Candi Minakjingga

Peninggalan Hindu yang letaknya ± 300 meter, di sebelah timur Kolam Segaran. Letaknya di sebelah kiri jalan. Yang nampak sekarang hanyalah gundukan sebidang tanah yang diberi pagar kawat berduri.

Di atas permukaan tanah kita dapati sekelompok batu-batu andesit dengan beberapa pahatan yang menunjukkan bekas bagian bangunan candi. Peninggalan ini disebut candi Minakjingga atau Sanggar Pemelengan.

Dinamakan candi Minakjingga kerena di tempat ini dahulu didapati sebuah patung (arca) besar ber­wajah raksasa tingginya 1,48 meter yang oleh pendu­duk dianggap sebagai patungnya Minakjingga.

Patung tersebut kelihatannya seperti raksasa bersayap, wa­jahnya sepenuhnya raksana, matanya melotot, ram­butnya mengombak ke belakang. Pakaian dan perhi­asan yang dipakai merupakan perhiasan kebesaran, memakai naga upawita dan tangan kanannya meme­gang golok sedang tangan kiri memegang uncal.

Di samping itu juga ada patung perempuan berbadan seekor burung Kenari, tingginya 1,01 meter. Kedua- patung ini sekarang disimpan di Museum Purbakala Mojokerto. Demikian juga beberapa relief yang ber­asal dari candi Minakjingga sekarang dapat dilihat di Museum Mojokerto.

Pada waktu diadakan peng­galian purbakala pada tahun 1976, di dalam gunduk­an tanah itu ditemukan pondasi bangunan dan sisa- sisa bata. Melihat kenyataan dengan banyaknya ba­tu-batu bagian candi dari batu andesit di situs ter­sebut, maka kemungkinan besar candi Minakjingga bagian dalamnya dibuat dari batu bata, kemudian bagian luar ditutup dengan batu andesit. Memperhatikan keadaan susunan tanah dan denah­nya kemungkinan candi Minakjingga dulunya di ke­lilingi .

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Sumur Upas

Dari Pendopo Agung kita mengikuti jalan ke Sentonorejo ke arah selatan kira-kira 300 meter, sampailah pada sebuah gang membelok ke barat dan kira-kira jarak 100 meter akan kita jumpai suatu situs peninggalan purbakala yang disebut Sumur Upas. Yang dinamakan Sumur Upas adalah lubang gua kecil yang sekarang sudah ditutup batu dan dibuatkan cungkup. Di kompleks ini, selain sumuran tadi, kita dapati pula sebuah batu atau mungkin sebuah bagian kaki candi dari batu bata yang tingginya kira-kira 1,50 meter sedang ukuran panjangnya 12,50 meter dan lebarnya 7,50 meter.

Batu tersebut menghadap ke barat dan seberapa jauh di depan bangunan itu kita dapati sumur kuno berbentuk segi empat yang dibuat dengan susunan batu bata. Di atas batur itu sekarang didapati adanya makam. Namun kebenaran apakah itu betul-betul makam, masih sangat diragukan. Di sebelah selatan batur candi tadi kita dapati suatu bentuk semacam parit yang dindingnya dibuat dari batu bata yang sering menimbulkan tanda tanya bagi pengunjung.

Menurut pengamatan kami bentuk semacam parit itu sebenarnya adalah jarak antara dua pondasi atau kaki bangunan yang berdiri saling berdekatan satu di sebelah utara dan yang lain terletak di selatannya. Menurut catatan lama kompleks ini disebut dengan nama Candi Kedaton.

Kira-kira 100 meter di sebelah barat tempat ini kita jumpai dua deretan umpak batu besar-besar membu­jur arah barat ke timur beijumlah 13 buah. Berderet beijajar dua-dua masing-masing dengan jarak ± 4 me­ter. Bentuknya juga segi delapan dan ukurannya sama dengan umpak-umpak yang terdapat di komplek Pendopo Agung. Bedanya, di bagian atas umpak-umpak di sini ber­lubang, tempat menaruh pasak tiang di atasnya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tjokro Soedjono, Trowulan Bekas Ibukota Majapahit [Booklet]. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987/1988

Candi Minak jingga

Diatas tadi telah kami uraikan bebarapa pening­galan yang bersifat Islam sekaligus walaupun letak­nya saling beijauhan. Hal ini hanya untuk memudah­kan kaitan pembicaraan saja. Sekarang kita kembali pada peninggalan Hindu yang letaknya ± 300 meter, di sebelah timur Kolam Segaran. Untuk sampai ke tempat itu sebaiknya mengikuti jalan di sebelah utara Kolam Segaran menuju ke timur kemudian

ada pertigaan lalu belok ke kanan dan beberapa puluh meter lagi sampailah ke tempat yang dituju. Letaknya di sebelah kiri jalan. Apa yang nampak sekarang hanyalah gundukan sebidang tanah yang diberi pagar kawat berduri. Di atas permukaan tanah kita dapati sekelompok batu-batu andesit dengan beberapa pahatan yang menunjukkan bekas bagian bangunan candi.

Peninggalan ini disebut candi Minakjingga atau Sanggar Pemelengan. Dinamakan candi Minakjingga kerena di tempat ini dahulu didapati sebuah patung (arca) besar ber­wajah raksasa tingginya 1,48 meter yang oleh pendu­duk dianggap sebagai patungnya Minakjingga. Patung tersebut kelihatannya seperti raksasa bersayap, wa­jahnya sepenuhnya raksana, matanya melotot, ram­butnya mengombak ke belakang.

Pakaian dan perhi­asan yang dipakai merupakan perhiasan kebesaran, memakai naga upawita dan tangan kanannya meme­gang golok sedang tangan kiri memegang uncal. Di samping itu juga ada patung perempuan berbadan seekor burung Kenari, tingginya 1,01 meter. Kedua- patung ini sekarang disimpan di Museum Purbakala Mojokerto. Demikian juga beberapa relief yang ber­asal dari candi Minakjingga sekarang dapat dilihat di Museum Mojokerto. Di situsnya sendiri, sebagai te­lah disebutkan di atas, sekarang yang terlihat hanya­lah gundukan tanah saja.

Pada waktu diadakan peng­galian purbakala pada tahun 1976, di dalam gunduk­an tanah itu ditemukan pondasi bangunan dan sisa- sisa bata. Melihat kenyataan dengan banyaknya ba­tu-batu bagian candi dari batu andesit di situs ter­sebut, maka kemungkinan besar candi Minakjingga bagian dalamnya dibuat dari batu bata, kemudian bagian luar ditutup dengan batu andesit. Memperhatikan keadaan susunan tanah dan denah­nya kemungkinan candi Minakjingga dulunya di ke­lilingi parit seperti candi Jawi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tjokro Soedjono, Trowulan Bekas Ibukota Majapahit [Booklet]. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987/1988

Candi Penataran: Uraian Bangunan – bangunan

Untuk memperoleh gambaran yang agak jelas kiranya perlu diuraikan beberapa bangunan yang dianggap penting dan menarik. Urut-urutan uraian sengaja dari bangunan-bangunan yang terdapat di halaman A terus ke halaman B, C dan seterusnya mengingat pada umumnya pengunjung melihat-lihat bangunan kekunaan dari bagian depan terus ke belakang. Uraian bersifat deskriptif (pemerian) dengan mencantumkan ukuran-ukuran supaya dapat memberikan gambaran seeara dimensional apabila kita sudah tidak berada di lokasi pereandian. Bangunan-bangunan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bale Agung
Lokasi bangunan terletak di bagian barat-laut halaman A, posisinya sedikit menjorok ke depan. Bangunan seluruhnya terbuat dari batu dindingnya masih dalam keadaan polos. Pada din ding sisi selatan dan juga sisi utara terdapat tangga masuk yang berupa undak-undakan sehingga membagi dinding sisi utara maupun sisi selatan menjadi dua bagian. Begitu pula pada dinding sisi timur, ada dua buah tangga masuk yang membagi din ding sisi timur ini menjadi tiga bagian. Sekeliling tubuh bangunan bale agung dililiti oleh ular atau naga, kapala ular tersembul pada bagian sudut-sudut bangunan. Di sebelah kiri dan kanan masing-masing tangga naik terdapat arca penjaga 11 yang berupa arca Mahakala. Arca-arca Mahakala yang terletak di sebelah kiri dan kanan tangga masuk dinding sisi timur nampaknya tidak lengkap lagi.

Bangunan bale agung berukuran panjang 37 meter, lebar 18,84 meter dan tinggi 1,44 meter. Sejumlah umpak batuyang berada di lantai atas diperkirakan dahulu sebagai penumpu tiang-tiang kayu untuk keperluan atap bangunan. Fungsi bangunan bale agung menurut  N.J Krom seperti juga di Bali dipergunakan untuk tempat musyawarah para pendeta atau pendanda.

2. Pendopo Teras
Juga disebut batur pendopo, lokasi bangunan berada di sebelah tenggara bangunan bale agung. Berbeda dengan bangunan bale agung yang polos bangunan pendopo teras ini dindingnya dikelilingi oleh relief-relief cerita. Pada dinding sisi barat terdapat dua buah tangga naik yang berupa undak-undakan, tangga ini tidak berlanjut di dinding bagian timur. Pada masing-masing sudut tangga masuk di sebelah kiri dan kanan pipi tangga terdapat arca raksasa kecil bersayap dengan lutut ditekuk pada satu kakinya dan salah satu tangannya memegang gada. Pipi tangga pada bagian yang berbentuk ukel besar berhias tumpal yang indah. Bangunan pendopo teras berangka tahun 1297 Saka atau 1275 Masehi. Letak pahatan angka tahun ini agak suIit mencarinya karena berbaur dengan hiasan yang berupa sulur daun-daunan, lokasinya berada di pelipit bagian atas dinding sisi timur.

Seperti pada bangunan bale agung, sekeliling tubuh bangunan pendopo teras juga dililiti ular yang ekornya saling berbelitan, kepalanya tersembul ke atas di antara pilar- pilar bangunan. Kepala ular sedikit mendongak ke atas, memakai kalung dan beljambul. Bangunan terbuat seluruhnya dari batu, berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran panjang 29,05 meter, lebar 9,22 meter dan tinggi 1,50 meter. Diduga bangunan pendopo teras ini beliungsi sebagai tempat untuk menaruh saji-sajian dalam rangka upacara keagamaan.

3. Candi Angka Tahun
Disebut demikian karena di atas ambang pintu masuk bangunan terdapat angka tahun: 1291 Saka (= 1369 Masehi). Lokasi bangunan berada di sebelah timur bangunan pendopo teras dalam jarak sekitar 20 meteran. Di kalangan masyarakat lebih dikenal dengan nama Candi Browijoyo karena model bangunan ini dipergunakan sebagai lambang kodam V Brawijaya. Kadang-kadang ada yang menyebut Candi Ganesa karena di dalam bilik candinya terdapat sebuah area ganesa.

Pintu masuk candi terletak di bagian barat, pipi tangganya berakhir pada bentuk ukel besar (voluta) dengan hiasan tumpal yang berupa bunga-bungaan dalam susunan segitiga sama kaki. Candi Angka Tahun seperti umumnya bangunan-bangunan candi lain terdiri dari bagian-bagian yang disebut: Kaki candi yaitu bagian candi yang bawah, kemudian tubuh candi dimana terdapat bilik atau kamar candi (gerbagerha) dan kemudian mahkota bangunan yang berbentuk kubus.

Pada bagian mahkota nampak hiasan yang meriah. Pada masing-masing dinding tubuh candi terdapat relung-relung atau ceruk yang berupa pintu semu yang dibilgian atasnya terdapat kepala makhluk yang bentuknya menakutkan. Kepala makhluk seperti ini disebut kepala kala yang eli Jawa Timur sering disebut Banaspati yang berarti raja hutan yang bisa berupa singa atau harimau. Penempatan kepala kala di atas relung candi dimaksudkan untuk menakut-nakuti roh jahat agar tidak berani masuk ke komplek percandian. Bangunan candi Angka Tahun cukup terkenal seakan-akan bangunan inilah yang mewakili komplek percandian Panatai:an. Di bagian atas bilik candi pada batu penutup sungkup terdapat relief “Surya Majapahit” yakni lingkaran yang dikelilingi oleh pancaran sinar yang berupa garis-garis lurus dalam susunan beberapa buah segitiga saran kaki. Relief Surya Majapahit juga ditemukan di beberapa candi yang lain di Jawa Timur ini dalam variasiyang sedikit berbeda.

Candi Naga
Berbeda dengan bangunan-bangunan yang telah diterangkan di atas, Candi Naga berada di halaman B. Bangunan terbuat seluruhnya dari batu dengan ukuran lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter dan tinggi 4,70 meter. Seperti Candi Angka Tahun pintu masuk ke bilik candi terletak di bagian barat dengan pipi tangga berhiasan tumpal. Fisik bangunan hanya tinggal bagian yang disebut kaki dan tubuh candi, bagian atapnya yang kemungkinan dibuat dali. bahan yang tidak tahan lama telah runtuh. Bangunan yang kita saksikan pada sat ini adalah hasil pemugaran tahun 1917-1918. Disebut Candi Naga karena sekeliling tubuh candi dililit naga dan figur-figur atau tokoh-tokoh sepelti raja sebanyak sembilan buah masing-masing berada disudut-sudut bangunan dibagian tengah ketiga dinding dan disebelah kiri dan kanan pintu masuk. Kesembilan tokoh ini digambarkan dalam pakaian mewah dengan prabha di bagian belakangnya, salah satu tangannya memegang genta (bel upacara) sedang tangan yang lain mendukung tubuh naga yang melingkari bagian atas bangunan.

Kesembilan tokoh tersebut dalam keadaan berdiri dan menjadi pilaster bangunan. Pada masing-masing dinding tubuh candi masih dihias dengan model-model bulatan yang disebut dengan “Motif Medallion”. Di dalam bulatan terdapat relief yang menggarribarkan kombinasi antara daun-daunan atau bunga-bungaan dengan berbagai jenis binatang dan burung. Di antara motif-motif medallion terdapat relief cerita binatang dalam ukuran yang lebih kecil, sayang cerita yang digambarkan dalam relief-relief ini belum dapat diungkapkan. Menurut orangorang Bali yang pernah mengunjungi komplek percandian Panataran fungsi Candi Naga adalah sama dengan Pura Kehen di Bali sebagai tempat untuk menyimpan milik dewa-dewa.

Pura Kehen itu terletak di daerah Bangli, usianya belum terlalu tua di dalamnya terdapat area-area yang diduga berasal dari abad XIV. Jadi yangtua adalah koleksi-koleksinya bukan bangunannya. Barangkali lebih tepat kalau Candi Naga dibandingkan dengan Pura Taman Sari yang terIetak di Kabupaten Klungkung. Pura yang ditemukan tahun 1975 ini menunjukkan pertalian yang dekat dengan kerajaan Majapahit. Pura ini kecuali berfungsi sebagai pemujaan kerajaan Klungkung juga dipergunakan sebagai tempat pemasupatian (pemberian kesaktian) senjata-senjata pusaka yang dibawa dari kerajaan Majapahit.

Apabila perbandingan ini dapat dibenarkan maka fungsi Candi Naga bukan hanya untuk menyimpan benda-benda upacara milik para dewa tetapi lebih tepat kalau untuk pemasupatihan benda-benda milik kerajaan Majapahit. Untuk keperluan pemasupatihan tidak perlu dibawa ke Bali

Candi Induk
Bangunan Candi induk sebagaimana telah diuraikan dimuka adalah satu-satunya bangunan candi yang paling besar diantara bangunan-bangunan kekunaan yang terdapat dihalaman komplek percandian. Lokasi bangunan terletak di bagian yang paling belakang yakni bagian yang dianggap suci.

Bangunan candi induk terdiri dari tiga teras bersusun dengan tinggi seluruhnya 7,19meter. Teras pertama berbentuk empat persegi dengan diameter 30,06 meter untuk arah timur barat. Pada keempat sisinya kira-kira dibagian tengah masing-masing dinding terdapat bagian yang menjorok keluar sekitar 3 meteran. Pada teras pertama dinding sisi barat terdapat dua buah tangga naik yang berupa undak-undakan. Teras kedua bentuknya berbeda dengan teras pertama bagian bagian yang menjorok bukan ke luar tetapi ke dalam untuk ukuran yang lebih kecil.

Adanya perbedaan ukuran antara teras pertama dan teras kedua menyebabkan terjadinya halaman koscrmg di lantai teras pertama sehingga orang dapat berjalan-jalan mengelilingi bangunan sambil menyaksikan adegan-adegan yang digambarkan dalam relief. Tempat kosong ini namanya selasar dapat melihat gambaran sebagaian dari kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu, tentang kehidupan masyarakat sehari-hari, tentang model-model bangunan, tentang berbagai pola ragam hias, tentang filsafat dan kepereayaan nenek moyang pada waktu itu.

Untuk pembacaan suatu adegan dalam relief dapat mengikuti arah jarum jam yang juga disebut pradaksina dan juga dapat kebalikannya yakni bertentangan dengan arah jarum jam yang disebut prasawnya. Jadi ada yang berurutan dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Di komplek percandian Panataran relief-relief dipahatkan pada dinding candi, pada bagian belakang area dwaraphala dan juga pada dinding kolom. Relief-relief yang terdapat di dinding pendopo teras pada bidang atau atau panil-panil tertentu di bagian atasnya terdapat tulisan singkat dalam huruf Jawa Kuno yang diduga merupakan petunjuk bagi para pemahat cerita apa yang seharusnya digambarkan. Beberapa tulisan singkat yang telah berhasil dibaca memang sesuai dengan adegan yang dilukiskan dalam relief tersebut. Tulisan-tulisan singkat seperti ini juga terdapat di candi Borobudur. Adapun relief-relief di komplek percandian Panataran yang telah diketahui jalan ceritanya.

LATAR BELAKANG KEPERCAYAAN
Sebagaimana di muka telah diuraikanm bahwa komplek percandian Panataran dibangun di lereng Gunung Kelud. Pemilihan lokasi dengan latar belakang gunung bukanlah secara kebetulan. Pendirian bangunan suci Palah dimaksudkan sebagai Candi Gunung,  yakni candi yang dipergunakan untuk keperluan memuja gunung. Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk dapat “menetralisasi” atau menghindarkan dari segala marabahaya yang datang atau disebabkan oleh gunung. Tentunya yang dimaksudkan di sini adalah Gunung Kelud yang berkali-kali menimbulkan bahaya bagi manusia.

Dalam naskah lama Negarakertagama yang dikarang oleh Mpu Prapanca ada bagian yang menceritakan peljalanan Raja Hayam Wuruk (1350-1389 AD) dari Majapahit yang sering melakukan kunjungan ke Palah untuk keperluan memuja Hyang AcalapatiPemujaan kepada Hyang Acalapati adalah juga memuja kepada Raja Gunung (Girindra)jadi bersifat Siwais.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Di
nukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Memperkenalkan Komplek Percandian Penataran di Blitar. Mojokerto: KPN PURBAKALA MOJOKERTO, 1995, hlm. 1

Candi Panataran

Candi Panataran terletak di sebelah utara Blitar adalah satu-satunya komplek percandian terluas di kawasan Jawa Timur, sebagai suaka budaya yang dilindungi undang-undang, candi Panataran tergolong dalam monumen mati (dead monument) artinya tidak ada kaitannya lagi dengan agama atau kepercayaan yang hidup dewasa ini.

Bangunan percandian tidak lagi berfungsi sebagaimana sewaktu dibangun semula. Kontak yang terjadi antara pengunjung dan kekunaan adalah dalam rangka penikmatan seni dan budaya serta ilmu pengetahuan. Candi tidak lagi sebagai tempat untuk ibadah dan juga bukan tempat samadi atau meditasi. Pemugaran-pemugaran candi adalah dalam rangka, menyelamatkan bangunan dari kerusakan yang lebih fatal bukan untuk menghidupkan kembali tradisi lama.

Apabila karena sesuatu hal sebuah candi atau monumen runtuh berarti kita telah kehilangan bukti sejarah yang autentik, kehilangan tersebut tidak akan dapat diganti oleh yang lain untuk selama-lamanya. Kini 500 tahun lebih telah berlalu, komplek percandian Panataran masih tegak berdiri di tempatnya semula dengan penuh keanggunan dan kemegahan siap menanti kunjungan Anda setiap saat.

Candi Panataran hampir sepanjang hari tidak pernah sepi dari pengunjung. Menurut catatan jumlah pengunjung umum rata-rata dalam satu bulan sekitar 20.000 sampai 25.000 orang suatu jumlah yang tidak dapat dikatakan kecil. Wisatawan-wisatawan asing yang datang di Jawa Timur dalam kunjungannya ke Blitar tidak lupa menyempatkan diri untuk berkunjung ke Candi Panataran. Kekunaan ini paling banyak ditulis orang, dibicarakan para ahli purbakala, menjadi obyek pemotretan, sumber inspirasi bagi para seniman.

LOKASI
Candi Panataran terdaftar dalam laporan Dinas Purbakala tahun 1914-1915 nomor 2045 dan catatan Verbeek nomor 563. Bangunan kekunaan terdiri atas beberapa gugusan sehingga lebih tepat kalau disebut komplek percandian. Lokasi bangunan terletak di lereng barat-daya Gunung Kelud pada ketinggian 450 meter di atas permukaan air laut, di suatu ·desa yang juga bernama Panataran, Kecamatan Nglegok, Blitar. Untuk sampai di lokasi percandian dapat ditempuh dari pusat kota Blitar ke arah utara yaitu ke jurusan Makam Proklamator Bung Karno. Jarak dari kota sampai lokasi diperkirakan 12 km, jalan mulus beraspal dan dapat ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan. Apabila ditempuh dari kota Blitar, setelah perjalanan mencapai 10 km, sampailah kita di pasar Nglegok, kemudian diteruskan sampai pasar Desa Panataran. Di sini jalan bercabang dua, yang belok ke kanan menuju ke Desa Modangan sedangkan yang belok ke kiri yakni jalan yang menuju ke barat adalah yang langsung menuju ke percandian. Dari pertigaan pasar Panataran sampai ke lokasi hanya tinggal 300 meteran. Bagi pengunjung yang datang dari Malang tidak perlu sampai masuk kota sebab dapat ditempuh dengan perjalanan potong kompas lewat pertigaan Desa Garum belok kanan sejauh lebih kurang 5 km sudah sampai di lokasi. Hanya fasilitas jalannya kurang cukup lebar.

RIWAYAT PENEMUAN
Candi Panataran ditemukan pada tahun 1815 tetapi sampai tahuri 1850 belum banyak dikenal. Penemunya adalah Sir Thomas Stamford Raffles (1781-1826) letnan gubernur jendral pemerintah kolonial Inggris yang berkuasa di negara kita pada waktu itu. Raffles bersama-sama dengan Dr. Horsfield seorang ahli llmu Alam mengadakan kunjungan ke Candi Panataran, hasil kunjungannya dibukukan dalam bukunya yang cukup terkenal “History of Java” yang terbit dalam dua jilid. Jejak Raffles ini dikemudian hari diikuti oleh para peneliti lainnya: J. Crawfurd seorang asisten residen di Yogyakarta, selanjutnya van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1844), Jonathan Rigg (1848) dan N.W. Hoepermans yang pada tahun 1866 mengadakan inventarisasi di komplek percandian Penatarah. Pada tahun 1867 Andre de la Porte bersama-sama dengan J. Knebel seorang asisten residen mengadakan penyelidikan atas Candi Panataran dan hasil penyelidikannya dibukukan dalam bukunya yang terbit tahun 1900 yang berjudul “De ruines van Panataran”.

Dengan berdirinya badan resmi kepurbakalaan yang pada waktu itu bernama Oudheidkundige Dienst (biasa disingkat OD) pada tanggal 14-6-1913 maka penanganan atas Candi Panataran menjadi lebih intensif. Pada saat ini bersama-sama dengan peninggalan-peninggalan kuna yang lain yang berada di Jawa Timur, pemeliharaan, perlindungan, pemugaran dan sebagainya atas candi Panataran berada di tangan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang berkantor pusat di Trowulan, Mojokerto

SUSUNAN UMUM KOMPLEK PERCANDIAN
Dalam garis besarnya susunan umum komplek percandian Panataran dapat diuraikan sebagai di bawah ini. Menurut catatan bangunan kekunaan menempati areal tanah seluas 12.946 m² berjajar dari barat-laut ke timur kemudian berlanjut ke bagian tenggara. Seluruh halaman komplek percandian kecuali halaman yang berada di bagian tenggara dibagi-bagi (disekat) oleh dua jalur dinding yang melintang dari utara ke selatan sehingga membagi halaman komplek percandian menjadi tiga bagian yang untuk mudahnya berturut-turut akan disebut  sebagai: halaman A untuk halaman I, halaman B untuk halaman II dan halaman C untuk halaman III. Pembagian halaman komplek percandian menjadi tiga bagian adalah berakar pada kepercayaan lama nenek moyang kita.

Sebagaimana dapat diamati dalam peta situasi, halaman B masih dibagi lagi oleh dinding yang membujur arah timur-barat sehingga membagi halaman B menjadi dua bagian. Apakah halaman B ini dahulu tertutup oleh tembok keliling belum diketahui dengan pasti sebab kini yang tertinggal hanya fondasi-fondasinya saja. Begitu juga tembok keliling komplek percandian sudah sejak lama runtuh yang nampak sekarang adalah pagar tanaman hidup yang berfungsi sebagai batas pagar keliling kekunaan. Tembok keliling dan dinding dinding penyekat terbuat dari bahan bata merah sehingga karena perjalanan waktu yang cukup lama menyebabkan keruntuhannya.

Susunan komplek percandian Panataran memang menarik karena letak bangunan yang satu dengan yang lainnya berhadap hadapan terus ke belakang yang sepintas kelihatannya agak membingungkan. Susunan bangunan mirip dengan susunan pura-pura di Pulau Bali. Dalam susunan seperti ini bagian halaman yang terletak paling belakang adalah yang paling suci karena di sini terdapat bangunan pusatnya atau bangunan induknya. Juga di Bali tempat bagi dewa-dewa berada di bagian candi yang paling belakang yakni bagian yang paling dekat dengan gunung. Di Jawa Timur  perwujudan dalam bentuk bangunan berupa bangunan candi yang berteras-teras dengan susunan makin ke atas makin kecil yang  disebut punden berundak. Pintu masuk ke halaman komplek percan dian yang sementara ini juga berfungsi sebagai pintu keluar terletak di bagian barat. Dengan menuruni tangga masuk yang berupa undak-undakan sampailah kita di ruang tunggu tempat pengunjung mendaftarkan diri sebelum masuk halaman komplek percandian. Di sini terdapat dua buah arca penjaga pintu (dwaraphala) yang dikalangan masyarakat BIitar terkenal dengan sebutan “Mbah Bodo“. Yang menarik dari kedua arca penjaga ini bukan kaiena ukurannya yang besar dan wajahnya yang menakutkan (harmonis) tetapi pahatan angka tahun yang terdapat pada landasan arcanya (lapik arca). Angka tahun tersebut tertulis dalam huruf Jawa Kuno: tahun 1242 Baka atau kalau dijadikan Masehi (ditambah 78 tahun) menjadi tahun 1320 Masehi.

Berdasarkan pahatan angka tahun yang terdapat pada kedua lapik arca penjaga tersebut para sarjana berpendapat bahwa bangunan suci Palah (nama lain untuk Candi Panataran) diresmikan menjadi kuil negara (state-temple) baru pada jaman Raja Jayanegara dari Majapahit yang memerintah pada tahun 1309-1328 AD.

Di sebelah timur kedua area penjaga di tempat yang tanahnya agak tinggi terdapat sisa-sisa pintu gerbang (gb. a) dari bahan bata merah. Pintu gerbang tersebut masih disebut-sebutkan Jonathan Rigg dalam kunjungannya ke Candi panataran pada tahun 1848. Dengan melalui bekas pintu gerbang ini sampailah kita di bagian terdepan halaman A. Di sini masih dapat disaksikan sekitar 6 buah bekas bangunan, 2 buah di antaranya tidak dapat dikenali lagi bagaimana bentuknya semula. Kedua bekas bangunan yang hanya tinggal fondasinya saja itu terbuat dari bahan bata merah. Melihat banyaknya umpak-umpak batu yang tersisa di sini dapat diduga bahwa dahulu terdapat bangunan-bangunan yang menggunakan tiang kayu seperti yang dapat kita jumpai di Bali. Berapa banyak bangunan yang menggunakan tiang-tiang kayu belum diketahui secara pasti.

Bangunan-bangunan penting yang terletakdi halaman A adalah: sebuah bangunan yang berbentuk persegi panjang yang disebut dengan nama bale agung (Gb.l), kemudian bangunan bekas tempat pendeta yang hanya tinggal tatanan umpak-umpak saja, sebuah bangunan persegi empat dalam ukuran yang lebih kecil dari bangunan bale agung yang disebut dengan nama pendopo teras atau batur pendopo dan bangunan yang berupa eandi kecil berangka tahun yang disebut Candi Angka tahun. Bangunan-bangunan tersebut terbuat seluruhnya dari bahan batu andesit.

Memasuki halaman B juga melewati sisa-sisa bekas pintu gerbang  yang di bagian depannya dijaga oleh dua buah arca dwaraphala dalam ukuran yang lebih kecil. Kedua arca dwaraphala ini pada lapik arcanya juga terpahat angka tahun, tertulis: tahun 1214 Saka atau 1319 Masehi. Peristiwa apa yang dikaitkan dengan angka tahun ini belum diketahui. Di halaman B masih dapat disaksikan sekitar 7 buah bekas bangunan, ada bangunan yang terbuat dari bahan bata merah dan ada yang dibuat dari bahan batu andesit.

Dari ketujuh buah bekas bangunan tersebut enam buah di antaranya sudah tidak dapat dikenali lagi bentuknya. Satu-satunya bangunan yang eukup terkenal adalah Candi Naga, disebut demikian karena sekeliling tubuh bangunan dililit ular atau naga. Bangunan Candi Naga seluruhnya terbuat dari batu andesit. Halaman terakhir adalah halaman C, di sini juga terdapat bekas pintu gerbang yang di bagian dalamnya dijaga oleh dua buah arca dwaraphala. Ada sekitar 9 buah bekas bangunan, 2 buah yang sudah dapat dikenali adalah bangunan candi induk dan susunan-percobaan sebagian dari tubuh bangunan candi induk.

Bangun-bangunan yang lain sementara ini belum terungkapkan. Di sebelah selatan bangunan candi masih berdiri tegak sebuah batu prasasti atau batu bertulis. Melihat besarnya ukuran batu prasasti ini para ahli menduga batu tersebut masih berada di tempat aslinya. Prasasti menggunakan huruf Jawa Kuno beltahun 1119 Saka atau 1197 Masehi dikeluarkan oleh Raja Srengga dari kerajaan Kediri. Karena isinya antara lain menyebutkan tentang peresmian sebuah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Patah maka para sarjana berpendapat bahwa yang dimaksud Palah tentunya tidak lain adalah Panataran.

Andaikata dapat dibenarkan bahwa Palah adalah Candi Panataran sekarang maka usia pembangunan komplek pereandian Panataran memakan waktu sekurang-kurangnya 250 tahun, dibangun dari tahun 1197 pada jaman kerajaan Kediri sampai tahun 1454 pada jaman kerajaan Majapahit. Hampir semua bangunan yang dapat kita saksikan sekarang berasal dari masa pemerintahan raja-raja Majapahit. Barangkali bangunan-bangunan yang lebih tua (dari zaman Kediri) telah lama runtuh.

Masih ada dua buah bangunan lain yang letaknya di luar komplek tentunya masih ada hubungannya dengan komplek pereandian Panataran secara keseluruhan. Bangunan tersebut berupa sebuah kolam berangka tahun 1337 Saka atau tahun 1415 yang terletak di sebelah tenggara dan sebuah kolom lagi (Petirtaan) dalam ukuran yang agak besar terletak kira-kira 200 meter di arah timur-laut komplek percandian.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Memperkenalkan Komplek Percandian Penataran di Blitar. Mojokerto: KPN PURBAKALA MOJOKERTO, 1995, hlm. 1

Candi Jawi

Candi Jawi terletak di Prigen tidak jauh dari Pandaan (Malang) di kaki gunung Welirang. Di dalam Nagarakertagama candi Jawi disebut “Jajawa” (Nag. 55 :3) atau “Jawa-Jawa”. Candi ini dibangun di atas tanah dataryang tinggi dengan pintu masuk ada di sebelah timur. Melihat bekas-bekas bengunan yang masih dapat dilihat sekarang, selain candi yang utama masih ada bangunan yang lain. Pemugaran telah dilakukan sejak tahun 1938-1941 karena sebelumnya candi ini telah runtuh. Akan tetapi pemugaran ketika itu belum dapat menyelesaikan seluruhnya sampai atap meskipun batu-batu candi bagian atap dapat disusun sebagai susunan percobaan. Hal ini disebabkan oleh hilangnya satu lapis batu pada bagian tubuh candi sehingga hubungan dengan bagian atas tidak diketahui.

Seni Bangun
Bentuk bangunannya tinggi dan ramping. Kaki candi dihias dengan serangkaian relief yang rupa-rupanya menggambarkan suatu ceritera. Namun sampai sekarang identifikasi ceritera tersebut belum jelas. Relief dipahatkan agak tipis sehingga beberapa di antaranya sudah rusak. Urutan ceriteranya dapat diperkirakan sesuai dengan jalan pradaksina. Pada sisi tubuh candi terdapat relung yang dihias dengan Kepala Kala. Di bagian tengah tubuh candi ada bingkai persegi mendatar.

Atap candi terdiri atas tiga tingkatan, puncaknya berbentuk dagoba. Jenis batu bagian atap berlainan dengan batu-batu bagian bawah (bagian kaki candi). Batu-batu atap sebagaian besar adalah batu putih sedangkan batu bagian kaki candi adalah adalah batu hitam (andesit).

Sangat boleh jadi batu-batu bagian atap ini berasal dari masa yang berlainan. Soalnya ialah Nagarakartagama pupuh 57 : 4 menjelaskan bahwa pada tahun saka 1253 candi Jawi pernah disambar petir.

Peristiwa tersebut mungkin sekali mengakibatkan keruntuhan bagian atasnya yang kemudian diperbaiki pada tahun berikutnya. Hal ini menjadi jelas dari temuan yang kemudian diperbaiki pada tahun 1938 sewaktu diadakan penyelidikan didapatkan batu candi yang berangka tahun 1254 saka.

Angka tahun tersebut mungkin sebagai peringatan di bangunnya kembali candi Jawi. Mcnurut W.F Sutterheim bentuk candi Jawi, pada mulanya seperti bentuk lukisan pada salah satu reliefnya, dimana pada relief tersebut ada suatu bangunan yang bagian atasnya berbentuk atap tumpang. Dr. N.J. Krom mengatakan bahwa candi Jawi bertingkat tetapi sebaliknya Porbatjaraka berpendapat bahwa candi Jawi tidak bertingkat.

Sifat kcagamaan dan arca-arca
Nagarakartagama pupuh 56 : 2 menyebutkan bahwa arca utama di dalam bilik candi adalah arca Ciwa, dengan tambahan keterangan bahwa ada arca Aksobya di atas mahkota-mahkota. Selama diadakan penyelidikan ternyata arca-arca yang ditemukan bersifat Saiwa. Arca-arca temuan tersebut ialah Nandiewara, Durga, Brahma, Ganesa, nandi ada juga fragmen Ardhanari. Diantara temuan-temuan itu tidak ada arca Aksobya. Prapanea sendiri menyatakan bahwa arca aksobya telah hilang dari candi Jawi pada tahun saka 1253.

Sifat Keagamaan candi Jawi diterangkan oleh Prapanca bahwa candi Jawi mempunyai dua sifat keagamaan, bagian bawah bersifat Saiwa sedangkan bagian atas bersifat Buddha: cihneng candi risor kecaiwan apueak kaboddan i ruhur (Nag. 56 : 2 : 1 ). Percampuran dua agama antara agama Hindu dan Budha di Jawa Timur ketika itu memang sangat menonjol lebih-lebih pada jamannya Kertanagara. Sehingga setelah wafatnya terkenal dengan gelar bhatara sang kumah riciwa-buddha (Prasasti Gajah Mada, 1351 AD) atau sang lina ring ciwabud-dhalaya (prasasti gunung Butak). Pararaton menyebutkan Cri Ciwabuddha dan bhatara Ciwa-buddha.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MIMBAR JATIM, EDISI : 152 APRIL 1993, hlm. 24

Bubuksah-Gagang Aking

Bubuksah-Gagang Aking

    Cerita dari Relief candi Penataran pada lokasi: dinding pendopo teras sisi timur, dengan urutan adegan: prasawya, membaca dari kiri ke kanan.

Cerita singkat:
Adalah dua orang bersudara masing-masing dikenali dengan nama Bubuksah dan Gagang Aking. Kedua bersaudara tersebut bertapa untuk mencapai tingkat kesempurnaan hidup. Caranya memang berbeda dalam melaksanakan “laku”, Bubuksah makan segala makanan sehingga badannya gemuk sedangkan Gagang Aking menjauhi makan minum sehingga menjadi kurus kering.

Pada suatu ketika Betara Guru mengutus Kalawijaya yang sebenarnya juga seorang dewa yang menyamar sebagai harimau putih untuk menguji kedua kakak beradik tersebut. Kalawijaya mengatakan menginginkan daging manusia, ketika permintaan ini disampaikan ke Gagang Aking serta merta ditolaknya dengan alasan tak ada gunanya memakan dirinya yang kurus itu.
Sedangkan Bubuksah menyediakan diri sepenuhnya untuk dimakan harimau putih karena dirinya dalam menjalankan laku juga memakan segala jenis makanan dan juga binatang-binatang.

Harimau putih kemudian menjelma kembali menjadi Kalawijaya, Bubuksah dinyatakan lulus dalam ujian. Setelah meninggal rokh Bubuksah didukung di atas tubuh harimau tersebut sementara Gagang Aking hanya bergelantung di ekornya saja.

Relief Bubuksah-Gagang Aking dapat kita saksikan di candi-candi yang lain misalnya di Candi Surowono yang terletak di daerah Pare, Kediri dan di Candi Gambar Wetan yang terletak di perkebunan Gambar, Nglegok, Blitar.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Memperkenalkan Komplek Percandian Penataran di Blitar, KPN PURBAKALA MOJOKERTO, Mojokerto, 1995, hlm. 19

Kresnayana (Noroyono Maling)

Cerita dari Relief-relief di komplek percandian Panataran yang telah diketahui jalan ceritanya seperti di bawah ini

Lokasi dinding teras kedua candi induk
Urutan adegan: pradaksina, dari kanan terus ke kiri
Cerita singkat :
Dewi Rukmini putri dari Raja Bismaka dari negeri Kundina sudah dipertunangkan dengan Suniti raja dari negeri Cedi. Pertunangan ini tidak disetujui oleh ibu Rukmini yang menginginkan putrinya dapat dijodohkan dengan Kresna.

Ibu Rukmini berusaha untuk menggagalkan perkawinan ini. Sewaktu perkawinan akan berlangsung Ibu Rukmini menghubungi Kresna. Rukmini ke luar istana menuju pintu gerbang Sri Manganti, kemudian disambut oleh Kresna untuk dibawa lari.

Suasana istana gempar, terjadilah pertempuran antara kedua belah pihak. Dalam pertempuran ini Rukma adik Rukmini terkena panah Kresna kemudian terjungkal jatuh. Rukmini minta kepada Kresna supaya adiknya tidak dibunuh.

Kresna dan Rukmini kemudian pergi ke Dwarawati, mereka hidup bahagia. (SOEYONO WISNOEWHARDONO)

Memperkenalkan Komplek Percandian Penataran di Blitar, KPN PURBAKALA MOJOKERTO, Mojokerto, 1995, hlm. 25

Kura-kura yang sombong

Cerita dari Relief-relief di komplek percandian Panataran yang telah diketahui jalan ceritanya seperti di bawah ini

Lokasi: dinding kolam berangka tahun, dinding sisi barat
Urutan adegan: dari kanan terus kekiri, letak panil hampir dibagian tengah dinding.
Cerita singkat:


Adalah dua ekor kura-kura di sebuah sungai yang hampir-hampir kering. Maklumlah sedang musimnya kemarau panjang.

Seekor burung belibis berusaha untuk menolongnya dengan menerbangkan kedua kura-kura itu ke sebuah telaga. Dengan bergantung pada masing-masing ujung cabang kayu yang digigit Oleh burung belibis kedua kura-kura itu berhasil dibawa terbang.

Sebelum diterbangkan burung belibis berpesan kepada kedua kura-kura itu untuk tidak berkata-kata sepanjang perjalanan. Namun amanat burung belibis itu dilanggar gara-gara tidak kuat menahan ejekan sekelompok serigala sewaktu melewati sebuah hutan.

Akibat menjawab ejekan mulut kedua kura-kura ini lepas dari cabang kayu yang digigitnya, Jatuh ke tanah dan menjadi santapan lezat kawanan serigala. (SOEYONO WISNOEWHARDONO)

Memperkenalkan Komplek Percandian Penataran di Blitar, KPN PURBAKALA MOJOKERTO, Mojokerto, 1995, hlm. 28