Gerabah Tegaldlimo Nyaris Mendunia

Perajin gerabah di Dusun Sumberdadi Desa Tegaldlimo, Kec. Tegaldlimo, Banyuwangi” nyaris mendunia, kalau saja Samsuri masih hidup. Bapak dua anak ini, memiliki talenta tinggi bidang gerabah, apalagi sejak kecil dia hidup di lingkungan masyarakat pembuat gerabah ditambah ilmu teknik pembuatan gerabah yang di­peroleh selama mengikuti pendidikan dan pelatihan di Kasongan, Yogaya dan Bali.

Ilmunya ditularkan kepada tetang­ganya yang setiap hari hanya membuat gerabah secara tradisional. Bentuk kendi, cobek, gentong adalah produk warga desa yang dibuat sejak kakek dan nenek moyang warga Sumberdadi. Meskipun sudah terampil, namun pen­dapatan warga tetap tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari, padahal di daerah lain, seperti Kasongan, justru warganya makmur karena gerabah. “Banyak warga desa yang saat ini diajari bapak, tetapi se­telah suami saya meninggal sudah tidak ada lagi yang menekuni seni gerabah ini,” ujar Boinah (55) istri Samsuri.

Dalam satu desa ini, semua pendu­duknya adalah perajin gerabah. Seti­ap musim kering, rumah warga penuh dengan cobek, kendil, gentong dan produk tanah lainnya. “Ini adalah pe­kerjaan utama warga desa, apalagi jika musim panas tiba,” ujarnya.

Usaha untuk meningkatkan keahlian warga desa ini diawali Samsuri yang membuat motif, disain dan bentuk yang beragam sesuai dengan perkembangan seni gerabah baik di Bah, Jakarta, Sura­baya maupun Yogyakarta. Gerabah di ta­ngan Samsuri lebih cantik, indah penuh ornamen bunga, hewan maupun garis-garis yang menghiasinya.Kualitasnya juga semakin dijaga, selain lebih tebal, proses pembakarannya ju­ga semakin bagus begitu pula dengan ukurannya sangat bervariasi.

“Seluruh warga desa di sini meng­gunakan tanah liat menjadi gerabah, tetapi hanya suami dan saya sendiri yang membuat gerabah dengan model dan bentuk yang dikembangkan sesuai tuntutan pasar gerabah,” ujar Boinah.

Namun sesaat Samsuri mengajari warga desa untuk meningkatkan krea-tifitasnya, jutsru dia meninggal ketika gerabah ini sudah masuk ke pasaran yang luas. Boinah mengakui, berkat il­mu yang diajarkan suaminya, dia bisa membuat gerabah dengan model, di­sain, ukuran yang lebih indah dan me­narik.

“Saya tidak pernah belajar, tetapi suami saya dengan sabar mengajari saya sehingga gerabah yang saya buat ini jauh berbeda dengan buatan warga lain,” ujarnya.

Gerabah Boinah, bisa dipakai vas bunga, gentong kecil dan besar. Di ba­gian luar dindingnya juga sudah dihiasi dengan ornamen yang cukup bagus de­ngan bentuk yang beragam, mulai dari ornamen bunga, ular naga, tokek, katak, anjing, kambing, kelinci dan lainnya, se­hingga dengan kreasi barunya itu, harga gabah produk Sumberdadi naik daun da­ri berharga ribuan menjadi puluhan sam­pai ratusan ribu.

Meski    sudah dihargai tinggi, di kalangan   kolektor   gerabah,   produk Sumberdadi  ini  masih  lebih  murah dibanding dari daerah lain yang mejadi sentral gerabah Gentong besar setinggi 1,70 meter berdiamter 1 meter hanya dijual Rp   100   ribu, begitu pula vas bunga setinggi 1 meter berornamen hewan naga hanya dijual Rp 75 ribu/buah Menurut Boinah, dalam sepuluh hari dia mampu membuat 15 gerabah ukuran besar dan dalam satu bulan dia sudah bisa mengirim satu truk gerabah ukuran kecil dan besar ke Bali. Beberapa pedagang ge­rabah dari kota lainnya juga sering mem­borong produksinya

“Tetapi pada musim penghujan ini, pro­duksinya tidak sebanyak musim panas, ka­rena proses, pembakarannya sulit kalau ada hujan,” ujarnya

Perempuan yang sudah menjanda 2 ta­hun ini mengakui, gerabahnya tidak bisa berkembang sesuai permintaan pasar, karena dia tidak memiliki ketrampilan bi­dang finishingiya.

Teknik pengecatan dan jenis cat yang digunakan tidak dikuasasi dengan baik, sehingga produk gerabahnya dijual sete­ngah jadi dan para pembeli di Bali yang akan memperoleh untung besar setelah gerabah itu diberi warna yang lebih ar­tistik.

Gerabah Tegaldlimo saat ini sudah mu­lai ditinggal perajinnya Anak-anak Boi­nah tidak satu juga yang mau mewarisi ilmu dan ketrampilan membuat gerabah, begitu pula anak-anak desa lainnya. Anak-anak muda desa ini lebih suka bekerja di sektor lain, seperti merantau, menjadi buruh tani, atau buruh di kota dibanding harus menjadi pengrajin gerabah.

“Mereka menganggap gerabah tidak lagi memberi harapan hidup yang lebih baik,” tutur Boinah. Kondisi ini didukung sikap pemerintah yang sudah menutup mata terhadap kera­jinan gerabah yang tinggal menunggu waktunya untuk mati. Bantuan pelatihan tidak pernah dibe­rikan, apalagi bantuan pinjaman yang su­dah bertahun-tahun tidak pernah diluncurkan untuk menambah modal perajin gerabah.

“Kalau tidak segera diatasi, gerabah desa ini akan musnah, sebab tidak ada lagi yang mau        mengerjakannya saat ini masih bisa dilihat banyak gerabah  di  rumah-rumah karena masih ada kaum perempuan tuanya, tetapi sebentar lagi, jika mereka sudah meninggal dapat dipastikan kerajinan gabah ini juga turut dikubur oleh zaman,” jelas Boinah.(yib)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  SUARA DESA, Edisi 03, 15 April-15 Mei 2012  15

Desa Patoman, Kec. Rogojampi, Kab. Banyuwangi

Desa Pecahan Sarat Potensi

Desa pecahan yang sarat potensi. Ungkapan itu layak diberikan untuk Desa Patoman, Kec. Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Ya, view laut biru yang tenang dan indah di Pantai Blibis maupun Pantai Gringsing layak dijadikan tempat Tekreasi keluarga. Lalu hamparan sawah, pohon kelapa, dan kakao, serta banyaknya ternak, maka tak salah dikembangkan sebagai intergrated farming (pertanian terpadu).

“Desa Patoman sangat memungkinkan dikembangkan sebagai desa wisata. Selain memiliki Pantai Blibis dan Pantai Gringsing yang indah, di salah satu dusun di desa itu dihuni warga keturunan Bali yang hingga kini tetap mempertabankan budaya Bali,”ujar Drs. Toyib Huda, SP, man tan pendamping PAM DKB dan JPES di desa itu.

Pemandangan laut di Pantai Blibis maupun Pantai Gringsing tidak kalah dengan Pantai Blimbingsari. Ombak dipantai itu juga relatif tenang sehingga cocok untuk memancing, berkeliling naik perahu, santai di tepi pantai bersama keluarga. Apalagi sekarang ini juga sudab ada yang buka warung ikan laut bakar di pantai tersebut.

“Selama ini orang hanya tahu Pantai Blimbingsari yang terkenal dengan lesehan ikan bakar, tapi sekarang orang perlu datang ke Pantai Blibis dan Pantai Gringsing,” ujar Toyib Huda.

Apalagi sekarang ini Pantai Blimbingsari saat ini sudah sangat padat dengan warung lesehan ikan bakar, sehingga ruang terbuka untuk arena bermain atau sekedar duduk-duduk relatif terbatas. Namun Pantai Blibis dan Gringsing terkesan alami. Memang terlihat kotor dan belum rapi, harus dibenabi serius jika dijadikan tempat wisata.

Juga banyaknya pohon kelapa, kopi, dan pohon cokelat (kakao) dapat dikembangkan sebagai sentra agrobis, seperti pabrik gula atau minyak kelapa. Namun yang tak kalah penting melestarikan dan mengembangkan budaya warga desa yang keturunan Bali sebagai ‘wisata budaya’.

Pernyataan Toyib dibenarkan Kades Patoman Drs. Suwito (44 tabun). Hanya saja, menurut Suwito, karena desanya masih baru, maka masih banyak yang harus dibenahi. Suwito lantas menyebutkan jalan menunju Pantai Blibis dan Pantai Gringsing masih makadam dan harus diaspal. Demikian juga jalan-jalan di desa banyak yang rusak.

Menurut Suwito, selama ini anggaran desa lebih difokuskan untuk pembangunan kantor desa. Selama ini pemerintahan desa menempati kantor dusun yang kondisinya seadanya dan tidak layak sebagai kantor desa. Ia ingin kantor desa memiliki tempat yang layak untuk melayani masyarakat dan menjalankan pemerintahan desa, seperti adanya ruang pelayanan dan rapat warga atau aparat.

“Saya juga ingin kantor desa memiliki tempat untuk merawat orang sakit, seperti pondok kesehatan desa,” ujar Suwito. Suwito lantas menjelaskan, Desa Patoman sebenarnya ‘desa baru’. Dulunya menjadi bagian dari Desa Blimbingsari, namun sejak2002 dipisah dari ‘desa induk’ dan memiliki pemerintahan sendiri. Karena belum banyak dikenal itulah, bantuan program dari pemerintah relatif sedikit.

Meski menjadi desa sejak 2002, namun tidak memiliki pemerintahan sendiri dan tetap mengikuti desa induk. Bam pada 2007 digelar Pilkades yang pertama kali di desa Patoman. Hal itulah yang menjadikan Desa Patomen jarang memperoleh bantuan program, karena lebih banyak dimanfaatkan ‘desa induk’. Baru pada tahun 2006-2007 mendapatkan program PAM DKB yang digunakan untuk perbaikan infrastruktur desa itu, seperti perbaikan jalan.

Pada tahu 2009 Desa Patoman mendapatkan ADD yang cukup besar, Rp 166,759 juta, sehingga dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Namun dana yang paling banyak untuk membenahi infrastruktur dan pembangunan kantor desa. Suwito juga berharap program-program dari pemerintah Provinsi Jatim turun di desanya.

“Tolong sampaikan pada Pakde Karwo agar desa kami juga memperoleh PAM DKB seperti dulu,”ujar pria keturunan Madura ini. (bdb)

Drs Suwito, Kades Patoman Pelihara Kerukunan Warga
MEWARISI nilai-nilai dan tradisi keberagaman menjadi tugas yang penuh tantangan bagi Drs. Suwito (44 tahun), Kades Patoman, Kec. Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Desa ltu memiliki keberagaman adat istiadat maupun agama yang telah berlangsung puluhan tahun. Ya, dari sekitar 4.764 jiwa terdiri dari warga yang memiliki kultur Jawa, Osing, Madura, dan Bali.

Apalagi di salah satu dusun di desa itu, yakni Dusun Patoman Tengah, sepenuhnya dihuni masyarakat keturunan Bali. Mereka masih kuat mempertahankan agama maupun budaya Hindu Bali. Suwito pun dituntut mampu menjaga kerukunan di desanya yang telah bertahan bertahun-tahun.

“Sampai sekarang masyarakat sangat menyadari kondisi seperti ini. Mereka meskipun warga keturunan Bali, tapi sebenarnya juga warga Desa Patoman,”ujar Suwito, yang menjabat kades sejak 2007 lalu.

Menurut Suwito, hal itu sudah menjadi kewajibannya dan seluruh tokoh maupun masyarakat di desanya. Bahkan mereka juga dilibatkan dalam setiap musyawarah maupun kegiatan di desa. Mereka juga memiliki kepala dusun dan perangkat dusun sendiri untuk mengelola wilayah dan lingkungannya.

“Apalagi mereka adalah pendukung saya dalam Pilkades lalu, jadi saya wajib melindungi warga minoritas,”ujar pria lulusan IAIN Sunan Ampel ini, sambil bergurau.

Saat ditanya pengalamannya menjadi kades pertama di desanya, Suwito mengaku banyak tantangan dan harus bekerja keras. Ia harus mengumpulkan segenap tokoh masyarakat untuk membentuk ‘perangkat’ pemerintahannya. Ia juga harus melakukan pendekatan intensif terhadap salah satu tokoh desa yang dikenal sangat disegan.

Sebelum menjabat Kades Patoman, Suwito sempat marantau di Arab Saudi selama 11 tahun, setelah lulus dari IAIN Sunan Ampel Surabaya pada 1994. Pada 2005 ia pulang dan aktif mengajar di beberapa sekolah, termasuk Madrasah Tsanawiyah. Saat ada Pilkades 2007, teman-temannya mendorong agar ia ikut. Singkat kata, Suwito melawan satu calon dan mendapatkan suara 2.500, sedangkan lawannya 1.300 suara. “Saat itu saya sangat aktif dalam kegiatan desa maupun organisasi NU dan Ansor,”ujar Suwito. (bdh)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi XXX April 2010

Desa Patoman, Nuansa Bali

Desa Patoman ‘Kecamatan Rogojampi’
Nuansa Bali di Desa Patoman

 
Derap Desa Petang ketika matahari mulai tenggelam. Bau dupa tajam menyengat di sepanjang jalan desa. Desiran angin menerpa rerimbunan pohon ditambah sayup-sayup terdengar suara orang melantunkan nyanyian doa seperti biasa terjadi di Bali.
Dari kejauhan lelaki bersepeda pancal bergegas memasuki pelataran rumahnya. Tak lama berselang, ia keluar rumah dengan pakain seperti orang Bali. Udeng di kepala, sarung putih dibebat selendang kecil dipinggang, baju putih menutup tubuhnya, dan sesaji di atas tangan kanannya.

Lelaki paruh baya itu kemudian masuk ke pura di depan rumahnya. Tidak lebih lima menit ia keluar dari pura. Ia pun tersenyum menyambut Derap Desa. Singkat kata, lelaki itu pun menunjukkan rumah Kepala Dusun Patoman Tengah Made Hardana.

Ya Dusun Patoman Desa Patoman, Kecamatan Jampi, Kab. Bawangi adalah sebuah wilayah yang dihuni warga keturunan Bali. Jumlahnya kurang lebih sekitar 600 jiwa (250 KK). Mereka hidup dengan mempertahankan adapt istiadat dan budaya Bali. Mulai bahasa sehari-hari hingga agama yang dianut pun seperti orang Bali.

Layaknya desa-desa di Bali, Dusun Patoman Tengah dipenuhi pohon yang besar dan lebat. Rumah-rumah tidak berada persis di pinggir jalan, tapi dihubungkan dengan halaman da dikelilingi tembok. Di tiap-tiap halaman rumah selalu terdapat pura ukuran kecil (sanggah) maupun sedang untuk sembahyangan.

Pemandangan mencolok yang mengesankan layaknya di Bali, yakni adanya pura besar mirip di Bali terletak jalan utama dusun itu. Setidaknya terdapat lima pura besar, masing-masing tiga Pura Dalam dan dua Pura Kahyangan. Demikian juga beberapa rumah bergaya arsitektur Bali.

“Kami generasi keempat orang Bali yang tinggal di sini. Seluruh warga yang tinggal dusun Patoman Tengah adalah keturunan Bali, bahasa sehari-hari kami adalah bahasa Bali dan Osing (orang Banyuwangi asli),”ujar I Made Hardana (45 tahun) , Kasun Patoman Tengah.

Meski demikian, ada juga warga keturunan Bali yang tinggal di Dusun Patoman Barat dan Dusun Blibis, yang jumlahnya sekitar 50 KK. Mereka berbaur dengan warga yang bukan keturunan Bali, baik warga asli Banyuwangi (orang Osing), Jawa, Madura, dan sebagainya. Hanya di Dusun Patoman Tengah yang seluruh warganya keturunan Bali.

Lantas Made Hardana pun menuturkan, bahwa awalnya warga keturunan Bali generasi pertama itu tinggal di Kampung Bali, Kecamatan Kota Banyuwangi. Namun perkembangan zaman, mereka ‘hijrah’ ke selatan dan kemudian menetap di Dusun Patoman. Hardana sendiri mengaku tidak tahu persis kapan kepindahan tersebut.

Generasi pertama itu kebanyakan berasal dari daerah Karangasem dan Jembrana Bali. Mereka adalah para pekerja bangunan dan petani. Hardana membantah, bahwa mereka keturunan dari pasukan kerajaan Bali yang tidak bisa kembali pulang saat perang Kerajaan Blambangan.

“Dari sejarah yang kami ketahui, leluhur kami memang mengembara ke tanah Jawa untuk mencari kehidupan yang lebih baik,”ujar suarni Ni Nyoman Ariani ini Mayoritas warga keturunan Bali yang tinggal di Dusun Patoman Tengah bermata pencaharian sebagai petani. Namun ada juga yang bekelja sebagai pegawai maupun pedagang. Selain itu ada juga yang merantau keluar Banyuwangi, kebanyakan di Bali atau Surabaya dan Jakarta.

Meski minoritas, Hardana mengaku terlindungi. Mereka juga bisa menyesuaikan diri dengan warga yang non Bali. Misalnya, setiap hari Raya Idui Fitri, mereka juga ikut unjung-unjung ke warga desa yang beragama muslim. Sebaliknya, saat Hari Raya Nyepi dan pelaksanaan upacara keagamaan iainnya, warga muslim ikut menghormati dan menjaga mereka.

“Kami tidak pemah mempersoalkan perbedaan. Ini justru kekayaan dan potensi yang sudah kami pertahankan secara turun temurun,ujar Kades Patoman, Drs. Suwito (44 tahun). (bdh)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Derap Desa, Edisi XXX, April 2010, hlm 43

Kesenian hadrah Berjanji , Kabupaten Banyuwangi

Kesenian hadrah Berjanji yang selama ini digemari masyarakat Using Banyuwangi pada umumnya merupakan jenis kesenian bernafaskan Islam. Menurut nilai historis sejarahnya berawal dari syi’ar agama islam yang di lakukan oleh para wali di telatah bumi Blambangan, dimana dalam perjalanannya selain dakwah serta diselingi dengan lagu puji-pujian seperti shalawat Nabi yang diiringi menggunakan satu alat terbang atau rebana Banyak masyarakat terbius oleh lagu-lagu yang dibawakan sehingga kegiatan mulia tersebut menjadikan patokan dalam perkembangan seni hadrah di Banyuwangi

Kesenian hadrah Banyuwangi biasa disebut hadrah berjanji, dimana hadrah sendiri berasal dari sebuah kata hadroh yang mempunyai arti jenis kesenian Islam yang menitik beratkan pada keagamaan, dan dalam penyajiannya lagu-Iagu yang dibawakan 100 % diambil dari sebuah kitab Al Berjanji seperti lagu-Iagu serakalan atau tibaan pada umumnya serta dibawakan secara bersama-sama oleh pemukul terbang itu sendiri dengan di sertakan gerakan-gerakan sederhana. Kesenian hadrah berjanji terjadi secara turun-temurun dengan ciri khas sendiri sesuai khasanah daerahnya, baik dilihat dari segi lagu, gerakan, hingga pada gaya pukulan terbangannya. Kesenian bernafaskan Islam yang tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat Using Banyuwangi tidak hanya hadrah tetapi ada lagi yang lain seperti Kuntulan, kundharan dan Gembrung. Adapun sebagai alat iringannya yaitu sama menggunakan musik perkusi terbang. masing-masing kesenian tersebut memiliki gaya penyajian yang berbeda, seperti kesenian hadrah Berjanji sebelum Jepang mendarat di Banyuwangi terakhir diketahui oleh tokoh seniman masyarakat( Madari:1942 ) lagu-Iagu yang dibawakan semuanya berasal dari sebuah kitab AI,Berjanji contohnya Assalamu’alaik, Asrokol, Alai Mukudam, Ya Marhaban, Sholawat Nabi dan seterusnya.

Sebagai alat musik iringannya pada mulanya hanya menggunakan empat satuan terbang diantaranya terbang onteng, terbang gowonan, terbang timpal gowonan dan terbang timpal lebonan dengan tiga jenis gaya pukulan yaitu terbangan Jos, terbangan Yahum dan terbangan Tirim yang dilakukan di mushola-mushola atau di rumah tokoh masyarakat desa itu sendiri. Dalam perkembangannya munculah seorang penari putra disebut Rudad dengan gerakan-gerakan sederhana yang dilakukan sambil duduk, berikut alat music terbang sebagai iringannya mendapat tambahan jenis alat musik perkusi yang lain atau musik non nada yaitu jidhor yang berasal dari sebuah bedhuk mushola pada umumnya.

Kesenian hadrah berjanji dari tahun ke tahun tumbuh pesat serta mengalami perkembangan yang merupakan hasil kreatifitas seniman yang mengacu pada perkembangan jaman dalam memenuhi kebutuhan pasar agar senantiasa hadrah di gemari oleh masyarakat. Tentunya berbagai macam cara di lakukan untuk mengemas seni hadrah itu sendiri, meskipun tetap berpatokan pad a seni hadrah sebelumnya, tetapi seniman dituntut untuk berkarya tanpa memiliki keterbatasan dalam menciptakan nuansanuansa baru yang dapat menjadikan seni tetap eksis dan lestari, maka timbulah kesenian bernafaskan Islam baru disebut Kuntulan dan kundharan.

Kesenian hadrah tidak hanya tumbuh di Banyuwangi, tetapi ada pula jenis hadrah-hadrah lain yang dimiliki oleh masyarakat luar daerah Banyuwangi dengan nuansa yang berbeda sesuai ciri khas daerahnya masing-masing. Dengan adanya keragaman budaya yang dimiliki menjadikan kesenian hadrah bervariasi sesuai prinsip BHINEKA TUNGGAL EKA berbeda-beda tetap satu jua.

 

SENI TABUH TERBANGAN BANYUWANGI, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Th. …hlm, 13

 

Kuntulan, Kabupaten Banyuwangi

KESENIAN KUNTULAN

Kesenian bernafaskan Islam yaitu merupakan jenis kesenian yang bersumberkan agama, dimana dalam penyajiannya menitik beratkan pada nilai-nilai keagamaan, selain identik membawakan lagu-Iagu Islami serta alat musik sebagai sarana iringannya dapat dipastikan menggunakan unsur alat musik non nada atau perkusi, biasa disebut terbang atau rebana pada umumnya,

Masyarakat Using Banyuwangi byak memiliki jenis kesenian bernuansa islami salah satunya yaitu Kuntulan. Seni bernafaskan Islam dalam penyajiannya cenderung membawakan lagu-lagu berbahasa Arab yang diambil dari cuplikan kitab suci Al-Qur’an

Kuntulan berasal dari sebuah kata Kuntul yang mendapat akhiran an. Kuntul artinya burung yang memiliki bulu berwarna putih dan dapat dijumpai di area persawahan pada musim cocok tanam, sehingga kuntulan jika dilihat dari kostum yang dikenakan rudad sebagai penarinya yaitu berwarna putihputih atau menggambarkan kesucian dengan gerakan kepala kedepankebelakang menggambarkan gerak kepala orang tatkala dzikiran, disertai posisi kedua tangan berada di depan dada menyerupai cucuk dari burung

kuntul itu sendiri yang menggambarkan sikap tangan orang melakukan sholat dan langkah kaki bertati-tati yaitu tidak bedanya dengan jalannya burung kuntul yang menggambarkan orang tatkala masuk ke masjid sesudah berwudlu. Dilain sisi kuntulan dapat diartikan kuntu dan laila, artinya kuntu yaitu kesenian ada pun laila malam jadi kuntulan artinya kesenian malam. Tidak hanya kunlulan sebagai kesenian malam di Banyuwangi,.tetapi masih ada gandrung, Rengganis, Pacul Gowang dan seterusnya. Jika dilihat dari jenis keseniannya yaitu seni bernuansa Islam suk.u kata Kuntu dan laila tidak mempunyai makna kuat yang dapat memberikan nilai khusus pada arti thema dari pada kuntulan itu sendiri. Kesenian kuntulan berawal dari sebuah kesenian hadrah yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat Using dalam penyajiannya menitikberatkan pada gerak dan lagu Islami (Mbah Basri :1969) tetapi sedikit ada perbedaan dengan hadrah yaitu di antaranya gerakan selewah, pencakan, menari sendiri secara bergantian serta sedikit terdapat garap komposisi berdiri dalam formasi gerakannya, adapun lagu-Iagu yang dibawakan selain mengambil dari kitab Berjanji serta dimasukannya lagu-lagu dzikiran atau syi’iran dengan gaya cengkok lagu Banyuwangian yang dulunya dilakukan oleh seorang penari laki-Iaki dalam perkembangannya menggunakan peraga penari wanita. Gaya pukulan timpal terbangannya selain jos, yahum dan tirim serta terdapat gaya-gaya pukulan terbangan baru diantaranya tirim ginjoan/pencakan, gebyaran, saitan, terbangan melaku dan seterusnya yang dikembangkan berdasarkan kreatifitas seniman penatanya. Kesenian kuntulan dalam pertunjukannya selalu berpasangan atau biasa disebut caruk yaitu artinya bertemu dengan group kuntulan yang lain, sehingga setiap penyajiannya masing-masing group kuntulan memiliki variasi pukulan terbangan sendiri serta gerakan dan lagu-Iagu yang berbeda agar memiliki perbedaan dengan penampilan lawan mainnya. Penuli: Sunardi/Editor: Luwar, M. Sn

 

SENI TABUH TERBANGAN BANYUWANGI, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Th. …hlm, 13

Kesenian kundharan, Kabupaten Banyuwangi

Salah satu dari kesenian bernuansa islami yang dimiliki masyarakat Using Banyuwangi adalah kundharan . Seni bernafaskan Islam dalam penyajiannya cenderung membawakan lagu-lagu berbahasa Arab yang diambil dari cuplikan kitab suci Al-Qur’an Kesenian kundharan menggunakan alat musik terbang campuran sebagai iringannya sehingga dapat di bedakan sesuai bentuk karakter dari pada keseniannya. Meskipun mendapat tambahan alat musik yang lain tetapi terbang lebih mempunyai nilai ciri khas dari keasliannya, sehingga terbang merupakan salah-satu alat musik tunggal daripada kesenian bernafaskan Islam yang terjadi di Banyuwangi selama ini.

Kesenian kundharan berawal dari sebuah kesenian hadrah dan kuntulan, dimana dalam penyajiannya menitikberatkan pada garapan baik pukulan terbangan serta gerak tari dan lagu-lagu yang dibawakan. Disini kesenian kundharan sedikit memiliki kebebasan dalam menuangkan ide-ide karya baru, yang diutamakan adalah kreatifitas seniman dalam mengemas seni kundharan itu sendiri menjadi sebuah hiburan modern. Pukulan terbangan yang dibawakan selain hasil pengembangan dari gaya-gaya pukulan sebelumnya yaitu terdapat warna pukulan-pukulan terbangan baru yang merupakan hasil kreatifitas seniman penatanya sesuai dengan kebutuhannya. Gerakan tari yang dibawakan selain mengacu pada gerakangerakan tari daerah pada umumnya, serta boleh dikolaborasi dengan nuansa tari dari daerah lain contohnya gerak tari Bali, gerak tari jaipong, gerak tari Jawa dan seterusnya, adapun peralatan musik terbang yang digunakan yaitu perangkat musik terbang campuran yang pada umumnya terdiri dari satuan alat musik terbang, jidhor gedhe, jidhor pantus, jidhor lincangan, kendhang, kethuk, kempul-gong, kecrek, baola, angklung, reong Bali, gitar, piano dan seterusnya. Lagu-lagu yang dibawakan oleh siridhen selain lagu dakwah serta lagu-Iagu klasik gandrung maupun lagu-lagu daerah modern kendhangkempul bahkan boleh memasukkan lagu-lagu Jawa seperti gethuk, kutut manggung sebagaimana cara untuk memperkaya garapnya.

Kundharan sendiri mempunyai arti kuntulan dhadharan yaitu kuntulan garapan yang ditata sesuai kemajuan jaman, sehingga dalam penyajiannya terdapat kebebasan untuk menciptakan gerakan atau lagu maupun pukulan terbangannya. Tidak ada batasan dalam menuangkan ide-ide baru kedalam garapnya yaitu bergantung pada kreatifitas seniman penatanya. Kesenian kundharan sangat digemari masyarakat Using Banyuwangi khususnya para kawula muda, hingga setiap group kesenian kundharan memiliki supporter sendiri dan dimana kesenian kundharan favoritnya pentas maka kelompok kawula muda tersebut setia mengawal serta memberikan semangat tatkala tampil. Kesenian kundharan pertama kali ditampilkan pada acara Gatra Kencana TVRI di ereng-ereng gunung gamping Puger Jawa Timur yang ditata dan disempurnakan oleh Sahuni tahun 1980, dimana pada awalnya perangkat musik sebagai iringannya selain terbang yaitu kendhang, kethuk, kempul dan sindhen yaitu sebagai pembawa lagu. Kesenian kundharan biasa ditampilkan dalam acara hajatan, baik khitanan maupun pernikahan, tepatnya pada waktu musim panenan. Penampilannya selalu berpasang-pasangan atau berlawanan dengan group kundharan dari desa lain dengan gaya penampilan yang berbeda , hingga setiap groupnya memiliki supporter khususnya kawula muda yang siap memberikan semangat pada group kundharan yang digandrunginya tatkala tampil.Penulis: Sunardi/Editor: Luwar, M. Sn

SENI TABUH TERBANGAN BANYUWANGI, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Th. …hlm, 14-15

Pemandian Tamansuruh, Banyuwangi

Taman wisata dan pemandian “Tamansuruh,” Merupakan Obyek Wisata Andalan dan Representatif

Banyuwangi adalah daerah di Jawa Timur yang kaya akan potensi alamnya, khususnya potensi objek wisata, seperti wisata pantai/laut, wisata gunung, wisata kebun, juga didukung dengan Taman Nasional Meru Betiri dan Taman Nasional Baluran. Kini tambah satu lagi tempat tujuan wisata yang cukup representatif yakni Taman Wisata dan Pemandian “Tamansuruh” yang terletak di Dusun Wonosari, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, 8 km ke arah barat kota Banyuwangi. Objek wisata Tamansuruh memiliki nilai tambah tersendiri, di samping lokasinya masuk dataran tinggi, bebatuan, hawanya sejuk dan asli. Ditambah lagi dengan dua kolam pemandian bagi orang dewasa dan anak-anak serta tempat majnan anak-anak. Juga di lokasi ini telah tumbuh pohon durian yang jumlahnya cukup ban yak, serta tanaman langka lainnya masih cukup banyak terpelihara, belum lagi sejurnlah bunga-bunga yang tertata sangat apik nan asri.

Lokasi wisata dan pemandian “Tamansuruh” yang memiliki luas 3,5 hektar dulunya adalah tanah yang tidak produktif karena bebatuan dan padas, namun di tengah lokasi ini terdapat sumber air yang bersih dan dingin. Mata air ini adalah sumber menggolo dan sumber waras dan sumber-sumber kecil lainnya. Pohon-pohon bambu dan kopi serta pohon kelapa juga banyak tumbuh dan kini telah tertata dengan baik. Taman wisata dan pemandian “Tamansuruh” ini terwujud berkat kepedulian Ir. H. Soesanto Soewandi dan Hj. Sukowati SS sebagai manajer, untuk mewujudkan tempat tujuan wisata bagi orang-orang Banyuwangi khususnya memang dibutuhkan waktu cukup panjang. Bahkan kedua orang tersebut mempunyai angan-angan taman Wisata dan Pemandian “Tamansuruh” ini menjadi “Sengkalingnya” nya Banyuwangi, atau Selektanya Banyuwangi.

Ir.H. Soesanto Soewandi, kepada Gema Blambangan menjelaskan, untuk dapat mewujudkan angan-angannya ini membutuhkan perhatian cukup besar. Pada 1993 lalu ia melakukan survey dan ternyata tempat ini masuk dalam surveinya. Lalu mulai melakukan pembelian tanah, kepada beberapa warga disana. “Baru awal 1998 kami melakukan pembangunannya. Alhamdulillah pada akhir 1998 lalu sudah bisa dibuka untuk umum,” ujarnya. Menurut Ny. Hj. Sukowati SS, untuk investasi pembangunan Taman Wisata dan Pemandian ini menelan dana Rp700 juta, dengan investasi yang ditanam cukup besar ini, membuat Ny. Sukowati tidak main-main. Menurut rencana Taman Wisata ini akan terus dikembangkan agar betul-betul menjadi tempat tujuan wisata yang handal. “Yah, tujuan pertama kami adalah membuat tempat tujuan wisata bagi masyarakat Banyuwangi atau tamu-tamu dari luar agar benar-benar betah tinggal di Banyuwangi,” ujar Ny. Hj. Sukowati SS yang dibenarkan Soesanto.

Secara rinci Soesanto mengatakan, dibangunnya dua kolam renang ini semata-mata memanfaatkan sumber air waras yang jernih dan bersih serta dingin, kolam renang bagi orang dewasa dibangun dengan luas 750 m² serta luas pelataran dan ruang tunggu alam 2000 m². Sedangkan kolam renang anak-anak dengan luas kolam 300 m² dan merniliki pelataran seluas 600 m² yang dilengkapi ruang tunggu dan ruang bilas. Disamping itu tersedia tempat bermain anak-anak yang cukup representatif dimaksudkan untuk memanjakan anak-anak, sehingga anak-anak akan menjadi betah bermain. Tempat ini memiliki luas 2000 m². Bahkan dalam program pengembangannya nanti akan mengarah pada wisata agro. Di lokasi ini akan ditanami buah-buahan berkualitas yang cocok dengan alam Banyuwangi serta pengenalan tanaman-tanaman langka, dengan luas areal 1,5 hektar. Di dalam lokasi taman wisata ini terdapat beberapa bangunan penunjang, seperti tempat parkir seluas 600 m², kantin dengan aneka masakan khas Banyuwangi, warung cinderamata, ruang tunggu, musholla, pentas hiburan, dan tenda-tenda istirahat. Untuk menuju ke lokasi wisata yang satu ini, tidak terlalu sulit karena pengunjung bisa memanfaatkan angkutan pedesaan jurusan perkebunan Kalibendo, hanya dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Konon, menurut cerita beberapa warga masyarakat sekitar lokasi Taman Wisata ini bahwa sumber waras yang digunakan untuk mengisi kedua kolam renang tersebut memiliki keajaiban tersendiri. Dulu, menurut cerita Pak Achwan sesepuh Dusun Wonosari itu, seseorang Kepala Desa Mojopanggung menderita sakit yang sulit disembuhkan. Lalu orang tersebut menerima wangsit kalau dirinya disuruh mandi di sumber itu, lalu wangsit itu dilaksanakan, ternyata Kepala Desa yang sakit itu langsung sembuh dari sakitnya. Akhirnya, melihat kenyataan itu Kades yang sembuh dari sakitnya itu mempunyai niat untuk melaksanakan selamatan (kenduri, Red) di sekitar sumber air itu. Disaksikan masyarakat sekitar lokasi itu Kades memberi nama sumber mata air itu dengan nama “Sumber Waras”. Sejak itu, pengalaman kades tersebut diikuti masyarakat lain yang sakit, mandi di sumber waras, dan banyak yang sembuh. Kepercayaan masyarakat hingga kini terus berjalan, bahkan pihak pengelola Taman Wisata dan Pemandian “Tamansuruh” memberikan kartu free pas khusus kepada masyarakat setempat untuk dapat masuk ke lokasi tersebut.

Meski lokasi ini sudah terbangun dengan cukup representatif, pengelola tidak mau berbuat dengan semena-mena terhadap warga di sekitarnya. Pengelola sejak awal pembangunannya menggunakan tenaga kerja dari warga setempat hingga sekarang. Seperti kantin-kantin yang ada dalam lokasi wisata yang dibangun pengelola dimanfaatkan oleh warga, khususnya yang tanahnya dibebaskan untuk objek wisata itu. Mereka bisa menjual masakan khas Banyuwangi sesuai selera pengunjung dan cinderamata sesuai kebutuhan pengunjung. Selain itu, masyarakat sekitar lokasi ini yang memiliki lahan kosong bisa menampung parkir kendaraan bila tempat parkir yang tersedia sudah penuh. Ini merupakan penghasilan tambahan bagi warga sekitar lokasi-wisata. “Kami benar-benar akan memberi peluang pekerjaan bagi warga sekitar sini, dan mengangkat harkat masyarakat. Otomatis dengan adanya lokasi ini tanah mereka harganya menjadi mahal, ” tutur Soesanto. Abd. Karim MR, Jamhari

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  GEMA Blambangan, Majalah Pemarintah Kabupaten Dati II Banyuwangi EDISI KHUSUS 1998/1999

Rawa Bayu, Banyuwangi

Keheningan di Rawa Bayu

Suasana hening menyergap saat memasuki areal Wana Wisata Rawa Bayu. Areal telaga berdiameter sekitar 50 meter itu terkungkung hutan lebat dan bebat daun aneka pepohonan. Akibatnya, matahari pun susah payah meneroboskan sinarnya hingga siang hari seperti candikala (matahati tenggelam). Desiran angin membawa gemericik air dari celah-celah dinding kaki Gunung Raung terasa dingin menusuk tulang. Beberapa patung kala berwajah menyeramkan seolah menyeruak di balik pohon kecil. Tak ada suara, apalagi teriakan, dan beberapa pengunjung pun berbicara setengah berbisik. Ya, Rawa Bayu di Desa Bayu, Kec. Songgon, Kab. Banyuwangi memang sangat hening dan singup (angker). Telaga itu menyimpan sejarah Blambangan yang penuh linangan air mata dan tetesan darah. Di salah satu sudut di pinggir telaga itu terdapat petilasan Raja Blambangan Tawang Alun ketika bersemedi merenungi kematian dua adiknya, yang berperang melawan dirinya.

Di Desa Bayu terjadi perang puputan atau habis-habisan rakyat Blambangan melawan penjajah VOC Belanda, 18 Desember 1771. Puputan itu diakui Belanda sebagai peperangan paling brutal dan kejam, serta menghabiskan biaya senilai 8 ton emas. Kini setiap 18 Desember diperingati sebagai hari jadi Kota Banyuwangi. (baca juga Kisah Heroik Rakyat Blambangan). Awalnya diyakini sebuah rawa, namun seiring perjalanan waktu berubah telaga. Demikian juga sangat hening pada hari-hari biasa. Namun berubah meriah pada hari libur atau Minggu. Telaga alam itu menjadi tujuan wisata keluarga bagi masyarakat di wilayah Songgon, Rogojampi, Sempu, dan sekitamya. Selain itu juga dikunjungi orang dari beberapa daerah di Banyuwangi lainnya, seperti Tegal Dlimo, Bangorejo, Purwoharo, Pesanggaran, Muncar, dan sebagainya. Serta beberapa daerah di luar Banyuwangi, seperti Jember, Lumajang, bahkan dari Bali. Mereka dating untuk mengambil air suci, kebanyakan umat Hindu. “Menurut kepercayaan mereka, biasanya mereka lebih dulu mendapatkan wisik (suara gaib, red.) yang memerintahkan agar mengambil air dari sumber air di sini (sumber Rowo Bayu, red.) ,” ujar Handoyo, penjaga petilasan Prabu Tawang Alun.

Para pengunjung juga ada bersemedi di petilasan Prabu Tawang Alun, Raja Blambangan. Diantara mereka ada yang mengaku keturunan atau kerabat Prabu Tawang Alun. Sebab setelah kerajaan Blambangan hancur, banyak kerabat atau pasukannya yang tercerai berai. “Ada yang lari ke Bali, tapi ada juga yang bersembunyi di hutan-hutan di daerah Banyuwangi, terbukti masih banyaknya orang yang masih menganut agama Hindu di Banyuwangi,” ujar pria berusia 70 tahun ini. Di telaga Rowo Bayu terdapat tiga sumber air, yaitu Sendang Keputren, Wigonggo, dan Sendang Kamulyan. Sebelum mengalir ke telaga atau rowo, sumber air itu ditampung di sebuah kolam kecil atau sendang. Selain ketiga sumber air tersebut, air Rawa Bayu juga berasan dari lapisan batu-batu yang berada di sekitarnya. Menurut Handoyo, dulu pada hari libur atau Idul Fitri kerap sekali digelar berbagai pertunjukan. Namun sekarang ini sudah jarang sekali, karena banyak kejadian aneh pada saat acara atau usai acara digelar. Misalnya, ada orang kesurupan dan impian yang aneh yang melarang daerah tersebut untuk hura-hura atau mengumbar hawa nafsu.

“Sekarang ini kebanyakan orang yang berkunjung untuk mengambil air dan semedi. Biasanya mereka datang saat bulan purnama dan tilem (tidak ada bulan), “ujarnya. Di sisi lain, Rawa Bayu tidak sekedar tempat wisata dan semedi. Ya, bisa menjadi media pembelajaran yang dapat mendukung mata pelajaan sejarah karena jelas merupakan bukti sejarah. Juga dapat mendukung mata pelajara biologi karena dapat digunakan sebagai media keaneka ragaman hayati, ekosistem rawa, ekosistem hutan dan sebagainya. Juga dapat mendukung mata pelajaran geografi misalnya menentukan kedalaman rawa. Jika tertarik ke Rowo Bayu dapat ditempuh dengan kendaraan umum atau pribadi. Dari jalan raya Jember-Banyuwangi, Anda berhenti di kota Rogojampi. Setelah itu terus ke arah barat sekitar 7 km ke Kota Songgon, kemudian ke barat lagi 7 km. Harus ekstra hati-hati sesampai di tetenger Puputan Bayu di Desa Bayu, sebab jalannya rusak dan bergelombang sekitar 3 km. (bdh)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur :  Edisi XXXI Mei 2010


Babad Mas Sepuh

  1. Sang penyair menyatakan pujiannya kepada Siwa, memohon pengampunan, rahmat dan restu: semoga ia dijauhkan dari segala kejahatan, segala penderitaan, segala dosa; semoga dia dan kerabatnya mendapatkan kebahagiaan, umur panjang dan kemakmuran.
  2. Pangeran Danureja, yang telah menjadi raja Blambangan sesudah lama bertapa, mempunyai anak: Pangeran Menak Jingga yang biasanya dinamakan Pangeran Mas Sepuh¹.
    ¹Jadi nama resmi anak Danureja memang Pangeran Menak Jingga (Pangeran Jingga dalam Babad Wilis). Adapun nama lainnya, Pangeran Mas Sepuh, hanya dipakai oleh orang Bali. Akan tetapi perlu dicatat bahwa ada nama Mas Ayu Sepuh yang ditambahkan dalam salah salu versi gancaran Babad Tawang Alun pada nama Mas Ayu Rahinten, yaitu adik dari Mas Ayu Nawangsasi (isteri Danuningrat). Mungkinkah Danuningrat beristerikan kedua kakak beradik?
  3. Pada tahun 1520 Saka (dengan sangkala nora tinghal bhuta sasih) [yaitu 1598 M], Blambangan ditaklukkan oleh Ki Gusti Nglurah Panji Sakti, raja Singaraja, yang kemudian menghadiahkannya—bersama negeri Jambrana [Bali Barat]—kepada Raja Mangwi, Gusti Agung Dhimadhe. Gusti Agung Dhimadhe lalu dinamakan Gusti Nglurah Agung Sakti dari Blambangan [dalam babad Mas Sembar, ia diberi nama Cokordha Blambangan].
  4. Pangeran Danureja, setelah menjadi bawahan dari Raja Mangwi, memperisteri seorang wanita dari Kapal (Bali), saudara Nglurah Anom. Anak mereka, Mas Sirna, yang juga dinamakan Pangeran Mas Wilis, nanti akan menjadi patih dari Mas Sepuh.
  5. Pangeran Danureja wafat, begitu juga adiknya perempuan¹. Ia diganti oleh Mas Sepuh. Adik Pangeran Mas Sepuh, Pangeran Mas Wilis, diangkat menjadi patih. Akan tetapi hubungan mereka tidak rukun dan Pangeran Mas Wilis diberhentikan dari jabatannya. Wilis pergi ke Bali dan memberitahukan kepada Raja Mangwi bahwa Blambangan mau memberontak². Maka Mangwi mengutus Gusti Nglurah Ktut Kabakaba, diiringi Si Kuta Bathak³, untuk memanggil Pangeran Mas Sepuh ke Mangwi. Pangeran Mas Sepuh mematuhi perintah Raja Mangwi4.
    ¹Dalam silsilah Babad Sembar (BS) atau Babad Tawang Alun (BTA) tidak ada disebut Danureja mempunyai adik perempuan. Yang disebut ialah kakak perempuannya yang bemama Mas Ayu Tawi (BS) atau Mas Ayu Surabaya (BTA). 
    ²Menurut BTA (vii, 12-18) Wilis tidak meninggalkan Blambangan, tetapi bertapa di pantai selatan dan tetap setia kepada kakaknya. Menurut Babad Wilis (BW) (i, 18-48), Wilis meninggalkan keraton tetapi tidak ditegaskan ke mana perginya; dan meskipun kakaknya itu selalu menanyakan beritanya, ia mencurigai Wilis.
    ³Kuta Bathak ini barangkali sama dengan tokoh yang bernama Kutha Bedhah dalam BW (vii, 8).
    4Dalam BTA (viii, 27-35), begitu pula dalam BW (viii, 18-39), Danureja tidak sendiri pergi ke Bali, tetapi ditemani oleh adiknya, Wilis.
  6. Namun setibanya di Bali, iatidak berhasil menghadap. Ia disuruh menetap di Tgal Balumbungan, sebuah desa yang sudah ditinggalkan penduduknya sejak ditaklukkan oleh Bkis. Jadi bersama isteri, anak dan pengikutnya, ia pergi ke desa itu dan membangun puri Tanah Ayu, sedangkan pengikutnya membuat rumah-rumah untuk mereka sendiri.
  7. Tidak selang beberapa lama Raja Mangwi yang khawatir itu melarang hambanya untuk mengunjungi desa Balungbungan atau berdagang kesana.
  8. Gusti Agung Kamasan Dhimadhe diam-diam memberi makanan kepada Pangeran Mas Sepuh dan pengikutnya. Lama-kelamaan Raja Mangwi mengetahui hal itu. Maka Pangeran Mas Sepuh disuruhnya pindah ke desa Munggu, setelah penduduk dilarangnya memberi makanan apa pun.
  9. Maka Pangeran Mas Sepuh mengerti bahwa Raja Mangwi menghendaki kematiannya. Kepada pengikutnya ia bertanya siapa bersedia mengikutinya ke dunia akhirat. Semua berdiam diri kecuali tiga orang yang ingin mengiringinya.
  10. Pada suatu hari, waktu masih di pura Hyang Api, Pangeran Mas Sepuh membakar jagung dalam sarungnya dan dengan demikian menunjukkan kesaktiannya. Parapengikutnya terkesan sekali, lalu ingin menyerbu desa Kaba Kaba. Namun Pangeran Mas Sepuh menahan mereka karena perbuatan demikian dapat membahayakan diri mereka. Kata-kata Pangeran Mas Sepuh menenangkan mereka. Dan sampai sekarang masih ada pura yang bernama Pari Purna di Kaba Kaba.
  11. Sebelum mengungsi ke desa Seseh, Pangeran Mas Sepuh masih memberi nasihat kepada mereka yang akan ditinggalkannya:  hendaknya mereka tetap setia pada kebangsawanan leluhur mereka, sebab di sanalah kebahagiaan mereka dan mereka bebas dari marabahaya. Orang-orangnya, kecuali ketiga yang sudah disebut di atas, menyebar menetap di desa-desa lain dan [keturunannya] tinggal disana sampai sekarang.
  12. Di Seseh pun Pangeran Mas Sepuh pagi dan sore diberi makanan secara tersembunyi oleh I Karsi. Melalui I Karsi ini ia menghadiahkan kepada Gusti Agung Kamasan Dhimadhe, kepada Sahibang Sri Jati, kerisnya yang bernama I Baru Sangkali, tombaknya Si Barong, cincinnya Manduka Ijo dan tempat sirihnya, begitu juga rumahnya di Tanah Ayu.
  13. Keesokan harinya muncullah penduduk Munggu dan Seseh untuk membunuh Pangeran Mas Sepuh di pantai Seseh. Sebelum meninggal, Pangeran Mas Sepuh berkata dengan nada mengeluh supaya anak buahnya menghadapi penduduk Munggu dan Seseh dengan berani. Lalu sambil mencabik-cabik destarnya, Pangeran Mas Sepuh mengutuk Mangwi: seperti destar ini, Mangwi akan tercabik-cabik, juga Raja Mangwi yang akan dibinasakan oleh musuh sampai dengan keturunannya yang ketujuh.
  14. Mas Ayu Nawangsasi, isteri Pangeran Mas Sepuh, dan ketiga anaknya terpaksa pulang ke Blambangan.
  15. Tidak lama sesudah mereka kembali, tujuh tahun sesudahnya, Blambangan memberontak terhadap Mangwi dan minta pertolongan Kumpeni. Gusti Nglurah Ktut Kaba-Kaba dan para arya Mangwi dibunuh oleh orang Blambangan, oleh Mas Una dan Mas Anom, dibantu orang Inggris dan Kumpeni.
  16. Pangeran Mas Wilis yang tidak mengetahui kematian mereka, pulang ke Blambangan. Akan tetapi ia tidak diperbolehkan penduduk masuk rumahnya yang mereka kepung. Pangeran Mas Wilis dapat lolos dan malam harinya menyeberangi laut pulang keBali. Tak lama kemudian ia wafat.
  17. Setelah mendengar kematian Gusti Ngurah Ktut Kaba Kaba dan arya-aryanya, Raja Mangwi menugaskan Pangeran Tangkas untuk mengepung Blambangan. Orangnya banyak ditawan dan Pangeran Tangkas terpaksa mundur ke Mangwi.

Materi di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit-Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Winarsih Partaningrat Arifin, Babat Blambangan: naskah dokumen nusantara Seri X, Yogjakarta: Bentang Budaya, 1995. hlm. 127-130.

Terkait:

Gandrung, Sejarah dan Perkembangannya

Sejarah tari Gandrung bermula dalam suatu upacara di Istana Kerajaan Majapahit, sering dipentaskan suatu bentuk tarian istana yang disebut “Juru Angin”, yaitu seorang wanita penari, menari sambil bernyanyi, Penari tersebut disertai oleh seorang “buyut” yaitu seorang pria tua yang berfungsi sebagai punakawan.

 
Diduga dari bentuk tarian ini yang mengilhami terbentuknya tari Gandrung yang selalu diikuti oleh seorang kluncing atau pengudang. Pengudang ini selalu memberikan komentar-komentar lucu  (lawakan) serhubungan dengan tarian yang dibawakan oleh penari Gandrung.

Pada zaman kehidupan kerajaan-kerajaan, perkembangan produk budaya yang jauh dari pusat kekuasaan diduga mengikuti pola seni budaya pusat. Sehingga dalam masa perkembangannya sampai dengan  tahun 1890 di daerah Belambangan berkembang bentuk kesenian kesenian khas Belambangan yang dinamai Gandrung, penarinya terdiri dari anak laki-Iaki berumur antara 7 sampai 16 tahun, berperan sebagai penari Gandrung dengan berpakaian dan rias perempuan. Pada perkembangan selanjutnya, tari Gandrung dibawakan oleh seorang wanita dan kebetulan penari Gandrung perempuan pertama juga penari Seblang bernama Semi, putri seorang penduduk Cungking bernama Mak Midah. Sesuai dengan perkembangan Banyak Jenis-jenis Tari Gandrung antara lain

Gandrung Prapatan adalah Bentuk seni tari yang dijadikan sebagai pedoman pokok pelatihan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi dan Dewan ·”Kesenian Belambangan pada pelatihan Gandrung,

Gandrung Ukir Kawin Bentuk seni tari Gandrung “asli”, lebih rumit disbanding dengan tari Gandrung Prapatan,

Gandrung Lanang adalah Tarian Gandrung yang dimainkan oleh laki-Iaki muda berparas elok dan mengenakan pakaian perempuan, Gandrung lanang lahir sebelum ada gandrung perempuan, Gandrung lanang yang terkenal adalah Marsan yang menggandrung sampai usia sekitar 40 tahun,

Gandrung Wadon  Tarian Gandrung yang penarinya perempuan. Muncul setelah penari Gandrung laki-laki yang bernama Marsan meninggal dunia. Menurut Scholte perubahan penari Gandrung laki-laki ke perempuan itu terjadi tahun 1895.

Kelompok/Sangar Gandrung yang ada di Kabupaten Banyuwangi, sanggar seni tari khas Using/Banyuwangi Gandrung Arum beralamat di Dusun Trembelang, Desa Cluring, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi  memiliki 100 anggota, terdiri atas pelatih tari, penari, dan calon penari, dengan penanggung jawab SukoPrayitno. kelompok Gandrung Gandrung Lilik dipimpin oleh Iksan, beralamat di Dusun Krajan, Desa Gambiran, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. kelompok Gandrung Gandrung Pon dipimpin oleh Poniti, beralamat di Genitri, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi.

 
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A., Kamus Budaya Using. Jember: Lembaga Penelitian Universitas Jember, 2010.