Nahkoda Jembatan Suramadu

Ir AG Ismail MSc., Nahkoda Jembatan Suramadu.
“Tujuan kami jelas, membangun Jembatan Suramadu dengan sukses, bermanfaat bagi masyarakat luas dan dapat menjadi kebanggaan bangsa.”
Itulah kalimat yang terpampang di beberapa ruangan komplek kantor proyek pembangunan Jembatan Nasional Suramadu di Jl Tambak Wedi 1 Surabaya. Di bawah kalimat tertanggal 29 September 2004 itu terpampang tanda tangan Pimpinan Proyek Induk, Ir AG Ismail MSc. Kalimat itu untuk menyamakan visi-misi pada semua pelaksana proyek dan siapa pun yang terlibat.

Bagi masyarakat yang mengetahui sejarah perkembangan pembangunan Jembatan Suramadu, nama AG Ismail tentu tidak asing. Sebelum terbentuknya instansi.

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Surabaya, Ismail menjabat sebagai Pimpro Induk Jembatan Suramadu. la tahu persis perkembangan pembangunan jembatan itu dari awal.

Saat itu Menteri Pekerjaan Umum —awal tahun2007— membentuk instansi Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional di beberapa propinsi. Lembaga itu kepanjangan tangan pemerintah pusat dalam melakukan pengembangan jalan dan jembatan nasional di daerah. Ismail mendapat tugas baru sebagai Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I di Medan. Karena itu ia meninggalkan jabatannya sebagai nakoda proyek Jembatan Suramadu.

Jabatan sebagai kepala balai besar di Medan ia emban hingga pertengahan tahun 2008. Tanggal 14 Juli 2008 ia kembali mengawal pelaksanaan pembangunan Suramadu hingga selesai, “Apapun bidang pekerjaan kita, yang penting kita harus ikhlas,” tuturnya.

Proyek pembangunan Jembatan Nasional Suramadu merupakan proyek yang besar dan kompleks dengan segala permasalahan yang menyertainya. Untuk mengatasinya, selain dibantu tim konsultan, juga tim pakar yang mengevaluasi masalah teknis khusus dan memberikan jalan keluarnya agar pembangunan terlaksana dengan lancar, aman, dan efisien.

Ismail berharap, jembatan ini selesai pertengahan tahun 2009 agar lancarnya transportasi mampu meningkatkan kegiatan ekonomi yang selanjutnya meningkatkan pertumbuhan dan pendapatan masyarakat dan negara. Dampak berikutnya, daerah-daerah di Madura seperti Bangkalan, Sumenep, Sampang, dan Pamekasan akan lebih maju dan lebih berkembang baik dari aspek ekonomi, bidaya dan sosialnya.(Rijal)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:

Madura Pasca Suramadu

A. Latief Wiyata
Doktor/Antropolog Budaya Madura
Kepala Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat
Universitas Trunojoyo, Bangkalan

Pada 20 Agustus 2003 lalu Presiden RI Megawati meresmikan pemancangan tiang pertama pembangunan Suramadu, sebagai pertanda dimulainya proyek jembatan yang akan menghubungkan Surabaya dengan Madura.

Tentu momentum ini menambah optimism semupa pihak (khususnya masyarakat Madura) tentang “impian industrialisasi”  yang sudah lebih dari satu dasa warsa dikumandangkan, namun selalu tertunda berbagai kendala. Tulisan ini mencoba meprediksikan bagaimana kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat Madura, atau dampak yang menyertai setelah jembatan itu membentang di Selat Madura.

Pertama saya mencoba menafsirkan kata “Suramadu” yang dipilih sebagai nama jembatan. Nama ini sudah tentu akronim dari kata Surabaya dan Madura. Akronim ini tidak cukup hanya dipahami sebagai perbedaan nama tempat secara geografis. Namun penting memahaminya lebih mendalam tentang maknamakna lain yang ada di balik kata Suramadu.

Dari prespektif ketatabahasaan, kata “Suramadu” jelas mengandung makna relasional antara subyek dan obyek. Sura (baya) sebagai subyek, sedangkan Madu(ra) sebagai objek.
Relasi yang terbentuk itu tentu mengandung makna ketergantungan antara yang satu dengan lainnya.  Dalam prespektif teori dependensia, relasi tersebut mau tidak mau merujuk pacla suatu posisi ketergantungan struktural. Artinya, Surabaya sebagai “subyek” disadari atau tidak harus ditempatkan sebagai wilayah pusat (center area) sedangkan Madura pada posisi sebagai wilayah pinggiran (peripheral area). Realitas empirik yang selama ini terjadi, Madura baik sebagai suatu unit kesatuan politik, ekonomi, sosial bahkan kebudayaan sangat tergantung pada (paling tidak terpengaruh oleh) Surabaya.

Meskipun telah ada Undang-undang NO.22/1999 tentang Otonomi Daerah, tapi dalam realitas politik yang berlaku Madura tetap berada dalam “kekuasaan” Surabaya sebagai pusat pemerintahan Jawa Timur. Pun secara ekonomi, ketegantungan Madura terhadap Surabaya tidak dapat dipungkiri. Hampir semua kebutuhan hidup keseharian masih dipasok dari Surabaya. Secara sosial-budaya juga sulit membedakan antara “gaya hidup” orang Madura dengan orang Surabaya. Padahal secara kultural masih banyak penanda identitas etnik orang Madura yang dapat menjadi faktor pembeda dengan etnik lain. Namun semua penanda etnik itu kini sudah sedikit yang menggunakan.

Apa yang dipaparkan tadi menjadi jelas bahwa Madura selama ini selalu berada pada posisi subordinasi, sedangkan Surabaya di posisi superordinasi. Berbagai kajian terhadap pengalaman di berbagai negara, hubungan relasional dalam prespektif dependensia selalu menguntungkan pihak pusat (center area). Sebaliknya wilayah pinggiran (peripheral area) selalu menjadi objek sehingga sulit mengalami “kemajuan”.

Dengan diresmikannya pengerjaan Suramadu, harapan akan terwujudnya suatu “era industrialisasi” di Madura kini muncul lagi. Bukan hanya di Madura, tapi di hampir setiap pertemuan baik ilmiah atau tidak, selalu saja ada orang memperbincangkannya. Bahkan ketika saya selama dua minggu lalu berada Manila dan Tokyo untuk suatu lokakarya, di sela-sela pembicaraan di kampus-kampus Tokyo selalu terselip pertanyaan tentang kelanjutan proyek Suramadu.
Secara garis besar saya dapat menangkap ada sementara yang pesimistik, sedangkan yang lain sangat optimis jembatan tersebut dapat terealisasi.

Tali penghubung
Jembatan Suramadu jika kelak terwujud tentu akan menjadi “tali penghubung” antara Madura dan Surabaya (atau sebaliknya). Tentu saja “jarak gerografis” menjadi kian dekat dibandingkan jalur penyeberangan ferry. Sehingga mobilitas penduduk Madura kian intens, pun mobilitas perekonomian.

Namun penting dipertanyakan, apakah kedekatan jarak geografis tadi memang merupakan kebutuhan mayoritas orang Madura? Kalau kita cermati arus migrasi orang  Madura setiap hari di penyeberangan Ujung-Kamal memang hampir tidak pernah berhenti selama 24 jam.

Dengan jembatan Suramadu apakah intensitas migrasi orang Madura akan kian meningkat secara drastis? Jawabannya bisa ya atau tidak. Ya, jika para migran Madura memang membutuhkan jembatan itu sehingga keberadaan jembatan lebih memudahkan mereka ke Jawa.

Namun, apakah semua orang Madura bisa memanfaatkan jembatan itu? Tentu saja tidak. Karena dalam operasinya nanti Jembatan Suramadu hanya boleh digunakan oleh kendaraan roda empat dengan membayar sejumlah uang (tol).

Dalam konteks ini, berarti hanya orang-orang yang mampu secara ekonomi yang dapat memanfaatkan jembatan. Sedangkan kebanyakan orang Madura yang selama ini melakukan migrasi melalui Ujung-Kamal adalah golongan bawah, yang  kemungkinan besar tidak akan memanfaatkan jembatan.

Dalam konteks perekonomian apakah keberadaan Jembatan Suramadu bisa serta merta mampu meningkatkan taraf kehidupan orang Madura? Pertanyaan ini harus dipikirkan sejak awal.

Memang, lalu lintas ekonomi yang ke-luar-masuk Madura akan semakin intens. Namun, apakah intensitas ini tidak justru menguatkan ketergantungan Madura terhadap Surabaya (ketergantungan pheriperal area terhadap center area)?

Sebab, dalam realitasnya perekonomian Madura secara umum bertumpu pada kegiatan-kegiatan yang bersifat tradisional, sehingga kemampuan daya saing dalam pasaran (baik tingkat regional, nasional, apalagi internasional masih rendah. Artinya masih banyak persyaratan untuk dapat berkompetisi dengan produk-produk perekonomian daerah lain.

Salah satu kendala yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya manusia (SDM) Madura. SDM ini perlu segera dibenahi dan diberdayakan. Mampukah semua pihak berpacu dalam waktu tentang masalah ini, sedangkan pembangunan jembatan sudah I dapat diperhitungkan kapan mulai selesai dan dioperasikan.

Pembenahan dan pemberdayaan SDM Madura memerlukan semangat, ketulusan, keikhlasan, ketekunan, keuletan, dan kesungguhan dari para pengambil kebijakan (politik) serta semua komponen masyarakat di Madura memerlukan waktu panjang.

Kita bisa bayangkan apa yang bakal terjadi jika proyek jembatan yang ditargetkan dalam tempo 3-5 tahun itu tidak dapat “dikejar” percepatannya oleh pembangunan SDM Madura. Maka itu tidaklah berlebihan jika banyak pihak yang beranggapan keberadaan jembatan hanya akan dimanfaatkan para pemilik modal yang secara ekonomi sudah siap beroperasi di Madura.

Jika demikian kapan orapg Madura dapat menikmati “buah” pembangunan jembatan Suramadu? Jawabannya terpulang kepada para pengambil kebijakan dan pihak-pihak yang peduli terhadap Madura, apakah kebijakan yang sedang dan akan ditempuh betul-betul visioner demi kepentingan orang Madura.

Jika tidak, kegelisahan, kecemasan, atau kerisauan klasik akan terus muncul bahwa orang Madura hanya akan menjadi “penonton”.
Secara sosial-budaya, mobilitas penduduk yang intens akan menyebabkan “jarak sosial” antara orang Madura dengan orang “luar” semakin dekat pula.
Bahkan secara kultural pun akan terjadi intesitas pergesekan yang dapat berdampak positif maupun negatif.

Positif dalam arti nilai-nilai kultural baru dapat memperkokoh nilai-nilai tradisional yang ada. Misalnya etos kerja yang menuntut profesionalisme dan kedisiplinan tinggi dapat dengan mudah diserap oleh orang Madura yang selama ini dikenal sebagai pekerja ulet dan semangat tinggi.

Dampak negatif tentu saja juga ada. Misalnya, apresiasi orang Madura terhadap bahasa Madura sebagai lingua franca akibat intensitas itu akan semakin berkurang. Sekarang saja para keluarga muda Madura sudah cenderung menggunakan bahasa Indonesia meski dari segi ketatabahasaan relatif kurang baik.

Dalam jangka panjang -akibat intensitas itu- sangat memungkinkan bahasa Madura akan ditinggalkan. Jika itu terjadi, sungguh mengindikasikan telah terjadi bencana kultural. Orang Madura tidak dapat lagi mengekspresikan pikiran-pikirannya secara baik dan benar sesuai konteks nilai budaya Madura jika mereka harus menggunakan bahasa lain. Sebab, bahasa merupakan perwujudan (teks) dari semua pikiran-pikiran orang dalam suatu kebudayaan tertentu.

Sebagai akhir dari tulisan ini, tentu saja diharapkan hal-hal negatif yang dikemukan di atas cukup digunakan sebagai bahan refleksi, sekaligus sebagai warning bagi semua pihak agar keberadaan Jembatan Suramadu kelak benar-benar bermanfaat bagi orang Madura, bukan sebaliknya (*)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BISNIS INDONESIA REGIONAL TIMUR, hlm.15.

 

Suramadu Bukan Sekedar Jembatan Penghubung

-November 2009-

GUBERNUR: Suramadu Bukan Sekedar Jembatan Penghubung

Suramadu bukan hanya sekedar jembatan penghubung, tetapi juga bisa sebagai tempat untuk menyelenggarakan event internasional dan sebagai tempat  atlet-atlet handal  Indonesia bersaing dengan atlit internasional Hal tersebut dikatakari Gubernur Dr. H. Soekarwo, ketika hadir dalam Suramadu Run di Jembatan Suramadu, Minggu (29/11).

Pernyataan Gubernur tersebut diwujudkan dengan diselenggarakannya Lomba Lari Internasional atau A Run for Unity Suramadu International 10 K di atas Jembatan Suramadu. Event ini selain diikuti pelari elit nasional juga diikuti oleh 35 pelari professional kelas dunia, seperti Kenya, Maroko, Amerika Serikat, Thailand dan Ethiopia.

Lebih lanjut Soekarwo mengatakan bahwa sejak dioperasikarinya Jembatan Suramadu tingkat kunjungan wisatawan baik luar maupun dalam negeri meningkat 18%, dia juga mengharapkan agar semua media dan masyarakat ikut menginformasikan kepada seluruh masyarakat luas termasuk masyarakat dunia bahwa Jawa Timur memiliki Jembatan Suramadu yang merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Pada kesempatan yang sarna Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Alfian Malarangeng juga mengatakan bahwa Suramadu bukan sekedar jembatan penghubung tetapi juga sebagai Land Mark Jawa Timur, bukan hanya milik masyarakat Jawa Timur tetapi milik seluruh komunitas Indonesia, dan bisa digunakan sebagai tempat untuk melahirkan atlet-atlet nasional untuk bersaing dengan atlet internasional. Tahun 2010 diharapkan diadakan lari marathon internasional.

Sebagai Ketua Pelaksana Wakil Gubernur jawa Timur Drs. H. Saifullah Yusuf, melaporkan bahwa tujuan diadakannya Suramadu Run adalah untuk mempringati Hari Pahlawan dan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur, meningkatkan prestasi atlet Indonesia, memasyarakatkan olah raga. Suramadu Run diikuti oleh 7.500 peserta terdiri dari 35 pelari manca negara, pelari elit nasional, TNI & Polri, pelajar dan masyarakat umum. Walaupun harapan untuk memecahkan rekor lari 10 km di Bali yaitu 27 menit 31 detik kandas, tetapi penyelenggaraan ini bisa dikatakan cukup suskes, dibuktikan dengan banyaknya masyarakat dari seluruh Indonesia mengikutinya. Adaplin hasil dari lomba tersebut adalah untuk pelari atlet manca Negara putra diraih oleh Mathew Segei asal Kenya dengan waktu 30 menit 7,06 menit, putri diraih Emily Cehpkemoy juga asal Kenya dengan waktu 34 menit 35,53 detik, mereka mendapatkan hadiah sebesar 5.000 US Dolar.

Sedangkan untuk pelajar putra diraih oleh pelajar dari SMA 3 Banten Wiliam Lokollo dengan waktu 35 menit 20,54 detik. Wiliam merupakan atlet pelajar nasional, prestasi yang pernah diraih adalah juara I Popnas Yogyakarta tahun 2009 dan juara III di Thailand Asean School tahun 2009. Untuk putri diraih Yanitasari dengan waktu 41 menit 31 detik. yaitu 27 menit 31 detik. Untuk pelari elit nasional putra diraih Ridwan pelari asal Bali, putri diraih Olivia Sadi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Prasetya, No. 11, November 2009, hal. 22.

 

Suramadu Bukan Sekadar Jembatan

-September 2003-

A ’bantal ombak, sapo’  angin salanjanga.

Kalimat itu bagian dari bait lagu berbahasa Madura yang berarti ‘berbantalkan ombak dan selimut angin sepanjang jalan’.

Pesan yang ingin disampaikan pada bait lagu kedaerahan itu agak heroik, yakni menggambarkan betapa masyarakat Pulau itu suka merantau melalui laut, mobilitas tinggi, kemauan besar, dan pantang menyerah. Bukan hanya di laut. Tingginya pergerakan masyarakat Madura pun bisa dilihat dari volume penumpang darat melalui penyeberangan Kamal-Ujung (Surabaya) yang mencapai ribuan orang setiap harinya.

Bahkan ketika abad XIII sudah ada dua pemuda asal Sumenep yang ekspansi ke luar Madura, yakni Ronggolawe dan Nambi. Belakangan diketahui bahwa kedua sahabat itu terpilih menjadi Adipati (Bupati) di Tuban dan Lumajang.

Tapi adakah relevansi antara tingginya mobilitas masyarakat Madura dengan maksud Pemerintah membangun Jembatan Suramadu Rp 2,8 triliun yang tiang pancang pertamanya telah diresmikan Presiden Megawati dua pekan silam sebagai pertanda dimulainya proyek. Karena tanpa konfigurasi jembatan 5,4 km itu pun masyarakat Madura sudah dikenal suka berkelana sejak ratusan tahun silam.

Di sinilah persepsinya harus sama. Jembatan Suramadu bukanlah sekedar mengatasi masalah trasportasi, tapi lebih dari itu (Suramadu) benar-benar dikonstruksi sebagai jembatan masa depan bagi Madura. Jadi subtansi misinya adalah membangun Madura. Bukan hanya untuk industrialisasi, tapi untuk totalitas Madura. Jembatan hanya satu alat mencapai itu.

Selain proyek jembatan, ada alat lain yang perlu dipersiapkan oleh pengambil kebijakan untuk membangun totalitas Madura khususnya sebagai basis industri baru, dan pertumbuhan ekonomi baru. Misalnya penyiapan tata ruang, infrastruktur jalan, suplai air, energi listrik, jaringan komunikasi, kawasan industri, dan pembangunan pelabuhan baru. Pemda kabupaten tentu tidak cukup memiliki kemampuan untuk membiayai keperluan itu.

Pernyataan kesiapan pemda-pemda di Madura untuk peneyelesaikan izin investasi dalam sehari saja tidak cukup, jika tidak didukung Pemerintah Pusat dalam penyediaan infrastruktur strategis bagi ‘Madura Baru’ pasca Suramadu.

Bukan hanya itu. Kebijakan Pemerintah Pusat yang dapat mendorong cepatnya investasi masuk, seperti yang diterapkan pada program Kapet, -dimana investor diberi aneka kemudahan, termasuk kelonggaran pajak- juga diperlukan. Pembangunan sumberdaya manusia pun penting ditempatkan pada skala prioritas agar kelak masyarakat Pulau itu tidak merasa terasing di halamannya sendiri.

Sejauh ini alokasi dana APBN lebih banyak tertuju pada pembangunan di daratan. Padahal kondisi republik ini lebih banyak kepulauan. Program membangun Madura secara total -yang diawali Jembatan Suramadu- diharapkan menjadi permulaan rekonfigurasi alokasi dana APBN dalam memajukan kepulauan. Nilai proyek Suramadu Rp2,8 triliun sangat kecil jika dibandingkan bunga obligasi (baru nilai bunga) bank rekap yang harus dibayar APBN sekitar Rp70 triliun pertahun.

Perspektif mengenai proyek Suramadu hendaknya juga tidak hanya dilihat dari aspek kepentingan ekonomi. Tapi perlu juga ditilik dari aspek pemerataan pembangunan yang menjadi hak segala bangsa, termasuk hak masyarakat Madura. Jangan lagi argumen religiusitas, nilai-nilai dan ‘kemanjaan budaya’ dihadapkan pada hak masyarakat atas pembangunan.

 Gengsi Suramadu
Dibandingkan membangun jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera di atas Selat Sunda sebagaimana pernah disinggung pemerintahan BJ Habibie, proyek jembatan di atas Selat Madura ini jauh lebih realistic baik dari aspek biaya maupun konstruksi jembatan.

Konfigurasi fisik Suramadu (sebenarnya) gengsi tersendiri, dan memiliki nilai tinggi (peradaban) dalam hal rekayasa sipil konstruksi. Belum banyak di muka bumi ini jembatan dengan jarak bentang lebih dari 2.000 meter. Dibutuhkan banyak insinyur dengan aneka – keahlian- termasuk ahli geoteknik dan lingkungan untuk mewujudkannya.

Rekayasa sipil pada bentangan jembatan di atas 2.000 meter, apalagi Suramadu 4,5 km, dibutuhkan varian material baru, kemampuan robotik, dan aplikasi komputer mutakhir-dalam pengerjaannya. Jembatan Golden Gate di San Fransisco yang sudah terkenal sejak 1937 bentang maksimumnya hanya 1.280 meter. Jembatan Humber yang terkenal di di Inggris juga hanya 1.410 meter. Jembatan dengan bentang di atas 2.000 meter hanya ada Italia yang membentang di atas Selat Messina.

Masyarakat Madura nampaknya sudah tidak sabar menunggu selesainya proyek Suramadu yang dijadwal rampung 2007. Betapa indahnya kota Kamal kelak yang bermandikan cahaya lampu di sepanjang bentanganjembatan di malam hari. Pelintas Suramadu akan serasa melewati Golden Gate Bridge, San Francisco-AS. Tanpa harus lagi abantal ombak dan asapo angin. •Lutfil Hakim

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Bisnis Indonesia, Regional Timur, No.5/1/September 2003

Membangun Madura

September 2003-

 “Membangun Madura, bukan membangun di Madura

Jembatan Suramadu sudah diresmikan pengerjaan proyeknya oleh Presiden. Sejauhmana pentingnya proyek senilai Rp2,8 triliun itu bagi Madura ke depan, berikut wawancara Bisnis dengan Ernomo Amidarmo, tokoh masyarakat Madura pernah menjabat Sekwilda Kabupaten Bangkalan dan Bupati Tulungagung. Berikut petikannya:

Proyek Jembatan Suramadu telah direresmian pengerjaan 
proyeknya langsung oleh Presiden. Bagaimana perasaan Anda sebagai orang Madura?
 

Saya sangat senang, karena itu bukti keseriusan pemerintah. Bagi masyarakat Madura jembatan itu bukan sekadar jembatan, tapi juga jalan menuju masa depan Madura yang lebih cerah.
Namun masyarakat Madura tidak hanya ingin melihat peresmian pengerjaan proyek, tapi juga peresmian beroperasinya jembatan.

Persiapan apa saja yang perlu dilakukan oleh empat Pemda Madura?  

Perlu ada gerakan sosialisasi ke masyarakat mengenai ‘Madura Baru’ secara konseptual pasca dibangunnya Suramadu, agar ada persiapan lebih matang secara cultural saat memasuki ‘kehidupan baru’ kelak. Karena akan ada perubahan sosio kultural yang signifikim pasca proyek jembatan. Jangan sampai masyarakat menjadi terasing di halarnannya sendiri-apalagi termarginalkan. Konsepsinya harus jelas, yakni membangun Madura. Bukan membangun di Madura.

Sejauh ini memang sudah ada sosialisasi, namun sifatnya masih parsial. Harus didesain sebuah format yang sama agar persepsi masyarakat mengenai era ‘Madura Baru’ juga sarna. Pengkondisian semacam ini sangat dibutuhkan mengingat tipikal masyarakat yang khas, termasuk watak religiusisme-nya.

Perlu juga dihindarkan adanya harapan yang berlebihan. Karena jika kelak tidak sesuai harapan-justru bisa menjadi kontra produktif bagi cita-cita ‘Madura Baru’ itu sendiri.

Yang terpenting adalah disiapkan adanya lembaga pendidikan yang berorientasi ketrampilan, agar masyarakat Madura bisa terlibat aktif dalam proses percepatan pembangunan yang berlangsung. Namun demikian tetap perlu adanya kurikulum yang mengakomodasi basis religius yang dimiliki masayarakat di sana. Pemberdayaan pondok pesantren yang sejauh ini menjadi institusi dominan di Madura juga perlu di temp atkan pada barisan depan terkait kemungkinan bakal terjadinya perubahan Madura secara kultural sebagai konsekwensi industrialisasi.

Selain ‘pengkondisian sosial’, apalagi yang diperlukan?

Perencanaan phisik infratruktur menuju ‘Madura Baru’ pasca Suramadu sejauh ini juga masih parsial, artinya belum integrated pemda satu dengan lainnya. Perencanaan infrastruktur dan penataan tata-ruang harus didesain secara terintegrasi, agar pertumbuhan di era ‘Madura Baru’ kelak tidak terjadi secara sporadis.

Dalam hal ini diperlukan keterlibatan Pemerintah Pusat dan Pemprov. Jatim, karena pemda-pemda di Madura bisa jadi tidak memiliki cukup. kemampuan untuk melakukan  pekerjaan besar itu-khususnya terkait pendanaan.

Petaan ruang dan infrastruktur seperti apa yang dimaksudkan?

Misalnya perlu adanya konsep pelabuhan modern yang harus dibangun di Madura. Karena posisi Pulau itu sangat strategis untuk pelayaran internasional. Atau misalnya  melakukan relokasi Pelabuhan Tanjung Perak yang saat ini lalu-lintasnya sudah padat. Nah ini semua perlu ditata lokasinya. Apakah di tempatkan di Pantura Madura, atau di sisi Barat Daya Bangkalan.

Terkait dengan itu tentukan juga lokasi kawasan industrinya. Pantai Utara Madura sangat ideal untuk pelabuhan internasional ketimbang di Selat Madura dengan basis Surabaya yang sudah sangat padat itu.

Perlu juga ada pelebaran jalan provinsi poros Kamal Sumenep yang sejauh ini hanya ada dua jalur-minimal menjadi empat jalur atau enam jalur. Jika perlu dibangun alternatif jalan di jalur Utara. Terkait dengan itu perlu juga dipikirkan kemungkinan dibangunnya lapangan terbang, atau bisa jadi menghidupkan kembali bandara Joko Tole yang sudah ada di Sumenep. Semua itu harus dilakukan secara terintegrasi.

Sebenarnya potensi apa saja yang selama ini menonjol di Madura?

Semua sektor menonjol potensinya, hanya belum dikelola maksimal. Mulai dari sector pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan, tambang, perikanan, sandang, dan kerajinan.

Dari aspek sektor peternakan, misalnya, sejauh ini Madura dikenal sebagai pemasok sapi dalam jumlah besar untuk kebutuhan Jatim dan Jawa lainnya.

Dengan konsep Madura Terpadu yang telah didahului dengan pembangunan Jembatan Suramadu akan memaksimalkan semua potensi itu. • Lutfil Hakim

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Bisnis Indonesia; Regional Timur, No.5/1/September 2003

Suramadu Butuh Banyak Baja

-September 2003-

Proyek Jembatan Suramadu akan menggunakaan banyak material bahan bangunan, termasuk besi-baja. Jika proyek mengutamakan produk lokal, maka sangat mungkin tingkat utilisasi pabrik besi-baja nasional yang anjlok akan sedikit terangkat.

Karena itu, kalangan industry besi-baja dalam negeri berharap agar investor pemenang tender berkenan menggunakan produk baja dalam negeri. Hanya saja sejauh ini belum diketahui siapa pemenang tendernya, dan akankah memakai besi-baja buatan lokal?

Jimmie Solaeman, ketua Gabungan Pabrik Besi Indonesia (Gapbesi) menga takan kalangan industri baja di dalam negeri memiliki cukup kemampuan menyediakan kebutuhan proyek tersebut. Meski misalnya hanya menyerap 50% dari total kebutuhan, maka tingkat utilisasi pabrik besi-baja nasional diduga akan naik sekitar 5%-10%.

Data Gapbesi mengungkap, tingkat utilisasi pabrik besibaja nasional saat ini hanya 30% dari total kapasitas terpasang. Sebelum krisis masih di atas angka 60%.

Proyek Jembatan Suramadu diduga kuat dilaksanakan oleh kontraktor asing. Bukan hal aneh bila mereka kemudian menggunakan produk baja yang dihasilkan negaranya. Apalagi produksi baja dunia kini sedang melimpah dan banyak dilepas dengan harga murah.(ib)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Bisnis Indonesia, Regional Timur, No.5/1/September 2003

Suramadu, Jembatan Terpanjang

-September 2003-

Panjang jembatan Surabaya–Madura (Suramadu) yang membutuhkan dana investasi Rp 2,83 triliun mencapai 5.438 meter, bentang tepi 3.800 meter, bentang pendekatan 1.400 meter, bentang utama 818 meter dengan kohstruksi system jembatan cencang.

Lebar total jembatan 30 meter dengan dua lajur berlawanan yang dapat menampung lalu lintas empat lajur, termasuk lajur lambat dan sepeda motor. Lebar dua lajur 2 x 3,5 meter, sedangkan lajur lambat darurat 2 x 2,25 meter dan lajur sepeda motor kendaraan roda dua 2 x 2,75 meter.

Infrastruktur yang menghubungkan daratan Surabaya-Bangkalan itu juga membutuhkan jalan pendekat sepanjang 4,35 km di sisi Surabaya dan sisi Madura 11,50 km.

Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Soenarno menyebutkan pembangunan jembatan Suramadu dijadualkan rampung sekaligus dapat difungsikan pada 2007 mendatang, dimana dalam tahap awal pengoperasiannya ditangani unit kerja bentukan pemda dan swasta.

“Jembatan Suramadu menjadi jembatan antar pulau terpanjang di dalam negeri hingga saat ini, dengan penyelesaian relatif tidak terlalu lama yang ditangani seluruhnya oleh teknisi Indonesia,” ujarnya dalam peresmian Pemancangan Pertama Pembangunan Jembatan Suramadu pada 20 Agustus lalu.

Pembangunan jembatan Suramadu terbagi menjadi tiga tahapan, dimana tahap persiapan tahun lalu mencakup review studi kelayakan dan review desain. Selanjutnya pengujian terowongan angin dan penelitian lapangan dilaksanakan sampai 2003. Pada jangka dua tahun yakni 2002 hingga akhir 2004 dijadualkan dapat dirampungkan pembebasan lahan, baik di sisi Madura 60 ha dan sisi Surabaya 12 ha.

Pelaksanaan pengerjaan sipil akses jalan pendekat sejak akhir 2002 hingga 2005, kemudian causeway akhir 2003 sampai 2006. Approach bridge dan main bridge pada 2004 dan berakhir pertengahan 2007.

Faktor pembebasan lahan penduduk tergolong alot akibat tingginya harga yang diminta pemilik laban, tetapi di sisi Bangkalan dikhabarkan hampir rampung dengan penetapan harga tanah Rp35.000/meter atau di atas NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak) hanya Rp11.000/meter. Sedangkan harga tanah di Surabaya sebesar Rp 450.000/meter² atau di atas NJOP Rp 350.000/meter² yang dijadualkan rampung pembebasannya akhir tahun ini atau awal tabun depan. (aac)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Bisnis Indonesia: Regional Timur, No.5/1/September 2003

Suramadu, Jangan Tertunda Lagi

-September 2003-

Nilai strategis Jembatan Suramadu dalam mengembangkan Madura secara integrated diharapkan oleh banyak pihak tidak tertunda lagi pengerjaannya. Mengingat jadwal proyek yang hanya berumur empat tahun yakni sampai 2007 dinilai terlalu pendek. Belum lagi penyiapan infrstruktur (di luar jembatan) untuk masuknya investasi.

 

Tidak sedikit pihak yang khawatir pengerjaan proyek prestisius itu bakal terlunda lagi ken dati peresmian tiang pancang pertamanya telah dilakukan. Mengingat ada beberapa rencana proyek besar di Jatim yang nilainya justru lebih kecil dari Jembatan Suramadu tertunda berulang-kali jadwal pengerjaannya.

Misalnya proyek Jalan Lintas Selatan, Pasar Terpadu Agribisnis, Tol Lingkar Timur Aloha-Perak, serta Tol Waru Wonokromo. Pemancangan tiang pertama proyek Tol Lingkar Timur bahkan telah dilakukan oleh Mar’ie Muhammad sebagai Menteri Keuangan RIbeberapa tahun lalu. Peresmian proyek Suramadu sendiri juga sudah molor  berulangkali.

Kekhawatiran banyak pihak itu merupakan bukti tingginya keinginan masyarakat-khususnya masyarakat Madura atas realisasi Jembatan Suramadu. Sekaligus ekspresi yang menggambarkan rindunya masyarakat terhadap perubahan yang mungkin bisa mengubah nasib hidupnya di masa depan.

Menaggapi hal ini Gubernur Jatim Imam Utomo berulangkali menegaskan bahwa pihaknya tidak main-main dengan proyek Suramadu. Dia sangat yakin jembatan itu selesai sesuaijadwal, dan akan mampu memacu perkembangan ekonomi Madura melalui pemanfaatan sumberdaya yang ada-seperti kandungan minyak, gas bumi, tambang, pertanian, dan pariwisata.

“Selama ini investor enggan masuk ke Madura akibat infrastrukturnya belum memadai. Jembatan Suramadu sangat strategis untuk mempercepat pengembangan investasi di sana,” tegas Imam belum lama ini.

Realisasi Suramadu, katanya, bakal mendorong pemerataan pembangunan secara makro regional, termasuk mendongkrak pendapatan masyarakatnya. Tingkat PDRB di Madura selama ini jauh dibandingkan daerah lain yang berdekatan dengan Surabaya, seperti Gresik, Mojokerto, Sidoarjo, dan Lamongan.

Sebagai contoh, tingkat PDRB daerah-daerah sekitar termasuk Surabaya pada 2000 tercatat Rp64,57 triliun. Tetapi PDRB Madura hanya Rp 6,6 triliun. Pada tahun yang saran pendapatan masyarakat daerah  sekitar termasuk Surabaya di luar Madura Rp 9,4 juta/kapita per tahun, sementara di Madura Rp2,1 juta/kapita per tahun.

 Dukungan infrastruktur
Sejumlah tokoh masyarakat di Madura telah menyatakan siap bersatu mendorong percepatan proyek dalam rangka Madura Barn. Mereka menjamin pembebasan lahan untuk proyek di sisi Pulau Madura tidak akan ada kendala. Selain juga menjamin tidak akan ada resistensi atas proyek tersebut.

Para pejabat di Madura juga menyatakan siap memudahkan investor dalam hal perizinan. “Kami siap menyelesaikan perizinan investasi dalam sehari,” tegas Muhammad, Wakil Bupati Bangkalan belum lama ini.

Pemda Bangkalan juga sudah banyak berbenah di bawah kepemimpinan Bupati Fuad Amien. Misalnya untuk mengangkat direktur PDAM seleksinya dilakukan secara terbuka dengan memasang iklan di beberapa koran lokal.

Pertanyaannya, sudah cukupkah kecepatan pelayanan dan good governance dari pemda di Madura untuk menjadikan pulau itu sebagai zona baru ekonomi tanpa ada skenario lebih besar dari Pemerintah Pusat dalam menyediakan infratruktur bagi -investasi yang masuk.

Bangkalan di sisi Barat, misalnya, sangat tepat untuk pengembangan kawasan industri dengan pola Free Trade Zone (FTZ). Kabarnya Pemda Bangkalan sudah akan menyiapkan ini. Artinya semua dokumen ekspor sudah bisa diselesaikan di KI tersebut, dan ekspor sudah bisa langsung on going karena kedalaman kolam pantai itu sangat memenuhi syarat untuk kapal barang. Strategi ini bisa untuk menekan kecenderungan stagnasi yang terjadi di Tanjung Perak dan Tanjung Priok akhir-akhir ini.

Sementara itu, Wakil Ketua DPD REI Jatim Muhammad Rudiansyah, mengatakan infrastruktur jalan memang harus diperbanyak di Madura, sehingga investasi sektor realestat  yang biasanya tumbuh mengikuti sector industri manufaktur bisa berjalan seiring dengan berkembangnya Madura itu sendiri. (aac/ard/bs/lh)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Bisnis Indonesia: Regional Timur, No.5/1/September 2003, hlm. 2.

Suramadu Segera Rampung

Suramadu Segera Rampung, Proyek Pengungkit Lainnya Jalan

Berbagai kendala meng­hadang penyelesaian program lima pengung­kit. Antara lain bantuan dana dari pemerintah pu­sat yang belum seluruhnya ter­penuhi. Selain itu, pembebasan tanah di masing-masing proyek sangat alot. Dari kelima program, hanya Jembatan Suramadu yang diperkirakan April 2009 su­dah dapat diresmikan.

DPRD Jatim di Panitia Ang­garan (PA) pada umumnya dapat memahami kalau program lima pengungkit yakni Jalur lintas se­latan (JLS), Jalan TOL, Jembat­an Suramadu, Pasar Induk Agro-bis (PIA) dan Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gar-dutaskin) belum bisa terwujud.

Ketua DPRD, Drs Fathorra-sjid MSi di Kantornya me­ngatakan, berbagai permasa­lahan sedikit demi sedikit sudah dapat teratasi seperti sulitnya pembebasan tanah. Khusus Jembatan Suramadu sebagian besar pembebasan tanahnya selesai terutama di sisi Madura. Pembebasan relatif mudah ka­rena sebagaian besar lahan be­rupa tanah kosong. Pembebas­an di Surabaya sulit karena lahan berupa tanah dan bangunan.

Saat ini pembangunan ben­tang tengah Jembatan Surama­du mencapai 81,74 persen, de­ngan rincian jembatan utama 84,30 persen dan jembatan pen­dekat 77,96 persen. Sementara itu pada jembatan pendekat pe­ngecoran pilar penyangga dan kaki penyangga berbentuk V telah selesai.

Dikatakan Fathor, pengaruh Suramadu terhadap pertumbu­han perekonomian Jatim khu­susnya Madura luar biasa karena pengaruh mudahnya arus lalu-lintas angkutan barang dan jasa yang berpengaruh pada sektor lain.

“Dengan terhubungnya Pulau Jawa dan Madura secara oto­matis akan mempengaruhi ka­bupaten-kabupaten di Madura. Karena Pulau Jawa merupakan pusat pembangunan,” ujarnya. Akses jalan, transportasi lancar dan mudah mobilitasnya, maka akan memunculkan kebu­tuhan lain yakni sarana, obyek wisata.

Banyak pulau kecil yang masih alam, dan elum ter­sentuh investor   untuk dikem­bangkan sebagai tempat rekre­asi. Kini saatnya Madura berbe­nah dan mengembangkan da­erahnya bersaing dengan tem­pat rekreasi di pulau lain seperti Bali. “Masyarakat Madura sangat menunggu dan menantikan wu­jud dari jembatan itu. Selain itu sudah siap menerima untuk le­bih berkiprah dalam memba­ngun daerahnya dan rata-rata mereka sangat antusias,” kata­nya.

Terobosan
Untuk proyek JLS, apabila pembebasan tanahnya lancar maka infrastruktur langsung di­kerjakan. Di antaranya sudah di­bangun beberapa jembatan dan jalan. Namun baru 30 persen terealisir.

Menurut dia, JLS sangat pen­ting karena pertumbuhan* dan perkembangannya masih sa­ngat jauh tertinggal dari wilayah

utara. Dengan dibukanya jalur ini diharapkan selain menambah akses jalan juga akan mendo­rong pertumbuhan ekonomi di daerah sekitarnya.

Langkah yang diambil De­wan dalam menghadapi perma­salahan ini yakni melakukan te­robosan untuk dimasukkan ke bagian pengembangan nasio­nal trans Jawa selatan. Seperti jalur utara juga merupakan pe­ngembangan nasional.

PIA
Selanjutnya evaluasi pro­gram PIA, sebenarnya PIA sangat dinantikan masyarakat Jatim. Ini dibuktikan di beberapa daerah sedang berlomba-lomba me­ningkatkan atau memperbaiki produksi tanamnya.

Namun masyarakat perlu bersabar untuk menantikan terwujudnya pembangunan ini. Karena pemerintah sedang ber­upaya segera menyelesaikan permasalahan-permasalahan khususnya pembebasan tanah dan ini baru terlaksana sekitar 10%.

Jalan Tol
Program jalan tol sampai sa­at ini masih berjalan dan pelak­sanaannya ditangani Pemerintah Pusat dan Jasa Marga. Pe­merintah Jatim lebih berkonsentrasi untuk mengkondisikan agar ada percepatan penyelesaian. Saat ini Jasa Marga sedang me­ngerjakan jalan tol dari arah Mo­jokerto hingga Surabaya. Se­dangkan untuk Gempol-Probolinggo juga sedang dikerjakan.

Sebenarnya sesuai rencana untuk Mojokerto-Surabaya dan Gempol-Probolinggo selesai tahun ke empat masa jabatan gubernur, namun karena banyak faktor seperti krisis moneter, ke­naikan harga BBM dan sekarang krisis keuangan global maka proyek ini terlambat.

Gardutaskin
Program Gardutaskin perlu dipertajam fokusnya karena de­ngan adanya krisis keuangan global saat ini maka banyak pe­rusahaan yang akan mengura­ngi tenaga kerjanya. Sebagai pe­nyelamatan atau penyangganya adalah Gardutaskin. Mereka diberikan pekerjaan atau kegi­atan yang menghasilkan uang sehingga terjadi perputaran ekonomi. Dengan begitu akan menambah pendapatan dan mendorong pertumbuhan eko­nomi lokal.

“Diharapkan gubernur terpilih nanti tetap mengadopsi Gardu­taskin sehingga terjadi kesinam­bungan. Dengan tetap diperta­hankan maka akan lebih terpa­du, terarah dan terfokus,” kata­nya. (Supriyanto)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:POTENSI JAWA TIMUR, EDISI 12 TAHUN VIII/2008, hlm. 8

Pemeliharaan Jembatan Suramadu

Pemeliharaan Jembatan Suramadu Jadi Perhatian

Masyarakat Madura Harus Jadi Pemain

SETELAH pembangunan jembatan Suramadu selesai, ke­giatan pemeliharaan menjadi perhatian utama. Hal ini karena menyangkut usia jembatan. Ren­cananya, pada kegiatan peme­liharaan jembatan terpanjang itu pemerintah akan menerapkan teknologi Structural Health Mo-nitoring System (SHMS).

Konsultan Pembangunan Jembatan Nasional Suramadu dari PT Virama Karya, Poltak Nababan mengatakan, SHMS merupakan bidang baru dalam mendeteksi kerusakan dengan metode pengujian tak rusak de­ngan cara mengintegrasikan sis­tem dengan struktur infrastruktur jembatan. Teknologi ini dapat memperpanjang umur pela­yanan jembatan, karena penu­runan kemampuan dan keru­sakan dapat diditeksi lebih awal.

“Jika sebelumnya usia keku­atan konstruksi jembatan dipredik­si 100 tahun, dengan penerapan teknologi itu kemungkinan akan bertambah lama,” katanya. Aktivitas teknologi SHMS a-dalah untuk menyediakan in­formasi dalam semua hal yang berkaitan dengan operasional dan pemantauan kondisi. Infor­masi itu diolah operator, dimana operator tersebut selanjutnya melakukan tindakan koreksi melalui perintah secara ma­nual maupun secara otomatis terhadap sistim yang ada.

Tujuan SHMS adalah untuk memvalidasi hasil perencana­an jembatan, menjamin ke­amanan struktur jembatan de­ngan informasi yang didapat berkaitan dengan kondisi struk­tur jembatan, mewujudkan pe­rencanaan pemeliharaan/ma-intenance yang rasional dan e-konomis, mengidentifikasikan penyebab kondisi struktur yang tidak layak serta untuk men­capai umur rencana jembatan, memantau dan mengawasi pe­ngoperasian jembatan dalam melayani lalu lintas. Dalam bidang pendidikan, SHMS juga sebagai sarana penelitian bagi pengembangan ilmu penge­tahuan berkaitan dengan trend dunia dimana smart structure aka, menjadi suatu keharusan di masa mendatang.

Kegiatan teknologi ini nan­tinya akan menyajikan variasi kondisi struktur dan pembe­banan jembatan, menyajikan tegangan/regangan dan defor­masi dari komponen utama pa­da jembatan, mencatat kondisi khusus seperti gempa, angin kencang, kendaraan yang overweight, mengidentifikasi­kan apakah komponen utama jembatan telah mengalami ke­rusakan, memberi peringatan untuk kondisi yang tidak normal, memberikan informasi kapasi­tas jembatan dan memberikan informasi tentang manajemen serta pemeliharaan jembatan. “Penerapan teknologi ini meru­pakan yang pertama di Indo­nesia,” ujarnya.

Seperti diketahui, panjang total Jembatan Nasional Sura-madu 5.438 m meliputi Cause-way sisi Surabaya 1.458 m, Causeway sisi Madura 1.818 m. Sedang untuk bentang te­ngah panjang keseluruhan mencapai 2.162 m terdiri dari dua Approach Bridge masing-masing 672 m dan Main Bridge sepanjang 818 m. Panjang ja­lan pendekat di sisi Surabaya

mencapai 4,35 km dan di sisi Madura 11,50 km. Proyek pem­bangunan Jembatan Suramadu mulai dikerjakan pertengahan tahun 2002. Pemerintah menar­getkan penyelesaian pemba­ngunan jembatan bisa dilintasi untuk umum pada April 2009.

Kasatker Pembinaan Jem­batan Nasional Suramadu, Ir Yudha Handita MT mengatakan, rencananya, di sisi Surabaya kawasan Fairground akan untuk pembangunan ruang pameran, shooping mail, concert hal, con­vention hall dan tempat rekre­asi. Pada kawasan itu pula juga akan dibangun museum untuk mendukung kawasan wisata pantai di area tersebut.

Sedangkan di sisi Madura kawasan Fairground akan di­peruntukkan sebagai kawasan wisata yang bernuansa budaya masyarakat setempat seperti lapangan karapan sapi, pusat kerajinan dan hasil bumi. Pada kawasan itu pula juga direnca­nakan kawasan perumahan dan pergudangan untuk meng­antisipasi tumbuhnya industri di Madura. Luas lahan untuk pe­ngembangan di dua kawasan tersebut, masing-masing 500 ha untuk tiap sisinya.

Dikatakannya, makin maju dan berkembangnya masyara­kat di Pulau Madura pascapem-bangunan jembatan tergantung masyarakat setempat. Masyara­kat Madura jangan hanya men­jadi penonton atas perkemba­ngan pembangunan di kawas­an sekitar kaki jembatan. “Me­reka harus lebih aktif dan men­jadi pemain di wilayahnya,” ka­tanya.

Sebagai fasilitas publik yang berskala besar, proses pemba­ngunan Jembatan Suramadu tidak terlepas dari interaksi de­ngan masyarakat serta lingku­ngan sekitar. Dukungan dan pe­ran serta masyarakat, khusus­nya di sekitar proyek merupa­kan salah satu aspek penting terhadap kelancaran pemba­ngunan jembatan.

Mulai Dimanfaatkan

Hingga awal Desember, progres yang dicapai proyek jembatan Suramadu sudah 88,46%. Pembangunan Cause­way di sisi Surabaya 99,80%, dan Causeway sisi Madura 99,23%. Sedangkan untuk pembangunan Bentang Tengah (Main Span) progres yang dica-pai 81,74%. Dari progres itu, rinciannya Main Bridge 84,30% dan Approach Bridge 77, 96%.

Pembangunan jalan akses yang menjadi sarana menuju ke jembatan, kini juga mulai ramai dimanfaatkan masyarakat se­kitar lokasi proyek. Saat ini, pembangunan jalan akses di sisi Surabaya 96,28% dan sisi Madura 78,62%. Pada Main Bridge, saat ini pemasangan Steel Box Girder di pilar 46 dan 47 yang sudah terpasang ma­sing-masing 13 segment dari total yang dibutuhkan 18 seg­ment.

Di pilar 46 Cable Stayed yang sudah terpasang untuk arah Surabaya mencapai 2×13 kabel, arah Madura sudah ter­pasang 2×13 dari tiap-tiap arah yang dibutuhkan sebanyak 36 kabel. Sedangkan pilar 47 Ca­ble Stayed arah Surabaya yang sudah terpasang 2×13 kabel, arah Madura 2×13 kabel dari jumlah yang dibutuhkan tiap-tiap arah sebanyak 36 kabel.

Pada Approach Bridge, pe­laksanaan fisik di sisi Surabaya dari pilar 37 sampai 44 penge­coran Pier Shaft telah selesai. Pengecoran pilar pada V-Pier Leg di pilar 45 dan 48 sudah mencapai 100%, sedangkan pada bagian V-Pier Box Girder di pilar yang sama masih dalam proses pengerjaan. Di sisi Ma­dura yang dimulai dari pilar 49 sampai 56, pengecoran Pier Shaft juga sudah selesai 100%. Khusus pengecoran Concrete Box Girder di sisi Madura sudah selesai 56,9% berbeda dengan yang berada ‘di sisi Surabaya yang baru mencapai 0,03%. (M Khoirul Rijal)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  POTENSI JAWA TIMUR, EDISI 12, TAHUN VIII/2008, hlm. 8