Teknik Menenun Di daerah Tuban

Teknik Menenun Pakan Tambahan

Di daerah Tuban orang masih menenun lurik pakan tambahan dengan alat tenun gendong, serta pada umumnya mereka masih mempergunakan benang pintal tangan. Pada hakekatnya tenunan pakan tam­bahan adalah tenunan polos (Gb.A) yang sekaligus merupakan tenunan dasar, yang dihias dengan diberi/ditambah benang pakan tambahan (Gb.B).gb-agb-bgb-c

Caranya adalah dengan jalan memasukan/menyisipkan benang pakan tersebut (Gb.B; Pt.l, Pt.2, Pt.3, dan seterusnya) di antara benang pakan dari tenunan dasar (Gb.B; PI-P2; P2-P3, P3-P4, dan seterus­nya), menurut corak yang diinginkan. Be­nang pakan tambahan secara bergiliran di- sisipkan sekali di atas beberapa benang lungsi (Gb.B; LI, L2, L3) dan sekali diba- wahnya (Gb.B; L4,L5,L6), dan seterusnya, sesuai corak yang diinginkan. Dengan demikian terlihat benang pakan tambahan sekali berada di atas permukaan tenunan dasar, sekali di bawahnya (Gb.C).

gb-dgb-eSebelum menenun, benang-benang lungsi yarig akan berada di atas dan di bawah benang tambahan dipisahkan terlebih dahulu sesuai corak dengan lidiidi (Gb.D). Pada saat benang pakan tambahan akan dimasukkan, terlebih dahulu lidi yang bersangkutan diganti dengan liro (bambu atau kayu pipih) yang kemudian ditegakkan, sehingga membentuk rongga (Gb.E), di antara mana benang pakan tam­bahan tersebut dimasukan.

—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 112-113
 

Museum Brawijaya

Merajut Situs Merangkai Objek 

Andai Kopral Buang masih hidup, pastilah pahlawan ini bisa bercerita banyak. isah heroiknya bersama para ‘ pejuang kemerdekaan merebut tank Belanda, menduduki Pos Pantai Oesa Batering di Gresik, kemudian menyeret meriam besar berjuluk Banteng Blorok hingga ke Lamongan, pastilah menarik. Kini meriam besar hasil rampasan dari kolonial Belanda itu bertengger di Musem Brawijaya, Jlljen, Kota Malang. Namanya pun diubah menjadi Meriam Si Buang, mengabadikan nama pejuang tersebut.

Sangat banyak kisah heroik seperti yang dilakoni mendiang Kopral Buang dan para pejuang kemerdekaanIndonesia. Itu berarti sangat banyak pula situs dan benda-benda bersejarah yang punya daya tarik, jika digarap sebagai objek wisata sej arah . Lokasinya tersebar di Jawa Timur. Sebagian memang sudah digarap menjadi objek wisata. Namun, entah mengapa, belum marak seperti yang semestinya.

Meriam Si Buang hanyalah salah satu dari sekian banyak benda bersejarah yang sesungguhnya juga merindukan kehadiran wisatawan. “Dia” tidak sendirian bertengger gagah di tengah kawasan pemukimari” elit, di jantung Kota Malang. Di taman depan museum itu bertengger pula satu unit tank hasil rampasan pejuang kemerdekaan dari kolonial Belanda. Tank itu diapit dua senapan mesin penangkis serangan udara yang lazim disebut. Pam-pam Double Loop.

Senjata be rat itu setelah direbut oleh BKR Surabaya, September 1945, sempat  sukses merontokkan dua pesawat terbang Belanda. Di dalam halaman museum sebelah kiri pintu masuk juga terdapat Tank AM-Traek. Kendaraan tempur  pengunjung bisa menyaksikan gerbong kereta api berjulu Gerbong Maut. Di gerbong itulah, 23 November 1947, dipakai Belanda untuk mengangkut 100 orang tawanan perang dari penjara Bondowoso ke penjara Bubutan melalui Stasiun Wonokromo. Jauh di luar kapasitas gerbong SS buatan tahun 1924 itu.

Dalam perjalanan mulai pukul 02.00 dini hari, pintu Gerbong Maut itu ditutup rapat.Paratawanan berhimpitan bak ikan sarden.Susahbernafas. Saat “Gerbong Maut” itu sampai di Surabaya, 46 orang tawanan meninggal dunia, 11 orang sakit parah, 31 sakit, dan hanyan 12 yang masih sehat. Di sebelah utara gerbong maut itu juga dipamerkan sebuah perahu Segirir. Perahu kayu kecil ini dulu pernah dipakai komandan Pasukan Joko Tole menyelamatkan pasukannya dari pulau Madura menyeberang ke Paiton Probolinggo. Ketika itu Pasukan yang bertugas di Madura mendapat serangan dari pasukan Belanda. Karena kekuatan yang tidak seimbang akhirnya dengan perahu Segigir para pejuang itu menyeberang ke Jatim.

Ada nilai tambah memang jika kita berwisata ke Museum Brawijaya yang diresmikan pad a 16 April 1968 oleh Pangdam Brawijaya, Mayjen TNI M. Yasin. Disamping pengunjung mendapatkan gambaran tentang kegigihan para pejuang, juga bisa memetik nilai-nilai perjuangan. Inilah tugas pokok museum sebenamya.

Seperti halnyaSurabayadanMalang, banyak pula objek wisata sejarah bernuansa heroik-patriotik di kota-kota lain. Di Brangkal, Mojosari, Kabupaten MOjokerto misalnya, ada gedung yang pernah dipakai Bung Tomo membakar semangat para pejuang lewat siaran radio. Ketika ituSurabayadikepung Sekutu.

Bung Tomo dan anak buahnya membawa peralatan radio ke Mojosari.

Rute Bung Tomo (Surabaya-Mojokerto) dan lokasi-Iokasi bernilai heroik lainnya di berbagai daerah di Jatim, sebenarnya bisa dikemas menjadi objek wisata sejarah. Galibnya, merajut situs dan merangkai objek menjadi satu paket perjalanan wisata yang layakjual. Tentu, jika punya niat.    Tio

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 21, 7 -21 November 2003, Tahun I