Upacara Temanten Kucing Ds. Pelem Kec. Campurdarat Kab. Tulungagung  

 

200712021418513Desa Pelem adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Campurdarat, yaitu wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Adapun letak geografis desa Pelem adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara              : Desa Wates

Sebelah Selatan           : Desa Perhutanan

Sebelah Timur             : Desa Pojok

Sebelah Barat              : Desa Campurdarat

Luas areanya 525 hektar yang terbagi dalam lima dusun yaitu Dusun Sumberjo, Dusun Pelem, Dusun Tambak, Dusun Jambudan Dusun Bangak. Jumlah penduduk Desa Pelem seluruhnya 8.212 orang, dengan rincian laki-laki 4.114 orang dan perempuan 4.098 orang.

 Sejarah Upacara Temanten Kucing

Asal muasal ritual manten kucing itu mempunyai sejarah panjang, yang hingga sekarang masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Dahulu, di desa pelem hidup seorang demang yang dikenal dengan sebutan Eyang Sangkrah. Ia adalah sosok linuwih dalam ilmu kejawen. Eyang Sangkrah memiliki seekor kucing condromowo (bulunya tiga warna) jantan dengan sepasang mata istimewa. Upacara ritual “Temanten Kucing” dirintis ratusan tahun silam. Awalnya, daerah Pelem dilanda kemarau panjang yang membuat warga kebingungan mendapatkan air. Sebagai seorang pemimpin desa, Eyang Sangkrah merasa bertanggungjawab atas nasib penduduknya. Berbagai ritual untuk memohon hujan dilakukan, tapi air tidak kunjung turun.

Eyang Sangkrah merasa kehabisan cara. Eyang Sangkrah, tokoh yang membabat Desa Pelem, suatu ketika mandi di telaga Coban. Dia mengajak serta seekor kucing condro mowo piaraannya. Sepulang Eyang Sangkrah memandikan kucing di telaga, tak lama berselang, di kawasan Desa Pelem turun hujan deras. Karuan saja, warga yang sudah lama menunggu-nunggu turunnya hujan tak bisa menyembunyikan rasa memandikan kucing condro mowo”. Ketika Desa Pelem dijabat Demang Sutomejo pada 1926, desa ini kembali dilanda kemarau panjang. Saat itulah, Eyang Sutomejo mendapat wangsit untuk memandikan kucing di telaga. Maka, dicarilah dua ekor kucing condro mowo. Lalu, dua ekor kucing itu dimandikan di telaga Coban. Dan, beberapa hari kemudian hujan mulai turun.

 

Pelaksanaan Upacara Temanten Kucing

Dalam upacara ini, sepasang kucing jantan dan kucing betina dipertemukan menjadi pasangan pengantin. Prosesi “Temanten Kucing” diawali dengan mengirab sepasang kucing jantan dan betina ,kucing warna putih yang dimasukkan dalam keranji.

Dua ekor kucing itu dibawa sepasang „pengantin‟ laki-laki dan wanita. Di belakangnya, berderet tokoh-tokoh desa yang mengenakan pakaian adat Jawa. Sebelum dipertemukan, pasangan “Temanten Kucing” dimandikan di telaga Coban. Secara bergantian, kucing jantan dan kucing betina dikeluarkan dari dalam keranji.

Lalu, satu per satu dimandikan dengan menggunakan air telaga yang sudah ditaburi kembang. Usai dimandikan, kedua kucing diarak menuju lokasi pelaminan. Di tempat yang sudah disiapkan aneka sesajian itu, pasangan kucing jantan dan betina itu „dinikahkan‟. Sepasang laki-laki dan perempuan yang membawa kucing, duduk bersanding di kursi pelaminan. Sementara dua temanten kucing berada di pangkuan kedua laki-laki dan wanita yang mengenakan pakian pengantin itu. Upacara pernikahan ditandai dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan sesepuh desa setempat.

Tak lebih dari 15 menit, upacara pernikahan pengantin kucing usai. Lalu, prosesi “Temanten Kucing” dilanjutkan dengan pagelaran seni tradisional Tiban dan pagelaran langen tayub.

 Maksud dan Tujuan Upacara Temanten Kucing

Berkaitan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat Desa Pelem Kecamatan Campursarat Kabupaten Tulungagung, Upacara Temanten Kucing yang selama ini dilakukan mempunyai tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu Upacara Temanten Kucing yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Pelem digunakan sebagai sarana bagi masyarakat yang berharap agar Tuhan menurunkan hujan.

 Nilai – Nilai Yang Terkandung di Dalam Upacara Temanten Kucing

Nilai-nilai yang perlu dikembangkan dalam upacara Temanten Kucing adalah :

1) Nilai Religius. Nilai religius itu tampak dengan jelas, karena pada dasarnya Upacara Temanten Kucing bertujuan untuk mengharapkan agar Tuhan menurunkan hujan. Sedangkan Upacara Temanten Kucing sebagai medianya.

2) Nilai Gotong Royong. Dalam sistem nilai budaya orang Indonesia gotong-royong merupakan suatu hal yang tidak asing lagi, terutama pada masyarakat pedesaan. Praktek gotong-royong mewarnai hampir semua kegiatan dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana kodratnya bahwa t. Dalam kaitnnya dengan Upacara Temanten Kucing praktek gotong-royong tampak mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan upacara. Upacara Temanten Kucing yang bersifat fisik hampir semuanya dilakukan dengan cara gotong-royong.

3) Nilai Persatuan. Dalam Upacara Temanten Kucing rasa persatuan tampak sekali diperlihatkan oleh warga masyarakat Desa Pelem. Rasa persatuan ini tampak terjalin dengan baik antara sesama warga masyarakat. Tanpa adanya persatuan diantara warga masyarakat tidak mungkin Upacara Temanten Kucing dapat berjalan dengan baik. Bukti lain adanya nilai persatuan adalah pada waktu upacara selamatan. Dimana warga masyarakat berkumpul disuatu tempat untuk mengucapkan rasa syukur dan makan brekat/ambeng secara bersama-sama. Hal yang demikian menunjukkan keterikatan rasa solidaritas dan persatuan antara sesame warga masyarakat.

4) Nilai Seni dan Keindahan. Hal ini tampak jelas pada saat warga masyarakat mengarak Temanten Kucing. Warga masyarakat memakai pakaian adat Jawa. Yang laki-laki menggunakan beskap dan yang perempuan menggunakan kebaya. Di samping itu nilai seni dan keindahan itu juga tampak pada berbagai macam kesenian yang disajikan seperti kesenian Langen Tayub dan Tiban.

——————————————————————————————-Rita Hajati,  Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Upacara Temanten Kucing Di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung.  Universitas Nusantara PGRI Kediri. 2016.

 

Rumah Manusia Wajakensis

Rumah Manusia Wajakensis Tulungagung, Beberapa waktu lalu di Tulungagung tersiar kabar ditemukan sebuah fosil ma­nusia purba yang dipercaya sebagai fosil dari Homo Wajakensis. Diperkirakan berumur ribuan tahun. Tulungagung selatan merupakan pegunungan kapur yang terdapat banyak sekali gua-gua kecil, dan di gua itulah dimungkinkan para manusia purba itu tinggal. Benarkah demikian?

 Berikut jelajah posmo.

Menurut informasi yang berhasil disaring oleh posmo tempat penemuan fo­sil manusia purba tersebut berada di sebuah gua yang bernama Gua Song Gentong. Gua tersebut berada di kawasan Besole Campurdarat. Letak Campurdarat ini berjarak kurang lebih 20 km dari pusat kota. Untuk mencapai lokasi gua ini memang tidaklah mu dah sebab tidak ada penunjuk arah yang menunjukkan dengan pasti lokasi terse­but.

Beruntung je­lajah posmo kali ini ditemani de­ngan sebuah lembaga yang memilik perhatian terhadap peninggalan berupa fosil-fosil yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Timur. Saat itu posmo berangkat sekitar pukul 08.00 pagi. Saat itu rupanya langit sedang tidak bersahabat sebab sejak matahari membuka mata langit terus-menerus dipenuhi dengan mendung.

Ketika berusaha menemukan lokasi berkali-kali posmo harus bertanya kepada penduduk sebab lokasi di mana ditemu­kan fosil tersebut memang tidak ada petunjuk sama sekali. Infor­masi yang diterima loka­si gua terse­but berada belakang pabrik marmer. Dan tak menunggu lama lokasi tersebut langsung dituju. Dalam bayangan posmo jalan yang untuk menuju lokasi sudah tertata dengan rapi sehingga untuk menjangkau gua terse­but tidaklah sulit.

Namun, ketika sampai di belakang pabrik marmer bay­angan itu hilang sama sekali karena jalanan untuk mencapai gua sangatlah sulit. Apalagi hujan yang mengguyur Tulungagung bagian selatan sejak kemarin membuat jala­nan kian menantang untuk ditaklukkan. Dan karena sulitnya medan akhirnya posmo pun menyerah dan dipaksa berjalan kaki menuju lokasi.

Setelah berjalan kaki selama hampir lima belas menit akhirnya posmo pun sampi di tempat tujuan. Akan tetapi keadaan gua sangatlah berbeda dengan apa yang ada di benak posmo. Sebab gua yang dimaksud sebagian besar telah runtuh karena adanya aktivitas penambangan marmer. Hanya tinggal sebuah gua saja yang tersisa dan hanya menyisakan sebuah gua itu pun tidak terlalu dalam.

Dalam gua hanyalah beberapa meter saja dan jika dilihat memang gua tersebut mirip dengan gua tinggal. Sekilas Gua masih terlihat dengan jelas sisa-sisa penam­bangan marmer serta bekas eskavasi yang dilakukan oleh tim dari UGM beberapa waktu yang lalu, tim memastikan kabar yang diterima bahwa di lokasi tersebut memang banyak terdapat fosil. Posmo dan tim dari Dharma Tyas Project melakukan pencarian di beberapa tempat sekitar Gua Song Gentong. Di beberapa tempat seki­tar gua banyak sekali terdapat fosil-fosil baik itu maupun tumbuhan. Fosil sendiri merupakan sisa-sisa tumbuhan, binatang, mapun manusia yang berasal dari masa silam yang telah terawetkan.

Kebanyakan fosil yang ditemukan di sekitar gua adalah fosil dari binatang laut utamanya kerang. Hal ini selain dimungkinkan bahwa kerang-kerang tersebut merupakan makanan dari manusia purba jenis Homo Wajakensis juga dimungkinkan pula binatang tersebut berasal tidak jauh dari wilayah tersebut.

Memang terdengar aneh sebab wilayah tersebut adalah daerah pegunungan gamping sehingga tidaklah mungkin ada binatang laut ataupun air yang mampu hidup di daerah tersebut. Untuk menjawab pertanyaan ini tentunya tidak­lah dapat mengesampingkan bagaimana wajah Tulunga­gung tempo dulu.

Pada zaman dahulu Tulun­gagung merupakan sebuah daerah yang kerapkali dilanda banjir, bahkan sebelum berganti nama menjadi Tulunga­gung, nama kabupaten yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia ini bernama Ngrawa karena sebagian wilayahnya masih berupa rawa-rawa yang teramat luas.

Salah satu rawa yang terkenal di Tulungagung adalah Rawa Pening. Konon wilayah Rawa Pening ini berada tidak jauh dari Gua Song Gentong. Bicara tentang Rawa Pening tentunya tidak terlepas den­gan pusaka Kabupaten Tulun­gagung yang bernama Tombak Kiai Upas. Berdasarkan legenda masyarakat Tulungagung terjadinya Rawa Pening.

Namun Rawa berangsur-angsur kering dan hingga saat ini Rawa Pening telah hilang sama sekali. Hilangnya Rawa Pening disebabkan oleh dibangunnya Waduk Wonorejo yang menampung aliran air dari brantas serta dibukanya terowongan niyama buat mengalirkan rawa-rawa yang ada di Tulungagung ke laut selatan. Tentu saja tujuan dari pembangunan waduk dan pembuatan Rawa Pening ini untuk membebaskan wilayah Tulungagung dari bencana yang datang setiap tahun sejak diresmikannya dan terowongan ini Tulungagung berhasil terbebas dari banjir. •ZULY

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: posmo, 740-13 Agustus 2013