Siapa Airlangga?

Riwayat hidup Airlangga, dapat diketahui dari sebuah prasasti (batu bertulis) yang disebut “Batu Calcutta”. Disebut demikian, karena batu itu dibawa oleh Raffles dari Jawa dan kini disimpan di museum Calcutta.

AIRLANGGA0002Airlangga dilahirkan di Bali pada tahun 1000 Masehi. Ia dikenal sebagai putera dari Pangeran Udayana dan Ratit Mahendradatta yang memegang pemerintahan di pulau itu. Mahendradatta adalah ketu­runan ketiga dari Raja Sindok yang memerintah di Jawa Timur dari tahun 929 sampai tahun 949.

Bagan, silsilah Airlangga sebagai berikut:

1.Sindok

I

2.Isanatunggawijaya x Lokapala

I

3.Makutawangsawardana

I

4.Mahendradatta x Udayana

I

5.Airlangga

Air­langga adalah keturunan Sindok melalui dua orang ratu. Sejak kecil ia mendapat pelbagai pendidikan. Sebagai anak ksatria ia diasuhan kaum Brahmana memperoleh pelajaran agama, dari kaum cerdik pandai dipelajarinya ilmu-ilmu pengetahuan. Menjelang dewasa, ia dikenal sebagai pemuda yang ta’at beragama, tangkas menggunakan senjata dan berbudi luhur, tubuhnya kokoh perkasa, ia disegani kawan- kawan sebaya atau seperguruannya.

Namun ia tetap rendah hati, tidak sombong atau angkuh, terhadap orang tuanya ia sangat hormat dan kepada guru-gurunya ia sangat patuh. Sifat-sifatnya terpuji pemuda Airlangga yang gagah berani, tetapi rendah hati dan berbudi bahasa baik. Hal itu terdengar pula oleh Raja Dharmawangsa, yang bertakhta di Jawa Timur.

Dharmawangsa berkenan mengambil Airlangga sebagai menantunya. Raja Dharmawangsa bahkan mengharapkan Airlangga kelak menjadi penggantinya menduduki takhta di Jawa Timur. Maksud Dharma­wangsa untuk mempertemukan puterinya dengan Airlangga disambut dengan gembira oleh Pangeran Udayana. Lebih-lebih setelah dijelas- kan, bahwa Airlangga akan diangkat sebagai putera mahkota di Jawa Timur. Hal itu berarti akan lanjutnya keturunan Sindok dari wangsa Isana sebagai penguasa kerajaan?Sebagaimana telah dikatakan, dari fihak ibunya, Airlangga adalah keturunan Sindok. Dengan demikian hubungan kekeluargaan antara raja Jawa dan Bali tetap akan terpelihara baik.

Saat pernikahan antara Airlangga dengan puteri Dharma­wangsa berlangsung, tiba-tiba datanglah beberapa pengawal istana dengan terengah-engah menghampiri raja. Mereka memberitahukan tentang adanya serbuan musuh. Dan sekonyong-konyong berloncatanlah sejumlah pasukan musuh melewati perbentengan istana mereka menyerbu lawan yang tiada bersenjata. Perlawanan dapat dikatakan tidak ada, kecuali dari sejumlah kecil pasukan pengawal raja, tetapi inipun semua menemui ajalnya. Mereka memang tak mampu meng- hadapi pasukan musuh yang demikian besarnya. Maka serangan musuh itu berakibat penghancuran keraton dan seluruh pusat kerajaan Jawa Timur. Di tengah-tengah kegaduhan itu Raja Dharmawangsa mati terbunuh bersama-sama dengan sejumlah besar pembesar keraton lainnya. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1017 dikenal de­ngan nama “pralaya” atau pemusnahan.

Tentara musuh yang telah mendatangkan kehancuran keraton Jawa Timur, adalah tentara yang dipimpin oleh Raja Wurawari. Raja Wurawari adalah sekutu dari Raja Sriwijaya, sedangkan Kerajaan Sriwijaya merupakan musuh bebuyutan Dhar­mawangsa, serangan terhadap pusat kerajaan Dharmawangsa merupakan pembalasan dendam oleh Sri­wijaya.

Dharmawangsa maupun Sriwijaya berusaha merebut kedudukan utama di Nusantara. Peperangan telah berlangsung beberapa tahun lamanya. Beberapa saat tentara Dharmawangsa telah berhasil menduduki wilayah kekuasaan Sriwijaya di sebelah selatan Sumatera. Bahkan kekuasaan lautpun selama beberapa tahun beralih pula ke pemerintahan kerajaan Jawa Timur. Oleh sebab itu perhubungan Sriwijaya dengan negeri luar terputus sama sekali.

Raja Sriwijaya cukup cerdik ia tidak tinggal diam, dalam keadaan yang serba lemah, berbagai siasat direncanakan untuk dapat mengadakan pembalasan. Karena pembalasan langsung tidak memungkinkan, maka ia mengambil jalan lain. Dengan menjalin persekutuan dengan kerajaan Wurawari dari Jawa. Maka pembalasan itu baru menjadi kenyataan.

Serangan pembalasan itu bahkan mendatangkan malapetaka bagi kerajaan Jawa Timur. Keraton habis terbakar, ribuan orang meaemui ajalnya termasuk di antaranya Raja Dharmawangsa. Oleh karena itu kerajaan Jawa Timur runtuhlah seluruhnya. Dengan lenyapnya kekuasaan pusat, raja-raja hulu yang semula tunduk kepada Dharmawangsa sekarang memerdekakan diri. Mereka lebih senang berdiri sendiri dari pada terikat pada suatu kekuasaan lain. Maka muncullah kini sejumlah kerajaan kecil di wilayah bekas kerajaan Dharmawangsa dahulu. Itulah keadaan negara peninggalan Raja Dharmawangsa yang diwaris oleh Airlangga.

Tatkala terjadi penyerbuan, Airlangga bersama beberapa orang lainnya berhasil meloloskan diri. Pada waktu itu ia baru saja berusia 16 tahun. Dalam usia semuda itu belumlah ia berniat untuk melakukan Puputan (pertempuran habis-habisan). Airlangga bertekad untuk menyusun kekuatan dan merebut kembali kekuasaan. Bukankah ia adalah putera mahkota yang harus menggantikan Dharmawangsa?

Sementara itu Airlangga menantikan saat yang baik untuk memulai menjalankan rangkaian peperangan, bercita-cita hendak mempersatukan kembali seluruh kerajaannya?

Dengan ditemani sahabatnya yang paling setia, Narottama namanya, Airlangga melanjutkan perjalanan jauh ke pedalaman. Apakah daya seorang pengungsi meskipun ia seorang putera mahkota? Bebe­rapa tahun lamanya ia harus mengembara di hutan Wonogiri. Di sana ia hidup sebagai seorang pertapa dengan berpakaian, makan, minum sebagai pertapa pula. Dilatihnya pula berpuasa dan cara menahan hawa napsu. Dalam kesengsaraan yang serupa itulah, ia semakin meneguhkan hati dan menguatkan tekadnya “merebut kembali kerajaan Dharmawangsa”.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. Kosih Sastradinata.  Airlangga Hidup Dan Perjuangannya, Bandung, Pt.Sanggabuwana , 1976, hlm

Dharmawangsa

Kelanjutan kisah terdahulu, ternyata banyak raja-raja taklukan yang tidak bersedia mengakui kedaulatan Galuh Watu sebagai penerus syah kerajaan Mataram, yang telah musnah karena lahar Merapi. Oleh sebab itu raja Galuh Watu Shri Makutthawangsawardhana berkehendak akan menyatukan kembali para raja yang ingin terlepas dari kekuasaan Mataram Galuh Watu.

Sehubungan dengan itu, maka lamaran Shri Warmadewa raja Singhadwala dari Bali, yang ingin menikahkan putranya yang bernama Udhayana dengan putri Shri Maku tbawangsawardhana yang bernama Mahendradatta, diterima dengan senang hati.

Segeralah dilaksanakan upacara pernikahan atas kedua putra-putri raja tersebut. Watu selesai, temanten berdua diboyong ke keraton Singhadwala untuk dinobatkan sebagai raja di Bali. Shri baginda Makuthawangsawardhana sangat gembira mendengar bahwa putrinya telah dinobatkan sehagai raja di Singhadwala. Terasa agak longgar bebannya, sebab dapat dipastikan bahwa para raja di daerah timur tidak akan berusaha lepas dari kekuasaan Galuh Watu Mataram.

Mahendradbata – Udhayana, yang bernama Shri Erlangga. Pada waktu yang telah direncanakan, dilangsungkanlah pernikahan agung antara Shri Ishana Dharmapadni dengan Erlangga.Ternyata berlangsungnya pernikahan agung tersebut diterima dengan sakit hati oleh Shri Haji Wura Wari raja taklukan dari negeri Wura Wari Bang. Shri Haji W ura Wari merasa terhalangi maksudnya untuk mempersunting sekar kedaton. Hal itu berarti pula bahwa cita- citanya untuk menduduki singgasana Galuh Watudikelak kemudian hari juga gagal.

Oleh sebab itu. saat berlangsungnya pernikahan adalah saat yang tepat untuk membalas sakit hatinya. Lebih-lebih banyak para andalan yang ditugaskan ke negeri seberang lautan, maka tanpa pemberitahuan terlebih dahulu Shri Haji Wura Wuri dengan pasukannya menggempur kerajaan Mataram Galuh Watu. Shri Darmawangsa yang sama sekali tidak menduga datangnya musuh dari Wura Wuri, tidak siap menghadapi serangan yang demikian tiba-tiba. Pada akhirnya, karena jumlah pasukan penyerang jauh lebih banyak dibanding jumlah para pengawal istana, Shri Dharmawangsa pun gugur di medan laga.

Keraton Mataram Galuh Watu dibakar, sejauh mata memandang yang nampak adalah lautan api yang mengganas mengerikan memusnahkan segala tatanan kehidupan yang diatas bumi Galuh Watu. Hanya putra menantu raja Shri Erlangga dengan istrinya berhasil lolos dari kasatrian, masuk hutan belantara diiringi oleh seorang senopati kepercayaan yang bernama Mpu Narotama.

Demikianlah kisahnya apabila dirumuskan dalam untaian lagu dan tetembangan, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Asmaradana.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: RM. Budi Udjianto, HN. Banjaran Kadiri, Kediri: Pemerintah Kota Kediri, 2008

 

Raja Dharmawangsa dari Ponorogo?

Mungkinkah Raja Dharmawangsa berasal dari Ponorogo? Tanda tanya ini bergelayut di benar warga kota reog itu. Ini karena ditemukannya dua artefak yang diduga kuat peninggalan dari Kerajaan Medang semasa Raja Dharmawangsa.

Dua situs bersejarah itu ditemukan di Dusun Watu Dhukun, Desa Pager Ukir, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo. Artefak itu berbentuk mangkara dan linggajati (altar) besar yang terletak berdampingan.

Temuan ini cukup menggegerkan warga Ponorogo, karena Medang Kamulan adalah kerajaan penting di Jawa Timur yang pernah menguasai Kerajaan Sriwijaya di Palembang tahun 992 Masehi, jauh sebelum Singsosati dan Majapahit berdiri.

Menurut Aryo Putro,pemerhati sejarah dari Kediri yang meninjau situs tadi, tulisan pada kedua artefak itu memakai huruf Pallawa. Ia menduga, mangkara dan linggajati itu peninggalan Dharmawangsa ketika menyingkir ke Ponorogo karena bertempur melawan Kerajaan Wura-wuri di Sidoarjo, dekat Surabaya sekarang.

“Jadi, tempat ini merupakan tempat pelarian Airlangga sebelum menjadi raja. Dan tempat ini merupakan lokasi semediAirlangga hingga mendapat petunjuk untuk menjadiraja,” duga ia.

Meski dari situ diketahui bahwa Raja Dharmawangsa bukan berasal dari Ponorogo, toh penemuan itu dua artefak itu menunjukkan betapa pentingnya kota reog itu bagi Dharmawangsa, salah satu raja besar dari Jawa Timur. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi XXX April 2010, hlm. 49