Batik Tulis Citaka Dhomas, Kediri

logo-citaka-dhomas-newBatik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad delapan belas atau awal abad sembilan belas. Semuanya bermula dari batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Kediri masuk dalam catatan sejarah batik. G.P. Rouffaer melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda.

Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

 Adi Wahyono, S.Pd., pria yang lahir di desa Menang 25 Oktober 1975 ini adalah perintis Perusahaan Rumah Batik Citaka Dhomas  yang beralamatkan di  Jalan Joyoboyo 415 desa Menang RT 01/ RW 03, tak jauh dari petilasan Joyo Boyo, di Menang, Pagu, Kediri. Email : citakadhomas@gmail.com, HP : 085 258 271 028. Rumah Batik Citaka Dhomas memiliki tenaga kerja, cukup mahir, detail motif yang mereka kerjakan cukup rumit (ujarnya Adi). Meski baru lima tahun membatik, Adi Wahyono sudah punya nama di Kediri. Pagelaran duta wisata Raka-Raki Jawa Timur kerap menggunakan batiknya. Sudah banyak pelanggan dari dalam dan luar kota.

Bagi Adi Wahyono, membatik bukanlah sesuatu yang baru, karena pengetahuan tersebut sudah merupakan ketrampilan warisan secara turun menurun didapat dari neneknya adalah seorang pembatik. Semenjak kecil tangannya sudah terampil menggoreskan canting di atas selembar kain. Dan ketrampilan terseut bertambah terasa dan semakin nyata; dengan bekal pendidikan seni rupa yang didapatnya dari UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Sebelumnya, Adi Wahyono bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan mebel, setelah sepuluh tahun bekerja; panggilan batin mendorongnya untuk melanjutkan tradisi membatik yang diwariskan turun-temurun dari nenek buyutnya; yang dikenal sebagai pembatik langganan kaum priyayi pada jaman dulu.

Corak Sejarah Batik Citaka Dhomas

Awalnya, Adi Wahyono dengan sarung batik pemberian sang nenek saat dia dikitan dulu. Walaupun sarung itu sudah rusak, sudah tinggal separuh. Namun masih tampak jelas motif batik pada sarung itu. Dia sangat suka dengan motifnya. Setelah dia pelajari lebih mendalam, barulah dia tahu kalau itu adalah motif adi luhung.

Dengan motif itulah dia mulai membuat batik. Kegemarannya menggali motif-motif  batik semakin memperkokoh namanya di antara para pembatik lokal di Jawa Timur. Pada tahun 2009, dia mendirikan Rumah Batik Tulis “Citaka Dhomas” dan mulai membatik secara profesional. Tak cukup puas dengan pengetahuan yang sebelumnya pernah dia miliki; Adi Wahyono juga memperdalam ilmu membatiknya pada seorang pembatik kenamaan dari di Bantul, Jogjakarta. Karena dedikasinya yang tinggi dalam membatik, namanya cukup dikenal di kalangan para pejabat lokal. Karya batiknya dihargai mahal karena memiliki nilai seni yang tinggi, dan dikerjakan dengan teknik membatik yang nyaris sempurna. Hal itu bisa kita lihat dari kualitas bahan, kerapian, detail dan keindahan warna. Batik Citaka Dhomas memiliki nilai lebih, motif – motif  batiknya tak lepas dari relief di  berbagai situs sejarah dan budaya di Kediri: Candi, patung, lingga yoni dan prasasti kuno.

Sebagai salah satu UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang ada di Kabupaten Kediri, Adi Wahyono dan Citaka Dhomasnya diberikan kesempatan untuk mengikuti even-even pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kesungguhannya menekuni seni kerajinan batik juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas. Dalam sebuah ajang lomba desain batik tingkat Kabupaten Kediri tahun 2010; Adi Wahyono berhasil meraih juara 1 untuk kategori fauna, Juara 2 untuk kategori flora dan Juara 2 untuk kategori bebas.

Pembatik muda umumnya menyukai motif  kontemporer, namun pembatik satu ini sangat  berbeda,  Batik- batik garapannya tergolong khas dan klasik. Hal ini dibuktikan dengan beberapa motif yang dibuatnya sebagian besar ide pemikarannya berasal diilhami dari situs situs sejarah dan budaya. Baik relief dan ornamen di candi, patung, lingga yoni serta berbagai gambar yang tampak di situs budaya dan bersejarah yang ada di Kediri. Adi Wahyono yang menangani sendiri batik Citaka Dhomas ini. Laki-laki yang bermukim ini turun tangan sendiri menuangkan gambaran batik dalam pikirannya ke sehelai kain dengan mengangkat kearifan lokal.

Rumah Batik Citaka Dhomas telah memiliki 10 motif pakem yang khas dan klasik. Diantaranya:

  • Motif batik Loka Moksa mengambil gambar lingga yoni di situs budaya petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo. Batik berwarna dasar coklat, diambil dari warna alam.
  • Motif batik Tunjung Sewu yang inspirasi motifnya dari Candi Surowono. Di dinding candi, dia menemukan relief teratai miring.
  • Motif batik ‘Sawung Tunjung Tejamaya’ menunjukkan beberapa simbol; ayam bekisar sebagai ikon Jawa Timur, Astadala dan gambaran relief ‘Surya Majapahit’ di dinding candi Tegowangi.
  • Motif batik Candrakapala, simbol kerajaan Kediri yang diperoleh dari prasasti Tangkilan.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna Sentetis

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-1

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-2batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-3batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-4Dari beberapa karya batik muncul di pasaran, saat diamati nampak batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-5batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-6kemiripan dengan motif  batiknya. Tidak masalah jika ada batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-7yang meniru batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-8batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-9motifnya, sebab batik karya Adi Wahyono dengan Citaka Dhomasnya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-10memiliki kekhasan tersendiri. Proses membatiknya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-11batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-12batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-13batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-14cukup detail. Awalnya, Adi berdiskusi dengan pakar sejarah. Setelah itu, dia melakukan riset. Mulai melakukan pengamatan relief-relief secara langsung, memotret hingga mencari referensi sejarahnya. Kemudian, dia menggali dari sisi batiknya. “Kalau dibuat batik ‘kan nggak mungkin gambar aslinya, istilahnya ada penggayaan,” ungkap suami Hidayati Sofiah ini.

Namun, ada satu yang tak bisa lepas dari Adi. Dia tak pernah meninggalkan bunga teratai dalam setiap karyanya. Dia merasa sudah berada pada rel yang akan terus dijalaninya, mengangkat budaya dan sejarah lokal.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna alam

 

 

 

batik_tulis_warna_alam1

batik_tulis_warna_alam4

batik_tulis_warna_alam5

batik_tulis_warna_alam6

batik_tulis_warna_alam10batik_tulis_warna_alam8

 

 

 

 

 

batik_tulis_warna_alam15

 

 

batik_tulis_warna_alam11

 

batik_tulis_warna_alam13

batik_tulis_warna_alam12

batik_tulis_warna_alam14

 

batik_tulis_warna_alam9

batik_tulis_warna_alam7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

——————————————————————————————-Rumah Batik Tulis Citaka Dhomas
http://batikcitakadhomas.com

Batik Tulis, Pondok Pesantren, Kabupaten Pamekasan

PP. Miftahul Ulum Pamekasan, Batik Tulisnya Merambah Malaysia dan Arab Saudi. 

Siapa sangka kerajinan batik bisa diproduksi dari pondok pesantren? Tapi itulah yang dilakukan PP. Miftahul Ulum Kebun Baru Pamekasan. Kerajinan batik tersebut tak begitu sulit dilakukan insan- insan pesantren. Sebab tradisi batik se­cara turun temurun telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kultur masya­rakat Madura khususnya masyarakat Pamekasan.

Latar sosial yang demikian itulah, yang mendorong usaha batik di pesantren ini menjadi sangat menonjol. Memang cukup banyak sentra kerajinan batik di pulau Madura. Seperti sentra batik tulis Tanjung Bumi di Bang­kalan, sentra batik tulis Banyumas Klam-par di Pamekasan, dan sentra batik tulis Pekandangan di Sumenep. Kebanyakan sentra batik Madura merupakan usaha kecil menengah, yang dikeijakan di ru­mah-rumah. Kegiatan membatik sudah menjadi kegiatan mengisi waktu luang bagi ibu-ibu di sana.

Di Pamekasan sendiri, banyak peng­rajin dan pengusaha batik bermukim dan mengembangkan usahanya di wilayah tersebut. Bahkan daerah ini dikenal se­bagai salah satu sentra industri kerajinan batik yang paling banyak dihuni para pengrajin dan pengusaha batik. Tradisi batik yang tertanam cukup kuat di kalang­an masyarakat, telah membuat budaya membatik dan memakai kain batik terpe­lihara dengan baik di daerah tersebut.

Kian waktu para pengrajin dan pe­ngusaha batik di pulau garam semakin bergairah memproduksi kain batik. Kegai­rahan itulah yang mendorong PP. Mifta­hul Ulum – yang lebih dikenal dengan pesantren Kebun Baru – bertambah giat dalam memproduksi batik. Produk ter­sebut kerap menghadirkan motif-motif terbaru dan batik tulis Madura, yang mu­dah didapat dan dijangkau oleh lapisan masyarakat manapun. Tangan-tangan terampil dari insan-insan pesantren itu sangat kreatif. Itulah yang membuat masyarakat merasa senang dan kian akrab dengan kerajinan batik hasil karyanya. Produk mereka^ak saja terdistribusi ke pasar-pasar di wilayah Madura, melainkan juga menyebar di berbagai agen di Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, serta di kota-kota metropolitan di penjuru tanah air.

Yang lebih membanggakan lagi, kreativitas tangan-tangan halus me­reka sudah bisa dinikmati oleh pecinta batik tulis di luar negeri, karena batik tulis produksi pondok Kebun Baru sudah me­rambah ke Malaysia dan Arab Saudi. Di pesantren ini, batik tulis bahkan telah menjadi kurikulum muatan lokal yang diajarkan pada sekolah-sekolah di lingkungan pondok Kebun Baru. Menu­rut Abdul Aziz, S.Pd.I, seorang guru ke­terampilan yang mengajarkan batik tulis di sana, pelajaran keterampilan membatik sudah diajarkan sejak tahun 1970. “Seba­gai bentuk seni budaya, batik tulis Ma­dura memang banyak diminati konsumen baik lokal maupun internasional,” tan­dasnya.

Kepopuleran batik tulis Madura, dikarenakan motifnya memiliki keunikan tersendiri; warna-warnanya terkesan sa­ngat berani – yang itu tak dimiliki batik tulis dari daerah lain. Gaya dan modelnya juga sangat bebas, serta mempunyai ka­rakter yang kuat. Dengan lebih dari seribu motif, wajar jika batik tulis Madura menjadi terkemuka di pasaran. Namun demikian, para pengusaha batik di sana masih mempertahankan produksi tradisional, yang ditulis dan diolah dengan cara tradisional. Itulah pasalnya, kenapa pesantren Kebun Baru juga mempertahankan hal yang sama. Meski pondok ini pernah memperoleh bantuan alat pengecapan batik dan disain komputer dari Dinas Perindustrian, agar dapat membantu produktivitasnya secara lebih efektif dan efisien, namun bantuan tersebut tidak terpakai.

Alasannya, karena mereka tetap mempertahankan Sifat tradisional yang sudah melekat  pada karya batik tulis Madura. Mereka khawatir dengan bantuan peralatan tersebut akan menghilangkan nuansa tradisional yang sudah dikenal oleh semua kalangan pencinta Tentu saja pesantren Kebun Baru tak hanya memproduksi kain batik saja. Sebab pondok ini juga dikenal dengan produk sarung dan sandalnya. Produksi sarung yang berlabel “Sarung Kebun Baru”, adalah merupakan hsiij^asama sarung BHS Gresik. Sarung tersebut telah dipasarkan di pasar-pasar swalayan dan juga pada para pemesan. Sedangkan mengenai sandal yang diproduksinya, adalah merupakan hasil kerja-sama dengan pabrik sandal di Jember.

Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pondok Pesantren ini didirikan tanggal 14 Ramadlan 1391 H. bertepatan pada dengan tanggal 1 Januari 1970 M. oleh (alm.) K.H. Asy’ari bin Basyiruddin. Pondok Miftahul Ulum Kebun Baru memang dikenal kemandiriannya di bidang ekonomi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : MPA 314 I November 2012, hlm. 28

 

Pesona Batik Tulis Madura

HJ. Tarwiyah, Pesona Batik Tulis Madura Mempertahankan Warisan Budaya

BATIK Madura kini mulai berkembang.Setiap Kabupaten di Pulau Madura memiliki ciri khas batik yang unik. Salah satunya batik tulis Sumenep yang terkenal dengan batik tulis Al Barokah. Batik tulis ini terpusat di Desa Pekandangan Barat, Kecamatan Bluto. Wanita dibalik sukses Batik Al Barokah adalah Ny. Hj. Tarwiyah.

Wanita berusia 52 tahun dengan tiga orang anak mengawali usahanya dari rumahnya tahun 1991 hingga terkenal dan gerai batiknya dicari orang. Disitulah Ny.  Tarwiyah mulai mengukir mimpinya jadi kenyataan. Sebelum membatik, Ny. Tarwiyah bekerja sebagai penjual nasi di pasar. Kemudian ia coba-coba terjun dalam dunia bisnis batik tulis. Karena yang menjadi kendala utama adalah modal, Hj. Tarwiyah merasa ragu untuk menjalani bisnis ini. Tetapi lama kelamaan permintaan semakin besar dan orang-orang banyak yang menganjurkan untuk tetap mengembang kan usahanya tersebut.

Dari itulah ia menggeluti bisnis nya dengan serius hingga sekarang membuahkan hasil yang pesat. Batik tulis Al Barokah, kini sudah dikenal di berbagai kota di Indonesia, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Bali, Yogyakarta, Semarang, Bandung, dan Pontianak, Kali mantan Barat. Sebelum dikenal, Ny. Tarwiyah menjual batiknya dengan cara door to door dan berkeliling ke pasar-pasar. Aktivitas berjualan keliling itu berjalan sekitar 10 tahun. Pahit dan manis berdagang sudah ia rasakan.

Bahkan saat hamil pun ia pantang menyerah untuk tetap berjualan. Ciri khas batik tulis ini terletak pada paduan warnanya yang terang, dido minasi oleh warna merah dan pewarnaan yang sangat tajam. Selain itu, motifnya selalu berpadu dengan gambaran kehidupan di sekitarnya. Ada yang menunjukkan dengan ciri kehidupan pesisir seperti laut, sisik ikan, kerang, atau unsur rumput laut.

Ada juga yang ber motif flora dan fauna seperti dedaunandan ayam. Ada pula yang menvisualisasikan karapan sapi dan garam. Sepintas memang nampak norak, tetapi justru itulah yang menjadi karakter batik Madura dan disukai oleh wisatawan manca negara. “Kalau Batik Sumenep yang banyak dicari orang yang bermotif burung dan ayam,” terang Ny. Tarwiyah. Sedang umtuk harga kain batik tulis bervariasi, mulai dari Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah.

Saat ini ada sekitar 70 orang tetangga yang menggarap batik tulisnya. Ny. Tar wiyah memang istiqamah memproduksi batik tulis yang dibuat secara tradisional. Ia tak tergiur dengan iming-iming cepat nya perputaran uang dari batik printing karena harga jualnya yang lebih murah. Umumnya para pembatik mendapatkan uang Rp 25.000 -27.000 untuk setiap lem bar kain batik tulis yang dihasilkan.

Biaya tersebut masih belum termasuk harga bahan mori yang bermacam-macam kualitasnya. Kain mori pun tidak langsung dibatik, melainkan dicelupkan dalam minyak kapuh, di Desa Pekandangan dinamakan minyak kesampi. Pencelupan kain mori dilakukan berkali-kali agar warna hasil membatik bisa menempel kuat. Nilai budaya yang tersirat dalam selembar kain menghasilkan karya seni estetik. Batiknya berdasar putih (tarpo tihan). Motif utama dalam batik Sumenep adalah gambar burung, ikan, dan bunga. Dari motif utama ini, modifikasi dilakukan supaya motif terus berkembang.
Cita rasa seseorang dalam menghar gai sebuah seni itu bermacam-macam kadarnya karena kain batik buatan pabrik berupa kain cap atau printing tentunya akan sangat berbeda dengan perkem bangan batik tulis. Dalam satu hari jika memproduksi batik tulis sebanyak 2-3 lembar kain untuk setiap pembatiknya belum termasuk pewarnaan dan proses finisingnya. Setidaknya diperlukan waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. Sementara buatan pabrik dalam sehari bisa memproduksi ratusan bahkan ribuan kain dengan satu motif yang sama. “Itu yang membuat batik tulis lebih mahal daripada batik cap printing karena proses pembutannya yang rumit, pelibatan tenaga kerjanya juga tidak sedikit,” ungkap Ny. Tarwiyah saat menceritakan perjalanan usahanya.

Dalam hal pemasaran, yang men jadi kendala utama adalah kurang pekanya pemerintah dalam melindungi para pengrajin batik tulis itu sendiri. Harapan yang disampaikan kepada masyarakat dan pemerintah berhu bungan dengan seni batik sebagai leluhur budaya.”Kami berharap agar da lam hal ini pemerintah juga mempunyai andil dalam melindungi para pengrajin batik tulis Madura secara khusus. Mini­mal di tingkatan Kabupaten ada model- model seperti art galery layaknya di Surabaya,” kata Ny. Tarwiyah. Untuk perkembangan batiknya sendiri, ia berharap kelak dapat membuka butik tentunya dengan nuansa batik yang beranekaragam. mgg-Ina Herdiyana

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, EDISI 69, TAHUN VII, JUNI 2012, hlm.6

Batik Tulis, Kota Mojokerto

 

Batik Tulis kota Mojokerto memiliki kekhasan corak dan warna tersendiri. Sangat pantas untuk dibeli sebagai suvenir.

Produksinya ada yang berupa lembaran kain, ada juga yang sudah berbentuk baju atau jenis pakaian lainnya.

Untuk mendapatkan suvenir batik Mojokerto ini anda bisa membelinya langsung di sentra produksinya yang terletak di wilayah Kelurahan Surodinawan dan Meri. Anda juga bisa memesan corak khusus sesuai selera.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kota Mojokerto: 24 hours city tour, [Brosur], Surabaya: Bagian Perekonomian Pemerintah Kota Mojokerto, (2011).