Sego Becek, Nganjuk

nasi_becek_2Sego Becek (nasi becek) merupakan makanan tradisional dari Nganjuk, Jawa Timur, sego Becek khas Nganjuk, sebenarnya sudah lama menjadi buah bibir masyarakat sejak dulu. Bila di amati dari jenis masakan, bumbu dan bahannya makanan satu ini merupakan makanan jenis kare kambing atau gulai kambing. Walaupun hampir mirip dengan gulai kambing, namun Sego Becek ini memiliki cita rasa dan penyajian yang berbeda.

Penyajian

Keistimewaan kuliner khas nganjuk ini pada tampilannya, sego becek ini biasanya disajikan dengan nasi hangat dan di atasnya disertakan ragam trancam (semacam lalapan) yang terdiri dari irisan kobis, kecambah dan seledri, biasanya diletakkan di atas nasi. Juga disertakan beberapa tusuk daging yang sudah disate dicampurkan ke piring.

Baru setelahnya, bumbu kacang dan sambel kemiri dimasukkan. Terakhir kuah becek dituangkan dalam keadaan panas, tak hanya kuah tapi juga jeroan kambing seperti gajih (lemak) dan balungan (tulang belulang). Untuk sate kambing biasanya disajikan secara terpisah atau disajikan langsung di atas Sego Becek.

Cita Rasa Nasi Becek

Sego Becek ini memiliki cita rasa yang sangat khas, karena kuahnya menggunakan banyak jenis bumbu, seperti sere, lada, pala, kapulaga termasuk bawang merah dan putih. Belum lagi emponempon (rempahrempah) seperti kencur, jinten dan semua jenis bumbu dimasukkan menjadi satu. sehingga kuah memiliki rasa yang pas dan tidak terlalu menyengat. Isian daging pada kuah tersebut juga terasa empuk sehingga tidak terlalu susah untuk menyantapnya.

Selain itu, salah satu ciri khas dari Nasi Becek ini adalah perpaduan rasa kuah dan sate kambingnya. Sebelum tersaji Sate kambing ini sudah terlebih dahulu dibumbui dengan bumbu kacang, kecap dan irisan bawang merah. Sehingga bila dibandingkan dengan kuah Sego Beceknya akan menjadi dua rasa yang berbeda dan bila keduanya dipadukan akan menjadi satu rasa yang sangat khas. Sate kambing tak hanya sekedar pelengkap. Kelezatan sate kambing yang sudah dibumbui dengan bumbu kacang, kecap dan irisan bawang merah terasa berbeda.

Tempat Kuliner Nasi Becek

Bagi anda yang berkunjung ke Kota Nganjuk, Jawa Timur, tentu kurang lengkap bila belum menikmati makanan satu ini. Sego Becek ini merupakan salah satu makanan tradisional yang cukup terkenal di sana. Tempat penjualan kuliner Sego Becek ini tersebar di wilayah Nganjuk sehingga mudah di jumpai.

Pengolahan Nasi Becek

Proses pengolahan nasi becek, kuah Nasi Becek ini diolah dengan bumbu yang cukup lengkap mulai dari bumbu yang dihaluskan hingga bumbu rempah, sehingga cita rasa bumbunya sangat terasa di lidah kita saat menyantapnya. Selain itu ditambahkan dengan potongan daging kambing dan jeroan tentu membuat Sego Becek ini semakin nikmat.

 

nasi_becek_3Resep Nasi Becek Khas Nganjuk Lezat

Bahan :
• 500 gr daging kambing, atau boleh dicampur jeroan kambing, potong dadu
• 500 ml santan encer
• 3 sdm minyak, untuk menumis
• 1 btg serai, memarkan
• 3 lbr daun jeruk
• 1 btg kayu manis (sekitar 3 cm), panggang
• 300 ml santan kental

Bumbu halus :
• 1 sdt garam
• 1 sdt gula pasir
• 5 btr bawang merah
• 3 siung bawang putih
• 5 btr kemiri, sangrai
• 1 sdt ketumbar, sangrai
• 1 sdt merica
• 1 ruas jari jahe, bakar
• 1 ruas jari kunyit, bakar
• 1 ruas jari kencur, panggang
• 1 ruas jari lengkuas
• 5 lbr daun jeruk

Pelengkap :
• 2 sdm sambal cabai rawit
• 2 sdm irisan kucai
• 6 lbr kol, iris halus
• 100 gr tauge pendek
• 30 tusuk sate kambing bumbu kacang, siap saji
• 1 bh jeruk nipis
• 600 gr nasi putih

Cara membuat :

  1. Rebus daging dan jeroan kambing dengan santan encer hingga matang dan lunak.
  2. Tumis bumbu halus bersama serai, daun jeruk, dan kayu manis hingga harum. Masukkan ke dalam air rebusan, aduk.
  3. Masak dengan api sedang hingga bumbu meresap. Tambahkan santan kental, masak kembali sambil diaduk hingga mendidih kembali dan matang.
  4. Angkat.

Saran penyajian :
Taruh nasi di dalam mangkuk, tambahkan kol, tauge, daun kucai, dan sate kambing, siram dengan kuah beserta potongan daging dan jeroan. Tambah air jeruk dan sambal rawit. sajikan selagi panas.

Demikian pengenalan tentang “Sego Becek Makanan Tradisional Dari Nganjuk, Jawa Timur”. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang ragam kuliner tradisional Indonesia. Selamat mencoba resep dirumah Sego Becek khas nganjuk lezat ini.

—————————————————————————————Dian K, Pustakawan; Pusaka Jawatimuran Team

Masjid Al Arfiyah atau Masjid Mojoduwur, Kabupaten Nganjuk

Desa Mojoduwur. Kec. Berbek Kabupaten Nganjuk, tepatnya lebih kurang 3 Km sebelah selatan Berbek atau lebih kurang 10 Km dari Kota Nganjuk. Desa ini memiliki Masjid yang sudah cukup tua umurnya. Dibuat pada Tahun 1726 oleh Kyai Arfiyah. Untuk mengenang jasa pendirinya, masjid tersebut kemudian diberi nama : Masjid Al Arfiyah. Atau masyarakat lebih mengenal dengan nama Masjid Mojoduwur.

Mengenai asal usul Kyai Arfiyah, menurut penuturan beberapa keluarga, berasal dari Sewulan Madiun. Kyai Arfiyah putra dari Kyai Djumalim, yang asal-usulnya dari Kyai Sambu – Pangeran Benawa – Djoko Tingkir – Ki Ageng Pengging – Maulana Iskak. Setelah menginjak usia dewasa dan sudah waktunya untuk menikah, pemuda Arfiyah diambil menantu oleh Basjarijah, seorang Kyai Pondok Pesantren di Sewulan Madiun. Namun karena wujud fisik Arfiyah yang kurang rupawan dibandingkan dengan ipar dan menantu Basjarijah yang

lain, maka ia tidak disukai oleh ipar-iparnya. Bahkan isterinya sendiri malu mengakui Arfiyah sebagai suaminya. Oleh karena itu, selama menjadi menantu Basjarijah, Arfiyah tidak tidur dirumah mertua, tetapi membuat tempat sendiri ditengah pekarangan (membuat gubuk), sehingga hal itu berlangsung sampai 4 tahun.

Karena merasa ditolak oleh isteri dan selalu diancam akan dibunuh oleh ipar-iparnya, maka Arfiyah kemudian meninggalkan Sewulan menuju ke arah timur. Perjalanannya itu baru berhenti setelah sampai di Kuncir (Dukuh Ngledok). Setelah tinggal beberapa saat di Kuncir, kemudian menuju Mojoduwur. Disini membuka lahan/baru untuk didirikan Masjid. Di Masjid yang didirikan itulah ia tinggal bersama murid- muridnya.

Sementara itu Basjarijah menyuruh mencari menantunya. Untuk keperluan, itu Basjarijah menyuruh muridnya sebanyak 60 Orang untuk menemukan tempat tinggal Arfiyah. serta sekaligus mengajaknya pulang ke Sewulan. Ternyata mereka menemukan Arfiyah di Mojoduwur, namun mereka tidak berhasil membujuknya pulang ke Sewulan. Gagal pada uSaha yang pertama, Basjarijah mengirim murid-muridnya lagi berjumlah 100 Orang. Mereka ditugasi memaksa Arfiyah pulang ke Sewulan. Namun tugas inipun mengalami kegagalan. Bahkan murid-murid yang semula ditugasi mengajak pulang Arfiyah ke Sewulan tidak mau kembali. Mereka menetap dan menjadi murid Arfiyah di Mojoduwur.

Wujud Fisik Bangunan

Masjid Al Arfiyah yang dibangun pada tahun 1726 ini. mula-mula terdiri dari bangunan induk dan serambi seluas : 220 M:, beratap sirap dengan pola atap tumpang. Namun masjid ini sekarang telah mengalami perubahan perbaikan sebanyak 2 kali. Pertama tahun 1920 diadakan penambahan serambi depan- Kedua pada tahun 1986/1987 serambi depan diperluas lag1– sehingga ada serambi tengah dan serambi depan.

Serambi depan ditopang oleh tiang beton yang kokoh sebanyak 8 buah, disebelah kiri serambi ada kentongan dan bedug yang cukup besar (bedug dari Masjid A1 Mubaarok. Berbek). Memasuki halaman tengah (serambi tengah) ada tiga pintu dengan motif lengkung tanpa daun pintu. Memasuki ruang utama lewat pintu tengah. Dikanan dan kiri pintu terdapat cendela.

Bangunan utama tersebut dari kayu, atapnya disangga oleh 4 tiang besar dari kayu jati. Bangunan ini semula beratap sirap, namun sekarang sudah diganti genting dari tanah liat. Mihrap Masjid ini ada 2 yang diberi batas agak lebar. Ternyata batas yang agak lebar antara dua mihrab tersebut terdapat makam Kyai Arfiyah sekalian. Dikanan kiri mihrab terdapat cendela. Sebelah kiri dekat mihrab terdapat mimbar dari kayu berukir dengan motif daun.

Disebelah kiri dan belakang masjid terdapat serambi sederhana yang dipergunakan tempat para santri mondok untuk memperdalam kitab Suci Al Qur’an. Disebelah kanan masjid terdapat tempat wudhu dan mandi, sedangkan dibagian belakang masjid dijadikan tempat makam sanak famili Kyai Arfiyah.

Sejak awal didirikan Masjid ini telah difungsikan sebagai pondok pesantren. Umumnya yang menjadi santri di masjid ini berasal dari Jawa Tengah. Antara lain dari Yogjakarta, Cilacap, Kebumen dan Demak. Tahun ini tercatat tidak kurang dari 100 santri dari daerah tersebut. mulai dari usia 6 tahun – 20 tahun.

15 Maret 1987 atau 15 Rajab 1407 H, dengan nama “Pondok Pesantren Salafiyah : Al Arfiyah”. masjid yang juga berfungsi sebagai Pondok Pesantren ini telah diresmikan oleh Bupati Kepala Daerah Tk. II Nganjuk. Dengan harapan Untuk lebih meningkatkan peranannya sebagai pembangun manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan agama.

——————————————————————————————-Artikel di atas dinukil oleh: Wahyu,  dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Nganjuk dan Sejarahnya, 1994, .

Makam Temenggung Kopek, Kabupaten Nganjuk

pakuncen.0001DESA Pakuncen, Kecamatan Patianrowo terletak sekitar 6 Km arah utara Kertosono, Kabupaten Nganjuk. Penduduknya 43 KK, jelasnya 201 jiwa dengan luas wilayah 11,170 Ha, berupa sawah bonorowo 2,5 Ha. Pekuncen mungkin tak dikenal orang andai saja tak menyimpan makam Temenggung Kopek. Makam ini bersebelahan dengan Masjid Makam yang merupakan masjid kuno. Juru kunci makam, A Akbar Sunandir berkisah, desanya ramai dikunjungi orang waktu musim pemilu legislatif silam. Ada apa? “Banyak caleg sungkeman di makam. Menurut sesepuh desa, Makam Temenggung Kopek adalah kedrajatan,” katanya.
pakuncen.0002Entah kebetulan, saat reporter foto Potensi, Marhenry mengambil gambar makam, pada jepretan pertama berhasil. Namun saat mengambil gambar kedua dengan fokus yang sama saat reporter Joko berdoa di dalam makam, sampai lima kali jepretan hanya ada gambar hitam.
Masjid Kuno dibangun oleh Ki Nur Jalipah pada pertengahan abad ke 17. Masjid kuno ini semula tiang dan atapnya dari kayu. Atas prakarsa Menteri Penerangan Harmoko direnovasi. Atapnya diganti genting ditambah serambi. Masjid kuno ini sekarang lebih dikenal dengan Baitur Rohman.
Di belakang masjid terdapat kompleks makam. Di sebelah utara terdapat bangunan bercungkup yang tertutup rapat yang di dalamnya terdapat 22 makam. Di antaranya terdapat 4 makam yang ditutup kelambu putih. Menurut data yang tertulis di situ terdapat makam RA. Tumenggung Purwodiningrat, isteri Tumenggung Posono I, RA. Tumenggung Sosrodiningrat, isteri Tumenggung Posono II, R. Soerjati (Kusumaningrat), dan RA. Kusiyah (Karto- diningrat).
Di luar cungkup terdapat makam para bangsawan tinggi lainnya, antara lain RT. Koesoemaningrat, mantan Bupati Ngawi, R. Mangunredjo, Patih Kuto Lawas dan Notosari Patih Magetan. Di sebelah barat cungkup utama terdapat makam Ki Nur Jalipah. Sedangkan di luar kompleks cungkup terdapat ratusan makam penduduk desa Pakuncen dan sekitarnya.

Asal Mula Pakuncen
Tahun 1651, Ki Nur Jalipah bersama 2 orang saudaranya membuka lahan untuk pemukiman seluas 10 Ha. Nur Jalipah adalah seorang petani yang ulet dan mempunyai ilmu agama Islam dan ilmu kekebalan yang tinggi. Layaknya pemeluk agama Islam yang taat dan mampu, didirikanlah masjid di tempat yang baru dibuka itu.
Masjid ini kemudian dipergunakan untuk kegiatan agama Islam. Murid-muridnya banyak dari daerah lain, sehingga desa baru ini semakin ramai. Selanjutnya desa baru itu berubah menjadi pusat Pondok Pesantren. Se menjak itu desa ini mendapat julukan Desa Kauman.
Tahun 1700 M, datanglah orang utusan dari Mataram (Ngayogyokarto) dipimpin RT Purwodiningrat yang ditugasi oleh Paku Buwana untuk mendirikan kota kepatihan yang letaknya di tepi Sungai Brantas. R.T. Purwodiningrat kemudian mengadakan pendekatan serta berunding dengan Nur Jalipah. Dicapai kata sepakat dan r dukungan dari para santri. Berdirilah Kota kepatihan baru yang diberi nama Kadipaten Posono dan patih pertamanya RT. Purwodiningrat.
Atas jasa-jasanya mendukung berdirinya Kadipaten Posono serta melihat kebijaksanaan dan kepandaiannya, Nur Jalipah diangkat menjadi Talang Pati (Senopati) merangkap Demang. Saat permaisuri patih RT Purwo-diningrat wafat, timbul masalah di mana jenazahnya di- makamkan sebab permaisuri kerabat dekat keraton Ma- taram (Ngayogyokarto). Akhirnya Paku Buwana I setuju dikebumikan di Bumi Nur Jalipah.
Tak ada catatan berapa lama RT Purwodiningrat menjabat Tumenggung di Posono. Namun setelah isterinya wafat dia dipanggil ke Mataram (Ngayogyokarto), dan kemudian menjadi Tumenggung di Magetan.
Karena Tanah Nur Jalipah digunakan untuk makam keluarga Paku Buwana I, atas petunjuk Paku Buwana I diadakan perjanjian antara Ngayogyokarto dengan Nur Jalipah. Isinya; Tanah Nur Jalipah seluas ± 10 Ha dibebaskan dari pembayaran pajak (Desa Perdikan). Nur Jalipah diangkat menjadi Juru Kunci makam keluarga 1 RT Purwodiningrat secara turun temurun. Nama Dusun Kauman pun diganti dengan Pakuncen.
Satu Orang
Nur Jalipah mengambil kebijaksanaan, Pakuncen hanya boleh dihuni keluarga. Bahkan keluarga pun bila tidak mematuhi peraturan, diusir dari bumi Pakuncen. Peraturan ini dibudayakan dan menjadi adat sampai saat ini.
Pesarehan dibagi menjadi dua pintu gerbang: Makam keluarga Nur Jalipah dan makam keluarga RT Purwo-diningrat. Warga desa lain seperti masyarakat Rowomarto boleh dikebumikan di Pakuncen. Sudah ada perjanjian antara Nur Jalipah dengan rakyat Rowomarto dengan ditukar bumi.
Kedudukan Tumenggung Posono kemudian digantikan RM Sosrodiningrat yang juga keturunan darah Mataram. Isterinya juga dimakamkan di Pakuncen. Sejak itu Kadipaten Posono perkembangannya tidak jelas, kemudian Ibukota Kadipaten dipindah ke selatan (Kertosono sekarang). Tumenggungnya R. Wiryonegoro, merupakan pejabat Tumenggung yang terakhir di Kertosono, dan ketika beliau wafat dimakamkan di Besuk, Patianrowo, dekat Pabrik Gula Lestari.
Tiga (3) hal isi perjanjian Nur Jalipah dengan Kesultanan Mataram (Ngayogyokarto), oleh keturunan Nur Jalipah tetap dilaksanakan hingga sekarang, sehingga jabatan juru kunci yang merangkap sebagai Kepala Desa selalu dijabat oleh Keturunan langsung Nur Jalipah.
Desa Pekuncen yang unik ini sampai saat ini tidak memiliki Sekretaris desa dan perangkat desa lain. Semua tugas perangkat desa dari Kepala Desa sampai modin dijabat satu orang. Keadaan seperti ini tentu aneh. Namun Pemerintah Daerah membiarkan keunikan desa Pekun¬cen. Sampai sekarang tidak dituntut harus melengkapi pejabat perangkat desanya. (jok) A

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 46-47

Dr. Sutomo

Dr. SoetomoSuatu hari di akhir tahun 1907 dokter pensiunan Wahidin Sudirohusodo singgah di Jakarta, beliau sedang melakukan perjalanan ke berbagai daerah dalam rangka mempropagandakan gagasannya tentang pembentukan sebuah badan yang akan menyediakan bea siswa untuk anak-anak Indonesia yang cerdas tetapi tidak mampu membiayai sekolahnya.

Gagasan Wahidin itu sudah tersebar agak luas, juga di kalangan pelajar STOV1A (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen). Dua orang di antara para pelajar itu mendapat kesempatan bertemu dan berbicara dengan Wahidin.

Mereka sangat tertarik mendengar cita-cita Wahidin, salah seorang di antara pelajar itu mengatakan kepada Wa¬hidin, ”Punika satunggiling pedamelan sae sarta nelakaken budi utama” (itu suatu perbuatan baik dan menunjukkan budi yang utama).Pelajar STOVIA yang mengucapkan kata-kata itu adalah Sutomo yang kemudian terkenal dengan nama dokter Sutomo. la lahir pada tanggal 30 Juli 1888 di desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur.

Waktu lahir beliau diberi nama Subroto. Pergantian namanya menjadi Sutomo mempunyai sejarahnya sendiri.Ayahnya R. Suwaji bekerja sebagai wedana di Maospati, Madiun, kemu¬dian pindah bekerja menjadi ajun jaksa di Madiun. Anaknya tersebut disekolahkan pada Sekolah Rendah Bumiputera, kemudian dipindahkan ke Bangil, Jawa Timur agar dapat masuk Sekolah Rendah Belanda (ELS = Europeesche Lagere School) Anak itu ikut pada pamannya, Harjodipuro. Putera pamannya, Sahit, berhasil masuk ELS, tetapi Subroto tidak diterima. Pamannya tidak putus asa, esok harinya keponakannya yang ditolak masuk ELS itu dibawanya lagi ke sekolah itu. Tidak dengan nama Subroto, tetapi diganti nama men¬jadi Sutomo. Dengan nama itu beliau diterima di ELS. Setelah tamat pada ELS, beliau mengikuti keinginan ayahnya melanjutkan ke STOVIA.Di STOVIA pada mulanya beliau tidak begitu memperhatikan pelajarannya. Kesenangannya ialah menonton dan makan enak bersama teman-temannya. Barulah pada tahun ketiga sikapnya berubah dan beliau pun belajar dengan sungguh-sungguh. Beliau lulus dari STOVIA pada tahun 1911.Tetapi sebelum itu, Sutomo telah melakukan sesuatu yang membuat namanya akan tercatat dalam sejarah bangsanya. Kurang lebih empat bulan sesudah bertemu dengan dokter Wahidin, beliau memimpin pertemuan yang dihadiri oleh para pelajar STOVIA.
Sutomo berpidato dengan tenang tanpa emosi, menjelaskan gagasannya secara singkat, terang dan jelas. Pertemuan yang bersejarah itu dilangsungkan di salah satu ruang STOVIA pada tanggal 20 Mei 1908. Dalam pertemuan itu mereka sepakat membentuk sebuah organisasi yang diberi nama ”Budi Utomo”. Sutomo dipilih sebagai ketuanya. Organisasi itu adalah organisasi modern pertama yang didirikan di Indonesia. Hari lahirnya, 20 Mei, kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena ternyata Budi Utomo telah mendorong berdirinya organisasi-organisasi bahkan partai-partai politik di kemudian hari. Gedung STOVIA di mana Budi Utomo lahir sekarang menjadi ”Gedung Kebangkitan Nasional”.
Budi Utomo tidak lahir begitu saja dan Sutomo tidak bekerja seorang diri. Bersama Sutomo terdapat nama-nama lain seperti Suraji, yang ikut bersama Sutomo menemui dr. Wahidin, Moh. Saleh, Sarwono, Gunawan, Gumbrek dan Angka yang kelak semuaya menjadi dokter. Berbulan-bulan lamanya mereka merencanakan pembentukan sebuah organisasi. Mereka pergi dari ruang kelas yang satu ke ruang kelas yang lain di STOVIA untuk memperkenalkan gagasan mendirikan organisasi, dalam kegiatan itu Sutomo lah yang banyak berbicara.
Berdirinya Budi Utomo dapat dianggap sebagai realisasi gagasan Wahi¬din . Tetapi jangkauan organisasi itu melebihi dari apa yang dimaksud oleh Wahidin. Budi Utomo tidak hanya ingin memajukan pelajaran, tetapi juga pertanian, pertukangan kayu, kulit dan lain-lain, disamping memajukan kebudayaan Jawa serta mempererat persahabatan penduduk Jawa dan Madura. Di bidang pendidikan Budi Utomo bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah, rumah-rumah sewaan untuk anak-anak sekolah/asrama dan mendirikan perpustakaan-perpustakaan.
Untuk merealisasi maksud dan tujuan itu, Sutomo dan kawan-kawannya mengadakan hubungan dengan pelajar-pelajar dari kota-kota lain. Dengan cara demikian berdirilah cabang-cabang Budi Utomo di Bogor, Bandung dan Magelang. Hubungan diadakan pula dengan orang-orang Indonesia yang menduduki jabatan dalam pemerintahan di daerah-daerah untuk menarik simpati mereka, antara lain dengan Bupati Temanggung, Bupati Japara, Banten, dan P.A.A. Kusumojudo yang tinggal di Jakarta.
Organisasi yang semula dipimpin oleh anak-anak muda yang idealis ini akhirnya dipimpin oleh golongan tua, sebagai hasil keputusan Kongres yang pertama pada awal Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam kongres itu sudah nampak perbedaan pendapat antara golongan muda yang radikal dengan golo¬ngan tua yang terlalu berhati-hati, karena itu gerak organisasi menjadi lamban.
Dalam Kongresnya yang kedua pada bulan Oktober 1909 Sutomo masih nampak hadir, tetapi setelah itu namanya hampir-hampir tidak disebut-sebut lagi di dalam Budi Utomo. Agaknya beliau merasa kecewa melihat perkembangan Budi Utomo, karena itu beliau lebih memusatkan perhatian kepada pelajaran. Dalam tahun 1911 Sutomo berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA dan sejak saat itu pula beliau berhak memakai gelar dokter, maka mulailah tugasnya sebagai dokter. Mula-mula beliau ditempatkan di Semarang, tetapi kemudian berpindah-pindah ke tempat-tempat lain seperti Tuban, Lubuk Pakam (Sumatera Timur), Malang, Blora dan Baturaja (Sumatera Selatan). Dalam tahun 1919 beliau mendapat kesempatan belajar di Negeri Belanda. ke¬mudian di Jerman Barat dan Austria.
Sewaktu di Negeri Belanda Sutomo menggabungkan diri ke dalam ”Indische Vereeniging”’, perkumpulan pelajar-pelajar Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi ”Indonesische Vereniging” dan akhirnya menjadi Perhimpunan Indonesia. Beliaupun pernah menjadi ketua organisasi ini, yakni tahun 1920-1921.
Sekembalinya dari Negeri Belanda, Sutomo bekerja sebagai dosen di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya. Budi Utomo tidak lagi menarik perhatiannya, walaupun pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA gara-gara mendirikan organisasi tersebut. Tetapi perhatiannya terhadap perkembangan masyarakat tidak pernah surut. Hanya;cara yang ditempuhnya sekarang berbeda. Beliau bermaksud menghimpun golongan terpelajar dan bersama-sama dengan mereka melakukan usaha-usaha yang berguna bagi ma¬syarakat. Untuk maksud itu pada tanggal 11 Juli 1924 Sutomo mendirikan ”Indonesische Studie Club ” (ISC). Tujuan ISC ialah mempelajari dan memperhatikan kebutuhan rakyat. Organisasi ini ternyata menarik perhatian kaum terpelajar, bukan saja cendekiawan Indonesia, tetapi juga cendekiawan Belan¬da, yakni Koch dan Tilleman yang terkenal berpendirian progresif.
Kegiatan dan kedudukan Sutomo dalam masyarakat membawa beliau ke jenjang politik praktis. la diangkat menjadi anggota Dewan Kota (Gemeen-teraad) Surabaya. Dalam dewan ini beliau memperjuangkan nasib rakyat antara lain mengusulkan perbaikan kesehatan dan nasib mereka, tetapi usul-usulnya selalu dikalahkan oleh suara terbanyak yang tidak berorientasi kepada rakyat, tetapi kepada pemerintah kolonial. Ketika usulnya mengenai perbaikan kampung ditolak, sedangkan usul menambah kebersihan dan perbaikan tempat kediaman orang-orang Belanda diterima, dr. Sutomo langsung meminta berhenti dari keanggotaan Dewan Kota. la berpikir tidak ada gunanya bekerja di dewan yang hanya menjadi alat kolonial itu. Langkah dr. Sutomo diikuti pula teman-temannya, RH.M. Suyono, M. Sunjoto, dan Asmowinangun.
Perhatiannya terhadap ISC tidak pernah ditinggalkannya. Berkat pimpinannya, organisasi ini giat melakukan usaha-usaha yang berguna di bidang ekonomi dan sosial. Bersama teman-teman lain, dr. Sutomo memprakarsai berdirinya Bank Bumiputera yang dalam tahun 1929 menjadi Bank Nasional. Selain itu didirikan pula Yayasan Gedung Nasional (GNI) yang langsung dipimpin oleh dr. Sutomo. Gedung ini didirikan secara gotong royong berupa bantuan dari segala lapisan masyarakat, pegawai negeri, swasta, buruh, pedagang, petani, nelayan, bahkan seniman dan seniwati yang tergabung dalam ludruk Cak Durasin pun ikut menyumbangkan tenaga.
Pada tanggal 11 Oktober 1930 ISC berkembang menjadi partai, yakni ”Persatuan Bangsa Indonesia” (PBI) yang langsung diketuai oleh dr. Sutomo, partai ini berhaluan moderat dan cepat sekali berkembang, terutama di daerah Jawa Timur. Dengan terbentuknya partai ini maka kegiatan di bidang sosial ekonomi semakin menonjol. Hasil-hasilnya dapat dilihat dengan berdiri¬nya Rukun Tani, Rukun Pelayaran, Serikat Buruh, Koperasi, Bank Kredit, Pemeliharaan yatim-piatu. Pemberantasan Pengangguran dan lain-lain. Di bi¬dang pengajaran: merencanakan Sekolah Taman Kanak-kanak, mengusahakan bacaan untuk anak-anak SD, pemberantasan buta huruf dan lain-lain. Di bi¬dang politik dan pers: memberikan kursus-kursus politik, kursus kader dan lam-lain, menerbitkan surat kabar harian (Soeara Oemoem) dan mingguan (Penyebar Semangat). Dapat dikatakan kegiatan PBI meliputi semua kebutuhan manusia Indonesia, lahir dan batin untuk dapat menjadi bangsa yang mampu berdikari dalam mencapai tujuan memuliakan nusa dan bangsa Indo¬nesia. Pedomannya. ”Kebenaran dan Keadilan dengan bekerja atas dasar cinta kepada nusa dan bangsa Indonesia”.
Sebelum berkembang menjadi PBI, terlebih dahulu ISC sudah menggabungkan diri ke dalam PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) yang dibentuk pada langgal 17 Desember 1927. Didalam Kongres PPPKI yang pertama tanggal 30 Agustus – 2 September 1930, dr. Sutomo dipilih menjadi ketua dengan sekretaris Ir. Anwari. Kemudian dalam kongresnya bulan Maret 1932 ketua/sekretaris di Surabaya dipindahkan ke Jakarta dengan ketua M.H. Thamrin dan sekretaris Otto Iskandardinata. Pada bulan Desember 1933 Kongres Indonesia Raya di Sala yang diselenggarakan oleh PPPKI dilarang, karena Partindo pimpinan Ir. Sukarno dan Mr. Sartono yang dinyatakan sebagai partai terlarang adalah anggota PPPKI. Pembatalan itu diberikan oleh penguasa hanya beberapa hari sebelum kongres. Pemimpin-pemimpin partai sudah hadir di Sala, termasuk dr. Sutomo. Kesempatan itu oleh dr. Sutomo dimanfaatkan dengan mengadakan penjajagan kepada ”Budi Utomo” pimpinan K.R.M.H. Wuryaningrat untuk berfusi dengan Persatuan Bangsa Indonesia-Fusi Budi Utomo-Persatuan Bangsa Indonesia terlaksana dalam bulan Desember 1935 dan berganti nama menjadi ”Partai Indonesia Raya” (Parindra). Dokter Sutomo terpilih menjadi ketua dengan wakil ketuanya K.R.M.H. Wuryaningrat.
Kegiatan dr. Sutomo di dalam Parindra meningkat, baik di bidang politik maupun di bidang sosial ekonomi. Haluan partai tetap moderat dan membenarkan anggota-anggotanya duduk di dalam Dewan-dewan. M.H. Thamrin, Sukarjo Wiryopranoto, Otto Iskandardinata, RJP, Suroso adalah anggota Parindra yang duduk di dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
Sebagai dokter, Sutomo penuh perikemanusiaan, beliau tidak menetapkan tarif pembayaran penderita, kecuali mempersilahkan siapa saja yang berobat untuk mengisi kotak yang sudah tersedia. Rakyat kecil yang tidak mampu di bebaskan dari pembayaran, bahkan seringkali diberinya uang untuk ongkos pulang. Dalam hal perikemanusiaan beliau tidak membeda-bedakan bangsa apa saja, sedang dalam tugas politiknya beliau gigih berjuang mencapai kemuliaan tanah air dan bangsanya dengan tidak segan-segan menentang penguasa kolonial.
Sutomo mempunyai banyak kawan di segala golongan dan lapisan masyarakat. Kawan dekatnya di golongan agama adalah Kyai Haji Mas Mansur. Karena persahabatan itu Sutomo banyak membantu Muhammadiyah Jawa Timur yang dipimpin oleh K.H. Mas Mansur dengan mendirikan poliklinik dan sebagainya.
Isterinya, seorang wanita Belanda, dicintai sepenuh jiwanya. Karena isteri itu sakit-sakitan, maka didirikanlah rumah untuknya di Claket di lereng pegunungan Penanggungan, daerah Malang. Segala sesuatu dilakukannya untuk menyembuhkan isterinya, namun tidak berhasil. Pada tanggal 17 Februari 1934 Sutomo mendapat musibah; isterinya meninggal dunia. Musibah itu dirasakan berat oleh dr. Sutomo seperti beliau lukiskan dalam bukunya ”Kenang-kenangan”. Empat tahun kemudian, Sutomo jatuh sakit dan baru sekali itu beliau sakit sejak masa dewasanya. Sakitnya makin hari makin parah dan jiwa¬nya tidak tertolong. Pada tanggal 30 Mei 1938 pukul 16.15 dr. Sutomo pu¬lang ke rahmatullah. Jenazahnya dikebumikan di belakang ”Gedung Nasional Indonesia”, Bubutan Surabaya, atas permintaannya sendiri.
Seorang yang berjiwa besar dan banyak sekali jasanya kepada bangsa dan tanah air Indonesia serta prikemanusiaan, dr. Sutomo telah pergi untuk selama-lamanya.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasa Sutomo, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Rl No.657 Tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961 dr. Suto¬mo dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1536

DR. Soetrisno R., M.Si.

25 Mei 1938, DR. Soetrisno R., M.SI. Lahir di Blora Jawa Tengah.

Soetrisno menyelesaikan SR/SD, SMR SMA di Bojonegoro, menempuh pendidikan tinggi di FKIP Universitas Airlangga, Strata-2 (S2) di
Universitas Brawijaya dan Strata-3 (S3) Universitas Gadjah Mada.
Pernah bertugas sebagai Kepala Bidang Kesenian Kanwil P dan K Jawa
Timur merangkap Kepala Taman Budaya Jawa Timur,
Tahun 1987 – 1993, menjadi anggota DPR/MPR RI.
Tahun 1993 – 2003 menjabat sebagai Bupati Nganjuk.
Tahun 2006, Ketua Javanologi Jawa Timur.
Pernah mengikuti seminar, baik nasional maupun internasional.
Tahun 2002, Seminar Internasional Memperingati 100 tahun Karl Popper di Wina Austria.
Seminar International Union of Local Authorities di Kuala Lumpur.
Buku-buku yang pernah ditulis, antara lain, sebagai berikut:
1. Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan;
2. Reformasi dan Dampaknya Bagi Pembangunan;
3. Peningkatan Sumber Daya Manusia di Era Otonomi Daerah;
4. Pesan Buat Administrator Publik;
5. Kesaksian, Kajian Tentang Administrasi Publik;
6. Studi Ilmu Administrasi Negara Dalam Realita Empirik;
7. Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat;
8. Topeng Dhalang Madura;
9. Nilai Filosofis Kidung Pakeliran;
10. Wayang sebagai Ungkapan Filsafat Jawa;
11. Ensiklopedia Budaya Jawa Timur;
12. Dimensi Moral dl Syair Tembang pada Pergelaran Wayang Purwa.

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. blk

Arca Parwati

OLYMPUS DIGITAL CAMERADiantara koleksi Museum Anjuk Ladang  terdapat sebuah  patung/arca yang di sebut Arca Parwati, arca ini ditemukan di area situs bangunan candi, yang berlokasi di Dusun Gondang, Desa Tanjung, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk. Dari hasil penelitian Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur, bulan Juli 2006. Arca Parwati ini Berasal dari Zaman Majapahit abad XIII – XIV Masehi.

Dalam kepercayaan Hindu Parwati dianggap sebagai cakti dewa Siwa dalam,  Arca Parwati tersebut digambarkan berdiri di atas lapik Padmasana dan bersandar pada stella pada bagian kepala arca tersebut memakai mahkota candrakala, sedangkan pada bagian belakangnya terdapat Prabha bentuk kurawal yang terdapat pencaran sinar Majapahit. Ditelinganya memakai anting panjang, arca tersebut bertangan empat memakai kelat bahu dua tangan di atas pusar membawa kuncup padma.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Sujarwo, Pustakawan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur,  Laporan dinas luar dlm rangka hunting  pengayaan informasi Pusaka Jawatimuran –  di Museum Anjuk Ladang, Kabupaten Nganjuk; Boneka Rara Bengok, gmbr. koleksi Museum Anjuk Ladang. Nopember 2013 

Boneka Rara Bengok

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Diantara koleksi Museum Anjuk Ladang di Kabupaten Nganjuk terdapat sebuah  patung Boneka Rara Bengok. Boneka ini pada masa lalu sering dipergunakan sebagai perlengkapan perias pengantin putri, Biasanya oleh parias pangantin putri dipakai sebagai sarana permohonan (sambatan) kepada rara bengok agar hasil riasnya berhasil sehingga pengantin putri Nampak Cantik. Namun pada perkembangannya boneka rara bengok ini lebih manjadi sarana hiasan pada di depan (kwade, jw.) pelaminan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Sujarwo, Pustakawan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur,  Laporan dinas luar dlm rangka hunting  pengayaan informasi Pusaka Jawatimuran –  di Museum Anjuk Ladang, Kabupaten Nganjuk; Boneka Rara Bengok, gmbr. koleksi Museum Anjuk Ladang. Nopember 2013 

Hari Jadi Kabupaten Nganjuk

Hari Jadi Kabupaten Nganjuk : 10 APRIL 937.

Kabupaten NganjukBeberapa tesis yang sekaligus merupakan kesimpulan untuk dijadikan landasan berpijak dalam penentuan Hari Jadi Nganjuk.

Ada tiga sumber epigrafis yang ditemukan didaerah Kabupaten Nganjuk sekarang, yaitu : Prasasti Kinawe, dari Tanjung Kalang, Prasasti Hering, dari Kujon Manis, Warujayeng, dan Prasasti Anjukladang, dari desa Candirejo.

(1), Prasasti Kinawe, merupakan sumber tertulis paling tua yang ditemukan didaerah Kabupaten Nganjuk, yang memuat nama Sri Maharaja Wawa. Prasasti ini diumumkan bertepatan dengan tahun masehi, hari Kamis Wage, bulan Nopember 928. Walaupun prasasti ini termasuk sumber tertulis paling tua yang dikeluarkan oleh seorang pejabat tinggi Rake Gunungan Dyah Muatan, bersama ibunya Dyah Bingah, tidak memuat data yang dapat dihubungkan dengan sejarah pemerintah Kabupaten Nganjuk secara langsung. Didalamnya memuat pembebasan desa Kinawe dari pungutan pajak, serta mendapat hak sebagai desa Sima. Didalamnya memuat nama Pu Sindok Sri Isana wirakrama sebagai Rakriyan Mapatih, pada masa pemerintahan Sri Maharaja Wawa. Prasasti ini tidak mengungkapkan peranan Pu Sindok, sebagai panglima perang yang menyelamatkan serangan dari Sriwijaya, seperti diisyaratkan dalam hipotesa Proff.J.G. de Casparis. (de Casparis, 1958). Atas dasar kenyataan itu prasasti ini tidak dapat dijadikan landasan yang kuat untuk dipilih sebagai hari jadi Kabupaten Nganjuk.

(2)      Prasasti Hering, dari Kujon manis daerah Waruj/yeng, Nganjuk timur. Prasasti ini dikeluarkan pada hari Kamis Wage, 22 Mei 934, oleh Sri Maharaja Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa, berisi antara lain tentang jual beli tanah sawah.

(3)      Dalam sumber tertulis inipun tidak menyebutkan toponimi yang secara langsung dapat dikaitkan dengan nama Nganjuk, baik sebagai nama wilayah maupun nama pusat pemerintahan yang berhubungan dengan Kabupaten Nganjuk sekarang. Nama Hering, Marganung, Kadangan, Hujung, walaupun nama tersebut mungkin sama dengan Keringan, Ganung, Kandangan dan Ngujung, namun kurang memenuhi kriteria sebagai sumber untuk dijadikan dasar penentukan Hari Jadi Nganjuk.

(4)       Prasasti Anjukladang, dari kompleks reruntuhan Candi Lor, J’ desa Candirejo, merupakan sumber tertulis tertua yang memuat toponimi Anjukladang sebagai satuan teritorial Watek, yang dikepa^1 seorang Samgat dan seorang Rama. Prasasti ini dikeluarkan ole Sri Maharaja Pu Sindok Isanawikrama Dharmmotunggadewa, serta nama para pejabat tinggi kraton maupun pejabat daerah. Prasasti ini memuat desa Anjukladang yang dianugerahi status otonomi atau swatantra serta daerah yang dibebaskan dari para pemungut pajak. Penetapan desa Anjukladang sebagai perdikan, dikaitkan dengan pemeliharaan bangunan suci yang bernama : Sang Hyang Prasada Kabaktyan i Sri Jayamrata i Anjukladang. Disamping itu juga dikaitkan dengan suatu monumen kemenangan, berupa Jayastamba. Prasasti Candi Lor ini dibandingkan dengan prasasti Kinawe dan Hering. memiliki nilai historis dan arkeologis. karena memuat nama desa Anjukladang. yang dalam perkembangan sejarah di daerah itu selama 10 abad masih tetap bertahan, walaupun telah mengalami perubahan ucapan. Namun tidak dapat disangkal. bahwa ada kedekatan yang menunjukkan hubungan yang nyata antara nama Anjukladang merupakan sumber tertulis tertua yang ada. yang menunjukkan kedekatan ucapan dengan nama Nganjuk. Ber- dasarkan data epigrafis itu, tahun penetapan anugrah watek Anjuk­ladang, sebagai desa swatantra, dapat dipilih untuk Hari Jadi Nganjuk. Menurut unsur penanggalannya, maka tanggal 12 bulan Caitra. Krsnapaksa, HA PO SO, bertepatan dengan tahun masehi: 10 April 937, secara lengkap jatuh pada hari SENIN PON, HARI YANG (SADWARA) BENTENG (TRIWARA), WUKU SINTA, 10 APRIL 937. Itulah tanggal yang sesuai dan layak sebagai Hari Jadi Nganjuk.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Harimintadji, dkk. Ngamjuk dan Sejarahnya, Ngnjuk :Keluarga, 1994. hlm. 64-66