Adat Perkawinan Masyarakat Samin di Ds. Tapelan Kec. Ngraho Kab. Bojonegoro

generasi-keempat-kaum-saminDidalam melaksanakan perkawinan, anak-anak Samin harus mengikuti adat istiadat yang ditetapkan oleh tradisi mereka. Masyarakat Samin menganggap sah menurut adatnya apabila seorang pemuda telah menyukai seorang gadis maka pemuda tersebut beserta orang tuanya maupun para perangkat desa “jawab” artinya melamar pada orang tua gadis. Setelah peristiwa lamaran diterima, perjaka tersebut “Ngawulo” yaitu dengan cara magang atau nyuwito artinya mencari pengalaman atau nyonto di rumah orang tua gadis dan menjadi “Tahanang” artinya perjaka tersebut harus tinggal di rumah gadis dengan maksud agar tidak diganggu gadis lain.

Selama ngawulo pemuda tersebut bekerja membantu orang tua gadis sanbil menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara perkawinan : dari latar belakang inilah, maka peneliti tertarik untuk meneliti sejauh mana pelaksanaan perkawinan adat masyarakat Samin dengan mengambil judul “Adat Perkawinan Masyarakat Samin di Desa Tapelan Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro”.

Masyarakat Samin termasuk golongan masyarakat yang menyerderhanakan semua proses kehidupan sosialnya, termasuk dalam hal perkawinannya. Dalam masyarakat Samin masih berlaku sistim perjodohan, dari perjodohan ini kebanyakan dari meraka menerima perjodohan yang diberikan oleh orang tuanya. Didalam melaksanakan perkawinan anak-anak Samin harus mengikuti adat istiadat yang ditetapkan oleh tradisi mereka yaitu dengan cara magang atau nyuwirto artinya mencari pengalaman atau nyonto (mencontoh). Proses magang ini sama artinya dengan orientasi atau pengenalan sifat masing-masing calon mempelai apabila sudah ada kecocokan hati pada kedua calon mempelai maka dilanjutkan dengan melamar orang tua gadis

Masyarakat Samin masih memakai adat perkawinan yang biasa mereka lakukan, mekipun sekarang nampak perubahan dalam melaksanakan perkawinan guna mengikuti anjuran pemerintah. Pada waktu dulu sebelum melakukan perkawinan, seorang pemuda yang menyukai seorang gadis, dia dan orang tuanya beserta perangkat desa harus “jawab” yang artinya melamar pada orang tua gadis. Setelah pihak perempuan setuju dengan lamaran pihak lelaki, perjaka tersebut harus “ngawulo” atau “nyuwito” dengan mencari pengalaman/ nyonto dirumah orang tua gadis. Selama ngawulo tersebut, perjaka membantu orang tua gadis sambil menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara perkawinan.

Dulu sistem ngawulo ini masih sering berlaku apalagi jika calonnya masih kecil (dalam arti belum dewasa/ aqil balik), si perjaka harus ngawulo bertahun-tahun sampai calonnya tumbuh menjadi dewasa, tetapi cara ngawulo tersebut tidak dipakailagi walaupun nampak hanya dilakukan dalam waktu yang singkat karena pada umumnya sekarang baru diperbolehkannya kawin jika sudah dewasa/ aqil balik.

Pelaksanaan perkawinan yang terjadi pada masyarakat Samin masih tergolong sederhana, hal itu terlihat pada peristiwa lamaran. Saat melakukan lamaran laki-laki tersebut meminta ijin dan restu dari bapak dan ibu gadis yang dimaksud, setelah mendapat ijin dan gadis itu menyatakan setuju untuk dinikahi maka selanjutnya adalah memberitahukan hal itu pada orang tua untuk berkumpul menyaksikan calon pengantin laki-laki berjanji saling mencintai dan saling setia. Janji yang diucapkan “derek kulo ingkang dateng ngiki supoyo sampeyan seksekno ucap kulo, turun kulo wedok, kulo nglegakake janji jeneng lanang, kulo seksekno kandani, yen janji podo duweni janji, karo nyekseni bojonipun dinikahi, tomponen le?” dan pengantin laki-laki jawab “nggih pak”. Setelah acara tersebut selesai, selanjutnya mendatangkan naib dan moden untuk menyaksikan acara yang kedua kali dalam perkawinan mereka dan mencatat secara hukum. Dalam melangsungkan perkawinan dihadapan naib, wali menyerahkan sepenuhnya kepada naib untuk menikahkan anaknya dengan laki-laki tersebut. Setelah itu naib memberikan penjelasan sekali lagi bahwa yang akan dinikahi sudah saling mencintai dan tidak ada paksaan untuk dinikahi dan kejelasan mengenai nama ataupun orang tuanya. Setelah semua dirasa jelas dan saksi- saksi sudah lengkap maka selanjutnya naib membacakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang suami yang dipenuhi dalam rumah tangga nanti. Setelah pengantin laki-laki menjawab bersedia, selanjutnya naib membimbing calon pengantin laki- laki mengucapkan kalimat syahadat dihadapan para saksi dan setelah itu dinyatakan sah menurut naib maupun para seksi maka selanjutnya diadakan penandatanganan bukti surat nikah oleh kedua mempelai. Setelah itu diadakan doa bersama yang dipimpin oleh naib agar pernikahan yang dilangsungkan menjadi langgeng dan bahagia dengan harapan menjadi keluarga yang sakinah.

Setelah proses-proses perkawinan dihadapan naib selesai kemudian diadakan “Brokohan”. Brokohan ini mengandung arti suatu perayaan selamatan atau syukuran yang ditunjukkan kedua mempelai dalam membina rumah tangga langgeng atau rukun. Perayaan ini dilakukan secara sederhana (tergantung kedua binansial rumah tangga). Adapun perlengkapan brokohan itu yang utama adalah tumpeng yang ditempatkan di tampah yang terdiri dari nasi berada di tenggah dan dikelilingi lauk pauk yang berupa urap- urapan, daun mengkudu yang artinya supaya keluarga yang dibina oleh pengantin menjadi sehat lahir dari penyakit. Kemudian telur yang berasal dari ternaknya sendiri yang bertujuan kedua mempelai dikaruniai anak, ikan laut (gerih) yang bertujuan bercukupan sandang pangan. Dan juga dilengkapi lauk-pauk lainnya sebagai bahan perlengkap saja. Selain itu juga ada nasi kabuli yang ditempatkan dipiring yang lauknya terdiri dari serondeng, peyek kedelai, dan ayam goreng. Hal ini bertujuan agar cita-cita dari keluarga yang akan dibina akan dikabulkan. Selain itu juga ada buah yaitu pisang raja yang dimaksudkan pengantin menjadi raja sehari dan minumnya air putih. Dalam brokohan itu mereka hanya mengundang sanak famili dan tetangga sekitar saja. Dalam perkawinan kedua mempelai hanya memakai pakaian seadanya dan tidak dilengkapi dengan pakaian adat atau perlengkapan sebagaimana layaknya seorang pengantin. Dan dalam acara tersebut mereka tidak menerima sumbangan berupa uang, tetapi mereka bisa menerima sumbangan berupa bahan makanan (bahan- bahan dapur).

Apabila ada lingkungan Samin tedapat beberapa orang yang dalam melaksanakan perkawinan tidak sesuai dengan adat yang semestinya, maka mereka akan menjadi bahan pembicaraan dan dikucilkan dari kalangan mereka. Hal itu dilakukan karena mereka melakukan hal yang bertentangan dengan wong Sikejo atau tiyang Sikep ( sebutan orang Samin) yang artinya orang Samin atau masyarakat Samin yang mempunyai sikap atau sikap hidup tersendiri yang dapat dijadikan sebagai cara atau adat istiadat. Jadi pengertian wong sikap yaitu orang atau masyarakat yang mempunyai cara adat atau istiadat tersendiri yang harus dipatuhi. Walaupun dalam masyarakat Samin masih kental dengan adat perkawinannya namun masyarakat Samin dapat dengan mudah untuk menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada terutama dalam hak perkawinan dan sangat patuh terhadap peraturan pemerintah. Hal itu terbukti dengan perkawinan KUA yang mana masyarakat Samin sudah mulai memahami arti pentingnya pencatatan maupun peraturan pemerintah tersebut. Walaupun pengetahuan mereka masih sangat minim sekali tentang UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan mereka berupaya untuk mengikuti segala peraturan.

Dari uraian di atas jelas dikatakan bahwa pelaksanaan adat perkawinan masyarakat Samin masih dipertahankan hanya saja sekarang pelaksanaanya sudah melakukan anjuran dari pemerintah yaitu dengan melakukan perkawinan mereka di KUA.

 

——————————————————————————————-Sarjono, Panitia Penggali dan Penyusunan Sejarah Bojonegoro.1998.

Batik Jonegoroan

Kabupaten Bojonegoro dengan kondisi geografis dan potensi sumberdaya alamnya memiliki potensi besar bagi pengembangan kerajinan batik, khususnya batik yang memiliki motif khas Bojonegoro. Terlebih lagi dengan masih banyaknya potensi sumber daya manusia terutama kaum wanita. Berangkat dari pemikiran memberdayakan secara optimal kaum wanita untuk menekuni usaha mandiri, sehingga dapat menambah pendapatan keluarga. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro, pada tanggal 29 Desember 2009 menyelenggarakan festival desain motif batik khas Bojonegoro, Festival itu bertujuan untuk mengangkat potensi daerah Bojonegoro yang di goreskan dalam sebuah motif batik. Dalam penentuannya dipilih 9 karya yang ditetapkan sebagai “Motif Batik Khas Bojonegoro” selanjutnya dipopulerkan dengan nama “Batik Jonegoroan”. Diantaranya motif Rencak Thengul, Parang Lembu Sekar Rinambat, Sekar jati, Pari Sumilak, Sata Ganda Wangi, Parang Dahana Mungal, Jagung Miji Emas, Mliwis Mukti dan Gatra Rinonce.

Proses pembuatan batik Jonegoroan sama dengan proses pembuatan batik pada umumnya yaitu:

  1. Ngemplong adalah pengerjaan membatik tahap pertama terdiri dari beberapa tahapan, diawali mencuci kain mori untuk menghilangkan kanji yang biasanya terdapat pada kain yang baru. Pengeloyoran, memasukan kain mori ke minyak jarak atau minyak kacang dalam abu merang, agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna lebih tinggi. Setelah melalui proses tersebut, kain diberi kanji dan dijemur.
  2. Nyorek atau Memola; proses membuat pola diatas kain mori dengan cara meniru pola motif, disebut dengan ngeblat (menjiplak). Dilakukan secara langsung di atas kain dengan menggunakan pensil atau canting.
  3. Mbathik; proses menorehkan malam batik ke kain mori, dimulai dengan nglowang (menggambar garisgaris diluar pola) dan isen-isen (mengisi pola garis dengan berbagai macam bentuk). Dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian pada pola dengan cara memberi titik-titik (nitik).
  4. Nembok; proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dengan menggunakan lapisan malam yang tebal.
  5. Medel; proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang-ulang sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.
  6. Ngerok dan Mbirah; proses menghilangkan malam pada kain, dengan cara dikerok/dikelupas secara hati-hati dengan menggunakan lempengan logam, kemudian kain dicuci bersih, lalu dianginanginkan.
  7. Mbironi; proses menutupi warna biru dan isen-isen pola dengan menggunakan malam, selain itu ada proses ngrining mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu, dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.
  8. Menyoga; proses mencelupkaan kain ke dalam campuran warna coklat, yang didapat dari soga (kayu yang digunakan untuk mendapatkan warna coklat).
  9. Nglorot; merupakan proses akhir dalam pembuatan batik tulis maupun cap yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap ini, pembatik melepaskan seluruh malam (lilin) dengan cara memasukan kain kedalam air yang mendidih. Setelah diangkat, kain di bilas dengan air bersih dan kemudian diangin-anginkan hingga kering.

Perkembangan batik Jonegoroan pada saat ini sudah mulai menunjukan kemajuan, peran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam upaya mengenalkan batik Jonegoroan kepada mayarakat masyarkat amat penting.  Dengan cara mengikut sertakan batik Jonegoroan pada event pameran pada tingkat Provinsi dan nasional diharapkan batik Jonegoroan akan lebih dikenal lebih luas lagi.

  1. Tahun 209-2012 Batik Jonegoroan digagas oleh Mahfudhoh Suyoto pada Desember 2009. Memunculkan batik Jonegoroan mengacu pada kondisi geografis dan potensi sumber daya alam yang dimiliki Bojonegoro. Untuk menumbuhkan kreatifitas dan memberdayakan kaum perempuan di Kabupaten Bojonegoro. Selanjutnya, pada tanggal 29 Desember 2009 Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro mengadakan festival desain motif batik khas Bojonegoro dengan tema Kekayaan Alam Bojonegoro, diputuskan ada sembilan motif batik yang terpilih. Diantaranya motif Rencak Thengul, Parang Lembu Sekar Rinambat, Sekar jati, Pari Sumilak, Sata Ganda Wangi, Parang Dahana Mungal, Jagung Miji Emas, Mliwis Mukti dan Gatra Rinonce.
  2. Tahun 2012-2014 Batik Jonegoroan munculnya motif baru tepat di tahun 2012. Diantaranya motif Belimbimbing Lining Lima, Pelempelem Sumilar, Sekar Rosella Jonegoroan, Woh Roning Pisang dan Surya Salak Kartika. Idea ini diangkat dari Potensi yang beraneka ragam milik Kabupaten Bojonegoro, diantaranya kebun belimbing di Kecamatan Kalitidu dan kebun salak di Kecamata Kapas.

Kabupaten Bojonegoro saat ini memiliki empat belas macam motif Batik Jonegoroan. Semua itu tidak lepas dari peran pemerintah yang selalu memberikan inofasi dan semangat kepada masyarakat Bojonegoro. Semua ini tidak lepas dari peran masyarakat dalam hal ini adalah pengrajin batik.

Makna Simbolis Batik Jonegoroan

Tahun 2009 sampai 2012,  Batik Jonegoroan memiliki empat belas macam motif batik. Berikut sembilan motif batik Jonegoroan.

  • rancak-thengul-bojonegoroRancak Tengul, Wayang Thengul merupakan salah satu kesenian tradisional khas yang masih hidup dan berkembang di Kabupaten Bojonegoro, bentuk tiga dimensi terbuat dari kayu dengan asesoris kain sebagai busananya. Dasar cerita manak dan panji gunungan / kalpataru-nya juga berbahan kayu dan bulu burung merak. Rancak Thengul (bahasa jawa) mengandung arti seperangkat Wayang Thengul sebagai warisan tradisional di Kabupaten Bojonegoro akan selalu terjaga eksistensinya, menjadi ikon Bojonegoro, lebih dikenal dan digemari masyarakat luas dan sekaligus sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan salah satu warisan pusaka Budaya (cultural heritage).
  • parang-lembu-sekar-rinambatParang Lembu Sekar Rinambat Sapi yang ditambatkan dikandang membentuk barisan miring dengan kombinasi warna hitamputih menggambarkan dimasa mendatang Kabupaten Bojonegoro akan menjadi pusat penngembangan peternakan sapi. Parang lembu (bahasa jawa) deretan sapi yang ditambatkan membentuk barisan miring. Sekar Rinambat (bahasa jawa) bunga yang selalu merambat tanpa batas. Parang Lembu Sekar Rinambat bermakna, Kabupaten Bojonegoro dikenal harum akan peternakan sapinya sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar sekaligus dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
  • sekar-jati-bojonegoroSekar Jati Tanaman jati mulai dari akar, pohon dan daun dapat dimanfaatkan. Kayunya merupakan bahan meubelair dan kerajinan bubut kayu. Sekar (bahasa jawa) bunga, Jati (pohobn jati) sehingga bermakna tumbuh suburnya pohon jati di Kabupaten Bojonegoro selaras dengan berkembangnya sentra-sentra kerajinan kayu jati (meubel, bubut kayu, gembol) sebagai roda kemajemukan dan kreatifitas masyarakat.
  • pari-sumilak-bojonegoroPari Sumilak Kesuburan tanah (warna coklat) di bumi Angling Dharmo, sangat tepat kalau ditanami padi dan dibudidayakan secara maksimal sehingga dapat meningkatkan taraf hidup petani dan masyarakat Bojonegoro. Pari (bahasa jawa) padi. Sumilak (bahasa jawa) sudah mulai menguning dan siap panen, sehingga mempunyai makna padi yang sudah siap dipanen di semua wilayah Bojonegoro. Diharapkan ke depan Bojonegoro menjadi lumbung padi.
  • sata-ganda-wangiSata Ganda Wangi Sejak dahulu tembakau Bojonegoro sudah dikenal di seluruh nusantara, sehingga menjadi salah satu produksi unggulan selain kayu jati dan produk unggulan lainnya. Jenis tanah yang cocok untuk tanaman ini menghasilkan aroma khas/harum yang berbeda dengan daerah lain. Sata (bahasa jawa) tembakau. Ganda (bahas jawa) aroma. Wangi (bahasa jawa) harum, sehingga bermakna tembakau Bojonegoro memiliki aroma harum. Diharapkan nama Bojonegoro menjadi harum dan terkenal lewat tembakau sebagai salah satu potensinya.
  • parang-dahono-munggal-bojonegoroParang Dahana Manunggal Kayangan Api adalah salah satu objek wisataa andalan di Kabupaten Bojonegoro. Merupakan sumber api abadi terbesar di Asia Tenggara dan pernah menjadi tempat pengambilan api pada PON XV tahun 2000. Parang (bahasa jaawa) miring. Dahana (bahasa jawa) api. Mungal (bahasa jawa) menyala/berkobar, sehingga bermakna bentuk miring dari api yang menyala/berkobar sepanjang waktu. Simbul masyarakat Bojonegoro yang dinamis, semangat dan mampu memberikan cahaya bagi masyarakat disekitarnya.
  • jagung-miji-emas-bojonegoroJagung Miji Emas Jagung merupakan tanaman yang merakyat dan tumbuh subur di Kabupaten Bojonegoro. Hasil yang melimpah menggambarkan bahwa jugung juga dapat meningkatkan pendapatan sekaligus sebagai salah satu pengganti makanan pokok beras. Jagung miji (bahas jawa) berbiji. Emas memiliki makna tanamanjagung di Bojonegoro adalah yang terbaik, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sekaligus mengangkat nama Bojonegoro dengan hasil jagungnya.
  • mliwis-mukti-bojonegoroMliwis Mukti Mliwis putih adalah jelmaan Prabu Angling Dharmo (Raja Malowopati) yang menurut legenda kerajaannya dianggap pernah ada di daerah Bojonegoro. Mliwis (bahasa jawa) burung belibis jelmaan Prabu Angling Dharmo. Mukti (bahasa jawa) mulia, sehingga bermakna meliwis yang mulia/tinggi. Bukan sembarang mliwis karena jelmaan Raja yang dapat memotifasi masyarakat Bojonegoro untuk kerja keras, tekun dan ulet dalam berkarya guna mencapai kemakmuran.
  • gatra-rinonce-bojonegoroGatra Rinonce Visualisasi perpaduan RIG (Alat mengambil minyak) minyak dan gas bumi digambarkan sulur dan bunga, dimana satu dengan yang lainnya saling berhubungan dalam satu kesatuan bentuk. Warna hijau dan kuning melambangkan kemakmuran, kemmiliaan dan keindahan. Ga (gas), Tra (petra) minyak, Rinonce (bahasa jawa) ditata satu persatu, dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh dan indah sehingga bermakna adanya gas dan minyak bumi. Apabila dikelola dikelola dengan baik dan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian alam dan dimanfaatkan untuk keselamatan umat manusia, dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Lima/5 moptif baru yang bertemakan Agro Bojonegoro yang dikenalkan pada tahun 2012 sampai sekarang masih di buat oleh para pengrajin batik Jonegaran  antara lain

  • Belimbing Lining Lima Adalah penggambaran potensi belimbing yang ada di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Dimana buah belimbingtersebut berasa manis dan segar, dengan ukuran besar berwana kuning. Berbentuk bintang lima dan kalau terlihat dari samping bergaris lima, karena halus dan bersihnya kulit belimbing.
  • Pelem-pelem Sumilar Adalah motif mangga. Utamanya mangga jenis gadung yang manis dan segar dan sudah menjadi tanaman masyarakat manggaBojonegoro sejak dahulu dan sudah dikenal masyarakat diluar Bojonegoro, Utamanya kota-kota besar di Indonesia. Sekarang mangga Bojonegoro selalu ditunggu dan dinikmati buahnya oleh masyarakat, karenanya buah mangga Bojonegoro di ibaratkan selalu bersinar.
  • rosellaSekar Rosella Jonegoroan, gambaran tanaman Rosella yang berbuah merah, merupakan salah satu potensi agro wisata Bojonegoro. Jika diolah akan menjadi minuman segar dan menyehatkan dan ada rasa khas yang berbeda dengan daerah lain. Sehingga motif batik rosella dinamakan Sekar Rosella Jonegoroan.
  • pisangWoh Roning Pisang Adalah penggambaran motif pisang susu belirik, salah satu buah andalan budidaya masyarakat Bojonegoro. Disebut Woh Roning Pisang, karena keseimbangan antara daun dan buah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, hal tersbut sangat diperlukan dalam social kehidupan.
  • salakSurya Salak Kartika Adalah penggambaran buah salak, hasil budidaya masyarakat Bojonegoro, khususnya di Desa Wedi dan Desa Tanjungrejo Kecamatan Kapas. Salak memiliki rasa khas, rasa manis agak sedikit asam dan sedikit berair juga buahnya besar dan bersih.

Batik Jonegoroan Sebagai Ikon daerah Kabupaten Bojonegoro, yang baru lima tahun terakhir ini menggencarkan budaya membatik, dan mempunyai motif bertemakan sumber daya alam dan budaya Kabupaten Bojonegoro. Mampu menumbuhkan antusianme masyarakat, sehingga membuat pemerintah optimis akan besarnya tekat masyarakat yang akan menggeluti usaha batik.

Berbaga upaya Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam melestarikan  Batik Jonegaran meliputi:

  • Membuat Keputusan Nomor : 188/50/KEP/ 412.11/2010 tanggal 25 Februari 2010 tentang 9 (sembilan) Motif Batik Jonegoroan Kabupaten Bojonegoro. Langkah tersebut supaya batik Jonegoroan mendapat perlindungan dan mempunyai hak paten. Supaya batik Jonegoroan tetap lestari dan selalu dekat dengan masyarakat Bojonegoro.
  • Membuat peraturan kepada kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro yang mewajibkan berpakaian batik Jonegoroan pada hari kamis dan jumat. Peraturan tersebut terdapat pada Peraturan Bupati Bojonegoro Nomor 44 Tahun 2014 Pasal 33.16.
  • Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melaksanakan Pelatihan serta pendampingan supaya lebih banyak masyarakat yang menggeluti usaha batik teruta kaum perempuan.
  • Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro mengadakan pengawasan mutu untuk menjaga kualitas batik Jonegoroan. Karena pangsa pasar terbuka dan menyebabkan persaingan semakin ketat.
  • Sekolahsekolah di Bojonegoro satu minggu satu kali diharuskan memakai seragam batik khas Bojonegoro.
  • Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro berencana akan tetap menggelar lomba disain batik Jonegoroan dengan tema potensi daerah, untuk melahirkan motif baru batik Jonegoroan.
  • Mengikut sertakan Batik Jonegaran dalam pameran tingkat daerah maupun nasional, untuk mengenalkan produk batik Jonegoroan kepada masyarakat luas.
  • Di Bojonegoro Batik motif Jonegoroan bisa diperoleh di sentra pengrajin batik, juga bisa diperoleh di Show Room Dekranasda Disperindag Bojonegoro.

Batik modern lebih banyak digemari masyarakat saat ini dari pada  batik klasik. Hal ini dikarenakan batik modern memiliki banyak motif dan memiliki warna yang beragam. Dari kalangan remaja hingga orang tua banyak yang menyukai batik modern yang memiliki motif yang unik.  Bojonegoro dengan potensi alam yang dimiliki dapat memberikian inspirasi bagi masyarakat Bojonegoro untuk menciptakan karya seni dalam bentuk motif batik yang beraneka ragam. Sehingga  Batik Jonegaran diharapkan mampu menjawab dan memenuhi apa yang diinginkan oleh pasar.

——————————————————————————————-

Ryan Bajuri, Pusaka Jawatimuran Team

AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, Volume 3, No. 3,  Oktober 2015
Hanif at tanthowy, Septina Alrianingrum
Ragam Motif Batik Bojonegoro Sebagai Upaya Membangun Identitas Daerah  Di Bojonegoro Tahun 2009-2014 Universitas Negeri Surabaya
Sumber gambar
http://www.kanalbojonegoro.com
https://potensi-bojonegoro-matoh.blogspot.co.id

Wayang Thengul, Kabupaten Bojonegoro

Wayang Thengul.Wayang Thengul merupakan ikon kesenian tradisi wayang golek asli Kabupaten Bojonegoro dan sudah memperoleh pengakuan nasional, karena kesenian ini tumbuhkembangnya di kabupaten Bojonegoro. Kata Thengul dalam penuturan masyarakat berasal dari kata “methentheng” dan “methungul” yang artinya karena terbuat dari kayu berbentuk tiga dimensi, maka “dhalang” harus “methentheng” (tenaga ekstra) mengangkat dengan serius agar “methungul” (muncul dan terlihat penonton).

Teng (”methentheng”) dan Ngul (“menthungul ”), sampai pada saat ini di kabupaten Bojonegoro pertunjukan wayang thengul masih didukung oleh pelaku aktif 14 orang dalang yang tersebar di wilayah Kapas, Balen, Padangan, Sumberrejo, Kedungadem, sukosewu, Bubulan, Margomulyo,  dan kecamatan kanor yang berjarak  ± 40 Km dari Kota Bojonegoro para dhalang memiliki wilayah tanggapan (wilayah pentas). Pertunjukan wayang thengul Bojonegoro dipentaskan dalam acara yang berkaitan erat dengan hajat ritual upacara tradisional, ruwat dan nadzar.

Wayang ThengulWayang thengul yang berbentuk 3 dimensi ini, biasanya dimainkan dengan diiringi gamelan pelog/slendro. Wayang thengul ini memang sudah jarang dipertunjukkan lagi, namun keberadaannya tetap dilestarikan di Bojonegoro.  Para dhalang belajar secara otodidak dengan cara nyantrik (membantu sambil mempelajiri setiap pentas pada dalang senior), dan salingmengapresiasi permainan sesama dhalang wayang thengul maupun dari pertunjukan wayang kulit pada umumnya.

Wayang thengul Bojonegoro cenderung menggelar lakon-lakon wayang gedhog, bahkan beberapa lakon terkait dengan Serat Damarwulan yang sering dilakonkan dalam pertunjukan wayang klithik.

Tradisi pertunjukan wayang thengul di Bojonegoro nampaknya lebih dekat dengan ceritera Gedhog, Bangun Majapahit yaitu ceritera yang bersumber pada babad Majapahit, babad Demak. Dilihat dari perupaan dan visualisasi karakter tokoh dalam wayang thengul memiliki kedekatan karakter dengan tipologi yang tertuang dalam wayang gedhog dan wayang menak. Sehingga sangat wajar, wayang thengul lebih dekat dengan lakon wayang menak, lakon-lakon Panji serta ceritera para wali pada masa kerajaan Demak.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Profil Pariwisata Dan Budaya, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro

 

Batik Jonegoroan, Kabupaten Bojonegoro 2

Bupati Bojonegoro, H Suyoto, meresmikan Toko Bojonegoro yang menyediakan Batik Jonegoroan dan kaos Jonegoroan (2/8/2013).

batik jonegoroan.TOKO di komplek pertokoan Jl Gajah Mada itu menampung hasil produksi batik masyarakat dari enam desa di tiga kecamatan binaan Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) Mobil Cepu Limited (MCL), operator Migas Blok Cepu. Enam desa yang sebelumnya mendapatkan program industri kreatif batik Jonegoroan dan sablon kaos Jonegoroan itu adalah Desa Ngunut dan Dander, Kec Dander; Desa Sukoharjo dan Leran, Kec Kalitidu, dan Desa Ngasem dan Sendangharjo, Kec Ngasem.

Bupati Bojonegoro, Suyoto, mendukung kreasi anak muda Bojonegoro yang turut memberi identitas bagi Bojonegoro dalam bentuk kreasi dan karya seperti yang dilakukan Ademos. “Apa yang dilakukan ini dapat ikut mempromosikan produk lokal Bojonegoro dan sekaligus membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya,” kata Suyoto.

Dia berharap, dengan hadirnyaToko Bojonegoro ini dapat lebih memudahkan masyarakat dari dalam maupun luar Bojonegoro dalam memperoleh produk lokal Bojonegoro, khususnya Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro Untuk itu, Kang Yoto berpesan, agar para perajin maupun pengelola Toko Bojonegoro lebih kreatif lagi dalam menyajikan desain produknya.”Sehingga toko ini bisa diminati semua kalangan dan menjadi jujugan,”tutur Suyoto.

Ketua Ademos, Aziz Ghosali, menerangkan, selain untuk menampung hasil kerajinan para perajin, Toko Bojonegoro ini merupakan salah satu upaya untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro. KarenaToko Bojonegoro ini menyajikan varian produk beragam mulai kalangan tua hingga remaja. “Untuk produknya sengaja didesain berbeda sesuai selera remaja masa kini,”sambung Aziz.

Untuk lebih memperluas pemasaran produk Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro ini Ademos juga memasarkannya secara online dengan alamat www. tokobojonegoro.com. Sementara itu Menko Kesra, HR Agung Laksono, usai membuka pasar murah, langsung meninjau stan milik Dekranasda dan tertarik serta membeli batik khas Jone­goroan dengan warna kuning motif daunjati. *

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Galeria, Edisi 14; September – Oktober 2013

Batik Selingkuh, Kabupaten Bojonegoro

Kabupaten Bojonegoro Kembangkan Batik Selingkuh

batik selingkuh jonegoroanKREATIVITAS dan karya batik tak pernah ada habisnya. Daerah-daerah yang menjadi kantong usaha kerajinan batik, seperti tak pernah berhenti berkreasi. Sebut saja Kabupaten Bojonegoro yang dikenal memiliki batik khas Jonegoroan.

Perajin-perajin batik di sana terus berkarya dan berkreasi, salah satunya adalah mengembangkan usaha batik selingkuh. Usaha itu dilakukan warga Bojonegoro untuk mendukung Bojonegoro Matoh. Warga itu adalah Acmat Aris dari Desa Prayungan, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro.

Saat paparan karya batiknya pada dialog publik, 5 Juli 2013 lalu, Aris menjelaskan, bahwa usaha yang dikembangkan tersebut merupakan kreasinya sendiri bersama kawan-kawannya.”Alhamdulillah, apa yang kami lakukan ini mendapat apresiasi dari Bapak Bu­pati Bojonegoro, Kang Yoto,”katanya.

Malah, ujar Aris, Bupati Bojonegoro itu ingin ba­tik selingkuh dengan motif sekarjagad dibawa ke pendapa untuk diketahui masyarakat luas melalui dialog publiktersebut.

“Nanti kalau motif sekarjagad sudah jadi akan saya bawa ke sini (pendapa Malowopati),”ujarnya sambil menunjukkan contoh batik selingkuh buatannya kepada peserta dialog.

Aris menambahkan, batik selingkuh tersebut meru- pakan paduan batik Jonegoroan dengan kreasi yang dibuat Aris dan kawan-kawan. Dikatakan, kreativitas remaja dalam membantu mengenalkan Bojonegoro ke luardaerah, perlu mendapatkan perhatian.

Ia mengatakan, dengan batik Jonegoroan bermotif selingkuh diharapkan juga bisa menambah koleksi pencinta batik Jonegoroan. “Batik yang saya produksi ini saya beri nama Batik Risma. Nama ini perpaduan nama saya dan istri saya,” imbuhnya sambil promosi.

Siapa saja bisa mendapatkan Batik Selingkuh yang diberi nama Risma dengan harga Rp 175 ribu perlembar. “Batik Risma memiliki ciri khas tersendiri yakni terdapat uratan di setiap motif,” tutur Aris.*

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Galeria- media Dekrnasda Jawa Timur, Edisi 14, September –Oktober 2013, hlm.

Batik Jonegoroan, Kabupaten Bojonegoro

Bupati Bojonegoro, H Suyoto, meresmikan Toko Bojonegoro yang menyediakan Batik Jonegoroan dan kaos Jonegoroan (2/8/2013).

BATIK JONEGARAN - Copy (2)TOKO di komplek pertokoan Jl Gajah Mada itu menampung hasil produksi batik masyarakat dari enam desa di tiga kecamatan binaan Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) Mobil Cepu Limited (MCL), operator Migas Blok Cepu. Enam desa yang sebelumnya mendapatkan program industri kreatif batik Jonegoroan dan sablon kaos Jonegoroan itu adalah Desa Ngunut dan Dander, Kec Dander; Desa Sukoharjo dan Leran, Kec Kalitidu, dan Desa Ngasem dan Sendangharjo, Kec Ngasem.

Bupati Bojonegoro, Suyoto, mendukung kreasi anak muda Bojonegoro yang turut memberi identitas bagi Bojonegoro dalam bentuk kreasi dan karya seperti yang dilakukan Ademos. “Apa yang dilakukan ini dapat ikut mempromosikan produk lokal Bojonegoro dan sekaligus membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya,” kata Suyoto.

Dia berharap, dengan hadirnyaToko Bojonegoro ini dapat lebih memudahkan masyarakat dari dalam maupun luar Bojonegoro dalam memperoleh produk lokal Bojonegoro, khususnya Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro Untuk itu, Kang Yoto berpesan, agar para perajin maupun pengelola Toko Bojonegoro lebih kreatif lagi dalam menyajikan desain produknya.”Sehingga toko ini bisa diminati semua kalangan dan menjadi jujugan,”tutur Suyoto.

BATIK JONEGARAN - CopyKetua Ademos, Aziz Ghosali, menerangkan, selain untuk menampung hasil kerajinan para perajin, Toko Bojonegoro ini merupakan salah satu upaya untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro. KarenaToko Bojonegoro ini menyajikan varian produk beragam mulai kalangan tua hingga remaja. “Untuk produknya sengaja didesain berbeda sesuai selera remaja masa kini,”sambung Aziz.

Untuk lebih memperluas pemasaran produk Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro ini Ademos juga memasarkannya secara online dengan alamat www. tokobojonegoro.com. Sementara itu Menko Kesra, HR Agung Laksono, usai membuka pasar murah, langsung meninjau stan milik Dekranasda dan tertarik serta membeli batik khas Jone­goroan dengan warna kuning motif daun jati. *

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Galeria, Edisi 14; September – Oktober 2013

Roekmini Koesoemo Astoeti, Kabupaten Bojonegoro

4 September 1938, Roekmini Koesoemo Astoeti lahir di desa Tobo, Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia, anak keenam dari delapan bersaudara dari pasangan R. Soedarso dan Raden Ayu Soemina. ayahnya, Kepala Kehutanan Saradan, Madiun, meninggal dunia saat Roekmini baru berusia 7 tahun dan masih duduk di Sekolah Dasar. Sepeninggal ayahnya itu, Roekmini bersama kakaknya, Palupi, ikut pamannya. Masa kecilnya dilaluinya dengan berat. Roekmini Koesoemo Astoeti adalah wanita kedua yang mencapai pangkat jenderal polisi di Indonesia.

Tahun 1952,  pada kondisi yang serba sulit,  ia bersama kakaknya menulis surat kepada Presiden Soekarno, meminta agar dikirimi sepeda. Enam bulan kemudian ia bersama kakaknya diminta datang ke Karesidenan Madiun karena Bung Karno akan memberikan mereka uang sebesar Rp.500 untuk membeli sepeda. Pemberian uang itu ditolaknya, karena yang mereka butuhkan bukan uang melainkan sepeda. Akirnya, residen pun membelikan sepeda dari uang tersebut.

Tahun 1964, Roekmini melanjutkan studinya di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Setelah tamat, atas saran sahabat dekatnya, Pater Blood, ia memilih kariernya di kepolisian. Berbagai tugas pernah dilaluinya: menjadi Staf Asisten Intel Khusus di Polwil 096 Yogyakarta.

Tahun 1972, Setelah pangkatnya naik menjadi mayor, ia ditugaskan ke Polda Jawa Tengah, dan berturut-turut menjabat sebagai Kepala Seksi Pengawas Keamanan Negara (PKN), Kepala Seksi Pembinaan Ketertiban Masyarakat, Kepala Seksi Psikologi, Kepala Biro Organisasi Sosial Politik Kowilhan II/Jawa Madura. Namun salah satu tugasnya yang paling berat ialah ketika sebagai Staf Asisten Intel ia harus menangani kasus pemerkosaan Sum Kuning yang melibatkan anak-anak penggede di wilayahnya

Tahun 1978, Roekmini adalah Lulusan terbaik kedua kursus kekaryaan ABRI.

Tahun 1982, Roekmini ditunjuk sebagai anggota DPR untuk mewakili Polri, sebagai satu-satunya perempuan di antara 90 anggota Fraksi ABRI saat itu. Ia sempat ditugasi di Komisi IX dan Komisi IV, dan belakangan di Komisi II yang berhadapan dengan banyak kasus yang menyangkut kehidupan rakyat kecil langsung.

Roekmini adalah tokoh yang unik di Gedung MPR/DPR karena sebagai anggota Fraksi ABRI keberpihakannya kepada rakyat kecil sangat jelas. Tampaknya pengenalannya secara langsung akan kehidupan rakyat kecil menyebabkan Roekmini tampil sebagai anggota DPR yang sangat vokal.

Tahun 1992, Selesai menjalankan tugasnya di DPR, Roekmini dipindahkan ke Markas Besar ABRI sebagai staf yang membantu Kasospol ABRI.

Tahun 1993,  Roekmini kemudian mendapat kepercayaan untuk duduk di Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia. Tampaknya ini adalah tempat yang sangat tepat baginya karena pada masa-masa terakhir Orde Baru Komnas HAM menjadi tumpuan pencari keadilan.

Tahun 1996, Roekmini Koesoemo Astoeti menghasilkan Karya tulis “Mata Hati Roekmini: Nurani untuk Hak Asasi” penyunting, A.S. Laksana, Agung Bawantara, penerbit Prakarsa: Jakarta, “Buku ini dipersembahkan untuk mengenang alm. Ibunda Roekmini Koesoemo Astoeti Soedjono”

Mata hati Roekmini : nurani untuk hak asasi

Ketika kanker di tenggorokan dan pita suaranya menggerogoti tubuhnya, Roekmini Koesoemo Astoeti harus dirawat intensif di RSPAD Jakarta.

2 September 1996,  pada umur 57 tahun. Roekmini Koesoemo Astoeti berpulang kepada Penciptanya. di Jakarta, Jenazahnya dibawa ke Desa Baerejo, Kebonsari, Madiun, untuk dimakamkan di Mangunarsan, makam keluarganya.

Roekmini Koesoemo Astoeti meninggalkan suami, Ir. Mas Soejono, seorang dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, dan seorang anak perempuan dan tiga laki-laki. Ke-empat anaknya punya prestasi memuaskan dalam pendidikan. Sih Wening Wijayanti adalah mahasiswi Fakultas Psikologi UGM, Ardi Wijaya kuliah di Fakultas Sastra UGM, Giri Wijaya Sidi belajar di FISIP UGM dan Bagus Aji Mandiri di SMA III Yogyakarta.

Tahun 1999, terbit buku dengan Judul Roekmini -dalam kenangan: untuk memperingati 1000 hari wafatnya Brigjen. Pol. (Purn.) Dra. Roekmini Koesoemo Astoeti Penulis; Roekmini Koesoemo Astoeti Soedjono;