Dahlan Iskan

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan lahir di Magetan, 17 Agustus 1951. Pernah kuliah di IAIN Surabaya, Fak. Hukum Untag Samarinda. MengikutiO/r The Job Training Pers di LP3ES Jakarta/ Tempo (1974), Minaut In­donesia LPPM Jakarta (1980), dan Finom LPPM Jakarta (1984).
Pertama bekerja sebagai reporter Mingguan Mimbar Masyarakat (1974-1976), juga koresponden Tempo (1975- 1977), Kepala Biro Tempo Surabaya (1977-1982), Redaksi Pelaksana Harian Jawa Pos (1982-1984) dan Direktur/ Pimim- pin Redaksi/ Pimpinan Umum Harian Jawa Pos (1984-1995).
Saat ini juga menjadi direktur utamadi37anak perusahaan Jawa Pos. Yaitu Direktur Utama PT Jawa Nusa Wahana, Surabaya, PT Duta Manuntung, Balikpapan, PT Percetakan Manuntung, Balikpapan, PT Media Fajar Graf ika, Ujungpandang, PT Akcaya Pariwara, Pontianak, PT Riu Pos, Pekanbaru, PT Wenangcemerlang Press, Manado, dan Iain-Iain.
Anggota MPR (1988-1993) ini pernah menjabat Presiden Lions Club di Surabaya (1984) dan Wakil Ketua Persebaya (1988). Ketua PWI Cabang Jatim sejak 1989 sampai sekarang. Juga menjadi pengurus Kadin Jatim, pengurus DPD Golkar Jatim, Ketua Yayasan Mitra Surabaya dan Ketua Perbasi Jatim.
Menikah dengan Nafsih Sabri. Bersama keluarga tinggal di Rungkut Mejoyo Selatan IV/10 Surabaya, telepon 815487. Selaku Direktur PT Jawa Pos berkantor di Jl. Karah Agung, Surabaya, telepon 836969.
 
 
Koran Jawa Pos (JP), agaknya tak bisa dipisahkan dengan nama Dahlan Iskan. Harus diakui perannya begitu besar dalam membesarkan JP. Ketika ditunjuk se­bagai Redaksi Pelaksana JP tahun 1982, koran ini tirasnya masih kecil, hanya sekitar 6 ribuan.
“Saat itu JP masih belepotan. Yang pertama-tama saya garap adalah beritanya.
Cetak boleh jelek, pasar boleh lebih kecil, tapi berita harus menang. Itulah yang kami punyai waktu itu. Lama-lama orang tahu, bahwa berita JP lebih baik, hingga mereka mau berlangganan,” ungkapnya.
Kendati isi JP lebih baik, kenyataannya selama tiga bulan tirasnya tidak naik. Setelah ditelusuri, JP memang perlu diperkenalkan pada masyarakat. “Saat itu kami tidak tahu caranya. Setiap kami memperkenalkan JP, tak satu agen pun yang mau. Pengecer juga tak mau menerima, dianggap hanya akan memberat-berati saja,” paparnya.
Berangkat dari kenyataan seperti itu dan karena adanya keyakinan bahwa JP lebih baik, lalu dibentuk pengecer khusus yang digaji dan hanya boleh menjual JP. Peloper yang digaet tidak banyak, hanya 30 anak. Mereka diberi imbalan Rp. 300 tiap hari. Lama-lama, JP tambah laku. Gaji untuk pengecer kemudian diturunkan dan ditam- bah komisi. Lalu gaji dihapus dan tinggal komisi yang diberikan. Sekarang, pengecer harus membeli JP secara kontan.
Itu dari segi perkenalan. Dari segi dis- tribusi, karena waktu itu tak ada yang mau jadi agen, kemudian para istri karyawan digerakkan untuk menjadi agen dalam kota, termasuk istrinya. “Mereka terus kami beri motivasi, supaya perusahaan suaminya tidak mati dan tidak menganggur. Ternyata, mereka bisa. Istri saya pun sampai seka- rang masih menjadi agen. la tak mau ber- henti walau sudah saya suruh berhenti. Katanya eman-eman, karena dari hasil agen itu, ia mendapatkan Rp. 900 ribu per bulan,” jelasnya.
Menurutnya, tiras JP sekarang sudah cukup besar dan rasanya susah untuk di- tingkatkan lebih besar lagi. Perkembangan tiras JP tidak mungkin seperti dulu lagi, yaitu 400 hingga 1.000 %. “Saya menyadari hal itu. Harga koran naik terus, sehingga tidak semua masyarakat mampu membeli koran. Jumlah pembaca JawaTimurterbatas. Un­tuk menembus Jakarta dan sekitarnya tidak mungkin karena tidak ada transportasi yang kompetitif. Jelas, kami tidak bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” jelasnya.
Sebab itu, JP lantas melakukan strategi lain. Kalau dulu JP dibaca kalangan menengah ke bawah, sekarang menengah ke atas. Sehingga perlu dikembangkan koran khusus untuk kelas bawah. Itulah sebabnya Jawa Pos “menugaskan” anaknya, Memo­randum, untuk memenuhi kebutuhan la- pisan itu.
Untuk menjadi koran nasional dalam arti yang betul, misalnya beredar di seluruh In­donesia, JP menghadapi kendala; karena belum adanya sistem cetak jarak jauh (SCJJ). “Meski begitu kami mau besar dan berkembang terus. Caranya, kami pilih me- ngembangkan koran-koran daerah. Menu- rut saya, SCJJ justru jangan diberlakukan sekarang. Bukan karena JP tidak berani, kami sudah punya peralatannya kok. Tapi harus diingat, masih banyak daerah yang belum punya harian. Padahal timpang ra­sanya jika sebuah ibukota propinsi tidak memiliki harian. Apakah tidak lebih baik jika dalam era sekarang ini digunakan untuk menerbitkan koran-koran di daerah itu •?” ungkapnya.
Sehubungan dengan hal itu, JP mengembangkan sayapnya ke daerah yang belum memiliki harian. “Jika ada yang ber anggapan bahwa saya kemaruk, ya saya tidak bisa membantah. Memang setahun rata-rata kami melahirkan tiga koran baru Dan selama ini kami telah berhasil menge- lola 26 media cetak. Yang jelas, kami selalu memilih daerah-daerah yang masih ko- song, sehingga investasinya tidak banyak, kira-kira Rp. 500 sampai Rp. 1.000 juta su­dah cukup”.
Ditambahkannya, orang-orang JP yang dikirim dan menjadi motor di daerah, tun- tutannya juga belum banyak. Ini karena di JP mereka belum lama dan mereka tahu bahwa dulu ‘iJP juga pernah menderita se- kali. “Pendeknya, kami ini belum terbiasa hidup enak,” ujarnya,
Meski sudah mengelola 26 media cetak, ia enggan kalau disebut ‘raja koran’. Ini karena statusnya bukan pemilik. Sahamnya di JP juga tidak besar, tergolong minoritas. Sehingga ia lebih banyak bersifat sebagai pengelola.
Ekspansi JP ke daerah, tentunya tidak langsung mendapatkan untung. Bahkan di- lihat dari untung-ruginya mengembangkan koran daerah, gila rasanya ini dilakukan. “Sayasulit menjawabnya. Kenyataannya JP memang belum memperoleh apa-apa da­lam arti finansial, justru keluar uang. Tapi kalau’ditanya untuk apa, saya tidak bisa menjawab dengan satu kalimat. Misalnya untuk mencari keuntunganya tidak,” jelas­nya.
Lalu ditambahkan, mungkin itu merupakan naluri seseorang yang ingin terus berkembang. Motifnya tidak jelas dan semuanya itu tidak aada niat dalam arti direncanakan. Keuntungan mungkin baru dapat dipetik pada masa mendatang. Di samping itu langkah ini juga merupakan wadah penembangan karir orang-orang di JP.
Dalam melakukan ekspansi, kaderisasi diperhatikan sungguh-sungguh. Memilih orang yang tepat untuk menangani koran daerah, merupakan senjata utama dan pamungkas, karena tidak mungkin setiap hari menanganinya. “Saya harus dapat memilih orang yang dapat dipercaya dan mampu mengembangkannya. Saya memilih mereyang benar-benar memiliki kemampuan manajerial. Pemilihan itu tentu tak hanya melalui dan mengandalkan kegiatan rutin selama di JP. Itu tentu tak cukup, karena JP belum lama berdiri.”
Mengapa JP tidak menjadi koran nasi­onal yang lebih hebat lagi, tapi justru mengelola koran daerah? Seperti yang sering ia katakan, saat ini era koran nasional sudah akan berakhir. “Mana sekarang ada koran nasional? Sudah nggak ada nggak lagi. Koran-koran yang terbit di Jakarta pun, yang dulu dikatakan koran nasional itu, se­karang berproses menjadi koran daerah, yaitu daerah Jakarta,” jelasnya.
Kecuali itu, sejak dulu memang ia tidak setuju terhadap konsep bahwa koran dae­rah hanya membuat berita daerah. Oleh karena itu, ketika ia membesarkan JP, ia mempunyai konsep tersendiri. Menurutnya, ko­ran daerah seharusnya’berita nasionalnya tak kalah dengan koran Jakarta, berita internasionalnya tidak kalah dengan koran Tok­yo dan berita daerahnya pun harus menang dengan koran daerah manapun. “Tiga doktrin itu yang penting dan harus dilakukan oleh setiap koran, termasuk yang tergabung dalam Jawa Pos Grup,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 541-53 (CB-D13/1996-…)

Dahlan Iskan

17 Agustus 1951, diperkirakan Dahlan Iskan, lahir  di MagetanJawa Timur, Dahlan Iskan dibesarkan di lingkungan pedesaan dangan kondisi serba kekurangan. Orangtuanya tidak ingat  tanggal berapa Dahlan dilahirkan. Dahlan akhirnya memilih tanggal 17 Agustus dengan alasan mudah diingat karena bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.

Tahun 1975, awal memulai  Kariernya  Dahlan Iskan sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda. Kalimantan Timur.

Tahun 1976, Dahlan Iskan Remaja, sudah menjadi  wartawan majalah Tempo.

Tahun1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang. Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia.

Tahun 1997, Dahlan Iskan berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta.

Tahun 2001 , Di tangan Dahlan Iskan, Jawa Pos juga berkembang ke stasiun televisi lokal. RTV menjadi stasiun televisi lokal pertama Jawa Pos Grup di Pekanbaru. Tidak lama kemudian.

Tahun 2002, Dahlan Iskan mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

Tahun 2008, Dahlan Iskan pernah menulis buku berjudul Ganti Hati (catatan tersebut dapat dibaca di Pengalaman Pribadi Menjalani Tranplantasi Liver). Buku ini berisi tentang penglaman Dahlan Iskan dalam melakukan operasi cangkok hati di Cina.

Tahun 2008, Jawa Pos Group memiliki 12 stasiun televisi lokal di berbagai provinsi di Indonesia

Tahun 2009, Dahlan adalah sebagai Komisaris PT. Fangbian Iskan Corporindo (FIC) yang akan memulai pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pertengahan tahun ini, SKKL ini akan menghubungkan Surabaya di Indonesia dan Hong Kong, Dengan panjang serat optik 4.300 kilometer.

23 Desember 2009 Dahlan diangkat menjadi Direktur Utama PT PLN (Persero) menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. Semenjak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan diantaranya bebas byar pet se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan.

Tahun 2010, PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan.

Tahun 2011, Dahlan Iskan  juga merencanakan pembangun PLTS di seribu  pulau.Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.

17 Oktober 2011 Dahlan Iskan ditunjuk sebagai pengganti Menteri BUMN, Ia terisak dan terharu begitu dirinya dipanggil menjadi menteri BUMN karena berat meninggalkan PLN yang menurutnya sedang pada puncak semangat untuk melakukan reformasi PLN.

19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle  Kabinet  Indonesia Bersatu Jilid II, Dahlan Iskan diangkat secara resmi sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar yang sedang sakit.

(Sh1W0 n  BanT0)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Sumber: dari berbagai koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Dahlan Iskan

Bekerja Mengubah Visi Birokrasi

Seorang menteri turun tangan ketika mobilnya terhambat kemacetan di pintu tol. Melongok ke pos petugas tol yang ternyata kosong. Kursi petugas dibuang ke jalan. Sekitar seratusan kendaraan yang antri di dua gerbang pintu tol disilahkan jalan tanpa bayar.

Dia Dahlan Iskan, Menteri Negara Badan Us aha Milik Negara (BUMN) yang memperoleh porsi berita secara luas di media massa. Bukan karena dia (mantan) wartawan, tapi tindakannya memang mendapat acungan jempol dari banyak penggunatol.

Sebelumnya Dahlan adalah Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara, salah satu BUMN yang mendapat banyak kritikan pelanggannya dan mendapat julukan’ “byar pet” karena seringnya listrik padam di banyak tempat.

Tidak banyak orang tahu bagaimana kronologinya seseorang yang mulai mengawali kariernya sebagai wartawan di sebuah surat kabar kecil hingga akhirnya berhasil membangun raksasa bisnis di bidang media (bahkan merambah ke bidang yang lain) tapi secara mengejutkan ia diangkat sebagai Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)?

Adalah Dahlan Iskan, pria lulusan Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien, Magetan Jawa Timur, yang sebelurnnya tidak memiliki pengalaman sarna sekali sebagai direktur di sebuah perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) namun pada kenyataannya ia mampu mengatasi dengan cepat masalah laten yang kerap dihadapi oleh PLN.

Hanya dalam kurun waktu satu tahun, pria yang lebih merasa enjoy berpenampilan santai dan bersepatu keds ini bisa mengubah sebuah perusahaan yang merugi karena dijalankan dengan pengelolaan yang amburadul dengan tata kelola yang sangat birokratis, kurang efisien, sehingga bisa menjadi sumber penyalah gunaan wewenang dan praktek korupsi. Dahlan Iskan mampu memangkas kerugian hingga mencapai Rp 2,7 triliun. Bahkan PLN Indonesia kini, katanya, lebih unggul dibandingkan Malaysia.

Karier Dahlan Iskan bermula pada tahun 1975, menjadi calon reporter di surat kabar kecil di Samarinda Kalimantan Timur, lantas menjadi wartawan majalah Tempo pad a tahun 1976. Pada tahun 1982, ia menjadi pemirnpin koran Jawa Pos sampai saat ini. Bahkan Dahlan Iskan berhasil mendirikan stasiun televisi lokal JTV yang berlokasi di Surabaya, Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

Pada akhir tahun 2009, pria kelahiran MagetanJawa Timur 17 Agustus 1951 ini resmi diangkat sebagai direktur utama PLN, menggeser posisi Fahmi Mochtar yang mendapat kritikan karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. Meski saat ia diangkat sebagai Dirut PLN sempat menuai banyak protes dari berbagai kalangan, termasuk dari para karyawan PLN yang langsung jatuh pesimis dengan pimpinan baru mereka yang dianggap tidak memiliki pengalaman di bidang  perlistrikan, namun pada akhirnya ia bisa diterima bahkan menginspirasi banyak orang karena prestasinya yang luar biasa dalam menciptakan beberapa gebrakan mencengangkan. Di antaranya adalah membuat gebrakan “bebas byar pet se-Indonesia” dalam waktu 6 bulan dan program GRASS (Gerakan Sehari Sejuta Sambungan).

Selain itu, pria yang terkenal nyeleneh karena tidak pernah mengambil gaji dari pekerjaannya Sebagai Dirut PLN itu juga merencanakan pembangunan PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Sebelumnya, pada tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan.

Gaya hidup Dahlan Iskan yang sederhana, santun, mengutamakan kedispilinan dan jarang menggunakan fasilitas dinas seperti rumah, mobil dan telekomunikasi, menjadikan ia sebagai teladan bagi para pejabat di negeri ini. Menurut Ishadi S.K. sikap seorang Dahlan Iskan yang rendah hati dan low profile itulah yang kemudian membuat Indonesia Raya “Habis Gelap terbitlah Terang.” Terang benderang menatap masa depan. Menuju Indonesia raya yang gilang gemilang.

Di balik kekurangan dan kelebihan Ishadi S.K. dan rekan-rekannya dalam menyusun buku biografi ini, tapi menurut saya buku ini benar-benar sangat menginspirasi dan layak dibaca oleh siapa saja, khusu snya bagi para wartawan dan generasi muda di negeri ini.

Ya, mungkin sangat lumrah jika seseorang diangkat menjadi Dirut PLN karena prestasi dan akademisnya memang di bidang perlistrikan. Tapi akan menjadi sebuah prestasi luar biasa dan mengagumkan jika seorang mantan wartawan yang tidak pernah berjibaku di dunia perlistrikan mendadak diangkat menjadi Dirut PLN.

Judul Buku         : Indonesia, Habis Gelap Terbitlah Terang: Kisah Inspiratif Dahlan Iskan
Penulis                  : Ishadi S.K. dkk.
Penerbit               : B-First (Bentang Pustaka, Yogyakarta).
Tahun                   : II , November 2011.
Tebal                    : xviii + 203 halaman.
 

Prasetya, Volume IV, No. 39, Maret 2012, hlm. 36