Bersih Desa, Kabupaten Magetan

Bersih Desa, Tak Sekedar Selamatan

RABU, medio November 2012, warga Dusun Waru Tunggal, Desa Tegalarum, Kec. Bendo, Kab. Magetan, menggelar hajatan “syukuran desa”.

Tradisi bersih desa (ada yang menyebut syukuran desa, sedekah bumi, selamatan desa) merupakan tradisi yang berlangsung di desa-desa di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta
maupun Jawa Barat. Tradisi itu biasanya digelar pada saat suroan atau tahun baru Saka. Namun juga tak jarang dige- lar setelah masa panen. Tak jarang Bersih Desa di beberapa desa, baik di Magetan, MadiunPonorogo, Ngawi maupun Pa citan digelar meriah dengan beberapa pertunjungan tradisional, sepertitayub, wayang kulit, reog pono- rogo, campur sari, ludruk, ketoprak, hingga orkes Melayu
atau Gambus dan karnaval pawai arak-arakan. Bahkan di beberapa desa yang memiliki
tempat wisata seringkah dilak sanakan besar-besaran dan meriah untuk menarik wisatawan. Lihat saja di desa-desa di sekitar Te­laga Sarangan, Kec. Plaosan, Magetan, tradisi bersih desa selalu dibarengkan dan berlangsung dalam beberapahari dalam bulan Jawa Ruwah, menjelang bulan Ramadhan. Dan puncak rangkai­an

Sejak siang hari beberapa warga berkumpul di pusat dusun menunggu atraksi reog ponorogo yang akan bekeliling dusun. Lalu sorenya, warga berkumpul di makam atau punden untuk menggelar selamatan, yang dipungkasi dengan pergelaran kesenian tayub.

Keunikan muncul saat warga berbondong-bondong ke makam dusun dan berkumpul di sebuah balai. Usai pembagian tumpeng selamatan kepada warga, maka seni tayub dimulai, yang diawali pengalungan sampur (selendang tari) kepada kepala desa. Lalu diikuti sekretaris desa dan kamituwo, dan kemudian warga yang ingin menari bersama dua pesinden.

“Tradisi selamatan desa atau bersih desa ini digelar tiap tahun, ini sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan kecukupan hasil panen dan ketenteraman di desa,”ujar Adi Sucipto, Kades Tegalarum.

Menurut Adi Sucipto, tradisi ini sudah mengalami pergeseran sesuai jamannya. Misalnya, dulu hampir semua warga berbondong-bondong ke punden, tapi sekarang sudah berkurang. Bila dulu digelar besar-besaran hingga semalaman, tapi sekarang cukup sederhana dan tidak sampai maghrib sudah selesai. “Semua tergantung kondisi di desa masing-masing. Karena kepercayaan masyarakat, maka tiap tahun pasti diadakan meskipun sekedar selamatan di balai desa atau balai dusun,”ujar mantan anggota pasukan perdamaian PBB di Kamboja ini.

Bersih desa dilangsungkan acara rit­ual adat larung sesaji Telaga Sarangan. Selain bersyukur kepada Tuhan, melalui acara adat ini kami juga ingin memohon agar Telaga Sarangan tetap lestari dan warganya hidup sejahtera,” ujar Sunarto, sesepuh desa di sekitar Telaga Sarangan.

Dalam ritual adat ini, Tumpeng Gono Bahu setinggi dua meter lebih, diarak dan dilarung ke dalam Telaga Sarangan. Tumpeng ini, merupakan simbol ucapan syukur warga Sarangan kepada Tuhan YME atas limpahan rahmat dan berkah selama satu tahun penuh.

Selain Tumeng Gono Bahu, masih terdapat lagi tumpeng ukuran besar yang berisi sayuran dan hasil bumi di sekitar Telaga Sarangan.

“Selain untuk melestarikan budaya, kegiatan ini juga untuk meningkatkan jum­lah kunjungan wisatawan ke Telaga Sa­rangan,” Kata Bupati Magetan, Soemantri, yang memimpin acara tersebut, (gas.bdh)

SUARA DESA, hlm. 34

Batik Pring Sedapur, Kabupaten Magetan

Batik Pring Sedapur Berjuang Tidak Luntur

Batik Pring Sedapur002SIAPA yang tak kenal Batik PringSedapur ? Ya, batik khas daerah Magetan itu berasal dari sebuah desa di lereng Gunung Lawu yang sarat dengan pohon bambu. Yakni, Dusun Papringan, Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan.

Pring dalam bahasa Jawa adalah bambu. Pring Sedapur berarti Serumpun pohon bambu. Kini para perajin tak hanya dari Dusun Papringan, tapi warga dusun lain di Desa Sidomukti. Bahkan ada juga di juga dari luar desa. “Dari papringan itulah nama Pring Sedapur itu terinspirasi.

Di dusun itulah banyak tumbuh pohon bambu yang sangat lebat, sehingga dinamakan Dusun Papringan, yang berarti di bawah pohon bambu,”ujar Soetikno, Kades Sidomukti.

Sejarah Batik Pring Sedapur dimulai dari masa awal perkembangan Islam. Setelah pecah perang, banyak prajurit Mataram lari ke daerah timur Gunung Lawu untuk mencari tempat yang aman, di antaranya di Desa Sidomukti dan sekitarnya. Di tempat itu mereka mengenalkan budaya batik kepada masyarakat sekitar Desa Sidomukti. “Awalnya para perajin mayoritas berasal Dusun Papringan. Mereka mendapatkan keahlian membatik dari nenek moyangnya,”ujar Tikno, panggilan akrabnya.

Di awal masa jabatannya sebagai kepala DesaSidomukti pada tahun 1998, Tikno bersama Arif, salah satu penghobi batik asal Ngawi, belajar bagaimana membuat batik dan mengembangkannya di Magetan. Dengan mengambil motif gambar bambu yang terdapat di Dukuh Papringan jadilah motif batik pring sedapur

Batik Pring Sedapur001Menurut Tikno, motif batik pring sedapur memiliki makna filosofi yang
sangat tinggi. Tanaman bambu biasa hidup bergerombol, membentuk satu kekuatan. Bambu jika bersatu akan menjadi sebuah kekuatan, jika diurai menjad sebuah tali yang sangat erat. Awal pengembangannya, Tikno menjalin kerjasama Kessos Kab. Magetan. Saat itu diadakan

pelatihan bagi warga Desa Sidomukti yang ingin belajar membatik. Selain itu, juga diberikan peralatan batik kepada warga yang sudah mengikuti pelatihan. Akhirnya saat ini hasil tersebut bisa dirasakan manfaatnya.

Bahkan batik Pring Sedapur dijadikan sebagai salah satu ikon Kabupaten Magetan. Belasan ribu pegawai negeri sipil di seluruh Magetan memakai seragam dengan corak Pring Sedapur setiap hari tertentu. Rata-rata dijual Rp 65 ribu hingga Rp300 ribu. Pemasaran masih untuk pasar lokal, namun ada juga dari Lamongan, Surabaya,
dan Yogyakarta.

“Dari kota-kota besar itulah batik Sidomukti pring sedapur diharapkan mulai mendunia,”kata Tikno. Namun Ketua Kelompok Perajin Batik Pring Sedapur, Mukti Rahayu, Umiyati mengungkapkan, masuknya batik Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan di pasaran local membuat batik motif Pring Sedapur mulai kalah bersaing. Meski diakui sebagai batik khas Magetan, kata Umiyati, perhatian Pemkab Magetan sendiri masih kurang. Apalagi hingga kini batik Pring Sedapur belum memiliki hak paten.

Meski tanpa hak cipta dan hak paten, kelompok perajin batik ini tetap berkarya. Bahkan kini, mereka banyak memodifikasi motif batik Pring Sedapur dengan motif tren selera pasar. Motif cendrawasih dan bermacam jenis bunga digabungkan dengan motif serumpun atau seonggok bambu. Ya, motif batik pring sedapur tetap lentur dengan perubahan zaman agar tidak luntur warnanya. Berjuang agar tetap eksis. (m.khoiri)

Suaradesa, Edisi 08, Januari 2013, hlm.

Batik Papringan, Kabupaten Magetan

Magetan adalah salah satu kota di Jawa Timur yang terletak paling barat, dan merupakan perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di daerah ini terdapat pusat kerajinan yaitu pembuatan kain batik tulis. Batik tulis tersebut dinamakan batik papringan. Penamaan batik tersebut berdasarkan  tempat pembuatannya, yaitu di dusun Papringan, desa Sidomukti, kecamatan Plaosan, kabupaten Magetan. Motif batik papringan adalah khas yaitu pring sedapur ‘pohon bambu yang tumbuh mengelompok menjadi satu ikat.

Pembuatan batik papringan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang, tetapi mereka hanya sebagai buruh membatik dan bahannya diambil dari pengusaha batik di Magetan. Setelah selesai dibatik, hasilnya disetorkan lagi ke Magetan. Pada waktu itu, pengusaha batik dari Magetan tidak ada penerusnya sehingga proses membatik tersebut macet.

Pada tahun 2002 pemerintah daerah Kabupaten Magetan melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) membentuk kelompok batik papringan. Deperindag mengadakan Pelatihan dan memberikan bantuan. Tahap pertama pelatihan diikuti oleh sepuluh orang anggota dengan
kegiatan khusus yaitu membatik. Kemudian, pada tahun 2003 pelatihan berkembang dengan menambah tenaga menjahit dan membuat desain, hingga sekarang beranggotakan 25 orang. Selain memberikan pelatihan, pemerintah daerah juga memberikan bantuan sebesar RplOO.000,00 per anggota. Pada zaman nenek moyang dulu mereka hanya buruh membatik saja, tetapi sekarang berkat pembinaan dari Deperindag kelompok tersebut mampu mengerjakan mulai dari bahan kain, proses membatik hingga pakaian jadi.

Pembuatan batik tulis papringan dikelola oleh warga Dusun Papringan sendiri dengan membuat suatu kelompok kerja. Kelompok tersebut dinamakan Kelompok Mukti Rahayu. Kelompok tersebut beranggotakan 25 orang, yang terdiri atas 22 orang perempuan dan 3 orang laki-laki.

Anggota perempuan mengerjakan tugas membatik, sedangkan untuk anggota laki-laki bertugas mengerjakan cap dan sablon, jam kerja para pembatik mulai pukul 08.00 sampai dengan 16.00. Waktu istritahat mulai pukul 12.00 sampai dengan pukul 13.30. Upah pembatik dihitung berdasarkan hasil membatik. Upah pembatik dihitung dariharga bahan, harga jual, dan keuntungan yang diperoleh.

Dari perhitungan tersebut, upah yang diperoleh kurang lebih pembuatan batik tulis papringan didatangkan dari Solo. Bahan yang dipakai ada dua macam yaitu kain sutra dan mori. Batik dari kain sutra harganya lebih mahal apabila dibandingkan dengan kain mori, karena tingkat pengerjaannya lebih sulit. Kelompok Mukti Rahayu selain menghasilkan batik tulis, juga mengerjakan batik cap atau batik sablon (printing). Batik tulis penjualannya lebih laku dibandingkan dengan batik cap atau batik sablon. Perbedaan batik tulis dan batik sablon terletak pada kualitas gambar bagian luar dan bagian dalam. Batik tulis memiliki gambar bagian luar dan dalam yang sama, sedangkan batik cap atau batik sablon memiliki gambar bagian luar dan dalam yang tidak sama (artinya gambar bagian luar lebih jelas, sedangkan bagian dalam agak kusam). Pemasaran batik papringan sementara ini belum meluas, masih berdasarkan pesanan. Penjualan di luar kota masih sampai Yogyakarta dan Lamongan.

Proses pembuatan batik papringan melalui enam tahap. Tahap pertama adalah pemotongan kain dan pembuatan pola. Ukuran standarnya adalah 2,25 meter sedangkan ukuran untuk orang yang gemuk adalah 2,5 meter. Kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua, yakni membatik. Tahap ketiga adalah pewarnaan. Proses pewarnaan atau pencelupan dapat dilakukan sampai tiga kali. Hal ini bertujuan agar apabila hasilnya kurang bagus bisa diulangi lagi. Tahap keempat adalah penguncian, yang bertujuan agar warna kain tidak luntur. Penguncian berlangsung selama empat jam penguncian. Tahap kelima adalah pencucian. Tahap keenam atau terakhir adalah perebusan kain yang bertujuan untuk menghilangkan lilin yang menempel pada kain sehingga kain tidak kaku. Proses pembuatan batik Papringan ini dilakukan selama tiga hari.

Pesona Jawa Timur,Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Badan, Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Sidoarjo, 2012, hlm. 59-61

Memalu

Memalu adalah salah satu proses Pembuatan Gamelan  di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, yang disebut memalu adalah pekerjaan menempa dengan sebuah alat yang disebut palu. Dalam suatu bengkel gamelan, tenaga yang bertugas memalu, jumlahnya tidak tetap. Hal ini tergantung dari jenis gamelan yang sedang dibuatnya.

Sementara pekerjaan berlangsung, jumlah tenaga yang bertugas memalu sekurang-kurangnya 2 orang dan sebanyak-banyaknya 4 orang. Untuk mengerjakan sebuah Gong Besar atau Gong Totogan diperlukan 4 orang pegegang palu. Bahkan seringkah dipersiapkan pula beberapa orang cadangan. Sedangkan untuk membuat jenisgamelan yang berukuran lebih kecil dari Gong -Totogan, sering dilakukan oleh 3 orang pemalu; misalnya pada saat membuat berbagai macam kempul dan kenong. Dan untuk membuat jenis bonang, bisa dilakukan oleh 2 orang pemalu.

Dalam suatu bengkel gamelan, tenaga yang bertugas melakukan pekerjaan memalu, mempunyai sebutan sesuai dengan posisi pada saat melakukan pekerjaan. Secara berurutan dapat disebut sebagai berikut: Palu -Ngarep, Palu – Tengah, Palu – Apit dan Palu – Tepong. Bila ditinjau dari kedudukan dalam arti tingkat kemampuan, dapat disebut dalam urutan sebagai berikut : Palu – Ngarep, Palu- Tepong, Palu – Tengah dan Palu – Apit.

Tenaga pande gamelan yang bertugas memegang Palu- Ngarep, pada umumnya memiliki kepandaian setingkat dibawah panji. Dalam praktek sehari-hari, seringkali membantu pekerjaan Panji, misalnya “ngider” atau membantu membentuk gamelan pada saat pekerjaan hampir selesai. Tingkat dibawah Palu – Ngarep adalah Palu – Tepong. Kendatipun dalam praktek kerja Palu – Tepong berada pada posisi yang paling akhir, tetapi ditinjau dari segi tingkat kemampuannya, setingkat lebih tinggi bila dibandingkan dengan Palu – Tengah atau Palu – Apit.

Palu – Tengah merupakan palu penutup kegiatan menempa..Bila dibandingkan dengan Palu-Ngarep, Palu- Tengah dan Palu-Apit; cara memegang palu yang dilakukan oleh Palu-Tepong berbeda. Untuk Palu-Ngarep, Palu-Tengah dan Palu-Apit; cara memegang palu dilakukan dengan tangan kanan berada di depan atau berada di dekat mata palu, tangan kiri berada pada ujung tangkai palu. Sedangkan untuk Palu-Tepong, justru tangan kiri berada didekat mata palu dan tangan kanan berada pada ujung tangkai palu. Pekerjaan memalu dengan tangan kanan berada didepan disebut “nengen”. Dan bila tangan kiri yang berada didepan disebut “ngiwo”.

Peranan Palu-Ngarep dan Palu-Tepong cukup penting; hal ini terlihat jelas dalam praktek sehari-hari. Dilingkungan pande gamelan jumlah pemegang palu paling banyak 4 orang, dan paling sedikit 1 orang. Keempat palu baru dipergunakan untuk membuat gamelan yang berukuran besar, misalnya Gong Totogan, Kempul Suwukan dan Kempul Dhadha. Untuk jenis gamelan berupa Kempul lainnya dan Kenong, diperlukan tiga palu, yaitu Palu-Ngarep, Palu-Tengah dan Palu-Tepong. dan untuk membuat bonang biasanya diperlukan 2 palu, yaitu Palu Ngarep dan Palu- Tepong. Sedangkan untuk membuat jenis Wilahan, biasanya diperlukan 1 palu.

Kerja sama antara Panji dan pemegang palu dapat diamati dengan jelas pada saat kegiatan menempa sedang berlangsung. Bagian yang harus dipukul, diarahkan oleh Panji dengan jalan memutar-mutar bakal gamelan diatas landasan atau tandes. Gerakan memutar dilakukan setelah Palu-Tepong selesai memukul. Pukulan pertama dilakukan oleh Palu-Ngarep, dilanjutkan oleh Palu-Tengah, Palu-Apit dan ditutup oleh Palu-Tepong.

Pekerjaan semacam itu berulang-ulang dilakukan sampai keadaan lakar/bakal gamelan menunjukkan tanda-tanda tidak mungkin dipukul lagi. Berapa kali rangkaian pukulan tersebut dilakukan, untuk tiap tahap tidak selalu sama dan dalam hal ini Panji yang menentukan. Bila keadaan lakar menunjukkan tanda-tanda tidak memungkinkan untuk ditempa terus, maka Panji memberi aba-aba berhenti. Dalam hal ini pemegang palu harus taat menghentikan pekerjaannya.

Biladilanggar, resikonya cukup berat karena besar kemungkinan lakar gamelan itu pecah. Untuk men nulang pekerjaan menempa, lakar harusdibakarulang. Dan pada saat pembakaran sedang berlangsung, Panji melakukan pekerjaan memutar-mutar lakar atau membalik lakar tersebut agar pembakaran merata. Sementara itu pemegang palu Ngarep mempersiapkan palu yang akan dipergunakan dan pemegang palu lainnya mempersiapkan tandes, yaitu dibersihkan atau diberi tanah liat sebagai ganjal. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dilakukan tanpa menunggu perintah, jadi berjalan secara otomatis.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Proses Pembuatan Gamelan: di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur, Surabaya, 1995, hlm. 10-12

 

Pande Gamelan, Kabupaten Magetan

LATAR BELAKANG SEJARAH BERDIRINYA PANDE GAMELAN DI KIDAL

Menurut pengakuan para pande gamelan di daerah Kidal, dikatakan bahwa kegiatan pande gamelan di Kidal setidak-tidaknya sudah tiga keturunan hingga sekarang ini. Orang .pertama yang dianggap sebagai cakal bakal pande gamelan di Kidal bernama Kartodikromo. Kartodikromo adalah salah seorang anak dari Singolaksono yang semula berasal dari Surakarta. Siapa sebenarnya yang menurunkan Singolaksono ini tidak diketahui dengan jelas . Hanya dikisahkan bahwa salah seorang anaknya kawin dengan putri dari seorang yang bernama Djojobroto.

Sekitar tahun 1825, pada saat terjadi perang Diponegoro, salah seorang prajuritnya yang bernama Djojobroto terpaksa melarikan diri karena terdesak pasukan Belanda. Dan Ny. Djojobroto menyingkir ke dukuh Kidal, Desa Kauman, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan. Berkat perkawinannya dengan Djojobroto dikaruniai 4 orang putera, yaitu : Poncokenongo, Kudomarto, Martowikromo dan seorang putri yang tidak diketahui nama aslinya yang kemudian kawin dengan Kartodikromo anak dari Singolaksono. Anak Singolaksono seluruhnya berjumlah 5 orang, yaitu : Gijem, Kartodikromo, Mi, Singosemito dan Sodikromo

Perkawinan Kartodikromo dengan putri Djojobroto dikaruniai 8 orang putera. Dan diantara 8 puteranya tersebut 7 diantaranya melanjutkan pekerjaan yang dirintis ayahnya sebagai pande gamelan, demikian pula kepandaian yang dimilikinya diwariskan pula kepada anak-anaknya hingga sekarang ini. 8 putera Kardikromo tersebut,yaitu : Madrim, Kartodirjo, Sepiyem/Resodikromo, Kartoprawiro, Sepinah/Martodrikromo, Kartodikromo, Somo Djemali dan Sarimin.

Kepandaian yang dimiliki oleh keturunan dari Kartodikromo dalam hubungannya dengan kegiatan di pande gamelan, ternyata menekuni pada bidang-bidang yang tidak sama. Ada sementara yang menekuni sebagai pembuat gamelan atau biasa disebut panji, ada pula yang menekuni dibidang penglarasan gamelan, atau bahkan ada pula yang bekerja sebagai pembantu dalam pande gamelan.

Madrim mempunyai 7 orang putera, diantaranya 4 orang yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan, demikian pula beberapa orang cucunya. Keempat anak Madrim yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan, diantaranya : Martodihardjo, Mardi, Tjokrohartono dan Suwandi. Anak Martodikardjo yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan,yaitu Karjono, Karjoto dan Karjoso. Sebagai pewaris, Karjono tidak semata-mata mewarisi kepandaian dari orang tuanya, tetapi mewarisi pula peralatan pande gamelan dari orang tuanya. Dalam hal ini Karjono berlaku sebagai pengusaha pande gamelan dan bertindak sebagai panji sekaligus. Sedangkan kedua adiknya sebagai pembantu. Mardi mempunyai anak bernama Harsono yang juga sebagai pembuat gamelan. Tjokrohartono terkenal sebagai pembuat gamelan dan tukang laras gamelan. Sedangkan Suwandi salah seorang anak dari Madrim pula, juga sebagai pembuat dan tukang laras gamelan.

Keturunan Kartodikromo yang lain bernama Resodikromo, yang juga dikenal sebagai pembuat gamelan. Diantaranya 9 orang puteranya, tercatat 6 orang yang menekuni dibidang pembuatan gamelan. Keturunan dari keenam putera Kartodikromo inipun banyak pula yang meneruskan pekerjaan orang tuanya sebagai pembuat gamelan. Bahkan ada sementara yang pernah mendalami pekerjaan membuat gamelan di lingkungan Kraton Surakarta, yaitu yang bernama Sastrodihardjo alias Sastro Sipin. Keturunan SastroSipin kendatipun tidak menekuni pembuatan gamelan, tetapi tetap berupaya melestarikan warisan dari orang tuanya. Dari kelima anak Sastro Sipin, tercatat 2 orang yang aktif dibidang pembuatan gamelan, yaitu Moeljono sebagai penglaras gamelan dan Soejoed yang lebih banyak menekuni dibidang pemasaran gamelan.

Putera Resodikromo lainya yang menekuni pekerjaan dibidang pembuatan gamelan diantaranya; Atmodihardjo (sebagai penglaras gamelan), Somowidjojo (pembuat gamelan), Sasmohardjo alias Sikoen (penglaras gamelan), Ny. Ning, Ny. Manis Martokarso (pembuat gamelan).

Somowidjojo mempunyai 8 orang putera. Dari 8 orang itu beberapa diantaranya menekuni sebagai pembuat gamelan, yaitu Moenadi, Soemadji dan Wasito, Ny. Ning mempunyai 8 orang putera dan 4 orang yang bekerja sebagai pembuat gamelan, yaitu : Sadirin, Sadikun, Sadikin dan Dimun. Sedangkan Ny. Manis Mertokerso mempunyai 7 orang anak, 2 orang yang menekuni kegiatan pembuatan gamelan, yaitu Sardi dan Suradi.

Disamping keturunan dari Singolaksono sebagaimana diuraikan diatas, pande gamelan di Kidal ada sementara yang berasal dari jalur keturunan lain, tetapi masih mempunyai hubungan keluarga Singolaksono. Singolaksono sebenarnya mempunyai 2 orang saudara, yaitu; Kartisentiko dan Sodikromo. Dalam hal ini Kartosentiko. Dalam hal ini Kartosentiko mempunyai 4 orang anak yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan, yaitu; Loso, Rebo, Kisoet dan Poepon/ Wongsodidjono. Poepon atau Wongsodidjono juga mempunyai 2 orang anak yang bekerja sebagi pembuat gamelan, yaitu; Partoredjo dan Hardjodijono. Sedangkan Sodikromo yang dikenal pula sebagai pembuat gamelan mempunyai beberapa orang yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan pula. Diantaranya adalah, Karso alias Sadimin dengan 3 orang puteranya yang masing- masing juga sebagai pembuat gamelan, yaitu; Ny. Minih alias Karso Kanti, Karsoredjo alias Ngadi dan Madimin. Keturunan Karso Kanti yang membuat gamelan bernama Darmo alias Kamidi dan Madimin. Salah satu anak Madimin yang mewarisi kepandaian orang tuanya sebagai pembuat gamelan bernama Wakidi.

Martodikromo anak ke 5 dari Kartodikromo, mempunyai 8 orang putera, dua diantaranya yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan, yaitu Parno dan Sadi. Sedangkan Somo Djoemadi mempunyai 3 orang putera dua diantaranya bekerja sebagi pembuat gamelan, yaitu : Kasimin Kartowijono dan Sapardjo. Dari uraian diatas tampak jelas bahwa pekerjaann sebagai pande gamelan di Kidal ternyata dilakukan secara turun temurun. Dan dari kenyataan yang ada sekarang terlihat bahwa pekerja di pande gamelan yang tersebar di Kidal, satu dengan lainnya masih terikat hubungan kekeluargaan. Memang ada sementara yang tidak mempunyai hubungan keluarga yang dekat, tetapi pada umumnya mereka masih dalam taraf belajar atau sekedar bekerja untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ringan-ringan, misalnya; mengikir, menghaluskan dan lain sebagainya.

Kendatipun sekarang masih banyak keturunan dari Singolaksono, keturunan dari Kartosentiko maupun keturunan dari Sodikromo yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan, tetapi tidak seluruhnya mempunyai besalen (tempat untuk melakukan kegiatan pembuatan gamelan). Beberapa besalen yang kini masih aktil melakukan kegiatan, diantaranya; besalen milik Somowidjojo, besalen milik Suparno, besalen milik Kamidi, besalen milik Sukimin, besalen milik Karjono dan besalen milik Kasimin.

Hubungan kerja dengan besalen yang berada di luar daerah Kidal, misalnya dengan Solo atau Sukoharjo; telah dirintis sejak semula dan hingga kini masih pula dilakukan. Salah satu pekerjaan yang dianggap paling berat dan banyak menanggung resiko dilingkungan pande gamelan adalah pekerjaan membuat Gong Besar atau Gong Totogan. Untuk mencukupi kebutuhan Gong Besar, seringkah harus memesan ke Solo atau ke Sukoharjo. Bahkan pernah pula Gong Besar dibuat di Kidal, tetapi untuk tenaga intinya terpaksa harus mendatangkan dari besalen di Sukoharjo. Namun demikian secara timbal balik, serinhg pula besalen di Sukoharjo terpaksa, memesan beberapa bagian dari gamelan yang kebutuhan tidak sempat diproduksi di Sukoharjo, misalnya komponen gamelan berupa wilahan. Kerja sama semacam ini dilakukan pada saat banyak yang memesan sedangkan waktu tidak mencukupi untuk dikerjakan sendiri.

Proses pembuatan gamelan di Kidal, desa Kauman, kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan; Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur, 1994 / 1995, hlm. 3-6

Megengan, Kabupaten Magetan, Bangkalan, Gresik, Tulungagung

Megengan Tradisi Perekat Silaturahmi, ragam tradisi megengan tumbuh semarak di masyarakat sebagai bentuk akulturasi Isla dan budaya lokal.

MEGENGANSalah satu pengaruh Islam di lingkungan masyarakat Islam Jawa adalah tradisi megeng-an. Megengan sering diartikan ritual mapag atau menjemput tanggal satu Bulan Ramadlan. Secara harfiyah megengan berasal dari kata “megeng” yang berarti menahan diri dari semua perbuatan yang mendatangkan dosa. Itu sebabnya, secara filosofis megengan bermakna sebagai media permohonan maaf atas segala dosa para leluhur, sekaligus sebagai momentum mengenang dan meng­hormati atas segala kebajikannya.

Dan yang lebih penting lagi, megengan merupak­an pernyataan sikap dengan diiringi keihlasan tinggi untuk mapag kedatangan Bulan Suci Ramadlan. Itu sebabnya, warga muslim selalu sibuk menyiapkan diri dengan melakukan berbagai ritual selama tujuh hari menjelang Puasa Ramadlan.

Tradisi megengan di setiap daerah banyak ragam­nya, tetapi membersihkan diri, membersihkan masjid, dan ziarah kubur adalah jamak dilakukan masyarakat. Doa dengan menggelar kenduri bersama di masjid juga mewarnai ritual megengan sebagai ungkapan rasa bersyukur atas kedatangan Ramadlan.

MEGENGAN 0Warga Desa Tamanarum, Kec. Parang, Magetan, setiap menyambut bulan suci selalu mengadakan ro’an atau kerja bakti membersihkan masjid kuno dan sarean(makam) pendiri masjid. Masjid kuno di Desa Tamanarum adalah peninggalan KH Imam Nawawi. Dilihat dari pahatan mustaka melati dan wuwungnya persis dengan makam KGRay Maduretno istri Adipati Maospati Rangga Prawirodirdjo III, yang berangka 1810. Ini bisa diartikan masjid di desa ini usianya sama dengan berdirinya Kabupaten Magetan.

“Seperti biasanya kita menyambut Bulan Suci Ro-madhan ini dengan membersihkan masjid, karena akan digunakan untuk sholat taraweh dan kegiatan selama romadhan. Lemari- lemari tempat penyim­panan kitab-kitab dan al-Qur’an kuno juga kita ber­sihkan, selesai masjid kita kerja bakti membersihkan makam,” jelas KH Hamid, Pengasuh masjid At Taqwa yang juga keturunan dari KH Imam nawawi ini.

Biasanya selesai membersihkan masjid dan makam, malam harin­ya dilaksanakan kirim doa kepada keluarga yang sudah meninggal, kemudian   dilanjutkan   dengan

selamatan “Ambengan”(membawa tumpengan atau makan satu ember penuh yang di penuhi berbagai jenis menu dan jajan) di bawa ke masjid, dan di makan bersama- sama di se­rambi masjid.

MEGENGAN001“Tradisi seperti ini adalah sim­bol kebersamaan yang tercipta sejak mbah kita dulu, tidak ada unsur apa-apa dalam pelaksanaannya, ya kar­ena tradisi saja, kami melakukannya sebatas ngeluri budaya, karena kalau tradisi seperti kerja bakti ini tidak sering kita adakan akhirnya akan ter­bangun sifat individualis seperti yang ada di kota- kota besar” kata Lanjar Karni, Kepala Desa Tamanarum.

Soal membersihkan makam, ma­syarakat Bangkalan lebih unik, sebab makam keluarga tidak hanya dibersi­hkan tetapi batu nisannya diperbaiki dan dicat dengan warna warni yang mencolok, seperti kuning, merah, hijau, biru dan lainnya. “Ka­lau rumah kita yang masih hidup dibersih­kan dan dipercantik, maka makam keluarga kita yang sudah wafat juga perlu dirawat kein­dahannya,” kata Mail warga Bangkalan.

Makam para wali juga menjadi jujugan masyarakat sesaat sebelum Bulan Puasa tiba. Makam Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Malik Ibrahim, Sunan Drajat dan Sunan

Bonang dan puluhan sunan lain­nya selalu ramai diziarahi. “Menjelang Ramadlan jumlah peziarah lebih ban­yak dari hari-hari biasa, “kata Hasyim pegawai Makam Sunan Drajat.

Megengan dalam makna lain ada­lah media perekat antar umat Islam. Tali persaudaraan terikat kuat kar­ena didasari hati, pikiran dan jiwa yang saling bersilaturrahmi. “Dengan megengan yang sangat sederhana mendatangkan hikmah yang besar,” ungkap Asrori Kepala Desa Tiudan Kecamatan Gondang .

Menurut Asrori yang juga sebagai Ketua AKD Kabupaten Tulungagung tradisi megengan di desanya setiap tahun ditandai dengan membuat jajanan seperti apem,pisang,bahkan tumpengan yaitu nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya seperti ayam lodho,sambal goreng kentang,dan tempe,urap-urap,ke timun,kelapa goreng alias srondheng.

Dia menjelaskan makanan khas yang selalu mengisi acara megengan adalah pembagian kue apem dan pi­sang. Uniknya di daerah Tulungagung hanya dua jenis kue itu yang dibagikan antara tetangga.” Ini tentu mengandung makna atau filosofi tersendiri dibalik penggunaan kue apem dan pisang raja dalam acara megengan,” bebernya. Kue apem bila disatukan dengan pi­sang raja akan berbentuk payung. Pi­sang berfungsi sebagai penyanggah dan kue apem sebagai payungnya. “Payung itu sendiri melambangkan perlindungan dari segala rintangan dan halangan selama menja­lankan ibadah di Bulan Suci Ramadan,” jelasnya Ada juga yang bilang kalau kue apem ini be­rasal dari perkataan Arab “afwan” yang be­rarti “maaf. Meminta maaf dan memberi maaf sebelum Ramadlan tiba memang lebih baik di­banding setelah berpuasa sebulan penuh.

Megengan berarti juga acara saling mem­beri ransum ( nasi beserta sayur ayam ) kepada para sanak saudara dan orang tua. Dalam hal ini megengan bukan sekedar ung­kapan syukur dan gembira atas da­tangnya bulan Ramadhan, namun sekaligus sebagai ajang mempere­rat silaurrahmi dan persaudaraan. Ada sebuah pepatah jawa yang men­gatakan ” pager mangkok luwih kuat tinimbang pager tembok ” yang artin­ya saling memberi hadiah makanan ( arti dari mangkok) adalah lebih kuat menjaga tali persaudaraan. Islam di Jawa tumbuh subur berkat akulturasi dengan tradisi yang berkembang di Jawa, sehingga khazanah keislaman berupa tradisi megengan ini tetap hidup dan menghidupi pembentukan masyarakat yang saling menghargai dan mencintai sesama.(Sum, Sak)

SUARA DESA,  Edisi 05, 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 59

R. Himawan Soetanto, Kabupaten Magetan

Himawan Sutanto14 September 1929, R. Himawan Soetanto lahir di Magetan, Jawa Timur, Indonesia. Ayahnya Mohamad Mangoendiprodjo, jaman Jepang Daidancho Sidoarjo, Kepala Komandemen Jawa Timur, Kepala Staf Kementerian Pertahanan dan menjadi Penasehat Panglima Besar Sudirman.

Himawan Soetanto (HS), saat remaja masuk Pandu KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). tidak suka dihina, diperlakukan diskriminatif si penjajah.

10 November 1945, HS menjadi anggota Pasukan Pelajar Sawunggaling, ikut pertempuran palagan Surabaya.

Tahun 1946-1948, 1954, 1956, 1966, Berkarir di TNI mulai dari bawah dengan pangkat Letnan Muda mengikuti pelatihan dan pendidikan didalam negeri.

Juli – oktober 1946,  HS sebagai Taruna Militer Akademi (MA) Jogya, mengikuti penugasan operasi menghadapi Belanda di front Subang atau Bandung Utara.

Penugasan lainnya sebagai perajurit TNI, HS pernah menjadi Perwira Operasi Resimen Infanteri 6/Sriwijaya, Danki Taruna Akmil, Perwiran ALO/Air Liason Officer (Operasi 17 Agustus),

Tahun 1948, Letda Himawan adalah siswa Angkatan I Akademi Militer, Yogyakarta, dan sempat mengikuti Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, AS.

September 1948, HS masuk Divisi Siliwangi bermula saat ikut menumpas PKI/Moeso, bergabung dengan Kompi Tentara Pelajar pimpinan Solihin GP, membantu gerakan batalyon Nasuhi, saat itu HS masih Taruna Militer Akademi (MA) Jogya.

19 Desember 1948, HS sudah lulus Militer Akademi (MA) Jogya dengan pangkat Letda seharusnya bertugas di batalyon arteleri di kediri Jawa Timur, tetapi tidak jadi karena ketika akan naik kereta api jurusan Kediri batal berangkat, sebab kota Jogya sudah diduduki Belanda,  menandai mulainya Perang kemerdekaan II. Sehingga HS harus mengubah tujuan, yang semula akan kearah timur menjadi kearah barat yang lebih aman, dan mencari kesatuan terdekat untuk bergabung sementara.

Akhirnya ia berjalan menjauhi kota Jogya kearah barat dan bertemu dengan Letkol Bratamenggala, Wakil Kepala Staf Teritorial Markas Besar Komando Djawa (MBKD)di Godean, jadilah ia bergabung dengan Staf MBKD yang membawanya ke Jawa Barat, tempat dimana ia nantinya menghabiskan hampir setengah dari perjalanan karirnya sebagai perajurit TNI.

Tahun 1949, ikut long march Siliwangi dari Jogya ke Jawa Barat, menghadapi Belanda dan DI/TII (1949).

Tahun 1951, 1952, 1953, 1961, 1962, Selesai perang kemerdekaan, menghadapi DI/TII.

Tahun 1955-1957, HS dengan Ayah sama-sama bertugas ditempat yang sama, ketika HS menjadi Perwira Operasi Resimen Infanteri 6/Sriwijaya berkedudukan di Lampung dan ayahnya menjabat Residen Lampung.

Lettu HS menikah dengan Nonon Ratnapuri di Tasikmalaya, yang dikenalnya ketika bertugas di Priangan Timur. Resepsi pernikahannya berlangsung di Lampung, (anak Residen). dikarunia empat orang anak, yaitu Purwanto Indrawan, Dwi Prihanti Indriani, Tri Susanti Indrayani dan Cahyono Indrakusuma.

26 Juli 1956, HS dan ayah sama-sama menjadi anggota MPR-RI.

Tahun 1958, mengikuti Operasi 17 Agustus.

Tahun 1960-1961, menjadi Perwira Staf Pasukan Garuda II, Markas Operasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (Misi Perdamaian PBB)

Danyon (1961-1964), Perserikatan Bangsa -Bangsa di Leopoldiville, Congo.

Tahun 1963, bertugas di Timur Tengah sebagai Komandan Brigade Selatan, United Nations Emergency Forces.

6 April 1964, operasi “gempur,” dimana Gelombang operasi gempur dimulai dini hari dari Pinrang tepat dimana sehari sebelumnya secara licik berusaha membunuh Kolonel M. Yusuf Pangdam XIV/Hasanudin.

10 April 1964, HS berhasil merebut kembali Polewali, pusat dari pasukan pembangkang pimpinan Letkol Andi Selle. saat menjadi Danyon 330/Kujang I Siliwangi memimpin operasi “balas”

2 Mei 1964, HS telah berpangkat Letkol, ditarik kembali ke Kodam VI Siliwangi, menjadi Kepala Staf Brigif 15/Tirtayasa (sekarang menjadi Brigif 15/Kujang II Kodam III/Siliwangi).

Tahun 1965, operasi Dwikora.

Tahun 1971-1974, Himawan menjadi Pangdam IV/Sriwijaya.

Tahun 1974-1975, Himawan menjadi Pangkostrad.

Tahun 1975-1978, Himawan menjadi Pangdam VI/Siliwangi.

Tahun 1978, Himawan dikenal sebagai salah satu jenderal yang berseberangan dengan Soeharto setelah peristiwa penyerbuan TNI ke kampus ITB Bandung.

HS memegang teguh tradisi TNI sebagai “Tentara Rakyat.” Ia menempuh “Strategi of indirect approach” dalam menghadapi gejolak sosial di Jawa Barat, menolak penyerbuan militer terhadap kampus ITB, 1978. Saat itu ia merasa terjepit antara tradisi dan nilai TNI dengan perintah petinggi militer di Jakarta, HS merasa sebagai perajurit tetap loyal tetapi ia melakukannya dengan cara Jawa Barat saat menangani gerakan mahasiswa, yaitu “meunang laukna herang caina” (dapat mengambil ikannya tanpa membuat keruh airnya, pen), artinya memecahkan masalah tanpa membuat gejolak.

Tahun 1981-1983, se4bagai Pangkowilhan III/Sulawesi-Kalimantan.

Tahun 1983, HS dengan iparnya Susilo Sudarman, sama-sama berpangkat Letnan Jenderal.

Tahun 1984-1988, HS menjadi Duta Besar RI untuk Malaysia, kali ini HS banyak menulis di majalah Teknologi Strategi Militer, koran Suara Pembaruan, dan majalah Simpay Siliwangi. Ia juga menulis buku Perintah Presiden Soekarno, Rebut Kembali Madiun.

Guru Militer Akmil, Perwira Operasi UNOC-PBB di Konggo, KasBrigif, Adisten Operasi Kodam VI/Siliwangi, Wagub Akabri, Komandan Brigade UNEF 2-PBB di Mesir, Kasops Dephankam dan Kasum ABRI.

Rabu , 20 Oktober  2010,  pukul 09.51 WIB,  Letjen TNI (Purn) R Himawan Soetanto, meninggal dunia  di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Jakarta. Menurut rencana, almarhum akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, hari ini.=S1Wh

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo

9 Juli 1895, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, lahir di Magetan. anak kedua dari sepuluh bersaudara dari Raden Mas Wiryosumarto yang bertugas sebagai Ajun Jaksa di Magetan,dan Raden Ayu Kustiah.

Soerjo bersekolah di Tweede Inlandsche School (Sekolah ongko lara) di Magetan, kemudian pindah ke Hollandsch Inlandsche School (HIS). Setelah lulus dari HIS, ia pindah ke Madiun untuk mengikuti pendidikan di Opleidings School Voor Inlandsche Ambteraar (OSVIA). Di Madiun ia tinggal di rumah Bupati Madiun, kakak ibunya. yaitu Raden Ronggo Kusnodiningrat.

Tahun 1918, ia Lulus OSVIA ditugaskan di Ngawi sebagai Gediplomeerd Assistant nlandsch Bestuur Ambtenaar kantor Controleur Ngawi.

22 Agustus 1917,  Besluit Kepala Departemen Derusan Bestuur No. 1442/C11,  Sebelum tamat OSVIA, ia pernah ditugaskan sebagai pangreh praja dalam residensi Madiun,

27 Agustus 1917, berdasarkan Besluit Residen Madiun No. 7681/10 ia menjadi Candidat prijaji Pangreh Praja Indonesia dan ditempatkan sebagai Controleuir di Ngawi.

3 April 1919, berdasarkan Besluit Residen Madiun No. 4058/10, Setelah kelulusanya dari OSVIA ia sebagai Wedono Ngrambe (Ngawi).

27 Oesember 1919, berdasarkan Besluit No. 11847/10, sebagai Asisten Wedana Onderdistrik Karangredjo (Magetan).

Tahun 1920 ia dipindahkan ke Madiun sebagai Mantri Veld Politie hingga tahun 1922.

Tahun 1923 ia mendapat tugas belajar di Politie School (Sekolah Polisi) di Sukabumi selama dua tahun.

30 Maret 1925, berdasarkan besluit Residen Madiun No. 5064/10. ia pindah ke Onderdistrik Kota Madiun

Pada tahun 1926 ia pernah menduduki jabatan Asisten Wedana di Kota Madiun dan Ponorogo (Jetis) dan selanjutnya ia menjadi Wedana di Pacitan. Pada tahun yang sama ia menikah dengan Raden Ajoe Siti Moettopeni, yang lahir di Ponorogo tanggal 13 Mei 1898. Raden Ajoe Siti Moettopeni merupakan puteri dari Raden Adipati Aryo Hadiwinoto, Bupati Magetan. Buah pernikahan tersebut melahirkan seorang anak bernama Raden Adjeng Siti Soeprapti, lahir di Magetan, 12 Januari 1922.

21 Februari 1927, Berdasarkan besluit Residen Madiun No. 1524/10 tanggal, dipindahkan ke Onderdistrik Djetis distrik Ardjowinangun Kabupaten Ponorogo.

30 Juni 1927 Berdasarkan besluit Residen Madiun No. 4975/10 diangkat menjadi Asisten Wedono Klas I.

25 September 1928, Berdasarkan Besluit Goebernoer Djawa Timoer No. 1080/23a diangkat menjadi Wedono Distrik Kota Patjitan.

Tahun 1930 ,Soerjo, mengikuti pendidikan di Bestuuracademic di Batavia selama dua tahun.

1 Desember 1930,  berdasarkan Besluit Goebernoer Djawa Timoer No. 3171/23a, setelah menyelesaikan pendidikannya  ia ditugaskan di distrik Modjokasri (Modjokerto) sebagai Wedana di Mojokerto

11 September 1935,  diangkat menjadi Wedono Distrik Porong. Kabupaten Sidoarjo.

9 Agustus 1938,   diangkat menjadi Bupati di Magetan hingga tahun 1942.

Tahun 1943, beliau menjabat Su Cho Kan (Residen) Bojonegoro hingga kemerdekaan Republik Indonesia.

18 Agustus 1945, setelah Indonesia merdeka, Soerjo, diangkat sebagai Gubernur Propinsi Jawa Timur yang pertama.

5 September 1945, Ia dilantik sebagai Gubernur Propinsi Jawa Timur.

12 Oktober 1945, baru melaksanakan tugas sebagai Gubernur Jawa Timur.

31 Oktober 1945, menghadapi pasukan tentara sekutu di Surabaya. Setelah terbunuhnya Mallaby di Surabaya kemarahan Inggris semakin memuncak.

9 November 1945, tentara Inggris mengeluarkan ultimatum kepada segenap rakyat Surabaya agar menyerahkan senjata paling lambat tanggal 10 Nopember 1945 pukul 06.00 pagi. Apabila tuntutan ini tidak dipenuhi mereka akan menggempur Surabaya dari darat, laut, dan udara. Gubernur Soerjo menghadapi keadaan genting ini dengan kepala dingin. Ia mengadakan rapat dengan Tentara Keamanan Rakyat.

9 Nopember 1945 pukul 23.00, beliau berpidato melalui siaran radio dan membakar semangat rakyat untuk bangkit melawan pasukan Inggris. Pidato yang sama pun digelorakan oleh Bung Tomo yang mampu memicu semangat pemuda Surabaya untuk menahan gempuran Sekutu.

10 Nopember 1945, keesokan harinya meletus pertempuran dahsyat antara tentara Inggris dan para pejuang serta pemuda Indonesia di Surabaya yang kemudian dikenal dengan Pertempuran Surabaya.

Tahun 1945, serangan Inggris di Surabaya semakin gencar dan memaksa Suryo dan staf pemerintahan menyingkir ke Sepanjang.

Tahun 1947, kemudian pindah ke Mojokerto, Kediri, dan selanjutnya Malang .

21 Juli 1947, setelah aksi Militer Belanda I. Kedudukan Pemerintah Propinsi Jawa Timur yang sebelumnya ada di Malang dipindahkan ke Blitar.

Tahun 1947 Soerjo digantikan oleh Dr. Moerdjani. Soerjo mendapat tugas baru sebagai Wakil Ketua DPA di Yogyakarta. la selanjutnya menjadi ketua DPA ketika ketua sebelumnya sakit.

10 Nopember 1948 setelah menghadiri peringatan hari Pahlawan di Yogyakarta, Soerjo pulang ke Madiun untuk menghadiri 40 hari wafatnya adiknya, Raden Mas Sarjuno yang menjadi korban keganasan Partai Komunis Indonesia. la bermalam di Solo dan menginap di rumah seorang Residen Solo, Pak Diro.

11 Nopember 1948, keesokan harinya beliau melanjutkan perjalanan. Di Desa Bago, Kedunggalar, Ngawi, dicegat dan kemudian dibunuh gerombolan komunis yang dipimpin oleh Maladi Yusuf. Pada saat yang sama lewat mobil yang ditumpangi M. Duryat dan Suroko. Soerjo dan lainnya di bawa ke Hutan Sonde dan dibunuh secara kejam. Jenazahnya ditemukan empat hari kemudian di Kali Klakah, Dukuh Ngandu, Desa Bangunrejo Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Jenazah Soerjo kemudian dimakamkan di makam Sasono Mulyo, Sawahan, Kabupaten Magetan.

17 Nopember 1964, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294, Pemerintah mengangkatnya sebagai pahlawan Pembela Kemerdekaan.

 Taman TAHURA

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, Kabupaten Magetan

Gubernur Suryo9 Juli 1895 Lahir di Magetan, Jawa Timur, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, menantu Raden Mas Arja Hadiwinoto

Tahun 1938 hingga tahun 1943, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjomenjabat Bupati di Kabupaten Magetan.

Tahun 1943, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo menjabat Su Cho Kan Bojonegoro

Tahun 1945 hingga tahun 1948, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo menjabat gubernur pertama Jawa Timur

26 Oktober 1945, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo membuat perjanjian gencatan senjata dengan komandan pasukan Inggris Brigadir Jendral Mallaby di Surabaya.

28-30 Oktober, meletuslah pertempuran tiga hari di kota Surabaya, karena perjanjian genjatan senjata dengan komandan pasukan Inggris, namun  tak dihiraukan. Menanggapi ultimatum Inggris. Pemerintah Jawa Timur. Gubernur Suryo dengan tegas berpidato di RRI bahwa Arek-Arek Suroboyo akan melawan ultimatum Inggris sampai darah penghabisan, Inggris terdesak. Presiden Sukarno datang ke Surabaya untuk mendamaikan kedua belah pihak.

9 November 1945, Gencatan senjata yang disepakati tidak diketahui sepenuhnya oleh para pejuang pribumi. Kontak senjata tetap saja terjadi hingga menewaskan Mallaby. Hal ini menyulut kemarahan pasukan Inggris. Komandan pasukan Jenderal Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya agar menyerahkan semua senjata, esok Surabaya akan dihancurkan. Menanggapi hal tersebut, Presiden Sukarno menyerahkan sepenuhnya keputusan di tangan pemerintah Jawa Timur, yaitu menolak atau menyerah. Gubernur Suryo dengan tegas berpidato di RRI bahwa Arek-Arek Suroboyo akan melawan ultimatum Inggris sampai darah penghabisan.

10 November 1945. meletuslah perlawanan rakyat Jawa Timur terhadap Inggris di Surabaya. Gubernur Suryo paling akhir meninggalkan Surabaya selanjutnya kemudian membangun pemerintahan darurat di Mojokerto.

Tanggal 10 September 1948, mobil RM Suryo dicegat pemberontak anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di tengah hutan Peleng, Kedunggalar, Ngawi. Dua perwira polisi yang lewat dengan mobil ikut ditangkap. Ke 3 orang lalu ditelanjangi, diseret ke dalam hutan dan dibunuh. Mayat ke 3 orang ditemukan keesokan harinya oleh seorang pencari kayu bakar.

10 September 1948 pada usia 53 meninggal seorang pahlawan nasional Indonesia dan dimakamkan di makam Sasono Mulyo, Sawahan, Kabupaten Magetan. Sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang jasa-jasanya terletak di Kecamatan Kedunggalar kabupaten Ngawi.

*Mendapatkan gelar Pahlawan Berdasar SK Presiden No: 294 Tahun 1964 tanggal 17 – 11 – 1964,  asal Daerah/Pengusul Jawa Timur

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Ngawi Mengenal Taman Hutan Raya (TAHURA) R. Soerjo [Brosur]. Ngawi: Taman Hutan Raya R. Soerjo Popinsi Jawa Timur, 1992. hlm. 23-24.
Sumber Ilustrasi:  (Sampul Buku) Riwayat Madege Propinsi Jawa Timur, Lelabuhané Gubernur Jawa Timur I  R.M.T.A. Suryo, oleh Suparto Brata.

Aneka Ayam Panggang Bu Setu, Kabupaten Magetan

Aneka Ayam Panggang Bu Setu Menggoda Selera yam panggang Nggandu, ya begitulah kebanyakan orang mengenalnya centra masakan ayam panggang ini. Warung ayam Nggandu yang selalu ramai pembeli itu terletak sekitar 2 kilometer arah utara pabrik gula Purwodadi, Kecamatan Karangrejo, Magetan. Setiap hari, warung ayam panggang yang dikelola Bu Setu ini nyaris tidak pernah sepi.

Karena itu, tidak ada salahnya, jika anda berkunjung ke Magetan atau tengah melewati Nggandu, jangan lupa untuk mencoba kenik- matan ayam panggang Nggandu. Di warung yang dikelola Bu Setu ini, beraneka menu olahan ayam panggang ada di sini. Yang istimewa lagi, ayam panggang di sini dijamin asli ayam kampung.

Untuk urusan menu, di warung Bu Setu ini anda bisa merasakan nik- matnya aneka masakan khas ayam panggang Magetan. Ada ayam panggang urap, ayam panggang botok pelas, ayam panggang sambel korek, ayam panggang bumbu rujak, ayam panggang bumbu lodho dan lain-lainnya. Anda tinggal pilih se­suai dengan selera.

Dengan racikan bumbu khas Bu Setu, akan membuat lidah kita se­rasa ingin terus menikmatinya. Yang membedakan dengan ayam panggang lainnya adalah rasa bum­bunya yang begitu meresap, seakan menyatu dengan daging ayam. Ke­nikmatan ayam panggang Bu Setu itu semakin terasa dengan sam­balnya yang khas, sehingga me­nambah selera makan kita.

” Bumbu ayam saya sebetulnya tidak ada rahasianya, semuanya sama dengan bumbu panggang di- mana-mana tempat, terdiri dari bawang merah, bawang putih, ke­miri, kunyit, dan bumbu- bumbu la­innya sama. Kalau sampai sekarang banyak orang tertarik makan di sini, itu semata-mata karena kami bisa mempertahankan mutu dan banyak sedikitnya bumbu yang diberikan,” jelas Bu Setu merendah.

Soal harga makanan, ayam panggang Bu Setu untuk ukuran Magetan tidak terlalu mahal, sebanding dengan kepuasaan yang diperoleh konsumen. Dengan ha­nya Rp 60.000, anda sudah mendapatkan satu ayam panggang de­ngan menu yang beraneka jenis, di tambah minuman segar sebagai penghantarnya.

Saat ini dengan tenaga pembantu 30 orang, Bu Setu setiap hari biasa memanggang 20 sampai 50 ekor ayam. Sedangkan pada musim li­buran atau musim-musim tertentu, seperti hajatan, kesibukan warung Bu Setu semakin betambah. Ia bisa sampai menghabiskan ayam hingga 1.000 ekor.

“Saya sudah lama menjadi pe­langgan warung Bu Setu ini. Apa­lagi kalau pas lebaran atau ada aca- ra-acara tertentu, saya pasti pesan di sini. Maklum, rasanya sudah me­nyatu dengan lidah kita. Rasa ayam olahan Bu Setu ini sangat khas, berbeda dengan ayam panggang di warung lainnya,” terang Marmi, sa­lah satu penggemar ayam panggang Bu Setu mengomentari, (maksum)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA, Edisi 07, 15 Agustus -15 September 2012. hlm. 35