Kawin Colongan

Kawin Colongan, merupakan salah satu tradisi perkawinan masyarakat Using/Banyuwangi

Masyarakat Using/Banyuwangi memiliki beragam tradisi perkawinan salah satunya adalah “Kawin Colongan. Perkawinan jenis ini berdasarkan rasa saling mencintai, namun orang tua sang gadis tidak menyetujui. Karena tak direstui Sang jejaka dan Sang gadis sepakat bahwa pada hari tertentu Sang jejaka akan membawa lari Sang gadis.

Ketika melaksanakan colongan “mencuri gadis”, Sang jejaka biasanya ditemani oleh salah seorang kerabatnya yang mengawasi dari jauh. Dalam waktu ddak lebih dari 24 jam Sang jejaka harus mengirim seorang colok yaitu orang yang memberitahu keluarga Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri untuk dinikahi. Orang yang dijadikan colok tentu saja sosok yang mempunyai kelebihan dan kepandaian serta dihormati.

Utusan (colok) akan memberitahu orang tua Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri dan tinggal di rumah orang tua Sang jejaka melalui ungkapan “sapi wadon rika wis ana umabe sapi lanang, arane si X”. Yang dimaksudkan sapi wadon adalah Sang gadis dan sapi lanang adalah Sang jejaka.

Ketika mendapat pemberitahuan demikian, pihak orang tua Sang gadis yang semula kurang setuju biasanya tidak akan menolak karena beranggapan anak gadisnya tidak suci lagi. Kedua belah pihak kemudian mengadakan pembicaraan untuk merundingkan pernikahan mereka.

Colongan dalam masyarakat Using/Banyuwangi bukan dianggap sebagai perbuatan salah. Bahkan colongan dianggap sebagai bukti keberanian dan sekaligus simbol kejantanan, serta peredam konflik antara dua keluarga.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (melayokaken), atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngeleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

 

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 114-115

Kawin Angkat- Angkat, Kabupaten Banyuwangi

Jenis perkawinan yang dilaksanakan di daerah Kabupaten Banyuwangi ini,  karena kehendak orang tua dari kedua belah fihak (fihak laki-laki dan fihak perempuan), sebelum pernikahan dilangsungkan terlebih dahulu dilakukan acara lamaran oleh keluarga calon pengantin laki-laki kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan.

Pada umumnya, lamaran dilakukan pada waktu sore hari sekitar pukul 17.00. Dalam acara lamaran ini, pihak laki-laki membawa penganggo komplit “pakaian dan perhiasan lengkap” seperti gelang, cincin, baju, kain panjang (sewek), sabun, wiski maupun anggur. Penganggo komplit ini tidak boleh dikenakan sebelum perkawinan disahkan, sebab apabila pernikahan batal, benda-benda tersebut harus dikembalikan kepada pihak laki-laki (dalam kasus-kasus tertentu pihak laki-laki terkadang menolak pengembalian penganggo bukan karena alasan menolak pembatalan perkawinan, melainkan karena persoalan harga diri).

Pihak laki-laki juga membawa peras suwun yakni perlengkapan berupa:

  • gedang sri,
  • kembang andong,
  • kembang macan,
  •   godhong ketirah,

perlengkapan ini mempunyai makna tertentu. Gedang sri mempunyai makna sebagai simbol orang yang masih jejaka. Kembang andong mempunyai makna pihak yang mengadakan perhelatan. Kembang macan mempunyai makna agar pihak yang dilamar tidak marah. Sementara godong ketirah mempunyai makna agar gadis yang dilamar bersedia mengikuti pihak laki-laki.

Sebelum upacara pernikahan berlangsung, biasanya baik di rumah laki-laki maupun di rumah perempuan diadakan “ngersaya“, yaitu kerja gotong royong dari para kerabat dan tetangga untuk mempersiapkan tempat dan

perlengkapan upacara. Kedua calon pengantin dilarang bepergian. Agar calon pengandn perempuan kelihatan segar dan candk pada waktu pesta, maka diadakan upacara “ngasap” (meratakan gigi) dan badannya “dilurus” (luluran). Pada malam harinya, sebelum pesta pernikahan dihelat diadakan acara melek-melekan “tidak tidur” semalam suntuk oleh keluarga dan tetangga.

Menurut kepercayaan orang Using melek-melekan ini merupakan sarana untuk memohon keselamatan dan terhindar dari gangguan dari roh-roh jahat. Setelah melangsungkan akad nikah atau ijab secara Islam di hadapan penghulu, kedua mempelai melakukan upacara makan bersama dengan sajian hidangan berupa kokoh kelor dan keluthuk jagung (brondong).

Kokoh kelor mengusung pesan agar kedua mempelai dapat menjalani kehidupan dan dapat berkembang dengan mudah seperti tanaman kelor. Sementara brondong jagung mempunyai makna agar kedua mempelai dapat dengan gampang mencari sumber penghidupan bagi kelangsungan bahtera rumah tangga dan keluarga yang baru dibangun.

Pelaksanaan upacara perkawinan biasanya berlangsung pada senja hari setelah warga selesai bekerja di sawah. Upacara ini dimulai dengan upacara “surup” yaitu upacara mempertemukan kedua mempelai di kursi pelaminan, di rumah orang tua mempelai perempuan.

Pada umumnya mempelai wanita mengenakan pakaian gaya Sritanjungan dengan gelung melingkar ala Damarwulan. Mempelai kemudian diarak dari tempat rias menuju ke tempat penyelenggaraan pesta. Dalam arak-arakan tersebut mempelai laki-laki biasanya naik kuda sedangkan mempelai perempuan ditandu.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm113-114

Arak-arakan Kamantan Madura

Di dalam suatu tatanan upacara adat kamantan atau perkawinan/ pernikahan adat Madura terdapat dua macam arak- arakan. Pertama arak-arakan, sewaktu mengiring kemantan Laki-laki menuju ke tempat kemanten Wanita. Kedua arak-arakan saat kedua mempelai sudah dipertemukan.

Arak-arakan Pertama,

Arak – arakan dalam prosesi penghantar pengantin laki-laki menuju ke kediaman pengantin wanita. Masing-masing pelakunya membunyikan rebana. Bermacam-macam syair religius dan berbagai pantun dilagukan. Kerapkali Haddrah dilengkapi dengan sebuah instrumen jidor atau beduk. Apabila demikian, maka ansambel ini disebut Haddrah Jidor atau Haddrah Jidur. Akhir-akhir ini.

Pengantin laki-laki dengan seorang atau dua orang pengiringnya yang berpakaian dan berhias serupa dengannya berjalan atau menunggang kuda di belakang kelompok pemusik dan penari Gambu atau diapit oleh para penari Gambu tersebut. Kuda yang ditunggangi masing-masing dihias dan dituntun oleh seorang sais. Sebuah guling diletakkan di atas pangkuan. Jika para pengiringnya tidak berpakaian seperti mempelai pria, maka mereka hanya berjalan mengiringkannya saja.

Pengantin laki-laki dan pengiringnya memakai celana panji-panji, berkain rapek, setagen, ikat pinggang, kelatbahu, gelang, kalung kace, dan atribut penutup kepala yang terbuat dari rangkaian bunga melati, mawar, kantil, dan kenanga berwarna putih, merah, kuning, dan hijau. Untaian bunga kenanga dan daun pandan yang berwarna hijau menjuntai dari kedua telinga sampai dada.

Baik pengantin laki-laki maupun pengiringnya tidak mengenakan baju dan alas kaki. Pengantin laki-laki dan juga pengiringnya berbedak putih yang dipakai sangat tebal dan seluruh badan yang tidak tertutup pakaian berbalur bedak berwarna sangat kuning. Mereka berjalan kaki atau dapat juga masing-masing menunggang kuda berhias dan berpayung kebesaran.

Sebuah bangunan terbuat dari bambu beratap kain menyerupai tenda yang diusung oleh enam sampai delapan orang kadang-kadang dipakai untuk melengkapi atau menggantikan payung kebesaran. Beberapa orang sanak keluarga dan kerabat biasanya wanita beriring-iringan membawa bhan gibhan, yaitu sesuatu berupa barang atau makanan untuk disampaikan kepada pengantin wanita dan keluarganya.

Mereka berada di bagian akhir arak-arakan. Suara rebana yang ditabuh, syair-syair yang dilagukan, bersama dengan beduk yang bertalu-talu, dan sorak sorai menjadi tengara kedatangan rombongan pengantin laki-laki.

 

Arak-arakan Kedua

           Prosesi upacara mengarak kedua mempelai, pada prosesi ini pengantin wanita duduk bersila di dalam sebuah tandu berhias yang diusung oleh empat orang laki- laki. Pengantin laki-laki berjalan atau menunggang kuda di belakang tandu. Ia mengenakan pakaian kebesaran yang disebut pangantan leggha, yaitu berkain rape’, mengenakan penutup dada tanpa kebaya, kelatbahu, gelang, subang, kalung kace, kepala dipenuhi bunga-bunga seperti halnya pengantin laki-laki, wajah berbedak putih, serta berbalur bedak kuning di seluruh tubuhnya. Di depan tempat ia duduk diletakkan sebuah bantal.

Pengantin wanita biasanya ditemani oleh beberapa orang gadis kecil sebagai pengiringnya sepanjang arak-arakan. Para pengiring ini berdandan serupa dengan mempelai wanita. Kadang-kadang mereka juga tampak mengenakan pakaian sehari-hari saja. Mereka juga diusung oleh empat orang laki-laki di atas tandu berhias dan dalam prosesi berada di belakang mempelai wanita. Mereka dapat mempergunakan tandu yang berbeda-beda atau dapat pula berada dalam tandu yang sama dengan mempelai.

Pengantin wanita memakai gaun panjang berwarna putih dengan kerudung dan bunga- bunga imitasi di kepala. ( Kini di sebagaian wilayah dijumpai pasangan pengantin yang berpakaian model Barat atau sesuai dengan kreasi perias mereka).Tangannya juga memegang rangkaian bunga imitasi. Anting-antmg, kalung, cincin, bros, serta gelang gemerlapan merupakan aksesoris yang dipakai. Ia juga mengenakan sarung tangan berwarna putih dan kacamata hitam. Pengantin laki-laki mengenakan jubah panjang dan kerudung kepala, sarung tangan juga berwarna putih, serta memakai ikat pinggang. Kepalanya berhias mahkota bunga imitasi. Ia memegang sebilah keris dengan untaian bunga melati atau bunga imitasi dan juga mengenakan jam tangan, cincin, serta kacamata hitam. Sepasang pengantin ini masing-masing memakai kaos kaki berwarna putih dan alas kaki berupa sepatu atau sandal. Meskipun mereka memakai sandal, tetapi kaos kaki tetap dikenakan. Keduanya memakai corrective make-up.

Tata busana dan rias pengantin medern sudah banyak dipergunakan baik di kota-kota maupun di pedesaan, namun busana tradisional tetap dipergunakan berdampingan dengan tata busana dan rias modern. Keluarga yang cukup berada akan memilih kedua busana teresebut (tata busana dan rias modern dan Tradisional). Namun biasanya tata busana dan rias tradisional dikenakan pada saat prosesi berjalan sampai awal kedua mempelai disandingkan di pelaminan, selanjutnya  mereka berganti pakaian yang lain seperti yang telah direncanakan.

Dalam arak-arakan yang dilakukan, kedua mempelai berjalan kaki dengan diiringi seni pertunjukan semacam Haddrah yang dilengkapi dengan tambur dan simbal. Turut serta di dalam arak-arakan beberapa orang peraga yang mempergunakan topeng dan pakaian badut topeng dan pakaian menyerupai binatang-binatang tertentu, seperti beberapa ekor kuda, burung, kera, dan  singa. Semua yang memperagakannya laki-laki  dewasa.

Beberapa anak-anak dan remaja laki-laki kadang-kadang ikut pula di dalam prosesi ini atau mereka di tempatkan dipintu gerbang kediaman mempelai wanita menunggu  kedatangan rombongan yang mengadakan prosesi. Anak- anak dan remaja laki-laki ini mengelu-elukan kedatan mereka dengan melambai-lambaikan bendera-bendera kain bertangkai bambu yang dipegang oleh masing-masing  anak. Di setiap ujung atas bambu yang dipergunakan sebagai tangkai bendera diberi guntingan hiasan yang  terbuat dari warna-warni kertas. Selain bendera, mereka  juga membawa hiasan atau bunga-bunga imitasi.

Anak-anak dan remaja laki-laki ini kebanyakan adala sanak keluarga, kerabat, atau anak-anak tetangga sekkitar.  Mereka mengenakan pakaian berupa kemeja berlengan  panjang berwarna putih, celana panjang berwarna sama dengan kemejanya, dan memakai peci hitam. Selemb kain berwarna menyolok bersulam benang emas dipakai di leher masing-masing. Pakaian ini biasanya dipinjam dari pondok pesantren atau dari tempat-tempat yang menyewakan perlengkapan pengantin.

Arak-arakan; Seni Pertunjukan dalam Upacara Tradisional di Madura,Tarawang Pers, Yogyakarta, 2000. Hlm.47-59

 

Kamanten Madura, Tata Rias

Adat Madura dalam melaksanakan pernikahan juga di dudukkan di pelaminan. Tentu saja dalam masyarakat pedesaan misalnya tentu berbedadengan masyarakat kota bahkan juga dengan “masyarakat pinggiran Pada masa lain di pedesaan – pedesaan Madura merias mempelai putraputri mereka dengan tata rias yang warnanya sangat menyolok.

Pemilihan warna tidak terlepas dari yang menyolok itu seperti warna merah, biru bahkan bedaknyapun dicampnr dengan warna-warna kuning yang kemilau dan kedua mempelai memakai kacamata hitam. Pada dasarnya penganten Masyarakat Orang Madura di selnuruh Madura memiliki kesamaan .

Manten laki-laki ataupun perempuan memakai celana hitam lengkap dengan ornamen , bordil atau manik-manik. Bagi golongan bangsawan menggunakan blangkon , jas , dasi , kain panjang , hiasan bunga di kepala pola rumbai atau dikeluarkan dan berselop.

Saat mempelai disandingkan, di hadapannya di sajikan tandak dengan gending- gending kesukaan masyarakat sebab saat itu tamu-tamu yang diundang berdatangan. Biasanya para tamu tersebut menari dengan tandak dalam acara tayup. Setelah tengah malam tayub diakhiri tetapi tetabuhan terus menggema.

Bahkan saat itu sudab tiba waktunya pentas drama dimulai,biasanya lakon yang disajikan berjudul Lerap atau Pak Sakera, yaitu lakon-lakon yang penuh perkelahian. Saat permainan pentas berlangsung dan diiringi sorak-sorai penonton, kedua mempelai sudah berada di kamarnya .

Tata rias kemanten Madura di empat daerah kabupaten, masing-masing menurut kesukaan masyarakatnya. Seperti di daerah Sumenep pakaian “legha” yaitu pakaian jenis keluarga kraton , sangat disukai.

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 12 – 13

Prosesi Pra Perkawinan, Madura

Dalam mencarikan jodoh anak laki-lakinya biasanya melalui proses yang panjang sebelum anaknya tersebut ditunangkan. Jauh sebelumnya pihak orang tua anak laki-laki mencari informasi tentang kehidupan dara yang akan disunting termasuk kehidupan keluarganya .

Hal ini dikuatirkan jangan-jangan keluarga Si Dara memiliki kehidupan yang sangat tercela. Setelah diketahui bersih dari hal-hal yang tercela pihak laki-laki mengirim utusan ke rumah Si Dara untuk mempertanyakan apakah dara yang dimaksud sudah dipertunangkan atau belum. Proses ini dinamakan “nyalabar”.

Apabila ternyata Si Dara masih belum bertunangan maka proses selanjutnya utusan pibak laki-laki tersebut langsung menyatakan niatnya untuk menyunting Si Dara. Pihak Si Dara tidak memberi keputusan diterima atau tidak melainkan masih berjanji akan mengabarinya kemudian.

Hal ini karena masih mau berembuk dengan seluruh anggota keluarga. Nah pada masa itulah dari pihak Si Dara melakukan penelitian pula , apakah calon menantunya dan keluarganya itu orang baik atau mempunyai aib dalam kehidupannya. Apabila dalam penelitiannya ternyata pihak laki-laki adalah keluarga baik-baik maka kemudian keluarga Si Dara mengutus orang ke pihak laki-laki mengabarkan kalau pinangannya diterima.

Proses selanjutnya pihak laki-laki kembali mengirim utusan ke pihak Si Dara, untuk berterima kasih atas penerimaannya. Proses ini dinamakan nale’e paghar” (Bahasa Indonesia : mengikat pagar dengan tali)dan saat proses ini utusan juga menyampaikan pesan pihak laki-laki bahwa lamaran akan segera dilakukan. Penyampaian berita tentang lamaran ini dinamakan “mancet oca( Bahasa Indonesia : mengukuhkan perjanjian).

Tak lama setelah ” mancet oca’ ” tersebut dilanjutkan dengan proses melamar. Apabila saat untuk melamar tiba, pihak laki-laki segera memberi tahu seluruhfamilinya dan pada saat yang sudah ditentukan para famili pihak laki-laki berdatangan untuk ikut pergi melamar.

Masing-masing membawa kue dari berbagai jenis sebagai sumbangan sedangkan orang tua calon mempelai laki- laki banyak menyiapkan kue perawanyang dalam adat Madura dinamakan ” Jhajhan Praban “( Kue Perawan) dan seperangkat pakaian lengkap dengan ininyak wangi, saputangan, sandal, bedak dan lainnya sesuai dengan kebutuhan perempuan untuk berhias.Selain itu disiapkan pula sirih pinang dan sesisir pisang. Khusus jhajhan praban dibuat dari tepung gandum atau terigu, dengan ukuran besar kurang lebih bergaris tengah 40 CM. Karena itu kue perawan tersebut cuma sebuah dan “jhajhan prabantersebut dinamakan “dolban”.

 Sedangkan jenis pisang yang dibawa saat lamaran tersebut juga mengandung makna . Bila yang dibawa gheddhang susu (pisang susu) maka pertunangan tersebut akan dilakukan sebentar dan Si Dara akan segera dinikahi.Tetapi kalau pisang lain , artinya selain pisang susu maka hari pernikahan masih cukup panjang ,artinya tidak kesusu.

Proses selanjutnya penentuan hari pernikahan. Pihak laki-laki pada saat menyampaikan tanggal dan hari pernikahan mengutus orang lain dan utusan tersebut terdiri dari para sepuh serta membawa sekedar sumbangan biaya dari pihak laki-laki ke keluarga si dara. Sumbangan semacam itu dinamakan saserra’an ( penyerahan biaya ) Pada hari berlangsungnya akad nikah ,pihak Si Dara mengundang semua famili , teman dan tetangganya untuk meramaikannya.

Mempelai laki-laki diantar para sepuhnya dan seteiah akad nikah selesai manten laki-laki segera dibawa ke kamar manten perempuan untuk dipertemttkan. Ketika mereka bertemu Si Suami segera “ngosap bun-embunnanna se bine” ( mengusap ubun-ubun istrinya ) sambil mengucap : ” Ba’na tang bind, sengko’ lukena ba’na ” ( kamu istriku ,aku suamimu ) ,kemudian si suami menyerahkan mas kawin biasanya berupa seperangkat alat sholat ( sajadah dan mokenna ) .

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 11 – 12

 

Bubak Temanten

Upacara Bubak Temanten adalah suatu bentuk upacara yang dilaksanakan oleh seseorang pada saat mantu putra sulung, di daerah Kabupaten Blitar, masih banyakorang melaksanakan upacara Bubak Temanten.

Upacara daerah Bubak Temanten sudah sejak zaman dulu dilaksanakan dan sampai sekarang masih berjalan, konon budaya ini telah ada sejak tahun 1875, meskibudaya ini tampaknya ada gejala tersisih dan terdesak oleh budaya modern yang lebih menarik dan lebih singkat serta mudah dilaksanakannya, namun demikian masih banyak yang melakukan.

Diangkatnya upacara Bubak Temanten dalam fes­tival Upacara Adat Daerah dikandung maksud agar bisa diterima oleh generasi muda dan direstui oleh pejabat yang berwenang yang akhirnya upacara adat daerah Bubak Temanten ini bisa berkembang dan lestari.

Peralatan atau sesaji terdiri atas kemarang, berisi pisang raja setangkep, gula kelapa setangkep, kelapa satu butir, ayam yang masih kecil, cok bakal„ kinarigan, tikar yang masih baru dan dilapisi kain/mori putih, kendhil/klenthing sebanyak tiga buah, kendhil pertama berisi: beras ketan, beras merah, dan dua butir telur; kendhil kedua berisi: buah-buahan dan kue; kendhil ketiga berisi: kelapa muda berisi santan, dan kembar mayang.

Kendhil/klenthing adalah lambang dari cupu manik astagina. Cupu manik astagina merupakan tempat untuk menyimpan titipan wiji banyu suci purwitasari dari seorang laki-laki kepada istrinya, hal ini yang nanti akan dipergunakan untuk dialog antara ayah dan ibu calon temanten.

Ketan dan beras merah melambangkan rezeki dan berkah, dengan telah dilaksanakannya bubakan diharapkan rezeki dan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa bisa lancar, baik rezeki untuk orang tua calon temanten maupun rezeki calon temanten, sedangkan kelapa muda yang diisi santan sebagai gambaran air susu.

Jadi pada acara bubak temanten ada seorang putra menyerahkan kelapa muda kepada ibu, dengan maksud sebagai persembahan seorang putra yang sudah dewasa kepada ibunya, mengingat bahwa pada masa anak-anak disusui oleh ibunya. Telur melambangkan bahwa manusia berasal dari benda yang berwarna merah dan putih

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 73-74

Busana Pengantin Mojokerto

Terdapat versi lain mengenai busana pengantin Mojokerto. Busana pengantin Mojokerto terdiri dari elemen-elemen masa kejayaan Majapahit dan modifikasi busana tempo dulu. Penutup kepala berbentuk blangkon meruncing ke depan/ke atas (model serban), bagian belakang terdapat dua pelipitan yang posisinya menjorok ke bawah (samping kiri-kanan) dengan dasar motif gringsing.

Baju takwa dengan potongan leher tegak berlengan panjang dan bersaku tiga, dihias kancing emas berlambang surya Majapahit.Celana panjang model potongan biasa/kolor (dari mata kaki sampai pinggang). Kain sinjang batik gringsing yang digunakan sebagai pelengkap busana khas pria, dipakai dari pinggang sampai di atas lutut, dilipat tanpa diulur ke bawah dan lipatannya agak’dilebihkan ke kanan serta memakai sabuk otok. Alas kaki berupa selop/cripu (sepatu polos).

 

Busana pengantin Pria

Busana pengantin pria adalah tutup kepala berupa kulukdengan motif garudha mungkur warna dasar kuning emas, dihiasi perrru (putih, hijau, kuning), sumping motif bunga cempaka, kalung bersusun  kelat bahu dengan motif ceplok bunga teratai atau simbar dengan war kuning emas. Cincin 2 buah salah satu dipakai di jari telunjuk, kain penuti badan berupa baju beskap lengan panjang dengan potongan kerah berd dibagian tengah terbuka dihiasi benang emas, berkancing dinar berlambai suiya Majapahit.

Celana panjang agak komprang dipakai di bagian dalam dc ditutup dengan kain kampuh/dodot terdiri dua lapis dengan motif bat gringsing yang diprada warna emas dengan motif bunga-bunga sebag, ciri khas Mojokerto. Wastra atau bebed motif sulur bunga cempak dengan warna emas, dapat dikombinasi warna hijau pradan. Ikatpinggang/sabuk pendhing motif gringsing dari kain sutra atau liner bagian tepi diberi warna kuning emas. Senjata berupa keris disesuaika: warna kuning pada sarung kerisnya, dipakai di bagian depan, lilitai bulat di bagian depan dan panjang di sisi samping kanan/kiri dihias benang/monte warna emas. Alas kaki, selop dengan warna disesuaikan dan dihias dengan monte/benang warna emas.

Busana Pengantin Wanita

Berikut ini deskripsi mengenai buasana pengantin wanita Mojokerto. Pada bagian kepala dibentuk sanggul keling yang mengepal ke atas dan diulur lepas ke bawah sampai di pinggul dan dililit dengan untaian bunga melati serta diberi rangkaian karang melok pada sisi kanan-kiri dan dilengkapi cucuk mentul motif bunga cempaka serta motif ronyok yang diberi permata warna- wami (kuning, hijau dan merah). Hiasan kepala bagian depan berupa jamang, kancing gelung motif garudha mungkur yang pada garis bawahnya diberi untaian permata (wama hijau, kuning dan merah/putih) atau dihiasi dengan kain beludru lima lengkung, subang/giwang motif ronyok dengan hiasan permata (kuning, hijau dan merah), Sumping motif bunga cempaka wama disesuaikan, penutup badan berupa baju panjang sampai batas lutut, dihiasi benang/manik wama emas dengan motif sulur bunga campaka dan motif surya Majapahit, dilengkapi dengan bros/paniti renteng (ceplok bunga anggrek).

Sinjang motif gringsing warna cerah dan hijau, wastra wama merah cerah dengan hiasan benang/monte warna emas. Kampuh motif ceplok bunga cempaka/ anggrek diprada warna emas. Koncer motif cawuto berwarna hitam dapat digunakan kain sutra. Kemer/punding diberi perhiasan tiruan permata (warna kuning, hijau dan merah). Manggala dari kain kasa tipis/kain sutra warna disesuaikan. Gelang tangan motif kuno/sigar menjalin dihiasi dangan permata tiruan (kuning, hijau dan merah). Kelat bahu motif
tridhatu yaitu untaian tiga warna/tiga unsur. Cincin dapat dibuat motif ganda, memakai kalung dangan motif kebon raja dan untaian bunga melati dangan motif cengkehan. Alas kaki, selop dihiasi manik/monte/benang warna emas.

 

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 79-81

Mbah Bonto

Jika Mbah Bonto Menjelma Macan Putih

Mbah Bonto.0003Mbah Bonto atau Kyai Bonto, hanyalah sebuah wayang kayu peninggalan Kerajaan Mataram. Tetapi, masyarakat amat mengkeramatkannya. Hanya karena sering berubah wujud sebagai siluman macan putih?

Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, masuk kawasan Blitar Selatan. Lazimnya daerah-daerah di Blitar Selatan, tingkat kesuburan tanahnya kurang bisa dihandalkan. Dulu, sebelum tersentuh proyek lahan kering dan konservasi tanah, daerah ini acap kali disebut kawasan kritis tandus.

Karena berada di wilayah selatan, masyarakat Kabupaten Blitar sering kali menyebut kawasan Blitar Selatan sebagai brang kidul. Mungkin, karena letaknya di ‘seberang selatan’ itu. Anehnya, meski tingkat kesuburan tanahnya kurang menjanjikan, toh mayoritas warga brang kidul ini hidup sebagai petani. Sebagian lainnya, yang bermukim di dekat-dekat pantai akan hidup sebagai nelayan.

Mbah Jarni (53) adalah warga Dusun Pakel, sudah 14 tahun menjadi juru kunci Mbah Bonto. Ada juga warga yang menyebutnya Kyai Bonto. Sebutan Mbah ataupun Kyai untuk wayang keramat yang diduga peninggalan Kerajaan Mataram itu, semata-mata merupakan refleksi rasa hormat warga terhadap wayang kayu itu sendiri.

Mbah Bonto.0001Dalam kesehari-hariannya, wayang tersebut berada di rumah Musiman, seo­rang kamituwo dongkol (mantan perangkat desa). Tersimpan dalam sebuah kotak kayu, berikut dua wayang kayu lainnya. Secara gaib, konon kedua wayang ini merupakan patih Mbah Bonto. Satu di antaranya, sepintas terlihat sebagai Pragata, salah satu tokoh pewayangan. Yang satunya laginya, seperti tokoh Buto. Sedang sosok Mbah Bonto sendiri mirip dengan tokoh Semar, salah seorang punakawan dalam dunia pewayangan.

MACAN PUTIH

Sosok Mbah Bonto suka-suka menjelma sebagai macan putih, beberapa kali penduduk melihatnya sendiri. “Macan jelmaan Mbah Bonto ukurannya besar sekali, tidak seperti umumnya macan-macan dalam dunia nyata,” menurut penduduk setempat, atas pengalamannya beberapa kali bertemu macan jel­maan Kyai Bonto. “Pertama kali melihat­nya, jantung saya seperti mau copot,” lanjutnya, mengenang pengalaman pertamanya bertemu dengan macan putih jel­maan Mbah Bonto.

Menurut Mbah Jarni, sebagai juru kunci Mbah Bonto, ia termasuk generasi ke 3. Dua generasi sebelumnya, adalah kakek dan ayahnya, masing-masing bernama Mbah Suro Kabi dan Mbah Lontarejo. “Menurut wasiat dari almarhum kakek saya, jatah keluarga kami menjadi juru kunci Mbah Bonto sampai generasi ke sembilan,” jelasnya.

Mbah jarni mengaku tidak tahu, bagaimana nantinya nasib Mbah Bonto setelah habis generasi ke sembilan. Baik kakek ataupun orangtuanya tak pernah memberitahukannya. Mbah Jarni pun kemudian mengira-ira, “Ya mungkin nanti akan ada wangsit, bagaimana nanti­nya Mbah Bonto,” ujarnya.

Ternyata, bukan penduduk saja yang sempat memergoki macan putih jelmaan Mbah Bonto. Mbah Jarni pun, per­nah mengalaminya. Bahkan, berulang kali. “Hampir setiap kali saya butuhkan, Mbah Bonto akan menemui saya dalam wujudnya se­bagai macan putih yang besar sekali,” ungkap Mbah Jarni serius.

Banyak orang datang dalam rangka sebuah upaya spiritual ke Mbah Bonto. Keinginan mereka pun bermacam- macam. Mbah Jarni lah yang mengkomunikasikan permohonan-permohonan para pengalab berkah itu kepada Mbah Bonto dengan satu ritual yang cukup sederhana. “Tetapi, penampakkan Mbah Bonto dalam jelmaannya sebagai macan putih, tak terkait dengan peristiwa tertentu,” tegas Mbah Jarni.

KYAI PRADA

Keberadaan Mbah Bonto di Blitar, ternyata masih ada kaitannya dengan gong pusaka Kyai Pradah di Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sotojayan, Blitar Selatan. Kedua benda keramat tersebut, sama-sama berasal dari Kerajaan Matarapi di era abad 17-an. Ihwal keberadaannya di Kabupaten Blitar, terkait dengan satu peristiwa suksesi di kerajaan tersebut.

Disebut-sebut dalam legenda, Paku Buwono I adalah adik lain ibu dari Pangeran Prabu. Penobatan sang adik seba­gai raja, membuat hati Pangeran Prabu sangat kecewa. Kekecewaan tersebut diam-diam membangkitkan keinginannya untuk mengalang kekuatan dalam rangka kudeta. Tetapi sayang, sebelum keinginan tersebut terlaksana, raja mencium rencana busuk sang pangeran.

Karena dianggap membahayakan kedudukannya, maka Pangeran Prabu pun diusir dari kerajaan untuk menjalani hukuman pembuangan. Dengan kesatria, hukuman tersebut dijalaninya. Tetapi sebelum meninggalkan Mataram, terlebih dulu Pangeran Prabu pergi ke Glagah Wangi (Demak) untuk berguru ke Kyai Tunggul Manik. Atas kebaikan sang guru, Pangeran Prabu pun diberi piandal berupa gong pusaka dan wayang kayu.

Dalam pengembaraannya menjalani hukuman pembuangan, akhirnya Pangeran Prabu bersama isterinya dan abdi setianya sampailah di kawasan Blitar Selatan. Satu ketika, saat bertapa di Hutan Lodoyo yang masih lebat dan wingit, seorang abdi setianya yang bernama Ki Amat Tariman mencari-carinya den­gan memukul-mukul Gong Kyai Pradah. Di luar dugaan, sesaat setelah gong dipukul, munculnya berekor-ekor macan mengerubutinya. Sejak itu, Gong Kyai Pradah dipercaya banyak masyarakat bisa menjelma menjadi macan putih seperti halnya Mbah Bonto.

Seperti halnya Gong Kyai Pradah, pensucian Mbah Bonto dengan siraman air kembang setaman itupun atas wasiat Pangeran Prabu. Dalam wasiatnya yang berlaku secara turun menurun hingga sekarang, setiap tanggal 12 Maulud dan 1 Syawal hendak pusaka-pusaka itu dimandikan dengan siraman air kembang setaman. Sedang air bekas pensucian, harap dibagi-bagikan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Pasalnya, air tersebut amat berkhasiat untuk kesembuhan suatu penyakit dan awet muda.

Kepercayaan masyarakat akan wasiat tersebut, hingga kini masih tetap terjaga. Buktinya, setiap kali dihelat upacara adat siraman Kyai Pradah di Kelurahan Kalipang dan siraman Mbah Bonto di Desa Kebonsari, antusiasme masyarakat yang ingin ngalab berkah tak pernah padam. ■ hir

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, Edisi 2223, 11-20 Mei 2005, hlm. 50-51

Batik Jonegoroan, Kabupaten Bojonegoro 2

Bupati Bojonegoro, H Suyoto, meresmikan Toko Bojonegoro yang menyediakan Batik Jonegoroan dan kaos Jonegoroan (2/8/2013).

batik jonegoroan.TOKO di komplek pertokoan Jl Gajah Mada itu menampung hasil produksi batik masyarakat dari enam desa di tiga kecamatan binaan Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) Mobil Cepu Limited (MCL), operator Migas Blok Cepu. Enam desa yang sebelumnya mendapatkan program industri kreatif batik Jonegoroan dan sablon kaos Jonegoroan itu adalah Desa Ngunut dan Dander, Kec Dander; Desa Sukoharjo dan Leran, Kec Kalitidu, dan Desa Ngasem dan Sendangharjo, Kec Ngasem.

Bupati Bojonegoro, Suyoto, mendukung kreasi anak muda Bojonegoro yang turut memberi identitas bagi Bojonegoro dalam bentuk kreasi dan karya seperti yang dilakukan Ademos. “Apa yang dilakukan ini dapat ikut mempromosikan produk lokal Bojonegoro dan sekaligus membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya,” kata Suyoto.

Dia berharap, dengan hadirnyaToko Bojonegoro ini dapat lebih memudahkan masyarakat dari dalam maupun luar Bojonegoro dalam memperoleh produk lokal Bojonegoro, khususnya Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro Untuk itu, Kang Yoto berpesan, agar para perajin maupun pengelola Toko Bojonegoro lebih kreatif lagi dalam menyajikan desain produknya.”Sehingga toko ini bisa diminati semua kalangan dan menjadi jujugan,”tutur Suyoto.

Ketua Ademos, Aziz Ghosali, menerangkan, selain untuk menampung hasil kerajinan para perajin, Toko Bojonegoro ini merupakan salah satu upaya untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro. KarenaToko Bojonegoro ini menyajikan varian produk beragam mulai kalangan tua hingga remaja. “Untuk produknya sengaja didesain berbeda sesuai selera remaja masa kini,”sambung Aziz.

Untuk lebih memperluas pemasaran produk Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro ini Ademos juga memasarkannya secara online dengan alamat www. tokobojonegoro.com. Sementara itu Menko Kesra, HR Agung Laksono, usai membuka pasar murah, langsung meninjau stan milik Dekranasda dan tertarik serta membeli batik khas Jone­goroan dengan warna kuning motif daunjati. *

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Galeria, Edisi 14; September – Oktober 2013

Cungkup

Cungkup iyalah suatu bangunan yang didirikan diatas sebuah makam, dengan dibangunnya suatu cungkup dalam halaman ke III suatu komplex pemakaman pesisir Utara Jawa Timur, maka akan terjadi pulalah perulangan pembagian kedalam tiga bagian yaitu :

  1. Ruang a :

yang dibentuk oleh pemunculan sebuah kijing yang diberi berkiswa atau kelambu sebagai suatu peraduan, dan disinilah letak makam yang dimaksud.

  1. Ruang b :

yang dibatasi oleh dinding keliling dan membentuk suatu bilik makam.

  1. Ruang c. :

yalah lorong langkan yang mengelilingi bilik makam dan terbentuk karena adanya dinding cungkup.

Memperhatikan pembagian ruangan ini dalam tiga bagian tersebut, maka tidaklah berbeda keadaannya dengan suatu percandian sebagai suatu tempat pemakaman raja-raja dalam masa Jawa Timur ( abad X — abad XV ). Ruang a. dapat kita bandingkan dengan sumuran pada suatu percandian tempat peripih abu penjenazahan diletakkan sedang ruang b. dapat dipersamakan dengan bilik percandian. Ruang c. yang merupakan lorong langkan dalam suatu cungkup, akan tidak jauh berbeda pula dengan lorong-lorong langkan pradaksina atau prasavya dalam suatu prosesi keagamaan mengelilingi percandian-percandian. 16).

Kenyataan yang kitB hadapi hingga kini dalam suatu cungkup pemakaman antara lain yang terdapat didaerah Gersik, justru pada lorong langkan inilah banyak terlihat kitab suci al Qur’an atau Surat Yassin tersimpan dan ada kalanya para penziarah dapat melakukan pengajian dan bersembahyang dalam lorong langkan ini.

Dengan memperhatikan perbandingan ini serta mengingat kembali akan tanggapan-tanggapan pada fase-fase a, b, c, yang menganggap bahwa makam- makam tersebut sebagai tempat kediaman/tempat peristirahatan yang mewakilL suatu bentuk gunung maka terlihatlah lambang-lambang gunung menghiasi cungkup-cungkup ini. Pada puncak cungkup pemakaman umumnya terdapat mahkota atap yang melambangkan meru ( Mahameru ). Bidang-bidang pada dinding cungkup maupun tiang-tiangnya penuh dengan hiasan-hiasan motif tumpal ( antefix ), tepi awan, lidah api, meander, swastika, lengkung-lengkung kala merga dengan kepala ular naga atau singa-singa, bentuk-bentuk binatang yang distilir serta arabesque, untaian daun padma yang kesemuanya mewujudkan attribute-attribute mahameru.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Issatriadi: Kekunoan Islam Pesisir Utara Jawa Timur, Proyek Rehabilitasi Dan Perluasan Museum Jawa Timur 1976-1977, hlm. 10