Tari Jaran Goyang, Kabupaten Banyuwangi

Sejarah Tari Jaran Goyan

jaran-goyang-1Tari Jaran Goyang adalah tari yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi yang dalam bentuk penyajian serta iringannya memiliki ciri khas berbeda dengan tari yang berasal dari daerah lain. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 yang diciptakan oleh group LKN Pandan, Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Tahun 1969 tari jaran goyang di revitalisasi oleh bapak Sumitro Hadi seorang seniman Banyuwangi yang memiliki banyak karya tari hingga pada masa sekarang. (Bpk. Sumitro Hadi, 2 Maret 2016). Tari ini merupakan tari yang diciptakan dari sumber ilham tari Seblang dan Gandrung sehingga gerakan-gerakannya hampir sama dengan tari Seblang dan Gandrung. Jaran goyang terdiri dari kata jaran ‘kuda’, dan goyang ‘goyang, bergerak’. Dalam hubungan ini, apabila tiba-tiba terjadi seorang gadis menjadi tidak sadar karena “guna-guna”seorang jejaka dari jarak jauh, dikatakan bahwa gadis itu terkena jaran goyang.

Tari jaran goyang merupakan tari pergaulan pemuda pemudi yang menceritakan tentang cinta kasih pemuda pemudi. Namun di dalam kisah cinta tersebut terdapat rasa sakit hati seorang pemuda karena cintanya tidak di balas dengan baik, akibat ditolak cintanya maka sang pemuda sakit  hati sehingga muncul niat buruk sang pemuda untuk menggunakan aji jaran goyang. Aji jaran goyang adalah semacam pelet yang biasanya digunakan untuk menghipnotis seseorang agar tergila-gila. Akibat pellet yang telah mengenai sang pemudi maka posisi yang tergila-gila terbalik sang pemudi merayu-rayu menjadi tergila-gila kepada pemuda tersebut.  Akhirnya sang pemuda menerima cinta si gadis, dan mereka menjadi saling suka. Oleh karena itu tari ini merupakan tari berpasangan pemuda pemudi.

Tari ini berdurasi 7 menit, yang struktur penyajiannya dibagi menjadi, bagian awal muncul penari perempuan, bagian kedua muncul penari laki-laki dengan adegan sang pemuda menggoda si gadis tetapi sang gadis menolak, kemudian masuk adegan penggunaan aji  Jaran Goyang sebagai pelet untuk mendapatkan cinta sang gadis, setelah itu sang gadis tergila-gila bergantian mengejar sang pemuda yang terakhir akhirnya keduanya saling cinta dan selesai. Tari ini dalam musiknya terdapat lirik lirik lagu dengan menggunakan bahasa osing yang menjadi ciri khas tari Banyuwangi. Rias dan kostum dalam tari ini yaitu menggunakan rias cantik untuk penari putri dan untuk penari putra menggunakan rias putra alus.

Dalam riasnya tari ini tidak mengalami perkembangan dengan selalu menggunakan rias cantik, tetapi untuk kostum penari putri banyak mengalami perkembangan, pada tahun 1969 penari menggunakan kostum sederhana tetapi dalam perkembangan zaman dan selera masyarakat setiap penampilan dikreasikan dengan tetap berpedoman pada kostum awal terciptanya tari Jaran Goyang. Tari ini ditampilkan dalam acara hajatan seperti pernikahan, khitanan, dan kesenian janger, dalam kesenian janger tari ini tidak selalu ditampilkan tetapi biasanya ada sesuai dengan permintaan tuan rumah yang menyelenggarakan hajatan. Tempat pertunjukan Tari Jaran Goyang juga mengalami penyempurnaan yaitu sekarang sering ditampilkan dalam gedung pada saat penutupan acara acara resmi serta acara agung seperti penyambutan Bupati di Kabupaten Banyuwangi, di lapangan pada saat acara Hari Jadi Banyuwangi, serta di panggung tertutup.

Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang

Bentuk penyajian Tari Jaran Goyang menurut bapak Sumitro Hadi (wawancara 2 Maret 2016) sebagai sesepuh dan penari tari Jaran Goyang pada tahun 1966 serta pimpinan Sanggar Tari Jingga Putih di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi. Beliau menuturkan bahwa bentuk penyajian tari Jaran Goyang versi dulu memiliki durasi cukup panjang jika dibandingkan dengan tari lain di daerah Banyuwangi yaitu selama 12 menit sedangkan tari-tari lain khususnya di Kabupaten Banyuwangi yang biasanya hanya memiliki durasi yang tidak lebih dari 10 menit. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 oleh group LKN Pandan. Tari Jaran Goyang pada versi dulu sangat sederhana, untuk gerak pada Tari Jaran Goyang mengambil gerak-gerak dalam tari yang sudah ada sebagai dasarnya yaitu dalam tari Gandrung, tetapi kemudian dikembangkan dan dikreasikan kembali.

Bentuk penyajian tari Jaran Goyang sangat sederhana, dengan gerakan yang diulang-ulang. Pada mulanya tari ini dibawakan oleh lebih dari satu pasang penari yang terdiri dari penari perempuan dan penari laki laki tetapi terdapat beberapa pasang penari dan tidak dibatasi jumlah maksimal penarinya. Bentuk penyajian pada masa dahulu yaitu pada saat satu pasang penari pertama muncul pada bagian awal, kemudian disusul pasangan-pasangan yang lain menari pada bagian akhir waktu gending ugo-ugo dimainkan, sehingga menjadikan durasinya lebih lama yaitu selama 12 menit jika dibandingkan dengan tari lain khususnya di Kabupaten Banyuwangi. Bentuk penyajian tari Jaran Goyang pada masa itu terdiri dari: gerak, desain lantai, musik iringan, tata rias, dan busana, dan tempat pertunjukan. Elemen-elemen pendukung tari Jaran Goyang pada masa dahulu tidak terlalu banyak dan terkesan sangat sederhana. Berikut ini adalah elemen-elemen pendukung pada tari Jaran Goyang antara lain :

  1. Gerak

Gerak tari Jaran Goyang didasarkan pada gerak ngrayung dan ngeber untuk penari perempuan yang dilakukan berulang-ulang. Geraknya masih bersifat sederhana. Untuk gerakan tangan dan kaki berubah-ubah tidak terpaku pada satu pola gerakan. Sedangkan untuk penari laki-laki didasarkan pada gerak bapang yang juga dilakukan berulang-ulang. Adapun gerak tangan dan kaki yang harus menyesuaikan dengan suasana dalam tiap adegan, karena dalam bentuk penyajian tarian ini tidak hanya mengandalkan gerakan penarinya saja melainkan sangat tergantung dengan ekspresi penari dalam membawakan cerita dalam tari ini, sehingga ada beberapa gerakan yang merupakan bagian dari akting penari perempuan maupun penari laki.

  1. Berikut adalah gerakan dasar tari Jaran Goyang untuk penari perempuan tahun 1969 Gerakan Sagah yaitu dilakukan dengan posisi badan mendhak kaki membentuk huruf T menyudut, arah badan kesamping kiri untuk sagah kiri dan jika sagah kanan arah badan kekanan. Gerakan ini menggambarkan perasaan sedih yang menangis karena sang pemuda menolak cintanya. Dengan kedua tangan njimpit sampur yang menutup separuh wajah, dan duduk bersimpuh.
  2. Gambar gerakan untuk penari laki-laki sebagai berikut: Gerakan yang dilakukan dengan tangan posisi bapang dan dan kaki tanjak kanan yaitu kaki kanan telapaknya menyudut lebih kedepan dari kaki kiri. Gerakan Langkah Telu yaitu langkah tiga-tiga dengan telapak kaki dipantulkan sambil diangkat.
  1. Iringan

Iringan atau musik dalam tari Jaran Goyang sangat sederhana. Selain itu iringan yang digunakan adalah musik eksternal yaitu music atau bunyi yang dihasilkan dari alat-alat musik pengiring seperti saron, kendang, triangle (kluncing), kenong, dan biola. Untuk alat musik yang digunakan menggunakan gamelan khas Banyuwangi dengan nada slendro. Durasi iringan tari Jaran Goyang pada masa dahulu lebih lama

selama 12 menit karena diulang-ulang (wawancara dengan Bapak Sumitro Hadi, 4 Maret 2016).

  1. Desain Lantai

(hasil wawancara dengan Ibu Sri Uniati, 14 Maret 2016). Beliau mengungkapkan untuk desain lantai tari Jaran Goyang pada masa dahulu tidak memiliki pola khusus., karena penari hanya menari di atas panggung yang membentuk garis sejajar dan diagonal. Tari Jaran Goyang ditarikan berpasangan dan jumlah pasangan penari tidak ditentukan sehingga tidak ada pola lantai yang baku dalam penyajiannya.

Gambar pola lantai di atas merupakan pola lantai baku dalam tari Jaran Goyang yang jika ditarikan oleh 3 pasang penari. Selanjutnya pola lantai dapat dikembangkan oleh penata tari sesuai dengan keinginan, kapasitas panggung, serta jumlah pasangan penarinya.

  1. Tata Rias dan Busana

Tari Jaran Goyang pada masa dahulu rias yang digunakan sangat sederhana dan tidak terlalu mencolok. Mamakai rias, busana, serta perlengkapan yang seadanya. Rias yang digunakan adalah rias cantik untuk penari perempuan. Busana yang dipakai penari perempuan pada saat itu adalah kebaya model kutubaru, dengan bawahan menggunakan jarik dengan motif gajah oling atau kain polos, serta sampur. Untuk rias

kepala menggunakan sanggul bali. Sedangkan penari laki-laki rias yang digunakan adalah rias putra biasa dan tidak mencolok. Dalam tata rias di daerah Kabupaten Banyuwangi untuk setiap tarian tidak menggunakan rias karakter, tetapi menggunakan rias secara umum baik laki-laki maupun perempuan. Sedangkan busana untuk penari laki-laki adalah menggunakan udeng, baju lengan panjang, celana dengan

panjang selutut, sampur yang diselempangkan, serta jarik motif gajah oling.

  1. Tempat Pertunjukan

Tempat pertunjukan tari Jaran Goyang dahulunya di acara hajatan, dan acara tahunan yaitu dalam memperingati hari kemerdekaan RI di desa Gladag Kabupaten Banyuwangi. Tempat pertunjukannya tidak hanya dilakukan di dalam ruangan tertutup tetapi juga dilakukan di ruang terbuka seperti teras rumah, atau halaman rumah warga. Karena pada saat itu menyesuaikan dengan acara yang diselenggarakan dan dimana terlaksanannya sebuah acara tersebut.

Perkembangan Tari Jaran Goyang

Sebagai tari rakyat asli Kabupaten Banyuwangi, Tari Jaran Goyang hidup dan berkembang di Desa Gladag. Tari Jaran Goyang telah mengalami perkembangan dalam beberapa periode yaitu pada tahun 1969, tahun 1990, tahun 2010 sampai 2016. Tiga (3) periode tersebut telah mengalami perkembangan yang terjadi dalam berbagai aspek, mulai dari gerak, desain lantai, iringan, rias dan busana, dan tempat pertunjukan.

——————————————————————————————-Nungky Retno Palupi (Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa Dan Seni)Perkembangan Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang Di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi Dari Tahun 1969-2016. Universitas Negeri Yogyakarta 2016

Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

batik-sayu-wiwit-banyuwangi-41Sejarah pengembangan batik di Banyuwangi dimulai pada tahun 1980-an. Sentra batik pertama yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi adalah terletak di daerah Temenggungan. Awalnya, pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengirim beberapa orang dari kelurahan Temenggungan untuk belajar membatik. Sampai saat ini yang mampu bertahan hanya dua orang yaitu Soedjojo Dulhaji pendiri UD. Sayu Wiwit dan Ana Nemy pemilik UD. Sri Tanjung.

Berawal dari keadaan tersebut, pada tahun 1995 Soedjojo Dulhaji mencoba mengumpulkan para pengrajin batik dalam satu wadah dengan nama “Kelompok Kerja Pembatik”. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan potensi yang ada, baik dari segi pelestarian serta pengembangan batik Gajah Oling, serta untuk menghindari munculnya kejenuhan baik bagi para pengrajin itu sendiri maupun calon pembeli. Usaha tersebut semakin lama menunjukan kemajuan yang baik serta adanya respon dari masyarakat, maka pada tahun 1997 Bapak Soedjojo Dulhaji mendaftarkan usaha tersebut ke Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dan setelah itu usaha tersebut mendapatkan nama PT. Sayu Wiwit dengan No. SIUP: 0100/ 13-6/ PK/ III/ 1997, dengan spesialisasi tiga jenis produk, yaitu: batik tulis, batik cap, dan batik printing. Sejak  Soedjojo Dulhaji meninggal dunia, sanggar batik dikelola oleh Fonny Meilyasari (anak Bapak Soedjojo). Hanya saja, Ibu Fonny tidak memiliki ketrampilan membatik sehingga mengikuti magang di pembatik di Solo selama 2 minggu. Tujuannya adalah ingin menambah pengetahuan tentang teknik membatik yang benar dari daerah lain.

batik-sritanjung-banyuwangiNama Sayu Wiwit merupakan nama pahlawan wanita Banyuwangi yang kemudian digunakan sebagai nama dari sanggar batik tersebut. Tujuan didirikannya sanggar batik Sayu Wiwit adalah untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat khususnya penduduk kelurahan Temenggungan, serta menciptakan lapangan kerja bagi ibu-ibu dan remaja putus sekolah khususnya bagi mereka yang pernah mengikuti latihan kursus ketrampilan membatik dengan memacu dan memberikan motivasi untuk berproduksi kemudian menampung produksinya dan mengupayakan pemasarannya (Purwoko, 2011:35). Usaha  yang dilakukan oleh pendiri sanggar batik mendapatkan tanggapan yang positif dari Pemerintah Daerah Tingkat II Banyuwangi, Departemen Perindustrian, Departemen Tenaga Kerja. Perkembangan perusahaan batik Sayu Wiwit dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sehingga usahanya semakin maju.

 

Dinamika Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

  1. Proses Produksi dan Bahan Baku yang Digunakan

Proses produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit tidak jauh berbeda dengan proses produksi batik di tempat lain. Proses pembuatan batik tidak mengalami perubahan dari awal didirikan hingga sekarang ini. Proses pembuatan batik terdiri atas beberapa tahap, yaitu membatik, mewarna, menghilangkan malam, dan mencuci kain batik. Semua proses produksi batik masih bersifat tradisional karena semua masih dikerjakan dengan menggunakan tangan. Selain batik tulis yang digambar dengan menggunakan canting, Sanggar Batik Sayu Wiwit juga memproduksi batik cap, mengecap kain dilakukan dengan blok yang terbuat dari tembaga bertangkai pegangan dari kayu yang di sisi dalamnya berbentuk motif batik.

Sejak awal didirikannya industri batik Sayu Wiwit pada tahun 1995, produksi batik hanya berupa batik tulis. Namun untuk mengantisipasi minimnya jumlah pembatik dan mempercepat waktu produksi, pemilik Sanggar Batik Sayu Wiwit melakukan strategi dengan menambah alat batik cap agar hasil produksi batik dapat bertambah dalam waktu yang relatif singkat. Batik cap diproduksi Sanggar Batik Sayu Wiwit sejak tahun 2000.

  1. Variasi Motif

Sanggar Batik Sayu Wiwit pada awalnya hanya memproduksi motif batik Gajah Oling. Motif batik Gajah Oling merupakan perpaduan antara gambar atau ornamen kupu-kupu, batang, daun, dan bunga melati. Motif batik Gajah Oling merupakan batik yang mempunyai tingkat kesulitan yang paling tinggi dalam proses pembuatannya. Pada perkembangan selanjutnya, Sayu Wiwit menambah produksi motif batik tulis yaitu motif batik Kangkung Setingkes dan motif batik Paras Gempal. Konsumen juga dapat memesan kain batik dengan motif lain dengan langsung datang ke sanggar tempat pembuatan batik Sayu Wiwit dengan membawa desain batik yang diinginkan.

Beberapa hasil pengembangan motif Gajah Oling yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit antaralain :

1) motif Kembang Kates
2) motif Teratai
3) motif Zig-Zag
4) motif Gunung
5) Anas Garis
6) Gelombang Cinta
7) Kantil
8) Semanggi
9) Anggur
10) Ukiran

  1. Aktivitas Pemasaran

Pemasaran pada industri kerajinan batik Sayu Wiwit pada awalnya hanya dilakukan di rumah produksi. Para konsumen datang langsung ke tempat produksi untuk membeli batik dan dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik. Selain itu biasanya ada pula yang dibawa oleh pedagang pengecer untuk dipasarkan kembali di luar daerah Banyuwangi. Seiring berkembangnya usaha kerajinan batik, pada awal tahun 2011 usaha kerajinan batik Sayu Wiwit membuka showroom yang diberi nama Umah Batik Sayu Wiwit. Sebelumnya para calon pembeli harus berjalan kaki terlebih dahulu ketika akan membeli batik, setelah didirikannya Umah Batik Sayu Wiwit akan memudahnya para pembeli untuk datang. Showroom juga digunakan sebagai sarana promosi agar para calon pembeli tertarik untuk datang ke tempat penjualan batik.

Pemasaran hasil produksi sanggar batik Sayu Wiwit tidak hanya disalurkan melalui showroom yang dimilikinya, namun untuk meningkatkan penjualan Sayu Wiwit melakukan strategi promosi yang lain. Saluran promosi yang digunakan Sanggar Batik Sayu Wiwit melalui media periklanan. Kegiatan periklanan yang dilakukan Sanggar Batik Sayu Wiwit melalui pemasangan iklan di surat kabar, spanduk, maupun penyiaran radio.

  1. Dampak Industri Batik Terhadap Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

Perkembangan industri batik di Kelurahan Temenggungan mempengaruhi dan merubah kondisi masyarakat sekitar, khususnya pada karyawan industri kerajinan batik. Melalui keberadaan industri batik di Kelurahan Temenggungan, timbul pergeseran lapangan kerja yang lama ke bidang usaha yang baru. Beralihnya profesi ke bidang industri membuat taraf kehidupan ekonomi masyarakat dalam segi pendapatan menjadi meningkat. Keadaan tersebut memacu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tidak hanya kebutuhan pokok sehari-hari melainkan juga kebutuhan lain yang bersifat sekunder. Kebutuhan sekunder yang dimaksud adalah barang-barang elektronik seperti televisi dan sarana transportasi seperti sepeda dan kendaraaan bermotor.

Dampak ekonomis dari pendirian industri kerajinan batik adalah adanya penghasilan tambahan bagi masyarakat yang terlibat dalam industri batik, dalam hal ini adalah pengusaha, pengrajin, dan pengecer. Beralihnya masyarakat yang bekerja di luar industri menjadi kerja industri disebabkan oleh faktor keadaan sosial ekonomi. Sementara biaya hidup semakin meningkat sedangkan mereka tidak dapat hanya mengandalkan gaji yang diperoleh dan yang bermata pencaharian sebagai tukang rumah atau buruh tani tidak memperoleh gaji secara tetap.

Secara sosial ada beberapa dampak yang dirasakan oleh para pengrajin, diantaranya adalah semakin erat hubungan antar tenaga kerja atau karyawan perusahaan. Keeratan hubungan antar tenaga kerja timbul karena kebiasaan para pengrajin melakukan pekerjaan bersamasama di sanggar karya milik perusahaan. Setiap kehidupan masyarakat selalu terjadi adanya interaksi sosial. Tanpa adanya interaksi sosial, maka tidak mungkin ada kehidupan bersama.

  1. Usaha Pelestarian Batik

Seiring dengan perkembangan zaman, hingga saat ini banyak tumbuh berkembang pengrajin batik menyebar hampir di seluruh wilayah Kecamatan maupun Kabupaten Banyuwangi, hal tersebut dikarenakan adanya dukungan positif dari semua pihak terhadap keberadaan batik Banyuwangi diantaranya Kebijakan Pemerintah Daerah dalam upaya pengembangan batik di Banyuwangi serta pemakaian batik khas daerah untuk seragam Dinas maupun Sekolah pada hari dan acara tertentu.

Kelestarian batik ikut terjaga ketika adanya peraturan yang dibuat pemerintah kabupaten Banyuwangi sejak 2009, yang mewajibkan semua pegawai pemerintah daerah dan pegawai negeri sipil di Banyuwangi untuk menggunakan seragam batik dengan motif Gajah Oling pada setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Selain itu, juga untuk pemakaian busana khas Banyuwangi yaitu Jebeng dan Thulik (Duta Wisata dan Kebudayaan Banyuwangi) pada Thulik, batik motif Gajah Oling dipakai pada udeng tongkosan dan sembong sedang, sedangkan pada Jebeng batik Gajah Oling digunakan sebagai kain panjang.

Pemerintah sendiri memiliki beberapa program untuk kembali mengenalkan Batik Banyuwangi kepada masyarakat karena kekayaan budaya dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembangunan di Banyuwangi, dan batik menjadi salah satu produk kebudayaan yang termasuk dalam seni kerajinan rakyat.

——————————————————————————————-Rara Sonia Estiningtiyas, Sumardi. Bambang Soepeno. Dinamika Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit Di Kelurahan Temenggungan Kecamatan Kota Banyuwangi 1995─2014.
Universitas Jember (UNEJ)

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Kawin Colongan

Kawin Colongan, merupakan salah satu tradisi perkawinan masyarakat Using/Banyuwangi

Masyarakat Using/Banyuwangi memiliki beragam tradisi perkawinan salah satunya adalah “Kawin Colongan. Perkawinan jenis ini berdasarkan rasa saling mencintai, namun orang tua sang gadis tidak menyetujui. Karena tak direstui Sang jejaka dan Sang gadis sepakat bahwa pada hari tertentu Sang jejaka akan membawa lari Sang gadis.

Ketika melaksanakan colongan “mencuri gadis”, Sang jejaka biasanya ditemani oleh salah seorang kerabatnya yang mengawasi dari jauh. Dalam waktu ddak lebih dari 24 jam Sang jejaka harus mengirim seorang colok yaitu orang yang memberitahu keluarga Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri untuk dinikahi. Orang yang dijadikan colok tentu saja sosok yang mempunyai kelebihan dan kepandaian serta dihormati.

Utusan (colok) akan memberitahu orang tua Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri dan tinggal di rumah orang tua Sang jejaka melalui ungkapan “sapi wadon rika wis ana umabe sapi lanang, arane si X”. Yang dimaksudkan sapi wadon adalah Sang gadis dan sapi lanang adalah Sang jejaka.

Ketika mendapat pemberitahuan demikian, pihak orang tua Sang gadis yang semula kurang setuju biasanya tidak akan menolak karena beranggapan anak gadisnya tidak suci lagi. Kedua belah pihak kemudian mengadakan pembicaraan untuk merundingkan pernikahan mereka.

Colongan dalam masyarakat Using/Banyuwangi bukan dianggap sebagai perbuatan salah. Bahkan colongan dianggap sebagai bukti keberanian dan sekaligus simbol kejantanan, serta peredam konflik antara dua keluarga.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (melayokaken), atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngeleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

 

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 114-115

Osing dan Banyuwangi

Mengapa Banyuwangi Mendapat Predikat Kota Osing?

Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung paling Timur dari pulau Jawa. Secara admin­istratif berada di dalam wilayah pemerintahan Pembantu Gubernur di Jember, disamping kabupaten-kabupaten lainnya seperti Situbondo, Bondowoso dan Jember.

Berbeda dengan ketiga kabupaten tersebut, yang berkembang menjadi kota dengan usia relatif muda (mulai berkembang pada zaman penjajahan Belanda karena ditunjang oleh berbagai macam perkebunan di daerahnya masing-masing), maka sejarah perkembangan Kabupaten Banyuwangi agak lain.

Sejarah Kabupaten Banyuwangi dimulai dari zaman Kerajaan Blambangan di daerah Selatan (sezaman dengan kerajaan Majapahit), yang kemudian ibukotanya berpindah makin ke Utara sehingga menjadi kota Banyuwangi yang sekarang ini. Perkembangannya pada abad-abad terakhir dari segi ekonomi juga banyak didukung oleh berbagai macam per­kebunan yang banyak terdapat di wilayahnya. Perkebunan tersebut semuanya mulai dirintis sejak masa penjajahan Belanda.

Sebagai suatu daerah kebudayaan, Banyuwangi termasuk lingkungan kebudaya­an Jawa, sebagaimana halnya Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura. Akan tetapi kalau diteliti lebih mendalam, sebenarnya daerah ini secara kultural merupakan suatu wilayah tersendiri dengan segala kekhasannya.

Hal yang demikian karena didukung oleh keadaan wilayah, dimana batas-batas alam dan kultur telah “memagari” daerah tersebut. Di sebelah Utara. Timur dan Selatan Kabupaten Banyu­wangi dibatasi oleh laut, sedang di sebelah Barat oleh ketiga kabupaten tersebut diatas, yang notabene sebagai wilayah kebudayaan tergolong baru.

Keadaan Banyuwangi ini mengingatkan kita kepada pulau/propinsi Bali, yang karena letak geografisnya menyebabkan selama ini tetap mempunyai corak kebudayaan yang asli dengan segala adat istiadatnya.

ASAL MULA ISTILAH ASING

Banyuwangi sebagai suatu wilayah kebudayaan mempunyai kekhususan, yang membedakannya dengan daerah-daerah lain, baik ditinjau dari segi bahasa, kesenian maupun adat istiadat penduduknya.

Sebagai suatu kabupaten dengan ibukota yang terletak di tepi pantai (pelabuhan), maka Banyuwangi (sejak) masa-masa yang lalu banyak dikunjungi oleh penduduk dari daerah lain, baik itu oleh suku-suku lain di seluruh wilayah Nusantara, maupun oleh orang-orang asing.

Tidak mengherankan jika bahasa daerah Banyuwangi, yang pada dasarnya bahasa Jawa (kuno) itu banyak dipengaruhi oleh bahasa- bahasa lain, seperti bahasa daerah Bali. Madura, Melayu bahkan konon bahasa Inggris.

Bahasa daerah Banyuwangi mengenal perkataan nagud (jelek), yang konon berasal dari perkataan bahasa Inggris no good. Bahasa daerah Banyuwangi yang berakhir dengan huruf “i” biasanya diucapkan seperti pada umumnya orang Inggris mengucapkan huruf “i” (=ai). Contoh: iki (=ini) diucapkan ikai. Lali (=lupa) diucapkan lalai

Orang luar menamakan wilayah kebudayaan Banyuwangi sebagai “daerah osing”. Perkataan “osing” yang berarti “tidak” sebenarnya merupakan sinonim dari perkataan bahasa Jawa “ora” yang juga berarti “tidak”. Disini berperan pengaruh bahasa Jawa dan

Bali, karena sing dalam bahasa Banyuwangi juga berarti tidak. Sebagai sebuah perkataan untuk menyatakan “tidak” maka perkataan “osing meniru tatanan bahasa Jawa: “ora”. Didalam bahasa percakapan sehari-haripun kalau orang Banyuwangi menyatakan “tidak”, tentu “osing” bukan “using”.

Oleh karenanya maka penulis lebih cenderung memakai istilah osing dan bukan using, sebab tata bahasa asalnya (induknya) adalah ora, bukan ura.

Pemakaian istilah Osing sebagai suatu nama bagi wilayah kebudayaan Banyuwangi sebenarnya relatif muda, baru sekitar abad XVIII. Menurut hasil Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa IKIP-PGRI Banyuwangi jurusan Sejarah, istilah osing dilontarkan oleh para pendatang dari Jawa Tengah yang membuka dan mendiami kawasan hutan di daerah Banyuwangi Selatan. Para penduduk Banyuwangi di sebelah Utara mereka, mulai dari Cluring sampai Kalipuro, disebut dengan istilah orang Osing. Maksud­nya orang (penduduk), yang kalau menyatakan tidak bukan dengan ora melainkan osing.

Berdasarkan data tahun 1987, dari jumlah 175 Desa/Kelurahan di Kabupaten Banyu­wangi, 94 diataranya para penduduknya kebanyakan menggunakan bahasa Osing.

KESENIAN DAN ADAT ISTIADAT

Di bidang kesenian kita kenal kesenian khas Banyuwangi seperti gandrung, aljin, angklung caruk, kendang kempul dan seni drama khas Banyuwangi yang disebut janger Banyuwangi (=damarwulan).

Kalau seni musik yang terkenal di Indo­nesia ialah gamelan, maka di daerah Banyuwangi gamelan ini merupakan suatu perangkat instrumen yang agak berbeda dan dimainkan dalam bentuk-bentuk kombinasi sedikit lain daripada gamelan Jawa pada umumnya. Pada gilirannya gamelan khas Banyuwangi ini menunjukkan irama-irama yang lincah dan dinamis, mirip-mirip gamelan Bali.

Seni tari yang berhubungan dengan seni musik pada hakekatnya adalah sebuah bentuk drama. Ada tari-tarian rakyat dan ada pula seni tari dan drama profesional yang khusus diusahakan dan dimainkan oleh tenaga-tenaga terlatih. Hampir semua tarian khas daerah Banyuwangi menghendaki pakaian khusus dengan corak ragam hias yang berbeda-beda yang memantulkan kesan kaya dan gemeHapan.

Di bidang seni kerajinan rakyat, Banyuwangi juga mengenal seni membatik dengan motif yang sangat tersohor, ialah ba­tik Gajah Oling. Kerajinan anyaman bambu juga terkenal, yang menghasilkan alat-alat rumah tangga dengan anyaman yang halus dan indah.

Dalam seni masak-memasak, puteri- puteri Banyuwangi juga mempunyai resep- resep khusus, yang walaupun bahannya sederhana, akan tetapi mempunyai rasa tersendiri, sehingga tidak berlebihan kiranya apabila disebutkan sebagai makanan khas Banyuwangi, seperti misalnya rujak-soto, cit, manisan pala, selai pisang, kue bahagia (bakiak) dsb.

Di bidang adat istiadat kita mengenal upacara-upacara yang disebut Rebo pungkasan, 1 Suro, petik laut dsb. Juga adat perkawinan ala Banyuwangi asli dimana si pria harus lebih dahulu melarikan calon mempelai puteri sebelum mendapat penga­kuan sah sebagai suami isteri. Ada lagi tradisi berpacaran yang disebut gredoan, dimana sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta dapat melakukan dialog pada malam hari.

Adanya lompatan-lompatan kemajuan di dalam era pembangunan sekarang ini, khusus­nya di bidang pendidikan dan transportasi, telah menempatkan wilayah kebudayaan Banyuwangi (wilayah Osing) sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya di Indonesia, dengan tidak menghilangkan ciri-ciri khas budaya Osing itu sendiri.

(*Penulis adalah mantan staf Pemerintahan pada Kantor Pembantu Bupati di Banyuwangi).

musik pada hakekatnya adalah sebuah bentuk drama. Ada tari-tarian rakyat dan ada pula seni tari dan drama profesional yang khusus diusahakan dan dimainkan oleh tenaga-tenaga terlatih. Hampir semua tarian khas daerah Banyuwangi menghendaki pakaian khusus dengan corak ragam hias yang berbeda-beda yang memantulkan kesan kaya dan gemeHapan.

Di bidang seni kerajinan rakyat, Banyuwangi juga mengenal seni membatik dengan motif yang sangat tersohor, ialah ba­tik Gajah Oling. Kerajinan anyaman bambu juga terkenal, yang menghasilkan alat-alat rumah tangga dengan anyaman yang halus dan indah.

Dalam seni masak-memasak, puteri- puteri Banyuwangi juga mempunyai resep- resep khusus, yang walaupun bahannya sederhana, akan tetapi mempunyai rasa tersendiri, sehingga tidak berlebihan kiranya apabila disebutkan sebagai makanan khas Banyuwangi, seperti misalnya rujak-soto, cit, manisan pala, selai pisang, kue bahagia (bakiak) dsb.

Di bidang adat istiadat kita mengenal upacara-upacara yang disebut Rebo pungkasan, 1 Suro, petik laut dsb. Juga adat perkawinan ala Banyuwangi asli dimana si pria harus lebih dahulu melarikan calon mempelai puteri sebelum mendapat penga­kuan sah sebagai suami isteri. Ada lagi tradisi berpacaran yang disebut gredoan, dimana sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta dapat melakukan dialog pada malam hari.

Adanya lompatan-lompatan kemajuan di dalam era pembangunan sekarang ini, khusus­nya di bidang pendidikan dan transportasi, telah menempatkan wilayah kebudayaan Banyuwangi (wilayah Osing) sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya di Indonesia, dengan tidak menghilangkan ciri-ciri khas budaya Osing itu sendiri.

(Penilis mantan staf Pemerintahan pada Kantor Pembantu Bupati di Banyuwangi).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Abd. Gaffar. Gema Blambangan, Humas Pemerintah Kabuoaten Dati II Banyuwagi GB. No. 081 /1998, hlm. 37- 38

Ceritera Agung Sulung dan Sulung Agung

Ceritera rakyat tentang Agung Sulung dan Sulung Agung ada hubungannya dengan Bali. Kisah ini berkisar antara hubungan dua orang kakak beradik bersama beberapa tokoh penting dari Kerajaan Macan Putih yang dikaitkan dengan ceritera historis dari Kerajaan Klungkung (Bali).

Adapun ringkasan ceritanya sebagai berikut: “Pada jaman kejayaan Kerajaan Macan Putih (Blambangan) dibawah perintah Kanjeng Sinuhun Tawang Alun, hidup dua orang ber­saudara kakak beradik yang bernama Agung Sulung dan Sulung Agung. Kedua orang kakak beradik itu taat dan patuh terhadap peraturan pemerintah kerajaan serta sangat mengagumi kebijaksanaan Ratu Gustinya dalam mengemudikan pemerintahan dan membina rakyat, sehingga kaula Blambangan hidup sejahtera, aman dan tentram.

Setelah Kanjeng Sinuhun Tawang Alun mangkat, Kerajaan Macan Putih diambail alih oleh putra-putra mendiang Prabu Tawang Alun secara berturut-turut yaitu Pangeran Patih Sasranegara dan Pangeran Adipati Macan Apura. Menurut penilaian Agung Sulung dan Sulung Agung dalam mengemudikan pemerintahan Pangeran Patih Sastanegara maupun Pangeran Adipati Macan Apura tidak sebijak mendiang ayahnya dan sering merugikan kepentingan rakyatnya sehingga rakyat Blambangan merasa kecewa dan dalam kehidupannya selalu diliputi kecemasan dan kurang tentram.

Agung Sulung dan Sulung Agung juga merasa tidak tentram dan selalu diliputi rasa kecewa dalam kehidupan sehari-hari sehingga kedua kakak beradik itu bersepakat dan bertekat meninggalkan kampung halaman serta mengembara mencari kepuasan batin dan ketenangan hidup.

Disamping itu sepeninggal Kanjeng Sinuhun Tawang Alun di Kerajaan Macam putih telah terjadi “Perang Saudara” yang sangat dahsyat antara Pangeran Patih sasranegara dengan Pangeran Adipati Macan Apura sehingga menyebabkan kelemahan serta kemunduran Kerajaan Macan Putih dalam segala bidang. Dalam perang saudara tersebut Pangeran Patih Sasranegara dapat dikalahkan yang kemudian Pangeran Adipati Macan Apura naik tahta. Sedangkan yang menjadi Patih diangkat adiknya yang lain yang bernama Pangeran Kertanegara.

Sebenarnya pada saat terjadi perang saudara itu juga didengar, oleh Gusti Dewa Agung yakni raja Klungkung (Bali) yang telah menjalin hubungqan baik dengan Kanjeng Sinuhun Tawang Alun. Itulah sebabnyaGusti Dewa Agung mengirim utusan ke Kerajaan Macan Putih untuk mendamaikan mereka yang sedang bertikai. Utusan dari Bali itu dipimpin oleh Gusti Gede Panji Kerta dan Gusti Made Karangasem. Dan untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi, utusan dari Bali itu disertai beberapa pasukan yang bersenjata lengkap.

Kedatangan (pendaratan) utusan Klungkung yang disertai sejumlah pasukan yang bersenjata lengkap di Blambangan, menjadikan Pangeran Adipati Macan Apura bersamaPatih Kertanagara salah duga, pasukan dari Bali yang bersenjatakan lengkap dikira akan menyerang Kerajaan Macan Putih yang mana pada saat itu pertahanan di Kerajaan Macan Putih sangat lemah. Itulah sebabnya Raja dan Patih bersama beberapa keluarga istana terpaksa meninggalkan istana dengan dikawal oleh beberapa prajurit. Sedangkan para kaula Blambangan yang tinggal di dalam kota juga menyingkir-dan mengungsi untuk mencari perlindungan.

Sementara itu dalam pengembaraannya Sulung Agung dan Agung Sulung berpisah dan mengambil tujuan yang berbeda. Agung Sulung menuju ke arah barat, masuk dusun Cungking yang akhirnya menjadi cikal bakal serta menurunkan masyarakat di daerah Giri dan Glagah. Sedangkan Sulung Agung Menuju ke arah Tenggara , masuk desa Lateng (Rogojampi) yang kemudian juga merupakan cikal bakal serta menurunkan masyarakatdi daerah Rogojampi, Singojuruh dan daerah sekitarnya.

Menurut ceritera beberapa orang tua di Blambangan, akibat ulah Sulung Agung kemudian terjadi nama desaLatang (sekarang berubah menjadi Desa Lateng; Rogojampi). Gletekan (sekarang berubah menjadi Desa Gladag; Rogojampi), Gentongan (sekarang berubah menjadi DesaGintangan; Rogojampi). Sedang menurut ceritera beberapa orang tua di daerah sekitar Rogojampi, Sulung Agung menjadi Sesepuh (mungkin penguasa) yang hanya menggunakan gelarnya yakni Raden Lateng yang juga dikenal dengan sebutan Demang Kaut Suromenggolo. Disamping itu Sulung Agung dikenal pula dengan sebutan Demang Kaut Senopati.”

Ceritera Agung Sulung dan Sulung Agung terdapat bagian-bagian yang mengisahkan terjadinya beberapa nama Desa ‘ (akibat ulah Sulung Agung). Sedangkan tidak terdengarnya nama Sulung Agung lagi, tidak mustahil bahwa setelah menjadi Demang (penguasa) hanya terkenal dengan sebutan- sebutannya saja.

Oleh karena dalam kisahnya ulah Agung Sulung dan Sulung Agung mengakibatkan terjadinya nama beberapa Desa, maka tidak salah apabila ceritera tersebut dapat digolongkan dalam jenis Legenda. Hal itu juga disebabkan baik cerita rakyat maupun legenda itu bukan sejarah murni, sehingga ceritera rakyat ataupun legenda hanya sebagai pelipur lara dan dapat menambah khasanah budaya nasional kita yang perlu dipertahankan dan dilestarikan khususnya ceritera rakyat atau legenda yang berlatar belakang pendidikan. Tri Asih Rahayu, S. Pd □

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Gema Blambangan, GB. No. 071 / 1997,  hlm. 43-44

Putri Sedah Merah

Menelusuri Dongeng Rakyat Blambangan
Sampai saat ini di daerah Banyuwangi masih banyak dongeng rakyat yang hidup dan berkembang ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Pada umumnya dongeng rakyat atau cerita rakyat itu hanya berfungsi sebagai pelipur lara. Hal ini disebabkan ceritera atau dongeng rakyat bukan peristiwa sejarah murni, tegasnya ceritera rakyat tidak dapat dijadikan pedoman atau penetapan sesuatu hal yang penting, seperti: Penetapan Hari Jadi suatu kota atau daerah. Dalam kenyataan masyarakat di tanah air masih banyak yang awam dan berpola pikir tradisional yang lebih cenderung menonjolkan nilai-nilai mithologi dari pada nilai yang historisnya, sehingga sering mengkaburkan pemahaman mereka terhadap peristiwa sejarah yang sebenarnya, bahkan dapat mempengaruhi pandangan hidup sehingga dapat merugikan kepentingan masyarakat itu sendiri. Meskipun demikian, ceritera rakyat atau dongeng rakyat perlu dilestarikan dan dipertahankan guna menambah khasanah kebudayaan nasional kita, khususnya yang berlatar belakang pendidikan. Dongeng rakyat Putri Sedah Merah ini berkisar antara Mas Jolang Putri Sedah Merah yang dikaitkan dengan ceritera sejarah Kesultanan Mataram. Dalam hal ini sudah menunjukkan bahwa pengaruh Islam telah masuk di kerajaan Blambangan pada saat itu. Adapun dongeng rakyat “Putri Sedah Merah”, adalah sebagai berikut:

Pada saat itu Sultan Mataram sudah berulang kali mencoba untuk menaklukkan Kerajaan Blambangan, akan tetapi selalu mengalami kegagalan. Setelah Panembahan Senopati berhasil menaklukkan Blambangan, namun Sultan Mataram tidak menjadikan Kerajaan Blambangan sebgai daerah jajahannya. Panembahan Senopati sangat kagum akan kegigihan dan kesaktian Panglima Perang bersama para prajuritnya dalam membentengi Kerajaan Blambangan. Demikian pula Sri Sultan juga memuji kebijaksanaan raja Blambangan dalam membina angkatan perangnya. Itulah sebabnya Sultan Mataram tidak menganggap raja Blambangan sebagai taklukkannya, akan tetapi sebagai Sekutunya.

Pada saat Adipati Kinenten dari Pasuruhan mengadakan pemberontakan terhadap Mataram, secara tidak langsung Blambangan memberi bantuan kepada Pasuruhan. Hal itu menyebabkan Sultan Mataram marah serta memerintahkan Mas Jolang dan Ki Juru Martani mengerahkan pasukannya untuk menghukum dan menyerang Blambangan. Untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan Blambangan, Prabu Siung laut memerintahkan Patih Jatasura bersama adiknya, yakni Hario Bendung Adipati Asembagus mengerahkan pasukan Blambangan untuk menanggulangi serangan dari pasukan Mataram itu.

Dalam pertempuran yang cukup sengit, pasukan Mataram ternyata kewalahan menghadapi para prajurit Blambangan, bahkan Mas Jolang bersama Ki Juru Martani melarikan diri dari medan pertempuran. Senopati Blambangan yang berusaha mengejar dan menangkap kedua tokoh dari Mataram itu ternyata sia-sia. Dalam pelarian tersebut, Mas Jolang berhasil menyelinap dan bersembunyi di Tamansari. Di dalam tamansari itu Mas Jolang bertemu dengan Putri Sedah Merah yang akhirnya keduanya saling jatuh cinta, Kendati demikian ulah kesatria Maratam bersama putri Blambangan itu diketahui oleh keluarga istana, yang kemudian mas Jolang ditangkap, namun karena permohonannya Sang putri kepada raja, sehingga Prabu Siung Laut terpaksa merestui pernikahan Mas Jolang dengan putri Sedah Merah.

Dalam pelariannya Ki Juru Martani menuju ke arah Selatan sambil berteriak-teriak dan memanggil-manggil (bhs. Jawa: celuk-celuk), namun tidak ada jawaban, sedang usahanya mencapai Mas Jolang tidak berhasil. Menurut kisahnya, tempat Ki Juru Martani berteriak-teriak memanggil Mas Jolang itu dinamakan Desa Benculuk (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cluring, Banyuwangi). Sementara itu Patih Jatasura dalam mengejar musuh yang didampingi oleh salah seorang putra raja, yakni Mas Kembar. Untuk menjalankan tugasnya, secara tiba-tiba putra raja itu meninggal dunia. Hal itu menyebabkan Prabu Siung Laut sangat sedih, yang akhirnya terkena sakit ingatan (setengah gila).

Setelah Prabu Siung Laut sakit ingatan dan Mas Kembar mangkat, kesempatan itu akan dipergunakan Patih Jatasura untuk mempersunting Putri. Sedah Merah, karena Prabu Siung Laut pernah menjanjikan akan menjodohkan Patih Jatasura dengan putri Sedah Merah. Dalam hal ini Patih Jatasura segera masuk ke tamansari untuk menemui putri idaman hatinya. Betapa kecewa dan marahnya setelah menyaksikan dan mengetahui bahwa Putri Sedah Merah ternyata telah dipersunting oleh Mas Jolang yang tak lain adalah bekas musuh ayahanda raja. Dengan kemarahan yang meluap-luap Patih Jatasura menyerang dan berhasil membunuh Putri Sedah Merah. Sedangkan Mas Jolang berhasil menye­lamatkan diri bersama putranya (hasil perkawinannya dengan Putri Sedah Merah).

Patih Jatasura setelah membunuh Putri Sedah Merah menuju ke Asembagus menemui Hario Bendung dan membuat fitnah bahwa Putri Sedah Merah dibunuh oleh prajurit Mataram. Mendengar kematian Putri Sedah Merah, Adipati Asembagus naik pitam dan segera mengerahkan pasukannya bergerak menuju Blambangan guna menuntut balas atas kematian Putri Sedah Merah kepada prajurit Mataram. Pada waktu itu Hario Bendung bertemu dengan Ki Juru Martani dan Ki Juru Martani menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya bahwa yang membunuh Putri Sedah Merah adalah Patih Jatasura yang tak lain kakak Hario Bendung sendiri. Di samping itu Ki Juru Martani juga memberi tahu bahwa Hario Bendung sebenarnya masih putra keponakan Ki Juru Martani sendiri.

Setelah mendengar dan mengerti duduk persoalan yang sebenarnya dari pamannya dan menyadari kenyataan itu Hario Bendung berbalik meluapkan amarahnya kepada kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura. Sang Adipati kemudian bertekat untuk menghukum Ki Patih atas kekejamannya terhadap Putri Sedah Merah. Sedangkan pada saat Patih Jatasura ditemui Hario Bendung, Ki Patih Blambangan itu sedang memperkosa dan membunuh istri pamannya (Ki Juru Martani). Menyaksikan kenyataan itu Hario Bendung semakin meluapkan amarahnya dan terpaksa menghabisi nyawa kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura).

Kelanjutan cerita tersebut, mengisahkan bahwa antara Mas Jolang, Ki Juru Martani dan Hario Bendung ternyata saling menjaga hubungan yang cukup baik, bahkan putra Mas Jolang dijadikan menantu dan dijodohkan, dengan salah seorang putri Hario Bendung. Dengan demikian terjadilah jembatan untuk membina perdamaian antara Kesultanan, Mataram dan Kerajaan Blambangan, Mulai saat itu antara Kesultanan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah dan Kerajaan Blambangan yang berpusat di Jawa Timur terus bahu-membahu dan saling bekerja sama dalam mengatur pemerintahan serta membina rakyatnya.

Sebenarnya dongeng rakyat Blambangan, yakni Putri Sedah Merah dapat digolongkan sebagai “Roman Sejarah”. Hal ini mengingat di samping sebagaimana diketengahkan di muka bahwa dongeng rakyat Putri Sedah Merah itu dihubung-hubungkan dengan peristiwa di bumi Mataram, juga hubungan Putri Sedah Merah dengan Mas Jolang putra Mahkota Kesultanan Mataram ternyata merupakan hubungan asmara (percintaan).

Perihal roman sejarah sebenarnya merupakan gabungan ceritera historis yang sebenarnya (faktual) dan ceritera rekaan (dongeng rakyat). Dalam hal ini seyogyanya dipilah-pilahkan mana yang ceritera historis dan mana yang ceritera non historis, karena ceritera historis (faktual) memungkinkan sekali dijadikan sebagai pedoman untuk menetapkan sesuai hal yang penting, sedangkan yang non historis (dongeng rakyat) sebagaimana tersebut di atas pula hanya berfungsi sebagai hiburan atau pelipur lara.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Tri Asih Rahayu, Spd, Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 
GB No. 069/1997. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1997. hlm. 43-45.

Musik Banyuwangi

Musik Banyuwangi Antara Jawa dan Bali

Lho, ini kan Bali! Tapi… Jawa-nya juga ada! itulah barangkali gumam orang yang kali pertama mendengarkan musik (baca: musik tradisional) Banyuwangi yang kemudian akan menyimpulkannya: Ya Bali, ya Jawa.

Kenyataannya memang posisi dua etnis itulah pemberi corak kelahiran nuansa musik khas Banyuwangi. Irama dua etnis yang berbeda saling bergayut, kemudian mengakar pa­da satu rumpun: Jawa dan Bali.

Sutedjo Hadi, musisi tradisional Banyu­wangi menuturkan pengalamannya ketika mengikuti tim kesenian Jatim yang mewakili In­donesia pada Festival Kesenian Rakyat Asia ke-4 di Hongkong beberapa tahun lalu. Ketika musik Banyuwangi di tampilkan, semula ba­nyak yang menyangka musik itu adalah musik Bali. Ternyata, mereka yang mengenai betul musik Bali, lalu bertanya-tanya: Musik apakah ini?

Di sinilah soalnya. Musik Banyuwangi se­belum disimpulkan memang perlu meneliti keberadaannya yang dikailkan dengan latar bela­kang sejarahnya.

Dari beberapa keterangan yang dikum­pulkan, disebutkan kelahiran musik Banyuwa­ngi ini jika diukur jarak waktunya, tergolong muda. Dan pertumbuhannya diperkirakan menjelang ahad ke-19 berakhir. Disebutkan pula bahwa berbagai faktor banyak mempengaruhi kelahiran musik Banyuwangi.

Faktor geografis, jelas Banyuwangi yang berada di Jawa tak akan lepas dari urat antropologis Jawa. Di sisi lain, karena dekat dengan Bali, akan mudah tersentuh oleh tata budaya tetangganya itu.

Faktor sejarah, sejak masa lampau Banyu­wangi memiliki ikatan tradisi dengan Bali. Menurut penelitian, tradisi itu juga diikat secara politis. Sejarah mencatat, zaman kerajaan Blambangan, dan Macanputih, Banyuwangi merupakan protektorat Bali, sehingga bagaimana pun Bali memberikan nuansa pada tata budaya Banyuwangi.

Namun, kesatuan etnis dengan Jawa me­nyebabkan Bali lak sepenuhnya merebut tata budaya Banyuwangi. Jawa tak bisa ditinggal­kan. Yang terjadi: Akulturasi Budaya.

Sedang kaitannya dengan politik masa lampau tersebut, tak menyebabkan terjadinya betot-membetot pada kesatuan budaya tadi. Ini terlihat pada jenis nada musiknya. Bali adalah pelok, sedang Banyuwangi slendro.

Musik Banyuwangi mempunyai guru lagu. Ini bisa disimak pada gending-gending Gandrung (baca : Gandrung Banyuwangi), Angklung, Kuntulan, dan Damarulan.

Sedang musik sebagai iringan pada seblang – upacara sakral bersih desa terdengar sekali kebersahajaan dan kesederhanaannya, namun musik yang dilantunkan tetap laras dan indah. Ada kemungkinan, musik inilah sebagai pemula musik Banyuwangi.

Musik pada sajian Gandrung, nadanya sa­ngat khas. Peralatannya ijiusik untuk mengi­ringi tarian Gandrung, pada mulanya hanya berupa kendang, kluncing (triangel), dan gong, serta ditambah gamelan bernama saron. Sejak tahun 1920-an, seorang Belanda pemilik perke­bunan di Tamansari, Kec. Glagah, menamba­hinya dengan dua biola yang sampai saat ini letap dipergunakan.

Patanah, seorang bekas penari Gandrung tahun 1920-an yang bertempat tinggal di Desa Singojuruh, Kec. Singojuruh, pernah menjelas­kan, grup kesenian Gandrung yang diikutinya selalu menggunakan rebab bualan sendiri. Rebab yang terbuat dari kayu dengan dawai dari kawal halus itu memiliki tinggi sekitar 1,25 me­ter.

Dengan masuknya biola, kemudian saron tak digunakan lagi. Perkembangan berikutnya dan sampai kini, peralatan musik Gandrung adalah dua biola, satu kendang, satu kluncing, dan satu gong besar.

Musik Gandrung sangat institiktif. Jika orang mendengarnya, tak terasa akan menggerakkan indranya mengikuti irama musik itu. Kesenian Gandrung cukup dikenal, bahkan su­dah beberapa kuli tampil di mancanegara. Tak heran jika kemudian menjadi identitas Banyuwangi. “Ingat Banyuwangi, ingat Gandrung”  atau “Ingat Gandrung, ingat Banyuwangi”. De­mikian orang luar Banyuwangi berujar, walau sebenarnya Bali dan Lombok juga memiliki kesenian bernama Gandrung.

Musik angklung Banyuwangi terbuat dari bilah-bilah bambu. Dulunya, tak dilengkapi dengan instrumen dari logam seperti sekarang ini. Jenisnya bermacam-macam. Ada Angklung, Paglak, Angklung Caruk, Angklung Tetak, Angklung Dwilaras, dan Angklung Blambangan.

Pada mulanya, angklung didendangkan orang di dangau tengah sawah sembari menunggui padi yang menguning. Tak jarang pula di­iringi dengan seruling yang melahirkan nada- nada sentimentil. Jenis angklung inilah yang disebut Angklung Paglak.

Tahun 1920-an, Kik Druning yang konon berasal dari Bali, bertempat tinggal di kam­pung Bali (sekarang ikut Kel. Penganjuran, Kec. Banyuwangi) adalah orang yang berjasa mengembangkan keberadaan angklung Banyu­wangi dengan menambah beberapa instrumen musik Bali, seperti slentem, saron, peking, ke­tuk, dan gong.

Eksperimental yang dilakukan Kik Dru­ning ketika itu, dapat dengan cepat diterima masyarakat Banyuwangi. Kreasi Kik Druning yang semula disebut Bali-balian inilah yang menjadi cikal bakal angklung Banyuwangi yang sekarang ini.

Pengembangan angklung Banyuwangi se­cara inovatif yang dikembangkan dengan perkembangan musik modern, menurut budaya­wan Hasan Ali, tidak mengalami kesulitan, se­bab, susunan intervalnya pada setiap wilah atau bilah sangat memungkinkan sekali. Delapan bilah susunan angklung Banyu­wangi adalah A, C, D, C, G. A, C, D maka oktavnya A, C, D, C, G, A. Dengan demikian, misalnya bilahnya ditambah sampai 12 bilah atau lebih, akan menguntungkan. Keuntungan­nya, kata ketua Dewan Kesenian Blambangan dan mantan Kabag Kesra Pemkab Banyuwangi itu, adalah pentatoniknya lebih tepat. Keka­yaan variasi lebih menonjol, dan jika satu nada tidak cocok akan mudah mencocokkan dengan nada yang lain.

Ada pendapat, musik Banyuwangi asalnya dari gatuk matuk. Satu alat musik dipertemukan dengan alat musik lainnya, dicocok-co­cokkan, gatuk, lahirlah satu komposisi musik yang sebenarnya aturan musiknya belum ada standarnya.

Ini terlihat dengan masuknya biola pada musik Gandrung, toh matuk juga. Demikian pu­la dengan musik yang belakangan ini berkem­bang, yakni Kendang Kempul. Alat musik tradisional Banyuwangi ditambah dengan alat mu­sik elektrik seperti gitar, organ, bahkan elektone, melahirkan bunyi tren dangdut.

Musik Banyuwangi ilu luwes ketika di­kawinkan dengan irama Hadrah Kuntulan vang kemudian melahirkan dendang Kundaran (Kuntulan Dadaran). Demikian juga pada musik Damarulan yang didominasi Bali, musik Banyuwangi menyusup dan bisa diterima teli­nga siapa saja.

Alhasil, musik Banyuwangi punya berba­gai komposisi yang dengan mulus bisa diterima dan berkembang. Masalahnya sekarang adalah bagaimana ekosistensi yang luwes itu bisa ber­lahan dan lerus mewaris pada generasi demi generasi, seria mampu pula hidup pada ber­bagai zaman? Tenlu ini berpulang kembali ke­pada masyarakat pemiliknya!.**

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pomo Murtadi, Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi. GB. No. 052/1995. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1995. hlm. 41-44.

Akhudiat, Penulis

5 Mei 1946, Akhudiat lahir di Karanganyar, Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah seorang Penulis Indonesia , terutama menulis drama atau naskah lakon/skenario, juga menulis cerita pendek, puisi, buku umum (non-fiksi). Akhudiat juga menerjemahkan beberapa karya drama atau tentang drama dari bahasa Inggris.

Tahun 1958, Menempuh pendidikan Sekolah Rakyat(SR) Rogojampi, Banyuwangi, lulus

Tahun 1962, melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama Pertama Negeri (PGAPN) IV Jember, lulus. Kemudian melanjutkan sekolah di PGAA Malang sambil mengajar di beberapa SMP/SMA, serta madrasah tsanawiyah/aliyah.

Tahun 1965. Diat belajar di Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) III Yogyakarta, lulus, pada tahun tersebut (1965),  Pernah ikut kursus akting di Teater Muslim pimpinan Mohamad Diponegoro, juga berguru di kelompok teater Arifien C. Noer. Di bidang teater, Akhudiat juga mementaskan drama selain berperan sebagai aktor.

Tahun 1970, Tulisan pertama Akhudiat adalah tentang Markeso, seorang aktor tunggal “Ludruk Garingan”, dimuat di Surabaya Post

Tahun 1970, diangkat sebagai pegawai negeri sipil di Kantor Pusat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Jabatan terakhirnya adalah Kepala Bagian Kemahasiswaan, Kantor Pusat IAIN Sunan Ampel Surabaya, pensiun tahun 2002.

tahun 1970an, , Akhudiat bersama komunitas Bengkel Muda Surabaya menawarkan konsep baru “panggung kosong” . Konsep panggung kosong tersebut adalah konsep yang menganggap dunia panggung sebagai dunia imajiner. Maka muncullah di panggung, orang atau barang, baik sebagai pelaku/pelakon atau properti/alat bermain.  Semuanya berubah, bergerak, berombak, berirama, berganti, bertukar, berkeliaran, bahkan berontak, menjadi lakon. Maka adegan-adegannya dominan out-door/exterior. Dengan konsep tersebut, drama bisa dimainkan di mana pun, baik di dalam gedung, taman, lapangan, halaman, pendapa, arena, atau di mana saja. Karena itu, beberapa lakon awal Akhudiat dijuluki “teater jalanan.”

Tahun 1972, ditulisnya  Grafito,  ini berkisah tentang dua remaja, Ayesha dan Limbo, ketemu di jalanan. Keduanya adalah pemimpin geng yang terlibat dalam kisah love/hate, cinta/benci. Timbul dari pikiran “teater jalanan”, Diat mendapat gagasan ketika sering ketemu corat-coret (graffiti, tunggal: graffito) berupa tulisan atau cukilan di tembok, pohon, batu, bangku, gardu, halte, stasiun, terminal, tempat wisata, atau di mana pun, yang hanya berisi dua nama, pemuda dan pemudi yang sedang bercinta. Pesan singkat ini tentu mengandung kisah panjang di baliknya. Coretan atau “Grafito” kemudian dijadikan judul naskah dramanya.

Tahun 1972—1973, kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS) namun tidak tamat.

Tahun 1972—1982, Akhudiat menjabat sebagai Komite Sastra dan Teater di Dewan Kesenian Surabaya . Pada tahun yang sama (1972—1982), juga sebagai sutradara dan penulis naskah teater di komunitas Bengkel Muda Surabaya (BMS). Ia menjadi anggota pleno di Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT).

Tahun 1973, puisinya berjudul Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen, mendapat juara II Lomba Penulisan Puisi versi Dewan Kesenian Surabaya.

Tahun 1974, Karya dramanya, Jaka Tarub dan Rumah Tak Beratap, memenangkan lomba naskah drama versi Dewan Kesenian Jakarta,

4 November 1974, Akhudiat menikah dengan Mulyani mempunyai 3 anak: Ayesha (lahir pada 1975), Andre Muhammad (lahir pada 1976), dan Yasmin Fitrida (lahir pada 1978). Bersama keluarganya, Akhudiat sekarang tinggal di Surabaya.

Tahun 1975, mengikuti Iowa International Writing Program di Universitas  Iowa,  Iowa City, Amerika Serikat.

Tahun 1999, hingga sekarang. Menjabat sebagai steering committee Festival Seni Surabaya (FSS)

Tahun 2002, menjadi Dosen Luar Biasa pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Oktober 1984, Cerpen Diat, “New York Sesudah Tengah Malam”, yang pertama kali dimuat di Majalah Horison, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dede Oetomo, dosen Unair Surabaya, dengan judul New York After Midninght, diterbitkan dan dijadikan judul buku kumpulan sebelas cerpen Indonesia dari 11 cerpenis, merujuk pengalaman tinggal di Amerika Serikat serta pandangan mereka tentang Amerika. Buku tersebut disunting oleh Satyagraha Hoerip (Oyik), diterbitkan Executive Committee, Festival of Indonesia USA.

Tahun 1990-1991, Diterjemahkan lagi oleh John H. McGlynn, New York After  Midninght, dimasukkan dalam kumpulan puisi, cerpen, dan esai tentang New York setelah mengalami tragedi 11 September 2001.    Terjemahan McGlynn ini dimuat oleh majalah Persimmon, Asian Literature, Art and Culture, Volume III, November  2002, diterbitkan Contemporary Asian Culture, New York.

(Sh1W0 n  BAnT0)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
S
umber: dari berbagai koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Jawa Timur