Upacara Temanten Kucing Ds. Pelem Kec. Campurdarat Kab. Tulungagung  

 

200712021418513Desa Pelem adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Campurdarat, yaitu wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Adapun letak geografis desa Pelem adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara              : Desa Wates

Sebelah Selatan           : Desa Perhutanan

Sebelah Timur             : Desa Pojok

Sebelah Barat              : Desa Campurdarat

Luas areanya 525 hektar yang terbagi dalam lima dusun yaitu Dusun Sumberjo, Dusun Pelem, Dusun Tambak, Dusun Jambudan Dusun Bangak. Jumlah penduduk Desa Pelem seluruhnya 8.212 orang, dengan rincian laki-laki 4.114 orang dan perempuan 4.098 orang.

 Sejarah Upacara Temanten Kucing

Asal muasal ritual manten kucing itu mempunyai sejarah panjang, yang hingga sekarang masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Dahulu, di desa pelem hidup seorang demang yang dikenal dengan sebutan Eyang Sangkrah. Ia adalah sosok linuwih dalam ilmu kejawen. Eyang Sangkrah memiliki seekor kucing condromowo (bulunya tiga warna) jantan dengan sepasang mata istimewa. Upacara ritual “Temanten Kucing” dirintis ratusan tahun silam. Awalnya, daerah Pelem dilanda kemarau panjang yang membuat warga kebingungan mendapatkan air. Sebagai seorang pemimpin desa, Eyang Sangkrah merasa bertanggungjawab atas nasib penduduknya. Berbagai ritual untuk memohon hujan dilakukan, tapi air tidak kunjung turun.

Eyang Sangkrah merasa kehabisan cara. Eyang Sangkrah, tokoh yang membabat Desa Pelem, suatu ketika mandi di telaga Coban. Dia mengajak serta seekor kucing condro mowo piaraannya. Sepulang Eyang Sangkrah memandikan kucing di telaga, tak lama berselang, di kawasan Desa Pelem turun hujan deras. Karuan saja, warga yang sudah lama menunggu-nunggu turunnya hujan tak bisa menyembunyikan rasa memandikan kucing condro mowo”. Ketika Desa Pelem dijabat Demang Sutomejo pada 1926, desa ini kembali dilanda kemarau panjang. Saat itulah, Eyang Sutomejo mendapat wangsit untuk memandikan kucing di telaga. Maka, dicarilah dua ekor kucing condro mowo. Lalu, dua ekor kucing itu dimandikan di telaga Coban. Dan, beberapa hari kemudian hujan mulai turun.

 

Pelaksanaan Upacara Temanten Kucing

Dalam upacara ini, sepasang kucing jantan dan kucing betina dipertemukan menjadi pasangan pengantin. Prosesi “Temanten Kucing” diawali dengan mengirab sepasang kucing jantan dan betina ,kucing warna putih yang dimasukkan dalam keranji.

Dua ekor kucing itu dibawa sepasang „pengantin‟ laki-laki dan wanita. Di belakangnya, berderet tokoh-tokoh desa yang mengenakan pakaian adat Jawa. Sebelum dipertemukan, pasangan “Temanten Kucing” dimandikan di telaga Coban. Secara bergantian, kucing jantan dan kucing betina dikeluarkan dari dalam keranji.

Lalu, satu per satu dimandikan dengan menggunakan air telaga yang sudah ditaburi kembang. Usai dimandikan, kedua kucing diarak menuju lokasi pelaminan. Di tempat yang sudah disiapkan aneka sesajian itu, pasangan kucing jantan dan betina itu „dinikahkan‟. Sepasang laki-laki dan perempuan yang membawa kucing, duduk bersanding di kursi pelaminan. Sementara dua temanten kucing berada di pangkuan kedua laki-laki dan wanita yang mengenakan pakian pengantin itu. Upacara pernikahan ditandai dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan sesepuh desa setempat.

Tak lebih dari 15 menit, upacara pernikahan pengantin kucing usai. Lalu, prosesi “Temanten Kucing” dilanjutkan dengan pagelaran seni tradisional Tiban dan pagelaran langen tayub.

 Maksud dan Tujuan Upacara Temanten Kucing

Berkaitan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat Desa Pelem Kecamatan Campursarat Kabupaten Tulungagung, Upacara Temanten Kucing yang selama ini dilakukan mempunyai tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu Upacara Temanten Kucing yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Pelem digunakan sebagai sarana bagi masyarakat yang berharap agar Tuhan menurunkan hujan.

 Nilai – Nilai Yang Terkandung di Dalam Upacara Temanten Kucing

Nilai-nilai yang perlu dikembangkan dalam upacara Temanten Kucing adalah :

1) Nilai Religius. Nilai religius itu tampak dengan jelas, karena pada dasarnya Upacara Temanten Kucing bertujuan untuk mengharapkan agar Tuhan menurunkan hujan. Sedangkan Upacara Temanten Kucing sebagai medianya.

2) Nilai Gotong Royong. Dalam sistem nilai budaya orang Indonesia gotong-royong merupakan suatu hal yang tidak asing lagi, terutama pada masyarakat pedesaan. Praktek gotong-royong mewarnai hampir semua kegiatan dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana kodratnya bahwa t. Dalam kaitnnya dengan Upacara Temanten Kucing praktek gotong-royong tampak mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan upacara. Upacara Temanten Kucing yang bersifat fisik hampir semuanya dilakukan dengan cara gotong-royong.

3) Nilai Persatuan. Dalam Upacara Temanten Kucing rasa persatuan tampak sekali diperlihatkan oleh warga masyarakat Desa Pelem. Rasa persatuan ini tampak terjalin dengan baik antara sesama warga masyarakat. Tanpa adanya persatuan diantara warga masyarakat tidak mungkin Upacara Temanten Kucing dapat berjalan dengan baik. Bukti lain adanya nilai persatuan adalah pada waktu upacara selamatan. Dimana warga masyarakat berkumpul disuatu tempat untuk mengucapkan rasa syukur dan makan brekat/ambeng secara bersama-sama. Hal yang demikian menunjukkan keterikatan rasa solidaritas dan persatuan antara sesame warga masyarakat.

4) Nilai Seni dan Keindahan. Hal ini tampak jelas pada saat warga masyarakat mengarak Temanten Kucing. Warga masyarakat memakai pakaian adat Jawa. Yang laki-laki menggunakan beskap dan yang perempuan menggunakan kebaya. Di samping itu nilai seni dan keindahan itu juga tampak pada berbagai macam kesenian yang disajikan seperti kesenian Langen Tayub dan Tiban.

——————————————————————————————-Rita Hajati,  Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Upacara Temanten Kucing Di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung.  Universitas Nusantara PGRI Kediri. 2016.

 

Adat Perkawinan Masyarakat Samin di Ds. Tapelan Kec. Ngraho Kab. Bojonegoro

generasi-keempat-kaum-saminDidalam melaksanakan perkawinan, anak-anak Samin harus mengikuti adat istiadat yang ditetapkan oleh tradisi mereka. Masyarakat Samin menganggap sah menurut adatnya apabila seorang pemuda telah menyukai seorang gadis maka pemuda tersebut beserta orang tuanya maupun para perangkat desa “jawab” artinya melamar pada orang tua gadis. Setelah peristiwa lamaran diterima, perjaka tersebut “Ngawulo” yaitu dengan cara magang atau nyuwito artinya mencari pengalaman atau nyonto di rumah orang tua gadis dan menjadi “Tahanang” artinya perjaka tersebut harus tinggal di rumah gadis dengan maksud agar tidak diganggu gadis lain.

Selama ngawulo pemuda tersebut bekerja membantu orang tua gadis sanbil menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara perkawinan : dari latar belakang inilah, maka peneliti tertarik untuk meneliti sejauh mana pelaksanaan perkawinan adat masyarakat Samin dengan mengambil judul “Adat Perkawinan Masyarakat Samin di Desa Tapelan Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro”.

Masyarakat Samin termasuk golongan masyarakat yang menyerderhanakan semua proses kehidupan sosialnya, termasuk dalam hal perkawinannya. Dalam masyarakat Samin masih berlaku sistim perjodohan, dari perjodohan ini kebanyakan dari meraka menerima perjodohan yang diberikan oleh orang tuanya. Didalam melaksanakan perkawinan anak-anak Samin harus mengikuti adat istiadat yang ditetapkan oleh tradisi mereka yaitu dengan cara magang atau nyuwirto artinya mencari pengalaman atau nyonto (mencontoh). Proses magang ini sama artinya dengan orientasi atau pengenalan sifat masing-masing calon mempelai apabila sudah ada kecocokan hati pada kedua calon mempelai maka dilanjutkan dengan melamar orang tua gadis

Masyarakat Samin masih memakai adat perkawinan yang biasa mereka lakukan, mekipun sekarang nampak perubahan dalam melaksanakan perkawinan guna mengikuti anjuran pemerintah. Pada waktu dulu sebelum melakukan perkawinan, seorang pemuda yang menyukai seorang gadis, dia dan orang tuanya beserta perangkat desa harus “jawab” yang artinya melamar pada orang tua gadis. Setelah pihak perempuan setuju dengan lamaran pihak lelaki, perjaka tersebut harus “ngawulo” atau “nyuwito” dengan mencari pengalaman/ nyonto dirumah orang tua gadis. Selama ngawulo tersebut, perjaka membantu orang tua gadis sambil menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara perkawinan.

Dulu sistem ngawulo ini masih sering berlaku apalagi jika calonnya masih kecil (dalam arti belum dewasa/ aqil balik), si perjaka harus ngawulo bertahun-tahun sampai calonnya tumbuh menjadi dewasa, tetapi cara ngawulo tersebut tidak dipakailagi walaupun nampak hanya dilakukan dalam waktu yang singkat karena pada umumnya sekarang baru diperbolehkannya kawin jika sudah dewasa/ aqil balik.

Pelaksanaan perkawinan yang terjadi pada masyarakat Samin masih tergolong sederhana, hal itu terlihat pada peristiwa lamaran. Saat melakukan lamaran laki-laki tersebut meminta ijin dan restu dari bapak dan ibu gadis yang dimaksud, setelah mendapat ijin dan gadis itu menyatakan setuju untuk dinikahi maka selanjutnya adalah memberitahukan hal itu pada orang tua untuk berkumpul menyaksikan calon pengantin laki-laki berjanji saling mencintai dan saling setia. Janji yang diucapkan “derek kulo ingkang dateng ngiki supoyo sampeyan seksekno ucap kulo, turun kulo wedok, kulo nglegakake janji jeneng lanang, kulo seksekno kandani, yen janji podo duweni janji, karo nyekseni bojonipun dinikahi, tomponen le?” dan pengantin laki-laki jawab “nggih pak”. Setelah acara tersebut selesai, selanjutnya mendatangkan naib dan moden untuk menyaksikan acara yang kedua kali dalam perkawinan mereka dan mencatat secara hukum. Dalam melangsungkan perkawinan dihadapan naib, wali menyerahkan sepenuhnya kepada naib untuk menikahkan anaknya dengan laki-laki tersebut. Setelah itu naib memberikan penjelasan sekali lagi bahwa yang akan dinikahi sudah saling mencintai dan tidak ada paksaan untuk dinikahi dan kejelasan mengenai nama ataupun orang tuanya. Setelah semua dirasa jelas dan saksi- saksi sudah lengkap maka selanjutnya naib membacakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang suami yang dipenuhi dalam rumah tangga nanti. Setelah pengantin laki-laki menjawab bersedia, selanjutnya naib membimbing calon pengantin laki- laki mengucapkan kalimat syahadat dihadapan para saksi dan setelah itu dinyatakan sah menurut naib maupun para seksi maka selanjutnya diadakan penandatanganan bukti surat nikah oleh kedua mempelai. Setelah itu diadakan doa bersama yang dipimpin oleh naib agar pernikahan yang dilangsungkan menjadi langgeng dan bahagia dengan harapan menjadi keluarga yang sakinah.

Setelah proses-proses perkawinan dihadapan naib selesai kemudian diadakan “Brokohan”. Brokohan ini mengandung arti suatu perayaan selamatan atau syukuran yang ditunjukkan kedua mempelai dalam membina rumah tangga langgeng atau rukun. Perayaan ini dilakukan secara sederhana (tergantung kedua binansial rumah tangga). Adapun perlengkapan brokohan itu yang utama adalah tumpeng yang ditempatkan di tampah yang terdiri dari nasi berada di tenggah dan dikelilingi lauk pauk yang berupa urap- urapan, daun mengkudu yang artinya supaya keluarga yang dibina oleh pengantin menjadi sehat lahir dari penyakit. Kemudian telur yang berasal dari ternaknya sendiri yang bertujuan kedua mempelai dikaruniai anak, ikan laut (gerih) yang bertujuan bercukupan sandang pangan. Dan juga dilengkapi lauk-pauk lainnya sebagai bahan perlengkap saja. Selain itu juga ada nasi kabuli yang ditempatkan dipiring yang lauknya terdiri dari serondeng, peyek kedelai, dan ayam goreng. Hal ini bertujuan agar cita-cita dari keluarga yang akan dibina akan dikabulkan. Selain itu juga ada buah yaitu pisang raja yang dimaksudkan pengantin menjadi raja sehari dan minumnya air putih. Dalam brokohan itu mereka hanya mengundang sanak famili dan tetangga sekitar saja. Dalam perkawinan kedua mempelai hanya memakai pakaian seadanya dan tidak dilengkapi dengan pakaian adat atau perlengkapan sebagaimana layaknya seorang pengantin. Dan dalam acara tersebut mereka tidak menerima sumbangan berupa uang, tetapi mereka bisa menerima sumbangan berupa bahan makanan (bahan- bahan dapur).

Apabila ada lingkungan Samin tedapat beberapa orang yang dalam melaksanakan perkawinan tidak sesuai dengan adat yang semestinya, maka mereka akan menjadi bahan pembicaraan dan dikucilkan dari kalangan mereka. Hal itu dilakukan karena mereka melakukan hal yang bertentangan dengan wong Sikejo atau tiyang Sikep ( sebutan orang Samin) yang artinya orang Samin atau masyarakat Samin yang mempunyai sikap atau sikap hidup tersendiri yang dapat dijadikan sebagai cara atau adat istiadat. Jadi pengertian wong sikap yaitu orang atau masyarakat yang mempunyai cara adat atau istiadat tersendiri yang harus dipatuhi. Walaupun dalam masyarakat Samin masih kental dengan adat perkawinannya namun masyarakat Samin dapat dengan mudah untuk menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada terutama dalam hak perkawinan dan sangat patuh terhadap peraturan pemerintah. Hal itu terbukti dengan perkawinan KUA yang mana masyarakat Samin sudah mulai memahami arti pentingnya pencatatan maupun peraturan pemerintah tersebut. Walaupun pengetahuan mereka masih sangat minim sekali tentang UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan mereka berupaya untuk mengikuti segala peraturan.

Dari uraian di atas jelas dikatakan bahwa pelaksanaan adat perkawinan masyarakat Samin masih dipertahankan hanya saja sekarang pelaksanaanya sudah melakukan anjuran dari pemerintah yaitu dengan melakukan perkawinan mereka di KUA.

 

——————————————————————————————-Sarjono, Panitia Penggali dan Penyusunan Sejarah Bojonegoro.1998.

Lurik Tuban

96Sesungguhnya Tuban pada masa lampau, antara abad ke-XII-XVI pernah i berjaya, diperintah para adipati yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Mojopahit (Abad ke-XIII-XV). Sejarah  Tuban mencatat bahwa sejak permulaan abad ke-XII Tuban sudah merupakan kota pelabuhan yang ramai disinggahi oleh berbagai kapal asing, antara lain oleh kapal – kapal dari Persia, India dan Cina, untuk mengadakan perdagangan tukar menukar.

Permulaan abad ke-XV seorang jendral dari negeri Cina bernama Cheng Ho yang beragama Islam mendarat di Tuban, diutus dengan tujuan untuk menguasai per­dagangan di kota-kota pesisir Jawa, seperti Semarang, Jepara, Rembang, Lasem dan Tuban. Nama panggilan setempat untuk Cheng Ho adalah Dampo Awang yang kuburannya masih dapat dilihat di daerah ini.

Sejak abad ke-XV kerajaan Islam Demak (± tahun 1400-1568) memegang peranan di sepanjang pesisir, karena itu kedatangan seorang jendral Islam nampaknya ditolerir, terbukti dengan banyaknya rumah khas arsitektur Cina di sepanjang pantai utara pulau Jawa.

Para pendatang ini membawa serta bermacam-macam barang kerajinan mereka masing-masing: kain Gujarat (patola) dan kain Coromandel (chintz) dari India, barang-barang keramik dan sutera dari Cina. Barang-barang tersebut dipertukarkan terutama dengan rempah-rempah, seperti:

pala, cengkeh, kayu cendana dari Indone­sia Bagian Timur (Ambon, Banda, Timor, dan lain-lain) serta lada, kapur barus, ka­yu manis dan hasil bumi lainnya antara la­in dari Sumatra dan Kalimantan.

Pada tahun ± 1513 orang Portugis dan kemudian pada ± tahun 1599 orang Belanda datang pula untuk berdagang rempah- rempah dan hasil bumi. Maka semakin ra- mai dan sibuk jualah pelabuhan Tuban, yang sekaligus menjadikan daerah ini makmur dan dikenal.

9495-97a-97bSementara itu kerajaan Hindu Mojopahit mulai abad ke-XV mengalami kemunduran, sedangkan kerajaan Islam Mataram yang didirikan Penembahan Senopati pa­da tahun 1586, mencapai kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Agung (tahun 1613-1645). Setelah menaklukan Mojopahit dan menguasai daerah-daerah perdagangan di pesisir utara pulau Jawa, termasuk Tuban, akhirnya diperintah oleh bupati kerajaan Mataram.

Belanda dengan VOC-nya setelah Tu­ban dikuasai oleh bupati kerajaan Islam Mataram, mengalihkan usaha perdagangannya ke Batavia (Jakarta sekarang).

Selanjutnya VOC berhubungan langsung dengan daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Bagian Ti­mur. Dengan berkurangnya kedatangan baik berbagai kapal asing maupun kapal- kapal daerah yang membawa berbagai rempah- rempah dan hasil bumi untuk dipertukarkan atau diperjual belikan, menja­dikan pelabuhan Tuban sepi dan tak berarti lagi. Dampak dari keadaan ini Tuban tidak lagi mengecap kemakmuran seperti sediakala dan akhirnya dilupakan orang.

Beberapa pendapat mengatakan, di Indo­nesia penanaman kapas/katun serta pekerjaan menenun sudah dikenal sejak awal abad Masehi dan kain lurik sudah dikenal masyarakat Jawa sebelum abad ke-XIV.

Dalam salah satu prasasti disebutkan telah ada benang (tukel) yang dicelup warna biru tarum (indigo) dan merah mengkudu (morinda citri) yang diperdagangkan.

Daratan Tuban yang merupakan daerah kurang subur ternyata cocok untuk ditanami kapas, yang oleh masyarakatnya diolah menjadi kain dengan selera dan gaya setempat, serta mempunyai keunikan tersendiri. Karena kekhasan kain Tuban inilah, daerah Tuban buat sementara orang masih dikenal.

Pembuatan sehelai kain di daerah Tuban sampai saat ini masih dikerjakan secara swa-sembada, dimulai dengan bertanam kapas oleh kaum pria. Pekerjaan selanjutnya, yaitu memetik bunga kapas, memintal, menenun, membuat pewarna, mencelup benang atau kain dan pemasarannya dilakukan oleh para wanita. Warna asli serat kapas di daerah ini di samping yang berwarna putih ada pula yang berwar­na krem kecoklatan, yang setelah di tenun mempuyai keunikan tersendiri.

Membuat pewarna dan mencelup indi­go dianggap pekerjaan sakral, karena itu orang tertentu saja yang boleh mengerjakannya, yaitu orang yang berwibawa dan yang sudah mantap serta sudah berumur. Pada umumnya orang yang terpilih adalah para istri pemuka agama (istilah setempat modin). Pencelupan dikerjakan oleh kaum wanita, bahkan dianggap tabu bagi kaum pria, karena akan mendatangkan berbagai jenis bala bagi mereka. Umumnya tanaman tarum/indigo ditanam mereka di pekarangan rumah masing-masing, kadangkala terlihat pula tanaman kapas.

Jenis-jenis kain yang dibuat adalah kain batik dan kain lurik. Pada umumnya berba­gai jenis kain ini untuk pemakaian setem­pat, meskipun akhir-akhir ini telah mendapat pasaran di luar daerah Tuban. Ada yang dibuat untuk taplak meja, plate mats, tas, bahkan berbagai busana seperti rompi, kemeja, jas dan berbagai jenis cindera mata lainnya.

Sebagaimana telah diungkapkan terdahulu dalam tulisan ini, di masa lampau di berbagai daerah sepanjang pesisir Jawa, mulai dari daerah Pekalongan sampai dae­rah Gresik, di samping membuat lurik anyaman polos, di beberapa daerah dibuat pula lurik dengan pakan tambahan. Saat ini yang masih membuat lurik anyaman po­los maupun lurik pakan tambahan dapat dikatakan hanya di daerah Tuban. Di dae­rah pesisir lainnya bertenun lurik sudah dapat dikatakan punah, dikarenakan pada umumnya daerah-daerah tersebut menga- lihkan kegiatannya ke berbagai bidang lain, yang dewasa lebih menguntungkan.

Di daerah Tuban pekerjaan lurik pakan tambahan sudah mulai langka, karena dalih-dalih yang pada umumnya juga terdapat pada daerah-daerah lainnya, yaitu tidak adanya minat dari generasi penerus untuk yang mereka anggap sudah kuno serta harga jual yang tidak seimbang de­ngan pekerjaannya. Banyak pula dari ge­nerasi muda ini sekarang meneruskan sekolahnya ke sekolah lanjutan dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Di samping itu tradisi dan selera pemakainya telah bergeser; konsumsi yang tadinya bersifat setempat, semakin bertambah terbatas disebabkan harga yang buat rakyat setempat dinilai cukup tinggi, maka kain ini sekarang tidak merupakan pakaian sehari-hari lagi, terdesak oleh kain buatan pabrik yang lebih murah dan bervariasi.

Sampai di mana pembuatan lurik Tu­ban dan batik Tuban akan bertahan, mengingat berbagai kendala yang telah disebut di atas hanya sejarahlah yang akan membuktikan. Dalam hal ini terutama pelestarian seni budaya kain Tuban tradisional yang akan turut menentukan.

Bukit-bukit kapur yang banyak terdapat di daerah ini telah berakibat didirikannya oleh pemerintah pabrik semen, yang memang dibutuhkan untuk pembangunan negara. Tentunya sudah dapat diperkirakan proyek ini akan banyak menyerap tenaga muda setempat. Dengan terciptanya kesempatan yang baru ini, yang menurut mereka lebih menarik, sudah dapat diduga bahwa hal akan mempunyai dampak terhadap kerajinan rakyat tradisional pada umumnya, dan khususnya kain lurik dan batik Tuban. Oleh karena itu sebagai warisan budaya bangsa, pelestariannya harus dilaksanakan.

 
—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 94-99

Lurik Tuban

96Sesungguhnya Tuban pada masa lampau, antara abad ke-XII-XVI pernah i berjaya, diperintah para adipati yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Mojopahit (Abad ke-XIII-XV). Sejarah  Tuban mencatat bahwa sejak permulaan abad ke-XII Tuban sudah merupakan kota pelabuhan yang ramai disinggahi oleh berbagai kapal asing, antara lain oleh kapal – kapal dari Persia, India dan Cina, untuk mengadakan perdagangan tukar menukar.

Permulaan abad ke-XV seorang jendral dari negeri Cina bernama Cheng Ho yang beragama Islam mendarat di Tuban, diutus dengan tujuan untuk menguasai per­dagangan di kota-kota pesisir Jawa, seperti Semarang, Jepara, Rembang, Lasem dan Tuban. Nama panggilan setempat untuk Cheng Ho adalah Dampo Awang yang kuburannya masih dapat dilihat di daerah ini.

Sejak abad ke-XV kerajaan Islam Demak (± tahun 1400-1568) memegang peranan di sepanjang pesisir, karena itu kedatangan seorang jendral Islam nampaknya ditolerir, terbukti dengan banyaknya rumah khas arsitektur Cina di sepanjang pantai utara pulau Jawa.

Para pendatang ini membawa serta bermacam-macam barang kerajinan mereka masing-masing: kain Gujarat (patola) dan kain Coromandel (chintz) dari India, barang-barang keramik dan sutera dari Cina. Barang-barang tersebut dipertukarkan terutama dengan rempah-rempah, seperti:

pala, cengkeh, kayu cendana dari Indone­sia Bagian Timur (Ambon, Banda, Timor, dan lain-lain) serta lada, kapur barus, ka­yu manis dan hasil bumi lainnya antara la­in dari Sumatra dan Kalimantan.

Pada tahun ± 1513 orang Portugis dan kemudian pada ± tahun 1599 orang Belanda datang pula untuk berdagang rempah- rempah dan hasil bumi. Maka semakin ra- mai dan sibuk jualah pelabuhan Tuban, yang sekaligus menjadikan daerah ini makmur dan dikenal.

9495-97a-97bSementara itu kerajaan Hindu Mojopahit mulai abad ke-XV mengalami kemunduran, sedangkan kerajaan Islam Mataram yang didirikan Penembahan Senopati pa­da tahun 1586, mencapai kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Agung (tahun 1613-1645). Setelah menaklukan Mojopahit dan menguasai daerah-daerah perdagangan di pesisir utara pulau Jawa, termasuk Tuban, akhirnya diperintah oleh bupati kerajaan Mataram.

Belanda dengan VOC-nya setelah Tu­ban dikuasai oleh bupati kerajaan Islam Mataram, mengalihkan usaha perdagangannya ke Batavia (Jakarta sekarang).

Selanjutnya VOC berhubungan langsung dengan daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Bagian Ti­mur. Dengan berkurangnya kedatangan baik berbagai kapal asing maupun kapal- kapal daerah yang membawa berbagai rempah- rempah dan hasil bumi untuk dipertukarkan atau diperjual belikan, menja­dikan pelabuhan Tuban sepi dan tak berarti lagi. Dampak dari keadaan ini Tuban tidak lagi mengecap kemakmuran seperti sediakala dan akhirnya dilupakan orang.

Beberapa pendapat mengatakan, di Indo­nesia penanaman kapas/katun serta pekerjaan menenun sudah dikenal sejak awal abad Masehi dan kain lurik sudah dikenal masyarakat Jawa sebelum abad ke-XIV.

Dalam salah satu prasasti disebutkan telah ada benang (tukel) yang dicelup warna biru tarum (indigo) dan merah mengkudu (morinda citri) yang diperdagangkan.

Daratan Tuban yang merupakan daerah kurang subur ternyata cocok untuk ditanami kapas, yang oleh masyarakatnya diolah menjadi kain dengan selera dan gaya setempat, serta mempunyai keunikan tersendiri. Karena kekhasan kain Tuban inilah, daerah Tuban buat sementara orang masih dikenal.

Pembuatan sehelai kain di daerah Tuban sampai saat ini masih dikerjakan secara swa-sembada, dimulai dengan bertanam kapas oleh kaum pria. Pekerjaan selanjutnya, yaitu memetik bunga kapas, memintal, menenun, membuat pewarna, mencelup benang atau kain dan pemasarannya dilakukan oleh para wanita. Warna asli serat kapas di daerah ini di samping yang berwarna putih ada pula yang berwar­na krem kecoklatan, yang setelah di tenun mempuyai keunikan tersendiri.

Membuat pewarna dan mencelup indi­go dianggap pekerjaan sakral, karena itu orang tertentu saja yang boleh mengerjakannya, yaitu orang yang berwibawa dan yang sudah mantap serta sudah berumur. Pada umumnya orang yang terpilih adalah para istri pemuka agama (istilah setempat modin). Pencelupan dikerjakan oleh kaum wanita, bahkan dianggap tabu bagi kaum pria, karena akan mendatangkan berbagai jenis bala bagi mereka. Umumnya tanaman tarum/indigo ditanam mereka di pekarangan rumah masing-masing, kadangkala terlihat pula tanaman kapas.

Jenis-jenis kain yang dibuat adalah kain batik dan kain lurik. Pada umumnya berba­gai jenis kain ini untuk pemakaian setem­pat, meskipun akhir-akhir ini telah mendapat pasaran di luar daerah Tuban. Ada yang dibuat untuk taplak meja, plate mats, tas, bahkan berbagai busana seperti rompi, kemeja, jas dan berbagai jenis cindera mata lainnya.

Sebagaimana telah diungkapkan terdahulu dalam tulisan ini, di masa lampau di berbagai daerah sepanjang pesisir Jawa, mulai dari daerah Pekalongan sampai dae­rah Gresik, di samping membuat lurik anyaman polos, di beberapa daerah dibuat pula lurik dengan pakan tambahan. Saat ini yang masih membuat lurik anyaman po­los maupun lurik pakan tambahan dapat dikatakan hanya di daerah Tuban. Di dae­rah pesisir lainnya bertenun lurik sudah dapat dikatakan punah, dikarenakan pada umumnya daerah-daerah tersebut menga- lihkan kegiatannya ke berbagai bidang lain, yang dewasa lebih menguntungkan.

Di daerah Tuban pekerjaan lurik pakan tambahan sudah mulai langka, karena dalih-dalih yang pada umumnya juga terdapat pada daerah-daerah lainnya, yaitu tidak adanya minat dari generasi penerus untuk yang mereka anggap sudah kuno serta harga jual yang tidak seimbang de­ngan pekerjaannya. Banyak pula dari ge­nerasi muda ini sekarang meneruskan sekolahnya ke sekolah lanjutan dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Di samping itu tradisi dan selera pemakainya telah bergeser; konsumsi yang tadinya bersifat setempat, semakin bertambah terbatas disebabkan harga yang buat rakyat setempat dinilai cukup tinggi, maka kain ini sekarang tidak merupakan pakaian sehari-hari lagi, terdesak oleh kain buatan pabrik yang lebih murah dan bervariasi.

Sampai di mana pembuatan lurik Tu­ban dan batik Tuban akan bertahan, mengingat berbagai kendala yang telah disebut di atas hanya sejarahlah yang akan membuktikan. Dalam hal ini terutama pelestarian seni budaya kain Tuban tradisional yang akan turut menentukan.

Bukit-bukit kapur yang banyak terdapat di daerah ini telah berakibat didirikannya oleh pemerintah pabrik semen, yang memang dibutuhkan untuk pembangunan negara. Tentunya sudah dapat diperkirakan proyek ini akan banyak menyerap tenaga muda setempat. Dengan terciptanya kesempatan yang baru ini, yang menurut mereka lebih menarik, sudah dapat diduga bahwa hal akan mempunyai dampak terhadap kerajinan rakyat tradisional pada umumnya, dan khususnya kain lurik dan batik Tuban. Oleh karena itu sebagai warisan budaya bangsa, pelestariannya harus dilaksanakan.

 
—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 94-99

Tenun Ikat "Ud. Al-Arif" Desa Wedani Gresik

Gresik dikenal sebagai kota santri karena selain sebagai pusat penghasil songkok juga merupakan penghasil sarung tenun yang menjadi simbol identitas kaum santri. Kabupaten Gresik memiliki cukup banyak pondok pesantren yang kemudian menjadikan bisnis tersendiri bagi masyarakatnya, utamanya bisnis dalam bentuk kerajinan sarung. Di Kabupaten Gresik, sentra penghasil sarung tenun tradisional banyak tersebar di Kecamatan Cerme dan Benjeng. Salah satu usaha sarung tenun yang ada di Kecamatan Cerme adalah UD. Al-Arif milik Tasripin. UD. Al-Arif berdiri tahun 1989, terletak di desa Wedani RT 03/ RW 01 Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik. UD. Al-Arif merupakan usaha kerajinan tenun terbesar di desa Wedani dan sampai sekarang masih tetap bertahan dengan mempekerjakan 162 orang. Produk yang dihasilkan berupa sarung dan proses penenunannya masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Motif yang diterapkan meliputi 3 motif utama, 10 motif tambahan, tumpal, motif timbul, dan motif pinggiran. Warna sarung yang diproduksi bervariasi yaitu hijau tua, hijau muda, hijau pandan, cokelat, kuning, orange, merah muda, dan ungu. Pembuatan sarung dilakukan dengan teknik tenun ikat pakan, ditunjukkan dengan dilakukannya proses pengolahan benang pakan yang dimotif terlebih dahulu sebelum ditenun sedangkan benang lungsi tidak dimotif.

  1. Al-Arif Gresik binaan PT. Telkom juga pernah menjadi pemenang ke 2 Semen Gresik UKM AWARD 2011 dalam kategori penyerapan tenaga kerja. Perkembangan kerajianan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) di UD. Al-Arif ini pesat hingga sekarang dan berpengaruh besar terhadap masyarakat desa itu sendiri dan daerah sekitar Wedani. Hal tersebut membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa khususnya.

 Awal mula berdirinya UD. Al-Arif 

Awalnya Tasripin pemilik UD. Al-Arif berkeinginan untuk memiliki usaha tenun karena melihat belum banyak orang yang memiliki keahlian dan menggeluti usaha tenun. Berbekal tekad yang kuat tersebut, Tasripin belajar menenun dan memahami ciri khas sarung tenun yang ada di Gresik. Awalnya Tasripin membeli satu sarung tenun untuk melihat motif yang ada pada sarung khas Gresik. Setelah itu meminjam alat tenun dan satu benang boom dari temannya karena belum memiliki modal untuk membeli sendiri. Terdorong keinginan memiliki usaha sendiri, pada tahun 1978 Tasripin mulai merintis usaha kerajinan sarung tenun. Tahun 1989 usaha kerajinan tersebut diberinama UD. Al-Arif, terletak di desa Wedani RT 03/ RW 01 Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik.

 Proses Pembuatan Kerajinan Tenun Ikat di UD. Al-Arif 

Keseluruhan proses pembuatan sarung tenun di UD. Al-Arif menggunakan tenaga manusia, mulai dari proses penyiapan benang sampai proses penenunan sarung yang masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

  1. Al-Arif menerapkan teknik tenun ikat pakan untuk membuat sarung. Penerapan teknik ikat pakan terlihat pada proses penyiapan benang lungsi (boom) dan benang pakan (corak). Benang pakan diberi corak terlebih dahulu dengan membentuk motif tertentu kemudian diikat dengan tali rafia dan dicelup pewarna untuk memberi warna pada bagian yang tidak bermotif. Adapun benang lungsi (boom) langsung dicelup ke pewarna, tanpa dicorak terlebih dahulu. Benang pakan (corak) yang siap ditenun dililitkan dipalet kemudian diletakkan di dalam teropong, sedangkan benang lungsi (boom) berada pada boom.

 Motif dan Warna Sarung Tenun di UD. Al-Arif 

  1. Al-Arif memiliki 3 motif utama, 10 motif tambahan, dan 2 motif timbul. Tiga motif utama yaitu motif Gunungan, Kotak, dan Kembang Mustamin, sedangkan motif tambahan berupa Tumpal (kepala sarung), motif Pinggiran, motif Segitiga, motif Wajik, Kembang Mawar, Gunungan berukuran kecil, dan motif kembangan lainnya. Pada awal berdiri UD. Al-Arif hanya membuat sarung dengan warna hijau tua dan cokelat. Sarung dengan warna hijau tua adalah produk unggulan UD. Al-Arif karena tidak semua perajin bisa membuat sarung dengan warna tersebut. Seiring berkembangnya selera masyarakat maka UD. Al-Arif membuat sarung dengan beragam warna yaitu hijau muda, hijau pandan, orange, merah muda, kuning, dan ungu.

 Menyimak ulasan diatas diharapkan semua pihak bekerja sama dan saling membantu dalam hal apapun yaitu:

  1. a) Perajin, Meski hanya dengan tiga motif utama sebagai motif andalan, Tasripin selaku pemilik UD. Al-Arif perlu melakukan pendokumentasian produk sarung hasil produksi sejak awal hingga perkembangannya. Hal itu bertujuan untuk memudahkan jika ada pemesan atau pembeli yang ingin melihat atau memesan sarung yang dahulu pernah dibuat, serta untuk memudahkan pendataan.
  2. b) Pemerintah: Hendaknya selalu memberikan dukungan baik moral maupun material. Pembinaan dan kerjasama dalam hal pemasaran, pengembangan desain, dan lainlain, perlu terus diberikan agar usaha tenun bisa meningkat.
  3. c) Pendidikan: Hendaknya melakukan kegiatan pengabdian berupa pengembangan desain maupun pemasaran.

——————————————————————————————-
Dari:
Jurnal Pendidikan Seni Rupa,Volume 3 Nomor 2 Tahun 2015, 196-202
Fatmawati Trikusuma Wardhani, Fera Ratyaningrum, S.Pd., M.Pd.
Tinjauan Kerajinan Tenun Ikat Di Ud. Al-Arif Desa Wedani Gresik
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya

BATIK LOROG PACITAN

Sejarah Batik Lorog Pacitan

Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah penghasil batik tulis yang terkenal akibat karya dari dua orang wanita bersaudara keturunan Belanda yang bernama E. Coenraad dan M. Coenraad. Dua saudara ini datang dari Surakarta dan menetap di Pacitan. Mereka mendirikan perusahaan batik di Pacitan dengan tenaga kerja banyak dan berpengalaman. Produk dari Coenraad bersaudara umumnya banyak menggunakan warna batik tradisional gaya Jogja dan Solo, yaitu biru nilo dan cokelat soga. Motif yang digunakan juga sebagian besar ialah motif Eropa dan sedikit mencampurkan dengan motif Jawa. Motif yang diproduksi pada umumnya adalah motif bunga.

Sejauh ini bukti peninggalan nyata dari batik Coenraad bersaudara di Pacitan belum ditemukan sama sekali, misalnya seperti tepatnya dimana dibangunnya perusahaan batik Coenraad pada saat itu di Pacitan. Selain itu tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang sejarah batik di Pacitan yang dibawa oleh Coenraad bersaudara. Hal senada juga dituturkan oleh Ibu Retno Toni: “Batik Coenraad dulu yang pernah berjaya di Pacitan sampai sekarang belum ditemukan peninggalannya, Mbak. Sangat disayangkan sekali ya. Seharusnya jadi peer pemerintah untuk melestarikan peninggalan budaya.”

Selain itu masih sangat jarang literatur yang membahas secara detail dan lengkap tentang sejarah batik Pacitan yang dipelopori oleh Coenraad bersaudara. Kurangnya perhatian dari masyarakat akan peninggalan budaya yang sangat penting menjadikan salah satu alasan hilangnya pengetahuan tentang batik Coenraad bersaudara. Diharapkan dengan adanya hal ini, pemerintah menyediakan sarana untuk lebih menggali kembali tentang Coenraad bersaudara yang telah mengenalkan batik ke Kabupaten Pacitan.

Perkembangan Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1980 sedikit mengalami perubahan, perubahan yang menonjol adalah fungsi batik-batik yang diproduksi pada masa itu. Bergesernya penggunaan batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju baik pria maupun wanita. Motif , corak dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tektil yang ada di pasaran. Detail pada batik belum seberapa diperhatikan , hal ini disebabkan permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik yang berharga murah dan cepat pembuatannya. Pemerintah pada saat itu juga berperan dalam melatih dan mengembangkan batik Lorok, mulai dari pelatihan pewarnaan sampai pada kegiatan pameran.Permintaan batik untuk bahan baju semakin meningkat,utamanya permintaan dari pulau Bali.Namun pemasaran ke Bali surut drastis setelah pulau Bali diguncang bom.

img_3400Kabupaten Pacitan yang terletak di serangkaian Pegunungan Kidul juga mempengaruhi tentang keadaan masyarakat dan kebudayaannya. Batik Lorog Pacitan salah satu produk batik petani yang terus berkembang sejalan dengan arus perkembangan jaman. Sepeti halnya kebudayaan, motif pada batik Lorog berkembang secara bebas dan sangat beragam dengan mendapatkan pengaruh-pengaruh dari berbagai ragam hias yang berasal dari luar daerah Pacitan sebagai proses adanya interaksi antar daerah pembatikan.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1980-anPada awalnya para pengrajin batik Lorog memang membuat batik dengan motif-motif tradisional seperti motif Kawung, Sidoluhur, Parang Kusumo, dsb. Akan tetapi dalam perkembangan batik Lorog, motif-motif tradisional tersebut dibuat dan dipadukan dengan motif asli dari batik Pacitan dan untuk penamaannya tidak ada keterikatan sama sekali karena memang memberikan nuansa yang berbeda. Mengikuti perkembangan jaman akhirnya motif batik Lorog juga megikuti alur tren motif batik ke arah kontemporer tanpa menghilangkan ciri khasnya, yaitu tetap menggunakan proses-proses tradisional dan dengan proses pewarnaan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Perkembangan motif batik Lorog dapat diklasifikasikan menjadi beberapa fase periode, yaitu pada era 1980-1990, era 1990-2000 dan era 2000-2010. Perkembangan pada motif ini tentunya tidak bisa dihindari dari pengaruh daerah-daerah lain diluar Pacitan, yang lebih dulu mengalami perubahan pada segi pewarnaan warna-warni seperti Madura, Pekalongan, dan Tuban. Akibat dari adanya pengaruh daerah lain, tidak hanya segi pewarnaan saja yang mengalami perubahan akan tetapi motif dan juga pada saat teknik pembuatan.

  1. Era 1980-1990

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-bEra 1980-an, teknik pembuatan batik yang digunakan pembatik Lorog dari teknik kerikan beralih menggunakan teknik lorodan: proses menghilangkan lilin dengan air mendidih lalu kemudian dijemur.20 Selain proses pembuatan yang cukup rumit sehingga membutuhkan kesabaran yang lebih tinggi dibandingkan teknik lorodan, tidak mudahnya menemukan generasi penerus yang memiliki minat khusus dan ketekunan yang diperlukan untuk melestarikan batik Lorog dengan teknik kerikan, menjadi alasan tergantikannya teknik kerikan dengan teknik lorodan. Disisi lain, aspek pasar yang terbatas akan pengetahuan dan apresiasi konsumen umum terhadap batik dengan teknik kerikan menjadikannya sulit laku, apalagi jika dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Perubahan lain batik Lorog pada era 1980-an ialah bergesernya fungsi batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju yang digunakan baik pria maupun wanita. Motif dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tekstil seperti yang ada di pasaran. Lebih disayangkan lagi ialah detail motif batik tidak lagi menjadi tuntutan, mengingat permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik dengan harga murah dan cepat pembuatannya.21 Berikut penuturan Ibu Retno Toni :

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-a“Dulu sebelum 1980-an batik lorog ini dipakai untuk kain panjang seperti kemben, dan motifnya itu motif-motif kain panjang sehingga kalau dibuat baju itu tidak nyambung. Seiring dengan berjalan waktu pada tahun 1980-an ini masyarakat sudah jarang yang memakai kain panjang, lalu dibuatlah pada proses perwarnaan yang tidak lagi hitam putih tapi motifnya itu masih menggunakan motif kain panjang. Kemudian 1990-an mulai ada sedikit-sedikit motif sederhana yang sepertinya diambil dari motif-motif batik Madura. Dan juga permintaan pasar yang marak dengan batik tekstil yang proses pembuatannya cepat dan harganya murah mbak.”

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1990 an , masih seperti diera tahun 1980an . Motif sederhana, pembuatan relatif cepat, belum seberapa memperhatikan kwalitas batikan.Variasi motif sudah mulai berkembang hal ini disebabkan pengaruh dari batik-batik lain daerah.

Kemudian pada era 1990-an, batik Lorog sedikit mengalami perubahan dengan era sebelumnya, yaitu era 1980-an.  Perubahan desain batik Lorog yang mulai menggunakan warna batik pesisiran, seperti warna merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda mulai marak terjadi di era 1990-an. Meskipun dengan desain batik yang bermotif sederhana dengan proses pembuatan yang cepat, motif dan warna batik yang mulai berkembang akibat pengaruh batik dari daerah lain seperti Madura. Perubahan tersebut diikuti setelah Ibu Puri mendapatkan pelatihan dari pembatik Madura. Selain itu juga menyesuaikan dengan selera pasar pada saat itu dengan maraknya batik berwarna-warni. Pengaruh dari batik-batik dari daerah lain tentunya tidak menghilangkan dari gaya khas Pacitan sendiri, yaitu batik petani.22

  1. Era 1990-2000

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-aBatik Lorok Pacitan Indonesia di era 2000 an , sudah mulai menampakkan eksistensinya, pengrajin muda dan baru mulai bermunculan. Mereka rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali kedaerah dan ikut berpartisipasi dalam mengembangkan batik Lorok. Motif dan variasi batikan sudah mulai muncul dan beragam. Para seniman-seniman dengan senanghati mulai mendesain motif-motif batik yang baru. Salah satu even penting tahun 2002 diselenggarakannya lomba desain batik khas Pacitan dan tahun 2003diselenggarakannya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI. Batik Lorok hingga kini terus berkembang, menjadikan daerah Lorok yang semula tidak pernah terdengar oleh daerah luar sekarang sudah mulai diperhitungkan.Batik-batik yang bernuansa alamidengan detail yang halus sudah mulai bermunculan, seniman ( pendesain ), pembatik, berusaha keras untuk menyamakan mutu dan kwalitas batik Lorok dengan batik-batik dari lain daerah. Ditunjang dengan masuknya saran informasi yang mudah sehingga para pembeli tidak repot datang ke Lorok, mereka bisa mengakses lewat internet.

Keberadaan dari batik Lorog kian diminati oleh masyarakat pada era 1990-an meskipun dengan motif yang sederhana dengan proses pembuatan yang relatif cepat. Pembuatan batik Lorog menggunakan beberapa jenis kain sebagai bahan untuk membatik. Kain putih yang digunakan untuk membatik lebih dikenal dengan istilah mori atau cambric.23 Mori berasal dari bombyx mori, yaitu ulat sutera yang menghasilkan kain sutera putih. Istilah cambric artinya fine linen yaitu kain putih. Mori berasal dari kain katun, sutera asli maupun sutera tiruan. Mori dibagi menjadi empat golongan, yaitu:

  1. Mori Primissima,
  2. Mori Prima,
  3. Mori Biru,
  4. Mori Blaco.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-bPada pembuatan batik Lorog, ada beberapa jenis kain yang digunakan, yaitu: kain sanpolis primis (mori primissima), dan kain sanpolis prima (mori prima).24 Semakin maraknya batik di pasaran kala itu, juga membuat jenis kain yang digunakan oleh pembatik batik Lorog mengalami peningkatan kualitas, hal ini terlihat mulai digunakannya kain sutra sebagai bahan jenis kain untuk membatik. Akan tetapi, ketersediaan bahan baku kain untuk pembuatan batik tulis masih mengandalkan pasokan dari luar kota Pacitan, yaitu Kota Solo dan Jogja. Hanya pewarna alami yang dapat diperoleh dan menjadi stok sangat berlimpah karena terdapat di lingkungan sekitar para pembatik.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-cMeningkatnya jenis kain dengan bahan sutra pada era 1990-an dan juga proses pewarnaan alami membuat tampilan batik Lorog terkesan lembut. Jenis kain yang digunakan dan proses pewarnaan alami ini tentu saja berpengaruh pada tingkat harga, semakin mahal kain yang digunakan untuk bahan batik maka harganya juga semakin tinggi. Batik bahan sutra dan pewarnaan alami ini sekarang dapat dijumpai hampir di seluruh industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo. Masuk pada millenium baru, pada era 2000-an batik Lorog Pacitan mulai muncul dengan wajah baru. Hal ini dikarenakan beberapa pengrajin muda bermunculan. Pengrajin muda tersebut rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali ke daerah dan ikut pula berpartisipasi dan mengembangkan batik Lorog.

  1. Era 2000-2010Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 2010 sudah mulai menampakkan keindahan. Para pembatik muda ( ibu-ibu muda, remaja lulusan SLTA ) sudah mulai trampil membatik.Ada dua jenis batik yang dibuat di era tahun ini yaitu, batik pewarna alam dan batik klasik modern yang seperti pada gambar diatas. Batik klasik modern dibuat seperti layaknya batik Lorok tempo dulu, yaitu dengan cara pewarnaan menggunakan wedel ( nilo ) lalu dilorot , dibatik lagi, di soga lalu dilorot lagi. sentuhan modernnya berupa coletan warna merah ( rapid )dan pemberian warna kuning ( sol )pada bagian obyek tertentu. Desain batik juga dibuat lebih kontemporer mengikuti perkembangan jaman, namun tidak meninggalkan ciri khas batik lorok yang berupa motif flora dan fauna yang berada di lingkungan daerah Lorok Pacitan.Batik ini diproduksi oleh Batik Tengah Sawah Ngadirojo Pacitan, lokasi di Kec Ngadirojo 32 km kearah timur Pacitan.

    dscn1338

Berlanjut pada era 2000-an, pengaruh motif dan warna batik pesisiran dari Madura ditambah dengan pengaruh dari daerah lain, seperti Pekalongan dan Tuban menjadi dominan. Secara tidak langsung menjadikan batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya dan juga keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh batikbatik daerah lain. Hal inilah yang menjadikan kesempatan batik Lorog lebih dikenal di daerah lain di luar Pacitan. Selain itu perubahan secara drastis dari selera konsumen untuk menggunakan batik warna-warni sebagai pakaian sehari-hari menjadikan batik bermotif bebas dan berwarna aneka rupa semakin dicari-cari oleh konsumen.

dscn1343Batik Lorog Pacitan pada era 2000-2010-an memiliki dua jenis batik, yakni batik klasik modern dan batik pewarna alam. Yang lebih menonjol diantara dua jenis batik tersebut adalah batik klasik modern dimana batik tersebut dibuat mirip seperti batik Lorog tempo dulu pada tahun 1980-an. Pewarnaan yang dilakukan pada batik ini menggunakan wedel atau zat pewarna yang kemudian di lorod. Hal ini diulang beberapa kali sehingga memberikan sentuhan modern dengan warna merah dan kuning pada bagian tertentu.

dscn1554Beberapa pembatik muda mulai muncul seperti Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo, dengan kreasi dan inovasi yang mereka ciptakan untuk meramaikan dan tanpa disadari mereka ikut memajukan motif dan variasi yang beragam untuk batik Lorog. Selain itu, industri-industri baru juga mulai banyak yang bermunculan dan dapat dilihat dengan pesat industri batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya. Apreasiasi untuk motif-motif yang mulai bermunculan ini dengan ditunjang semangat para pembatik diwujudkan dengan adanya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI.

Kesuksesan batik Lorog pada tahun 2000-an, ternyata terus berkembang hingga dasawarsa 2010an. Pada tahun 2010 batik Lorog berhasil meraih dua prestasi pada ajang Lomba Desain Batik Tulis Khas Jawa Timur yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Batik dengan motif baru yang didesain oleh Bapak Budi Raharjo dan diproduksi oleh Ibu Retno Toni yang bernama motif Sawung Gerong berhasil menjadi juara 2 dan motif Peksi Gisik Lorog merebut juara 9.26 Hal tersebut merupakan suatu kebanggaan yang tersendiri untuk masyarakat Pacitan karena kini batik dari daerah mereka sudah diakui oleh daerah lain bahkan mungkin hingga nasional.

Perkembangan Industri Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Pada dasawarsa 1980-an, industri batik Lorog kian menyusut karena adanya derasnya produksi tektil bermotif batik yang lebih murah masuk ke Kabupaten Pacitan. Berubah fungsi batik yang dulunya sebagai kain panjang untuk para wanita maupun pria kecuali bilamana ada acara hajatan saja juga mempengaruhi surutnya industri batik Lorog pada saat itu. Selain itu kerajinan batik Lorog tidak seluruhnya mengalami alih tradisi secara mulus dari satu generasi ke generasi lain selanjutnya. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantara adalah; terputusnya tradisi di lingkungan masyarakat pembatik, kurangnya kecintaan dan kesadaran untuk menjunjung nilai budaya luhur serta tersainginya batik dengan berbagai bentuk motif yang bervariasi dengan latar warna yang cerah.

Pengrajin batik yang masih bertahan bekerja keras untuk memenuhi permintaan pasar dengan melakukan perubahan untuk mencoba menarik minat dari para pembeli, dengan melakukan inovasi pada motif batik karena fungsi batik pada saat itu dibuat untuk baju baik wanita maupun pria, maka corak dan warna batik disesuaikan selera pasar dengan memilih warna-warna yang cenderung lebih cerah. Batik Lorog mulai intensif menggunakan warna batik pesisiran yang terkenal akan kebebasannya berekspresi yaitu: merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda. Kondisi ini terjadi berlanjut pada tahun 1990-an.

Kondisi industri batik Lorog pada dasawarsa 1990-2000-an tidak jauh berbeda pada era sebelumnya. Hal ini dikarenakan permintaan pasar yang saat itu mengalami penurunan drastis akibat adanya batik cap dengan proses pembuatan yang cepat dan lebih diminati oleh para konsumen.

Pengaruh selera konsumen dan kondisi pasar pada saat itu sangat mempengaruhi pasang surutnya industri batik Lorog Pacitan. Perhatian dari pengrajin pada saat itu pula masih minim akibat kurangnya rasa semangat untuk melestarikan batik Lorog. Pada era pula hanya sedikit ditemukannya keterangan-keterangan yang menjelaskan secara detail bagaimana kondisi industri batik Lorog pada saat itu. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa industri batik Lorog yang selama kurang lebih dari 30 tahun dari era 1980-2000, masih mengalami ketertinggalan pasar daripada industriindustri di daerah lain.

Pada hakekatnya pembatik adalah seniman, sebagai seoerang seniman sedikit banyak memiliki sifat egois yang artinya ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dengan hasil karya orang lain. Sifat inilah yang mendorong para inovator batik Lorog seperti Ibu Puri, Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo untuk terus mengembangkan daya kreasinya tak sebatas kemampuan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah dihasilkannya, dan mereka terus berupaya berlomba menciptakan hal-hal yang baru. Perkembangan batik merupakan suatu usaha yang dapat diandalkan dan dikembangkan dengan tenaga kerja yang cukup potenisal. Lalu setelah di tahun 2000-2010, batik kemudian di produksi secara massal, industri batik mulai menampakkan eksistensinya dengan munculnya pengrajin muda dan mulai banyaknya industri-indsutri batik yang baru dibuka untuk meramaikan industri batik Lorog yang ada di Kecamatan Ngadirojo.

Ketersediaan modal merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pasang surut industri batik tulis Lorog Pacitan. Pada awal berdirinya pengrajin industri batik hanya menggunakan modal dari tabungannya sendiri, akan tetapi seiring semakin berkembangnya usaha tren batik yang sedang meningkat, pengrajin bisa mendapatkan   pendanaan dari pinjaman bank. Sementara itu ditinjau dari segi administrasi, sistem administrasi pada industri-industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan masih bersifat tradisional dilakukan secara sederhana dengan hanya melakukan pencatatan hasil pemasukan dan pengeluaran keuangan sendiri. Hal ini disebabkan sebagian besar industri belum memiliki struktur organisasi yang sudah tertata seperti adanya pimpinan, bagian administrasi, bagian produksi, dsb.

Salah satu kendala yang dialami pada industri batik Lorog ini adalah upaya promosi yang kurang dilakukan. Hal ini dikarenakan belum seluruh pengrajin dapat melakukan upaya promosi ke daerah-daerah lain di luar Kabupaten Pacitan. Kebanyakan pengrajin batik masih menggunakan motode getok tular atau dari mulut ke mulut. Sulitnya infrastruktur untuk menjangkau lokasi sentra batik Lorog yang terletak sekitar 40 km sebelah timur dari pusat Kota Pacitan juga mempengaruhi konsumen jika ingin langsung datang ke sentra batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Selain upaya promosi yang minim dilakukan para pengrajin, kendala pemasaran ini menyebabkan batik Lorog belum mampu menjangkau pasar yang jauh lebih luas. Gedung galeri yang dulunya berfungsi untuk mempromosikan berbagai macam produk-produk unggulan di Kabupaten Pacitan sebagai tempat promosi dan sentra oleh-oleh khas Pacitan termasuk batik Lorog, tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini sangat disayangkan karena perhatian pemerintah yang kurang untuk melakukan upaya melestarikan produk-produk unggulan khas Kabupaten Pacitan.
——————————————————————————————-

Unduh dari:
AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah 
Volume 3, No. 2,   Juli  2015

Suber Gambar: http://batiklorok.blogspot.co.id/

BATIK JETIS SIDOARJO

sekar-jagad-sidoarjoSejarah Batik Sidoarjo

Batik Jetis Sidoarjo sudah dikenal sejak tahun 1675, dari tahun tersebut (1675) sampai sekarang keahlian batik yang diwariskan turun-temurun telah mencapai tujuh generasi. Batik Jetis Sidoarjo merupakan salah satu warisan budaya lokal (kearifan lokal) masyarakat Sidoarjo,  Batik Jetis Sidoarjo mempunyai sentra produksi kampung tua pengrajin batik yaitu kampung Jetis, di kampung jetis masih diproduksi batik tulis tradisional.

Sejarah Batik Jetis Sidoarjo, bermula dari seorang pendatang dari kerabat kerajaan yang bertempat tinggal di kampung Jetis, awalnya ia menyamar henjadi pedagang di pasar kaget yang berada di kampung jetis. Pria pendatang yang dikenal masyarakat jetis dengan panggilan Mbah Mulyadi, seorang yang sopan dan hormat pada semua orang dan taat beragama.

Beliau melakukan pendekatan dengan masyarakat kampung Jetis dengan mengajak sholat berjama’ah, mengajarkan Al-Qur’an. Mbah Mulyadi juga mendirikan masjid di daerah tersebut dan memberi nama masjid tersebut Masjid Jamik Al-Abror. Masjid ini didirikan pada tahun 1674, seiring perjalanan waktu penduduk sekitar masjid semua aktif menjalankan ibadah, maka daerah tersebut dinamakan desa  Pekauman, tempat bermukimnya para kaum (sebutan bagi pemeluk Agama Islam).

Selain tokoh masyarakat yang religious Mbah Mulyadi juga mengajarkan cara membatik, pada komunitas jama’ah masjid jamik, maka tidak salah bila Mbah Mulyadi ini merupakan pelopor pembuatan batik Jetis Sidoarjo. Komunitas jama’ah masjid jamik ini berkembang menjadi beberapa perkumpulan seperti perkumpulan pengajian, membuat hubungan persaudaraan antar para pengrajin batik semakin erat. Motif batik gadag merupakan wujud dari persatuan dan persaudaraan antar pengrajin batik Sidoarjo yang digambarkan dalam bentuk rangkaian bunga.

Seiring perjalanan waktu, perdagangan di pasar Jetis semakin ramai, banyak pedagang asal Madura yang menyukai batik tulis buatan warga Jetis, mereka sering memesan batik tulis dengan permintaan motif dan warna khusus khas Madura. Itulah sebabnya, batik tulis asal Jetis ini kemudian juga dikenal orang sebagai batik corak Madura.  Dengan semakin banyaknya yang membuka rumah produksi batik, maka pada tanggal 16 April 2008 Paguyuban Batik Sidoarjo (PBS) resmi berdiri, yang dipelopori kaum muda Kampung Jetis. Keadaan ini mendapat perhatian Bupati Sidoarjo waktu itu Drs. H. Win Hendrarso, M.Si. sebagai potensi daerah industri baru, karena Pasar Jetis dianggap sangat potensial untuk menjadi sebuah daerah industri baru. Akhirnya pada tanggal 3 Mei 2008 Bupati sidoarjo meresmikan Pasar Jetis sebagai daerah industri batik dan diberi nama “Kampoeng Batik Jetis”.

 Perkembangan Motif Batik Jetis Sidoarjo

Motif batik Jetis Sidoarjo mengalami perkembangan dari tahun 1980an motif-motif batik Jetis banyak bermunculan jenis dan warnanya sampai tahun 2010. Awalnya para pengrajin hanya mempunyai beberapa motif dasar saja tapi kini para pengrajin memiliki banyak motif yang beragam. Motif-motif yang ada pada tahun 1980an Dari segi warna, batik khas Sidoarjo tidak begitu mencolok dan cenderung berwarna gelap (cokelat) dan motifnya tidak ada yang memakai binatang.

Tahun 1675 batik Jetis Sidoarjo masih menggunakan warna dasar gelap yaitu coklat soga dan pola penggambarannya masih sederhana. Namun, karena konsumen kebanyakan masyarakat pesisir yang menyukai warna terang dan cerah, maka pengrajin batik Sidoarjo pun mengikuti permintaan tersebut. Maka muncul warna-warna mencolok seperti merah, biru, hitam dan sebagainya. Karena itulah, Sidoarjo juga terkenal dengan batik motif Madura. Motif yang ada pada tahun 1980an adalah Motif Beras Utah, Kembang Tebu, Kembang Bayem, dan Sekardangan.

Motif yang populer pada tahun 1980an adalah motif Beras Utah dan Kembang Tebu, motif ini merupakan visualisasi hasil bumi yang paling banyak di Sidoarjo, motif beras utah disajikan dengan serasi antara objek flora yang telah distilasi dengan isen-isen beras utah, tidak ada yang saling mendominasi. Ciri khas batik Jetis ditunjukkan dengan warna yang berani atau mencolok. Motif beras utah mempunyai banyak warna, lebih dari tiga warna yang digunakan. Biasanya pembatik menggunakan teknik colet (kuas) untuk membuat warna batik yang lebih bervariasi.  Motif beras utah adalah salah satu motif asli Sidoarjo, hal ini menunjukkan bahwa Sidoarjo adalah penghasil beras, dibuktikan dengan situs Candi Pari, dan tempat penggilingan padi dulu erada di jalan Gajah Mada (gedung Ramayana).

Motif-motif batik Jetis Sidoarjo pada tahun 1990an mulai berkembang, pengrajin dalam penciptaan batik motif batik lebih ditujukan kepada keindahan bentuk baku yang diarahkan pada pemenuhan selera pemakai (konsumen) yang berorientasi pada peningkatan produksi batik, sehingga motif batik lebih beragam. Motif-motif yang ada pada tahun 1990an adalah Motif Burung Cipret, Gedog, Tumpal, Kangkung, Mahkota, Sekarjagad, Sandang Pangan, Burung Nuri, Fajar Menyingsing, Merak, Merico Bolong, dan Rawan.  Motif yang paling populer pada tahun 1990an adalah motif Sekar Jagad (bunga dunia) yang mempunyai warna yang indah dan makna filosafis yang dalam. Motif Sekar Jagad mengandung makna kecantikan dan keindahan sehingga orang lain yang melihat akan terpesona. Motif “Sekar Jagad” [pola geometris berbentuk ceplok (hiasan bulat) berulang yang semuanya saling merapat] yang banyak berornamen bunga/tanaman, mencerminkan keragaman isi dunia (flora dan atau fauna) sebagai wujud ciptaan-Nya. Terdapat unsur pesan keragaman, keindahan, kedamaian, Jadi manusia mesti pandai bersyukur. Pola ceplok berulang-merapat yang isennya tak ada unsur bunga/tanaman (“Kar Jagad”), atau hanya berisen geometrik simbolik, mencerminkan keragaman pandangan di dunia. Jadi manusia mesti siap dan pandai menempatkan diri dalam berbagai pandangan/ perbedaan. Pola sekar jagad ini mengandung serangkaian ajaran yang diharapkan dapat membawa keselarasan dan keserasian di seluruh alam semesta.

Tahun 2000 hingga 2010 batik Jetis Sidoarjo memunculkan motif yang sudah sekian tahun menghilang dan kemudian menjadi trend lagi di pasaran. Tahun 2000an modifikasi-modifikasi motif-motif klasik bermunculan untuk dikenalkan lagi, tapi tidak semua perngrajin batik di Jetis memunculkan kembali motif-motif klasik yang dimodifikasi seperti motif sekarjagad yang dimodifikasi dengan latar belakang motif rawan engkok, dsb.   Ke-kreatifitasan pengrajin batik Jetis pada tahun 2000an diuji dengan banyaknya permintaan pasar yang menginginkan munculnya motif-motif baru. Namun pengrajin batik tidak mampu untuk memenuhinya, sehingga pengrajin hanya memodifikasi motif klasik hingga tampak seperti baru. Pangsa pasar batik sidoarjo pada tahun 2000an, banyak para pedagang dari Madura dan daerah sekitar Sidoarjo.  Batik Sidoarjo menjadi lebih dikenal karena pada tahun 2008 kampung Jetis diresmikan menjadi “kampoeng batik Jetis Sidoarjo”.

Pada tahun 2000an ini pengrajin batik jetis dituntut konsumen dengan karya-karya batik yang beraneka motif dan warna. Di tahun 2000an motifmotif yang bertemakan fauna seperti burung dan serangga menjadi popular. Beberapa motif-motif batik di  tahun 2000an hingga 2010 adalah Motif Kupu-kupu, Capung, Bola, Kipas, Bunga Rumput Laut, Manggis, Teratai, Bunga Tusuk Sate, Udang Bandeng, dan Burung Pelatuk.  Kini  motif batik Jetis mulai beragam, tidak hanya tentang flora dan fauna atau motif geometris, sudah mulai bermunculan motif yang benda-benda yang digunakan dalam keseharian sebagai sumber inspirasinya, seperti motif kipas. Motif kipas ini melambangkan keanggunan dan menjadi pilihan pada awal 2000an selain motif flora dan fauna, motif ini banyak disukai oleh konsumen yang berasal dari madura dan daerah-daerah pesisir lainnya.

Motif Batik Asli Batik Jetis Sidoarjo

Kini motif Asli batik jetis seperti motif beras utah, sekardangan, dan kembang tebu yang masih menggunakan warna gelap mulai tergeser. Namun tidak hilang begitu saja, hanya jika ada konsumen yang memesan motif tersebut maka pengrajin baru akan membuatnya. Sebagian pengrajin saja yang masih melestarikan motif-motif asli batik Jetis Sidoarjo.

Awal kemunculan batik Jetis Sidoarjo yang paling dikenal adalah batik motif sekardangan dan warnanya hanya berwarna coklat, biru tua, dan jingga tua. Awalnya tidak ada motif sekardangan menggunakan warna cerah tapi karena permintaan pasar/konsumen sehingga para pengrajin membuat warna yang cerah dan menyolok seperti merah, kuning, biru muda, merah muda, dan jingga.  Dengan memodifikasi beberapa motif dan warna batik maka akan lebih banyak mendatangkan konsumen. Untuk memenuhi permintaan pasar/konsumen para pengrajin batik Jetis Sidoarjo memilih untuk memodifikasi motif klasik dicampur dengan motif yang baru misalkan motif beras utah dihiasi dengan motif kipas.  Masih ada pengrajin batik yang melestarikan dan memperkenalkan motif asli Sidoarjo, dan banyak pihak yang menginginkan motif asli Jetis Sidoarjo dipertahankan, karena motif-motif itulah yang menjadi identitas dan sejarah dari kabupaten Sidoarjo tertuang.

SUMBER:

Sulistyowati Eka Wulandari, Imam As’ary , Yudi Prasetyo
Perkembangan motif batik jetis sidoarjo  dalam tinjauan sejarah
STKIP-PGRI Sidoarjo

Desty Qamariah1
PERKEMBANGAN MOTIF BATIK TULIS JETIS SIDOARJO
FIS UM; 2011

Perdagangan Batik Lewat Web

Perdagangan batik Lewat WebSEIRING dengan semakiri majunya teknologi informasi diharapkan perdagangan batik bisa melalui website atau elektronik commerce (e-commerce), sehingga produk kerajinan batik, bordir dan asesoris Jawa Timur lebih luas jangkauan pemasararmya.
Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, mengatakan itu saat membuka Pameran Batik, Bordir dan Asesoris ke 9 di Grand City Surabaya, Rabu (14/5).
“Dengan semakin luasnya pemasaran membuat produk batik, bordir dan asesoris Jawa Timur selain dicintai di daerahnya sendiri juga semakin dikenal di dunia khususnya di ASEAN, Asia, Eropa, Afrika dan Amerika,” katanya seperti dikutip Kominfo Jatim.
Ia mengingatkan, dengan semakin dekatnya ASEAN Economic Commu¬nity (AEC) 2015 maka produk-produk Indonesia khususnya Jawa Timur harus mempunyai standar dan kemasannya harus bagus menarik. Dengan kualitas dan kemasan yang bagus produk- produk Indonesia termasuk batik, bordir dan asesoris bisa bersaing di pasar , internasional. ?
Dalam pameran ini, kata gubernur, panitia hanya menargetkan transaksi Rp 12 miliar tetapi yang pen ting pasca pameran ini diharapkan pasar batik, bordir dan asesoris Jawa Timur bisa
meningkat lebih besar lagi.
Oleh sebab itu dengan semakin diciritainya batik oleh rnasyarakatnya Jawa Timur dua kali pada tahun 2012 dan 2013— menjadi juara nasional menggunakan produk dalam negeri. Dan diharapkan pada 2014 menjadi juara lagi mengguiiakan produk dalam negeri. Memang Jawa Timur sangat mencintai produk dalam negeri atau Aku Cinta Indonesia (ACI) dengan segala produknya termasuk batik, bordir dan asesorisnya.
Ketua Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Jawa Timur, Nina Kirana Soekarwo atau Bude Karwo, di sela-sela peninjauan Pameran Batik Bordir dan Asesoris ke 9 Tahun 2014 di Grand City mengatakan, perkembangan kera¬jinan batik, bordir dan asesoris di Jawa Timur cukup bervariasi dan dinamis dibandingkan dengan provinsi lain.
Dari hasil pengamatannya di are¬na pameran bahwa corak batik Jawa Timur bahan dasamya sudah cukup baik hanya tinggal coraknya perlu dipertajam. Dekranasda dan Disper- indag Provinsi Jawa Timur dalam pa-meran ini memperkenalkan berbagai kerajinan batik dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Jawa Timur yang kaya perajin batik saat ini sudah menghasilkan 1.350 karya motif batik atau meningkat dari sebelumnya yang hanya 110 motif batik. Menurut Nina Soekarwo, permintaan pesanan batik produk Jawa Timur semakin meningkat tetapi belum diimbangi dengan tenaga perajin pembatiknya. Oleh sebab itu dalam waktu dekat Disperindag dan koperasi-sikoperasi dibantu Dikranasda akan membuka pelatihan-pelatihan masyarakat untuk belajar membatik guna menambah perajin batik agar lebih banyak lagi.
Dekranasda juga telah membantu mematenkan atau hak paten bagi batik yang bagus, seperti batik ayam bekisar dan bunga teratai telah dipatenkan hak ciptanya. Dalam pameran batik, bordir dan asesoris 2014 ini diikuti 175 perajin batik dari berbagai daerah di Indonesia dan kabupaten/kota di Jawa Timur. Pameran batik di Grand City ini berlangsung 14-18 Mei 2014. ■

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:majalah SAREKDA Jawa Timuran/edisi; 020/2014/halaman 36

To’-oto’

To’-oto’ Sebagai Tindakan Sosial-ekonomi, tujuan dilakukannya kegiatan arisan dalam strata sosial apapun di Indonesia ini memiliki dua tujuan mendasar, yakni mengakrabkan sesama anggotanya dan adanya motif ekonomi. Hanya saja motif mana dari kedua motif tersebut yang lebih dominan pada tiap-tiap kelompok arisan akan berbeda. Demikian pula dengan to’oto’ sebagai kelompok arisan orang Madura di Surabaya. Sesuai dengan keberadaan mereka sebaqai kaum pendatang dengan tingkat sosial-ekonomi yanq rata-rata termasuk golongan menengah ke bawah, motivasi didirikannya suatu kelompok to’-oto’ pasti pada mulanya didasari oleh unsur kekerabatan/kesukuan pada saat ini lebih didominasi motif-motif ekonomi.
Pada awal perkembangannya to’-oto’ (yang secara harafiah artinya: kacang, yakni makanan ringan yanq selalu disuguhkan setiap kali diadakan pertemuan kelompok orang-orang Madura) adalah perkumpulan kedaerahan orang-orang dari Sampang dan Banqkalan yang berada di perantauan yang bertujuan untuk menguatkan ikatan kekerabatan dan ikatan persaudaraan antar sesama daerah asal. Perkumpulan kedaerahan ini adalah fenomena yang umum didapati pada kaum perantauan dari dan di daerah manapun untuk saling bertukar pengalaman dan berbagai alasan primordial lainnya seperti untuk mempererat kekerabatan dan keakraban sesama perantau dari daerah asal yang sama. Demikianpun dengan to’-oto’ pada saat mulai berdirinya, seperti yanq dikemukakan oleh salah seorang informan (yang kebetulan adalah seoranq ketua kelompok to’- oto’) bahwa ketika pertama kali mendirikan to’-oto’ niatnya adalah mengumpulkan saudara dan sanak famili yang masih satu daerah yang tersebar di wi1ayah Surabaya agar ikatan kekerabatan mereka tidak hilang serta untuk membatasi budaya lain masuk.
Di dalam pertemuan-pertemuan tersebut selain dilakukannya saling tukar pikiran mengenai berbagai hal, saling berbagi perasaan sebagai sesama kaum pendatang di kota serta saling bersilaturahmi, kemudian muncul usulan dari yang hadir untuk saling membantu antar sesama yang hadir dalam masalah ekonomi. Usulan disetujui oleh yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk selanjutnva dikoordinasikan oleh penyelenggara pertemuan. Semula sumbangan dari masing-masing yang hadir bersifat sukarela sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk kemudian disimpan oleh koordinator perkumpulan atau orang yang ditunjuk sebagai pemegang uang untuk mencatatnya dalam sebuah buku untuk kemudian diberikan dan atau dipinjamkan kepada angaota kelompok yang paling membutuhkan. Sesudah berjalan cukup lama akhirnya muncul ide agar kegiatan saling membantu ini dilembagakan dalam suatu kegiatan semacam arisan; yakni dengan menentukan batas minimum uang yang disumbangkan sedangkan akumulasi uang sumbangan yang terkumpul diberikan kepada setiap anggota kelompok secara bergiliran berdasarkan prioritas kebutuhan, yakni apabila ada warga yang membutuhkan uang atau untuk kepentingan yang mendesak maka ia dapat giliran memperoleh uang terlebih dahulu.

Waktu pertemuannya pun kemudian disepakati secara periodik dalam jangka waktu tertentu. Demikianlah dari suatu kegiatan sosial yang bersifat informal kemudian berkembang sebagai kegiatan ‘formal’ dalam arti memiliki aturan-aturan tertentu yang disepakati bersama.Dalam perkembangan selanjutnya ketika manfaat ekonomis dari arisan to’-oto’ ini semakin dirasakan para anggota dan semakin populer di kalangan para pendatang, mulailah bermunculan kelompok-kelompok to’-oto’ baru yanq sengaja didirikan oleh orang-perorang maupun oleh kelompok kekerabatan tertentu. Dalam konteks ini sifat keangqotaannyapun mengalami perubahan, dari yang semula orang-orang yang masih sekerabat dekat atau sekelompok setane’an menjadi tidak dibatasi oleh hal-hal tersebut Masing-masing orang bisa menentukan sendiri ke kelompok mana ia akan bergabung. Pertimbangan-pertimbangan yang mempengaruhi kecenderungan seseorang, memasuki kelompok to’-oto’ tertentu biasanya adalah figur ketua kelompok to’-oto’ tersebut serta ‘kredibilitas’ kelancaran kelompok tersebut. Seorang informal mengatakan:
“… kalau mau ikut to’-oto’ lihat ketuanya dulu. Kalau ketuanya berwibawa, jujur dan bisa mengatur anggotanya maka to’-oto’nya akan maju. Kalau ketuanya sembarangan saja to’oto’nya cepat bubar…”.
Jadi dalam menentukan kelompok mana yang akan dimasuki seorang calon anggota diandaikan telah memiliki rasionalitas tertentu, baik oleh rasionalitas nilai maupun rasionalitas formal-instrumental.

Sebagai suatu bentuk Wolompok arisan, berbeda dengan arisan pada umumnva, to’-oto’ mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut.:
(1) Kalau pada umumnya arisan-arisan di pulau jawa lebih banyak dikerjakan oleh wanita yang memegang keuangan keluarga, namun pada kelompok to’oto’ beranggotakan para pria yang notabene adalah kepala keluarga.
(2) Kalau pada arisan umumnya diperlukan waktu hanya beberapa jam dari Jam pelaksanaannya, maka pada to’-oto’ dibutuhkan waktu hingga dua hari.
(3) Dalam hal hidangan makanan dan hiburan, biasanya pada arisan dihidangkan sewaiarnva, tetapi pada kegiatan to’-oto’ dihidangkan dalam berbagai macam makanan dan diundangnya grup-grup kesenian tertentu seperti sandur. Hal ini tergantung dari jenis to’-oto’ yang dilaksanakan. Dalam hal ini dibedakan ada 3 (tiga) jenis to’- oto’ yakni: to’-oto’ lit-dulit yang paling sederhana karena tanpa hiburan dan dengan hidangan yang secukupnya sehingaa membutuhkan biaya yang lebih sedikit. Selanjutnva to’-oto’ piringan yang menggunakan hiburan seperti tape recorder, orkes maupun karaoke dan dengan bermacam suguhan yang diletakkan di atas piring dengan demikian membutuhkan biaya yang relatif lebih banyak. Sedangkan biaya yang lebih banyak lagi akan dikeluarkan apabila jenis to’-oto’ yang diselenggarakan adalah to’-oto’ sandur karena mengundang grup kesenian khas Madura sandur (seni tayub atau tandhak yang khas Madura. Selain itu dalam to’-oto’ jenis ini juga menghidangkan makanan yang lebih beragam dan dengan prosesi kegiatan yanq lebih rumit dan formal yang ditandai dengan dikenakannya pakaian adat Madura oleh ketua, para pengurusnya dan pengurus kelompok lain yang diundang.
(4) Dalam arisan umumnya jumlah iuran anqqota sudah ditentukan nilai nominalnva dan dibayarkan secara rutin sebesar nilai nominal tersebut, sedangkan dalam to’-oto’ meskipun besarnya uang nominal iuran sudah ditentukan tetapi kenyataan yanq ada lebih mirip buwuhan, yakni seorang anggota memberikan uanq di atas nominal uanq vanq diberikan oleh penyolenggara to’-oto’ (tuan rumah) dibanding ketika yang bersangkutan datang ke rumahnya saat dirinya menjadi ‘tuan-rumah’ to’-oto’ pada peri ode yang telah lalu. Kelebihan uang dari jumlah simpanan pokok disebut tumpangan yang bisa dipahami sebagai semacam pinjaman lunak antar anggota yang wajib di kembalikan pada waktunya nanti.
(5) Anggota kelompok tertentu bisa berpartisipasi pada kegiatan to’-oto’ yanq diadakan anggota kelompok yang lain, atas selain ketua kelompok dimana ia tergabung secara resmi. Hal ini sering disebut dengan istilah tumpangan antar kelompok. Sehingga ketika ia sendiri menyelenggarakan to’-oto’, orang yang memperoleh tumpangan tadi pada saatnya nanti akan bertandang ke rumahnya untuk membalas tumpangannya tadi, sehingga dengan demikian ia berharap akan momperoleh ‘hasil’ yang lebih banyak lagi yang tidak semata-mata dari kelompoknya.

Besarnya uang yang diterima oleh seorang penvelenggara to’-oto’ berbeda-beda tergantung dari besarnya uang angsuran dan jumlah anggota kelompok serta sering-tidaknya ia mengikuti to’-oto’ kelompok lain. Besarnya iuran pada masing-masing kelompok berbeda berdasarkan kemampuan ekonomi rata-rata anggota kelompok tersebut yang sebelumnya disepakati bersama oleh ketua dan anggotanya. Dalam satu periode putaran (yakni sesuai dengan jumlah anggota) jumlah iuran tetap sedangkan besarnya tumpangan bebas dengan nilai minimal sebesar pokok angsuran. Dalam putaran periode berikutnya besarnya iuran pokok bisa ditingkatkan jumlahnya setelah melalui musyawarah anggota. Jumlah anggota kelompok juga bervariasi tergantung sudah lama atau belum kelompok tersebut berdiri serta sejauh mana kredibilitas ketua dan kelompok tersebut di kalangan orang-orang Madura di Surabaya. Jumlah anqgota masing-masing kelompok to’-oto’ berkisar antara 20 orang sampai 70 orang. Kelompok yanq anggotanya sedikit (kurang dari 20 orang) biasanva adalali kelompok yanq relatif belum lama berdirinva sedangkan kelompok yang beranggotakan lebih dari 50 anggota biasanya adalah kelompok yang sudah lama bertahan, beberapa di antaranya ada yang sudah berusia 30 tahun.

Semakin banyak jumlah anggota dalam suatu kelompok serta anggota kelompok lain yang ikut ‘nimbrung’ dalam kelompok tersebut semakin banyak jumlah uang yanq diperoleh anggota yang mengadakan atau mendapat giliran melaksanakan kegiatan to’-oto’. Berdasarkan informasi seorang pedagang mebel antik Madura diketahui bahwa besarnya perolehan uang bervariasi mulai dari yang jumlahnya hanya ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta rupiah, informasi terakhir dari informan tersebut. disebutkan bahwa kerabatnya pernah memperoleh uang sekitar 60 juta rupiah dalam satu kali pelaksanaan to’-oto’. Uang yang diperoleh tersebut, setelah dikurangi biaya administrasi untuk sekretaris dan bendahara (ketua tidak menerima upah) serta untuk biaya operasional seperti menyewa kursi, sound sistem dan lainnya, akan digunakan untuk berbagai keperluan yang dianggap penting seperti menambah modal usaha dalam berdagang, membangun atau memperbaiki rumah serta berbagai keperluan lain yang dianggap mendesak. Dalam beberapa kasus (meskipun jarang) perolehan uang tersebut juga digunakan sebagai ongkos naik haji. Hal yang terakhir ini bisa dipahami sebab memang bagi orang-orang Madura naik haji adalah obsesi umum orang Madura. Bergelar haji berarti memiliki gengsi sosial yang tinggi, yang sekaligus mencerminkan keberhasilan seseorang secara ekonomi, mengingat untuk bisa naik haji dibutuhkan uang yang tidak sedikit.
Berdasarkan informasi dari para anggota dan pengurus to’-oto’, jumlah kelompok yang terdapat di Surabaya saat ini diperkirakan sekitar 77 kelompok to’-oto’ yang tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi terutama di wilayah Surabaya Utara yang merupakan kantong-kantong pemukiman kaum pendatang dari Madura. Meskipun demikian karena terdapat anggota kelompok-kelompok tersebut berdomisili serara tersebar di barbagai wilayah Surabaya, maka pelaksanaan kegiatan to’-oto’ juga tersebar di berbagai wilayah tersebut sesuai dengan alamat. anggota yang mendapat giliran.
Berdasarkan observasi diketahui bahwa pada saat ini kegiatan to’-oto’ ini sudah menyebar ke berbagai kota di Jawa Timur seperti Malang dan Madiun, juga didapati di Jogjakarta, di Jakarta bahkan di kota Banjarmasin atau kota-kota lain yang terdapat cukup banyak migran yang borasal dari Sampang dan Bangkalan. Bahkan di Sampang dan Bangkalan pun kegiatan to’-oto’ ini dicoba diintrodusir oleh sebagian warganya, tetapi berdasarkan kesaksian beberapa informan, kegiatan di tempat asal kaum migran ini justru tidak jalan atau tidak lancar sebagaimana halnya kegiatan to’oto’ di daerah rantau.

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Edy Herry Pryhantor: Kegiatan To’-Oto’ Di Kalangan Etnik Madura Surabaya; Studi Tentang Mekanisme Survival Etnik Pendatang di Kota Berkebudayaan Majemuk, Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga. hlm. 17 – 25

Kawin Ngeleboni

        Pada tradisi perkawinan masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi terdapat adat yang di sebut “Kawin Ngeleboni”. Bentuk perkawinan ini terjadi karena pihak keluarga laki – laki tidak menyetujui anaknya menikah dengan gadis pilihannya sendiri.

Karena takut tidak bisa mempersunting gadis pilihannya itu, maka lelaki bersangkutan datang sendiri dan meminta kepada orang tua perempuan idamannya agar dapat diterima sebagai menantu.

Sementara perkawinannya belum disetujui dan diresmikan oleh orang tua masing-masing, laki-laki bersangkutan meminta agar diperkenankan tinggal di rumah keluarga si gadis.

Apabila permintaan lelaki tersebut disetujui oleh orang tua dan kerabat pihak si gadis, maka pelaksanaan pernikahannya sama seperti upacara pernikahan jenis colongan. Upacara perkawinan ngeleboni berlangsung sekitar tiga sampai empat hari setelah colok dari pihak perempuan mengutarakan masalah kepada fihak lelaki.

 Selama perkawinan belum diresmikan, kedua calon suami-isteri tidak diperkenankan hidup bersama. Upacara perkawinan selalu disertai acara makan bersama. Hidangan utama yang disediakan dalam upacara adalah tumpeng serakat dan pecel ayam.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (Melayokaken) atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 115-116