Masjid Tiban Temenggung, Kabupaten Blitar

masjid-tiban-temenggungBanyak kisah misteri di balik keberadaan Masjid Tiban. Karena keberadaannya sering dianggap “Dari Langit”, masjid-masjid demikian acap dijadikan tempat bermunajab atas harapan.kecermelangan hidup dan masa depan.

Di mana sajakah masjid-masjid PARAWALI itu berada, dan apa saja keistimewaannya?

Pertama diketahui, bersamaan dengan peristiwa pembabatan hutan. Warga Dusun Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jatim, menyebutnya sebagai Masjid Tiban. Disebutkan demikian, karena masjid itu tiba- tiba ada. Tiba-tiba bercokol di salah satu sudut desa mereka, tanpa sempat diketahui proses pembuatannya Karenanya, banyak juga yang menganggap masjid itu dari langit. Tepatnya, turun dari langit, dan jatuh di salah satu sudut Dusun Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu. “Ya, masjid itu seolah-olah turun dari langit, dan jatuh di salah satu sudut desa kami,” ujar beberapa warga Desa Temenggung.

Orang pertama yang berjasa atas keberadaan masjid itu adalah Abdullah Islam (alm). Dia seorang ulama besar yang berkaliber Wali. Itulah sebabnya, Abdullah Islam pun semasa hidupnya akrab disapa masyarakat setempat sebagai Mbah Wali. “Dia memang seorang Wali, sehingga tidak salah kalau masyarakat di sini menyebutnya Mbah Wali,” ujar Siti Fatonah (70), salah seorang menantu Mbah Wali.

Di Kabupaten Blitar dan sekitarnya, masjid tiban di Dusun Gembong ini populer dengan sebutan Masjid Kuno. Pihak Pemda setempat mengiventarisir masjid itu sebagai cagar budaya yang perlu dilindungi. Tetapi sayangnya, tampak muka masjid ini hilang sama sekali oleh bangunan masjid baru yang disebut-sebut seba­gai hasil renovasi.

Keterangan yang berhasil dihimpun LIBERTY menyebutkan, masjid itu pertama kali diketahui bersamaan dengan pembabatan hutan setempat untuk dijadikan hunian. Ketika pem­babatan hutan terjadi, mendadak warga terbelalak oleh sebuah masjid yang terdapat di tengah hutan. Masyarakat pun lalu menyebutnya sebagai masjid tiban, karena tanpa sempat mengetahui proses pembuatannya.

Rajjah Allah Tanpa Alif

Masjid tersebut disebut-sebut foto copy dari Masjid Nabawi di Madinah. Empat menara yang menjulang tinggi menghias di setiap sudutnya. Pada pokok menara, terdapat jamban de­ngan air yang tak pernah kering se- kalipun di musim kemarau panjang. “Air pada menara-menara itu, banyak dipercaya masyarakat berkhasiat kesembuhan,” terang Fatonah.

Konon, penyakit apapun bisa di- sembuhkan dengan air di jamban me­nara-menara masjid itu. Mulai dari penyakit kulit, hingga penyakit dalam. Khasiat kesembuhan pada air tersebut, disebut-sebut sebagai tuah dari air zam-zam yang telah bersenyawa sejak zaman Mbah Wali. “Mbah Wali lah orang pertama yang mengatakan kalau air di jamban menara-menara itu sudah bercampur de­ngan air zam-zam,” ungkap Fatonah.

Uniknya, hampir setiap sudut masjid itu dirajah dengan tulisan arab Allah tanpa huruf alif. Mulai dari kusen-kusennya, daun pintu, daun jendela, bahkan pilar, reng dan usuk-usuknya. Tulisan arab Allah itu tam­pak timbul dengan postur huruf yang sangat lembut dan sangat kecil-kecil. Kayu- kayunya merupakan kayu jati pilihan.

Rajah Allah tanpa huruf alif itu sengaja dibuat oleh Mbah Wali. Menurut Fatonah, semasa hidupnya dalam setiap tarikan nafasnya Mbah Wali selalu menyebut Allah, Allah, Allah dan Allah. “Tulisan Allah tanpa huruf Alif itu seperti yang pernah dikatakan oleh Mbah Wali, Alif-nya adalah dirinya sendiri. Tetapi saya tidak tahu maksudnya, mengapa harus begitu,” urai Fatonah.

Barangkali, Mbah Wali ini seorang sufi. Dia ibaratkan dirinya sebagai Alif, yang hanya akan bermakna dalam jika digan- dengkan dengan “llah”. Diapun hidup kare­na “llah”. Dia pun baru berarti karena “llah”. Dia pun sebagai manusia Islam, hanya karena “llah”.

Wingit

“Dulu, kecilan saya dulu, masjid itu tampak wingit sekali. Saking wingitnya, anak-anak kecil sampai banyak yang tidak berani datang sendirian ke masjid itu,” kenang Solekan, seorang kepaia SMPN Ponggok yang tinggal tidak jauh dari masjid tiban ini. “Sayapun, dulu takut sekali jika harus ke masjid itu seorang diri,” lanjut Solekan.

Wingitnya masjid itu, konon seringnya digunakan oleh jin-jin Islam untuk ikut sholat berjamaah bersama umat muslim lainnya. Jiivjin memang tidak selalu me- nampakkan diri, namun kehadirannya cukup bisa dirasakan oleh jamaah yang melaksanakan sholat di masjid tersebut.

Beberapa warga setempat menyebutkan perihal “terasanya” kehadiran jin-jin Islam sewaktu sholat di masjid tiban te- menggung ini. Ketika sholat berjamaah hanya terdiri dari beberapa orang, tiba-tiba ketika usai membaca surat Al Fatihah yang “mengamini” terdengar banyak sekali, sehingga suaranya pun tidak sebanding dengan jamaah yang ada.

Masih segar dalam ingatan Solekan, kesan wingit atas masjid tiban di Temeng- gung ini sudah terasa sewaktu menjejakkan kaki di halamannya. “Tetapi sekarang barn bisa merasakan kesan wingit dari masjid itu setelah masuk kedalamnya,” tegas Solekan yang ditemui LI­BERTY di kediamannya.

Seorang pengurus masjid tiban yang masih kerabat Mbah Wali menyebutkan, di dalam masjid itu ada lampu-lampu minyak kuno yang aneh. Dikatakan aneh, karena sewaktu Mbah Wali masih hidup, lampu-lampu minyak akan menyala sepanjang malam meski tanpa diisi minyak. “Inilah lampu- lampu minyak itu,” ujar M Basuni sambil menunjukkan lampu yang dimaksud pada LIBERTY.

Basuni adalah cucu menantu Mbah Maksum, salah seorang putra Mbah Wali. Putra lain Mbah Wali adalah Sulaiman Zuhdi. Fatonah sendiri merupakan istri dari Mbah  Maksum. Kini, jasad Mbah Wali,  Mbah Maksum dan Mbah Sulaiman Zuhdi tempat imaman masjid tiban itu.

Lampu-Jampu minyak itu sendiri, kini tergantung melingkar di pilar tengah masjid yang menjelang di antara empat soko guru (empat pilar penyangga atap). Lampu-lampu itu, tam­pak berdebu dan tersusun sedemikian rupa dari bawah hingga pucuk pilar te­ngah. Jumlah sangat banyak, dan dari dulu hingga sekarang tempatnya pun relatif tak berubah.

Tak Pernah Sepi Pengunjung

Meski letaknya relatif terpencil, namun masjid tiban Temenggung ini hampir tidak pemah sepi dari pengunjung. Mereka datang dari berbagai pelosok Nusantara. Beberapa warga setem­pat sempat bingung, dari mana pe­ngunjung itu tahu kalau di Dusun Gem- bong ada masjid tiban yang membetot hasrat mereka untuk mengunjunginya dan berolah spiritual.

Tidak sedikit di antara para pengun­jung itu yang datang karena mendapat petunjuk lewat mimpi. Mereka terlebih dahulu bermimpi melihat masjid yang belum pernah sekalipun didatanginya itu. Tidak sedikit pula yang datang karena bisikan gaib yang menyuarakan kebe- radaan masjid tiban Temenggung.

Pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini, tidak sedikit di antara para pengunjung itu yang beritikaf di masjid itu dengan tadarus, wind dan dzikir. Dzikir mereka pun meniru Mbah Wali, yakni Allah … Allah … Allah …, dalam bilangan ribuan kali.

Seorang pengunjungyang mengaku datang dari Jawa Barat mengaku, kedatangannya ke masjid tiban di Temenggung ini untuk mohon petunjuk atas bisnis yang tengah dijalankan. Lelaki setengah baya itu kepada LIBERTY mengaku bernama Imron. Tetangga saya di Pekalongan, setelah dzikir di sini dagang batiknya sukses. Dulu, dia tak pernah bisa membayangkan akan bisa menghidupi anak-anak yatim hingga 10 orang, tetapi setelah mohon petunjuk di masjid ini semuanya berjalan lancar. Rejekinya pun berlimpah,” urai Imron yang mengaku buka usaha perbengkelan.

Tidak takutkah Imron berdzikir sambil memilin-milin biji tasbih di dalam masjid yang benar-benar terkesan wingit itu? “Tidak ada yang saya takutkan, kecuali Allah,” kata Imron menjawab pertanyaan LIBERTY.

Banyak Imron-imron yang lain, datang ke masjid tiban di Temenggung itu dalam rangka ikhtiar atas usahanya. Mereka, datang ke masjid itu dengan penuh keyakinan, bahwa Allah akan menolongnya. “Tetapi ya tidak mungkin toh, hanya berdiam di masjid lantas Tuhan men- jatuhkan rejeki dari langit begitu saja. Jadi, di sini ini selain berdoa ya juga harus be- kerja keras,” aku Imron.

Suasana religius masjid tiban Temenggung benar-benar sangat terasa, bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Di atas hamparan sajadah, tanpa penerangan sedikit pun, mereka mewirid Asmaul Husna (99 sebutan- sebutan bagus untuk Allah SWT) •EMTE

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 38-40

Masjid Tiban Temenggung, Kabupaten Blitar

masjid-tiban-temenggungBanyak kisah misteri di balik keberadaan Masjid Tiban. Karena keberadaannya sering dianggap “Dari Langit”, masjid-masjid demikian acap dijadikan tempat bermunajab atas harapan.kecermelangan hidup dan masa depan.

Di mana sajakah masjid-masjid PARAWALI itu berada, dan apa saja keistimewaannya?

Pertama diketahui, bersamaan dengan peristiwa pembabatan hutan. Warga Dusun Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jatim, menyebutnya sebagai Masjid Tiban. Disebutkan demikian, karena masjid itu tiba- tiba ada. Tiba-tiba bercokol di salah satu sudut desa mereka, tanpa sempat diketahui proses pembuatannya Karenanya, banyak juga yang menganggap masjid itu dari langit. Tepatnya, turun dari langit, dan jatuh di salah satu sudut Dusun Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu. “Ya, masjid itu seolah-olah turun dari langit, dan jatuh di salah satu sudut desa kami,” ujar beberapa warga Desa Temenggung.

Orang pertama yang berjasa atas keberadaan masjid itu adalah Abdullah Islam (alm). Dia seorang ulama besar yang berkaliber Wali. Itulah sebabnya, Abdullah Islam pun semasa hidupnya akrab disapa masyarakat setempat sebagai Mbah Wali. “Dia memang seorang Wali, sehingga tidak salah kalau masyarakat di sini menyebutnya Mbah Wali,” ujar Siti Fatonah (70), salah seorang menantu Mbah Wali.

Di Kabupaten Blitar dan sekitarnya, masjid tiban di Dusun Gembong ini populer dengan sebutan Masjid Kuno. Pihak Pemda setempat mengiventarisir masjid itu sebagai cagar budaya yang perlu dilindungi. Tetapi sayangnya, tampak muka masjid ini hilang sama sekali oleh bangunan masjid baru yang disebut-sebut seba­gai hasil renovasi.

Keterangan yang berhasil dihimpun LIBERTY menyebutkan, masjid itu pertama kali diketahui bersamaan dengan pembabatan hutan setempat untuk dijadikan hunian. Ketika pem­babatan hutan terjadi, mendadak warga terbelalak oleh sebuah masjid yang terdapat di tengah hutan. Masyarakat pun lalu menyebutnya sebagai masjid tiban, karena tanpa sempat mengetahui proses pembuatannya.

Rajjah Allah Tanpa Alif

Masjid tersebut disebut-sebut foto copy dari Masjid Nabawi di Madinah. Empat menara yang menjulang tinggi menghias di setiap sudutnya. Pada pokok menara, terdapat jamban de­ngan air yang tak pernah kering se- kalipun di musim kemarau panjang. “Air pada menara-menara itu, banyak dipercaya masyarakat berkhasiat kesembuhan,” terang Fatonah.

Konon, penyakit apapun bisa di- sembuhkan dengan air di jamban me­nara-menara masjid itu. Mulai dari penyakit kulit, hingga penyakit dalam. Khasiat kesembuhan pada air tersebut, disebut-sebut sebagai tuah dari air zam-zam yang telah bersenyawa sejak zaman Mbah Wali. “Mbah Wali lah orang pertama yang mengatakan kalau air di jamban menara-menara itu sudah bercampur de­ngan air zam-zam,” ungkap Fatonah.

Uniknya, hampir setiap sudut masjid itu dirajah dengan tulisan arab Allah tanpa huruf alif. Mulai dari kusen-kusennya, daun pintu, daun jendela, bahkan pilar, reng dan usuk-usuknya. Tulisan arab Allah itu tam­pak timbul dengan postur huruf yang sangat lembut dan sangat kecil-kecil. Kayu- kayunya merupakan kayu jati pilihan.

Rajah Allah tanpa huruf alif itu sengaja dibuat oleh Mbah Wali. Menurut Fatonah, semasa hidupnya dalam setiap tarikan nafasnya Mbah Wali selalu menyebut Allah, Allah, Allah dan Allah. “Tulisan Allah tanpa huruf Alif itu seperti yang pernah dikatakan oleh Mbah Wali, Alif-nya adalah dirinya sendiri. Tetapi saya tidak tahu maksudnya, mengapa harus begitu,” urai Fatonah.

Barangkali, Mbah Wali ini seorang sufi. Dia ibaratkan dirinya sebagai Alif, yang hanya akan bermakna dalam jika digan- dengkan dengan “llah”. Diapun hidup kare­na “llah”. Dia pun baru berarti karena “llah”. Dia pun sebagai manusia Islam, hanya karena “llah”.

Wingit

“Dulu, kecilan saya dulu, masjid itu tampak wingit sekali. Saking wingitnya, anak-anak kecil sampai banyak yang tidak berani datang sendirian ke masjid itu,” kenang Solekan, seorang kepaia SMPN Ponggok yang tinggal tidak jauh dari masjid tiban ini. “Sayapun, dulu takut sekali jika harus ke masjid itu seorang diri,” lanjut Solekan.

Wingitnya masjid itu, konon seringnya digunakan oleh jin-jin Islam untuk ikut sholat berjamaah bersama umat muslim lainnya. Jiivjin memang tidak selalu me- nampakkan diri, namun kehadirannya cukup bisa dirasakan oleh jamaah yang melaksanakan sholat di masjid tersebut.

Beberapa warga setempat menyebutkan perihal “terasanya” kehadiran jin-jin Islam sewaktu sholat di masjid tiban te- menggung ini. Ketika sholat berjamaah hanya terdiri dari beberapa orang, tiba-tiba ketika usai membaca surat Al Fatihah yang “mengamini” terdengar banyak sekali, sehingga suaranya pun tidak sebanding dengan jamaah yang ada.

Masih segar dalam ingatan Solekan, kesan wingit atas masjid tiban di Temeng- gung ini sudah terasa sewaktu menjejakkan kaki di halamannya. “Tetapi sekarang barn bisa merasakan kesan wingit dari masjid itu setelah masuk kedalamnya,” tegas Solekan yang ditemui LI­BERTY di kediamannya.

Seorang pengurus masjid tiban yang masih kerabat Mbah Wali menyebutkan, di dalam masjid itu ada lampu-lampu minyak kuno yang aneh. Dikatakan aneh, karena sewaktu Mbah Wali masih hidup, lampu-lampu minyak akan menyala sepanjang malam meski tanpa diisi minyak. “Inilah lampu- lampu minyak itu,” ujar M Basuni sambil menunjukkan lampu yang dimaksud pada LIBERTY.

Basuni adalah cucu menantu Mbah Maksum, salah seorang putra Mbah Wali. Putra lain Mbah Wali adalah Sulaiman Zuhdi. Fatonah sendiri merupakan istri dari Mbah  Maksum. Kini, jasad Mbah Wali,  Mbah Maksum dan Mbah Sulaiman Zuhdi tempat imaman masjid tiban itu.

Lampu-Jampu minyak itu sendiri, kini tergantung melingkar di pilar tengah masjid yang menjelang di antara empat soko guru (empat pilar penyangga atap). Lampu-lampu itu, tam­pak berdebu dan tersusun sedemikian rupa dari bawah hingga pucuk pilar te­ngah. Jumlah sangat banyak, dan dari dulu hingga sekarang tempatnya pun relatif tak berubah.

Tak Pernah Sepi Pengunjung

Meski letaknya relatif terpencil, namun masjid tiban Temenggung ini hampir tidak pemah sepi dari pengunjung. Mereka datang dari berbagai pelosok Nusantara. Beberapa warga setem­pat sempat bingung, dari mana pe­ngunjung itu tahu kalau di Dusun Gem- bong ada masjid tiban yang membetot hasrat mereka untuk mengunjunginya dan berolah spiritual.

Tidak sedikit di antara para pengun­jung itu yang datang karena mendapat petunjuk lewat mimpi. Mereka terlebih dahulu bermimpi melihat masjid yang belum pernah sekalipun didatanginya itu. Tidak sedikit pula yang datang karena bisikan gaib yang menyuarakan kebe- radaan masjid tiban Temenggung.

Pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini, tidak sedikit di antara para pengunjung itu yang beritikaf di masjid itu dengan tadarus, wind dan dzikir. Dzikir mereka pun meniru Mbah Wali, yakni Allah … Allah … Allah …, dalam bilangan ribuan kali.

Seorang pengunjungyang mengaku datang dari Jawa Barat mengaku, kedatangannya ke masjid tiban di Temenggung ini untuk mohon petunjuk atas bisnis yang tengah dijalankan. Lelaki setengah baya itu kepada LIBERTY mengaku bernama Imron. Tetangga saya di Pekalongan, setelah dzikir di sini dagang batiknya sukses. Dulu, dia tak pernah bisa membayangkan akan bisa menghidupi anak-anak yatim hingga 10 orang, tetapi setelah mohon petunjuk di masjid ini semuanya berjalan lancar. Rejekinya pun berlimpah,” urai Imron yang mengaku buka usaha perbengkelan.

Tidak takutkah Imron berdzikir sambil memilin-milin biji tasbih di dalam masjid yang benar-benar terkesan wingit itu? “Tidak ada yang saya takutkan, kecuali Allah,” kata Imron menjawab pertanyaan LIBERTY.

Banyak Imron-imron yang lain, datang ke masjid tiban di Temenggung itu dalam rangka ikhtiar atas usahanya. Mereka, datang ke masjid itu dengan penuh keyakinan, bahwa Allah akan menolongnya. “Tetapi ya tidak mungkin toh, hanya berdiam di masjid lantas Tuhan men- jatuhkan rejeki dari langit begitu saja. Jadi, di sini ini selain berdoa ya juga harus be- kerja keras,” aku Imron.

Suasana religius masjid tiban Temenggung benar-benar sangat terasa, bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Di atas hamparan sajadah, tanpa penerangan sedikit pun, mereka mewirid Asmaul Husna (99 sebutan- sebutan bagus untuk Allah SWT) •EMTE

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 38-40

Sukarni Kartodiwirjo

SUKARNI KARTODIWIRJO.Sukarni Kartodiwirjo lahir 14 Juli 1916 di Desa Sumberdiren, Kecamatan Garum, Blitar, Jawa Timur.
Riwayat Perjuangan
Pada tahun 1930-an Sukarni bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) sejak bersekolah di MULO Blitar. Ia dikirim oleh Pengurus Partindo Blitar untuk mengikuti kegiatan pendidikan kader Partindo di Bandung yang pembimbing utamanya Ir. Soekarno.
Setelah mengikuti pendidikan kader Partindo, Sukarni mendirikan organisasi Persatuan Pemuda Kita dan bergabung dengan Indonesia Muda Cabang Blitar.
Karir Sukarni dalam Indonesia Muda meningkat dari Ketua Cabang Blitar menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Indonesia Muda pada tahun 1935. Untuk menghindari penangkapan Politieke Inlichtingen Dienst (PID) Sukarni menyelamatkan diri ke Jawa Timur dan bersembunyi di pondok pesantren di Kediri dan di Banyuwangi.
Dengan menggunakan nama samaran Maidi, pada tahun 1938 Sukarni menyeberang ke Kalimantan. Pada tahun 1941 Sukarni tertangkap PID di Balikpapan kemudian dipindahkan ke penjara Samarinda, Surabaya, dan Batavia. Sesudah divonis hukuman pembuangan ke Boven Digoel, sementara ditahan di Penjara Garut. Amar putusan pembuangan ke Boven Digoel tidak terlaksana karena berakhirnya kekuasaan pemerintah Hindia Belanda pada Maret 1942.
Setelah Pemerintah pendudukan Jepang membebaskan seluruh tahanan politik, Sukarni bekerja di Sendenbu (Departemen Propaganda). Bersama tokoh pemuda Indonesia lainnya antara lain Supeno, Chairul Saleh, Adam Malik membentuk Angkatan Baru Indonesia bermarkas di Jalan Menteng 31, Jakarta. Sukarni sebagai Ketua Asrama Menteng 31.
Sukarni bersama kawan-kawannya di Asrama Menteng 31 mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan dan membawa keduanya ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Pada sore harinya keduanya dibawa kembali ke Jakarta dan malamnya dilakukan perumusan naskah proklamasi di Jalan Imam Bonjol No.1, Jakarta (rumah Laksamana Tadashi Maeda).
Setelah Proklamasi, Sukarni menghimpun kekuatan pemuda mendukung pemerintah Republik Indonesia. Pada 3 September 1945 memprakarsai pengambialihan Jawatan Kereta Api, bengkel Manggarai dan stasiun-stasiun kereta api lainnya; juga memprakarsai pengambilalihan angkutan umum dalam kota dan stasiun radio. Pada 19 September 1945 Sukarni dan kawan-kawan menyelenggarakan “rapat raksasa” di lapangan Ikada. Rapat ini menunjukkan kebulatan tekad rakyat mendukung Proklamasi 17 Agustus 1945 dan mendesak mengambilalih kekuasaan dari Pemerintah Jepang.
Sukarni terpilih sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP). Ia termasuk kelompok penentang perundingan dengan Belanda.
Pada tahun 1948, setelah pembentukan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) Sukarni terpilih sebagai ketua umumnya yang pertama. Di bawah kepemimpinannya Partai Murba menjadi salah satu kekuatan penentang PKI. Pada Pemilu tahun 1955 dan 1971 Partai Murba ikut sebagai salah satu peserta pemilu.
Selama empat tahun (1960-1964) Sukarni bertugas. sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia. Ia mendapat tugas meminta bantuan RRT untuk mendukung pemerintah Republik Indonesia membebaskan Irian Barat.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:

Kementrian Sosiaal RI.
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=4164

Pemetaan Kawasan Risiko Bencana Gunung Kelud

oleh: Jangkar Kelud

jangkarkeludProfil
Gunung kelud seperti halnya gunung api lainnya memiliki kesamaan, yakni dibalik banyaknya manfaat yang dirasakan warga sekitar, namun disisi lain ada ancaman dari aktifitas yang selalu mengancam kehidupan masayrakat yang tinggal diseputaran  gunung kelud, erupsi kelud tahun 2007 membawa perubahan kelud dari kawah menjadi kubah,  yang dibutuhkan perubahan antisipasi dari masyrakat untuk mengurangi risikonya.

Dengan dasar pemikiran ini akhirnya pada bulan agustus 2008 terbentuklah sebuah wadah dari wakil-wakil masyarakat, guru, radio komunitas dan pemerintah dari 3 kabupaten (Blitar, Kediri dan Malang) yang bertujuan untuk melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana.

Jangkar kelud dimaknai sebagai “jangkane kawula redi kelud”, jangkane yang bermakna keinginan/harapan, kawula adalah masyarakat, redi kelud adalah gunung kelud. Secara umum Jangkar Kelud berarti keinginan masayarakat gunung Kelud, yang senantiasa berkeinginan untuk rinengkuh kelud hangreksa rahayu, didalam naungan gunung kelud senantiasa menjaga keselamatan.

PETA_ANCAMAN_LETUSAN_GUNUNGAPI_NGANCAR_PLOSOKLATEN_PUNCU_KEPUNG_KEDIRI

Peta Ancaman Letusan Gunungapi Ngancar, Plosoklaten, Puncu, Kepung-Kediri

Jangkar Kelud percaya bahwa untuk melakukan pengurangan risiko bencana yang baik menjadi tanggung jawab semua pihak dan dilakukan sepanjang waktu baik sebelum terjadi bencana, saat terjadi bencana dan setelah terjadi bencana, dan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana sebaiknya dilakukan dengan berbasis masyarakat, dikarenakan masyarakat sebagai penerima dampak langsung, selemah-lemahnya masyarakat masih mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana, masyarakat lebih paham wilayahnya, namun demikian tidak menutup peran pihak lain baik pemerintah, dunia usaha, maupun lembaga lain yang berkomitmen dalam hal pengurangan risiko bencana.

Kegiatan:
Lokalatih pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat
Kegiatan lokalatih yang diadakan ditiap-tiap desa yang bertujuan untuk memahami bencana, mengenali ancaman, karakter ancaman, menganalisis risiko, kapasitas dan kerentanan, membuat protap/SOP penanggulangan bencana tiap-tiap desa, membuat Rencana Aksi, membuat peta wilayah, dan menyepakati system peringatan dini.

Lokalatih penanggulangan penderita gawat daurat
PPGD atau penanggulangan penderita gawat darurat adalah penguatan kapasitas masyarakat dalam penangganan pada penderita sebelum mendapatkan penanganan medis. Dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat mempunyai kemampuan untuk memberikan pertolongan pertama dengan benar sebelum ditangani oleh medis.

PETA_RISIKO_LETUSAN_GUNUNGAPI_NGANCAR_PLOSOKLATEN_PUNCU_KEPUNG_KEDIRI

Peta Risiko Letusan Gunungapi Ngancar, Plosoklaten, Puncu, Kepung-Kediri

Pemetaan kawasan risiko bencana
Masing-masing desa melakukan pemetaan wilayahnya untuk mengetahui letak, batas wilayah, daerah rawan, jarak dari ancaman, kapasitas dan kerentanan  dari 6 aspek kehidupan (manusia, social, politik, infrastruktur, ekonomi, lingkungan )dan juga jalur-jalur evakuasi, dengan harapan menjadi sumber informasi bagi masyarakat dan juga pihak-pihak lain.

Penguatan kelembagaan (tim siaga desa)
Dalam kegiatan pengurangan risiko bencana bebasis masyarakat, kelembagaan mempunyai peranan penting, tim siaga desa sebuah tim dari masyarakat yang telah mempunyai ketrampilan dan pengetahuan tentang PBBM dan PPGD merupakan pucuk koordinasi dan penanganan bencana di tingkat desa.

Pokja jangkar kelud
Pokja merupakan wadah atau tempat berkumpul dan berdiskusi semua elemen (masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan ormas) yang terlibat dalam pengurangan risiko bencana g. Kelud dimasing-masing kabupaten (Blitar, Malang dan Kediri) menjadi sebuah kebutuhan untuk menyusun rencana kerja dan perbaikan-perbaikan kegiatan yang telah dilakukan demi tercapainya penanganan bencana gunung Kelud yang lebih baik dimasa mendatang

PETA_ANCAMAN_LONGSOR_NGANCAR_PLOSOKLATEN_PUNCU_KEPUNG_KEDIRI

Peta Ancaman Longsor Ngancar, Plosoklaten, Puncu, Kepung-Kediri

Simulasi dan gladi lapang
Dari tim siaga desa yang telah mempunyai ketrampilan dan pengetahuan dalam kegiatan PRB, bersama dengan semua elemen di masyarakat melakukan latihan bersama untuk menguji protap yang telah disusun dan juga mengasah kemampuan dan kesiap-siagaan tim siaga desa.  Dengan melakukan kegiatan gladi lapang secara berkala diharapkan adanya kepekaan dari semua elemen masyarakat dalam keadaan darurat.

Lokalatih pengurangan risiko bencana berbasis sekolah
Banyaknya sekolah-sekolah yang berada dikawasan rawan bencana menjadikan permasalahan tersendiri dari pihak sekolah dalam penanganan bencana yang terjadi disekolah oleh karena itu diperlukan kegiatan pengurangan risiko bencana berbasis sekolah. Kegiatan yang dilakukan adalah Peningkatan kapasitas para guru tentang PRB dan PPGD, menyusun protap sekolah, menyusun EWS disekolah dan juga pengintegrasian materi-materi PRB dalam mata pelajaran.

System peringatan dini
Informasi yang cepat dan dari sumber yang  tepat sangat membantu dalam kesiapsiagaan masyarakat yang berada di daerah rawan bencana. Untuk kesiapsiagaan, jangkar kelud mempunyai kesepakatan jalur komunikasi dengan mengunakan HT dan radio komunitas, ada 120 HT yang tersebar di 36 desa dan 9 radio komunitas yang tergabung dalam Jaringan Radio Komunitas Jangkar Kelud

Sekertariat :
Jl. PLTA Mendalan Km.5 Desa Pondokagung Kec. Kasembon Malang
e-mail: mbahdharmo41@yahoo.co.id
www.Jangkarkelud.blogspot.com
cp. Catur “dharmo” Sudharmanto 081 336 660 033, 085784871121

saka kawah dadi kubah,
rasa iki datan owah
memetri kelud minangka hanungrah

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jangkar kelud: Rinengkuh Kelud Hangreksa Rahayu [Brosur], Kediri: Jangkar Kelud, 2014.

Bubak Temanten

Upacara Bubak Temanten adalah suatu bentuk upacara yang dilaksanakan oleh seseorang pada saat mantu putra sulung, di daerah Kabupaten Blitar, masih banyakorang melaksanakan upacara Bubak Temanten.

Upacara daerah Bubak Temanten sudah sejak zaman dulu dilaksanakan dan sampai sekarang masih berjalan, konon budaya ini telah ada sejak tahun 1875, meskibudaya ini tampaknya ada gejala tersisih dan terdesak oleh budaya modern yang lebih menarik dan lebih singkat serta mudah dilaksanakannya, namun demikian masih banyak yang melakukan.

Diangkatnya upacara Bubak Temanten dalam fes­tival Upacara Adat Daerah dikandung maksud agar bisa diterima oleh generasi muda dan direstui oleh pejabat yang berwenang yang akhirnya upacara adat daerah Bubak Temanten ini bisa berkembang dan lestari.

Peralatan atau sesaji terdiri atas kemarang, berisi pisang raja setangkep, gula kelapa setangkep, kelapa satu butir, ayam yang masih kecil, cok bakal„ kinarigan, tikar yang masih baru dan dilapisi kain/mori putih, kendhil/klenthing sebanyak tiga buah, kendhil pertama berisi: beras ketan, beras merah, dan dua butir telur; kendhil kedua berisi: buah-buahan dan kue; kendhil ketiga berisi: kelapa muda berisi santan, dan kembar mayang.

Kendhil/klenthing adalah lambang dari cupu manik astagina. Cupu manik astagina merupakan tempat untuk menyimpan titipan wiji banyu suci purwitasari dari seorang laki-laki kepada istrinya, hal ini yang nanti akan dipergunakan untuk dialog antara ayah dan ibu calon temanten.

Ketan dan beras merah melambangkan rezeki dan berkah, dengan telah dilaksanakannya bubakan diharapkan rezeki dan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa bisa lancar, baik rezeki untuk orang tua calon temanten maupun rezeki calon temanten, sedangkan kelapa muda yang diisi santan sebagai gambaran air susu.

Jadi pada acara bubak temanten ada seorang putra menyerahkan kelapa muda kepada ibu, dengan maksud sebagai persembahan seorang putra yang sudah dewasa kepada ibunya, mengingat bahwa pada masa anak-anak disusui oleh ibunya. Telur melambangkan bahwa manusia berasal dari benda yang berwarna merah dan putih

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 73-74

Mbah Bonto

Jika Mbah Bonto Menjelma Macan Putih

Mbah Bonto.0003Mbah Bonto atau Kyai Bonto, hanyalah sebuah wayang kayu peninggalan Kerajaan Mataram. Tetapi, masyarakat amat mengkeramatkannya. Hanya karena sering berubah wujud sebagai siluman macan putih?

Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, masuk kawasan Blitar Selatan. Lazimnya daerah-daerah di Blitar Selatan, tingkat kesuburan tanahnya kurang bisa dihandalkan. Dulu, sebelum tersentuh proyek lahan kering dan konservasi tanah, daerah ini acap kali disebut kawasan kritis tandus.

Karena berada di wilayah selatan, masyarakat Kabupaten Blitar sering kali menyebut kawasan Blitar Selatan sebagai brang kidul. Mungkin, karena letaknya di ‘seberang selatan’ itu. Anehnya, meski tingkat kesuburan tanahnya kurang menjanjikan, toh mayoritas warga brang kidul ini hidup sebagai petani. Sebagian lainnya, yang bermukim di dekat-dekat pantai akan hidup sebagai nelayan.

Mbah Jarni (53) adalah warga Dusun Pakel, sudah 14 tahun menjadi juru kunci Mbah Bonto. Ada juga warga yang menyebutnya Kyai Bonto. Sebutan Mbah ataupun Kyai untuk wayang keramat yang diduga peninggalan Kerajaan Mataram itu, semata-mata merupakan refleksi rasa hormat warga terhadap wayang kayu itu sendiri.

Mbah Bonto.0001Dalam kesehari-hariannya, wayang tersebut berada di rumah Musiman, seo­rang kamituwo dongkol (mantan perangkat desa). Tersimpan dalam sebuah kotak kayu, berikut dua wayang kayu lainnya. Secara gaib, konon kedua wayang ini merupakan patih Mbah Bonto. Satu di antaranya, sepintas terlihat sebagai Pragata, salah satu tokoh pewayangan. Yang satunya laginya, seperti tokoh Buto. Sedang sosok Mbah Bonto sendiri mirip dengan tokoh Semar, salah seorang punakawan dalam dunia pewayangan.

MACAN PUTIH

Sosok Mbah Bonto suka-suka menjelma sebagai macan putih, beberapa kali penduduk melihatnya sendiri. “Macan jelmaan Mbah Bonto ukurannya besar sekali, tidak seperti umumnya macan-macan dalam dunia nyata,” menurut penduduk setempat, atas pengalamannya beberapa kali bertemu macan jel­maan Kyai Bonto. “Pertama kali melihat­nya, jantung saya seperti mau copot,” lanjutnya, mengenang pengalaman pertamanya bertemu dengan macan putih jel­maan Mbah Bonto.

Menurut Mbah Jarni, sebagai juru kunci Mbah Bonto, ia termasuk generasi ke 3. Dua generasi sebelumnya, adalah kakek dan ayahnya, masing-masing bernama Mbah Suro Kabi dan Mbah Lontarejo. “Menurut wasiat dari almarhum kakek saya, jatah keluarga kami menjadi juru kunci Mbah Bonto sampai generasi ke sembilan,” jelasnya.

Mbah jarni mengaku tidak tahu, bagaimana nantinya nasib Mbah Bonto setelah habis generasi ke sembilan. Baik kakek ataupun orangtuanya tak pernah memberitahukannya. Mbah Jarni pun kemudian mengira-ira, “Ya mungkin nanti akan ada wangsit, bagaimana nanti­nya Mbah Bonto,” ujarnya.

Ternyata, bukan penduduk saja yang sempat memergoki macan putih jelmaan Mbah Bonto. Mbah Jarni pun, per­nah mengalaminya. Bahkan, berulang kali. “Hampir setiap kali saya butuhkan, Mbah Bonto akan menemui saya dalam wujudnya se­bagai macan putih yang besar sekali,” ungkap Mbah Jarni serius.

Banyak orang datang dalam rangka sebuah upaya spiritual ke Mbah Bonto. Keinginan mereka pun bermacam- macam. Mbah Jarni lah yang mengkomunikasikan permohonan-permohonan para pengalab berkah itu kepada Mbah Bonto dengan satu ritual yang cukup sederhana. “Tetapi, penampakkan Mbah Bonto dalam jelmaannya sebagai macan putih, tak terkait dengan peristiwa tertentu,” tegas Mbah Jarni.

KYAI PRADA

Keberadaan Mbah Bonto di Blitar, ternyata masih ada kaitannya dengan gong pusaka Kyai Pradah di Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sotojayan, Blitar Selatan. Kedua benda keramat tersebut, sama-sama berasal dari Kerajaan Matarapi di era abad 17-an. Ihwal keberadaannya di Kabupaten Blitar, terkait dengan satu peristiwa suksesi di kerajaan tersebut.

Disebut-sebut dalam legenda, Paku Buwono I adalah adik lain ibu dari Pangeran Prabu. Penobatan sang adik seba­gai raja, membuat hati Pangeran Prabu sangat kecewa. Kekecewaan tersebut diam-diam membangkitkan keinginannya untuk mengalang kekuatan dalam rangka kudeta. Tetapi sayang, sebelum keinginan tersebut terlaksana, raja mencium rencana busuk sang pangeran.

Karena dianggap membahayakan kedudukannya, maka Pangeran Prabu pun diusir dari kerajaan untuk menjalani hukuman pembuangan. Dengan kesatria, hukuman tersebut dijalaninya. Tetapi sebelum meninggalkan Mataram, terlebih dulu Pangeran Prabu pergi ke Glagah Wangi (Demak) untuk berguru ke Kyai Tunggul Manik. Atas kebaikan sang guru, Pangeran Prabu pun diberi piandal berupa gong pusaka dan wayang kayu.

Dalam pengembaraannya menjalani hukuman pembuangan, akhirnya Pangeran Prabu bersama isterinya dan abdi setianya sampailah di kawasan Blitar Selatan. Satu ketika, saat bertapa di Hutan Lodoyo yang masih lebat dan wingit, seorang abdi setianya yang bernama Ki Amat Tariman mencari-carinya den­gan memukul-mukul Gong Kyai Pradah. Di luar dugaan, sesaat setelah gong dipukul, munculnya berekor-ekor macan mengerubutinya. Sejak itu, Gong Kyai Pradah dipercaya banyak masyarakat bisa menjelma menjadi macan putih seperti halnya Mbah Bonto.

Seperti halnya Gong Kyai Pradah, pensucian Mbah Bonto dengan siraman air kembang setaman itupun atas wasiat Pangeran Prabu. Dalam wasiatnya yang berlaku secara turun menurun hingga sekarang, setiap tanggal 12 Maulud dan 1 Syawal hendak pusaka-pusaka itu dimandikan dengan siraman air kembang setaman. Sedang air bekas pensucian, harap dibagi-bagikan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Pasalnya, air tersebut amat berkhasiat untuk kesembuhan suatu penyakit dan awet muda.

Kepercayaan masyarakat akan wasiat tersebut, hingga kini masih tetap terjaga. Buktinya, setiap kali dihelat upacara adat siraman Kyai Pradah di Kelurahan Kalipang dan siraman Mbah Bonto di Desa Kebonsari, antusiasme masyarakat yang ingin ngalab berkah tak pernah padam. ■ hir

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, Edisi 2223, 11-20 Mei 2005, hlm. 50-51