Basofi Soedirman

BasofiMohammad Basofi Soedirman Lahir di Bojonegoro, 2 Januari 1941, beragama Islam. Alumni Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1963. Pernah masuk pasukan Baret Merah, kemudian dilugaskan di Kodam Brawijaya, Jawa Timur. Pengalaman tempurnya antara lain di Maros dan Timor Timur (tiga kali).

Sebelum menjabat Gubarnur Jawa Timur, sejak Agustus 1993, ia pernah dipercaya sebagai Komandan Kodim Jember, Mil Gubarnur DKI Jakarta dan Ketua DPD Golkar DKI Jakarta. Pernah mendapat penghargaan BASF Award, karena album lagu dangdutnya “Tak Semua Laki-Laki” laku keras di pasaran.

Menikah denganMarianilsnomo.Bersama keluargatinggal dirumah dinas Gubernuf Jawa Timur, Jl. Imam Bonjol Surabaya, telepon 574700 dan 570936. Selaku Gubernur Jawa Timur berkantor di Jl. Pahlawan No. 110 Surabaya, telepon 333805, 24012 dan 24013.

Sejak kecil ia sudah bercita-cita ingin menjadi tentara. Ini karena ayahnya, almarhum Letjen Sudirman, sering mengajaknya melihat kegiatan militer. Seperti me­lihat ke pedalaman atau menyaksikan olahraga tentara. “Itu yang membuat saya merasa kehidupan saya itu ya militer,” ungkapnya.

Meski begitu, ia masuk militer karena keinginannya sendiri, bukan karena anjuran ayahnya. “Bapak tidak pernah menyampaikan keinginannya mengenai anak-anaknya supaya jadi apa. Pokoknya jadi orang baik-baik. Nah, waktu saya masuk tentara, orang tua justru tidak tahu. Soalnya saya izin orang tua setelah saya lulus,” ungkapnya sembari tertawa.

Mungkin baru pertama kali ini ada di Indonesia, dalam sebuah keluargaadadua jenderal. Sang Bapak lebih tinggi pangkat- nya, yaitu Letnan Jenderal, sedang ia sendiri baru Mayor Jenderal. Namun sewaktu menjadi pejabat, ia tak pernah membawa- bawa nama bapaknya. Hal itu dilakukan atas anjuran ayahnya sendiri.

la melihat bapaknya sebagai seorang yanghumanis, kemanusiaannyatinggi. “Kalau melihat orang sedang sengsara, pasti Bapak akan tergerak hatinya. Tidak peduli siapa pun dia orangnya. Musuh yang mengeluh sakitpun, pasti akan ditolong,” ungkapnya.

Sedikit-banyak ia juga dipengaruhi oleh sikap bapaknya itu. la boleh dikata masih kena sawabnya orang-tua. Jadi meski tidak pernah membawa-bawa nama orangtua, tetapi ia merasakan pengaruhnya.

Ada banyak pengalaman mengenai sa’wab itu. Misalnya ia pernah menjabat di tempat di mana ayahnya dulu juga berada di sana. Sewaktu bertugas di Maros, Sula­wesi Selatan, ternyata nama bapaknya terkenal sekali di situ. Sewaktu ia bertugas di Jawa Timur, semua orang tahu bahwa ia anaknya Pak Sudirman.

Pengalaman tempurnya yang paling banyak dipuji adalah di Timor Timur. la pernah ditugaskan ke daerah itu tiga kali. Pertama kali waktu ia menjadi komandan batalyon. “Itu tahun 1975 kalau tidak salah ingat ya. Berikutnya waktu saya komandan brigade. Kemudian waktu saya jadi asisten Kodam Brawijaya, kembali lagi ke Timor Timur. Lumayan lama di sana. Yang pertama kali itu setahun. Kedua kali delapan bulan, dan yang ketiga enam bulan,” paparnya.

Sewaktu tugas di Timor Timur, sedang ramai-ramainya pertempuran. Dan syukurlah, ia tak pernah kenatembak. Dari pengalaman ini, ia merasa, jago tempur itu tidak ada. Yang ada barangkali faktor luck. Tetapi faktor luck juga harus pakai perhitungan “Saya’ banyak mengalami peristiwa-peris tiwa di mana orang mengatakan saya hebat, Padahal kalau orang tahu rahasianya, orang itu tidak akan mengatakan dirinya ti­dak hebat,” ungkapnya.

Namun karir militernya tak bisa terus berlanjut, karena ia diangkat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Waktu itu usianya 48 tahun dan ia diminta pensiun sebagai tentara. la menganggap tidak ada masalah de­ngan jabatan barunyaitu. “Dan saya juga tidak kaget. Memang terusterang saja, waktu saya ditunjuk oleh Golkar, dalam hati saya bertanya-tanya, ngapain ya, kok saya ditaruh di sini. Disuruh merangkap jadi Wagub dan sekaligus Ketua Golkar DKI. “Wong saya ini dari kecil senangnya jadi tentara,” ungkapnya.

Sejak menjadi Ketua DPD Golkar DKI, ia sering didaulat untuk menyanyi dalam berbagai forum. Biasanya menyanyi lagu dangdut. Makin lama ia makin merasa bisa menjadi penyanyi dangdut. Lantas ia menelurkan album “Tak Semua laki-Laki” yang ternyata laku keras di pasaran, sehingga ia berhak memperoleh BASF Award.

Sesudah menjadi Gubernur Jawa Timur, kedekatannya dengan masyarakat tidak berkurang. la cukup akrab dengan para artis musik dan film. Menurutnya, untuk menjadi pemimpin di Jawa Timur itu, sebenarnya tidak susah. Yang penting ada keterbukaan dan komunikasi. Kalau memberi sesuatu pada masyarakat Jawa Timur harus jelas, dengan argumen yang baik. “Bila hal itu dilakukan, saya yakin mereka pasti mau menerima. Jangan sekali-kali menawarkan sesuatu tanpa argumen. Pasti akan ditolak mentah-mentah,” ungkapnya.

Dalam menjalankan tugas, ia akan mendahulukan perbaikan Sumber Daya Manusia. Termasuk perbaikan mental aparat dan birokrasi. Untuk menyamakan persepsi de­ngan aparatnya, ia menggu nakan berbagai kiat. Misalnya dengan selalu memberi teladan yang baik pada aparatnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 131-133 (CB-D13/1996-…)

Mohammad Noer

M NoerMohammad Noer lahir di Kampung Beler, Desa Rong Tengah Kabupatern Sampang, 13 Januari 1918, beragama Islam.
Pendidikan:
Tahun 1932, Lulus HIS di Bangkalan,
Tahun 1936 MULO di Blitar,
Tahun 1939 MOSVIA di Magelang.
Mengawali karir di kantor Kabupaten Sumenep (1939-1940), di Kantor Kawedanan Ambunten (1940- 1941) dan jadi Mantri Kabupaten Bangkalan (1941-1943).
Tahun 1950 sebagai Penjabat Sementara Patih Pamekasan, Bupati Bangkalan (1960-1965), Pembantu Guber- nur (Residen) Jatim Wilayah Madura (1965-1967), Penjabat Sementara Gubernur Jatim (tahun 1967), Penjabat Gubernur Jatim (1967-1971) dan Gubernur Jatim (1971-1976).
Tahun 1973-1978 dan 1985-1992 terpilih sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat, menjadi Duta Besar di Prancis (1976-1980), anggota Dewan Pertimbangan Agung (1981-1983,1983-1988), Rektor Universitas Bangkalan (1985 1988) dan anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (1989). Saat ini diantaranya menjabat sebagai Ketua Konsor- sium Pembangunan Jembatan Surabaya – Madura, Ketua Yayasan Jantung Sehat Jatim dan Ketua Yayasan Ajidarma.
Banyak memperoleh penghargaan, diantaranya Bintang Mahaputera Utama III, Bintang GrandOfUcier d’Ordre du Merite dari pemerintah Prancis, Lencana Manggala Karya Kencana BKKBN, serta Bintang Legiun Veteran.
Menikah dengan Mas Ayu Siti Rachma dan dikaruniai 8 putra. Kini tinggal di Jl. Ir. Anwari 11, Surabaya, telepon 65458.
Jawa Timur agaknya sudah tidak bis dipisahkan dengan namanya. Moharn mad Noer begitu dikenal oleh warga Jatim karena berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan yang dilakukannya. Meski tak lagi, menjabat sebagai Gubernur Jatim, namun masyarakat masih menganggapnya sebagai salah seorang sesepuh yang patut untuk dimintai pendapat.
Tak heran kalau rumahnya tak pernah sepi dari tamu. Karena jadwal kegiatannya cukup padat, ia harus mengatur waktu kun jungan tamunya dengan cermat. “Saya punya buku agenda yang mengatur jadwal kegiatan sehari-hari. Selain itu juga ada papan tulis yang berisi kegiatan saya. Kita memang harus berdisiplin soal waktu,” ungkapnya, sembari memperlihatkan buku agendanya. Dalam buku itu, bahkan aktivitas yang akan dilakukan sebulan kemudian sudah tercatat rapi.
Ia berupaya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, agama, dan keluarga. Maka dalam mewujudkan tugas, ia selalu berusaha meningkatkan taraf hidup ma¬syarakat, khususnya masyarakat kecil. Sewaktu menjabat sebagai Gubernur Jatim ia telah bertekad agawe wong cilik gumuyu membuat rakyat kecil tertawa.
Ada beberapa peristiwa yang sangat berkesan di hatinya, sewaktu masih men¬jabat sebagai orang pertama di Jatim. Peristiwa pertama adalah saat mefighadapi kasus carok yang berkepanjangan antara sebagian warga Bangkalan dan Sampang Karena kedua kelompok masyarakat itu saling dendam kesumat untuk melakukan ca¬rok, maka peristiwanya jadi berlarut-larut dan sukar diatasi, sehingga meresahkan mayarakat lainnya.
Bagaimana tindakannya untuk menyelesaikan kasus gawat itu? “Sayatahu bahwa orang Madura sangat menghormati Sunan Ampel. Maka saya mengumpulkan kedua pihak yang bertikai di halaman Mesjid Sunan Ampel untuk membaca ikrar dan sumpah bahwa mereka tidak akan melakukan carok lagi. Dan sesudah itu syukurlah carok tak terjadi lagi,” ungkapnya.
Cara-cara religius memang dipakainya untuk menyelesaikan masalah. Seperti se- waktu terjadi musibah penerbangan di Srilanka, 4 Desember 1974 yang menewaskan 184 jemaah haji dari berbagi daerah di Jatim. Masalahnya adalah bagaimana mengirimkan kembali jenazah itu kepada keluarganya, karena kesulitan identifikasi jenazah. Kembali halaman Mesjid Sunan Ampel menjadi jawabannya. Dengan dimakamkan di tempat itu, segenap keluarga yang ditinggalkan akhirnya mengikhlaskan jenazah parasyuhada itu dikuburkan di satu tempat.
Peristiwa lain yang berkesan adalah sewaktu menghadapi kasus jaring ikan di Muncar tahun 1974. Saat itu bupati setempat merasakan taraf hidup masyarakatnya, yang sebagian besar nelayan, belum begitu menggembirakan. Hasil mereka menangkap ikan belum seperti yang diharapkan.
Maka bupati lalu berinisialif membuat jaring baru yang ditarik dua kapal. Dan hasilnya sangat menggembirakan, karena berhasil menangkap bertonton ikan, padahal dengan jaring biasa yang hanya menggunakan satu kapal, cuma diperoleh sekitar 25 kg.
Kesulitan timbul, ketika nelayan di daerah lain merasa cara penjaringan ikan seperti itu akan cepat menghabiskan ikan dilautan. Lalu terjadi insiden pembakaran perahu-perahu nelayan Muncar. la kemudian mengumpulkan para demonstran yang ti¬dak menyetujui pemakaian jaring baru itu.
“Saya katakan pada mereka, apakah ka¬lian ingin maju apa tidak? Kalau ingin hidup lebih baik lagi, maka sistem yang baru itu harus diterapkan,” tegasnya. Tampaknya para nelayan bersedia mengikuti sarannya. Namun timbul problem berikutnya, bagai¬mana mengadakan kapal yang lebih banyak buat mereka, karena jaring ini ditarik dua kapal.
Masalah terpecahkan setelah ia menghadap PresidenSoeharto. Hasilnya, Pemda Jatim mendapat kredit untuk pengadaan kapal. Ini hanya beberapa contoh keberhasilannya dalam membangun Jatim, yang ditandai dengan perolehan anugerah Parasamya Purnakarya Nugraha.
Sebagai atasan ia berusaha untuk memberi contoh pada bawahannya. Kepada pa¬ra stafnya ia selalu menekankan rasa cinta tanah air dan menanamkan sikap agar bekerja tidak hanya atas dasar perintah. “Sewaktu saya menjadi Bupati Bangkalan, saat itu tak tersedia dana yang cukup untuk melakukan pembangunan. Namun dengan swadaya masyarakat akhirnya kami bisa membangun jalan-jalan. Sekolah-sekolah di desa terpencil kami bangun. Dengan adanya guru di desa tersebut diharapkan bisa memacu perkembangan desa,” ung-kapnya.
Saat menjabat Wedana Arosbaya, Ma¬dura, tahun 1947, ia merasakan pahit getirnya perjuangan melawan Belanda. la bergabung dengan pasukan gerilya, sehingga harus berpisah dengan keluarganya. Saat itu istrinya sedang hamil tua, mengandung anaknya yang ketiga. Bersama kedua anaknya yang masih kecil-kecil, sang istri terpaksa mengungsi ke luar kota Arosbaya, menuju Desa Karang- duwak. Di desa ini anak ketiganya dilahir-kan.
Serangan Belanda itu terjadi setelah Belanda melanggar persetujuan Linggarjati. Ketika itu Madura akan dikuasai untuk dijadikan negara boneka Namun dengan tegas ia menolak ajakan Belanda mendirikan Negara Madura. Karena itu tawaran Belanda untuk mengakhiri permusuhan tidak digubris olehnya. Waktu itu kelompok gerilya mulai terdesak, sehingga akhirnya diputuskan untuk hijrah ke Jawa dan membentuk pemerintahan Madura di pengasingan.
Untuk meninggalkan Madura waktu itu tidak mudah, karena laut di sekitar Madura sudah dikuasai Belanda. Namun akhirnya ditemukan sebuah tempat penyebrangan paling baik untuk menghindari kemungkinan disergap patroli Belanda, yaitu di muara sungai Desa Klampis. Dari desa inilah, sekitar 20 dari 22 perahu peng’ungsi dapat mendarat dengan selamat di suatu pantai daerah Tuban. “Demi membela nusa dan bangsa, saat itu kami harus rela berpisah dengan keluarga,” ungkapnya.
Sewaktu menjadi Duta Besar Prancis, ia selalu memacu mahasiswa Indonesia yang sedang sekolah di sana, agar bisa berprestasi. Dan menurutnya kemampuan ma¬hasiswa Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa dari negeri lainnya. Tak jarang ada mahasiswa yang lulus cumlaude
“Dalam soal ilmu, kita tidak kalah dengan ilmuwan Prancis. Pernah pada suatu seminar, ilmuwan Prancis terpukau oleh presentasi yang dibawakan delegasi kita, meski menggunakan Bahasa Indonesia. Soal bahasa memang tidak ada masalah, karena kami menyediakan penerjemah,” jelasnya.
Menyinggung soal potensi utama Jatim, menurutnya terletak pada sumber daya manusianya. Jangan sampai kepadatan penduduk justru menjadi beban. “Lihat saja Je-pang, meski sumber daya alamnya terbatas, namun karena manusianya urv ggul, bi-sajadi bangsa yang maju. Untuk itu kita harus menanamkan patriotisme dan nasi-onalisme kepada para pemuda kita. tegasnya.
Industrialisasi di Madura menurutnya sudah saatnyadijalankan untuk memberantas kemiskinan dan kebodohan. Bayangkan saja, saat ini hanya 12% siswa SD yang bisa meneruskan ke SMP, sebelum ada Wajib Belajar 9 tahun. Dan 64% wilayah Madura mendapat Inpres Desa Tertinggal “Dengan adanya industrialisasi, rakyat Madura bisa meningkatkan kesejahteraannya Lagipula mereka juga sudah biasa kerja di pabrik-pabrik. Nanti direncanakan Madura akan jadi tempat industri hitech, seperti elektronika. Tentu kita harus mencegah agar hal-hal yang maksiat tidak terjadi,” tegasnya.
Dalam mendidik ke delapan anaknya, ia mengadakan pendekatan secara kekeluar gaan. Diusahakannya untuk selalu bisa makan malam bersama keluarga. Tak heran kalau meja makan keluarganya sampai berisi 14 kursi. Dalam kesempatan itulah ia berkomunikasi dengan anak-anaknya, mem berikan petuah dan nasehat.
“Saya tekankan pada anak-anak, agar jangan tergantung pada siapapun, kecuali Allah SWT. Mereka jangan tergantung kepa¬da saya, karena suatu saat pasti saya akan pensiun sebagai pejabat. Saya mendiiplinkan mereka agar bisa menuntut ilmu dengan sebaik- baiknya. Sehingga mereka mau belajar dengan kesadarannya sendiri. tanpa harus diperintah,” paparnya.
Untuk menjaga kesehatan, dulu setiap pagi ia rajin jogging. Namun oleh dokter ia tak diperbolehkan olahragayang bertumpu pada kaki. Akhirnya ia berganti dengan olah raga renang. Hampir setiap hari ia berenang di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Kalau sedang berada di Jakarta, ia juga menyempatkan diri untuk berenang.
“Kalau pikiran ruwet harus segera dihilangkan dengan menghibur diri. Misalnya bermain dengan cucu, melihat ayam bekisar dan kate. Sesudah itu biasanya pikiran tenang kembali,” ungkapnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 86-89 (CB-D13/1996-…)

Imam Oetomo

imam oetomo001Mayor Jenderal TNI AD Imam Oetomo ini kelahiran Jombang pernah menjabat sebagai Danrem 084/Bhaskara Jaya tahun 1989- 1992, Kasdam VI Brawijaya tahun 1992 dan Asisten Personalia (Aspers) Kepala Staf Angkatan Darat. Sekarang menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya.
Bersama keluarga tinggal di Jl. Raya Darmo No. 100, Surabaya, telepon 510100. Sehari hari berkantor di Jl. Raden Wijaya No. 1, Surabaya, telepon 512455.
Selaku Pangdam V/ Brawijaya, ia meng. inginkan masyarakat Jawa Timur mempunyai kekuatan yang mampu menangkal berbagai permasalahan di kemu- dian hari. Membuat ruang, alat dan kondisi yang tangguh. “Tidak hanya kekuatan mi-ii- ternya, tetapi secara keseluruhan kita ajak masyarakat membantu pembangunan,” ungkapnya.
Sejak dulu, ia selalu ingin dekat dengan rakyat, demikian jugadi pasukan. Sehingga ia mengerti apa maunya mereka itu. Jadi dalam menentukan kebijakan-kebijakan juga tepat. “Sekarang ini di Jawa Timur perkem- bangan industrialisasi sangattinggi. Akibat- nya, masalah buruh dan tanah, yang akan diperguna kan untuk meluaskan pabrik, menjadi peka. Sehingga dibutuhkan pende- katan yang akan menyangkut hajat hidup rakyat itu sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, dampak industrialisasi di antaranya orang kaya akan lebih banyak, demikian juga orang miskin semakin ba¬nyak, sehingga akan menimbulkan kesen- jangan ekonomi-sosial yang tinggi. Hal itu perlu untuk diwaspadai. Karena kesenjangan sosial yang tinggi bisa menyebabkan masalah SARA. “Jadi menurut saya, potensi kerawanan di Jatim antara lain soal buruh, tanah dan SARA,” tegasnya.
Sebagai contoh soal buruh, kalau tuntutan kebutuhan hidup tidak terpenuhi, walau upah minimal sudah diumumkan, bisa menjadi permasalahan. Kalau misalnya yang didemonstrasi itu warga negara keturunan, akhirnya menjadi masalah SARA.
Untuk itu ia akan memberikan perhatian khusus dan pembinaan terhadap para USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika timbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan melakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngudarasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de¬ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika iimbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan ,nelakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngu- darasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de-ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi THR. “Saya yakin, apabila orang diperlakukan demikian oleh pimpinannya, mereka akan bekerja lebih baik. Manajemen modern harus memanusiakan manusia,” ungkapnya.
Sebagai orang kelahiran JawaTimur, sikapnya sama seperti orang Jatim kebanyakan. Thas-thes, tak senang ngomong, senang juga ngomong. Itu keterbukaan. la lebih menyukai hal seperti itu. Kalau ada orang yang tidak senang lalu ngomong, ia lebih menyukai.
Masyarakat Jawa Timur diakuinya memang ceplas-ceplos dan terbuka. Akan tetapi di balik itu, khususnya di daerah pe- desaan, mereka masih memandang hormat para ulama dan tokoh masyarakat. “Seba¬gai contoh di Madura, ulama masih begitu dihormati dan ditaati. Oleh sebab itu harus diadakan pendekatan ke sana. Saya juga akan banyak turun ke masyarakat.”
Baginya, jabatan sebagai panglima, akan diemban dengan penuh rasa tang- gungjawab. Kalau orang mengatakan, wah jadi panglima senang yaitu yang dilihat glamornya saja. Ini tanggung-jawabnya besar, pengorbanan juga harus lebih banyak. “Apa pun yang terjadi, saya siap untuk berkorban. Saya akan memegangteguh kepercayaan pimpinan dan tidak setitik pun akan saya nodai. Itu yang saya pegang sejak jadi letnan,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 92-93 (CB-D13/1996-…)

Charles Olke van der Plas (Ch. O. van der Plas), Gubernur Jawa Timur (18 Mei 1936 – 30 Juni 1941)

CHARLES OLKE VAN DER PLASCharles Olke Van Der Plas (Ch. O. van der Pias) terlahir sebagai putra Charles Olke Van der Plas Senior dan C.C.E. Clifford Kocq van Breugel pada tanggal 15 Mei 1891 di Buitenzorg. Sepanjang hidupnya telah diabdikan untuk kepentingan negara dan masyarakat. Ia seorang figur pekerja keras, penuh ide dan aktif memper­juangkan hak-hak orang kecil.

Kariernya dalam pemerintahan diawali setelah ia menamatkan Nederlandsch Indisch Bestuurdienst di Rijksuniversiteit, Leiden. Ia menempuh pendidikan dari tahun 1912 hingga 1919. Setamatnya dari Perguruan tinggi, ia mendapat tugas yang berbeda-beda sebagai ambtenaar di Binnenlandsch Bestuur. Kariernya terus menanjak seiring pertambahan usia, hingga ditunjuk sebagai Gubernur Jawa Timur pada tanggal 18 Mei 1936 menggantikan JHB Kuneman.

Selepas dari Dinas Binnenlandsch Bestuur, Pemerintah Hindia Belanda masih mempercayakan beberapa tugasnya pada beliau. Ini dapat diketahui dari beberapa arsip yang ditinggalkan serta peranannya dalam menjembatani perundingan antara pemerintahan Belanda dengan pemerintah Republik Indonesia, setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan oleh Ir Sukarno. Selama masa pemerintahannya, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah telah dikeluarkan. Tetapi ia tidak sendiri dalam menentukan kebijakan tersebut. Setiap kebijakan yang diambil, harus ada persetujuan Dewan Propinsi Jawa Timur (Provinciaal Raad van Oost-Java). Dalam menjalankan kebijakan, Gubernur dibantu oleh College van Gedeputeerden. Mereka adalah anggota-anggota dewan yang terdiri dari para residen, bupati, pegawai pemerintah atau orang tertentu yang dipilih atas persetujuan Raad van Indie dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Mereka juga terdiri para pejabat Belanda, pejabat pribumi, serta orang asing non-pribumi, seperti: Arab, Cina.

Mengawali tugasnya sebagai gubernur Jawa Timur, ia mengajukan permohonan restitusi pajak pada Gubernur  Jenderal. Permohonan ini terpaksa dilakukan mengingat dia harus membayar pajak pendapatan sejumlah f 5.760. Pembayaran tersebut untuk pajak pendapatan atas NV. Uitgevers Mij Brill, di mana ia pernah sebagai pemegang saham untuk tahun 1934. Ini terjadi ketika ia masih menjabat sebagai Residen Cirebon. Permohonan van der Plas pada Gubernur Jenderal ini diperkuat dengan keterangan Kepala Inspeksi Keuangan, Bandung pada kepala Inspeksi Keuangan Batavia mengenai jumlah pendapatan yang diterima setelah dikurangi pajak-pajak yang lain.

Keberatan van der Plas ini diajukan mengingat ia tidak lagi mempunyai saham pada NV Uitgevers Mij. Brill. Sementara sebagai Gubernur, pendapatannya dirasa hanya cukup untuk hidup bersama istri dan 3 anaknya. Dari pemeriksaan Departemen Keuangan Batavia dan Inspeksi Keuangan di Bandung diketahui bahwa ia sudah melepaskan kepemilikan atas saham di NV tersebut. Akhirnya diputuskan oleh Gubernur Jenderal bahwa pajak pendapatan yang harus dibayar van der Plas sejumlah f 5.760,-

Beratnya beban yang dipikul sebagai seorang Gubernur Jawa Timur, mengakibatkan kelelahan fisiknya. Ia sempat jatuh sakit. Itu sebabnya ia mengajukan permohonan cuti karena sakit. Permohonan cuti itu diajukan pada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, disertai surat Keterangan sakit dari DR. ERA. Luijke Roskott. Dalam surat keterangan tersebut ditunjukkan sakit yang diderita tuan Gubernur Van der Plas serta kondisi kesehatannya yang makin melemah akibat komplikasi penyakit tropis, seperti disentri, maag, dan lain-lain. Berat badannya berkurang hingga 6,5 kg selama 14 hari sakit hingga badannya sekarang tinggal 52,5 kg.

Akibat sakitnya, ia tidak bisa menjalankan tugas sebagai mana mestinya. Dr. Roskott menyarankan untuk meminta ijin cuti selama 6 minggu sejak tanggal 7 April 1937. Dr. Roskott berharap agar pasien dapat beristirahat dan memulihkan kesehatan. Gubernur Plas merasa ijin cuti itu teramat singkat baginya, sehingga ia meminta pada Gubernur Jenderal agar memperpanjang cutinya sampai 6 bulan.

Keadaan sakit Gubernur van der Plas ini dibenarkan oleh Sonnevelt, melalui surat rahasianya pada sekretaris Gubernur Jenderal, JM Kiveron. Bahwa van der Plas menderita demam dan selama itu hanya diperbolehkan duduk-duduk di serambi dan tinggal tidak jauh dari kamar tidurnya. Melihat kondisinya yang belum pulih benar, Dr. Roskott memperpanjang ijin cutinya hingga tanggal 6 Juli 1937. Ini dilakukan demi kesembuhan Gubernur van der Plas.

Van der Plas kembali bekerja sebagai Gubernur Jawa Timur, menjelang akhir masa jabatannya, ia mengadakan konferensi Bupati se Jawa Timur yang diadakan di ruang Dewan Propinsi Jawa Timur, Surabaya. Konferensi diadakan pada hari selasa, tanggal 24 Juni 1941. Konferensi ini juga dihadiri oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Sekretaris Umum, JM Kiveron, Direktur Kabinet Guberur Jenderal Aldenberg, para residen serta Bupati se Jawa Timur.

Pertemuan dibuka pada pukul 16.35 sore. Diawali dengan pidato pembukaan oleh Gubernur Jenderal, Strakenborgh Stachouwer. Kemudian Gubernur Jenderal mempersilahkan para Bupati menyampaikan pandangan dan paparannya mengenai model propaganda dan penerangan bagi masyarakat luas secara bergantian. Masing- masing bupati menyampaikan pidato yang berbeda sesuai dengan kondisi daerahnya. Akhirnya, pertemuan ditutup oleh Gubernur Jenderal pada pukul 19.30 malam. Tampak Gubernur Jenderal Starkenborgh puas atas laporan para bupati di Propinsi Jawa Timur, di bawah kendali Gubernur van der Plas. Ia mengakhiri masa jabatannya, pada bulan Juni 1941. Sebagai gantinya ditunjuk Mr. H.C. Hartevelt sebagai Gubernur kelima Jawa Timur.

Selepas menjadi Gubernur Jawa Timur, banyak tugas yang diembannya. Mula-mula ia ditunjuk sebagai anggota Raad van Indie di Batavia Kemudian menjadi Ketua Komisi Hindia Belanda untuk Australia dan New Zeland. Bahkan di awal-awal berdirinya Republik Indonesia, Van der Plas masih mendapat tugas-tugas, seperti:
1944  : sebagai Direktur Binnenlandsch Bestuur.
1945  : Atas nama pemerintah Indonesia mengadakan pembicaraan dengan pimpinan pasukan Inggris (South East Command) di Jawa Sebagai Civil Affairs Officer
1944-1945 : Penasihat Urusan Islam
1947 : Sebagai penasihat FAO
Hingga pada masa tuanya, beliau masih menjabat sebagai penasehat di beberapa lembaga pemerintah Belanda dan dunia. Dia masih bekerja keras mengabdikan sisa-sisa usianya untuk kepentingan masyarakat dunia. Tepat pada tanggal 7 Juli 1977, Charles Olke van der Plas meninggal di Zwolle dalam usia 86 tahun.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Profil gubernur Jawa Timur Masa Hindia Belanda Tahun 1928-194. Surabaya:  Badan Arsip Propinsi Jawa Timur, 2003. hlm,10-12

JHB Kuneman, Gubernur Jawa Timur (1 Juli 1933-30 April 1936)

LONDO 3JHB Kuneman diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur pada periode 1933-1936 menggantikan GH. De Man. Kariernya dalam pemerintahan diawali setelah ditunjuk sebagai Adspirant Controleur Majalengka pada tanggal 30 November 1909. Ia pernah pula menjadi Bestuur Academie Controleur pada tanggal 21 April 1911. Pada tahun 1930, ia ditunjuk sebagai Sekretaris di Keresiden Cirebon.

Kariernya semakin menanjak setelah ia menjadi Residen Priangan Tengah sejak tanggal 1 November 1931. Dia sempat dicalonkan sebagai Gubernur Jawa Timur menggantikan W.Ch. Hardeman. Pencalonan ini terpaksa ditunda karena dianggap ia masih terlalu muda dan ada calcn lain yang dianggap lebih mampu memimpin Jawa Timur. Jabatan Gubernur Jawa Timur diterima setelah G.H. de Man mengakhiri jabatannya karena mengajukan pensiun.

Pada masa pemerintahannya, banyak kebijakan politik ekonomi dan sosial telah dikeluarkan untuk memajukan masyarakat Jawa Timur. Dalam hal pembangunan fisik diketahui bahwa telah dilakukan pembangunan, perbaikan, perawatan terhadap dam, pengairan, tanggul penahan air, serta penyambungan pipa air untuk kepentingan masyarakat. Sebagai konsekuensi terhadap eksploitasi PAM dikenakan tarif baru.

Meskipun begitu banyak kasus yang muncul berkaitan dengan tarif sewa meteran air, seperti usul Dewan Kabupaten Bangkalan yang mengajukan mosi tidak percaya terhadap layanan PAM. Hal ini memicu perubahan tarif yang kemudian disetujui oleh Dewan Propinsi Jawa Timur.

Untuk menghindari kerusakan lebih lanjut terhadap sarana jalan raya, dilakukan perbaikan dan penutupan untuk jenis angkutan tertentu, seperti cikar. Dalam ketetapan itu juga disebutkan batas kecepatan bagi kendaraan yang melewati. Di bidang telekomunikasi, ia membuat perubahan dalam pemasangan kabel telepon dan telegraf bawah laut dari wilayah Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi menuju Tjandikusumo (Bali) dan ini berakhir di Blimbingsari.

Di bidang kehutanan, mengingat pentingnya konservasi hutan bagi kelangsungan ekosistem dan juga kepentingan umat manusia, maka dibuatlah peraturan perlindungan hutan di Jawa Timur. Peraturan ini dibuat dengan merubah peraturan yang sudah ada. Ini terpaksa dilakukan untuk menghindari kerusakan hutan lebih lanjut akibat ulah orang- orang tidak bertanggungjawab Di samping itu juga perlu disadari bahwa hampir seluruh wilayah Jawa Timur dikenal sebagai penghasil kayu jati.

Masalah pengangkutan penumpang, barang serta hewan ternak melalui pengangkutan laut juga menjadi perhatiannya. Untuk menjaga ketertiban dan kelancaran pelayaran tersebut, serta menjaga arus transportasi antara wilayah di Jawa Timur yang terpisah dengan pulau-pulau maka dibuat peraturan. Peraturan ini dibuat untuk melengkapi aturan yang sebelumnya dan dikeluarkan oleh Residen Pasuruan pada tanggal 21 September 1906. Di dalamnya telah tercakup berbagai ketentuan mengenai penumpang, juragan, pelayaran tradisional, jumlah penumpang yang boleh naik, jumlah barang maupun ternak termasuk di dalamnya sangsi bagi yang melanggar peraturan.

Sebagai seorang gubernur, banyak sisi menarik dari JHB Kuneman dalam membuat kebijakan di pemerintahannya. Banyak permasalahan pegawai pemerintah yang akhirnya memerlukan campur tangannya untuk menyelesaikan, seperti masalah permohonan cuti pegawai, pemberhentian pegawai karena kasus penyelewengan, penggelapan uang pada proyek pembangunan PAM Bangil oleh AE Davidz, pembayaran pensiun pada janda pejabat-pejabat pribumi, dan lain-lain. Segala keputusan dan ketetapan yang dibuat, dilakukan melalui kesepakatan dengan Dewan Propinsi Jawa Timur dan College van Gedeputeerden.

Penggelapan uang rupanya telah menjadi bagian dari budaya pegawai pemerintah semenjak masa lampau. Banyak penyimpangan keuangan terjadi pada mereka yang pekerjaannya terkait dengan uang. Masalah penggelapan terbanyak terutama mengenai pembayaran uang garam yang tidak disetorkan. Akibatnya beberapa mantri garam terpaksa harus membayar ganti rugi dan mengembalikan setoran. Beberapa kasus menyebabkan mereka terpaksa ditahan bahkan dicopot dari jabatannya. Meskipun demikian ada pula yang berkeras bahwa ia sudah menyetorkan kekurangan uang. Sehingga meminta hak dan nama baiknya dikembalikan. Ada pula diantara mereka yang keberatan atas sejumlah ganti rugi yang harus dibayar.

Campur tangan Gubernur Kuneman tampak pula dalam masalah perekonomian masyarakat. Ini terlihat dari dikeluarkannya instruksi-instruksi untuk kepala pasar dan pegawai bawahannya di Bondowoso. Ini dilakukan untuk menghindari penyelewengan dan permainan harga oleh pedagang luar. Dengan demikian pemerintah bisa mengendalikan perdagangan tembakau yang saat itu menjadi primadona dalam komoditi dagang.

JHB. Kuneman mengakhiri jabatannya sebagai gubernur Jawa Timur dan digantikan oleh Ch. O van der Plas pada tahun 1936. Meski demikian tidak berarti ia berhenti dari pemerintahan. Ia masih ditunjuk sebagai anggota sekaligus pendiri Dewan Kolonisasi berdasarkan besluit tanggal 12 Januari 1937 No. 23. Beberapa saat kemudian ia ditunjuk sebagai Komisi pusat untuk migrasi dan kolonisasi pribumi. Dan masih banyak lagi jabatan lain yang diemban setelah itu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Profil gubernur Jawa Timur Masa Hindia Belanda Tahun 1928-194. Surabaya: Badan Arsip Propinsi Jawa Timur, 2003. hlm,7-9

G.H. de Man, Gubernur Jawa Timur (14 April 1931 – 21 Juni 1933)

Pemerintahan Jawa Timur Masa Gubernur G.H. de MAN (14 April 1931 – 21 Juni 1933)

G.H. de MANG.H. de Man mengawali kariernya dalam pemerintahan dimulai ketika dia diangkat sebagai Ambtenaren ter beschikking di Agrarische Zaken pada tanggal 26 Oktober 1906. Ken\mudian dia diangkat sebagai Controleur daerah Genteng pada Standplaatsen van de overige, Controleur en adspirant Controleurs di Binnenlandsch Bestuur op Java en Madoera (Besuki) pada tanggal 28 Juli 1908. Kariernnya dalam pemerintahan semakin menanjak hingga akhirnya ditunjuk sebagai residen Surabaya, sekaligus anggota dan ketua NIAS, Surabaya pada tahun 1928.

Seiring dengan pengangkatan W.Ch. Hardeman sebagai anggota Raad van Indie di Batavia, de Man ditunjuk sebagai gubernur pengganti di Jawa Timur berdasarkan besluit tanggal 14 April 1931, No. 32 dengan gaji f2000 per bulan. Proses penunjukan sebagai gubernur sendiri tak urung menimbulkan beberapa polemik. Ada beberapa calon yang sebenarnya diajukan untuk mengisi kekosongan gubernur ini, seperti: de Brinks, H.H. de Cock, C.A. Schnitzler. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, pilihan jatuh pada G.H. de Man.

Pemilihan de Man sebagai gubernur Jawa Timur ini tidak lepas dari campur tangan pendahulunya. Hardeman lebih condong pada G.H. de Man. Menurut Hardeman, G.H. de Man dianggap orang yang cocok menggantikannya. Dia mempunyai kemampuan dan kepribadian yang baik untuk memimpin Propinsi Jawa Timur. Di samping itu, Hardeman sudah tahu betul kualitas de Man. Ia abdi pemerintah yang taat.

Hardeman pernah bekerja sama dengannya sebelum itu. Itulah yang disampaikan Direktur Binnenlandsch Bestuur pada Gubernur Jenderal di Batavia dalam surat rahasianya. Banyaknya calon yang diajukan untuk maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur ini juga mengundang campur tangan Raad van Indie. Maka ia pun turut memberikan sumbang sarannya. Bahkan ia menambahkan kandidat baru dalam bursa

calon gubernur, yaitu JHB Kuneman, residen Priangan Tengah. Pada akhirnya Raad van Indie menyetujui G.H. de Man sebagai gubernur Jawa Timur dengan pertimbangan bahwa sejauh ini dia memiliki prestasi yang bagus dalam pemerintahan.

Penunjukan G.H. de Man sebagai gubernur ini tak ayal juga menimbulkan sakit hati dari residen Probolinggo, G. Scholten. Ia merasa telah disepelekan karena tidak tercantum dalam daftar calon. Karena itu ia berkirim surat pada Direktur Binnenlandsch Bestuur atas kejadian yang menimpanya. Ia menceritak bahwa selama 5 tahun menjadi residen di Probolinggo, ia mampu bekerja sama baik dengan Gubernur saat itu. Ia juga banyak membawa perubahan dalam pemerintahan termasuk sebagai ketua Gemeente Raad van Probolinggo.

Dalam suratnya Scholten menyebutkan banyak kesuksesan yang telah dicapai selama menjadi residen. Sayangnya gubernur Hardeman tidak mempertimbangkan ini, dan mengajukan nama de Man sebagai penggantinya. Itu sebabnya Scholten terpaksa meminta penjelasan pada Direktur Binnenlandsch Bestuur tentang hal ini.

Selama menjadi gubernur, G.H. de Man melanjutkan kebijakan yang telah mulai dilakukan oleh Hardeman. Untuk menambah modal pembangunan, ia mengusulkan peminjaman likuasi sebesar f 340.000,- yang akan dibayar dalam tempo 19 tahun mulai 1933 sampai 1951. Usul pinjaman ini diketahui oleh Provinciaal Raad van Oost Java yang akhirnya menyetujui sejumlah pinjaman itu untuk modal pembangunan pipa air minum bagi wilayah Surabaya Selatan, Bangkalan, Lumajang, Pamekasan, dan lain-lain.

Dalam perpajakan, bersama Provinciaal Raad menentukan daftar pajak untuk jalan, pengurangan taksiran pajak kendaraan bermotor. Meskipun begitu ada yang keberatan atas pajak jalan yang telah ditentukan, seperti: NV Mineraal Waterfabriek Hellfach & co, Surabaya. Akhinya gubernur De Man menetapkan besarnya pajak yang harus dibayar.

Dalam bidang keuangan, gubernur de Man memberikan subsidi pada beberapa rumah sakit dan klinik baik swasta, pemerintah dan keagamaan, seperti RS. Zending, RS. PKO Muhamadiah. Ia juga membantu subsidi bagi perkumpulan, seperti: rumah yatim piatu, perkumpulan pemuda, Museum. Ia banyak memberi perhatian pada kaum pengangguran dengan memberi subsidi berdasarkan kelas-kelasnya. Ini membuktikan bahwa de Man konsen terhadap krisis yang melanda penduduk pada saat itu.

Pada bidang pertanian, ia menyarankan pada para petani dan pengusaha perkebunan untuk menggunakan pupuk guna peningkatan produktivitas. Diharapkan penggunaan pupuk ini dapat disebarluaskan pada masyarakat yang mayoritas bergerak di sektor agraris.

Beratnya tugas yang harus diselesaikan, ditunjang daya tahan tubuh yang tidak begitu kuat, membuat G.H. de Man jatuh sakit. Menurut dokter yang memeriksa, gubernur menderita komplikasi bludrek. Ini membuat kondisinya lemah dan tidak dapat berpikir berat. Dokter menyarankan agar ia beristirahat di Pacet, sehingga benar-benar lepas dari rutinitas kantor. Atas saran dokter pula ia mengajukan permohonan cuti pada Gubernur Jenderal. Di samping itu sudah 5 tahun ini ia belum pernah mengajukan cuti. Gubernur Jenderal melalui besluit tanggal 8 Oktober 1932, No. 32 memberikan cuti selama 1 bulan dan mengijinkan untuk dibawa ke Pacet bersama anak istrinya.

Pada awal tahun 1933, secara tiba-tiba Gubernur de Man mengajukan permohonan diri untuk pensiun dari dinas karena ingin kembali ke tanah air bersama keluarganya. Saat itu ia telah berusia 45 tahun dan telah 25 tahun mengabdikan diri pada pemerintah. Pada Direktur Binnenlandsch Bestuur, ia telah merencanakan untuk memesan tempat di kapal Sibajak dari Stoomvaart Mij. Rotterdamsche Lloyd.

G.H. de Man akhirnya diberhentikan dengan hormat dari dinas melaui besluit tanggal 10 Maret 1933 No. 23 sejak tanggal 21 Juni 1933. Ia juga berhak atas sejumlah pensiun dari Directeur van Financien. Atas pengunduran dirinya, ia mengadakan kunjungan resmi pada Gubernur Jenderal. Di samping telah berpamitan melalui surat.

Berkaitan dengan pengunduran dirinya pula, de Man telah menyampaikan memori pengunduran diri pada Direktur Binnenlandsch Bestuur sebagai pertanggungjawaban. Di dalamnya ia menyampaikan berbagai kebijakan yang dilakukan selama menjadi Gubernur dari tanggal 1 Mei 1931 – Juni 1933, di antaranya Bestuur Politie, Indeeling en Bestuur, dan lain-lain.

Dengan berhentinya G.H. de Man, ada kekosongan jabatan di Jawa Timur. Gubernur Jenderal dalam suratnya memberikan pandangannya mengenai kandidat gubernur di Jawa Timur. Di antara calon yang disebut adalah: residen Kuneman, residen de Brinks, de Vrees, dan lain-lain. Rupanya pemerintah pusat lebih condong pada JHB. Kuneman yang sebelumnya adalah residen. J.H.B. Kuneman akhirnya ditunjuk sebagai pengganti GH. De Man menjadi gubernur Jawa Timur.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Profil gubernur Jawa Timur Masa Hindia Belanda Tahun 1928-194; Badan Arsip Propinsi Jawa Timur, 2003. hlm, 4-5

W.Ch Hardeman, Gubernur Jawa Timur (1 Juli 1928 – 31 Maret 1931)

Pemerintahan Jawa Timur Masa Gubernur W.Ch Hardeman (1 Juli 1928 – 31 Maret 1931)

W.Ch HardemanWillem Charles Hardeman lahir di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1884. Ia adalah putra dari J A. Hardeman dan W.C.G. van Zijl de Jong. Ayahnya pernah menjabat sebagai residen di Jawa dan Madura. Dia menjalani pendidikannya di Eindexamen HBS, Groot Ambtenarenexamen dan Klein Notaris Examen. Kariernya dalam pemerintahan diawali dengan diangkatnya sebagai pegawai di Dinas Sipil, melalui besluit tanggal 21 Oktober 1903 No. 20

Sebagai intelektual muda, ia menguasai beberapa bahasa asing, seperti: Jerman, Perancis dan Inggris. Karena seringnya bertemu dengan berbagai suku penduduk pribumi, membuatnya mampu berkomunikasi dalam berbagai daerah, seperti: Jawa, Melayu, Sunda, dan Madura. Semua ini menambah semakin baik penilaian atas dirinya di mata pimpinan Binnenlandsch Bestuur Kemampuannya yang tinggi dalam berkomunikasi dengan semua pihak membuat kariernya semakin menanjak. Perlahan tetapi pasti berbagai jabatan diraih. Ini terlihat dari urutan jabatan yang pernah dipegang pada masa-masa berikutnya.

Berdasarkan catatan Binnenlandsch Bestuur, terlihat bahwa ia adalah orang yang memiliki banyak inisiatif, sekalipun belum memiliki banyak pengalaman dalam pemerintahan. Ia menjalin komunikasi dengan penduduk maupun dengan sesama pejabat Belanda. Dia termasuk orang yang teliti, rajin bekeija, dan bijak dalam mengambil keputusan. Karena prestasinya, membuat pemerintah memberikan penghargaan yang sangat tinggi padanya.

Pada tahun 1926, ia menggantikan J.M. Jordaan sebagai residen di Surabaya. Dalam pengangkatan ini sekaligus ia juga diangkat sebagai Ketua dan anggota NIAS (Nederland lndisch Artsen School) Surabaya. Jabatan ini

biasanya dipegang oleh residen yang bertugas di Surabaya. Pengangkatan Hardeman sebagai ketua NIAS ini disetujui oleh kepala Dinas Kesehatan Rakyat di Weltevreden, setelah melalui persetujuan Gubernur Hindia Belanda.

Pada saat itu pemerintah mulai membentuk wilayah-wilayah (geweest) baru, seperti: Geweest Oost Java, Middle Java, West Java, dan lain-lain. Pemerintah merasa perlu menempatkan gubernur di daerah-daerah tersebut. Mengingat dedikasi W.Ch. Hardeman terhadap pemerintah demikian tinggi, maka melalui besluit pemerintah tanggal 6 Juni 1928 No. 32, diangkatlah ia sebagai Gouverneur van het Geweest Oost-Java mulai tanggal 1 Juli 1928. Bersamaan itu pula diangkat PJ van Gulik, Residen Semarang sebagai Gubernur Jawa Tengah. W.Ch. Hardeman juga mengeluarkan Memorandum antara tahun 1928 sampai Maret 1931 yang isinya antara lain, Pembagian dan Pemerintah.

Pada 1 Juli 1928 pembagian administrasi baru dilakukan dimana didaerah-daerah lama seperti Surabaya, Madioen, Kediri, Pasuruan, Besuki, Madura dan separo Rembang dibagi dalam 15 afdeling yang sama didaerah bentukan Jawa Timur ( Staatblad 1927 No. 558 jun to 1928 No. 1945, diputuskan dengan Staatblad 1928 No. 334.

Dengan diangkatnya Hardeman sebagai Gubernur Jawa Timur, otomatis tanggung jawabnya terhadap pemerintah bertambah besar. Itu sebabnya ia diberhentikan dengan hormat sebagai ketua dan anggota NIAS sekaligus Residen Surabaya. Untuk menggantikan kedudukan sebagai residen, ketua dan anggota NIAS telah ditunjuk  G.H. de Man.

Pada akhir tahun 1928, terjadi perubahan lagi dalam pembagian administrative pemerintahan. Pembagian wilayah yang semula Geweest ditingkatkan sebagai propinsi. Maka berdasarkan besluit tanggal 17 Desember 1928 No. lx, W. Ch. Hardeman diangkat lagi sebagai Gubernur Propinsi Jawa Timur mulai tanggal 1 Januari 1929 dengan gaji f .2000 per bulan.

Di dalam membangun daerahnya, Hardeman terpaksa harus mengupayakan pinjaman uang untuk modal pembangunan. Ia merencanakan peminjaman lunak uang sebesar f. 37.500,- yang akan dibayar selama 20 tahun. Akhirnya Dewan Propinsi meluluskan permohonan Gubernur Hardeman dan memberi sebesar f. 750.000,- dengan bunga pinjaman sebesar 5% per tahun. Pinjaman ini akan dibayar kembali secara berangsur selama 19 tahun, mulai tahun 1930 sampai 1948. Rencananya, uang pinjaman itu akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan fisik yang di Propinsi Jawa Timur, seperti: bangunan pasar, saluran pengairan, pipa air minum, dll.

Pada akhir masa pemerintahannya, Hardeman menyampaikan laporan pertanggungjawaban sebagai gubernur dari bulan Juli 1928 sampai Maret 1931. Ia juga menyampaikan apa saja yang telah dilakukan selama itu. Ada beberapa hal yang disampaikan, seperti masalah pembagian wilayah dan pemerintahan, masalah politik dan peradilan, kehutanan, lalu lintas jalan, bidang purbakala, dan lain-lain. Selepas jabatannya sebagai Gubernur Jawa Timur, Hardeman masih ditunjuk sebagai anggota Raad van Indie di Batavia. Adapun sebagai penggantinya, ditunjuk sebagai Gubernur Jawa Timur adalah G.H. de Man yang sebelumnya menggantikan dirinya sebagai residen dan ketua NIAS, Surabaya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Profil gubernur Jawa Timur Masa Hindia Belanda Tahun 1928-194; Badan Arsip Propinsi Jawa Timur, 2003. hlm, 1-3

H. Imam Utomo Gubernur Jawa Timur, 1998-2003 dan 2003-2008

imam-utomo-01

Sebagai Gubernur Jawa Timur, Mayjen TNI (purn) H. imam Utomo sudah pasti memiliki prestasi yang luar biasa. Itulah sebabnya masyarakat Jatim mempercayakan kepemimpinan Jatim untuk dua periode, yang kedua didampingi oleh Dr H. Soenaijo sebagai Wakil Gubernur.

Namun kalau ditanya apa prestasi Imam Utomo yang menonjol selama masa kepemimpinannya, orang pasti akan berpikir dulu untuk menjawabnya, begitulah Imam Utomo, ia bukan pemimpin sehingga gampang dikenang-orang. Tetapi masyarakat Jawa Timur pasti akan merasakan, selama masa kepemimpinannya (1998-2003 dan 2003-2008) suasana Jawa Timur sangatlah tenang. Padahal pada masa-masa itu adalah puncak dari gejolak perubahan bangsa kita yang penuh ketidakpastian, kemerosotan hampir di semua bidang termasuk ekonomi.

Meski demikian Imam Utomo bukan tak sepi prestasi sampai masa tiga tahun sebagai Gubernur jawa timur dalam periode kedua, Imam banyak mendapatkan penghargaan nasional termasuk beberapa kali yang diserahkan langsung oleh Presiden. Secara berkelakar seorang pejabat Pemprov bahwa mungkin saja. Presiden ‘bosan” melihat Imam Utomo berkali-kali menerima penghargaan atas prestasinya. “Tetapi apa mau dikata, wong prestasi-prestasi ini memang dicapai Gubernur Imam Utomo,” kata pejabat itu.

Salah satu keberhasilan Imam Utomo adalah dalam menggolkan pembangunan jembatan Suramadu, meskipun ketika buku ini ditulis proyek tersebut beijaJan tersendat-sendat Namun bila segalanya kembali beijalan lancar, banyak kalangan menilai prestasi itu luar biasa. Bukan karena jembatan itu sudah sejak tahun 1950-an digagas, tetapi yang lebih penting adalah, jembatan ini sangat strategis sebagai kunci kemajuan Madura yang selama ini merupakan kawasan yang relatif tertinggal dibandingkan daerah lainnya di Jatim.

Keberhasilan pembangunan jembatan Suramadu kini memang dipertaruhkan karena hal itu juga berarti akan tumbuhnya lapangan keija karena industri akan masuk Madura. Ini berarti membukakan kesempatan keija bagi ribuan tenaga penganggur yang juga masih dihadapi provinsi Jawa Timur. Jauh lebih luas lagi, jembatan Suramadu ini adalah tonggak kemajuan  masyarakat provinsi ini di segala sektor. Namun, Imam Utomo tidak lantas membusungkan dada atas kenyataan ini.

Ia seperti biasanya tetap kalem dan rendah hati. Baginya, keberhasilan pembangunan Jembatan Suramadu adalah keberhasilan seluruh masyarakat Jawa Timur. Selain itu, kenyataannya masih banyak rakyat di Jawa Timur yang hidup miskin, sampai belasan persen dari jumlah penduduk. Jumlah warga yang miskin belakangan ini bahkan meningkat akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).

Bencana, alam juga dalang silih berganti, antara lain bencana banjir, termasuk banjir lumpur yang tak terduga akibat pengeboran minyak oleh PT Lapindo Brantas di daerah Porong, Sidoarjo, sejak pertengahan tabun 2006. Luapan lumpur tersebut belum juga bisa dihentikan dan bahkan telah menenggelamkan ribuan rumah penduduk. Dampak lainnya adlaah ditutupnya Jalan Tol Porong, hal yang menimbulkan akibat buruk berantai terhadap ekonomi dan sosial provinsi Jawa Timur. Banyak industri terpukul akibat bencana lumpia- tersebut. Orang banyak menduga, Imam Utomo mungkin masyguk karena banyak capaian-capaiannya yang rusak akibat luapan lumpur di Porong.

Tetapi warga Jawa Timur kiranya tetap terkesan pada pemimpinnya ini. Dari sisi kepribadian, laki-laki kelahiran Jombang 14 Mei 1943 ini seolah kontras dengan cirri masyarakat Jawa Timur yang dinamis dan meledak-ledak karena Imam Utomo justru tenang. Tapi mungkin itulah sosok yang dibutuhkan ketika situasi sedang sangat bergejolak. Dengan suasana yang tetap tenang, perubahan bisa dijalani dengan lebih adem dan kepastian akan menggampangkan gerak ekonomi. Yang lebih penting lagi masyarakat seakan merasakan ketenangan menjalani kehidupan dengan baik.

Utamakan Musyawarah

Ciri lain yang menonjol dari putra pasangan Suparno (almarhum) dengan Hj Rukayat ini adalah optimisme yang mengalir dalam dirinya pada keadaan seperti apapun. Inilah kunci lain yang membuat dirinya mampu memimpin provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 35 juta jiwa ini. “Saya lebih mengutamakan musyawarah dan kekeluargaan untuk menyelesaikan masalah,” kata suami Hj Anik Triwinarni ini.

Imam Utomo yang pernah menjahat Denrem Bhaskara Jaya ini merupakan sosok yang dalam perjalanan hidupnya sangat dipengaruhi jalan hidup orang Jawa dan tentu saja kultur santri yang kental karena lahir di kota santri Jombang. Ia menjalani hidup sesuai falsafah Jawa yakni ngudarasay among rasa, mijil tresna dan agawe karya. Ngudarasa berarti mengenali perasaan dalam diri. Among rasa adalah mengendalikan dan menala perasaan sehingga bisa melihat hal yang baik dan buruk. Minjil tresna artinya berusaha mewujudkan sesuatu dengan kecintaan bukan kebencian. Dan pada akhirnya orang memang harus menghasilkan karya atau agawe karya. Tanpa membuat karya, orang tidak akan punya manfaat bagi orang lain. Apalagi sebagai pemimpin, jika tidakmampu menghasilkan karya ia hanya akan menjadi beban bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Meski demikian, ayah empat putra-putri (Andrianingrum, Agusanto B, Trisniartami dan Tantuko Adi, iniftetap saja memiliki karakter seperti umumnya masyarakat Jatim yakni keterbukaan. Ia bersikap terbuka kepada siapapun. Demikian juga ia mengharap sikap serupa dari orang lain. Karena itu ia bisa mengkritik orang lain dan tentu saja juga bawahannya tetapi ia tak alergi terhadap kritik. “Ini lebih saya sukai sehingga persoalan bisa diselesaikan dengan lebih baik, lebih terbuka ,” katanya.

Komandan Peleton Dalam meniti kariernya, Imam Utomo benar-benar berangkat dari bawah. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang pada 1965 pada Agustus tahun berikutnya ia diangkat sebagai Komandan Peleton I/A/404. Ia hanya menjabat enam bulan di tempat itu karena pada 1 Februari 1967 ia diangkat sebagai pelatih di Rindam IV. Setelah itu ia menjadi Wakil Komandan Kompi A/144 sebelum akhirnya menjadi Komandan.

Tiga tahun kemudian, melaui Surat Keputusan (SKEP) 114- 13/2/1971 Kapten Imam Utomo diangkat sebagai PASI I Yonif 141, tahun 1973 menjadi PASI 2/OPS Brigif 8 dan

Jabatan Komandan Batalyon inf 742 kemudian disandangnya.

Pada tahun 1980, dengan pangkat Letnan Kolonel, Imam ditugasi sebagai Karo Binkar Disdalkar. Jabatan itu hanya disandang satu tahun karena ia kemudian ditunjuk Kansaf Brigif 2 Kostrad yang kedudukan di^ Malang. Barulah setelah itu Imam masuk di Kodam V Brawijaya sebagai Wakil Asisten Oprasi, lalu Kansaf Korem 091/DSJ pada 1985, dan tahun berikutnya sebagai Komandan Brigif 18 Kostrad

Namun Imam Utomo rupanya telah ditakdirkan cocok di Jawa Timur, karena tidak lama kemudian ia ditarik ke Surabaya dan menjadi Aspers Kasdam V Brawijaya dan menjadi Paban 3/Binkar Spersad. Jabatan yang strategis sebagai Komandan Korem 084 Bhaskara Jaya kemudian dipegangnya. Jabatan ini dipegangnya tiga tahun sebelum akhirnya menjadi Kansaf Kodam, kemudian sebentar ditarik ke Jakarta sebagai Aspers KSAD sbelum akhirnya diangkat sebagai Pangdam V/Brawijaya pada 1 Februari 1995.

. Sebagai Pangdam, Imam Utomo memegang jabatan itu selama dua tahun eman bulan, dikemudian ditarik ke Jakarta untuk menjadi anggota DPR RI dari Fabri sejak 29 Agustus 1997. Baru setahun menjadi wakil rakyat, Imam dicalonkan untuk menjadi Gubernur dan akhirnya terpilih dalam pemilihan di DPRD Jatim, mengalahkan incurnbeni Mayjen (Purn) Basofi Sudirman. Ia dilantik Hingga akhir 2006, sudah hampir 9 tahun Imam Utomo memimpin Jawa Timur. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia akan meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada Gubernur baru, yang akan dipilih secara langsung dalam Pilkada yang dijadwalkan pada 2008. Di mana tempat Imam Utomo dalam sejarah provinsi ini? Jawabnya tentu ada di masing-masing hati rakyat daerah ini. Tetapi Imam Utomo setidaknya bisa menjalani pensiun dengan tenang dan tanpa beban. “Pasalnya, ia sudah dikenal sebagai sosok Gubernur pekerja Keras dan selalu bersungguh- sungguh dalam menjalankan tugasnya,” kata seorang pimpinan DPRD Jawa Timur. Sebagai Gubernur Jatim pada 26 Agustus 1998.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mayjen TNI (Purn) H. Imam Utomo (Gubernur Jawa Timur, 1998-2003 dan 2003-2008)   hlm, 94-97

Dr.H. Soekarwo, Gubernur Jawa Timur

16 Juni 1950, lahir di Madiun, Jawa Timur,

Tahun 1962, Pakde Karwo menamatkan pendidikannya di SR Negeri Palur Madiun SMP

Tahun 1965, Negeri 2 Ponorogo

Tahun 1969, SMAK Sosial Madiun

Tahun 1979, Gelar sarjana hukum diperolehnya dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya

Tahun 1996, gelar pascasarjana hukum di Universitas Surabaya

Tahun 2001, gelar doktornya di Universitas Diponegoro Semarang.

Suami dari Nina Kirana ini  lebih akrab disapa Pakde Karwo (Gubernur Jawa Timur) dikenal sebagai birokrat tulen. Pemikirannya jauh berada di “depan” zamannya. melangkah melebihi “langkah” zaman. saat menjabat menjadi Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Jawa Timur, banyak memberikan gagasan yang dinilai aneh. Salah satunya proses pembayaran pajak kendaraan bermotor sebelumnya butuh waktu satu atau dua hari, dipangkas menjadi 5-10 menit. Kecerdasan Pakde Karwo yakin bahwa itu bisa dilakukan dengan memanfaatkan informasi teknologi (IT), yang akhirnya gagasan tersebut menjadi terlaksana.

Pakde Karwo melontarkan gagasan pelayanan publik. Pameo layanan birokrasi sebelumnya “Jika bisa diperlambat, mengapa harus dipercepat” diubah menjadi “Pelayanan Publik, Asal Mau Pasti Bisa”. Mengubah perspektif birokrat yang sebelumnya sebagai pemerintah, menjadi birokrat sebagai pelayan. Kunci layanan prima pada masyarakat adalah kepastian waktu. biaya dan persyaratan/prosedur. Bahkan proses pembayaran. harus dihindari orang ketemu orang. Sebaiknya pembayaran dilakukan melalui mekanisme mesin. seperti lewat perbankan. Anjungan Tunai Mandiri. atau melalui system online lainnya.

Dalam hati Pakde Karwo tersimpan kelembutan hati yang sangat dalam. Sikap mudah trenyuh inilah yang membuat Pakde Karwo terus berpikir agar birokrasi memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat. Serta memberikan fasilitas sebaik-sebaiknya pada masyarakat kurang mampu. Jika pemerintah tidak bisa memberikan tambahan penghasilan sebaiknya membuat pengeluaran rakyat kecil berkurang.

Pakde Karwo berkomitmen mengentas kemiskinan melalui solusi fasilitasi dan kemudahan pada Usaha Mikro, Kecil. dan Menengah (UMKM), serta memberikan fasilitasi pada Koperasi.

Untuk menarik inverstor agar menanamkan modalnya di Jawa Timur, Pakde Karwo telah melakukan langkah progresif dengan mendirikan Pusat pelayanan Perijinan Terpadu (P2T), yang memotong jalur birokrasi yang membutuhkan waktu lama menjadi lebih cepat.

Disediakan tanah untuk investor, memberi kecukupan listrik, hingga menjadi konsep yang berkorelasi positif antara pengentasan kemiskinan dan memperluas lapangan kerja. Dengan demikian, Pakde Karwo tetap berpihak pada rakyat miskin namun tetap memberi kesempatan pengusaha untuk mengembangkan investasinya. “Growth With Equity”

23 Juli 2008, Pakde Karwo terpilih pada putaran pertama sebagai Gubernur Jawa Timur, dalam Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur yang diselenggmakan pada dua putaran,

4 November 2008, putaran kedua.

21 Januari 2009, pemilihan ulang putaran kedua di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang.

12 Februari 2009, Pelantikan Pakde Karwo sebagai Gubernur dan Saifullah Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur dilaksanakan oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto. Yang sebelumnya melalui beberapa tahapan

(Sh1W0 n  BanT0)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Sumber: dari berbagai koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur