Tenun Ikat "Ud. Al-Arif" Desa Wedani Gresik

Gresik dikenal sebagai kota santri karena selain sebagai pusat penghasil songkok juga merupakan penghasil sarung tenun yang menjadi simbol identitas kaum santri. Kabupaten Gresik memiliki cukup banyak pondok pesantren yang kemudian menjadikan bisnis tersendiri bagi masyarakatnya, utamanya bisnis dalam bentuk kerajinan sarung. Di Kabupaten Gresik, sentra penghasil sarung tenun tradisional banyak tersebar di Kecamatan Cerme dan Benjeng. Salah satu usaha sarung tenun yang ada di Kecamatan Cerme adalah UD. Al-Arif milik Tasripin. UD. Al-Arif berdiri tahun 1989, terletak di desa Wedani RT 03/ RW 01 Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik. UD. Al-Arif merupakan usaha kerajinan tenun terbesar di desa Wedani dan sampai sekarang masih tetap bertahan dengan mempekerjakan 162 orang. Produk yang dihasilkan berupa sarung dan proses penenunannya masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Motif yang diterapkan meliputi 3 motif utama, 10 motif tambahan, tumpal, motif timbul, dan motif pinggiran. Warna sarung yang diproduksi bervariasi yaitu hijau tua, hijau muda, hijau pandan, cokelat, kuning, orange, merah muda, dan ungu. Pembuatan sarung dilakukan dengan teknik tenun ikat pakan, ditunjukkan dengan dilakukannya proses pengolahan benang pakan yang dimotif terlebih dahulu sebelum ditenun sedangkan benang lungsi tidak dimotif.

  1. Al-Arif Gresik binaan PT. Telkom juga pernah menjadi pemenang ke 2 Semen Gresik UKM AWARD 2011 dalam kategori penyerapan tenaga kerja. Perkembangan kerajianan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) di UD. Al-Arif ini pesat hingga sekarang dan berpengaruh besar terhadap masyarakat desa itu sendiri dan daerah sekitar Wedani. Hal tersebut membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa khususnya.

 Awal mula berdirinya UD. Al-Arif 

Awalnya Tasripin pemilik UD. Al-Arif berkeinginan untuk memiliki usaha tenun karena melihat belum banyak orang yang memiliki keahlian dan menggeluti usaha tenun. Berbekal tekad yang kuat tersebut, Tasripin belajar menenun dan memahami ciri khas sarung tenun yang ada di Gresik. Awalnya Tasripin membeli satu sarung tenun untuk melihat motif yang ada pada sarung khas Gresik. Setelah itu meminjam alat tenun dan satu benang boom dari temannya karena belum memiliki modal untuk membeli sendiri. Terdorong keinginan memiliki usaha sendiri, pada tahun 1978 Tasripin mulai merintis usaha kerajinan sarung tenun. Tahun 1989 usaha kerajinan tersebut diberinama UD. Al-Arif, terletak di desa Wedani RT 03/ RW 01 Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik.

 Proses Pembuatan Kerajinan Tenun Ikat di UD. Al-Arif 

Keseluruhan proses pembuatan sarung tenun di UD. Al-Arif menggunakan tenaga manusia, mulai dari proses penyiapan benang sampai proses penenunan sarung yang masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

  1. Al-Arif menerapkan teknik tenun ikat pakan untuk membuat sarung. Penerapan teknik ikat pakan terlihat pada proses penyiapan benang lungsi (boom) dan benang pakan (corak). Benang pakan diberi corak terlebih dahulu dengan membentuk motif tertentu kemudian diikat dengan tali rafia dan dicelup pewarna untuk memberi warna pada bagian yang tidak bermotif. Adapun benang lungsi (boom) langsung dicelup ke pewarna, tanpa dicorak terlebih dahulu. Benang pakan (corak) yang siap ditenun dililitkan dipalet kemudian diletakkan di dalam teropong, sedangkan benang lungsi (boom) berada pada boom.

 Motif dan Warna Sarung Tenun di UD. Al-Arif 

  1. Al-Arif memiliki 3 motif utama, 10 motif tambahan, dan 2 motif timbul. Tiga motif utama yaitu motif Gunungan, Kotak, dan Kembang Mustamin, sedangkan motif tambahan berupa Tumpal (kepala sarung), motif Pinggiran, motif Segitiga, motif Wajik, Kembang Mawar, Gunungan berukuran kecil, dan motif kembangan lainnya. Pada awal berdiri UD. Al-Arif hanya membuat sarung dengan warna hijau tua dan cokelat. Sarung dengan warna hijau tua adalah produk unggulan UD. Al-Arif karena tidak semua perajin bisa membuat sarung dengan warna tersebut. Seiring berkembangnya selera masyarakat maka UD. Al-Arif membuat sarung dengan beragam warna yaitu hijau muda, hijau pandan, orange, merah muda, kuning, dan ungu.

 Menyimak ulasan diatas diharapkan semua pihak bekerja sama dan saling membantu dalam hal apapun yaitu:

  1. a) Perajin, Meski hanya dengan tiga motif utama sebagai motif andalan, Tasripin selaku pemilik UD. Al-Arif perlu melakukan pendokumentasian produk sarung hasil produksi sejak awal hingga perkembangannya. Hal itu bertujuan untuk memudahkan jika ada pemesan atau pembeli yang ingin melihat atau memesan sarung yang dahulu pernah dibuat, serta untuk memudahkan pendataan.
  2. b) Pemerintah: Hendaknya selalu memberikan dukungan baik moral maupun material. Pembinaan dan kerjasama dalam hal pemasaran, pengembangan desain, dan lainlain, perlu terus diberikan agar usaha tenun bisa meningkat.
  3. c) Pendidikan: Hendaknya melakukan kegiatan pengabdian berupa pengembangan desain maupun pemasaran.

——————————————————————————————-
Dari:
Jurnal Pendidikan Seni Rupa,Volume 3 Nomor 2 Tahun 2015, 196-202
Fatmawati Trikusuma Wardhani, Fera Ratyaningrum, S.Pd., M.Pd.
Tinjauan Kerajinan Tenun Ikat Di Ud. Al-Arif Desa Wedani Gresik
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya

Batik Ndulit Sisik Bandeng Khas Gresik.

motip-batik-ndulit-sisikGresik ternyata juga memiliki Ikon batik dengan motif lokal khas daerah yang dinamakan “Batik Ndulit Sisik Bandeng Khas Gresik”. namun batik khas Gresik ini belum belem banyak diketahui masyarakat seperti daerah perbatikan pesisiran yang lain di kabupaten/kota di Jawa Timur. Sesuai dengan wilayahnya Gresik keberadaannya di wilayah pesisir utara Jawa Timur, sehingga para perajin batik lokal di Gresik dalam membuat batik mengikuti gaya dan pakem khas pesisir utara Jawa Timur. Ikon batik Gresik dengan motif lokal khas daerah di Gresik sekarang ini banyak bermunculan. Salah satunya adalah batik ndulit sisik bandeng khas Gresik.

Batik ndulit sisik bandeng ini ternyata sudah lama berkiprah di Jawa Timur, diperkirakan sejak akhir tahun 2010,  Usaha kecil menengah (UKM) ini, dikelola oleh Ibu Siti Zainubah Budiarty yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan panggilan akrab Bu Arti. Beliau mendirikan tempat usaha pembatikannya di Jalan Magetan Kecamatan Kebomas, Kompleks Perumahan Gresik Kota Baru.

Tergerak untuk melestarikan, meneruskan dan menjaga kekayaan budaya yang penuh dengan nilai seni dan pesan luhur. Keyakinan akan membuat sebuah karya batik leluhur merupakan proses panjang sebuah perenungan, penghayatan, pengamatan, termasuk peleburan jiwa kepada Sang Pencipta.  Satu tradisi warisan Walisongo yang hingga kini masih dilestarikan. Yaitu tradisi menggelar “Pasar Bandeng”. Tradisi ini pertama kali diadakan oleh Kanjeng Sunan Giri, hingga kini, masyarakat Gresik masih melestarikan warisan Kanjeng Sunan Giri yaitu dengan menjual kue Pudak dan penyelenggaraan “Pasar Bandeng”.  “Pasar Bandeng” digelar pada dua malam terakhir sebelum takbiran. Dengan ringkas cerita budaya masyarakat Gresik, maka Bu Arti menuangkannya dalam batik dulit khas Gresik, motif “SISIK BANDENG”.

Aktivitas produksi batik ndulit sisik bandeng kelolaan Bu Arti ini selalu ramai dari pesanan, meningkatnya pesanan terhadap batik lokal seperti batik Gresik ini, disebabkan peminat batik mulai melirik motif khas budaya lokal. Sehingga batik dulit Sisik Bandeng yang merupakan ikon baru batik khas kota Gresik, makin bersinar di tengah gempuran produk-produk dari negara lain. Batik dengan motif mengangkat produk lokal seperti sisik ikan bandeng, justeru makin diminati, karena mempertahankan nuansa tradisional. Tanpa bahan baku kimia,  menggunakan bahan pewarna alami yang disapat dari bagian tanaman yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumah.

Batik motip sisik bandeng yang kini menjadi salah satu ikon baru batik lokal khas Gresik, selain motipnya yang mengangkat ciri khas batik Gresik dan tetap mempertahankan nuansa tradisional, pewarnaan kain batik ini masih tetap mempertahankan pewarnaan alami tanpa menggunakan bahan kimia. Bahan pewarna alami tersebut didapat dari tumbuhan yang ada di wilayah Gresik seperti; daun jati, daun sirih, daun kenikir dan daun jambu. Dengan pewarnaan alami ini sehingga batik ndulit yang dihasilkan pun lebih natural dengan corak khas sisik bandeng. Terobosan ini, sengaja dilakukan agar kualitas produknya makin terjaga. Dengan bahan alamiah ini, produk batik buatanya, tidak menimbulkan alergi pada pemakai, dan nyaman dipakai oleh setiap orang.

Batik ini Dinamakan batik ndulit karena proses pewarnaannya dengan cara di dulit atau dioleskan dengan menggunakan kanvas dari batang rotan. Sementara inovasi penggunaan motif lokal sisik ikan bandeng diambil karena Gresik merupakan salah satu sentra penghasil ikan bandeng yang sudah cukup lama dikenal masyarakat pesisir utara Jawa Timur khususnya warga Surabaya dan sekitarnya. Batik dulit sisik bandeng yang merupakan salah satu produk batik unggulan, karya tangan terampilnya, yang kini mulai disuka warga. Sama dengan produk batik lainnya, pembuatan batik ndulit sisik bandeng ini pun diawali dengan pembuatan desain di atas kain putih dan dilanjutkan dengan proses canting.

  • Deasain, proses melukis dengan pensil pada lembaran kain putih polos, dengan cara menjiplak pola yang sudah ada
  • Nyanting, proses menorehkan malam atau lilin dengan menggunakan canting mengikuti pola batik/alur coretan pensil sisik bandeng yang terlukis di atas kain putih.
  • Ndulit, proses memberi warna motif desain dengan menggunakan kanvas dari rotan.
  • Nembok, proses menutup warna yang telah ditorehkan pada motif sisik bandeng, dengan menggunakan malam atau lilin.
  • Nglorot, proses menghilangkan malam dengan cara dicelupkan di dalam jambangan berisi air panas mendidih.
  • Selanjutnya proses pewarnaan total, selesai proses nglorot lalu kain dicuci bersih kemudian dicelup pada pewarna dan kemudian dikeringkan, dengan jalan hanya sekedar diangin-anginkan dihindarkan dari terpaan sinar matahari secara langsung, dengan maksud untuk menghindari warna tidak luntur dan tetap alami.

Batik ndulit sisik bandeng khas Gresik ini dijual dengan harga bervariasi tergantung kualitas kain. Batik ndulit sisik bandeng sudah mulai dipasarkan di beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur bahkan tersebar di kotakota besar Pulau Jawa. Di tengah kesuksesan memperkenalkan produk batik lokal khas daerah Gresik ini, demi kelangsungan usahanya sebagai usaha kecil menengah (UKM) Bu Arty… berharap adanya dukungan berbagai segi dari pemerintah daerah setempat.

Kegiatan kami ini juga merupakan  kegiatan  informasi, webblog ini sudah terbaca 155 negara semoga terebantu!

Suber:

By Arty – Griya Batik Gresik

Lontong Rumo Gresik

Gresik memang asyik. Banyak wisata di sana, mulai wisata budaya, agama hingga kulinernya yang’aneh-aneh’. Tapi berbicara kuliner Gresik, orang pasti tertuju pada nasi krawu. Padahal nasi krawu merupakan buah karya perantauan dari tanah Madura. Justru yang khas Gresik adalah lontong rumo atau sega rumo, walau keberadaannya bisa dihitung dengan jari.

Lontong Rumo Gresik.docx0001SEGA rumo sesuai nama asal- nya merupakan makanan khas dari Desa Roomo atau Rumo. Sebuah desa di kawasan Ke- camatan Manyar, sekitar 5 km dari pusat kota Gresik ke arah Mariyar. Dulu desa tersebut banyaktambak bandeng dan tambakgaram, tapi sekarang Desa Rumo menjadi kawasan pabrik.

Konon, ada perempuan yang kesu- sahan memenuhi kebutuhan hidupnya. Lalu atas saran seorang sakti, dia disuruh berjualan. Dia mengambil bahan-bahan yang ada di dapurnya, lalu mengolah dan menjualnya dengan berkeliling kampung sambil berteriak, “Lontong RomoJ!” Sejak itulah makanan ini terkenal.

Lontong Rumo Gresik.docx0004“Makanan ini sudah tidak asing lagi di lidah saya, zaman masih kecil, ini merupak­an menu favorit untulcsarapan. Dulu selalu ada di pagi hari mulai pukul 05.30 sampai sekitar pukul 10.00. Harganya pun murah meriah, zaman tahun 1990-an, hanya Rp 250,- dan itu bikin kenyang/’ungkap lelaki paruh baya yang mengaku bernama Cumi.

Makanan sega rumo ini bisa dibilang mirip buburtapi bukan bubur, karena bisa disajikan dengan lontong atau nasi. Ben- tukfisik makanan ini berupa nasi/ lontong yang ditaruh di atas pincuk daun pisang, lalu di atasnya ditaruh sayur kucuk (sejenis kangkung yang tumbuh di sawah) dan disiram dengan bubur berwarna coklat kemerahan. Saat ini sangat sulit untuk me- nemukan sayur kucuk, sehingga banyak penjual lontong rumo menggantinya dengan daun sirigkong.

Lontong Rumo Gresik.docx0003Kekhasan makanan ini adalah bubur penyiram lontong/nasi. Bubur ini dibuat dari tepung beras, santan kelapa, tumbukan udang, cabai merah, bawang dan rempah-rempah lainnya. Warna merah bisa jadi karena daging udang dan cabai merah yang menjadi bumbu utama. Sebagai pelengkap di atasnya ditaburi kelapa sangrai dan keru- puk rambak yang sudah diremas.

Menemukan makanan ini gampang-gampang susah karena sistem penjualan- nya yang nomaden dan dijual hanya pada pagi dan sore hari. Kebanyakan penjual lontong rumo ini biasanya berkeliling ke kampung-kampung, dan sedikit sekali yang menetap di satu tempat. Ada juga yang menjajakannya di pinggir jalan, lesehan di selasar toko atau di ujung gang.

Lontong Rumo Gresik.docx0002Meskipun begitu, saat ini cukup sulit mencari sega rumo di tempat asalnya. Pasalnya, penjualnya pun kini bisa dihitung dengan jari.Tapi jangan khawatir, tak hanya di Desa Romo, sego rumo juga banyakdijajakan di belakang PasarGresik. Tepatnya di Desa Sukodono, Pasar Gresik Kota. Bagi anda yang kebetulan mampir ke Gresik, sego rumo bisa jadi salah satu alternatif menu yang patut dicoba. Selain harganya yang murah sekitar Rp 5.000 sampai Rp. 6.000 perpincuk-anda juga tidakakan menemukan menu semacam ini di tempat lain, kecuali Gresik. (ati)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah PUSPA Edisi 35, Desember 2013, halaman42

Sunan Giri, Gresik

Al-Kisah Prabu Brawijaya V penguasa kerajaan Majapahit diserbu oleh Prabu Girindrawardhana dari Kediri. Prabu Brawi­jaya gugur dalam pertempuran sengit mempertahankan ibukota Majapahit. Sementara itu Ratu Dwarawati mengungsi ke Ampel­denta.

Karena penguasa Majapahit yang sah telah tiada, sedang Prabu Girindrawardhana dari Kediri bukanlah dari keturunan Raden Wijaya pendiri Majapahit, maka Sunan Giri memproklamasikan daerah bukit Giri sebagai kerajaan yang berdaulat. Kabar itu terdengar pula oleh Prabu Girindrawardhana. Sang Prabu kemudian mengirimkan dua senopati Telik Sandi yang telah terlatih untuk datang ke bukit Giri untuk membunuh Sunan Giri.

Kedua Senopati itu ialah Lembusura dan Keboarja. Keduanya memiliki kesaktian tinggi dan berpengalaman dalam tugas-tugas rahasia menumpas musuh negara. Keduanya segera berangkat ke Giri Kedaton atau kerajaan Giri. Untuk memasuki keraton Giri keduanya membutuhkan waktu yang lama. Mereka harus memperoleh keterangan- keterangan lengkap mengenai kebiasaan Sunan Giri. Untuk itu keduanya menyamar sebagai penduduk biasa dan bertanya kepada para santri tentang kebiasaan Sunan Giri.

Pada suatu malam, setelah memperoleh cukup data, kedua Senopati pilihan itu telah berhasil menyusup ke wilayah Giri Kedaton. Keduanya bersembunyi di sebuah kolam yang biasa dipergunakan Sunan Giri untuk mengambil air wudhu guna melaksanakan sholat Tahajjud. Langkah beliau terhenti manakala melihat dua orang menghadangnya di tepi kolam. Senopati Lembusura dan Keboarja telah siap dengan keris terhunus. Tapi sungguh aneh, kedua Senopati itu mendadak tubuhnya menggigil ketakutan. Ada perbawa agung yang keluar dari pribadi Sunan Giri. Perbawa aneh yang melumpuhkan otot dan tulang- tulang mereka.

‘Kalian ini mau apa?’, tanya Sunan Giri.

Aneh, Keboarja sedianya hendak berbohong tapi justru lidahnya mengatakan hal yang sebenarnya, demikian pula Lembusura.

‘Kami adalah utusan Prabu Girindrawardana yang ditugaskan untuk membunuh Andika’, jawab keduanya dengan gemetar .

“Kalau begitu laksanakanlah’, ujar Sunan Giri dengan tenangnya.

“Am….ampun Kanjeng Sunan….tubuh kami gemetaran, kami merasa takut kepada Andika. Mohon ampun….kami mohon jangan dibunuh’.

‘Lho?. Kalian ini aneh. Bukankah kalian bermaksud membunuhku?. Mengapa justru kalian yang takut kepadaku’, tanya Sunan Giri

‘Kak….kami.. .mohon ampun….’, kata kedua Senopati itu tersendat- sendat.

‘Baiklah, kalian sebaiknya pulang ke Majapahit.Beritahukan hal ini kepada rajamu’, kata Sunan Giri.

Dengan hati lega kedua orang itu segera ambil langkah seribu, berlari menuju kota raja Majapahit. Prabu Girindrawardhana heran melihat kedua Senopati yang sangat diandalkan itu lari terbirit-birit bagai dikejar hantu. Lebih heran lagi manakala mendengar penuturan pengalaman keduanya saat berada di Giri Kedaton.

‘Gila !’, pekik Prabu Girindrawardhana. ‘Sudah di hadapan orangnya kalian ternyata tak mampu membunuhnya?’

‘Beb…benar, Gusti Prabu….tubuh kami gemetar. Kami merasa ketakutan teramat sangat’

‘Aneh ? Benar-benar aneh….’gumam Prabu Girindrawardhana.

Tapi usaha sang Prabu tidak berhenti sampai di situ saja. Segera sesudah mendengar laporan Lembusura dan Keboarja sang Prabu memerintahkan Mahapatih Majapahit untuk mengumpulkan bala tentara ke Giri Kedaton. Ribuan tentara Majapahit bergerak menuju Giri. Penduduk di sekitar Giri Kedaton ketakutan melihat jumlah tentara Majapahit yang besar itu. Mereka berlarian menuju puncak gunung. Sementara itu Sunan Giri juga sudah mengetahui datangnya pasukan Majapahit dalam jumlah yang besar. Namun beliau hanya bersikap tenang-tenang saja. “Bukan aku yang mencari perkara, tapi mereka sendiri yang menyerang lebih dahulu ke Giri Kedaton”, ujar Sunan Giri sambil memperhatikan pasukan Majapahit dari atas bukit.

Sementara itu laskar Majapahit sudah hampir mendekati kaki gunung, Sunan Giri bersabda: ‘Dimen kelede-leden segara disik, aja nganti bisa munggah ing arga….’. Mendadak sawah-sawah di depan dan di kanan-kiri serta di belakang lasykar Majapahit berubah menjadi lautan. Lasykar Majapahit yang berjumlah ribuan orang tak mampu bergerak. Mereka hanya berdiam diri di tempatnya.

Keadaan itu berlangsung hingga berhari-hari sehingga para prajurit Majapahit banyak yang menderita kelaparan. Sunan Giri tiada sampai hati melihat penderitaan para prajurit itu. Dari atas bukit tiba-tiba berjatuhan umbi- umbian semacam ketela, bentul, dan lain-lain. Lautan yang tadinya mengepung lasykar itu pun akhirnya lenyap, berubah kembali menjadi sawah. Para prajurit Majapahit yang tadinya patah semangat dan lumpuh karena kelaparan itu sekarang bersorak-sorai. Mereka melahap makanan yang seperti didatangkan dari atas bukit.

Setelah prajurit-prajurit itu segar kembali mereka bermaksud kelanjutkan perjalanan ke atas bukit. Rencana menyerang Giri Kedaton mereka lanjutkan.

Ayo, serbu…. hancurkan Giri Kedaton….!’, demikian pekik Mahapatih Majapahit memberi komando. Lasykar dalam jumlah besar itu pun mulai bergerak menaiki bukit.

‘Hem, benar-benar tidak tahu diri’, ujar Sunan Giri

dari atas bukit. ‘Diberi hati meminta rempela ….’

‘Sunan Giri kemudian melemparkan kalarnnya (sejenis pena tulis). Ajaib. Kalam itu berubah menjadi keris, namanya Kalamunyeng. Keris itu melayang-layang dan menusuk prajurit-prajurit Majapahit, sehingga satu per satu prajurit Majapahit berguguran.

Meski demikian Mahapatih Majapahit masih belum jera. Dia masih memerintahkan lasykarnya untuk mendaki bukit dan menghancurkan Giri Kedaton.

‘Hem, benar-benar keras kepala’, ujar Sunan Giri.

Lalu Sunan Giri mengambil segenggam pasir, dilemparkan ke bawah bukit. Pasir itu tiba-tiba berubah menjadi ribuan tawon ganas, menyengat para prajurit Majapahit, sehingga mereka cerai-berai, berlarian tunggang-langgang. Akhirnya lasykar Majapahit kembali ke ibukota dengan menderita kekalahan”.

M.B. Rahimsyah, hlm. 50-56. dalam Makam-makam wali songo

Kanjeng Sepuh-Gresik

Sandaran Problem Karier. Kanjeng Sepuh merupakan tokoh asal Sidayu, Gresik, yang namanya cukup harum hingga sekarang. Tak heran bila kemudian banyak masyarakat yang menziarahi makamnya untuk berbagai tujuan. Mulai yang ingin bisnisnya lancar hingga ingin jabatannya naik.

Kanjeng Sepuh-Gresik0001Kecamatan Sidayu hanyalah satu di antara 18 kecamatan di Kabupaten Gresik saat ini. Namun, kecamatan tersebut meninggalkan bukti-bukti sejarah kebesaran sebagai bekas sebuah kadipaten pada masa lalu. Jejak sejarah Ka­bupaten Gresik bisa dilihat dengan jelas di bekas Kadipaten Sedayu yang kini menjadi Kecamatan Sidayu. Ber­bagai peninggalan masih membekas sebagai ikon sebuah kadipaten di zaman penjajahan Belanda.  Ada pintu gerbang dan pendapa keraton. Ada pula masjid dan alun-alun, serta telaga dan sumur sebagai sumber air Sedayu.

Diperkirakan, situs itu berusia satu abad. Situs tersebut dibangun menjelang perpindahan Kadipaten Sedayu ke wilayah Kadipaten Jombang oleh penjajah Belanda pada sekitar 1910. Sejak berdiri pada 1675, kadipaten Sedayu dipimpin oleh sedikitnya sepuluh adipati. Adipati yang paling dikenal adalah Kanjeng Sepuh Sedayu. Meski hanya sebuah kecamatan, Sidayu rnemiliki alun-alun yang cukup luas dan bangunan-bangunan tua yang cukup megah. Itu merupakan pertanda bahwa Sedayu, atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Kecamatan Sidayu, dulu merupa­kan kota tua yang pernah jaya. Sebelum akhirnya menjadi bagian yang terintegrasi dengan Kabupaten Gresik, Sedayu merupakan wilayah kadipaten tersendiri pada masa pemerintahan Mataram. Istimewanya, Kadipaten Se­dayu saat itu mempunyai koneksitas kewilayahan secara langsung di ba- wah kekuasaan Raja Mataram Prabu Amangkurat I dengan adipati pertama bernama Raden Kromo Widjodjo.

Kanjeng Sepuh-Gresik0003Sejarah Kadipaten Sedayu mencatat nama harum adipati ke-8, yaitu pada waktu Kanjeng Sepuh Sedayu. Kanjeng Sepuh dianggap sebagai aulia dan pemimpin besar Kadipaten Se­dayu yang layak mendapatkan penghormatan. Kiprahnya yang kritis terhadap kekuasaan Belanda atau kerajaan lain waktu itu dikenang cukup membanggakan. Di mata warga Se­dayu maupun keturunannya, hingga kini nama Kanjeng Sepuh tetap ha­rum sebagai pemimpin yang berpihak kepada rakyat selama memerintah Sedayu pada 1816-1855.

Kompleks makam Kanjeng Sepuh sendiri berada di Desa Kauman, Keca­matan Sedayu, Gresik. Di kompleks inilah makam Kyai Panembahan Haryo Soeryo Diningrat, Adipati ke-8 Ka­dipaten Sedayu dapat diziarahi. Selain meninggalkan Masjid, Kanjeng Sepuh juga meninggalkan situs penting yang berupa Telaga Rambit dan Sumur Dhahar. Masing-masing bertempat di Desa Purwodadi dan Golokan. Menurut cerita masyarakat Sedayu, keunikan dari keduanya adalah, pemanfaatannya sebagai air minum dan dikonsumsi oleh sebagian besar ma­syarakat Sedayu, namun sumber ma­ta airnya tidak pernah mengering dan habis walaupun pada musim kemarau.

Menurut penduduk sekitar, ma­kam Kanjeng Sepuh ramai diziarahi pada setiap malam Jumat Pahing. Para peziarah datang dari luar daerah dan pada hari itulah biasanya puncak keramaian Kota Sedayu. Tradisi ini banyak mempengaruhi mobilisasi ekonomi masyarakat Sedayu. Selain membludaknya pengunjung Pasar Pa­hing, magnet ini juga mampu menciptakan Pasar Tiban yang tentu saja menggerakkan mnda perekonomian.

Kanjeng Sepuh-Gresik0002Yang istimewa, banyak di antara para peziarah yang mengaku cukup berhasil dalam bisnisnya setelah ziarah di makam aulia ini. Karena itu, setiap ziarah wali tidak sedikit yang menjadikan makam Kanjeng Sepuh sebagai tujuan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. “Setiap ziarah Walisongo, rombongan kami selalu menjadi makam Kanjeng Sepuh yang tidak boleh dile­watkan,” ucap salah seorang peziarah asal Mojokerto. Tak hanya yang usaha dalam bisnis, mereka yang ingin naik jabatannya konon juga banyak yang mengaku cocok berdoa di makam ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kompleks masjid makam Kanjeng Sepuh, terdapat unsur-unsur kebudayaan pra Islam. Hal tampaknya sengaja dilakukan untuk untuk menjembatani agar kebudayaan Is­lam sebagai unsur yang baru dapat diterima di tengah lingkungan masya­rakat yang beragama Hindu-Budha.

Untuk memperingati kebesaran Kanjeng Sepuh Sedayu sebagai adipati maupun ulama, masyarakat setempat setiap tahun mengadakan haul dan istighotsah akbar di Masjid Kanjeng Sepuh Sedayu. Acara berlangsung meriah. Prosesi itu menjadi tradisi masyarakat untuk mengenang jasa adipati yang bergelar lengkap Kiai Panembahan Haryo Soeryo Di- ningrat, yang wafat pada 1856.

Sementara itu, catatan (aim) K. Ridwad Ahmad dari Djawatan Penerangan RI Kecamatan Sidayu pada 25 Februari 1957 menyebut, Kanjeng Se­puh Sedayu adalah seorang ahli strategi. Banyak jasa Kanjeng Sepuh un­tuk menenteramkan rakyatnya sekaligus melindungi mereka dari berbagai teror selama masa penjajahan.

Keberanian Kanjeng Sepuh menantang kebijakan Belanda tentang pajak juga menjadi catatan. Adipati dengan berani mengusulkan memberi nama sebuah pasar di Surabaya dengan nama Kabean, yang berarti untuk semua, dalam sebuah rapat dengan pemerintah Belanda waktu itu. Maksudnya, beliau menolak diskriminasi dan kenaikan pajak yang dikehendaki Belanda. Sebab, waktu itu Belanda punya iktikad untuk membeda-bedakan pedagang den­gan maksud menaikkan pajak. Pasar tersebut saat ini dikenal dengan na­ma Pasar Pabean.

Beliau juga dekat dengan rakyat. Diam-diam, di malam hari, be­liau berkeliling ke seluruh wilayah kadipaten, yang meliputi Sedayu, Lamongan, Babat, hingga Jombang, untuk melihat keseharian dan prob­lem masyarakatnya. Berbagal peninggalan sejarah Sedayu sebenarnya telah merldapatkan perhatian Dinas Pur- bakala Trowulan. Namun, yang terawat baru kompleks masjid dan ma­kam. Sisa bangunan lain berupa si­tus, mengenai status pertanahan si- sa-sisa sejarah itu kini belum tersentuh. Salah satunya, reruntuhan asli bekas bangunan masjid di Desa Mriyunan, Sumur Dhahar di Desa Golokan, dan Telaga Rambit di Desa Purwodadi yang nampak tidak terawat. Belum lagi kondisi Sumur Dhahar yang kini menjadi tempat pembuan- gan sampah. Tidak terdapat museum atau bau harum ketika kita berkunjung ke sana, namun bukitan sampah yang kotor dan berbau menyengat.

Dulu di wilayah sekitar Sedayu sering sekali terjadi banjir. Namun berkat kehebatan Kanjeng Sepuh, beliau bisa mengatur irigasi sehingga bisa menghilangkan banjir tahunan. Irigasi itu juga membuat petani di Sedayu bisa panen tiga kali dalam setahun.

Di masa Kanjeng Sepuh, perdagangan di Sedayu juga maju. Dulu, orang Tionghoa cukup banyak membuka usaha di wilayah tersebut. Itu terjadi, karena Kanjeng Sepuh sangat toleran terhadap para pedagang Tionghoa tersebut. “Mereka tetap boleh berusaha, tapi, tidak boleh memelihara anjing,” tambahnya.

Keberhasilan tersebut, membuat Kanjeng Sepuh diagungkan. Banyak kisah yang mengungkapkan keistimewaannya. Salah satunya dalam suatu legenda disebutkan bahwa pada wak­tu itu Kanjeng Sepuh mendapatkan sepuluh undangan di Surabaya dan waktunya bersamaan. “Anehnya, se­puluh orang yang mengundang itu merasa Kanjeng Sepuh hadir,” cerita seorang masyarakat setempat. • RUD

LIBERTY, 1-10 JULI 2010

Harun alias Tohir bin Mandar Kopral Anumerta KKO, Bawean Gresik

harun-kkoTidak sedikit  masyarakat Indonesia yang belum mengenal Harun dan Usman. Pahlawan Dwikora dari Korps Komando Operasi (KKO) (kini Korps Marinir TNI-AL), dua nama yang sudah menjadi satu ini tenggelam. Bahkan dalam percaturan sejarah Nasional, nama keduanya jarang bahkan hampir tidak pernah disebutkan sama sekali, padahal jika kita melihat apa yang telah mereka lakukan adalah sebuah kisah heroik yang belum pernah dilakoni oleh pahlawan-pahlawan Nasional lainnya.

4 April 1947, Tohir bin Said, alias Harun Said lahir di Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Harun melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Jakarta. tanpa diketahui keluarganya, untuk biaya hidup dan sekolahnya Harun membiayai sendiri, dengan bekerja sebagai pelayan kapal dagang.

Juni 1964, Ia masuk Angkatan Laut dan memulai kariernya sebagai anggota KKO AL dengan pangkat Prajurit KKO II (Prako II) ditugaskan dalam Tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI. di bawah pimpinan Kapten Paulus Subekti yang pada waktu itu menyamar dengan pangkat Letkol KKO – AL dan merangkap menjadi Komandan Basis X yang berpangkalan di Pulau Sambu Riau. Tugas Basis II:

  1. Mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan.
  2. Melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah masing-masing.
  3. Melaksanakan demolision, sabotase pada obyek militer maupun ekonomis.
  4. Mengadakan propaganda, perang urat syarat
  5. Mengumpulkan informasi.
  6. Melakukan kontra inteljen.

Para sukarelawan menggunakan nama samaran, nama disesuaikan dengan nama-nama daerah lawan yang dimasuki. Janatin mengganti namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji Muhammad Ali (Usman bin Haji Muhammad Ali). Sedangkan Tohir menggunakan nama samaran Harun (Harun bin Said).

USMAN HARUN8 Maret 1965 tengah malam buta, Janatin (Usman), Tohir (Harun) dan Gani bin Arup, ketiga Sukarelawan ini memasuki Singapura. Mereka mengamati tempat-tempat penting yang akan dijadikan obyek sasaran hingga larut malam. Setelah memberikan laporan singkat, mereka mengadakan pertemuan di tempat rahasia untuk melaporkan hasil pengamatan masing-masing dan kembali ke induk pasukannya, yaitu Pulau Sambu (Basis II).

8 Maret 1965 malam, berbekal 12,5 kg bahan peledak mereka bertolak dengan perahu karet dari P Sambu. Mereka dapat menentukan sendiri sasaran yang dikehendaki. Maka setelah melakukan serangkaian pengintaian, pada suatu tengah malam terjadi ledakan di sebuah bangunan Mc Donald di Orchard Road.  Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam penyamarannya. Bahasa Inggeris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan lancar telah membantu pula dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul di tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina.

10 Maret 1965 03.07 dini hari, Harun Said, Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Usman, melakukan Pengeboman di wilayah pusat kota Singapura tepat pada  gedung MacDonald House.

11 Maret 1965, Sebelum berpisah mereka bertemu kembali, dan berjanji barang siapa yang lebih dahulu sampai ke induk pasukan, supaya melaporkan hasil tugas telah dilakukan kepada atasan.

12 Maret 1965,  dalam upaya kembali ke pangkalan, Usman bersama Harun pisah dengan Gani.mereka berdua dapat memasuki pelabuhan Singapura dan menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan berlayar menuju Bangkok. Keduanya menyamar sebagai pelayan dapur.

Kapten kapal Begama mengetahui ada dua orang yang bukan anak buahnya berada dalam kapal, lalu mengusir mereka dari kapal. mereka diacam akan dilaporkan kepada Polisi apabila tidak mau pergi dari kapal. Kapten Kapal tidak mau mengambil resiko kapalnya ditahan oleh pemerintah Singapura.

13 Maret 1965 Usman dan Harun meninggalkan kapal Begama dan mendapat rampasan sebuah motorboat, dalam perjalanan boat macet. Mereka tak dapat menghindar dari sergapan patroli. Pukul 09.00 pagi di hari itu, Usman dan Harun tertangkap dan di bawa ke Singapura sebagai tawanan. kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjara Singapura sebagai tawanan.

1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral KKO I (Kopko I).

4 Oktober 1965 Usman dan Harun di hadapkan ke depan sidang Pengadilan Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J. Chua sebagai Hakim. dengan tuduhan:

  1. Menurut ketentuan International Security Act Usman-Harun telah melanggar Control Area.
  2. Telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang.
  3. Telah menempatkan alat peledak dan menyalakannya.

Dalam proses pengadilan ini, Usman dan Harun tidak dilakukan pemeriksaan pendahuluan, sesuai dengan Emergency Crimina Trials Regulation tahun 1964. Usman dan Harun telah menolak semua tuduhan itu dan memberi pernyataan yang mereka lakukan bukan kehendak sendiri, karena dalam keadaan perang. Oleh karena itu mereka meminta kepada sidang supaya mereka dilakukan sebagai tawanan perang/POW (Prisoner of War). Namun Hakim menolak permintaan mereka dengan alasan sewaktu kedua tertuduh tertangkap tidak memakai pakaian militer.

20 Oktober 1965, dipersidangan yang berjalan kurang lebih dua minggu, Pengadilan Tinggi (Hight Court) yan dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskan bahwa Usman dan Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnya tiga orang sipil. Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.

6 Juni 1966 Usman dan Harun mengajukan naik banding ke Federal Court of Malaysia dengan Hakim yang mengadilinya: Chong Yiu, Tan Ah Tah dan J.J. Amrose. 

5 Oktober 1966 Federal Court of Malaysia menolak perkara naik banding Usman dan Harun.

17 Februari 1967 perkara tersebut diajukan lagi ke Privy Council di London.

Dalam kasus ini Pemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaitu Mr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol (L) Gani Djemat SH Atase ALRI di Singapura.

4 Mei 1968, Menlu Adam Malik melalui Menlu Singapura membantu upaya KBRI memperoleh pengampunan atau setidak-tidaknya memperingan hukuman kedua sukarelawan. 

21 Mei 1968,  Usaha Privy Council  itu gagal. tetap ditolak.

1 Juni 1968, Usaha terakhir adalah mengajukan permohonan grasi dari Presiden Singapura Yusuf bin Ishak.

9 Oktober 1968, Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi atas hukuman mati Usman dan Harun ditolak oleh Presiden Singapura.

10 Oktober 1968, Atase AL Letkol Gani Djemat SH kembali ke Singapura membawa surat Presiden Soeharto untuk Presiden dan PM Singapura. Tapi gagal menyerahkan surat-surat itu langsung kepada yang bersangkutan. Presiden Singapura sedang sakit. PM Lee Kwan Yew tak dapat dihubungi karena sibuk.

Rabu, 16.00, 16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolo sebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi. Dengan diantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dan didampingi Atase Angkatan Laut Letkol (G) Gani Djemat SH, menemui Usman dan Harun.

Pertemuan yang mengharukan tetapi membanggakan. Usman dan Harun segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat serta memberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkan Brigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikian membuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasa berat untuk menyampaikan pesan. Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagai pertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemu lagi untuk selamanya.

Pesan yang disampaikan adalah bahwa Presiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa mereka berdua terhadap Negara.

Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pula menyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untuk dimakamkan berdampingan di Indonesia.

Sebelum berpisah Usman dan Harun dengan sikap sempurna menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Jenderal Suharto atas usahanya, kepada Jenderal Panggabean, kepada mahasiswa dan pelajar, Sarjana Hukum serta seluruh Rakyat Indonesia yang telah melakukan upaya untuk membebaskan mereka dari hukuman mati. Saat pertemuan berakhir, Sersan KKO Usman memberikan aba-aba, dan keduanya memberi hormat  kepada para utusan. 

17 Oktober 1968 Pukul 05.00 subuh kedua tawanan itu dibangunkan oleh petugas penjara, kemudian disuruh sembahyang menurut agamanya masing-masing. Setelah melakukan sembahyang Usman dan Harun dengan tangan diborgol dibawa oleh petugas ke kamar kesehatan untuk dibius. Dalam keadaan terbius dan tidak sadar masing-masing urat nadinya dipotong oleh dokter tersebut, sehingga mereka berdua lumpuh sama sekali. Lalu Usman dan Harun dibawa menuju ke tiang gantungan. 

Kamis 17 Oktober 1968 (Radjab 1388) pukul 06.00 pagi waktu Singapura. Harun meninggal di Singapura, pada umur 21 tahun. ia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura.

Presiden Suharto langsung mengeluarkan pernyataan bahwa Usman dan Harun dari KKO-AL diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

17 Oktober 1968 Pukul 10.30 kedua jenzah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI

 17 Oktober 1968 pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telah menunggu pesawat TNI—AU. yang akan membawa kedua jenazah tersebut ke Tanah Air.

 Setibanya di Indonesia,  jenazah kedua Pahlawan itu diterima oleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI R. Muljadi dan disemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

17 Oktober 1968 Pukul 14.35 pesawat TNI—AU yang khusus dikirim dari Jakarta meninggalkan lapangan terbang Changi membawa kedua jenazah yang telah diselimuti oleh dua buah bendera Merah Putih

18 Oktober 1968 pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum’at, kedua jenazah diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir  di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat yang layak sesuai dengan amal bhaktinya. Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan, peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat.

Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usman alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Sumber :

http://www.polarhome.com/pipermail/marinir/2005-November/000960.html
http://toparmour.blogspot.com/2011/03/usman-dan-harun-pahlawan-dwikora-yang.html
http://id.shvoong.com/law-and-politics/international-relations/2138748-sersan-usman-1943-1968-dan/

Masmundari, Pelukis Damar Kurung

Memuliakan Warisan Tradisi Zaman Sunan Prapen
Masmundari, Lukisan Damar Kurung

“Apa pun istilah ‘pinter’ untuk menggolongkannya, karya-karya. Masmundari yang bersahaja ini adalah ungkapan seorang seniman yang otentik. Ia menjadi potret utuh seorang perempuan yang telah mengarungi hidupnya di dalam berbagai zaman, sampai ke usia yang sulit dipercaya untuk tetap produktif”. EflX Mulyari

 Masmundari. Tubuh renta yang telah digerogoti usia yang genap seabad, namun tak menghentikannya dalam berkarya. Ia masih melangsungkan aktivitas yang diyakininya sejak muda, sebagai penerus kreasi leluhurnya: menggambar damar kurung. Pada sosoknya, merentang usia tradisi seni berumur ratusan tahun yang nyaris punah. Lukisan damar kurung (lampion) khas Gresik yang berasal dari abad ke-16 ini, tetap diyakini dan dihidupi.

Masmundari melukis keempat sisi damar kurung dengan pelbagai kisah yang direkamnya. Memasang damar kurung selama masa puasa menjadi tradisi masyarakat di kawasan Tlogo Pojok Gresik. Kerudung lampu itu dilukis dengan indah dan dipasang orang yang punya hajatan untuk menghiasi rumah, jalan, sebagai petunjuk jalan bagi para tamu. Sebagian besar lukisannya berkisah tentang manusia dan kegiatannya: wayang, hikayat Anglingdarma, kesibukan di pesisir, ombak laut, dan pohon-pohon menjadi tema yang sering diangkat. Dari banyak tema itu orang paling ingat pada lukisan tentang perempuan terbang Imajinasi Masmundari sering terbang jauh dan tinggi yang sulit dijangkau orang seusianya.

Kekuatan akan detail sebuah peristiwa membuat lukisan Masmundari lebih hidup. Ketika melukiskan suasana hari raya Idul Fitri, misalnya, ia menggambakan runtutan peristiwa lebaran itu secara lengkap: mulai dari jamaah yang sedang sembahyang, lengkap dengan khatib berkhotbah hingga acara salam-salaman dan dilanjutkan dengan berangkat berpiknik atau ‘unjung-unjung’, silaturahim. Semua yang dipotretnya digambar secara lengkap, lengkap dengan sepeda motor dan becak. Juga menyertakan hidangan yang ditata di atas meja dan mikrofon yang dipakai sang khatib.

Melukis bagi tokoh kebanggaaan masyarakat Gresik ini, adalah kegiatan menyenangkan yang tak boleh diusik. Saat melukis, Masmundari menetapkan harga mati: tidak mau diganggu. “Mbah Masmundari, biasanya marah kalau sedang asyik masak diganggu” kata Nur Samadji, salah seorang cucunya.

Di lingkungan keluarga, kerabat dan seniman Jatim, Masmundari biasa dipanggil Mbah. Meski sudah berusia senja, Mbah Masmundari nyaris tidak bisa diam, selalu mencari kesibukan mulai dari mencuci baju hingga memasak, di samping tentu saja melukis damar kurung. Kegiatan melukis dilakukan saat ia merasa nyaman atau ada pesanan.

Yang unik dari sosok Mbah Masmundari, kekuatan fisiknya luar biasa walaupun pendengaran agak terganggu.nBila ngobrol di ruang tamu, Mbah bersuara lantang bahkan sampai terdengar ke luar rumah. Bila ingin bertanya kepada Mbah Masmundari, harus agak berteriak di dekat telinga sebelah kanan Mbah Masmundari agar bisa terdengar. Katanya dia bertekad tidak akan berhenti melukis damar kurung.

Hanya secangkir kopi yang sanggup membuatnya berpaling dari lukisannya, Mbah Masmundari yang kuat minum kopi tiga cangkir sehari dan makan sirih ini justru tidak menetapkan harga mati untuk lukisannya dia tak peduli dengan harga lukisannya. Yang jelas, Masmundari tetap melukis ketika tubuhnya sehat. Dengan membubuhkan ‘cap jempol’ sepuhnya sebagai ganti tanda tangan, lukisan terbang ke pelbagai negara. Tentu, karena diminati para turis yang kemudian dibawa pulang ke negerinya.

Warisan Giri Prapen
Damar kurung tak hanya dikenal di pesisir Gresik. Damar kurung bisa dijumpai di wilayah Semarang yang memang dikenal sebagai tempat persinggahan kapal-kapal dari negeri China zaman dulu. Damar kurung yang biasa disebut ting-tingan Ramadhan ini biasa dijajakan dalam dhugdheran (pasar malam yang hanya ada sepanjang bulan Puasa) masih terselip penjual damar kurung. Biasanya berwarna merah atau putih dengan lukisan sederhana, dari luar bayangan kerbau, naga, petani, gerobak, penari, burung, becak, bahkan pesawat, tampak bergerak.

Damar kurung mengadaptasi lampion yang dipakai warga Tionghoa sebagai wujud kesempurnaan dan keberuntungan. Dulu jika ada warga yang kesripaan (ada yang kesusahan karena di antara anggota keluarga ada yang meninggal dunia) maka lampion putih dipasang berpasangan di depan rumah yang melambangkan duka cita. Biasanya lampion persegi atau oval berwarna putih ini dibubuhi kaligrafi berisi penggalan syair China kuno. Sebaliknya, lampion bulat berwarna merah menjadi symbol keberuntungan dan kesempurnaan.

Membuat damar kurung tidak mudah, terutama menyetel agar posisi sumbu yang mengeluarkan asap bisa tetap stabil. Asap yang keluar dan tertiup angin inilah yang memutar kipas kertas  dan membuat kertas-kertas minyak itu berputar. Sebagaimana lampion, damar kurung dalam upacara Ngaben di Bali pun memiliki makna. Damar kurung dipasang di depan rumah duka, yang diyakni sebagai penunjuk arah bagi perjalanan roh. Hubungan sejarah masa lalu antara Cina dan Bali memang mengingatkan bahwa damar kurung ‘berkarib’ atau varian dari lampion. Bukan hanya damar kurung, ditengarai barong yang dikenal di Bali juga beralian erat dengan tari singa barong Cina. Penyebaran singa barong Cina ini kemungkinan besar masuk ke Bali pada masa pemerintahan Dinasti Tang di Cina sekitar abad ke-7 hingga abad ke-10.

Di Gresik, lampion yang di terjemahkan menjadi damar kurung sudah lekat denan tradisi sejak abad ke-16. saat itu, adalah masa aktif Sunan Prapen, sunan ketiga sesudah Sunan Giri, seorang penyebar agama Islam di Jawa Timur. Sampai tahun 1970-an, sebagai kerajinan, damar kurung juga dikerjakan masyarakat Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Kebanyakan dammar kurung ini dibuat tanpa gambar, hanya beberapa bagian damar kurung saja yang memiliki gambar.

Di Jepara ada tradisi menyalakan damar kurung yang dinamakan Baratan. Tradisi ini dilaksanakan setiap pertengahan bulan Sya’ban (Jawa: bulan Ruwah). Hal ini berkait dengan legenda Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), putri Sultan Trenggono yang juga Adipati Jepara (1549-1579). Suatu ketika tibalah sang penguasa di Desa Purwogondo (kini pusat Kecamatan Kalinyamatan). Tiba-tiba kuda yang ditungganginya lari menghilang. Kemudian bersama-sama warga, ia mencari kuda dengan bantuan lampu impes (lampion). Tradisi ini tetap dilakukan dengan membawa lampion berkelap-kelip. Ketika listrik sudah masuk desa, tradisi ini pelahan memudar.

Ke Palataran Jagat Seni Lukis
Masmundari sejak tahun 1986 tercatat sebagai satu-satunya pembuat dan pelestari kerajinan damar kurung yang masih hidup dan terus berkarya, setelah kedua orang tuanya meninggal dunia dan adik-adiknya, Masriatun dan Maseh, tidak melanjutkan tradisi keluarga.

Gambar pada lukisan damar kurung, memperlihatkan potret budaya masyarakat Gresik sejak ratusan tahun lampau yang bertahan sampai sekarang. Kondisi fisiknya masih cukup sehat. Bukan hanya untuk berkarya, tetapi juga melakukan pekerjaan-pekerjaan di rumah seperti mencuci. Masmundari bukan hanya sekedar melanjutkan tradisi yang dirintis oleh kedua orangtuanya Sadiman dan Martidjah, tetapi juga melakukan pembaharuan dalam proses kreativitas dan penampilan karya seni. Mengenai kemampuannya untuk melukis di atas kertas kanvas dammar kurung, Masmundari dengan bahasa Jawa mengungkapkan “Kulo marisi ndamel Damar Kurung niki saking Bapak kulo, Ki Dalang Sinom. Sanjangen Bapak, Nak, sesok nek bapak ana umure, kon ngawe ngene”. (” Saya mewarisi ketrampilan membuat damar kurung ini dari bapak saya, Ki Dalang Sinom. Bapak berpesan, besok apabila Bapak sudah meninggal, kamu harus tetap membuat Damar Kurung. Sebab keturunan kami sejak dulu membuat kerajinan tersebut)” ujamya. Ki Dalang Sinom adalah sebutan lain dari nama orangtuanya yang memang seorang dalang wayang. Masmundari mengaku tidak merasa lelah terus berproses dan beraktivitas sebagai pelukis. “Sampai sekarang saya masih melukis dan akan terns melukis sampai mati,” kata si Mbah dalam bahasa khas Gresik, suatu ketika. Meski kulitnya sudah mulai keriput, namun otot di sepanjang tangan Masmundari terlihat masih keras. “Setiap subuh, Mbah sudah bangun. Kemudian memasak air, menanak nasi, lalu mencuci pakaian. Siang hari, Mbah jarang sekali tidur, tetapi masak,” tutur Nur Samadji.

Menurut Masmundari, paman dan bibinya juga melukis damar kurung semasa hidup mereka. Bakat melukis Masmundari tampaknya juga dimiliki anak satu-satunya, Rukayah (51), ibu dari lima anak. Dari lima cucu Masmundari yang tampaknya tertarik menjadi pelukis damar kurung hanya dua orang, yaitu Nur Samadji dan Achmad Adrian. “Saudara ibu, Masriatun, Masehi, dan Indri sewaktu masih hidup juga melukis damar kurung, tetapi sekarang tinggal Mbah Masmundari,” kata Rukayah,janda dari almarhum Mas ‘ud.

Ketika menerima Penghargaan Seni tahun 2002 dari Pemerintah Provinsi Jatim ini, Masmundari menyambutnya dengan syukur. Dalam catatan saya, penghargaan yang diberikan pada Masmundari sangat wajar karena dia selama ini nyaris tidak pernah meninggalkan dunia seni rupa, khususnya lukisan damar kurung.

Penghargaan itu menjadi pembuktian atas kerja dan kreativitas dia sebagai pelukis perempuan yang mampu bertahan hingga usia lanjut. Penghargaan yang diterima Masmundari itu, di antaranya dalam bentuk uang sebesar Rp 10 juta, yang dia manfaatkan untuk memperbaiki rumah dan memenuhi kebutuhan lain. “Rumah ini kalau hujan sering bocor. Sebagian lagi dipakai membeli bahan melukis dan bayar utang,” kata Masmundari. Tidak ada penjelasan kenapa dia atau keluarganya memiliki utang, tetapi sampai sekarang keluarga Masmundari memang tinggal di sebuah gang di perkampungan penduduk yang padat, di Jalan Gubemur Suryo Gang 7 B Nomor 41B, Gresik.

Masmundari diantar anaknya Rukayah, bersama dua cucunya selama mengikuti pameran di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), dengan menyertakan 50 buah lukisan, selama seminggu, mulai 17-24 Maret 2005. Pameran bertajuk Seabad Masmundari, dibuka oleh aktris sinetron Rachel Maryam, dengan membacakan puisi Pablo Neruda, penyair Chile, yang meraih Hadiah Nobel. Lukisan-Iukisan Masmundari telah dipamerkan di pelbagai kesempatan, baik di Surabaya maupun di Jakarta. Pameran di Jakarta ini untuk keempat kalinya, setelah sebelumnya di BBJ pada tahun 1987, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada tahun 1990 serta pada Pameran Kerajinan Indonesia Dalam Interior (KIDI) IV di Balai Sidang Senayan Jakarta 1991, yang pemah mendapat perhatian khusus dari mantan Presiden RI Soeharto.

Semula kerajinan “damar kurung” dikerjakan dengan memanfaatkan kertas minyak dengan pewama dari sumbo. Kertas minyak ini melingkar dalam bingkai yang terbuat dari potongan bambu. Tetapi sejak diperkenalkan oleh pelukis modern dari Gresik, Imang A.W. (yang mula-mula memperkenalkan karya-karyanya di luar Gresik), Masmundari kemudian mempergunakan kertas kanvas dan cat minyak. Lukisannya dibingkai dengan kayu bujur sangkar. Dalam seni kerajinan damar kurung di masa lalu, gambar-gambar dilukis pada lembaran kertas terbagi dalam tiga bagian, yaitu atas, tengah dan bawah atau hanya dua bagian atas dan bawah untuk menceritakan sesuai dengan pakem. Tetapi Masmundari berani melakukan perubahan dengan tidak memakai pembagian bidang.

Kerajinan “damar kurung” dibuat untuk menghibur dan memberikan kesenangan kepada anak-anak yang tengah menanti datangnya sembahyang Tarawih pada bulan Ramadhan. Itulah sebabnya tema lukisan pada kertas Damar Kurung di masa lalu umumnya berkisah soal kegiatan orang melaksanakan sembahyang Tarawih, Tadarus, suasana Idul Fitri, halal bil halal, macapat, pasar malam, pesta khitanan, dan sebagainya. “Masmundari adalah pemuja kegembiraan hidup. Lukisan-lukisannya selalu menampakkan keriangan dan kebahagiaan,” tulis Danarto, sastrawan yang dikenal juga sebagai pelukis “Rasanya tidak ada lukisannya yang jelek. Mundari tidak melukis kesedihan, malapetaka, bahkan air mata pun tidak”. (Media Indonesia, 19 Maret 2005).

Dan memang, dari wama-wama primer yang dihadirkan begitu saja saling menyatu di kanvas atau pun di kertas. Warna merah berdampingan dengan hijau yang biasanya terbakar dan mata tak sanggup menatapnya, menjadi jinak. Warna kuning, biru, merah jambu, maupun violet, menjadikan banguna suasana ceria, meriah, cemerlang dan memikat. Selain melakukan pernbahan dalam penampilan mulai dari bahan dasar, Masmundari satu-satunya pelukis yang menekuni lukisan damar kurung ini mulai memasukkan tema-tema kekinian tanpa meninggalkan tema-tema lama yang bersifat religi. Masmundari mengangkat tema tentang kehidupan nelayan, pesta perkawinan, kehidupan etnis Madura, serta permainan tradisional anak-anak seperti menangkap ikan, menjaring burung.

Bahkan ia cukup adaptif dengan tematema pesanan pemerintah, misalnya program Keluarga Berencana. Belakangan Masmundari mengetengahkan tema-tema teknologi, seperti mesin traktor, pesawat terbang, siaran radiodan televisi lengkap dengan antena parabola. Aneka gambar yang terlukis pada lembaran kertas damar kurung mempunyai fungsi yang hampir setara dengan relief-relief dan patung-patung pada candi Budha dan Hindu yang terdapat di Pulau Jawa. Anak-anak di Gresik sebelumnya juga sempat digalakkan oleh pemerintah kabupaten setempat untuk melukis dengan gaya damar kurung hingga akhirnya cirri lukisan Masmundari identik dengan ciri khas Kota Gresik. Lampion damar kurung karya Masmundari lalu ada yang terbuat dari serat kaca dengan tulang kayu, termasuk juga gaya lukisan damar kurung yang sudah dikemas seperti lukisan umumnya. (RNG)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 20, Maret – April 2005, hlm. 39

Perkawinan Adat Jawa, Gresik

Simbolisasi Piranti Perkawinan Adat Jawa
Pranata Cara Perkawinan Adat Jawa,
Tinggal di Wringinanom, Gresik
Oleh: Drs. Udik Siswanto

Mengapa di setiap hajatan pernikahan yang masih bernuansa kejawen selalu ada hiasan seperti janur kuning melengkung, tebu, cengkir, pisang raja dan sebagainya yang ditempatkan di depan rumah. Ada banyak makna yang tersimbol di balik semuanya. Ini pula yang membuktikan luhurnya Bahasa Jawa

 
Sebenarnya, dalam prosesi pernikahan pada acara temu atau panggih, sang pembawa acara atau pranatacara, telah memberi penjelasan secara wijang (jelas). Namun karena ungkapan yang dilakukan pranatacara itu dalam bahasa Jawa Kawi yang kerap digunakan dalam bahasa pedalangan, justru menyebabkan banyak orang Jawa yang tak memahami maksud yang terkandung di dalamnya.

Memang terkesan sangat naïf dan lucu apabila orang Jawa tidak memahami bahasanya. Namun kita juga bisa memakluminya. Penggunaan Bahasa Jawa Kawi ini sangat khas digunakan di acara pernikahan yang erat kaitannya dengan tatacara adat. Kekhasan ini pula yang membuat Alquran yang disampaikan dalam Bahasa Arab, namun tidak semua orang Arab bisa memahami Alquran. Diperlukan kajian yang mendalam. Kajian yang lebih dari sekadar memahami makna leksikalnya.

Banyak nasehat yang terkandung dalam acara prosesi pernikahan adat Jawa. Para pujangga dan leluhur Jawa yang telah menciptakan tradisi atau adat dalam acara pernikahan, tentu telah mengantongi nilai-nilai positif/lahiyah. Semua itu banyak dikemas secara simbolis dan perlambang. Hal ini tak lepas dari kebiasaan orang Jawa yang tak memberi nasi hat secara vulgar. Lebih sering digunakan pasemon (metafora, perlambang, simbolik dan sebagainya).

Makna simbolis yang terkandung dalam janur kuning melengkung yang berada di pintu gerbang sang tuan rumah pengantin. Kata Janur sendiri, berasal dari kiratha basa Jawa (Othak-athik mathuk), sejane neng nur (arahnya menggapai nur= cahaya Ilahi). Sedangkan kata kuning bermakna sabda dadi (kun fayakunNya Allah SWT) yang dihasilkan dari hati atau jiwa yang bening. Dengan demikian, janur kuning mengisyaratkan cita-cita mulia dan tinggi untuk menggapai cahaya Ilahi dengan dibarengi hati yang bening. Nampak, betapa tingginya filosofi janur kuning dalam prosesi pernikahan.

Filosofi yang tak kalah hebatnya nampak ketika mempelai pengantin laki akan dipertemukan dengan mempelai pengantin perempuan. Sebelumnya masing-masing mempelai telah dibekali dengan daun sirih (suruh) yang telah digulung untuk kemudian dilemparkan pada pasangannya masing-masing. Daun sirih ini memiliki simbol selaras, serasi dan seimbang. Pada saat tersebut sang pranatacara “Godhong suruh lumah lan kurebe, yen ginigit pada rasane”. Sebenarnya hal ini mengisyaratkan bahwa orang yang berumahtangga diibaratkan sebagai daun sirih. Dalam bahtera rumah tangga hendaknya pasangan mempelai selalu seiya-sekata serta mengerjakan kewajibannya masing-masing. Suami memberi nafkah lahir dan bathin, termasuk mendidik isteri. Sehingga dia menjadi pemimpin dalam mengurusi anak-anaknya, mengelola keuangan, menyiapkan makanan dan seterusnya.

Makna Simbolis Tebu, Cengkir dan Pisang Raja
Kalau kita mengamati di sebelah kiri-kanan “gapura janur kuning”, terlihat pula tebu, cengkir dan pisang raja yang diikat pada dua tiang di depan ruang pertemuan resepsi. Itu semua adalah simbolisasi nasehat yang diberikan para pujangga Jawa agar mempelai mempersiapkan masa depan kehidupannya secara sungguh-sungguh. Pertama, Tebu. Tebu bisa kita artikan sebagai mantebing kalbu (mantapnya hati atau kalbu). Tanaman tebu yang rasanya manis dan menyegarkan memang sering dipakai sebagai simbol atau lambang dalam acara tradisi Jawa lainnya. Hal ini bisa kita lihat pada acara mitoni (selamatan untuk anak yang berusia 7 bulan). Si anak lalu dipandu untuk menaiki anak tangga yang terbuat dari tebu tujuh tingkat. Hal ini dimaksudkan selain memperingati usia 7 bulan, juga dimaksudkan untuk mengingatkan secara simbolis tentang perspektif religius-spiritual: maqom tujuh dan martabat tujuh. Kedua, cengkir (buah kelapa yang masih muda). Maknanya adalah kencenging pikir. Dengan berbekal cengkir, sang mempelai diharapkan mampu melewati ujian kritis dalam mempertahankan pernikannya. Sehingga “kaya mimi lan mintuna” yang selalu bersama dalam menghadapi suka dan duka. Ketiga, pisang raja, maknanya sangat jelas sebagai simbol dari raja. Artinya pernikahan manusia adalah salah satu tahap yang paling penting dari tiga proses perjalanan: kelahiran, perkawinan dan kematian.  Diibaratkan dalam resepsi itu, pengantin adalah raja sehari yang disimbolisasikan dengan pisang raja yang ditempatkan di depan rumah. Mempelai pun didudukkan di singgasana rinengga dengan mengenakan pakaian ala raja dan permaisuri yang penuh aura kewibawaan.

Bobot, Bibit, Bebet
Gegarane wong akrami dudu bandha dudu rupa, amung ali pawitane, luput pisan kena pisan, yen angel angel kelangkung tan kena tinumbas arta (Rambu rambu pernikahan bukan soal harta dan bukan karena wajah. Hanyalah hati yang menjadi modal pertimbangannya, Jika sekali salah jika benar pun sekali. Jika terlanjur sulit, maka sulitnya luar biasa, tak bisa dibeli dengan harta). Demikian ungkapan atau refleksi pujangga Jawa mengenai gegarane wong akrami.

Betapa pentingnya ramburambu pernikahan ini. Karena pernikahan bukan sekadar hubungan lelaki dan perempuan berdasar naluri seksual. Pernikahan merupakan perjanjian yang sangat kokoh (mithaqan ghlizan). Perjanjian lahir dan batin seorang lelaki dan perempuan untuk membentuk keluarga bahagia dan sejahtera sesuai dengan ketentuan sang pencipta dalam rangka berbakti dan beribadah kepada-Nya.

Berawal dari kehati-hatian menghadapi perkawinan itu pula, pujangga Jawa memberi rambu dalam memilih jodoh. Orang Jawa harus melihat dan  mempertimbangkan obor-obor atau dom sumusupe banyu. Ada tiga hal penting yang menjadi pertimbangan itu. Pertama, Bobot. Yakni menyeleksi kualitas calon pasangan pengantin. Hal ini sangat ditekankan terutama untuk calon pengantin laki-laki. Karena bahagia atau tidaknya seorang isteri sangat dipengaruhi oleh tingginya kualitas pendidikan dari sang suami. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kestabilitasan sosial ekonomi rumah tangga yang akan dijalaninya.

Kedua, Bibit. Yakni pertimbangan berdasarkan keturunan atau keadaan orang tua sang calon pengantin. Keturunan ini pula yang nantinya sangat berpengaruh pada keadaan social kemasyarakatan dalam rumah tangga yang akan dijalani oleh sipengantin. Tentu ada beban psikologi sosial yang tinggi seandainya sang calon pengantin memiliki latar belakang kehidupan yang cacat dari sudut pandang sosial masyarakat.

Ketiga, Bebet. Perangai dari sang calon pasangan mempelai perlu dipelajari untuk menjadi bahan pertimbangan yang sangat matang sebelum menuju ke jenjang pernikan. Orang yang baik bisa dilihat dari ketercapaian hasil pada suatu proses sosialisasi di keluarga.

 Bahasa Jawa dan Muatan Filsafatnya
Jelas sekali bahwa Bahasa Jawa sebagai salah satu simbol budaya memiliki satu derajat yang membanggakan, dikatakan edi peni (penuh dengan nilai estetis) dan adi luhung (luhur dan bermartabat). Hal ini yang selama ini masih membekaskan rasa bangga pada diri kita semua adalah bahasa Jawa telah mampu bertahan dan terbina selama berabad-abad. Menjadi langkah yang menyedihkan kalau pada akhirnya kita kehilangan keedipenian serta keadiluhungan bahasa Jawa. Oleh manusia, bahasa digunakan untuk menyatakan perasaan, keinginan dan kebutuhan atau untuk mendapatkan keterangan. Penggunaan bahasa lebih kompleks dan maju adalah menyatakan reasoning, menerangkan sebabakibat, yaitu satu corak pemikiran khas yang dimiliki manusia dari pengetahuan yang ada untuk memperolah pengetahuan lainnya. Maka lahirlah berbagai bentuk filsafat nan anggun dan indah penuh dengan muatan tuntunan hidup yang pada akhirnya akan membawa manusia pada jalan hidup yang cerah. Dengan kata lain, berfilsafat adalah suatu aktifitas untuk menggunakan akal dan budi, sedalam-dalamnya dengan penuh tanggung jawab untuk mengungkapkan misteri masalah kehidupan sebelum akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang universal.

Ada pepatah yang berbunyi, “Wong Jawa nggoning rasa, pada gulange ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, kuwana nahan hawa, kinemat mamoting driyo”. (Orang Jawa itu tempatnya di perasaan, Mereka selalu bergulat dengan kalbu dan suara hati, agar pintar menangkap maksud yang tersembunyi, dengan jalan menahan hawa nafsu sehingga dapat mengetahui apa sebenarnya maksud yang tersembunyi). Perasaan atau intuisi memegang peranan yang sangat penting di samping keberadaan jiwa dan akal. Dengan merunut penggunaan istilah bahasa yang dipakai, Nampak sekali tradisi dan tindakan orang Jawa selalu berpegang teguh pada etika hidup yang menjunjung tinggi moral dan derajat hidup. Orang Jawa menempatkan kemuliaan hidup di atas segalanya Keberadaan filsafat Jawa ini diakui oleh sarjana Barat, Robert Jay seorang peneliti dalam bukunya Religion and Politics in Central Rural Jawa. Dikatakannya bahwa pemikiran Jawa tradisional menerangkan sistim filsafat lengkap dan pengindahan hid up yang menyentuh hati. ***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BENDE media Informasi Seni dan Budaya, Edisi 87, Januari 2011 hlm. 51.

Sarung Tenun Tradisional, Gresik

Wedani, Desa Penghasil Sarung Tenun Tradisional

Tak salah apabila Gresik dikenal dengan sebutan sebagai kota santri, karena selain sebagai pusat penghasil songkok, Kabupaten Gresik juga merupakan penghasil sarung tenun yang menjadi simbol identitas kaum santri.

Di kota ini, selain banyak berdiri perusahaan sarung tenun besar yang  menggunakan alat tenun mesin (ATM) semacam PT. Behaestex, juga banyak dijumpai indutri rumah tangga (home industry) sarung tenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). Tentunya pengerjaannya masih dilakukan secara tradisional. Meskipun pengerjaannya masih tradisional, namun mutu sarung tenun yang dihasilkan tidak kalah bahkan lebih baik bila dibandingkan dengan sarung tenun produk mesin (ATM). Harga sarung tenun tradisional harganya jauh lebih mahal dibanding dengan sarun tenun ATM. Tidak hanya dari segi mutu, corak serta motif yang lebih bernuansa alam tampaknya menjadikan pesona tersendiri bagi para konsumennya sehingga banyak yang rela merogoh kantongnya untuk membeli dengan harga yang mahal.

Di Kabupaten Gresik, sentra penghasil sarung tenun tradisional ini banyak tersebar di Kecamatan Cerme dan Benjeng. Ada yang merupakan cabang usaha (binaan) dari perusahaan sarung tenun besar semacam PT. Behaestex seperti yang terletak di Desa  Ngembung dan Dungus Kecamatan Cerne, ada juga yang merupakan usaha mandiri keluarga yang banyak dijumpai di Desa Wedani Kecamatan Cenne. Di Desa Wedani ini, tak kurang dari 25 unit usaha keluarga (home industry) sarung tenun tradisional, baik yang berskala kecil (± 10 orang tenaga kerja) sampai skala yang agak besar (± 100 orang tenaga kerja).

Proses Produksi
Pembuatan sarung tenun tradisional ini membutuhkan keterampilan tersendiri. Namun, bagi penduduk desa Wedani ketrampilan seperti ini tidak memerlukan pendidikan khusus karena dipelajari secara turun temurun. Bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan sarung tenun ini terdiri dari 2 (dua) bahan pokok, yaitu benang dan bahan pewarna. Untuk benang terdiri dari 2 macam (ukuran), benang boom (ukuran 210) sebagai bahan dasar, sedangkan benang yang dipakai untuk bahan corak (pakan) berukuran lebih besar yaitu 140. Sedangkan pewarna berupa pewarna sintetis khusus untuk pewarna kain (benang). Proses pembuatan sarung tenun ini diawali dari proses pencucian benang baik benang boom maupun benang pakan sehingga dihasilkan benang yang benar-benar putih.

Kemudian benang boom dicelup dalam larutan pewarna sintetis dalam kondisi panas (dimasak). Karena digunakan sebagai bahan dasar, maka warna benang disesuaikan dengan warna dorninan kain sarung yang akan dihasilkan. Sedangkan benang pakan belum diwarna karena akan dimotif terlebih dahulu. Selanjutnya benang boom dikeringkan dan di’kloos’ (digulung). Untuk membuat motif, benang pakan di ‘medang’, pada kayu berukuran (0,5 x 0,5) meter, kemudian motifnya digambar dengan pensil dan diwarna. Pekerjaan ‘ngkloos’ dan ‘medang’ ini dilakukan secara terpisah pada waktu yang bersamaan.

Sesudah dilakukan ‘kloos’ pada benang boom, maka benang di’skir’, yaitu disusun berdasarkan motif dasar yang dikehendaki. Kumpulan benang hasil ‘skiran’ tadi kemudian digulung kembali menggunakan alat bantu yang dinamakan ‘boom’. Makanya benang untuk bahan dasar tadi lebih dikenal dengan nama benang ‘boom’ , karena digulung dengan alat yang bantu bernama ‘boom’. Satu gulungan ‘boom’ bisa menghasilkan 21-25 lembar sarung dengan jumlah serat benang per lembar sarung ±1950 benang.

Pada saat proses ‘skir’ dilakukan, benang yang sudah di”medang” tadi dicelup dalam larutan pewarna yang warnanya sama dengan warna dasar. Agar motifnya tidak ikut terwarnai saat dilakukan pencelupan, maka pada motif yang sudah diwarna saat di ‘medang’ diikat dengan tali rafia. Sesudah selesai tahapan pekerjaan pada benang boom maupun benang pakan, maka selanjutnya benang-benang tersebut disusun pada alat tenun. Kemudian dilakukan penenunan dengan motif yang berbeda-beda. Untuk satu orang pekerja tenun, bisa menghasilkan 1,5 lembar sarung setiap hari. Rata-rata mereka menerima upah sejumlah Rp 17.500,- s/d Rp 21.000,- untuk tiap lembar sarung. Sehingga penghasilan yang diperoleh para penenun ini berkisar Rp 26.000.- s/d Rp 35.000,- per hari dengan jam kerja antara pukul 08.00 WIB s/d pukul 17.00 WIB.

Berdasarkan penuturan Siti Fathonah, pemilik salah satu unit usaha pembuatan sarung tenun di Desa Wedani Kecamatan Cerme, usaha yang sudah dilakukan sejak tahun 1976 ini, dalam kondisi normal memiliki omzet produksi rata-rata 10 kodi atau 200 lembar sarung perminggu. Berarti dalam satu bulan sekitar 40 kodi atau 800 lembar sarung. Bila harga jual per lembar sarung sekitar Rp 100.000,- s/d Rp 125.000, maka dalam satu bulan bisa dihasilkan pemasukan kotor sebesar Rp 80.000.000,- s/d Rp 80.000.000,-. Artinya, Fathonah bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 20.000.000,- s/d Rp 30.000.000,- per bulan. Dari hasil tenun sarung ini pula, keluarga Fathonah dengan suaminya Tasripin mampu mengantarkan anak sulungnya menjadi dokter. Sedangkan satu anaknya yang lain saat ini sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Kota Malang. (rif)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 20, Maret – April 2005, hlm. 45

Anyaman Pandan, Bawean

Produk Anyaman Pandan dari Bawean
Handycraft Bernilai Seni Tinggi

Menyebut Bawean, ingatan orang pasti tertuju kepada pulau kecil yang terletak di Laut Jawa, tepatnya di Utara Kabupaten Gresik. Tak salah, karena pulau yang selama ini dikenal dengan julukan pusat para perantau termasuk salah satu wilayah Kabupaten Gresik. Meski di tanah rantau (kebanyakan Malaysia dan Singapura mereka hanya bekerja sebagai tenaga kasar, seperti kuli bangunan atau buruh angkut, tetapi upah mereka sudah cukup untuk dijadikan tumpuan dalam menghidupi keluarga mereka di Bawean.

Tidak dimungkiri bahwa Pulau Bawean sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Sebagai daerah kepulauan, Bawean memiliki potensi kelautan dan perikanan yang cukup besar. Lahan pertanian Pulau Bawean yang subur juga merupakan potensi alam yang seharusnya bisa dimanfaatkan. Salah satu produk andalan asal Bawean yang memiliki potensi besar adalah produk anyaman pandan. Produk anyaman berbahan baku daun pandan di Pulau Bawean selama ini berupa tikar. Dari hasil survey yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Gresik beberapa waktu yang lalu, jumlah perajin anyaman pandan yang tersebar di 3 (tiga) desa di Pulau Bawean tercatat 184 orang.

Jumlah perajin terbanyak berada di Desa Telukjati Dawang (127 orang), sedangkan di 2 (dua) desa lainnya yaitu Kepuk Legundi (42 orang) dan Gunung Teguh (15 orang). Menilik tingkat pendidikan para perajin tersebut, sebagian besar merupakan perajin buta huruf (tuna aksara). Namun, semenjak dijadikan sebagai lokasi action research oleh Balitbang Gresik, produk-produk anyaman pandan di Bawean ternyata masih dapat dikembangkan, tidak lagi hanya produk tikar dengan desain anyam  yang konservatif, namun bisa berupa produk-produk lain semacam tas kantor, tempat sampah kering (pakaian kotor), tempat tissu gulung, tempat  tissu lipatan, tempat tissu lembaran, tempat majalah atau Koran dan sebagainya.

Kelebihan yang dimiliki oleh produk anyaman pandan Bawean ini, selain anyamannya rapi dan halus, komposisi pewarnaan, ragam motif, desain yang cukup estetis. Motif anyaman menggunakan variasi jumlah langkah dan warna dan belum mengunakan variasi ukuran lebar iratan daun pandan. Perbaikan desain produk anyaman kearah yang lebih inovatif sebagai upaya diversifikasi akan mampu menambah penghasilan para pengrajin. Selain itu, produk ini juga bisa menjadi produk khas Bawean atau Gresik serta bisa menjadi handycraft yang bemilai seni tinggi.

MacamMotif Anyaman
Motif-motif anyaman tradisional yang selama ini dibuat oleh perajin Bawean adalah sebagai berikut:
Motif Mantel (Produksi Desa Kepuk Legundi).
Motif Sangkapura (Kepuk Legundi).
Motif Kalang-kalang (Kepuk Legundi).
Motif Puye ireng (Kepuk Legundi).
Motif Anyam Laok (Kepuk Legundi).
Motif Kalara
Motif Kopi Susu atau Peti Susun (Produksi Desa Gunung Teguh)
Motif lain (tanpa nama) dengan anyaman yang lebih halus. (rif)

Artikel dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 23, September – Oktober 2005, hlm. 29