Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Motif batik mangrove yang dibuat oleh Ibu Lulut diambil dari bentuk beragam mangrove, mulai dari daun, bunga, sampai untaian buah. Selain dari beragam mangrove, inspirasi motif juga berasal dari  makhluk yang hidup di sekitar mangrove, seperti ikan, kepiting, dan udang. Motif Batik mangrove ini telah mempunyai ribuan pakem-pakem yang telah dibuat oleh Ibu Lulut, yang selanjutnya desain motif dikembangkan menjadi beberapa jenis motif sesuai pakem yang ditetapkan. Beberapa motif batik yang telah di buat oleh Ibu Lulut Sri Yuliani sebagai pemberdaya Batik Mangrove antara lain:

Motif Batik Mangrove Rungkut Surabaya

  • Motif Bruguiera Gymnorhiza

Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah ornamen tumbuhan yang berupa daun dan buah Bruguiera Gymnorhiza. Ornamen isen yang terdapat pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah gelembung air.

  • Motif Callophyllum inophyllum

Ornamen utama pada motif Callophyllum inophyllum adalah ornamen tumbuhan Callophyllum inophyllum. Penggambaran motif Callophyllum inophyllum ditampilkan berupa buah, bunga dan daun Callophyllum inophyllum secara utuh yang dihiasi dengan sulur-sulur. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Callophyllum inophyllum adalah ornamen tumbuhan yang berupa buah Callophyllum inophyllum. Ornamen isen yang terdapat pada motif Callophyllum inophyllum adalah gelembung air dan titik- titik hujan.

  • Motif Angry Puffu Fish

Ornamen utama pada motif Angry Puffu Fish adalah ornamen binatang. Penggambaran motif Angry Puffu Fish ditampilkan berupa ikan gembung secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Angry Puffu Fish adalah ornamen tumbuhan yang berupa ekosistem bawah air yaitu terumbu karang. Ornamen isen yang terdapat pada motif Angry Pufffu Fish adalah gelembung air, gelombang, dan joging track. Isen-isen gelembung air terdapat pada ornamen tumbuhan (terumbu karang) pada ornamen tambahan. Sedangkan isen-isen joging track dan gelombang terdapat pada bagian latar motif.

  • MotifGobie Fish

Ornamen utama pada motif Gobie Fish adalah ornamen binatang. Penggambaran motif Gobie Fish ditampilkan berupa ikan gobie secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Gobie Fish adalah ornamen tumbuhan yang berupa ekosistem bawah air yaitu terumbu karang. Ornamen isen yang terdapat pada motif Gobie Fish adalah biji bogem, gelembung air danjoging track. e. MotifBlue Jelly Ornamen utama pada motif Blue Jelly adalah keindahan bawah laut yang distilir, yaitu ubur-ubur. Penggambaran motif Blue Jelly ditampilkan berupa ubur- ubur secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Blue Jelly adalah ornamen tumbuhan yang berupa terumbu karang. Terumbu karang disini digambarkan dalam dua bentuk, yaitu terumbu karang yang menyerupai kerang dan terumbu karang yang menyerupai tanaman dalam air. ornamen isen yang terdapat pada motif Blue Jelly adalah biji bogem, gelembung air, dan joging track.

Warna BatikMangrove Rungkut Surabaya.

Warnawarna yang digunakan pada Batik Mangrove ada bermacammacam. Namun, warna yang terdapat di Batik Mangrove ini memiliki ciri khas yang berbeda dari batik yang lainnya. Berikut ini penjelasan tentang warna batik Mangrove:

  • Warna khas Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Warna-warna yang terdapat pada batik mangrove adalah hijau, kuning, coklat, merah muda, orange, biru, hitam, dan ungu. Selain itu, warna merah pada batik mangrove adalah merah muda atau merah merona, tidak ada warna merah menyala.

  • Warna asli Tanaman Mangrove

Pembuatan pewarna alami asli dari beberapa tanaman mangrove, warna-warna yang dihasilkan adalah coklat kehijauan, coklat muda, hijau kekuningan. Warna yang dihasilkan dari pewarna alami mangrove Sonneratia Caseolaris adalah warna coklat kehijauan. Warna coklat muda dihasilkan dari buah Cerbera Manghas dan warna hijau kekuningan dari daun Cerbera Manghas.

Perkembangan warna Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Warna-warna khas batik mangrove mulai dari pertama kali dibuat hingga sekarang tidak ada perkembangan warna. Hanya saja hingga saat ini belum ada warna merah menyala yang dihasilkan dari pewarnaan alami mangrove. Tidak adanya perkembangan ini menyebabkan batik mangrove memiliki ciri khas warna tersendiri, berbeda dari batik yang lainnya.

  • Asal warna dari pewarna alami mangrove

Asal warna dari pewarna alami yang digunakan pada batik mangrove adalah buah, bunga, dan daun yang berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan beberapa bahan pewarna alami yang lainnya sehingga menghasilkan warna khas batik mangrove Rungkut Surabaya. Warna merah pada batik mangrove dihasilkan dari kelopak dan kulit buah Bruguiera Ghimnorhyza, kulit cabai merah, dan secang. Warna kuning dari Caloptropis Gigantea, getah nyamplung atau Calophyllum inophyllum, kunyit, dan batu gambir. Warna Hijau dihasilkan dari Caloptropis Gigantea dan Indigo dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna orange dari Caloptropis Gigantea, kelopak dan kulit buah Bruguiera Ghymnorhiza dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna biru dari Indigo dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna ungu dari bunga jeruju atau Acanthus ilicifolius dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna coklat dari caping bogem atau Sonneratia alba dan kulit Nypa frutican dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna hitam dari buah bintaro atau Cerbera manghas dan alur atau Saudea maritima dan bahan pewarna alami yang lainnya.

Proses pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya.

Proses pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya secara sekilas sama dengan proses pembuatan batik pada umumnya, namun ada beberapa perbedaannya. Perbedaan proses pembuatan Batik Mangrove dengan batik yang lainnya berada pada lilin dan canting yang digunakan. Berikut ini penjabaran dari bahanbahan, peralatan, dan langkah-langkah membatik di Batik Mangrove Rungkut Surabaya :

Bahan pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Bahan yang digunakan untuk membatik di Batik Mangrove Rungkut Surabaya hampir sama dengan peralatan membatik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada malam dan pewarna yang digunakan. Pada batik mangrove menggunakan malam kuning dan malam putih yang diolah kembali agar lebih bersih dan pewarna yang digunakan pewarna alami dari tumbuhan mangrove.

  1. Malam

Malam yang digunakan pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah malam kuning dan malam putih. Malam yang berwarna kuning memiliki sifat liat dan kenyal. Sifat tersebut sangat cocok digunakan untuk menutupi bagian pola yang diharapkan agar terlihat rapat. Malam kuning mampu menutupi permukaan media secara utuh dan sempurna. Malam yang digunakan pada batik mangrove ini adalah malam kuning dan putih yang telah diolah kembali agar menghasilkan malam yang bersih dan berkualitas.

  1. Pewarna alami

Pewarnaan alam diperoleh dari bahan-bahan alami, antara lain kunyit (menghasilkan warna kuning), daun jati (menghasikan warna hijau), dan kulit buah manggis (menghasilkan warna ungu). Pewarna alami yang digunakan pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah pewarna alami yang berasal dari buah, bunga, dan daun dari tumbuhan mangrove dan dicampur dengan beberapa pewarna alami lainnya.

 

  1. Peralatan pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui peralatan membatik yang digunakan pada proses membatik di Griya Karya Tiara Kusuma “Batik Mangrove” hampir sama dengan peralatan membatik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada canting yang digunakan. Pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya canting yang digunakan adalah canting elektrik dengan cucuk tunggal dan memiliki tombol pengatur suhu. Canting elektrik terdiri dari tiga bagian utama, antara lain: bak penampung lilin atau malam, tangkai pemegang, dan alat kontrol suhu yang berfungsi mengontrol suhu canting.

  1. Langkah-langkah pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui langkah-langkah pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan batik pada umumnya. Perbedaan proses pembuatan Batik Mangrove dengan batik yang lainnya berada pada proses pewarnaan danproses pelorodan. Proses pewarnaan dan pelorodan pada batik mangrove memiliki beberapa tahapan. Berikut ini langkahlangkah pewarnaan dan pelorodan dalam pembuatan Batik Mangrove :

  1. Pewarnaan Menurut Mifzal (2012:76), setelah proses pemalaman selesai, tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalahpewarnaan. Tujuan pewarnaan ini adalah untuk member dan mengubah warna pada kain batik. Pewarnaan juga bertujuan untuk menambah keindahan pada batik. Pencoledan adalah proses pemberian warna secara langsung pada bidang-bidang motif di mana ini relatif sempit yang dibatasi malam sehingga tidak efektif bila dicelup. Proses pewarnaan pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya menggunakan teknik pewarnaan mencolet menggunakan kuas dengan berbagai ukuran. Bahan pewarna yang digunakan adalah bahan pewarna alami mangrove.
  2. Pelorodan Nglorod ini adalah langkah untuk melarutkan malam pada permukaan kain. Hal ini dilakukan di atas bejana yang berisi air panas mendidih. Untuk mempermudah proses pelarutan malam dari permukaan kain maka pada air mendidih itu dicampurkan zat kimia tertentu. Proses pelorotan pada Batik Mangrove memiliki beberapa tahapan, yaitu:
  3. Tahap satu adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan kanji dan air dingin.
  4. Tahap kedua adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan tawas,
  5. Tahap ketiga adalah tahap mencelupkan kain kedalam air mendidih hingga malam luntur seluruhnya.
  6. Tahap keempat adalah tahapan mencelupkan kain kedalam larutan tawas kedua.
  7. Tahap kelima adalah tahap mencelupkan kain kedalam air bersih.
  8. Tahap keenam adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan kanji yang telah dimasak di air mendidih dan di tuangkan ke dalam ember.

 Motif Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Batik Mangrove telah memiliki ribuan motif pakem yang telah dibuat. Beberapa motif pakem diantaranya yaitu motif Bruguiera Gymnorhiza, motif Callophyllum Inophyllum, motif Angry Puffu Fish, motif Gobie Fish, dan motif Blue Jelly. Pada motif-motif pakem Batik Mangrove terdapat ornamen utama, ornamen tambahan, dan ornamen isen batik. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980: 212) mengenai motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan yang mempunyai motif yang berirama dan khas. Motif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Menurut unsur-unsurnya motif batik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu ornamen motif dan ornamen isen batik. Ornamen motif batik dibedakan lagi atas ornamen utama dan ornamen tambahan kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Menurut unsurunsurnya motif batik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu ornamen motif dan ornamen isen batik. Ornamen motif batik dibedakan lagi atas ornamen utama dan ornamen pengisi bidang atau ornamen tambahan. Jadi pada motif batik  terdapat ornamen utama, ornamen tambahan, dan ornamen isen batik. Ornamen motif–motif yang terdapat pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah motif-motif yang berasal dari alam sekitar hutan mangrove, mulai dari buah, bunga, dan daun tanaman mangrove serta binatang yang ada di ekosistem hutan mangrove mulai dari ikan, kepiting, kupu-kupu, dan lainlain.

Motif Bruguiera Gymnorhiza

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Bruguiera Gymnorhiza berbentuk ornamen tumbuhan buah dan daun Bruguiera Gymnorhiza. Bentuk buah dan daun Bruguiera Gymnorhiza dibuat lebih dominan dan memiliki makna. Sesuai dengan pendapat Wulandari (2011:105), ornamen utama adalah suatu corak yang menentukan makna motif tersebut. Pemberian nama motif batik tersebut didasarkan pada perlambangan yang ada pada ornamen utama ini. Ornamen tambahan pada motif Bruguiera Gymnorhiza berbentuk daun, bunga, dan buah Bruguiera Gymnorhiza. Bentuk daun, bunga dan buah Bruguiera Gymnorhiza untuk pola tambahan dibuat lebih kecil dari pada motif utamanya. Sesuai dengan pendapat Susanto, Ornamen pengisi ini bentuknya lebih kecil dan lebih sederhana, Ornamen isen pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Bruguiera Gymnorhiza adalah gelembung air yang terinspirasi dari gelembung air di ekosistem mangrove. Sesuai dengan pendapat Lisbijanto (2013: 49), isen yaitu motif pengisi sebagai unsur pelengkap dalam motif batik. Unsur isen antara lain titik, garis, garis lengkung, dan lain sebagainya.

Motif Callophyllum Inophyllum

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Callophyllum Inophyllum berbentuk ornamen tumbuhan buah, bunga, dan daun Callophyllum Inophyllum. Ornamen tambahan pada motif Callophyllum Inophyllum berbentuk daun, bunga, dan buah Callophyllum Inophyllum yang dibuat lebih kecil dari ornamen utamanya. Ornamen isen pada motif Callophyllum Inophyllum adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Callophyllum Inophyllum adalah gelembung air dan titiktitik hujan yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Angry Puffu Fish

Ornamen utama pada Batik Mangrove motifAngry Puffu Fish berbentuk ornamen binatang yaitu ikan gembung. Sesuai dengan pendapat Susanto, binatang yang sering digambarkan dalam ornamen seni berupa lembu, kijang, gajah, singa atau harimau (Susanto, 1980:274). Ornamen tambahan pada motif Angry Puffu Fish berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang yang dibuat lebih kecil dari ornament utamanya. Ornamen isen pada motif Angry Puffu Fish adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Angry Puffu Fish adalah gelembung air, gelombang, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Gobie Fish

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Gobie Fish berbentuk ornamen binatang yaitu ikan gobie. Ornamen tambahan pada motif Gobie Fish berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang. Ornamen isen pada motif Gobie Fish adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Gobie Fish adalah gelembung air, biji bogem, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Blue Jelly

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Blue Jelly berbentuk ornamen binatang yaitu ubur-ubur. Ornamen tambahan pada motif Blue Jelly berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang. Ornamen isen pada motif Blue Jelly adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Blue Jelly adalah gelembung air, biji bogem, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Warna Batik Mangrove Rungkut Surabaya

a) Warna khasmbatik mangrove warna-warna yang digunakan pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah warna merah muda, ungu, biru, hijau, orange, kuning, coklat, dan hitam. Sesuai dengan pendapat Hamzuri (1994:32) ada beberapa macam warna yang diterapkan pada batik yaitu warna hijau, jingga, biru, ungu, dan kuning.

b) Perkembangan warna batik mangrove Warna pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak mengalami perkembangan, namun hingga saat ini masih belum ditemukan warna merah yang menyala, yang ada warna merah merona. Warna khas Batik Mangrove Rungkut Surabaya yaitu warna merah.

c) Asal warna dari pewarna alami mangrove Asal dari pewarna alami batik mangrove berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan pewarna alami lainnya. Beberapa tanaman mangrove yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami adalah Bruguiera Gymnorhiza, jeruju atau Acanthus ilicifolius, indigo , Caloptropis Gigantea, bogem atau Sonneratia alba, Nypa Frutican, bintaro atau Cerbera manghas dan alur atau Saudea maritime. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980:70), zat warna alam yaitu zat warna dari bahan alam, dari tumbuhan dan binatang. Warna asli yang dihasilkan dari tanaman mangrove adalah warna coklat kehijauan, coklat muda, dan hijau kekuningan. Warna-warna tersebut dihasilkan dari tanaman Sonneratia Casiolaris dan Cerbera Manghas.

 Proses Pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

a) Alat dan bahan pembuatan batik mangrove

Proses pembuatan Batik Mangrove peralatan yang dibutuhkan sedikit berbeda. Perbedaan tersebut karena disetiap pembuatan batik ditempat yang satu dengan yang lainnya memiliki ciri khasnya masingmasing, namun tetap hampir sama sesuai dengan pakem pembuatan batik paada umumnya. Sesuai pendapat Wulandari (2011:143), perlengkapan membatik tidak banyak mengalami perubahan. Perbedaan perlengkapan pada proses pembuatan batik Mangrove ada pada canting yang digunakan. Canting yang digunakan pada Batik Mangrove adalah jenis canting elektrik. Secara sepintas canting elektrik tidak jauh berbeda dengan canting biasa pada umumnya. Yang membedakan adalah cucuk yang ada pada canting elektrik dapat diganti sesuai dengan kebutuhan, serta pada canting elektrik terdapat alat pengatur temperature. Sesuai dengan pendapat Mifzal, (2008:20), seiring perkembangan zaman, sekarang sedang dikembangkan inovasi baru berupa canting elektronik.

Pada Batik Mangrove menggunakan malam kuning dan malam putih. Alasan menggabungkan malam kuning dan malam putih adalah ingin menghasilkan batik dengan penggabungan malam kuning dan putih. Sesuai dengan pendapat Suroso (2010:26) Malam kuning mampu menutupi permukaan media secara utuh dan sempurna. Sedangkan Malam putih biasa disebut dengan paraffin. Kesan efek retak yang terdapat pada malam putih tersebut dapat dijadikan sebagai motif abstrak. Berdasarkan pendapat Suroso tersebut penggabungan malam kuning dan putih akan menghasilkan malam yang dapat menutup dengan rapat namun juga dapat member sedikit efek retakan. Pencampuran malam kuning dan malam putih yang ada pada Batik Mangrove juga melalui tahap penyaringan, agar malam yang dihasilkan hanyalah malam yang berkualitas, bersih, dan siap digunakan tanpa harus menyaring lagi pada proses mencanting.

Pada Batik Mangrove menggunakan bahan pewarna alami. Bahan pewarna alami yang digunakan adalah bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan pewarna alami lainnya. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980:70), Zat warna alam yaitu zat warna dari bahan alam, dari tumbuhan dan binatang. Pada Batik Mangrove, pewarna alami yang digunakan berasal dari bunga, daun, dan buah tanaman mangrove. Beberapa tanaman mangrove yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami adalah Sonneratia Alba, Bruguierra Gymnorhiza, Nypa Frutican, Caloptropis Gigantea, dan sebagainya.

b) Langkah-langkah pembuatan batik mangrove

Langkah-langkah pembuatan batik pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak jauh berbeda dengan langkah-langkah pembuatan batik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada proses pewarnaan dan proses pelorodannya. Proses pewarnaan pada Batik Mangrove dilakukan dengan dua cara yaitu dengan teknik pencelupan dan pencoledan. Sesuai dengan pendapat Mifzal (2012:76), teknik pewarnaan batik pada batik tulis ada dua, yaitu pencelupan dan pencoledan.

Proses pelorotan dilakukan dalam beberapa tahapan antara lain, tahap 1 memasukkan kain kedalam larutan kanji yang telah dicampur dengan air dingin, tahap 2 memasukkan kain kedalam larutan tawas yang telah dicampur dengan air dingin, tahap 3 memasukkan kain kedalam air mendidih hingga seluruh malam telah terlepas dari kain, tahap 4 memasukkan kain kedalam larutan tawas untuk yang kedua kalinya, tahap 5 memasukkan kain kedalam bak air bersih, dan tahap 6 memasukkan kain kedalam larutan kanji yang telah dicampur dengan air panas. Sesuai dengan pendapat Anshori (2011:45), nglorod ini adalah langkah untuk melarutkan malam pada permukaan kain. Hal ini dilakukan di atas bejana yang berisi air panas mendidih. Setelah proses pelorodan, langkah selanjutnya adalah menjemur dengan cara diangin-anginkan.

——————————————————————————————-
Eny Kurniawati, Yulistiana. Batik Mangrove Rungkut Surabaya (Universitas Negeri Surabaya). e-Journal, Vol. 04, No. 01, Th. 2015, Edisi Yudisium Periode Pebruari 2015, Hlm. 37-45

Batik Mangrove

Masyarakat kampung Wonorejo Kecamatan Rungkut Surabaya, patut diacungi dua jempol, sebab kampung ini warganya sangat kreatif dalam memanfaatkan apapun yang ada disekitar  wilayahnya yang berada di pesisir Surabaya sebagai dasar kreasinya, antara lain tumbuhan mangrove dan kepiting rajungan.

Berbagai  Kreasi warga mangrove yang menghiasi tepian pantai timur Surabaya tersebut, ada beberapa warga yang memanfaatkan tumbuhan mangrove untuk membuat olahan dari buah mangrove menjadi beragam kue, seperti jenang, roti, tart dan bubur, juga ada sebahagian warga yang mengolah buah  mangrove untuk menjadikannya sirup.

Sebagian warga berinspirasi memanfaatkan, biota di sekitarnya menjadi bahan makanan seperti kepiting rajungan yang diolah menjadi kerupuk. Banyak bahan-bahan yang selama ini nampak tak berguna, namun tidak bagi warga Wonorejo bahan bahan yang semula tidak brguna, berhasil dikreasi menjadi beragam olahan yang bernilai ekonomis.

Tak hanya itu, hutan mangrove juga berhasil dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai dasar motif batik yang menarik. Ibu-ibu warga Wonorejo yang berkreasi membuat batik dalam beragam bentuk dan modifikasinya. Di Wonorejo sendiri setidaknya ada 12 pembatik.  Ibu-ibu warga Wonorejo membatik hanya berdasar kemauan. Namun justru mereka tak henti melakukan eksperimen untuk berkreasi, sehingga pengembangannya  Nampak nyata. Kini batik mangrove sudah menghiasi berbagai bentuk perlengkapan, seperti taplak meja, sarung bantal, hingg aneka pakaian. Karena motif dasarnya mangrove dengan segala biotanya, batik tersebut disebut batik mangrove.

Dan kampung Wonorejo terutama di RW 07 itupun dinobatkan sebagai kampung batik mangrove. Berkali-kali kunjungan wisatawan maupun pemerintahan selalu diarahkan ke kampung  ini. Selain ingin mengetahui proses membatik mangrove, wisatawan juga tertarik untuk membeli dan mencoba memasarkannya ke luar kota.

Kerap kali rumah para pembatik  menjadi tempat jujugan wisatawan. Pada rumah salah satu penggeraknya ada yang memang didisplay batik mangrove dalam berbagai bentuknya. Menurut, salah satu pembatik mangrove, mereka membatik di sela-sela kesibukan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga atau pekerja, tidak ada waktu khusus. Bahkan tidak ada pertemuan rutin untuk kumpul bersama. Namun diam-diam mereka telah menghasilkan beragam produk batik mangrove yang siap untuk dipasarkan.

Batik hasil kreasi ibu-ibu warga Wonorejo itu pun diberi label “Batik Seru” (Batik Mangrove Rungkut Surabaya). Batik mangrove sudah dikonsumsi para pejabat baik dilingkungan Dinas Provinsi Jawatimur maupun Dinas pemerintahan Kota dan Kabupaten di Jawatimur. Sehingga  batik mangrove terkenal ke berbagai wilayah di Jawatimur dan sekitarnya. Bahkan oleh Dinas Koperasi, batik mangrove sudah pernah di perkenalkan ke Singapura untuk menjajaki pasar di negara merlion itu.

Di tingkat lokal, batik mangrove juga bisa ditemui di semua pusat perbelanjaan di Surabaya. Ke depan, tambahnya, pihak-pihak terkait juga mulai melakukan penjajakan ke berbagai mal/plaza yang lain kota-kota besar di luar Surabaya di Indonesia. Wku DW

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Wku DW

Batik Mangrove, Surabaya

Batik Mangrove
Dikenalkan Sebagai
Khazanah Surabaya

Diakuinya batik sebagai world heritage oleh UNESCO, 2 Oktober 2009, kembali melejitkan citra batik sebagai salah satu asset budaya bangsa yang patut dibanggakan. Karena itu sejak diakuinya batik sebagai satusatunya milik Indonesia itu para perajin batik seperti menemukan gairahnyakembali.Diantaranya, dalam mengembangkan batik sebagai kreasi seni maupun sebagai komoditi ekonorni.

Dari sekian bentuk batik di Indonesia, harnpir semua kota merniliki ciri khas dan pola sesuai kultur kelokalannya masingmasing. Di antaranya ada batik Yogjakarta, Solo, Pekalongan, Banyurnas, Madura, Tuban, Sidoarjo dan banyak lagi. Dari sekian daerah itu, belurn pemah ada istilah yang menyebutkan batik Surabaya. Secara kultur sejarah batik di Surabaya memang belum pemah terdengar. Kalaupun ada mungkin tidak banyak yang tahu dan tenggelam jauh di zaman lampau.

Akan tetapi, temyata lewat tangan seorang Lulut Sri Yuliani (44), batik dengan khas Surabaya mulai dikenalkan. Sebuah produk batik yang dipatenkan sebagai batik mangrove, diproduksi oleh komunitas Griya Karya Tiara Kusuma dengan anggota para perajin ibu-ibu di Kelurahan! Kecamatan Rungkut, Surabaya.

Komunitas batik yang dipusatkan di perurnahan Kedung Asem Indah blok J-28 ini, bisa dikatakan sebagai pusat pengembangan batik mangrove yang berasal dari Surabaya. Sekilas jika memasuki kawasan pusat produksi batik mangrove ini, tidak ada hal yang istimewa yang menunjukan kawasan perumahan ini sebagai pusat, batik. Berbeda dengan daerah-daerah lainnya yang menjadi pusat batik. Disana-sini ada rumah yang menjadi show room atau tempat kegiatan pembuatan  batik.

Namun di perurnahan Kedung Asem ini yang ada hanyarurnah-rurnah penduduk biasa yang terkesan panas dan berdebu di antarajalan pavingan. Hanya saja saat memasuki rurnah Lulut Sri Yuliati, sebagai pencetus ide batik mangrove, barulah terlihat sedikit keasrian dengan rerimbunan tanaman yang tumbuh di depan rumah. Kemudian di teras rumah yang menjadi tempat eksperimen batik mangrove juga sedikit teduh dengan aneka tanaman mangrove yang menjadi obyek penelitian dan eksperimen.

Ketika bertemu Lulut, tidak ada kesan bahwa yang bersangkutan adalah seorang ahli batik.Penampilannyasederhana seperti layaknya ibu rumah tangga biasa. Namun, ketika sudah berbicara soal batik mangrove, barulah kita tahu bobot kepakarannya sebagai seorang intelektual yang sangat konsisten dalam mengembangkan mangrove.

“Saya merintis batik mangrove baru tahun 2007. Saat itu ramai sekali dengan pembalakan liar. Karena itu saya punya ide untuk menjadikan pohon mangrove sebagai tanaman budidaya untuk dilestarikan dan dimanfaatkan kegunaanya,” ujar Lulut.

Setelah melalui serangkaian proses eksperlmen pembmttan desian dan berhasil membuat 44 desain batik mangrove, tahun 2009 barulah batik mangrove ini diberdayakan bersama dengan masyarakat sekitar.

Menurut wanita yang sempat berprofesi sebagai guru TK hingga SMA itu, selama dua tahun sejak mencetuskan ide membuat batik mangrove, banyak sekali rintangan yang didapatkannya. Tidak hanya dilecehkan dan direndahkan, tetapi sebagian orang bahkan mencibir terhadap apa yang dilakukannya ini. Namun wanita yang belajar batik sejakmasih kuliahdiSastraJawa IKIP Negeri Surabaya ini tetap tegar dan sabar menghadapi semua cibiran tersebut. Bahkan dia optimis suatu saat apa yang dilakukannya akan membuahkan hasil yang baik.

Hasilnya memang bisa dirasakan, ketika sudah dibuat 44 design yang menjadi pakem batik mangrove ini, Lulut bersama dengan.Disnaker Kota Surabaya mulai mengadakan Pelatihan. Ini dilakukan untuk menularkan kemampuannya membatik kepada khalayak.

Pada awal pelatihan diikuti 120 perajin. Namun sampai saat ini jurnlah perajin menyusut menjadi 60 orang. “Memang tidak mudah menghidupkan batik di Surabaya. Karena itu meskipun pada awalnya banyak yang ingin belajar, di tengahjalan banyak juga yang keluar dan tidak meneruskan lagi,” tandas wanita kelahiran Surabaya 24 juli 1965 ini.

Namun dengan 60 orang perajin binaannya, batik mangrove temyata mengalami kemajuan yang cukup pesat. Sehingga, selain sudah bisa dipatenkan sebagai batik khas Surabaya, pemasaran batik mangrove juga sudah mulai merambah keluar daerah bahkan sudah sampai di Singapura. Ke depan, dan kini sedang dijajagi, batik mangrove ini akan dipasarkan ke California, Canada dan Australia.

Keunikan Batik Mangrove
Proses pembuatan batik mangrove memang berbeda dengan batik-batik pada umunya. Batik Mangrove proses pembuatannya dan bahan bakunya berasal dari unsur mangrove (bakmi), kemudian corak designnya juga berbentuk mangrove. Proses pewamaan batik mangrove dikerjakan dengan alami. Untuk perebusan warna dilakukan selama 10 hari. Bahan-bahan pewamaan batik mangrove lebih banyak dari limbah mangrove, antara lain kaliptropis, bin taro, pah, bringtonia, helgua gimnoriva.

Bahan pewamaan mangrove merupakan limbah pohon mangrove yang dibuat sirup namun masih bisa dimanfaatkan menjadi wama batik. Dari pewamaan ini kemudian diambil dengan canting. Kemudian saat membatik, perajin menggunakan kuas sebagai sarana untuk melukis kainnya. Menurut Lulut, digunakannya kuas untuk membatik tidak lain untuk menghemat malam.

Dalam membuat batik mangrove ini, 1 design hanya dibuat satu orang. Ini dilakukan agar batik mangrove terkesan lebih ekslusif. Karena ito setiap perajin batik mangrove dibekali 44 design pakem yang sudah dipatenkan itu, kemudian mereka kembangkan sesuai dengan daya nalarnya masing-masing. Sehingga corak dan bentuk batik sesuai dengan desain yang dibuat perajin satu dengan yang lain akan berbeda.

Yang membedakan batik mangrove dengan batik lainnya adalah dari segi wama. Jika batik lain wama bisa ditentukan atau direkayasa sesuai dengan. keinginan si pembatik, namun batik mangrove warnanya mengalami gradasi. Gradasi wama itulah yang menentukan desain batik. Karena warnanya yang tidak bisa diatur inilah membuat bentuk batik mangrove menjadi unik. Sebab proses gradasi warna terjadi secara aIami dari sifat bahan pewarna itu sendiri.

Keunikan inilah yang menjadikan batik mangrove menjadi ikon batik Surabaya. Sementara peralatan untuk membatik mangrove juga cukup sederhana, yakni dengan kompor kecil, canting, kuas dan peralatan unik lainya. Selain itu, untuk mencuei batik mangrove, juga ada sabun khusus. Karena itu, karakter batik yang halus sehingga saat meneucinya tidak bisa sembarangan. Untuk itu, sabun untuk komunitas Griya Karya Tiara Kusuma juga memproduksi sabun yang sesuai untuk mencuci batik mangrove.

Pemasaran Batik Mangrove
Pola dan sistem pemasaran batik man’grove tidak terlalu rurnit.  Selain mengikuti pameran batik seperti yang sudah dilakukan di beberapa tempat, di setiap kesempatan Lulut berusaha memperkenalkan batik di mana pun tempatnya. Demikian juga dengan para perajin di komunitas pembuat batik mangrove yang dibiayainya ini. Masing-masing perajin dipersilakan memperkenalkan dan memasarkan batik sendiri. Sehingga setiap komunitas maupun keluarga di lingkungan perajin batik mangrove ini puny a kebebasan untuk memasarkan batik mangrove.

Hanya saja yang mengikat masing-masing individu dalam melakukan pemasaran hanya satu, yakni tetap terikat kepada hak paten batik mangrove yang sudah menjadi merek dagang. Ini dilakUkan agar tidak ada saling klaim kelak di kemudian hari. Sebab, peristiwa seperti itu pernah dialami Lulut sebagai peneetus ide batik mangrove. “Saat itu ada mantan anggota binaan yang mengaku batik mangrove ini adalah karya dirinya. Namun agartidak berkepanjangan,sayalangsung daftarkan ke dinas terkait. Hasilnya kami diberi surat pengakuan batik mangrove adalah karya kami,” tukas wanita yang selalu bersikap ramahini. Harga batik mangrove bervariasi. Harga terendah berkisar an tara Rp 100 ribu hingga 500 ribu. Harga tertinggi berkisar antara Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta. Meski demikian, komunitas perajin batik mangrove yang dipimpin Lulut ini masih bersifat home industri. Sebab, sebagian besar anggota komunitas adalah kalangan ibu-ibu yang berada di sekitar Kedung Asem Rungkut Surabaya.

Sebagian besar pembatik mangrove masih termasuk orangorang yang memanfaatkan waktu luang. “Saat ini perkembangan pemasaran batik mangrove memang cukup meningkat. Akan tetapi untuk lebih mempertajam, masih perlu waktu. Karena sebagian besar perajin masih didorninasi oleh ibu-ibu yang menyisihkan waktu luang,” jelas Lulut.

Namun, tidaklamalagi, wanita yang pemah menjabat sebagai kepala sekolah salah satu SMA swasta di Surabaya ini mengaku akan membutuhkan banyak tenaga kerja, khususnya laki-laki muda. Karena perrnintaan dalam jumlah banyak sudah mulai berdatangan, sehingga harus dipersiapkan tenaga kerjanya. Salah satu yang menjadi plioritas komunitas batik mangrove untuk perekrutan tenaga kerja adalah dari kalangan pemuda-pemudi karang taruna yang masih nganggur.

Sementara itu program pemasaran ke depan adalah rajin mengikuti pameran-pameran. Diharapkan dengan mengikuti pameran akan mampu meningkatkan dayajual batik mangrove di pasaran. Sementara itu, hasil pemasaran batik mangrove ini juga sudah bisa dirasakan oleh perajin. Dalam satu minggu, perajin menyetor satu atau dua lembar batik. Dalam satu bulan rata-rata para pembatik bisa menyetorkan lebih dari 100 lembar kain.

Sedangkan permodalan pembuatan batik mangrove sampai saat ini masih mengandalkan permodalan mandiri. Hanya saja, Dewan Kerajinan Daerah Pernkot Surabaya sudah memberikan bantuan stimulus sebesar Rp 2 juta. Meski demikian, ada bantuan maupun tidak, Lulut cs bertekad akan terus berusaha agar batik mangrove ini tetap eksis. (tur)

 
Teropong, Edisi 48, November – Desember 2009, hlm. 45