KH. Abdul Karim Hasyim, Pengurus PP. Tebuireng Periode Ketiga

KH. Abdul Karim Hasyim.KH. Abdul Karim Hasyim pengurus Pondok Pesantren Tebuireng Periode Ketiga tahun 1950 sampai dengan tahun 1951
Selama Kiai Wahid Hasyim menjadi pengasuh Tebuireng, Kiai Abdul Karim Hasyim sudah dipercaya sebagai wakilnya sejak tahun 1947. Ketika Kiai Wahid diangkat manjadi Menteri Agama, kepemimpinan pesantren Tebuireng manjadi kosong sehingga keluarga besar Bani Hasyim memilih Kiai Karim sebagai penggantinya. Kiai Karim resmi menjadi pengasuh Tebuireng sejak tanggal 1 Januari 1950 M.
Di kalangan pesantren, Kiai Karim terkenal sebagai ahli bahasa dan sastra Arab. Beliau juga produktif menulis dengan nama samaran Akarhanaf\ singkatan dari Abdul Karim-Hasyim-Nafiqoh.
Kelahiran dan Pendidikan
Abdul Karim dilahirkan di Tebuireng pada tanggal 30 Septenber 1919 M./1338 H., dengan nama kecil Abdul Majid. Sejak kecil Abdul Karim dididik langsung oleh kakaknya, Kiai Wahid Hasyim, serta kakak iparnya, Kiai Baidlawi. Dia terkenal sebagai anak yang rajin belajar.
Masa pendidikannya lebih banyak dihabiskan di Tebuireng. Dia tercatat sebagai salah seorang siswa pertama Madrasah Nidzamiyah yang didirikan kakaknya, Kiai Wahid Hasyim.
Keluargfa dan Karier
Pada tahun 1943, ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Kiai Karim menikah dengan Masykuroh, putri seorang kiai yang kaya raya di Jombang. Melalui perkawinan ini, Kiai Karim dikaruniai empat anak, yaitu Lilik Nailufari, Muhammad Hasyim Karim, Cicik Nafiqoh, dan Muhammad Natsir.
Selain aktif di Tebuireng, Kiai Karim juga bekerja sebagai KN I Kabupaten Jombang dan merangkap menjadi guru pada tahun 1945- 1948. Pada saat yang sama, Kiai Karim merangkap sebagai penghubung staf Grup M I di pulau Jawa.
Lalu pada tahun 1954, ketika sudah tidak menjabat sebagai pengasuh Tebuireng, Kiai Karim diangkat menjadi Ahli dan Pengawas Pendidikan Agama di Semarang. Lalu pada tahun 1960, Kiai Karim dipindahkan ke wilayah Surabaya dan Bojonegoro. Kemudian pada tahun 1968, dia diangkat menjadi dosen luar biasa pada Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
KH. Abdul Karim HasyimSaat itu, IAIN Sunan Ampel Surabaya hanya memiliki 1 Fakultas yaitu Fakultas Syari’ah, itupun merupakan cabang dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lokasi IAIN Sunan Ampel juga masih berada di Wonokromo yang sekarang ditempati Yayasan Khodijah. Beliau mengajar Nushush Adab yaitu materi kuliah tentang syair-syair, terutama syair-syair yang berisi kritikan kepada pemerintah.
Sekitar tahun 1970-an, Kiai Karim masuk keanggotaan Partai Golkar. Sikap ini sangat kontroversial di kalangan pesantren, yang saat itu umumnya berpartai Islam. Konon, beliau masuk Golkar karena diajak oleh salah seorang pejabat di Jombang, dengan pertimbangan bahwa perjuangan Islam tidak selamanya hanya di pesantren. Dakwah juga tidak selamanya di dalam partai Islam. Di Golkar juga membutuhkan siraman rohani, sehingga pemerintahan Orde Baru yang semuanya anggota Golkar perlu mendapat siraman rohani dari orang pesantren. Dakwah seperti ini, menurut Kiai Karim, merupakan konsep saling mengisi antar ulama dan umaro.
Pada pemilu tahun 1971, di mana partai Golkar mendapat suara 62,8 % dan memperoleh 227 kursi di parlemen, Kiai Karim terpilih sebagai salah satu anggota DPR-RI dari fraksi Golongan Karya.
Kepemimpinan di Tebuirengf
Selama satu tahun memimpin Tebuireng, Kiai Karim banyak melakukan reorganisasi dan revitalisasi sistem madrasah. Pada masa kepemimpinannya, madrasah-madrasah di berbagai pesantren sedang mengalami masa-masa suram. Dikatakan suram karena sejak penyerahan Kedaulatan RI dari pemerintah Belanda kepada pemerintah RI tahun 1949, Pemerintah lebih memprioritaskan sistem persekolahan formal (schooling) daripada madrasah. Perlakuan diskriminatif lainnya terlihat dari keputusan bahwa yang diperbolehkan menjadi pegawai negeri adalah mereka yang lulusan sekolah umum.
Oleh sebab itu, madrasah-madrasah di Tebuireng pun akhirnya diformalkan sesuai dengan sistem persekolahan. Jika sebelumnya jenjang madrasah hanya dua tingkat, yakni Shifir dan Ibtidaiyah, pada masa Kiai Karim ditambah menjadi tiga tingkat. Yaitu Shifir dua tahun, Ibtidaiyah enam tahun, dan Tsanawiyah tiga tahun. Periode Kiai Karim merupakan masa transisi menuju integrasi sistem salaf dan sistem formal. Inilah tonggak awal dimulainya era pendidikan formal di Pesantren Tebuireng, yang kemudian diikuti oleh sejumlah pondok pesantren lain, khususnya di tanah Jawa.
Pada masa Kiai Karim, didirikan pula Madrasah Muallimin enam tahun. Jenjang ini lebih berorientasi pada pencetakan calon guru yang memiliki kelayakan mengajar. Selain pelajaran agama dan umum, para siswa Mu’allimin juga dibekali keahlian mengajar seperti didaktik- metodik dan ilmu psikologi. Dengan adanya jenjang Mu’allimin, permintaan tenaga guru dari berbagai daerah dapat dipenuhi.
Setelah satu tahun mengasuh Tebuireng, Kiai Karim menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Kiai Baidlawi, yang merupakan kakak iparnya sendiri. Pergantian jabatan pengasuh Tebuireng dari Kiai Karim kepada Kiai Baidhawi, merupakan hal yang baru dari sistem kepemimpinan Tebuireng, karena seorang menantu dapat menggantikan kedudukan anak kandung di saat si anak kandung masih hidup.
Meskipun kepemimpinan Tebuireng secara formal dipegang oleh Kiai Ahmad Baidhawi, namun Kiai Karim tetap aktif membantu segala kegiatan pondok. Segala bentuk administrasi pondok, termasuk
formalisasi sekolah, diurus oleh Kiai Abdul Karim. Sedangkan Kiai Ahmad Baidlawi lebih berkonsentrasi mengurus pondok bersama kakaknya, KH Idris Kamali. Jadi, secara de facto, peran KH Abdul Karim tetap berlangsung di saat kepengasuhan Tebuireng berada di tangan KH Ahmad Baidhawi. Meskipun secara de jure beliau sudah mengundurkan diri. Pada tahun 1950-1951, Kiai Karim mendirikan Pandu HIPPI (Himpunan Pandu Pelajar Islam)
Meningeal di Tanali Svtci
Pada tahun 1972, Kiai Karim menunaikan ibadah haji bersama Kiai Idris Kamali dan keluarga Pesantren Seblak. Ketika semua kegiatan Ibadah Haji selesai dan rombongan sudah bersiap-siap untuk pulang, kondisi fisik pemimpin rombongan, KH Abdul Karim, mulai menurun. Dokter lalu memberikan suntikan injeksi. Namun tak lama kemudian Kiai Karim tidak sadarkan diri. Akhirnya, pada 31 Desember 1972, Allah Swt memanggil Kiai Karim untuk selama-lamanya. Inna liLlahi wa inna ilaihi roji’un. ()18
18Pada saat itu, Kiai Abdul Karim masih tercatat sebagai anggota DPR-RI.

———————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 77-81

KH. Ahmad Baidhawi Asro pengasuh Tebuireng Periode Keempat

KH. Ahmad Baidhawi AsroKH. Ahmad Baidhawi Asro pengasuh Tebuireng Periode Keempat (1951 – 1952)
KH. Ahmad Baidhawi Asro merupakan pengasuh Tebuireng yang sangat konsens pada pendidikan dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Beliau benar-benar menekuni dunia pendidikan dan sedikitpun tidak terlibat urusan politik. Seorang figur pendidik yang sederhana dan bersahaja, ikhlas, tekun beribadah, dan tidak memiliki ambisi apa-apa.
Kepemimpinan Kiai Baidhawi merupakan hal yang baru di Tebuireng, di mana seorang menantu dapat menduduki posisi pimpinan pesantren di saat putra-putri Kiai Hasyim Asy’ari masih ada. Masa kepemimpinan Kiai Baidhawi berlangsung satu tahun, dari tahun 1951 sampai 1952 M.

Kelalahiran
Kiai Baidhawi lahir di Banyumas, Jawa tengah, pada tahun 1898 M. Ayahnya, Kiai Asro, merupakan kiai yang sangat terkenal di Banyumas. Salah seorang cucu Kiai Asro adalah KH. Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama Republik Indonesia periode 1961-1967 yang juga mertua Gus Solah.

Pendidikan
Kiai Baidhawi memulai pendidikannya di HIS Banyumas, setelah itu dilanjutkan ke Pesantren Jala’an dan Pesantren Nglirep (keduanya di Kebumen), serta beberapa pesantren lain di Jawa Tengah. (kami kesulitan melacak data pesantren-pesantren di Jawa Tengah yang pernah “disinggahi” Kiai Baidhawi.) Setelah tamat, sang guru merekomendasikannya untuk melanjutkan studi ke Pesantren Tebuireng Jombang, yang saat itu diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari.
Selama nyantri di berbagai pesantren, Kiai Baidhawi terkenal sangat raj in belajar, baik mempelajari kitab yang telah dikaji ataupun yang belum. Ketekunan itu ditopang oleh kecerdasannya yang luar biasa. Dia selalu menarik simpati sang kiai, di manapun berada, tak terkecuali Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim sering menunjuk Kiai Baidhawi sebagai pengganti bila sedang berhalangan. Bahkan tidak jarang dalam masalah- masalah tertentu, Kiai Hasyim bermusyawarah dan meminta pertimbangan kepadanya.
Sebagai bentuk penghargaan kepada murid istimewanya itu, Kiai Hasyim memberangkatkannya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu. Setelah itu, Kiai Baidhawi melanjutkan studinya ke al-Azhar Kairo, perguruan Islam tertua di dunia.

Berkeluarga
KH. Ahmad Baidhawi Asro.Sekembalinya dari Mesir, Kiai Baidhawi mengabdikan diri di Tebuireng dengan membantu Hadratus Syeikb mengajar. Tak lama kemudian, Hadratus Syeikh menjodohkannya dengan putri ketiganya, Aisyah. Dari pernikahan ini Kiai Baidhawi dikaruniai 6 putra-putri. Yaitu Muhammad, Ahmad Hamid, Mahmud, Ruqayyah (istri KH. Yusuf Masyhar MQ), Mahmad, dan Kholid.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Setelah dikaruniai anak yang ke-6, Nyai Aisyah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kesedihan melanda keluarga besar Kiai Baidhawi.
Atas restu keluarga, Kiai Baidhawi kemudian menikah lagi dengan Nyai Bani’, adik Kiai Mahfudz Anwar (Seblak). Dari perkawinan ini Kiai Baidhawi dikaruniai seorang putri bernama Muniroh.
Kemudian Kiai Baidhawi menikah lagi dengan keponakan Kiai Mahfudz Anwar bernama Nadhifah. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 putra-putri. Yaitu Muthohar, Hafsoh, Munawar, Munawir, dan Fatimah.
Pendidik Sejati
Kiai Baidhawi menjadi pengasuh Tebuireng setelah Kiai Karim memintanya untuk menggantikan kedudukannya. Salah satu peran penting Kiai Baidhawi di Tebuireng adalah pengenalan sistem klasikal (madrasah). Sebagaimana diketahui, sejak awal berdirinya, Tebuireng menggunakan sistem pengajian sorogan dan bandongan. Namun sejak tahun 1919, Kiai Baidhawi bersama Kiai Maksum mulai memperkenalkan sistem klasikal, meskipun materi pelajarannya masih terbatas pada kitab-kitab klasik (penambahan materi umum baru dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim sejak tahun 1935).
Dikisahkan, pada suatu hari di tahun 1919, Kiai Baidhawi sedang mengajar santri dengan papan tulis. Tangan kanannya memegang kapur dan menulis huruf-huruf Arab, dan tangan kirinya juga memegang kapur dengan menulis huruf-huruf latin (pada masa itu jarang sekali santri yang bisa menulis latin). Melihat hal ini, Kiai Hasyim Asy’ari tertarik dan mengatakan, “Tidaklah mungkin seseorang dapat melakukan sesuatu tanpa belajar terlebih dahulu.” Sejak saat itulah di Tebuireng diperbolehkan mengadakan sistem madrasah, yang kemudian diberi nama Madrasah Salafiyah Syafiiyah, dengan jenjang mulai sifir awal hingga qism as-sadis (kelas enam).
Sebagaimana telah disinggung di muka, selama masa pengabdiannya di Tebuireng, Kiai Baidhawi tidak pernah aktif dalam dunia politik praktis. Satu-satunya jabatan yang pernah dipegangnya adalah anggota Dewan Syuriah PBNU.
Selama masa kepemimpinannya, Kiai Baidhawi tidak melakukan perubahan sistem maupun kurikulum di Tebuireng. Beliau meneruskan dan memelihara sistem yang sudah ada.
Ketika kepengasuhan Tebuireng diteruskan oleh KH. Abdul Kholik Hasyim, Kiai Baidhawi tetap tekun mengajar di Tebuireng. Beliau terus membantu kepemimpinan adik iparnya itu. Kiai Baidhawi juga tetap aktif mengajar di Madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah Tebuireng. Tak jarang, bila ada waktu longgar, beliau memantau para santri ke kamar-kamar.

Kepergian Sang Pendidik
Jumat sore di tahun 1955, cuaca di langit Tebuireng terasa sejuk. Kiai Baidhawi, yang pada siang harinya menjadi imam salat jumat dan ikut mendoakan korban bencana di Aceh, pada sore harinya mengalami demam tinggi. Demam itu terus dirasakan hingga malam hari.
Pada pertengahan malam, para santri dikejutkan oleh berita bahwa KH. Baidhawi telah berpulang ke rahmatullah. Inna liLlahi wa Inna ilahi Raji’un.
Jenazah KH. Baidhowi dikebumikan di area pemakaman keluarga di tengah-tengah Pesantren Tebuireng. Pada batu nisannya tertulis angka 8. Pesantren Tebuireng benar-benar merasa kehilangan, karena sejak saat itu Tebuireng hanya memiliki beberapa kiai yang termasuk pengajar kitab tingkat tinggi. Yaitu KH. Idris Kamali, KH. Adlan Ali, KH. Karim Hasyim, dan KH. Abd Mannan. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 82-86

KH. Ahmad Baidhawi Asro pengasuh Tebuireng Periode Keempat

KH. Ahmad Baidhawi AsroKH. Ahmad Baidhawi Asro pengasuh Tebuireng Periode Keempat (1951 – 1952)
KH. Ahmad Baidhawi Asro merupakan pengasuh Tebuireng yang sangat konsens pada pendidikan dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Beliau benar-benar menekuni dunia pendidikan dan sedikitpun tidak terlibat urusan politik. Seorang figur pendidik yang sederhana dan bersahaja, ikhlas, tekun beribadah, dan tidak memiliki ambisi apa-apa.
Kepemimpinan Kiai Baidhawi merupakan hal yang baru di Tebuireng, di mana seorang menantu dapat menduduki posisi pimpinan pesantren di saat putra-putri Kiai Hasyim Asy’ari masih ada. Masa kepemimpinan Kiai Baidhawi berlangsung satu tahun, dari tahun 1951 sampai 1952 M.

Kelalahiran
Kiai Baidhawi lahir di Banyumas, Jawa tengah, pada tahun 1898 M. Ayahnya, Kiai Asro, merupakan kiai yang sangat terkenal di Banyumas. Salah seorang cucu Kiai Asro adalah KH. Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama Republik Indonesia periode 1961-1967 yang juga mertua Gus Solah.

Pendidikan
Kiai Baidhawi memulai pendidikannya di HIS Banyumas, setelah itu dilanjutkan ke Pesantren Jala’an dan Pesantren Nglirep (keduanya di Kebumen), serta beberapa pesantren lain di Jawa Tengah. (kami kesulitan melacak data pesantren-pesantren di Jawa Tengah yang pernah “disinggahi” Kiai Baidhawi.) Setelah tamat, sang guru merekomendasikannya untuk melanjutkan studi ke Pesantren Tebuireng Jombang, yang saat itu diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari.
Selama nyantri di berbagai pesantren, Kiai Baidhawi terkenal sangat raj in belajar, baik mempelajari kitab yang telah dikaji ataupun yang belum. Ketekunan itu ditopang oleh kecerdasannya yang luar biasa. Dia selalu menarik simpati sang kiai, di manapun berada, tak terkecuali Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim sering menunjuk Kiai Baidhawi sebagai pengganti bila sedang berhalangan. Bahkan tidak jarang dalam masalah- masalah tertentu, Kiai Hasyim bermusyawarah dan meminta pertimbangan kepadanya.
Sebagai bentuk penghargaan kepada murid istimewanya itu, Kiai Hasyim memberangkatkannya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu. Setelah itu, Kiai Baidhawi melanjutkan studinya ke al-Azhar Kairo, perguruan Islam tertua di dunia.

Berkeluarga
KH. Ahmad Baidhawi Asro.Sekembalinya dari Mesir, Kiai Baidhawi mengabdikan diri di Tebuireng dengan membantu Hadratus Syeikb mengajar. Tak lama kemudian, Hadratus Syeikh menjodohkannya dengan putri ketiganya, Aisyah. Dari pernikahan ini Kiai Baidhawi dikaruniai 6 putra-putri. Yaitu Muhammad, Ahmad Hamid, Mahmud, Ruqayyah (istri KH. Yusuf Masyhar MQ), Mahmad, dan Kholid.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Setelah dikaruniai anak yang ke-6, Nyai Aisyah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kesedihan melanda keluarga besar Kiai Baidhawi.
Atas restu keluarga, Kiai Baidhawi kemudian menikah lagi dengan Nyai Bani’, adik Kiai Mahfudz Anwar (Seblak). Dari perkawinan ini Kiai Baidhawi dikaruniai seorang putri bernama Muniroh.
Kemudian Kiai Baidhawi menikah lagi dengan keponakan Kiai Mahfudz Anwar bernama Nadhifah. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 putra-putri. Yaitu Muthohar, Hafsoh, Munawar, Munawir, dan Fatimah.
Pendidik Sejati
Kiai Baidhawi menjadi pengasuh Tebuireng setelah Kiai Karim memintanya untuk menggantikan kedudukannya. Salah satu peran penting Kiai Baidhawi di Tebuireng adalah pengenalan sistem klasikal (madrasah). Sebagaimana diketahui, sejak awal berdirinya, Tebuireng menggunakan sistem pengajian sorogan dan bandongan. Namun sejak tahun 1919, Kiai Baidhawi bersama Kiai Maksum mulai memperkenalkan sistem klasikal, meskipun materi pelajarannya masih terbatas pada kitab-kitab klasik (penambahan materi umum baru dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim sejak tahun 1935).
Dikisahkan, pada suatu hari di tahun 1919, Kiai Baidhawi sedang mengajar santri dengan papan tulis. Tangan kanannya memegang kapur dan menulis huruf-huruf Arab, dan tangan kirinya juga memegang kapur dengan menulis huruf-huruf latin (pada masa itu jarang sekali santri yang bisa menulis latin). Melihat hal ini, Kiai Hasyim Asy’ari tertarik dan mengatakan, “Tidaklah mungkin seseorang dapat melakukan sesuatu tanpa belajar terlebih dahulu.” Sejak saat itulah di Tebuireng diperbolehkan mengadakan sistem madrasah, yang kemudian diberi nama Madrasah Salafiyah Syafiiyah, dengan jenjang mulai sifir awal hingga qism as-sadis (kelas enam).
Sebagaimana telah disinggung di muka, selama masa pengabdiannya di Tebuireng, Kiai Baidhawi tidak pernah aktif dalam dunia politik praktis. Satu-satunya jabatan yang pernah dipegangnya adalah anggota Dewan Syuriah PBNU.
Selama masa kepemimpinannya, Kiai Baidhawi tidak melakukan perubahan sistem maupun kurikulum di Tebuireng. Beliau meneruskan dan memelihara sistem yang sudah ada.
Ketika kepengasuhan Tebuireng diteruskan oleh KH. Abdul Kholik Hasyim, Kiai Baidhawi tetap tekun mengajar di Tebuireng. Beliau terus membantu kepemimpinan adik iparnya itu. Kiai Baidhawi juga tetap aktif mengajar di Madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah Tebuireng. Tak jarang, bila ada waktu longgar, beliau memantau para santri ke kamar-kamar.

Kepergian Sang Pendidik
Jumat sore di tahun 1955, cuaca di langit Tebuireng terasa sejuk. Kiai Baidhawi, yang pada siang harinya menjadi imam salat jumat dan ikut mendoakan korban bencana di Aceh, pada sore harinya mengalami demam tinggi. Demam itu terus dirasakan hingga malam hari.
Pada pertengahan malam, para santri dikejutkan oleh berita bahwa KH. Baidhawi telah berpulang ke rahmatullah. Inna liLlahi wa Inna ilahi Raji’un.
Jenazah KH. Baidhowi dikebumikan di area pemakaman keluarga di tengah-tengah Pesantren Tebuireng. Pada batu nisannya tertulis angka 8. Pesantren Tebuireng benar-benar merasa kehilangan, karena sejak saat itu Tebuireng hanya memiliki beberapa kiai yang termasuk pengajar kitab tingkat tinggi. Yaitu KH. Idris Kamali, KH. Adlan Ali, KH. Karim Hasyim, dan KH. Abd Mannan. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 82-86