Trimarjono

TrimaryonoTrimarjono Lahir di Ngawi, 14 April 1933, beragama Islam.
Pendidikan:
Tahun 1944, Menamatkan pendidikan dasar di Lumajang,
Tahun 1947, Menamatkan pendidikan SMP di Probolinggo,
Tahun 1950, Menamatkan pendidikan Sekolah Guru B di Madiun,
tahun 1955,  Menamatkan pendidikan SMA di Madiun,
Tahun 1962, Memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas Gajah Mada
Karirnya diawali dengan menjadi perwira Angkatan Laut dengan pangkat letnan, sambil menjadi Sekretaris Wakil Ketua DPRGR (1963), Wakil Ketua OPRGR (1964), Kepala Kejaksaan KODAMAR VIII Semarang, Sekwilda Tk. I Jawa Timur hingga tahun 1967-1985, Wakil Gubernur Jawa Timur (1985-1990). Sekarang menjabat sebagai Ketua DPRD Tk. I Jawa Timur dengan pangkat Laksamana Pertama TNI AL (Purnawirawafi).
Selain itu ia menjadi anggota kehormatan PWI Jawa Timur, Dewan Penyantun IKIP Negeri Surabaya, Ketua Umum KAGAMA dan Ketua Umum KONI Jawa Timur, Ketua Umum Perkumpulan Epilepsi indonesia Cabang Jawa Timur Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, Rektor Univer­sitas Wijaya Kusuma Surabaya dan Iain-Iain.
Bersama istrinya, Harnani dikaruiai tiga orang anak. Masing-masing Astini, Andriyanto dan Avianti. Sekarang tinggal di Jl. Jemursari Selatan 1/30 A Surabaya, telepon 814130. Sehari-hari berkantor di Gedung DPRD Tingkat I Jawa Timur Jl. Indrapuri No. 1 Surabaya, telepon 338750.

Pria yang pernah menjadi guru sekolah Dasar pada tahun 1950-1953 ini memang sebagai pekerja keras. Tanggung jawab dalam mengemban tugas dan kegi- gihan serta keuletannya dalam menjalankan prinsip-prinsipnya selalu dipadukan de­ngan gayanyayang blakblakan. “Semua itu harus dipadukan, baru dijadikan gerakan,” tandasnya.
Konsep itu digali berdasarkan pengalaman-pengalamannya jauh sebelum men­jabat sebagai Ketua DPRD. Semenjak menjalani pendidikannya sudah hidup di lingkungan para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan aspriasi rakyat kecil. “Maklum saya ini orang desa, jadi harus berani mengadakan terobosoan-terobosan,” katanya. Maka tak heran kalau di usia senja ini ia masih tetap eksis dan konsisten terhadap apa yang men­jadi kebijaksanaannya. Sehingga tenaga dan pikirannya masih saja dimanfaatkan di berbagai tempat.
“Sebenarnya resepnya mudah saja. Kita harus menyenangi tugas yang dipercaya- kan dan menjalankannya dengan penuh ra­sa tanggung jawab. Kepercayaan harus disyukuri disertai rasa pengabdian,” tambah- nya.

Meski begitu ia menyadari setiap lem- baga apapun pasti ada saja permasalahan- nya. Hanya saja sejauh mana permasalahan dapat segera diredam, ini yang menjadi tanggung jawab pemimpin yang bersangkutan. Untuk itu, menurutnya pemimpin ha­rus berani mengambil resiko. Permasalahan di saring sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah mengambil keputusan. Makanya seorang pemimpin harus selalu me-ngontrol anak buahnya.
Dalam hal ini Trimarjono lebih senang memakai manajemen by beras kencur. Artinya harus diubleg, di bolak-balik sehingga tidak menep dan rasanyapun tidak berubah. “Jadi apa yang saya pimpin itu selalu saya ubleg, saya gerakkan terus melalui kontak ataupun komunikasi. Dengan begitu banyak hal yang akan bisa diketahui. “Suatu contoh kalau ada kunjungan kerja komisi saya selalu ikut, tapi bukan sebagai ketua melainkan sebagai pengikut. Lha yang memimpinya ketua komisi itu sendiri,” katanya.
Malah ia juga pernah menghadap sekaligus memberikan laporan kepada Komisi E Bidang Kesejahteraan Rakyat. “Selaku ke­tua yayasan orang tua, kusta juga epilepsi saya menghadap komisi yang bersangkutan bersama para ahli kusta, psikologi dan pakar-pakar lainnya, hampir sehari pe- nuh. Padahal Ketua DPRD nya juga saya. Ini bukan show, tapi benar-benar saya lakukan dan saya tak merasa canggung, biasa saja,” jelasnya.
Nampaknya Jawa Timur yang semakin pesat pembangunannya ini membutuhkan figur sepertinya. Terbukti sudah enam kali pergantian gubernur namun ia masih tetap difungsikan di pos-pos penting Pemerintahan Daerah Tingkat I Jawa Timur. “Memang kepemimpinan itu harus terbuka, meskipun tidak seluruhnya. Dengan memberitahu tugas dan kewajiban anak buah, beban pimpinan akan berkurang. Sehingga kalau sudah menjadi sistem kita tinggal mengontrol,” tambahnnya.
Menurut peraih bintang kehormatan Jalasena Nararnya dan Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun ini, pimpinan itu ibarat barang dagangan harus dijaga bagaimana agar tetap laku. Tidak usah ikul kroyokan, memberi kesempatan pada stafyang lain, bersikap bijak, berani mengambil keputusan dan Iain-Iain. Dan dalam posisi yang terjepit, seorang pemimpin harus memiliki tempat bertahan. “Seperti cerita kucing yang dikejar macan. Pada keadaan ke- pepet kucing memanjat pohon. Lha si- macan nggak bisa mengejar, Cuma melihat dari bawah. Ini ilmu perlambang. Menafsirkannya terserah,” lanjutnya.
Yang tak kalah menariknya dari pria asli Jawa Timur ini adalah konsepnya dalam menangkal pendapat sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa wakil rakyat (DPR) biasanya hanya duduk, diam dan dapat duit.” Itu masih sayatambah dengan dengkur dan dableg,” tandasnya.
Selanjutnya dijelaskan, sebagai waikil rakyat, mereka seharusnya memumpuk diri agar bisa memenuhi konsep ABCD (Aspiratif, Berani bicara, Control dan Demokratis). “Bagaimanapun juga sekarang ini masyarakat cenderung lebih kritis menilai tugas dan tanggung jawab para wakil rakyat,” ungkapnya. (AS-8)

Sunarto Sumoprawiro

Sunarto001Sunarto Mantan prajurit Kopasus kelahiran Wonorejo III, Surabaya ini pernah menjabat sebagai Aslog dan Aster Kodam V/Brawijaya. Sebelumnya lebih banyak bertugas di Jakarta. Menerima penghargaan bintang Eka PakciNararya dari Presiden Soeharto, yang diberikan pada mereka yang sudah bertugas minimal dalam lima operasi. Sekarang menjabat sebagai Walikotamadia Surabaya periode 1994-1999.

Menikah dengan Endang Pertiwi dan bersama keluarga tinggal di rumah dinas, Jl. Walikota Mustajab No. 61 Surabaya, telepon 45Q93, 46890. Sehari hari berkantor di Jl. Taman Surya No. 1 Surabaya, telepon 43051, 43071 dan 41726.

Semenjak dilantik sebagai Walikota Su­rabaya, ia sudah mempunyai motto yang akan dikembangkannya di semua jajaran. Yaitu: disiplin adalah napasku, kesetiaan adalah kebanggaanku dan kehormatan adalah segala-galanya. “Saya akan mengajak staf dan bawahan saya untuk menerapkan motto itu Sebab ini sudah diuji kebenarannya di Angkatan Darat. Saya akan ajarkan bagaimana disiplin, kesetiaan dan kehprmatan itu. Kehormatan itu segala- galanya. Nyawa pun bila perlu saya pertaruhkan demi persatuan,” ungkapnya.

Sunarto tak menyangka kalau akan kembali ke kota kelahirannya, bahkan menjabat seba­gai orang nomor satu di Surabaya. Baginya, sebagai prajurit, menjadi apa saja tidak ada masalah. Dan ia siap ditem patkan di mana saja. “Awake dhewe iki prajurit, dadi apa ae terserah sing dhukuran. Niat saya cuma satu, pengabdian. Dan ini bisa dilakukan di mana saja sesuai perintah atasan. Termasuk kembali dan ikut membangun Sura­baya,” katanya dengan dialek Suro boyoan yang kental.

Dalam menjalankan tugas, ia tetap bersedia menerima kritik, tapi jangan yang mengadu domba. la punya trik tersendiri untuk mengha dapi kritik. “Pokoknya kalau saya diapiki, aku luwih apik. Tapi nek diga- rahi, ya tahu sendiri,” tegasnya.

Menghadapi stafnya yang mbeling, ia akan berusaha merigingatkan dulu. Tapi kalau tidak bisa diingatkan, ya diganti saja. Tapi lalu jangan menganggapnya sebagai pejabat yang ‘keras’. “Aku ini orangnya gaK tegoan. Tapi nek aku disodok teko mburi, ya seje maneh itungane,” jelasnya.

Di bawah kepemimpinannya, Surabaya berhasil merebut kembali Adipura Kencana, setelah gagal mempertahankannya pada tahun 1994. Menurutnya, hal ini berkat kerjasama semua warga Surabaya, yang mau kotanya jadi bersih. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa peran serta masya- rakat dan PKK memberi sumbangan nilai yang sangat tinggi, yaitu 97,88. Tanggung- jawabnya cuma menyatukan semua kepala dinas dan lapisan masyarakat. “Ibarat mau perang, saya komandannya, harus bisa mengatur semua anak-buah.”

Ia belajar dari kekurangan tahun 1994, ketika gagal mempertahan kan Adipura Kencana. Waktu itu tak ada program in- ovatif, jadi dianggap tak ada kemajuan. Padahal untuk Adipura Kencana, kriterianya semakin tinggi. Untuk itu selain melakukan program rutin, Pemda Surabaya juga menjalankan program baru, seperti membentuk petugas khusus pemelihara got atau saluran air di beberapa kawa san. Lalu meningkatkan kesejahteraan pasukan kuning.

“Bagaimana mau menggerakkan pasu­kan kuning dengan baik, kalau kesejah- teraannya tidak dipikirkan? Karena itu saya buatkan mereka rumah di daerah Rungkut, puskesmas di Grudo dan asuransi jiwa. De­ngan demikian morilnya tinggi untuk bekerja. Barangkali ini yang menjadikan kita menang,” jelasnya. Namun meski berhasil meraih Adipura Kencana, ia menyatakan belum puas, sebab potensi warga Surabaya masih bisa ditingkatkan lagi dalam menciptakan kota yang bersih.

Dalam memimpin gerakan kebersihan, ia selalu menekankan kepada para aparatnya agar ‘jangan kalah perang melawan sampah’. Pesan itu tidak hanya diucapkan- nya dalam acara keliling 28 kecamatan, tapi juga dalam pelantikan pejabat baru di ling- kungan Pemda Surabaya, la selalu menya­takan akan mengganti pejabat yang kalah perang melawan sampah. “Bagi yang tidak mampu menyesuaikan dengan garis kebijakan walikota, harus rela mundur,” tegasnya.

Ia tentu saja tidak cuma melecut ma­syarakat. Di tengah lesunya semangat menggairahkan gerakan untuk merebut Adipura Kencana, ia melihat makna strategis di balik keinginan Gubernur Basofi Soedirman menjadikan Kali Mas sebagai pusat kegiatan ASEAN Tourism Forum (ATF). Lewat kampanye singkat, yang diawali dengan penggelontoran Kali Mas, Surabaya berhasil mempertontonkan gairah masyarakat dalam mendukung gerakan bersih-bersih Kali Mas. Hasilnya, Kali Mas yang kotor menjadi lebih bersih.

Selain itu, lewat kunjungan kerjanya di 28 kecamatan, hanya dalam waktu satu setengah bulan, ia berhasil menghimpun dana partisipa si kebersihan masyarakat sekitar Rp. 400 juta. Dana partisipasi ini di antaranya berbentuk sumbangan 48 kontainer, 28 mesin pemotong rumput, 1.055 baliho dan 864 papan slogan. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 160-161  (CB-D13/1996-…)

Panut Darmoko

panutPanut Darmoko lahir di Nganjuk, 10 September 1931. Pendidikan formal yang pernah dikenyam Konservatori Solo (kini Sekolah Menengah Kesenian Indonesia). Pendidikan informal, di antaranya kursus pedalangan HBS Solo dan Pamarsudi Putri Solo.

Pensiunan guru SPG Negeri Nganjuk (1990) ini lebih dikenal sebagai dalang wayang purwo gaya Surakarta, Pimpinan Paguyuban Karawitan dan Kursus Pedalangan Larasmaya, Sekretaris PEPADI Pusat. Pada tahun 1980 memperoleh hadian seni dari Presiden Suharto. Pernah mendalang di Tokyo, Washington, New York, London, Paris, Pert, Canbera, Sidney, dan Adelaide.

Pada tahun 1966 mendalang di Istana Bogor, dan 3 kali men­dalang di Istana Merdeka. Pada tahun 1984 menunaikan ibadah haji. Perkawinannya dengan Sulasmi, dikaruniai 5 orang anak. Bersama keluarga tinggal di Jl. Sikatan 1/5 Nganjuk-64417.

Nama Ki H. Ahmad Panut Sosro Darmoko, bagi masyarakat pecinta wa­yang kulit di Jawa Timur dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang asing. Dalang kon- dang gaya Surakarta ini selalu menjadi panutan bagi dalang-dalang lain di Jawa Timur.

Penampilannya yang kalem, andhap-asor, dan selalu santun kepada siapa sajayang menjadi lawan bicaranya; menandai dirinya sebagai budayawan dan seniman yang teduh. Dalam hidupnya ia telah mencapai kesempumaan lahir dan batin.

Menanggapi perkembangan wayang kulit pada era globalisasi informasi sekarang ini, Ki Panut Darmoko mengibaratkan perang. Kalaupun diumpamakan manusia, ya seperti sesak napas, Di tengah-tengah perubahan sosial-budaya sekarang ini, orang mempunyai banyak alternatif, apa yang akan ditanggap. Berbeda dengan zaman dulu tidak ada tanggapan band, ndangndut, rock, vidio, dan yang lain. Orang hanya bisa memilih antara tayuban dan wayang kulit.

“Pagelaran jangan seadanya. Perlu adanya rekayasa agar menjadi tontonan yang menarik. Yang tidak kalah dengan seni-seni modern. Namun perlu diingat, bahwa wayang kulit selain sebagai ton­tonan sekaligus sebagai tatanan dan tun- tunan. Itulah sebabnya yang perlu direkayasa hanya sebatas sebagai tontonan. Sedangkan sebagai tatanan dan tuntunan harus tetap diagungkan dan dilestarikan, tidak dapat diuthakathik,” tuturnya ketika dimintai tanggapan tentang pergelaran wayang kulit. (AS-10)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 19  (CB-D13/1996-…)

Basofi Soedirman

BasofiMohammad Basofi Soedirman Lahir di Bojonegoro, 2 Januari 1941, beragama Islam. Alumni Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1963. Pernah masuk pasukan Baret Merah, kemudian dilugaskan di Kodam Brawijaya, Jawa Timur. Pengalaman tempurnya antara lain di Maros dan Timor Timur (tiga kali).

Sebelum menjabat Gubarnur Jawa Timur, sejak Agustus 1993, ia pernah dipercaya sebagai Komandan Kodim Jember, Mil Gubarnur DKI Jakarta dan Ketua DPD Golkar DKI Jakarta. Pernah mendapat penghargaan BASF Award, karena album lagu dangdutnya “Tak Semua Laki-Laki” laku keras di pasaran.

Menikah denganMarianilsnomo.Bersama keluargatinggal dirumah dinas Gubernuf Jawa Timur, Jl. Imam Bonjol Surabaya, telepon 574700 dan 570936. Selaku Gubernur Jawa Timur berkantor di Jl. Pahlawan No. 110 Surabaya, telepon 333805, 24012 dan 24013.

Sejak kecil ia sudah bercita-cita ingin menjadi tentara. Ini karena ayahnya, almarhum Letjen Sudirman, sering mengajaknya melihat kegiatan militer. Seperti me­lihat ke pedalaman atau menyaksikan olahraga tentara. “Itu yang membuat saya merasa kehidupan saya itu ya militer,” ungkapnya.

Meski begitu, ia masuk militer karena keinginannya sendiri, bukan karena anjuran ayahnya. “Bapak tidak pernah menyampaikan keinginannya mengenai anak-anaknya supaya jadi apa. Pokoknya jadi orang baik-baik. Nah, waktu saya masuk tentara, orang tua justru tidak tahu. Soalnya saya izin orang tua setelah saya lulus,” ungkapnya sembari tertawa.

Mungkin baru pertama kali ini ada di Indonesia, dalam sebuah keluargaadadua jenderal. Sang Bapak lebih tinggi pangkat- nya, yaitu Letnan Jenderal, sedang ia sendiri baru Mayor Jenderal. Namun sewaktu menjadi pejabat, ia tak pernah membawa- bawa nama bapaknya. Hal itu dilakukan atas anjuran ayahnya sendiri.

la melihat bapaknya sebagai seorang yanghumanis, kemanusiaannyatinggi. “Kalau melihat orang sedang sengsara, pasti Bapak akan tergerak hatinya. Tidak peduli siapa pun dia orangnya. Musuh yang mengeluh sakitpun, pasti akan ditolong,” ungkapnya.

Sedikit-banyak ia juga dipengaruhi oleh sikap bapaknya itu. la boleh dikata masih kena sawabnya orang-tua. Jadi meski tidak pernah membawa-bawa nama orangtua, tetapi ia merasakan pengaruhnya.

Ada banyak pengalaman mengenai sa’wab itu. Misalnya ia pernah menjabat di tempat di mana ayahnya dulu juga berada di sana. Sewaktu bertugas di Maros, Sula­wesi Selatan, ternyata nama bapaknya terkenal sekali di situ. Sewaktu ia bertugas di Jawa Timur, semua orang tahu bahwa ia anaknya Pak Sudirman.

Pengalaman tempurnya yang paling banyak dipuji adalah di Timor Timur. la pernah ditugaskan ke daerah itu tiga kali. Pertama kali waktu ia menjadi komandan batalyon. “Itu tahun 1975 kalau tidak salah ingat ya. Berikutnya waktu saya komandan brigade. Kemudian waktu saya jadi asisten Kodam Brawijaya, kembali lagi ke Timor Timur. Lumayan lama di sana. Yang pertama kali itu setahun. Kedua kali delapan bulan, dan yang ketiga enam bulan,” paparnya.

Sewaktu tugas di Timor Timur, sedang ramai-ramainya pertempuran. Dan syukurlah, ia tak pernah kenatembak. Dari pengalaman ini, ia merasa, jago tempur itu tidak ada. Yang ada barangkali faktor luck. Tetapi faktor luck juga harus pakai perhitungan “Saya’ banyak mengalami peristiwa-peris tiwa di mana orang mengatakan saya hebat, Padahal kalau orang tahu rahasianya, orang itu tidak akan mengatakan dirinya ti­dak hebat,” ungkapnya.

Namun karir militernya tak bisa terus berlanjut, karena ia diangkat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Waktu itu usianya 48 tahun dan ia diminta pensiun sebagai tentara. la menganggap tidak ada masalah de­ngan jabatan barunyaitu. “Dan saya juga tidak kaget. Memang terusterang saja, waktu saya ditunjuk oleh Golkar, dalam hati saya bertanya-tanya, ngapain ya, kok saya ditaruh di sini. Disuruh merangkap jadi Wagub dan sekaligus Ketua Golkar DKI. “Wong saya ini dari kecil senangnya jadi tentara,” ungkapnya.

Sejak menjadi Ketua DPD Golkar DKI, ia sering didaulat untuk menyanyi dalam berbagai forum. Biasanya menyanyi lagu dangdut. Makin lama ia makin merasa bisa menjadi penyanyi dangdut. Lantas ia menelurkan album “Tak Semua laki-Laki” yang ternyata laku keras di pasaran, sehingga ia berhak memperoleh BASF Award.

Sesudah menjadi Gubernur Jawa Timur, kedekatannya dengan masyarakat tidak berkurang. la cukup akrab dengan para artis musik dan film. Menurutnya, untuk menjadi pemimpin di Jawa Timur itu, sebenarnya tidak susah. Yang penting ada keterbukaan dan komunikasi. Kalau memberi sesuatu pada masyarakat Jawa Timur harus jelas, dengan argumen yang baik. “Bila hal itu dilakukan, saya yakin mereka pasti mau menerima. Jangan sekali-kali menawarkan sesuatu tanpa argumen. Pasti akan ditolak mentah-mentah,” ungkapnya.

Dalam menjalankan tugas, ia akan mendahulukan perbaikan Sumber Daya Manusia. Termasuk perbaikan mental aparat dan birokrasi. Untuk menyamakan persepsi de­ngan aparatnya, ia menggu nakan berbagai kiat. Misalnya dengan selalu memberi teladan yang baik pada aparatnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 131-133 (CB-D13/1996-…)

Imam Oetomo

imam oetomo001Mayor Jenderal TNI AD Imam Oetomo ini kelahiran Jombang pernah menjabat sebagai Danrem 084/Bhaskara Jaya tahun 1989- 1992, Kasdam VI Brawijaya tahun 1992 dan Asisten Personalia (Aspers) Kepala Staf Angkatan Darat. Sekarang menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya.
Bersama keluarga tinggal di Jl. Raya Darmo No. 100, Surabaya, telepon 510100. Sehari hari berkantor di Jl. Raden Wijaya No. 1, Surabaya, telepon 512455.
Selaku Pangdam V/ Brawijaya, ia meng. inginkan masyarakat Jawa Timur mempunyai kekuatan yang mampu menangkal berbagai permasalahan di kemu- dian hari. Membuat ruang, alat dan kondisi yang tangguh. “Tidak hanya kekuatan mi-ii- ternya, tetapi secara keseluruhan kita ajak masyarakat membantu pembangunan,” ungkapnya.
Sejak dulu, ia selalu ingin dekat dengan rakyat, demikian jugadi pasukan. Sehingga ia mengerti apa maunya mereka itu. Jadi dalam menentukan kebijakan-kebijakan juga tepat. “Sekarang ini di Jawa Timur perkem- bangan industrialisasi sangattinggi. Akibat- nya, masalah buruh dan tanah, yang akan diperguna kan untuk meluaskan pabrik, menjadi peka. Sehingga dibutuhkan pende- katan yang akan menyangkut hajat hidup rakyat itu sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, dampak industrialisasi di antaranya orang kaya akan lebih banyak, demikian juga orang miskin semakin ba¬nyak, sehingga akan menimbulkan kesen- jangan ekonomi-sosial yang tinggi. Hal itu perlu untuk diwaspadai. Karena kesenjangan sosial yang tinggi bisa menyebabkan masalah SARA. “Jadi menurut saya, potensi kerawanan di Jatim antara lain soal buruh, tanah dan SARA,” tegasnya.
Sebagai contoh soal buruh, kalau tuntutan kebutuhan hidup tidak terpenuhi, walau upah minimal sudah diumumkan, bisa menjadi permasalahan. Kalau misalnya yang didemonstrasi itu warga negara keturunan, akhirnya menjadi masalah SARA.
Untuk itu ia akan memberikan perhatian khusus dan pembinaan terhadap para USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika timbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan melakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngudarasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de¬ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika iimbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan ,nelakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngu- darasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de-ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi THR. “Saya yakin, apabila orang diperlakukan demikian oleh pimpinannya, mereka akan bekerja lebih baik. Manajemen modern harus memanusiakan manusia,” ungkapnya.
Sebagai orang kelahiran JawaTimur, sikapnya sama seperti orang Jatim kebanyakan. Thas-thes, tak senang ngomong, senang juga ngomong. Itu keterbukaan. la lebih menyukai hal seperti itu. Kalau ada orang yang tidak senang lalu ngomong, ia lebih menyukai.
Masyarakat Jawa Timur diakuinya memang ceplas-ceplos dan terbuka. Akan tetapi di balik itu, khususnya di daerah pe- desaan, mereka masih memandang hormat para ulama dan tokoh masyarakat. “Seba¬gai contoh di Madura, ulama masih begitu dihormati dan ditaati. Oleh sebab itu harus diadakan pendekatan ke sana. Saya juga akan banyak turun ke masyarakat.”
Baginya, jabatan sebagai panglima, akan diemban dengan penuh rasa tang- gungjawab. Kalau orang mengatakan, wah jadi panglima senang yaitu yang dilihat glamornya saja. Ini tanggung-jawabnya besar, pengorbanan juga harus lebih banyak. “Apa pun yang terjadi, saya siap untuk berkorban. Saya akan memegangteguh kepercayaan pimpinan dan tidak setitik pun akan saya nodai. Itu yang saya pegang sejak jadi letnan,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 92-93 (CB-D13/1996-…)