Omprok Gandrung, Kabupaten Banyuwangi

OMPROK GANDRUNG b

OMPROK adalah hiasan kepala penari tradisional didaerah Blambangan Banyuwangi.

Tari Gandrung adalah sejenis tari pertunjukan di daerah Blambangan Banyuwangi sebagai tari hiburan.

Hiasan kepala penari tari Gandrung disebut OMPROK GSNDRUNG.

Terbuat dari kulit kambing, ditatah(diukir seperti membuat wayang kulit), dan diwarnai. Kain digunakan sebagai warna dasar.

Tari ini berasal dari Desa Oleh Sari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Album Seni Budaya Jawa Timur, Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Media Kebudayaan 1982/1983, hlm.

Omprok Seblang, Kabupaten Banyuwangi

OMPROK SEBLANGOMPROK SEBLANGOMPROK adalah sebutan untuk hiasan kepala bagi penari tradisional di daerah Blambangan Banyuwangi. Hiasan kepala penari. tari Seblang disebut OMPROK SEBLANG. Omprok Seblang dibuat dari bahan utama Daun pisang muda dihias dengan daun asparagus serta ditambah bunga-bunga.

Tari Seblang adalah sejenis tari-tarian  tradisional daerah Blambangan Banyuwangi, yang dipentaskan pada waktu diadakan Upacara Adat Tradisional. Tari Seblang adalah tarian yang pementasannya diperuntukan sebagai tarian ritual, pada saat acara Upacara Adat Tradisional. Seperti hal-nya acara bersih desa atau pesta panen dan sebagainya.

Selain siPenari memakai OMPROK, untuk kelengkapan tari yang lain penari juga memekai kaos kaki, adapun Kelengkapan kaos kaki tersebut melambangkan lumpur yang melekat di kaki.

Tari ini berasal dari Desa Oleh Sari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Album Seni Budaya Jawa Timur, Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Media Kebudayaan 1982/1983, hlm.

Terbang, alat musik Banyuwangi

TerbangTerbang merupakan sebutan alat musik rebana yang dapat dijumpai dalam bahasa percakapan masyarakat Using Banyuwangi sehari-hari. Terbang artinya melayang, arti dari kata tersebut dapat dilihat melalui irama pukulan timpal terbangan gebyar kerotokan yang dilakukan dengan tenaga ekstra serta diimbangi semangat bermain yang tinggi atau dalam bahasa Usingnya disebut oyak-oyakan dengan irama cepat yang terjadi secara spontanitas, maka hal itu dapat mengelabui rasa lelah pemain hingga terasa seperti melayang tanpa mengurangi nilai ciri khas dalam permainannya.

Banyaknya jenis macam terbang hingga memiliki sebutan yang berbeda, diantaranya terbang ketimpring, marawis, biang, salun, gembrung, dan terbang Banyuwangi atau yang lainya, masing-masing terbangnya mempunyai ciri khas sendiri baik dari segi bentuk, warna bunyi hingga pada tehnik mainya. Dalam permainan terbangan Banyuwangi yang biasa di lakukan oleh senimannya yaitu memiliki tiga dasar bunyi diantaranya ( prang, bring, teng ) atau dapat di tulis menggunakan metode notasi hurup ( p-b-t ) sesuai warna bunyi terbang itu sendiri dengan bahasa senimannya bermaksud untuk mempermudah pembelajaran serta menjaga nilai-nilai tradisi yang berlaku tanpa harus mencontoh bahasa lain yang dapat mengaburkan bahasa pribumi khususnya bahasa Using Banyuwangi dengan prinsip menghargai dan mencintai kebudayaan bangsa Indonesia khususnya kebudayaan masyarakat daerahnya yaitu Banyuwangi. Melalui penggabungan tiga dasar bunyi tersebut dengan disertakan pola garap pukulannya maka terciptalah sebuah gaya-gaya pukulan timpal terbangan yang bervariasi, seperti terbangan jos, terbangan yahum, terbangan tirim, terbangan gebyar, dan terbangan melaku. Lima dari gaya terbangan tersebut dapat dikembangkan sesuai kebutuhannya yaitu bergantung pada kreativitas senimanya, sehingga setiap group terbang yang ada memiliki variasi pukulan terbangan dengan sebutan berbeda atau biasa menggunakan bahasa sendiri seperti terbangan jos siji dan jos loro, terbangan yahum siji, yahum loro, yahum telu, dan yahum papat, terbangan tirim ombakan, tirim pencakan, dan tirim kembangan, terbangan gebyar krotokan, gebyar grudhugan, gebyar kentrogan dan gebyar kluthikan, sedangkan terbangan melaku di antaranya terbangan melaku polos dan melaku pinjalan.

Terbang salah satu alat musik klasik yang dimiliki oleh masyarakat Banyuwangi pada umumnya difungsikan sebagai sarana alat pendukung seni, baik seni bernuansa islam maupun non islam. Seperti jenis kesenian bernuansa islam yaitu kesenian hadrah berjanji, kesenian kuntulan, dan kesenian kundharan, adapun jenis kesenian non islam yaitu kesenian Hadrah Pacul Guwang seperti yang terjadi di Desa Gambiran daerah kawasan Banyuwangi selatan ( Kamsi ) dalam permainannya hanya menggunakan empat satuan alat musik terbang diantaranya dua terbang onteng kethukan, terbang timpal gowonan dan terbang timpal lebonan, adapun lagu-lagu yang dibawakan yaitu ya waila, ya anjani, gurit mangir, lebak-lebak dan seterusnya, lain dari pada itu dalam penyajiannya membawakan lagu-lagu pantunan atau biasa disebut wangsalan dengan bentuk wangsalan humor, berikut ditutup dengan tari seblang gandrung terop yang diperankan oleh seorang laki-laki. Terbang difungsikan pula sebagai iringan tari daerah yaitu bermaksud untuk memperkaya perbendaharaan gendhing, seperti tari Ngarak Penganten, tari Gredhoan, tari Cundhuk Menur dan seterusnya, selain itu terbang di fungsikan sebagai aransemen lagu-lagu klasik versi kuntulan pada umumnya, sehingga terbang Banyuwangi yang difungsikan sebagai sarana alat pendukung seni tersebut di atas dalam komponen satuan alat musiknya berbeda-beda sesuai ciri khas keseniannya.

Terbang Banyuwangi besar kecil ukurannya bergantung pada kebutuhan atau dapat disebut menggunakan istilah gedhe-cilik artinya besar dan kecil khususnya pada besar kecil ukuran kerangkanya atau biasa disebut urung, yaitu ada urung kecil yang berukuran 70cm dan ada urung besar berukuran 80cm dimana pada kerangkanya terdapat dua lempengan bulat yang terbuat dari bahan perunggu atau monel serta dipasang secara bertumpukan dengan jumlah delapan lempengan yang biasa disebut kecrek. Besar kecil dari kerangka atau urungnya tentunya mempunyai pengaruh pada bunyi, seperti terbang yang urungnya kecil gema bunyi yang dikeluarkan pendek(cekak) dan mudah sakit di tangan serta harus keras cara memukulnya untuk menciptakan suara bunyi maksimal atau biasa disebut atos artinya keras, begitu sebaliknya dengan terbang yang urungnya besar, gema bunyi yang dikeluarkan panjang(landhung).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sunardi. Seni Tabuh Terbangan Banyuwangi, Surabaya, Upt. Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur,  Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, 2010, hlm. 4-6

Kebo-Keboan, Kabupaten Banyuwangi

Pada puncak acara Kebo-Keboan, masyarakat saling berebut bibit padi yang ditunggui kerbau jadi-jadian. Bibit padi  itu dianggap bisa sebagai sarana tolak bala maupun pembawa keburuntungan jika dibawa pulang.

kebo- keboan

Malam semakin larut di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi. Para ibu masih sibuk memasak kue dan menyiapkan perlengkapan sesaji di dapur. Berbagai jenis hewan ternak telah terlelap tidur di kandangnya masing-masing.

Di sisi lain, suara ramai namun damai terlihat di sepanjang jalan utama desa. Laki-laki tua-muda, anak-anak, dan perempuan ikut membantu menyiapkan dan memasang hiasan perlengkapan upacara yang terdiri dari pala gumantung (buah-buahan yarig bergantung, seperti pisang, jeruk, durian, dan mangga), pala kependhem (umbi-umbian dalam tanah, seperti ubi kayu, ketela, kacang tanah, kentang, talas, ganyong, jahe, dan lengkuas), dan pala ke- sampir (polong-polongan seperti kacang panjang, kecipir, kara, dan buncis). Kesemuanya ditata dan dihias rapi sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.

Itulah gambaran suasana yang terlihat pada awal sebuah upacara ritual kesuburan yang dilakukan masyarakat Using di Desa Alas Malang, yang selalu digelar pada setiap Suro. Ritual Kebo-Keboan pada 2009 mendatangkan, Pemda Banyuwangi mengagendakan jatuh pada 11 Januari. Jika berminat melihat atau mengikuti ritual itu, usahakan datang pada malam menjelang upacara berlangsung. Sebab, pada saat itu juga banyak rangkaian acara yang menarik untuk diikuti.

Menurut para sesepuh Desa Alas Malang, upacara Kebo-Keboan bertujuan untuk mendapatkan kesela- matan, penyembuhan, kesuburan, dan pembersihan diri dari Tuhan Yang Maha Esa. Ternyata ritual ini tidak hanya menarik wisatawan domestik, tapi juga wisatawan manca negera, khususnya Eropa.

Bila upacara itu telah tiba, pemandangan di desa itu sungguh menakjubkan. Berbagai pernik ornamen hiasan sudah terpajang, umbul-umbul, killing (baling-baling kicir angin), paglak (dangau tinggi di tengah sawah) terlihat megah di hamparan sawah dengan latar belakang Pegunungan Raung, Ijen, dan Gunung Merapi. Semua warga desa sudah siap dengan kue tradisional serta sesaji untuk upacara ritual. Hampir semua orang tampak anggun dengan busana adatnya.

Prosesi upacara diawali dengan selamatan di tengah jalan utama desa. Semua panganan diletakkan di atas tikar, lembar-lembar daun, na­si tumpeng di atas ancak (tempat yang terbuat dari batang daun pisang dan bambu). Lengkap dengan lauk pauk dan sayur yang ditata dalam takir (tempat yang ter­buat dari daun pisang) serta masakan khas pecel pitik (ayam pang gang yang diurap kelapa) telah siap. Seluruh elemen kampung terlibat, dari orang dewasa hingga anak-anak. Doa dipimpin oleh seorang Kiai, kemudian nasi tumpeng dan kue dibagikan kepada para pengunjung dan warga setempat sebagai berkat. Tak hanya untuk keluarga terdekat, tiap-tiap warga juga menyiapkan kue-kue untuk para kerabat atau pengunjung yang datang dari jauh.

Setelah upacara selamatan selesai, selanjutnya acara Ider Bumi (prosesi mengelilingi kampung dari hilir hingga ke hulu kampung). Upa­cara bersama ini begitu unik dan menarik sekaligus memiliki dimensi dari masyarakat yang akar kepercayaan agraris dan spiritualnya masih kuat.

Acara ritual ini melibatkan seluruh elemen di kampung, mulai dari laki-laki, perempuan, tua-muda, dan anak-anak sampai sanak famili yang berada di luar kampung. Bahkan hampir seluruh kesenian adat yang ada di Banyuwangi juga terlibat. Ada gandrung, barong, janger, patrol, balaganjur, angklung paglak, jaranan, kuntulan, dan wayang kulit. Upacara ini tidak melulu seni pertunjukan terpadu tapi juga sebagai seni instalasi komunal yang memperlihatkan energi kualitas dan spiritual bersama.

Pada acara Ider Bumi, ritual Kebo-Keboan ini diawali dengan visualisasi Dewi Sri (Dewi Padi) yang ditandu oleh beberapa pengawal dengan pakaian khas. Puluhan laki-laki bertubuh kekar dengan dandanan dan bertingkah aneh seperti kerbau dihalau oleh para petani yang membawa hasil panennya. Suasana kian meriah karena diiringi alunan musik tradisional khas Using yang hinggar binggar.

Pada bagian akhir upacara adalah prosesi membajak sawah dan menanam bibit padi. Para kerbau manusia seperti kesurupan mengejar siapapun yang mengambil bibit padi yang ditanam. Masyarakat berebut, ikut berkelit untuk mendapatkan bibit padi itu karena dipercaya bisa digu- nakan sebagai tolak bala maupun keberuntungan. Kegiatan berakhir pada tengah hari. Para lelaki yang berseragam kerbau membersihkan diri di sungai-sungai yang airnya bersih. Para pengunjung pun pulang ke rumahnya masing-masing sambil membawa bibit padi yang akan digunakan sebagai tolak bala atau keber­untungan di tahun kerbau ini.

Sementara itu, pada sore hari dan malam hari, kesenian tradisional disajikan, termasuk pementasan wa­yang kulit semalam suntuk. Jadi bisa dibayangkan betapa meriahnya Desa Alas Malang pada perayaan Kebo-Keboan itu • RUD

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, 1-10 Januari 2009, hlm. 32-33

Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma, Kabupaten Banyuwangi

Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma6 Desember 1912, Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. anak dari R. Suryaka Suryadarma pegawai bank di Banyuwangi, yang masih memiliki garis keturunan dari Kraton Kanoman, Cirebon.   Buyutnya adalah Pangeran Jakaria alias Aryabrata dari Kraton Kanoman.   Sedangkan kakeknya adalah Dokter Pangeran Boi Suryadarma yang bertempat tinggal di Kuningan Jawa Barat, beliau tamatan Sekolah Dokter Jawa.  Sejak kecil Suryadarma telah menjadi yatim piatu, Ia ditinggal oleh ibu kandungnya dalam usia yang masih kecil, sedangkan ayahandanya wafat ketika Suryadarma berusia sekitar lima tahun.  Sepeninggal kedua orangnya, Suryadarma ikut keluarga kakeknya di Jakarta.

Tahun 1918, usia enam tahun Soerjadi Soerjadarma masuk sekolah ELS (Eropese Lagere School) yaitu Sekolah Dasar khusus untuk anak Eropa atau Cina dan anak-anak Indonesia yang miliki keturunan bangsawan atau anak pejabat yang kedudukanya bisa disamakan dengan Bangsa Eropa.

Tahun 1926, Soerjadi Soerjadarma menyelesaikan pendidikanya di ELS, yang kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya yaitu HBS (Hogere Burgere School) di Bandung.   Namun sebelum berhasil menamatkan sekolahnya di kota ini, ia harus berpindah ke Jakarta dan melanjutkan di KWS-III (Koning Willem School) Jakarta, sekolah ini sederajat dengan HBS, dan berhasil diselesaikan tahun 1931.

Setelah lulus dari KWS-III, Soerjadi Soerjadarma terus berusaha mengejar cita-citanya menjadi penerbang. Dari KWS ia tidak dapat langsung mengikuti pendidikan penerbang, Ia harus menjadi perwira dahulu. Untuk menjadi perwira, tidak ada jalan lain kecuali mengikuti pendidikan perwira di KMA (Koninklijke militaire Academic), yang saat itu hanya ada di Breda Negeri Belanda.

September 1931, Soerjadi Soerjadarma mendaftarkan diri masuk pendidikan perwira di KMA Breda.  Keinginan Suryadarma untuk menjadi anggota militer ini sebenarnya tidak disetujui oleh Dr. Boi Suryadarma, kakek yang sekaligus menjadi ayah angkatnya. Namiun setelah mendapat penjelasan dari Suryadarma, akhirnya tidak keberatan Suryadarma menjadi kadet (taruna) KMA.

Tahun 1934, Soerjadi Soerjadarma lulus dari Akademi Militer Breda Belanda, ditempuh selama tiga tahun. Suryadarma ditempatkan di Satuan Angkatan Darat Belanda di Nijmigen, negeri Belanda. Baru satu bulan kemudian Suryadarma dipindahkan ke Batalyon I Infantri di Magelang sampai bulan Nopember 1936 Dengan status sebagai perwira dengan pangkat Letnan Dua.

3 Juni 1938, Suryadi Suryadarma menikah dengan Utami anak kelima keluarga Martokusumo,dan telah di karuniai tiga orang anak, yaitu Dra. Awaniduhita Priyanti, Erlangga Suryadarma dan Adityawarman Suryadarma.

Juli 1938, Soerjadi Soerjadarma menyelesaikan pendidikan Sekolah Penerbang, namun tidak pernah diberikan brevet penerbang berhubung adanya politik diskriminasi Belanda, yang tidak mengizinkan seorang pribumi untuk menjadi penerbang karena Militaire Luchtvaartdienst merupakan kelompok elite Belanda saat itu.

Teman sekamar Soerjadi Soerjadarma ketika di Akademi Militer Breda, Captain A.L. Cox yang telah menjadi instruktur penerbang di Kalijati sudah tiga kali mengajukan Suryadarma untuk di checkride, akan tetapi tetap ditolak dan hanya diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian sebagai navigator.

Juli 1938, Soerjadi Soerjadarma mengikuti pendidikan di Sekolah Pengintai (Waarnemerschool).

Juli 1939, Soerjadi Soerjadarma ditugaskan sebagai navigator pada Kesatuan Pembom (Vliegtuiggroep) Glenn Martin di Andir Bandung.

Januari 1941, Soerjadi Soerjadarma dipidahkan untuk menjadi instruktur pada Sekolah Penerbang dan Pengintai (Vlieg en Waarnemerschool) di Kalijati.  Setelah satu tahun menjadi instruktur.

Desember 1941, Soerjadi Soerjadarma ditempatkan pada Kesatuan Pembom di 7 e Vliegtuig Afdeling, Reserve Afdeling Bommenwerners, yang dilaksanakan sampai bala tentara Jepang mendarat di Indonesia tanggal 8 Maret 1942

1940- awal,  Soerjadi Soerjadarma diterima sebagai navigator, sebenarnya ia berbakat sebagai penerbang namun tidak diizinkan karena ia pribumi. Suryadarma banyak terlibat dalam operasi-operasi udara AU Belanda, terutama ketika Belanda terdesak oleh invasi Jepang.

Soerjadi Soerjadarma merupakan satu dari empat puluh bumiputera yang diterima di Akademi Militer Belanda (KMA) di Breda, Belanda, sebelum PD II pada era Hindia Belanda. Setelah pensiun berbagai aktifitas dan kegemaran dilaksanakan seperti berburu dan menembak, koleksi batuan mineral/mulia, menulis, koleksi perangko, membaca dan lain-lain.

13 Februari 1942, keberanian Soerjadi Soerjadarma sebagai navigator (sebagai letnan penerbang intai) dengan tiga pesawat pembom Glenn Martin B-10, yang mengebom armada Jepang di Tarakan tanpa disertai fighter escort. Mereka berhasil mengebom kapal penjelajah (cruiser) Jepang, namun kemudian mereka diserang oleh pesawat-pesawat Zero, sehingga hanya bomber yang dipiloti Suryadarma yang berhasil kembali meskipun dalam keadaan rusak.

Maret 1942, Karena jasa Soerjadi Soerjadarma, Pemerintah Belanda menganugerahi Medals for Distinguished Service During Combat untu Jan Lukkien yang menjadi Komandan Skawadron sungguhpun sebetulnya peran Suryadarma sangat besar dalam mengambil keputusan bersama Kapten Lukkien.

Tahun 1945-1949, Soerjadi Soerjadarma sebagai KSAU mendirian Aeroclub, mewujudkan pendidikan dan latihan-latihan dasar penerbangan militer di Maguwo, Maospati dan Malang (teknik radio, radio operator, penerbang, paratroops, pembekalan udara, morse code).

1 September 1945,  Soerjadi Soerjadarma ditugaskan membentuk AURI oleh Presiden Soekarno. Suryadi Suryadarma sebagai pendiri dan Bapak AURI – tidak hanya berperan dalam mengembangkan dunia dirgantara pada bidang kemiliteran, namun juga sebagai pelopor pada penerbangan komersial. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan, Suryadarma telah menjadikan dirgantara sebagai bagian dari hidupnya.

September 1945, Soerjadi Soerjadarma memenuhi panggilan Urip Sumohardjo untuk berangkat ke Markas Tertinggi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Yogyakarta.  Gagasan yang bersifat perintah ini, kemudian disampaikan kepada Soerjadi Soerjadarma.  Dalam pernyataan kesanggupan untuk melaksanakan perintah tersebut, Soerjadi Soerjadarma mengajukan saran, bahwa angkatan udara yang akan dibentuk seyogyanya merupakan suatu angkatan udara yag mandiri, seperti halnya Royal Air Force (RAF) di Inggris.

5 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan dekrit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang selanjutnya dibentuk MT TKR (Markas Tertinggi TKR) di Yogyakarta.  Sebagai Kepala Staf Umum dijabat oleh Mayor Jendral Urip Sumohardjo.  Sejalan dengan pembentukan TKR, timbul gagasan dari Kepala Staf Umum TKR Mayor Jendral Urip Sumohardjo untuk membentuk suatu kekuatan udara di Indonesia.   Untuk mewujudkan gagasan tersebut,  Mayor Jendral Urip Sumohardjo memanggil Soerjadi Soerjadarma.  Panggilan pertama, Surayadarma belum memenuhinya, karena Ia sedang melaksanakan tugas yang diberikan Bung Karno untuk menangani BKR di Priangan.

27 Oktober 1945, untuk pertama kalinya para juru teknik TKR bagian penerbangan mampu memperbaiki sebuah pesawat latih “Cureng” yang berbendera merah putih dan dapat mengudara di atas Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.

12 Nopember 1945, Saran pembentukan angkatan udara yang mandiri tersebut dapat diterima oleh Mayor Jendral Urip Sumahardjo.  Hal ini terbukti dengan mulai dibicarakannya masalah kekuatan udara dalam sidang Konferensi Tentara Keamanan Rakyat di Yogyakarta, dengan keputusan :

10 Desember 1945 semua bagian penerbangan di Indonesia, termasuk prajurit, pegawai dan pangkalan serta alat-alatnya ditempatkan di bawah Kepala Penerbangan. Kepala Penerbangan berkedudukan di Markas Besar Umum.

12 Desember 1945, MT TKR mengeluarkan pengumuman yang ditandatangani oleh Letnan Jendral Oerip Sumohardjo yang menyatakan bahwa MT TKR di bentuk bagian penerbangan yang dipimpin oleh Soerjadi Soerjadarma dan Sukarnen Martokusumo sebagai wakilnya.

Tahun 1946 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) sejak berdiri, telah silih berganti pimpinan dengan berbagai sebutan. Menteri/Panglima Angkatan Udara (Men/Pangau) maupun dengan sebutan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau).  Penetapan Pemerintah No. 6/SD, tanggal 9 April 1946 merupakan dasar dari pembentukan TNI AU.

Tanggal 9 April hingga sekarang diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU. Ketetapan tersebut sekaligus menunjuk Komodor Udara R. Surjadi  Suryadarma sebagai Kepala Staf Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI AU). Kedudukan TNI AU pada saat itu berada di Jogyakarta.

9 April 1946, Presiden RI Sukarno mengeluarkan Penetapan Presiden No. 6/SD/1946, TRI Jawatan Penerbangan dirubah menjadi TRI Angkatan Udara, dan diresmikan pula penggunaan sebutan dan tanda pangkat dilingkungan TRI Angkatan Udara, dengan susunan sebagai berikut :

  1. Pimpinan Tertinggi TRI AU : Panglima Besar Jenderal Sudirman.
  2. Kepala Staf TRI AU : Soerjadi Soerjadarma dengan pangkat Komodor Udara (sama dengan Mayor Jendral di Angkatan Darat) (KASAU Pertama)
  3. Wakil Kepala Staf TRI AU I : R. Sukarnen Martokusumo dengan pangkat Komodor Muda Udara (sama dengan kolonel).
  4. Wakil Kepala Staf TRI AU II : Agistinus Adisutjipto, dengan pangkat Komodor Muda Udara.

Tahun 1946  – 1962, Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Udara.

27 Februari 1948, Komodor Udara Suryadi Suryadarma mendapat tugas rangkap sebagai KSAP (Kepala Staf Angkatan Perang) Republik Indonesia. Dan ketika Belanda melakukan aksi Militer II tahun 1948, Suryadarma ikut tertawan bersama pimpinan Republik yang lain, dan dibuang ke Pulau Bangka. Kemudian tahun berikutnya, dalam memperkuat delegasi Indonesia menghadapi perundingan dengan pihak Belanda di KMB, Suryadarma turut sebagai penasihat militer. Demikian juga pada waktu penyerahan kedaulatan tahun 1949.

Mei 1948, sebanyak 20 Kadet AURI dikirim ke India tujuannya adalah mengusahakan pendidikan penerbang. Dan tidak kurang dari 60 orang kadet dikirim ke Amerika, selain itu juga memperbanyak awak pesawat dan staf personalia. Pada tahun yang sama, mulai merintis pembentukan Pasukan Payung Angkatan Udara, yang disebut Pasukan Gerak Cepat, yang kemudian dikenal sebagai Kopasgat.

Tahun 1950-an, Soerjadi Soerjadarma berperan dalam negoisasi pengambil-alihan KNILM/KLM menjadi Garuda Indonesia Airways (GIA). Adalah Sekolah Perwira Penerbang AURI angkatan pertama yang sekaligus menghasilkan penerbang-penerbang untuk GIA. Selain itu, Suryadarma juga menggagas agar para penerbang dan crew penerbang sipil menjadi perwira dan bintara cadangan AURI. Masyarakat awam yang terlibat dalam penerbangan sipil oleh Suryadarma juga diangkat sebagai perwira yang berpangkat Tituler.

Tahun 1950, Soerjadi Soerjadarma memprakarsai terbitnya majalah kedirgantaraan Angkasa, diterbitkan oleh Dinas Penerangan AURI. Sekarang majalah Angkasa diterbit-lestarikan oleh grup Kompas Gramedia dibawah asuhan Jakob Oetama.

Tahun 1950-1954, Soerjadi Soerjadarma memprioritaskan pendirian sekolah-sekolah pendidikan dan latihan penerbangan. Hampir segala macam kejuruan teknis penerbangan militer dan sipil, dengan memanfaatkan tenaga-tenaga ahli Belanda (ex ML dan ex Luchvaart Dienst) sebagai instruktur, dosen dan pengawas mutu pendidikan. Hanya Sekolah Perwira Penerbang saja yang menggunakan instruktur-instruktur Amerika.

Soerjadi Soerjadarma bersama Soetanandika (Kepala Direktorat Penerbangan Sipil) menggagas berdirinya Akademi Penerbangan Curug ( Sekolah Penerbang, Sekolah Teknik Udara, Sekolah Lalu-lintas Penerbangan, dan Sekolah Meteorologi). Akademi ini harus memenuhi persyaratan-persyaratan ICAO. Pada tahun-tahun pertama, sekolah-sekolah ini menggunakan tenaga instruktur AURI, namun kemudian digantikan oleh tenaga asing atas rekomendasi ICAO dan ditambah dengan tenaga sipil yang sudah memenuhi kualifikasi ICAO.

Tahun 1950-1955, Soerjadi Soerjadarma mendirikan Aeroclub dibeberapa ibukota propinsi. Bahkan, dari sipil pun yang berminat terbang dengan pesawat latih Piper Cub L4-J diijinkan, asal tetap memenuhi persyaratan fit and proper. Ada dua lichting berhasil memenuhi persyaratan sebagai Penerbang-III (klein brevet), yaitu mencapai 60-65 jam terbang. Para instruktur adalah penerbang AURI dan kursus ini terbatas hanya bisa diselenggarakan di Cililitan (Halim), Andir (Sulaiman, Bandung) dan Maguwo (Adisucipto). Masyarakat sipil ini sebagian besar adalah para dosen muda dari universitas.

Tahun 1954, Soerjadi Soerjadarma memenuhi tenaga-tenaga instruktur pendidikan dari para perwira dan bintara AURI. Bahkan untuk calon-calon instruktur pendidikan yang berprestasi, Suryadarma mengirimkan para perwira dan bintara ini ke India Air Force.

27 Juni 1950, Marsekal Suryadarma dengan resmi menerima penyerahan Markas Besar Koninklijke Militaire Luchtvaart (Angkatan Udara Belanda) kepada Angkatan Udara Republik Indonesia. Upacara ini mengakhiri serangkaian upacara penyerahan pesawat udara militer dan pangkalan Angkatan Udara  di beberapa tempat di Indonesia kepada AURI. Tahun itu juga, Suryadarma menyelenggarakan program pendidikan Kadet, antara lain mengirim sejumlah calon penerbang ke luar negeri.

Soerjadi Soerjadarma menyadari pentingnya keberadaan pasukan payung (paratroops). Cikal bakal lahirnya pasukan payung pertama di Indonesia yaitu Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang kini menjadi Paskhas TNI-AU.

TNI Angkatan Udara terlahir dari tidak ada, hingga menjadi angkatan udara paling canggih dan ditakuti di kawasan Asia Tenggara pada era tahun 1960-an merupakan wujud dari pengabdian Suryadarma kepada negara dan Bangsa Indonesia dalam membangun dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia selama 17 tahun menjabat KSAU yang pertama.  Melalui mottonya “Kembangkan Terus Sayapmu demi kejayaan tanah air tercinta ini, Jadilah Perwira sejati pembela tanah air”, Suryadarma terus mengajak perwira-perwira muda AURI untuk terus bersemangat dalam menumbuh kembangkan AURI.  Untuk itu.

Tahun 1960, Suryadi Suryadarma menjadi Menteri/Kepala Staf AURI. Jabatan KSAU diserahkan kepada Omar Dani dalam suatu peristiwa peralihan kepemimpinan yang tragis, di tengah hangatnya Operasi Mandala, pembebasan Irian Barat tahun 1962. Kemudian diangkat menjadi penasihat Militer Presiden RI di Jakarta sampai dengan tahun 1965, setelah menjabat penasehat presiden, Suryadarma diangkat sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi (Postel) di Jakarta. Tahun 1966 diperbantukan pada Menteri/PANGAU. Dan pada tahun 1968, Marsekal Suryadi Suryadarma diberhentikan dengan hormat dengan hak pensiun.

Setelah pensiun berbagai aktifitas dan kegemaran dilaksanakan seperti berburu dan menembak, koleksi batuan mineral/mulia, menulis, koleksi perangko, membaca dan lain-lain. Menginjak di usia ke 63 tahun, kesehatannya mulai menurun dan mengidap sakit komplikasi liver.

Tahun 1976, Soerjadi Soerjadarma mendukung gagasan Wiweko Supeno dan Nurtanio Nurtanio Pringgoadisuryo  dalam berbagai eksperimen pembuatan pesawat terbang dan helikopter di Maospati.

Soerjadi Soerjadarma bersama Halim Perdanakusuma dan Wiweko mengundang pesawat-pesawat angkut asing untuk menerobos blokade udara Belanda terhadap Indonesia.

Soerjadi Soerjadarma mendukung upaya kepeloporan membangun industri penerbangan Indonesia. Dalam tahap embrionalnya, proyek ini dinamai Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP), secara struktural ada dalam organisasi AURI dan Suryadarma sebagai KSAU menentukan policy dari lembaga tersebut. LAPIP kemudian berubah menjadi Lembaga Industri Penerbangan-Nurtanio (LIPNUR).

18 Februari 1960, Soerjadi Soerjadarma selain sebagai KASAU,  jabatannnya ditingkatkan sebagai Menteri/Kastaf AURI.

9 Maret 1960, Suryadi Suryadarma sempat meminta mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas ulah Letnan II (Pnb) Daniel Maukar yang pada pagi harinya menembaki Istana Negara Jakarta dengan pesawat tempur MiG-17F Fresco asal Skadron Udara 11, namun permintaan tersebut ditolak oleh Presiden Soekarno.

19 Januari 1962, Soerjadi Soerjadarma “dipaksa” mengundurkan diri dari jabatannya sebagai KSAU sebagai ekses dari peristiwa pertempuran Laut Aru yang menewaskan Komodor (L) Yos Sudarso. Karier gemilangnya berakhiri disini, selama kurang lebih 16 tahun memimpin AURI.

Pengorbanan batin KSAU Soerjadi Soerjadarma masa itu sebagai wujud nyata sikap tertinggi dalam disiplin prajurit, yaitu loyalitas bagi bangsa dan negara. Pada hari itu juga oleh Presiden Soekarno, ia diangkat sebagai Menteri Penasehat Presiden RI.

Tahun 1965, Soerjadi Soerjadarma dipercaya memangku jabatan sebagai Menpostel RI.

24 Februari 1966 – 28 Maret 1966, Soerjadi Soerjadarma menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia ke-3.

Agustus 1975, Pada minggu kedua Suryadarma mulai dirawat di Rumah Sakit Husada, Jakarta selama seminggu.

Sabtu 16 Agustus 1975-05.45 WIB,  atas kehendak Tuhan Soerjadi Soerjadarma meninggal dunia, pada umur 62 tahun.  Jenazah disemayamkan di rumah duka dan di Markas Besar TNI AU Jalan Gatot Subroto.

Minggu 17 Agustus 1975, pukul 13.00 WIB, Pemakamannya dilaksanakan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta secara militer dengan Inspektur Upacara KASAU Marsekal TNI Saleh Basarah.

Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya bagi bangsa dan negara maka TNI-AU meresmikan nama Lanud di daerah Kalijati, Subang Jawa Barat dengan nama Lanud Suryadarma disingkat SDM. Selain itu nama Suryadarma juga diabadikan sebagai nama sebuah perguruan tinggi milik TNI-AU di daerah Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur dengan nama Universitas Suryadarma.

Soerjadi Soerjadarma sebenarnya mendapat medali penghargaan dari pemerintah Belanda atas jasanya melawan tentara Jepang semasa pendudukan Jepang di Indonesia, akan tetapi medali tersebut tidak pernah diberikan oleh Belanda kepada Suryadarma karena dianggap menyeberang memihak Indonesia saat perang kemerdekaan.  Hingga saat ini medali tersebut masih dipajang di museum perjuangan Negara di Negeri Belanda.

Tahun 1980, Lembaga Industri Penerbangan-Nurtanio (LIPNUR), diubah menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) oleh B.J. Habibie.

Tahun 2000 Suryadarma dikukuhkan oleh KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan sebagai Bapak AURI sesuai surat keputusan KSAU nomor SKEP/68/VI/2000 tanggal 20 Juni 2000.   Selain itu, untuk mengenang jasa-jasanya,

7 September 2001, nama Suryadarma diabadikan menggantikan nama Lanud Kalijati.  Dipilihnya Lanud Kalijati, karena Lanud Kalijati merupakan salah satu pangkalan cikal bakal berdirinya TNI Angkatan Udara, yaitu tempat dilaksanakannya sekolah penerbang pertama dan sekolah-sekolah pendukung penerbangan

Beberapa tanda kehormatan yang dimiliki Suryadarma, antara lain, Bintang Maha Putra Adipurna, Bintang Sakti, Bintang Dharma, Bintang Garuda, Bintang Sewindu RI, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana GOM I (Madiun), Satya Lencana GOM II (RMS), Satya Lencana GOM IV (Sulawesi Selatan), Satya Lencana GOM V (Jawa Barat), Satya Lencana GOM VII (Aceh), Satya Lencana Sapta Marga, Satya Lencana Kesetiaan VIII & XVI Tahun, Medali 10 Tahun AURI,  Middle of Yugoslav People Army First Class, The Grand Gordon of the Order of the Republik Thai, Order of the Crown, First Class Thai, Order of the White Elephant Second Class. =S1WhoT0=

http://tni-au.mil.id/content/surjadi-suryadarma

Petik Laut di Muncar, Kabupaten Banyuwangi

Upacara petik laut di Muncar, Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

Petik Laut merupakan salah satu tradisi warga Banyuwangi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki berlimpah yang selama ini menopang kehidupan mereka. Dengan rasa syukur ini diharapkan selama menjalani pekerjaan, mereka dijauhkan dari bahaya serta mendapatkan tangkapan ikan melimpah.

Acara ini dilakukan di Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Pelaksanaan ritual tersebut berlokasi di salah satu tempat pelelangan ikan terbesar di Indonesia setelah Bagan Siapi-api. Acara tersebut diadakan setiap tahun, tepatnya pada tanggal 15 bulan Suro atau Muharram.

Masyarakat Muncar menggelar ritual Petik Laut sejak tahun 1901. Mereka percaya bahwa, jika Petik Laut tidak digelar, musibah akan datang. Upacara Petik Laut bernilai sakral. Acara puncaknya adalah berisi sesaji yang terdiri atas macam kue, buah-buahan, Pancing emas, candu, dua ekor ayam jantan, dan nasi enam warna. Sebelum dilarung, pada malam harinya, dilakukan tirakatan, pengajian atau semaan di surau-surau dan prosesi mengarak perahu sesaji tersebut di perkampungan, yang disebut idher bumi. Dipimpin seorang pawang Petik Laut sesaji kemudian diangkut ke dalam perahu dan dibawa menuju lepas pantai. Sampai di lepas pantai, pawang memberikan aba-aba sebagai tanda bahwa sesaji sudah saatnya untuk dilarung.

Para nelayan terjun merebutkan sesaji yang dianggap bisa memberikan berkah. Selain dihadiri oleh masyarakat sekitar Pantai Pancer, ritual tersebut juga dihadiri oleh aparat dari pemerintahan, mulai tingkat kelurahan sampai Bupati Banyuwangi pun ikut melarung sesaji di lepas pantai.

Pesta tahunan tersebut diadakan secara besar-besaran. Mereka berani mengeluarkan biaya sampai puluhan jutaan rupiah untuk menghias kapal guna mengikuti prosesi pelarungan sesaji di lepas pantai. Berbagai rentetan acara digelar untuk memeriahkan ritual tersebut, seperti pementasan wayang kulit, Jangeran (sejenis ludruk khas Banyuwangi), pasar malam yang diramaikan
dengan pementasan musik dangdut tiga hari berturut-turut sertaacara lain yang memeriahkan pesta Petik Laut.

Tempat pelelangan ikan (TPI), yang sebelumnya menyuguhkan bau amis khas ikan laut, disulap layaknya taman ria yang penuh dengan hiburan. Muda-mudi dan kalangan tua berdatangan dari berbagai desa di sekitar Pancer hadir untuk memeriahkan pesta Kemeriahan Petik Laut di Pancer sebanding dengan hasil ikannya yang melimpah. Bagi masyarakat Laut Pancer laksana ibu yang menyusui mereka, menyediakan kasih sayang dan makanan melimpah. Inilah makna mendalam dari rasa syukur perhelatan Petik Laut.

Pesona Jawa Timur , hlm. 27-29

 

Gedhogan atau Gendhongan, Kabupaten Banyuwangi

 Lokasi

GENDHOGAN001Dukuh: Derek – Sokasari Desa:Paspan Kecamatan:Glagah Kabupaten Banyuwangi Menuju ke arah barat kota Banyuwangi, semula menyusuri jalan yang sepi menuju ke kawah Ijen, tetapi segera memasuki jalan desa, berkelok-kelok ke sana kemari untuk menuju ke sebuah rumah seorang wanita desa di padukuhan Derek – Sokasari Kelurahan Paspan Kecamatan Glagah. Di sanalah permainan Gedhogan atau Gendhongan ini kita dapati. 

Peristiwa Permainan

Pukulan kayu terhadap kayu bertalu-talu bersahut-sahutan Diantara dentam dan gelothak bunyi yang terdengar, masih ter­tangkap lembut ada dan tiada denting logam beradu. Lalu suara pe­nyanyi wanita mengalun, sebentar-sebentar ada dialog wanita tua yang segera disambut’tawa ria penonton. Itulah suasana menjelang senja, ketika enam orang wanita, empat diantaranya sudah berke­riput kulit mukanya, sementara mulutnya tak berhenti mengunyah sirih, memainkan apa yang disebut Gedhogan atau Gendhongan. Batang kayu yang telah dibuat ceruk, dalam ukuran panjang dan besarnya yang berbeda-beda, sehari-harinya berfungsi sebagai alat pengalas menghancurkan kulit padi untuk dirubah jadi beras, atau sering juga untuk melumatkan biji jagung ataupun membuat tepung ketela pohon. Itulah Gedhogan atau Gendhongan. Adapun sebagai alat penumbuknya sendiri disebut ” Alu terbuat dari batang kayu sepanjang kira-kira dua meter dan bergaris tengah 7 cm. Tetapi dalam peristiwa permainan ini alat-alat tersebut telah berubah fungsi menjadi penghasil bunyi ritmis yang menimbulkan kenikmatan dengar khas. Pukulan masing-masingnya menghasilkan suatu esamble yang merangsang untuk diisi dengan berbagai perlakuan dan kegem- biraanpun dibangkitkan dalam suasana itu. Nyanyian diperdengar­kan oleh salah satu wanita itu.

Bunyi kluncing dari logam besi hitam mengisi sela-sela ritme, dan se­orang wanita tua bertindak sebagai Pengudang, yaitu mengisi suasana dengan monolognya yang memancing tawaria. Kalau permainan ini sudah mengarah kepada seni pertunjukan hibur­an, maka tidak jarang permainan dilengkapi pula dengan seorang laki-laki sebagai badut dan pelawak. 

Latar Belakang Sosial Budaya.

Semula wanita-wanita itu mempunyai tugas sebagai pekerja- pekerja penumbuk padi ketika dipanggil keluarga untuk memper­siapkan persediaan beras menjelang suatu perhelatan. Pekerjaan itu cukup berat dan karena banyaknya beras yang harus disediakan maka pekerjaanpun dilakukan berhari-hari.

Membosan­kan dan melelahkan. Untuk mengatasi kebosanan dan kelelahan itu­lah diantara phase-phase proses pembuatan beras dari padi itu mere­ ka menyanyikan lagu-lagu. Tak disadari ia memerlukan suatu kejelas­an ritme lagu, maka tanganpun memainkan pukulan-pukulan alu dipermukaan-permukaan gedhogan itu. Ritme itupun disahut secara spontan oleh rekan-rekannya.

Nikmat juga rasanya, dan tanpa lagupun permainan ini cukup menyegarkan kelelahan pikir dan tenaga yang seharian diperas tak henti-hentinya itu. Jadilah kini orang ber­main Gedhogan atau Gendhongan itu. Sebatang logam yang dipukul dengan logam pula, serupa benar dengan pisau yang kasar dan logam kecil penumbuk sirih, menghasilkan denting yang menambah har­monisasi dentam Gedhogan. Naluri Aestetika melembagakan per­mainan ini kearah seni hiburan segar.

Dan kini ketika beras tidak lagi dihasilkan dari padi lewat proses tra­disi Gedhogan, maka permainan Gedhogan atau Gendhonganpun surut dari kegiatan di desa. Akan tetapi tidak selalu demikian. Semu­la bunyi Gedhogan lengkap dengan intermesso bermainnya, menan­dai adanya suatu perhelatan di sebuah keluarga. Sanak saudara, te­tangga yang mendengar hendaknya segera siap untuk membantu me­nyiapkan segala kepentingan perhelatan, entah itu perkawinan entah pula khitanan.

Yang mau menyumbang materi, mendengar bunyi ge­dhogan ditabuh orang itupun berarti sudah ditunggu empunya kerja. Jadi cepat-cepatlah datang. Ini disebut “buwuh”. Dan kini ketika be­ras sudah dihasilkan oleh teknologi modern mesin penumbuk padi, maka ciri ini agak sulit dihilangkan. Tak kurang akal, wanita-wanita yang biasa bekerja untuk itu, tetap dapat dipanggil dengan tugas po­kok hanya bermain Gedhogan atau Gendhongan. Demikianlah rombongan yang dipimpin oleh Mak Tiah dari desa Derek-Sukosari itu kini sering ditanggap hanya untuk memainkan Gedhogan/Gendhongan itu sehari semalam. Dankini sebagai permin­taan yang sudah menjurus kearah bentuk seni hiburan itu perlu di­tampilkan dengan kelengkapan seni hihuran yang dirasa akan lebih menarik. Penyanyi tunggal dikhususkan untuk itu dan kadang kala ditambah dengan seorang pelawak. 

Peserta Permainan

Enam wanita dianggap cukup lengkap untuk penyajian per­mainan itu. Empat orang sebagai pemukul Gedhogan/Gendhongan, satu diantaranya merangkap sebagai “Pengundang”, yaitu pembangkit suasana kegembiraan lewat monolog-monolognya. Seorang lagi sebagai penyanyi, dan seorang lagi pemukul kluncing. Sekalipun pa­da umumnya permainan ini dilakukan oleh wanita-wanita tua, akan tetapi kekuatan fisiknya haruslah masih kuat juga mengingat berjam- jam mereka harus main, Agak sulit memang menggantikan peranan wanita-wanita tua itu, karena kemampuannya dalam menyanyi, membuat perlaguan yang tak pernah ada notasinya, serta bertindak sebagai “pengundang”, merupakan keahlian yang diperolehnya da­lam waktu yang cukup lama melewati banyak pengalaman. Dalam acara-acara yang lengkap sering ditambahkan seorang laki-laki yang bertindak sebagai pelawak, sehingga dengan demikian suasa­na menjadi benar-benar menuju ke arah suatu seni pertunjukkan. 

Peralatan Permainan

Gedhogan/Gendhongan terbuat dari batang kayu nangka. Ukuran panjangnya bermacam-macam. Satu buah terbesar dan ter­panjang rupanya berfungsi pokok sebagai gong. Panjangnya hampir dua meter, dengan garis tengah hampir 30 cm. Empat yang lain nam­pak lebih kecil. Ada yang sepanjang 1/2 meter, 1 meter, atau lebih pendek lagi. Garis tengahnya rata-rata 25-30 cm. Empat Gedhogan- Gendhongan yang terakhir ini berfungsi sebagai Kendhang, Kempul dan Othek. Jadi dari kelima alat permainan itu masing-masing meng­hasilkan bunyi berbeda satu sama lainnya. Adapun sebagai alat pe­mukulnya dipergunakan Alu yaitu batang kayu sejenis dengan uku­ran panjang sekitar dua meter dan bergaris tengah sekitar 7 cm. Beberapa buah alat pemukul itu ada juga yang berukuran lebih pen­dek dan lebih kecil, karena diperlukan bunyi tersendiri pula. Karena variasi pukulan baik Gedhogan/Gendhongan maupun alunya itu ter­jadilah suatu ensamble musik yang enak.

Peralatan itu masih ditambah lagi dengan sebatang logam sepanjang kurang lebih 20 cm dengan alat pemukul batang logam kecil sepan­jang sepuluh cm. Alat itu disebut Kluncing. Diletakkan pada suatu jagrag dari kayu. Gedhogan itu diletakkan begitu saja di atas tanah, berjajar berde­sakan. Sedang para pemainnya ada yang melakukan permainan de­ngan berdiri ada pula yang jongkok berjengket atau duduk di se­belah kursi pendek (dingklik). 

Jalannya Permainan.

Tiba di sebuah rumah yang sedang mempersiapkan perhelatan maka alat-alat itupun segera diatur tempatnya. Para pemain meng­ambil tempat dan alat pemukul. Biasanya pimpinan yang mengambil prakarsa untuk memainkan suatu lagu, tak perlu ia mengatakan lagu apa yang akan dimainkan itu. Cukuplah ia sebagai pantus memulai dengan suatu pola ritme pukulan tertentu. Segera yang lain-lain mengisi pola itu dan membuat suatu kerja sama permainan ritme ter­tentu. Penyanyipun segera menyuarakan lagu-lagunya. Banyak dian- taranya lagu-lagu tradisi yang sangat mereka gemari seperti : Erang- erang, Waru Doyong, Podo Nonton, Kosir-kosir, Sekarjenang, dan se- bagainya. Ternyata lagu-lagu ini juga dikenal lewat permainan atau­pun seni pertunjukkan lain seperti di dalam Sebiang, Gandrung dan Angklung.

Apabila suatu lagu sudah cukup lama dimainkan, maka “pantus” akan memberikan tanda-tanda tertentu untuk menggantikannya. Beberapa saat kemudian,, “pantus” membuat suatu pola ritme pu­kulan yang lain lagi dan rekan-rekannyapun berbuat sama, mengi­sinya dan meresponsnya sehingga terdengar suatu lagu yang lain lagi. Demikian terus menerus berjam-jam hal itu dilakukan. Semen­tara itu “Pengundang” tidak henti-hentinya melakukan monolog, diantaranya memperbincangkan kemerduan suara sinden, mengar­tikan syair-syair sang pesinden, atau juga kalimat-kalimat sindiran dan sanjungan bagi para pendengarnya.

Pengundang yang baik akan mampu membangkitkan simpati dan riuh tawa pendengarnya, kegembiraanpun dirasakan di sekitar. Sehingga dengan cara demikian akan banyaklah tamu-tamu yang datang di perhelatan baik mereka yang akan membantu persiapan perhelatan maupun yang datang untuk ‘buwuh’ (menyumbang materi). Orang menyebutnya peristiwa mengunjungi perhelatan itu dengan istilah “Kondhangan”. Sehingga rombongan Gedhogan/ Gendhongan yang di panggil untuk peristiwa itu sering dikatakan “ditanggap kango Kondhangan”, artinya diminta bermain untuk me­meriahkan perhelatan.

Peranannya Masa Kini

Rupanya dengan hadirnya tape rekorder di desa-desa yang mampu memberikan ‘tanda’ akan adanya suatu perhelatan, merupa­ kan salah satu sebab mengapa permainan ini sudah agak jarang di­lakukan orang. Lagi pula orang sudah tidak memerlukan lagi me­nyiapkan beras dengan menumbuk padi dalam Gedhogan. Beras giling masih lebih mudah diperoleh dan lebih murah di ong­kosnya dari pada harus mengupah wanita-wanita untuk menumbuk padi sehari-hari. Generasi kini juga kurang menghargai profesi pe­main Gedhogan , karena menganggap bahwa pekerjaan itu berasal dari buruh wanita yang kasar.

Dengan demikian dapat dikhawatir­kan bahwa permainan ini akan semakin langka didapatkan. Memang ada usaha-usaha masyarakat untuk meletakkan permainan itu sebagai suatu bentuk seni musik rakyat. Bersama pemerintah daerah setempat, sering juga diadakan semacam festival permainan Gedhogan/Gendhongan untuk memancing kegairahan masyarakat agar tetap dapat menghidupkan permainan itu sebagai suatu ben­tuk seni pertunjukan musik. Usaha itu tidaklah terlalu sia-sia kare­na ternyata bahwa di desa-desa lain orang juga sudah mulai beru­saha untuk tetap memiliki kelompok-kelompok pemain Gedhogan atau Gendhongan. Dan dengan pemain-pemain di kalangan anak-anak muda, permainan itu sudah sering muncul sebagai sebuah seni per­tunjukan.

179 -184

Patrol, Kabupaten Banyuwangi

Lokasi dan Daerah Penyebarannya

PATROLDesa Tumenggungan masih berada di dalam kota Banyuwangi, bekas  karesidenan Besuki,  Jawa Timur. agak di bagian timur terhadap alon-alon kota. Desa ini diambil con­toh dalam penelitian Patrol ini oleh karena beberapa kali kesempatan diadakan semacam kompetisi atau lomba patrol, baik sekota Banyu­wangi maupun sekabupaten Banyuwangi, selalu memperoleh penghargaan terbaik.

Lagi pula banyak penduduk di sana yang mempu­nyai keahlian menonjol khususnya dalam pembuatan alat-alat patrol dan musik angklung Banyuwangi pada umumnya.. Akan tetapi permainan patrol sendiri sangat populer hampir diselu- ruh kabupaten Banyuwangi, baik di kota maupun di desa-desa.

Hampir setiap kelompok masyarakat, kampung, pedukuhan, rukun tetangga, mempunyai’ perangkat patrol oleh karena alat musik ini sangat sederhana baik.cara pembuatannya maupun cara memainkan­nya. Semenjak anak-anak, orang remaja dan dewasa, sampai pun yang tua-tua suka sekali memainkannya. Fungsinya yang sangat penting sehubungan, dengan kegiatan di bulan Ramadhan, sebagai nanti akan dijelaskan kemudian, menyebabkan daerah penyebaran patrol ini mencakup hampir seluruh ujung timur Jawa Timur itu. Bahkan permainan ini dikenal juga di daerah Jember, Bondowoso dan Besuki. 

Suasana Permainan dan Latar Belakang Sosial

Salah satu aspek perwujudan kegotongroyongan masyarakat kita adalah kegiatan menjaga keamanan bersama atas lingkungan hidup kita. Kegiatan itu disebut meronda. Malam-malam sekelompok penduduk yang mendapat giliran meronda akan berjaga-jaga di suatu tempat di kampung dan beberapa kali melakukan pengawasan wila­yahnya dengan menginspeksi ini disebut patrol. Untuk mengusir kantuk, kesepian dan sekaligus menghalau penja­hat-penjahat yang akan mengganggu penduduk, maka dicarilah ber­bagai alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian.

Karena pohon bambu banyak didapatkan di sana maka paling mudah adalah me­motong-motong batang bambu itu dan menjadikan suatu alat perku­si atau alat tiup. Naluri aestetika telah mendorong ke arah permain­an musik yang sederhana yang dapat dinikmati. Demikianlah diciptakan berbagai bentuk potongan buluh bambu dengan berbagai cara memainkannya, sehingga menghasilkan perangkat permainan yang bersama-sama menghasilkan musik ensamble yang khas. Orangpun menyebutnya dengan istilah ‘musik patrol’, karena dimainkan ke­tika orang melakukan patrol.

Pada tengah malam sampai hampir menjelang fajar, kita dapat mendengarkannya di desa-desa atau di- kampung-kampung. Akan tetapi pada bulan Ramadhan kegiatan itu ternyata menjadi bertambah ramai dan meriah. Pada jam-jam men jelang sahur, selama sahur sampai menjelang subuh seluruh kelompok masyarakat memainkannya. Tujuan berpatrol dikembangkan men­jadi tujuan membangunkan orang untuk makan sahur.

Dan karena partisipasi remaja, anak-anak dan para pemuda lebih banyak muncul dalam bulan Ramadhan demikian, maka kemeriahanpun bertambah memuncak. Tidak sekedar memainkannya secara ritmis, tetapi ma­lahan banyak disertai dengan nyanyian-nyanyian tradisi daerah, nyanyian-nyanyian keagamaan dan malah nyanyian-nyanyian popu­ler pada masanya. Tak dapat dielakkan lagi alat-alat musiknyapun di­tambah dengan alat-alat musik yang lain seperti gendang, harmonika, gitar, kluncing (triangle), biola bahkan gong. Satu dan lain hal ter­gantung pada kemampuan masyarakat setempat.

Karena setiap desa, setiap kampung, bahkan setiap ling­kungan yang kecil di dalam masyarakat memainkan musik patrol itu pada bulan puasa, maka tidak jarang terjadi perarakan-perarakan mereka bertemu di perempatan jalan, di pertigaan atau di pusat- pusat kegiatan masyarakat seperti alon-alon, kantor desa, pasar dan sebagainya. Sengaja atau tidak pertemuan satu group dengan orang lain, akan mendorong mereka melakukan semacam kompetisi.

Yang satu akan memamerkan keunggulan dalam kekompakannya, yang lain kelengkapan alat-alatnya, yang lain lagi kemampuan menguasai ritme yang sangat sulit dan berbagai kemungkinan yang dianggap akan melebihi group lainnya. Kompetisi itu tidak saja terjadi antara dua group, karena amat sering terjadi lima group sekaligus bertemu di suatu tempat. Dapatlah dibayangkan betapa gaduh dan.ramainya suasana malam itu. Penduduk sekitarnya datang menyaksikan. Juga para suporter dari masing-masing group akan menambah pertemuan mereka menjadi lebih meriah lagi.

Tidak jarang ejek-cemoh, teriak­an dan tepuk tangan ikut memanaskan suasana. Orang menyebutnya dengan istilah ‘patrol caruk’, yang -artinya ‘perang’, kompetisi atau percampuran yang tidak menentu lagi antara pemain pemain patrol itu. Kegaduhan itu baru akan berakhir apabila adzan subuh telah ter­dengar dari masjid dan langgar-langgar, seakan menyerukan per­damaian, persahabatan dan memanggil mereka untuk menutup ma­lam Ramadhan itu dengan bersujud kehadapan Allah yang Maha Besar. Esok hari menahan haus dan lapar kembali, dan esok malam permainan dapat dimulai lagi. Demikianlah sepanjang bulan Rahmadan seluruh Ujung Timur Jawa Timur itu setiap malam dimeriahkan oleh permainan patrol. 

Latar Belakang Perkembangannya.

Sejak kapan permainan patrol ini ada sulitlah diketahui dengan pasti, tetapi mengingat bahwa peralatan yang dipergunakan adalah sangat sederhana, dan kebiasaan meronda sudah cukup dikenal di kalangan masyarakat, pastilah permainan ini juga sudah lama ada. Setidak-tidaknya karena kegiatan semacam ini mulai digalakkan se­jak jaman menjelang kemerdekaan, maka mungkin sekali juga per­mainan ini mulai dikenal.

Mengingat-istilah ‘patrol’ itu sendiri jelas berasal dari bahasa Belanda, maka dapatlah diduga bahwa kegiatan yang semula sudah dikenal dengan nama meronda itu atau ‘ronda’ mendapatkan istilah baru dengan nama ‘patrol’ itu. Tetapi musik bambu bukanlah barang baru di Indonesia. Sejak jaman Indonesia Hindu orang mengenal musik bambu sebagai yang dipergunakan dalam patrol itu dengan nama-nama ‘kenthongan’, angklung, calung, ‘khotekan’, pukul, ataupun tabuh. Pastilah jauh sebelum alat musik itu sudah dikenal sebab po­hon bambu sudah lama tumbuh subur dipelbagai daerah di Indonesia.

Selanjutnya karena kegiatan meronda itu sering tidak melibat­kan banyak orang, maka permainan patrol pada malam-malam di- luar bulan Ramadhanpun tidak selalu dilakukan orang. Kalau toh dilakukan, maka pasti tidak selengkap dan semeriah pada bulan Ramadhan. Sekedar memenuhi fungsinya menghalau kesepian dan mengusir penjahat yang membahayakan keamanan desa. Dan pada bulan Ramadhan, patrol dimainkan orang dengan lebih lengkap, meriah, penuh dengan nyanyian kegembiraan ataupun nyanyian keagamaan, memenuhi fungsinya sebagai pertanda waktu sahur. 

Pemain-pemainnya.

Tak ada batas usia bagi siapa saja yang memainkannya. Semua adalah laki-laki sejumlah delapan atau sampai sekitar dua pu­luh orang. Terbaur antara anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua. Yang jelas wanita pasti tidak ikut serta di dalamnya karena per­mainan dilakukan tengah malam sampai menjelang pagi. Pakaian me­reka sekenanya saja, pakaian sehari-hari yang mereka kenakan, dan tentu saja karena harus melawan udara dingin diwaktu malam, pa­kaian hangat tak akan mereka lupakan.

 

Peralatan permainan

Peralatan yang pokok dapat dibagi dalam tiga macam bentuk :

a.Bentuk angklung, yaitu potongan-potongan bambu dalam ukuran berurutan, kecil sampai yang besar, menghasilkan nada berurutan kecil sampai besar, menghasilkan nada berurutan dalam laras slendro (mirip slendro). Kadang-kadang hanya lima belah saja tetapi kadang-kadang sampai tujuh atau sembilan, tetapi tidak jarang hanya tiga buah dengan nada-nadanya yang berbeda. Bilah-bilah itu dirangkai dengan tali dan diatur sedemikian rupa hingga nantinya dapat dibaca dengan mudah sambil memainkan­nya.

b.Bentuk kenthongan, yaitu potongan bambu dengan belahan kecil memanjang batangnya sebagai resonator. Ada yang berbelah satu ada yang berbelah dua. Ukurannya pun bermacam-macam, ada yang kecil ada yang begitu besar.

c. Bentuk bumbung, yaitu potongan bambu ukuran besar sekali, panjang sekitar tiga ruas. Ada yang dihentakkan di atas tanah saja sudah menghasilkan suara bas, ada pula yang dengan meniupnya lewat 6uluh bambu yang lebih kecil, menghasilkan suara seperti gong.

 

Itulah sebenarnya alat yang pokok, akan tetapi sekarang ini banyak juga tambahan alat-alat musik yang lain baik dibuat dari bam­bu juga seperti seruling, dhung-dhung,othok-othok, maupun alat mu­sik lain seperti harmonika, gitar, gendhang, gong kempul, keluncing (triangle), biola dsb. 

Jalannya Permainan.

Permainan dapat dilakukan dengan berjalan maupun dengan duduk-duduk di suatu tempat. Tidak ada ketentuan alat musik yang mana akan mendahului dan memimpin permainan, sebab semuanya dilakukan dengan spontanitas bagitu saja. Bila dipakai untuk mengi­ringi lagu, itupun tergantung pada macam lagunya.

Kadang-kadang orang memulai dengan angklungnya baru yang lain mengisinya/ka­dang-kadang orang memulai dari kenthongannya, dan dapat juga dari bumbungnya. Tetapi untuk menjaga kekompakan biasanya salah se­orang yang berpengaruh ditunjuk memegang salah satu alat yang me­nonjol bunyinya dan selanjutnya menjadi pemimpin permainan. Alat demikian disebut “pantus”. Pantus memberi tanda dimulainya permainan dan juga tanda kapan harus dihentikan. Kalau disertai gendhang juga berfungsi sebagai pantus. 

Tanggapan Masyarakat

Sampai sekarang orang masih sangat menggemari permainan ini. Kecuali untuk memenuhi fungsi sebagai pengingat waktu sahur di bulan Ramadhan, tradisi meronda itu sendiri sekarang masih dijalan­kan di segala tempat. Malahan ada usaha-usaha sementara seniman untuk menjadi­kan alat permainan itu menjadi instrument musik yang khas bagi Ba­nyuwangi.

Dan nyatanya memang dapat dipergunakan untuk mengiringi lagu-lagu Banyuwangi sendiri baik yang tradisional maupun yang garapan baru. Perkembangannya yang paling jauh adalah lahir­nya musik angklung yang khas Banyuwangi, di mana potongan-po­tongan bambunya membentuk angklung tersusun semacam calung dan dapat dipergunakan untuk laras pelog dan slendro.

Sehingga disebut pula angklung dwilaras. Perangkat angklung dwi- laras ini dilengkapi dengan gong, ining-ining (kluncing), gendhang, biola, kethuk-kenong. Angklung dwilaras disebut juga dengan ang­klung Blambangan.

Usaha masyarakat untuk melestarikan permainan itu diwujud­kan pula dengan penyelenggaraan kompetisi secara lebih terorganisir dan terarah, sehingga ekses-ekses ‘patrol caruk’ dapat dihindarkan. Usaha ini banyak dibantu dan diprakarsai oleh pemerintah setempat.

PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 173- 179

Gerilya di Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi

Sejarah Gerilya di Singojuruh

Dusun Pasinan Desa/Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi jadi pembicaraan publik. Hal itu setelah muncul kabar penemuan sebuah terowongan misterius terpendam di areal persawahan. Kabar ini memancing rasa penasaran warga luar daerah untuk mendatangi lokasi. Warga pun silih berganti memadati lokasi penemuan.

Namun belum diketahui secara pasti asal usul tero­wongan menyerupai goa tersebut. Sejumlah’sejarawan Banyuwangi dari Yayasan Sejarah Blambangan sudah turun ke lokasi untuk melakukan penelitian awal. Terowongan itu terpendam dua meter di dalam tanah dan ditemukan oleh Suparman, pemilik sawah.

Saat itu Suparman secara tak sengaja mengetahui ada lubang memanjang saat membuat sumur. Para sejarawan Banyuwangi, yang ikut meneliti goa ini, mengatakan, pintu masuk terowongan diketahui berdiameter 90 centimeter dan memanjang mencapai 16 meter di dalam tanah.

Semakinke dalam, ruang terowongan semakin melebar dengan tinggi hampir satu meter. Dinding terowongan merupakan tanah cadas berwarna kemerahan.

“Di ujung goa saya bisa duduk, tapi masuknya kita harus merangkak,” ungkap Agus Mursyidi, sejarawan Banyuwangi, pada wartawan, Selasa (19/6).

Lebih lanjut dia menjelaskan, di langit-langit goa banyak stalagtit yang panjangnya bervariasi, antara 10 hingga 30 centimeter. Diperkirakan terowongan tersebut berusia 300 tahun. Itu jika dihitung dari panjang stalagtit itu, yang tiap 1 centimeter stalagtit berusia 10 tahun. Sayangnya stalagtit banyak yang rusak akibat tersenggol warga yang masuk.

“Setiap 1 centimeter stalagtit berusia 10 tahun,” lanjut Agus, yang juga dosen sejarah di Universitas PGRI Banyuwangi ini.

Kemungkinan terowongan itu dulunya adalah saluran irigasi di abad ke-18. Kemungkinan lainnya, adalah benteng pertahanan di masa peperangan melawan kolonial VOC/Belanda tahun 1771. Meski begitu masih perlu penelitian lebih lanjut dari ahli arkeologi dan geologi. Untuk itu, temiiari terowongan misterius tersebut akan dilaporkan ke pihak terkait.

“Tim akan melaporkan temuan ini kepada Balai Kepurbakalaan di Bandung” timpal Ketua Yayasan Sejarah Blambangan, Suhailik, pada wartawan di lokasi.

Zaman Jepang

Namun Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) di Trowulan, Mojokerto, akhirnya juga turun ke lokasi untuk menelitinya. Alhasil, terowongan tersebut diduga sisa masa perang gerilya pra-kemerdekaan atau zaman Jepang.

“Kemungkinan dipakai gerilya bawah tanah,” kata arkeolog BP3 Trowulan, Wicaksono, pada wartawan, Rabu (20/6).

Dia menjelaskan, terowongan Pasinan memiliki kesamaan ciri-ciri dengan saluran-saluran bawah tanah yang ditemukan di Yogyakarta. Yakni, saluran berada

di antara dua sungai dan dindingnya terbuat dari tanah. Di dalam terowongan yang menyerupai goa tersebut, juga tidak ditemukan petunjuk arkeologis yang berguna untuk menentukan periode terowongan. Karena itu BP3 memastikan terowongan ini tidak berusia ratusan tahun. Terlebih terowongan hanya di kedalaman 1,8 meter di bawah tanah. “Kalau dangkal kecil kemungkinan berusia ratusan tahun,” tambahnya, (toyib)

Suara Desa, Edisi 05, 15-Juni 15 Juli 2012, hlm. 15.

Anneke Puteri, Kabupaten Banyuwangi

aneke_24 Agustus 1966, Anneke Lutfia Puteri Banyuwangi, Jawa Timur Indonesia. putri bungsu dari delapan bersaudara pasangan H Moh Amah dan H Rosida.

Anneke adalah istri dari Ronggur Sihombing, sutradara muda yang juga anak dari pasangan sutradara Wahyu Sihombing dan penulis skenario Tatiek Maliyati.

Tahun 1980-an,  Anneke adalah seorang bintang model dan film Indonesia.

Tahun 1985, karier Anneke semula sebagai pemain film ketika ia mendukung Rano Karno dan Merriam Bellina dalam Tak Ingin Sendiri. Film arahan sutradara Ida Farida produksi PT Kanta Indah Film itu, temanya diangkat dari lagu populer karya penyanyi Dian Pisesha.

Tahun 1986, Anneke berperan pada film 7 MANUSIA HARIMAU dan  MENUMPAS TERORIS.

Kegiatan lainnya, menjadi penulis lepas di beberapa majalah dan tabloid. Pernah juga menerbitkan Kumpulan Puisi dan rekaman kaset cerita anak-anak dan lagu.

Tahun 1987, film yang dibintangi Anneke Putri KELABANG SERIBU.

Tahun 1988, Anneke berperan pada film SAUR SEPUH SATRIA MADANGKARA dan  SAUR SEPUH II.

Tahun 1989, Anneke berperan pada film GERBANG KEADILAN .

Tahun 1989, film yang dibintangi Anneke Putri GADIS FOTO MODEL. 

Tahun Tahun 1990,  Anneke alumni Fakultas Sastra Universitas Nasional.

Tahun 1990, film yang dibintangi Anneke Putri PEDANG NAGA PASA.

Tahun 1991, Anneke berperan pada film SAUR SEPUH IV. 

6 Oktober 1992,  pasangan Anneke Putri dan Ronggur Sihombing dan melangsungkan pernikahan.  mereka bertemu di film Soerabaya 45. Dikaruniai Talitha Rahma, putri semata wayang. 

Tahun 1995, Anneke alumni The London School of Public Relations, dan mengikuti sejumlah kursus.

Selain itu ibu tiga anak ini – dua perempuan, satu lelaki, hasil pernikahannya dengan Saiful G. Wathon juga seorang penulis majalah dan tabloid hiburan. Bahkan pernah menerbitkan kumpulan puisi, kaset cerita, dan lagu anak-anak. Belakangan juga bermain sinetron, di antaranya menggantikan peran Emak dalam serial drama KELUARGA CEMARA.

Tahun 2000, setelah menunaikan ibadah umrah, ia bertekad untuk lebih memperbaiki kualitas hidup.

November 2002, perkawinan Anneke Putri dan Ronggur Sihombing yang sudah terjalin selama 10 tahun kandas.

25 Januari  200?, hidupnya sudah ditemani Syaeful G. Wathon, putra dari sutradara Chairul Umam.  pernikahan mereka sudah diresmikan silam.

Anneke Putri juga menjalankan bisnis lain di luar kegiatan seni peran, Anne merancang perhiasan berdasar pesanan. Dari jenis giwang, cincin, kalung, gelang hingga tusuk kerudung. Ciri khas rancangannya chic, selalu memakai berlian dan bahan pengikat dari emas. “Mau pakai mata zamrud, topaz, safir, rubi, amethys atau apa saja, pasti ada berliannya. Aku merancang feeling so good. Buktinya, banyak teman suka desainku,”.

=S1Wh0T0=