MASJID JAMIK AL BAITUL AMIN JEMBER

masjid-jemberMasjid Jamik Al Baitul Amin kota Jember adalah masjid baru yang terletak di sebelah Utara masjid jamik yang la­ma, di seberang jalan raya yang membelah Alun-alun kota Jember,  terletak di sebelah Barat Alun-alun kota.

Pembangunan Masjid dipelopori oleh K.H. Ahmad Siddiq mewakili ulama dan Bapak Mulyadi, Kepala Dinas PUD Kabupaten Jember me­wakili pihak Pemerintah Daerah. Menurut informasi, dari kedua tokoh ini timbul ide perencanaan masjid ini dengan tema tawaf. Tawaf adalah suatu bagian dari ibadah haji di Tanah Suci di mana umat berlari-lari kecil mengelilingi Ka’bah. Ide itu akan dicerminkan dengan adanya bangunan pusat yang dikelilingi oleh sembilan bangunan pelengkapnya. Angka sembilan diambil dari angka keramat mubaligh Islam di tanah Jawa yakni Wali Songo yang sembilan orang itu,Maksud membangun masjid jamik dengan ide bentuk tawaf ini mendapat sambutan simpatik sekaligus ditunjukkan seorang perencana/arsitek berasal dari Ban­dung yakni Ir. Ya Ying K. Kesser.

Pada tahun 1978 bersama-sama dengan peresmian Pasar Besar “Tanjung” maka di- resmikan pula penggunaan Masjid Jamik ini dan dinamai Masjid Jamik “Al Baitul Amien” Jember. Masjid Jamik “Al Baitul Amien” dibangun diatas tanah seluas 1,75 ha, yang terdiri dari persil Kantor Kehutanan dan persil-persil milik masyarakat. Di sebelah Selatan Alun-alun terdapat kompleks Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Dati II Jem­ber, di sebelah Timur Alun-alun terdapat bangunan hotel dan kantor-kantor pemerintah, demikian pula di sebelah Utaranya merupakan daerah perkantoran pemerintah.

Jalan masuk samping ada dua buah masing-masing dapat dicapai dari Jalan Semeru dan dari Jalan Raya Sultan Agung. Halaman depan terasa amat sempit sedangkan halaman belakangnya cukup luas. Tata bangunan dibuat simetris yang terdiri dari satu bangunan berkubah besar dengan tiga kubah yang semakin mengecil di samping depan kiri dan samping kanan. Batas belakang dan samping areal  masjid dipagari de­ngan dinding tembok setinggi lebih kurang dua me­ter, sedangkan pada bagian depan diberi pagar besi dengan bentuk pola cekungan yang berulang, merupakan pola kebalikan dari pola bentuk yang cembung.

Kepengurusan masjid jamik lama dan masjid baru merupakan satu manajemen, karena tujuan awal pembangunan masjid jamik baru merupakan perluasan dan pengembangan dari mas­jid jamik lama. Dengan bertambahnya sarana baru ini maka kegiatannya kepengurusan masjid tetap menjadi satu.

Masjid Jamik Al Baitul Amien digunakan sebagai masjid jamik, artinya digunakan untuk kegiatan sembahyang Jumat dan sembahyang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sedangkan Sembahyang rawatib yang dikerjakan sehari-hari dilakukan di dua tempat dengan pembagian waktu tersendiri. Untuk waktu malam hari yakni untuk keperluan salat Maghrib, Isyak dan Subuh digunakanlah masjid baru sedang­kan masjid yang lama ditutup. Sedangkan pada siang hari untuk keperluan sembahyang Dhuhur dan Ashar disediakan di masjid lama, dan masjid baru ditutup. Aturan ini dimaksudkan agar kedua masjid ini masih tetap digunakan sehari-hari dan demi kepraktisan masjid lama dipakai sembahyang di siang hari karena di situ terdapat kegiatan Perpustakaan, Kantor Takmir Masjid dan Ruang Pengadilan Agama.

Dengan demikian maka fungsi masjid sebagai pusat peribadatan diwujudkan pada masjid baru se­dangkan fungsi sebagai pusat kebudayaan diwujud­kan pada kompleks masjid lama.Bentuk Masjid Jamik Al Baitul Amin yang baru ini bulat denahnya dan dilindungi de­ngan bentuk kubah/dome dengan ditumpu oleh balok-balok beton berbentuk busur.  Dilihat dari komposisi massanya terlihat bahwa terdapat suatu komposisi yang seolah-olah terbentuk gambar abstrak yang memperlihatkan bentuk garuda yang baru terbang ke arah kiblat, dengan kepalanya berada pada mihrab masjid dan ekornya pada plaza di depan bangunan masjid.

masjid-lama-jemberKalau ide semula dari panitia bertemakan kegiatan tawaf yang mengelilingi Ka’bah, maka ide tersebut ternyata tidak tercermin di sini. Memang di tengah kita temukan bangunan berkubah yang terbesar tetapi bangunan yang lain tidak mencerminkan keadaan mengelilingi tetapi justru sebagai sayap, sayap kiri dan sayap kanan. Demikian pula angka 9 yang diambil dari Wali Songo itu tidak sempat terlaksana, dicerminkan dalam bangunan sekunder yang mengelilingi bangunan utama itu hanyalah berjumlah 6 saja. Bangunan utama yang terletak di tengah digunakan untuk liwan pria dan mihrab. Ba­ngunan ini memiliki denah bulat dengan diameter 34 m.

Bangunan kedua yang berada di samping depan kiri dan kanan berbentuk bulat berdiameter 20 m dan masing-masing digunakan untuk liwan untuk anak-anak dan liwan untuk wanita. Bangunan sam­ping yang kedua masing-masing berbentuk bulat de­ngan diameter 11 m digunakan untuk perluasan li­wan anak-anak dan perluasan untuk liwan wanita.

Sedangkan bangunan samping ketiga masing- masing berdenah bulat dan berdiameter 8 masing- masing digunakan untuk tempat wudu pria (Utara) dan tempat wudu wanita (Selatan). Tidak didapat keterangan apakah kanak-kanak wanita juga di li­wan kanak-kanak, dan di mana mereka mendapatkan tempat wudu.

Masing-masing bangunan samping ini dihubungkan oleh selasar terbuka. Sedangkan antara bangunan utama dan bangunan samping pertama, kiri dan kanan dindingnya relatif bersinggungan se- hingga di sana langsung dapat dihubungkan dengan pintu kaca, tanpa selasar lagi.

Bangunan utama ditumpu oleh empat busur balok beton yang dibagi menjadi dua kelompok yang bersilang tegak lurus. Keempat balok inilah yang mendukung atap melengkung dari beton bertulang. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, yakni lantai bawah yang tingginya sekitar 160 cm dari muka tanah dan lantai atas yang merupakan lantai mezanin.

Lantai kedua ini ditumpu oleh enam belas tiang yang bentuknya bulat dengan komposisi berkeliling dan satu kolom berada di pusat lingkaran.

Sedangkan bangunan samping masing-masing ditumpu oleh dua balok busur beton bertulang yang menyilang tegak lurus satu sama lainnya. Sedang­kan bangunan samping yang pertama kiri dan kanan, maka di samping masing-masing ditumpu oleh dua balok busur masih ditumpu lagi oleh 16 kolom pinggir dari beton bertulang yang berkeliling mem- bentuk lingkaran pembatas ruang.

Pada kompleks masjid baru ini ternyata berbeda dengan pola masjid di Indonesia seumumnya. Di masjid ini tidak ditemukan serambi. Hal ini tidak ditemukan dalam pola masjid tradisional tetapi bisa terlihat pada pola bangunan langgar/surau. Sebagai gantinya terdapat teras depan yang terbuka dan merupakan anak tangga yang jumlahnya delapan ting- kat dan masing-masing lebarnya lebih 120 cm, jadi untuk satu saf sembahyang. Namun sayang, bentuk­nya yang melingkar ini menyebabkan arah makmum ini tidak semuanya ke arah kiblat tetapi justru ke arah tiang sentral bangunan utama. Di depan teras ini terdapat plaza yakni halaman depan yang dirata- kan dan diperkeras dengan pasangan batu bata jenis klinker. Plaza ini menghubungkan bangunan in- duk dengan Jalan Semeru di depan tapak. Di bagian yang berhubungan dengan jalan tersebut terdapat li­ma buah pintu masuk utama yang masing-masing lebarnya 5 m.

Di samping ketujuh bangunan berbentuk dome itu, di samping Selatan gerbang masuk utama terda­pat sebuah menara dengan denah bawah berbentuk bulat dengan diameter 3 m dan tinggi 33 m. Menara ini dibuat dengan struktur beton bertulang berbentuk bulat dan di tengahnya terdapat tangga melingkar ke atas, dan di puncaknya terdapat ruang untuk meletakkan 8 buah pengeras suara dan di atasnya ditutup dengan bentuk kubah dari metal dan terdapat simbol bulan bintang di puncaknya.

Program masjid jamik yang lebih ditekankan se­bagai pusat peribadatan ini terdiri dari ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Liwan dewasa pria lantai I …….. 910 m2
  2. Liwan dewasa pria lantai II …… 490 m2
  3. Liwan wanita ………………………. 314 m2
  4. Liwan anak-anak ………………….. 314 m2
  5. Liwan tambahan wanita ………… 95 m2
  6. Liwan tambahan anak-anak …… 95 m2
  7. Tempat wudu pria ………………… 50 m2
  8. Tempat wudu wanita…………….. 50 m2
  9. Mihrab, mimbar, ruang persiapan khatib dan ruang mekanikal 78 m2

Sistem penerangan pada bangunan liwan yang terdapat pada lima bangunan berkubah memanfaatkan sinar matahari secara optimal. Hampir semua dindingnya yang melingkar terbuat dari pintu dan jendela kaca yang lebar-lebar. Sedangkan penerangan di bangunan tempat wudu juga memanfaatkan sinar matahari melalui pembukaan bagian atas dinding. Penerangan malam hari menggunakan lam- pu listrik yang dikontrol dari ruang mekanik di sebelah Selatan mihrab. Lampu ditanam di langit-langit dengan pola bebas. Sedangkan lampu di liwan pria bagian bawah dipasang pada langit-langit dengan pola melingkar, yang sekaligus menyesuaikan ben­tuk melingkar dari pola langit-langitnya yang berorientasi ke titik pusat pada kolom sentral yang menyangga lantai mezanin itu. Sedangkan di tengah-tengah ruang mezanin ini tergantungkan lampu kristal yang anggun, tetapi tidak memiliki skala yang memadai dengan ukuran ruangannya.

Penghawaan juga memanfaatkan aliran udara dengan membuat jendela kaca dengan krepyak ka­ca Nako. Dengan demikian maka dapat terjadi ventilasi silang yang cukup. Dengan demikian maka kecuali ruang mihrab maka semua ruang lainnya tak menggunakan ventilasi buatan.

Perlu ditambahkan bahwa di bangunan utama terdapat ventilasi dan penerangan yang terletak pa­da atap dan terletak di antara dua balok busur yang searah.

Tata suara bentuk dome agak sulit mengingat bahwa bentuk atap yang cekung dapat memantulkan suara apalagi dengan material yang keras dan licin. Oleh karena itu maka langit-langit bangunan berkubah ini diselesaikan dengan penutup dari bahan karpet yang bertekstur kasar sehingga diharap- kan dapat menyerap suara. Pengeras suara dipa­sang di langit-langit secara merata sehingga dengan sekalian lampu-lampunya maka seolah-olah di la­ngit-langit terdapat banyak bintang bertaburan apa­lagi bentuk-bentuknya dipilih yang berpola bulat.

Sistem sanitasi diselesaikan secara baik de­ngan peralatan modern. Air bersih diambil dari tiga buah sumur. Dengan dua buah pompa air sumur disedot dan disalurkan ke bak reservoir yang terdapat pada masing-masing bangunan tempat wudu. Dari reservoir ini air baru disalurkan ke tempat wudu de­ngan kran-kran air yang mewah. Tempat wudunya dibuat melingkar dengan lorong sirkulasi yang cukup longgar. Dindingnya dilapisi porselin dan lantainya dibuat dari tegel wavel warna kuning. Di sini ternyata tidak tersedia tempat mandi dan WC, dan ti­dak terlihat jelas di mana tempat untuk berhajat itu harus dilakukan. Mungkinkan harus ke masjid lama di seberang jalan atau memang fasilitas itu tidak dianggap penting, atau fasilitas itu belum sempat di- bangun, tiada informasi yang didapat.

Kebersihan bangunan suci ini mendapat tempat utama. Pertama letak lantai bangunan yang tingginya lebih dari 150 cm di atas permukaan tanah sekitar, kedua bahan bangunan yang digunakan bermu- tu prima tahan lama dan mewah seperti tegel mar­iner ukuran 60 x 120 cm di ruang liwan, kaca jendela dan pintu yang lebar, langit-langit liwan pria bagian bawah yang terdiri dari garis-garis dari papan kayu jati kelas prima dengan dipolitur halus licin. De­mikian pula kolom beton yang berbentuk bulat diselesaikan dengan lapisan papan jati kualitet prima dan di bagian bawahnya terdapat cincin kuningan melingkar sebagai material transisi dengan lantai da­ri marmer. Dengan demikian maka tingkat kemewahannya ternyata juga memperoleh tempat prima.

Pola Masjid ‘Baitul Amin’ Jember merupakan satu-satunya pola baru yang lama atau pola lama yang baru, khususnya di Jawa Timur dan mungkin satu-satunya di Indonesia. Dengan demiki­an maka ternyata dalam alam kemerdekaan di mana telah muncul tenaga-tenaga ahli muslim bangsa sendiri serta kesempatan membangun yang memadai dan luput dari dunia kemiskinan, kungkungan penjajah atau tekanan dari kaum komunis, maka bermunculanlah kreasi-kreasi baru pada arsitektur masjid di Jawa Timur yang ikut memperkaya khasanah arsitektur masjid di persada Indonesia tercinta.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Dian K, Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur; Ir. Zein M. Wiryoprawiro
Penerbit Impresium: Surabaya: Bina Ilmu,  1987
CB-D13/1986-6[1] DDC: 726.2

Mawar, Desa Karangpring, Jember

Desa Karangpring, Kec. Sukorambi 
Mawar Menghampar di Penanggungan

Tak banyak masyarakat Jember yang tahu, kalau Dusun Penanggungan, Desa Karangpring, Kec. Sukorambi, adalah penghasil sekaligus pemasok bunga mawar di wilayah Jember. Bahkan para penjual bunga mawar yang tersebar pasar-pasar maupun sepanjang jalan di Kota Jember, juga kebanyakan warga dari desa tersebut. Ya, warna-warni bunga mawar dapat dijumpai di hampir semua pekarangan rumah dan setiap jengkal tanah kosong di Desa Karangpring, terutama di Dusun Penanggungan. Selain itu dibidudayakan secara khusus dalam hektaran hamparan lahan. Karena tak kenal musim itulah, maka bunga mawar dapat ditemui setiap hari. Bunga itu biasanya digunakan untuk ziarah.

Biasanya bunga mawar itu dike mas dalam tas plastik (kresek). Harganya cenderung fluktuatif, pada hari biasa harga bunga mawar ukuran tas kresek kecil dijual Rp 5.000, namun pada saat-sat tertentu seperti menjelang puasa, lebaran, maupun imlek melonjak tajam hingga tiga kali lipat, Rp 15.000. Tingginya harga tersebut karena banyak permintaan masyarakat akan kebutuhan bunga mawar, praktis pada saat itu penjual bunga mawar menuai untung besar. Namun pada hari biasa yang dibarengi dengan sepinya membeli bunga mawar tersebut mudah layu dan banyak dibawa pulang oleh penjualnya serta di buang begitu saja layaknya onggokan sampah di Sungai Kali Jompo.

Heni, salah seorang warga Desa Karang pring, mengungkapkan, hampir semua warga di desanya yang melakukan budidaya tanaman mawar. Selain memang tekstur tanahnya cocok untuk ditanami mawar, perawatannya cukup mudah dan tidak membutuhkan biaya besar seperti tanaman lainnya. Para petani mawar menanam tanaman berduri tersebut tidak menggunakan pot, tapi mawar tersebut ditanam dihamparan lahan khusus yang luasnya mencapai hektaran. Bila musim panen mawar tiba tak heran masyarakat desa tersebut dipusingkan dengan pemasarannya. Sebab selama ini bunga mawar itu hanya dipasarkan di wilayah Jember saja. Sementara Kades Karangpring Rita Tri Widiarti menjelaskan, bunga mawar ini umurnya relatif pendek, yakni hanya dua bulan dari masa tanam bisa langsung dipasarkan. Selain itu, menurutnya bunga mawar dari Karangpring mempunyai keistemewaan ketimbang bunga mawar dari daerah lain. Yakni, jenisnya lebih tebal dan warnanya lebih menarik serta aromanya lebih harum.

Bahkan uniknya budidaya mawar di Desa Karangpring tersebut dilakukan secara turun temurun sejak puluhan tahun silam, namun pada waktu itu masyarakat desa tersebut hanya menanam mawar secara asal-asalan dan tidakada niatan membudidayakan tanaman mawar seperti sekarang ini. “Saya berharap bunga mawar asal Desa Karangpring ini nantinya tidak hanya sekedar dijual begitu saja. Namun, kata Rita, paling tidak ada terobosan lain agar bunga mawar ini lebih laku di pasaran,”ujar Rita. Rita berharap, ada perhatian dari dinas terkait untuk memberi pelatihan terhadap para petani mawar. Pelatihan itu misalnya, memberi pelatihan pembuatan parfum, sirup maupun kosmetik. Rita mengaku hingga saat ini berusaha mencari terobosan bagi produksi bunga mawar yang sangat melimpah di Desa Karangpring.

“Dengan adanya ketrampilan yang dapat diaplikasikan petani mawar, diharapkan dapat menambah penghasilan keluarga serta bisa membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran dengan membuka kesempatan kerja bagi mereka yang belum mendapatkan pekerjaan,” papar Rita, memberi alasan. Sementara Pemkab Jember sendiri, melalui Kabag Humas Drs. Agus Slameto, MSi, mengaku pihaknya sangat menaruh harapan besar terhadap mawar Desa Karangpring Paling tidak nantinya mawar tesebut mampu menjadi salah satu andalan potensi unggulan di Kabupaten Jember untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. (hms,bdh)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi XXIX, Maret 2010, hlm. 40

 

Prol Tape, Jember

oleh: H. DEDDY RAHMANTO & IMAM SUSANTO

Berkunjung ke Jember belum lengkap kalau tak membawa oleh-oleh khas daerah ini, salah satunya adalah prol tape. Makanan khas satu ini dipilih karena rasanya yang enak dan gurih. Apalagi aneka bentuk prol tape ini sungguh menggoda, tinggal pilih mau yang bertabur coklat, kenari atau keju. Harganya pun terjangkau oleh kantong.

SALAH satu pembuat sekaligus perintis prol tape adalah Ny Hj A Cholis Asyik S, 73 tahun. Ia memulai memproduksi makanan olahan dari tape singkong sejak 1982, di rumahnya Jl. Trunojoyo XI/9 Jember. Di rumah ini juga sebagai tempat produksi dan sekaligus showroom Primadona. “Pembuatan prol tape sebetulnya memanfaatkan potensi Jember yang banyak menghasilkan tape. Dari bahan tape ini kemudian kita kembangkan tak hanya prol tape saja, tapi ada brownis tape, dodol tape dan sebagainya. Tape melimpah karena singkong di Jember cukup banyak sehingga perlu dikembangkan.

Bahkan, selain membuat makanan khas berbahan tape singkong, Primadona juga membuat dodol waluh dan dodol sirsat,” kata Rendra Wirawan, anak Hj. A. Cholis Asyik. Sesuai namanya, prol tape ini berbahan utama tape singkong. Pembuatannya pun cukup sederhana hanya mencampur tape singkong dengan adonan seperti telur, gula dan tepung. Adonan kemudian diaduk hingga merata lalu dituangkan dalam cetakan, selanjutnya cetakan dimasukkan dalam oven selama 20 menit.

Prol tape pun siap dihidangkan. Untuk satu adonan dibutuhkan sekitar 30 kilogram tape yang bisa dibentuk menjadi sekitar 65 prol tape. Setiap hari Toko Primadona, Jember, bisa menghabiskan sekitar 1 kuintal tape. Rendra Wirawan, 34, adalah putra ketujuh dari 9 bersaudara. Ia, kini dipercaya menerima tongkat estafet untuk meneruskan usaha makanan khas Jember yang dirintis Ny. Hj. A. Cholis Asyik. “Tahapan yang kami tempuh memang cukup melelahkan juga, karena dirintis dari bawah”.

Awal-awalnya ibu membuat makanan khas suwar-suwir, kemudian merambah pada pembuatan dodol sirsat, jenang ketan, dodol waluh, dodol tape dan lain-lain. Khusus prol tape dan brownis tape baru muncul pada era 2005. Ya, Alhamdulillah dengan bantuan Disperindag yang sering memberikan pelatihan-pelatihan sehingga kita paham terkait masalah manajemen, kewirausahaan dan lain-lain,” tutur Rendra yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Jember periode 2004-2009.

Untuk pengembangan UKM, menurut Rendra, Disperindag memang sering melakukan koordinasi. Misal, salah satunya memberi peluang-peluang bisnis seperti mengikut sertakan Pameran, mengadakan Pelatihan-pelatihan terkait dengan UKM. Itu sebabnya ia berterimakasih kepada Disperindag karena mereka sudah cukup banyak membina termasuk memberi referensi dalam permodalan dari provinsi. “Disperindag dengan terobosannya juga memberi bantuan alat untuk penggorengan. Kita berharap bantuan kepada UKM ini bisa berlanjut terutama dari dana bergulir”.

“Terus terang kita belum mendapat bantuan modal tersebut, mudah-mudahan dengan bantuan majalah Sarekda ini bisa nyambung ke pemprov untuk memperoleh dagulir,” harap Rendra yang juga menjadi sekretaris Koni Kabupaten Jember ini. Bisa jadi pencetus makanan khas prol tape di Jember adalah Hj. S. Cholis Asyik. “Nah, dari prol tape yang dibuat ibu akhirnya kami kembangkan hingga menjadi dikenal banyak orang. Dulu, kalau ibu membuat prol tape tidak dikemas, sementara saya yang punya ilmu cara mengemas.

Agar lebih menarik maka prol tape itu akhirnya kita kemas sehingga diminati banyak orang. Jadi, bisa dibilang prol tape ini berawal dari produk Primadona. Kemudian yang mengembangkan dan menjualnya adalah saudara-saudara. Kebetulan kami lihat ada saudara-saudara yang masih menganggur lantas kami beri kesempatan menjual prol tape. Alhamdulillah juga, outlet Primadona ini 80 persen menjual produk UKM disamping kami juga memproduksinya,” jelas Rendra yang juga mengajar manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Mandala Jember.

Hampir semua orang tahu bahwa suwar-suwir, prol tape atau brownis tape dan lain-lain adalah makanan khas dari Jember. Cuma Rendra berharap kepada pemerintah kabupaten atau provinsi, segera mematenkan produk lokal sebagai makanan khas dari Kabupaten Jember ini, yang tujuannya supaya tidak diambil atau diakui oleh daerah lain. “Kami mohon dan berharap kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi, pemberian hak paten untuk UKM seperti kita ini, biayanya lebih murah dan dipermudah. Sebab, ini adalah program pemerintah untuk membinanya.

Nasib kami tak ingin seperti Madiun. Misal, brem sekarang ada kesan  bukan lagi dari Madiun tapi sudah dikomplain daerah lain, Boyolali. Sebab, yang mematenkan lebih awal adalah Boyolali. Nah, sekarang persoalannya kalau Madiun mau memperkesan bukan lagi dari Madiun tapi sudah dikomplain daerah lain, Boyolali. Sebab, yang mematenkan lebih awal adalah Boyolali.  Nah, sekarang persoalannya kalau Madiun mau memperbanyak harus izin kepada pemerintah Boyolali.

Sekali lagi, harapan kami kepada pemerintah kabupaten dan provinsi supaya bisa memberikan kebijaksanaan dan mematenkannya kalau suwar-suwir atau prol tape dan brownis tape itu khas Jember. Sedang tape, bisa Jember atau Bondowoso yang tentunya tergantung merek. Kalau daerah lain mau memakai nama kita ya harus bayar royalti dulu. Kalau khusus orang Jember atau Jawa Timur, ya tidak bayar,” harap Rendra yang mengaku selama ini ini tak kesulitan memperoleh bahan baku tape.

Pemasaran produk, lanjutnya, yang bisa dikirim ke luar Jawa baru suwar-suwir. “Sebab, suwar-suwir bisa tahan lama, bisa satu tahun lebih. Beda dengan prol tape, cuma bisa bertahan hanya satu minggu. Itu sebabnya ke depan kami sangat membutuhkan yang namanya peralatan teknologi tepat guna untuk lebih mengembangkan pasar. Dari tradisional ke peralatan moderen. Pemasaran suwar-suwir sudah sampai di Bali, Kalimantan bahkan kami juga sering diikutkan dalam pameran di Singapura dan Belanda,” kata Rendra yang mempunyai tenaga kerja sekitar 29 karyawan•

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SAREKDA Jawa Timur, edisi: 010, 2010