Putri Sedah Merah

Menelusuri Dongeng Rakyat Blambangan
Sampai saat ini di daerah Banyuwangi masih banyak dongeng rakyat yang hidup dan berkembang ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Pada umumnya dongeng rakyat atau cerita rakyat itu hanya berfungsi sebagai pelipur lara. Hal ini disebabkan ceritera atau dongeng rakyat bukan peristiwa sejarah murni, tegasnya ceritera rakyat tidak dapat dijadikan pedoman atau penetapan sesuatu hal yang penting, seperti: Penetapan Hari Jadi suatu kota atau daerah. Dalam kenyataan masyarakat di tanah air masih banyak yang awam dan berpola pikir tradisional yang lebih cenderung menonjolkan nilai-nilai mithologi dari pada nilai yang historisnya, sehingga sering mengkaburkan pemahaman mereka terhadap peristiwa sejarah yang sebenarnya, bahkan dapat mempengaruhi pandangan hidup sehingga dapat merugikan kepentingan masyarakat itu sendiri. Meskipun demikian, ceritera rakyat atau dongeng rakyat perlu dilestarikan dan dipertahankan guna menambah khasanah kebudayaan nasional kita, khususnya yang berlatar belakang pendidikan. Dongeng rakyat Putri Sedah Merah ini berkisar antara Mas Jolang Putri Sedah Merah yang dikaitkan dengan ceritera sejarah Kesultanan Mataram. Dalam hal ini sudah menunjukkan bahwa pengaruh Islam telah masuk di kerajaan Blambangan pada saat itu. Adapun dongeng rakyat “Putri Sedah Merah”, adalah sebagai berikut:

Pada saat itu Sultan Mataram sudah berulang kali mencoba untuk menaklukkan Kerajaan Blambangan, akan tetapi selalu mengalami kegagalan. Setelah Panembahan Senopati berhasil menaklukkan Blambangan, namun Sultan Mataram tidak menjadikan Kerajaan Blambangan sebgai daerah jajahannya. Panembahan Senopati sangat kagum akan kegigihan dan kesaktian Panglima Perang bersama para prajuritnya dalam membentengi Kerajaan Blambangan. Demikian pula Sri Sultan juga memuji kebijaksanaan raja Blambangan dalam membina angkatan perangnya. Itulah sebabnya Sultan Mataram tidak menganggap raja Blambangan sebagai taklukkannya, akan tetapi sebagai Sekutunya.

Pada saat Adipati Kinenten dari Pasuruhan mengadakan pemberontakan terhadap Mataram, secara tidak langsung Blambangan memberi bantuan kepada Pasuruhan. Hal itu menyebabkan Sultan Mataram marah serta memerintahkan Mas Jolang dan Ki Juru Martani mengerahkan pasukannya untuk menghukum dan menyerang Blambangan. Untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan Blambangan, Prabu Siung laut memerintahkan Patih Jatasura bersama adiknya, yakni Hario Bendung Adipati Asembagus mengerahkan pasukan Blambangan untuk menanggulangi serangan dari pasukan Mataram itu.

Dalam pertempuran yang cukup sengit, pasukan Mataram ternyata kewalahan menghadapi para prajurit Blambangan, bahkan Mas Jolang bersama Ki Juru Martani melarikan diri dari medan pertempuran. Senopati Blambangan yang berusaha mengejar dan menangkap kedua tokoh dari Mataram itu ternyata sia-sia. Dalam pelarian tersebut, Mas Jolang berhasil menyelinap dan bersembunyi di Tamansari. Di dalam tamansari itu Mas Jolang bertemu dengan Putri Sedah Merah yang akhirnya keduanya saling jatuh cinta, Kendati demikian ulah kesatria Maratam bersama putri Blambangan itu diketahui oleh keluarga istana, yang kemudian mas Jolang ditangkap, namun karena permohonannya Sang putri kepada raja, sehingga Prabu Siung Laut terpaksa merestui pernikahan Mas Jolang dengan putri Sedah Merah.

Dalam pelariannya Ki Juru Martani menuju ke arah Selatan sambil berteriak-teriak dan memanggil-manggil (bhs. Jawa: celuk-celuk), namun tidak ada jawaban, sedang usahanya mencapai Mas Jolang tidak berhasil. Menurut kisahnya, tempat Ki Juru Martani berteriak-teriak memanggil Mas Jolang itu dinamakan Desa Benculuk (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cluring, Banyuwangi). Sementara itu Patih Jatasura dalam mengejar musuh yang didampingi oleh salah seorang putra raja, yakni Mas Kembar. Untuk menjalankan tugasnya, secara tiba-tiba putra raja itu meninggal dunia. Hal itu menyebabkan Prabu Siung Laut sangat sedih, yang akhirnya terkena sakit ingatan (setengah gila).

Setelah Prabu Siung Laut sakit ingatan dan Mas Kembar mangkat, kesempatan itu akan dipergunakan Patih Jatasura untuk mempersunting Putri. Sedah Merah, karena Prabu Siung Laut pernah menjanjikan akan menjodohkan Patih Jatasura dengan putri Sedah Merah. Dalam hal ini Patih Jatasura segera masuk ke tamansari untuk menemui putri idaman hatinya. Betapa kecewa dan marahnya setelah menyaksikan dan mengetahui bahwa Putri Sedah Merah ternyata telah dipersunting oleh Mas Jolang yang tak lain adalah bekas musuh ayahanda raja. Dengan kemarahan yang meluap-luap Patih Jatasura menyerang dan berhasil membunuh Putri Sedah Merah. Sedangkan Mas Jolang berhasil menye­lamatkan diri bersama putranya (hasil perkawinannya dengan Putri Sedah Merah).

Patih Jatasura setelah membunuh Putri Sedah Merah menuju ke Asembagus menemui Hario Bendung dan membuat fitnah bahwa Putri Sedah Merah dibunuh oleh prajurit Mataram. Mendengar kematian Putri Sedah Merah, Adipati Asembagus naik pitam dan segera mengerahkan pasukannya bergerak menuju Blambangan guna menuntut balas atas kematian Putri Sedah Merah kepada prajurit Mataram. Pada waktu itu Hario Bendung bertemu dengan Ki Juru Martani dan Ki Juru Martani menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya bahwa yang membunuh Putri Sedah Merah adalah Patih Jatasura yang tak lain kakak Hario Bendung sendiri. Di samping itu Ki Juru Martani juga memberi tahu bahwa Hario Bendung sebenarnya masih putra keponakan Ki Juru Martani sendiri.

Setelah mendengar dan mengerti duduk persoalan yang sebenarnya dari pamannya dan menyadari kenyataan itu Hario Bendung berbalik meluapkan amarahnya kepada kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura. Sang Adipati kemudian bertekat untuk menghukum Ki Patih atas kekejamannya terhadap Putri Sedah Merah. Sedangkan pada saat Patih Jatasura ditemui Hario Bendung, Ki Patih Blambangan itu sedang memperkosa dan membunuh istri pamannya (Ki Juru Martani). Menyaksikan kenyataan itu Hario Bendung semakin meluapkan amarahnya dan terpaksa menghabisi nyawa kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura).

Kelanjutan cerita tersebut, mengisahkan bahwa antara Mas Jolang, Ki Juru Martani dan Hario Bendung ternyata saling menjaga hubungan yang cukup baik, bahkan putra Mas Jolang dijadikan menantu dan dijodohkan, dengan salah seorang putri Hario Bendung. Dengan demikian terjadilah jembatan untuk membina perdamaian antara Kesultanan, Mataram dan Kerajaan Blambangan, Mulai saat itu antara Kesultanan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah dan Kerajaan Blambangan yang berpusat di Jawa Timur terus bahu-membahu dan saling bekerja sama dalam mengatur pemerintahan serta membina rakyatnya.

Sebenarnya dongeng rakyat Blambangan, yakni Putri Sedah Merah dapat digolongkan sebagai “Roman Sejarah”. Hal ini mengingat di samping sebagaimana diketengahkan di muka bahwa dongeng rakyat Putri Sedah Merah itu dihubung-hubungkan dengan peristiwa di bumi Mataram, juga hubungan Putri Sedah Merah dengan Mas Jolang putra Mahkota Kesultanan Mataram ternyata merupakan hubungan asmara (percintaan).

Perihal roman sejarah sebenarnya merupakan gabungan ceritera historis yang sebenarnya (faktual) dan ceritera rekaan (dongeng rakyat). Dalam hal ini seyogyanya dipilah-pilahkan mana yang ceritera historis dan mana yang ceritera non historis, karena ceritera historis (faktual) memungkinkan sekali dijadikan sebagai pedoman untuk menetapkan sesuai hal yang penting, sedangkan yang non historis (dongeng rakyat) sebagaimana tersebut di atas pula hanya berfungsi sebagai hiburan atau pelipur lara.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Tri Asih Rahayu, Spd, Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 
GB No. 069/1997. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1997. hlm. 43-45.

Dongeng, Gending, Tembang dan Dolanan

Dongeng, dolanan serta berbagai amal kuitural yang dulu lekat dengan dunia anak-anak perlahan-lahan mulai sirna. Upaya pelestariannya harus dilakukan, karena media terse but sangat berfungsi untuk menumbuhkan sikap yang sesuai dengan kepribadian bangsa kita.

Bapak-bapak atau ibu-ibu yang kini berusia empat puluh atau lima puluhan, yang pada masa kanaknya tinggal di desa, pasti pernah mendengar nyanyian Tembang Dolanan Bocah berikut ini:

padang-padang bulan
ayo gage do dolanan
dolanane naning latar
ngalap padang gilar-gilar
nundung begog hangalikar …

Bapak dan ibu-ibu juga pasti masih ingat, bahwa pada setiap malam padang bulan banyak anak-anak yang menjawab seruan dalam  tembang tersebut dengan bermain jelungan atau jumpritan: beberapa orang anak berkumpul di halaman, atau entah di mana saja di tempat terbuka.

Mereka melakukan hompimpa, kemudian dilanjutkan dengan sut oleh dua orang yang kalah dalam hompimpa. Nah, yang kalah dalam sut  berarti harus jadi pemburu, sedangkan semua yang menang menjadi buron dalam arti positip.

Seorang pemburu statusnya bisa naik menjadi buron apabila dia berhasil ngenekno buruannya meskipun hanya dengan njawil sak slit. Tetapi, dalam perburuan itu ada aturan mainnya. Seorang buron tidak boleh diganggu gugat bila dia telah berpegang pada jitungan, yaitu sebuah pohon -atau entah apa saja- yang telah disepakati sebagai penclokan bagi para buron.

Tembang dan minan tersebut memang mainan untuk anak-anak usia SD. Karena sifatnya memang mainan, tak ada sangsinya bagi anak-anak yang tidak mengikutinya. Tetapi, semua anak pasti suka terhadap mainan atau dolanan tersebut. Dan, meskipun hanya dolanan, orang tua yang arif pasti menyuruh anaknya untuk mengikuti permainan tersebut. Paling tidak pada saat malam terang bulan mereka  mengajak anaknya ke halaman untuk menikmati indahnya malam pada saat sang rembulan bersinar purnama.

Kecuali orang-orang yang hatinya membatu, dengan menikmati indahnya sinar rembulan seseorang akan merasa teringat terhadap ke-Mahaagung-an dan ke-Mahabesar-an Allah. Atau, setidak-tidaknya mereka lega, karena malam tidak terus-menerus dalam keadaan gelap gulita. Dari kelegaan itu pasti kemudian tumbuh rasa syukur, dan dari rasa syukur itu timbul rasa eling atau ingat kepada Allah.

Karena yang menciptakan tembang tersebut adalah Waliyullah Sunan Giri, maka di dalamnya terkandung misi keIslaman. Maksud yang terkandung di dalam tembang tersebut ialah suatu pengingat bagi umat manusia bahwa agama Islam telah datang untuk memberi penerang hidup. Karena itu, marilah segera menuntut penghidupan dimuka bumi untuk mengambil manfaat ilmu agama Islam, agar segala kebodohan diri segera hilang.

Sedangkan di dalam jumpritan terkandung maksud bahwa apabila seseorang bahwa apa bila seseorang telah memiliki pegangan iman kepada Allah, maka dia akan selamat dari ancaman iblis.

Bapak-bapak atau ibu-ibu yang arif pasti merasa ada sesuatu yang hilang dari bagian kehidupannya, karena tembang serta dolanan tersebut telah lama lenyap dari lingkaran dunia anak-anak Indonesia (Jawa). Di tengah-tengah kehidupan anakanak kita sekarang memang banyak bermunculan nyanyian dan permainan-permainan baru. Tetapi, nilai edukatifnya sangat rendah, karena yang melatarbelakangi proses kreatifnya motivasi materi.

Hilangnya tembang serta dolanan tersebut adalah simbol dari memudarnya budaya-budaya dasar bangsa kita, karena terdesak oleh derasnya arus budaya asing yang kian gencar menyerbu wilayah kehidupan lahir batin kita. Sangat banyak budaya dan berbagai amal kultural kita yang hilang, salah satu di antaranya adalah dongeng.

Dongeng adalah bagian dari system pelaksanaan pendidikan yang sangat efektif. Melalui dongeng, seorang ibu atau bapak bisa membentuk karakter …. memasukkan doktrin, menanamkan akhlak, menumbuhkan keberanian, atau menumbuhkan semangat patriotisme, atau apa saja yang diinginkan orang tua terhadap anaknya. Sebutlah dongeng Si Kancil yang legendaris itu. Dengan mendongengkan Si Kancil, kita bisa menanamkan berbagai nilai dan sikap pada anak-anak kita.

Tetapi, betapa amat bodohnya kita, dongeng yang begitu efektif kita lupakan begitu saja. Anak-anak kita memang tidak akan kesepian tanpa mendengar dongeng, karena sepanjang hari mereka bisa menyaksikan film-film di televisi, mulai si hantu Casper sampai Ksatria Baja Hitam atau MacGyver. Tetapi, kita harus ingat bahwa film-film tersebut juga menimbulkan pengaruh buruk terhadap perkembangan jiwa anak-anak kita. MacGyver memang seorang hero yang selalu tampil pada saat-saat krisis. Namun ada bagian dari film-film tersebut yang bisa membangkitkan sifat destruktif pada anak-anak kita.

Kita harus tahu bahwa di dalam tembang, dolanan serta dongcng yang telah hilang itu terkandung maksud upaya penanaman nilai budaya bangsa kita yang identik dengan sifat-sifat atau budi pekerti yang luhur, alias akhlakul karimah.

Berbagai perubahan serta produk-produk pemikiran baru yang mengalir dari negara-negara barat memang harus kita terima, tapi harus disaring untuk diambil nilai baiknya saja. Anak-anak kita harus dipacu kreatifitasnya. Kedisiplinan serta etos kerjanya harus ditingkatkan. Mereka harus bisa berpikir dan berkreasi seperti orang-orang barat. Tetapi harus tetap berbudi pekerti luhur, yang Pancasilais religius.

Dalam hal ini mbah buyut kita jauh-jauh hari sudah mengingatkan. Melalui dunia pewayangan mereka menghadirkan tokoh Gatutkaca. Meskipun bisa terbang ke langit, Gatutkaca tetap Gatutkaca yang rnukanya selalu merunduk dan tawadhu’. Kita harus mencari ilmu sampai sundul langit, tapi harus tetap berkepribadian Indonesia.

Terjadinya krisis wawasan kebangsaan yang beberapa waktu lalu diributkan, salah satu faktor penyebabnya adalah karena kelengahan kita dalam mempertahankan sistem-sistem pendidikan atau pola-pola kehidupan yang khas Indonesia.

Anak-anak boleh bermain jazz atau rock. Tapi mereka juga harus diarahkan untuk mencintai gending, karena irama dalam gending bisa membangkitkan rasa andap asor, guyub, dinamis tapi tidak grusa-grusu.

 Sekali lagi, rasio kita harus dipacu agar kita bisa berkreasi seperti orang-orang barat. Tapi roso kita harus tetap rosa Indonesia, dan itu bisa dipertahankan melalui dongeng, tembang, gending serta berbagai amal kultural yang diwariskan oleh para leluhur kita.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: GEMA DELTA, AGUSTUS 1994, hlm. 39.

Kura-kura yang sombong

Cerita dari Relief-relief di komplek percandian Panataran yang telah diketahui jalan ceritanya seperti di bawah ini

Lokasi: dinding kolam berangka tahun, dinding sisi barat
Urutan adegan: dari kanan terus kekiri, letak panil hampir dibagian tengah dinding.
Cerita singkat:


Adalah dua ekor kura-kura di sebuah sungai yang hampir-hampir kering. Maklumlah sedang musimnya kemarau panjang.

Seekor burung belibis berusaha untuk menolongnya dengan menerbangkan kedua kura-kura itu ke sebuah telaga. Dengan bergantung pada masing-masing ujung cabang kayu yang digigit Oleh burung belibis kedua kura-kura itu berhasil dibawa terbang.

Sebelum diterbangkan burung belibis berpesan kepada kedua kura-kura itu untuk tidak berkata-kata sepanjang perjalanan. Namun amanat burung belibis itu dilanggar gara-gara tidak kuat menahan ejekan sekelompok serigala sewaktu melewati sebuah hutan.

Akibat menjawab ejekan mulut kedua kura-kura ini lepas dari cabang kayu yang digigitnya, Jatuh ke tanah dan menjadi santapan lezat kawanan serigala. (SOEYONO WISNOEWHARDONO)

Memperkenalkan Komplek Percandian Penataran di Blitar, KPN PURBAKALA MOJOKERTO, Mojokerto, 1995, hlm. 28

Lembu dan Buaya

Cerita dari Relief-relief yang ada di komplek percandian Panataran yang telah diketahui jalan ceritanya.

Lokasi: dinding kolam berangka tahun pada dinding bagian barat, juga terdapat pada bagian belakang arca dwaraphala bertahun 1269 Saka yang terletak di sebelah kanan tangga masuk bangunan candi induk sisi utara. Urutan adegan: dari kiri terus ke kanan

Cerita singkat
Seekor buaya tiba-tiba kerobohan sebatang pohon, untung berada di suatu tempat yang berlubang sehingga masih sempat menyelamatkan diri tidak sampai mati.

Seekor lembu jantan sedang lewat di depannya kemudian dimintainya pettolongan. Lembu jantan tidak keberatan dan berhasil mengangkat pohon yang tumbang tersebut.

Karena tempat buaya di lautan maka lembu jantan dimintanya untuk mengantarkannya. Setelah peljalanan sampai di tengah laut punuk (ponok, bonggal punggung) lembu digigitnya.

Terasa sakit teljadilah perkelahian . Lembujantan hampir kalah karena laut bukan alamnya. Datanglah kemudian kancil yang bertindak sebagai wasit perkara (tidak digambarkan dalam relief).

Buaya dikembalikan ke tempat semula scwaktu kerobohan pohan dan kemudian ditingg ikan scndirian. Buaya tinggal menunggu ajalnya saja. (SOEYONO WISNOEWHARDONO)

 

Memperkenalkan Komplek Percandian Penataran di Blitar, KPN PURBAKALA MOJOKERTO, Mojokerto, 1995, hlm. 19

Pemburu yang tertipu

Cerita dari Relief-relief yang ada di komplek percandian Panataran yang telah diketahui jalan ceritanya.

Lokasi: dinding sisi utara kolam berangka tahun dan juga di bagian belakang arca penjaga sebelah kiri tangga utara candi induk.

Urutan adegan : prasawya, dari kiri terus ke kanan, yang di bagian belakang arca dwaraphala candi induk hanya suatu adegan.

Cerita singkat
Seorang pemburu hampir menjelang senja pulang dari hutan dengan membawa hasil tangkapannya yang berupa seekor kura-kura.

Seekor kancil yang konon merupakan sahabat akrab kura-kura berusaha untuk menolongnya dengan memalingkan perhatian pemburu kepadanya.

Karena penasaran pemburu itu kemudian meletakkan hasil buruannya ketanah dan beralih mengejar kancil. Kura-kura berhasil meloloskan diri masuk semak-semak belukar.

Kancil larinya semakin kencang dan menghilang dalam hutan. Pemburu yang terkecoh oleh ulah kancil terpaksa pulang dengan tangan hampa. (SOEYONO  WISNOEWHARDONO)

Memperkenalkan Komplek Percandian Penataran di Blitar, KPN PURBAKALA MOJOKERTO, Mojokerto, 1995, hlm. 26

Iro Manggolo: Legenda

Iro Manggolo: Legenda (Panglima Perangnya Ponorogo)

Alkisah pada suatu masa, di sebelah barat Pegunungan Wilis wilayah yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Ponorogo terdapat sebuah kerajaan yang sangat berambisi menaklukkan Kerajaan Kediri yang letaknya di sebelah timur Pegunungan Wilis. Raja dari kerajaan ini menyusun berbagai macam cara dan strategi untuk menaklukkan Kerajaan Kediri yang sebenarnya merupakan kerajaaan yang juga tidak dapat diremehkan. Raja ini mengirimkan seorang Panglima Perangnya yang pilih tanding, cerdas dan sakti mandraguna yang bernama Iro Manggolo.

Sebelum berangkat  ke medan laga  panglima Iro Manggolo didoktrin oleh sang raja agar tidak pulang apabila tidak menuai kemenangan. Seranganpun mulai dilancarkan beratus-ratus prajurit dikerahkan untuk menaklukan Kerajaan Kediri, namun Kerajaan Kediri juga tidak tinggal diam, Kerajaan Kediri  juga memiliki Panglima Perang  yang pilih tanding menyusun rencana peperangan yang jauh lebih matang, berbagai gelar strategi peperangan dipertunjukan kepada musuh yang menyerang, mulai Gelar Supit Urang, Samudera Rob, Garuda Ngleyang dipertunjukkan. Gemuruh suara kereta perang dan pekik prajurit bergema setiap sudut peperangan. Sampai pada akhirnya kedua panglima ini bertemu dalam satu adu kesaktian. Dalam peperangan ini kedua panglima perang ini kedua panglima perang ini beradu dengan berbagai ilmu kesaktian dengan berbagai senjata pusaka, namun belum ada tanda-tanda kemenangan dari pihak manapun, peperangan berlangsung berhari-hari sampai pada suatu ketika panglima Perang Kediri memenangkan perang ini dan pasukan musuh kocar-kacir.

Panglima Iro Manggolo yang dikalahkan panglima Kerajaan Kediri tidak dibunuh dan diberi kesempatan untuk kembali ke kerajaannya. Karena merasa tidak dapat menunaikan tugasnya panglima Iro Manggolo mengasingkan diri (Mandhito) disalah satu lereng Pegunungan Wilis sampai akhir hayatnya. Untuk menghormati dan mengenang panglima ini masyarakat setempat secara turun menurun menamakan lokasi ini “IRONGGOLO” sesuai nama Panglima Perang yang dikalahkan oleh panglima perang Kerajaan Kediri.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Profil Kebudayaan Informasi Nilai-nilai Budaya dan Legenda Kabupaten Kediri. Disbudpar Kabupaten Kediri, Kabupaten Kediri, 2010. 

Legenda Tiban

Alkisah dahulu kala berkuasalah seorang raja yang memerintah dengan otoriter, apa yang harus dititahkan harus dilaksanakan, apa yang dikehendaki harus dituruti, apa yang diminta harus diberikan. Pepatah Jawa mengatakan “Kalau Raja berkata merah maka merahlah, sedang kalau raja berkata Hijau maka hijaulah”. Rakyat menurut segala perintahnya bukan karena kepatuhanya melainkan karena takut. Situasi yang demikian membawa Sang Raja untuk mendapat perlakuan yang lebih tinggi lagi, yaitu sang raja ingin diperDEWAkan oleh kawulanya. Demikian gambaran Raja Kediri yang menyebutnya KERTAJAYA. Wilayah kerajanKediripada waktu itu amatlah luas termasuk kademangan Ngimbang (Sekarang Ngadiluwih) yang mempunyai 4 kademangan yaitu: 1. Kademangan Ngimbang; 3. Kademangan Megalamat; 2. Kademangan Jimbun; 4. Kademangan Ceker.

Meskipun Kerajaan diperintah oleh sang Raja yang otoriter namun keadaan masyarakat Kediri dalam keadaan kemakmuran. Dalam segala persoalan selalu diselesaikan dengan sistem Gotong Royong setelah diadakan syukuran sebagai rasa ungkapan kegembiraan mereka pada kekuatan yang lebih tinggi, Super Natural. Warga masyarakat yang terlebih dahulu memungut panennya untuk dibagikan kepada tetangga lingkungannya agar dapat ikut bergembira, namun saying sekali kepribadian yang demikian ini tidak terpelihara, oleh pemimpin bahkan sang pemimpin ingin membawa dirinya agar kawulanya bahkan sang Brahmana pun diminta untuk menyembah dan mendewakan mereka. Kata orang Matahari berputar siang dan berganti malam walaupun malamnya dapat berganti siang.

Artinya keadaan didunia tidak kekal adanya yang semula kaya dapat juga pada waktunya menjadi miskin begitu pula semula gagah perkasa dapat menjadi lemah tak berdaya. Begitu pula gambaran Kerajaan Kediri yang semula dalam keadaan makmur, dimana-mana lumbung-lumbung desa tegak berdiri dengan penuh padi berangsur-angsur menjadi menipis dan cenderung menjadi kosong. Hal tersebut terjadi berlangsungnya musim kemarau yang sangat panjang.

Musim Kemarau berlangsung begitu lama mendominasi musim penghujan. Para petani menganggur di rumah karena sawahnya tak dapat diolah, tanahnya kering, padat dan pecah-pecah yang memang tidak mendapat pengairan dikarenakan sungai-sungai mengering, tanaman cenderung menjadi layu. Musim kemarau seakan-akan tidak berkesudahan. Segala daya upaya sudah diusahakan untuk mendapatkan air. Sumber-sumber telah diperdalam namun belum dapat untuk memenuhi kebutuhan pengairan. Air-air tersebut hanya dapat mengatasi kebutuhan minum dan kebutuhan dapur.

Rakyat Semakin Gelisah, dalam suasana terjepit inilah para Demang minta persetujuan Kerajaan Kediri untuk mengumpulkan rakyatnya diajak musyawarah dalam menanggulangi musin kemarau yang panjang tersebut. Demikian pertemuan yang dipimpin oleh pinisepuh atas beberapa usul saran dan pendapat telah mufakat bahwa musim kemarau yang berlangsung panjang tersebut merupakan kutukan kepada manusia atas ketidakpercayaan dan ketidaktakwaan terhadap kekuatan yang lebih tinggi tersebut. Oleh sebab itu untuk menebus kutukan tersebut adalah permohonan ampun kepada kekuatan supra-natural tersebut. Rakyat Ngimbang dengan sisa hartanya sedikit diberikan untuk digunakan sebagai syarat pelaksanaan Upacara Adat yang disebut Tiban. Rakyat kemudian berkomunikasi dengan kekuatan super natural. Petani yang memiliki lembu dalam jumlah yang besar membawa pecutnya sebagai lambang kekayaanya.

Upacara berlangsung dengan menyiksa diri dan berjemur di panas terik. Sarana yang demikian dirasa belum dapat berkomunikasi dengan kekuatan super natural tadi, maka penyiksaan diri tersebut muncul dengan menggunakan pecut yang terbuat dari Sodo Aren. Saling mencambuk diantaranya secara bergiliran. Sudah barang tentu dalam permainan ini banyak cucuran darah, karena kekhusukannya maka segala yang diderita tidak terasa. Dalam suasana religi inilah kemudian turun hujan yang tidak pada musimnya.

Hujan yang semacam inilah yang dinamakan Hujan Tiban. Bagaimana kegembiraan rakyat Ngimbang beserta Pinisepuh tidak dapat digambarkan, bersyukurlah mereka atas Rahmat-Nya. Pada keesokan harinya ramailah di sawah-sawah atau Tegal-tegal dimana para petani untuk pertama menaburkan benihnya. Demikian kejadian itu yang kemudian diikuti untuk musim-musim kemarau berikutnya mengadakan Upacara Tiban dengan harapan turunnya hujan. Pada akhirnya upacara ini terus berlangsung sampai kini meskipun telah beralih fungsi yang semula sebagai media religi berubah menjadi suatu permainan rakyat yang dikenalkan setahun sekali dalam rangka menyonsong tahun baru jawa (1 SURO).

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Profil Kebudayaan Informasi Nilai-nilai Budaya dan Legenda Kabupaten Kediri. Disbudpar Kabupaten Kediri, Kabupaten Kediri, 2010. 


Legenda Gunung Kelud

Pada zaman dahulu alkisah Senapati Buto Locaya memiliki dua  rang anak yang bernama Joko Lodro dan Singo Lodro. Ketika Joko Lodro berusia 10 tahun dan Singo Lodro berusia 6 tahun telah ditinggal ibunya untuk menghadap Yang Kuasa, maka dicelah-celah kesibukan Senopati Buto Locayo ini dengan sabar dan semangat mendidik kedua putranya hingga dewasa dengan menurunkan ilmu-ilmu kesaktian dan kanuragan yang masing-masing mewarisi ilmu Handoko Kurdo dan ilmu Banteng Amuk.

Mengingat kesibukan ayahnya dalam mendampingi Maha Patih Narotama, Senopati Buto Locayo tidak mengawasi anaknya secara ketat sehingga anak tersebut berulah berbuat onar dimasyarakat yang sampai terdengar oleh Prabhu Erlangga. Dengan kejadian ini marahlah Senopati Buto Locayo pada kedua anaknya yang disabdakan jadi mirip seekor macan dan seekor kerbau dan kemudian disuruh pergi ke arah barat tak boleh barada di Kahuripan. Lambat  laun kedua pemuda ini membuat daerah sendiri yang diberi nama Bandarangin dimana Joko Lodro bergelar Mahesosuro dan Singo Lodro bergelar Jatasuro. Mahesuro mendengar bahwa di Dahanapura ada seorang yang cantik jelita, kemudian menyuruh adiknya untuk melamarkannya. Ketika adiknya datang ke Dahanapura melihat kecantikan Dewi Kilisuci, Jatasuro berbalik hati.

Oleh karena itu ia mempunyai niat untuk mempersuntingnya sendiri dengan membunuh Mahesasura, kakaknya sendiri. Setelah niatnya berhasil, Dewi Kilisuci memberi syarat agar dibuatkan sumur dibukit Kelud sampai keluar airnya dan diselesaikan sebelum fajar tiba.

Patih Pujanggeleng dan Dewi Kilisuci datang untuk memeriksa hasilnya, kemudian sang patih bersiasat untuk membawa prajurit yang telah siap membawa daun-daun kelor dan tombak-tombak kelor bersiaga di dekat sumur tersebut ketika telah dekat sumur. Patih Pujanggeleng memasukkan boneka mirip Dewi Kilisuci ke dalam sumur, tanpa pikir panjang Jatasura langsung menolongnya sebab ia khawatir jatuhnya sang Dewi dapat meninggal karena benturan batu yang ada di dalam sumur.

Tak lama kemudian ribuan prajurit memasukan daun kelor dan tombak-tombak kelor beserta batu-batuan ke dalam sumur tersebut sampai penuh, dan akhirnya tamatlah riwayat Jatasura dengan mengeluarkan sesumbar: “Yoh wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping yoiku, Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi Latar, Tulung Agung Bakal dadi kedhung” Dengan tumpukan batu-batuan yang menggunung inilah kemudian masyarakat menamakan tempat ini menjadi sebuah Gunung Kelud.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Panduan Obyek Wisata di Kabupaten Kediri. Kantor Parsenibud Kabupaten Kediri, Kabupaten Kediri, 2010.