyarakat di mana mereka tinggal.

Hal itu diawali oleh sikap orang Samin yang mulai berani melawan kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Perlawanan orang Samin terhadap pemerintah kolonial Belanda tidak dilakukan dengan cara kekuatan fisik, tetapi diwujudkan dengan cara membandel tidak mau menyetor padi, menentang pamong desa dan terutama membandel atau menolak untuk membayar pajak.

Pajak yang ditentukan oleh pemerintah kolonial Belanda itu dirasakan sangat membebani mereka yang pada umumnya petani miskin. Oleh sebab itu pengaruh Saminisme di masa colonial lebih dikenal sebagai kelompok yang tidak mau membayar pajak. Sejak saat itu pula segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan-urusan pemerintah kolonial tidak mereka ikuti (Mumfangati, 2004:29).

Berbicara tentang adat-istiadat (upacara) kelahiran, perkawinan, dan kematian masyarakat Samin, tentu saja tidak lepas dari berbicara tentang adat-istiadat umum masyarakat Samin, yang merupakan perikehidupan masyarakat yang bersangkutan.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm.92 – 93