Ma'had Aly Hasyim Asy'ari, Tebuireng

Ma'had Aly Hasyim Asy'ari.0001Ma’had Aly Hasyim Asy’ari merupakan lembaga pendidikan tinggi setingkat S1, setara dengan perguruan tinggi yang diselenggarakan Departemen Agama. Didirikan pada 6 September 2006 atas prakarsa (aim) KH. Muhammad Yusuf Hasyim dan dilestarikan oleh Gus Solah. Dengan prinsip melahirkan generasi Khairu Ummah, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari menyelenggarakan studi-studi agama secara mendalam melalui perpaduan sistem pendidikan pondok pesantren dan perguruan tinggi modern. Dari sini diharapkan akan lahir para intelektual muslim yang memiliki akhlaqul karimah dengan kadar intelektualitas global.
Program studi dijalani selama 4 (empat) tahun. Setiap tahun terdiri dari 2 (dua) semester. Kurikulum disusun sesuai dengan 5 program kekhususan ilmu keagamaan. Yaitu (1) Program pendalaman tafsir, (2) Hadits, (3) Fiqih dan Ushul Fiqih, (4) Gramatika Arab dan Inggris, (5) Akhlaq dan Tasawuf
Proses belajar-mengajar seluruhnya disampaikan dalam Bahasa Arab dan Inggris. Program belajar meliputi dirasah yaumiyyah (kuliah harian) dengan metode ceramah dan dialog interaktif, studi kepustakaan literatur klasik, muhadatsah/speaking, penugasan penulisan ilmiah, kegiatan extra, mudzakarah, bahtsul masail fiqhiyyah-maudluiyyah- waqi’iyah, dan kajian khusus terhadap kitab-kitab tertentu untuk penguasaan bidang studi dengan bimbingan dosen bidang studi. Rata- rata dosen Ma’had Aly adalah lulusan Timur Tengah dengan stratifikasi S-2 (Magister) dan S-3 (Doktoral).
Para calon mahasiswa diharuskan memenuhi persyaratan- persyaratan tertentu untuk dapat diterima sebagai mahasiwa Ma’had Aly, diantaranya telah lulus pendidikan serendah-rendahnya Madrasah
Aliyah, memiliki kemampuan dasar dalam bidang ilmu yang akan menjadi pilihan spesialisasinya, memiliki wawasan yang luas tentang khazanah keilmuan Islam, dan lulus tes.
Jumlah mahasiswa yang diterima dibatasi sebanyak 30 orang, dibebaskan dari uang SPP, uang ujian semester, dan uang asrama. Selama masa studi, mahasiswa diharuskan tinggal di asrama Ma’had Aly.
Ma'had Aly Hasyim Asy'ari.0002Untuk menunjang keberhasilan program studinya, Ma’had Aly menyediakan sarana dan fasilitas, antara lain asrama mahasiswa, gedung perkuliahan, perpustakaan, komputer analisis data, televisi channel luar negeri dengan perangkat parabola, dan lain-lain.
Selain kegiatan rutin perkuliahan, para mahasiswa Ma’had Aly juga dibekali dengan berbagai kegiatan ekstra seperti diskusi mingguan yang diselenggarakan BEM, kemudian stadium general yang diadakan setiap tahun, juga kegiatan temporal seperti seminar, lokakarya, dan workshop dengan pembicara tokoh-tokoh nasional, juga penerbitan buletin, website, khataman al-Qur’an, kegiatan diba’iyyah, dan sebagainya.
Sebagian besar mahasiswa Ma’had Aly aktif mengajar di beberapa lembaga pendidikan, baik di Tebuireng maupun di sekitar Tebuireng. Sebagian lagi menjadi Pembina santri (putra-putri), pengajar al-Qur’an (■qoritutor Bahasa Arab, Redaktur Majalah, penulis buku, aktivis LSM, dan sebagainya. Secara umum, keberadaan mahasiswa Ma’had Aly memberi pengaruh yang cukup positif bagi pengembangan keilmuan di berbagai lembaga yang mereka tempati. Di sana, mereka mampu memberi warna dan corak khas pesantren; berilmu dan berakhlak. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 180-183

Pondok Pesantren Putri Wali Songo, Tebuireng

Ponpes WalisongoMasa Pembentukan (1951 – 1952)
Pada awal abad ke 20, orang yang belajar di pondok pesantren (santri), umumnya adalah kaum laki-laki. Tidak ada budaya perempuan mondok. Namun seiring perkembangan zaman, budaya itu lambat laun berubah. Beberapa pesantren mulai membuka pondok putri, seperti Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, di bawah asuhan KH. Bisri Syansuri. Sedangkan Pesantren Tebuireng saat itu belum melakukannya, meskipun tidak sedikit perempuan yang berniat mondok di sana. Sebagai gantinya, Kiai Hasyim meminta Kiai Adlan Aly (adik kandung Kiai Ma’shum Aly Seblak) untuk membuka pondok putri di desa Cukir.
Kiai Adlan Aly kemudian mengumpulkan beberapa orang terkemuka di Desa Cukir dan beberapa Pimpinan Madrasah Ibtidaiyah di sekitar Kecamatan Diwek. Pertemuan itu menyepakati pendirian sebuah lembaga pendidikan khusus putri kemudian dinamakan Madrasah Mu’allimat. Peristiwa bersejarah tersebut dilakukan pada malam hari di tahun 1951.
Dengan tekun dan penuh tanggung jawab, KH. Adlan Aly menjalani tugas mengajar dengan dibantu beberapa orang guru, seperti KH. Syansuri Badawi (Tebuireng), H. Abdul Manan (Banyuarang Jombang), Kholil Mustofa (Tebuireng), K. Abu Hasan (Kayangan Jombang). Mereka bekerja tanpa pamrih, termasuk pamrih materi. Tempat belajarnya di rumah KH. Adlan Aly, dengan waktu belajar sore hari. Kurikulumnya 100 % pelajaran agama. Siswi pertama berjumlah 30 orang, berasal dari Desa Cukir dan sekitarnya. Mereka bersekolah secara gratis.

Masa Perkembangan (1952 – 1967)
Satu tahun kemudian, KH. Adlan Aly menambah gedung baru yang terbuat dari bambu, karena semakin banyaknya siswi yang belajar. Sejak saat itu, kegiatan belajar-mengajar dipindahkan pada pagi hari. Untuk siswi yang berasal dari luar daerah dibuatkan asrama khusus. Asrama tersebut ditempatkan di rumah KH. Adlan Aly dan kini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Putri Walisongo.
Pada tahun 1955 didirikan Madrasah Ibtidaiyah, dan pada tahun 1957 jenjang pendidikan kelasnya genap menjadi enam kelas.
Mulai tahun 1958, atau tujuh tahun setelah berdirinya, dibangunlah gedung sekolah permanen dengan dinding dari batu merah (tidak terbuat dari bambu lagi). Seluruh dana pembangunan berasal dari uang pribadi KH. Adlan Aly. Beliau menyewakan sawahnya selama tujuh tahun untuk membiayai pembangunan gedung tersebut.
Kurikulum pun ditambah dengan materi pelajaran umum, dengan prosentase 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum. Ditambah pula dengan satu kelas persiapan yang lazim disebut “Voor Klas”. Kelas ini disiapkan untuk siswi-siswi lulusan SD atau SMP yang umumnya belum mengenal pelajaran Agama. Sejak saat itu mulai ada bantuan Guru Negeri dari Pemerintah.
Karena semakin membludaknya siswi, maka pada tahun 1968 dibangunlah lantai II dari lokal kelas yang sudah ada. Salah seorang yang membantu proses pembangunan itu adalah Bupati Jombang, Isma’il. Kemudian didirikan pula Taman Kanak-kanak yang menjadi sa¬lah satu unit pendidikan di Madrasah Mu’allimat
Mulai Tahun Ajaran 1976-1977, Madrasah Mu’allimat VI Tahun dirubah menjadi 2 jenjang, yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Lalu pada Tahun Ajaran 1990-1991, diadakan ujian lisan membaca kitab kuning guna meningkatkan penguasaan siswi terhadap literatur berbahasa Arab.
Pada hari Sabtu, 6 Oktober 1990 (17 Robi’ul Awwal 1441), pendiri Madrasah Putri Mu’allimat, Kiai Adlan Aly, berpulang ke Rahmatullah. Madrasah Mu’allimat berduka.

Kondisi Terkini
Kini, unit-unit pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Badan Wakaf KH. Adlan Aly meliputi :
(1) Madrasah Ibtidaiyah,
(2) Madrasah Tsanawiyah,
(3) Madrasah Aliyah,
(4) Pondok Pesantren Wali Songo.

Pondok Pesantren Wali Songo kini mengelola 4 unit pendidikan, yakni:
Madrasah Diniyah,
Madrasah Dirasat al-Qur’an,
Madrasah Hifdz al-Qufan, dan
Syubat al-Lughat al-Arabiyyah.

Kegiatan Madrasah Diniyah wajib diikuti oleh semua santri. Tujuannya agar mereka mampu membaca dan memahami kitab kuning serta menguasai ilmu-ilmu agama lainnya. Madrasah Dirasat al-Qur’an juga wajib diikuti oleh semua santri. Di sana mereka digembleng untuk menguasai dasar-dasar membaca al-Qur’an binnadhar, mulai juz 1 s/d 30. Sedangkan Madrasah Hifdz al-Qur’an membina santri menghafal al-Quran serta mendalami ilmunya, kemudian Syubat al-Lughat al-Arabiyyah membina santri agar menguasai percakapan Bahasa Arab secara aktif, sifatnya tidak wajib. Dua program itu hanya bagi yang berminat saja.
Untuk mendukung suksesnya proses belajar-mengajar di pondok maupun di madrasah, maka diadakan kegiatan-kegiatan penunjang seperti pelatihan jurnalistik, media penulisan kreatifitas santri, pelatihan dan kursus-kursus seperti English Conversation dan Life Skill (budidaya cabe, tomat, jamur tiram, dll.), pelatihan seni qosidah, taghanni al-Qur’an, kaligrafi, dekorasi, pidato, dll., serta pelatihan Bahtsul Masail Diniyah dan istighatsah dwi bulanan.
Secara umum, baik Pondok Pesantren Wali Songo maupun Madrasah Mu’allimat, kini telah berkembang cukup pesat. Apalagi kegiatan belajar- mengajar kini didukung dengan fasilitas penunjang yang cukup memadai, seperti dibangunnya poliklinik al-Syi’fa’, yang memberikan pelayanan kepada santri dan masyarakat; kemudian Koperasi Pondok Pesantren, yang menyediakan berbagai kebutuhan harian santri seperti sabun, buku, kitab, dll.; Warung Telekomunikasi dan Warung Internet; Laboratorium Bahasa; Laboratorium Komputer; Laboratorium MIPA; Laboratorium Audio Visual; Studio Siaran (Radio Mu’allimat FM); Perpustakaan; dan Ruang Pelatihan (produksi border, jamu, sari kedelai, budidaya tomat, jamur, dll.). ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 221-224

 

Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an (MQ), Tebuireng

Ponpes MQ.0001Masa pembentukan
Embrio kelahiran Madrasatul Qur’an sebenarnya sudah ada sejak masa Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim punya keinginan besar untuk mendirikan lembaga pendidikan al-Qur’an. Beliau sangat mencintai orang yang hafal al-Qur’an (hafidz). Konon, pada Bulan Ramadhan tahun 1923, para santri Tebuireng telah secara bergiliran menjadi imam salat tarawih dengan bacaan al-Qur’an bil-hifdzi (dihafalkan) sampai khatam. Sayangnya, sistem hafalan al-Qur’an di Tebuireng saat itu belum terorganisasi dengan baik karena belum ada lembaga khusus yang
menanganinya. Kondisi ini terus berlangsung sampai masa kepemimpinan Kiai Kholik Hasyim.
Pada masa kepemimpinan Pak Ud, tepatnya tahun 1971, rencana pendirian lembaga pendidikan al-Qur’an dimatangkan. Ada 9 orang kiai yang dilibatkan dalam rencana tersebut. Hasilnya, pada tanggal 27 Syawal 1319 H., atau 15 Desember 1971 M, lembaga itu secara resmi berdiri dengan nama Madrasatul Huffadz.

Pada tahun pertama, santrinya berjumlah 42 orang dan diasuh oleh Kiai Yusuf Masyhar, menantu Kiai Ahmad Baidhawi. Sesuai dengan namanya, lulusan lembaga ini diarahkan untuk menjadi kader penghafal al-Quran sekaligus mendalami ilmunya. Semula, Madrasah Huffadz bertempat di rumah Kiai Wahid, bagian barat Pesantren Tebuireng (sekarang kediaman KH. Musta’in Syafi’i). Kemudian mulai tahun 1982, lokasinya dipindah ke belakang rumah peninggalan Kiai Baidhawi dengan tanah waqaf dari beliau.
Dari tahun ke tahun madrasah ini berkembang cukup pesat. Setelah dilakukan pemekaran, Madrasatul Khuffadz secara struktural terpisah dari Yayasan Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng. Kini, jenjang pendidikannya meliputi Madrasah I’dadiyah (Persiapan), Tsanawiyah, SMP al-Furqon, dan Madrasah Aliyah, dan berganti nama menjadi Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ) Tebuireng. Kini, MQ telah mengelola unit-unit seperti: Unit Tahfidz, Unit Sekolah, Unit Pondok, Unit Perpustakaan, Biro Santunan, Unit Sarana dan Keuangan.

Program Binnadliar (non-hafalan)
Program ini dikhususkan bagi mereka yang belum dapat mengambil program tahfidz karena belum memenuhi syarat. Di dalamnya terdapat empat tingkatan:

1) Tingkat mubtadi9 (pemula); yakni mereka yang belum mampu membaca al-Qur’an dan atau belum mempunyai dasar- dasar fashahah.
2) Tingkat mutawassith (menengah); sudah lancar membaca dan menguasai dasar- dasar fashahah, namun belum bisa membedakan ciri-ciri
huruf dan cara melafadkannya.
3) Tingkat Muntadbir; sudah lancar membaca dan fasih, namun kurang menguasai waqof, ibtida\ serta musykilat al-ayat. Dan
4) Tingkat Maqbul; tingkat dimana santri tinggal menempuh qira’ah muwahhadah (standar MQ).
Ponpes MQ.0002Program Tahfidz (menghafal al-Quran).
Program ini dibagi menjadi dua fase, yakni Qira’ah Masyhurah (bacaan al-Qur’an populer) dan Qira’ah Sab’ab (tujuh bacaan al-Qur’an riwayat dari tujuh orang Imam). Kedua fase ini terlebih dahulu harus melewati fase dasar (qira’ah muwahhadah) bagi yang belum memenuhi syarat untuk menghafal.

Qira’ah Masyhurah; yakni bacaan umum al-Qur’an yang diriwayatkan oleh sepuluh orang Imam. Untuk sampai pada fase ini, santri diwajibkan baik bacaan al-Qurannya, sesuai dengan qira’ah muwahhadah standar MQ. Sistem pembinaannya meliputi setoran hafalan, pembinaan fashahah, dan mudarasah kelompok. Setoran hafalan dilakukan setiap hari, dengan memperdengarkan hafalan kepada instruktur masing-masing. Setoran fashahah dilakukan dengan memperdengarkan bacaan kepada pembina masing-masing sesuai dengan kelompok dan jadwal yang telah ditentukan. Sedangkan mudarasah kelompok dilakukan dengan membagi santri tiga-tiga dan setiap hari memperdengarkan hafalannya kepada teman sekelompoknya secara bergilir. Bagi yang telah menyelesaikan program ini akan diwisuda dengan predikat Wisudawan Qira’ah Masyhurah (S.Q.I).

Qira’ah Sab’ah; fase ini dikhususkan bagi mereka yang telah menyelesaikan hafalan 30 Juz Qira’ah Masyhurah dengan baik dan memenuhi syarat-syarat tertentu. Pada fase ini, santri mempelajari ilmu qira’ah yang variatif riwayat tujuh orang imam (Imam Nafi, Ashim, Hamzah, al-Kisa’i, Ibn Amir, Ibn Amr, dan Ibnu Katsir), serta pendalaman kajian makna dan perbedaan bacaan. Mushaf yang dipakai adalah Utsmani riwayat Imam Hafs dari Imam Ashim. Santri harus hafal 30 juz al-Qur’an selama 3 tahun. Bagi yang lulus program ini berhak diwisuda dengan predikat Wisudawan Qira’ab Sab’ah (S.Q.2).

Kesungguhan berbuah prestasi
Sejak fajar hingga malam hari, santri MQ aktif melaksanakan berbagai kegiatan wajib seperti salat berjamaah, sekolah, setoran, dan lain-lain. Selain itu mereka juga dibekali dengan kegiatan extra-kurikuler, seperti latihan pidato, khutbah jum’at, shalawat (jam’iyah mingguan), Musabaqah Hifdz al-Qur’an (MHQ), Musabaqah Syarh al-Qur’an (MSQ), Musabaqah Fahm al-Qur’an (MFQ), diskusi ilmiah, dan pembinaan qira’ah al-Qur’an bi al-tagbanni (melagukan bacaan).
Para santri MQ juga sering diundang masyarakat sekitar untuk mengisi berbagai acara seperti khataman al-Qur’an, menjadi khatib salat jum’at, membina TPQ, melakukan bakti sosial, juga memberikan santunan kepada fakir miskin.

Untuk menumbuhkan semangat berdikari, maka sejak awal berdirinya MQ telah mendirikan koperasi santri, yang dikelola sendiri oleh para santri. Koperasi tersebut kini telah memiliki tiga unit usaha, yakni Unit Koperasi Jasa Boga, Unit Pertokoan, dan Unit Biro Sosial. MQ juga memiliki Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Lantabur.

Selain menghasilkan kader penghafal A1 Quran, MQ juga berupaya mencetak kader qori’ yang berkualitas. Salah satu langkahnya adalah bekerja sama dengan Lembaga Perkembangan Tilawah al-Quran (LPTQ) milik pemerintah. Tak heran hingga kini MQ telah melahirkan sejumlah qori5 yang kerap menjuarai berbagai event tingkat Nasional. Bahkan sebagian diantaranya sudah pernah menjuarai event tingkat Internasional yang diadakan di Arab Saudi, Mesir, Turki, Malaysia, dan lain-lain. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 216-220

Pondok Pesantren Putri Al-Farros, Tebuireng

Gus Irvan; Ponpes Putri  Al-farrosPondok Pesantren Putri ini bernama Al-Farros. Nama tersebut berasal dari bahasa Arab yang artinya banyak cakap atau cerdas. Sesuai dengan namanya, maka pesantren ini memiliki harapan bisa mencerdaskan akhlak serta pengetahuan kepada para santri-santrinya.
Sejak didirikannya pada tahun 2006 pesantren ini diasuh oleh H. Agus Irvan Yusuf, M.Si (Gus Irvan). Beliau adalah putra keempat almarhum KH. M. Yusuf Hasyim, Pengasuh Pesantren Tebuireng periode 1965-2006. Dalam memimpin pondok, Gus Irvan senantiasa dibantu oleh sang istri, Hj. Indira Laila. Nama Pesantren Al-Farros juga diambil dari salah satu putra beliau yang bernama Barbarosa Muhammad Farros.
Sebagai pesantren muda, Al-Farros beberpa kali mengalami pengembangan. Pada tiga tahun pertama (2006-2009), Al-Farros hanya menerima santri putra. Santri yang
terdaftar mencapai 30 orang dari berbagai kota. Setelah banyak yang lulus, hanya ada beberapa santri putra saja yang tinggal di sana.
Hingga akhirnya, Pesantren Al-Farros resmi merubah dari pondok putra menjadi pondok putri. Pada tahun pelajaran 2009-2010 terdapat 21 santriwati. Tahun 2010-2011 jumlah seluruhnya mencapai 41 santriwati yang seluruhnya menempuh pendidikan di unit-unit pendidikan Pesantren Tebuireng (MTs, SMP, SMA dan MA).
Aktifitas Pesantren Al-Farros tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang ada di Pesantren Tebuireng. Dalam sistem pendidikan, Al-Farros juga mendirikan MAD IN (Madrasah Diniyah), yang fokus mempelajari ilmu agama, mulai ilmu alat (nahwu shorof), tauhid, ta’lim muta’allim, pego dan lain-lain. MADIN ini berlangsung setelah shalat jama’ah Maghrib pukul 18.30 hingga 19.30 WIB. Sebelum proses belajar- mengajar berlangsung, terlebih dahulu mereka mengikuti kegiatan bahasa Arab berdurasi 15 menit.
Belajar malam dimulai setelah para santri selesai shalat dan makan malam. Ini diwajibkan dengan tujuan melatih kedisiplinan dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tidur malam tidak diperkenankan melebihi jam 22.00 wib. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar mereka bisa istirahat cukup dan bisa bangun subuh lebih awal. Di tengah malam mereka juga dianjurkan melaksanakan shalat tahajjud sebagaimana yang telah diajalankan oleh para nabi dan ulama untuk bermunajat kepada Allah SWT.
Setelah berjama’ah subuh, mereka bergegas menuju kelas masing- masing untuk mengikuti pengajaran Al-Qur’an. Bagi yang belum mampu
membaca Al-Qur’an harus mengikuti program Tilawaty yang merupakan jembatan menuju tingkat Al-Qur’an. Pengajian ba’da subuh ini berakhir pukul 06.30 pagi lalu dilanjutkan persiapan berangkat sekolah. Selama kurang lebih 9 jam mereka belajar di sekolah masing- masing yang masih berada di bawah naungan Yayasan Hasim Asy’ari. Di sana mereka mendapatkan berbagai macam pengetahuan umum maupun agama serta organisasi.
Sepulang dari sekolah, mereka diwajibkan langsung menuju pondok. Tidak diperkenankan bermain atau mengunjungi tempat-tempat lainnya. Setelah melepas lelah, mereka bergegas melaksanakan shalat ashar secara berjama’ah kemudian dilanjutkan dengan kegiatan bahasa Arab pukul 17.15.
Karena padatnya kegiatan santriwati baik di sekolah maupun pondok, maka didatangkan pula tukang cuci atau “laundry” dari luar. Semua santri mencucikan bajunya di sana. Sekalipun demikian ketika libur hari Jum’at, mereka tetap diajarkan mencuci agar bisa mandiri.
Di Pesantren Al-Farros terdapat beberapa ruangan. Di lantai pertama adalah musholla, ruangan pembina dan asrama “Shofiyah” yang ditempati 15 santriwati. Di lantai dua terdapat kamar “Aisyah” dengan jumlah 16 santriwati dan kamar “Khodijah” berkapasitas 12 santriwati. Ketiga kamar tersebut memiliki fasilitas yang sama, yaitu kamar mandi dan tempat tidur. Begitu pula, setiap santriwati mendapatkan fasililitas berupa dipan (kasur plus bantal) serta almari. Agar suasana kamar menjadi sejuk dan nyaman maka dilengkapai pula dengan satu buah kipas angin.
Untuk melatih kemandirian, dibentuklah pengurus kamar yang memiliki wewenang mengatur keadaan kamar masing-masing, termasuk kebersihan, aturan, sanksi, dst. Selain pengurus kamar, juga dibentuk pengurus pondok yang keseluruhan dari santriwati senior. Sedangkan pembina yang membimibing mereka setiap harinya adalah para ustadzah yang merupakan mahasiswa senior di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari. Untuk kebutuhan pokok yang lain seperti makan dan minum sudah disediakan pondok. Sesekali mereka diajarkan memasak pada hari Jum’at. Pada hari itulah mereka diberi kebebasan memilih menu sendiri sekaligus mempersiapkan makan siang dan sore.
Selain kegiatan muhadhoroh sebagai kegiatan wajib, bagi mereka yang memiliki bakat ataupun keinginan belajar qiro’ah dan banjari, bisa disalurkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Yang paling utama dari semua jenis kegiatan tersebut adalah shalat berjamaah lima waktu. Bagi santriwati Pesantren Al-Farros, shalat berjamaah tidak boleh ditinggalkan. Dari shalat berjamaah itulah banyak manfa’at yang telah dirasakan: menambah kebersamaan, kedisiplinan, berakhlaqul kariamah kepada Allah SWT dan sesama manusia.()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Profil Pesantren Tebuireng: Pustaka Tebuireng; 2011, halaman 230-233

Kesenian bernafaskan Islam, Kabupaten Banyuwangi

Kesenian bernafaskan Islam yaitu merupakan jenis kesenian yang bersumberkan agama, dimana dalam penyajiannya menitik beratkan pada nilai-nilai keagamaan, selain identik membawakan lagu-Iagu Islami serta alat musik sebagai sarana iringannya dapat dipastikan menggunakan unsur alat musik non nada atau perkusi, biasa disebut terbang atau rebana pada umumnya, contohnya kesenian hadrah, dimana hadrah itu sendiri beraneka ragam jenisnya, seperti di Banyuwangi kesenian hadrah yang dimiliki oleh masyarakat Using mempunyai sebutan hadrah Berjanji, dalam penyajiannya membawakan lagu-Iagu yang berasal dari sebuah kitab Al,Berjanji dengan gaya tiba’an artinya bersaut-sautan. Kesenian hadrah dari daerah lain contohnya hadrah Isham, hadrah Isbanjari, hadrah Ishari, samroh, gambus dan seterusnya, masing-masing dari keseniannya memiliki ciri khas yang berbeda, itu merupakan pengaruh sosial. budaya masyarakat daerah itu sendiri. Selain hadrah berjanji, masyarakat Using Banyuwangi serta pula memiliki jenis kesenian bernuansa islami yaitu Kuntulan, kundharan dan gembrung.

Seni bernafaskan Islam dalam penyajiannya cenderung membawakan lagu-lagu berbahasa Arab yang diambil dari cuplikan kitab suci Al-Qur’an maupun kitab AI ,Berjanji atau biasa disebut tiba’an yang dibawakan secara bersaut-sautan, artinya ada bawaan dan jawaban. Terbang sebagai alat iringan utamanya dalam kebutuhannya ada yang menggunakan terbang murni, perangkat terbang lengkap dan musik terbang campuran, artinya dalam komponennya terdapat jenis satuan alat musik lain seperti kendhang/gendang, baola/viola, kethuk, gong dan seterusnya bergantung pada kebutuhan dan kreatifitas seniman penatanya.

Kesenian bernafaskan Islam yang menggunakan alat musik terbang murni sebagai iringannya yaitu hadrah, kesenian yang menggunakan perangkat musik terbang lengkap yaitu kuntulan dan kesenian yang menggunakan musik terbang campuran yaitu kundharan, sehingga dapat di bedakan sesuai bentuk karakter dari pada keseniannya. Meskipun mendapat tambahan alat musik yang lain tetapi terbang lebih mempunyai nilai ciri khas dari keasliannya, sehingga terbang merupakan salah-satu alat musik tunggal daripada kesenian bernafaskan Islam yang terjadi di Banyuwangi selama ini.

Pandangan mengenai kesenian hadrah tentunya beraneka ragam versi yang terjadi pada masyarakat. Hal itu disebabkan aku-mengakui satu sama lain dalam menjati dirikan kesenian hadrah itu sendiri. Disini seni merupakan kegiatan sosial budaya masyarakat dimana dalam perjalanannya seni merupakan bentuk kegiatan adiluhung yang di wariskan oleh nenek moyang kepada kita. Berbagai macam cara dilakukan untuk mencari kebenarannya dan semua yang terjadi dapat di kata bersifat konon yaitu berasal dari sebuah cerita ke cerita dan dari abad ke abad. Semakin tahun jaman semakin maju, tentunya pengaruh dari perkembangan jaman itu dapat memicu pola pikir manusia ala modern, seperti halnya yang belum ada diadakan contoh pada kehidupan manusia sendiri awalnya menanak nasi menggunakan kayu bakar melalui tumang dalam perkembanganya menggunakan minyak tanah melalui kompor, disusul kembali menggunakan komporgas seperti bluegas dan seterusnya.

Setiap daerah atau negara dapat dipastikan memiliki kesenian khas sesuai sosial budaya masyarakatnya, adapun terjadi sedikit persamaan dalam bentuk keseniannya itu merupakan hal yang wajar, dimana kita hidup selalu berdampingan dari daerah satu ke daerah yang lain serta pengaruh dari pertukaran budaya silang yang dibawa masuk oleh penduduk urban, baik melalui hal perjodohan, pindah kerja maupun penduduk pelarian yang di sebabkan kaum penjajah pada jaman dahulu kala menjadikan kesenian sendiri sifatnya umum.

Kesenian hadrah Berjanji yang selama ini digemari masyarakat Using Banyuwangi pada umumnya merupakan jenis kesenian bernafaskan Islam. Menurut nilai historis sejarahnya berawal dari syi’ar agama islam yang di lakukan oleh para wali di telatah bumi Blambangan, dimana dalam perjalanannya selain dakwah serta diselingi dengan lagu puji-pujian seperti shalawat Nabi yang diiringi menggunakan satu alat terbang atau rebana . Banyak masyarakat terbius oleh lagu-Iagu yang dibawakan sehingga kegiatan mulia tersebut menjadikan patokan dalam perkembangan seni hadrah di Banyuwangi . Selain kesenian hadrah bernafaskan Islam masyarakat Using serta memiliki jenis kesenian hadrah non Islam atau biasa di sebut Hadrah Pacul Gowang, artinya sebuah pertunjukan seni yang menyajikan lagu dan gerak klasik daerah Banyuwangi dengan menggunakan alat iringan yang sama yaitu terbang . Dalam penyajiannya selain membawakan lagu-lagu humor atau paculan serta di tutup dengan sebuah tari seblang gandrung terop pada umumnya yang di peragakan oleh seorang penari laki-Iaki. Penuli: Sunardi/Editor: Luwar, M. Sn

SENI TABUH TERBANGAN BANYUWANGI, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Th. …hlm, 10-13