Asal Usul Nama Ponorogo

Mengenai asal-usul nama Ponorogo sampai dengan saat penyusunan naskah ini belum ditemukandan diketahui secara pasti. Berikut kami sampaikan beberapa analisa dari berbagai sumber yang diperkirakan ada kaitannya atau kemiripannya dengan sebutan nama Ponorogo.

Berdasarkan Legenda

  1. Di dalam buku Babad Ponorogo yang ditulis oleh Poerwowidjojo diceriterakan bahwa asal-usul nama Ponorogo, bermula dari kesepakatan dalam musyawarah antara Raden Katong, Kyai Mirah, Seloadji, dan Joyodipo pada hari Jumat saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah Katongan sekarang). Di dalam musyawarah tersebut disepakati bahwa kota yang akan didirikan nanti dinamakan “Pramana Raga” akhirnya lama-kelamaan menjadi “Ponorogo”.
  2. Dari ceritera rakyat yang masih hidup di kalangan masyarakat terutama di kalangan genarasi tua, ada yang mengatakan bahwa nama Ponorogo kemungkinan berasal dari kata “Pono” = Wasis, pinter, mumpuni, mengerti benar. “Raga” = Jasmani, badan sakujur. Akhirnya menjadi Ponorogo.

 

Tinjauan Etimologi

Mengacu dari sumber-sumber ceritera di atas, jika ditinjau secara etimologi, akan kita dapatkan beberapa kemungkinan sebagai berikut:

  1. “Prama Raga” menjadi Panaraga.

Sebutan Pramana Raga terdiri dari dua kata yakni :

a. “Pramana” = Daya kekuatan, rahasia hidup, permono, wadi.
b. “Raga” = Badan, jasmani.

Dari penjabaran tersebut dapat ditafsirkan bahwa dibalik badan wadak manusia itu tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-srfat amarah, aluwamah, shufiah, dan muthmainah.

  1. Ngepenakake raga menjadi Panaraga

Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan dapat menempatkan diri di mana pun dan kapan pun berada. Akhirnya apa pun tafsirannya tentang Ponorogo dalam wujud seperti yang kita lihat sekarang ini adalah tetap “Ponorogo” sebagai kota yang kita cintai, kita pertahankan, dan kita lestarikan sebagai Kota Reog yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo.

Berdirinya Kadipaten Ponorogo

  1. Beberapa Sumber yang Berkaitan dengan Berdirinya Kadipaten Ponorogo

Ada dua sumber utama yang kami jadikan bahan kajian dalam menelusuri Hari Jadi Kadipaten Ponorogo yakni:

a. Sejarah Lokal Baik Legenda maupun Buku Babad.

Banyak ceritera yang berkembang di kalangan masyarakat dan bahkan ada yang telah ditulis di dalam buku babad dan Iain-Iain. Menurut babad maupun ceritera rakyat, pendiri Kadipaten Ponorogo ialah Raden Katong putra Brawijaya V raja Majapahit dengan putri Begelen. Diduga berdirinya Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV.

b. Bukti Peninggalan Benda-benda Purbakala.

Kebudayaan seseorang itu bersumber dari masyarakatnya, dalam arti konsentrasi tertinggi adalah basis alam dari kehidupan kebudayaan itu sendiri. Masyarakat Wengker menganut kepercayaan Hindu yang jelas berakulturasi dengan tradisi-tradisi yang berlaku saat itu.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peninggalan benda-benda purbakala antara lain:

  • Sebuah area Syiwa ;
  • Tiga buah area Durga ;
  • Lima buah area Ghanesa ;
  • Dua area Nandi;
  • Sebuah area Trimurti;
  • Dua area Mahakala sebagai Dwarapala ;
  • Sebuah Lingga;
  • Sebuah Yoni;
  • Sepasang Lingga Yoni;
  • Sembilan buah miniatur lumbung padi;
  • Area Gajah-Gajah Siwarata, kendaraan Bathara Indra berasal dari Timur;
  • Wisnoe berasal dari timur;
  • Ganesa-penunggu rumah dengan angka tahun 1355 saka = 1433 M ;
  • Umpak – terdapat di Pulung, dengan angka tahun 1336 saka = 1414 Masehi.. 31.
  • Sejumlah patung/ arca logam yang ditemukan di desa Kunti, Kecamatan Bungkal.

Disamping itu ditemukan pula peninggalan benda-benda purbakala di sekitar makam Bathoro Katong. Dari kompleks makam Ini diperoleh petunjuk angka tahun kapan kiranya Bathoro Katong mendirikan kadipaten Ponorogo. Di depan gapura pertama yang berdaun pintu atau gapura ke – 5, di sebelah utara dan selatan terdapat sepasang batu menyerupai tempat duduk yang menurut tradisi disebut Batu Gilang.

Pada batu tersebut tertukis candra sengkala memet dari belakang Ke depan berupa : manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah.

manusia = angka 1 ;
pohon = angka 4 ;
burung (garuda ) = angka 1 ;
gajah = angka 8.
Berdasarkan kajian itu, Tim Sembilan menyimpulkan candra sengkala memet pada Batu Gilang tersebut menunjukkan angka tahun 1418 Saka.

  1. Bathoro Katong Diwisuda

a. Figur Seorang Bathoro Katong.

Nama Bathoro Katong sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Ponorogo. Bahkan nama itu seakan sudah menyatu dengan nama kota Ponorogo. Menurut pendapat para sarjana, ceritera rakyat, dan buku-buku babad, Bathoro Katong adalah pendiri Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi Kabupaten Ponorogo. Hal itu sudah menjadi keyakinan masyarakat Ponorogo tanpa mempermasalahkan “siapa” dan “kapan” Bathoro Katong diwisuda sebagai adipati Ponorogo.

b. Kapan Bathoro Katong Diwisuda

Berdasarkan penelitian dan analisa sejarah dari berbagai sumber, terutama pengkajian terhadap peninggalan benda-benda purbakala yang berkaitan dengan masa pemerintahan Bathoro Katong, antara lain dapat kami sampaikan sebagai berikut:

  • Batu Bertulis Kucur Bathoro

Di Wilayah Kecamatan Ngebel ada lokasi/ tempat yang dinamakan Kucur Bathoro. Menurut Moh. Hari Soewarno, Kucur Bathoro itu diperkirakan tempat bersemedi Bathoro Katong pada saat akan memulai melaksanakan tugas di Bumi Wengker. Di tempat itu terdapat sebuah batu bertulis yang menunjukkan angka tahun 1482 Masehi.

  • Prasasti Batu Gilang di Makam Bathoro Katong.

Di Kompleks makam Bathoro Katong yaitu di depan gapura ke–5 terdapat sepasang batu yang disebut Batu Gilang oleh masyarakat Ponorogo. Pada Batu Gilang itu terlukis candra sengkala memet berupa gambar: manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah, yang melambangkan angka tahun 1418 Saka atau tahun 1496 Masehi. Batu Gilang itu berfungsi sebagai prasasti “penobatan” yang dianggap suci.

Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut, dengan menggunakan buku Handbook of Oriental History halaman 37, dapat ditemukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai adipati Kadipaten Ponorogo pada Ahad Peri. 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

3. Penetapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Di awali dengan tekat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo yang mendasarkan pada usulan masyarakat Ponorogo dan perintah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur agar setiap Daerah Tingkat II memiliki Hari Jadinya maka Bupati membentuk dan menugaskan Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo yang lebih dikenal dengan Tim Sembilan bekerja keras kurang lebih tiga bulan mengumpulkan bahan-bahan materi Hari Jadi maka pada tanggal 30 April 1996 diselenggarakan seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Hasil seminar menetapkan dan memutuskan hari, tanggal, dan tahun Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya untuk lebih memantapkan keputusan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo maka naskah hasil seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo diajukan kepada DPRD Tingkat II Ponorogo untuk mendapatkan persetujuan penatapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada hari Ahad Pon, tanggal 1 Besar tahun 1418 Saka atau tanggal 11 Agustus 1496 Masehi (1 Dzulhijjah 901 H.).

Atas dasar persetujuan DPRD Tingkat II Ponorogo, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo menetapkan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada Ahad Pon, 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

Sumber : Toebari, dkk. Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Ponorogo : Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Ponorogo. 1996. CB-D13/1996-19[30]

Asal Usul Nama Bondowoso

Sebuah nama pada hakikatnya terdiri dari dua aspek yaitu bentuk dan isi. Bentuk adalah ungkapan isi yang berupa bahasa lisan maupun tulisan. Sedangkan isi adalah maksud yang hendak dikemukakan. Bentuk dan isi hendaklah ada keserasian. Bagaimana wujudnya, begitulah maknanva. Oleh karena itu membahas sebuah nama tidak dapat dilepaskan dari dnjauan linguistik dan normatif.

Tinjauan secara linguistik membawa kita pada analisis secara etimologis, yaitu mencari makna sebuah kata berdasarkan asalusulnya dari kamus atau dari bahasa asalnya (asing). Di dalam ilmu bahasa, sebuah kata mengalami perkembangan; perubahan bunyi, bahkan perubahan arti, sehingga arti kata lama kadang-kadang jauh berbeda dengan arti yang muncul pada masa kini. Walaupun demikian perubahan bunyi dan arti itu masih dapat dipertanggungjawabkan cara linguistik (ilmu bahasa).

Tinjauan secara normatif adalah tinjauan yang bertitik tolak dari keinginan masyarakat pemakai bahasa yang hendak memberikan pesan-pesan nilai (norma) pada sebuah nama. Tujuannya bersifat edukatif-filosofis.

  1. Tinjauan secara Linguistik

Ada dua hal yang perlu diketahui, pertama, Kabupaten Bondowoso menempati suatu dataran tinggi yang dikelilingi gunung dan bukit, serta ditumbuhi hutan belukar, yang menurut penelitian Dinas Purbakala, menyimpan aset peninggalan zaman megalitikum. Konon daerah itu selama ribuan tahun tidak terjamah oleh sejarah. Kedua, baru pada permulaan abad ke-19 daerah itu dibuka dengan hadirnya seorang pionir, pemuka, serta pembabat hutan yang mengemban misi bupati untuk mengembangkan wilayah Besuki ke selatan. Ia mendapatkan sebuah dataran tinggi yang strategis untuk mendirikan kota guna mengendalikan pemerintahan di kelak kemudian hari. Orangitu adalah Raden Bagus Assrah (Mas Astrotruno), yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan Kiai Rangga Bondowoso.

Bertolak dari dua kenyataan tersebut, nama Bondowoso tidak dapat dipisahkan dari masalah hutan dan pembabatnya. Nama Bondowoso agaknya erat kaitannya dengan makna kata “Wanawasa” yang berarti “hutan belukar”. Di dalam Babad Bondowoso Pupuh X Pangkur, bait 12, terdapat kata wanawasa, bahkan pada bait 2 Pupuh X dipakai dua perkataan “Bandawasa” dan “wanawasa” secara berdampingan, sebagai berikut:

Bait 12:

“Lajeng marang ibunira/nuwun pamit
matur yen dinuteng aji/ambedhah wana-wasa gung/…”
(La/u (beliau) kepada ibunya, berpamitan
hendak diutus raja membuka hutan besar / …)

Bait 2:

… kuneng ing Bandawasa/ lagya wanawasa …
 (… Adapun di Bondowoso waktu itu masih berupa hutan belukar …)

 a. Analisis Secara Etimologis

 Di dalam kamus Jawa Bausastra Jawa karangan WJS Poerwadarminta, arti kata wanawasa adalah (a) berdiam di dalam hutan, dan (b) hutan besar (belukar). Disebutkan bahwa kata wanawasa itu berasal dari bahasa Sanskerta.

Dalam bahasa Jawa baru perkataan wana adalah bentuk bahasa “krama” dari kata “alas” (hutan). Sedangkan perkataan was atau wis adalah akar kata bahasa Sanskerta, yang berarti “masuk”. Jadi wana wasa berarti “masuk hutan”, bedah hutan, atau berkediaman di dalam hutan. Dalam perkembangan pemakaian selanjutnya, maknanya berubah menjadi objek yang dibabat, yaitu “hutan belukar” (arti kedua).

Pemakaian akar kata was atau wis yang berarti “masuk” itu, masih dapat kita temukan dengan bentuk akhiran -ma yang berarti “yang di” dalam bahasa kita. Misalnya:

Akar kata “wis” (masuk) + -ma berarti wisma (yang dimasuki, atau rumah).
Akar kata “kr” (kerja) + – ma berarti karma (yang dihasilkan, atau buah pekerjaan, wohe panggawe).
Akar kata “jan” (lahir) + – ma berarti janma (diucapkan jalma, berarti manusia, yaitu yang dilahirkan).

Perubahan dari perbuatan menjadi tujuan itu terdapat pula pada kata “korban” (Arab). Semula qaraba berarti “mendekat” atau “mendekatkan diri kepada Tuhan secara ikhlas”. Kemudian berubah makna menjadi “sapi atau kambing yang dikorbankan”. Perkataan “menyembelih korban” berarti “menyembelih sapi atau kambing untuk berkorban.”

b. Gejala Perubahan Bunyi

 Gejala perubahan bunyi adalah perubahan atau penambahan bunyi pada awal, tengah, atau pada akhir kata.

1) Perubahan bunyi pada awal kata:

Contoh perubahan bunyi w menjadi b pada awal kata. Dalam ilmu perbandingan bahasa banyak kita jumpai kata-kata bahasa daerah yang diawali bunyi b dan sedikit yang berawal bunyi w, bahkan bahasa Madura tidak memiliki kata yang diawali bunyi w. Otto Dempwelff menetapkan bahwa kata-kata yang diawali bunyi w adalah kata-kata purba. Kata-kata bahasa Jawa atau asing yang diawali bunyi w berubah menjadi b dalam bahasa Madura dan Indonesia (Melayu). Contoh:

Wulan (Jawa) menjadi bulan (Madura, Indonesia)
Woh (Jawa) menjadi bua (Madura), serta menjadi buah (Indonesia)
Watu (jawa) menjadi bato (Madura), serta menjadi batu (Indonesia)
Wulu (Jawa) menjadi bulu (Madura, Indonesia)

Atas dasar itulah maka nama-nama daerah di Bondowoso di-Madura-kan, misalnya:

Waringin menjadi Baringen
Wanasari menjadi Banasare
Wanasuka menjadi Banasoka

Demikianlah perkataan ivana ivasa itu berubah menjadi ivana basa.

2)  Penambahan bunyi di tengah

Untuk melancarkan pengucapan, acapkali terjadi tambahan bunyi sengau atau bunyi lain yang sedaerah artikulasi (dasar ucapan dalam rongga mulut sama). Contoh:

Makin menjadi mangkin
Masa (Indonesia) menjadi mangsa (Jawa)

Dalam ilmu bahasa gejala ini disebut epentesis. Contoh lain dengan bunyi d, sebagai berikut:

Akan aku menjadi akandaku
Akan ia menjadi akandia
Dengan aku menjadi dengandaku

Pada zaman Majapahit ada empu bernama Canakya. Akhirnya setiap orang terpelajar diberi gelar nama itu. Dari Canakya berubah menjadi cendekia. Di sebelah selatan Pal Sanga’ ada daerah pertanian yang pada zaman Belanda dinamai Binnen land (tanah pedalaman). Sekarang dikenal dengan nama Bendhellan.

Demikianlah dalam perkembangan kemudian, perkataan wana wasa berubah menjadi bana basa dan akhirnya diucapkan banda basa. Tetapi karena pengaruh tekanan kata, maka pengucapan empat suku itu tidak diucapkan lengkap, melainkan terdengar hanya tiga suku. Suku kata awal tak terucapkan. Tekanan jatuh pada suku ketiga dari akhir. Contoh:

Tegal batu diucapkan Galbato
Sumber suka diucapkan Bersoka
Empa’polo (40) diucapkan pa’polo
Pettong atos (700) diucapkan tong atos

Kata Bandabasa kemudian diucapkan Dabasa. Kata ini kemudian menjadi nama sebuah desa di selatan alun-alun Bandawasa. Atas dasar perubahan tekanan itulah, maka kata ulang dalam bahasa Madura tak diucapkan penuh, misalnya:

jalan-jalan menjadi lan-jalan
orang-orang menjadi reng-oreng
kanak-kanak menjadi na- kana’

 

  1. Ejaan Menuliskan Kata dengan Huruf Latin dan Caraka

Kata-kata semacam tangga, nangka, bandha jika dituliskan dengan huruf caraka menggunakan taling-tarung. Tetapi jika kata itu dibubuhi e atau ne, maka bunyi o taling-tarung itu berubah menjadi a. Karena itu penulisannya dengan huruf Latin tetap menggunakan huruf a. Contoh:

nangka menjadi nangkane
bangsa menjadi bangsane
kanca menjadi kancane
tangga menjadi tanggane

Agaknya ejaan tersebut tidak berlaku lagi bagi penulisan nama-nama kota, seperti Bondowoso, Purwokerto, Bojonegoro, Mojokerto, dan sebagainya, karena nama-nama kota, lembaga, orang, terikat oleh hukum. #wdp

——————————————————————————————-
Sumber:
Mashoed. H., 2004. Sejarah dan budaya Bondowoso. Surabaya : Papyrus