Basofi Soedirman

BasofiMohammad Basofi Soedirman Lahir di Bojonegoro, 2 Januari 1941, beragama Islam. Alumni Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1963. Pernah masuk pasukan Baret Merah, kemudian dilugaskan di Kodam Brawijaya, Jawa Timur. Pengalaman tempurnya antara lain di Maros dan Timor Timur (tiga kali).

Sebelum menjabat Gubarnur Jawa Timur, sejak Agustus 1993, ia pernah dipercaya sebagai Komandan Kodim Jember, Mil Gubarnur DKI Jakarta dan Ketua DPD Golkar DKI Jakarta. Pernah mendapat penghargaan BASF Award, karena album lagu dangdutnya “Tak Semua Laki-Laki” laku keras di pasaran.

Menikah denganMarianilsnomo.Bersama keluargatinggal dirumah dinas Gubernuf Jawa Timur, Jl. Imam Bonjol Surabaya, telepon 574700 dan 570936. Selaku Gubernur Jawa Timur berkantor di Jl. Pahlawan No. 110 Surabaya, telepon 333805, 24012 dan 24013.

Sejak kecil ia sudah bercita-cita ingin menjadi tentara. Ini karena ayahnya, almarhum Letjen Sudirman, sering mengajaknya melihat kegiatan militer. Seperti me­lihat ke pedalaman atau menyaksikan olahraga tentara. “Itu yang membuat saya merasa kehidupan saya itu ya militer,” ungkapnya.

Meski begitu, ia masuk militer karena keinginannya sendiri, bukan karena anjuran ayahnya. “Bapak tidak pernah menyampaikan keinginannya mengenai anak-anaknya supaya jadi apa. Pokoknya jadi orang baik-baik. Nah, waktu saya masuk tentara, orang tua justru tidak tahu. Soalnya saya izin orang tua setelah saya lulus,” ungkapnya sembari tertawa.

Mungkin baru pertama kali ini ada di Indonesia, dalam sebuah keluargaadadua jenderal. Sang Bapak lebih tinggi pangkat- nya, yaitu Letnan Jenderal, sedang ia sendiri baru Mayor Jenderal. Namun sewaktu menjadi pejabat, ia tak pernah membawa- bawa nama bapaknya. Hal itu dilakukan atas anjuran ayahnya sendiri.

la melihat bapaknya sebagai seorang yanghumanis, kemanusiaannyatinggi. “Kalau melihat orang sedang sengsara, pasti Bapak akan tergerak hatinya. Tidak peduli siapa pun dia orangnya. Musuh yang mengeluh sakitpun, pasti akan ditolong,” ungkapnya.

Sedikit-banyak ia juga dipengaruhi oleh sikap bapaknya itu. la boleh dikata masih kena sawabnya orang-tua. Jadi meski tidak pernah membawa-bawa nama orangtua, tetapi ia merasakan pengaruhnya.

Ada banyak pengalaman mengenai sa’wab itu. Misalnya ia pernah menjabat di tempat di mana ayahnya dulu juga berada di sana. Sewaktu bertugas di Maros, Sula­wesi Selatan, ternyata nama bapaknya terkenal sekali di situ. Sewaktu ia bertugas di Jawa Timur, semua orang tahu bahwa ia anaknya Pak Sudirman.

Pengalaman tempurnya yang paling banyak dipuji adalah di Timor Timur. la pernah ditugaskan ke daerah itu tiga kali. Pertama kali waktu ia menjadi komandan batalyon. “Itu tahun 1975 kalau tidak salah ingat ya. Berikutnya waktu saya komandan brigade. Kemudian waktu saya jadi asisten Kodam Brawijaya, kembali lagi ke Timor Timur. Lumayan lama di sana. Yang pertama kali itu setahun. Kedua kali delapan bulan, dan yang ketiga enam bulan,” paparnya.

Sewaktu tugas di Timor Timur, sedang ramai-ramainya pertempuran. Dan syukurlah, ia tak pernah kenatembak. Dari pengalaman ini, ia merasa, jago tempur itu tidak ada. Yang ada barangkali faktor luck. Tetapi faktor luck juga harus pakai perhitungan “Saya’ banyak mengalami peristiwa-peris tiwa di mana orang mengatakan saya hebat, Padahal kalau orang tahu rahasianya, orang itu tidak akan mengatakan dirinya ti­dak hebat,” ungkapnya.

Namun karir militernya tak bisa terus berlanjut, karena ia diangkat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Waktu itu usianya 48 tahun dan ia diminta pensiun sebagai tentara. la menganggap tidak ada masalah de­ngan jabatan barunyaitu. “Dan saya juga tidak kaget. Memang terusterang saja, waktu saya ditunjuk oleh Golkar, dalam hati saya bertanya-tanya, ngapain ya, kok saya ditaruh di sini. Disuruh merangkap jadi Wagub dan sekaligus Ketua Golkar DKI. “Wong saya ini dari kecil senangnya jadi tentara,” ungkapnya.

Sejak menjadi Ketua DPD Golkar DKI, ia sering didaulat untuk menyanyi dalam berbagai forum. Biasanya menyanyi lagu dangdut. Makin lama ia makin merasa bisa menjadi penyanyi dangdut. Lantas ia menelurkan album “Tak Semua laki-Laki” yang ternyata laku keras di pasaran, sehingga ia berhak memperoleh BASF Award.

Sesudah menjadi Gubernur Jawa Timur, kedekatannya dengan masyarakat tidak berkurang. la cukup akrab dengan para artis musik dan film. Menurutnya, untuk menjadi pemimpin di Jawa Timur itu, sebenarnya tidak susah. Yang penting ada keterbukaan dan komunikasi. Kalau memberi sesuatu pada masyarakat Jawa Timur harus jelas, dengan argumen yang baik. “Bila hal itu dilakukan, saya yakin mereka pasti mau menerima. Jangan sekali-kali menawarkan sesuatu tanpa argumen. Pasti akan ditolak mentah-mentah,” ungkapnya.

Dalam menjalankan tugas, ia akan mendahulukan perbaikan Sumber Daya Manusia. Termasuk perbaikan mental aparat dan birokrasi. Untuk menyamakan persepsi de­ngan aparatnya, ia menggu nakan berbagai kiat. Misalnya dengan selalu memberi teladan yang baik pada aparatnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 131-133 (CB-D13/1996-…)

Mohammad Noer

M NoerMohammad Noer lahir di Kampung Beler, Desa Rong Tengah Kabupatern Sampang, 13 Januari 1918, beragama Islam.
Pendidikan:
Tahun 1932, Lulus HIS di Bangkalan,
Tahun 1936 MULO di Blitar,
Tahun 1939 MOSVIA di Magelang.
Mengawali karir di kantor Kabupaten Sumenep (1939-1940), di Kantor Kawedanan Ambunten (1940- 1941) dan jadi Mantri Kabupaten Bangkalan (1941-1943).
Tahun 1950 sebagai Penjabat Sementara Patih Pamekasan, Bupati Bangkalan (1960-1965), Pembantu Guber- nur (Residen) Jatim Wilayah Madura (1965-1967), Penjabat Sementara Gubernur Jatim (tahun 1967), Penjabat Gubernur Jatim (1967-1971) dan Gubernur Jatim (1971-1976).
Tahun 1973-1978 dan 1985-1992 terpilih sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat, menjadi Duta Besar di Prancis (1976-1980), anggota Dewan Pertimbangan Agung (1981-1983,1983-1988), Rektor Universitas Bangkalan (1985 1988) dan anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (1989). Saat ini diantaranya menjabat sebagai Ketua Konsor- sium Pembangunan Jembatan Surabaya – Madura, Ketua Yayasan Jantung Sehat Jatim dan Ketua Yayasan Ajidarma.
Banyak memperoleh penghargaan, diantaranya Bintang Mahaputera Utama III, Bintang GrandOfUcier d’Ordre du Merite dari pemerintah Prancis, Lencana Manggala Karya Kencana BKKBN, serta Bintang Legiun Veteran.
Menikah dengan Mas Ayu Siti Rachma dan dikaruniai 8 putra. Kini tinggal di Jl. Ir. Anwari 11, Surabaya, telepon 65458.
Jawa Timur agaknya sudah tidak bis dipisahkan dengan namanya. Moharn mad Noer begitu dikenal oleh warga Jatim karena berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan yang dilakukannya. Meski tak lagi, menjabat sebagai Gubernur Jatim, namun masyarakat masih menganggapnya sebagai salah seorang sesepuh yang patut untuk dimintai pendapat.
Tak heran kalau rumahnya tak pernah sepi dari tamu. Karena jadwal kegiatannya cukup padat, ia harus mengatur waktu kun jungan tamunya dengan cermat. “Saya punya buku agenda yang mengatur jadwal kegiatan sehari-hari. Selain itu juga ada papan tulis yang berisi kegiatan saya. Kita memang harus berdisiplin soal waktu,” ungkapnya, sembari memperlihatkan buku agendanya. Dalam buku itu, bahkan aktivitas yang akan dilakukan sebulan kemudian sudah tercatat rapi.
Ia berupaya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, agama, dan keluarga. Maka dalam mewujudkan tugas, ia selalu berusaha meningkatkan taraf hidup ma¬syarakat, khususnya masyarakat kecil. Sewaktu menjabat sebagai Gubernur Jatim ia telah bertekad agawe wong cilik gumuyu membuat rakyat kecil tertawa.
Ada beberapa peristiwa yang sangat berkesan di hatinya, sewaktu masih men¬jabat sebagai orang pertama di Jatim. Peristiwa pertama adalah saat mefighadapi kasus carok yang berkepanjangan antara sebagian warga Bangkalan dan Sampang Karena kedua kelompok masyarakat itu saling dendam kesumat untuk melakukan ca¬rok, maka peristiwanya jadi berlarut-larut dan sukar diatasi, sehingga meresahkan mayarakat lainnya.
Bagaimana tindakannya untuk menyelesaikan kasus gawat itu? “Sayatahu bahwa orang Madura sangat menghormati Sunan Ampel. Maka saya mengumpulkan kedua pihak yang bertikai di halaman Mesjid Sunan Ampel untuk membaca ikrar dan sumpah bahwa mereka tidak akan melakukan carok lagi. Dan sesudah itu syukurlah carok tak terjadi lagi,” ungkapnya.
Cara-cara religius memang dipakainya untuk menyelesaikan masalah. Seperti se- waktu terjadi musibah penerbangan di Srilanka, 4 Desember 1974 yang menewaskan 184 jemaah haji dari berbagi daerah di Jatim. Masalahnya adalah bagaimana mengirimkan kembali jenazah itu kepada keluarganya, karena kesulitan identifikasi jenazah. Kembali halaman Mesjid Sunan Ampel menjadi jawabannya. Dengan dimakamkan di tempat itu, segenap keluarga yang ditinggalkan akhirnya mengikhlaskan jenazah parasyuhada itu dikuburkan di satu tempat.
Peristiwa lain yang berkesan adalah sewaktu menghadapi kasus jaring ikan di Muncar tahun 1974. Saat itu bupati setempat merasakan taraf hidup masyarakatnya, yang sebagian besar nelayan, belum begitu menggembirakan. Hasil mereka menangkap ikan belum seperti yang diharapkan.
Maka bupati lalu berinisialif membuat jaring baru yang ditarik dua kapal. Dan hasilnya sangat menggembirakan, karena berhasil menangkap bertonton ikan, padahal dengan jaring biasa yang hanya menggunakan satu kapal, cuma diperoleh sekitar 25 kg.
Kesulitan timbul, ketika nelayan di daerah lain merasa cara penjaringan ikan seperti itu akan cepat menghabiskan ikan dilautan. Lalu terjadi insiden pembakaran perahu-perahu nelayan Muncar. la kemudian mengumpulkan para demonstran yang ti¬dak menyetujui pemakaian jaring baru itu.
“Saya katakan pada mereka, apakah ka¬lian ingin maju apa tidak? Kalau ingin hidup lebih baik lagi, maka sistem yang baru itu harus diterapkan,” tegasnya. Tampaknya para nelayan bersedia mengikuti sarannya. Namun timbul problem berikutnya, bagai¬mana mengadakan kapal yang lebih banyak buat mereka, karena jaring ini ditarik dua kapal.
Masalah terpecahkan setelah ia menghadap PresidenSoeharto. Hasilnya, Pemda Jatim mendapat kredit untuk pengadaan kapal. Ini hanya beberapa contoh keberhasilannya dalam membangun Jatim, yang ditandai dengan perolehan anugerah Parasamya Purnakarya Nugraha.
Sebagai atasan ia berusaha untuk memberi contoh pada bawahannya. Kepada pa¬ra stafnya ia selalu menekankan rasa cinta tanah air dan menanamkan sikap agar bekerja tidak hanya atas dasar perintah. “Sewaktu saya menjadi Bupati Bangkalan, saat itu tak tersedia dana yang cukup untuk melakukan pembangunan. Namun dengan swadaya masyarakat akhirnya kami bisa membangun jalan-jalan. Sekolah-sekolah di desa terpencil kami bangun. Dengan adanya guru di desa tersebut diharapkan bisa memacu perkembangan desa,” ung-kapnya.
Saat menjabat Wedana Arosbaya, Ma¬dura, tahun 1947, ia merasakan pahit getirnya perjuangan melawan Belanda. la bergabung dengan pasukan gerilya, sehingga harus berpisah dengan keluarganya. Saat itu istrinya sedang hamil tua, mengandung anaknya yang ketiga. Bersama kedua anaknya yang masih kecil-kecil, sang istri terpaksa mengungsi ke luar kota Arosbaya, menuju Desa Karang- duwak. Di desa ini anak ketiganya dilahir-kan.
Serangan Belanda itu terjadi setelah Belanda melanggar persetujuan Linggarjati. Ketika itu Madura akan dikuasai untuk dijadikan negara boneka Namun dengan tegas ia menolak ajakan Belanda mendirikan Negara Madura. Karena itu tawaran Belanda untuk mengakhiri permusuhan tidak digubris olehnya. Waktu itu kelompok gerilya mulai terdesak, sehingga akhirnya diputuskan untuk hijrah ke Jawa dan membentuk pemerintahan Madura di pengasingan.
Untuk meninggalkan Madura waktu itu tidak mudah, karena laut di sekitar Madura sudah dikuasai Belanda. Namun akhirnya ditemukan sebuah tempat penyebrangan paling baik untuk menghindari kemungkinan disergap patroli Belanda, yaitu di muara sungai Desa Klampis. Dari desa inilah, sekitar 20 dari 22 perahu peng’ungsi dapat mendarat dengan selamat di suatu pantai daerah Tuban. “Demi membela nusa dan bangsa, saat itu kami harus rela berpisah dengan keluarga,” ungkapnya.
Sewaktu menjadi Duta Besar Prancis, ia selalu memacu mahasiswa Indonesia yang sedang sekolah di sana, agar bisa berprestasi. Dan menurutnya kemampuan ma¬hasiswa Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa dari negeri lainnya. Tak jarang ada mahasiswa yang lulus cumlaude
“Dalam soal ilmu, kita tidak kalah dengan ilmuwan Prancis. Pernah pada suatu seminar, ilmuwan Prancis terpukau oleh presentasi yang dibawakan delegasi kita, meski menggunakan Bahasa Indonesia. Soal bahasa memang tidak ada masalah, karena kami menyediakan penerjemah,” jelasnya.
Menyinggung soal potensi utama Jatim, menurutnya terletak pada sumber daya manusianya. Jangan sampai kepadatan penduduk justru menjadi beban. “Lihat saja Je-pang, meski sumber daya alamnya terbatas, namun karena manusianya urv ggul, bi-sajadi bangsa yang maju. Untuk itu kita harus menanamkan patriotisme dan nasi-onalisme kepada para pemuda kita. tegasnya.
Industrialisasi di Madura menurutnya sudah saatnyadijalankan untuk memberantas kemiskinan dan kebodohan. Bayangkan saja, saat ini hanya 12% siswa SD yang bisa meneruskan ke SMP, sebelum ada Wajib Belajar 9 tahun. Dan 64% wilayah Madura mendapat Inpres Desa Tertinggal “Dengan adanya industrialisasi, rakyat Madura bisa meningkatkan kesejahteraannya Lagipula mereka juga sudah biasa kerja di pabrik-pabrik. Nanti direncanakan Madura akan jadi tempat industri hitech, seperti elektronika. Tentu kita harus mencegah agar hal-hal yang maksiat tidak terjadi,” tegasnya.
Dalam mendidik ke delapan anaknya, ia mengadakan pendekatan secara kekeluar gaan. Diusahakannya untuk selalu bisa makan malam bersama keluarga. Tak heran kalau meja makan keluarganya sampai berisi 14 kursi. Dalam kesempatan itulah ia berkomunikasi dengan anak-anaknya, mem berikan petuah dan nasehat.
“Saya tekankan pada anak-anak, agar jangan tergantung pada siapapun, kecuali Allah SWT. Mereka jangan tergantung kepa¬da saya, karena suatu saat pasti saya akan pensiun sebagai pejabat. Saya mendiiplinkan mereka agar bisa menuntut ilmu dengan sebaik- baiknya. Sehingga mereka mau belajar dengan kesadarannya sendiri. tanpa harus diperintah,” paparnya.
Untuk menjaga kesehatan, dulu setiap pagi ia rajin jogging. Namun oleh dokter ia tak diperbolehkan olahragayang bertumpu pada kaki. Akhirnya ia berganti dengan olah raga renang. Hampir setiap hari ia berenang di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Kalau sedang berada di Jakarta, ia juga menyempatkan diri untuk berenang.
“Kalau pikiran ruwet harus segera dihilangkan dengan menghibur diri. Misalnya bermain dengan cucu, melihat ayam bekisar dan kate. Sesudah itu biasanya pikiran tenang kembali,” ungkapnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 86-89 (CB-D13/1996-…)

Imam Oetomo

imam oetomo001Mayor Jenderal TNI AD Imam Oetomo ini kelahiran Jombang pernah menjabat sebagai Danrem 084/Bhaskara Jaya tahun 1989- 1992, Kasdam VI Brawijaya tahun 1992 dan Asisten Personalia (Aspers) Kepala Staf Angkatan Darat. Sekarang menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya.
Bersama keluarga tinggal di Jl. Raya Darmo No. 100, Surabaya, telepon 510100. Sehari hari berkantor di Jl. Raden Wijaya No. 1, Surabaya, telepon 512455.
Selaku Pangdam V/ Brawijaya, ia meng. inginkan masyarakat Jawa Timur mempunyai kekuatan yang mampu menangkal berbagai permasalahan di kemu- dian hari. Membuat ruang, alat dan kondisi yang tangguh. “Tidak hanya kekuatan mi-ii- ternya, tetapi secara keseluruhan kita ajak masyarakat membantu pembangunan,” ungkapnya.
Sejak dulu, ia selalu ingin dekat dengan rakyat, demikian jugadi pasukan. Sehingga ia mengerti apa maunya mereka itu. Jadi dalam menentukan kebijakan-kebijakan juga tepat. “Sekarang ini di Jawa Timur perkem- bangan industrialisasi sangattinggi. Akibat- nya, masalah buruh dan tanah, yang akan diperguna kan untuk meluaskan pabrik, menjadi peka. Sehingga dibutuhkan pende- katan yang akan menyangkut hajat hidup rakyat itu sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, dampak industrialisasi di antaranya orang kaya akan lebih banyak, demikian juga orang miskin semakin ba¬nyak, sehingga akan menimbulkan kesen- jangan ekonomi-sosial yang tinggi. Hal itu perlu untuk diwaspadai. Karena kesenjangan sosial yang tinggi bisa menyebabkan masalah SARA. “Jadi menurut saya, potensi kerawanan di Jatim antara lain soal buruh, tanah dan SARA,” tegasnya.
Sebagai contoh soal buruh, kalau tuntutan kebutuhan hidup tidak terpenuhi, walau upah minimal sudah diumumkan, bisa menjadi permasalahan. Kalau misalnya yang didemonstrasi itu warga negara keturunan, akhirnya menjadi masalah SARA.
Untuk itu ia akan memberikan perhatian khusus dan pembinaan terhadap para USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika timbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan melakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngudarasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de¬ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika iimbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan ,nelakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngu- darasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de-ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi THR. “Saya yakin, apabila orang diperlakukan demikian oleh pimpinannya, mereka akan bekerja lebih baik. Manajemen modern harus memanusiakan manusia,” ungkapnya.
Sebagai orang kelahiran JawaTimur, sikapnya sama seperti orang Jatim kebanyakan. Thas-thes, tak senang ngomong, senang juga ngomong. Itu keterbukaan. la lebih menyukai hal seperti itu. Kalau ada orang yang tidak senang lalu ngomong, ia lebih menyukai.
Masyarakat Jawa Timur diakuinya memang ceplas-ceplos dan terbuka. Akan tetapi di balik itu, khususnya di daerah pe- desaan, mereka masih memandang hormat para ulama dan tokoh masyarakat. “Seba¬gai contoh di Madura, ulama masih begitu dihormati dan ditaati. Oleh sebab itu harus diadakan pendekatan ke sana. Saya juga akan banyak turun ke masyarakat.”
Baginya, jabatan sebagai panglima, akan diemban dengan penuh rasa tang- gungjawab. Kalau orang mengatakan, wah jadi panglima senang yaitu yang dilihat glamornya saja. Ini tanggung-jawabnya besar, pengorbanan juga harus lebih banyak. “Apa pun yang terjadi, saya siap untuk berkorban. Saya akan memegangteguh kepercayaan pimpinan dan tidak setitik pun akan saya nodai. Itu yang saya pegang sejak jadi letnan,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 92-93 (CB-D13/1996-…)

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo

9 Juli 1895, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, lahir di Magetan. anak kedua dari sepuluh bersaudara dari Raden Mas Wiryosumarto yang bertugas sebagai Ajun Jaksa di Magetan,dan Raden Ayu Kustiah.

Soerjo bersekolah di Tweede Inlandsche School (Sekolah ongko lara) di Magetan, kemudian pindah ke Hollandsch Inlandsche School (HIS). Setelah lulus dari HIS, ia pindah ke Madiun untuk mengikuti pendidikan di Opleidings School Voor Inlandsche Ambteraar (OSVIA). Di Madiun ia tinggal di rumah Bupati Madiun, kakak ibunya. yaitu Raden Ronggo Kusnodiningrat.

Tahun 1918, ia Lulus OSVIA ditugaskan di Ngawi sebagai Gediplomeerd Assistant nlandsch Bestuur Ambtenaar kantor Controleur Ngawi.

22 Agustus 1917,  Besluit Kepala Departemen Derusan Bestuur No. 1442/C11,  Sebelum tamat OSVIA, ia pernah ditugaskan sebagai pangreh praja dalam residensi Madiun,

27 Agustus 1917, berdasarkan Besluit Residen Madiun No. 7681/10 ia menjadi Candidat prijaji Pangreh Praja Indonesia dan ditempatkan sebagai Controleuir di Ngawi.

3 April 1919, berdasarkan Besluit Residen Madiun No. 4058/10, Setelah kelulusanya dari OSVIA ia sebagai Wedono Ngrambe (Ngawi).

27 Oesember 1919, berdasarkan Besluit No. 11847/10, sebagai Asisten Wedana Onderdistrik Karangredjo (Magetan).

Tahun 1920 ia dipindahkan ke Madiun sebagai Mantri Veld Politie hingga tahun 1922.

Tahun 1923 ia mendapat tugas belajar di Politie School (Sekolah Polisi) di Sukabumi selama dua tahun.

30 Maret 1925, berdasarkan besluit Residen Madiun No. 5064/10. ia pindah ke Onderdistrik Kota Madiun

Pada tahun 1926 ia pernah menduduki jabatan Asisten Wedana di Kota Madiun dan Ponorogo (Jetis) dan selanjutnya ia menjadi Wedana di Pacitan. Pada tahun yang sama ia menikah dengan Raden Ajoe Siti Moettopeni, yang lahir di Ponorogo tanggal 13 Mei 1898. Raden Ajoe Siti Moettopeni merupakan puteri dari Raden Adipati Aryo Hadiwinoto, Bupati Magetan. Buah pernikahan tersebut melahirkan seorang anak bernama Raden Adjeng Siti Soeprapti, lahir di Magetan, 12 Januari 1922.

21 Februari 1927, Berdasarkan besluit Residen Madiun No. 1524/10 tanggal, dipindahkan ke Onderdistrik Djetis distrik Ardjowinangun Kabupaten Ponorogo.

30 Juni 1927 Berdasarkan besluit Residen Madiun No. 4975/10 diangkat menjadi Asisten Wedono Klas I.

25 September 1928, Berdasarkan Besluit Goebernoer Djawa Timoer No. 1080/23a diangkat menjadi Wedono Distrik Kota Patjitan.

Tahun 1930 ,Soerjo, mengikuti pendidikan di Bestuuracademic di Batavia selama dua tahun.

1 Desember 1930,  berdasarkan Besluit Goebernoer Djawa Timoer No. 3171/23a, setelah menyelesaikan pendidikannya  ia ditugaskan di distrik Modjokasri (Modjokerto) sebagai Wedana di Mojokerto

11 September 1935,  diangkat menjadi Wedono Distrik Porong. Kabupaten Sidoarjo.

9 Agustus 1938,   diangkat menjadi Bupati di Magetan hingga tahun 1942.

Tahun 1943, beliau menjabat Su Cho Kan (Residen) Bojonegoro hingga kemerdekaan Republik Indonesia.

18 Agustus 1945, setelah Indonesia merdeka, Soerjo, diangkat sebagai Gubernur Propinsi Jawa Timur yang pertama.

5 September 1945, Ia dilantik sebagai Gubernur Propinsi Jawa Timur.

12 Oktober 1945, baru melaksanakan tugas sebagai Gubernur Jawa Timur.

31 Oktober 1945, menghadapi pasukan tentara sekutu di Surabaya. Setelah terbunuhnya Mallaby di Surabaya kemarahan Inggris semakin memuncak.

9 November 1945, tentara Inggris mengeluarkan ultimatum kepada segenap rakyat Surabaya agar menyerahkan senjata paling lambat tanggal 10 Nopember 1945 pukul 06.00 pagi. Apabila tuntutan ini tidak dipenuhi mereka akan menggempur Surabaya dari darat, laut, dan udara. Gubernur Soerjo menghadapi keadaan genting ini dengan kepala dingin. Ia mengadakan rapat dengan Tentara Keamanan Rakyat.

9 Nopember 1945 pukul 23.00, beliau berpidato melalui siaran radio dan membakar semangat rakyat untuk bangkit melawan pasukan Inggris. Pidato yang sama pun digelorakan oleh Bung Tomo yang mampu memicu semangat pemuda Surabaya untuk menahan gempuran Sekutu.

10 Nopember 1945, keesokan harinya meletus pertempuran dahsyat antara tentara Inggris dan para pejuang serta pemuda Indonesia di Surabaya yang kemudian dikenal dengan Pertempuran Surabaya.

Tahun 1945, serangan Inggris di Surabaya semakin gencar dan memaksa Suryo dan staf pemerintahan menyingkir ke Sepanjang.

Tahun 1947, kemudian pindah ke Mojokerto, Kediri, dan selanjutnya Malang .

21 Juli 1947, setelah aksi Militer Belanda I. Kedudukan Pemerintah Propinsi Jawa Timur yang sebelumnya ada di Malang dipindahkan ke Blitar.

Tahun 1947 Soerjo digantikan oleh Dr. Moerdjani. Soerjo mendapat tugas baru sebagai Wakil Ketua DPA di Yogyakarta. la selanjutnya menjadi ketua DPA ketika ketua sebelumnya sakit.

10 Nopember 1948 setelah menghadiri peringatan hari Pahlawan di Yogyakarta, Soerjo pulang ke Madiun untuk menghadiri 40 hari wafatnya adiknya, Raden Mas Sarjuno yang menjadi korban keganasan Partai Komunis Indonesia. la bermalam di Solo dan menginap di rumah seorang Residen Solo, Pak Diro.

11 Nopember 1948, keesokan harinya beliau melanjutkan perjalanan. Di Desa Bago, Kedunggalar, Ngawi, dicegat dan kemudian dibunuh gerombolan komunis yang dipimpin oleh Maladi Yusuf. Pada saat yang sama lewat mobil yang ditumpangi M. Duryat dan Suroko. Soerjo dan lainnya di bawa ke Hutan Sonde dan dibunuh secara kejam. Jenazahnya ditemukan empat hari kemudian di Kali Klakah, Dukuh Ngandu, Desa Bangunrejo Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Jenazah Soerjo kemudian dimakamkan di makam Sasono Mulyo, Sawahan, Kabupaten Magetan.

17 Nopember 1964, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294, Pemerintah mengangkatnya sebagai pahlawan Pembela Kemerdekaan.

 Taman TAHURA

H. Imam Utomo Gubernur Jawa Timur, 1998-2003 dan 2003-2008

imam-utomo-01

Sebagai Gubernur Jawa Timur, Mayjen TNI (purn) H. imam Utomo sudah pasti memiliki prestasi yang luar biasa. Itulah sebabnya masyarakat Jatim mempercayakan kepemimpinan Jatim untuk dua periode, yang kedua didampingi oleh Dr H. Soenaijo sebagai Wakil Gubernur.

Namun kalau ditanya apa prestasi Imam Utomo yang menonjol selama masa kepemimpinannya, orang pasti akan berpikir dulu untuk menjawabnya, begitulah Imam Utomo, ia bukan pemimpin sehingga gampang dikenang-orang. Tetapi masyarakat Jawa Timur pasti akan merasakan, selama masa kepemimpinannya (1998-2003 dan 2003-2008) suasana Jawa Timur sangatlah tenang. Padahal pada masa-masa itu adalah puncak dari gejolak perubahan bangsa kita yang penuh ketidakpastian, kemerosotan hampir di semua bidang termasuk ekonomi.

Meski demikian Imam Utomo bukan tak sepi prestasi sampai masa tiga tahun sebagai Gubernur jawa timur dalam periode kedua, Imam banyak mendapatkan penghargaan nasional termasuk beberapa kali yang diserahkan langsung oleh Presiden. Secara berkelakar seorang pejabat Pemprov bahwa mungkin saja. Presiden ‘bosan” melihat Imam Utomo berkali-kali menerima penghargaan atas prestasinya. “Tetapi apa mau dikata, wong prestasi-prestasi ini memang dicapai Gubernur Imam Utomo,” kata pejabat itu.

Salah satu keberhasilan Imam Utomo adalah dalam menggolkan pembangunan jembatan Suramadu, meskipun ketika buku ini ditulis proyek tersebut beijaJan tersendat-sendat Namun bila segalanya kembali beijalan lancar, banyak kalangan menilai prestasi itu luar biasa. Bukan karena jembatan itu sudah sejak tahun 1950-an digagas, tetapi yang lebih penting adalah, jembatan ini sangat strategis sebagai kunci kemajuan Madura yang selama ini merupakan kawasan yang relatif tertinggal dibandingkan daerah lainnya di Jatim.

Keberhasilan pembangunan jembatan Suramadu kini memang dipertaruhkan karena hal itu juga berarti akan tumbuhnya lapangan keija karena industri akan masuk Madura. Ini berarti membukakan kesempatan keija bagi ribuan tenaga penganggur yang juga masih dihadapi provinsi Jawa Timur. Jauh lebih luas lagi, jembatan Suramadu ini adalah tonggak kemajuan  masyarakat provinsi ini di segala sektor. Namun, Imam Utomo tidak lantas membusungkan dada atas kenyataan ini.

Ia seperti biasanya tetap kalem dan rendah hati. Baginya, keberhasilan pembangunan Jembatan Suramadu adalah keberhasilan seluruh masyarakat Jawa Timur. Selain itu, kenyataannya masih banyak rakyat di Jawa Timur yang hidup miskin, sampai belasan persen dari jumlah penduduk. Jumlah warga yang miskin belakangan ini bahkan meningkat akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).

Bencana, alam juga dalang silih berganti, antara lain bencana banjir, termasuk banjir lumpur yang tak terduga akibat pengeboran minyak oleh PT Lapindo Brantas di daerah Porong, Sidoarjo, sejak pertengahan tabun 2006. Luapan lumpur tersebut belum juga bisa dihentikan dan bahkan telah menenggelamkan ribuan rumah penduduk. Dampak lainnya adlaah ditutupnya Jalan Tol Porong, hal yang menimbulkan akibat buruk berantai terhadap ekonomi dan sosial provinsi Jawa Timur. Banyak industri terpukul akibat bencana lumpia- tersebut. Orang banyak menduga, Imam Utomo mungkin masyguk karena banyak capaian-capaiannya yang rusak akibat luapan lumpur di Porong.

Tetapi warga Jawa Timur kiranya tetap terkesan pada pemimpinnya ini. Dari sisi kepribadian, laki-laki kelahiran Jombang 14 Mei 1943 ini seolah kontras dengan cirri masyarakat Jawa Timur yang dinamis dan meledak-ledak karena Imam Utomo justru tenang. Tapi mungkin itulah sosok yang dibutuhkan ketika situasi sedang sangat bergejolak. Dengan suasana yang tetap tenang, perubahan bisa dijalani dengan lebih adem dan kepastian akan menggampangkan gerak ekonomi. Yang lebih penting lagi masyarakat seakan merasakan ketenangan menjalani kehidupan dengan baik.

Utamakan Musyawarah

Ciri lain yang menonjol dari putra pasangan Suparno (almarhum) dengan Hj Rukayat ini adalah optimisme yang mengalir dalam dirinya pada keadaan seperti apapun. Inilah kunci lain yang membuat dirinya mampu memimpin provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 35 juta jiwa ini. “Saya lebih mengutamakan musyawarah dan kekeluargaan untuk menyelesaikan masalah,” kata suami Hj Anik Triwinarni ini.

Imam Utomo yang pernah menjahat Denrem Bhaskara Jaya ini merupakan sosok yang dalam perjalanan hidupnya sangat dipengaruhi jalan hidup orang Jawa dan tentu saja kultur santri yang kental karena lahir di kota santri Jombang. Ia menjalani hidup sesuai falsafah Jawa yakni ngudarasay among rasa, mijil tresna dan agawe karya. Ngudarasa berarti mengenali perasaan dalam diri. Among rasa adalah mengendalikan dan menala perasaan sehingga bisa melihat hal yang baik dan buruk. Minjil tresna artinya berusaha mewujudkan sesuatu dengan kecintaan bukan kebencian. Dan pada akhirnya orang memang harus menghasilkan karya atau agawe karya. Tanpa membuat karya, orang tidak akan punya manfaat bagi orang lain. Apalagi sebagai pemimpin, jika tidakmampu menghasilkan karya ia hanya akan menjadi beban bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Meski demikian, ayah empat putra-putri (Andrianingrum, Agusanto B, Trisniartami dan Tantuko Adi, iniftetap saja memiliki karakter seperti umumnya masyarakat Jatim yakni keterbukaan. Ia bersikap terbuka kepada siapapun. Demikian juga ia mengharap sikap serupa dari orang lain. Karena itu ia bisa mengkritik orang lain dan tentu saja juga bawahannya tetapi ia tak alergi terhadap kritik. “Ini lebih saya sukai sehingga persoalan bisa diselesaikan dengan lebih baik, lebih terbuka ,” katanya.

Komandan Peleton Dalam meniti kariernya, Imam Utomo benar-benar berangkat dari bawah. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang pada 1965 pada Agustus tahun berikutnya ia diangkat sebagai Komandan Peleton I/A/404. Ia hanya menjabat enam bulan di tempat itu karena pada 1 Februari 1967 ia diangkat sebagai pelatih di Rindam IV. Setelah itu ia menjadi Wakil Komandan Kompi A/144 sebelum akhirnya menjadi Komandan.

Tiga tahun kemudian, melaui Surat Keputusan (SKEP) 114- 13/2/1971 Kapten Imam Utomo diangkat sebagai PASI I Yonif 141, tahun 1973 menjadi PASI 2/OPS Brigif 8 dan

Jabatan Komandan Batalyon inf 742 kemudian disandangnya.

Pada tahun 1980, dengan pangkat Letnan Kolonel, Imam ditugasi sebagai Karo Binkar Disdalkar. Jabatan itu hanya disandang satu tahun karena ia kemudian ditunjuk Kansaf Brigif 2 Kostrad yang kedudukan di^ Malang. Barulah setelah itu Imam masuk di Kodam V Brawijaya sebagai Wakil Asisten Oprasi, lalu Kansaf Korem 091/DSJ pada 1985, dan tahun berikutnya sebagai Komandan Brigif 18 Kostrad

Namun Imam Utomo rupanya telah ditakdirkan cocok di Jawa Timur, karena tidak lama kemudian ia ditarik ke Surabaya dan menjadi Aspers Kasdam V Brawijaya dan menjadi Paban 3/Binkar Spersad. Jabatan yang strategis sebagai Komandan Korem 084 Bhaskara Jaya kemudian dipegangnya. Jabatan ini dipegangnya tiga tahun sebelum akhirnya menjadi Kansaf Kodam, kemudian sebentar ditarik ke Jakarta sebagai Aspers KSAD sbelum akhirnya diangkat sebagai Pangdam V/Brawijaya pada 1 Februari 1995.

. Sebagai Pangdam, Imam Utomo memegang jabatan itu selama dua tahun eman bulan, dikemudian ditarik ke Jakarta untuk menjadi anggota DPR RI dari Fabri sejak 29 Agustus 1997. Baru setahun menjadi wakil rakyat, Imam dicalonkan untuk menjadi Gubernur dan akhirnya terpilih dalam pemilihan di DPRD Jatim, mengalahkan incurnbeni Mayjen (Purn) Basofi Sudirman. Ia dilantik Hingga akhir 2006, sudah hampir 9 tahun Imam Utomo memimpin Jawa Timur. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia akan meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada Gubernur baru, yang akan dipilih secara langsung dalam Pilkada yang dijadwalkan pada 2008. Di mana tempat Imam Utomo dalam sejarah provinsi ini? Jawabnya tentu ada di masing-masing hati rakyat daerah ini. Tetapi Imam Utomo setidaknya bisa menjalani pensiun dengan tenang dan tanpa beban. “Pasalnya, ia sudah dikenal sebagai sosok Gubernur pekerja Keras dan selalu bersungguh- sungguh dalam menjalankan tugasnya,” kata seorang pimpinan DPRD Jawa Timur. Sebagai Gubernur Jatim pada 26 Agustus 1998.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mayjen TNI (Purn) H. Imam Utomo (Gubernur Jawa Timur, 1998-2003 dan 2003-2008)   hlm, 94-97

Pelaporan Gubernur Jawa Timur, Tentang Kejadian 10 Nopember 1945

PELAPORAN GUBERNUR JAWA TIMUR RMTA SURYO
KEPADA PEMERINTAH PUSAT DI JAKARTA TENTANG
KEJADIAN PERTEMPURAN 10 NOPEMBER 1945 DI SURABAYA
PELAPORAN PERISTIWA 01 SURABAYA

I. Umum.

1. Pada tanggal 7-11-’45 sekira jam 11; Gubernur, Residen dan anggauta-anggauta Kontak Bureau datang di Markas Tentara Inggris di Jalan Betawi; sebagai perkenalan dengan pemimpin baru yalah Jendral Mansergh. (lampiran 1). Pada waktu itu kesan terhadap dirinya pembesar tersebut sudah tidak menyenangkan dan semata-mata menunjukkan tidak adanya penghormatan terhadap pembesar Indonesia.

2. Pada tanggal 8 – 11 – 45 Gubernur terima surat isinya sebagai terlampir.

3. Untuk memenuhi panggilan surat tanggal 8 – 11 – 45 No …… tersebut, pada tanggal 9 – 11 – 45 jam ± 11 .30 Residen sebagai wakilnya Gubernur datang di Markasnya Tentara Inggris dengan disertai tuan Kundan anggauta Kontak Bureau dan beberapa orang Polisi sebagai pengawal, dengan membawa surat Gubernur sebagai jawaban atas surat Jenderal Mansergh. Pada waktu itu diberitahukan kepada Residen tentang beberapa perintah-perintah dari pihak tentara Inggris yang harus kita jalankan. Pad a Residen diberikan pula tiga bungkusan surat-surat yang berisi perintah-perintah tersebut disiarkan kepada penduduk. Sekembalinya dari Markas Tentara Inggris, Residen datang Markas Tentara Keamanan Rakyat untuk memberi tahukan tentang perintah perintah tadi. Tetapi ternyata, Pusat TKR sudah mengetahuinya, karena dari udara pada jam 12 telah disebarkan surat selebaran itu.

4. Mengingat hal pentingnya tuntutan, maka Pemerintah mengadakan hubungan tilpun dengan Pemerintah Pusat di Jakarta.

5. Sambil menunggu buah usaha di Jakarta maka pada jam 8 malam Gubernur mengadakan pidato radio untuk menenangkan rakyat dan memberitahukan bahwa sedang dladakan hubungan dengan Jakarta.

6. Setelah mendapat kabar dari Jakarta, bahwa usaha tidak berhasil baik dan diserahkan kepada kebijaksanaan Pemerintah Daerah, maka pada jam 11 malam Gubernur berpidato lagi di muka radio untuk menerangkan buah perundingan dengan Jakarta dan untuk meneguhkan semangat perjuangan Kemerdekaan pada umumnya.

7. Sehabis pidato radio,’Gubernur, Doel Arnowo, Kepala Kantor Residen Bagian Kepolisian serta anggauta Stat lain-Iainnya pergi ke Markas TKR Karesidenan di Embong Sawo. Atas nasehat pimpinan TKR di situ, semua tinggal bermalam di Embong Sawo. Pada esok harinya Residen menyusul.

8. Pada pagi itu tanggal 10-11- 45 atas pertimbangan TKR diputuskan Gubernur, Residen, Kepala Polisi dan lain-Iainnya pindah tempat keluar kota Surabaya, untuk menjaga kemungkinan yang tidak menyenangkan bagi Pemerintah. Wakil RRI dan TKR Soengkono waktu itu juga ada. Sekira jam 11 dengan diiring oleh escorte TKR Gubernur, Residen dll. pindah ke Kawedanan Taman (Sepanjang) dan kemudian pada malamnya juga atas pertimbangan TKR berhubung dengan keadaan terus pindah ke Mojokerto.

9. Pada tanggal 10- 11-1945 sekira jam 9 didapat kabar, bahwa Tentara Inggeris sudah mulai masuk kota dengan tank dan mendapat perlawanan dari rakyat dan kira-kira pukul 10 dimulai dengan tembakan-tembakan hebat dari laut yang terutama mengenai Pasar· Turi, Kantor Besar Polisi (rusak hebat) dan Kantor Karesidenan. Tembak menembak berjalan terus sehingga sekarang. Tentara Inggris memakai kapal terbang, mortier-mortier dari laut, tank dan angkatan darat.

10. Penduduk yang terancam tempat tinggalnya mulai dengan sendirinya menyingkirkan diri. Sebagian dari kota sudah kosong, sedang sebagian terutama di sebelah pinggir Timur dan Barat penuh sesak. Tempat pengungsian luar kota yalah terutama Sidoarjo, Mojokerto dan sekitarnya.

II. Keadaan Pemerintahan.

1.  Semua kantor dan jawatan terpaksa terhenti dan keadaan kocar-kacir. Karena Kantor Besar Polisi rusak dan beberapa Kantor Seksi Polisi juga, maka Polisi mulai tanggal 11 – 11 – 45 mengadakan Pusat Baru dan menyusun tenaganya kembali. Begitu juga Pemerintahan kota memilih pusat baru dalam kota dengan membawa serta keuangan dan lain-lain yang dipandang perlu.

2. Kantor Gubernur dan Karesidenan disusun kembali sedapat mungkin dan dibagi menuruti keperluan dalam tiga bagian:
a. di Mojokerto (Pusat).
b. perwakilan di Taman.

c. perwakilan di kota, bersama-sama dengan Pemerintahan kota. Antara tiga bagian itu tiap-tiap waktu diadakan hubungan. Lain-lain jawatan mulai tersusun kembali.

3. Keuangan yang masih bisa dihindarkan dari musuh, maupun dari kebakaran bisa diselamatkan.

4. Makanan bagi penduduk dan tentara sudah diatur sebaik mungkin. Buat yang bertempur didatangkan makanan yang sudah masak dari luar kota Surabaya. Untuk itu di luar kota diadakan beberapa dapur umum. Pemerintahan kotaTKR dll. badan pembelaan membagi kepada tentara.

5. Bagi penduduk umum sedang diusahakan juga pembagian makanan, karena terasa makin sempitnya kemungkinan untuk masak sendiri.

6. Pemindahan penduduk.

a) buat penduduk umum diutamakan perempuan, anak-anak dan orang-orang tua. Orang-orang laki, sedapat mungkin harus tinggal di kota untuk membantu perjoangan.

b) orang-orang sakit dan luka-luka mulai dipindah ke luar kota, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang dan kalau perlu luar karesidenan.

c)  orang-orang Jepang semua sudah di luar kota Surabaya.

7. Pokok-pokok rencana pembagian pekerjaan.

III. Keadaan Pertempuran.
Hari Sabtu tanggal 10 – 11 – 45 sesudah surat sebaran tentara pendudukan tak diindahkan baik oleh fihak Pemerintah daerah maupun oleh penduduk, musuh pada pagi hari sudah mulai melakukan serangannya dengan mempergunakan segala alat senjatanya.
TKR yang sudah siap sedia dengan dibantu oleh lain-lain badan pembelaan sudah bertempur dengan mereka di sektor Kebalen.
Pada waktu itu mortier-mortier mereka dari laut dan kapal terbangnya mengadakan tembakan di kota bagian tengah, seperti Pasar Besar, Kantor Polisi Besar, Pasar turi dan Simpang.
Berkat semangat perju’angan pihak kita, musuh hanya dapat maju sedikit demi sedikit dan akhirnya pada tanggal 14 – 11 – 45 mereka sudah dapat menyusup ke Pasarturi di sebelah barat, belakang Kantor Gubernur sebelah tengah dan muka setasiun Semut di sebelah Timur.
Di dalam menghadapi musuh ternyata bahwa kita tak mempunyai cukup senjata berat (meriam besar).
Karena itu diusahakan bantu an dari Markas Besar Umum ialah TKR di Jokja (tgl. 14-11 – 45).
Buah perundingan utusan Surabaya dengan Markas Besar Umum ialah bahwa Markas tersebut :

  1. setuju untuk menyokong perjoangan ini.
  2. mengirimkan seorang instructuer (Kepala Sekolah Militer Ti nggi Jogya).
  3. mengir imkan 4 (empat) orang ahli meriam.
  4. mengirimkan meriam besar dari Solo denga n tenaganya dan mesiunya.

Esok harinya bantuan-bantuan datang di Surabaya. Oengan adanya bantuan ini tgl. 15/11 – 45 musuh dapat didesak mundur sampai di sekitar Dupak sebelah Barat, belakang Internatio bagian tengah dan Pegirikan bagian Timur. Keadaan ini tetap sampai pada esok hari tgl. 17/11 – 45 dua kapal perang kelihatan terbakar karena tembakan meriam kita dan tembakan yang jatuh di Madura mungkin bisa terjadi dari meriam kita sendiri.

Karena tembakan-tembakan mereka dari laut dan serangan dari udara terjadi banyak kerusakan di kampu ng-kampung dan juga di sementara gedung yang besar .seperti kantor Besar Polisi, kantor Gubernur, Proviciale Waterstaat, bekas R.V.J. Hotel Simpang, Zwembad Kaliasin dan Tunjungan (toko-toko).

Demikian juga musuh mulai tgl. 1-5/11-45 telah menembaki stasiun Semut, Gubeng, Wonokromo, Gedangan dan Sidoarjo. Rupanya dengan maksud mengacaukan perhubungan, sampai sekarang sudah ada 4 locomotif yang rusak. (diakui dan mempunyai gezag). Karena perjoangan ini pada azasnya semata-mata perjuangan rakyat.

Dengan adanya serangan tersebut dikalangan penduduk banyak yang menjadi korban, walaupun demi kian semangat perjuangan mereka tetap berkobar-kobar. Tentara penyerbuan kita y ang terdiri dari beberapa badan seperti TKR, PRJ, Barisan  Pemberontak, BBJ dll. Rupa-rupanya tidak dibawah satu pimpinan, sehingga ada kalanya tindakan-tindakan yang demikian merugikan satu sama lainnya. Di sini terasa perlunya memperbaiki koordinasi.

Dalam pada itu perjuangan kita dapat rintangan juga dari mata-mata musuh terdiri dari semua golongan bangsa Indonesia yang mengadakan tembakan dari belakang dan memberi tanda-tanda tembakan untuk menunjukkan tempat sasaran mereka. Perlu juga diterangkan, bahwa tembakan dari belakang .itu mungkin juga terjadi karena salah fahafn (tidak adanya hubunganantara satu satunya pasukan). Banyak mata-mata musuh yang sudah dibunuh seketika itu juga. Umpamanya saja di Sidoarjo pada tanggal 15-11-45 ada 20 orang mata-mata musuh dibunuh, diantara mana 2 orang dibakar.

Mengingat banyaknya kesukaran-kesukaran dan untuk menyempurnakan jalannya perjoangan, telah dibentuk gabungan pembelaan, yang mempunyai Markas di bawah pimpinan tuan Jonosewojo (TKR) dan wakil-wakil Pemberontakan, PRI, BBI, Polisi dll.
Markas tersebut mempunyai bagian-bagian seperti : 1) Staf Pembelaan, 2). Urusan Makanan, 3) Urusan Pengangkutan, 4) Bagian Penyelidikan, 5) Pengadilan Tentara (Krijgsraad) dan 6) Penyiaran.

IV. Pemerintahan Pusat Daerah yang berada di luar kota Surabaya mulai tersusun baik yang mengenai penyelenggaraan bantuan bagi garis muka.

Walaupun hal pemindahan Pemerintahan ini mendapat celaan dari sebagian f ihak, tetapi ternyata dengan adanya di luar kota itu bisa lebih bermanfaat dalam hal bantuan dari pada bila ada di dalam kota.

Hal perjuangan kemiliteran ternyata tidak mengecewakan, bahkan bahwa semangat dan keberanian dan dibanggakannya, bila dibandingkan dengan al at-alat tentara pendudukan.
Hanya saja hasil perjuangan mungkin bisa lebih disempurnakan, bila pasukan-pasukan yang terdiri dari beberapa badan itu berada di bawah satu pimpinan yang berpengaruh untuk usaha kemerdekaan dan sekali-kali bukan untuk menentang Sekutu. Maka sangat diharapkan supaya Pemerintah Agung mengusahakan agar supaya dunia luar dapat menaruh perhatian seperlunya, sehingga peristiwa Surabaya ini dapat diselesaikan dengan tidak merugikan pihak kita. •

Mojokerto, 17 – 11 – 1945

Gubernur Jawa Timur

R.M.T.A. Soerjo

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945  : Citra Kepahlawanan Bangsa Indonesia di Surabaya, Panitia Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya, Surabaya, 1986