Batik Sendang Lamongan

Batik Sendang Lamongan memiliki 3 motif baru  pada tahun 2012 yang dihasilkan dari perlombaan mendesain motif batik yang bertemakan Lamongan. Motif baru tersebut meliputi

  • motif bandeng lele sebagai Icon Kabupaten Lamongan,
  • motif gapuro Tanjung Kodok dan,
  • motif kepiting yang diciptakan berdasarkan sumber ide berasal dari daerah Lamongan.

Motif  batik Sendang Lamongan ditinjau dari ragam hias  utama, pelengkap, isen-isen dan makna motif dan warna motif batik Sendang Lamongan. Dalam menentukan motif  batik Sendang Lamongan mengacu dari lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, benda-benda yang ada di sektor perikanan daerah pantura yaitu kepiting. Motif dan warna batik menjadi ciri khas batik Sendang Lamongan tentunya memiliki makna karena motif tersebut muncul melalui pengalaman-pengalaman yang terjalani dan sesuai dengan lingkungan hidup di sekitar kabupaten Lamongan.

  1. Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan
  2. Motif Bandeng Lele

Motif batik Bandeng lele dijadikan sebagai Icon Kabupaten Lamongan yang diperoleh dari hasil perlombaan membuat motif batik dengan tema Lamongan. Batik motif bandeng lele tercipta dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2012, dan motif bandeng lele ditetapkan sebagai Icon Kabupaten Lamongan.

Motif bandeng lele merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2015. Sumber ide motif Bandeng lele berasal dari binatang yang mempunyai keistimewahan serta menyimpan cerita sejarah Kabupaten Lamongan yang diwujudkan menjadi lambang Kabupaten Lamongan yaitu Bandeng dan Lele.

  1. Motif batik Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2013. Hal tersebut sesuai pendapat Bapak Eko (Staf Diskoperindag). Batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Kabupaten Lamongan yaitu Gapuro dan Batu Kodok.

Gapuro merupakan tempat yang dahulu digunakan berkumpulnya antara kanjeng Sunan Drajat dan Sunan Sendang yang terletak disekitar tanjung kodok. Akan tetapi gapuro tersebut sudah dipindah dengan bentuk yang sama dan sekarang digunakan sebagai gapura pintu masuk makam Sunan Sendang tepatnya di Desa Sendangduwur.

Tanjung kodok bersumber ide dari sebuah batu yang menjorok kelaut dengan bentuk yang menyerupai hewan kodok. Berdasarkan ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa motif Gapuro Tanjung Kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Lamongan, dalam hal ini yaitu Gapura Makam Sunan Sendang dan Tanjung Kodok. Sesuai gambar sumber ide penggabungan gapuro dan tanjung kodok,  sehingga muncul motif gapuro tanjung kodok. Penggambaran gapuro dan tanjung kodok diteparkan pada ragam hias utama pada batik.

  1. Motif batik Kepiting

Motif Batik Kepiting merupakan desain hasil lomba motif batik yang bertemakan Lamongan pemenang juara 2 tahun 2014. Batas sebelah utara Lamongan merupakan daerah pesisir yang sebagain besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan, hasil tanggkap ikan yang banyak diperoleh yaitu kepiting, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Hal itu menunjukkan bahwa kepiting merupakan hasil tangkapan para nelayan yang banyak dijumpai dan merupakan ciri khas fauna daerah pantura di Kecamatan Paciran. Sumber ide batik motif kepiting dari binatang yang merupakan hasil sektor perikanan daerah pantura yang banyak dijumpai di daerah pesisir kecamatan Paciran serta diwujudkan dalam bentuk patung Raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan.

Bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Bandeng lele ini adalah ragam hias binatang berupa ikan Bandeng dan Lele. Penggambaran Bandeng dan Lele ditampilkan secara utuh dengan menggunakan warna hijau tosca serta warna dasar hijau tua sesuai warna dasar Lambang Kabupaten. Gambar bandeng dan lele berdampingan dengan bentuk sedikit melengkung. Ragam hias pelengkap pada motif bandeng lele adalah ragam hias berupa bunga melati dan rantai. Pada ragam hias pelengkap berupa melati. ragam hias isen-isen yang digunakan pada motif bandeng lele adalah cecek-cecek dan cecek sembilan. Isen-isen menggunakan warna coklat muda.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Berdasarkan hasil observasi  mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah ragam hias alam yang berupa gapuro dan batu kodok. Penggambaran Gapuro dan tanjung kodok ditampilkan secara utuh. Pada ragam hias utama berupa gapuro dan tanjung kodok menggunakan warna biru  tua yang mengikuti warna dasar pada batik serta dikombinasi dengan warna hitam. Ragam hias pelengkap pada motif Gapuro Tanjung Kodok  adalah ragam hias berupa daun singkong dan burung garuda. ragam hias isen-isen pada motif batik Gapuro tanjung Kodok adalah cecek-cecek. Ragam hias isen-isen pada motif batik ini pengisis bidang kosong pada ragam hias pelengkap. Isen cecek-cecek menggunakan warna putih.

Berdasarkan hasil observasi mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif kepiting adalah berupa ragam hias hewan berupa kepiting. Penggambaran kepiting ditampilkan secara utuh. Ragam hias utama menggunakan warna merah muda. Ragam hias pelengkap pada motif Kepiting adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam. ragam hias pelengkap pada motif Kepiting  adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam.

  1. Makna Motif Dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Sesuai dengan hasil wawancara mengenai makna warna dan ragam hias batik bersama ibu Alismawati  (pengrajin batik Sendang) dan Bapak Eko Budi (Staf diskoperindag) bahwa pada motif batik bandeng lele ragam hias utama digambarkan  secara utuh ikan lele dan ikan bandeng dengan menggunakan warna tosca. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna semangat untuk mencapai tujuan mulia. Ragam hias pelengkap pada batik bandeng lele yaitu rantai dan bunga melati. Ragam hias rantai memiliki makna ikatan persatuan yang terus dijaga untuk menuju kedamaian. Bunga melati memiliki arti kesucian, kelembutan dan keharuman dalam kehidupan bermasyarakat. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna coklat muda yang memiliki makna kebersamaan dan rendah hati. Warna coklat ini diambil dari warna tanah daerah Lamongan. Pada motif batik bandeng lele terdapat isen-isen yang menyimpan makna. Isen titik-titik yang rata menggambarkan sebagai derasnya hujan yang digunakan sebagai sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen cecek pitu menggambarkan kerukunan masyarakat dengan berbagai macam agama, keyakinan dan perguruan yang berbeda tetapi hidup rukun damai dan sejahtera. Pada warna isen-isen pada batik bandeng lele ini menggunakan warna coklat muda  yang memiliki makna rendah hati.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Sesuai hasil wawancara bersama pengrajin batik Ibu Hj. Ruhayatin mengenai makna ragam hias batik, bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah gambar utuh bentuk gapuro dan tanjung kodok. Pada ragam hias utama berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Isenisen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Warna isen-isen menggunakan warna putih. Sesuai hasil wawancara bersama Ibu Ruhayatin, bahwa warna pada isen-isen tidak meiliki makna, hanyasebagai memperindah pada batik motif gapuro tanjung kodok.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Ragam hias tambahan pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah pada motif secara keseluruhan.

Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan

  1. Motif Bandeng Lele

Motif bandeng lele yang diteliti ini merupakan pemenang juara I tahun 2015 hasil karya Ibu Alismawati, karena motif pemenang lomba pada tahun sebelumnya memiliki motif yang sama yaitu motif bandeng lele, sehingga batik yang diteliti ini merupakan motif terbaru yaitu pemenang  juara 1 tahun 2015. Perlombaan diadakan untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian kebudayaan Lamongan. Motif bandeng lele bersumber ide dari binatang berupa bandeng dan lele yang mempunyai keistimewahan sehingga diwujudkan sebagai lambang Kabupaten Lamongan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986: 14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Sesuai dengan Sumber ide lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, sehingga gambar bandeng dan lele diterapkan pada ragam hias utama.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik Gapuro Tanjung Kodok  merupakan motif batik khas Sendang Lamongan yang tercipta dari hasil perlombaan yang mulai diadakan pada tahun 2012. Batik Motif gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan hasil lomba juara I pada tahun 2013 karya Ibu Ruhayatin, karena motif gapuro tanjung kodok ini merupakan motif terbaik pada tahun 2013. Motif batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda-benda yang ada disekitar Lamongan yaitu Gapuro dan Tanjung kodok. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah benda-benda yang ada di sekitar kita

  1. Motif Kepiting

Batik motif kepiting yang diteliti merupakan hasil lomba juara II Tahun 2014 karya ibu Ruhayatin. Motif kepiting ini berupakan motif terbaik pada pada tahun 2014, karena motif pemenang pada tahun sebelumnya memiliki motif sama yaitu motif kepiting. Batik motif kepiting bersumber ide dari binatang kepiting. Sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Kepiting merupakan hasil perikanan dan menjadi ciri khas fauna daerah pantura karena letaknya yang sangat dekat dengan laut, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Sesuaai dengan sumber ide kepiting, maka gambar kepiting diterapkan pada ragam hias utama pada batik motif kepiting.

  1. Ciri-Ciri Batik Sendang dari Hasil Perlombaan Pada Tahun 2013-2015 ditinjau dari Ragam Hias Utama, Ragam Hias Pelengkap dan Isen-Isen.

Menurut pengertian ragam hias batik (Hamzuri, 2000:1) dijelaskan bahwa bagian-bagian dari gambar yang diwujudkan dalam bentuk visual yang membentuk suatu motif. Ragam hias yang digunakanpada Batik Sendang Lamongan yaitu:

  1. Motif Bandeng Lele

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik bandeng lele termasuk jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa Bandeng dan lele. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik Bandeng Lele yaitu berupa rantai dan bunga melati. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif bandeng lele yaitu cecek-cecek dan cecek pitu. Sesuai dengan pendapat (Sosanto:1980: 261), bahwa ragam hias merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik gapuro tanjung kodok termasuk jenis ragam hias alam yaitu berupa Gapuro dan tanjung kodok. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Batik Gapuro Tanjung kodok terdiri dari 2 ragam hias pelengkap yaitu berupa daun singkong dan burung garuda. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif gapuro tanjung kodok yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik kepiting merupakan jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa kepiting. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik kepiting berupa daun cerme yang digambar memenuhi bidang kain. Bentuknya lebih kecil dibandingkan ragam hias utama. Sesuai kajian pustaka mengenai ragam hias pelengkap (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Ragam hias isen-isen pada motif kepiting yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Makna Motif dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Ragam hias utama berupa bandeng dan lele digambarkan secara utuh. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna  semangat untuk mencapai tujuan mulia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Warna pada ragam hias utama motif bandeng lele menggunkan warna hijau tosca yang memiliki makna kesegaran daerah perairan tambak ikan di kabupaten Lamongan. Sesuai dengan kajian pustaka (Pemkab Lamongan, 2008: 35) mengenai warna Lambang Kabupaten Lamongan berwarna latar hijau tua yang melambangkan kesuburan.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias utama pada motif batik Gapuro Tanjung Kodok yaitu berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan budhaisme. Pada ragam hias utama menggunakan warna yang sama dengan warna dasar batik yaitu biru tua dan variasi dengan warna hitam. Sesuai dengan hasil wawancara kepada Ibu Ruhayatin, bahwa warna biru tua pada batik gapuro tanjung kodok ini memiliki makna kesetiaan. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Hal tersebut sesuai pendapat pengrajin batik ibu Ruhayatin, bahwa makna ragam hias pelengkap tersebut sesuai dengan kehidupan Raden Sunan Sendang yang hidup sederhana dan memanfaatkan tanaman disekitarnya. Isen-isen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen-isen pada motif initidak meiliki makna.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit  mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011: 5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Pada Ragam hias utama menggunakan warna ,merah muda, dalam hal ini tidak memiliki makna hanya saja memang sengaja menggunakan warna yang kontras dengan warna dasar, sehingga terlihat jelas ragam hias utamanya. Ragam hias Pelengkap pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Pada motif batik kepiting terdapat isen-isen yaitu cecekcecek. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif.

 

——————————————————————————————-e-Journal. Volume 05 Nomor 02 Tahun 2016, Edisi Yudisium Periode Mei 2016,Hal 1-9
Richah Rohmaya,  Yulistiana
BATIK SENDANG LAMONGAN
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya

Batik Sendang Lamongan

Batik Sendang Lamongan memiliki 3 motif baru  pada tahun 2012 yang dihasilkan dari perlombaan mendesain motif batik yang bertemakan Lamongan. Motif baru tersebut meliputi

  • motif bandeng lele sebagai Icon Kabupaten Lamongan,
  • motif gapuro Tanjung Kodok dan,
  • motif kepiting yang diciptakan berdasarkan sumber ide berasal dari daerah Lamongan.

Motif  batik Sendang Lamongan ditinjau dari ragam hias  utama, pelengkap, isen-isen dan makna motif dan warna motif batik Sendang Lamongan. Dalam menentukan motif  batik Sendang Lamongan mengacu dari lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, benda-benda yang ada di sektor perikanan daerah pantura yaitu kepiting. Motif dan warna batik menjadi ciri khas batik Sendang Lamongan tentunya memiliki makna karena motif tersebut muncul melalui pengalaman-pengalaman yang terjalani dan sesuai dengan lingkungan hidup di sekitar kabupaten Lamongan.

  1. Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan
  2. Motif Bandeng Lele

Motif batik Bandeng lele dijadikan sebagai Icon Kabupaten Lamongan yang diperoleh dari hasil perlombaan membuat motif batik dengan tema Lamongan. Batik motif bandeng lele tercipta dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2012, dan motif bandeng lele ditetapkan sebagai Icon Kabupaten Lamongan.

Motif bandeng lele merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2015. Sumber ide motif Bandeng lele berasal dari binatang yang mempunyai keistimewahan serta menyimpan cerita sejarah Kabupaten Lamongan yang diwujudkan menjadi lambang Kabupaten Lamongan yaitu Bandeng dan Lele.

  1. Motif batik Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2013. Hal tersebut sesuai pendapat Bapak Eko (Staf Diskoperindag). Batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Kabupaten Lamongan yaitu Gapuro dan Batu Kodok.

Gapuro merupakan tempat yang dahulu digunakan berkumpulnya antara kanjeng Sunan Drajat dan Sunan Sendang yang terletak disekitar tanjung kodok. Akan tetapi gapuro tersebut sudah dipindah dengan bentuk yang sama dan sekarang digunakan sebagai gapura pintu masuk makam Sunan Sendang tepatnya di Desa Sendangduwur.

Tanjung kodok bersumber ide dari sebuah batu yang menjorok kelaut dengan bentuk yang menyerupai hewan kodok. Berdasarkan ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa motif Gapuro Tanjung Kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Lamongan, dalam hal ini yaitu Gapura Makam Sunan Sendang dan Tanjung Kodok. Sesuai gambar sumber ide penggabungan gapuro dan tanjung kodok,  sehingga muncul motif gapuro tanjung kodok. Penggambaran gapuro dan tanjung kodok diteparkan pada ragam hias utama pada batik.

  1. Motif batik Kepiting

Motif Batik Kepiting merupakan desain hasil lomba motif batik yang bertemakan Lamongan pemenang juara 2 tahun 2014. Batas sebelah utara Lamongan merupakan daerah pesisir yang sebagain besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan, hasil tanggkap ikan yang banyak diperoleh yaitu kepiting, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Hal itu menunjukkan bahwa kepiting merupakan hasil tangkapan para nelayan yang banyak dijumpai dan merupakan ciri khas fauna daerah pantura di Kecamatan Paciran. Sumber ide batik motif kepiting dari binatang yang merupakan hasil sektor perikanan daerah pantura yang banyak dijumpai di daerah pesisir kecamatan Paciran serta diwujudkan dalam bentuk patung Raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan.

Bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Bandeng lele ini adalah ragam hias binatang berupa ikan Bandeng dan Lele. Penggambaran Bandeng dan Lele ditampilkan secara utuh dengan menggunakan warna hijau tosca serta warna dasar hijau tua sesuai warna dasar Lambang Kabupaten. Gambar bandeng dan lele berdampingan dengan bentuk sedikit melengkung. Ragam hias pelengkap pada motif bandeng lele adalah ragam hias berupa bunga melati dan rantai. Pada ragam hias pelengkap berupa melati. ragam hias isen-isen yang digunakan pada motif bandeng lele adalah cecek-cecek dan cecek sembilan. Isen-isen menggunakan warna coklat muda.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Berdasarkan hasil observasi  mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah ragam hias alam yang berupa gapuro dan batu kodok. Penggambaran Gapuro dan tanjung kodok ditampilkan secara utuh. Pada ragam hias utama berupa gapuro dan tanjung kodok menggunakan warna biru  tua yang mengikuti warna dasar pada batik serta dikombinasi dengan warna hitam. Ragam hias pelengkap pada motif Gapuro Tanjung Kodok  adalah ragam hias berupa daun singkong dan burung garuda. ragam hias isen-isen pada motif batik Gapuro tanjung Kodok adalah cecek-cecek. Ragam hias isen-isen pada motif batik ini pengisis bidang kosong pada ragam hias pelengkap. Isen cecek-cecek menggunakan warna putih.

Berdasarkan hasil observasi mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif kepiting adalah berupa ragam hias hewan berupa kepiting. Penggambaran kepiting ditampilkan secara utuh. Ragam hias utama menggunakan warna merah muda. Ragam hias pelengkap pada motif Kepiting adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam. ragam hias pelengkap pada motif Kepiting  adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam.

  1. Makna Motif Dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Sesuai dengan hasil wawancara mengenai makna warna dan ragam hias batik bersama ibu Alismawati  (pengrajin batik Sendang) dan Bapak Eko Budi (Staf diskoperindag) bahwa pada motif batik bandeng lele ragam hias utama digambarkan  secara utuh ikan lele dan ikan bandeng dengan menggunakan warna tosca. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna semangat untuk mencapai tujuan mulia. Ragam hias pelengkap pada batik bandeng lele yaitu rantai dan bunga melati. Ragam hias rantai memiliki makna ikatan persatuan yang terus dijaga untuk menuju kedamaian. Bunga melati memiliki arti kesucian, kelembutan dan keharuman dalam kehidupan bermasyarakat. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna coklat muda yang memiliki makna kebersamaan dan rendah hati. Warna coklat ini diambil dari warna tanah daerah Lamongan. Pada motif batik bandeng lele terdapat isen-isen yang menyimpan makna. Isen titik-titik yang rata menggambarkan sebagai derasnya hujan yang digunakan sebagai sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen cecek pitu menggambarkan kerukunan masyarakat dengan berbagai macam agama, keyakinan dan perguruan yang berbeda tetapi hidup rukun damai dan sejahtera. Pada warna isen-isen pada batik bandeng lele ini menggunakan warna coklat muda  yang memiliki makna rendah hati.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Sesuai hasil wawancara bersama pengrajin batik Ibu Hj. Ruhayatin mengenai makna ragam hias batik, bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah gambar utuh bentuk gapuro dan tanjung kodok. Pada ragam hias utama berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Isenisen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Warna isen-isen menggunakan warna putih. Sesuai hasil wawancara bersama Ibu Ruhayatin, bahwa warna pada isen-isen tidak meiliki makna, hanyasebagai memperindah pada batik motif gapuro tanjung kodok.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Ragam hias tambahan pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah pada motif secara keseluruhan.

Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan

  1. Motif Bandeng Lele

Motif bandeng lele yang diteliti ini merupakan pemenang juara I tahun 2015 hasil karya Ibu Alismawati, karena motif pemenang lomba pada tahun sebelumnya memiliki motif yang sama yaitu motif bandeng lele, sehingga batik yang diteliti ini merupakan motif terbaru yaitu pemenang  juara 1 tahun 2015. Perlombaan diadakan untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian kebudayaan Lamongan. Motif bandeng lele bersumber ide dari binatang berupa bandeng dan lele yang mempunyai keistimewahan sehingga diwujudkan sebagai lambang Kabupaten Lamongan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986: 14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Sesuai dengan Sumber ide lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, sehingga gambar bandeng dan lele diterapkan pada ragam hias utama.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik Gapuro Tanjung Kodok  merupakan motif batik khas Sendang Lamongan yang tercipta dari hasil perlombaan yang mulai diadakan pada tahun 2012. Batik Motif gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan hasil lomba juara I pada tahun 2013 karya Ibu Ruhayatin, karena motif gapuro tanjung kodok ini merupakan motif terbaik pada tahun 2013. Motif batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda-benda yang ada disekitar Lamongan yaitu Gapuro dan Tanjung kodok. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah benda-benda yang ada di sekitar kita

  1. Motif Kepiting

Batik motif kepiting yang diteliti merupakan hasil lomba juara II Tahun 2014 karya ibu Ruhayatin. Motif kepiting ini berupakan motif terbaik pada pada tahun 2014, karena motif pemenang pada tahun sebelumnya memiliki motif sama yaitu motif kepiting. Batik motif kepiting bersumber ide dari binatang kepiting. Sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Kepiting merupakan hasil perikanan dan menjadi ciri khas fauna daerah pantura karena letaknya yang sangat dekat dengan laut, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Sesuaai dengan sumber ide kepiting, maka gambar kepiting diterapkan pada ragam hias utama pada batik motif kepiting.

  1. Ciri-Ciri Batik Sendang dari Hasil Perlombaan Pada Tahun 2013-2015 ditinjau dari Ragam Hias Utama, Ragam Hias Pelengkap dan Isen-Isen.

Menurut pengertian ragam hias batik (Hamzuri, 2000:1) dijelaskan bahwa bagian-bagian dari gambar yang diwujudkan dalam bentuk visual yang membentuk suatu motif. Ragam hias yang digunakanpada Batik Sendang Lamongan yaitu:

  1. Motif Bandeng Lele

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik bandeng lele termasuk jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa Bandeng dan lele. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik Bandeng Lele yaitu berupa rantai dan bunga melati. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif bandeng lele yaitu cecek-cecek dan cecek pitu. Sesuai dengan pendapat (Sosanto:1980: 261), bahwa ragam hias merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik gapuro tanjung kodok termasuk jenis ragam hias alam yaitu berupa Gapuro dan tanjung kodok. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Batik Gapuro Tanjung kodok terdiri dari 2 ragam hias pelengkap yaitu berupa daun singkong dan burung garuda. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif gapuro tanjung kodok yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik kepiting merupakan jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa kepiting. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik kepiting berupa daun cerme yang digambar memenuhi bidang kain. Bentuknya lebih kecil dibandingkan ragam hias utama. Sesuai kajian pustaka mengenai ragam hias pelengkap (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Ragam hias isen-isen pada motif kepiting yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Makna Motif dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Ragam hias utama berupa bandeng dan lele digambarkan secara utuh. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna  semangat untuk mencapai tujuan mulia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Warna pada ragam hias utama motif bandeng lele menggunkan warna hijau tosca yang memiliki makna kesegaran daerah perairan tambak ikan di kabupaten Lamongan. Sesuai dengan kajian pustaka (Pemkab Lamongan, 2008: 35) mengenai warna Lambang Kabupaten Lamongan berwarna latar hijau tua yang melambangkan kesuburan.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias utama pada motif batik Gapuro Tanjung Kodok yaitu berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan budhaisme. Pada ragam hias utama menggunakan warna yang sama dengan warna dasar batik yaitu biru tua dan variasi dengan warna hitam. Sesuai dengan hasil wawancara kepada Ibu Ruhayatin, bahwa warna biru tua pada batik gapuro tanjung kodok ini memiliki makna kesetiaan. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Hal tersebut sesuai pendapat pengrajin batik ibu Ruhayatin, bahwa makna ragam hias pelengkap tersebut sesuai dengan kehidupan Raden Sunan Sendang yang hidup sederhana dan memanfaatkan tanaman disekitarnya. Isen-isen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen-isen pada motif initidak meiliki makna.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit  mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011: 5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Pada Ragam hias utama menggunakan warna ,merah muda, dalam hal ini tidak memiliki makna hanya saja memang sengaja menggunakan warna yang kontras dengan warna dasar, sehingga terlihat jelas ragam hias utamanya. Ragam hias Pelengkap pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Pada motif batik kepiting terdapat isen-isen yaitu cecekcecek. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif.

 

——————————————————————————————-e-Journal. Volume 05 Nomor 02 Tahun 2016, Edisi Yudisium Periode Mei 2016,Hal 1-9
Richah Rohmaya,  Yulistiana
BATIK SENDANG LAMONGAN
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya

K. ABDOELLAH ISKANDAR, Lamongan

Lamongan0005K. ABDOELLAHISKANDAR Kiai pejuang sebagai politisi unggul dari PNU pembina kepanduan.
K.Abdoellah Iskandar berprofesi sebagai guru agama dan pendidik yang cakap, tercatat sebagai pejuang empat lima lalu terjun ke dunia politik sejak usia muda baik di tingkat Kabupaten Lamongan maupun di Provinsi Jawa Timur. Pemuda ini pintar berpidato dan berceramah serta termasuk orang yang setia dalam tugas pengabdian dan hidup sederhana.
Nama kecil beliau adalah Abdoellah putera dari seorang santri – pedagang dari Pambon – Brondong bernama Iskandar, setelah besar nama ayah dirangkum menjadi Abdoellah Iskandar yang berwajah ganteng. Beliau adalah anak ke-6 dari 8 saudara yang dilahirkan di Pambon tahun 1919, nama saudara- saudaranya ialah:
1. Kiswati ( keluarga Machinu, Bulu – Sekaran )
2. K.H. Achmad Zaini ( Guru Madrasah Sawahan )
3. Chunaimah
4. Chanah ( di Pambon )
5. H. Masroer ( di Pambon )
6. K. Abdoellah Iskandar ( di Lamongan )
7. Animah ( di Lamongan)
8. Insijah ( di Lamongan)
Pada masa muda Abdoellah Iskandar digembleng di Ponpes Langitan bersama K.H.Achmad Zaini yang masih termasuk
kerabat pondok pesantren ini. K. Abdoellah Iskandar meninggal pada 16-09-1991 karena usia lanjut 72 tahun dan dimakamkan di kuburan sebelah barat kampung Pagerwojo Lamongan.
Pendidikan Kiai ini ialah SR VI tahun, Tsanawiyah Pondok, Madrasah Aliyah Pondok Langitan serta berijazah Pondok. Dalam perjalanan hidupnya beliau menikah dua kali yaitu pertama menikahi gadis Lamongan bernama Rochimah lalu bercerai tidak mempunyai anak. Setelah itu menikahi gadis Gresik bernama Ma’soemah dikaruniai 6 putera sebagai berikut:
1. Izzatul Lailah ( artinya kemuliaan malam )
2. Drs. Mohammad Djunaedi ( artinya tentara kecil terbaik )
3. Drs. Azam Kamal, SH (artinya keinginan yang sempurna)
4. Nailun Nusra (artinya Sungai Nil yang memberi pertolongan)
5. Ir. Agus Sihabudin ( artinya obor agama yang baik )
6. Dra. Wiwik Mujasaroh ( artinya yang dimudahkan ) Pesan K. Abdoellah Iskandar kepada anak-anaknya sebelum beliau wafat ada 3 hal yaitu :
a) Jangan sampai bermusuhan (geger) dengan saudara atau kawan akibat masalah harta-benda, sebab harta-benda mudah dicari namun persaudaraan dan kekerabatan bila putus sulit dan lama untuk menyambung kembali
b) Bergaullah di semua lapisan masyarakat.
c) Jangan sampai hidup ini menggantungkan diri pada orang lain.
Pada masa pendudukan Jepang pemuda Abdoellah Iskandar aktif dalam kepanduan Hisbul Waton dan kepanduan Ansor. Jiwa kepanduan ini dibawa sebagai bekal perjuangan ikut mempertahankan Republik Indonesia dengan bentuk memimpin sebuah kompi Hisbullah berpangkat Kapten. Anak buahnya yang gugur dan mengawali dimakamkan di Taman Bahagia Lamongan adalah Letnan Muda Choiroel Hoeda, anak buahnya yang lain yaitu Letnan Muda Choesnan Marzoeki, Letnan Muda Maksoem Irfan, Letnan Gufron (G. D wipayana pencipta boneka Unyil), Sersan Achmad Djaelani.
Perjuangan K. Abdoellah Iskandar bersama anak buah berada di front Benjeng, Metatu, Balongpanggang dan bertahan di Mantup, Beliau memperoleh berbagai tanda penghargaan dan tidak mengurus tunjangan veteran seperti beberapa temannya bahwa berjuang mengusir orang kafir Belanda adalah jihadu fisibilillah sebagai rasa cinta kepada bangsa dan negara (khubbul waton). Sepulang dari perang dan selamat adalah nikmat anugerah Allah yang patut disyukuri yang penting Indonesia tetap merdeka.
Jabatan K. Abdoellah Iskandar dalam kemasyarakatan tercatat sebagai berikut:
1. Dewan Pertimbangan Ponpes Langitan (1970-1991)
2. Ketua Takmir Masjid Jamik Lamongan (1980-1985)
3. Nadzir Waqfiyah Sawahan Lamongan (1982-1991)
4. Dewan Penasehat Bazis Lamongan (1990-1991)
5. Ketua Tanfidiyah dan Rois, Suriah NU di Lamongan (1960-1991)
6. Ketua Dewan Pertimbangan PPP Lamongan (1977-1987)
7. Ketua DPRD Kabupaten Lamongan (1960-1966)
8. Anggota DPRDS Kabupaten Lamongan 1951-1956-1960)
9. Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (1977-1982)
10. Kepala PGANU Lamongan (1982-1987)
Jika sedang berkhutbah Jumat di Masjid Jamik Lamongan (kini Masjid Agung Lamongan) K.Abdoellah Iskandar selalu mengajak kebaikan dan persatuan serta peningkatan kualitas hidup dan beragama hal ini dilakukan dengan suara keras, lantang, menantang kemungkaran, tegas, berisi muatan kehidupan masa depan. Beliau mengajar mengaji kitab kuning di rumahnya kampung Mojo, Demangan, Kauman, Sawahan, Karangasem dan terakhir di Perumnas Made, juga aktif mengajar di PGANU dan Madrasah Mualimin NU Lamongan.
Penulis sangat akrab dengan K. Abdoellah Iskandar yang merupakan Guru tercinta, dan juga telah lama bersama sebagai guru PGANU sejak tahun 1968, Penulis juga sebagai Sekretaris beliau di Yayasan Wattarbiyah Sunan Giri Sawahan Lamongan sejak tahun 1982 sampai wafatnya beliau dan sampai saat ini.
Selama bergaul dengan K. Abdoellah Iskandar ini Penulis banyak menimba ilmu dan dapat memberikan penilaian serta kenangan di bawah ini, bahwa beliau memiliki sifat:
a. Jiwa kejuangan yang tinggi dan tanpa pamrih.
b. Bila berjanji bertemu dan mengadakan rapat selalu tepat waktu.
e. Selalu menjaga kesehatan, berkaca mata minus.
d. Berpakaian rapi perlente, bersongkok dalam acara resmi, dan sering bersarung jika bergaul dalam dunia santri.
e. Gemar bela diri silat dan gemar makanan enak bergizi.
f. Arif, sederhana, tidak materialis, sehingga memiliki rumah pribadi baru tahun 1985 di Perumnas Made.
g. Jujur dan betul-betul memperhatikan dunia pendidikan.
h. Bicara harian pelan, ramah, tegas, namun jika berkhutbah lantang.
i. Berjuang di jalan politik dalam PNU dan PPP
j. Mendapat julukan dari orang NU ” Dua Serangkai Politikus ” terdiri K. Abdoellah Iskandar Dan KH. Sjoekran. k. Mendapat julukan dari orang Lamongan ” Trio Santri Unggul ” terdiri K. Abdoellah Iskandar, R.H. Moeljadi, H. Ali Affandy yang ketiganya adalah jebolan Ponpes Langitan.
1. K. Abdoellah Iskandar berwajah ganteng simpatik, tidak pernah berbuat yang tercela dalam hidup dan perjuangannya.
m. Dalam tahun 1980-1990 K. Abdoellah Iskandar bersama KH. Asjikin Ghozali menjadi rujukan orang-orang NU Lamongan
K. Abdoellah Iskandar bekeija sebagai Pegawai Negeri Sipil di KUADepartemen Agama Kab. Lamongan sejak tahun 1950 dan pensiun pada tahun 197.6.
Keahlian yang mendalam K. Abdoellah Iskandar ialah bidang Tarikh Islam, Feqih, Syariah,. Dalam hal ubudiyah dan fatwa hukum Islam beliau sangat berhati-hati. Salah satu keistimewaan beliau adalah sebagai pendidik lapangan (tipe luar) jarang istiqomah mengajar di rumah kecuali isterinya yang istiqomah mengajar mengaji di rumah.
Sebuah perbuatan yang baik selalu dilakukan beliau yaitu senang bersilaturahmi dengan naik sepeda pancal ke rumah kawan, murid dan keluarganya, beliau tidak pernah mempertentangkan masalah khilafiyah namun selalu menunjukkan kebenaran Islam dalam faham Ahlussunnah waljamaah yang sesuai A1 Qur’an dan A1 Hadits.
Beliau sangat sedih jika melihat ada sebuah Madrasah NU dan Madrasah Muhammadiyah yang bubar tidak ada muridnya.Kepada Penulis beliau berpesan agar benar-benar mendalami A1 Qur’an dan Sunnah Rasul jika ingin menjadi orang pintar yang beriman.
Pada tahun 1990 setahun sebelum wafat K.Abdoellah Iskandar memberikan argumentasi kepada Penulis sehubungan adanya upaya agar beliau aktif di Golongan Karya, kata beliau:
Hei! Chambali, anda salah satu santriku yang menjadi abdi negara, abdi pemerintah, berbuatlah kejujuran dimana kau berada! Anda tahu Saya aktif di PPP bersama Kiai Abdul Aziz Choiri karena untuk menjaga keseimbangan pembangunan bangsa lewat jalur Ulama. Jadi tidak semua Ulama harus di Golongan Karya, biarkan ulama di PPP, di PDI, di Golkar, yang penting pengabdiannya. Bila Anda sebagai pegawai negeri terpaksa ” di- Golkarkan” maka jadilah orang baik , jadi kader yang tangguh dan bertaqwa pada Allah Swt!”
Pada tahun 1965 dan 1966 K.Abdoellah Iskandar menjadi figur orang NU yang disegani dan dikenal orang sebagai pelopor pembasmian PKI di Kabupaten Lamongan bersama KH.Moch. Mastoer Asnawi yang memberi fatwa dibantu KH. Sjoekran,
beserta tokoh lain yang mendapat dukungan ABRI saat itu dan para eksponen 66 di Lamongan.
Ada beberapa komentar dari beberapa orang kalangan NU tentang pribadi K. Abdoellah Iskandar yaitu :
1. H. M. Maksoem Abdoerrachman
Selama saya bergaul dengan K. Abdoellah Iskandar selaku senior Saya, maka melihat adanya sifat kesederhanaan, tegas dan moderat.
2. KH. M. Ghufron Sholichin
Selama Saya berkawan dengan Dia, sampai sama-sama di MUI dapat melihat K. Abdoellah Iskandar pandai membina kader santri dan tentara, beliau berpesan menjadi Ulama itu harus hati-hati, menjaga diri dan harga diri yang tetap menjadi panutan. Kepada pemuda beliau mengharap agar banyak belajar yang konferehensif.
3. KH. Suudi Karim
Selaku senior Saya, K. Abdoellah Iskandar termasuk tipe orang ikhlas, apabila ada permintaan yang bisa dibantu maka dengan segera beliau memberikan sesuai kemampuan.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Enam Figur Ketua DPRD Kabupaten Lamongan (1951-2004),  halaman 13-20

 

Legenda Makam Sunan Drajat

Makam Sunan Drajat terletak di kecamatan Paciran, kabupaten Lamongan tepatnya di desa Drajat jalur pantai utara masuk ke selatan kira-kira 300 meter dari jalan raya Daendeles. Lokasi Makam Sunan Drajat berada diperbukitan yang tidak begitu tinggi, berbentuk Cungkup dari kayu jati berukir dan tempat paseban dilengkapi dengan gapura paduraksa, masjid, musium, lahan parkir, serta tempat-tempat penjualan sovenir. Makam Sunan Drajat ini selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai kota di Indonesia Tempat ini tidak pernah sepi, lebih-lebih jika pada hari libur dan hari Besar Islam. Meskipun Sunan Drajat sebagai salah satu Wali Songo dan dipercaya sebagai salah satu tokoh yang benar-benar nyata, tetapi rakyat setempat mempunyai cerita lisan yang cukup menarik untuk diungkapkan karena mempunyai fungsi penting dalam promosi wisata Cerita lisan yang akan dikutipkan berasal dari berbagai sumber misalnya dari informan pangkal, informan utama, maupun informan penunjang. Di samping itu cerita juga diambilkan dari catatan para informan yang sudah disimpan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah.
Sebelum menjadi Wali dan diangkat sebagai Sunan, Sunan Drajat bernama Raden Qosim, Raden Masih Maurat, Raden Syarifuddin, atau Raden Hasim, tetapi lebih dikenal dengan panggilan Raden Qosim. Raden Qosim putia Sunan Ampel dari perkawinannya dengan Retno Ayu Manila adik Tumenggung Wilwatikto putra Haryo Tejo Bupati Tuban diperkirakan lahir pada tahun 1445 M di Ampel Surabaya Ketika berusia 6 tahun Raden Qosim sudah pandai menulis dan membaca Al-Quran di bawah bimbingan ayahnya Setelah Raden Qosim menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Ampel, ia menunaikan ibadah haji ke Makkah sambil memperdalam ilmu agama Islam di Saudi Arab i a untuk bekal tambahan pengetahuan nantinya Sepuluh tahun kemudian Raden Qosim pulang ke tanah Jawa untuk melaksanakan tugas sucinya seperti yang dipesankan oleh ayahnya
Ketika Raden Qosim hendak meneruskan dakwalmya dan menumpang sebuah perahu nelayan yang mencari ikan di perairan Surabaya-Tuban, perahu yang ditumpangi itu menabrak karang hingga hancur. Pada saat itu muncullah seekor ikan hiu untuk menolongnya Raden Qosim disuruh menumpang di punggung hiu dan hiu itu mengantarnya sampai ke darat. Sampailah Raden Qosim di desa Jelag. Di tempat ini Raden Qosim mulai dakwah dengan membangun Musholla sebagai tempat ibadah dan sentral kegiatan dakwah Islamiyah. Para santri pengikutnya kemudian membuka daerah baru sebagai tempat pemukiman. Santri yang hadir tidak hanya dari tanah Jawa saja, tetapi juga dari sabrang antara lain dari Banjarmasin dan Kalimantan Selatan. Akhirnya desa Jelag ini terkenal sampai di luar Jawa selanjutnya kampung baru ini diberi nama Banjar karena yang berdatangan kebanyakan pedagang dari Banjarmasin. Kemudian kampung baru itu disebut kampung Banjar Anyar (1476 M).
Raden Qosim bersama 17 santrinya yang berasal dari Banjarmasin itu melanjutkan dakwahnya ke daerah lain. Selama dalam perjalanan dakwahnya Raden Qosim juga membuka daerah baru dan berhasil menaikkan martabat masyarakat, baik berupa ekonomi, derajat, maupun ilmu pengetahuan, akhirnya terbentuklah masyarakat yang bermartabat tinggi dari pada semula Untuk itu patutlah Raden Qosim dijuluki Mbah Drajai kemudian lebih terkenal dengan sebutan Sunan Drajat. Daerah pemukiman itu disebut Drajai sampai sekarang dan menjadi nama desa di wilayah kecamatan Paciran (1480 M). Setelah kewalian Raden Qosim di sahkan oleh para wali, maka Raden Qosim mengajukan izin pengesahan tempat padepokan, pesantren, dan masjid kepada penguasa Raja Demak pertama Raden Fatali. Raja Demak kemudian menghadiahkan tanah seluas 61 ha kepada Raden Qosim untuk kesejahteraan keluarga dan santrinya Raden Qosim beristrikan putri Adipati Kediri Smyo Adi logo yang bernama Refno Ayu Condro Sekai-. Dari perkawinannya dengan putri Kediri ini Raden Qosim dikainniai tiga orang putra yang masing-masing diberi nama Raden Azrif, Raden lshaq, dan Raden Shiddig
Di masa hidupnya Sunan Drajai terkenal sebagai salah seorang wali yang berjiwa sosial dan mempunyai rasa kesetiakawanan yang tinggi. Hal yang dilakukannya misalnya menyantuni anak yatim piatu, memberi makan kepada fakir miskin yang sengsara penghidupannya, memberi perlindungan bagi orang yang tidak berdaya Ajaran Sunan Drajat ini telah melekat pada masyarakat Lamongan yang terdiri dari empat ungkapan.
1. Menehono teken marang wong kang wulo.
2. Menehono mangan marang wong kang luwe.
3. Menehono ngiyup marang wong kang kodanan
4. Menehono busono marang wong kang mudo.

Jika dibahasaindonesiakan seperti berikut..
1. Berilah tongkat kepada orang yang buta.
2. Berilah makan kepada orang yang kelaparan.
3. Berilah berteduh kepada orang yang kehujanan.
4. Berilah pakaian kepada orang yang telanjang.

Ajaran Sunan Drajat semacam itu menipakan ajaran yang berkaitan dengan mata rantai kehidupan seseorang. Sebab pendidikan, penghidupan, tempat tinggal, dan pakaian adalah kebutuhan pokok bagi manusia. Raden Qosim juga menyarankan kepada para santrinya agar semua kehidupan ini dilandasi dengan ke Taqwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa dan ditandaskan pula setiap manusia agar menjaga perut karena perut merupakan unsur badaniyah yang menjadikan pikiran bersih dan jernih. Metode dakwah Sunan Drajat melalui pendekatan kepada masyarakat misalnya dengan menanamkan rasa disiplin, rasa persaudaraan, rasa kekeluargaan, dan juga rasa saling menghargai terhadap sesama sehingga dalam mengambil keputusan dapat dengan jalan kebijaksanaan. Ajaran Raden Qosim tentang kebijaksanaan dalam mengambil keputusan seperti yang digariskan dalam surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi sebagai berikut. Suruhlah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah kebijaksanaan dan nasehat yang baik dan bertukar pikiranlah dengan cara yang baik, sesungguhnya Allah lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalannya dan Dia lali yang Maha mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk.
Dengan kalimat pembukaan mengajak ke jalan Allah hikmahnya akan mendapat petunjuk yang baik bagi rokhani maupun jasmani. Mengajak ke jalan Allah juga merupakan pegangan hidup yang mantap dan kokoh sehingga tidak terjerumus ke dalam kesesalan dan kekerasan yang berunsur negatif Nasehat yang baik merupakan etika dalam budaya dan pergaulan yang beradab serta tukar pikiran merupakan kecenderungan untuk mengambil jalan tengah yang seadil-adilnya agar tidak merugikan orang lain. Berdasarkan ayat itu pula Sunan Drajat mengembangkan Islam tidak dengan jalan kekerasan melainkan dengan tutur kata yang sopan, ramal) tam ah sehingga dengan mudah dapat memberikan pengertian kepada pengikutnya. Rasa toleransi dan menghormati antar sesama umat sangat dijaga sehingga banyak umat Hindu dan Budha yang masuk agama Islam.
Di lain pihak. Sunan Drajat juga sebagai seorang seniman, maka dibuatlah seperangkat gamelan yang terdiri dari bonang, gender, saron, peking, dan gambang. Sunan Drajat juga mencipta gending pangkur sebagai sabagai satu alat untuk memberikan penerangan serta ajaran-ajaran Islam. Dengan gending itu pula dibawakan ayat-ayat suci Al-Quran serta Sunnah Rosul sehingga Islam diterima oleh pengikutnya dengan aman dan damai. Kini peninggalan seperangkat gamelan yang bernama Singomengkok itu disimpan di musium Sunan Drajat di kompleks pemakaman Sunan Drajat. (Informan R. Subaktiaji)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Dra. Purwantini, M.Hum. [dkk], Penelitian: Folklor Rakyat: Sarana Penyebarluasan Tempat-Tempat Wisata Kabupaten Lamongan: Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm. 20-24 (CLp-D13/2002-232)

Sedekah Bumi Dusun Mlanggeng, Kabupaten Lamongan

Sedekah Bumi Dusun Mlanggeng, Warga Sehari Semalam Kaum Lelaki “Puasa” Bekerja

sedekah bumiAdat sedekah bumi sekaligus menghormati dua pasangan suami istri, Buyut Peti dan Kenanga mengharuskan kaum lelaki ivarga Dusun Mlanggeng meliburkan diri segala aktivitasnya pekerjaannya selama sehari semalam. Adat ini sudah puluhan tahuh dipertahankan masyarakat Desa Gedongboyountung, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan.

SETAHUN sekali setiap usai panen, tepat hari Jumat Kliwon mereka ‘mewajibkan’ diri melakukan sedekah bumi di makam Buyut Peti dan istrinya, Kenanga. Sejak malam Jumat Kli­won hingga siang hari, kaum lelaki harus meninggalkan pekerjaannya dan fokus di acara sedekah bumi atau nyadran di pepunden (makam) leluhur dusun.

Acara digelar sejak malam hari, diawali dengan banjari, tahlilan, yasinan, dan pengajian. Keesokan harinya dilanjutkan menyembelih kambing hasil patungan warga dan dimasak sayur gulai. “Sejak malam sampai Jumat siang, bapak-bapak libur bekerja dan semuanya kegiatan untuk acara sedekah bumi di makam Buyut Peti,” ungkap Kepala Dusun Mlanggeng, H Mu­hammad Nur.

Semua jenis pekerjaan yang berkaitan dengan acara sedekah bumi itu, dilakukan kaum lelaki. Dari memasak di dapur hingga membagi makanan hanya boleh dilakukan kaum lelaki. Sementara perempuan yang biasa di dapur, hari itu seperti dimanja. Mereka boleh mengambil makanan sepuasnya.

Tidak jelas, mengapa harus kaum lelaki yang mengerjakan urusan yang biasanya ditarigani kaum ibu itul Namun begitulah tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun di Mlanggeng tersebut. Maka janganlah heran jika melihat para lelaki yang biasanya terlihat perkasa di tengah sawah, kemarin terlihat gemulai mengaduk gulai di atas tungku.

Muhammad Nur menambahkan, sedekah bumi di kampungnya sekaligus untuk menghormati dua leluhur sebagai orang yang mendirikan Dusun Mlanggeng. “Buyut Peti dan Kenangan adalah orang pertama dan cikal bakal berdirinya Dusun Mlanggeng. Jadi harus kami hormati dengan peringatan setiap tahun,” ungkapnya.

Tetapi tujuan utamanya adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rezeki melalui panen yang memberi warga penghidupan. Tak lupa berharap agar pada tahun selanjutnya Tuhan memberikan rezeki lebih banyak lagi kepada warga dusun yang sebagian besar berma- tapencaharian sebagai petani.

Ritual ini tidak hanya dilaksanakan oleh warga Mlanggeng, tetapi juga mereka yang merasa keturunan Mlanggeng dan kini telah tinggal di luar daerah. Mereka akan datang ikut melaksanakan sedekah bumi. Usai acara tahlil pada malam hari, dilanjutkan dengan acara tasyakuran yang dimulai Jumat (28/9) pukul 10.20.

Diteruskan dengan pembagian makanan dan jajan pasar yang dibawa warga. Acara itu pun dilaksanakan secara seremonial yang dihadiri kepala desa, dan sesepuh desa. Pembagian makanan juga hanya melibatkan kaum lelaki. Di bawah tenda dan pohon besar di makam Buyut Peti, makanan itu dibagi secara unik.

Warga saling tukar menukar makanan yang dibawa. “Acara sedekah bumi ini dilaksanakan setiap usai masa panen setahun sekali, tepat hari Jumat Kliwon. Ini memang adat yang dipercayai warga dan harus dipertahankan. Hitung-hitung juga untuk syukuran,” tambah Muham­mad Nur. (hanif manshuri)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MOH ISTIKROMUL UMAMIK : SURYA, Rabu-25 September 2013, hlm. 13

Tradisi Lamaran di Kabupaten Lamongan

Istilah yang berlaku di daerah Lamongan berumah tangga adalah laki-rabi Bahwa wanita membutuhkan laki-laki, dan pria membutuhkan rabi. Maka dari itu wanita dan pria melaksanakan laki-rabi agar mempunyai keturunan. Menurut istilah Lamongan tidak ada wanita yang rabi, tetapi wanita yang dirabeni atau dirabi, atau dinikahi. Untuk dapat mendapatkan jodoh, karena pada jaman dahulu wanita jarang keluar rumah dan pergaulannya terbatas, pada umumnya ada yang bertindak sebagai perantara atau mak jomlang yang di Lamongan diistilahkan sebagai jalciram (Wawancara dengan Priyo Utomo, 15 Juni 2003).

Dalam kehidupan perkawinan, suami maupun isteri seharusnya dapat memahami arti istilah-istilah yang berkaitan dengan perkawinan. Selanjutnya setelah memahami diharapkan dapat melaksanakan maksud-maksud yang tercantum didalamnya. Istilah-istilah tersebut menurut Damardjati Supadjar (1985: 202-203) adalah:

1, Laki-rabi. Kata laki adalah kata majemuk, yang berasal dari kata lara, yang artinya terhormat, dan kata ki, artinya lelaki. Jadi kata laki, artinya orang lelaki yang terhormat. Mak- sudnya bagi isteri di seluruh dunia ini hanya ada satu orang lelaki saja yang terhormat (yang terbaik dan terpuji), yaitu suaminya Kata rabi, juga merupakan kata majemuk yang berasal dari kata ra yang artinya terhormat, dan bi yang artinya perempuan. Jadi kata rcibi artinya orang perempuan yang terhormat. Maksudnya bagi suami di seluruh dunia ini hanya ada seorang perempuan saja yang terhormat (yang terbaik dan terpuji) yaitu isterinya.

2. Jodho. Kata jodho juga merupakan kata majemuk yang berasal dari kata jo =ji (siji) dan dho = dua. Maksudnya satu jiwanya tetapi dua orangnya, yaitu suami dan isteri yang keduanya menuju satu cita-cita yaitu kebahagiaan keluarga.

Tradisi lamaran di daerah Lamongan, wanita yang melamar pria. Keluarga wanita yang melamar dengan membawa buah tangan bahan makanan dan kue yang bersifat rekat. Tradisi wanita melamar pria di daerah Lamongan karena terpengaruh oleh adanya kejadian pada abad ke 17, yaitu lamaran putri Andansari dan Andanwangi. Keduanya adalah putri Adipati Wirasaba (sekarang Kertosono), yang melamar Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris, kedua putra Bupati Lamongan ketiga itu, yaitu Raden Panji Puspokusuma (Wawancara dengan Suharjo, 22 Juni 2003; Mbah Arso, 23 Juli 2003).

Adat lamaran ini sampai sekarang masih tetap dipegang teguh masyarakat di 11 kecamatan Kabupaten Lamongan, yaitu: Kecamatan Mantup, Karanggeneng, Sambeng, Kembang bahu, Bluluk, Sukorame, Modo, Ngimbang, Sugio, Tikung, dan sebagaian Kecamatan Kota. Tetapi daerah-daerah lain di Kabupaten Lamongan (16 kecamatan) sudah mulai luntur. Terbukti bahwa gadis Lamongan yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, terutama yang mengenyam pendidikan di kota-kota besar, ada kecenderungan malu atau merasa gengsinya turun bila melakukan tradisi lamaran ini. Selain sudah enggan dijodohkan oleh orangtuanya, juga karena mereka terpengaruh tradisi daerah lain setelah mereka mengetahui bahwa secara umum di daerah lain tradisi lamaran dilakukan oleh pihak pria kepada pihak wanita. Dan mereka umumnya sudah mengenal pacaran dengan teman kuliah yang berasal dari daerah di luar Lamongan (Wawancara dengan Suyari, 21 Juli 2003; dan Mbah Arso, 23 Juli 2003).

Jalan tengah yang bijaksana ditempuh oleh gadis dan jejaka Lamongan yang telah berpendidikan tinggi, yaitu sebelum memutuskan pihak mana yang harus melaksanakan lamaran, antara kedua belah pihak mengadakan kesepakatan terlebih dahulu untuk menentukan keluarga mana yang harus melamar. Setelah terjadi kata sepakat, baru kedua pihak keluarga melaksanakan acara lamaran sesuai hasil kesepakatan. Namun demikian tidak menutup kemungkinan hasil kesepakatan mereka bahwa pihak wanita yang harus melamar sebagai penghormatan kepada tradisi daerah kelahiran mereka (Wawancara dengan Mbah Arso, 15 Juli 2003).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006. 

Legenda tradisi melamar, di Kabupaten Lamongan

Latar belakang terjadinya tradisi wanita melamar pria di daerah Lamongan ini menurut para narasumber adalah sebagai berikut. Bupati Lamongan yang ketiga, yaitu Raden Panji Puspokusumo adalah putera Cakraningrat dari Madura yang masih keturunan ke 12 dari Prabu Hayam Wuruk raja Raden Tumenggung Pusponegoro Bupati Gresik. Bupati Gresik tersebut adalah putera Pangeran Majapahit. Jadi Raden Panji Puspokusumo merupakan keturunan ke 14 dari Prabu Hayam Wuruk. Raden Panji Puspokusumo ini diambil menantu oleh Sunan Pakubuwono 11 raja Surakarta Adiningrat. Karena letak Lamongan berada di timur laut atau utara (Jawa = /wr)

Kartosuro, maka Raden Panji Puspokusumo juga dikenal dengan sebutan Dewa Kaloran (dewa yang berada di sebelah utara). Raden Panji Puspokusumo memerintah di Lamongan tahun 1640 sampai 1665. Pernikahan Raden Panji Puspokusumo dengan puteri Sunan Pakubuwono II menghasilkan dua orang putera kembar yang sama-sama tampan, diberi nama Raden Panji Laras, dan Raden Panji Liris.

Selain tampan, Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris juga dikenal masyarakat mempunyai sifat yang sangat baik. Maka dari itu banyak gadis-gadis yang jatuh cinta dan berusaha memikat hati kedua putera Bupati Lamongan tersebut. Meskipun tingkah lakunya baik, tetapi keduanya mempunyai kegemaran yang jelek, yaitu beijudi dengan menggunakan menyabung ayam. Meskipun ibunya sudah sering melarang kebiasaannya yang kurang terpuji ini, tetapi keduanya tetap tidak dapat meninggalkan kegemarannya menyabung ayam. Bahkan untuk menghindari kemarahan ibunya, keduanya bila menyabung ayam tidak lagi di wilayah Kabupaten Lamongan, tetapi dilakukan di luar wilayah Kabupaten Lamongan terutama di Kabupaten Wirosobo dekat Kediri (sekarang daerah Kertosono).

Bupati Wirosobo mempunyai dua orang puteri kembar yang menginjak usia remaja dan keduanya sangat cantik, diberi nama Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi. Sebagai anak gadis, pada waktu itu kedua puteri Bupati Wirosobo ini juga dipingit, sehingga tidak pernah tahu keadaan di luar rumah kabupaten Untuk dapat mengetahui keadaan di luar rumah keduanya hanya dapat mengintip melalui celah jendela kamarnya.

Pada suatu hari, Andansari dan Andanwangi dikejutkan oleh suara beberapa orang yang bersorak-sorai di halaman rumah kabupaten. Karena rasa ingin tahunya, keduanya mengintip keluar melalui celah jendela kamarnya. Ternyata yang tampak orang yang sedang menyabung ayam. Diantara kerumunan orang yang menyabung ayam tersebut tampak dua orang pemuda yang sangat tampan, yaitu Raden Panji laras dan Raden Panji Liris. Melihat ketampanan kedua jejaka kembar tersebut Andansari dan Andanwangi sangat terterik dan bahkan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Pada malam harinya kedua gadis kembar ini tidak dapat tidur karena selalu terbayang wajah dan ketampanan Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris. Begitu pula malam-malam berikutnya, wajah jejaka pujaan hatinya sulit dilupakan. Mau menemui kedua jejaka tersebut jelas tidak mungkin, karena kedua puteri Bupati Wirosobo ini sedang dalam pingitan.

Keadaan ini mengakibatkan kedua gadis kembar ini menjadi sakit. Meskipun kedua orangtuanya telah berusaha mendatangkan dukun dan tabib untuk mengobati penyakit kedua puterinya, tetapi penyakit Andansari dan Andanwangi tidak kunjung sembuh. Akhirnya ibunya dengan penuh bijaksana mencoba bertanya kepada kedua puteri kembarnya, apa yang menjadi penyebab keduanya sakit.

Berkat kesabaran dan ketekunan ibunya, maka Andansari dan Andanwangi mengutarakan isi hatinya bahwa sebenarnya keduanya menderita sakit cinta. Keduanya merasa jatuh cinta keda kedua jejaka tampan yang sering menyabung ayam di halaman rumah kabupaten Wirosobo yaitu Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris.

Mendengar pernyataan kedua puterinya tersebut, Nyai Bupati Wirosobo sangat terkejut, dan memberitahu kedua puterinya agar keinginannya diurungkan saja, karena menurut adat yang berlaku, sebagai perempuan hanya dapat menerima kedatangan laki-laki yang meminangnya. Namun Andansari dan Andanwangi tidak dapat mengikuti nasihat ibunya, dan mengatakan lebih baik mati daripada tidak kesampaian menjadi isteri putera kembar Bupati Lamongan tersebut. Akhirnya masalah ini oleh Nyai Bupati disampaikan kepada Bupati Wirosobo. Setelah melalui perundingan keluarga, demi rasa sayangnya kepada kedua puterinya, Bupati Wirosobo mengirim utusan ke Lamongan untuk menyampaikan surat lamaran.

Setelah membaca surat lamaran dari Bupati Wirosobo, Raden Panji Puspakusumo memanggil kedua puteranya, menanyakan apakah mereka sudah kenal dengan Andansari dan Andanwangi puteri kembar Bupati Wirosobo. Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris menyatakan bahwa meskipun keduanya sering menyabung ayam di halaman rumah Bupati Wirosobo, tetapi belum pernah bertemu dengan Andansari dan Andanwangi, karena keduanya dipingit. Selain itu Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris menyatakan bahwa keduanya masih senang membujang, , belum ingin menikah.

Untuk menjaga hubungan baik antara Kabupaten Lamongan dengan Kabupaten Wirosobo, Raden Panji Puspokusumo menyarankan agar kedua puteranya jangan menolak secara terang-terangan lamaran kedua puteri kembar Bupati Wirosobo. Sebaiknya ditolak secara halus dengan cara mengajukan persyaratan yang sulit diwujudkan.

Setelah berpikir sejenak, Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris mengajukan persyaratan agar kedua puteri kembar Bupati Wirosobo ini datang ke Lamongan sambil masing-masing membawa sebuah genukIgentong yang dibuat dari batu berisi air penuh, dan membawa kipas dari batu yang akan dijadikan prasasti tentang pernikahan jejaka kembar putera Bupati Lamongan dengan gadis kembar puteri Bupati Wirosobo, dan ditaruh di aloon-aloon Kabupaten Lamongan. Selanjutnya persyaratan ini disampaikan kepada utusan dari Wirosobo agar disampaikan kepada Bupati Wirosobo.

Setelah mendapat pemberitahuan dari utusannya, tentang hasil lamarannya, maka Bupati Wirosobo memenuhi persyaratan tersebut dan mengirim utusan kembali ke Kabupaten Lamongan agar kedua putera Bupati Lamongan menjemput kedatangan Andansari dan Andanwangi di seberang sungai Lamong yang merupakan perbatasan bagian selatan wilayah Kabupaten Lamongan. Sesuai dengan janjinya kepada utusan dari Kabupaten Wirosobo, maka Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris menjemput kedatangan Andansari dan Andanwangi di tepi sungai Lamong, yang sekarang merupakan wilayah Desa Babadan Kecamatan Mantup.

Setelah waktu yang disepakati tiba, Andansari dan Andanwangi yang telah dibekafi kesaktian oleh ayahnya, berangkat ke Lamongan sambil masing-masing membawa sebuah genuk dari batu berisi air penuh, dan sebuah kipas dari batu, dengan disertai beberapa orang pengawal, Sesampainya mereka di sebelah selatan sungai Lamong, tampak di seberang sungai, yaitu di sebelah utara sungai, rombongan Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris yang telah menunggu kedatangan rombongan dari Wirosobo. Pada waktu itu sungai Lamong tersebut belum ada jembatannya.

Setelah ditunggu-tunggu, ternyata Raden Panji Laras dan Raden panji Liris tidak juga menyeberang menjemput kedatangan Andansari dan Andanwangi. Kedua jejaka ini masih tetap berada di atas kuda tunggangannya. Karena didorongkan rasa rindunya segera ingin bertemu dengan jejaka pujaan hatinya, dan merasa kedua puteri ini yang ingin mendapatkan suami putera Bupati Lamongan tersebut, maka Andansari dan Andanwangi mengalah, dan segera memulai menyeberangi sungai Lamong. Karena air sungai makin ke tengah makin dalam, dan agar kain yang dipakai tidak basah, maka Andansari dan Andanwangi terpaksa harus mensingsingkan kainnya, sehingga kedua betis gadis-gadis ini kelihatan.

Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris yang sejak tadi memperhatikan dari seberang sungai sangat terkejut setelah melihat bahwa betis kedua puteri cantik itu penuh ditumbuhi rambut layaknya betis laki-laki. Di dalam hatinya Raden panji Laras dan Raden Panji Liris tidak dapat menerima Andansari dan Andanwangi yang meskipun cantik tetapi betisnya penuh ditumbuhi rambut. Dengan segera Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris memutar kudanya dan melarikan dengan kencang menuju Kabupaten Lamongan. Andansari dan Andanwangi tidak merasa bahwa Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris menyikkiri dirinya, dan mengira bahwa kedua jejaka itu masih merasa malu- malu atas kedatangan kedua puteri itu. Kedua puteri itu berinisiatif menyusul ke pendapa Kabupaten Lamongan.

Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris sesampainya di rumah segera melapor kepada ayah-ibunya apa yang dilihat ketika menjemput Andansari dan Andanwangi, dan keduanya menyatakan tetap tidak mau menerima kedua puteri tersebut. Bupati Lamongan menyadari bahwa hal ini akan berakibat peperangan antara Lamongan dengan Wirosobo dan pertumpahan darah tentu terjadi. Apalagi Andansari dan Andanwangi merasa sangat tersinggung karena harga dirinya dilecehkan, telah mengancam akan melaporkan kepada ayahnya karena kedatangannya di pendapa Kabupaten Lamongan tidak mendapatkan sambutan sebagai layaknya tamu terhormat.

Bupati Wirosobo setelah mendapat laporan kedua puterinya tentang penolakan Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris, segera mengerahkan pasukan untuk menggempur Lamongan. Bupati Wirosobo juga minta bantuan pasukan dari Kabupaten Kediri dan Kabupaten Japanan. Pasukan Kabupaten Lamongan juga menyiapkan diri dengan dipimpin panglima perangnya yang bernama Ki Sabilan. Setelah pasukan Kabupaten Wirasaba bersama sekutunya sampai di Lamongan, segera terjadi pertempuran yang sengit. Dalam pertempuran tersebut Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris gurur. Demikian juga Andansari dan Andanwangi mati terbunuh. Panglima perang Lamongan Ki Sabilan juga gugur dalam pertempuran itu. Akhirnya Bupati lamongan Raden Panji Puspokusumo saling berhadapan dengan Bupawi Wirosobo, dan berakhir dengan kematian Bupati Wirosobo yang ditusuk dengan keris pusaka Kyai Jimat oleh Raden Panji Puspokusumo. Prajurit Wirosobo dengan sekutunya dari Kediri dan Japanan dengan bercerai-berai kembali ke daerah masing- masing.

Kedua buah genuk batu, dan dua buah batu berbentuk kipas tersebut, sampai sekaran masih disimpan di halaman Masjid Agung Kabupaten Lamongan. Sedangkan nama Panji Laras-Liris serta Andansari dan Andanwangi ini diabadikan menjadi nama jalan yang lokasinya berada di halaman Masjid Agung Kabupaten Lamongan.

Cerita tentang Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi puteri Adipati Wirosobo yang melamar Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris putera Raden Panji Puspokusumo Bupati ketiga Lamongan ini, dianggap sebagai cerita yang mempengaruhi adanya tradisi wanita melamar pria, dan juga sebagai legitiminasi atau pengesahan adanya tradisi wanita melamar pria di Lamongan. Jalan ini ditempuh para leluhur Lamongan agar masyarakat menganggap sah tradisi wanita melamar pria, karena sesuai dengan adat kebiasaan bangsawan. Dan masyarakat menganggap bahwa bila dapat meniru gaya hidup bangsawan kerajaan akan disegani anggota masyarakat lainnya, yang berarti akan menaikan , harga dirinya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006. hlm. 

Pengantin Bekasri

Di berbagai daerah di Indonesia mempunyai perbendaharaan tradisi tata rias dan tata busana mempelai. Begitu pula di Jawa Timur juga mempunyai tata rias dan busana mempelai gaya Madura, gaya Surabaya, gaya Mojoputri yang dikembangkan di daerah Mojokerto, dan di Lamongan juga mempunyai tata rias dan busana mempelai gaya Bekasri.

Tata rias dan busana Bekasri yang merupakan akronim dari bek dan asri (bek = penuh; asri = indah), jadi bekasri berarti penuh keindahan. Tatarias Bekasri ini merupakan aset budaya daerah Lamongan yang mempunyai keunikan dan keindahan tersendiri. Selain itu rangkaian upacara mempelai Bekasri juga sarat dengan muatan ajaran tidak tertulis yang diwujudkan dengan rangkaian upacara tradisi yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara pernikahan.

Tata rias dan busana pengantin Bekasri sebanarnya sudah cukup lama digunakan oleh masyarakat Lamongan. Mula-mula berkembang di daerah Mantup yang ketika itu menjadi bagian dari wilayah kerajaan Singasari dan selanjutnya setelah Singasari runtuh dan timbul kerajaan Majapahit, daerah Mantup menjadi bagian dari wilayah kerajaan Majapahit. Tradisi yang digunakan dalam upacara tradisi pengantin Bekasri menunjukkan bahwa masyarakat Mantup dan sekitarnya yang merupakan daerah berkembangnya tata rias dan busana pengantin Bekasri adalah masyarakat agraris. Hal ini terbukti bahwa dalam rangkaian upacara menggunakan sarana hasil bumi seperti padi, makanan yang merupakan olahan dari hasil bumi, dan juga menganggap perlunya pelestarian sumber air dengan cara mengajak pengantin Bekari ke sendang atau sumber air. Sumber air merupakan sarana yang vital untuk pengolahan sawah, dan masyarakat agraris menganggap betapa pentingnya sumber air.

Bukti lain bahwa masyarakat pendukung upacara tradisi pengantin Bekasri adalah masyarakat agraris adalah bahwa orang yang mempunyai anak gadis sangat berkeinginan mengambil menantu jejaka yang rajin bekerja mengolah sawah. Hal ini diharapkan setelah menjadi menantunya akan dapat dijadikan tenaga mengolah sawahnya.

Berdasarkan hasil penelitian penulis, tata rambut, model hiasan bunga, cara berkain, dan beberapa asoseris yang digunakan pada pengantin Bekasri sangat mirip dengan tata busana dan asoseris yang digunakan pada patung-patung peninggalan kerajaan Majapahit yang tersimpan di moseum Trowulan Mojokerto. Hal ini menunjukkan bahwa tata busana pengantin Bekasri mencontoh tata busana raja atau bangsawa kerajaan Majapahit atau kerajaan sebelumnya yaitu Singasari.

Upacara tradisi pengantin Bekasri mengajarkan bahwa suami harus bertanggung jawab terhadap isteri tidak hanya hams dapat memberikan nafkah batin saja, tetapi juga perlu memberikan nafkah lahir, hal ini terbuki dari rangkaian upacara pemberian bahan makanan dari pengantin pria kepada pengantin wanita yang berupa beras dan kebutuhan bahan makanan lainnya.

Selain itu upacara tradisi pengantin Bekasri juga mengajarkan bahwa kedua keluarga yang berbesanan tidak lepas dari tanggung jawab terhadap pengantin berdua. Hal ini tampak pada upacara Tali waris yang pelaksanaannya adalah sebagai berikut. Keluarga mempelai pria dan mempelai wanita secara bergiliran memasukkan uang, perhiasan, dan atau sumbangan bentuk lain ke dalam bokor atau talam yang sudah disediakan. Seluruh sumbangan pada acara tali waris ini seluruhnya menjadi hak kedua mempelai. Bila mendatangkan gamelan, untuk mengawali upacara tali waris ini diiringi -gending Giro Srunen, dan pada pelaksanaan para kerabat memasukkan uang sumbangan ke dalam bokor diiringi gending Eling-Eling. Ini merupakan pelajaran tidak tertulis agar kedua keluraga yang berbesanan tetag eling (ingat) bahwa kedua pengantin adalah telah menjadi keluarga. mereka bersama.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006. hlm. 23-25

Pengantin Bekasri, Tradisi pernikahan di Lamongan

Daerah Lamongan mempunyai tradisi sendiri dalam melaksanakan upacara pernikahan. Tradisi pernikahan di Lamongan ini disebut Pengantin Bekasri, berasal dari kata bek dan asri; bek berarti penuh, dan asri berarti indah menarik, jadi Bekasri berarti penuh dengan keindahan yang menarik hati. Tradisi ini cukup unik dan tidak terdapat di daerah lain. Pada dasarnya rangkaian pelaksanaan tradisi pernikahan di Lamongan dapat dikelompokkan menjadi empat tahapan, diantaranya :

  1. tahap mencari menantu;
  2. tahap persiapan menjelang peresmian pernikahan;
  3. tahap pelaksanaan peresmian pernikahan dan
  4. tahap setelah peresmian pernikahan. 

Tahap mencari menantu terdiri dari beberapa kegiatan yaitu:

(1)   ndelok/nontok atau madik/golek lancu,

(2)   nyontok/ganjur atau nembung gunem,

(3)   linten atau negesi,

(4)   ningseti atau lamaran,

(5)   mbales atau totogan,

(6)   mboyongi,

(7)   ngethek dina.

 

Tahap persiapan menjelang peresmian pernikahan meliputi kegiatan-kegiatan:

(1)   repotan,

(2)   gedheg dan atau mendirikan tarup/terop,

(3)   ngaturi atau selamatan.

 

Tahap pelaksanaan peresmian pernikahan terdiri dari kegiatan:

(1)   akad nikah atau ijab kabul,

(2)   memberikan tata rias dan busana pengantin,

(3)   upacara panggih/temu pengantin,

(4)   resepsi.

 

Tahapan setelah peresmian pernikahan yang merupakan tahapan terakhir adalah sepasaran.

Semua kegiatan dalam masing-masing tahapan ini dapat dilaksanakan seluruhnya secara penuh, tetapi dapat juga yang dilaksanakan kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi lokal setempat, dan kondisi keluarga kedua belah pihak.

Pada tahap pelaksanaan peresmian pernikahan, kedua pengantin merupakan pusat perhatian semua tamu yang hadir, maka dari itru, agar tidak sama dengan para tamu yang hadir, pengantin perlu dirias dan diberi busana yang lain dari busana sehari-hari. Tata rias dan busana pengantin Bekasri mempunyai keunikan tersendiri yang pada dasarnya meniru busana raja dan permaisuri atau busana bangsawan. Karena daerah Lamongan pada zaman kerajaan Majapahit merupakan wilayah yang dekat dengan ibukota Majapahit, maka busana yang ditiru dengan sendirinya busana raja dan permaisuri Majapahit.

Tetapi karena daerah lamongan mempunyai berbagai produk busana daerah yang mempunyai ciri tersendiri, misalnya kain batik khas Lamongan, maka corak kain batik ini tentu saja mewarnai corak busana pengantin Bekasri.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Tata Rias dan Tata Busana Pengantin Bekasri: Pengantin Lamongan. Pemerintah Kabupaten Lamongan, Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006. hlm. 1-2