Lontong Rumo Gresik

Gresik memang asyik. Banyak wisata di sana, mulai wisata budaya, agama hingga kulinernya yang’aneh-aneh’. Tapi berbicara kuliner Gresik, orang pasti tertuju pada nasi krawu. Padahal nasi krawu merupakan buah karya perantauan dari tanah Madura. Justru yang khas Gresik adalah lontong rumo atau sega rumo, walau keberadaannya bisa dihitung dengan jari.

Lontong Rumo Gresik.docx0001SEGA rumo sesuai nama asal- nya merupakan makanan khas dari Desa Roomo atau Rumo. Sebuah desa di kawasan Ke- camatan Manyar, sekitar 5 km dari pusat kota Gresik ke arah Mariyar. Dulu desa tersebut banyaktambak bandeng dan tambakgaram, tapi sekarang Desa Rumo menjadi kawasan pabrik.

Konon, ada perempuan yang kesu- sahan memenuhi kebutuhan hidupnya. Lalu atas saran seorang sakti, dia disuruh berjualan. Dia mengambil bahan-bahan yang ada di dapurnya, lalu mengolah dan menjualnya dengan berkeliling kampung sambil berteriak, “Lontong RomoJ!” Sejak itulah makanan ini terkenal.

Lontong Rumo Gresik.docx0004“Makanan ini sudah tidak asing lagi di lidah saya, zaman masih kecil, ini merupak­an menu favorit untulcsarapan. Dulu selalu ada di pagi hari mulai pukul 05.30 sampai sekitar pukul 10.00. Harganya pun murah meriah, zaman tahun 1990-an, hanya Rp 250,- dan itu bikin kenyang/’ungkap lelaki paruh baya yang mengaku bernama Cumi.

Makanan sega rumo ini bisa dibilang mirip buburtapi bukan bubur, karena bisa disajikan dengan lontong atau nasi. Ben- tukfisik makanan ini berupa nasi/ lontong yang ditaruh di atas pincuk daun pisang, lalu di atasnya ditaruh sayur kucuk (sejenis kangkung yang tumbuh di sawah) dan disiram dengan bubur berwarna coklat kemerahan. Saat ini sangat sulit untuk me- nemukan sayur kucuk, sehingga banyak penjual lontong rumo menggantinya dengan daun sirigkong.

Lontong Rumo Gresik.docx0003Kekhasan makanan ini adalah bubur penyiram lontong/nasi. Bubur ini dibuat dari tepung beras, santan kelapa, tumbukan udang, cabai merah, bawang dan rempah-rempah lainnya. Warna merah bisa jadi karena daging udang dan cabai merah yang menjadi bumbu utama. Sebagai pelengkap di atasnya ditaburi kelapa sangrai dan keru- puk rambak yang sudah diremas.

Menemukan makanan ini gampang-gampang susah karena sistem penjualan- nya yang nomaden dan dijual hanya pada pagi dan sore hari. Kebanyakan penjual lontong rumo ini biasanya berkeliling ke kampung-kampung, dan sedikit sekali yang menetap di satu tempat. Ada juga yang menjajakannya di pinggir jalan, lesehan di selasar toko atau di ujung gang.

Lontong Rumo Gresik.docx0002Meskipun begitu, saat ini cukup sulit mencari sega rumo di tempat asalnya. Pasalnya, penjualnya pun kini bisa dihitung dengan jari.Tapi jangan khawatir, tak hanya di Desa Romo, sego rumo juga banyakdijajakan di belakang PasarGresik. Tepatnya di Desa Sukodono, Pasar Gresik Kota. Bagi anda yang kebetulan mampir ke Gresik, sego rumo bisa jadi salah satu alternatif menu yang patut dicoba. Selain harganya yang murah sekitar Rp 5.000 sampai Rp. 6.000 perpincuk-anda juga tidakakan menemukan menu semacam ini di tempat lain, kecuali Gresik. (ati)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah PUSPA Edisi 35, Desember 2013, halaman42

Siti Fatimah binti Maimun

Jaminan Kesuksesan dari Makam Siti Fatimah binti Maimun

Siti Fatimah binti Maimun diduga sebdgai penyebar Islam pertama di tanah Jawa. Kini makamnya banyak didatangi Para peziarah yang meyakini, bahwa karomah dari sang,tokoh bisa membawa mereka meraih kesukseskan.

Makam Siti maimunSUARA ADZAN terdengar menggema dari sebuah langgar kecil di dekat gerbang makam Siti Fatiraah binti Maimun. Beberapa orang warga Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur pun tampak berjalan bergegas menujif- ke langgar tersebut, untuk menjalankan sholat Ashar. Ibadah memang menjadi hal yang paling utama dalam kehidupan masyarakat Gresik dan sekitarnya. Karenanya, suara adzan bagi para warga tersebut ibarat panggilan yang tak bisa ditawar. Sebab itu, meski sesibuk apapun, mereka akan berusaha meninggalkan kesibukan itu. Dan bergegas memenuhi ‘panggilan’ itu.

Pola hidup seperti mi bukanlah hal yang baru bagi mereka. Sebab secara umum tingkat spiritualitas masyarakat di wilayah pesisir utara Jawa Timur ini memang cukup tinggi. Sehingga tidak heran kalau di hamper setiap sudut kehidu- pan masyarakat ini, nuansa religius tampak begitu mewarnai. Mulai dari pakaian hingga pola perilakunya. Makanya sebutan kota santripun layak disandang kota ini. Sebutan ini tentu tidak terlalu berlebihan bila melihat kondisi yang terjadi di sana. Selain mayoritas penduduknya beragama Islam. Di kota ini pula dimakamkan para tokoh penyebar agama Islam yang dikenal dengan sebutan wali songo. Yang sangat berperan dalam membentuk perilaku masyarakat Gresik, hingga menjadi sangat religious.

Adalah Syeh Maulana Malik Ibrahim yang dikenal sebagai bapak para wali. Lalu Sunan Giri yang dikenal sebagai pemimpih di Kerajaan Giri Kedaton. Kemudian Sunan Prapen, dan masih banyak lagi. Keberadaan tokoh-tokoh inilah yang memiliki peran besar dalam perkembingan agama Islam di kota ini. Dan dari sekit.n banyak tokoh penyebar agama Islam yang pernah ada di kota Gresik, salah satunya adalah Siti Fatimah binti Maimun.

WALI PERTAMA

Sayangnya catatan sejarah mengenai tokoh yang satu ini terbilang sedikit. Se­hingga kiprahnya di masa lalu terutama dalam kaitannya dengan penyebaran aga­ma Islam belum banayk diketahui. Namun demikian, Siti Fatimah binti Maimun diyakini sebagai tokoh penyebar agama Islam per- tama yang datang ke tanah Jawa sebelum kehadiran para wali.

Dugaan ini didasarkan pada pahatan tulisan di batu nisan yang menunjukkan tarikh tahun 475 H atau sekitar tahun 1082 M. Hal ini menunjukkan bahwa Siti Fatimah telah datang saat di tanah Jawa masih berdiri kerajaan Kahuripan yang dipimpin Prabu Airlangga.

Dan bila benar demikian, berarti agama Islam telah lama masuk ke tanah Jawa. Hanya saja waktu itu belum terlalu menyebar seperti saat munculnya wali songo.

Agama Islam hanya ber­kembang di wilayah-wilayah pesisir yang me­mang sangat mungkin karena banyak disinggahi oleh para pedagang dari berbagai negeri, termasuk Arab dan Persia yang umumnya beragama Islam.

“Desa ini bernama Leran yang diambil dari kata lerenan atau tempat pemberhentian. Karena waktu itu setiap pedagang dari negeri lain banyak yang singgah di wilayah Gresik. Dan salah satunya adalah rombongan Siti Fatimah binti Maimun ang berasal dari Kedah Malaysia.

Rombongan ini kemudian singgah (leren) dan menginap di tempat ini. Sampai akhirnya berkembang menjadi desa,” ungkap Hasyim, juru kunci makam Siti Fatimah binti Maimun kepada LIBERTY.

Sebagai seorang muslim yang singgah di daerah yang belum Islam, naluri untuk mengajak orang lain memeluk Islam muncul dalam hatinya. Karena itu sedikit demi sedikit penduduk yang ada di sekitar tempat itu mulai mengenal dan memeluk agama Islam. Hanya saja impiannya untuk semakin mengembangkan agama tersebut kandas setelah wabah ganas menyerang wilayah tersebut hingga merenggut nyawanya beserta beberapa orang pengikutnya.

Wabah itu sendiri konon adalah kiriman dari Sultan Mahmud Syah Alam orang tuanya. Sebab menurut kabar yang beredar, Siti Fatimah hendak dinikahi raja di tanah Jawa (kemungkinan Prabu Airlangga). Dan orang tuanya tidak setuju. Alasannya, dia takut kalau Siti Fatimah nantinya akan berpindah keyakinan. Dan misinya untuk menyebarkan agama Islam gagal di tengah jalan.

Akhirnya demi untuk ‘menyelamatkan’ sang anak, Sultan Mahmud syah Alam ber- doa agardiberikan jalan keluar. Sebuah mu- sibah berupa pageblukpun datang menerpa rombongan Siti Fatimah. Banyak para pe­ngikutnya yang tiba-tiba sakit dan langsung meninggal. Tak terkecuali Siti Fatimah sendiri bersama para dayang setianya. Me- reka akhirnya juga tewas diserang wabah penyakit misterius itu.

Namun versi lain mengatakan bahwa Siti Fatimah atau yang dijuga dikenal dengan sebutan Putri Dewi Retno Swarsi sengaja dibunuh dengan cara disantet oleh seorang raja di Jawa yang hendak menikahinya. Hal ini karena Siti Fatimah menolak pinangan sang raja.

Siti Fatimah beserta para dayangnya Putri Kucing, Putri Seruni, Putri Kambuja, dan putri Keling, kemudian dimakamkan di Desa Leran. Dan demi untuk melindungi makam tersebut, beberapa pengikut Siti Fatimah yang masih hidup membuatkan bangunan cungkup dari batu kapur dengan dinding yang sangat tebal.

“Sebagian besar dari bangunan makam itu masih asli. Hanya beberapa buah batu sempat diganti karena dikhawatirkan runtuh dan membahayakan para peziarah. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kuatnya bangunan itu,” terang Hasyim.

JAMINAN KESUKSESAN

Kini makam Siti Fatimah banyak dikunjungi para peziarah. Tak hanya datang dari wilayah Gresik saja. Banyak peziarah yang datang dari luar kota dan bahkan dari luar negeri terutama Malaysia. Hal ini tak lain karena Siti Fatimah berasal dari Malaysia.

Ada keyakinan dari masyarakat yang datang ke sana bahwa dengan berziarah dan berdoa di makam ini, maka segala keinginan pasti akan terkabul. Bahkan bagi beberapa kalangan, mereka meyakini bahwa karomah dari Siti Fatimah bisa meningkatkan der- ajat. Karena itu tak jarang yang dating ke sana adalah orangorang dari golongan pejabat. Selanjutnya bagi para pedagang, berdoa di makam ini konon adalah jaminan kesuksesan dalam usaha yang dijalankannya.

Para peziarah yang dating umumnya cukup hanya membawa sebungkus bunga setaman. Bunga itu selanjutnya diserahkan ke juru kunci untuk didoai sambil menyampaikan hajatnya. Kemudian dengan diantarkan sang juru kunci, para peziarah bisa melanjutkan untuk berdoa dan bermunajat di samping makam Siti Fatimah.

Hanya saja ruangan cungkup makam terbilang sempit. Karena itu biasanya jumlah peziarah yang masuk akan dibatasi. Apalagi saat malam Jumat. Peziarah yang dating jumlahnya sangat banyak. Hingga untuk bisa masuk ke dalam makam harus bergiliran. • KL@-6

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11 – 20 September 2007, hlm. 6-9

Kanjeng Sepuh Sedayu

Umar bin  Khatab asal Sedayu

 

Masjid Knjeng Sepuh Sedayu.Tokoh lain yang juga tak kalah berperan dalam perkembangan Islam di wilayah Gresik adalah Kanjeng Sepuh Sedayu. Namanya mungkin masih asing bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Namun bagi warga Kabupaten Gresik di Jawa Timur, tokoh yang satu ini bukanlah orang sembarangan. Dia begitu dihormati oleh semua kalangan. Baik dari kalangan pejabat sampai rakyat jelata.

Selain dikenal sebagai seorang wali yang kerap mengajarkan ajaran-ajaran kebajikan, semua tentu tak lepas dari keberaniannya dalam menentang penjajah Belanda di zaman perjuangan. Dia sangat menentang kebijakan diskriminasi atau pengelompokan ma­syarakat berdasarkan kelas dan golongan yang dilakukan Belanda. Sebab dalam pandangannya, semua manusia itu sama. Yang mem- bedakan di hadapan Tuhan hanyalah amal dan ketaqwaannya.

Kanjeng Sepuh Sedayu juga menentang pengenaan pajak yang begitu tinggi yang diberlakukan Belanda. Hal ini membuat Belanda sangat marah, hingga menempatkan Kanjeng Sepuh Sedayu atau yang bergelar Kyai Panembahan Haryo Soeryo Diningrat sebagai salah satu musuh besar pemerintah kolonial. Sebab apa yang di­lakukan oleh Kanjeng Sepuh Sedayu jelas-jelas merugikan pemerin­tah kolonial Belanda.

Kanjeng Sepuh Sedayu sendiri adalah bupati dari Kabupaten Sedayu yang kini sudah dihapuskan. Sejak berdiri pada 1675, Kabupaten Sedayu dipimpin oleh sedikitnya sepuluh bupati. Bupati yang paling dikenal adalah Kanjeng Sepuh Sedayu, yang merupakan bupati ke-8.

Kanjeng Sepuh Sedayu - CopyKabupaten Sedayu sendiri posisinya berada sekitar 20 km di sebelah barat Kota Gresik. Di tempat ini sisa-sisa peninggalan kabu­paten berupa alun-alun masih bisa dilihat dengan jelas. Tak hanya itu, beberapa situs sisa-sisa bangunan kabupaten juga masih tersisa meski sudah nyaris tak berbentuk, karena tidak dirawat.

Pada 1910, kabupaten ini oleh Pemerintah Belanda diintegrasikan ke Kabupaten Jombang. Namun setelah proklamasi, akhirnya wilayahnya dimasukkan dalam wilayah Kabupaten Gresik.

Dan kecjekatan Kanjeng Sepuh Sedayu dengan rakyatnya bisa dikatakan sangat istimewa. Hampir tiap kali dia melakukan per- jalanan untuk menilik desa- desa di sekitarnya, sambutan yang mengelu-elukan dirinya datang silih berganti. “Kanjeng Sepuh Sedayu tahu bagaimana cara untuk bisa menentramkan rakyat. Karena itu dia begitu disanjung dan dipuji,” kata Mazumi, salah seorang pengurus Masjid Kanjeng Sepuh Sedayu yang berada satu komplek dengan makam sang tokoh, kepada LIBERTY.

Hubungan itu semakin erat manakala Kanjeng Sepuh Sedayu sering dipergoki mela­kukan perjalanan sendiri di malam hari untuk menemui rakyatnya. Rupanya dia ingin

meniru apa yang dilakukan oleh salah seorang anggota Khullafatur Rosyidin yaitu Umar bin Khatab. Yang selalu berusaha menegakkan keadilan di tengatvtengah rakyatnya, dengan langsung turun sendiri guna mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Demikian pula dengan Kanjeng Sepuh Sedayu yang juga senantiasa memberikan sumbangan kepada rakyatnya yang saat itu dilihatnya tengah mengalami penderitaan. Makanya begitu terjadi perang melawan penjajah, rakyat Sedayu dengan gagah berani maju melindungi pemimpinnya itu.

Kini makamnya tetap terawat dengan baik. Tiap tahun selalu diadakan acara haul untuk memperingati hari meninggalnya sang tokoh. Dan di tiap acara haul tersebut, ribuan warga masyarakat di sekitar Kecamatan Sedayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur tumpah ruah memenuhi halaman Masjid Kanjeng Sepuh Sedayu.

Selain ingin memberikan penghormatan di tengah iringan doa yang dipanjatkan, para warga ini meyakini bahwa Kanjeng Sepuh Sedayu adala seorang wali yang memiliki karomah. Dan karomah inilah yang menjadi rebutan para warga yang hadir. Efek dari karom­ah sang tokoh yang didapatkan, dipercaya mampu membuat kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Hal ini karena konon waktu itu setiap orang yang bisa bertemu dan bersalaman dengan Kanjeng Sepuh Sedayu, maka kehidupannya akan menjadi lebih baik. 

Dan agaknya keyakinan itu masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat. Hingga pada puncak acara haul, mereka akan berebut untuk masuk ke dalam komplek makam. Dengan bisa berdoa sedekat mungkin dengan makam sang tokoh, maka apa yang diharapkan tersebut akan terlaksana. 9KL@-6 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11-20 September 2007, hlm. 10

Tradisi Nyusuk, Kabupaten Gresik

Tradisi Nyusuk GresikCUACA cerah kala Jumat (20/9/2013), ratusan warga desa Kedamean Gresik nyusuk di waduk desa setempat. Nyusuk adalah tradisi mencari ikan beramai-ramai di waduk atau tambak setelah ikan dipanen. Ini dilakukan karena paskapanen, biasanya debit air surut dan masih menyisakan ikan. Nah, kesempatan ini tak disia-siakan warga untuk berburu ikan.

Alat yang digunakan sangat sederhana. Namanya susuk, bentuknya menyerupai sangkar ayam dalam ukuran kecil. Cara menggunakanya pun juga tidak terlalu susah, cukup disusukan berulang-ulang ke tambak yang airnya nyemek- nyemek. Dan ikan akan terperangkap di dalamnya. “Tapi kalau tidak biasa, tidak paham dengan karakteristik gerakan ikan ya susah juga,” tukas Madenan.

Menurut Made, panggilan akrabnya, tradisi nyusuk itu ada yang gratis ada juga yang berbayar. Nyusuk gratis biasa­nya dilakukan di waduk milik desa. Karena, selain berfungsi sebagai pengairan waduk juga kerap ditanami ikan. Hasil panen ikan menjadi pendapatan asli desa, sementara masyarakat diberi kesempatan menikmatinya dengan nyusuk gratis. Pendapatannya tentu beda, sesuai dengan kepiawaiannya masing-masing. Bagi yang terampil tentu akan mendapat hasil yang lumayan.

Nyusuk berbayar biasanya dilakukan perorangan. Usai mbanjang (memanen ikan) bia­sanya petani tambak memanggil broker susuk. Kemudian broker melakukan survei ke lokasi. Tambak yang habis dipanen itu masih banyak ikannya atau tidak, broker sudah hafal, broker ini sudah memiliki komunitas. Jika sudah ada kesepakatan harga dengan pemilik tambak, broker menghubungi komunitas. “Tarifnya bervariasi. Biasanya setiap orang dikenakan Rp 50.000,” kisah Made.

Tradisi nyusuk ini kerap menyita perhatian warga. Mereka menjadikannya sebagai tontonan gratis. Betapa tidak, ratusan orang dengan membawa susuk tumplek blek bermandikan lumpur. Sebagian besar me­reka sekujur tubuhnya penuh lumpur demi mencari ikan.

 

Dibandingkan dengan hasilnya jelas jauh dari memadai. Tapi mereka semangat sekali. Bagi warga Gresik tradisi ini hal biasa. Tapi, bagi warga luar Gresik tentu menjadi pemandangan luar biasa. Ingin menyaksikannya, inilah saatnya!

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: PRIYANDONO: SURYA, SELASA-1 OKTOBER 2013, hlm. 13

 

 

Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Kabupaten Gresik

Silsilah Maulana Malik Ibrahim

“Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, silsilah Maulana Malik Ibrahim sampai kepada Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Tluilib. Dengan demikian maka Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan Rasulullah saw, karena Ali bin Abi Thalib ra. adalah suami dari Sayyidatina Fathimah, puteri Rasulullah saw. yang kemudian menurunkan Sayyidina Husein itu.Adapun lengkapnya silsilah itu ialah sebagai berikut:

  1. Ali bin Abi Thalib ra memperisteri Fathimahtus Zahra.
  2. Berputera Sayyid Husein.
  3. Berputera Saryid Ali Zainal Abidin.
  4. Berputera Sayyid Muhammad Baqir.
  5. Berputera Sayyid Ja far Ash Shadiq.
  6. Berputera Sayyid Sayyid Muhammad Ali A1 Uraidi.
  7. Berputera Syeikh Isa Al Bashri.
  8. Berputera Syeikh Ahmad Al Muhajir.
  9. Berputera Syeikh Ubaidillah.
  10. Berputera Syeikh Muhamaad Shohib Marbaat.
  11. Berputera Syeikh Alwi
  12. Berputera Syeikh Abdul Malik. (Beliau dilahirkan di kota Ghasam dekat kota Tariem di daerah Hadramaut, lalu hijrah berdakvvah ke India dan di sana mendapat gelar Ahmad Khan).
  13. Berputera Syeikh Maulana Abdul Khan (Beliau ini lahir di India Karena ayahnya, yakni Syeikh Abdul Malik memperisterikan seorang puteri salah satu keluarga Raja, maka Maulana Abdullah Khan ini mendapat gelar Al Adjhmara (Amir Khan).
  14. Berputera Syeikh Maulana Ahmad alias Imam Ahmad Syah Jalul (Beliau menjadi muballigh yang masyhur yang daerah atau medan dakwahnya meliputi wilayah yang luas di seluruh jazirah India. Beliau akhirnya wafat di Pakistan sekarang ini).
  15. Berputera Syeikh Jamaluddin Akbar Al Husein. (Beliau inilah yang pertama kali berlayar ke Kamboja untuk menyiarkan Agama Islam, menikah dengan puteri Raja Kamboja).
  16. Berputera Syeikh Barebat Zainul Alam atau Syeikh Ali Nurul Alam atau Syeikh Jamaluddin Kubra. (Saudara kandungnya Syeikh Barebat Zainul Alam ada yang bernama Syeikh Ibrahim Al Ghozi alias Ibrahim Asmara yang kemudian menurunkan salah seorang Wali Songo bernama Raden Rahmat atau Sunan Ampel).
  17. Berputera Maulana Malik Ibrahim alias Maulana Maghribi, wali pertama dari Wali Songo di tanah Jawa.

Syeikh Jamaluddin Akbar Al Husein bersama puteranya, Syeikh Barebat Zainul Alam alias Jaaaluddin Kubra hijrah berdakwah menyiarkan Islam ke Kamboja dan berdomisili di Campa. Tetapi akhirnya Syeikh Jamaluddin Akbar Al Husein, nenek Maulana Malik Ibrahim, berlayar dan berdakwah ke Sulawesi dan meninggal di tanah Bugis daerah kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan”.

Metode Dakwah Maulana Malik Ibrahim
“Sesampainya di desa Sembalo, dekat Leran, Maulana Malik Ibrahim mulai hidup di tengah-tengah masyarakat Jawa dan menyimak situasi medan dakwahnya. Setelah ber’nasil menyimpulkan langkah apa yang tepat untuk dilaksanakan di dalam menyiarkan Islam, maka beberapa metode dakwah pun dipraktekkan, antara lain adalah:

Berjualan keperluan hidup masyarakat sehari-hari
Berjualan dan berdagang bukanlah metode, tetapi sarana untuk melaksanakan metode yang paling tepat dengan berjualan yakni mengakrabi masyarakat. Masyarakat harus didekati dan diakrabi, hingga Maulana Malik Ibrahim mengenal mereka. Mulai nama orang, keluarganya, situasi sosial ekonomi dan kondisi kehidupannya, hobi dan wataknya serta sifat-sifatnya, bahkan hal-hal yang agak pribadi pun diketahuinya.

Hal itu memang penting untuk usaha menyentuh hati dan pemikiran mereka dari pintu yang mana bisa dimasuki unsur dakwah Islam. Maka Maulana Malik Ibrahim baru menolong atau membantu seseorang, meiigajak dan membimbing, menasehati maupun mengingatkan seseorang, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar ataupun mengajak berdialog sampai berdebat sekalipun, adalah setelah mengetahui betul-betul kondisi seseorang.

Karena itulah beliau membuka warung di desa Romo, dan juga di desa Sembalo, yang menyediakan barang-barang yang diperlukan masyarakat sehari-hari. Dengan ini beliau bisa secara langsung berhubungan dengan rakyat di segala lapisan. Dari usaha ini beliau semakin terkenal sebagai orang yang ramah, baik hati, dan baik budi, jujur dan dapat dipercara, suka menolong sesama manusia, dan sifat- sifat mulia lainnya yang memikat hati masyarakat.

Pedagang yang jujur memang menjadi pujian orang, dan apalagi bila harganya lumayan relatif murah, tentulah banyak pelanggannya. Karena berdagang dengan tujuan dakwah dan menyiarkan Agama Is­lam, tidak semata-mata mencari keuntungan saja, maka nama Maulana Malik Ibrahim cepat terkenal di kalangan luas, terutama masyarakat kecil. Anggapan atau opini masyarakat terhadap beliau inilah yang membantu cepatnya keberhasilan dakwah Islam, karena masyarakat lalu tertarik kepada agama yang beliau bawa itu.”

Menjadi Tabib
“Apalagi beliau juga pandai mengobati berbagai macam penyakit, hal ini semakin mengharumkan nama beliau. kebanyakan orang-orang yang sakit berobat atau minta obat kepada beliau, menjadi sembuh. Orang yang sembuh dari penyakit karena diobati oleh Maulana Malik Ibrahim, menjadi tersebar beritanya ke seluruh kampung. Berita itu cepat tersiardari mulut ke mulut menyebabkan beliau menjadi orang terkenal di seantero daerah Leran Gresik dan sekitarnya (Sejarah dan dakwah Islamiyah Sunan Giri, Lembaga Research Pesantren Luhur Islam, 1973, hlm. 37).

Apalagi di dalam mengobati orang sakit itu beliau mendahuluinya dengan bacaan basmallah dan dengan doa-doa yang bisa didengar oleh orang yang menyaksikannya. Hal ini menjadikan Islam semakin terkenal di tengah-tengah masyarakat yang masih memeluk kepercayaan agama Siwa dan Kejawen.

Juga di dalam mengobati orang sakit itu pada prinsipnya beliau tidak memungut bayaran. Maka orang Jawa menganggap beliau sebagai “DewaPenolong” yang diharapkan bisa menyelamatkan banyak nyawa. Hal ini menyebabkan beliau terkenal dan sebagai tokoh kharismatik yang dihormati dan disegani masyarakat. Tak ada orang yang dendam dan curiga terhadap kehadiran beliau, sehingga beliau sebagai sosok yang menjadi tumpuan banyak harapan”.

Merakyat
Bukan dinamakan seorang ulama dan mubaligh, siapa yang tidak pandai menyelami hati masyarakat yang menjadi obyek dakwahnya. Demikian pula Maulana Malik Ibrahim, dengan menetapnya di desa Leran itu ia kemudian hidup di tengah-tengah masyarakat ramai atau rakyat jelata.

Iapun membuat sebuah warung. Dengan caranya berjualan itu ia dapat langsung berhubungan dengan rakyat kecil. Sehari-harian ia langsung dekat dengan masyarakat sehingga masyarakat mengerti bagaimana kebaikan akhlak serta contoh-contoh kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam yang dicerminkan oleh pribadi Maulana Malik Ibrahim sehari-hari.

Ia rajin mempelajari bahasa rakyat atau bahasa daerah sehingga dalam waktu yang tidak lama telah mahir dan dapat menguasai bahasa rakyat

Setelah bahasa daerah dikuasainya, maka Maulana Malik Ibrahim mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Ajakannya mendapat sambutan positif dan hangat dari penduduk yang kebanyakan merupakan rakyat jelata. Makin lama semakin banyaklah pemeluk agama Islam di Leran dan sekitarnya.

Berkat taktik dan sikap yang dijalankan oleh Maulana Malik Ibrahim itu Agama Islam dapat menarik perhatian rakyat. karena Maulana Malik Ibrahim memang pandai membawakan diri, pandai menyesuaikan diri, bersikap merakyat dan bijaksana.

Ia tidak tinggi diri dan bersikap “konfrontasi” terhadap falsafah atau pandangan hidup masyarakat, tetapi ia bersikap tidak membuka “front” perbedaan pendapat antara Islam dengan falsafah Hindu-Siwa. Ia bersikap “hati-hati” dan “tut wuri handayani” (mengikuti dari belakang sambil mempengaruhi) kepada masyarakat. Taktik ini rupa-rupanya berhasil, karena bila ia bersikap tajam dan dengan spontan menentang falsafah dan pandangan hidup rakyat yang Hindu-Siwa itu, tentunya mereka lari dari dakwahnya Maulana Malik Ibrahim saat itu.

Dengan keramah-tamahannya kepada masyarakat dan sikap “rendah dirinya” itu rakyat berbondong-bondong masuk Islam. Memang demikianlah taktik yang dijalankan Maulana Malik Ibrahim, dengan memikat rakyat jelata terlebih dahulu, kemudian untuk meminta pengakuan kepada baginda raja. Untunglah kalau nanti pihak atasan mau memeluk Agama Islam. Kalau toh tidak mau, Maulana Malik Ibrahim telah berhasil mendapatkan pengikut”.

Ajaran Kasta Hindu menguntungkan dakwahnya Maulana Malik Ibrahim
Di dalam dakwahnya kepada rakyat jelata, Maulana Malik Ibrahim menjelaskan kepada mereka bahwa menurut ajaran Islam tidak ada perbedaan kelas. Orang yang paling mulia di sisi Allah ialah mereka yang taqwa dan berbuat kebaikan. Maka tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, antara orang berpangkat dengan rakyat kecil, antara bangsawan dengan rakyat jelata.

Ajaran Islam itu ternyata menarik perhatian masyarakat, karena kebanyakan penduduk Leran dan sekitarnya adalah kaum tani dan nelayan, yang menurut pandangan kaum Hindu adalah tergolong kaum waisya dan sudra, termasuk kelas rendahan dan bahkan kaum yang hina.

Perlu diketahui bahwa bentuk masyarakat menurut Brahma, artinya, pembagian masyarakat menurut Hindu, dibagi menjadi empat golongan atau kasta, yakni:

  1. Kasta Brahmana, adalah kastanya kaum Brahmana, yang terdiri dari kaum pemuka agama, yang kewajibannya hanyalah belajar dan mengajarkan agama kepada manusia. Merekaterdiri dari kaum pendeta, guru, kadi, dan berhak menjadi Perdana menteri dalam pemerintahan.
  2. Kasta Kesatria, yang terdiri dari golongan prajurit dan para pahlawan. Tugas-tugas kasta Kestria adalah belajar, menyungguhkan kurban-kurban, membiayai keperluan-keperluan umum, dan memanggul senjata membela kepentingan negara.
  3. Kasta Waisya, yakni terdiri dari golongan petani dan pedagang Tugas mereka adalah bercocok tanam, berniaga, membelanjai perguruan-perguruan umum dan agama.
  4. Kasta Sudra, adalah golongan yang paling bawah, terdiri dari para pekerja dan kaum buruh. Tugasnya kaum Sudra hanyalah satu. yakni berkhidmat atau mengabdi kepada ketiga golongan di atas.

Kasta Waisya dan Sudra tidak dapat menikmati hak-hak azasi manusia karena dipandang rendah. Terutama kasta Sudra, di India masih menyedihkan nasibnya. Pada bulan Oktober 1981 di India timbul berita mengejutkan dengan masuknya hampir puluhan ribu orang dari kasta Sudra ke dalam Agama Islam, karena di dalam Hindu mereka dianggap hina.

Demikianlah dakwahnya Maulana Malik Ibrahim mendapat sambutan rakyat kecil atau rakyat jelata karena ajaran Islam membela kepentingan mereka. Di dalam Islam mereka menemukan kepribadiannya. Di dalam Islam mereka merasa “sebagai manusia” lagi, sebagai manusia sewajarnya yang mempunyai hak-hak yang sama dengan manusia lain. Mereka menjadi sederajat dengan siapa saja. Dengan demikian maka Islamlah yang mengangkat derajat mereka sama seperti manusia lain.

Tentu saja banyak di antara para bangsawan dan yang merasa sebagai golongan Brahmana dan Kesatria tidak tahan menerima perlakuan murid-murid Maulana Malik Ibrahim itu. Maka banyak di antara mereka yang meninggalkan desa Leran dan sekitarnya, pergi menyingkirkan diri menuju tempat-tempat yang masih inenganggap mereka sebagai “orang atas”

Membangun Masjid dan Pesantren Pertama di Jawa
“Setelah para pengikut Islam semakin banyak, maka Maulana Malik Ibrahim mendirikan sebuah masjid untuk berjamaah dan mengaji. memperdalam Agama Islam.

Tidak ada keterangan bahwa masjid yang dibangun Maulana Malik Ibrahim itu merupakan masjid yang pertama di tanah Jawa, karena mungkin sebelumnya para Tionghoa peranakan atau Tionghoa Islam di sepanjang pesisir utara Jawa telah membuat masjid.

Kecuali membuat sebuah masjid, berhubung minat orang-orang Islam untuk menuntut ilmu-ilmu agama semakin keras, dan karena juga banyak pemeluk Islam yang datang dari luar desa Leran dengan maksud mencari ilmu atau memperdalam agama Islam, maka Maulana Malik Ibrahim pun mendirikan pesantren Islam.

Itulah pesantren Islam pertama yang didirikan di Jawa. Dari pesantren inilahkemudianditelorkan banyak mubaligh yang akhirnya mereka menyiarkan agama Islam ke berbagai daerah.

Penduduk desa Leran dan para santri tentunya membutuhkan air untuk keperluan pengairan dan keperluan lainnya. Berhubung desa tersebut sering kekurangan air untuk itu, maka atas inisiatif Mulana Malik Ibrahim, dibuatlah sebuah saluran air yang mendapat aliran dari desa atau tempat lain. Aliran air itu dinamakan “pensucian” yang menjadikan desa Leran dan sekitarnya ramai karena menjadi pusat dakwah Islam dengan ulamanya yang terkenal serta dicintai rakyat, yakni Maulana Malik Ibrahim.

Hingga sekarang tempat air itu masih ada, yakni di desa yang namanya juga Desa Pesucian. Tempat air tersebut berada di depan sebuah masjid kuna yang diperkirakan dibuat pada tahun 1311 Saka atau tahun 1389 Masehi. Tempat air tersebut berupa telaga untuk mengambil air wudhu bagi orang yang akan sholat berjamaah di masjid tersebut.”

Ingin Mengislamkan Raja Majapahit
“Setelah beberapa tahun bermukim di Leran dan sekitarnya, Maulana Malik Ibrahim dapat mengetahui agak mendalam tentang masyarakat setempat, baik tentang adat istiadat maupun sosial budayanya. Mayarakat yang termasuk di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, adalah sebagaimana kehidupan yang dirasuki perasaan kepatuhan dan ketundukan bersifat feodalistis di mana pun, masyarakat Jawa merupakan cermin yang mewakilinya.

Apalagi sebuah hadits Nabi Muhammad saw. menyebutkan bahwa rakyat itu mengikuti agama yang dipeluk rajanya, hal ini tambah meyakinkan tekad Maulana Malik Ibrahim yang menyimpan cita-cita betapa cepatnya Islam ini tersebar dan dipeluk oleh masyarakat Jawa seandainya raja Majapahit berkenan memeluk Agama Islam.

Keinginan itu pun disampaikan lewat surat kepada sultan Kedah, Sultan Mahmud Syah Alam, agar sang Sultan berkenan datang ke tanah Jawa dan bersilaturahmi kepada raja Majapahit, sekaligus mengajak raja Majapahit untuk memeluk Agama Islam.

Surat Maulana Malik Ibrahim itu disambut baik oleh Sultan Mahmud Syah Alam, dan beliau memang betul-betul datang ke Gresik beserta seorang puterinya yang berparas cantik. Oleh Maulana Malik Ibrahim sang puteri tersebut diupayakan agar dapat dipersunting oleh raja Majapahit. Tetapi sayang, upaya Maulana Malik Ibrahim untuk menawarkan sang puteri ini ditolak oleh raja Majapahit, sehingga harapan untuk mengislamkan raja Majapahit tersebut tidak berhasil”.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Machi Suhadi. Makam-makam Wali Sanga di Jawa. (Jakarta): Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. hlm. 115-122. (dikutip dari kitab Riwayat Maulana Malik Ibrahim oleh Umar Hasyim, “Menara Kudus” 1981, hlm. 10-11)

Leran Mengukir Sejarah Besar, Kabupaten Gresik

Leran Dilupakan Setelah Mengukir Sejarah Besar

LERAN001Leran, Desa bersejarah yang tenggelam ditelan sejarahnya sendiri. Sejarah kebesaran dan kejayaan Islam di bumi nusantara lahir dari tanah mardikan ini, tetapi setelah itu, Leran tersisih berdiam diri menjadi benda bersejarah yang benar-benar telah ‘mati’ tertinggal oleh daerah-daerah bersejarah yang turut dilahirkannya.

Bekas peninggalannya pun sejak puluhan tahun terlihat kurang terawat. Diatas pelataran daratan  Leran masih tampak Makam Siti Fatimah Binti Maimun dan sebuah bangunan masjid kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Malik  Ibrahim. Oggokan layar sebuah kapal kuno juga masih menancap di tengah per­tambakan. Keramik-keramik berbentuk piring, gelas, teko dan barang-barang peninggalan lainnya masih banyak terpendam di dalam perut Bumi Leran. Hal ini menandakan, pada zaman itu Leran sudah menjadi pelabuhan internasional. “Kita sudah sering me­ngadakan penelitian dan penggalian di Leran dan banyak bukti sejarah yang menegaskan bahwa Leran adalah desa pertama yang menjadi pusat per­tumbuhan dan perkembangan Islam di nusantara,” kata ahli sejarah Dra. Wanda Mentini.

Makam Fatimah Binti Maimun dari sisi bentuk, bahan bangunannya dan tulisan-tulisan yang tertera di atas batu nisannya semakin kuat me­negaskan bahwa sejarah peradaban baru diawali dari Desa Leran, Kec. Manyar, Gresik. Menurut Mustakim pakar sejarah Gresik juga menuturkan, dilihat dari cungkup makam Siti Fa-timah binti Maimun memiliki nilai arsitektur yang sangat tinggi. Bagian kaki dan badan bangunan dihiasi dengan pelipit-pelipit persegi dan atap berbentuk limas, dindingnya tebal, dengan ruangan yang sempit. Batu bata putih digunakan sebagai bahan tembok mengelilingi cungkup. Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa Siti Fatimah binti Maimun pada za­man itu memiliki kedudukan yang penting.

Nisan makamnya dihiasi dengan pahatan kaligrafi bergaya kufi me­rupakan tulisan arab tertua di Asia Tenggara. Tulisan itu berisi kalimat basmalah dan ayat al-Qur’an Surat Ar Rahman ayat ke-26, Surat Ali Imran ayat ke-185, diakhiri dengan bacaan shadaqallahu wa shadaqa rasulu al Karim. Selain itu di atas nisan juga ditulis nama dan tahun meninggalnya, yaitu pada 1082. Nampaknya nisan ini ada persa­maannya dengan nisan yang ditemu­kan di Phanrang (Thailand). Seorang pemerhati sejarah purbakala bernama Moquette menyatakan bahwa batu nisan tersebut berasal dari produk yang sama yaitu Cambay, India.

LERAN002Belum jelas, apa saja pengaruh kedatangan Fatimah ini, tetapi de­ngan mengidentifikasi bekas pe­ninggalannya, jelas kehadirannya telah memberi pengaruh mendalam bagi perubahan peradaban masya­rakat. “Kalau di Laut Selatan muncul tokoh Nyi Roro Kidul, maka sebagai penyeimbangnya adalah Nyi Leran sebagai tokoh wanita muslimah yang dikenal dengan Siti Fatimah Binti Maimun dari Laut Utara,”kata (alm) Gus Dur. Jejak Leran semakin tegas sebagai awal titik munculnya masyarakat baru setelah Malik Ibrahim juga men­daratkan kakinya di Desa Sembalo yang sekarang disebut dengan Desa Leran pada tahun 1370.

Di desa yang pernah menjadi pusat perdagangan ini, Maulana Malik Ibrahim selain berdagang juga berdakwah mengajak masyarakat masuk Islam. Dan dia pun sesaat tiba di Leran langsung mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan untuk menanamkan nilai-nilai ajaran Islam kepada masyarakat yang mayoritas masih memegang teguh kepercayaan animesme dan dinamisme. Dakwah Malik Ibrahim berkembang pesat apalagi setelah pusat dakwahnya dipindah ke Desa Gapura, Kec. Gresik. Pernikahannya dengan putri kera-jaan telah melahirkan ulama besar; Sunan Ampel dan Sunan Raden Santri.

Dari kedua putra Malik Ibrahim itulah, Sunan Giri berguru mendalami ilmu agama, sehingga berkat kecerdasannya, anak angkat Ki Ageng Pinatih ini ti­dak hanya menguasai ilmu agama tetapi juga memiliki il­mu-ilmu so­sial politik, dan dikenal ahli strategi, sehingga di kalangan para wali, Sunan Giri dijadikan tokoh sentral untuk dimintai pendapat dalam segala bidang. Bahkan berkat keilmuannya, wa­wasan dan kemampuannya dalam membangun sebuah negara, dia pun menobatkan diri sebagai Raja Giri Ke-daton. Kekuasaannya meluas sampai menembus ke wilayah Indonesia Tfl-mu r dan beberapa Negfara tetangga. Hal itu yang membuat Sunan Giri menjadi raja besar yang agung.

LERAN003Menurut mantan Rektor IAIN Su­nan Ampel Prof.DR.Nursyam, Gresik merupakan daerah yang khas yang tidak ditemukan di daerah lain. Sunan Malik Ibrahim dan Sunan Giri menjadi kekuatan utama untuk mengemban daerah ini sebagai pusat penyebaran dakwah. Uniknya lagi, lanjut dia, Gresik ini seakan dilindungi oleh waliyullah, yaitu dari arah timur bersremayam Sunan Ampel dan dari arah barat dibentengi Sunan Drajat di Lamongan dan Sunan Bonang, Tuban.

Dengan peta Gresik seperti ini, bu­kan berarti Gresik mendapatkannya by given, tetapi dari sosiokultural, Gresik telah meletakkan pilar-pilar yang kuat dalam membangun sebuah peradaban baru yang berbasis pada nilai-nilai ajaran agama yang universal penyebar kedamaian. “Banyak faktor yang menegaskan bahwa Gresik benar-benar disebut sebagai kota santri,”ujarnya.

Dari sinilah awal mula terjadinya peradaban baru di nusantara dan sia-papun tidak akan membantah jika Gresik memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat yang ber­budaya luhur, berkarakter dan to-leran.”Lihat saja, berbagai tradisi yang berkembang di nusantara ini selalu diwarnai nilai-nilai Islam. Dan nilai-nilai itu sebenarnya berkembang dimulai dari daerah ini,”katanya. (tim sd)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA, Edisi 05 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 56 – 57

Megengan, Kabupaten Magetan, Bangkalan, Gresik, Tulungagung

Megengan Tradisi Perekat Silaturahmi, ragam tradisi megengan tumbuh semarak di masyarakat sebagai bentuk akulturasi Isla dan budaya lokal.

MEGENGANSalah satu pengaruh Islam di lingkungan masyarakat Islam Jawa adalah tradisi megeng-an. Megengan sering diartikan ritual mapag atau menjemput tanggal satu Bulan Ramadlan. Secara harfiyah megengan berasal dari kata “megeng” yang berarti menahan diri dari semua perbuatan yang mendatangkan dosa. Itu sebabnya, secara filosofis megengan bermakna sebagai media permohonan maaf atas segala dosa para leluhur, sekaligus sebagai momentum mengenang dan meng­hormati atas segala kebajikannya.

Dan yang lebih penting lagi, megengan merupak­an pernyataan sikap dengan diiringi keihlasan tinggi untuk mapag kedatangan Bulan Suci Ramadlan. Itu sebabnya, warga muslim selalu sibuk menyiapkan diri dengan melakukan berbagai ritual selama tujuh hari menjelang Puasa Ramadlan.

Tradisi megengan di setiap daerah banyak ragam­nya, tetapi membersihkan diri, membersihkan masjid, dan ziarah kubur adalah jamak dilakukan masyarakat. Doa dengan menggelar kenduri bersama di masjid juga mewarnai ritual megengan sebagai ungkapan rasa bersyukur atas kedatangan Ramadlan.

MEGENGAN 0Warga Desa Tamanarum, Kec. Parang, Magetan, setiap menyambut bulan suci selalu mengadakan ro’an atau kerja bakti membersihkan masjid kuno dan sarean(makam) pendiri masjid. Masjid kuno di Desa Tamanarum adalah peninggalan KH Imam Nawawi. Dilihat dari pahatan mustaka melati dan wuwungnya persis dengan makam KGRay Maduretno istri Adipati Maospati Rangga Prawirodirdjo III, yang berangka 1810. Ini bisa diartikan masjid di desa ini usianya sama dengan berdirinya Kabupaten Magetan.

“Seperti biasanya kita menyambut Bulan Suci Ro-madhan ini dengan membersihkan masjid, karena akan digunakan untuk sholat taraweh dan kegiatan selama romadhan. Lemari- lemari tempat penyim­panan kitab-kitab dan al-Qur’an kuno juga kita ber­sihkan, selesai masjid kita kerja bakti membersihkan makam,” jelas KH Hamid, Pengasuh masjid At Taqwa yang juga keturunan dari KH Imam nawawi ini.

Biasanya selesai membersihkan masjid dan makam, malam harin­ya dilaksanakan kirim doa kepada keluarga yang sudah meninggal, kemudian   dilanjutkan   dengan

selamatan “Ambengan”(membawa tumpengan atau makan satu ember penuh yang di penuhi berbagai jenis menu dan jajan) di bawa ke masjid, dan di makan bersama- sama di se­rambi masjid.

MEGENGAN001“Tradisi seperti ini adalah sim­bol kebersamaan yang tercipta sejak mbah kita dulu, tidak ada unsur apa-apa dalam pelaksanaannya, ya kar­ena tradisi saja, kami melakukannya sebatas ngeluri budaya, karena kalau tradisi seperti kerja bakti ini tidak sering kita adakan akhirnya akan ter­bangun sifat individualis seperti yang ada di kota- kota besar” kata Lanjar Karni, Kepala Desa Tamanarum.

Soal membersihkan makam, ma­syarakat Bangkalan lebih unik, sebab makam keluarga tidak hanya dibersi­hkan tetapi batu nisannya diperbaiki dan dicat dengan warna warni yang mencolok, seperti kuning, merah, hijau, biru dan lainnya. “Ka­lau rumah kita yang masih hidup dibersih­kan dan dipercantik, maka makam keluarga kita yang sudah wafat juga perlu dirawat kein­dahannya,” kata Mail warga Bangkalan.

Makam para wali juga menjadi jujugan masyarakat sesaat sebelum Bulan Puasa tiba. Makam Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Malik Ibrahim, Sunan Drajat dan Sunan

Bonang dan puluhan sunan lain­nya selalu ramai diziarahi. “Menjelang Ramadlan jumlah peziarah lebih ban­yak dari hari-hari biasa, “kata Hasyim pegawai Makam Sunan Drajat.

Megengan dalam makna lain ada­lah media perekat antar umat Islam. Tali persaudaraan terikat kuat kar­ena didasari hati, pikiran dan jiwa yang saling bersilaturrahmi. “Dengan megengan yang sangat sederhana mendatangkan hikmah yang besar,” ungkap Asrori Kepala Desa Tiudan Kecamatan Gondang .

Menurut Asrori yang juga sebagai Ketua AKD Kabupaten Tulungagung tradisi megengan di desanya setiap tahun ditandai dengan membuat jajanan seperti apem,pisang,bahkan tumpengan yaitu nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya seperti ayam lodho,sambal goreng kentang,dan tempe,urap-urap,ke timun,kelapa goreng alias srondheng.

Dia menjelaskan makanan khas yang selalu mengisi acara megengan adalah pembagian kue apem dan pi­sang. Uniknya di daerah Tulungagung hanya dua jenis kue itu yang dibagikan antara tetangga.” Ini tentu mengandung makna atau filosofi tersendiri dibalik penggunaan kue apem dan pisang raja dalam acara megengan,” bebernya. Kue apem bila disatukan dengan pi­sang raja akan berbentuk payung. Pi­sang berfungsi sebagai penyanggah dan kue apem sebagai payungnya. “Payung itu sendiri melambangkan perlindungan dari segala rintangan dan halangan selama menja­lankan ibadah di Bulan Suci Ramadan,” jelasnya Ada juga yang bilang kalau kue apem ini be­rasal dari perkataan Arab “afwan” yang be­rarti “maaf. Meminta maaf dan memberi maaf sebelum Ramadlan tiba memang lebih baik di­banding setelah berpuasa sebulan penuh.

Megengan berarti juga acara saling mem­beri ransum ( nasi beserta sayur ayam ) kepada para sanak saudara dan orang tua. Dalam hal ini megengan bukan sekedar ung­kapan syukur dan gembira atas da­tangnya bulan Ramadhan, namun sekaligus sebagai ajang mempere­rat silaurrahmi dan persaudaraan. Ada sebuah pepatah jawa yang men­gatakan ” pager mangkok luwih kuat tinimbang pager tembok ” yang artin­ya saling memberi hadiah makanan ( arti dari mangkok) adalah lebih kuat menjaga tali persaudaraan. Islam di Jawa tumbuh subur berkat akulturasi dengan tradisi yang berkembang di Jawa, sehingga khazanah keislaman berupa tradisi megengan ini tetap hidup dan menghidupi pembentukan masyarakat yang saling menghargai dan mencintai sesama.(Sum, Sak)

SUARA DESA,  Edisi 05, 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 59

Soedharmono, Kabupaten Gresik

sudarmono12 Maret 1927,  H. Soedharmono, S.H. lahir di Cerme, Gresik, Jawa Timur, Indonesia, dari pasangan Ibu Soekarsi meninggal ketika melahirkan adik bungsunya (1930) dengan Ayah R. Wiroredjo meninggal 6 bulan kemudian. Sehingga Soedharmono sudah menjadi yatim piatu dari kecil sejak usia 3 tahun, selanjutnya Soedharmono berpindah-pindah orang tua asuh.

Pendidikan Soedharmono SD, SMP, SLTA, telah dilalaluinya dengan tiada hambatan.

 Tahun 1956, Soedharmono kuliah di Akademi Hukum Militer dan Perguruan Tinggi Hukum Militer (lulus 1962).

Tahun 1957-1961, H. Soedharmono, S.H.  menjadi jaksa tentara tertinggi di Medan, jaksa tentara merangkap perwira staf Penguasa Perang Tertinggi.

Tahun 1966-1972, H. Soedharmono, S.H.  menjadi Sekretaris Kabinet merangkap Sekretaris Dewan Stabilitas Ekonomi.

Tahun 1983, Musyawarah Nasional III Golkar, diusulkan sebagai  Wakil Presiden kelima RI masa bhakti (1988-1993), sekaligus menjadi ketua Umum Golkar.

11 Maret 1988 – 11 Maret 1993, sejak SU MPR  (1988) H. Soedharmono, S.H.  mencapai kursi puncak tertinggi kedua RI,  Wakil Presiden kelima RI (1988-1993), dan

H. Soedharmono, S.H,  pilihan Presiden Soeharto . Dalam sidang yang akan menetapkan Sudharmono sebagai wakil presiden. Brigjen Ibrahim Saleh, seorang anggota Fraksi ABRI, melakukan interupsi, memang terjadi ketegangan antara pihak Golongan Karya unsur sipil (Jalur G) dan birokrasi (Jalur B) yang menginginkan terpilihnya Sudharmono dan Golongan Karya unsur militer (Jalur A) yang menginginkan terpilihnya Try Sutrisno. Namun upaya penghadangan ini gagal, karena Brigjen Ibrahim Saleh segera dikeluarkan dari ruang sidang.

Rabu malam, 25 Januari 2006, sekitar pukul 19.40 WIB, H. Soedharmono, S.H.  dipanggil Sang Khalik di usia 78 tahun, setelah menjalani perawatan selama dua pekan di Rumah Sakit MMC, Jakarta, sejak 10 Januari 2006.

26  Januari 2006, Esok paginya, H. Soedharmono, S.H. dimakamkan di TMP Kalibata dengan pimpinan upacara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. meninggalkan seorang istri, Emma Norma, dan tiga orang anak.

Rabu 18 Juli 2012 pukul 14.30, Istri mantan Wakil Presiden ke-5 RI Soedharmono, Hj. Ratu Emma Norma Soedharmono, meninggal pada usia 85 tahun. di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP).

Sebelum dimakamkan di TMP Kalibata, jenazah Hj. RT.E.N. Soedharmono pada Kamis (19/7), diserahkan dari pihak keluarga kepada negara, diwakili anak bungsunya Tantyo Adji Pramudyo Soedharmono kepada Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.

Acara serah terima jenazah yang dilakukan secara militer ini dilangsungkan di Rumah duka, Jalan Senopati 44 di kawasan, Kebayoran, Jakarta Selatan.

Kamis 19 Juli 2012, Wakil Presiden Boediono bertindak sebagai Inspektur Upacara. Wakil Presiden Boediono melakukan penimbunan liang lahat secara simbolis setelah pihak keluarga melaksanakan penaburan bunga.

Sekilas tentang Hajjah Ratu Emma Norma Soedharmono

3 Maret 1928, Hajjah Ratu Emma Norma Soedharmono Lahir di Purwakarta, adalah anak dari pasangan alm. Tubagus Ilyas Angkawidjaja dan almh. Ubaid Djubaedah.

Pendidikan pernah mengenyam pendidikan guru agama.

Pernah bekerja di kantor pengacara,

Ketua Umum Pertama Presidium Dharma Wanita Pertama, yang menyatukan organisasi-organisasi kewanitaan di seluruh departemen dan non departemen menjadi satu organisasi Dharma Wanita.

Turut menggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Tahun 1992-1997, menjadi Anggota DPR-MPR RI.

Hj. RT.E.N. Soedharmono,  Bintang Mahaputra Adipradana dari pemerintah, telah beliau dapatkan.

Selain menerima Tanda kehormatan dari pemerintah juga pernah memperoleh bintang kehormatan dari negara lain seperti Quwait, Kamboja, Venezuela serta Korea.

=S1Wh0T0=

Batik Khas Gresik

Mencari Ikon Batik Khas Gresik.

KETUA panitia lomba batik khas Gresik, 2012, Moch. Najikh, melaporkan bahwa pelaksanaan lomba desain batik khas Gresik berdasarkan Surat Keputusan Dekranasda Jatim Nomer 051/ Dekran. JatimSK/VI/2011 dan SK Ketua Dekranasda Kabupaten Gresik No. 42/ Dekran Gresik/Sek/X/ 2012.

Tujuan lomba adalah memberikan semangat kepada masyarakat untuk mencintai, memahami secara nyata desain batik Gresik. Memberikan kesempatan kepada masyarakat guna mempelajari motif batik khas Gresik serta melestarikan budaya batik, bisa menggali potensi daerah untuk mengembangkan kekayaan motif batik khas Gresik.

Biaya lomba didapat dari APBD Kab. Gresik tahun 2012 dan bantuan dari pihak ketiga. Sebagai juri dari komunitas batik Surabaya dan Gresik. Pemenang lomba akan diumumkan pada 22 Desember mendatang sekaligus memperingati Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember.

Bupati Gresik, Dr. H. Sambari Halim Radianto, dalam paparannya mengatakan di Gresik banyak pengrajin batik, tapi belum memiliki nama seperti bati Pekalongan, Solo, Jogya dan kota/ Kab. lain. Dengan diselenggarakannya lomba ini, diharapkan batik Gresik menjadi ikon, harap bupati.

Motif desain bebas dan menggambarkan Gresik sebagai kota Wali dan kota Santri dengan kondisi geografis, potensi sumber daya alam dan seni budaya Gresik. Gresik juga banyak yang bisa digali dalam lomba ini, di pelabuhan ada pemancingan, kapal penumpang Gresik- Bawean, dan ada potensi lainnya. .

Sementara itu Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kab Gresik Hj Maria Ulfah Sambari HR di saat meninjau para peserta lomba menjelaskan bahwa saat ini Kab Gresik belum memiliki Ikon batik khas Gresik. Kalau toh ada yang beredar, itu hanya ide dari seseorang saja, makanya untuk mewujudkannya, kami mengadakan lomba Desain Batik Khas Gresik.

“Dengan lomba semacam ini diharapkan tumbuh motif-motif batik yang bisa mewakili Kab Gresik. Sebenarnya banyak motif atau ciri khas peninggalan pendahulu kita, seperti gapuro, pudak, ikan bandeng, betoyo Guci yang mempunyai cerita tersendiri serta banyak sekali yang lainnya, (har)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  EDISI 75, TAHUN VII, DESEMBER 2012, hlm. 18

Kunir Wedoro, Kabupaten Gresik

Kunir wedoro Kualitas Dunia

Desa Wedoroanom, Kec. Driyorejo, Gresik sudah lamadi kenal tandus, tanahnya kering dan kurang air. Namun desa yang berdampingan dengan kawasan Surabaya ini, kini sudah mendunia karena kunir sej enis tanamanempon-empon yang diproduksinya diburu banyak pedagang untuk pelbagaikepentingan terutama untuk pem-
buatan jamu atau obat-obatan herbal.

KunirDesa Wedoroanom memilikiwarna yang khas, aroma yang dike-luarkannya juga jauh lebih sedapdibanding kunir dari desa lain di Jatim. “Itu sebabnya, kunir kawasanGresik Selatan ini diburu banyak pedagang karena kualitasnya yang sangat bagus dan bisa jadi sejenis ku-nir terbaik di dunia,” kata Budin (45) seorang tengkulak Gresik.

Budidaya tanam empon-empon ini dimulai sejak tahun 2000-an. Lahanyang luas membentang sejauh mata memandang dibiarkan mangkrak oleh pemiliknya. Selain tadus, sulit berharap mendatangkan untung dari bercocok tanam di lahan kering ini.

Hal ini menyebabkan, banyak warga desa memilih mata pencaharian lain seperti menjadi karyawan pabrik atau bekerja di sektor informal lainnya.

Di balik tanah tandus itu, justru tanahnya mengandaung unsur yang paling digemari tanamn kunir. Warna tanahnya yang kehitaman dan berpasir serta terjafdi bongkahan pada musim kemarau adalah sejenis tanah yang paling cocok untuk dijadikan budidaya tanaman kunir. Sifat orga­nik tanah seperti itu terhampar luas di kawasan Desa Wedoroanom dan sekitarnya, sehingga warga desa be­ramai-ramai menggarap lahan ko­song, apalagi setelah beberapa petani sukses menjadi petani kunir.

Menurut Anwar Ketua RT di Desa Wedoroanom, pada awal musim panen harga kunisnya mencapai Rp 3.500/Kg dan harganya terus menaik pada saat jumlah stok di rumah penduduk mulai menipis. | “Kalau sudah tidak ada stok itu para tengkulak siap memberi haga tinggi, bahkan dengan harga Rp 5 ribu/ Kg akan dibeli, tetapi banyak petani tidak menjualnya, karena persediaan yan ada dipakai untuk pembibitan, “ujarnya.

Anwar termasuk petani sukses, selama dua tahun ini, keuangan ru­mah tangganya dicukupi dari kunir termasuk untuk membeli beberapa kendaraan roda dua dan membayai pendidikan putra-putrinya. Padahal, kata dia, lahan yang ditanaminya itu tidak terlalu luas hanya sekitar 2500 metr persegi tetapi bisa menghasilkan puluhan ton kunir dan jika ditambah dengan lahan orang lain yang juga dtanaminya setiap tahun dia bisa meraup laba lebih dari Rp 30 juta.

Kunir memang lagi ngetrend di kawasan sini. Cara tanamnya gam­pang, tidak banyak penyakit, tidak banyak butuh air, sedikit pupuk tetapi jualnya cukup gampang. Setiap musim panen tiba desa ini menjadi ramai dengan tengkulak yang datang dari pelbagai daerah,”tuturnya. ”

Car tanam kunir cukup sederhana. Lahan dipersiapkan dengan men­cangkul tanah dan ditaburi pupuk kandang. Setelah beberapa hari, bibit kunir ditanam dengan jarak 30 cm. Setiap titik tanam bisa diisi 2 sampai 4 bibit dengan harapan pada saat panen jumlahnya melimpah. Bibit yang ditanam dipilih dari kunir yang sudah tua dan memiliki ruas banyak.

Menurut Anwar pada awal tanam dibutuhkan air yang cukup, namun setelah itu petani hanya membersihkan tanaman liar yang tumbuh di sekitar. Pada masa pertumbuhan kunir cepat membusuk jika terlalu banyak air yang menggenanginya, sehingga se­tiap ada air yang masuk ke lahan per­tanian harus segera dialirkan. “Pada usia sekitar 3 bulan, perlu diberi pu­puk pabrik untuk mempercepat per­tumbuhan sekaligus agar tanaman tumbuh lebih subur, “katanya.

Dengan pola tanam seperti ini, petani kunir memiliki waktu kosong yang cukup banyak dan dapat digu­nakan untuk melakukan pekerjaan pro­duktif lainnya, seperti menjadi tenaga pendidik, kuli bangunan, pedagang kaki lima maupun pekerjaan di luar kota. Nilai tambah dari usaha budidaya kunir ini bagi petani bisa meningkatkan pendapatannya. “Warga yang belum dapat pekerjaan bisa menggantungkan hdupnya dari kunir sementara warga yang sudah bekerja akan memiliki pendapatan ganda,”| ujarnya.

Dijelaskan, harga kunir sampai saat ini stabil selalu di atas angka Rp 2500/ Kg dan harganya terus naik di saat menjelang musim tanam yang diawali sekitar Bulan Oktober ini harganya bisa mencapai Rp 5 ribu/Kg. Dengan masa tanam selama 8 bulan, kunir sudah bisa dipanen, (nf)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA, Edisi 07 | 15 Agustus -15 September 2012, hlm. 45