Motif Batik Daun Singkong, Batik Kabupaten Bondowoso

motif-daun-singkong-batik-bondowoso-2Batik ditetapkan oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia pada tanggal 2 Oktober tahun 2009, sejak itulah masyarakat mulai bersemangat mengembangkan usaha pembatikan. Daerah yang dulunya tidak memiliki sejarah batik kini mulai mengembangkan batik khas daerahnya dengan menuangkan potensi alam maupun icon daerahnya sebagai motif batiknya. Motif yang tercipta berupa motif yang mengacu pada beberapa jenis batik modern.

Kabupaten Bondowoso adalah salah satu kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Bondowoso sudah lama memiliki batik khas sendiri sejak tahun 1984. Moif batik khas Kabupaten Bondowoso ini mengangkat tema tumbuhan singkong. Singkong merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Bondowoso, oleh karenanya dengan mengangkat tema tanaman singkong pada motif batiknya diharapkan lebih mengenalkan Kabupaten Bondowoso, khususnya pada hasil kerajinannya berupa batik khas Kabupaten Bondowoso. Seiring dengan perkembangan zaman batik khas Kabupaten Bondowoso tersebut dikenal masyarakat dengan motif batik daun singkongnya, melihat hal tersebut Pemerintah Kabupaten Bondowoso pada tahun 2009 mengukukuhkan motif batik daun singkong sebagai motif batik khas kabupaten Bondowoso, sampai sekarang.

Pengukuhan motif batik daun singkong sebagai motif batik khas kabupaten Bondowoso membuat potensi batik khas Bondowoso semakin meningkat. Hal ini lebih memacu para pengrajin batik yang ada di Kabupaten Bondowoso untuk mengembangkan motif batiknya, sehingga motif batik yang dihasilkan oleh pengrajin batik di Kabupaten Bondowoso, tidak terbatas pada motif batik daun singkong saja. Semua ini dibuktikan dengan munculnya beberapa motif batik hasil perkembangan para pengrajin Kabupaten Bondowoso antara lain motif batik kupu-kupu, capung, ilalang, cabe, stroberi, kacang makadamia, singo ulung, tembakau dan kopi. Minat masyarakat akan batik juga makin bertambah.

Beberapa pengrajin mulai mendirikan usaha pembatikan, hal tersebut terbukti dengan bertambahnya jumlah industri batik di Kabupaten Bondowoso, yang awalnya hanya terdapat sbatik-bondowoso-7atu pengrajin saja, namun kini telah bertambah menjadi lima pengrajin batik. Namun tidak semua pengrajin tersebut terdaftar sebagai mitra UMKM, menurut data yang ada di DISKOPERINDAG kabupaten Bondowoso dari lima hanya tiga pengrajin yang baru terdaftar dalam UMKM DISKOPERINDAG sampai pada tahun 2014. Para pengrajin yang tercatat sebagai mitra tersebut adalah sanggar Batik Tulis Sumbersari, Batik Lumbung, dan sanggar batik tulis Kembatik-bondowoso-8bang Kusuma.

 Batik Lumbung berdiri sejak tahun 2012, merupakan salah satu pengrajin batik yang memproduksi motif batik khas Kabupaten Bondowoso. Banyaknya peminat batik tulis produksi oleh para pengrajin ini berawal dari keikutsertaan mereka dalam UMKM Kabupaten Bondowoso. Sehinggga pemasaran dibantu oleh DISKOPERINDAG. Juga dikarekan harga yang ditawarkan kepada konsumen bervariasi, sehingga konsumen dari semua kalangan bisa menikmati batik khas Kabupaten Bondowoso ini. Minat yang semakin meningkat dari konsumen juga harus diimbangi dengan kegiatan pengrajin yang harus berusaha untuk meningkatkan mutu dan keragaman motif batik dalam memproduksi batik-bondowoso-9batiknya.

Motif khas Kabupaten Bondowoso produksi “Batik Lumbung”, tergolong sederhana dan kurang bervariasi atau monoton. Hal ini dikarenakan khususnya motif batik daun singkong agak sulit untuk dilakukan penggubahan, jika dilakukan penggubahan maka akan merubah bentuk dasar ditakutkan tidak 05btergambar seperti daun singkong. Menurut penuturan ibu Sofiah selaku pengerajin Batik Lumbung, bahwa motif batik daun singkong agak sulit untuk dilakukan penggubahan, jika terlalu digayakan maka tidak tergambar seperti daun singkong yang sesungguhnya. Sehingga dalam pengembangan motif batik daun singkong yang merupakan motif batik khas bondowoso ini, para pengrajin di batik-bondowoso-10“batik lumbung” berupaya mengupayakan pengembangan motif batik daun singkong, agar  gambaran motif batik daun singkong tidak terkesan monoton.

Observasi terhadap hasil pengembangan tiga motif batik khas Bondowoso yang bertujuan untuk mengetahui hasil pengembangan motif batik yang terbaik diperoleh dari penelitian hasil motif-daun-tembakaujadi pengembangan motif batik Bondowoso ditinjau dari unsur dan prinsip desain serta pengembangan motifnya.

  1. Pengembangan Motif Bondowoso di Pengrajin “Batik Lumbung”.
  2. Batik Daun Singkong

Pengembangan pertama yaitu batik daun singkong mengalami perubahan desain namun masih jelas terlihat secara keseluruhan mengarah keatas dari bagian pinggiran motif batik. Susunan ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat lebih renggang dan sedikit berjauhan. Dalam pengembangannya bentuk ujung setiap helaian pada ornamen daun singkong menjadi lebih runcing dan sedikit meliuk. Penambahan batang pada bagian pangkal daun berupa ornamen ukel juga menambah variasi pada motif daun singkong. Bentuk ilalang setelah dikembangkan menjadi ornamen ilalang dengan bentuk yang yang lebih besar dan lebih meliuk-liuk. Terdapat pula ornamen ilalang yang menyerupai ornamen ukel pada bagian ujung daunnya. Ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan ornamen ilalang sebelumnya memungkinkan motif batik secara keseluruhan memiliki pusat perhatian atau center of interest. Ornamen tambahan atau disebut juga ornamen pengisi bidang pada motif  batik sesudah mengalami pengembangan berupa daun dengan stilasi membentuk ornamen ukel dan motif daun dengan bentuk yang lebih sederhana dan dibuat meliuk.

Ornamen tambahan setelah dikembangkan dibuat lebih sederhana dan penempatan ornamen tampak menyatu dengan ornamen utama yaitu daun singkong. Isen-isen pada motif ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat dengan mengkombinasi tiga jenis isen-isen dalam satu ornamen daun singkong diantaranyasawut, ceceg danceceg pitu.

Ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat tiga warna sehingga memberi kesan adanya center of interest dalam setiap ornamen daun singkong. Dan pada ornamen ilalang, walaupun hanya diterapkan satu warna dalam satu ornamen, namun jika dilihat secara menyeluruh pada rumpunan ornamen ilalang terdapat perbedaan warna antara ornamen ilalang satu dengan yang lain. Jika dilihat warna ornamen ilalang setelah dikembangkan terdapat ketidakseimbangan penempatan warna, sehingga rumpun ilalang terlihat kurang harmonis.

Hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan batik daun singkong memperoleh nilai rata-rata 2,89 dengan kategori penilaian cukup baik. hal ini dikarenakan terdapat tiga  aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai cukup baik. 1) batik daun singkong dianggap belum memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai cukup harmonis dan proporsional, 2) batik daun singkong dianggap belum menimbulkan irama atau kesan gerak dalam desainnya, dan 3) dianggap sudah memiliki perpaduan warna yang kontras namun belum dilakukan penempatan warna yang baik sebagai suatu penekanan. Sedangkan jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain hal diatas belum sesuai dengan teori dari Suhersono (2004: 107), untuk membuat desain-desain yang lebih baik maka harus memperhatikan prinsip-prinsip desain dalam menggabungkan unsur-unsur desain.

 Batik Kupu-Kupu

Pengembangan motif batik yang kedua adalah batik kupu-kupu. Pada batik ini susunan antar ornamen masih terlihat sama antara batik sebelum dikembangkan dan sesudah dikembangkan. Terlihat pada bagian penyusunan ornamen daun singkong dan kupu-kupu berjajar keatas dalam setiap jenisnya. Namun terdapat sedikit perbedaan pada gambaran garis yang membatasi tempat ornamen daun singkong dan kupu, garis yang sebelumnya lurus dibuat meliuk-liuk dan semakin keatas semakin mengerucut atau mengecil.

Daun singkong sebagai ornamen utama 1 digambarkan daun singkong yang berbentuk meruncing pada setiap ujung helaiannya, lebih panjang dan terpisah disetiap helainya. Tambahan batang dibuat di pangkal daun sehingga membuat ornamen daun singkong semakin berbeda dengan motif daun singkong sebelum dikembangkan. Penyusunan daun singkong yang di buat seakan berjatuhan membuat motif memiliki irama dalam penglihatan siapapun yang melihatnya. Ornamen kupu-kupu sebagai ornamen utama kedua dalam pengembangannya terlihat pada bentuk sayap kupu-kupu yang beragam antara kupukupu satu dengan yang lain. ornamen kupukupu setelah dikembangkan dibuat lebih beragam bentuk. Ornamen kupu-kupu setelah dikembangkan membentuk kupukupu yang sedang beterbangan kesegala arah dengan sayap yang terlihat penuh ataupun yang terlihat dari samping seekor kupu-kupu.

Ornamen pecah batu merupakan ornamen tambahan, setelah dikembangankan ornamen  pecah batu tidak berbeda jauh dengan ornamen pecah batu sebelum dikembangkan dari segi bentuknya. Perbedaan yang terlihat pada ukuran dan penyusunan dari ornamen itu sendiri. Ukuran motif dibuat bervariasi,  dari batubatu yang besar hingga batu yang kecil dan dari penyusunan terlihat ornamen ini disusun didalam bidang garis lengkung tersendiri Penyusunan juga terlihat dari ukuran yang terbesar hingga yang terkecil menjulang kebagian atas kain, sehingga kesan mata bergerak mengikuti arah motif pecah batu lebih kuat. Isen-isen pada ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat dengan mengkombinasi tiga jenis isen-isen dalam satu ornamen daun singkong diantaranya ron pakis, ceceg dan uceng. Susunan isen-isen pada ornamen ini dibuat agar dapat menunjukkan sebuat pusat perhatian dalam satu ornamen. Isen-isen pada ornamen kupu-kupu dibuat dengan kombinasi dua jenis isen-isen yaitu sawut dan ceceg. Penyusunan isen juga dilakukan sedemikian rupa sehingga ornamen ini terlihat beragam antara ornamen kupu-kupu satu dengan yang lainnya.

Perbandingan luas warna tosca terlihat sama dengan warna krem tua, hal ini dikarenakan warna tersebut diletakkan pada bidang yang berbentuk sama yaitu bidang yang terbagi-bagi oleh garis yang meliukliuk, sehingga batik kupu-kupu kurang menunjukkan pusat perhatiannya. Pada setiap motif, baik daun singkong dan kupukupu diberikan warna satu jenis saja, hal ini dikarenakan warna dasar kain yang sudah dibuat lebih dari dua warna. Walaupun penerapan warna pada daun singkong dan kupu diberikan satu warna dalam satu ornamen, namun dalam penyusunannya dibuat selang-seling antara motif satu dengan yang lain, sehingga jika dilihat dalam keseluruhan motif maka memberikan kesan kurangnya prinsip kesatuan pada batik ini.

Hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan motif batik kupukupu memperoleh nilai rata-rata 2,81 dengan kategori penilaian cukup baik, hal ini dikarenakan terdapat empat aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai cukup baik. 1) batik kupu-kupu  dianggap belum memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai cukup harmonis dan proporsional, 2) batik kupu-kupu dianggap belum menimbulkan irama atau kesan gerak dalam desainnya, 3) batik kupu-kupu dianggap memiliki gabungan motif dan warna yang belum membentuk suatu kesatuan atau unity , dan 4) batik kupu-kupu dianggap sudah memiliki perpaduan warna yang kontras namun belum dilakukan penempatan warna yang baik sebagai suatu penekanan agar timbul sebuah pusat perhatian. Sedangkan jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain hal diatas belum sesuai dengan teori dari Suhersono (2004:107), untuk membuat desain-desain yang lebih baik maka harus memperhatikan prinsipprinsip desain dalam menggabungkan unsurunsur desain.

 Batik Cabe

Pada pengembangan batik yang terakhir yaitu batik cabe mengalami perubahan desain namun masih jelas terlihat secara keseluruhan memiliki susunan motif yang searah. Susunan ornamen daun singkong, cabe dan sulur dibuat lebih rapat, sehingga batik terlihat lebih penuh dengan ornamen.

Ornamen utama 1 berupa daun singkong dalam pengembangannya terlihat pada bentuk yang dibuat memiliki jarak antara ruas satu dengan yang lainnya sehingga pada pangkal ruas jari daun membentuk lengkungan. Ornamen sulur merupakan ornamen utama 2, pada hasil pengembangan ornamen sulur mengalami stilasi bentuk. Bentuk ornamen ini setelah dikembangkan menjadi ornamen sulur dengan bentuk yang bercabang dan bergelombang.

Ornamen cabe dan ornamen daun merupakan ornamen tambahan pada batik cabe. Ornamen cabe dibuat sangat berbeda dengan sebelumnya, berbentuk cabai dengan bentuk yang sebenarnya dan disusun berbentuk lingkaran sehingga nampak seperti baling-baling. Isen-isen pada batik cabe secara keseluruhan memiliki enam jenis isen-isen, yakni: krakalan, ceceg telu, kembang suruh, ceceg pitu, ron pakis dan sawut. Isen pada ornamen utama berupa daun singkong dibuat dua jenis isen-isen dalam satu ornamen berupa ron pakis dan ceceg pitu. Isen ornamen utama yang kedua tidak terdapat pengembangan, hanya dilakukan penggantian jenis isennya saja berupa ceceg telu. Isen pada ornamen tambahan yaitu cabe dan daun di beri isen hanya satu jenis saja pada masing-masing ornamen, hal ini dikarenakan ukuran yang kecil pada masing-masing ornamen.

Penerapan warna yang tepat akan membuat semakin indah sebuah desain. Penerapan warna pada batik cabe terlihat kurang harmonis, hal ini dikarenakan penerapan warna pada ornamen sulur dirasa kurang tepat. Peletakan warna pada ornamen daun singkong, ornamen cabe dan ornamen daun kurang memiliki prinsip kesatuan.

Hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan motif batik cabe ditinjau dari unsur dan prinsip desain, batik cabe memperoleh mean sebesar 3,2  dengan kategori penilaian baik dan merupakan nilai tertinggi dibandingkan dengan batik daun singkong dan batik kupu-kupu, hal ini dikarenakan terdapat empat aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai baik. 1) batik kupu-kupu dianggap telah memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai nampak harmonis dan proporsional,  hal ini sesuai dengan teori Kamil (1986:62) bahwa ukuran erat hubungannya dengan bentuk sehingga dalam pembuatan sebuah desain yang baik harus memperhatikan keseimbangan ukuran dan bentuk yang baik agar desain yang tercipta dapat harmonis dan proporsional. 2) batik cabe dianggap sudah memiliki perpaduan garis yang bergerak dengan teratur. 3) batik cabe memiliki perpaduan warna yang seimbang penempatannya, dan 4) batik cabe dianggap memiliki gabungan ornamen dan warna yang sudah membentuk suatu kesatuan atau unity Jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain hal diatas belum sesuai dengan teori dari Suhersono (2004:107), yaitu untuk membuat desaindesain yang lebih baik maka harus memperhatikan prinsip-prinsip desain dalam menggabungkan unsur-unsur desain.

  1. Pengembangan Motif Bondowoso di Pengrajin “Batik Lumbung” yang Terbaik.

Pada aspek pusat perhatian ketiga batik dinilai cukup baik, dan skor tertinggi pada batik kupu-kupu dengan skor 2,8, hal ini dikarenakan motif  kupu-kupu dianggap memiliki warna yang kontras dan penempatan warna yang lebih banyak pada krem tua, sehingga memiliki penekanan pada penempatan warnanya hal ini didukung oleh teori dari Kamil, (1986:60), untuk menarik perhatian satu bagian diantaranya harus diberi tekanan untuk membentuk sebuah pusat perhatian atau klimaks dari desain tersebut, dan Soekarno dan Lanawati Basuki (2004:31) menambahkan bahwa sebuah pusat perhatian dapat terbentuk dengan cara pemilihan warna yang kontras.

Jika ditinjau dari unsur dan prinsip desain ketiga batik masih belum dianggap memiliki kriteria desain yang baik karena belum mendapat penilaian yang baik dalam keseluruhan aspek. Hal tersebut didukung oleh pernyataan dari bapak Dody Doerjanto (Dosen Seni Rupa Unesa) mengemukakan bahwa hasil jadi yang baik dapat secara maksimal menerapkan unsur dan prinsip desain, karena unsur dan prinsip desain merupakan teori dasar dalam membuat sebuah seni rupa. Namun motif cabe dapat dikatakan hasil pengembangan motif batik yang terbaik dibandingkan motif batif singkong dan kupu-kupu.

——————————————————————————————-e-Journal. Volume 05 Nomor 01 Tahun 2016, Edisi Yudisium Periode Pebruari 2016, Hal 10-18
Gian Bifadlika, Irma Russanti
Pengembangan Motif Batik Bondowoso Di Pengrajin “Batik Lumbung”
Fakultas Teknik, (UNESA) Universitas Negeri Surabaya

Upacara Ruwat, Kabupaten Bondowoso

PERKATAAN ruwat (Jawa) atau arokat (Madura) berasal dari bahasa Sansekerta atau Jawa kuno yaitu rwad yang kemudian berubah bentuk menjadi rod atau root (Inggris) yang berarti akar (urat, oyot, atau ora’ dalam bahasa Madura). Dari kata rwad itulah dalam bahasa Jawa baru menjadi ruwat (luwar). Diruwat berarti dibebaskan dari dosa karena termakan sumpah atau janji. Ngluwari ujar berarti melaksanakan janji, nazar, sumpah, atau melaksanakan wasiat si mayat, sehingga yang ngluwari ujar itu terlepas dari rasa berdosa.

Perkataan root yang berarti akar itu kemudian disingkat dengan huruf kapital R dan menjadi lambang panjang separuh dari garis tengah suatu lingkaran. Dengan demikian muncullah rumus luas lingkaran yaitu 2 PI x R2. Adapun PI adalah panjang busur lingkaran dibagi panjang garis tengah (=3,14159), seberapa pun besarnya lingkaran. Angka itu tetap saja menjadi keliling lingkaran yaitu PI x 2 R (R adalah jari-jari lingkaran).

Budaya ruwat atau arokat adalah upacara selamatan bagi anak-anak yang dilahirkan dalam susunan keluarga yaitu:

  1. Anak tunggal
  2. Dua orang anak (laki-laki dan perempuan)
  3. Tiga orang (perempuan diapit lelaki atau lelaki diapit perempuan)
  4. Lima orang (laki-laki semuanya menyerupai Pandawa)

Di tanah Jawa masih banyak lagi yang harus diruwat, antara lain orang yang periuknya roboh saat menanak nasi, orang yang me- nanam waluh (labu) di muka rumah, anak yang selalu sakit-sakitan, anak yang sangat nakal, dan sebagainya.

Upacara ruwat diadakan supaya si anak terlepas dari bahaya. Menurut kepercayaan Jawa, bahaya itu berupa sergapan Batara Kala yang oleh para dewa sudah ditentukan mangsanya. Upacara itu di Jawa dilakukan dengan pertunjukan wayang purwa, sedangkan upacaranya lazim disebut “Hamurwakala”, artinya mengembalikan anak pada asal mulanya, bukan dibunuh melainkan diserahkan kepa­da Zat yang menciptakan kala (waktu). Bukankah menurut keper­cayaan Jawa, waktu dipandang sebagai kekuatan Maha Agung yang menentukan kemalangan, musibah, dan bahagia bagi manusia?

Sedangkan wayang purwa berarti wayang yang sangat awal. Ini adalah gambaran kepercayaan asli masyarakat Jawa zaman dahulu ketika masih memuja Waktu atau Kala.

Lakon cerita wayang pada upacara ruwat sebenarnya adalah lakon Batara Kala. Siapakah Kala itu? Kala adalah putra Batara Surya (Dewa Matahari). Bukankah matahari itu menjadi titik pangkal perhitungan hari atau waktu (kala)? Itulah sebabnya Dewa Kala (Batara Kala) atau Waktu dinamakan “Putra Batara Surya”. Artinya, “waktu” atau “kala” dihasilkan oleh lamanya planet-planet (bumi dan lain- lain) atau satelit (bulan) menjelajahi angkasa mengitari matahari seba­gai induknya. Itulah sebabnya Batara Kala disebut juga Surya Atmaja (Putra Batara Surya).

Masyarakat Jawa pada zaman dahulu telah mengenal perhitungan “hari yang tujuh”, yaitu nama-nama hari: Dite, Soma, Nggara, Buda,

Respati, Sukra, dan Tumpak (Sabtu). Nama-nama itu diambil dari nama-nama planet yang berjumlah tujuh (pada waktu itu). Sekarang telah ditemukan dua planet lagi men)adi sembilan. Menilik hal itu, dahulu masyarakat Jawa menggunakan tahun syamsiah (lamanya bumi mengitari matahari dalam setahun). Kemudian dengan kedatangan Islam, maka diperkenalkanlah tahun qomariah (lamanya bulan mengi­tari bumi dalam setahun). Gabungan antara tahun Saka (lama) dan tahun Qomariah (Islam) itulah yang membentuk perhitungan bulan Jawa sekarang.

Upacara ruwat (arokat) dimaksudkan untuk menyerahkan kembali nasib anak yang diruwat kepada Zat Asal yang menciptakan kehidupan ini, supaya si anak terlepas dari bencana siksa-Nya. Ini sama dengan tobat nasuha dalam ajaran Islam, suatu tobat yang tak akan mengulangi kesalahan lama dan menutupi kesalahan-kesalahan serta dosa dengan kebaikan. Secara simbolis orang tua perlu bertanya kepada diri sendiri, bagaimana anak itu kedka berada dalam kan- dungan sang ibu dan apa yang dilakukan orang tua selama anak berada dalam kandungan. Ruwat pada hakikatnya adalah belajar introspeksi dan retrospeksi

Upacara ruwat di Bondowoso diwujudkan dalam modifikasi budaya Jawa dengan wayang purwa. Bukan dengan mengadakan pertunjukan wayang sebenarnya melainkan dengan fragmen “adegan wayang orang” (wayang topeng) dengan lakon Batara Kala. Ini dilaku­kan karena ontowacana dengan bahasa Jawa, apalagi Jawa Kawi tak mungkin dapat dilakukan.

Dalam pertunjukan wayang topeng itulah dalang berperan menghidupkan cerita. Dalang mampu mengalihkan jalan cerita ke bahasa Madura. Di sana-sini ada selingan humor supaya pertunjuk­an menjadi menarik. Dialog-dialog yang diucapkan dalang, diperan- kan oleh pelaku wayang, hampir-hampir menyerupai pantomim dengan mengikuti suara dalang.

Sebelum pertunjukan dimulai, dalang membacakan mantra atau doa memohon keselamatan. Mantra dibacakan di atas kepulan asap dupa (kemenyan) di tengah malam. Sedangkan anak yang di-rokat dimandikan dengan air bunga. Maksudnya agar segar, bersih, dan beraroma harum. Ini adalah simbol budaya membersihkan anak dari segala ancaman dan sergapan Batara Kala.

Pertunjukan itu dilakukan sampai larut malam seperti halnya wayang purwa. Tidak lupa sahibul hajat menyediakan “sesaji” makanan kenduri nasi serta lauk pauk berupa panggang ayam putih mulus yang dipersembahkan kepada leluhur yang telah wafat. Lalu dibacakanlah doa, nasi kenduri pun mulai dimakan. Setelah usai, dalang beserta para pelaku wayang menerima imbalan uang jasa dan transportasi (bagi dalang dan niyaga-nya). Ada kalanya mereka diberi seperangkat alat dapur.

Di Pesantren Sukorejo, Asembagus, Situbondo, ada sebuah buku doa Pangrukat yang berasal dari Kiai Abdul Latief, saudara dari Kiai Syamsul Arifin (alm.). Doa itu dibacakan pada upacara selamatan pekarangan, tegalan, tanaman, kendaraan, perahu atau motor.

Di samping itu ada doa rokat dengan menyembelih kambing hitam. Gunanya untuk menolak serangan wabah penyakit. Kambing disembelih di tengah desa atau di tengah pekarangan. Yang menyem­belih harus menghadap ke kiblat, setelah kambing disembelih maka dagingnya dibagikan kepada masyarakat. Kikil (kekot) dan tulang- tulangnya tidak dimakan namun ditanam di tempat penyembelihan kambing tersebut (Kitab ]aami’ud da’awaat).

Dari budaya ruwat ini tersimpan filosofi bahwa:

a. Masalah takdir harus diyakini adanya. Manusia tidak perlu lari pada hal-hal yang musyrik, menyembah waktu seperti pada zaman dahulu: matahari dan bulan disembah. Nabi Ibrahim telah menolak keyakinan bahwa Tuhan itu berupa matahari atau bulan (QS 16: 74-83).

  1. Letak susunan anak dalam keluarga memang secara psikologis ada pengaruhnya. Anak tunggal biasanya dimanjakan. Begitu pula anak bungsu atau anak tunggal yang diapit dua-tiga anak yang berlainan jenis kelaminnya. Anak-anak yang lelaki semua akan sulit dibina. Biasanya mereka saling berebut kekuasaan. Begitu juga jika semua anak adalah perempuan. Pada umumnya anak kedua suka meninggalkan rumah karena tekanan anak sulung. Kalau orang tua tidak adil dan pilih kasih dalam memberikan layanan pendidikan, maka bencana perkelahian, pertentangan, atau tekanan batin akan muncul. Hal itu akan menyulitkan orang tua untuk mengantarkan anak menuju masa kedewasaannya.

Dengan menghargai waktu untuk mengisi kehidupan maka kebahagiaan hidup akan tercapai. Islam sangat menghargai waktu. Disiplin salat mengarah pada disiplin pribadi dan berguna bagi pembentukan watak pribadi kelak. Allah berfirman dalam surat Al-Jumu’ah: Apabila telah usai salat Jumu’ah, bertebaranlah kau di muka bumi mencari rejeki karunia lllahi (QS 62: 10).

 

Beberapa Jenis Megalitik di Jawa Timur

Peninggalan megalitik di daerah Jawa Timur ditemukan di daerah Bondowoso, Bojonegoro, Tuban dan daerah Magetan. Peninggalan di Bondowoso

(1)          Batu kenong yang ditemukan di dukuh Pudedek, Pakuniran, Maesan, Jawa Timur ini merupakan umpak bangunan megalitik. Batu-batu kenong ini terletak di atas bukit yang disebut Bukit Andung oleh penduduk setempat. Situs ini terletak 6 km di sebelah kanan jalan yang menghubungkan Bondowoso dan lembar (21 km dari Bondowoso). Di situs ini terdapat 15 buah batu kenong yang rata-rata berukuran 85 cm dengan garis tengah antara 50-65 cm. Umpak-umpak ini membentuk lingkaran dengan garis tengah 9 m. Umpak-umpak dalam bentuk melingkar ini menunjukkan bahwa bangunan rumah adat (rumah tinggal) ini juga berpenampang melingkar seperti rumah-rumah adat di pulau Nias.

(2)          Dolmen ini merupakan tempat penguburan dan ditemukan di Pujer. Bondowoso. Dolmen ini berkaki empat. Masing-masing tingginya sekitar 110 cm. Batu bagian atas tidak rata dan berbentuk cembung dengan panjang 130 cm dan lebar 95 cm.

(3)          Dolmep ini dtemukan di Lombok Kulon, Keeamatan Wonosari, Bondowoso. Dolmen ini berfungsi sebagai tempat kubur. Letaknya 8 km di sebelah kanan jalan Bondowoso-Situbondo. Dolmen ini ditemukan bersama dengan 45 buah dolmen lain. Tiang panyangganya tiga buah. Kaki dolmen rata-rata berukuran 75 cm dan lebamya 45 cm. Tinggi batu atasnya 130 cm, lebar 110 cm dan panjangnya 180 cm. Dolmen ini berdiri di sawah sehingga dikhawatirkan akan runtuh dalam waktu dekat. Untung ada akar pohon besar yang menopangnya sehingga tidak runtuh.

(4)          Sarkofagus ini merupakan tempat penguburan dan ditemukan di desa Nangkaan, Keeamatan Bondowoso di suatu gundukan tanah yang sekarang menJadi pemakaman umum. Dolmen sudah mengalami kerusakan yang diperkirakan karena pernah digali dan sarkofagus telah dilubangi. Tutup sarkofagus sekarang tidak lagi di tempatnya. Panjangnya 275 em, tingginya 135 em dan lebarnya 115 cm.

(5)          Sarkofagus di desa Glingseran. Keeamatan Wringin. Bondowoso Sarkofagus ini merupakan tempat penguburan dan terdiri dari wadah dan tutup. Wadah kubur tidak tampak karena sebagian besar tertanam  dalam tanah. Tingginya 150 cm. panjangnya 263 cm dan lebamya 13 cm.

(6)          Sarkofagus dari desa Glingseran, Wringin, Bondowoso ini sudah dalam keadaan terpeeah dua. Wadahnya pun tidak kelihatan lagi. Tingginya 175 cm, panjangnya 294 cm dan lebarnya 174 cm.

 

(7)          Dolmen ini ditemukan di desa Pakauman, Grojogan, Bondowoso. Di sawah penduduk. Beberapa batu kecil menyangga sebagai kaki dolmen. Tingginya 80 cm, lebarnya 150 cm dan panjangnya 270 cm.

(8)          Area menhir ini ditemukan di Pakauman, Grojogan, Bondowoso dan merupakan sarana upaeara at au pemujaan. Tinggi area ini 135 em, lebar bahunya 85 cm, lebar pinggulnya 64 cm. Bagian muka seperti mata, hidung, mulut atau telinga tidak tampak. Lehemya pendek, tangannya lurus ke bawah. Genitalia tidak dipahatkan. Berdasarkan penggambaran pinggulnya yang lebar, van Heerkeren berpendapat bahwa area megalitik ini menggambarkan seorang wanita.

(9)          Batu kenong ini ditemukan di Pakuniran, Maesan, Bondowoso dan diperkirakan merupakan umpak bangunan rumah adat atau rumah tinggal pada masa tradisi megalitik. Tingginya 95 cm, garis tengahnya 65 cm. Di sekitar kelompok batu kenong itu banyak terdapat pecahan gerabah dan sedikit keramik asing yang diperkirakan merupakan sisa-sisa aktifitas pakai-buang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: ALBUM TRADISI MEGALITIK DI INDONESIA

Kerajinan Kuningan Bondowoso

KERAJINAN
Kuningan Bondowoso
Bertahan

Inilah kekayaan lain Bondowoso seIain Kawah Ijen yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Kabupaten itu punya produk unggulan berupa industri pengolahan kerajinan kuningan, milik warga Desa Cindogo dan Jurang Sapi, Kecamatan Tapen.

Kerajinan ini sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. “Perajin tidak tahu, sejak kapan kerajinan kuningan ada di sini. Namun, yang pasti sejak zaman Belanda, mayoritas warga di sini sudah menjadikan kuningan sebagai mata pencarian,” ujar Abdul Muhni (44), salah satu perajin.

Sentra kerajinan di dua desa ini terdapat 50 perajin. Di sana terdapat beberapa show room yang memajang aneka kerajinan berbahan kuningan. Kuningan produksi dua desa ini benar-benar merupakan kerajinan tangan. Artinya, semua mengandalkan keterampilan dan ketekunan pembuatnya dan tidak menggunakan tenaga mesin.

Muhni mengaku sudah menekuni usaha ini sejak tahun 1976. Pantaslah ia sudah sangat paham proses pembuatan kerajinan kuningan sejak awal hingga menjadi barang jadi. “Yang pertama adalah membuat cetakan. Misalnya membuat burung, pertama kali yang dilakukan adalah membuat mal atau cetakan berbentuk burung,” katanya.

Menurut Muhni, cetakan  bisa dibuat dari tanah liat atau kayu. Jika sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan, mal tersebut diduplikatkan dengan menggunakan bahan malam sehingga berbentuk tiga dimensi.  Langkah berikut malam

dilapisi tanah liat dan dipastikan tidak bocor. Hanya bag ian atas yang diberi lubang sedikit untuk memasukkan cairan logam.

Kerajinan kuningan Bondowoso selain dijual di pasar domestik, juga pernah dijual ke Malaysia dan Brunei. Namun karena keterbatasan investasi untuk  meningkatkan jumlah produksi, maka saat ini perajin hanya menjual ke pasar dalam negeri.

Dikataknnya, Bondowoso sudah lama dikenal sebagai pusat kerajinan kuningan. Kualitas hasil olahannya ternyata tidak kalah dengan produksi kuningan dari Juwana di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kerajinan kuningan di Bondowoso memiliki ciri khas tersendiri. Ini karena bahan bakunya hanya ada di Desa Cindogo dan Jurangsapi, Wonosari. Perajin kuningan hanya dapat ditemukan di dua desa tersebut karena struktur tanahnya cocok untuk bahan pembuat kuningan.

Keistimewaan produk kuningan Bondowoso ini adalah kadar mengkilatnya yang lebih awet, tanpa pengolahan tam bahan, warna kuningnya dapat bertahan lebih lama dan bermacam-macam barang dapat dibuat dari kuningan ini, seperti peral~tan rumah tangga, souvenir, interior rumah, tempat bunga, guci, tempat menyirih, relief lukisan ataupun berbagai macam miniatur binatang.

Koestari, pemilik UD. Setia mengatakan, peran pemerintah dalam memberdayakan home industri di daerahnya sa at ini sudah tidak seperti dulu. Dulu mereka sering dilibatkan mengikuti pameran ke kota-kota besar bahkan ke luar Negeri. Sekarang sudah tidak ada lagi yang peduli pad a usaha mereka.

Karena itu la mengharapkan adanya terobosan market yang digagas oleh pemerintah, agar home industri di daerahnya bisa lebih maju. “Jangankan memelopori buka jaringan networking yang lebih baik, menjaga ketersediaan dan kestabilan bahan baku saja tidak ada yang membantu memikirkannya,” keluhnya.

Dia menambahkan, naik turunnya nilai tukar dollar terhadap rupiah juga berdampak pada kenaikan bahan baku kuningan untuk memproduksi kerajinan, yang sebelumnya hanya Rp17 ribu per kilogram kini mencapai Rp 20 ribu per kilogram .

Kondisi tersebut diperparah lagi dengan sepinya peminat hasil kerajinan kuningan. Selain itu harga hasil kerajinan, juga naik antara 25% hingga 35% dari harga sebelum bahan baku naik.

Sebagai gambaran, tahun 1999 ada 75 perusahaan kuningan di kecamatan ini yang dapat menyerap hingga 300 orang tenaga kerja. Setahun kemudian terjadi penurunan jumlah perusahaan maupun tenaga kerja. Saat ini masih ada 45 industri kerajinan kuningan yang bertahan dengan 194 orang tenaga kerja, dengan nilai produksi mencapai lebih Rp 2 miliar.

Terhadap permsalahan itu, ia mengharapkan pemerintah daerah dapat membuka pasar kembali dengan menawarkan pada setiap investor agar mampu menjual kerajinan kuningannya. Karena kualitas hasil olahan  kuningan Bondowoso tidak kalah dengan produksi kuningan dari Juwana di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. (Rijal)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:POTENSI JAWATIMUR, EDISI 3 TAHUN X/2910. Hlm. 10

Tradisi Megalitik di Jawa Timur

Tradisi megalitik adalah suatu adat kebiasaan yang menghasilkan benda-benda atau bangunan dari batu yang berhubungan dengan upacara atau penguburan. Bangunan-bangunan monumental yang dihasilkan oleh tradisi megalitik ini biasanya berkaitan dengan usaha-usaha para pimpinan atau kepala desa, raja dan ketua adat untuk menjaga harkat dan martabat mereka. Pendukung tradisi megalitik percaya bahwa arwah nenek moyang yang telah meninggal, masih hidup terus di dunia arwah. Mereka juga percaya bahwa kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh arwah nenek moyang. Keamanan, kesehatan, kesuburan, dan lain-lain sangat ditentukan oleh bagaimana perlakuan mereka terhadap arwah nenek moyang mereka yang telah meninggal. Dengan perlakuan yang baik, mereka mengharapkan perlindungan sehingga selalu terhindar dari ancaman bahaya.

Ada yang mengatakan bahwa tradisi megalitik berasal dari daerah Laut Tengah, ada pula yang mengatakan dari daerah Mesir. Tersebarnya tradisi megalitik ke daerah timur dikarenakan adanya kegiatan untuk mencari kerang (mutiara) dan emas. Teori tentang asal tradisi megalitik yang sekarang diakui adalah teori Von Heine Geldern, yang mengatakan bahwa tradisi megalitik berasal dari daerah Tiongkok Selatan dan disebarkan oleh bangsa Austronesia. Migrasi bangsa Austronesia pada masa neolitik (bercocok tanam) dan pada masa perunggu besi menyebabkan tradisi mega litik tersebar ke daerah-daerah yang dilalui oleh migrasi bangsa tersebut. Daerah persebaran tradisi megalitik ini antara lain di Jepang, Formosa, Taiwan, Malaysia, Indonesia, bahkan diperkirakan sampai Pasifik.

Berdasarkan bentuk peninggalannya, tradisi megalitik dapat dibedakan menjadi dua yaitu: megalitik tua (older megalithic) dan megalitik muda (younger megalithic). Megalitik tua biasanya ditandai dengan bentuk menhir, dolmen, teras berundak dan batu datar. Sedangkan megalitik muda ditandai dengan bentuk arda, sarkofagus, keranda batu, kubur peti batu dan lain-lain.

Sedang berdasarkan masanya, tradisi megalitik dibedakan menjadi dua, yaitu tradisi megalitik yang berasal dari masa prasejarah (prehistorical megalithic tradition) yang biasanya merupakan monumen yang tidak dipakai lagi (dead monuments) dan tradisi megalitik yang masih berlanjut (living megalithic tradition). Megalitik dari masa prasejarah, antara lain ditemukan di daerah Bondowoso (Jawa Timur).

Tradisi megalitik yang berkembang begitu lama yaitu dari masa neolitik (6500 tahun yang lalu) sampai sekarang mengalami kemajuan pesat yang didukung oleh perkembangan lokal yang memberikan ciriciri tersendiri. Pemujaan arwah pada tradisi megalitik di Indonesia begitu menonjol sehingga aspek yang bersifat profan tidak begitu tampak. Hal ini dapat diketahui setelah dilakukan studi etnoarkeologi di berbagai wilayah di Indonesia. Hampir semua megalit digunakan dalam kaitannya dengan usaha mendekatkan diri kepada arwah nenek moyang. Baik pada tradisi megalitik prasejarah maupun tradisi megalitik yang masih berlanjut, megalit muncul karena digunakan untuk peribadatan atau penguburan. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa peninggalan megalitik tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sakral. Peninggalan yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari pun dapat disebut sebagai peninggalan megalitik. Misalnya batu-batu tegak yang dipergunakan sebagai batas kampung, susunan batu-batu besar untuk persawahan, lumpang batu yang dipergunakan untuk menumbuk biji-bijian dan lain-lain. Peninggalan tradisi megalitik di Indonesia dapat dijumpai juga daerah  Jawa Timur (Bondowoso, Bojonegoro), dan lain sebagainya.

Peninggalan-peninggalan tersebut mempunyai bentuk yang sangat beraneka ragam. Demikian pula ukurannya, ada yang pendek dan ada pula yang sangat tinggi (mencapai 7-8 m). Beberapa situs megalitik di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan lain-lain menunjukkan ciri-ciri khas.

Bentuk peninggalan tradisi megalitik di Indonesia antara lain terdiri dari:

  • Kubur batu: wadah penguburan mayat yang  dibuat dari batu. Bentuknya antara lain kubur peti batu, dolmen, sarkofagus, kalamba, waruga, dan pandusa.
  • Menhir: biasa disebut batu tegak, batu alam yang telah dibentuk tangan manusia untuk keperluan pemujaan atau untuk tanda penguburan.
  • Dolmen: biasa disebut meja batu, terdiri dari sebuah batu yang ditopang oleh batu-batu kecil lainnya sebagai kaki.
  • Kalamba: kubur batu berbentuk silinder, kebanyakan ditemukan di daerah Sulawesi Tengah.
  • Pandusa: kubur batu yang ditopang batu-batu lain sebagai dinding kubur, banyak ditemukan di Bondowoso.
  • Sarkofagus: kubur batu yang terdiri dari wadah dan tutup yang pada ujungnya biasa terdapat tonjolan. Biasa ditemukan di Bali.
  • Lumpang: batu batu berlubang untuk menumbuk biji-bijian atau segala sesuatu yang perlu ditumbuk.
  • Batu berlubang: batu yang permukaannya berlubanglubang. Biasanya digunakan untuk upacara.
  • Batu bergores: batu yang di permukaannya terdapat goresan-goresan. Biasanya juga digunakan untuk upacara.
  • Teras berundak: susunan batu dari balok-balok atau batu kali yang biasanya sebagai sarana upacara.
  • Waruga: kubur batu yang bentuknya seperti rumah, ditemukan di daerah Minahasa (Sulawesi Utara).
  • Arca megalitik: pahatan berbentuk manusia atau binatang yang berkaitan dengan kepereayaan megalitik.
  • Arca menhir: pahatan berbentuk antropomorpik tanpa kaki yang hanya terdiri dari kepala, leher dan badan.
  • Ksadanhalaman: berbentuk bulat yang dibatasi susunan batu sebagai dinding. Biasa digunakan untuk upacara dan ditemukan di daerah Timor Barat.
  • Bosok: susunan batu yang biasanya digunakan untuk upacara, ditemukan di Timor Barat.
  • Areosali: suatu teras yang biasa dipergunakan untuk memutuskan sesuatu perkara atau untuk mengesahkan perundangan yang berlaku di daerah Nias.
  • Neogadi: pahatan menyerupai meja batu berbentuk bulat yang biasa digunakan untuk menari pada waktu upacara di Nias.
  • Neoadulomano: neogadi berukuran kecil.
  • Sitilubagi: pahatan berupa binatang dengan badan pipih horizontal yang biasa digunakan untuk tempat duduk pada upacara perkawinan di daerah Nias.
  • Lasara: pahatan berupa kepala binatang khayal yang dianggap sebagai binatang pelindung.

Tradisi Megalitik di Jawa Timur

Peninggalan megalitik di daerah Jawa Timur ditemukan di daerah Bondowoso, Bojonegoro, Tuban dan daerah Magetan. Peninggalan di Bondowoso telah diteliti oleh berbagai ahli antara lain oleh Willems, Van Heerkeren, Steinmetz dan lain-lain.

Peninggalan tersebut terdiri dari berbagai macam megalit antara lain arca menhir, kubur pandusa, kubur sarkofagus, lumpang batu, batu kenong dan menhir. Peninggalan tersebut tersebar di beberapa kecamatan antara lain di Wringin, Maesan, Grojogan, dan Klabang. Sarkofagus di Bondowoso mempunyai bentuk yang besar-besar bahkan ada yang meneapai panjang 195 cm dan garis tengah tutup 145 cm. Kubur-kubur ini kebanyakan telah rusak dan telah digali oleh penggali liar. Sarkofagus ini biasanya polos tidak berhias.

Temuan yang langka dan mungkin hanya satu-satunya di Indonesia adalah “batu kenong”. gatu kenong ditemukan di Pakuniran kecamatan Maesan. Batu-batu kenong ada yang di susun dengan penampang persegi panjang dan ada pula yang di susun dengan penampang membulat. Dari nasil penelitian etnoarkeologi di berbagai daerah dapat diketahui bahwa batu-batu kenong kemungkinan dipergunakan sebagai umpak dari bangunan-bangunan untuk hunian.

Dolmen di daerah Bondowoso diperkirakan sebagai sarana penguburan, namun dari penggalian yang dilakukan belum diperoleh bukti-bukti yang nyata tentang fungsi dolmen di daerah ini. Demikian pula dari penggalian sarkofagus atau pandusa belum diperoleh sisa- sisa kerangka manusia yang lengkap.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: ALBUM TRADISI MEGALITIK DI INDONESIA

Boneka Kattok Khas Bondowoso

Tatap Jengah Boneka Kattok

Masih Ingat Serial Unyil? Ini Lebih Unik,
Ludruk Boneka Kattok Khas Bondowoso.

Sekitar pertengahan abad 20, Kabupaten Bondowoso Jawa Timur memiliki kesenian rakyat yang sangat unik, tak kalah dibanding serial Unyil yang pernah booming di tahun 30-an. Hanya, kesenian rakyat yang kemudian dikenal dengan Ludruk Boneka Kattok ini tidak pernah tayang di televisi nasional, tapi justru menjadi konsumsi orang luar negeri. Kantor Berita CNN pernah membuat liputan tentang ludruk boneka ini. Dinas Kebudayaan Jepang dan Komunitas Pecinta Seni Rakyat asal Belanda, pernah membuat film yang tokoh-tokohnya diperankan oleh boneka yang terbuat dari kayu itu.

Sayang, sebagaimana nasib seni tradisi atau seni rakyat di negeri ini, ludruk boneka tak terdukung untuk pengembangannya. Untung ada pecinta dan pelaku seni yang tetap kukuh mempertahankan eksistensi boneka kattok. Sebut misalnya, Ramidin sebagai ketua rombongan, dan Karyadi SM, Seksi Promosi Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya (Parsenibud) Bondowoso, yang sekaligus bertindak sebagai dalang dalam banyak pertunjukan.

TOK, TOK, KATTOK
Ramidin, 70, adalah generasi kedua setelah Ardji. Kata Ramidin, Ardji inilah yang dulu melahirkan kesenian ludruk, khususnya di Desa Ponco Gati, Kecamatan Curahdami, Bondowoso, sekitar tahun 1920-an. Kesenian ludruk ini dulu sangat digandrungi masyarakat setempat. Tema-tema yang diangkat sangat kental dengan keseharian masyarakat. Tapi, kesenian ini dituduh sepihak oleh Jepang dan dianggap menggerogoti eksistensi kekuasaan Jepang. Ludruk ini pun dibekukan.

Ardji tidak mau kehilangan kesenian itu. Tokoh-tokoh ludruk itu pun dibuat boneka, dan disimpan. Hingga ketika Jepang hengkang dari bumi nusantara, seni ludruk itu kembali dipertunjukkan. “Tokoh boneka dari kayu itu mula-mula hanya sebagai selingan untuk mengisi waktu dalam pertunjukan ludruk. Peran yang dimainkan tokoh boneka masih terbatas, seperti sebagai pemain silat,” kata Ramidin.

Saat boneka itu dimainkan dalam pertarungan silat, misalnya, menimbulkan bunyi tok-tok, sehingga kemudian dikenal orang setempat sebagai boneka kattok. Karakter yang kuat muncul pada diri tokoh-tokoh adalah karakter Madura. Tentu ini tidak lepas dari kebanyakan orang Bondowoso yang keturunan Madura.

Seiring perkembangan, tokoh-tokoh boneka menggeser peran-peran pemain ludruk sesungguhnya yang lambat laun makin berkurang. Hingga akhirnya peran-peran tokoh semua diwakili boneka. “Dulu, bentuk boneka masih kecil. Tidak seperti sekarang yang ukurannya lebih besar,” kata bapak empat anak ini.

Ramidin yang berguru dan ikut ludruk pimpinan Ardji sejak kanak-kanak turut menjadi saksi naik-turunnya kejayaan ludruk boneka. Ia sangat setia mendampingi Ardji dalam tiap pertunjukan. Hingga kemudian ia dipercaya untuk meneruskan perjuangan melestarikan ludruk boneka, setelah Ardji meninggal di tahun 1976. Setelah Ramidin memimpin rombongan, pusat Ludruk Boneka Kattok berpindah ke desanya di Desa Kuto Kulon, Kecamatan Budas, Bondowoso.

Sosok Ramidin tergolong paling menonjol diantara mereka yang berguru kepada Ardji, karena dia memiliki kemampuan seni yang hebat. Ia tidak hanya pandai memainkan boneka kattok, tapi sekaligus pandai membuat boneka yang dibentuk dari kayu randu itu. Katanya, satu tokoh boneka dapat dibuat oleh Ramidin dalam 4 hari. “Tapi ya tergantung kehendak hati juga. Kadang karakter tokoh yang sulit pun bisa diselesaikan dalam waktu cepat,” tambahnya. Kini, jumlah boneka yang dimiliki puluhan jumlahnya.

Selain pandai membuat boneka, ia juga pandai melukis yang kemudian lukisan itu digunakan sebagai setting atau lokasi tempat pendukung sebuah tema cerita. Ada lukisan pemandangan sebuah desa, hutan, jalan, bangunan gedung dan sebagainya. Lukisan itu dikaitkan sedemikian rupa dalam gulungan, sehingga memudahkan untuk menampilkannya dalam setiap scene pertunjukan.

UNIK DAN DINAMIS
Upaya Ramidin mempertahankan kesenian tradisi ini tidak mudah. Seperti diakui, ia lebih mudah memainkan boneka dalarn pertunjukan biasa, bukan dalarn balutan tema tertentu. Kalau ada permintaan untuk memainkan dengan tema khusus, maka Karyadi ketiban sampur untuk menjadi dalangnya.

Dengan demikian, kemunculan Karyadi ikut menyelamatkan seni tradisi ini dari kepunahan. Kebetulan pula Karyadi seorang seksi promosi di Kantor Parsenibud Bondowoso, yang keterampilan seninya juga luar biasa. Ia dikenal sebagai dalang wayang kulit, pemain drama, dan ia juga seorang pembawa acara.

Perjumpaan Ramidin dan Karyadi terjadi pada tahun 50-an. Karena kecintaan Karyadi terhadap seni tradisi, menyebabkan jiwanya terpanggil untuk menggandeng kelompok kesenian rakyat pimpinan Ramidin itu dan mempromosikannya hingga ke luar Bondowoso. Daerah yang sudah disinggahinya antara lain Jember, Banyuwangi, Situbondo, Surabaya. Bahkan pernah tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Setiap pertunjukan yang melibatkan dua insan seni ini, menjadikan ludruk boneka ini diserbu pengunjung. Di masa jayanya dulu, konser dangdutpun kalah ramai. “Pernah pagar pembatas terop sampai ambruk karena saking banyaknya penonton,” candanya.

Tema cerita yang diangkat, menurutnya, biasanya menyangkut cerita keseharian masyarakat. Bebas tidak terikat pakem tertentu. “Tergantung permintaan pengundang,” cetusnya. Tema yang sering diangkat seperti Sakerah, sang pendekar dari negeri Madura. Atau cerita rakyat Timun Mas. Tema-tema semacam itu kerap ditampilkan dalam resepsi pernikahan, atau sunatan.

Dalam dongeng Timun Mas, boneka yang tampil 4 tokoh, antara lain si Timun Mas sendiri, ibu, dukun, dan raksasa. Cerita Sakerah dimainkan lebih banyak lagi sekitar 7 tokoh. “Jumlah boneka yang tampil sesuai dengan cerita. Kadang butuh tiga tokoh atau lebih,” kisahnya. Untuk tema tertentu, maka sang dalang paling berperan. Atur dan lawakan sudah ditata sedemikian rupa olehnya.

Ludruk boneka sering pula diundang pemerintah untuk program penyuluhan. Temanya seputar pembangunan desa, pengairan, dan pentingnya belajar. Dalam kesempatan ini, boneka yang dimainkan adalah anak-anak dengan si Udin sebagai tokoh sentralnya. “Kalau Unyil terkenal dengan unik dan ilmiah, tapi Udin terkenal dengan unik dan dinamis,” kata dalang Karyadi, “temanya tentu seputar pentingnya sekolah, dan lain-lain.”

Jumlah boneka yang tampil sesuai dengan cerita. Kadang butuh tiga atau tujuh tokoh, sesuai tema yang dimainkan.

Sebagaimana ludruk, pada setiap pertunjukan ada yang berperan sebagai penari remong (remo) dan pelawak. Dalam cerita anak, si Udin biasanya yang bertindak sebagai pemain lucu. Musik pengiringnya, rebana dan seruling. Selain itu, kata Karyadi, alat musik tradisi yang meningkahi pertunjukan, antara lain tam-tam atau chalte dalam musik dangdut yang berfungsi sebagai gending. Ada terompet, irama kendang dari bumbung bambu yang salah satunya dikaret, dan gitar chuck untuk menghadirkan melodi.

Setiap tokoh yang tampil digerakkan oleh pemain pendukung dalang, yang semua itu dimainkan oleh keluarga Ramidin. “Tak ada orang lain selain isteri, anak, atau kemenakan (Ramidin, red) yang rata-rata buruh tani. Orang dari luar cuma saya,” tukas Karyadi.

MODERNISASI

Kini, cerita Ludruk Boneka Kattok makin berkembang. Selain cerita seperti Timun Mas atau Sakerah, misalnya, cerita kekinian pun suka-suka diangkat sebagai tema. Bahkan, boneka kattok memainkan satu grup band, dan sebagainya. Sejak Karyadi terlibat sebagai dalang, selain tema yang dikembangkan, kostum juga mengalami pembaruan.

Secara khusus Karyadi mendanai untuk pembuatan kostum. “Kebetulan isteri saya sendiri yang menjahitkan,” ungkapnya. Kostum itu tetap kental dengan karakter Madura. Termasuk riasan boneka, yang terus dimodifikasi. Sehingga, satu kesempatan mungkin sebuah boneka memerankan tokoh tertentu, pada kesempatan lain memerankan tokoh lainnya, dengan kostum yang berbeda.

Upaya demikian tidak lepas dari keinginan Karyadi untuk melakukan modemisasi. Sehingga suatu saat, katanya, tidak menutup kemungkinan menghadirkan tokoh-tokoh itu sebagai sebuah grup band. Ada vokalis wanitanya, ada gitaris, peniup seruling dan penabuh drum. Setidaknya ini sudah dicoba dan melengkapi boneka itu dengan peralatan musik layaknya pemain band sungguhan.

Bahkan, cetusnya, kelompok ludruk boneka perlu menghadirkan penyanyi sungguhan dengan iringan musik pengiring dari CD pemutar lagu. “Ini dilakukan semata-mata untuk memenuhi selera penonton yang suka musik-musik modern, seperti rock, pop, bahkan dangdut.

Lebih dari itu, agar lebih mudah memainkan peran-peran tokoh dalam cerita, Karyadi berkeinginan mengubah sedikit pada rancang-bangun boneka kattok. Tujuannya, agar boneka kattok lebih mudah digerakkan, misalnya, dengan mengubah struktur fokus penggerak tidak dari dalam boneka, tapi mungkin dari luar juga. Apakah ini bisa dilakukan? Tak mudah menjawab, saran tak mudahnya dengan mempertahankan kesenian tradisional yang kian terpojok. _ husnul m /foto : m ismuntoro

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mossaik, maret 2006, hlm. 32.
 

Megalitikum, Bondowoso

Bumi Megalitikum Bondowoso

Bondowoso pemah disebut-sebut sebagai kabupaten minus di Jawa Timur. Tapi tidak juga bila ditelusuri dari situs-situs peninggalan jaman batu di kota yang terletak sekitar 192 kilometer arah tenggara Surabaya ini. Boleh dikata, Bondowoso menjadi tanah saksi sejarah peradaban megalitik satu-satunya di Jawa Timur yang terkaya dan masih bisa disaksikan hingga kini.

Sebagai catatan, ahli sejarah dan arkeologi yang pemah meneliti wilayah ini, menemukan benda-benda bersejarah itu itersebar di lima desa dan kecarnatan. Antara lain di desa-desa di Kecamatan Tlogosari, Desa Pakauman (Kecamatan Grujugan); Desa Mas Kuning Lor (Kecamatan Pujer), Desa Pakisan (Kecamatan Wonosari), dan Desa Glingseran (Kecarnatan Wringin).

Dari penelitian terbatas para arkeolog pada beberapa tahun lalu ditemukan 15 buah sarkopagus di Kecamatan Grujugan. Selain itu, pitemukan pula dolmen (15), batu kenong (65), dan sebuah patung inenek moyang. Di l1ogosari ditemukan lima buah yoni, relief (l), sarkopagus (10), dolmen (4), batu kenong (15), dan sebuah alat rumah tangga. Di Pujer juga ditemukan dolmen (80), batu kenong (12), dan lima buah alat rurnah tangga. Sementara di Wonosari ranya ditemukan 30 buah dolmen, dan di Wringin terdapat 67 buah sarkopagus, menhir (I), batu kenong (15 buah), alat rurnah tangga (10), dan dua gua alam.

Namun sebenamya, seperti dijelaskan Slamet Riyadi, peneliti jdan ahli sejarah yang menemani liputan Mossaik, bila mau menelusuri lebih saksama, kita akan dengan mudahmenemukan batu-batu peninggalanjaman prasejarah itu di banyak titik, tersebar merata di desa-desa di hampir 20 kecamatan di Bondowoso. Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang telah ditemukan para arkeolog sebelumnya.

BELUM TERDATA

Hingga kini, diakui, belum ada penelitian menyeluruh terhadap situs-situs batu di wilayah ini. Sehingga, jumlah temuan yang pernah terpublikasi bukan menjadi catatan akhir jurnlah situs yang ada. Bahkan Slamet berani memperkirakan, wilayahBondowosomenyimpan situs-situs batu terkaya dan terlengkap disbanding yang pemah dijumpai di daerah-daerah lain di Indonesia, seperti di Nias, Toraja, Flores, Sumba dan beberapa tempat lain di Jawa.

Dikatakan terkaya sebab jumlahnya sangat banyak, dan dikatakan terlengkap karena jenis batu-batu peninggalannya beragam. Bila Anda berkesempatan menelusuri jejak situs-situs megalitik di wilayah ini, maka hampir tiap jengkal dapat dijumpai dengan mudah. Kadang batu-batu peninggalan jaman megalitik ini berserakan tidak jauh dari jalan kota, sawah-sawah, sungai, dan di tepi-tepi jalan kecil. Sebagian besar lainnya banyak berada di tengah tanah tegalan petani, di tengah perkampungan penduduk.

Di Desa Pakauman Kecamatan Grujugan, sekitar 5 kilometer di sebelah selatan kota Bondowoso, misalnya, terdapat satu patung nenek moyang yang unik. Orang Bondowoso yang mayoritas berbahasa Madura menyebutnya betoh nyae (batu nyai, red). Betoh nyae memiliki tinggi 153 sentimeter dan tebal 52 sentimeter. Lingkar dadanya berukuran 60 sentimeter, sedang lingkar kepalanya 46 sentimeter. Patung betoh nyae berada di tengah kebun tembakau milik petani. Patung Nyai ini konon dipercaya sebagai Dewi Kesuburan.

Untuk menjangkau dan menyaksikan benda bersejarah ini, kita harus berjalan kaki sekitar tiga ratus meter ke tengah kebun dengan hati-hati agar tidak merusak tanarnan tembakau. Menyitir HR Van Hakkeren, peneliti asal Belanda, Slamet mengatakan, patung ini masuk klasifikasi sebagai patung tipe steattopigic atau patung Menhir. Patung jenis ini juga disebutnya sebagai patung nenek moyang tipe Polinesia. D sekitar betoh nyae, terdapat puluhan Batu Kenong, Sarkofagus, dan Dolmen. Batu ini berbentuk seperti gendang, yang pada satu sisinya memiliki tonjolan mirip kenong (peralatan gamelan Jawa).

Situs batu itu bahkan ada yang di dalam pabrik yang masih aktif berproduksi. Singgasana (pelinggihan, Madura) atau lazim disebut Tahta Batu, tennasuk salah satu yang ditemukan, tersimpan utuh dalam sebuah pabrik yang letaknya membelakangi betoh nyae. Batu itu terdiri dari alas dan sandaran yang datar. Menurut para ahli, Kursi Batu ini dibuat untuk tokoh-tokoh penting, mungkin kepala suku atau rohaniawan. Bisa juga berfungsi sebagai tempat upacara dalam hubungannya dengan pemujaan arwah nenek moyang.

Diakui, hal-hal mistis masih mewarnai keberadaan batu-batu ini. Di kawasan Prajugan Atas, seperti Citarum dan sekitarnya, katanya, kadang mereka terpaksa memindah rumahnya kalau ada kejadian-kejadian aneh pada kehidupannya. Mereka percaya, kejadian aneh-aneh itu muncul karena pengaruh batu-batu itu di sekitarnya.

Di Desa Tegal Ampel Kecamatan Sekar Putih juga terdapat situs ceceran. Situs batu ini tampak teronggok di sisi jalan, jauh dari kumpulan batu lainnya. Sementara di Kecamatan Maesan terdapat situs Ko’ ong, sebangsa sarkopagus dan fragmen batu yang melambangkan sebuah kehidupan, di lereng pegunungan.

Di Desa Banyuputih Kecamatan Wringin terdapat menhir berukuran raksasa. Bahkan menhir berukuran lebih besar juga banyak terdapat di Desa Tarum, Cangkring (Kecamatan Prajekan), Desa Sukokerto (Kecamatan Pujer), Desa Karang Sengon (Kecamatan Klabang), Desa Pakisan (Kecamatan Tlogosari), dan Desa Petung (Kecarnatan Curahdarni). Di sekitar menhir banyak berserakan situs-situs batu lainnya. Batu-batu itu hampir tak mudah dikenali karena bercampur dengan batu-batu gunung yang banyak ditambang penduduk.

Tak jauh dari situ, banyak juga dolmen di tengah ladang petani. Ukurannya besar-besar menunjukkan status penghuni daerah itu di masa lalu. “Semakin besar dolmen atau sarkopagus, menunjukkan tingginya status mereka. Mungkin karena kekayaan atau keramatnya seseorang,” tukasnya.

Masih banyak lagi ragam dan bentuk situs batu di kawasan Bondowoso. Sayangnya, · bagian besar situs kondisinya memprihatinkan. Di beberapa tempat, banyak batu kenong yang hilang. Ada yang terdampar di kawasan markas TNI. Ada yang rusak atau berubah posisi karena berbagai faktor. Selain pengaruh alam, sebagian besar karena jarahan tangan manusia yang belum mengerti.

“Bila diperhatikan, batu-batu ini seperti tak bernilai. Karena itu, masyarakat tidak mengerti arti penting peninggalan ini sehingga dengan mudahnya membuang atau merusaknya. Apalagi pernah ada yang mencoba menggali sebuah situs dan mereka menemukan emas atau manik-manik di dalarnnya,” terangnya.

PEMUJAAN DAN PEKUBURAN

Berdasarkan hasil studi perbandingan soal struktur bangunan tradisi megalitik di berbagai wilayah di Indonesia oleh para ahli, bentuk-bentuk peninggalan di Bondowoso ini diperkirakan berfungsi sebagai sarana upacara pemujaan untuk memohon sesuatu kepada zat yang lebih tinggi. Selain juga sebagai tempat penguburan atau sebagai umpak (fondasi penyangga) bangunan. Tonjolan-tonjolan di atas batu berfungsi sebagai penahan balok-balok kayu yang berfungsi sebagai gelagar (tiang penyangga utama, Jawa). Maksudnya, agar balok-balok kayu bangunan tidak lepas dari umpak.

Berdasar pemikiran R Van Heine Geldern, seorang peneliti asal Belanda, yang tertulis di bukunya Das Megalitihen Problem (1959), Slarnet menjelaskan bahwa ada dua era tradisi megalitik yang dikenal orang, yaitu tradisi megalitik tua dan tradisi megalitik muda. Tradisi megalitik tua berkembang pada masa neolitik atau masa cocok tanam, sedangkan yang muda berkembang pada masa perundagian (Jaman logam).

Bangunan batu-batu besar (megalith, red) yang dihasilkan pada masa tradisi megalitik tua, jelasnya, banyak berhubungan dengan aktivitas pemujaanroh-rohnenek moyangyang berlangsung di zaman itu. Penginggalannya berupa menhir, dolmen, teras berundak, meja, dan kursi batu. Sedangkan penginggalan tradisi megalitik muda lebih didominasi oleh tempat-tempat penguburan. Megalith yang dihasilkan di era ini biasanya berupa area primitif, sarkofagus, karanda, kubur peti batu, pandhusa, dan dolmen sebagai penguburan.

Dalam perkembangannya, temyata kedua jenis tradisi megalitik tersebut bercampur baur, saling tumpang tindih, hingga membentuk variasi-variasi lokal. Sebab ini pulalah para arkeolog Indonesia menemui kesulitan menerttukan batas tegas antara tradisi megalitik tua dan muda. Sebab, dalam beberapa kasus, monumen peninggalan yang dimaksud dalam megalitik tua masih dipergunakan hingga masuk periode megalitik muda.

Namun, para peneliti sejarah bersepakat bahwa Kabupaten Bondowoso diperkirakan tergolong dalam era tradisi megalitik muda, yang berlangsung sangat lama hingga sekitar abad XIV masehi. Bahkan, kata alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember (FKIP-Unej), diperkirakan Dolmen Bondowoso berlangsung antara awal tarikh masehi sekitar 2500-2000 Sebelum Masehi. Gambaran waktu ini konon terlihat dari Dolmen di Desa Pakauman, Grujugan. Dari asal katanya,

Dol berarti meja, dan Men adaIah batu, warga setempat menyebutnya Betah Meja (batu meja). Dolmen lIU, pada perkembangannya bukan lagi merupakan sarana pemujaan, tapi berfungsi sebagai penguburan (funeral place). Jenazah ditempatkan di bawah, di antara empat sampai lima kaki dolmen. Di dalamnya terdapat berbagai bekaJ. kubur (funeral give).  Yang ditemukan beberapa tahun terakhir, berupa gerabah, benda logam dari perunggu, dan manik-manik dari tanah liat yang dibakar.

Soal bekal kubur, lanjutnya, tradisi megalitik Bondowoso juga terpengaruh dari luar. Terbukti dengan adanya bekaI kubur seperti manik-manik kaca atau perunggu yang dipengaruhi kebudayaan Dongson, budaya eina yang masuk sekitar 500 tahun laIu. Bendabenda itu disertakan daIam kubur, karena dianggap sebagai benda kesayangan mereka yangmeninggaI. Dari sini menunjukkan, bahwa tingkat pemikiran yang mengacu kepada cara-cara perlakuan masyarakat di zaman itu terhadap leluhur sedemikian kentalnya.

Sementara, sarkopagus (kubur batu, red) juga banyak ditemukan di Kota Tape ini. Sarkopagus juga kerap disebut keranda batu, pandhusa yang berfungsi sebagai usungan mayat. Bahan baku pembuatan Sarkofagus, adalah batuan konglomerat yang terdiri wadah dan tutup.

Sarkofagus berupa batu monolit berbentuk memanjangyang dicekungkan bagian tengahnya. Sekilas ia tampak seperti lesung. Di atasnya terdapat tutup batu tersendiri dengan bentuk yang sama, sehingga cekungnya di dalarn. Umumnya di atas tutup tersebut terdapat pula hiasan ukir-ukiran yang menggambarkan nenek moyang. Biasanya hiasan itu menyerupai kadal alau gambar raut muka manusia dengan mala melotot.

Biarlah situs-situs megalitik tetap berada di tempat asalnya. Tapi ada sarana bagi pengunjung alau peneliti unfuk memudahkan pencapaian ke tempat-tempat yang tersebar itu.

 

Menurut hasil penelitian para ahli, bahan baku yang digunakan untuk membuat benda bersejarah ini adalah batu-batu di sekitar lokasi situs. Batu-batu besar itu dipahat seperti pembuatan kubur. kubur batu di Tanah Toraja. Waktu pembuatan Sarkofagus, misalnya, diperkirakan setahun hingga dua tahun per unit, dengan memakan biaya yang tidak kecil.

Bahan baku tampaknya tak jadi persoalan melihat letak geografis Bondowoso, yang dikelilingi oleh gunung-gunung besar, seperti Gunung Argopuro, Krincing, Keong, Saeng, dan Gunung Gugur. Di sisi barat terdapat Gunung Raung, Lampe, Suket, Kalisat Jampit, Malung, dan Lebang alau di kawasan Pegunungan Ijen.

Dolmen, sarkopagus atau menhir, kataSlamet, biasanya terdapat pada tempat yang tinggi, meski banyak juga di tanah datar. Ini tidak lepas dari anggapan nenek moyang bahwa Tuhan atau Shang Yang selalu menempati tempat yang tinggi. “Dan semua situs batu itu pasti menghadap ke Barat. Dan kebanyakan situs batu itu menghadap ke Gunung Arjuno, yang letaknya berada di barat daya Bondowoso,” eetusnya.

MUSEUM TERBUKA

Kekayaan Bondowoso akan peninggalan sejarah tradisi megalitik amat disayangkan Slamet, karena hingga kini belum ada perhatian serius dari berbagai pihak, terutama yang berwenang terhadap kelestarian batu peninggalan prasejarah itu. Kalau kondisi batu menjadi tak terurus, menurutnya, masyarakat tidak bisa disalahkan begitu saja. Sebab, upaya pelestarian belum menjadi agenda penting pemerintah Kabupaten Bondow.oso.

Akibatnya, perawatan benda-benda bersejarah itu pun tak bisa dilakukan secara optimal. Beberapa fragmen batu tampak terlepas dari kesatuannya, berserakan di sekitarnya. Batu-batu penyangga dolmen juga tampak amblas, dan sebagian sarkofagus pecah. Bahkan, pecahannya tereecer di sekitar rumah penduduk. Padahal dari batu-batu purbakala itulah kita bisa mengenang tradisi Megalitik yang pemah ada.

Karena itu, Slamet prihatin mengapa Bondowoso tidak menjadi museum terbuka untuk studi megalitik, yang sekaligus menjadi obyek wisata sejarah altematif di Jawa Timur. “Biarlah situs-situs megalitik tetap berada di tempatnya seperti aslinya. Tapi ada sarana bagi pengunjung dan peneliti untuk memudahkan peneapaian ke tempat-tempat yang tersebar itu,” cetusnya.

Selainitu,ia juga mempertanyakan mengapa masyarakat tempo dulu dengan budaya dan peradaban yang sudah tinggi, namun tidak ada penelitianantropologi di Bondowoso. Penelitian dan pendataan yang pemah ada, menurutnya, belum valid karena belum menyentuh semua titik s.ebaran situs yang ada. “Sehingga jumlahnya belum ditemukan dan letaknya belum secara keseluruhan,” tandasnya.

Soal belum lengkapnya data, juga disayangkan Yoyok Soebakti, Kepala Seksi Sarana-Prasarana, Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya Bondowoso. Katanya, kewenangan pengelolaan situs batu peninggalan megalitik ini berada di Dinas Pendidikan Bondowoso. Karena biaya untuk penelitian sangat besar, sehingga belum mampu dilakukan hingga kini. Semen tara, rene ana menjadikan tempat-tempat dimana situs berada, masih terkendala di pihaknya. “Selama ini kami hanya mengadakan seminar tentang tradisi megalitik di Bondowoso. Itu saja,” tandasnya. Ditambahkan, kalau mau menjadikannya sebagai obyek wisata sejarah, maka perlu dilakukan penataan yang matang. husnul m/foto : m ismuntoro

 

mossaik, januari: 2006, hlm. 46

 

Polo Agung, Bondowoso

Bondowoso memang daerah subur. Lihat saja, dalam perjalanan ke Air terjun Polo Agung itu wisatawan dapat menyimak banyaknya penduduk menjemur daun tembakau di kanan-kiri badan jalan. Berjajar rapi. Terlebih seusai panen dan proses rajang tembakau. Pengeringan alami “daun emas” itu dari kejauhan menyerupai susunan genting rumah.
Betapa damai menikmati pesona Air terjun Polo Agung dan kebun kopi rakyat, sekaligus. Duduk berjam-jam, termangu atau merenung, yang pasti akan terasa getar kebesaran alam dan keagungan Sang Pencipta. Itulah sepenggal keasyikan di kawasan wisata agro. Bisa lebih asyik lagi jika bertemu dengan pihak pemilik atau pengelola kebun. Nyaris dapat dipastikan akan mengalir cerita ihwal kopi, mulai dari menanam, memelihara, hingga panen.

Air terjun Polo Agung agak beda dengan air terjun pada umumnya. Memiliki pesona tersendiri. Kontur (tanah) bukit di atas air terjun menyebabkan jatuhnya air terbelah dua. Jadilah air terjun kembar. Mayoritas wisatawan di air terjun ini kalangan avonturir. Para petualang itu didominasi kawula muda. Badan jalan menuju lokasi masih makadam sekitar 2,5 km, disambung jalan setapak. Hal yang menarik, tiada rasa penat, karena terhipnotis suasana alam yang asri. Angin berhembus semilir, menyisir hamparan persawahan bersistem terasering. Di sekitar air terjun disemarakkan kehadiran sejumlah kera, bergelantungan di dahan pohon. Satu lagi yang tak ada di perkotaan, dan pasti diminati wisatawan mancanegara (wisman) adalah, pemandangan petani membajak. Di beberapa daerah di Jatim, Banyuwangi misalnya, objek wisata tradisional seperti itu sudah laku dijual, bahkan menjadi kunjungan rutin wisman. Bagi yang niat bermalam, ada bumi perkemahan lengkap dengan sarana pendukungnya, meski sederhana. Saat libur sekolah lazim dipadati pelajar dan mahasiswa.  Air Terjun Polo Agung terletak di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin, Kabupaten Bondowoso. Sekitar 30 km atau satu jam perjalanan dari pusat kota arah ke selatan. Jika ditempuh dari timur (Banyuwangi) sebaiknya melewati Desa Cindogo, pusat kerajinan ukir kuningan. Jangan dilewatkan, mampirlah. Simak bagaimana para perajin memproduksi beraneka ragam barang souvenir seperti vas bunga, set teko, aneka binatang dan bentuk lain. Dari arah timur itu dilanjutkan ke arah selatan menuju arah Gunung Ijen

Air terjun Polo Agung berketinggian 25 meter. Tumpahan airnya mampu mengairi persawahan di sekitarnya. Pemkab Bondowoso terus menggalakan objek wisata ini sebagai bagian dari satu paket perjalanan wisata dengan ikon utama Kawah Ijen. Memang, lokasinya berdekatan dengan Kawah Ijen. Diharapkan wisatawan yang naik ke Ijen bisa singgah, membuktikan keindahan air terjun itu. Konon ada pengunjung yang tinggal sampai berhari-hari, menyepi, bermeditasi.

Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Bondowoso, Warsito, mengakui image wisatawan pada umumnya hanya Kawah Ijen. Padahal banyak objek wisata yang layak dinikmati di sekitar Bondowoso. “Kami punya banyak objek wisata menarik. Gunung Raung, air terjun Tancak Kembar, dan banyak perkebunan rakyat. Kopi , tembakau, atau karet ,” tandasnya. Bondowoso memang daerah subur. Lihat saja, dalam perjalanan ke air terjun itu wisatawan dapat menyimak banyaknya penduduk menjemur daun tembakau di kanan kiri badan jalan. Berjajar rapi. Terlebih seusai panen dan proses rajang tembakau. Pengeringan alami “daun emas” itu dari kejauhan memnyerupai susunan genting rumah.

Sebaiknya sebelum naik ke air terjun Polo Agung melapor dahulu ke kantor camat setempat, atau pas terdekat. Siapkan perbekalan secukupnya. Mental dan fisik pun harus dalam kondisi baik. Hal yang lebih penting adalah, jangan sesekali merusak lingkungan atau mengganggu satwa yang dijumpai di sepanjang perjalanan. Tips hiking ini perlu dipedomani, karena kelangsungan dan kelestarian wana-wisata memang perlu dijaga. Filosofinya, hutan bukan warisan nenek moyang, tapi pinjaman anak-cucu kita. • GM, Za

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 36, 09 -22  Juli 2004, Tahun II 

Kerajinan Kuningan Cindogo

Bunga-bunga Indah, Cindogo

Warnanya cerah, mencolok. Didominasi merah dan hijau. Motif lukisan, nyaris semua berbentuk bunga. Itulah ciri khas kerajinan kuningan Cindogo, Tapen, Bondowoso. Warna dasar kuning mengkilat, karena memang bahan bakunya memudahkan orang mengenal dari mana kerajinan itu berasal.

Melewati kawasan Cindogo, tampak deretan etalase yang memajang aneka kerajinan kuningan. Berbagai bentuk. Mulai dari model vas bunga kecil-besar, kinangan/set, sakramen penganten/set, paidon, asbak, gantungan pakaian, tempat bollpoint, sampai miniatur patung kuda dan singa.

Kerajinan tersebut produk home industry masyarakat setempat. Tak jelas, siapa yang memulai usaha ini. Yang jelas, ada secara turun-temurun, seperti yang dikisahkan Hj. Sus, perajin kuningan bermerk “Setia” sejak tahun 1950-an. Perjalanan model produknya pun mengalami  pasang surut. Mulai dari yang popular puluhan tahun lalu, yakni cetakan kue bikang dan kue matahari (kini langka), sampai aneka model terkini.

Proses produksi relatif sederhana, tapi memerlukan kecermatan. Mirip dengan cara membuat kerajinan cor logam/aluminium di Mojokerto dan Jombang. Mula-mula membuat bentuk sesungguhnya yang akan dicetak. Kuda misalnya, dibuat dari tanah/lilin. Kemudian disemen, dibungkus dengan tanah. Setelah itu dibakar hingga memungkinkan lilin leleh, sehingga otomatis meninggalkan bekas guratan di dalam tanah atau semen pembungkus.

Rongga cetakan itulah yang diisi dengan cairan kuningan. Jadilah bentuk yang dikehendaki. Kemudian dihaluskan/digosok. Lazimnya, proses mengukir merupakan bagian tersulit. Diperlukan ketelitian dan ketekunan tinggi. Kadang digam bar dahulu dengan pensil. Pengecatan merupakan bagian terakhir, tapi ada beberapa motif yang tidak membutuhkan pengecatan. Cukup coating agar halus. Seperti patung kuda atau kinangan/set.

PEMASARAN
Kerajinan Cindogo sudah melanglang buwana. Hampir setiap even pameran kerajinan di dalam mapun luar negeri, Cindogo selalu hadir. Pasaryang paling poten sial adalah Surabaya, Jakarta, Denpasar, dan Medan. Untuk pasar luar negeri, kebanyakan menembus Eropa dan Australia. “Biasanya mereka (buyers) dating sendiri atau pesan melalui telepon,” kata Hj. Sus.

Namanya saja home industry, kebanyakan pasar digarap secara tradisional. Mereka menunggu calon pembeli atau pemesan. Mereka kadang tak tahu jika produknya dijuallagi di luar negeri melalui beberapa perantara. Menembus pasar internasional secara langsung memang sulit. Di samping kemampuan dan pengetahuan yang minim, juga peluang seperti tidak ada. Seperti diungkapkan pengrajin kuningan bermerk “Imanda” yang belakangan kesulitan menemukan pasar.”Bantu kami, dong, pasarnya,” kata Ny. Kusaeri.

Ketika disarankan mencari peluang pasar lewat internet, dia jawab dengan gelengan kepala. Begitu juga soal model yang kebanyakan bercorak bunga, dan jenis/bentuknya pun pada tiap-tiap perajin hampir sama. Munculnya inovasi baru dalam produk, seperti bercorak abstrak atau contemporer, tidak ada. Mereka khawatir tidak laku. Satu set kinangan ukuran standard seharga Rp200 ribu. Vas bunga sekitar 30 cm, Rp75 ribu. Namun ada juga juga harganya Rp2 juta. Nominal harga (variatif) itu tergantung berat, ukuran, bentuk ukiran, dan tingkat kesulitan dalam proses produksi. Miniatur kuda atau singa yang tak memerlukan ukiran kembang (polos), lebih murah dibandingkan dengan vas yang sarat ornamen (lukisan) warna-warni, meski bahan bakunya sama beratnya.

Sekilah, harganya relatif mahal. Namun, jangan lupa, bahan baku kuningan (dari sekitar Bondowoso dan Surabaya) juga mahal. Kuningan bekas Rp15 ribu/kg. Wajar jika konsumennya, seperti  diungkapkan Ny. Kusaeri, kalangan menengah atas. “Ada juga pemesan yang memesan dengan desain buatan sendiri,” ungkapnya. Lazimnya, harga sedikit lebih tinggi, karena faktor kesulitan dalam proses produksi pun lebih tinggi. Sekali tempo kalangan pedagang dariJakarta, Surabaya, dan Denpasar memberi order lumayan besar. Order disertai gambar/lukisan. Tak sulit, asal harga sesuai dengan order.

Cindogo terletak 5 km di utara Kota Bondowoso. Badan jalan beraspal, mulus. Dapat dijangkau dengan segala jenis kendaraan dan bus umum dari arah Surabaya maupun Bondowoso. Bila Anda berwisata ke Gunung Ijen, singgahlah sebentar di Cindogo. Anda akan tahu sendiri keunikannya. GM. 

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatimnews, Tabloid Wisata Plus, EDISI 30, 27 Agustus – 10 September 2004, Tahun II 


Tape Bondowoso

Manisnya Tape Bondowoso, Belum Ada yang Menandingi

RASANYA kurang lengkap bila ke Bondowoso pulang tidak membawa oleh-oleh berupa tape singkong sebagai makanan khasnya. Sebab, tape Bondowoso sudah punya cita rasa tersendiri. Ini yang membedakan dengan produksi tape dari daerah lain. Bahkan boleh dibilang manisnya tape singkong Bondowoso sampai saat ini belum ada yang bisa menandingi.

Salah satu pembuat tape adalah Mat Rawi, warga Desa Sumber Tengah, Kecamatan Binakal, Bondowoso. Di desa ini Mat Rawi tidak sendiri sebagai pembuat tape, tetapi masih ada empat orang lagi. Dalam satu hari, Mat Rawi bisa memproduksi tape dengan bahan baku singkong sekitar 4 ton. Jumlah itu meningkat pada hari-hari raya seperti Lebaran, misalnya, yang bisa menghabiskan 6 ton singkong.

Harga singkong sebagai bahan tape sekitar Rp1.300/kg. Mahalnya harga singkong karena hams memenuhi kualitas sebagai bahan tape dengan ciri singkong yang besar dan agak kekuningkuningan. Usia singkong juga memengaruhi rasa tape. Singkong muda jelas beda dengan singkong yang sudah tua. “Karni justru mengambil singkong dari daerah Jember yang mutunya lebih bagus karena dipengaruhi keadaan tanahnya yang berpasir,” jelas Gazali, saudara Mat Rawi yang memulai usaha tape sejak tahun 1980-an.

Menurutnya, proses pembuatan tape bagitu mudah sehingga siapa pun bisa menirunya. Tapi soal rasa nanti dulu. Mula-mula singkong dikupas lalu dicuci bersih kemudian dikukus sampai matang. Dari proses pengukusan kemudian singkong didinginkan dengan cara dibiarkan begitu saja sampai betul-betul dingin. Proses selanjutnya peragian. Nah, di sinilah kualitas tape ditentukan, menjadi tape yang manis dan tahan lama atau sebaliknya. Ragi dibelinya dari toko langganannya yang ada di kota Bondowoso.

Setelah diberi ragi proses selanjutnya tape dimasukkan dalam besek berbagai ukuran dengan berat mulai dari 3 ons sampai yang 1 kilogram. Besek pun harus didatangkan dari Trenggalek sementara alas beseknya tidak boleh dari yang berbahan plastik atau mika, karena akan mengurangi aroma tape. Disarankan, sebaiknya alas besek dari daun pisang karena bisa memberi aroma yang harum. Pekerjaan selanjutnya adalah proses pengepakan kemudian memberi lebel dan masa matang tape.

Tape-tape produksi Mat Rawi dipasarkan ke Probolinggo dan Situbondo. Sekali kirim tape-tape itu diangkut dengan menggunakan pikap yang bisa diisi sekitar 25 keranjang. Satu keranjang besar bisa berisi sekitar 100 besek tape.- abi/ryan/tpy