Kesenian Damarulan, Kabupaten Banyuwangi

Janger atau legong adalah kesenian tradisional yang berasal dari daerah Bali, dan yang dapat tumbuh dan berkembang serta digemari masyarakat Banyuwangi. Di Banyuwangi, bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Jawa Tengah cerita yang dipentaskan biasanya babad-babad Majapahit, Blambangan, dan sebagainya, sedangkan gamelan dan tata rias serta busananya tidak menin- galkan aslinya.

Sekitar tahun 1950, Banyuwangi mengalami per­tumbuhan kesenian ini sehingga hampir setiap desa memilikinya Lakon yang hampir selalu ditampilkannya, dan sangat digemari masyarakat, ialah cerita Damarulan Ngarit ‘Damar Wulan menya­bit rumput’ sehingga akhirnya kesenian itu lebih dikenal dengan nama damarulan. Damar Wulan adalah nama tokoh kerajaan Majapahit semasa pemerintahan ratu Kencana Wungu.

Dalam perkembangan akhir-akhir ini, damarulan banyak dan sering menampilkan cerita lain, seperti Sri Tanjung, Jaka Umbaran, Bantrang Surati, Agung Wilis, dan babad-babad tentang berdiri­nya mesjid Demak, bahkan kadang-kadang diambil dari cerita film. Kesenian tradisional damarulan makin banyak digemari, mungkin karena pertumbuhan serta peningkatan cipta seninya memenuhi selera daerah setempat.

Dalam pada itu, jenis kesenian yang dianggap sebagai sumbernya, yaitu legong atau janger, masih terdapat di beberapa tempat di Banyuwangi, walaupun pengge­marnya tidak banyak Kesenian tradisional damarulan termasuk drama. Walaupun cakapan dilakukan dalam bahasa Jawa Tengah, tetapi motif Bali masih dominan, terutama dalam hal tata rias, ta­ta busana, bentuk gerak tari, dan perangkat gamelan dengan laras­nya yang khas Bali.

Kita telah banyak mengenal gending irama Bali dengan rit­me yang lincah dari kombinasi nada yang merdu dan serasi itu, dan pada kesenian damarulan pun terdapat gending yang sama.

Pada kesenian legong atau janger, sarana peralatannya cukup besar, terutama perangkat gamelannya. Kesenian damarulan pun demikian pula. Perangkat gamelannya terdiri dari 12 macam gamelan, sedangkan tenaga penabuhnya ada 19 orang. Satu pe­rangkat gamelan damarulan terdiri dari :

a) Sebuah gamelan yang disebut pantus, yaitu gamelan sema­cam selenthem pada angklung banyuwangi, dan pemukulnya seorang, disebut pantus juga. Pantus sebagai pembawa gen­ding pada perangkat gamelan ini, mempunyai peranan pen­ting dalam penampilan cerita sehingga ia harus banyak penga­laman dalam hal pagelaran kesenian damarulan.

b) Gamelan yang disebut tempalan i,sebanyak tiga buah ter­diri dari dua tengahan dan satu peking, dan berfungsi mem­berikan pukulan yang berlawanan dengan tempalan 2.

c) Tiga gamelan tempalan 2, terdiri dari dua tengahan dan satu peking. Cara memukul tempalan 1 dan tempalan 2 ber­lawanan, mengikuti irama pantus, dan para penabuhnya duduk berhadapan

d) Dua buah calung, yaitu jenis gamelan semacam selenthem be­sar, bedanya masing-masing mempunyai wilahan yang hanya terdiri dari enam wilah. Cara memukulnya bersamaan me­ngikuti irama pantus yang memiliki 12 wilah.

e) Sebuah jubag, yaitu semacam selenthem besar, tetapi terdiri dari enam wilah dan tiap wilah terdiri dari wilahan yang rangkap. Dengan demikian alat pemukulnya pun rangkap dua. Cara memukulnya irama lambat atau satu-satu, meng- kuti irama pantus. Namun mengikuti pukulan yang tera­khir tiap birama seakan-akan mengikuti lagunya pada bagian belakang.

Kecek, yaitu alat ritmis terbuat dari lempengan semacam seng tebal, dua pasang, masing-masing disusun rangkap ber- bentuk lingkaran. Alat pemukulnya juga terbuat dari bahan yang sama, berbentuk sama pula, hanya tidak rangkap. Cara memukulnya dengan menggunakan tangan kanan dan kiri bergantian mengikuti irama, gendingnya berfungsi seba­gai sisipan pada iramanya, dan terutama untuk memperte­gas persamaan gerak tari pelaku yang sedang menari.«

g) Kethuk, yaitu alat yang hanya terdiri dari satu saja. Cara memukulnya dengan irama yang tidak tetap. Walaupun se­derhana, alat ini tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang.

h) Sebuah gong yang fungsinya sama dengan pada gamelan lain.

i) Dua buah gendang dengan dua orang pemukul juga, ber­fungsi membawa irama.

j) Reong, yaitu gamelan khas Bali, berupa deretan kempul yang memanjang sebanyak 12 buah dengan empat orang pemukul. Gamelan ini mengiringi irama gending dengan suara yang khas Bali.

Penampilan atau permainan damariilan di daerah Banyuwangi sama dengan cara penampilan janger atau legong di Bali. Pentas berupa panggung dengan latar belakang skerm dengan berbagai macam gambaran atau lukisan yang digunakan menurut kebu­tuhan cerita atau lakon.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan,

 

Kesenian patrol, Kabupaten Banyuwangi

Kesenian patrol merupakan salah satu jenis musik khas Banyuwangi yang tetap hidup dan berkembang sampai sekarang. Kesenian patrol adalah jenis musik rakyat yang lebih bersifat ritmis, tanpa peralatan diatonik.

Dalam perkembangannya, di beberapa tempat ditambahkan satu atau dua peralatan diatonik, biasanya berupa angklung atau seruling dari bambu sebagai peng­ganti vokal. Kesenian patrol yang aslinya juga tetap berkembang, merupakan seni memukul peralatan ritmis dari ruas-ruas bambu yang diraut dan diatur demikian rupa sehingga enak didengar dan sedap dipandang, dengan teknik pukulan khas Banyuwangi.

Kesenian patrol juga terdapat di daerah lain dengan ciri khas masing-masing, antara lain di Madura dan Jawa Tengah.Pada patrol Banyuwangi ada semacam alat patrol ritmis yang dalam dialek Using disebut gendhong. Alat itu berfungsi seperti gendang pada kesenian angklung Banyuwangi atau selo pada musik keron­cong.

Jadi alat itu berfungsi penting sebagai pengatur irama dan ritmanya. Pemukul gendhong harus benar-benar tahu irama dan banyak memahami teknik permainan patrol. Musik rakyat patrol Banyuwangi berfungsi sebagai salah satu sarana dalam rangka penjagaan keamanan desa dari segala macam bahaya, dan kata patrol yang berasal dari kata patroli berarti ‘beijaga berkeliling’ atau ‘meronda’ sambil membunyikan peralat­an ritmis terbuat dari mas bambu besar kecil, yang apabila dipukul mengeluarkan bunyi berbeda dan enak didengar.

Dalam hubungan itu, mungkin peralatan patrol dibuat di samping sebagai salah satu sarana kegiatan patroli atau meronda dari penduduk kampung yang berfungsi untuk tanda membangunkan penduduk desa yang sedang tidur, juga sengaja untuk sekedar menyusun bunyi-bunyian indah berirama sebagai pencegah para peronda mengantuk.

Dewasa ini kesenian patrol Banyuwangi terbina dan berkembang dengan baik, serta terkordinir secara teratur dengan kaidah-kaidah permainan tertentu sebagai salah satu jenis kesenian daerah Blam- bangan Banyuwangi.

Kesenian patrol banyuwangi memiliki ciri khas. Secara tra­disional, di daerah Banyuwangi, selama bulan Ramadhan ada kebiasaan setiap malam sesudah sembahyang tarawih diadakan permainan patrol berkeliling dari kampung ke kampung oleh para remaja dan bahkan ada yang sudah dewasa. Kebiasaan itu tidak lagi berfungsi sebagai penjaga kampung atau ronda malam, tetapi secara suka rela tanpa rasa pamrih membangunkan penduduk desa yang masih tidur lelap segera bangun untuk makan sahur.

Dalam penampilannya, patrol selalu diiringi vokal membawa­kan lagu atau gending banyuwangen dengan cengkok serta logat yang khas Banyuwangi, diselingi ucapan suara lantang dan keras, “sahur! sahur!” Dalam perkembangan selanjutnya, kesenian pa­trol yang terorganisasi dengan rapi serta mempunyai program pem­binaannya, dapat dijumpai setiap saat, dan tidak hanya menampil­kan bunyi-bunyian peralatan patrol itu saja, tetapi dilengkapi dengan lagu perjuangan daerah Blambangan ciptaan baru. Musik rakyat patrol ini membawakan lagu daerah Banyuwangi yang biasa dibawakan oleh penari gandrung.

Dalam usaha pembinaannya, setiap bulan Ramadhan diada­kan festival “Parade Patrol”, diikuti oleh semua organisasi patrol di seluruh wilayah kabupaten Banyuwangi. Dengan usaha itu, daerah Banyuwangi sempat membina kesenian ini. Untuk menen­tukan juara parade itu, biasanya ditetapkan kriteria penilaian yang meliputi hal-hal berikut.

  1. Kecakapan atau teknik pukulan, yaitu kemahiran cara memu­kul peralatan patrol sehingga terdengar suara dan irama yang indah. Ketrampilan pukul akan melahirkan keserasian suara yang indah serta pengaturan irama atau ritma pukulan yang enak didengar. Keserempakan mulai memukul dan berhen­ti pada saat yang tepat, adalah salah satu dari ketentuan kriteria ini.
  2. Aransemen, yaitu pukulan atau irama sisipan pada pukulan para pemainnya, biasanya banyak tergantung kepada kete­kunan mereka berlatih di samping kecakapan pimpinan atau  pelatihnya. Setiap grup mempunyai aransemen yang ber­lainan, tergantung kepada selera pelatihnya, namun tidak meninggalkan irama dan ritma khas Banyuwangi.
  3. Keindahan bunyi peralatan patrol yang tidak terlepas dari aransemen, warna bunyi atau suara peralatan patrol itu sen­diri sangat menunjang keindahannya. Patrol yang pecah atau tidak nyaring, sudah tentu tidak akan melahirkan suara yang merdu atau indah. Dalam lomba itu, biasanya juga ditentukan keaslian peralat­annya, yang terutama terbuat dari bambu atau kayu.
  4. Tata tertib dan kesopanan, biasanya telah ditentukan lebih dulu oleh panitia jauh sebelum parade dilaksanakan, me­nyangkut ketentuan yang bersifat ideal sebagai orang Timur. Tata busana, yang tidak terlalu mewah, tetapi sopan dan pantas. Kriteria penilaian busana ini tidak amat menentu­kan.

Peralatan kesenian patrol khas Banyuwangi umumnya terbuat dari ruas bambu besar kecil yang diraut dan dilubangi demikian rupa sehingga dapat mengeluarkan suara nyaring apabila dipukul. Dari warna bunyi yang indah itu, sekelompok anak muda berusaha mengungkapkan rasa musikalnya melalui kesenian ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 33-35

Tari Padangulan, Kabupaten Banyuwangi

Tari padangulan adalah satu jenis tari daerah Blambangan Banyuwangi yang termasuk jenis tari kelompok berpasangan, dan sudah dikenal di seluruh daerah Jawa Timur. Namanya dise­suaikan dengan suasananya, yaitu ketika kelompok muda-mudi berpasangan bersukaria bersama di bawah sinar bulan purnama di tepi pantai Banyuwangi. Memang sudah menjadi kebiasaan, pada waktu bulan purna­ma, pantai Banyuwangi banyak dikunjungi para pemuda, terutama para remaja, apalagi jika kebetulan tepat pada malam Minggu. Pada saat itu mereka berkesempatan saling berpasangan menikmati hawa sejuk tepi pantai, memadu janji di bawah kilauan air laut. Tari padangulan adalah satu tarian tradisional yang bersifat hiburan semata-mata sehingga dapat dianggap sebagai tari per­gaulan muda-mudi. Tari ini termasuk tari rakyat, yaitu tarian yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat Using, Banyuwangi Tarian ini diiringi angklung Banyuwangi dengan gending banyu- wangen, Padangulan, yang syair lengkapnya dalam dialek Using adalah sebagai berikut: Padangulan nong pesisir Banyuwangi, padangulan nong pesisir Banyuwangi, kinclong-kinclong segarane kaya kaca, kinclong-kinclong segarane kaya kaca, soren-soren lanang wadon padha teka. Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Terang bulan di tepi pantai Banyuwangi, Terang bulan di tepi pantai Banyuwangi, berkilauan lautannya bagai cermin, berkilauan lautannya bagai cermin, sore hari, pria wanita berdatangan. Gending itu akan terasa lebih indah apabila diiringi angklung Banyuwangi yang erotik melankolik dan lincah, menarik siapa pun yang menikmatinya, apalagi dengan santapan visual kelompok penari cantik menarik. Seperti pada tarian tradisional Banyuwangi lainnya, tari ini juga dengan motif khas Banyuwangi, seperti gerak tari pada penari gandrung. ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾ Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 31-32

Hadrah Kuntul, Kabupaten Banyuwangi

Hadrah kuntul, atau lebih dikenal dengan nama hadrah kun- tulan atau kuntulan saja, adalah salah satu di antara kesenian khas daerah Banyuwangi yang masih tetap hidup dengan subur dan berkembang dengan baik di beberapa daerah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Hadrah adalah nama jenis kesenian atau organisasi kesenian yang banyak terdapat di seluruh Jawa Timur, dengan jenis peralatan yang khas berupa alat musik bersifat ritmis, yang disebut terbang.

Karena alatnya itu, kesenian ini juga biasa disebut terbangan, yaitu jenis kesenian yang bernafaskan ajaran agama Islam dalam bentuk nyanyian atau pujian salawat bagi Nabi Besar Muhammad SAW. dalam rangka syi’ar Islam di daerah. Kuntulan, berasal dari kata kuntul, yaitu nama sejenis burung yang berbulu putih. De­ngan demikian, hadrah kuntulan adalah kesenian yang telah me­ngalami perkembangan dan perubahan karena kemajuan atau pengaruh situasi kelilingnya; antara lain dalam penampilannya para pemain mengenakan pakaian atau seragam yang menyerupai bentuk atau warna burung kuntul, yaitu celana, hem lengan pan­jang, dan berkaos tangan yang semuanya berwarna putih. Di sam­ping itu pemain masih mengenakan semacam peci warna kuning atau biru dengan motif burung kuntul. Lagu dan nyanyian yang ditampilkan, dalam perkembangan, di samping yang bernafaskan agama, juga lagu perjuangan, lagu Melayu, lagu daerah Blambang- an, dan lain-lain. Untuk lebih menarik dan sesuai, biasanya peralat­an atau instrumennya lebih dilengkapi dengan semacam gende­rang besar yang disebut jedor, seruling, tenor, dan sebagainya. Ada juga yang dilengkapi dengan akordion, gitar, dan masih ba­nyak yang lain.

Ditilik dari segi penampilan peralatannya, kesenian ini sulit dikatakan asli dari daerah Banyuwangi, walaupun hanya terdapat di daerah itu. Secara umum dapat disimpulkan bahwa kesenian ini termasuk kesenian yang berbau keagamaan, berasal dari bentuk

samanan, yaitu kesenian dengan memakai peralatan terbang dan bertujuan untuk syi’ar agama Islam.

Hadrah kuntulan termasuk jenis kesenian hiburan, mengan­dung nilai keagamaan, walaupun bukan berarti penampilannya khusus untuk kegiatan upacara agama. Sebagai kesenian hiburan, sekarang lebih banyak menjurus kepada hiburan masyarakat sehingga sering dipentaskan untuk keluarga yang mempunyai hajat perkawinan atau khitanan. Ciri khas penampilannya banyak dipengaruhi pencak silat, namun lepas dari sifat bela diri.

Organisasi hadrah kuntulan yang lebih maju dan lebih kaya, biasanya mempunyai peralatan lebih banyak, dilengkapi peralat­an musik modern untuk orkes Melayu, berupa akordion, bas- gitar, dan lain-lain. Bahkan ada pula organisasi kesenian hadrah kuntulan yang sengaja memenuhi selera masyarakatnya, terutama para penggemarnya, dengan menampilkan para vokalis lagu melayu. Walaupun demikian, sifat tradisionalnya yang dominan tetap tidak ditinggalkan, dan biasanya penampilan lagu melayu itu hanya mereka tampilkan pada saat acara selingan.

Pada acara hiburannnya, hadrah kuntulan menampilkan tarian dan nyanyian yang unik sekali dan khas Banyuwangi, yaitu mengarah kepada bentuk silat. Salah satu gerakannya, mi­salnya, kedua belah tangan terbuka dan bergetar kiri dan kanan berganti-ganti ke atas dan ke bawah dengan sikap menengadah dan melihat ke bawah berganti-ganti pula mengikuti irama je- dor dan terbang bervariasi. Seluruh pemain, berjumlah tidak lebih dari 20 orang laki-laki, 12 orang di antaranya sebagai pemukul instrumen, dan 8 orang berfungsi sebagai rodat ‘penari’. Dalam penampilannya, seorang rodat yang disebut pantus berfungsi se­bagai dalang atau pembawa acara. Pantus pada kesenian ini hampir sama dengan satu pada angklung Banyuwangi, karena itu harus lebih mahir. Rodat yang lain selalu menurut perintah pantus, dan biasa timbul gerakan ber­beda apabila ada rodat yang kurang memperhatikan kehendak pantus. Kuntulan yang baik, gerakannya akan seragam, sesuai dengan perintah pantus. Kadang-kadang seorang rodat menari dan menyanyi dengan bentuk tari yang sesuai dengan lagu yang dibawakannya, sedangkan rodat yang lain menari dengan gerak­an seragam bersama-sama sambil mengimbangi rodat yang satu itu (tari rodat kombinasi), diiringi bunyi gamelan,. Setelah se­lesai, diganti rodat lain yang melakukan cara yang sama, dengan tarian yang berbeda selama satu atau dua lagu, terus-menerus bergantian.

Kesenian ini terus-menerus menghibur penonton sepanjang malam. Apabila perlu istirahat karena lelah, dengan kata-kata manis sang pantus menyampaikan maksudnya kepada anggota rodat maupun kepada penonton, dan sebagai acara selingan segera tampil para vokalis yang juga termasuk anggota kelompoknya dengan iringan peralatan orkes Melayu.

Pemukul instrumen terdiri dari 12 orang, 9 orang sebagai pemukul terbang dengan fungsi sebagai pengiring lagu, 2 orang sebagai pemukul jedor kecil dengan fungsi sebagai pemberi aba- aba irama dan ritmenya, dan seorang sebagai pemukul jedor be­sar yang berfungsi sebagai gong. Iramanya disesuaikan dengan

irama lagu dan gerak tari. Kadang-kadang cepat seperti irama pencak silat, kadang-kadang berubah lembut jika mengiringi lagu yang syahdu. Dalam peralihan itu, pantus memegang paranan yang menentukan, sedangkan keindahan warna pukulan pada instrumen tergantung kepada kecakapan dan kemahiran anggota pemukulnya memainkan instrumen yang khas itu.

Kesenian hadrah kuntulan memerlukan pentas atau pang­gung berukuran kira-kira 7 x 7 m, dalam bentuk arena terbuka atau di bawah tarob, yaitu sejenis bangunan sementara dari tenda atau welit sebagai atap tanpa latar belakang. Pagelarannya biasanya dilakukan pada waktu malam, dan lamanya tergantung kepada pengundang atau penyewanya, sesuai dengan hajat pengun­dang itu sendiri, untuk perkawinan, khitanan, atau sekedar ulang tahun.

Penampilannya lebih meriah lagi jika dengan sengaja pengun­dangnya mendatangkan dua kelompok kesenian kuntulan sehing­ga terjadi hadrah kuntulan caruk ‘hadrah kuntulan berlomba’. Kedua kelompok kuntulan yang akan bermain bergantian mengadu kecakapan dan saling menunjukkan kekayaan variasi pukulan atau aransemen mereka masing-masing, siap di pang­gung.

Pertunjukan semacam itu tidak ada panitiannya, dan tidak per­lu pula dibentuk tim penilai atau dewan juri. Penonton sekaligus bertindak sebagai juri: siapa yang mendapat banyak sambutan penonton dengan positif, tepukan meriah, atau pendapat simpati dan sanjungan penonton, itulah yang dinyatakan menang.

Teknis penampilan hadrah kuntulan adalah sebagai beri­kut.

Pertama-tama muncul satu persatu ke atas pentas 12 penabuh instrumen, membawa peralatannya masing-masing; mula-mula 9 orang pemukul terbang yang membawa terbang ditangan- nya, diikuti dua orang pemukul jedor kecil, dan akhirnya pemukul jedor besar. Mereka membentuk formasi dengan melihat situasi dan kondisi pentas; biasanya penabuh ter­bang berderet lurus dari arah depan ke belakang atau se­rong sebelah kiri atau kanan pentas. Di kedua ujung, ber- tempat jedor besar dan jedor kecil. Biasanya mereka ber­pakaian seragam kesenian daerah Blambangan.

b)         Setelah regu pemukul menempati formasi, mereka mulai membunyikan instrumennya sebagai tanda perkenalan kepa­da para penonton sambil menunjukkan kemahiran cara me­mukul, sebelum rodat muncul. Ini hanya satu teknik saja, ada teknik lain yang menampilkan pemukul instrumen dan rodat bersama-sama sejak awal.

c)         .   Setelah berdemonstrasi dengan pukulannya, tiba-tiba mereka mengurangi suara pukulannya dengan irama pelan, dan pada saat itu muncul para rodat dengan pakaiannya yang khas dan membentuk formasi, biasanya bersebelahan dengan penabuh instrumen dan menghadap penonton atau para undangan.

d)         Dengan aba-aba pantus, rodat maulai menarikan tari ucap­an selamat datang kepada para penonton, dimulai dengan ragam pembukaan. Ada yang disebut ragam duduk, menari dengan sikap duduk, ragam berdiri, menari dengan sikap ber­diri, ragam baris, ragam hormat, dan sebagainya.

e)         Pantus mulai memegang peranan pada permainan inti. Kadang-kadang seorang rodat menari dengan lincah di ha­dapan rodat lainnya yang bertindak sebagai latar, diselingi gerak ragamnya. Rodat itu bergantian maju menari sampai jauh malam, dan bahkan sampai terbit fajar.

Biasanya setiap organisasi kesenian kuntulan mempunyai jenis lagu atau nyanyian untuk lagu penutupnya, di samping itu ada pula bentuk tari yang disebut ragam penutup.

Untuk mengisi waktu istirahat setelah beberapa jam tam­pil di atas pentas, mereka mempersiapkan acara khusus, biasanya dalam bentuk lagu oleh para vokalisnya dengan iringan semacam orkes melayu. Kesenian ini tidak begitu menonjolkan tata rias para pemainnya, mereka mengatur dan merias dirinya sendiri, dan tidak menyulitkan karena semuanya laki-laki. Pakaian rodat terdiri dari:

a)          Tutup kepala berwarna putih, berbentuk peci. Sepanjang tepi bagian atas arah memanjang, ada tambahan hiasan garis dan umbai-umbai warna kuning atau hiasan yang lain menurut selera, mengingatkan kita kepada bentuk kepala seekor bu­rung.

b)          Kemeja putih lengan panjang, berbentuk setengah jas dengan hiasan garis warna kuning, berumbai sepanjang lengan kiri dan kanan, bagian dadanya dihias umbai warna kuning, merupakan dua garis bertemu membentuk sudut menghadap ke atas. Kemeja itu dipakai di luar celana.

c)          Celana putih dengan garis warna kuning kiri dan kanan, seperti yang terdapat pada pakaian latihan olah raga. Ba­hannya tergantung kemampuan, biasanya kain sejenis tek- teks atau sebangsanya.

d)          Sepasang kaus kaki warna putih, tanpa sepatu atau yang lain.

e)          Kaos tangan putih.

Tata busana itu tidak merupakan keharusan, baik bentuk maupun warnanya, tergantung selera dan kemampuan organi­sasi masing masing yang penting bentuk ukuk adalah motif bu­rung semacam kuntul

Busana pemukul instrumen, pada umumnya tidak ditentukan, me­nurut kemampuan yang ada saja, hanya harus seragam, biasanya dengan kain batik melilit pada perut, dan bersongkok hitam. Para pemukul instrumen umunya lebih tua daripada rodat, se­kitar 40-50 tahun, sedangkan rodat umumnya tergolong pemuda atau bahkan remaja. Sampai sekarang belum ada anggota wani­ta.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 36-41

Tari Seblang Olehsari, Kabupaten Banywangi

Tari seblang hidup dan berkembang di desa Olehsari dan Mojopanggung (kecamatan Glagah) yang terletak di kaki gunung Ijen. Tarian ini merupakan kesenian adat, dan sampai sekarang masih tetap hidup di kalangan masyarakat Using, walaupun jarang dipentaskan. Tarian yang oleh masyarakatnya dianggap keramat ini hanya dipentaskan pada upacara adat tertentu saja, terutama pada upacara adat bersih desa ‘membersihkan desa. Menurut keterangan, tarian ini menjadi sumber lahirnya tari gandrung Banyuwangi yang sekarang sudah mulai dikenal secara meluas.

Walaupun tari seblang dikenal di dua desa. ternyata di antara keduanya terdapat sejumlah perbedaan. Perbedaan itu ialah antara lain yang berhubungan dengan:hal-hal berikut.

  1. Waktu pementasan. Tari seblang Olehsari dipentaskan pada bu­lan Syawal atau hari raya Idulfitri, selama satu minggu, sedangkan tari seblang Mojo­panggung dipentaskan pada bu­lan Zulhijah pada hari raya ldulkurban, selama satu hari saja.
  2. Penari seblang Oleh­sari terdiri dari para gadis muda, dan setiap tahun ber­ganti, sedangkan penari seb­lang Mojopanggung adalah wa­nita yang sudah berumur, dan tidak mengalami pergantian.
  3. Tata busana dan tata rias. Tata busana dan tata rias seblang Olehsari lebih asli dibandingkan dengan seblang Mojopanggung. Mahkota yang dikenakan penari seblang Olehsari terbuat dari daun-daunan dan bunga-bungaan setempat, sedangkan mahkota penari sebiang Mojopanggung bentuknya hampir sama dengan mahkota tari gandrung Banyuwangi.
  4. Bawaan. Tangan penari sebiang Olehsari hanya membawa sehelai selendang pelangi, sedangkan penari seblang Mojo-panggung membawa sebilah keris terhunus.
  5. Gamelan pengiring seblang Olehsari hanya terdiri dari dua buah saron, sebuah gong, dan kendang,, sedangkan gamelan pengiring tari seblang Mojopanggung merupakan perangkat gamelan yang lengkap.

Karena dianggap keramat, sudah wajar jika untuk mementaskan tari sebiang ini diperlukan persiapan cukup seksama. Pementa-san itu dipimpin oleh seorang laki-laki setengah baya yang berfungsi sebagai dukun atau pawang yang mendatangkan roh dengan mengucapkan mantra dan membakar dupa. Roh itu akan masuk ke dalam raga penari.

Sebagai pemimpin pementasan, dukun harus sudah mempersiapkan segala sesuatu lama sebelumnya. Menurut keterangan, persiapan itu dikeijakan berdasarkan impian sang dukun yang diterima dari roh yang diharapkan hadir Dalam impian itu roh yang bersangkutan biasanya yang dianggap cakal bekal desa menetapkan susunan panitia, penari, penabuh gamelan, pemaju,  pesinden gending banyuwangen, dan tempat pementasan. Semuanya itu tidak boleh diubah oleh siapa pun, dan sang dukun hanya menyampaikannya kepada masyarakat serta melaporkan kepada lurah.

Penari seblang yang ditunjuk dan ditugaskan, bisanya wanita muda yang belum bersuami atau janda yang masih turunan penari gandrung pertama. Jika hal ini tidak dilakukan, akibatnya akan sangat buruk, berupa pageblug, misalnya saja panen gagal atau sawah dan ladang diserang hama.

Penari seblang, setelah kemasukan roh, tanpa sadar menari-nari melengak-lenggok ke kiri dan ke kanan dengan gelengan kepala ke samping kiri dan kanan sambil mengelilingi gelanggang yang penuh sesak. Matanya terpejam, mulutnya terkatup, sedangkan gerakannya santai dan lemah gemulai mengikuti irama gending banyuwangen yang dibawakan para pesinden Using dengan iringan gamelan khas banyuwangen dengan larasnya yang khusus. Walaupun menari tanpa sadar dan mata terpejam, tetapi penari itu seakan-akan dapat melihat, dengan mudah ia menari di antara orang banyak. Dalam menari itu, ia diikuti/disertai oleh seorang pemaju.

Pementasan tari seblang tahun 1978 dilaksanakan dari hari ketiga sampai hari ketujuh Idulfitri, bertempat di salah satu dukuh (dusun) desa Olehsari. Setiap 14.00-17.00 WIB, atau kadang-kadang sampai menjelang magrib, sedangkan persiapannya dimulai kira-kira pukul 13.00 WIB. Menurut keterangan orang tua-tua, pementasan itu ditentukan oleh suara gaib melalui salah seorang penduduk yang tiba-tiba kemasukan roh dan memerintahkan agar segera diselenggarakan pementasan tari seblang, dan jika tidak diindahkan, segenap penduduk desa akan mengalami musibah besar yang mengerikan.

Pada tahun 1978 itu, Surati, seorang janda Olehsari yang baru berusia 25 tahun dan berdarah gandrung di desanya, me­nurut keterangan pak Enan (60 tahun) yang bertindak sebagai dukun, ditunjuk dan ditetapkan sebagai penari seblang berdasar­kan petunjuk Buyut Trasiun, cakal bakal desa. Petugas lain yang ditunjuk pada waktu itu ialah antara lain seorang laki-laki yang rata-rata berusia 40 tahun, sebagai penabuh gamelan pengiring. Sebagai juru rias ditunjuk seorang wanita bernama Suni, dan ditunjuk pula tujuh orang wanita sebagai pesinden gending banyuwangen tradisional seblang, semuanya berusia sekitar 40 tahun.

Gending-gending yang dibawakan oleh penari seblang tahun itu, seluruhnya tidak kurang dari 26 macam, dan sebagian besar juga dikenal pada kesenian gandrung, seperti gending Podho Nonton, Layar Kamendung, Kembang Menur, Kembang Waru, Sekar Jenang, Candra Dewi, Celeng Mogok, dan Erang-erang. Menurut keterangan, mula-mula tari sebiang biasanya dibawakan oleh seorang laki-laki yang tampan di desanya, dan penari seblang wanita yang pertama bernama Semi, penduduk desa Cungking, kecamatan Giri, yang berbatasan dengan kecamatan Glagah. Embah Semi akhirnya menjadi lebih terkenal sebagai penari seblang wanita, dan dalam perkembangan selanjutnya berfungsi sebagai gandrung Banyuwangi. Dengan demikian disimpulkan bahwa semua penari gandrung Banyuwangi yang sekarang masih mempunyai hubungan darah dengan embah Semi.

Persiapan sajen, pembuatan mahkota dari daun dan bunga, pengaturan gamelan, dan lain-lain, dimulai sekitar pukul 13.00 WIB di tempat yang telah ditetapkan. Tidak begitu jauh dari tempat itu, juru rias Suni melaksanakan tugasnya merias Surati sebagai penari seblang. Kira-kira pukul 13.45 WIB, penari seblang yang masih dalam keadaan sadar diikuti juru rias, pemaju, dan para pesinden dengan segala perlengkapannya masing-masing, menuju tempat pementasan, yaitu lapangan terbuka berukuran kira-kira 20 x 20 meter. Tepat di tengah lapangan, dipancangkan sebatang tonggak kayu atau bambu setinggi 4 meter, dari puncak­ nya direntangkan tali-temali ke segenap penjuru sehingga mirip sebuah payung besar. Menurut dukun, penari sebiang digambar­kan menari dan bergembira di bawah keteduhan payung agung.

Di tempat itu telah tersedia seperangkat kecil gamelan tradisional dan para pemukulnya. Di sisi barat tempat itu, di­siapkan semacam pondok kecil berukuran kira-kira 2×3 meter, menghadap ke timur, dilengkapi tikar pandan untuk para pesin­den duduk bersimpuh, dan sebuah kursi biasa sebagai singgasana penari sebiang, di bagian atas pondok kecil itu, di bawah atap, bergantungan berbagai hasil desa, berupa seuntai padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, berbagai buah-buahan, sayur-sayur, dan se- bagainya, menggambarkan hasil bumi daerahnya dengan mak­sud agar panen tahun itu melebihi harapan. Kedatangan rombongan penari seblang yang masih sadar itu di­sambut oleh para penonton yang sudah lama berjejal-jejal, ber­kerumun, dan berdesak-desakan menanti. Kerabat desa, dibantu hansip setempat, sibuk mengatur dan menjaga ketertiban dan keamanan acara.

Sementara sudah nampak siap dan tertib, pak Enan dengan tenang mulai membakar kemenyan. Ia dibantu seorang wanita setengah baya yang menutup rapat kedua mata dan telinga penari sebiang dari belakang dengan kedua tangannya sambil berdiri. Dukun duduk berjongkok berhadapan dengan penari sebiang, membakar kemenyan dan membaca mantra. Kedua belah tangan penari sebiang memegang sebuah niru kecil dengan sikap seakan- akan meletakkan punggung niru ke arah datangnya asap dari perapian dukun.

Jika tanpa sengaja niru terjatuh dari tangan penari sebiang, itu menandakan bahwa roh telah masuk ke dalam tubuhnya, dan pada saat itu tanpa sadar ia mulai menari berkeliling, seorang diri di antara orang banyak sambil mengikuti irama gamelan yang dikumandangkan dengan gending banyuwangen dan suara para pesinden dari arah pondok kecil, diikuti pemaju Sondok. Tarian itu merupakan tari pembukaan.

Setiap kali sebuah gending se-lesai ditarikan bersama pe-maju, dan apabila merasa puas, segera penari sebiang menuju ke pondok dan beristirahat, duduk di kursi. Beberapa saat kemudian, bergema gending la-in, dan apabila penari sebiang menyetujui, dia segera bangkit dari kursinya dan menari lagi mengikuti irama gending itu sepuas hati. Apabila gending itu kurang berkenan di hati, dia tetap duduk tenang. Se-tiap gending yang berbeda, menyebabkan tarian penari sebiang itu berbeda pula jenisnya. Demikian acara itu berlangsung terus-menerus sampai seluruh 26 gending berakhir; menari tanpa bersuara, mata tertutup, tetapi tidak sampai terantuk benda atau penonton yang memenuhi gelanggang.

Puncak acara yang cukup mengesankan adalah pada acara hari terakhir sebagai acara penutup. Penari sebiang tidak hanya menari di dalam gelanggang itu saja, tetapi mengelilingi desa Olehsari, melalui jalan sempit berkelok-kelok, menyusuri lorong kecil di antara rumah penduduk. Pada kesempatan itu, penabuh dengan gamelannya, para pesinden, dan dukun (pak Enan) diikuti semua penonton turut berkeliling mengikuti langkah dan tarian penari sebiang, seakan-akan pawai mengelilingi desa.

Menurut keterangan, mengelilingi desa itu dimaksudkan untuk menghilangkan segala macam bentuk yang mungkin merusak desa, dan mempunyai hikmah saling mengenal antar penduduk. Acara itu ditafsirkan membawa tanda penyebaran doa selamat sejahtera kepada segenap penduduk desa, termasuk keamanan kampung, peningkatan hasil sawah ladang, peningkatan hasil ternak, dan sebagainya, serta memberikan tanda tolak bala, agar dijauhkan dari segala macam bentuk malapetaka. Setelah kembali ke gelanggang, dukun mulai berperan lagi untuk yang terakhir kalinya, dan dengan kekuatan mantranya, menyadarkan penari sebiang kembali sebagai Surati.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Sudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 

Putri Sedah Merah

Menelusuri Dongeng Rakyat Blambangan
Sampai saat ini di daerah Banyuwangi masih banyak dongeng rakyat yang hidup dan berkembang ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Pada umumnya dongeng rakyat atau cerita rakyat itu hanya berfungsi sebagai pelipur lara. Hal ini disebabkan ceritera atau dongeng rakyat bukan peristiwa sejarah murni, tegasnya ceritera rakyat tidak dapat dijadikan pedoman atau penetapan sesuatu hal yang penting, seperti: Penetapan Hari Jadi suatu kota atau daerah. Dalam kenyataan masyarakat di tanah air masih banyak yang awam dan berpola pikir tradisional yang lebih cenderung menonjolkan nilai-nilai mithologi dari pada nilai yang historisnya, sehingga sering mengkaburkan pemahaman mereka terhadap peristiwa sejarah yang sebenarnya, bahkan dapat mempengaruhi pandangan hidup sehingga dapat merugikan kepentingan masyarakat itu sendiri. Meskipun demikian, ceritera rakyat atau dongeng rakyat perlu dilestarikan dan dipertahankan guna menambah khasanah kebudayaan nasional kita, khususnya yang berlatar belakang pendidikan. Dongeng rakyat Putri Sedah Merah ini berkisar antara Mas Jolang Putri Sedah Merah yang dikaitkan dengan ceritera sejarah Kesultanan Mataram. Dalam hal ini sudah menunjukkan bahwa pengaruh Islam telah masuk di kerajaan Blambangan pada saat itu. Adapun dongeng rakyat “Putri Sedah Merah”, adalah sebagai berikut:

Pada saat itu Sultan Mataram sudah berulang kali mencoba untuk menaklukkan Kerajaan Blambangan, akan tetapi selalu mengalami kegagalan. Setelah Panembahan Senopati berhasil menaklukkan Blambangan, namun Sultan Mataram tidak menjadikan Kerajaan Blambangan sebgai daerah jajahannya. Panembahan Senopati sangat kagum akan kegigihan dan kesaktian Panglima Perang bersama para prajuritnya dalam membentengi Kerajaan Blambangan. Demikian pula Sri Sultan juga memuji kebijaksanaan raja Blambangan dalam membina angkatan perangnya. Itulah sebabnya Sultan Mataram tidak menganggap raja Blambangan sebagai taklukkannya, akan tetapi sebagai Sekutunya.

Pada saat Adipati Kinenten dari Pasuruhan mengadakan pemberontakan terhadap Mataram, secara tidak langsung Blambangan memberi bantuan kepada Pasuruhan. Hal itu menyebabkan Sultan Mataram marah serta memerintahkan Mas Jolang dan Ki Juru Martani mengerahkan pasukannya untuk menghukum dan menyerang Blambangan. Untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan Blambangan, Prabu Siung laut memerintahkan Patih Jatasura bersama adiknya, yakni Hario Bendung Adipati Asembagus mengerahkan pasukan Blambangan untuk menanggulangi serangan dari pasukan Mataram itu.

Dalam pertempuran yang cukup sengit, pasukan Mataram ternyata kewalahan menghadapi para prajurit Blambangan, bahkan Mas Jolang bersama Ki Juru Martani melarikan diri dari medan pertempuran. Senopati Blambangan yang berusaha mengejar dan menangkap kedua tokoh dari Mataram itu ternyata sia-sia. Dalam pelarian tersebut, Mas Jolang berhasil menyelinap dan bersembunyi di Tamansari. Di dalam tamansari itu Mas Jolang bertemu dengan Putri Sedah Merah yang akhirnya keduanya saling jatuh cinta, Kendati demikian ulah kesatria Maratam bersama putri Blambangan itu diketahui oleh keluarga istana, yang kemudian mas Jolang ditangkap, namun karena permohonannya Sang putri kepada raja, sehingga Prabu Siung Laut terpaksa merestui pernikahan Mas Jolang dengan putri Sedah Merah.

Dalam pelariannya Ki Juru Martani menuju ke arah Selatan sambil berteriak-teriak dan memanggil-manggil (bhs. Jawa: celuk-celuk), namun tidak ada jawaban, sedang usahanya mencapai Mas Jolang tidak berhasil. Menurut kisahnya, tempat Ki Juru Martani berteriak-teriak memanggil Mas Jolang itu dinamakan Desa Benculuk (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cluring, Banyuwangi). Sementara itu Patih Jatasura dalam mengejar musuh yang didampingi oleh salah seorang putra raja, yakni Mas Kembar. Untuk menjalankan tugasnya, secara tiba-tiba putra raja itu meninggal dunia. Hal itu menyebabkan Prabu Siung Laut sangat sedih, yang akhirnya terkena sakit ingatan (setengah gila).

Setelah Prabu Siung Laut sakit ingatan dan Mas Kembar mangkat, kesempatan itu akan dipergunakan Patih Jatasura untuk mempersunting Putri. Sedah Merah, karena Prabu Siung Laut pernah menjanjikan akan menjodohkan Patih Jatasura dengan putri Sedah Merah. Dalam hal ini Patih Jatasura segera masuk ke tamansari untuk menemui putri idaman hatinya. Betapa kecewa dan marahnya setelah menyaksikan dan mengetahui bahwa Putri Sedah Merah ternyata telah dipersunting oleh Mas Jolang yang tak lain adalah bekas musuh ayahanda raja. Dengan kemarahan yang meluap-luap Patih Jatasura menyerang dan berhasil membunuh Putri Sedah Merah. Sedangkan Mas Jolang berhasil menye­lamatkan diri bersama putranya (hasil perkawinannya dengan Putri Sedah Merah).

Patih Jatasura setelah membunuh Putri Sedah Merah menuju ke Asembagus menemui Hario Bendung dan membuat fitnah bahwa Putri Sedah Merah dibunuh oleh prajurit Mataram. Mendengar kematian Putri Sedah Merah, Adipati Asembagus naik pitam dan segera mengerahkan pasukannya bergerak menuju Blambangan guna menuntut balas atas kematian Putri Sedah Merah kepada prajurit Mataram. Pada waktu itu Hario Bendung bertemu dengan Ki Juru Martani dan Ki Juru Martani menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya bahwa yang membunuh Putri Sedah Merah adalah Patih Jatasura yang tak lain kakak Hario Bendung sendiri. Di samping itu Ki Juru Martani juga memberi tahu bahwa Hario Bendung sebenarnya masih putra keponakan Ki Juru Martani sendiri.

Setelah mendengar dan mengerti duduk persoalan yang sebenarnya dari pamannya dan menyadari kenyataan itu Hario Bendung berbalik meluapkan amarahnya kepada kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura. Sang Adipati kemudian bertekat untuk menghukum Ki Patih atas kekejamannya terhadap Putri Sedah Merah. Sedangkan pada saat Patih Jatasura ditemui Hario Bendung, Ki Patih Blambangan itu sedang memperkosa dan membunuh istri pamannya (Ki Juru Martani). Menyaksikan kenyataan itu Hario Bendung semakin meluapkan amarahnya dan terpaksa menghabisi nyawa kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura).

Kelanjutan cerita tersebut, mengisahkan bahwa antara Mas Jolang, Ki Juru Martani dan Hario Bendung ternyata saling menjaga hubungan yang cukup baik, bahkan putra Mas Jolang dijadikan menantu dan dijodohkan, dengan salah seorang putri Hario Bendung. Dengan demikian terjadilah jembatan untuk membina perdamaian antara Kesultanan, Mataram dan Kerajaan Blambangan, Mulai saat itu antara Kesultanan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah dan Kerajaan Blambangan yang berpusat di Jawa Timur terus bahu-membahu dan saling bekerja sama dalam mengatur pemerintahan serta membina rakyatnya.

Sebenarnya dongeng rakyat Blambangan, yakni Putri Sedah Merah dapat digolongkan sebagai “Roman Sejarah”. Hal ini mengingat di samping sebagaimana diketengahkan di muka bahwa dongeng rakyat Putri Sedah Merah itu dihubung-hubungkan dengan peristiwa di bumi Mataram, juga hubungan Putri Sedah Merah dengan Mas Jolang putra Mahkota Kesultanan Mataram ternyata merupakan hubungan asmara (percintaan).

Perihal roman sejarah sebenarnya merupakan gabungan ceritera historis yang sebenarnya (faktual) dan ceritera rekaan (dongeng rakyat). Dalam hal ini seyogyanya dipilah-pilahkan mana yang ceritera historis dan mana yang ceritera non historis, karena ceritera historis (faktual) memungkinkan sekali dijadikan sebagai pedoman untuk menetapkan sesuai hal yang penting, sedangkan yang non historis (dongeng rakyat) sebagaimana tersebut di atas pula hanya berfungsi sebagai hiburan atau pelipur lara.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Tri Asih Rahayu, Spd, Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 
GB No. 069/1997. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1997. hlm. 43-45.

Musik Patrol Banyuwangi

Tentang Musik Patrol Surabaya Melirik Banyuwangi
Bagaimana di Banyuwangi Sendiri

Bulan Romadhon tahun ini (1417 H) bisa dikatakan Bulan Patrol di Banyuwangi. Bertempat di Shaba Swagata Blambangan Jl. Sritanjung 1, hampir sebulan penuh sejak tanggal 13/1 – 7/2 1997 digelar Lomba Patrol Kreatif. Pada tanggal 1-2-1997 Banyuwangi mengirimkan 5 grup patrol andalan ke Surabaya mengikuti Festifal Musik Patrol Memorandum (FMPM) IV’97. 3 grup diantaranya berhasil merebut 3 buah tropi dari 6 buah tropi yang disediakan, sebagai juara I, II dan Harapan 1. Dan pada hari yang sama mengirim 1 grup patrol ke Sidoarjo untuk mengikuti Lomba Musik Sahur yang diselenggarakan oleh DPD Golongan Karya Tk. I Jatim, berhasil masuk nominasi. Pada tanggal 8 Februari 1997, lebih dari 100 orang pemusik patrol dan kuntulan mengikuti Takbir Akbar di Surabaya yang diselenggarakan oleh Pangdam V/Brawijaya, di Banyuwangi sendiri pada malam itu juga, grup-grup patrol Kecamatan Banyuwangi ikut menyemarakkan Malam Takbiran menyusuri Jl. A. Yani, Jl. Sudirman dan Jl. Sritanjung (Finish di Pendopo Banyuwangi).

Berbicara tentang Musik Patrol, Musik Patrol dari Banyuwangi diacungi jempol, dikagumi para pemusik patrol daerah lainnya di Jatim, baik alat musik yang unik maupun para pemainnya yang terampil. Hal ini juga pernah disinggung oleh Bupati Banyuwangi ketika beliau memberikan pengarahan pada acara Lomba Patrol Kreatif di Pendopo, bahwa Gubernur Jatim, HM. Basofi Sudirman mengucapkan salut kepada pemusik Patrol Banyuwangi, beliau berpesan agar musik patrol Banyuwangi dilestarikan dan dikembangkan. Memang, rupanya musik patrol Banyuwangi mulai di ‘lirik’ oleh Panitia Lomba/Festival Musik Patrol Memorandum, salah satu Lomba musik Patrol bergengsi di Jatim.

Pada Lomba Musik Patrol (LMPM) I ’94 Banyuwangi belum mengikuti, sejak LMPM II ’95, LMPM III ’96 dan FMPM IV ’97 Banyuwangi selalu tampil dan menjadi juaranya. Pada LMPM II ’95 Banyuwangi Putra Kel. Temenggungan sebagai Juara I dan Pemusik Patrol dari Kel. Kertosari yang ‘diambil’ sebuah Perusahaan di Surabaya sebagai Juara II, pada saat itu panitia menentukan setiap grup terdiri dari 5 pemain dan mengharuskan minimal 2 buah musik dari bambu. Pada LMPM III ’96, Banyuwangi mengirimkan 10 grup. Karena persyaratan peralatan dan pemain tetap seperti LMPM II ’95 Grup dari Banyuwangi rata-rata menggunakan angklung dan atau seruling, padahal di Banyuwangi kedua alat musik tersebut tidak termasuk alat musik patrol. Tiga grup dari Banyuwangi berhasil menjadi juara, yaitu Juara I Grup Banyuwangi Putra Kel. Temenggungan, Juara III Pahlawan Bangsa dari Kel. Lateng dan Sayu Gringsing dari Kel. Kampung Melayu sebagai Juara Favorit. Dan sebagaimana telah disebut di atas, bahwa pada FMPM IV ’97 dari 6 buah tropi yang disediakan panitia 3 buah direbut grup dari Banyuwangi, yaitu Kangkung Setingkes dan Gajah Uling masing-masing dari Kel. Kampung Melayu sebagai juara I dan II, Juara Harapan I diraih Sayu Gringsing dari kel. Kampung Melayu. Yang perlu dicatat disini, bahwa Panitia FMPM VI ’97 menentukan pemain dalam satu grup yang berjumlah 7-10 orang dan alat musik dari bambu dan kayu, tidak diperkenankan mengggunakan gitar, seruling, dan angklung, disinilah dasar, bahwa panitia mulai melirik musik patrol Banyuwangi, bukankah persyaratan-persyaratan panitia diatas adalah ‘pas’ sebagaimana keberadaan Musik Patrol Banyuwangi?

Tentunya kita telah mengetahui, ada batasan yang jelas diantara musik tradisional di Banyuwangi, seperti musik patrol (terdiri dari dundung atau tretek, utuk-utuk atau trutuk dan gong bambu), musik angklung (terdiri dari angklung,selentem, saren, peking, kendang dan gong besi), dan musik gandrung (terdiri atas biola, ketuk-keneng, klurtcing, kendang, dan gong besi).

Bila ada Lomba Festival di Banyuwangi, ada yang menggunakan angklung biola atau misalnya, maka peserta yang lain akan mengadakan protes terhadap penyimpangan tersebut. Tempo doeloe, yang namanya patrol di Banyuwangi, alatnya terdiri dari ‘wilah-wilah’ bambu yang diraut sedemikian rupa sehingga menimbulkan bunyi yang dimaui pembuatnya bila dipukul.

Setiap orang memainkan satu wilah saja. Sehingga pemain petrol tempo doeloe banyak, paling sedikit 10 orang, bisa 15, 20 dan seterusnya. Perkembangan selanjutnya, mulai Lomba musik patrol pertama tahun 1972 untuk merampingkan pemain yang banyak tadi, wilah-wilah tadi dikemas, dirangkai .dalam sebuah ‘ancak’ yang besar kecilanya disesuaikan dengan wilah-wilah tersebut. Satu ancak berisi 2,3 paling banyak 4 wilah. Penabuh gong yang asalnya 2,3 orang, dengan model ancak tadi bisa dikuasakan pada seorang penabuh saja. Sehingga dalam tahap perkembangan ini jumlah personil musik patrol bisa dirampingkan/disederhana­kan menjadi hanya7 – 10 orangsaja.

Bagaimana sikap kita sekarang dengan adanya ‘lirikan-lirikan’ dari pemusi-pemusik patrol luar daerah. Tentunya kita harus bertahan pada batasan yang sudah jelas yang disebut terdahulu. Mari kita laksa­nakan anjuran beliau-beliau untuk melestarikan dan mengembangkan musik patrol Banyuwangi ini.

Upaya pelestarian musik patrol Banyuwangi dirasa cukup gigih. Hal ini dilakukan dengan penyelenggaraan lomba patrol setiap tahunnya. Pernah pada suatu Lomba Patrol amat sedikit pesertanya, penyebabnya karena yang menjadi juara hanya ‘itu-itu’ saja, bahkan ada tercetus kata: Juara Langganan.

Untuk mengatasi hal ini, diselenggarakan Festifal PatroldisampingLombaPatrol. Dalam Lomba Patrol ditentukan 10 grup nominasi dan berhak mengikuti Festifal Patrol tahun berikutnya. Sehingga setiap tahunnya akan bergantian juaranya. Dengan sistem lomba dan Festifal inipun masih ada kendalanya, yaitu Grup-Grup Patrol Lomba diluar Kecamatan Banyuwangi sulit masuk baik sebagai nominasi maupun sebagai juara. Kemudian tahun 1996 diselenggarakan Lomba Patrol di tiap-tiap Wilker Pembantu bupati, dan pada tahun 1997 digelar Lomba Patrol Kreatif yang pesetanya dari kecamatan Banyuwangi dan Grup Patrol Unggulan masing-masing Pembantu Bupati di Bany­uwangi.

Pada Lomba ini banyak ditentukan juaranya, seperti Juara Kreativ, Aktraktiv, Harmonis, Juara I, II, III,Harapan I, II, II. Grup patrol Unggulan Pembantu Bupati se Kabupaten Banyuwangi mendapatkan penghargaan tersendiri, demikian juga Grup Patrol -Aktiv dan para vokalis mendapatkan penghargaan dan hadiah. Rupanya penentuan kejuaraan seperti diatas dapat mereda suar sumbang yang biasanya muncul setelah pengumuman kejuaraan. Untuk pengembangan musik patrol Banyuwangi sangatlah memprihatinkan. Pada tahun 1996,pada Lomba Patrol se Wilker Pembantu Bupati Banyuwangi, panitia menentukan persyaratan pemain dalam satu Grup hanya 5 pemain saja. Rupanya p? aitia berkiblat pada penyelenggaraan Lomb; V,?sik Patrol Memorandum III ’96, yan seharusnya Memorandum berkiblat pada kita. Sehingga untuk mencapai keharmonisan, banyak grup yang menggunakan angklung dan ‘seruling padahal kedua alat tersebut tidak termasuk musik patrol. Dan pada Lomba Patrol Kreatif 1997, ada ketentuan tahun sebelumnya, 2,3 maksimal 4 wilah.

Disini panitia perlu ada ketegasan, agar ditahun-tahun yang akan datang tidak berkembang seorang pemain boleh membawa 6,7 dan seterusnya. Panitia FMPM IV ’97 sudah berani tegas, menentukan angklung dan seruling tidak diperbolehkan, kenapa kita tidak? Kiranya pengembangan Musik Patrol tidak perlu merubah batasan yang jelas, yang terpenting pengembangan mengarah kepada kreasi musik, tehnik pukulan, mungkin bentuk ancak dan hiasan­nya. Yang perlu menjadikan catatannya, bahwa musik patrol Banyuwangi menjadi barometer dari daerah lain di Jatim, untuk itu jangan ‘goyah’.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sidomuljo S. Sos,  Kaur Pemerintahan Kel. Temenggungan. Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 
GB. No. 070/1997. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1997. hlm.35-37.

Banyuwangi Lahan Subur Investasi

Andai diibaratkan,Jakarta di ujung barat Pulau Jawa adalah kepala, maka Banyuwangi di ujung timur adalah kakinya. Meski kepala bergerak, kaki tetap bisa tegak berdiri. Sebaliknya, bila kaki meloncat, maka kepala pun berguncang. “Mau melangkah maju? Pastilah dimulai dari kaki, dan itu Banyuwangi” tandas Bupati Ir H Samsul Hadi dalam nada filosofis beraroma promosi, menjelang harijadi Banyuwangi yang ke-232 , 18 Desember ini.

Bumi Blambangan, demikian sebutan lahir nya, memang menyimpan kekayaan alam dan budayayangtiadatara. Peran kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini, dalam perspektif sejarah nasional, juga sangat signifikan. Siapa pun yang paham, pastilah ” ngiler”  untuk investasi di kabupaten berpenduduk 1,4 juta jiwa ini.

Letaknya yang strategis juga sangat mendukung keberadaan kabupaten seluas  5.782,50 km2 ini. Di sebelah barat dibentengi beberapa gunung (antara lain G.Ijen, G. Raung, dan G. Merapi). Keindahan panorama gunung itu baru sebagian saja dari sederet aset SDA (sumber daya alam) yang dimiliki. Di belahan timur, dilingkari pantai sepanjang 175,80 km. Hal yang lumayan spektakuler, luas wilayah lautnya mencapai sepertiga luas wilayah laut Jatim.

Tak hanya itu. Potensi pertanian dan perkebunan daerah MinakJinggo itujuga patut dibanggakan. Posisinya sebagai lumbung pangan Jatim hingga kini tetap disandang. Belum lagi melirik seni budaya setempat. Inovatif, kreatif, dan amatdinamis. Kesenian Gandrung misalnya, sungguh nggandrungi (bikin ketagihan) penontonnya. Atau budaya Using yang bertahan sebagai cagar tradisi masyarakat asli Banyuwangi.

Kabupaten yang secara administratif  terdiri atas 21 kecamatan (10 di antaranya terletak di pesisir) , 189 desa, dan 28 kelurahan tersebut menjanjikan perkembangan yang luar biasa. Dengan tetap memegang kaidah konservasi dan pengembangan SDA, Bupati Ir Samsul Hadi telah melakukan serangkaian terobosan pembangunan berskala nasional. Jelas, hal itu menyedot dana APBN. “Tidak ada kata lain, pembangunan Banyuwangi harus dimulai dari konservasi ,” tandas putra daerah yang akrab disapa dengan panggilan Kang Samsul itu.

Bandara Blimbingsari
Fieran pertumbuhan sektor ekonomi daerah yang pemah berjuluk Kota Pisang tersebut, paling besar dipasok sektor pertanian 53″/0″58,51 %. Peringkat kedua diduduki sector perdagangan, hotel, dan restoran sekitar 22,73%. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas harga yang berlaku mencapai Rp 5,706 triliun (2002). Khusus sector perdagangan, hotel dan restoran yang berada di peringkatdua, sekaligus merupakan indikasi besamya peran pariwisata Banyuwangi terhadap kondisi ekonomi makro setempat.

Seperti pembangunan Bandara Blimbingsari, di Kecamatan Rogojampi yang direncanakan selesai dan beroperasi tahun 2006 nanti. Lapangan terbang tersebut diharapkan memacu perkembangan kawasan pintu masuk Jatim di bela han timurtersebut.

Prospek keberadaan bandara tersebut memang bagus. Jarak Surabaya-Banyuwangi (300 km lebih) bisa “diperpendek” menjadi sekitar 45 menit saja, tidak lagi 5-6 jam jalan darat. Demikian pulajarak BanyuwangiBali. Pangsa pasamya pun sudahjelas. Tercatat ada 48 perusahaan eksportir di kabupaten ini, sebagian di antaranya PMA (perusahaan modal asing). Acap ~ali mereka harus lebih dahulu keSurabayauntuk menemui rekanan bisnisnya. Kelak, setelah bandara beroperasi, akan lebih efektif jika rekanan dimaksud yang langsung ke Banyuwangi.

Proyek lainnya juga sarat muatan prospek yangtinggi. Sebut saja proyek pembangunan Waduk Singolatri. “Pembangunan waduk tersebut bertujuan menjinakkan arus sungaisungai yang kerap menimbulkan bencana. Realisasinya tinggal satu langkah,” kata R. Soekarwodinoto CES, Kepala Bapeda Kabupaten Banyuwangi. Pemkab setempat telah menjalin kerjasama dengan pihak investor dari Jepang.

Tipikal sungai-sungai di Banyuwangi memang beda dengan Sungai Kali Brantas di Malang, misalnya. Hulu sungai-sungai di Bumi Blambangan itu boleh dikata satu titik, di kawasan Gunung Ijen. Alumya lurus dan langsung menuju pantai. Antarsungai nyaris tak berhubungan langsung. Itulah sebabnya stabilitas volume air di masing-masing sungai sulit dikendalikan, dan kerap menimbukan bencana. “ProyekSupply Inter Basin telah kami siapkan untuk mendukung waduk,” lanjut Karwo, sapaan akrab mantan Kepala Dinas Pengairan Banyuwangi itu.

Proyek lain yangjuga berskala nasional dan telah beroprasi adaiah tempat reparasi kapallaut (dock) bemama Putra Banyuwangi Sejati Dock-Yard. Meski hingga Desember ini dockitu baru mampu melayani “cuci pantat” kapal, namun perkembangan ke depan diproyeksikan mampu melayani perbaikan dan perawatan kapal. Oocktersebut sangat membantu k~beradaan pelabuhan penyeberangan Ketapang dan kapal ikan yang beroperasi di Muncar. Sedangkan untuk servis dan pariwatan kapal, tidak lagi harus ke Tanjung Perak,Surabaya. cukup ke dock di Kecamatan Wongsorejo tersebut

Segitiga Emas Pariwisata
Potensi pariwisata Banyuwangi melengkapi pilihan pebisnis menginvestasikan modalnya. Keindahan panorama alam yang ditunjang kekayaan seni budaya lokal, klop Tak diragukan lagi . Sebut saja Pulau Tabuhan, satu di antara 10 pulau keeil yang dimiliki Tanah GandJ1Jngitu. Indahnya amat menawan. Keliling pulau hanya 16 km, pantainya berpasir putih. Taman laut seputar pulaujuga menakjubkan. Pas sebagai ajang snorkeling dan diving(selam). Begitu pula jetski, surfing, sailing, fishing, dan canoing dapat dilakukan selepas melihat kekayaan flora dan fauna under water (bawah air). Pantai Sukamade dean penyunya, Pantai Plengkung yang konda~ ombaknya, atau Segara Anakan dengan burung imigrannya, hanyalah sebagian kecil dari atraksi alam berdaya tarik wisata. “Gunung ijen, Pantai Plengkung, dan Pantai Sukamade, merupakan

segi tiga em as pariwisata Banyuwangi,” kata Bupati Samsul Hadi yang pemah berdinas di Departemen Transmigrasi, Jakarta. Sarana penu.nj ang pariwisata pun mulai bermunculan. Hotel dan restoran bakjamur di musim hujan. “Sayangnya, wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi masih terikat paket wisata dengan biro pedalanan wisata di Bali,” terang H Asma’i Hadi, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Parsenbud) setempat. Hotel yang kerap digunakan wi satawan mancanegara dapat dibilang spektakuler. ljen Resort and Villas (IRV) contohnya. Lokasi hotel yang dipilih tidaklah diperkirakan oleh kebanyakan pebisnis. Maklum, menuju IRV di Desa Randuagung, Kecamatan Glagah, tidaklah mudah. Meski badan jalan beraspal namun medannya berkelok-kelok dan naik-turun Diteruskan dengan jalan tanah yang juga naik turun. Pembangunan IRV itu, menurut Bupati, merupakan”ide besar sekaligus gila”.

Hotel di tengah hamparan persawahan itu dibangun tahun 2000. Keberadaannya kini mampu mengatarkan pemiliknya, Soedjanto, menerima anugerah Pariwisata Award 2003 dari Dinas Pariwisata Privinsi Jawa Timur.

Posisi Banyuwangi denganBali yang hanya dipisahkan selat, juga menguntungkan
Penyeberangan ke Pulau Dewata pasti melalui Pelabuhan Ketapang di kawasan Sri Tanjung (nama putri dalam legenda Banyuwangi). Apalagi bila Bandara Blimbingsari sudah beroperasi. Wisatawan dari dan keBalinyaris bisa diprediksikan tak sekadar transit di Banyuwamgi. Pendek kata, layak berobsesi menjadi daerah tujuan wisata, kelak.

Serumpun dengan Bali
Masyarakat kabupaten ini juga dikenal kaya seni budaya. Atraksi budayanya pastilah memikat wisatawan. Ragamnya pun banyak. “Di Bali, sejauh mata memandang, pura dan ritual Hindu Bali menjadi pemandangan. Di Banyuwangi, setiap jengkal daerah memiliki kekhasan sendiri,” kata Soedjanto dalam nada membandingkan. Boleh jadi tak berlebihan. Simak saja, dari Dusun Cungking, Kelurahan MOjopanggung, Kecamatan Giri, lahir kesenian Gandrungyang termasyhur hingga mancanegara. “Kesenian Gandrung menjadi icon daerah yang layak jual,” komentar Sahuni, Kasi Atraksi Disparta setempat. Keseriusan pemkab setempat mendukung berkembangnya kesenian tradisionalnya, sangat besar. Disparta bahkan telah melaksanakan pelatihan Gandrung profesional selama satu bulan, diikuti 33 orang. Mereka akan dinobatkan tepat pada puncak acara HUT Banyuwangi, 18 Desember ini. Cita rasa kesenian khas Banyuwangi, banyak yang menilai serumpun dengan kesenianBali. Faktualnya memang demikian. Mulai dari peralatan, irama, dan gerakan banyak kesamaan. Maklum, ketika Kerajaan Majapahit runtuh, penganut Hindu sebelum menyeberang keBalilebih dulu singgah di Banyuwangi. Bukan itu saja, pengaruh Islam juga meresap dalam cipta karya mereka. Kesenian Kuntulan yang berpangkal dari seni hadrah dengan tarian rodat, salah satu bukti. Musik patrol yang hampir ada di semua daerah, menjadi berbeda di tangan masyarakat Blambangan. “Masyarakat Banyuwangi sangat cerdik mengadopsi kesenian daerah lain, kemudian tumbuh menjadi kesenian yang khas,” ujar Hadi, aktifis sebuah LSM. “Dangdut saja diadopsi menjadi kesenian kendang kempul,” tambah pemuda asal Jombang itu. Penampilan seni budaya teragendakan setiap padang bulan (tanggal 15 dalam penanggalan Jawa). Tempatnya pun di pusat kota, lazim disebut Gesebu (Gedung Kesenian dan Budaya). Di sisi lain, tiap daerah memiliki tradisi yang teragendakan tiap tahun. Seperti Larung Sesaji di Pelabuhan Muncar, Ketxrkeboan, dan Endogendogan.

 Puputan Bayu
Sejarah (dan legenda) Banyuwangi semakin memantapkan perannya dalam mewamai sejarah nasional. Runtuhnya Kerajaan Majapahit yang menguasai wilyah kurang lebih sama dengan kawasan Indonesiasekarang, salah satunya karena perang Paregreg. Tedadi karena Blambangan sebagai wilayah bawahan menuntut hak atas kepemimpinan Kerajaan Nusantara tersebut. Saat Belanda menjajah Indonesia, Wong using 

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI24, 12 -26 Desember 2003, Tahun I

Ceritera Menakjinggo-Damarwulan Ternyata Bertentangan dengan Fakta Sejarah Blambangan

Napak tilas: 
Meluruskan Jalannya Sejarah Blambangan

Oleh : Sri Adi Oetomo
(Budayawan & Pemerhati Sejarah Blambangan)

1. Berkat kepopuleran ceritera Menakjinggo Damarwulan di kalangan masyarakat di tanah air, terutama  masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga ternyata mempopulerkan daerah Blambangan. Dalam hal ini disebabkan bahwa dalam lukisan ceriteranya Prabu Menakjinggo dianggap sebagai raja Blambangan Kendati demikian kepopuleran daerah Blambangan ternyata tidak menguntungkan bagi daerah tersebut, bahkan masyarakat lebih cenderung untuk memberikan penilaian negara terhadap daerah yang terlelak di kawasan ujung paling Timur pulau Jawa ini. Hal itu dapat dimengerti, karena dalam lukisan cerita Menakjinggo Damarwulan hampir dari segala sumber selalu memburuk-burukkan pihak Blambangan. Prabu Menakjinggo yang dianggap sebagai raja Blambangan bersama keluarga Istana dan para nara praja dalam ceritera fantastis itu dilukiskan sebagai tokoh-tokoh negarawan yang berwatak dan berperilaku jahat, seperti : Deksura, kejam, serakah, angkara murka, mabuk kekuasaan, curang, pengkhianat dan lain-lain, sehingga menimbulkan respon dan kesan masyarakat, terutama dari luar daerah ini kurang simpatik terhadap rakyat dan daerah Blambangan, bahkan juga menimbulkan anggapan dan tafsiran bahwa sebutan Blambangan itu hanya merupakan symbol tempat kejahatan.

Menurut ceritera, Prabu Menakjinggo yang dianggap sebagai raja Blambangan yang telah berani meminang Sri Ratu Kencanawungu atau (Prabu Kenya) dianggap kekuasaan serta telah melakukan kejahatan yang berlebih-lebihan, karena maharani Majapahit itu seharusnya dihormati dan dimuliakannya sebagai Ratunya. Sedang kedua permaisurinya, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan juga dilukiskan sebagai wanita pengkhianat yang tidak memiliki kesetiaan terhadap suami dan negara. Itulah sebabnya kerajaan yang diperintah oleh Prabu Menakjinggo dianggap sebagai lambang kejahatan yang disebut “Kerajaan Blambangan” Lukisan ceritera semacam itu memungkinkan sekali berdampak negatif, karena dapat mengurangi dan bahkan akan dapat menghapus watak jiwa kesatria serta sifat-sifat terpuji, seperti: rela berkorban, semangat patriotisme yang tinggi,  jiwa heroisme, pantang menyerah kepada musuh dan lain-lain yang telah dimiliki oleh leluhur Blambangan antara lain: Aria Nambi, Prabu Wirabhumi. Sinuhun Tawang Alun, Wong Agung Wilis, Pangeran Jagapati,  Mas Ayu Wiwit dan masih ada lagi lainnya yang telah berjuang dengan segala pengorbanan demi membela  rakyat dan mempertahankan bumi Blambangan. Terutama dalam peperangan melawan Kompeni Belanda di masa silam.

Sementara itu ceritera Menakjinggo – Damarwulan yang bersumber dari luar daerah Blambangan, maksudnya baik bersumber dari Serat Damarwulan dan Serat Kandha maupun dari Kesenian Langendriyan, lukisan ceriteranya selalu memburuk-burukkan pihak Blambangan, terutama tindakan Prabu Menakjinggo dan perilaku kedua permaisurinya, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan beserta para narapraja dari kerajaan ini. Dalam hal ini jelas bertentangan dengan fakta sejarah, khususnya berbagai peristiwa sejarah yang pernah mewarnai jalannya sejarah Blambangan. Secara Jujur harus diakui bahwa dibalik ceritera Menak Jinggo-Damarwulan, di bumi Blambangan sebenarnya banyak menyimpan ceritera yang mempunyai nilai cukup tinggi dan kisah kepahlawanan leluhur yang cukup mengagumkan, terutama dalam peperangan melawan Kompeni Belanda di masa silam. Leluhur Blambangan itu telah berjuang dengan segala pengorbanan, bahkan sampai titik darah penghabisan demi membela rakyat dan membentengi bumi Blambangan. Sebagaimana diungkapkan dalam buku Babad Tawang Alun bahwa Sinuhun Tawang Alun dari kerajaan Macan Putih yang memerintah dari lahun 1667-1691, ternyata terkenal tidak sudi bekerjasama dan berkompromi dengan Kompeni Belanda.

Pangeran Agung Wilis cicit Kanjeng Sinuhun Tawang Alun sebagai Pangeran Blambangan yang mengemudikan pemerintahan dari tahun 1767-1769 juga ternyata telah mempelopori rakyat dan berjuang secara terang-terangan dengan mengangkat senjata dan maju kemedan perang untuk mengusir Kompeni Belanda yang manjarah rayah bumi Blambangan. Selanjutnya Pangeran Jagapati Adipati Bayu dari tahun 1771-1772, meneruskan perjuangan Wong Agung Willis dan telah berjuang sampai tilik darah penghabisan dalam megusir para serdadu VOC dari persada Blamhangan. Lebih dari itu sejak abad XVI, di Bumi Blambangan lelah bermunculan sejumlah “Pendekar Wanita” yang berperan penting dalam mewarnai perjalanan sejarah Blambangan. Sekilar tahun 1659, Mas Ayu Tunjungsari diangkat sebagai Patih Kedawung oleh kakaknya Prabu Wilamenggala yang memerintah dari tahun 1659-1666. Setelah berkobarnya “Perang Saudara” yang dimenangkan oleh Pangeran Tawang Alun dalam Perang Bayu I, kedua adik perempuannya yang lain, yakni Mas Ayu Meloka dan Mas Ayu Gringsing Retna, masing-masing dinobatkan sebagai Raja dan Patih Kedawung yang memerintah dari tahun 1666-1667.

Di samping hal tersebul, dalam Perang Bayu II di bawah pimpinan Pangeran Jagapali untuk melawan Kompeni Belanda, Sang Pangeran ternyata mengangkat Syau Wiwit (Putri Wong Agung Wilis) sebagai Senapati Wanita Bayu yang siasat dan gerakannya dalam memimpin pasukan selalu diperhitungkan oleh banyak Komandan Pasukan VOC. Dalam hal ini cukup jelas bahwa anggapan tentang banyak wanita Blambangan di masa lampau sebagai pengkhianat dan tidak memiliki kesetiaan terhadap suami dan Negara tidak sesuai atau amat bertentangan dengan fakta sejarahnya. Sebagaimana tersebut di atas bahwa karena perilaku jahat yang berlebih-lebihan yang dilakukan oleh Prabu Menakjinggo beserta kedua permaisuri dan para naraprajanya, sehingga menimbulkan tafsiran bahwa kerajaan yang diperintah oleh Prabu Menakjinggo hanya sebagai perlambang tempat kejahatan yang disebut kerajaan Blambangan, ternyata mengandung makna dan mencakup berbagai hal yang jahat jahat saja. Padahal tafsiran semacam itu juga sangat bertentangan dengan keadaan Blambangan yang sebenarnya, bahkan seharusnya “Blambangan” itu sebagai perlambang kebaikan.

Sebenarnya harus diakui secara jujur bahwa hal tersebut, mengingat sejak dahulu kala sebagaimana telah disinggung di atas bahwa bumi Blambangan ternyata banyak menyimpan ceritera sejauh yang mempunyai nilai cukup tinggi, bahkan juga banyak kisah kepahlawanan leluhur yang cukup mengagumkan, terutama dalam peperangan melawan Kompeni Belanda di masa silam, sehingga memunculkan banyak pendekar bangsa dari daerah ini. Demikian pula bumi Blambangan juga sebagai penghasil pangan yang potensial sekali, sehingga Mpu Prapanca dalam buku karyanya “Kekawin Negarakretagama” pupuh 28 bait I, menyebut daerah ini dengan “Balumbung” yang lumbung tempat menyimpan padi. Sampai saat ini pun Daerah Tingkal II Kabupaten Banyuwangi masih tetap sebagai salah satu lumbung (gudang) pangan nasional di tanah air. Daerah ini juga ternyata sebagai penghasil ikan laut terbesar nomor dua di seluruh tanah air. Demiki an pula bumi Blambangan merupakan gudang seni dan budaya. Kesenian tradisional, seperti: Angklung Caruk, Kuntulan, Damarulan, Jinggoan, ternyata paling digemari, terutama oleh masyarakat setempat. Kesenian Seblang dan Gandrung Banyuwangi bukan saja terkenal di tanah air, namun telah (dipentaskan) di mancanegara, dan masih banyak lagi kelebihan serta kebaikan daerah Blambangan jika dibanding dengan beberapa daerah di tanah air. Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa sebutan Blambangan lebih tepat sebagai simbol yang melambangkan kebaikan, karena sesuai dengan keadaan dan seluk-beluk Blambangan yang sebenarnya.

2. Sampai saat ini masyarakat di tanah air, khususnya masyarakat Banyuwangi ternyata banyak yang masih awam dan berpola pikir tradisional yang lebih cenderung menonjolkan nilai-nilai mithologi dari pada nilai sejarah ini.

Itulah sebabnya berkat kepopuleran Legenda Menakjinggo atau ceritera Menakjinggo Damarwulan, rakyat Blambangan ternyata tidak sedikit yang beranggapan bahwa sebagian lukisan ceriteranya, terutama keberadaan dan peran Menakjinggo diyakini sebagai peristiwa sejarah yang benar-benar pernah terjadi di bumi Blambangan di masa silam. Lebih dari itu sebagaimana telah Menakjinggo ditokohkan sebagai raja Blambangan, bahkan dianggapnya sebagai leluhur dan pahlawan Blambangan. Anggapan dan kepercayaan semacam itu ternyata telah berakar kuat di hati masyarakat, khususnya di hati masyarakat di kawasan ujung paling Timur pulau Jawa ini.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut secara tepat atau paling tidak sudah mendekati kebenaran faktanya, perlu dibuktikan dengan mempelajari secara seksama berbagai buku sejarah, terutama sejarah Blambangan dan khususnya berbagai buku Babad Blambangan. Padahal dalam berbagai buku sejarah, khususnya sejarah Blambangan ternyata tidak pernah diketemukan nama atau sebutan Menakjinggo yang dimaksud. Memang, sebagaimana yang pernah diketengahkan bahwa sebutan Menakjinggo, terutama asal-usulnya dapat ditelusuri dan diketemukan dalam dua buah “Dongeng Rakyat” (Folklore), akan tetapi diantara satu sumber itu dengan yang sumber terdapat perbedaan yang cukup mendasar mengenai riwayat hidup dan peran Menakjinggo dalam uraian ceriteranya. Dongeng rakyat yang disebut “Bambang Menak”, mengisahkan asal usul Menakjinggo, yakni merupakan (keturunan) dari Adipati Macuet atau (Adipati Jinggo) dari Gua Siluman hasil perkawinannya dengan Putri Tunjungsari dari pedepokan Wendit. Putra Sang Adipati ini ketika masih bocah diberi nama “Bambang Menak” yang ternyata diasuh oleh Ki Hajar Pamengger di pedepokan Gunung Pipit. Setelah menduduki jabatan Adipati Gua Siluman, Bambang Menak bergelar Adipati Menakjinggo. Gelarnya itu ternyata merupakan perpaduan dari dua nama yang diambil dari namanya sendiri, yakni Bambang Menak dan nama ayah kandungnya yang pada waktu itu menjadi musuh dan dapat dibunuhnya, yakni Adipati Jinggo atau Adipati Macuet dari Gua Siluman.

Dari satu sumber lain, yakni ceritera Kebomarcuet dengan Dongeng Jaka Umbaran mengisahkan antara lain bahwa Menak Subali Patih Majapahit yang mengadakan pemberontakan terhadap Prabu Bhrawijaya ternyata dapat ditundukkan dan dibunuh oleh Kebomarcuet utusan Majapahit yang berasal dari Alas Purwa. Ki Patih Menak Subali yang tewas di medan laga dengan meninggalkan seorang isteri yang bernama Jinggowati sedang mengandung tua. Setelah melahirkan, putra mendiang Ki Patih itu diberi nama Jaka Umbaran yang selanjutnya diasuh oleh Ki Ajar Pamengger. Setelah dewasa, Jaka Umbaran menuntut balas atas kematian mendiang ayahnya dan berhasil membunuh Kebomarcuet, yang selanjutnya juga meneruskan perlawanan terhadap Majapahit dengan maksud untuk menuntut balas atas kematian ayahnya pula kepada Prabu Bhrawijaya. Sebelum mengadakan perlawanan terhadap Majapahit, untuk menyeimbangkan kedudukannya, Jaka Umbaran mengangkat dirinya sebagai raja Blambangan dengan gelar Prabu Menakjinggo yang juga dikenal dengan sebutan Prabu Urubisma. Sedang gelarnya Prabu Menakjinggo itu juga ternyata merupakan perpaduan dari dua nama yang diambil dari nama mendiang ayahnya, yaitu Patih Menak Subali dan nama ibunya Jinggowati

Sebagaimana yang pernah diketengahkan bahwa asal-usul Menakjinggo yang bersumber dari buku “Babad Mas Sepuh” suntingan Winarsih Partaningrat Arifin dari Babad Blambangan, Edisi : Ecole Prancaise de ‘Extreme-Orient, YBB. 024.95 Jogyakarta, Desember 1995, dalam “Ringkasan Babad Mas Sepuh”, halaman 127 ternyata mengungkapkan antara lain bahwa Pangeran Danureja yang telah menjadi raja Blambangan, setelah lama bertapa mempunyai anak yang diberi nama “Pangeran Menakjinggo” yang juga disebut “Pangeran Mas Sepuh.” Pada halaman tersebut ternyata terdapat “Footnote” yang pada No. I menerangkan antara lain “Jadi nama resmi anak Pangeran Danureja memang Pangeran Menakjinggo” (dalam Babad Wilis disebut Pangeran Jinggo). Sedang sebutan Pangeran Mas Sepuh sebenarnya hanya dipakai orang-orang Bali saja. Di samping itu ternyata masih terdapat buku Babad Natadiningrat (KBG. 607) juga suntingan Winarsih Partaningrat Arifin yang serupa dengan tersebut di atas, pada halaman 247 dan seterusnya dalam mengungkap tentang asal-usul Menakjinggo ternyata mirip sekali dengan uraian mengenai asal-usul Menakjinggo yang bersumber dari Serat Kandha yang Serat Kandhaning Ringgit Purwa. Serat Kandha yang sebutan lengkapnya “Serat Kandhaning Ringgit Purwa” Asmaradana pupuh CCCLXXXV, 38 pada gatra (bait) 25 sampai dengan 33 (sembilan bait) yang mengungkapkan tentang asal usul Menakjinggo pada intinya jika disimpulkan antara lain bahwa Adipati Pamengger dari Blambangan merasa masygul hatinya setelah diundang dan menghadiri upacara wisuda Dewi Kencanawungu menjadi Maharani Majapahit dengan gelar Prabu Kenya. Sang Adipati merasa sangat kecewa mengapa selama itu tidak dianugerahi anak seorang pun. Padahal Dewi Kencanawungu anak perempuan saja ternyata dapat diwisuda oleh ayahnya Prabu Bhrawijaya sebagai raja Majapahit. Dalam merupakan masalah tersebut, Adipati Pamengger tidak didampingi seorang pun baik dari keluarga Kadipaten Blambangan maupun narapraja yang lain, kecuali seekor anjing berwarna merah yang sangat setia mendampingi Ratu Gustinya. Anjing merah milik Adipati Blambangan itu di samping sangat setia ternyata memiliki pengertian layaknya manusia, terutama terhadap Sang Adipati. Dalam hal ini menyebabkan Adipati Pamengger mohon kepada Yang Maha Agung, seandainya anjingnya yang merah itu dapat berubah menjadi manusia pasti akan diambil sebagai putra angkat dan kelak pasti akan diwisuda sebagai Adipati Blambangan untuk menggantikan kedudukannya.

Dalam kisah tersebut, permohonan Adipati pamengger ternyata terkabul dan anjingnya yang sangat setia itu berubah menjadi manusia yang langsung bersembah kepada Sang Adipati. Sayang sekali, manusia yang berasal dari anjing itu tetap bertampang buruk dan wajahnya tetap bermoncong seperti anjing. Sebenarnya Adipati Pamengger sangat menyesal permohonannya itu, akan tetapi setelah berpikir secara mendalam bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak dan kekuasaan dari Yang Maha Pencipta, Sang Adipati segera memeluk serta memandikan bocah itu dengan memberikan tuah dari pusakanya “Besi Kuning” kemudian memberi nama kepada putra angkatnya itu dengan sebutan “Pangeran Menakjinggo,” yang juga dijanjikan kelak akan diwisuda sebagai Adipati Blambangan untuk menggantikan kedudukan Sang Adipati. Sedang anak angkatnya Pangeran Menakjinggo akan mentaati segala perintah dan petunjuk ayah angkatnya. Setelah diwisuda menjadi Adipati Blambangan, Sang Adipati ternyata mempersunting kedua wanita rupawan dari Baliga dan Bangkalan, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan sebagai permaisurinya. Kendati demikian Adipati Menakjinggo masih bermaksud untuk meminang Sri Ratu Kencanawungu Maharani Majapahit untuk dijadikan pendampingnya. Untuk menyeimbangkan kedudukannya, Sang Adipati mengangkat dirinya sebagai raja Blambangan dengan gelar Prabu Menakjinggo yang juga terkenal dengan gelar Prabu Urubismo. Dalam hal ini ayah angkatnya tidak merestuinya, bahkan mencegah maksud Prabu Menakjinggo untuk mempersunting Maharani Majapahit, namun raja Blambangan itu tidak mempedulikan nasihat ayah angkatnya. Itulah sebabnya Ki Pamengger ternyata meninggalkan istana Blambangan untuk bertapa di suatu pegunungan yang akhirnya menjadi pertapa sakti dengan sebutan Ki Ajar Pamengger.

Semua uraian di atas, terutama tentang asal usul Menakjinggo jika disimak secara seksama, telah menunjukkan dengan jelas bahwa keberadaan Menakjinggo saja sudah tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Mana mungkin seorang manusia dari beberapa pasangan suami-isteri, bahkan juga dikisahkan bahwa Menakjinggo itu dicipta dan berasal dari seekor anjing merah. Sedang Pangeran Menakjinggo yang asal-usulnya bersumber dari Babad Blambangan (Babad Mas Sepuh). Yakni sebagai putra Pangeran Danurejo raja Blambangan, riwayat hidup dan perannya dalam perjalanan sejarah Blambangan masih perlu dipertanyakan. Benarkah Pangeran Menakjinggo itu idektik dengan Pangeran Mas sepuh yang dalam Babad Wilis disebut Pangeran Jinggo dan dalam Babad Blambangan dikenal dengan sebutan Pangeran Prabu atau Pangeran Pati II, sedangkan dalam Babad Tawang Alun banyak disebut-sebut sebagai Pangeran Danuningran atau Pangeran Mangkuningrat? Dalam hal ini mengingat bahwa Pangeran Jinggo (Pangeran Mas Sepuh = Pangeran Pati II = Pangeran Danuningrat = Pangeran Mangkuningrat) merupakan raja Blambangan terakhir (putra Prabu Danurejo) yang memerintah pada tahun 1736 -1764 itu pernah menodai perjalanan sejarah Blambangan, karena Sang prabu satu-satunya raja Blambangan yang pernah bekerjasama dengan Kompeni Belanda, sehingga Prabu Danuningrat terpaksa ditangkap dan dijatuhi hukuman mati dan pada tahun 1766 dibunuh di pantai Seseh/Bali.

Para Menakjinggo tersebut di atas kecuali yang dibunuh di pantai Seseh tersebul, memiliki tindakan dan peran yang serupa, walaupun asal usul masing-masing Menakjinggo itu terdapat perbedaan cukup mendasar. Semua Menakjinggo itu ternyata terlibat peperangan dengan Majapahit yang berakhir bahwa masing-masing Menakjinggo dapat dibunuh dan dipenggal kepalanya oleh Raden Damarwulan utusan Majapahit. Berkat keberhasilannya dalam menumpas pemberontakan di Blambangan Raden Damarwulan dijodohkan dengan Sri Ratu Kencanawunggu dan menggantikan ke dudukannya sebagai raja Majapahit dengan gelar Prabu Bhrawijaya VI (Prabu Mertawijaya). Kendati demikian yang sangat menarik perhatian dalam peperangan antara Blambangan dan Majapahit itu, masing-masing Menakjinggo yang melawan Majapahit itu memiliki motif (sebab-musababnya) berbeda-beda pula. Dengan demikian cukup jelas bahwa keberadaan dan peran Menakjinggo dalam perjalanan sejarah nasional tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, tegasnya Menakjinggo hanya sebagai tokoh fiktif dalam perjalanan sejarah Blambangan.

Materi di atas dinukil dari Majalah Gema Blambangan, edisi khusus (076-077), 1997. Koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur 

Sekilas Perang Puputan Bayu, Kabupaten Banyuwangi

Disusun oleh: Hasan Ali
Ketua Dewan Kesenian Blambangan

1. PENGANTAR

(Bahasa Using: puput = habis; Puputan Bayu = Perang habis-habisan di Bayu).
Perang Puputan Bayu adalah peperangan yang terjadi antara pasukan VOC Belanda dengan pejuang-pejuang Blambangan pada tahun 1771-1772 di Bayu (Kecamatan Songgon sekarang). Peperangan ini oleh fihak Belanda sendiri diakui sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan oleh VOC Belanda di manapun di Indonesia (Lekkerkerker, 1923 : 1056). Di fihak Blambangan, peperangan ini merupakan peperangan yang sangat heroik-patriotik dan membanggakan, yang patut dicatat, dikenang dan dijadikan suri tauladan bagi anak cucu kita dalam mencintai, membela dan membangun daerahnya, Bumi Blambangan.

Dalam Perang Puputan bayu tersebut pejuang-pejuang Blambangan dipimpin oleh Rempeg, yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Jagapati, seorang buyut Pangeran Tawang Alun, putra Mas Bagus Dalem Wiraguna (Mas Bagus Puri) dengan ibu dari desa Pakis, Banyuwangi (Pigeaud, 1932: 255). Rempeg atau Pangeran Jagapati ini oleh Pengikutnya dipercaya sebagai titisan Wong Agung I yang legendaris (yang juga masih buyut Pangeran Tawang Alun). Karena itu oleh Belanda Rempeg atau Pangeran Jagapati ini disebut dengan sebutan “Pseudo Wilis”, Wilis-semu. Rempeg dengan hampir seluruh pengikutnya, sepcrti Patih Jagalara, Mas Ayu (Sayu) Wiwit, Bekel-bekel Utun, Udhuh, Runteb dan lain-lain, gugur dengan gagah berani dalam Perang Puputan Bayu tersebut.

2. JALANNYA PEPERANGAN
Setelah VOC Belanda dapat menduduki Banyualit pada tahun 1767 dan kemudian Ulu Pangpang dan Lateng (Rogojampi), dan setelah gagalnya serangan Pangeran Puger (putra Wong Agung Wilis) terhadap benteng VOC di Banyualit, dan kemudian dengan tertangkap dan dibuangnya Wong Agung Wilis ke Pulau Banda, maka mulailah praktik sistem penjajahan yang paling mengerikan yang dilakukan oleh VOC Belanda terhadap seluruh rakyat Blambangan pada waktu itu. Untuk memperoleh gambaran yang obyektif tentang penindasan tersebut. Kami kutip tulisan C. Lekkerkerker, seorang penulis/sejarawan Belanda dalam “Blambangan” di Indische Gids· 1923 :

” … Colmond (komandan tertinggi pasukan VOC Belanda di Blambangan pada tahun-tahun 1769-1770. Pen). Komandan baru itu bcrwatak keras. Tindakan-tindakannya itu telah ikut membuat dasar bagi timbulnya peristiwa-peristiwa yang mengerikan, yang mengancam keselamatan negeri ini pada tahun-tahun 1771 dan 1772 Van Wikkerman bercerita — dan sesungguhnya dokumen-dokumen resmi sebenarnya telah membenarkannya — bahwa dia (Colmond) mengirimkan patroli-patroli ke seluruh negeri ini di bawah pimpinan Hounold dan Heilbronner untuk menyita semua beras dan bahan makanan lainnya dan mengangkutnya, dan apabila tidak dapat diangkut, dia menyuruh membakarnya. Pada musim hujan berikutnya dia menyuruh menanami sawah-sawah itu kembali atas perintah yang memaksa. Setelah mana panennya pun disita lagi.

Selain itu dia menyuruh rakyat bekerja paksa untuk membangun dan memperkuat benteng VOC di Ulu Pangpang dan Kuta Lateng. Memerintahkan mereka membuat jalan-jalan. Membersihkan pepohonan yang ada diantara laut dan benteng di Ulu Pangpang, membuat penangkis air di Gunung Ikan (yaitu jazirah yang menutupi Teluk Pangpang) untuk pengawasan atas gerak-gerak orang-orang Bali. Tetapi ia tidak menyediakan makanan bagi mereka, kesengsaraan, kelaparan, serta kekurangan, penyakit, jumlah kematian yang tinggi. Pelarian ke hutan adalah akibat tindakan tindakannya di atas ………………. ” (Lekkerkerker. 1923 :1054-1055).

Kekejaman di atas belum lagi ditambah dengan tindakan-tindakan para penguasa VOC terhadap para wanita pribumi, baik gadis, janda dan bahkan isteri orang seperti dilakukan oleh Adipati Jeksa Negara (Adipati Blambangan yang diangkat oleh VOC pada waktu itu) terhadap isteri Ki Samila (Bid 1923: 1056).

Karena berbagai hal di atas, Rampeg, yang semula bekerja kepada Ki Samila, menyingkir ke Bayu dan menyusun kekuatan untuk menyerang dan mengusir VOC Belanda dari Blambangan. Tindakannya ini timbul dari golongan hati nuraninya sendiri dan sama sekali bukan karena pengaruh Bali (Ibid. 1923 : 1057). Banyak penduduk Pangpang dan dari daerah-daerah lain di seluruh Blambangan yang bergabung dengan Rempeg di Bayu, sehingga Bayu berkembang menjadi satu kekuatan yang dianggap sangat berbahaya bagi kedudukan VOC di Blambangan.

Khawatir akan kekuatan yang disusun di Bayu, VOC mulai menyusun dan menghimpun kekuatan yang luar biasa besar, dengan mendatangkan bala bantuan dari Batavia, Jawa Tengah dan dari para adipati taklukannya di seluruh pesisir utara Jawa Timur dan Madura.

Secara kronologis, seperti yang diceritakan oleh C. Lekkerkerker (yang sebahagiannya dihimpun dari catatan J.K.J. de jonge, De Opkomst van het Nederlandsch Gezeg in Oos-Indie), mulai dari perhimpunan kekuatan sampai meledak menjadi suatu peperangan yang mengerikan, dapat diinformasikan sebagai berikut:

1) Pada bulan Mei 1771 terbongkar oleh VOC bahwa adipati-adipati yang semula di angkatnya, Suta Negara dan Wangsengsari, serta Patih Sura Teruna (kecuali Patih Jeksa Negara) memihak kepada Rempeg dan menjalin hubungan dengan Bali. Pada bulan Juni 1771 itu juga ketiga tokoh pejuang tersebut (yang masih keturunan Pangeran Tawang Alun) dengan seluruh keluarganya dibuang ke Sri Langka. Kemudian patih Jeksa Negara diangkat sebagai adipati tinggal di Blambangan (Ibid 1923: 1055). Dari peristwa tersebut kiranya tampak bahwa bukan hanya rakyat jelata yang paling tertindas yang memihak kepada Rempeg, bahkan juga hampir seluruh pembesar dan para bangsawan keturunan Tawang Alun bersatu dan memihak kepada Rempeg.
2). Pada tanggal 3 Agustus 1771, setelah diperkirakan semua persiapan yang dipusatkan di Lateng sudah cukup, VOC mengirim 70 orang pasukan bersenjata untuk menyerang Bayu, namun pasukan yang sebahagian besar terdiri dari orang-orang pribumi tersebut malah membelot dan memihak kepada Rempek (Ibid 1923: 1057).
3). Pada tanggal 5 Agustus 1771, Bicsheuvel (Residen Blambangan pada tahun 1767-1771 dengan pasukannya bergerak menyerang Bayu. Namun mereka kembali tanpa hasil, karena pertahanan Bayu yang sangat tangguh. Pada waktu yang bersamaan Schophoff (wakil Residen Biesheuvel) masuk ke desa-desa dengan maksud mempengaruhi penduduk untuk tidak memihak kepada Rempeg. Namun ketika mereka berada di desa Gambiran (Kecamatan Gambiran sekarang) bahkan diserang oleh sekitar 200 orang pejuang Blambangan setempat (Ibid. 1923 : 1057).
4). Pada bulan Agustus 1771 itu juga bupati dari pantai utara Jawa mengirimkan bala bantuan tentara di bawah komando Letnan Imhoff dan Letnan Montro ke Blambangan. Namun pada waktu yang bersamaan penduduk Blambangan yang berbondong-bondong bergabung ke Bayu juga tidak dapat dibendung lagi (Ibid. 1923 : 1057).
5). Pada tanggal 22 September 1771 Letnan Imhoff berhasil menerobos benteng pertahanan Bayu, namun lagi-lagi para anggota pasukannya yang pribumi membelot masuk hutan dengan senjatanya masing-masing, sedang pasukannya yang berkebangsaan Eropa, karena kehabisan amunisi dan luka-luka yang dideritanya, termasuk Imhoff, terpaksa mengundurkan diri dengan meniggalkan senjata-senjata berat (meriam) mereka. Untuk menutup kehancuran tersebut dan untuk persiapan penyerangan berikutnya ke Bayu, Biesheuvel meminta bantuan 1000 orang pribumi dan 150 orang tentara Eropa (Ibid. 1923 : 1057). Namun bersamaan dengan itu Pangeran Jagapati juga mendapatkan bantuan 300 orang dari Bali (Jembrana) lengkap dengan senjata dan bahan makanan yang diperlukan, dan berhasil mengepung benteng VOC di Kuta Lateng. VOC mengerahkan seluruh kekuatannya dengan mendatangkan bantuan tentara dari Garnisun-garnisun Batavia, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya dan Pasuruan, dengan pasukan “Dragnonelers” dari Semarang sebagai pasukan inti (Ibid. 1923:1058).
6). Pada awal bulan November 1771 Biesheuvel meninggal di Ulu Pangpang dan digantikan oleh wakilnya, Hendrik Schophoff, yang menjabat sebagai Residen Blambangan sampai dengan tahun 1777. Pada bulan ini bantuan tentara VOC tiba di Ulu Pangpang di bawah Komando Kapten Reygesr dan Kapten Heinrich. Kemudian mereka dapat menghalau pengepungan pejuang-pejuang Blambangan atas Kuta Lateng. Sedang Kapten Reygers berhasil pula menghancurkan gudang persediaan makanan di Banjar (Kecamatan Glagah sekarang), menguasai Grajagan di pantai selatan (yang merupakan pelabuhan bantuan dari Bali) dan membakar sekitar 300 koyan (1 koyan = lebih kurang 1,75 ton) persediaan beras. Pada waktu yang bersamaan VOC mengeluarkan surat-surat pengampunan bagi penduduk yang mau meninggalkan Bayu dan kembali ke desanya masing-masing (Ibid.1923 : 1(58).
7). Pada tanggal 13 Desember 1771 Reygers dengan pasukannya bergerak ke Bayu. Pada tanggal 14 Desember 177 I Reygers menyerang benteng Bayu, namun gagal karena benteng Bayu ternyata sangat kuat, bahkan telah berbalik mereka menjadi bulan-bulan serangan pejuang-pejuang Bayu. Minggu dari tanggal 14 sampai dengan tanggal 20 Desember 1771 adalah merupakan minggu malapetaka bagi pasukan-pasukan VOC. Mereka menamakannya dengan istilah “Minggu kehancuran yang dramatis bagi pasukan VOC” (De Dranlatische Vernietiging van het Compagnieslegcr). Pasukan-pasukan VOC yang menyerang dari dua arah, yaitu dari Susukan dan Songgon, telah terjebak dan disergap oleh pejuang-pejuang Bayu dan dihancurkan habis-habisan. Reyhegers terluka parah di kepalanya dan kemudian meninggal di Ulu Pangpang. Kapten Heinrich juga terluka parah, sehingga pimpinan pasukan VOC diambil alih oleh Van Schaar (Ibid. 1923 : 1(58).
8). Tanggal 18 Desember 1771, yang merupakan puncak dari apa yang dikatakan oleh Belanda sendiri sebagai “De Dramatische Vernictiging Van Het Compagniesleger”, adalah tanggal yang sangat bersejarah bagi seluruh rakyat Blambangan, kama pada tanggal itu pejuang-pejuang Blambangan melakukan serangan umum secara “puputan” secara habis-habisan terhadap benteng pertahanan musuh. Para prajurit Blambangan maju ke medan tempur secara serentak dan mendadak dengan berteriak-teriak histeris untuk membangun semangat juang mereka dan meruntuhkan semangat musuh, dengan membawa senjata apa saja yang dapat digunakan sebagai senjata, seperti golok, keris, pedang, tombak dan senjata-senjata api yang diperoleh sebagai rampasan dari tentara VOC atau yang dapat dibelinya dari orang-orang Inggris yang sudah membuka kantor dagangnya di Tirtaganda (Banyuwangi). Rempeg, yang diberitakan selalu di depan dalam setiap pertempuran, gugur karena luka-lukanya dalam perang puput ini, namun pasukan VOC benar-benar dihancur-luluhkan. Sebagaian dari mereka digiring ke parit-parit jebakan yang telah disediakan dan dihujam dari atas. Van Schaar, komandan pasukan VOC, Letnan Koret Tinne dan terhitung banyaknya tentara Eropah (Belanda) lainnya yang terbunuh dalam peperangan tersebut. Dari tentara yang tersisa yang dapat melarikan diri, yang jumlahnya tidak seberapa dan umumnya dalam keadaan luka-luka dan sakit, pada tanggal 20 Desember 1771 dapat mundur ke Lateng dan kemudian diungsikan ke Ulu Pangpang (Ibid 1923 : 1(58). Kepala Van Schaar dipotong, ditancapkan ke ujung tombak, dan diarak keliling desa-desa. Sebagai akibat dari perang puputan tersebut, untuk sementara sambil menunggu bantuan tenaga dan amunisi, VOC bertindak defensif, dengan berusaha menutup jalan keluar dan ke dalam Blambangan, baik di darat maupun di Selat Bali. Kepada Schophoff diperintahkan oleh atasannya, Van den Burgh, agar memperlakukan rakyat Blambangan dengan “Lemah lembut” (Ibid. 1923 : 1(59).

CATATAN:

Menurut cerita Van Wikkerman (yang kemudian menjadi rcsiden di Blambangan pada tahun 1800-1818), mayat Van Schaar dipotong-potong, dimasak dan dimakan oleh para pemberontak yang buas (Ibid. 1923 1(59). Tentulah ini propaganda provokatif khas penjajah. Perlulah diketahui bahwa pasukan-pasukan Bayu pada waktu itu adalah orang-orang yang beragama. Sebagian memeluk agama Hindu dan sebagian lainnya memeluk agama Islam (Ibid. 1923: 1(57) yang secara pasti tidak mungkin akan melakukan kanibalisme.

9). Pada awal tahun 1772 VOC melakukan panggilan umum kepada semua bupati taklukannya di pantai utara Jawa bagian Timur untuk mengirimkan pasukan-pasukannya. Semua tentara Eropa dikonsinyasikan di Blambangan. Setelah pengiriman 2000 orang tentara, pada bulan Agustus 1772 Heinrich tiba di Blambangan dengan 5000 prajurit J.R. Van den Burgh, Gubernur Jawa bagian Timur, datang sendiri ke Blambangan. Sejak pertengahan kedua tahun 1772. Sehubungan dengan gugurnya Pangeran Jagapati dan didatangkan oleh VOC bantuan tentara dan peralatan perang yang luar biasa besar dan lengkap, mulailah terjadi titik balik kekuatan, di mana pejuang-pejuang Bayu kemudian mulai terdesak dan lebih banyak bertahan.
10). Pada tanggal 1 Oktober 1772 Heinrich bergerak dari Via Pangpang ke Bayu. Tanggal 5 0ktober 1772 dia berkemah dan mendirikan perbentengan di Sodong (dekat Songgon sekarang). Vaandrig (Pemb. Letnan) Mierop dan Vaadrig Dijkman dengan 900 orang anak buahnya dengan peralatan berat (meriam) ditempatkan di sayap kanan di atas bukit dengan ketingian yang sama dengan Bayu. Vaandrig-vaandrig Gutten bergen dan Koegel ditempatkan di Sodong dengan 500 orang prajurit, sedang Heinrick sendiri bersiap-siap di sayap kiri. Di Sentong, dengan vaandrig Jeniger dan 1500 orang prajurit, bayu terkepung secara ketat (Ibid. 1923 : 1059).
11). Pada tanggal 11 Oktober 1772 Bayu digempur habis-habisan dengan tembakan-tembakan meriam. Setelah membunyikan alarem palsu dari sayap kanan (dari pos komando Mierop dan Dijkman, agar dikira penyerbuan akan dilakukan dari sayap ini), Heinrich dengan 1500 pasukannya menerobos dan menyerang benteng Bayu dari sayap kiri. Setelah melalui pertempuran sengit, benteng Bayu dapat direbutnya. Namun hanya dengan sedikit korban, karena sebagian dari pejuang-pejuang Bayu telah sempat menyingkir ke hutan. Ternyata benteng Bayu merupakan benteng yang dibangun dengan rapi, lengkap, kuat dan strategis, dan sempat membuat para pemimpin militer VOC menjadi terkagum-kagum. Namun oleh Piter Luzak, penguasa VOC untuk Jawa bagian Timur, sisa dari benteng Bayu tersebut diperintahkan untuk dimusnahkan dan diratakan dengan tanah (Ibid. 1923 : 1059).
12). Pejuang-pejuang Bayu yang tertangkap diperintahkan oleh Henrich untuk dibunuh, kepalanya dipotong dan digantung-gantungkan di pohon-pohon atau ditancap-tancapkan di tonggak-tonggak pagar di sepanjang jalan desa. Dan dari jumlah 2.505 orang sisa pejuang Blambangan. Laki dan perempuan yang ditawan dan dibawa ke Pangpang, atas perintah Schophoff tidak sedikit yang dihukum mati dengan menenggelamkannya (dengan pemberat batu) ke laut, disiksa, direjam, dan sebahagiannya dibuang ke Surabaya atau ke Batavia sebagai budak (Ibid. 1923: 1060). Itulah akhir dari sebuah peperangan habis-habisan yang mengerikan, yang telah merenggut ribuan bahkan puluhan ribu kurban, baik difihak musuh dan terutama difihak rakyat Blambangan. Dan inilah gambaran tragis dari taktik politik devide et impera Belanda terhadap kita, karena yang berperang dan menjadi korban dalam peperangan puputan tersebut, hampir seluruhnya adalah bangsa kita sendiri.

3. Hal-hal yang Khas dalam Perang Puputan Bayu
Beberapa hal yang patut dicatat sebagai luar biasa dalam Perang Puputan Bayu ini antara lain:
1. Sebagaimana yang telah dikemukakan didepan, Perang Puputan Bayu ini, yang memuncak pada tanggal 18 Desember 1771, diakui oleh Belanda sendiri sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan kurban dari semua peperangan yang pernah dilakukan VOC dimanapun di seluruh Indoensia (Ibid. 1923 : 1056).
2. Begilu kejamnya dan penuh dendam peperangan yang terjadi di Bayu tersebut, sampai-sampai apabila ada pasukan VOC yang tertangkap pejuang Blambangan, seperti yang terjadi antara lain pada Letnan Van Schaar, kepalanya dipotong, ditancapkan di ujung tombak, dan diarak keliling desa. Demikian juga sebaliknya, dari hampir semua pejuang Blambangan yang tertangkap di Bayu, kepalanya dipotong dan digantung-gantungkan di pohon-pohon atau ditancap-tancapkan di tonggak-tonggak pagar di sepanjang jalan desa (Ibid . 19123 : 1059). Kiranya sulit untuk dapat kita temukan kekejaman peperangan local seperti yang terjadi di Bayu ini di daerah-daerah lain di Indonesia.
3. Dari sejumlah 2.505 yang sisa pejuang Blambangan yang ditawan dan dibawa ke Pangpang, tidak sedikit yang dihukum mati dengan menenggelamkannya ke laut, disiksa dan direjam sampai mati (Ibid. 1923 : 1060). Suatu hukuman yang lebih bersifat “balas dendam” dari pada sekedar melakukan “hukuman” kepada musuh.
4. Untuk menghadapi Perang Bayu ini VOC telah mengerahkan tidak kurang dari 10.000 personil. (dengan peralatan lengkap dan senjata berat) yang didatangkan dari seluruh Jawa: dari garnisun-garnisun Batavia. Semarang (Korp Dragonders), Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Madura dan dari daerah-daerah pantai utara Jawa bagian Timur (Ibid. 1923: 1057-1059). Suatu jumlah yang yang luar biasa besar menurut keadaan pada waktu itu.
5. Peperangan di Bayu ini telah memakan kurban tidak kurang 60.000 rakyat Blambangan yang gugur, hilang, atau menyingkir ke hutan (Epp. 1849 : 347). Tampaknya jumlah ini “tidak begitu besar” kalau dilihat dari hitungan jumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi pada waktu ini. Namun perlulah diketahui bahwa jumlah penduduk seluruh Blambangan pada waklu itu tidak sampai 65.000 orang..!   J.C . Bosch. seorang pejabat Pemerintahan Belanda pernah menulis dari Bondowoso pada tahun 1848,” … daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang satu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali … ” (Anderson, 1982: 75 – 76).
6. Untuk merebut Blambangan, khususnya untuk peperangan di Bayu ini, VOC telah menghabiskan dana seharga 8 (delapan) ton emas yang merupakan pukulan telak terhadap keuangan VOC pada waktu itu. Pimpinan VOC di Batavia kemudian menghitungnya sebagai “tidak sumbut”, tidak sesuai dengan kemungkinan apa yang dapat diperoleh sebagai imbalan dari Blambangan (Op. cit. 1823 : 1067).
7. Perang Puputan Bayu menang berakhir pada tanggal 11 Oktober 1772, namun perlawanan rakyat dalam bentuk pemberontakan-pemberontakan local masih terjadi di berbagai daerah di Blambangan sampai berpuluh tahun kemudian (1810), yang dipimpin oleh sisa-sisa pasukan Bayu yang membandel dan pantang menyerah, yang oleh orang-orang Belanda dikatakan sebagai orang-orang Bayu yang “liar” (Lekkerkerker, 1926 : 401-402)”

4. PENUTUP
Perang Puputan Bayu seperti halnya Perang Kemerdekaan 17 Agustus 1945 telah memberikan pelajaran kepada kita, betapa mahalnya arti sebuah kemerdekaan bagi suatu bangsa, yang sering harus direbut dan dipertahankan dengan apapun yang ada pada kita, harta benda, keluarga, bahkan darah dan jiwa. Bersyukurlah kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berbanggalah kita kepada Indonesia, karena itu, Blambangan telah pernah menunjukkan dalam sejarah bahwa kita bukanlah rakyat yang “gampangan” untuk menyerahkan kemerdekaan dan harga diri kita kepada penjajah. Semoga anak cucu kita akan selalu mengenal, mengenang, dan mengambil suri tauladan dari sejarah Leluhurnya.

 Jayalah Bumi Blambangan!  

—————————————————————————————— 

Banyuwangi, 24 April 1995 

Materi di atas dinukil dari Majalah Gema Blambangan, edisi khusus (076-077), 1997. Koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur