Biografi Bung Tomo.

Alhirnya Gelar Pahlawan Nasional Diterima

Bung Tomo yang lahir pada 3 Oktober 1920 merupakan ikon Hari Pahlawan. Pria asal Blauran, Surabaya, itu menjadi tokoh penting dalam Pertempuran 10 November 1945, saat tentara NICA masuk ke Surabaya. Tapi baru tahun ini (2008) pengakuan sebagai pahlawan nasional didapatnya.

“Saudara-saudara. Kita pemuda-pemuda rakyat Indonesia disuruh datang membawa senjata kita kepada Inggris dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah dan takluk kepada Inggris….”

“Inilah jawaban kita, jawaban pemuda-pemuda rakyat Indonesia: Hai Inggris, selama banteng-banteng, pemuda- pemuda Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, selama itu kita tidak akan menyerah….”

“Teman-temanku seperjuangan, terutama pemuda- pemuda Indonesia, kita terus berjuang, kita usir kaum penjajah dari bumi kita Indonesia yang kita cintai ini. Sudah lama kita menderita, diperas, diinjak-injak….”

“Sekarang adalah saatnya kita rebut kemerdekaan kita. Kita bersemboyan: Kita Merdeka atau Mati. Allohu Akbar… Allohu Akbar…. Allohu Akbar…. Merdeka    !”

Itulah pidato yang selama ini dikenal masyarakat sebagai simbol kepahlawanan Bung Tomo dalam menggelorakan semangat juang Arek-arek Suroboyo untuk menghadapi NICA pada 10 November 1945.Tak mengherankan bila Bung Tomo menjadi ikon dalam setiap peringatan hari pahlawan. Sayangnya gelar pahlawan, baru didapatnya pada peringatan hari pahlawan tahun ini.

Gelar pahlawan untuk Bung Tomo sebetulnya sudah pernah diajukan yaitu pada 1990 dan 1995, tapi semuanya ditolak. Alasannya karena ada persyaratan administrasi yang belum dipenuhi yaitu karena belum diseminarkan didaerah. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah ada pihak yang keberatan dengan pengangkatan Bung Tomo menjadi pahlawan nasional atau tidak. Setelah diseminarkan kemudian akan diteliti oleh Badan Penelitian Pahlawan Pusat.

Perjalanan memang cukup berliku untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Salah satunya upaya yang telah dilakukan Tim Pengusul Jasa Pahlawan Besar Bung Tomo sebagai Pahlawan Nasional.Tim pengusul tersebut terdiri atas akademisi, tokoh masyarakat, pemerintah dan swasta.Tim ini menggalang sejuta tanda tangan sebagai desakan kepada pemerintah dengan menggelar kain putih berukuran 1 X 4 meter sebanyak tiga lembar. Kain tersebut dibeber selama 2 hari di Jl Pemuda.

Penggalangan sejuta tanda tangan dilakukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dukungan pada pemerintah pusat agar menetapkan Bung Tomo sebagai pahlawan nasional. Sebelumnya, tim pengusul ini juga telah menggelar serangkaian seminar sebanyak tiga kali menyangkut ketokohan Bung Tomo.

Berbagai upaya tersebut nampaknya telah membuahkan hasil dengan ditetapkannya Bung Tomo sebagai Pahlawan Nasionl pada tahun ini. Gelar Pahlawan Nasional itupun diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada keluarga Bung Tomo pada 9 Nopember. Penyerahan gelar kepahlawanan tersebut dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2008.

Tapi sebelumnya sempat muncul kontroversi. Karena saat itu muncul spekulasi diantara 11 nama yang diusulkan oleh Depsos tidakterdapatnama Bung Tomo. Tapi kemudian pada awal Nopember, Menkominfo, Mohammad Nuh menganulir berita tesebut dan menyatakan nama Bung Tomo telah ada diantara 11 nama yang diajukan. Dan Bung Tomo termasuk4 nama yang telah disetujui. “Presiden sudah sampaikan ke saya bahwa Bung Tomo akan diresmikan sebagai pahlawan nasional,”tegasnya.

Sikap Bung Tomo

Pria bernama asli Sutomo itu meninggal di Makkah pada 7 Oktober 1981. Salah satu wasiat Bung Tomo kepada keluarga adalah tidak mau dimakamkan di taman makam pahlawan. Sikap itulah yang kemungkinan membuat pemerintah tersinggung sehingga 27 tahun setelah Bung Tomo meninggal baru diakui sebagai pahlawan nasional.

Sosok Sutomo, arek Blauran Surabaya ini memang dikenal konsisten dalam sikap dan kritis dalam pemikirannya. Bahkan karena kekritisannya tersebut ia pernah mendekam di penjara Kramatjati, Jakarta Timur, selama setahun (11 April 1978 -11 April 1979). Sikap kritis BungTomo itu terekam dalam dokumen tentang pemikiran, surat, dan artikel politiknya yang tertuang dalam buku Bung Tomo Menggugat.

Buku ini mengungkapkan sebagian kecil pemikiran Bung Tomo, baik yang berupa artikel dan surat yang sudah dipublikasikan maupun belum, yang ditulis dari tahun 1955—1980, setahun sebelum meninggal. Ada dua kesan mendalam yang bisa dipetik setelah membaca seluruh tulisan Bung Tomo ini. Pertama, kita seolah-olah dibawa kembali ke masa silam untuk mengikuti alur sejarah bangsa ketika tulisan

itu ditulis. Kedua, kita akan mengetahui dan memahami semangat dan konsistensi Bung Tomo sebagai pejuang yang benar-benar ingin membebaskan bangsanya dari belenggu penjajahan dan kemiskinan.

Dari sana kita bisa melihat keberanian, kejujuran, dan kepolosan Bung Tomo dalam menghadapi situasi dan kondisi zamannya. Betapa tidak? Dia tanpa tedeng aling- aling, tanpa sungkan, dan tanpa ewuh pakewuh dengan beraninya mengkritik kebijakan Bung Karno, Soeharto, serta para pejuang, baik kaum politisi maupun militer pada zamannya. Kritik yang tidak sekadar njeplak atau asbun (asal bunyi), tetapi kritik yang didasari fakta dan disertai solusi yang bijak.

Dalam salah satu surat terbuka kepada Bung Karno, BungTomo menulis,”Bung Karno, betapa saya tidak gelisah, mengingat bahwa kepala pemerintahan dewasa ini adalah penggali Pancasila, sedangkan rakyat jelata rata-rata belum merasakan kemanfaatan dan kemaslahatan Pancasila…”

“Kedaulatan rakyat telah lama diinjak-injak oleh pembantu-pembantu Bapak Presiden yang terdekat pada masa lampau, keadaan sosial tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Pada saat rakyat jelata hidup menderita merana, orang-orang yang terdekat dengan Bapak Presiden menyusun mahligai kemewahan….”

“Yang lebih seram lagi adalah isteri-isteri para penguasa tertinggi yang secara sendiri menguras kekayaan negara untuk memuaskan nafsu pribadinya, berfoya-foya di luar negeri, menimbun kekayaan di dalam negeri! Sedangkan para penguasa berbuat seolah-olah (pura-pura) tidak tahu semuanya itu…”

Sedang kritik pada Soeharto terkait dengan kedekatan “Cendana” pada salah satu konglomerat. Kedekatan itulah yang dikatakan telah membuyarkan cita-cita orde baru dan menggerogoti kewibawaan presiden. Digesernya Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo dari Mentri Perdagangan salah satu akibat dari kedekatan tersebut “….Secara diam-diam, rakyat mulai tidak senang pada kepemimpinan kawan.

Bung Tomo juga bersurat kepada Presiden AS terkait dengan masalah GAM. Dalam suratnya kepada Presiden AS Eissenhower, BungTomo mempertanyakan sikap AS terhadap RMS, Hasan Tiro (GAM), dan negara-negara di kawasan Asia- Afrika yang dapat mendorong tumbuhnya perdamaian di dunia, (berbagai sumber/gt)

kami Soeharto, tetapi tidak berani.” Bunyi surat Bung Tomo.

 

Nama Sutomo (Bung Tomo)
Lahir Surabaya, 3 Oktober 1920
Wafat Makkah, 7 Oktober 1981
Ayah Kartawan Tjiptowidjojo
Jabatan Penting Menteri Negara Kabinet Burhanuddin Harahap
(12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956
)—————————————————————————————————————————– dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : 341 Kontak Sosial, Edisi Semester II, 2008

KH. M. Hasyim Asy'ari pendiri pesantren Tebuireng

KH. M. Hasyim Asy'ari0001KH. M. Hasyim Asy’ari  juga sebagai pengasuh pesantren Tebuireng Periode Pertama (1899 – 1947), KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (selanjutnya disingkat Kiai Hasyim) adalah pendiri pesantren Tebuireng, tokoh ulama dan pendiri NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Namanya sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia. Pahlawan Nasional ini merupakan salah satu tokoh besar Indonesia abad ke-20.

Kelahiran dan Masa Kecil
Kiai Hasyim lahir pada Selasa Kliwon, 24 Dzul Qa’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M, di pesantren Gedang, desa Tambakrejo, sekitar 2 km. ke arah utara kota Jombang. Putra ketiga dari 11 bersaudara pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. Kiai Asy’ari adalah menantu Kiai Utsman, pengasuh pesantren Gedang.
Dari jalur ayah, nasab Kiai Hasyim bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng), yang berputra Karebet atau Jaka Tingkir. Dalam sejarah tercatat Jaka Tingkir adalah raja Pajang pertama (tahun 1568 M) dengan gelar Sultan Pajang atau Pangeran Adiwijaya.
KH. M. Hasyim Asy'ari0002Bakat kepemimpinan Kiai Hasyim sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Ketika bermain dengan teman-teman sebayanya, Hasyim kecil selalu menjadi penengah. Jika melihat temannya melanggar aturan permainan, ia akan menegurnya. Dia membuat temannya senang bermain, karena sifatnya yang suka menolong dan melindungi sesama.
Pada tahun 1293 H/1876 M., tepatnya ketika berusia 6 tahun, Hasyim kecil bersama kedua orang tuanya pindah ke Desa Keras, sekitar 8 km. selatan pusat kota Jombang. Kepindahan mereka adalah untuk membina masyarakat di sana.
Di Desa Keras, Kiai Asy’ari diberi tanah oleh Kepala Desa, yang kemudian digunakan untuk membangun rumah, masjid, dan pesantren. Di sinilah Hasyim kecil mendapat pendidikan dasar-dasar ilmu agama dari orang tuanya. Hasyim juga dapat melihat secara langsung bagaimana ayahnya membina dan mendidik para santri. Hasyim hidup menyatu bersama santri. Ia mampu menyelami kehidupan santri yang penuh kesederhanaan dan kebersamaan. Semua itu memberikan pengaruh yang sangat besar pada pertumbuhan jiwa dan pembentukan karakter di kemudian hari. Hal ini ditunjang oleh kecerdasannya yang memang brilian. Dalam usia 13 tahun, Hasyim sudah bisa membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar daripada dirinya.
Disamping cerdas, Hasyim juga dikenal rajin bekerja. Watak kemandirian yang ditanamkan sang kakek, mendorongnya untuk berusaha memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Itu sebabnya, Hasyim selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar mencari nafkah dengan bertani dan berdagang. Hasilnya kemudian dibelikan kitab dan digunakan untuk bekal menuntut ilmu.

Mencari Ilmu
Pada usia 15 tahun, remaja Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya untuk berkelana memperdalam ilmu pengetahuan. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonorejo Jombang, lalu pesantren Wonokoyo Probolinggo, kemudian Pesantren Langitan Tuban, dan Pesantren Trenggilis Surabaya. Belum puas dengan ilmu yang diperolehnya, Hasyim melanjutkan rihlah ilmiyahnya ke Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, di bawah asuhan Kiai Kholil bin Abdul Latif yang terkenal waliyullah itu.
Setelah lima tahun menuntut ilmu di Bangkalan, pada tahun 1307 H/1891 M., Kiai Hasyim kembali ke tanah Jawa dan belajar di pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, di bawah bimbingan Kiai Ya’qub. Pemuda Hasyim belajar selama 5 tahun di sana. Lalu pada usia 21 tahun, dia dinikahkan dengan Nafisah, salah seorang puteri Kiai Ya’qub. Pernikahan itu dilangsungkan pada tahun 1892 M/1308 H.
Tidak lama kemudian, Kiai Hasyim bersama istri dan mertuanya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Kesempatan di tanah suci juga digunakan untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu hadis. Tujuh bulan telah berlalu, Nyai Nafisah pun melahirkan seorang putera yang diberi nama Abdullah. Kiai Hasyim bersama istri dan mertuanya sangat bahagia dengan kelahiran bayi mungil tersebut.
Perjalanan hidup terkadang sulit diduga; gembira dan sedih datang silih berganti. Demikian juga yang dialami Kiai Hasyim. Di tengah kegembiraan memperoleh buah hati, sang istri mengalami sakit parah dan kemudian meninggal dunia di tanah suci Mekah.
Empat puluh hari kemudian, putra beliau, Abdullah wafat menyusul sang ibu. Kesedihan Kiai Hasyim nyaris tak tertahankan. Namun beliau selalu ingat kepada Allah dengan melaksanakan thawaf dan ibadah-ibadah lainnya. Beberapa bulan kemudian, Kiai Hasyim kembali ke Indonesia untuk mengantar mertuanya pulang.

Kembali ke Tanali Suci
Kerinduan akan tanah suci mengetuk hati Kiai Hasyim untuk kembali lagi ke kota Mekah. Pada tahun 1309 H/1893 M, beliau berangkat kembali ke Mekah bersama adik kandungnya, Anis. Namun Allah kembali menguji kesabaran Kiai Hasyim, karena tak lama setelah tiba di Mekah, Anis dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Peristiwa ini tidak membuat Kiai Hasyim hanyut dalam kesedihan. Kiai Hasyim justru semakin mencurahkan seluruh waktunya untuk belajar dan mendekatkan diri kepada Allah. Di tengah-tengah kesibukan menuntut ilmu, beliau menyempatkan diri berziarah ke tempat-tempat mustajab, seperti Padang Arafah, Gua Hira’, Maqam Ibrahim, termasuk ke makam Rasulullah SAW. Setiap Sabtu pagi beliau berangkat menuju Goa Hira’ di Jabal Nur, kurang lebih 10 km. di luar Kota Mekkah, untuk mempelajari dan menghafalkan hadis-hadis Nabi.
Setiap berangkat menuju Goa Hira’, Kiai Hasyim selalu membawa al-Qur’an dan kitab-kitab yang ingin dipelajarinya. Beliau juga membawa perbekalan untuk dimakan selama enam hari di sana. Jika hari Jum’at tiba, beliau bergegas turun menuju Kota Mekkah guna menunaikan salat Jum’at di sana.
Kiai Hasyim juga rajin menemui ulama-ulama besar untuk belajar dan mengambil berkah dari mereka. Guru-guru Kiai Hasyim selama di Mekkah, antara lain: Syeikh Syuaib ibn Abdurrahman, Syekh Mahfudzh at-Turmusi, 7 Syekh Khatib al-Minangkabawi,8 Syekh Ahmad Amin al- Atthar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said al-Yamani, Syekh Rahmatullah, dan Syekh Bafaddhal.
7Syekh Mahfudh at-Turmusi berasal dari Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Saat itu Syekh Mahfudh menjadi pengajar di Masjid al-Haram dan merupakan ulama ahli hadis berkaliber internasional di Makkah yang menjadi kebanggaan bangsa Melayu. Sama seperti Kiai Kholil Bangkalan, Syekh Mahfudh adalah murid Syekh Nawawi al-Bantany. Kiai Hasyim menjadi murid kesayangan Syekh Mahfudh, karena selain cerdas, Kiai Hasyim juga merupakan murid Kiai Kholil Bangkalan yang merupakan kawan seperguruannya.
8Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi merupakan ulama yang banyak terpengaruh oleh gerakan reformasi Muhammad Abduh di Makkah. Sewaktu berguru pada Syekh Ahmad Khatib ini, Kiai Hasyim belajar bersama Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syansuri, dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Mereka itu nantinya akan menjadi kiai-kiai besar di Indonesia.
Sejumlah sayyid juga menjadi gurunya, antara lain: Sayyid Abbas al-Maliki, Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas, Sayyid Alwi al-Segaf, Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi, dan Sayyid Husain al-Habsyi yang saat itu menjadi mufti di Makkah. Di antara mereka, ada tiga orang yang sangat mempengaruhi wawasan keilmuan Kiai Hasyim, yaitu Sayyid Alwi bin Ahmad al-Segaf, Sayyid Husain al-Habsyi, dan Syekh Mahfudzh al-Turmusi.*,Dari Syeikh Mahfudh, Kiai Hasyim menganut faham bermadzhab dan memperoleh ijazah (legitimasi pewarisan) tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah. Di samping itu, Syekh Mahfudh sebagai isnad (mata rantai) terakhir dari 23 generasi penerima Shahih Bukhari yang ditulis ribuan tahun yang lalu, juga mengijazahkan isnad tersebut kepada Kiai Hasyim. Inilah diantara faktor yang menjadikan Kiai Hasyim sebagai kiai pertama di tanah Jawa yang mengajarkan kitab hadis lengkap dengan sanadnya.
Setelah ilmunya dinilai mumpuni, Kiai Hasyim dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram bersama tujuh ulama Indonesia lainnya, seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Anmad Khatib al-Minakabawi, dll. Di sana beliau mempunyai banyak murid dari berbagai negara. Diantaranya ialah Syekh Sa’dullah al-Maimani (mufti di Bombay, India), Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Mekkah), Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria), KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), K.H.R. Asnawi (Kudus), KH. Dahlan (Kudus), KH. Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang), dan KH. Shaleh (Tayu).
Pada tahun ketujuh di Makkah—tepatnya tahun 1899 (1315 H)— datang rombongan jamaah haji dari Indonesia. Diantara rombongan terdapat Kiai Romli dari desa Karangkates Kediri, beserta putrinya yang bernama hadijah. Kiai Romli yang bersimpati kepada Kiai Hasyim mengambilnya sebagai menantu untuk dijodohkan dengan Khadijah.
Setelah pernikahan di Makkah itu, Kiai Hasyim bersama istrinya pulang kembali ke tanah air. Pada awalnya, beliau tinggal di Kediri selama beberapa bulan. Menurut sumber lainnya, Kiai Hasyim langsung menuju pesantren Gedang yang diasuh oleh Kiai Usman, dan tinggal di sana membantu sang kakek. Setelah itu, Kiai Hasyim pindah ke Pesantren Keras untuk membantu ayahnya, Kiai Asy’ari, mengajar santri-santrinya. Kedatangan Kiai Hasyim disambut hangat oleh para santri. Bekal mencari ilmu selama puluhan tahun merupakan jaminan kualitas keilmuan Kiai Hasyim.

Mendirikan Pesantren
Tahun 1899, Kiai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal.
Dari tratak kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Kiai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan 3 bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.
Setelah dua tahun membangun Tebuireng, Kiai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan.
Kiai Hasyim kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kiai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Masruroh, (10) Muhammad Yusuf.
Pada akhir dekade 1920an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kiai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kiai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khodijah, (4) Muhammad Ya’kub.
Figur Pendidik
Selain mumpuni dalam bidang agama, Kiai Hasyim juga ahli dalam mengatur kurikulum pesantren, mengatur strategi pengajaran, memutuskan persoalan-persoalan aktual kemasyarakatan, dan mengarang kitab. Pada tahun 1919, ketika masayarakat sedang dilanda informasi tentang koperasi sebagai bentuk kerjasama ekonomi, Kiai Hasyim tidak berdiam diri. Beliau aktif bermuamalah serta mencari solusi alternatif bagi pengembangan ekonomi umat, dengan merujuk pada kitab-kitab Islam klasik (kitab kuning). Beliau membentuk badan semacam koperasi yang bernama Syirkatul Inan li Murabathati Ahli al-Tujjar.
Kiai Hasyim juga tipe pendidik yang sulit dicari tandingannya. Sejak pagi hingga malam, Kiai Hasyim menghabiskan waktunya untuk mengajar. Pada pagi hari, kegiatan beliau dimulai dengan menjadi imam salat subuh di masjid Tebuireng, yang berada tepat di depan kediamannya, dilanjutkan dengan bacaan wirid yang cukup panjang. Selesai wirid, beliau mengajar kitab kepada para santri hingga menjelang matahari terbit. Diantara kitab yang diajarkan setelah subuh adalah al- Tahrir dan Al-Syifa ft Huquq al-Musthafa karya al-Qadhi ‘Iyadh, (konon, saat mengaji beliau duduk di atas alas yang terbuat dari kulit kambing).
Setelah selesai mengaji, Hadlratus Syeikb yang terbiasa berpuasa itu menemui para pekerja yang sudah berkumpul di samping rumah. Beliau membagi tugas kepada mereka; ada yang ditugaskan merawat sawah, membenahi fasilitas pondok, membenahi sumur, dan lain sebagainya. Setelah itu, beliau mendengarkan laporan-laporan mengenai hal-hal yang pernah beliau perintahkan.
Sekitar pukul 07.00, Kiai Hasyim mengambil air wudlu’ untuk salat dhuha. Beliau biasanya mengambil air wudhu di jeding samping ndalem dengan hanya mengenakan sarung dan kaos putih. Setelah salat dhuha, dilanjutkan dengan mengajar santri senior. Tempatnya di ruang depan ndalem. Kitab yang pernah diajarkan antara lain al-Muhaddzab karya al-Syairazi dan Al-Muattha9 karya Imam Malik ra. Pengajian ini berakhir pada pukul 10.00.
Mulai jam 10.00 pagi sampai jam 12 adalah waktu istirahat, yang digunakan untuk agenda-agenda seperti menemui tamu, membaca kitab, menulis kitab, dan lain-lain. Sebelum azan zuhur, kadang kala beliau menyempatkan diri untuk tidur sebentar (qailulah), sebagai bekal untuk qiyamul lail dan membaca al-Qur’an. Ketika azan zuhur berkumandang, beliau bangun dan mengimami salat zuhur berjama’ah di masjid. Selepas salat zuhur, beliau mengajar lagi sampai menjelang waktu asar.
Kira-kira setengah jam sebelum asar, Kiai Hasyim memeriksa pekerjaan para pekerja yang ditugasinya tadi pagi. Setelah menerima laporan, beliau kembali ke ndalem kemudian mandi.
Setelah terdengar azan asar, beliau kembali ke masjid dan mengimami salat ashar, dilanjutkan dengan mengajar para santri di masjid sampai menjelang maghrib. Kitab yang diajarkan adalah Fatb al- Qarib. Pengajian ini wajib diikuti semua santri tanpa terkecuali. Hingga akhir hayatnya, kitab ini secara kontinue dibaca setiap selesai salat asar.
Setelah salat maghrib, Kiai Hasyim menyediakan waktu untuk menemui para tamu yang datang dari berbagai daerah, seperti Banyuwangi, Pasuruan, Malang, Surabaya, Madiun, Kediri, Solo, Jakarta, Jogyakarta, Kalimantan, Bima, Sumatra, Telukbelitung, Madura, Bali, dan masih banyak lagi. (Menurut sumber lain, Kiai Hasyim menerima tamu setelah salat isya’)
Dikisahkan oleh Nyai Marfu’ah, pembantu Kiai Hasyim, bahwa setiap harinya Kiai Hasyim menyediakan banyak makanan dan lauk-pauk untuk menjamu para tamu. Dalam satu hari, jumlah tamunya bisa mencapai 50 orang.
Setelah salat isya, beliau mengajar lagi di masjid sampai pukul sebelas malam. Materi yang biasa diajarkan adalah ilmu tashawuf dan tafsir. Dalam bidang tasawuf, beliau membacakan kitab Ihya3 Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali, dan untuk bidang tafsir membaca Tafsir al-Quran al-Adzim karya Ibnu Kastir.
Setelah itu Kiai Hasyim muraja’ah Al-Qur’an dengan disimak oleh beberapa santri. Beliau mengakhiri kegiatannya dengan beristirahat, mulai jam satu malam dan bangun satu jam kemudian untuk qiyamul lail dan membaca al-Quran. Menjelang waktu imsak (sekitar 10 menit sebelum Subuh), Kiai Hasyim berkeliling pondok untuk membangunkan para santri agar segera mandi atau berwudlu’ guna malaksanakan salat tahajjud dan salat subuh. Ketika usianya sudah beranjak sepuh dan harus memakai tongkat untuk menyangga tubuhnya, Kiai Hasyim tetap menjalankan aktivitasnya membangunkan para santri menjelang subuh.
Kiai Hasyim juga dikenal sangat mencintai para santri. Keadaan ekonomi bangsa yang masih sangat lemah, secara otomatis mempengaruhi kemampuan ekonomi santri. Ada yang mondok hanya dengan bekal sekarung beras, bahkan ada yang tanpa bekal sedikitpun. Karena itu, Kiai Hasyim memberikan jatah makan harian kepada para santri yang tidak mampu. Lalu setiap hari Selasa, Kiai Hasyim mengajak mereka untuk berwiraswasta atau pergi ke sawah untuk bertani.
Kecintaan Kiai Hasyim pada dunia pendidikan terlihat dari pesan yang selalu disampaikan kepada setiap santri yang telah selesai belajar di Tebuireng: “Pulanglah ke kampungmu. Mengajarlah di sana, paling tidak mengajar ngaji.”
Sistem Pendidikan
Sejak awal berdirinya hingga tahun 1916, sistem pengajaran di Pesantren Tebuireng masih menggunakan sistem sorogan dan bandongan, dengan materi Ilmu Pengetahuan Agama Islam dan Bahasa Arab. Bahasa pengantarnya adalah Bahasa Jawa dengan huruf pego (tulisan Arab berbahasa Jawa). Semua bentuk pengajaran tidak dibedakan dalam jenjang kelas. Kenaikan kelas diwujudkan dengan bergantinya kitab yang telah selesai dibaca (khatam).
Setelah salat isya, beliau mengajar lagi di masjid sampai pukul sebelas malam. Materi yang biasa diajarkan adalah ilmu tashawuf dan tafsir. Dalam bidang tasawuf, beliau membacakan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali, dan untuk bidang tafsir membaca Tafsir al-Quran al-Adzim karya Ibnu Kastir.
Setelah itu Kiai Hasyim muraja’ah Al-Qur’an dengan disimak oleh beberapa santri. Beliau mengakhiri kegiatannya dengan beristirahat, mulai jam satu malam dan bangun satu jam kemudian untuk qiyamul lail dan membaca al-Quran. Menjelang waktu imsak (sekitar 10 menit sebelum Subuh), Kiai Hasyim berkeliling pondok untuk membangunkan para santri agar segera mandi atau berwudlu’ guna malaksanakan salat tahajjud dan salat subuh. Ketika usianya sudah beranjak sepuh dan harus memakai tongkat untuk menyangga tubuhnya, Kiai Hasyim tetap menjalankan aktivitasnya membangunkan para santri menjelang subuh.
Kiai Hasyim juga dikenal sangat mencintai para santri. Keadaan ekonomi bangsa yang masih sangat lemah, secara otomatis mempengaruhi kemampuan ekonomi santri. Ada yang mondok hanya dengan bekal sekarung beras, bahkan ada yang tanpa bekal sedikitpun. Karena itu, Kiai Hasyim memberikan jatah makan harian kepada para santri yang tidak mampu. Lalu setiap hari Selasa, Kiai Hasyim mengajak mereka untuk berwiraswasta atau pergi ke sawah untuk bertani.
Kecintaan Kiai Hasyim pada dunia pendidikan terlihat dari pesan yang selalu disampaikan kepada setiap santri yang telah selesai belajar di Tebuireng: “Pulanglah ke kampungmu. Mengajarlah di sana, paling tidak mengajar ngaji.”
Sistem Pendidikan
Sejak awal berdirinya hingga tahun 1916, sistem pengajaran di Pesantren Tebuireng masih menggunakan sistem sorogan dan bandongan, dengan materi Ilmu Pengetahuan Agama Islam dan Bahasa Arab. Bahasa pengantarnya adalah Bahasa Jawa dengan huruf pego (tulisan Arab berbahasa Jawa). Semua bentuk pengajaran tidak dibedakan dalam jenjang kelas. Kenaikan kelas diwujudkan dengan bergantinya kitab yang telah selesai dibaca (khatam).
Seiring perkembangan waktu, sistem dan metode pengajaran ditambah, diantaranya dengan menambah kelas musyawaroh sebagai kelas tertinggi. Santri yang berhasil masuk kelas musyawaroh jumlahnya sangat kecil, karena seleksinya cukup ketat.
Dalam 20 tahun pertama pertumbuhan Tebuireng, Kiai Hasyim banyak dibantu oleh saudara iparnya, KH. Alwi, yang pernah mengenyam pendidikan 7 tahun di Mekah. Tahun 1916, KH. Ma’shum Ali,
(KH. Ma’shum Ali merupakan salah seorang Kiai yang cukup produktif. Karya- karyanya terkenal dengan sistematikanya yang sederhana namun sistematis. Buku-buku kiai ahli Falak ini seringkali dijadikan rujukan di berbagai madrasah dan pesantren di Indonesia. Beliau antara lain menulis kitab Amtsilatut Tasbrifiyab, semacam kamus morfologi Bahasa Arab atau shorof, Badi’at al-Mitsal dan Durus al-Falakiyab (astronomi), Fath al-Qadir (menerangkan ukuran, takaran, dan timbangan Arab sesuai dengan ukuran Indonesia).
menantu pertamanya, mengenalkan sistem klasikal (madrasah). Sistem madrasah merupakan sistem pengajaran yang diadopsi oleh Hadratusy Syeikb dari Mekah.
Tahun 1916, Madrasah Tebuireng membuka tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan sifir awal dan sifir tsani, yaitu masa persiapan untuk dapat mernasuki madrasah lima tahun berikutnya. Para peserta sifir awal dan sifir tsani dididik secara khusus untuk memahami bahasa Arab sebagai landasan penting bagi pendidikan madrasah lima tahun.
Mulai tahun 1919, Madrasah Tebuireng secara resmi diberi nama Madrasah Salafiyah Syafi’iyah dengan Kiai Maksum sebagai Kepala Madrasahnya. Kurikulum ditambah dengan materi Bahasa Indonesia (Melayu), matematika, dan geografi. Lalu setelah kedatangan Kiai Ilyas tahun 1926, pelajaran ditambah dengan pelajaran Bahasa Belanda dan Sejarah. Tahun 1928 kedudukan Kiai Maksum sebagai kepala madrasah digantikan Kiai Ilyas, sedang Kiai Maksum sendiri ditunjuk oleh Kiai Hasyim untuk mendirikan Pesantren Seblak (sekitar 200 meter ke arah barat Tebuireng).
Pengajian Shahih Bukhari-Muslim
Meskipun sistem pengajaran di Tebuireng sudah berkembang pesat, namun tradisi pengajian yang diasuh Kiai Hasyim tetap bertahan. Apalagi beliau terkenal sangat disiplin dan istiqamah mengaji. Para santri tidak pernah bosan mengikuti pengajian beliau.
Kegiatan mengajar Kiai Hasyim diliburkan 2 kali dalam seminggu, yaitu pada Hari Selasa dan Hari Jum’at. Kiai Hasyim biasanya memanfaatkan 2 hari libur itu untuk mencari nafkah seperti berdagang dan bercocok tanam. Beliau memantau perkembangan sawah dan ladangnya yang berada kurang lebih 10 km sebelah selatan Tebuireng. Beliau juga memberi kesempatan kepada para santri untuk mengadakan kegiatan kemasyarakatan seperti jam’iyah. Sedangkan pada Hari Selasa, selain pergi ke sawah Kiai Hasyim juga sering bersilaturrahim ke sanak famili dan para alumni yang mulai merintis pondok pesantren.
Hari libur dimanfaatkan oleh putranya, Abdul Wahid, untuk memberikan pelajaran bahasa asing, Inggris dan Belanda, kepada para santri. Meskipun pada awalnya Kiai Hasyim kurang setuju, namun
Abdul Wahid mampu meyakinkan bahwa materi bahasa asing sai penting bagi santri, sehingga Kiai Hasyim akhirnya membolehkan.
Selain mencari nafkah, pada hari Jum’at Kiai Hasyim memperbanyak membaca al-Qur’an. Kemudian setelah salat jur beliau memberikan pengajian umum kepada santri dan masyan Dalam pengajian ini, Hadratus Syekh membaca kitab Tafsir al-Jal karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin Al-Suyuthi ra.
Kebiasaan lain yang tak pernah beliau tinggalkan ialah mem shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau juga sering men: kitab Dalail al-Kbairat yang di dalamnya banyak terdapat shal; Ketika ada santri yang menganggur, beliau mengingatkannya i membaca shalawat agar waktu yang mereka miliki tidak sia-sia.
Pada bulan Ramadhan, Hadratus Syekh membacakan kitab S Bukhari (4 jilid) dan Shahih Muslim (4 jilid) secara rutin. Pengaji; dimulai pada tanggal 15 Sya’ban dan selesai pada tanggal 27 Ram; (kurang lebih 40 hari). Salah seorang gurunya bahkan pernah ikut kepada beliau. Menurut satu sumber, guru Kiai Hasyim yang p ngaji ke Tebuireng adalah Kiai Kholil Bangkalan, dan menurut si lainnya adalah Kiai Khozin Panji, Sidoarjo.
Dekat kepada Allah
Dikisahkan, ketika Hadratus Syeikh merasa amat letih karena siang harinya menghadiri kongres Nahdatul Ulama’ di Malang, beliau tidak bisa memberikan pelajaran di malam hari kepada para santri. Sehabis salat Isya beliau beristirahat tidur sangat pulas. Kiai Hasyim baru bangun pada pukul setengah tiga malam. Beliau langsung mengambil air wudhu, berpakaian rapi dan menjalankan salat tahajjud. Meskipun pada siang harinya belum makan, beliau tidak juga makan di malam hari, padahal persediaan makanan masih ada. Selesai salat tahajjud diiringi dengan wirid dan doa yang panjang, beliau mengambil al-Qur’an lalu dibacanya dengan perlahan-lahan sambil menghayati maknanya. Ketika sampai pada surat Ad-Dzariyat ayat 17-18 yang artinya:
Mereka (para shahabat Nabi) sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di waktu sahur (akhir malam) mereka memohon ampun [ Ad-Dariyat: 17-18].
Seketika itu beliau menghentikan bacaannya. Lalu terdengar suara tangis terisak-isak. Sejurus kemudian air mata telah membasahi jenggot beliau yang sudah memutih. Kiai Hasyim merasa bahwa pada malam itu beliau terlalu banyak tidur. Sambil menengadahkan tangan ke langit, beliau berdo’a, “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini, dan berilah hamba kekuatan serta ketabahan untuk melaksanakan segala perintah-perintahMu.” Kemudian beliau bangkit dari tempat duduknya menuju tempat salat, lalu bersujud kepada Allah memohon ampun. Lisannya terus membaca tasbih.
Peristiwa seperti ini terjadi berulangkali. Setiap kali membaca ayat- ayat tentang siksa, ancaman, dan murka Allah, atau ayat-ayat yang menerangkan perintah-perintah Allah yang terlupakan oleh kaum muslimin, beliau selalu meneteskan air mata.
Suatu malam, Kiai Hasyim berniat tidur sejenak guna mengistirahatkan badan. Ketika sampai di tempat tidur, terdengar suara seorang santri dari masjid sedang membaca al-Qur’an, yang artinya:
“Wahai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari kecuali sedikit (dari padanya). Atau lebih dari seperdua (malam), dan bacalah al-Quran dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu di siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dialah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada tuhan melainkan Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung.” [al-Muzammil: 1-9]
Mendengar ayat itu, Kiai Hasyim yakin bahwa ini adalah teguran dari Allah Swt. melalui santrinya. Allah menegurnya agar tetap beribadah, jangan bermalas-malasan menuruti hawa nafsu. Akhirnya keinginan untuk tidur dibatalkan.
Diceritakan pula, pada tahun 1943, Kiai Hasyim diserang demam yang sangat hebat. Ketika telah masuk waktu zuhur, beliau memaksakan diri bangkit dari tempat tidur menuju kolam untuk mengambil air wudhu’. Beliau berjalan sambil dipapah oleh kedua putranya. Setelah mengambil air wudhu’, beliau memakai baju rapi disertai sorban untuk menuju masjid. Melihat hal ini, salah seorang putranya, Abdul Karim, berkata, “Ayah, demam ayah sangat parah. Sebaiknya ayah salat di rumah saja!”
Beliau menjawab, “Ketahuilah anakku, api neraka itu lebih panas dari pada demamku ini!” Kemudian beliau bangkit dari duduknya dan berjalan menuju masjid dengan dipapah.
Sepulang dari masjid, penyakitnya semakin parah. Sanak famili dan putra-putrinya berdatangan. Badannya terbujur lemah di atas tempat tidur. Kedua matanya terpejam tak sadarkan diri. Tapi tak lama kemudian, matanya terbuka seraya meneteskan air mata.
Adik perempuannya bertanya, “Di manakah yang terasa sakit, kakak?”
Dengan nada sedih, Kiai Hasyim menjawab, “Aku menangis bukan karena penyakitku, bukan pula karena takut mati atau berat berpisah dengan famili. Aku merasa belum mempunyai amal shaleh. Masih banyak perintah-perintah Allah yang belum aku kerjakan. Alangkah malunya aku menghadap Allah dengan tangan hampa, tiada mempunyai amal kebaikan. Itulah sebabnya aku menangis.”

KH. M. Hasyim Asy'ari0003

Karya-Karya Kiai Hasyim
Disamping aktif mengajar, berdakwah, dan berjuang, Kiai Hasyim juga penulis yang produktif. Beliau meluangkan waktu untuk menulis pada pagi hari, antara pukul 10.00 sampai menjelang dzuhur. Waktu ini merupakan waktu longgar yang biasa digunakan untuk membaca kitab, menulis, juga menerima tamu.
Karya-karya Kiai Hasyim banyak yang merupakan jawaban atas berbagai problematika masyarakat. Misalnya, ketika umat Islam banyak yang belum faham persoalan tauhid atau aqidah, Kiai Hasyim lalu menyusun kitab tentang aqidah, diantaranya Al-Qalaid fi Bayani ma Yajib min al-Aqaid\ Ar-Risalah at-Taubidiyab, Risalab Abli Sunnab Wa al-Jama’ab, Al-Risalab fi at-Tasawwuf] dan lain sebagainya.
Kiai Hasyim juga sering menjadi kolumnis di majalah-majalah, seperti Majalah Nahdlatoel Oelama’, Panji Masyarakat, dan Swara Nahdhotoel Oelama’. Biasanya tulisan Kiai Hasyim berisi jawaban- jawaban atas masalah-masalah fiqhiyyah yang ditanyakan banyak orang, seperti hukum memakai dasi, hukum mengajari tulisan kepada kaum wanita, hukum rokok, dll. Selain membahas tentang masail fiqbiyah, Kiai Hasyim juga mengeluarkan fatwa dan nasehat kepada kaum muslimin, seperti al-Mawaidz, doa-doa untuk kalangan Nahdhiyyin, keutamaan bercocok tanam, anjuran menegakkan keadilan, dan lain-lain.
Karya-karya KH. M. Hasyim Asy’ari yang dapat di telusuri hingga saat ini ialah:
 Al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikbwan. Berisi tentang tata cara menjalin silaturrahim, bahaya dan pentingnya interaksi sosial. Tebal 17 halaman, selesai ditulis hari Senin, 20 Syawal 1360 H., penerbit Maktabah Al-Turats Al-Islami Ma’had Tebuireng.
 Mukaddimah al-Qanun al-Asasy Li Jam’iyyah Nahdhatul Ulama. Pembukaan undang-undang dasar (landasan pokok) organisasi Nahdhatul Ulama’. Tebal 10 halaman. Pernah dicetak oleh percetakan Menara Kudus tahun 1971 M. dengan judul, “Ihya* Amal al-Fudhala’ fi al-Qanun al-Asasy li Jam9iyah Nahdhatul Ulama'”.
 Risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Madzhab al-AHmmah al-Arba’ah. Risalah untuk memperkuat pegangan atas madzhab empat. Tebal 4 halaman, berisi tentang perlunya berpegang kepada salah satu diantara empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali). Di dalamnya juga terdapat uraian tentang metodologi penggalian hukum (istinbat al-ahkam), metode ijtihad, serta respon atas pendapat Ibn Hazm tentang taqlid.
 Mawaidz. Beberapa Nasihat. Berisi fatwa dan peringatan tentang merajalelanya kekufuran, mengajak merujuk kembali kepada al-Quran dan hadis, dan lain sebagainya. Pernah disiarkan dalam kongres Nahdhatul Ulama’ ke XI tahun 1935 di Kota Bandung, dan pernah diterjemahkan oleh Prof. Buya Hamka dalam majalah Panji Masyarakat no.5 tanggal 15 Agustus 1959, tahun pertama halaman 5-6.
 Arba’in Haditsan Tata’allaq hi Mabadi9 jam’lyah Nahdhatul Ulama\ 40 hadits Nabi yang terkait dengan dasar-dasar pembentukan Nahdhatul Ulama5.
 Al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin. Berisi dasar kewajiban seorang muslim untuk beriman, mentaati, meneladani, dan mencintai Nabi Muhammad SAW. Tebal 87 halaman, memuat biografi singkat Nabi SAW mulai lahir hingga wafat, dan menjelaskan mu’jizat shalawat, ziarah, wasilah, serta syafaat. Selesai ditulis pada 25 Sya’ban 1346 H., terdiri dari 29 bab.
 At-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna9 al-Maulid bi al-Munkarat. Peringatan-peringatan wajib bagi penyelenggara kegiatan maulid yang dicampuri dengan kemungkaran. Ditulis berdasarkan kejadian yang pernah dilihat pada malam Senin, 25 Rabi’ al-Awwal 1355 H. Pada halaman pertama terdapat pengantar dari tim lajnah ulama al-Azhar, Mesir. Selesai ditulis pada 14 Rabi’ at-Tsani 1355 H., terdiri dari 15 bab setebal 63 halaman, dicetak oleh Maktabah at-Turats al-Islamy Tebuireng, cetakan pertama tahun 1415 H.
 Risalah Ahli Sunnah Wal ]ama9ah fi Hadits al-Mauta iva Syarat as- Sa9ah iva Bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid9ah. Risalah Ahl Sunnah Wal Jama’ah tentang hadis-hadis yang menjelaskan kematian, tanda-tanda hari kiamat, serta menjelaskan sunnah dan bid’ah. Berisi 9 pasal.
 Ziyadat Ta9liqat ala Mandzumah as-Syekh ‘Abdullah bin Yasin al- Fasuruani. Catatan seputar nadzam Syeikh Abdullah bin Yasin Pasuruan. Berisi polemik antara Kiai Hasyim dan Syeikh Abdullah bin Yasin. Di dalamnya juga terdapat banyak pasal berbahasa Jawa dan merupakan fatwa Kiai Hasyim yang pernah dimuat di Majalah Nahdhatoel Oelama’. Tebal 144 halaman.
 Dhau’ul Misbah fi Bayan Ahkam an-Nikah. Cahayanya lampu yang benderang menerangkan hukum-hukum nikah. Berisi tata cara nikah secara syar’i; hukum-hukum, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan. Kitab ini biasanya dicetak bersama kitab Miftab al-Falab karya almarhum Kiai Ishamuddin Hadziq, sehingga tebalnya menjadi 75 halaman.
 Ad-Durrah al-Muntasyirah Fi Masa’il Tis’a Asyarah. Mutiara yang memancar dalam menerangkan 19 masalah. Berisi kajian tentang wali dan thariqah dalam bentuk tanya-jawab sebanyak 19 masalah. Tahun 1970-an kitab ini diterjemahkan oleh Dr. KH. Thalhah Mansoer atas perintah KH. M. Yusuf Hasyim, diterbitkan oleh percetakan Menara Kudus.
 Al-Risalah fi al-‘Aqaid. Berbahasa Jawa, berisi kajian tauhid, pernah dicetak oleh Maktabah an-Nabhaniyah al-Kubra Surabaya, bekerja sama dengan percetakan Musthafa al-Babi al-Halabi Mesir tahun 1356 H./1937M. Dicetak bersama kitab Kiai Hasyim lainnya yang berjudul Risalab fi at-Tasbawwuf serta dua kitab lainnya karya seorang ulama dari Tuban. Risalah ini ditash-hih oleh syeikh Fahmi Ja’far al-Jawi dan Syeikh Ahmad Said ‘Ali (al-Azhar). Selesai ditashhih pada hari Kamis, 26 Syawal 1356 H/30 Desembe 1937 M.
 Al-Risalah fi at-Tasawwuf. Menerangkan tentang tashawuf; penjelasan tentang ma’rifat, syariat, thariqah, dan haqiqat. Ditulis dengan bahasa Jawa, dicetak bersama kitab al-Risalah fi al-(Aqaid.
 Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim fima Yahtaju ilaih al-Muta’allim fi Ahival Ta’limihi ivama Yatawaqqaf ‘alaih al-Muallim fi Maqat Ta’limihi. Tatakrama pengajar dan pelajar. Berisi tentang etika bagi para pelajar dan pendidik, merupakan resume dari Adab al-Mu’allint karya Syekh Muhammad bin Sahnun (w.256 H/871 M); Ta’lim al- Muta’allim fi Tbariq at-Ta’allum karya Syeikh Burhanuddin al-Zarnuji (w.591 H); dan Tadzkirat al-Saml wa al-Mutakallim fi Adab al-(Alim wa al-Muta3allim karya Syeikh Ibn Jama’ah. Memuat 8 bab, diterbitkan oleh Maktabah at-Turats al-Islamy Tebuireng. Di akhir kitab terdapat banyak pengantar dari para ulama, seperti: Syeikh Sa’id bin Muhammad al-Yamani (pengajar di Masjidil Haram, bermadzhab Syafii), Syeikh Abdul Hamid Sinbal Hadidi (guru besar di Masjidil Haram, bermadzhab Hanafi), Syeikh Hasan bin Said al- Yamani (Guru besar Masjidil Haram), dan Syeikh Muhammad cAli bin Sa’id al-Yamani.

Selain kitab-kitab tersebut di atas, terdapat beberapa naskah manuskrip karya KH. Hasyim Asy’ari yang hingga kini belum diterbitkan. Yaitu:
1. Hasyiyah ‘ala Fath ar-Rahman bi Syarh Risalah al-Wali Ruslan li Syeikh al-Islam Zakariya al-Anshari.
2. Ar-Risalah at-Tawhidiyah
3. Al-Qala’id fi Bay an ma Yajib min al-Aqa’id
4. Al-Risalah al-]ama’ah
5. Tamyiz al-Haqq min al-Bathil
6. al-Jasus fi Ahkam al-Nuqus
7. Manasik Shughra

NU dan Komite Hijaiz;
Penjajahan panjang yang mengungkung bangsa Indonesia, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Pada tahun 1908 muncul sebuah gerakan yang kini disebut Gerakan Kebangkitan Nasional. Se- mangat Kebangkitan Nasional terus menyebar ke mana-mana, sehingga muncullah berbagai organisai pendidikan, sosial, dan keagamaan, diantaranya Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916, dan Taswirul Afkar tahun 1918 (dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri atau Kebangkitan Pemikiran). Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat.
Dengan adanya Nahdlatul Tujjar, maka Taswirul Afkar tampil sebagai kelompok studi serta lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Tokoh utama dibalik pendirian tafwirul afkar adalah, KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh muda sekaligus pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas), yang juga murid badratus syeikb. Kelompok ini lahir sebagai bentuk kepedulian para ulama terhadap tantangan zaman di kala itu, baik dalam masalah keagamaan, pendidikan, sosial, dan politik.
Pada masa itu, Raja Saudi Arabia, Ibnu Saud, berencana menjadikan madzhab Wahabi sebagai madzhab resmi Negara. Dia juga berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang selama ini banyak diziarahi kaum Muslimin, karena dianggap bid’ah.
Di Indonesia, rencana tersebut mendapat sambutan hangat kalangan modernis seperti Muhammadiyah di bawah pimpinan KH. Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang menghormati keberagaman, menolak pembatasan madzhab dan penghancuran warisan peradaban itu. Akibatnya, kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres A1 Islam serta tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah, yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
Didorong oleh semangat untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta rasa kepedulian terhadap pelestarian warisan peradaban, maka Kiai Hasyim bersama para pengasuh pesantren lainnya, membentuk delegasi yang dinamai Komite Hijaz. Komite yang diketuai KH. Wahab Hasbullah ini datang ke Saudi Arabia dan meminta Raja Ibnu Saud untuk mengurungkan niatnya. Pada saat yang hampir bersamaan, datang pula tantangan dari berbagai penjuru dunia atas rencana Ibnu Saud, sehingga rencana tersebut digagalkan. Hasilnya, hingga saat ini umat Islam bebas melaksanakan ibadah di Mekah sesuai dengan madzhab masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.
Tahun 1924, kelompok diskusi taswirul afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus syeikb KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat istikharah, menohon petunjuk dari Allah.
Setelah sekian lama ditunggu, petunjuk itu belum datang juga. Kiai Hasyim sangat gelisah. Dalam hati kecilnya ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif Bangkalan.
Sementara nun jauh di Bangkalan sana, Syaikhona Kholil telah mengetahui apa yang dialami Kiai Hasyim. Kiai Kholil lalu mengutus salah seorang santrinya yang bernama As’ad Syamsul Arifin (kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Asembagus Situbondo), untuk menyampaikan sebuah tongkat kepada Kiai Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kiai Hasyim.
Ketika Kiai Hasyim menerima kedatangan As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergetar. “Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujarnya lirih sambil meneteskan airmata.
Waktu terus berlalu, akan tetapi pendirian organisasi itu belum juga terealisasi. Agaknya Kiai Hasyim masih menunggu kemantapan hati.
Satu tahun kemudian (1925), pemuda As’ad kembali datang menemui Hadratus Syeikh. “Kiai, say a diutus oleh Kiai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kiai Kholil di lehernya. Tangan As’ad belum pernah menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan menuju Tebuireng sangatlah jauh dan banyak rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi selama dalam perjalanan, sebab khawatir tangannya menyentuh tasbih. Ia memiliki prinsip, “kalung ini yang menaruh adalah kiai, maka yang boleh melepasnya juga harus kiai”. Inilah salah satu sikap ketaatan santri kepada sang guru.
“Kiai Kholil juga meminta untuk mengamalkan wirid Ya Jab bar, Ya Qahhar setiap waktu,” tambah pemuda As’ad.
Kehadiran As’ad yang kedua ini membuat hati Kiai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syeikh menangkap isyarat bahwa gurunya tidak keberatan jika ia bersama kawan-kawannya mendirikan organisai/jam’iyah. Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melalui salat istikharah.
Sayangnya, sebelum keinginan itu terwujud, Kiai Kholil sudah meninggal dunia terlebih dahulu.
Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926M, organisasi tersebut secara resmi didirikan, dengan nama Nahdhatul Ulama’, yang artinya kebangkitan ulama. Kiai Hasyim dipercaya sebagai Rais Akbar pertama. Kelak, jam’iyah ini menjadi organisasi dengan anggota terbesar di Asia Tenggara.
Sebagaimana diketahui, saat itu (bahkan hingga kini) dalam dunia Islam terdapat pertentangan faham, antara faham pembaharuan yang dilancarkan Muhammad Abduh dari Mesir dengan faham bermadzhab yang menerima praktek tarekat. Ide reformasi Muhammad Abduh antara lain bertujuan memurnikan kembali ajaran Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari Islam, mereformasi pendidikan Islam di tingkat universitas, dan mengkaji serta merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan modern. Dengan ini Abduh melancarakan ide agar umat Islam terlepas dari pola pemikiran madzhab dan meninggalkan segala bentuk praktek tarekat.
Semangat Abduh juga mempengaruhi masyarakat Indonesia, kebanyakan di kawasan Sumatera yang dibawa oleh para mahasiswa yang belajar di Mekkah. Sedangkan di Jawa dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan melalui organisasi Muhammadiyah (berdiri tahun 1912).
Kiai Hasyim pada prinsipnya menerima ide Muhammad Abduh untuk membangkitkan kembali ajaran Islam, akan tetapi menolak melepaskan diri dari keterikatan madzhab. Sebab dalam pandangannya, umat Islam sangat sulit memahami maksud Al-Quran atau Hadits tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama madzhab. Pemikiran yang tegas dari Kiai Hasyim ini memperoleh dukungan para kiai di seluruh tanah Jawa dan Madura. Kiai Hasyim yang saat itu menjadi “kiblat” para kiai, berhasil menyatukan mereka melalui pendirian Nahdlatul Ulama’ ini.

KH. M. Hasyim Asy'ari0004Berjuang Mengusir Penjajah
Masa awal perjuangan Kiai Hasyim di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Pasukan Kompeni ini tidak segan-segan membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah. Pesantren Tebuireng pun tak luput dari sasaran represif Belanda.
Pada tahun 1913 M., intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun dia tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas. Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kiai Hasyim dengan tuduhan pembunuhan.
Dalam pemeriksaan, Kiai Hasyim yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis. Akhirnya beliau dilepaskan dari jeratan hukum.
Belum puas dengan cara adu domba, Belanda kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantren yang baru berdiri sekitar 10 tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1940an.
Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara Jepang. Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam, Jepang menggabungkan antara kebijakan represi dan kooptasi, sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim.
Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Hadratus Syeikh beserta sejumlah putera dan kerabatnya. Ini dilakukan karena Kiai Hasyim menolak melakukan seikerei. Yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). Aktivitas ini juga wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang.
Kiai Hasyim menolak aturan tersebut. Sebab hanya Allah SWT lah yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya, Kiai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah-pindah, mulai dari penjara Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan, Surabaya. Karena kesetiaan dan keyakinan bahwa Hadratus Syeikh berada di pihak yang benar, sejumlah santri Tebuireng minta ikut ditahan. Selama dalam tahanan, Kiai Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangannya menjadi patah tak dapat digerakkan.
Penahanan Hadratus Syeikh, menyebabkan kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng berhenti total. Penahanan itu juga mengakibatkan keluarga Hadratus Syeikh tercerai berai.
Isteri Kiai Hasyim, Nyai Masyruroh, harus mengungsi ke Pesantren Denanyar yang terletak di sebelah barat Kota Jombang.
Tanggal 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan dipenjara, Kiai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes dari para kiai dan santri. Selain itu, pembebasan Kiai Hasyim juga berkat usaha dari Kiai Wahid Hasyim dan Kiai Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta.
Tanggal 22 Oktober 1945, ketika tentara NICA (Netberland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh pemerintah Belanda membonceng pasukan sekutu yang dipimpin Inggris, berusaha melakukan agresi ke tanah Jawa (Surabaya) dengan alasan mengurus tawanan Jepang, Kiai Hasyim bersama para ulama menyerukan Resolusi Jihad melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris tersebut. Resolusi Jihad ditandatangani di kantor NU Bubutan, Surabaya. Akibatnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945 yang bersejarah itu. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad itu keluar dari kampung-kampung dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris. Peristiwa 10 Nopember kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Pada tanggal 7 Nopember 1945—tiga hari sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya—umat Islam membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi). Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari berbagai faham. Kiai Hasyim diangkat sebagai Ro’is ‘Am (Ketua Umum) pertama periode tahun 1945-1947.
Selama masa perjuangan mengusir penjajah, Kiai Hasyim dikenal sebagai penganjur, penasehat, mufti, sekaligus jenderal dalam gerakan laskar-laskar perjuangan seperti GPII, Hizbullah, Sabilillah, dan gerakan rakyat.

Selimut Duka di Tebuireng
KH. M. Hasyim Asy'ari0005Malam itu, tanggal 3 Ramadhan 1366 H., bertepatan dengan tanggal 21 Juli 1947 M. jam 9 malam, Kiai Hasyim baru saja selesai mengimami salat Tarawih. Seperti biasa, beliau duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian, datanglah seorang tamu utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Kiai Hasyim menemui utusan tersebut didampingi Kiai Ghufron (pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya). Sang tamu menyampaikan surat dari Jenderal Sudirman.
Kiai Hasyim meminta waktu satu malam untuk berfikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya. Isi pesan tersebut adalah:
1. Di wilayah Jawa Timur Belanda melakukan serangan militer besar- besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Basuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro, Kediri, dan Madiun.
2. Hadiratus Syeikh KH.M. Hasyim Asy’ari dimohon untuk berkenan mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab jika tertangkap, beliau akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh.
3. Jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu pengungsian Kiai Hasyim.

Keesokan harinya, Kiai Hasyim memberi jawaban tidak berkenan menerima tawaran tersebut.

Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M., jam 9 malam, datang lagi utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Sang utusan membawa surat untuk disampaikan kepada Hadratusy Syeikh. Bung Tomo memohon Kiai Hasyim mengeluarkan komando jihad fi sabilillah bagi umat Islam Indonesia, karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Hadratusy Syeikh kembali meminta waktu satu malam untuk memberi jawaban.
Tak lama berselang, Hadratusy Syeikh mendapat laporan dari Kiai Ghufron (pemimpin Sabilillah Surabaya) bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa kota Singosari Malang (sebagai basis pertahanan
Hizbullah dan Sabilillah) telah jatuh ke tangan Belanc pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil 1 Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berujar, “Masy; Allah…” sambil memegang kepalanya. Lalu Kiai Hasyim diri.
Pada saat itu, putra-putri beliau tidak berada di Tebuireng tapi tak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar ayahanda tidak sadarkan diri. Menurut hasil pemeriksa Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yan
Pada pukul 03.00 dini hari, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366 H, Hadratuys Syeikb KH.M. dipanggil yang Maha Kuasa. Inna liLlabi wa Inna Ilayb
Atas jasa-jasa Hadratus Syeikh selama perang melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berka fatwanya yang sangat penting: Pertama, perang mel adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semu Indonesia. Kedua, kaum Muslimin diharamkan melaku haji dengan kapal Belanda. Ketiga, Kaum Muslimi memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri 1 Maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presi No. 249/1964 menetapkan bahwa KH. Muhammad I sebagai Pahlawan Nasional. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 38-66

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan lahir di Magetan, 17 Agustus 1951. Pernah kuliah di IAIN Surabaya, Fak. Hukum Untag Samarinda. MengikutiO/r The Job Training Pers di LP3ES Jakarta/ Tempo (1974), Minaut In­donesia LPPM Jakarta (1980), dan Finom LPPM Jakarta (1984).
Pertama bekerja sebagai reporter Mingguan Mimbar Masyarakat (1974-1976), juga koresponden Tempo (1975- 1977), Kepala Biro Tempo Surabaya (1977-1982), Redaksi Pelaksana Harian Jawa Pos (1982-1984) dan Direktur/ Pimim- pin Redaksi/ Pimpinan Umum Harian Jawa Pos (1984-1995).
Saat ini juga menjadi direktur utamadi37anak perusahaan Jawa Pos. Yaitu Direktur Utama PT Jawa Nusa Wahana, Surabaya, PT Duta Manuntung, Balikpapan, PT Percetakan Manuntung, Balikpapan, PT Media Fajar Graf ika, Ujungpandang, PT Akcaya Pariwara, Pontianak, PT Riu Pos, Pekanbaru, PT Wenangcemerlang Press, Manado, dan Iain-Iain.
Anggota MPR (1988-1993) ini pernah menjabat Presiden Lions Club di Surabaya (1984) dan Wakil Ketua Persebaya (1988). Ketua PWI Cabang Jatim sejak 1989 sampai sekarang. Juga menjadi pengurus Kadin Jatim, pengurus DPD Golkar Jatim, Ketua Yayasan Mitra Surabaya dan Ketua Perbasi Jatim.
Menikah dengan Nafsih Sabri. Bersama keluarga tinggal di Rungkut Mejoyo Selatan IV/10 Surabaya, telepon 815487. Selaku Direktur PT Jawa Pos berkantor di Jl. Karah Agung, Surabaya, telepon 836969.
 
 
Koran Jawa Pos (JP), agaknya tak bisa dipisahkan dengan nama Dahlan Iskan. Harus diakui perannya begitu besar dalam membesarkan JP. Ketika ditunjuk se­bagai Redaksi Pelaksana JP tahun 1982, koran ini tirasnya masih kecil, hanya sekitar 6 ribuan.
“Saat itu JP masih belepotan. Yang pertama-tama saya garap adalah beritanya.
Cetak boleh jelek, pasar boleh lebih kecil, tapi berita harus menang. Itulah yang kami punyai waktu itu. Lama-lama orang tahu, bahwa berita JP lebih baik, hingga mereka mau berlangganan,” ungkapnya.
Kendati isi JP lebih baik, kenyataannya selama tiga bulan tirasnya tidak naik. Setelah ditelusuri, JP memang perlu diperkenalkan pada masyarakat. “Saat itu kami tidak tahu caranya. Setiap kami memperkenalkan JP, tak satu agen pun yang mau. Pengecer juga tak mau menerima, dianggap hanya akan memberat-berati saja,” paparnya.
Berangkat dari kenyataan seperti itu dan karena adanya keyakinan bahwa JP lebih baik, lalu dibentuk pengecer khusus yang digaji dan hanya boleh menjual JP. Peloper yang digaet tidak banyak, hanya 30 anak. Mereka diberi imbalan Rp. 300 tiap hari. Lama-lama, JP tambah laku. Gaji untuk pengecer kemudian diturunkan dan ditam- bah komisi. Lalu gaji dihapus dan tinggal komisi yang diberikan. Sekarang, pengecer harus membeli JP secara kontan.
Itu dari segi perkenalan. Dari segi dis- tribusi, karena waktu itu tak ada yang mau jadi agen, kemudian para istri karyawan digerakkan untuk menjadi agen dalam kota, termasuk istrinya. “Mereka terus kami beri motivasi, supaya perusahaan suaminya tidak mati dan tidak menganggur. Ternyata, mereka bisa. Istri saya pun sampai seka- rang masih menjadi agen. la tak mau ber- henti walau sudah saya suruh berhenti. Katanya eman-eman, karena dari hasil agen itu, ia mendapatkan Rp. 900 ribu per bulan,” jelasnya.
Menurutnya, tiras JP sekarang sudah cukup besar dan rasanya susah untuk di- tingkatkan lebih besar lagi. Perkembangan tiras JP tidak mungkin seperti dulu lagi, yaitu 400 hingga 1.000 %. “Saya menyadari hal itu. Harga koran naik terus, sehingga tidak semua masyarakat mampu membeli koran. Jumlah pembaca JawaTimurterbatas. Un­tuk menembus Jakarta dan sekitarnya tidak mungkin karena tidak ada transportasi yang kompetitif. Jelas, kami tidak bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” jelasnya.
Sebab itu, JP lantas melakukan strategi lain. Kalau dulu JP dibaca kalangan menengah ke bawah, sekarang menengah ke atas. Sehingga perlu dikembangkan koran khusus untuk kelas bawah. Itulah sebabnya Jawa Pos “menugaskan” anaknya, Memo­randum, untuk memenuhi kebutuhan la- pisan itu.
Untuk menjadi koran nasional dalam arti yang betul, misalnya beredar di seluruh In­donesia, JP menghadapi kendala; karena belum adanya sistem cetak jarak jauh (SCJJ). “Meski begitu kami mau besar dan berkembang terus. Caranya, kami pilih me- ngembangkan koran-koran daerah. Menu- rut saya, SCJJ justru jangan diberlakukan sekarang. Bukan karena JP tidak berani, kami sudah punya peralatannya kok. Tapi harus diingat, masih banyak daerah yang belum punya harian. Padahal timpang ra­sanya jika sebuah ibukota propinsi tidak memiliki harian. Apakah tidak lebih baik jika dalam era sekarang ini digunakan untuk menerbitkan koran-koran di daerah itu •?” ungkapnya.
Sehubungan dengan hal itu, JP mengembangkan sayapnya ke daerah yang belum memiliki harian. “Jika ada yang ber anggapan bahwa saya kemaruk, ya saya tidak bisa membantah. Memang setahun rata-rata kami melahirkan tiga koran baru Dan selama ini kami telah berhasil menge- lola 26 media cetak. Yang jelas, kami selalu memilih daerah-daerah yang masih ko- song, sehingga investasinya tidak banyak, kira-kira Rp. 500 sampai Rp. 1.000 juta su­dah cukup”.
Ditambahkannya, orang-orang JP yang dikirim dan menjadi motor di daerah, tun- tutannya juga belum banyak. Ini karena di JP mereka belum lama dan mereka tahu bahwa dulu ‘iJP juga pernah menderita se- kali. “Pendeknya, kami ini belum terbiasa hidup enak,” ujarnya,
Meski sudah mengelola 26 media cetak, ia enggan kalau disebut ‘raja koran’. Ini karena statusnya bukan pemilik. Sahamnya di JP juga tidak besar, tergolong minoritas. Sehingga ia lebih banyak bersifat sebagai pengelola.
Ekspansi JP ke daerah, tentunya tidak langsung mendapatkan untung. Bahkan di- lihat dari untung-ruginya mengembangkan koran daerah, gila rasanya ini dilakukan. “Sayasulit menjawabnya. Kenyataannya JP memang belum memperoleh apa-apa da­lam arti finansial, justru keluar uang. Tapi kalau’ditanya untuk apa, saya tidak bisa menjawab dengan satu kalimat. Misalnya untuk mencari keuntunganya tidak,” jelas­nya.
Lalu ditambahkan, mungkin itu merupakan naluri seseorang yang ingin terus berkembang. Motifnya tidak jelas dan semuanya itu tidak aada niat dalam arti direncanakan. Keuntungan mungkin baru dapat dipetik pada masa mendatang. Di samping itu langkah ini juga merupakan wadah penembangan karir orang-orang di JP.
Dalam melakukan ekspansi, kaderisasi diperhatikan sungguh-sungguh. Memilih orang yang tepat untuk menangani koran daerah, merupakan senjata utama dan pamungkas, karena tidak mungkin setiap hari menanganinya. “Saya harus dapat memilih orang yang dapat dipercaya dan mampu mengembangkannya. Saya memilih mereyang benar-benar memiliki kemampuan manajerial. Pemilihan itu tentu tak hanya melalui dan mengandalkan kegiatan rutin selama di JP. Itu tentu tak cukup, karena JP belum lama berdiri.”
Mengapa JP tidak menjadi koran nasi­onal yang lebih hebat lagi, tapi justru mengelola koran daerah? Seperti yang sering ia katakan, saat ini era koran nasional sudah akan berakhir. “Mana sekarang ada koran nasional? Sudah nggak ada nggak lagi. Koran-koran yang terbit di Jakarta pun, yang dulu dikatakan koran nasional itu, se­karang berproses menjadi koran daerah, yaitu daerah Jakarta,” jelasnya.
Kecuali itu, sejak dulu memang ia tidak setuju terhadap konsep bahwa koran dae­rah hanya membuat berita daerah. Oleh karena itu, ketika ia membesarkan JP, ia mempunyai konsep tersendiri. Menurutnya, ko­ran daerah seharusnya’berita nasionalnya tak kalah dengan koran Jakarta, berita internasionalnya tidak kalah dengan koran Tok­yo dan berita daerahnya pun harus menang dengan koran daerah manapun. “Tiga doktrin itu yang penting dan harus dilakukan oleh setiap koran, termasuk yang tergabung dalam Jawa Pos Grup,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 541-53 (CB-D13/1996-…)

Rudi Isbandi

Rudi IsbandiRudi Isbandi lahir di Yogyakarta, 2 Januari 1931. Pendidikan terakhir SMA, setelah itu belajar dari kehidupan. Sejak 16 November 1987 menggantikan almarhum Khrishna Mustadjab sebagai su­pervisor kebudayaan Perhimpunan Persahabatan Indonesia- Amerika (PPIA) Surabaya.

Pelukis yang kritikus seni rupa ini menikah dengan Sunarti tahun 1958, dikaruniai 2 orang anak, Drh. Toto Rudi Ananto dan Dra. Titi Ratih Dianti.

Pada tahun 1980 pernah menerima penghargaan sebagai “Keluarga Harmonis” tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pemilihan Keluarga Teladan Indonesia YASCO, 28 Januari 1987 menerima piagam penghargaan dari Presiden Soeharto sebagai peserta Keluarga Berencana Lestari, 4 Juni 1987 menerima piagam warga kota berprestasi, pasangan KB teladan dari Walikota Kodia Surabaya, dr. Poernomo Kasidi.

Bukunya yang diterbitkan di antaranya : Perkembangan Seni Lukis di Surabaya sampai 1975 (DKS, 1975); Lukisan Sebagai Potret Diri (DKS. 1976); Percakapan dengan Rudi Is­bandi (DKS, 1985); dan novelet Kembalilah ITO (Surya Raya, 1979). la pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Surabaya.

Bersama keluarga ia bertempat tinggal di Jl. Karang Wismo I No. 10 Surabaya, dan berkantor di Jl. Dharmahusada Indah Barat I No. 3 Surabaya. Kini ia lebih dikenal sebagai kolektor burung dan ayam bekisar.

 

Dunia seni lukis sudah mendarah daging dalam diri tokoh ini. Melukis bukan lagi sekadar menggoreskan kuas dan cat ke kanvas, sudah lebih dari itu. “Seni itu ibarat sebuah pohon. Pasti mengenal kapan saat tumbuh, kapan berdaun, ber- bunga, dan berbuah untuk kemudian mati karena ditelan usia,” ucap pelukis, kritikus seni rupa, dan penulis sajak, Rudi Isbandi.

Sikap-sikap seni lukis Rudi di antaranya,” di samping bentuk dan rupa, yang nyata, maka setiap hal itu juga mengandung yang bersifat abstrak. Itu dapat berujud getaran tegangan, irama, nuansa, dan apapun namanya. Misainya suatu suasana selalu memiliki getaran atau tegangan atau irama yang berbeda dengan suasana yang berlainan. Dalam lukisan dapat berupa garis saja, atau semata-mata warna, atau nuansa dan bentuk-bentuk lain yang nonfiguratif.

Lukisan-lukisan abstrak Rudi Isbandi le­bih menawarkan renungan. “Setiap lukisan mesti menyodorkan masalah, yang berupa tema yang diajukan pelukisnya. Tema itu menjadi masalah pokok, problem yang di- garap pelukis. Dan saya tidak mengajukan problem ….. Tema Kehidupan, bagaimanapun pengolahannya, tentulah sesuatu yang tidak selesai. Saya tidak menggarap kehidupan dari segi fisiknya, tapi dari te­gangan, dari iramanya, atau ritmenya. Dan itu merupakan nuansa warna transparan,” tuturnya.

Perkembangan terakhir dari lukisan-lukisan Rudi Isbandi yaitu menyodorkan pulasan-pulasan warna, tanpa obyek. Bagi Rudi hal itu merupakan suatu mata rantai pekembangan lukisannya yang ditekuni selama ini. (AS-10)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 50 (CB-D13/1996-…)

 

Thalib Prasojo

Thalib PrasojoM. Thalib Prasojo lahir di Bojonegoro, 17 Juni 1931. Pendidikan terakhir Akademi Seni Rupa. Pernikahannya dengan Rr. Sri Sumiyatun membuahkan 4 orang anak, masing masing Nunik Sri Rahayu (guru Sekolah Menengah Seni Rupa Surabaya), Basuki (war- tawan tabloid Jawa Anyar, Ninil Kurniawati (wiraswasta), dan Teguh (sarjana teknik alumni ITS).
Sebagai pelukis sketsa ia telah memamerkan karya karyanya di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Bandung, dan kota-kota lainnya. Aktif dalam organisasi kesenian, di antaranya pernah memegang jabatan sebagai Ketua Biro Seni Rupa Dewan Kesenian Surabaya(DKS), kini menjabat Ketua Penelitian dan Pengemban- gan (Litbang) Dewan Kesenian Surabaya.
Kariernya diawali dengan pengabdiannya sebagai guru Sekolah Dasar, menulis mengenai spiritual, dan intens dalam kegiatan seni rupa. la pernah memperoleh penghargaan dari Korem 084 Surabaya dan AkabriLaut dalam pembuatan patung monumen.
Pelukis ini bertempat tinggal di Jalan Gresik No. 254 Surabaya.
Sesuai dengan nama yang disandang, pelukis ini memiliki semboyan hidup sedarhana. Bertolak dari nama itu pulalah ia waktu kecil memiliki obsesi hendak meniti karier menjadi dalang atau menjadi pelukis. Ternyata pilihannya jatuh pada profesi yang kedua, yaitu pelukis.
Atas dasar wangsit yang pernah ia terima waktu duduk di Sekolah Menengah Lanjutan Pertama (SMP) bahwa profesi pelukis, akan membuahkan hasil untuk kemuliaan anak-anaknya. “Kadang-kadang sesuatu yang tak terlihat mata, bisa tam- pak,” tuturnya.
Dalam setiap kesempatan ia selalu membawa kertas gambar ukuran folio dan pulpen ditangannya. Objek-objek yang berupa kegiatan manusia, flora, dan fauna dipindahkan ke dalam kertasnya. Tidak mengherankan bila ia memiliki beribu-ribu koleksi lukisan sketsa.
Sebagai pelukis Sketsa ia bukanlah tukang gambar. Karya-karyanya memiliki nuansa khas yang menyentuh batin penik- matannya. Kekuatannya terletak pada garis-garis yang diberi muatan simbolik. Raut muka seseorang yang dilukis setelah dipindahkan ke dalam kertas, berubah menjadi simpul-simpul kepribadian ma­nusia. Itulah sebabnya, pelukis yang memi­liki tokoh idolah Sunan Kalijaga ini, ingin mengawinkan falsafah-falsafah dengan objek yang dilukis.
“Saya menghadapi hidup ini bagai air mengalir. Tak ada sesuatu yang saya pan- dang istimewa, toh hidup kita ini diatur oleh Yang Mahakuasa,” akunya. (AS-10)

Ria Enes

Ria Enes001Ria Enes lahir di Malang, 29 Juni 1968. Beragama Islam. Pendidikan SD hingga SMA ia selesaikan di kota Malang. Meraih gelar sarjana Fakultas llmu Komunikasi, Jurnalislik Universitas Dr. Soetomo Surabaya.
Penyanyi yang punya nama asli Wiwik Suryaningsih karirnya dimulai menjadi penyiar di Radio Carolina selama 9 bulan (1987). Kemudian tahun 1988-1994 pindah di radio Suzana. Sering pula dimintai menjadi MC pada acara-acara khusus di TVRI Surabaya.
Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya, diantaranya HDX Award 1991 untuk album “Si Kodok”, dua tahun yakni 1992 dan 1993 menerima HDX Golden Award untuk albumnya “Susan punya cita-cita”. Terakhir dia mendapat julukan sebagai “Srikandi Award Tahun 1994 sebagai wanita berprestasi”.
Putri ke delapan dari pasangan Abdul Jahlal dan Umi Kusnul tinggal bersama keluarga di Jalan Simpang Darmo, Permai Selatan VIII/3 Surabaya.
Siapa yang tak kenal Suzan? Tentu, pandangan kita tertuju pada artis kelahiran kota apel ini. Dialah Ria Enes, bukankah Suzan itu Ria Enes, dan Ria Enes adalah Suzan?
Tapi agaknya, bukan ia kalau tidak mampu memilahnya. Meski dalam batas-batas tertentu dibumbui subjektivitas pribadi. Terbukti bisa menyekat ruang yang seolah tanpa batas antara dirinya dan boneka Suzan. Hasilnya gelar Sarjana Komu­nikasi dari Fikom Unitomo Surabaya buat dia yang wisudanya digelar bulan Januari yang lalu.
Mungkin inilah enaknya jadi penghibur semacam Ria. Ia tak perlu jauh-jauh mencari topik skripsi sebagai salah satu syarat meraih gelar sarjana. Boneka Suzannya yang fenomena itu, ia teliti sendiri kadar kredibilitasnya di mata anak-anak penggemarnya.
Maka jadilah skripsi berjudul “Tanggapan Anak-Anak Terhadap Figur Suzan Se­bagai Penyampai Pesan”, (studi penelitian Diskriptif tentang tanggapan anak-anak usia TK-SD di Surabaya dan Jakarta terha­dap Figur Suzan sebagai penyampai pe­san) uang mengantarkannya ke gerbang kesarjanaan.
Sebagai artis penyanyi, tentu banyak mendapat pengalaman, baik itu suka maupun duka. Ia lalu menceritakan pengalamannya yang sangat berkesan di hatinya.
“Mulanya saya cuma hobi bermain bo­neka”, ujar Ria yang punya filsafah hidup, hidup itu tidak perlu ngaya. Lantas keterusan. Malah jadi populer. (AS-4)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996, editor Setyo Yuwono Sudikan. Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 30 (CB-D13/1996-…)

 

Ismanu Soemiran

ismanu SoemiranIsmanu Soemiran lahir di Tulungagung, 3 Mei 1949. Pendidikan formal yang ditenpuh, SR Jepun (1961), SMPN I Tulungagung (1963) dan SMAN I Tulungagung (1966). Setamat SMA tidak lantas meneruskankuliah, lapimencobamendalamibahasa asing.yang diharpakn bisa menjadi bekal belajar ke luar negeri. Tapi niatnya itu tidak kesampaian.

Saal ini menjabat sebagai Direktur Pabrik Rokok Retjo Pentung Tulungagung, yang didirkan ayahnya, Soemiran. Di samping itu ia juga menjadi Direktur Utama Soetera Bina Samudera, yang mengelola wisata pantai Popoh, Tulungagung.

Menikah dengan Sherly Suherlan dikaruniaitiga puteri dan satu putra. Masing masing bernama Setiyanti Ismaningsih, Ismarlina Dwi Amelia, Ismandriani Tri Irmawidyawati dan Mochamad Anugrah Satriyo Kuncoro.

Bersama keluarga tinggal di Jl. Supriyadi 80 Tulungagung telepon (0355) 21904. Sedang sehari-harinya berkantor di Jl. Mayor Suyadi No. 21 Tulungagung telepon (0355) 23880-2.

 

Lahir sebagai anak laki-laki tertua dari keluargan Soemiran Kaartodiwiryo, pendiri Pabrik Rokok Retjo Pentung. Selanjutnya ia dipercaya bapaknya untuk melanjutkan mekanisme kelangsungan perusahaan tersebut.

Semula bercita-cita sekolah ke luar negeri. Untuk mempersiapkan diri, setamat SMA mengikuti kursus berbagai macam bahasa, misalnya Inggris, Mandarin, Jepang, dan bahasa Belanda. Namun setelah mengikuti kursus, kenyataannya menjadi lain, karena orang tuanya ingin agar ia segera meneruskan perusahaan tersebut. Maka urunglah cita-citanya untuk menimba ilmu di luar negeri.

Ia mengakui, secara psikologis bisa menerima alasan ayahnya. Sebagai anak laki-laki tertua, tentunya memiliki tanggung jawab lebih untuk memberikan contoh bagi adik-adiknya.

Dalam soal rokok, ia pertama kali terjun sebagai sales yang biasa menawarkan dari toko ke toko. Waktu satu tahun, dirasa belum cukup pengalaman, kemudian ditam- bah lagi sampai dua tahun. Dengan menjadi sales, ia mengaku memiliki pengalaman pemasaran suatu produk, tidak terkecuali produk rokok. la mengetahui persis keberadaan produk yang dihasilkannya, bisa di- terima masyarakat atau tidak.

“Jangan harap kita bisa bekerja duduk dengan enak,. kalau tidak memiliki penga­laman lapangan. Bagaimana bisa menerapkan manajmen yang pas, kalau pangsa pasar saja tidak mengetahui,” katanya. Un­tuk itulah, agar seseorang ingin suksek berbisnis, menurutnya’ perlu pengalaman la­pangan yang cukup. Dan itu pun memerlukan proses panjang.

Sebagai wiraswastawan, ia mengaku tanpa henti belajar bagaimana mengembangkan perusahaan. Antara pengusaha satu dengan yang lainnya, tentu memiliki perbedaan, meski produknya sama. Tapi setidaknya untuk menjadi usahawan tangguh,  baginya minimal memiliki dasar filsafat 6 S. Kalau dijabarkan, menurutnya resep ini bisa menjadi pemacu keberhasilan.

Enam S yang tidak lain adalah Senyum, Salam, Sapa, Sambung Rasa, Simpatik dan Sovenir ini, sangat efektif sekali. Apalagi sebagai seorang lapangan. Secara gamblang ia menjelaskan, “terhadap seorang calon pembeli, pertama kita harus menunjukkan sifat ramah dengan memperlihatkan senyum. Selanjutnya memberikan salam kepada relasi tersebut. Lalu kita sapa yang akhirnya terjadilah sambung rasa. Setelah itu berkembang dan dari sana akan limbul rasa simpatik sehingga menghasilkan so­venir, alias dagangan laku”.

Setelah menduduki pimpinan di Retjo Pentung, ia segera dihadapkan masalah baru lagi. Tidak hanya soal tawar menawar ketika menjadi sales. Ujian yang kelihatan mencolok adalah tatkala dekade 80 an. Di mana di Indonesia lahir BPPC yang mengurusitata niaga cengkih. Merasaterhambat, karena sulit mendapatkan bahan baku yang berakibat perusahaan kalang kabut. Status dari perusahaan besar, turun menjadi per­usahaan kecil. Dan tak urung 2.000 karyawan terpaksa harus meninggalkan profesinya.

“Sebetulnya saya kasihan terhadap mereka. Tapi bagaimana lagi, itu suatu tindakan sementara yang harus saya lakukan demi kelangsungan perusahaan” kilahnya. Setelah meningkatkan manajemen secara profesional, kehidupan perusahaannya bi­sa kembali seperti semula, dan karyawan yang tadinya ke luar, bisa masuk lagi.

Terhadap tenaga kerja, ia tak mau sembarang mengatur. Obsesinya, karyawan di lingkungannya tak sekedar bisa menikmati standar UMR, tapi bisa meningkat menjadi kebutuhan fisik minimum (KFM). Karena itulah, ia tak pernah membedakan diri de­ngan para karyawan. “Kalau perlu, saya juga belajar dari mereka. Kan tidak ada salahnya. Belajar itu jangan memandang siapa guru kita, tapi apa yang dapat kita terima,” tandasnya.

Sebagaimana ajaran ayahnya dulu, sikap itu terus dipelihara hingga sekarang. Kritik, dianggapnya sebagai nasihat. Dan menurutnya, itu perlu diambil hikmahnya. Barang kali ada benarnya. “Tapi juga tidak sedikit orang mengkritik hanya karena iri Iho,” guraunya.

Yang penting, menurutnya orang hidup ini harus pandai-pandai bersyukur. Rejeki jangan diukur besar dan kecilnya. Tapi sejauh mana bisa membawa kemasla- hatan. (AS-20′)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 54-55 (CB-D13/1996-…)

Biografi Samin Surosentiko

Samin Surosentiko dan Sejarah Gerakan Saminist (Paham Samin) di Jawa Tengah dan Jawa Timur

Nama Samin berasal dari nama salah seorang penduduk yang bernama Samin Surosentiko (= Surontiko). Samin Surosentiko dilahirkan pada tahun 1859 di Desa Ploso, Kediren, sebelah utaraRandublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Samin Surosentiko kerabat keturunan Pangeran Kusumaningayu atau Kanjeng Pangeran Arya Kusumawinahyu. Pangeran Kusumaningayu adalah Raden Adipati Brotodiningrat yang memerintah di Kabupaten Sumoroto (sebelah baratkota Ponorogo). Samin Surosentiko seorang petani lugu yang memiliki tanah sawah seluas tiga bau atau lima are (Benda & Castles, 1969:210), satu bau ladang dan enam ekor sapi. Ia bukan tergolong petani miskin (Hutomo, 1996:14). Ayahnya bernama Raden Surowijoyo yang dikenal sebagai Samin sepuh dan bekerja menjadi bromocorah untuk kepentingan orang banyak yang miskin, di daerah Bojonegoro (Hutomo, 1996).

Kiai Samin memang bukan petani biasa. Ia adalah putra priyayi yang menyamar sebagai petani, tepat seperti yang dilakukan oleh Pangeran Handayaningrat, Pangeran Panggung, Ki Kebo Kanigara, dan Ki Kebo Kenanga yang menyamar sebagai ‘orang kecil’, demi suatu janji untuk membantu mereka memperoleh harga diri (Sastroatmodjo, 2003:34-35). Kiai Samin Anom (baca: Surosentiko) dalam kehidupan penyamarannya sebagai kawula-alit itu kemudian mempersiapkan Desa Ploso Kediren sebagai basis pemberontakan melawan pemerintah Hindia Belanda (Sastroatmodjo, 2003:17).

Nama asli Samin Surosentiko adalah Raden Kohar, kemudian diubah menjadi Samin. Nama Samin dipilih karena lebih bernafas kerakyatan. Samin Surosentiko anak kedua dari lima bersaudara, kesemuanya laki-laki. Di desanya Samin Surosentiko disamakan ‘dengan Bimasena (Werkudara), putra kedua dari lima bersaudara kesemuanya laki-laki, yakni Pandawa dalam mitologi wayang.

Ki Samin Surosentiko yang lahir tahun 1859 di Ploso, sebagai cucu Pangeran Kusumaningayu (?), Bupati Sumoroto, sebenarnya sejak kecil dijejali oleh pandangan-pandangan figuratif pewayangan yang mengagungkan tapa brata, gemar prihatin, suka mengalah (demi kemenangan akhir) dan mencintai keadilan. Rupanya ia terpukul melihat realitas sekeliling, di mana rakyat yang terisap dan terjajah tak bisa menggeliat lagi karena menemui kebuntuan dan kebingungan. Dari ayahandanya, Raden Surowijoyo, pemuda Kohar yang kemudian hari menamakan diri Ki Samin Surosentiko) dan belajar tentang realisme politik anak jajahan,hal mana membuktikan jelas bahwa sang bapa tidak tertarik akan dunia kepangrehprajaan, dan lebih tertarik pada kehidupan bohemian dan mistik. Kekecewaan yang menumpuk serta bahu yang terlalu ringkih untuk memikul kegetiran membawa bapak itu ke gelanggang perjudian, madat, dan khabarnya sampai memasuki dunia hitam: bromocorah. Surowijoyo sering merampok keluarga kaya, dan hasilnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Sebagian dari perampokan ini digunakan untuk membiayai pembangunan unit terkecil masyarakat Utopia yang disebutnya ” Tiyang Sami AmirT. (Sastroatmodjo, 2003:59-60).

Sekitar tahun 1890, pada waktu itu berumur 31 tahun, Samin Surosentiko mulai menyebarkan ajarannya. Para pengikutnya orang-orang satu desa. Dengan laku tapabrata, ia memperoleh wahyu kitab Kalimasada. Sejak mendapat wahyu kitab Kalimasada itu pengikut Samin Surosentiko bertambah banyak. Pengikutnya tidak hanya terbatas dari desanya sendiri, tetapi juga orang-orang yang berasal dari desa-desa lain.

Kenyataan membuktikan bahwa rakyat Desa Tapelan, Ploso, dan Tanjungsari mengangkat Kiai Samin sebagai raja dengan gelar Prabu Panembahan Suryongalam (cahaya alam semesta), dan sebagai patih merangkap senapatinya, ia menunjuk Kamituwa Bapangan dengan gelar Suryongalogo (cahaya medan laga, artinya pahlawan yang selalu jaya), sekaligus membuktikan bahwa wadah aristokrasi feodal tetap diagulkan sebagai lambang kekuasaan pribumi Jawa yang sah dan berdaulat (Sastroatmodjo, 2003:18).

Pada hari-hari berikutnya pengikut Samin Surosentiko semakin berkembang, bertambah banyak. Pada bulan Januari 1903, Residen Rembang melaporkan bahwa pengikut Samin (saminisi) berjumlah sekitar 772 orang di desa-desa Blora selatan, sebagian di wilayah Bojonegoro. Ada juga pengikut Samin yang berasal dari Ngawi dan Grobogan. Selanjutnya pada tahun 1906 pengikut Samin ada di wilayah Rembang. Penyebar ajar an Samin di wilayah ini dilakukan oleh menantu laki-laki Samin, yakni Surokidin dan Karsiyah (Benda dan Cantles, 1959:211).

Pada tahun berikutnya, pengikut Samin mencapai 3000 orang. Didengar kabar bahwa pada 1 Maret 1907 orang Samin akan mengadakan perlawanan kepada pemerintah Belanda. Karena kabar itu, Kontrolir Belanda melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang Samin yang pada waktu itu sedang mengadakan selamatan (slametan) salah satu keluarga di Kedungtuban. Slametan kerabat ini dianggap bahwa orang-orang Samin sedang mengadakan persiapan perlawanan kepada pemerintah Belanda. Saat itu Samin Surosentiko tidak ada di tempat, karena sedang ada di Rembang. Selanjutnya Samin Surosentiko diinterogasi dan bersama dengan delapan pengikutnya ditangkap dan diasingkan ke Sumatera. Di pengasingan, Sawahlunto, Samin Surosentiko meninggal dalam status tahanan (1914).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 85 -88

Nina Tamam, Surabaya

nina tamam29 Maret 1975, Nuraini Sukoningrum Tamam lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. lebih dikenal sebagai Nina Tamam, putri sulung musisi senior, Tamam Husein musisi senior.

Tahun 1989, Nina pernah menjadi juara pertama Pesta Musik YMI.

Tahun 1992, Nina sebagai anggota County Chorus di Easton, Amerika Serikat.

Tahun 1995, Nina bergabung dalam grup vokal Warna, bentukan ayahnya. Di tahun ini pula Nina berperan dalam sinetron yang berjudul Deasy (SCTV).

1995-2002, Nina membintangi iklan “Teh Sariwangi”.

Tahun 1996, mengisi acara Parade Keluarga Berbakat (Indosiar).

Tahun 1997, Nina sebagai presenter Ekspresi (Indosiar). Nina juga pernah menjadi penyiar di I-Radio dengan memandu acara Life Cycle of Music di Universitas Katolik Atmajaya, menggantikan posisi Tika Panggabean. Dalam acara off air itu, Nina mewawancarai Melly Goeslaw.

Tahun 1998, Nina bersama Warna mengeluarkan album “Dalam Hati Saja”.

Tahun 2000, Nina bersama Warna mengeluarkan album lanjutan “Cinta”.

29 Agustus 2002. Nina menikah dengan lelaki berdarah Toraja-Jawa, Erikar Lebang.

Tahun 2003, Nina bersama Warna mengeluarkan album The Best Of Warna.

2003-2004, Nina membintangi iklan “Bodrexin”.

23 Maret 2005,  Nina akhirnya keluar dari Warna untuk bersolo karier.

2005-2006, Nina membintangi iklan “Rinso”.

6 Mei 2005, obsesi Nina terpenuhi, merilis album solo berjudul “Nina”. Debut album ini menampilkan 10 tembang dengan muatan genre musik pop. Lagu “Ya…Ya…(Aku Bahagia)”, ciptaan Dewiq, didaulat menjadi single pertama. Tak ketinggalan ayahnya, Tamam Husein turut andil dengan menyumbangkan lagu berjudul “Kembali Padamu”.

2007-?, Nina membintangi iklan “Gaga” dan juga “Molto”.

Sekarang bersama dengan Rieka Roeslan, Iga Mawarni, Andien, dan Yuni Shara membentuk kelompok vokal beranggotakan lima orang dengan nama 5 Wanita. =S1Wh0T0=

 

 

Amak Baldjun, Surabaya

Amak Baldjun12 Juli 1942, Amak Baldjun lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Ia menempuh pendidikan formalnya di Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta dan LPPM Jakarta untuk bidang Manajemen keuangan.

Amak mengawali karier di dunia seni peran dengan bermain dalam teater. pendukung utama Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer.

Tahun 1975-1982, Amak sebagai Wakil General Manager Bidang Artistik / Umum PKJ – TIM.

Tahun 1979, merupakan awal  Karir film Amak, berperan dalam film “Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa” yang disutradarai oleh Arifin C Noer, serta  “Sepasang Merpati”.

Tahun 1980, Amak  berperan dalam film Tiga Dara Mencari Cinta”. Dan mendapatkan nominasi aktor pembantu pria terbaik lewat film “Janur Kuning”  dalam Festival Film Indonesia (FFI). Di tahun ini Amak mengelola Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta – TIM tahun.

Tahun 1980, Amak

1981, Amak  berperan dalam film Ketika Cinta Harus Memilih” dan  “Bukan Impian Semusim”.

Tahun 1989, Amak  berperan dalam film Cas Cis Cus”. kembali masuk sebagai nominator aktor pendukung pria terbaik pada FFI tahun 1990,

Tahun 1992, Amak  berperan dalam film RAMADHAN DAN RAMONA kembali masuk sebagai nominator aktor pendukung pria terbaik pada FFI.

Tahun 1991, Amak  berperan dalam film Plong (Naik Daun)”.

1991-1998, Amak menjadi Konsultan Bidang Manajemen PKJ – TIM pada masa kepemimpinan Pramana Padmodarmaya.

Tahun 1992, Amak  berperan dalam film Ramadhan dan Ramona “. Dan menjadi nomine aktor pembantu pria terbaik  dalam Festival Film Indonesia (FFI).

Tahun 1993, Amak  berperan dalam film Badut-Badut Kota”.

Tahun 1996-1997,  Amak  berperan dalam film Fatahillah”.

Tahun 2000, Amak  berperan dalam film Puisi Tak Terkuburkan”.

Tahun 2007, Amak  berperan  sebagai hakim dalam film Ayat-Ayat Cinta”. terakhir kali Amak bermain film.

5 Januari 2011, Amak Baldjun meninggal dunia pada umur 68 tahun, di Rumah Sakit MH Thamrin  Jakarta. Akibat serangan stroke dan pendarahan di batang otak.

Rabu, 5 Januari 2011, sekitar pukul 13.10 WIB Amak dimakamkan persis di makam istrinya di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak., Jakarta Pusat.  Amak meninggalkan tiga orang putri dan dua orang cucu.=S1Wh0T0=