Tari Jaran Goyang, Kabupaten Banyuwangi

Sejarah Tari Jaran Goyan

jaran-goyang-1Tari Jaran Goyang adalah tari yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi yang dalam bentuk penyajian serta iringannya memiliki ciri khas berbeda dengan tari yang berasal dari daerah lain. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 yang diciptakan oleh group LKN Pandan, Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Tahun 1969 tari jaran goyang di revitalisasi oleh bapak Sumitro Hadi seorang seniman Banyuwangi yang memiliki banyak karya tari hingga pada masa sekarang. (Bpk. Sumitro Hadi, 2 Maret 2016). Tari ini merupakan tari yang diciptakan dari sumber ilham tari Seblang dan Gandrung sehingga gerakan-gerakannya hampir sama dengan tari Seblang dan Gandrung. Jaran goyang terdiri dari kata jaran ‘kuda’, dan goyang ‘goyang, bergerak’. Dalam hubungan ini, apabila tiba-tiba terjadi seorang gadis menjadi tidak sadar karena “guna-guna”seorang jejaka dari jarak jauh, dikatakan bahwa gadis itu terkena jaran goyang.

Tari jaran goyang merupakan tari pergaulan pemuda pemudi yang menceritakan tentang cinta kasih pemuda pemudi. Namun di dalam kisah cinta tersebut terdapat rasa sakit hati seorang pemuda karena cintanya tidak di balas dengan baik, akibat ditolak cintanya maka sang pemuda sakit  hati sehingga muncul niat buruk sang pemuda untuk menggunakan aji jaran goyang. Aji jaran goyang adalah semacam pelet yang biasanya digunakan untuk menghipnotis seseorang agar tergila-gila. Akibat pellet yang telah mengenai sang pemudi maka posisi yang tergila-gila terbalik sang pemudi merayu-rayu menjadi tergila-gila kepada pemuda tersebut.  Akhirnya sang pemuda menerima cinta si gadis, dan mereka menjadi saling suka. Oleh karena itu tari ini merupakan tari berpasangan pemuda pemudi.

Tari ini berdurasi 7 menit, yang struktur penyajiannya dibagi menjadi, bagian awal muncul penari perempuan, bagian kedua muncul penari laki-laki dengan adegan sang pemuda menggoda si gadis tetapi sang gadis menolak, kemudian masuk adegan penggunaan aji  Jaran Goyang sebagai pelet untuk mendapatkan cinta sang gadis, setelah itu sang gadis tergila-gila bergantian mengejar sang pemuda yang terakhir akhirnya keduanya saling cinta dan selesai. Tari ini dalam musiknya terdapat lirik lirik lagu dengan menggunakan bahasa osing yang menjadi ciri khas tari Banyuwangi. Rias dan kostum dalam tari ini yaitu menggunakan rias cantik untuk penari putri dan untuk penari putra menggunakan rias putra alus.

Dalam riasnya tari ini tidak mengalami perkembangan dengan selalu menggunakan rias cantik, tetapi untuk kostum penari putri banyak mengalami perkembangan, pada tahun 1969 penari menggunakan kostum sederhana tetapi dalam perkembangan zaman dan selera masyarakat setiap penampilan dikreasikan dengan tetap berpedoman pada kostum awal terciptanya tari Jaran Goyang. Tari ini ditampilkan dalam acara hajatan seperti pernikahan, khitanan, dan kesenian janger, dalam kesenian janger tari ini tidak selalu ditampilkan tetapi biasanya ada sesuai dengan permintaan tuan rumah yang menyelenggarakan hajatan. Tempat pertunjukan Tari Jaran Goyang juga mengalami penyempurnaan yaitu sekarang sering ditampilkan dalam gedung pada saat penutupan acara acara resmi serta acara agung seperti penyambutan Bupati di Kabupaten Banyuwangi, di lapangan pada saat acara Hari Jadi Banyuwangi, serta di panggung tertutup.

Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang

Bentuk penyajian Tari Jaran Goyang menurut bapak Sumitro Hadi (wawancara 2 Maret 2016) sebagai sesepuh dan penari tari Jaran Goyang pada tahun 1966 serta pimpinan Sanggar Tari Jingga Putih di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi. Beliau menuturkan bahwa bentuk penyajian tari Jaran Goyang versi dulu memiliki durasi cukup panjang jika dibandingkan dengan tari lain di daerah Banyuwangi yaitu selama 12 menit sedangkan tari-tari lain khususnya di Kabupaten Banyuwangi yang biasanya hanya memiliki durasi yang tidak lebih dari 10 menit. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 oleh group LKN Pandan. Tari Jaran Goyang pada versi dulu sangat sederhana, untuk gerak pada Tari Jaran Goyang mengambil gerak-gerak dalam tari yang sudah ada sebagai dasarnya yaitu dalam tari Gandrung, tetapi kemudian dikembangkan dan dikreasikan kembali.

Bentuk penyajian tari Jaran Goyang sangat sederhana, dengan gerakan yang diulang-ulang. Pada mulanya tari ini dibawakan oleh lebih dari satu pasang penari yang terdiri dari penari perempuan dan penari laki laki tetapi terdapat beberapa pasang penari dan tidak dibatasi jumlah maksimal penarinya. Bentuk penyajian pada masa dahulu yaitu pada saat satu pasang penari pertama muncul pada bagian awal, kemudian disusul pasangan-pasangan yang lain menari pada bagian akhir waktu gending ugo-ugo dimainkan, sehingga menjadikan durasinya lebih lama yaitu selama 12 menit jika dibandingkan dengan tari lain khususnya di Kabupaten Banyuwangi. Bentuk penyajian tari Jaran Goyang pada masa itu terdiri dari: gerak, desain lantai, musik iringan, tata rias, dan busana, dan tempat pertunjukan. Elemen-elemen pendukung tari Jaran Goyang pada masa dahulu tidak terlalu banyak dan terkesan sangat sederhana. Berikut ini adalah elemen-elemen pendukung pada tari Jaran Goyang antara lain :

  1. Gerak

Gerak tari Jaran Goyang didasarkan pada gerak ngrayung dan ngeber untuk penari perempuan yang dilakukan berulang-ulang. Geraknya masih bersifat sederhana. Untuk gerakan tangan dan kaki berubah-ubah tidak terpaku pada satu pola gerakan. Sedangkan untuk penari laki-laki didasarkan pada gerak bapang yang juga dilakukan berulang-ulang. Adapun gerak tangan dan kaki yang harus menyesuaikan dengan suasana dalam tiap adegan, karena dalam bentuk penyajian tarian ini tidak hanya mengandalkan gerakan penarinya saja melainkan sangat tergantung dengan ekspresi penari dalam membawakan cerita dalam tari ini, sehingga ada beberapa gerakan yang merupakan bagian dari akting penari perempuan maupun penari laki.

  1. Berikut adalah gerakan dasar tari Jaran Goyang untuk penari perempuan tahun 1969 Gerakan Sagah yaitu dilakukan dengan posisi badan mendhak kaki membentuk huruf T menyudut, arah badan kesamping kiri untuk sagah kiri dan jika sagah kanan arah badan kekanan. Gerakan ini menggambarkan perasaan sedih yang menangis karena sang pemuda menolak cintanya. Dengan kedua tangan njimpit sampur yang menutup separuh wajah, dan duduk bersimpuh.
  2. Gambar gerakan untuk penari laki-laki sebagai berikut: Gerakan yang dilakukan dengan tangan posisi bapang dan dan kaki tanjak kanan yaitu kaki kanan telapaknya menyudut lebih kedepan dari kaki kiri. Gerakan Langkah Telu yaitu langkah tiga-tiga dengan telapak kaki dipantulkan sambil diangkat.
  1. Iringan

Iringan atau musik dalam tari Jaran Goyang sangat sederhana. Selain itu iringan yang digunakan adalah musik eksternal yaitu music atau bunyi yang dihasilkan dari alat-alat musik pengiring seperti saron, kendang, triangle (kluncing), kenong, dan biola. Untuk alat musik yang digunakan menggunakan gamelan khas Banyuwangi dengan nada slendro. Durasi iringan tari Jaran Goyang pada masa dahulu lebih lama

selama 12 menit karena diulang-ulang (wawancara dengan Bapak Sumitro Hadi, 4 Maret 2016).

  1. Desain Lantai

(hasil wawancara dengan Ibu Sri Uniati, 14 Maret 2016). Beliau mengungkapkan untuk desain lantai tari Jaran Goyang pada masa dahulu tidak memiliki pola khusus., karena penari hanya menari di atas panggung yang membentuk garis sejajar dan diagonal. Tari Jaran Goyang ditarikan berpasangan dan jumlah pasangan penari tidak ditentukan sehingga tidak ada pola lantai yang baku dalam penyajiannya.

Gambar pola lantai di atas merupakan pola lantai baku dalam tari Jaran Goyang yang jika ditarikan oleh 3 pasang penari. Selanjutnya pola lantai dapat dikembangkan oleh penata tari sesuai dengan keinginan, kapasitas panggung, serta jumlah pasangan penarinya.

  1. Tata Rias dan Busana

Tari Jaran Goyang pada masa dahulu rias yang digunakan sangat sederhana dan tidak terlalu mencolok. Mamakai rias, busana, serta perlengkapan yang seadanya. Rias yang digunakan adalah rias cantik untuk penari perempuan. Busana yang dipakai penari perempuan pada saat itu adalah kebaya model kutubaru, dengan bawahan menggunakan jarik dengan motif gajah oling atau kain polos, serta sampur. Untuk rias

kepala menggunakan sanggul bali. Sedangkan penari laki-laki rias yang digunakan adalah rias putra biasa dan tidak mencolok. Dalam tata rias di daerah Kabupaten Banyuwangi untuk setiap tarian tidak menggunakan rias karakter, tetapi menggunakan rias secara umum baik laki-laki maupun perempuan. Sedangkan busana untuk penari laki-laki adalah menggunakan udeng, baju lengan panjang, celana dengan

panjang selutut, sampur yang diselempangkan, serta jarik motif gajah oling.

  1. Tempat Pertunjukan

Tempat pertunjukan tari Jaran Goyang dahulunya di acara hajatan, dan acara tahunan yaitu dalam memperingati hari kemerdekaan RI di desa Gladag Kabupaten Banyuwangi. Tempat pertunjukannya tidak hanya dilakukan di dalam ruangan tertutup tetapi juga dilakukan di ruang terbuka seperti teras rumah, atau halaman rumah warga. Karena pada saat itu menyesuaikan dengan acara yang diselenggarakan dan dimana terlaksanannya sebuah acara tersebut.

Perkembangan Tari Jaran Goyang

Sebagai tari rakyat asli Kabupaten Banyuwangi, Tari Jaran Goyang hidup dan berkembang di Desa Gladag. Tari Jaran Goyang telah mengalami perkembangan dalam beberapa periode yaitu pada tahun 1969, tahun 1990, tahun 2010 sampai 2016. Tiga (3) periode tersebut telah mengalami perkembangan yang terjadi dalam berbagai aspek, mulai dari gerak, desain lantai, iringan, rias dan busana, dan tempat pertunjukan.

——————————————————————————————-Nungky Retno Palupi (Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa Dan Seni)Perkembangan Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang Di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi Dari Tahun 1969-2016. Universitas Negeri Yogyakarta 2016

Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

batik-sayu-wiwit-banyuwangi-41Sejarah pengembangan batik di Banyuwangi dimulai pada tahun 1980-an. Sentra batik pertama yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi adalah terletak di daerah Temenggungan. Awalnya, pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengirim beberapa orang dari kelurahan Temenggungan untuk belajar membatik. Sampai saat ini yang mampu bertahan hanya dua orang yaitu Soedjojo Dulhaji pendiri UD. Sayu Wiwit dan Ana Nemy pemilik UD. Sri Tanjung.

Berawal dari keadaan tersebut, pada tahun 1995 Soedjojo Dulhaji mencoba mengumpulkan para pengrajin batik dalam satu wadah dengan nama “Kelompok Kerja Pembatik”. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan potensi yang ada, baik dari segi pelestarian serta pengembangan batik Gajah Oling, serta untuk menghindari munculnya kejenuhan baik bagi para pengrajin itu sendiri maupun calon pembeli. Usaha tersebut semakin lama menunjukan kemajuan yang baik serta adanya respon dari masyarakat, maka pada tahun 1997 Bapak Soedjojo Dulhaji mendaftarkan usaha tersebut ke Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dan setelah itu usaha tersebut mendapatkan nama PT. Sayu Wiwit dengan No. SIUP: 0100/ 13-6/ PK/ III/ 1997, dengan spesialisasi tiga jenis produk, yaitu: batik tulis, batik cap, dan batik printing. Sejak  Soedjojo Dulhaji meninggal dunia, sanggar batik dikelola oleh Fonny Meilyasari (anak Bapak Soedjojo). Hanya saja, Ibu Fonny tidak memiliki ketrampilan membatik sehingga mengikuti magang di pembatik di Solo selama 2 minggu. Tujuannya adalah ingin menambah pengetahuan tentang teknik membatik yang benar dari daerah lain.

batik-sritanjung-banyuwangiNama Sayu Wiwit merupakan nama pahlawan wanita Banyuwangi yang kemudian digunakan sebagai nama dari sanggar batik tersebut. Tujuan didirikannya sanggar batik Sayu Wiwit adalah untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat khususnya penduduk kelurahan Temenggungan, serta menciptakan lapangan kerja bagi ibu-ibu dan remaja putus sekolah khususnya bagi mereka yang pernah mengikuti latihan kursus ketrampilan membatik dengan memacu dan memberikan motivasi untuk berproduksi kemudian menampung produksinya dan mengupayakan pemasarannya (Purwoko, 2011:35). Usaha  yang dilakukan oleh pendiri sanggar batik mendapatkan tanggapan yang positif dari Pemerintah Daerah Tingkat II Banyuwangi, Departemen Perindustrian, Departemen Tenaga Kerja. Perkembangan perusahaan batik Sayu Wiwit dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sehingga usahanya semakin maju.

 

Dinamika Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

  1. Proses Produksi dan Bahan Baku yang Digunakan

Proses produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit tidak jauh berbeda dengan proses produksi batik di tempat lain. Proses pembuatan batik tidak mengalami perubahan dari awal didirikan hingga sekarang ini. Proses pembuatan batik terdiri atas beberapa tahap, yaitu membatik, mewarna, menghilangkan malam, dan mencuci kain batik. Semua proses produksi batik masih bersifat tradisional karena semua masih dikerjakan dengan menggunakan tangan. Selain batik tulis yang digambar dengan menggunakan canting, Sanggar Batik Sayu Wiwit juga memproduksi batik cap, mengecap kain dilakukan dengan blok yang terbuat dari tembaga bertangkai pegangan dari kayu yang di sisi dalamnya berbentuk motif batik.

Sejak awal didirikannya industri batik Sayu Wiwit pada tahun 1995, produksi batik hanya berupa batik tulis. Namun untuk mengantisipasi minimnya jumlah pembatik dan mempercepat waktu produksi, pemilik Sanggar Batik Sayu Wiwit melakukan strategi dengan menambah alat batik cap agar hasil produksi batik dapat bertambah dalam waktu yang relatif singkat. Batik cap diproduksi Sanggar Batik Sayu Wiwit sejak tahun 2000.

  1. Variasi Motif

Sanggar Batik Sayu Wiwit pada awalnya hanya memproduksi motif batik Gajah Oling. Motif batik Gajah Oling merupakan perpaduan antara gambar atau ornamen kupu-kupu, batang, daun, dan bunga melati. Motif batik Gajah Oling merupakan batik yang mempunyai tingkat kesulitan yang paling tinggi dalam proses pembuatannya. Pada perkembangan selanjutnya, Sayu Wiwit menambah produksi motif batik tulis yaitu motif batik Kangkung Setingkes dan motif batik Paras Gempal. Konsumen juga dapat memesan kain batik dengan motif lain dengan langsung datang ke sanggar tempat pembuatan batik Sayu Wiwit dengan membawa desain batik yang diinginkan.

Beberapa hasil pengembangan motif Gajah Oling yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit antaralain :

1) motif Kembang Kates
2) motif Teratai
3) motif Zig-Zag
4) motif Gunung
5) Anas Garis
6) Gelombang Cinta
7) Kantil
8) Semanggi
9) Anggur
10) Ukiran

  1. Aktivitas Pemasaran

Pemasaran pada industri kerajinan batik Sayu Wiwit pada awalnya hanya dilakukan di rumah produksi. Para konsumen datang langsung ke tempat produksi untuk membeli batik dan dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik. Selain itu biasanya ada pula yang dibawa oleh pedagang pengecer untuk dipasarkan kembali di luar daerah Banyuwangi. Seiring berkembangnya usaha kerajinan batik, pada awal tahun 2011 usaha kerajinan batik Sayu Wiwit membuka showroom yang diberi nama Umah Batik Sayu Wiwit. Sebelumnya para calon pembeli harus berjalan kaki terlebih dahulu ketika akan membeli batik, setelah didirikannya Umah Batik Sayu Wiwit akan memudahnya para pembeli untuk datang. Showroom juga digunakan sebagai sarana promosi agar para calon pembeli tertarik untuk datang ke tempat penjualan batik.

Pemasaran hasil produksi sanggar batik Sayu Wiwit tidak hanya disalurkan melalui showroom yang dimilikinya, namun untuk meningkatkan penjualan Sayu Wiwit melakukan strategi promosi yang lain. Saluran promosi yang digunakan Sanggar Batik Sayu Wiwit melalui media periklanan. Kegiatan periklanan yang dilakukan Sanggar Batik Sayu Wiwit melalui pemasangan iklan di surat kabar, spanduk, maupun penyiaran radio.

  1. Dampak Industri Batik Terhadap Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

Perkembangan industri batik di Kelurahan Temenggungan mempengaruhi dan merubah kondisi masyarakat sekitar, khususnya pada karyawan industri kerajinan batik. Melalui keberadaan industri batik di Kelurahan Temenggungan, timbul pergeseran lapangan kerja yang lama ke bidang usaha yang baru. Beralihnya profesi ke bidang industri membuat taraf kehidupan ekonomi masyarakat dalam segi pendapatan menjadi meningkat. Keadaan tersebut memacu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tidak hanya kebutuhan pokok sehari-hari melainkan juga kebutuhan lain yang bersifat sekunder. Kebutuhan sekunder yang dimaksud adalah barang-barang elektronik seperti televisi dan sarana transportasi seperti sepeda dan kendaraaan bermotor.

Dampak ekonomis dari pendirian industri kerajinan batik adalah adanya penghasilan tambahan bagi masyarakat yang terlibat dalam industri batik, dalam hal ini adalah pengusaha, pengrajin, dan pengecer. Beralihnya masyarakat yang bekerja di luar industri menjadi kerja industri disebabkan oleh faktor keadaan sosial ekonomi. Sementara biaya hidup semakin meningkat sedangkan mereka tidak dapat hanya mengandalkan gaji yang diperoleh dan yang bermata pencaharian sebagai tukang rumah atau buruh tani tidak memperoleh gaji secara tetap.

Secara sosial ada beberapa dampak yang dirasakan oleh para pengrajin, diantaranya adalah semakin erat hubungan antar tenaga kerja atau karyawan perusahaan. Keeratan hubungan antar tenaga kerja timbul karena kebiasaan para pengrajin melakukan pekerjaan bersamasama di sanggar karya milik perusahaan. Setiap kehidupan masyarakat selalu terjadi adanya interaksi sosial. Tanpa adanya interaksi sosial, maka tidak mungkin ada kehidupan bersama.

  1. Usaha Pelestarian Batik

Seiring dengan perkembangan zaman, hingga saat ini banyak tumbuh berkembang pengrajin batik menyebar hampir di seluruh wilayah Kecamatan maupun Kabupaten Banyuwangi, hal tersebut dikarenakan adanya dukungan positif dari semua pihak terhadap keberadaan batik Banyuwangi diantaranya Kebijakan Pemerintah Daerah dalam upaya pengembangan batik di Banyuwangi serta pemakaian batik khas daerah untuk seragam Dinas maupun Sekolah pada hari dan acara tertentu.

Kelestarian batik ikut terjaga ketika adanya peraturan yang dibuat pemerintah kabupaten Banyuwangi sejak 2009, yang mewajibkan semua pegawai pemerintah daerah dan pegawai negeri sipil di Banyuwangi untuk menggunakan seragam batik dengan motif Gajah Oling pada setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Selain itu, juga untuk pemakaian busana khas Banyuwangi yaitu Jebeng dan Thulik (Duta Wisata dan Kebudayaan Banyuwangi) pada Thulik, batik motif Gajah Oling dipakai pada udeng tongkosan dan sembong sedang, sedangkan pada Jebeng batik Gajah Oling digunakan sebagai kain panjang.

Pemerintah sendiri memiliki beberapa program untuk kembali mengenalkan Batik Banyuwangi kepada masyarakat karena kekayaan budaya dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembangunan di Banyuwangi, dan batik menjadi salah satu produk kebudayaan yang termasuk dalam seni kerajinan rakyat.

——————————————————————————————-Rara Sonia Estiningtiyas, Sumardi. Bambang Soepeno. Dinamika Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit Di Kelurahan Temenggungan Kecamatan Kota Banyuwangi 1995─2014.
Universitas Jember (UNEJ)

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

PELABUHAN Muncar, Kabupaten Banyuwangi

Muncar Jangan Tercemar

PELABUHAN Muncar di Banyuwangi yang berlokasi di ujung timur Pulau Jawa, merupakan tempat pertemuan arus Laut Jawa dari arah utara dan Samudra Hindia melalui arah selatan. Kondisi ini menguntungkan karena para nelayan di Muncar tidak terpengaruh gelombang besar yang disebabkan angin barat maupun angin timur. Mereka hanya berhenti melaut saat bulan purnama tiba selama 7 hari hingga 10 hari.
Kepala Bidang Kelautan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuwangi, Untung Widiarto mengatakan, Tempat Pelelangan ikan (TPI) Muncar sebelumnya menjadi pemasok ikan terbesar di Indonesia. Namun terus menurun sejak terjadi anomali cuaca. Pada 2012 hasil tangkapan masih mencapai 28.313 ton. Namun pada 2013 tersisa 21.464 ton. “Jumlah terbanyak tetap jenis le¬muru,” ucapnya.
Muncar.Menurunnya jumlah hasil tangkapan ikan nelayan di Muncar juga disebabkan overfishing dan pencemaran limbah perusahaan pengolahan ikan. Kondisi perairan Muncar di Selat Bali dikatakan pulih bila hasil tangkapan nelayan bisa mencapai 36 ribu ton per tahun.
Dikatakannya, di Pelabuhan Perikanan Muncar, ikan lemuru menjadi komoditas utama tangkapan nelayan. Bahkan sentra lemuru yang telah memiliki industri ter¬besar di Indonesia berada di wilayah perairan selat Bali.
Sampai saat ini, di sekitar perairan pantai kabupaten Banyuwangi banyak dijumpai armada penangkapan tradisional dan modern yang beroperasi memanfaatkan ikan lemuru sebagai ikan tangkapan.
Kepala Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, Kartono Umar mengatakan, produksi ikan lemu¬ru dapat dilihat dalam data lima tahun terakhir.
Pada tahun 2010 dari produksi ikan di pelabuhan Muncar sebesar 22.042.289 kg dengan nilai produksi Rp 98.394.406.500 produksi ikan lemuru sebesar 80%, tahun 2011 produksi ikan 16.526.715 kg dengan ni¬lai produksi Rp 84.956.896.500 produksi ikan lemuru sebesar 10% tahun 2012 produksi ikan 11.459.005 kg nilai produksi Rp 107.374.808.500 produksi ikan le¬muru 24,7%, 2013 produksi ikan 8.010.771 kg dengan nilai produksi Rp 87.546.170.500 produksi ikan lemuru 50,9% dan pada tahun 2014 hingga periode Juli produk¬si ikan 462.770 dengan nilai produksi Rp 4.278.230.000 produksi ikan lemuru sebesar 90,4%. Ditambahkan- nya, pada tahun 2009 produksi ikan lemuru sebesar 28,446,134 kg, 2010 sebesar 17,717,764 kg, 2011 sebe¬sar 1,651,381 kg, 2012 sebesar 2,839,271 kg dan 2013 sebesar 4,082,081 kg.
muncar 1Selain lemuru, komoditas lain yang cukup potensial di perairan Muncar yakni ikan layang. Pada lima tahun terakhir, produksi ikan layang cukup tinggi. Tahun 2009 sebesar 1,067,070 kg, 2010 sebesar 1,057,942 kg, 2011 sebesar 2,268,370 kg, 2012 sebesar 2,013,177 kg dan 2013 2,656,893 kg. Seperti diketahui, perairan selat Bali merupakan wilayah perairan yang pengelolaannya di atur oleh dua Pemerintahan Provinsi, yaitu Jawa Timur dan Bali. Armada perikanan lemuru yang beroperasi pada tahun 2010 di kabupaten Banyuwangi sebanyak 203 unit yang terdiri dari kapal purse seine berukuran antara 10 – 30 GT.
Dengan potensi perikanan yang cukup tinggi, sampai saat ini jumlah di Muncar sebanyak 13.203 orang. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan tahun 2013 yang hanya 13.143 orang. Angin kencang disertai gelombang tinggi kerap menjadi kendala utama menurunnya produksi tangkapan ikan di Muncar. Ditambah lagi seringnya kelangkaan solar. Setelah waktu libur usai puasa dan le- baran, nelayan kembali berburu. Lemuru, tongkol, salem, dan layang sebagai bahan dasar pembuatan ikan kaleng menjadi hasil laut andalan di perairan Muncar. Pada saat paceklik tangkapan, seperti yang terjadi pada periode Januari-April, nelayan masih bisa memasok ikan-ikan itu ke puluhan cold storage (tempat pendinginan) di Muncar dan sekitarnya.

“Kalau pada saat musim panen Juni- Nopember, kami bisa mevigekspor ikan lemuru hingga tujuh kontainer (isi per kontainer 24 ton) “

Siswanto, pekerja di tempat pendinginan Usaha Dagang Piala Indah, menyebutkan, masih bisa mendapatkan pasokan 8-10 ton ikan lemuru, tongkol, salem, dan layang
per hari selama masa paceklik. Pengusaha tempat pen¬dinginan tak berhenti mengekspor lemuru keias satu ke Jepang dan Thailand. “Kalau pada saat musim panen Juni-Nopember, kami bisa mengekspor ikan lemuru hingga tujuh kontainer (isi per kontainer 24 ton),” ungkap Sis¬wanto.
Hasan (43), mengaku sudah berhenti melaut sejak Desember 2013 hingga Januari 2014. Dalam sepekan pertama awal Pebruari 2014, dia terpaksa melaut di pe¬rairan Selat Bali meski cuaca belum normal. Sebab, Ha¬san membutukan biaya untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, dari tujuh hari melaut, Hasan baru mendapat satu kali tangkapan, itu pun hanya 1 kuintal. “Biasanya saya bisa dapat 1 ton,” katanya.
Satu kuintal lemuru berharga Rp 2.600 per kilogram. Padahal biaya solar Rp 200 ribu per hari. Penghasilan bersih yang bisa dibawa pulang Hasan hanya Rp 60 ribu. Jumlah itu tidak bisa menutupi biaya operasional untuk enam hari berikutnya. Nelayan lainnya, Nur Ali, mengatakan baru melaut dua kali dalam sepekan ini. Hasil yang didapatkannya hanya 1 kuintal lemuru seharga Rp 4.500 per kilogram. Uang yang diperolehnya hanya Rp 450 ribu. Jumlah itu tak sebanding dengan biaya beli solar Rp 600 ribu. “Saya tekor Rp 150 ribu,” kata dia.

Terbesar
Meski Muncar dapat disebut sebagai pasar perikanan tertua di Jawa Timur, pola produksinya masih sama de¬ngan pelabuhan perikanan lainnya. Hampir tidak ada modernisasi cara tangkap. Jalur lintas selatan Jawa (JLS) yang sebentar lagi direalisasikan dan diyakini bakal memecahkan problem isolasi wilayah selatan Jawa, termasuk Muncar, mudah-mudahan bisa mendorong modernisasi produksi itu. Ikan yang ada di wilayah Muncar merupakan kualitas ekspor yang diminati beberapa negara. Ini membuat peluang ekspor produk maritim cukup terbuka dan menjadi ladang usaha yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan.
Setiap hari ikan yang dibongkar di Muncar minimal 500 ton dan sekitar 90 persen di antaranya dipasok ke industri pengolahan ikan setempat. Data Sekretariat Kabinet RI menunjukkan, Muncar merupakan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur dengan produksi ikan tahun 2010 sebesar 27.748 ton. Produksi ikan olahan diekspor ke Eropa, Jepang, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Kanada sebanyak 1.562.249,72 kg per bulan dengan nilai ekonomi sebesar hampir Rp 20 miliar. Juru bicara Asosiasi Pengusaha Cold Storage Muncar, Wahyu Widodo mengatakan, tempat pendinginan di Muncar rata-rata mempekerjakan 70 laki-laki dan perempuan. Ini membuat warga Muncar jarang yang menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Pengusaha cold storage di Muncar siap untuk bersaing secara produk di luar negeri.
Pada Pebruari lalu, setelah mendapat sinyal positif pemerintah daerah untuk membantu kepenguru- san izin ekspor-impor pengusaha cold sotrage asal Muncar, banyak pengusaha lokal yang mengurus izin ekspor. Ini ditujukan agar peluang pengusaha mema- sarkan ikannya secara langsung ke luar negeri bisa terwujud. Ekspor juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi Muncar. Menurut data, di Banyuwangi baru ada sembilan pengusaha yang mengantongi lisensi ekspor dan impor. Sedangkan di Muncar ada puluhan pengusaha cold storage, (jal)
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 11-13

Kawin Ngeleboni

        Pada tradisi perkawinan masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi terdapat adat yang di sebut “Kawin Ngeleboni”. Bentuk perkawinan ini terjadi karena pihak keluarga laki – laki tidak menyetujui anaknya menikah dengan gadis pilihannya sendiri.

Karena takut tidak bisa mempersunting gadis pilihannya itu, maka lelaki bersangkutan datang sendiri dan meminta kepada orang tua perempuan idamannya agar dapat diterima sebagai menantu.

Sementara perkawinannya belum disetujui dan diresmikan oleh orang tua masing-masing, laki-laki bersangkutan meminta agar diperkenankan tinggal di rumah keluarga si gadis.

Apabila permintaan lelaki tersebut disetujui oleh orang tua dan kerabat pihak si gadis, maka pelaksanaan pernikahannya sama seperti upacara pernikahan jenis colongan. Upacara perkawinan ngeleboni berlangsung sekitar tiga sampai empat hari setelah colok dari pihak perempuan mengutarakan masalah kepada fihak lelaki.

 Selama perkawinan belum diresmikan, kedua calon suami-isteri tidak diperkenankan hidup bersama. Upacara perkawinan selalu disertai acara makan bersama. Hidangan utama yang disediakan dalam upacara adalah tumpeng serakat dan pecel ayam.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (Melayokaken) atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 115-116

Kawin Angkat- Angkat, Kabupaten Banyuwangi

Jenis perkawinan yang dilaksanakan di daerah Kabupaten Banyuwangi ini,  karena kehendak orang tua dari kedua belah fihak (fihak laki-laki dan fihak perempuan), sebelum pernikahan dilangsungkan terlebih dahulu dilakukan acara lamaran oleh keluarga calon pengantin laki-laki kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan.

Pada umumnya, lamaran dilakukan pada waktu sore hari sekitar pukul 17.00. Dalam acara lamaran ini, pihak laki-laki membawa penganggo komplit “pakaian dan perhiasan lengkap” seperti gelang, cincin, baju, kain panjang (sewek), sabun, wiski maupun anggur. Penganggo komplit ini tidak boleh dikenakan sebelum perkawinan disahkan, sebab apabila pernikahan batal, benda-benda tersebut harus dikembalikan kepada pihak laki-laki (dalam kasus-kasus tertentu pihak laki-laki terkadang menolak pengembalian penganggo bukan karena alasan menolak pembatalan perkawinan, melainkan karena persoalan harga diri).

Pihak laki-laki juga membawa peras suwun yakni perlengkapan berupa:

  • gedang sri,
  • kembang andong,
  • kembang macan,
  •   godhong ketirah,

perlengkapan ini mempunyai makna tertentu. Gedang sri mempunyai makna sebagai simbol orang yang masih jejaka. Kembang andong mempunyai makna pihak yang mengadakan perhelatan. Kembang macan mempunyai makna agar pihak yang dilamar tidak marah. Sementara godong ketirah mempunyai makna agar gadis yang dilamar bersedia mengikuti pihak laki-laki.

Sebelum upacara pernikahan berlangsung, biasanya baik di rumah laki-laki maupun di rumah perempuan diadakan “ngersaya“, yaitu kerja gotong royong dari para kerabat dan tetangga untuk mempersiapkan tempat dan

perlengkapan upacara. Kedua calon pengantin dilarang bepergian. Agar calon pengandn perempuan kelihatan segar dan candk pada waktu pesta, maka diadakan upacara “ngasap” (meratakan gigi) dan badannya “dilurus” (luluran). Pada malam harinya, sebelum pesta pernikahan dihelat diadakan acara melek-melekan “tidak tidur” semalam suntuk oleh keluarga dan tetangga.

Menurut kepercayaan orang Using melek-melekan ini merupakan sarana untuk memohon keselamatan dan terhindar dari gangguan dari roh-roh jahat. Setelah melangsungkan akad nikah atau ijab secara Islam di hadapan penghulu, kedua mempelai melakukan upacara makan bersama dengan sajian hidangan berupa kokoh kelor dan keluthuk jagung (brondong).

Kokoh kelor mengusung pesan agar kedua mempelai dapat menjalani kehidupan dan dapat berkembang dengan mudah seperti tanaman kelor. Sementara brondong jagung mempunyai makna agar kedua mempelai dapat dengan gampang mencari sumber penghidupan bagi kelangsungan bahtera rumah tangga dan keluarga yang baru dibangun.

Pelaksanaan upacara perkawinan biasanya berlangsung pada senja hari setelah warga selesai bekerja di sawah. Upacara ini dimulai dengan upacara “surup” yaitu upacara mempertemukan kedua mempelai di kursi pelaminan, di rumah orang tua mempelai perempuan.

Pada umumnya mempelai wanita mengenakan pakaian gaya Sritanjungan dengan gelung melingkar ala Damarwulan. Mempelai kemudian diarak dari tempat rias menuju ke tempat penyelenggaraan pesta. Dalam arak-arakan tersebut mempelai laki-laki biasanya naik kuda sedangkan mempelai perempuan ditandu.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm113-114