UPAYA MEMPERTAHANKAN SENI PERTUNJUKAN PRABUBARA DI BANYUWANGI

Seni Pertunjukan Prabubara

Kesenian tradisional Praburara di Banyuwangi sudah hampir punah, namun masih bertahan di Dusun Krajan Desa Cluring Kecamatan Cluring. Ada yang menyebutnya Kesenian Rengganis dan Umarmaya. Penyebutan nama ini didasarkan cerita Menak atau lakon yang sering ditampilkan dengan tokoh Rengganis dan Umarmaya.

Praburara karena pada waktu itu sering menampilkan cerWallakon Dewi Rengganis menjadi ratu. Prabu berarti ‘raja’ dan ‘rara’ artinya perempuan. Jadi “Praburara” adalah raja perempuan, yang menjadi raja adalah Dewi Rengganis. Selain itu, penyebutan istilah yang berbeda pada umumnya dipergunakan masyarakat sekitar wilayah yang berbeda. Seperti wilayah Kecamatan Srono, Genteng, Cluring, Muncar dengan nama Rengganis, Kecamatan Tegal Dlimo, Bangorejo, Pesanggrahan dengan nama Praburara, dan Kecamatan Ragajampi, Singojuruh, Sanggon, Banyuwangi dengan nama Umarmaya.

Selain kesenian Praburara di Desa Cluring terdapat beberapa jenis kesenian antara lain janger, jaranan, gandrung, kuntulan, hadrah, patrol, wayang kuiit dan macapat. Beberapa kesenian tersebut kondisinya baik dan masih aktif karena sering pentas atau mendapat tanggapan terutama janger, jaranan dan hadrah pada acara orang mempunyai hajad yaitu pernikahan dan sunatan.

Struktur dan bentuk pertunjukan ini hampir sama dengan Wayang Wong atau Wayang Orang. Hal ini bisa dilihat dari cirinya, yaitu (1) peran dalang dalam menyampaikan prolog, suluk, pathetan, janturan dan ada- ada, (2) geraknya, antara lain sembahan, sabetan, lumaksana, ombakbanyu, (3) penataan laku, pada adegan jejer, paseban jawi, budhalan, dan perangan, (4) busana yang dipakai, kecuaii pelawak/dagelan/abdi, (5) penggunaan keprak dan kecrek, sebagai tanda dan penuntun dalam bergerak (Soeprihati, 2001).

Sejarah kesenian berbentuk dramatari ini secara pasti sampai saat ini belum ada yang mengetahui. Namun menurut hasil penelitian Soeprihati (2001), munculnya Praburara diperkirakan abad ke 19, yang diilhami pertunjukan topeng barangan (penyamaran keliling) yang masuk Banyuwangi. Adanya kesenian tersebut kemungkinan besar dibawa oleh priyayi Mataram pada waktu terjadi peperangan, yaitu ketika

Banyuwangi minta bantuan Kerajaan Mataram. Pada waktu itu yang dikirim antara lain seorang pangeran yang mempunyai jiwa seni yaitu Jayeng Kusuma, yang kemudian menetap di Banyuwangi namanya diganti dengan sebutan Mas Jayeng.

Melalui imajinasi Mas Jayeng, perilaku perjuangan Mas Sirna (Wong Agung Wilis) melawan Belanda seperti prilaku Wong Agung Jayengrana, tokoh dalam cerita Menak. Berdasarkan hal itu, Mas Jayeng ingin mengabadikan perjuangan Mas Sirna melalui pertunjukan rakyat dengan wadah Rengganis. Dengan latar belakang Mas Jayeng dari Yogyakarta, dan ingat akan bentuk Wayang Wong, maka struktur pertunjukan Rengganis menyerupai pertunjukan Wayang Wong. Melihat kondisi masyarakat pada waktu itu, agama Islam baru berkembang di Banyuwangi mengambil lakon dari Serat Menak, dengan tutur bahasa yang digunakan bahasa Jawa ngoko, krama madya, dan kromo inggil.

Sekitar tahun 1928 para seniman bergabung menjadi satu grup dengan nama ‘Rukun Agawe Santosa’ sehingga bisa menampilkan cerita atau lakon apa saja, seperti lakon UmarAmir, Ande-ande Lumut, Damarwulan, bahkan cerita yang biasa ditampilkan dalam Wayang Orang. Kemudian setelah berkembang atau melembaga, sekitar tahun 1933 oleh para seniman dan pendukungnya nama grup diubah menjadi ‘Langen Sedya Utama’ dengan ketua Bapak Rapiyah.

Namun Kesenian dalam perkembanganya tidak seperti yang diharapkan oleh para pendiri dan pendukungnya karena kondisi politik pada waktu itu. Pada awalnya mendapat tanggapan atau apresiasi masyarakat karena cerita/lakon

dari Serat Menak yang dikenal masyarakat Banyuwangi. Pada masa pendudukan Jepang kegiatan berkesenian di Banyuwangi mulai menurun dan yang sangat dirasakan dampaknya akibat peristiwa tahun 1965 banyak grup kesenian yang gulung tikar.

Kemudian pada tahun 1970-an kegiatan berkesenian mulai berkembang lagi termasuk Grup “Langen Sedya Utama”. Grup kesenian ini mengalami masa kejayaannya sekitar tahun 1970 – 1980 an, hampir tiap malam tampil mendapat tanggapan orang yang mempunyai hajat seperti pernikahan, sunatan, nadardan lainnya. Kesenian Praburara makin dikenal dan disenangi masyarakat, maka munculah beberapa kesenian Praburara di desa lain dengan berbagai macam nama grup atau kelompok. Beberapa grup tersebut antara lain Grup Sefya Pandawa di Desa Bangunreja, Langen Sedya Utama di Desa Plosorejo, dan Langen Budi Utama di Desa Simbar.

Namun, tahun 2000-an kondisi Kesenian Praburara mulai menurun lagi, bahkan sampai saat ini yang masih bertahan tinggal Grup Langen Sedya Utama di Desa Cluring. Itupun kondisinya memprihatinkan dan ada yang menyebutnya ‘mati suit, karena masyarakat yang menanggap sudah berkurang, perlengkapan dan peralatan sudah tidak layak dan tidak memadai, dan kurangnya dana yang dimiliki. Maka pada saat mendapat tanggapan atau tampil pentas terutama perlengkapan dan peralatan harus menyewa.

Upaya Mempertahankan

Memperhatikan perkembangan dan kondisi Kesenian Praburara atau Rengganis tersebut, ada beberapa faktor yang menjadi hambatan. Pada umumnya kesenian tradisional akan mengalami kemunduran atau bahkan mengalami kepunahan karena perkembangan teknologi dan informasi melalui media komunikasi di era globalisasi, masih rendahnya kreativitas pemain, kurangnya upaya kaderisasi atau regenerasi, masih kurangnya pengetahuan dan minat menjadi pemain kesenian tradisional, serta belum maksimalnya fasilitasi pemerintah untuk pengembangan seni tradisional.

Hal tersebut juga berpengaruh terhadap Kesenian Praburara atau Rengganis di Desa Cluring. Menurut hasil penelitian, faktor yang mempengaruhi antara lain; (1) adanya kesenian lain yaitu Janger di Banyuwangi yang tampak berkembang, (2) perkembangan teknologi dan informasi melalui media komunikasi yaitu televisi yang sering menampilkan seni budaya, (3) sebagian masyarakat bila mempunyai hajat cukup dengan video, (4) kurangnya kreativitas pemain, pengetahuan dan minat menjadi pemain generasi muda, (5) dukungan dari pemerintah desa dan dinas terkait terutama fasilitasi masih kurang. Dari beberapa faktor tersebut, yang sebetulnya dirasakan adalah terkait finansial yaitu dana yang tidak dimiliki sehingga peralatan dan perlengkapan yang sudah tidak layak dan tidak memadai belum diperbarui (Wahyudi P.S dan Sukari, 2017).

Untuk mempertahankan keberadaan Seni Petunjukan Prabrura perlu adanya upaya bagaimana kesenian ini masih tetap eksis dan dapat dilestarikan. Hal ini perlu mendapat dukungan dan upaya yang dilakukan dari berbagai pihak terutama pemain, masyarakat, dan pemerintah. Pertama terkait pemain, para tokoh Kesenian Praburara di Grup Langen Sedya Utama telah melakukan kaderisasi atau regenerasi baik pemain maupun pengrawit. Regenerasi pemain dilakukan dengan latihan, diutamakan yang sudah bisa menari karena setiap tampil akan ada tariannya. Upaya regenerasi pemain ini belum berhasil karena kendala dalam antawacana (dialog/percakapan) yang menggunakan bahasa Jawa ngoko, krama madya, dan krama inggil, sedangkan generasi muda sudah terbiasa bahasa Indonesia dan bahasa Using atau Banyuwangen. Untuk pengrawit tidak masalah, karena lebih mudah melatihnya sehingga generasi mudanya siap tampil.

Kedua, pihak pemerintah baik pemerintah desa maupun dinas terkait yaitu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi telah berupaya menampilkan Kesenian Praburara untuk dikenal masyarakat. Hal ini pernah dilakukan pemerintah Desa Cluring pada tahun 2013 dalam acara Bersih Desa ditampilkan semalam suntuk. Kemudian dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi tanggal 1 April 2017 di Taman Blambangan Banyuwangi dalam acara weekend menampilkan Kesenian Praburara dengan lakon Dewi Rengganis Dadi Ratu. Pada waktu tampil atau pentas tersebut ternyata masih mendapat apresiasi atau dukungan masyarakat, terlihat cukup banyak yang menonton tidak hanya generasi tua tetapi generasi muda juga tidak ketinggalan.

Selain dukungan tersebut, Seni Pertunjukan Praburara di Desa Cluring masih bisa bertahan terutama karena semangat para seniman yaitu pemain yang tergabung dalam Grup Langen Sedya Utama, meskipun kondisinya sudah memprihatinkan. Hal ini ditunjukkan para pemain bila mendapat job atau tangggapan dengan cara gethok tular (saling memberi khabar) diminta untuk latihan, yang tidak berhalangan pasti datang. Bahkan meskipun sudah mendapat job atau tanggapan di kesenian lain seperti Janger akan dibatalkan karena akan mengutamakan grupnya yaitu Kesenian Praburara Langen Sedya Utama. Ini sudah menjadi komitmen para pemain, sehingga bila mendapat job di grupnya siap tampil.

Dengan demikian, Kesenian Praburara di Grup Langen Sedya Utama akan tetap bertahan selain kesemangatan tersebut, perlu kreativitas pemain untuk mengembangkan supaya lebih menarik dan pemainnya ada kaderisasi atau regenerasi karena kondisi sekarang masih banyak generasi tua. Pihak pemerintah, terutama instansi terkait memberikan fasilitasi yang memadai sehingga kesenian ini masih bisa bertahan. Terutama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengupayakan memberikan ruang, ikut mempromosikan dan memberikan saran-saran tidak hanya menampilkan juga membantu regenerasi. Selain itu, dinas sebagai pelestari dan pengembangan, pembina dan pengelola seni budaya ikut mendukungnya. Masyarakat pendukungnya memberikan suport setiap pentas sehingga pemain akan tampil maksimal.

Hal lain yang juga sangat penting untuk bisa bertahan Kesenian Praburara adalah perlu ada seorang patron (pemilik modal, pemuka masyarakat) yang mampu berperan sebagai pelindung atau pengayom terkait dana. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak tersebut, Kesenian Praburara atau Rengganis Grup Langen Sedya Utama masih bisa dipertahankan atau dilestarikan.

Sumber : Majalah Seni Budaya Jawa Timur. Cak Durasim, Edisi 4 Desember 2017 [51-53]

Omprok Gandrung, Kabupaten Banyuwangi

OMPROK GANDRUNG b

OMPROK adalah hiasan kepala penari tradisional didaerah Blambangan Banyuwangi.

Tari Gandrung adalah sejenis tari pertunjukan di daerah Blambangan Banyuwangi sebagai tari hiburan.

Hiasan kepala penari tari Gandrung disebut OMPROK GSNDRUNG.

Terbuat dari kulit kambing, ditatah(diukir seperti membuat wayang kulit), dan diwarnai. Kain digunakan sebagai warna dasar.

Tari ini berasal dari Desa Oleh Sari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Album Seni Budaya Jawa Timur, Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Media Kebudayaan 1982/1983, hlm.