Ke’ Lesap

Diceriterakan bahwa Pak Lesap adalah putera Madura keturunan Panembahan Cakraningrat dengan isteri selir; karena itu pada umumnya ia kurang mendapat kedudukan kalau dibandingkan dengan putera-puteranya dari isteri Padmi. Pada suatu waktu ia (Lesap) diberi tahu oleh ibunya, siapa sebenarnja ayahnya.

Sebagai seorang pemuda, ia merasa kesal dan berusaha untuk tampil kedepan dengan macam – macam keahliannya. Ia suka sekali bertapa digunung-gunung dan dikuburan-kuburan yang keramat. Pada suatu waktu ia bertapa digunung Geger (di Bangkalan) sampai cukup lamanya. Sekembalinya dari bertapa tersebut, ia mempunyai beberapa macam keahlian dan terutama ia menjadi dukun untuk menjyembuhkan macam – macampenyakit.

Hal itu terdengar oleh raja Bangkalan, lalu ia dipanggil dan diperkenankan untuk tetap tinggal dikota Bangkalan, dengan diberinya rumah didesa Pejagan.

Selain dari pada itu Raja djuga mengizinkan ia menjalankan praktek sebagai dukun, ialah memberinja obat- obat  kepada siapapun yang menderita sakit. Meskipun sudah mendapat kehormatan dan penghargaan semacam itu Ke’Lesap masih merasa tidak puas, karena ia merasa selalu diawasi oleh Raja. Yang tersembunyi dibalik itu, ia rupanya mempunyai ambisi untuk memegang Pemerintahan di Madura. Karena itu Ke’Lesap meninggalkan kota Bangkalan, terus menuju ketimur dan akhirnya ia sam­pai digua gunung Pajudan “didaerah Guluk-Guluk. Digua itulah ia bertapa untuk beberapa tahun lamanya.

Nama Ke’ Lesap makin lama makin terkenal.

Diceriterakan bahwa Ke’ Lesap memiliki sebuah golok dan dapat disuruh untuk mengamuk sendiri tanpa ada orang yang memegangnya. Kare­na kesaktian – kesaktian yang ia miliki, ia makin lama makin menjadi terkenal sam­pai diseluruh pelosok Madura.

Akhirnja Ke’ Lesap merasa yakin pada dirinya sendiri, bahwa ia sudah cukup mampu untuk mulai mengobarkan api pemberontakan. Keahlian dan kemasyurannya, banyak membawa simpati kepada rakyat, sehingga pa­da saat ia turun dari pertapaannya (Gunung Payudan) dengan sangat mudah ia dapat menaklukkan desa- desa yang ia datangi. Pemberontakan Ke’ Lesap mulai dari timur.

Dengan bantuan pengikut – pengikutnja, Ke’ Lesap mulai menyerang kerajaan Sumenep. Pertempuran terjadi dimana-mana, dan tak lama kemudian, Sumenep dapat diduduki. Pangeran Tjokronegoro IV (Raden Alza), sebagai Bupati Sumenep merasa sangat ketakutan dan ia melarikan diri bersama-sama keluarganya ke Surabaya dan ia melaporkan adanya pemberontakan tersebut kepada Kompeni.

Setelah keraton Sumenep diduduki, Pak Lesap menuju ke Pamekasan melalui jalan sebelah selatan, ialah Bluto, Prenduan, Kadura dan seterusnya. Ditempat-tempat dimana ia lalui, disambut oleh rakyat dengan penuh simpati dan terus mereka menggabungkan diri masuk pasukan pemberontak. Pamekasan dengan mudah pula dapat dikalahkan, karena pada waktu itu Bupati Pamekasan yang bernama Tumenggung Ario Adikoro IV (R. Ismail) tidak ada ditempat, ia sedang bepergian ke Semarang.

Ke’ Lesap melawan Adikoro IV.

Adikoro IV adalah menantu dari Cakraningrat V di Bangkalan. Sewaktu Adikoro IV kembali dari Semarang dan singgah di Bangkalan, ia lalu mendengar dari mertuanya bahwa Ke’ Lesap melancarkan pemberontakan. Setelah mendengar peristiwa itu, Adikoro IV terus minta diri kepada ayah mertuanya untuk terus berangkat berperang menghadapi Ke’ Lesap. Ia sa­ngat marah, karena memikirkan bagaimana nasib rakyat Pamekasan yang tentunya kocar-kacir, karena ditinggalkan pemimpinnya. Adikoro IV naik kuda dari Bangkalan menuju Blega. Di Blega ia berjumpa dengan orang- orang dari Pamekasan yang dipimpin oleh Wongsodirejo, Penghulu Bagandan. Dengan diiringi oleh pengikut pengikutnya yang masih setia, Adikoro IV terus menuju ke Sampang. Dikota ini ia berhenti un­tuk istirahat sebentar. Pada saat makan siang datanglah seorang utusan dari Pak Lesap dengan mcmbawa sepucuk surat yang isinya menantang untuk berperang. Adikoro IV sangat marah dan nasinya tidak terus dimakan, bahkan ia terus berdiri dan menanyakan kepada orang – orang banyak siapa yang sanggup mengikuti dirinya untuk berperang dengan Pak Lesap. Penghulu Bagandan tidak menyetujui untuk berangkat segera, karena hari itu adalah hari naas dan. menasehatkan untuk berangkat besok paginya saja. Tetapi Adikoro IV tidak sabar untuk menunggu semalam saja. Ia menanyakan lagi, siapa yang berani mati bersama-sama dengan dirinya. Penghulu Bagandan menyahut, bahwa dirinyalah yang per-tama bersedia untuk mati bersama-sama pemimpinnja. Karena itu, tanpa di-tunda- tundalagi, Adikoro IV berangkat dengan diikuti oleh Penghulu Bagandan dan pengiring-pengiringnya menuju ke Pamekasan.

Adikoro IV beserta pasukannya mengamuk sedemikian rupa, sehingga musuhnya dapat dipukul mundur sampai di Pegantenan, daerah Pamekasan Akan tetapi, karena pasukan Adikoro IV jumlahnya hanya sedikit dan ia sendiri sudah sangat lelah, maka tidak lama kemudian perutnya kena senjata dan ususnya sampai keluar. Tetapi semangatnya tidak padam, ia melilitkan ususnya kepada tangkai kerisnya dan ia terus mengamuk dengan tombaknya. Akhirnya ia kehabisan tenaga juga dan terus jatuh meninggal dunia. Demikianlah pula Penghulu Bagandan gugur dimedan pertempuran bersama-sama Adikoro IV.

Pertempuran di Bangkalan dan berakhirnya pemberontakan Pak Lesap (tahun 1750). Setelah Adikoro IV dapat dikalahkan, maka Pak Lesap beserta pasukannya terus menuju ke Bangkalan. Pertempuran dimulai sebab pasukan Cakraningrat V mengadakan perlawanan yang cukup hebat. Tetapi lama ke- lamaan pasukan kerajaan Bangkalan dapat dipukul mundur. Bantuan dari Kompeni didatangkan dari Surabaya. Pertempuran terus berkobar kembali.

Bantuan Kompenipun tidak dapat bertahan dan terpaksa mundur pula. Karena Cakraningrat V merasa hampir kalah, ia mengungsi ke Melaja, sedangkan Benteng dipertahankan oleh pasukan Kompeni. Waktu itu Pak Lesap membuat pesanggrahan didesa Tonjung. Pada suatu malam Cakraningrat V bermimpi supaya Pak Lesap dikirimi seorang perempuan dengan disuruh memegang bendera putih, yang maksudnya, bahwa Bangkalan akan menyerah. Tipu muslihat tersebut keesokan harinya dijalankan. Seorang perempuan ronggeng diberinya pakaian keraton serta disuruh memegang bendera putih dan terus dikirimkan kepada Pak Lesap. Pak Lesap menerima pemberian itu dan wanita itu dibawa kepesanggrahannya, dengan keyakinan bahwa Bangkalan sudah menyerah. Pada waktu Cakraningrat V dengan pengikutnja sedang menunggu reaksi Pak Lesap dengan dikiriminya seorang wanita yang memegang bendera putih, tiba – tiba terlihatlah tombak pusaka Bangkalan yang bernama SiNenggolo gemetar dan bersinar seolah-olah  mengeluarkan api. Cakraningrat bangkit dari duduknya dan terus mengabil tombak itu.

Ia lalu mengajak pasukannya untuk berangkat berperang guna menumpas pemberontakan Pak Lesap.

Sesampainya didesa Tonjung, Pak Lesap sangat terkejut, karena Cakraningrat V datang menyerang dengan tiba – tiba. Dengan tidak menunggu lama lagi, Cakraningrat V mendatangi pemimpin pemberontak itu dan terus tombaknya ditancapkan. Pak Lesap, pada seketika itu pula rebah dan te­rus meninggal. Rakyat Bangkalan yang mengikuti Rajanya bersama – sama berteriak : „Bangka-la’an”, jang artinja „sudah matilah”. Karena itu sebagian orang Bangkalan mengatakan, bahwa nama Bang­kalan asalnja dari kalimat itu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 31-33

Permulaan Sejarah Jawa Dan Madura

Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. Pada saat itu mulai diadakan perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf: anacaraka, data sawala, padajayanya, magabatanga.

artinya : dua orang pengikut Aji Saka, tersentuh dalam perkelahian, sama-sama menunjukkan kekuatan, mereka hancur lebur menjadi bangkai.

Dengan demikian setahap demi setahap kebudajaan Hindu mulai tersebar dan menurut ceritera sekaligus orang Jawa dan Madura diperkenalkan kepada agama baru ialah adanya kepercayaan terhadap : Brahma, Syiwa dan Wisynu.

Beberapa abad kemudian, diceriterakan, bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dan berkuasalah seorang Raja yang bernama Sanghyangtunggal. Waktu itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, yang tampak ialah Gunung Geger didaerah Bangkalan dan Gunung Payudan didaerah Sumenep. Diceriterakan selanjutnya bah­wa Raja itu mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Pada sua­tu waktu anak itu hamil dan diketahui oleh ayahnya. Ayahnya beberapa kali menanyakan, tetapi anaknya tidak tahu pula, apa sebabnya ia hamil. Raja amat marah dan dipanggillah pepatihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu.

Selama Pepatih itu tidak dapat membuktikan bahwa anak itu sudah dibunuh, ia tidak boleh kembali kekerajaan. Patih Pranggulang menyanggupinya dan ia terus membawa anak Raja yang hamil itu kehutan. Pranggulang sesampainya dihutan ia terus menghunus pedangnya dan mengayunkan keleher gadis itu. Tetapi setelah ujung pedang hampir sampai mengenai leher Bendoro Gung itu, pedang tersebut jatuh ketanah. Demikianlah sampai berulang tiga kali. Pranggulang akhirnya meyakinkan dirinya bahwa hamilnya Bendoro Gung bukanlah hasil karena perbuatannya sendiri.

Karena itu ia tidak melanjutkan untuk membunuh anak raja itu, tetapi ia memilih lebih baik tidak kembali kekerajaan. Pada saat itu ia merobah nama dirinja dengan nama Kiyahi Poleng dan pakaiannya diganti pula dengan poleng (arti poleng, ialah kain tenun Madura), Ia lalu membuat rangkaian kayu- kayu (bahasa Madura ghitek) dan gadis yang hamil itu didudukkan diatasnya, serta ghitek itu dihanyutkan menuju kepulau „Madu-oro”. Inilah asal nama pulau Madura. Sebelum berangkat Kiyahi Poleng memesan kepada Bendoro Gung, djika ada keperluan apa- apa, supaya ia memukul-mukulkan kakinya diatas tanah/lantai dan pada saat itu Kiyahi Po­leng akan datang untuk membantunya.

Selanjutnja „ghitek” itu terus menuju “madu-oro“ dan terdamparlah digunung Geger. Si-Gadis hamil itu terus turun.

Lahirnya Raden Sagoro.

Pada suatu saat sigadis hamil itu merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Kiyahi Poleng. Tidak antara lama Kiyahi Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak. Tak lama lagi lahirlah seorang anak laki- laki yang roman mukanya sangat bagus dan diberi, nama „Raden Sagoro” (sagoro = laut). Dengan demikian Ibu dan anaknya yang bernama Raden Sagoro adalah menjadi penduduk pertama dari pulau Madura.

Perahu- perahu yang banyak berlayar disekitar pulau Madura sering melihat adanya cahaya yang terang ditempat dimana Raden Sagoro berdiam, dan seringkali perahu- perahu itu berhenti berlabuh dan mengadakan selamatan di­tempat itu. Dengan demikian tempat tersebut makin lama makin men­jadi ramai karena sering kedatangan tamu tamu terutama yang niatnya dapat terkabul untuk maksud maksud kepentingan peribadinya. Selain dari pada itu pa­ra pengunjung memberikan hadiah – hadiah kepada lbu Raden Sagoro maupun kepada anak itu sendiri. Selandjutnja setelah Raden Sagoro mentjapai umur 3 tahun ia sering bermain ditepi lautan dan pada suatu saat datanglah 2 ekor ular naga yang sangat besar mendekati dia. Dengan ketakutan ia lari menjumpai ibunya dan menceriterakan segala sesuatu apa yang dihatnya. Ibunya merasa sangat takut pula karena itu ia memanggil Kiyahi Poleng. Setelah Kiyahi Poleng datang, Bendoro Gung menceriterakan apa yang telah dialami oleh anaknya. Kiyahi Poleng mengajak Raden Sagoro untuk pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah 2 ekor ular raksasa dan Kiyahi Poleng menyuruh Raden Sagoro supaya 2 ekor ular itu didekati dan selanjutnya supaya ditangkap dan dibanting ketanah. Setelah dikerjakan oleh Raden Sagoro maka 2 ekor ular raksasa tersebut berubah mendjadi 2 buah tombak. Tombak itu oleh Kiyahi Poleng diberi nama Si Nenggolo dan Si Aluqoro. Kiyahi Poleng mengatakan supaya si Aluqoro disimpan dirumah saja dan si Nenggolo supaya dibawa apabila pergi berperang. Setelah Raden Sagoro berumur 7 tahun berpindahlah tempat mereka dari Gunung Geger kedekat Nepa. Didesa Nepa itu memang penuh dengan pohon nepa dan letaknya sekarang ada di Ketapang ( Kabupaten Sampang) dipantai Utara jang sekarang banyak keranya.

Selanjutnja diceriterakan, Radja Sanghyangtunggal dinegara Mendangkamulan, kedatangan musuh dari negeri Cina. Didalam peperangan tersebut Mendangkamulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga rakyatnya hampir musnah terbunuh. Pada suatu malam ia bermimpi kedatangan seseorang jang sangat tua dan berkata bahwa di pulau Madu-oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Sagoro. Raja dianjurkan untuk minta bantuan Raden Sagoro, jika didalam peperangan ingin menang.

Keesokan harinya Raja memerintahkan pepatihnya untuk datang ke Madu­ra, menjumpai Raden Sagoro guna minta bantuan. Sesampainya Patih tersebut di Madura, ia terus menjumpai Raden Sagoro mengemukakan kehendak rajanja. Ibu Raden Sagoro mendatangkan Kiyahi Poleng dan minta pendapatnya, apakah kehendak Raja dikabulkan atau tidak. Ternyata Kiyahi Poleng merestui agar Raden Sagoro berangkat kekerajaan Mendangkamulan untuk membantu Raja didalam peperangan. Raden Sagoro berangkat dengan membawa senjata si Nenggolo. Kijahi Poleng ikut serta, tetapi tidak tampak kepada orang. Sesampainya dikeradjaan Mendangkamulan terus berperanglah ia dengan tentara Cina. Begitu si Nenggolo diarahkan kepada sarang musuh, maka banyak tentara musuh tewas karena kena penjakit. Akhirnja raja Mendangkamulan atas bantuan Raden Sagoro menang didalam peperangan dengan tentara Cina dan setelah itu Raja mengadakan pesta besar karena dapat mengusir musuhnya. Raja bermaksud mengambil Raden Sagoro sebagai anak menantunya. Ditanyakanlah kepadanya, siapa sebenarnya orang tuanya. Raden Sa,goro minta idzin dahulu untuk pulang ingin menanyakan kepada Ibunya. Sesampainja di Madura ia menanyakan kepada Ibunya siapa gerangan ayahnya.

Ibunya kebingungan untuk menjawabnya. Pada saat itu pula Ibu dan anak nya lenyaplah dan rumahnya disebut keraton Nepa. Diceritakan selanjut­nya bahwa menurut kepercayaan orang, dua buah tombaknya (si Nenggolo dan si Aluquro) pada akhirnya, sampailah ketangan Pangeran Demang Palakaran, Raja Arosbaya. Karena itu sampai saat sekarang dua tombak tersebut menjadi pusaka Bangkalan.

Demikianlah diceriterakan adanya penduduk pertama dipulau Madura. Dari segi sejarah memang masih perlu dicek kebenarannya, tetapi ka­rena ceritera ini kuat beredar dan menjadi legenda (dongengan) dari generasi-kegenerasi, kami anggap perlu untuk dihidangkan kepada para penggemar sejarah. Ceritera-ceritera berikutnyapun masih juga mengandung ceriteraceritera yang ditulis dalam buku Babad jang masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk dimasukkan didalam sejarah yang tujuannya mencari kebenaran dari obyeknya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm.1-4

Wisata Sejarah, Madura

Wisata Sejarah Di Madura Gunung Geger Madura

 

Masih banyak lagu-lagu asal daerah ini yan sudah menasional, seperti Tanduk Majeng, Karabben Sapeh, Oleo-olang, Gelang Sokoh, Nyelok Aeng dan banyak lainnya. Di kalangan masyarakat Madura sendiri lagu-lagu itu sudah sangat merakyat.

Namun ketika ditanya siapa sebenarnya orang pertama kali mendarat di pulau Madura, yang kemudian memunculkan banyak ragam lagu dan budaya hingga menjadi objek berkesenian cukup menarik? Bisa dipastikan jarang yang tahu, meski itu penduduk asli Madura. Padahal, asal-muasal semua teka-teki tersebut sangat mudah sekali didapat kalau dilakukan penelusuran melalui peIjalanan wisata, seperti dilakukan tim Bisnis belum lama ini ke Madura.

Sebut saja misalnya nama Gunung Geger yang memiliki ketinggian 250 meter di atas permukaan laut dan terletak di kawasan Kecamatan Geger Bangkalan, Madura. Terdapat banyak situs peninggalan sejarah abad VIII di kawasan itu,  yang sekaligus diyakini sebagai asal muasal nenek moyang masyarakat Madura. Selain menyimpan sejuta pesona, gunung ini juga menyimpan sejuta misteri yang jika digarap serius dipastikan akan menjadi objek wisata menarik, bukan hanya bagi masyarakat Bangkalan, tetapi bagi masyarakat wisatawan darimana pun asalnya.

Menurut cerita masyarakat setempat, kawasan Gunung Geger adalah daerah tertinggi di Pulau Madura. Sebab itu tidak heran jika perjalanan pendakian sudah mencapai puncak, selain diperoleh sebuah pemandangan atau panorama alam sekitarnya yang sangat indah, juga hawa sejuk sebagaimana alam pegunungan lainnya.

Di puncak gunung ini masih banyak ditemui kulit kerang dan hewan serta jenis bebatuan laut, yang sekaligus melahirkan sebuah penafsiran bahwa pada jutaan tahun silam gunung ini masih merupakan daratan bahkansangat mungkin bagian dari lautan.

Sehingga objek wisata itu layak menjadi magnit untuk menyedot  wisatawan baik asing maupun lokal. Karena faktanya, meski  letaknya sekitar 40 km arah Tenggara pusat pemerintahan Kabupaten Bangkalan, namun ketika berada di puncak gunung itu siapapun akan bisa berdecak kagum-karena bisa melihat langsung hamparan Kota Bangkalan bahkan sampai ke laut arah Barat dan Selatan dengan pesona keindahannya.

Tapi sayang, karena keluguan pengelola dan keperawanan objek wisata itu, gunung yang sekaligus hutan tropis dan menyimpan banyak sekali peninggalan cerita bersejarah yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai petilasan Jokotole dan makam Putri Kuning, sejauh ini masih tetap ‘merana’ menanti kepedulian.

Padahal, Gunung Geger tidak sekedar gunung. Sebab selain berhias panorama yang elok, badan gunung ini juga menyimpang beberapa unit gua seperti Gua Planangan, Gua Koroghan dan ada juga gua yang konon menjadi jalan tembus untuk mencapai pesisir pantai Selatan.

Pastinya, di areal gunung yang luasnya mencapai 42 ha dan banyak ditumbuhi akasia, mahoni jati itu telah sering menjadi areal bumi perkemahan. Beberapa cerita di balik gua itu sbb: Gua Petapan, yaitu gua yang diyakini bekas pertapaan Adapodai, yaitu ayah kandung dari tokoh legendaris Madura, Jokotole alias Penembahan Secodingrat III pada abad XIII.

Gua Potre, yaitu gua bekas pertapaan Potre Koneng, istri Adipodai. Gua Planangan, yaitu gua yang bentuknya mirip kelamin pria yang mengeluarkan rembesan air dan jika diminum, diyakini bisa meningkatkan daya vitalitas seksualitas pria.

Gua Pancong Pote, yaitu gua yang mempunyai keunikan sungai di bawah tanah, berikut kandungan stalatit dan stalakmit warna-warni.

Gua ular, yaitu sebuah gua yang mempunyai bentuk sangat unik