KH Zaenuddin Fanani, Kabupaten Ponorogo

KH Zaenuddin Fanani23 Desember 1908, KH Zaenuddin Fanani lahir di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Putera keenam Kyai Santoso Anom Besari.

Awal Pendidikan KH Zaenuddin Fanani Masuk Sekolah Dasar Ongko Loro Jetis Ponorogo. sementara itu mondok  di pondok pesantren Josari Ponorogo, kemudian ke Termas Pacitan, lalu  ke Siwalan Panji Sidoarjo.

Dari sekolah  Ongko Loro ia pindah ke sekolah dasar Hollandshe Inlander School (HIS), kemudian melanjutkan ke kweekschool (Sekalah guru) di Padang. Sesudah tamat sekolah guru ia masuk Leider School (sekolah  pemimpin) di Palembang.

Tahun 1930, beliau belajar pada Pendidikan Jurnalistik dan Tabligh School (Madrasah Muballighin III) di Yogyakarta.

Tahun 1926 – 1932, menjadi guru  di  HIS.

Tahun 1934, mengajar di School Opziener di Bengkulen.

Tahun 1942, menjadi Konsul  Pengurus besar Muhammadiyah Summatera  Selatan.

Tahun 1942 – 1943, menjadi Kepala Penasehat Kepolisian Palembang.

Tahun 1944,  kemudian menjabat Kantor keselamatan Rakyat di Palembang.

Setelah itu dipilih menjadi Kepala Kantor Tata Usaha Kantor Sju Tjokan. Sejak tanggal 8 April 1953 diangkat oleh presiden menjadi anggota ” Panitia Negara Perbaikan Makanan”. Empat bulan setelah itu tepatnya pada tanggal 1 Agustus 1953 menduduki Kepala Jawatan Bimbingan dan Perbaikan Sosial pada Kementerian Sosial. Masih pada tahun yang sama beliau  menjabat Inspektur Kepala, Kepala Inspeksi Sosial Jawa Barat dan Summatera Selatan. Sejak tanggal 19 Januari 1956 mendapat kepercayaan menjadi Kepala Bagian Pendidikan Umum Kementerian Sosial. Pada pertengahan bulan Januari 1959 menjabat Kepala Kabinet Menteri Sosial.

12 Agustus 1960, menjadi Kepala Jawatan Pekerjaan Sosial. Terakhir adalah sebagai anggota BPP-MPRS sampai tahun 1967.

Pada tanggal 21 Juli 1967 beliau meninggal dunia di kediamannya di Jakarta, meninggalkan seorang istri dan seorang anak yaitu Drs. H. Rusydi Bey (Anggota Badan Wakaf Pondok Miodern Gontor).

 

Karya tulis:

Di antara karya tulis beliau yang masih menjadi bahan rujukan terutama bagi generasi penerus  Pondok Modern Darussalam Gontor adalah:

1.   Senjata Penganjur dan Pemimpin Islam.

2.   Pedoman Pendidikan Modern.

3.   Kursus Agama Islam.

4.   Penangkis krisis.

5.   Reidenar dan Jurnalistik, serta masih banyak yang lainya.  =S1Wh0T0=

KH. Imam Zarkasyi, Kabupaten Ponorogo

KH Imam Zarkasyi21 Maret 1910, KH. Imam Zarkasyi lahir di desa Gontor, Jawa Timur, Indonesia. Putera ketujuh dari Kyai Santoso Anom Bashari, generasi ketiga dari pimpinan pondok Gontor Lama dan generasi kelima dari pangeran Hadiraja Adopati Anom, putra Sultan kesepuluh Cirebon, Sedangkan ibunya adalah keturunan Bupati Suriadiningrat yang terkenak pada zaman Mangkubumen dan Panembangan (Mangkunegara)

Sejak kecil Imam Zarkasyi sudah hidup sebagai anak yatim, ayahnya meninggal saat beliau berumur delapan tahun.

Tahun 1920, Imam Zarkasyi mulai belajar agama (mondok) di Pesantren Joresan. Karena pemebelajaran di pesantren di laksanakan pada sore hari, maka di pagi harinya ia belajar di sekolah desa Ngelumpang.

Tahun 1923, Imam Zarkasyi melajutkan pendidikan umumnya di sekolah Ongko Loro Jeris dengan masa belajar dua tahun .

Tahun 1925, Setelah menyelesaikan studi di Sekolah Ongkoloro, beliau melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Jamsarem Solo. Pada waktu yang sama beliau juga belajar di Sekolah Mamba’ul Ulum. Kemudian masih di kota yang sama ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Arabiyah Adabiyah yang dipimpin oleh KH. M. O. Al-Hisyami, sampai tahun 1930. Selama belajar di sekolah-sekolah tersebut (terutama Sekolah Arabiyah Adabiyah) beliau sangat tertarik dan kemudian mendalami pelajaran bahasa Arab.

Sewaktu belajar di Solo, guru yang paling banyak mengisi dan mengarahkan Imam Zarkasyi adalah al-Hasyimi, seorang ulama, tokoh politik dan sekaligus sastrawan dari Tunisia yang diasingkan oleh Pemerintah Perancis di wilayah penjajahan Belanda, dan akhirnya menetap di Solo.

Tahun 1935, menyelesaikan pendidikannya di Solo, Imam Zarkasyi meneruskan studinya ke Kweekschool di Padang Panjang, Sumatera Barat.

Tahun 1936, Setelah tamat belajar di Kweekschool, beliau diminta menjadi direktur Perguruan tersebut oleh gurunya, Mahmud Yunus. Tetapi Imam Zarkasyi hanya dapat memenuhi permintaan dan kepercayaan tersebut selama satu tahun dengan pertimbangan tujuan utamanya setelah menuntut ilmu. Imam Zarkasyi melihat bahwa Gontor lebih memerlukan kehadirannya. Di samping itu, kakaknya Ahmad Sahal yang bekerja keras mengembangkan pendidikan di Gontor tidak mengizinkan Imam Zarkasyi berlama-lama berada di luar lingkungan pendidikan Gontor.

Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo KH. Imam Zarkasyi bersama kedua kakaknya KH. Ahmad Sahal dan KH.Zainuddin Fannani merintis sebuah Pesantren. Dalam diri ketiganya mengalir darah keluarga Tegalsari, pesantren yang kesohor di abad ke 18.

Bermula dari kesulitan menemukan utusan ke Timur Tengah yang mahir bahasa Arab dan Inggeris pada kongres umat Islam tahun 1926,  para pendiri Gontor terobsesi untuk mencetak ulama yang pandai bahasa Arab dan Inggeris.

Namun bukan satu-satunya factor. Dunia pesantren selalu dilecehkan orientalis karena kumuh, berfikiran picik, ekslusif dan mundur dalam bidang pengetahuan juga menjadi pemicunya.

Harus ada pesantren yang tidak kumuh, berfikiran luas, terbuka dan berfikiran progressif. Para santrinya tidak hanya dibekali pengetahuan dasar tentang Islam (ulum al-syariyyah), tapi juga diajari ilmu pengetahuan “umum” (ulum naqliyyah atau ulum kauniyyah).

Tahun 1936, kreteria Pesantren seperti itu benar-benar berdiri, masyarakat lalu menyebutnya Pondok Modern. Nama yang melekat dengan nama aslinya Darussalam, yang berada di Desa Gontor. Gontor sebagai lembaga pendidikan dengan gaya baru, Imam Zarkasyi segera memperkenalkan program pendidikan baru yang diberi nama Kulliyatu-l Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) dan ia sendiri bertindak sebagai direkturnya.

Pada masa pendudukan Jepang, beliau pernah aktif membina dan menjadi dosen di barisan Hizbullah di Cibarusa, Jawa Barat.

Tahun 1943, Imam Zarkasyi diminta untuk menjadi kepala Kantor Agama Karesidenan Madiun.

Tahun 1946, Imam Zarkasyi diangkat menjadi sebagai Kepala Seksi Pendidikan Kementerian Agama dari anggota Komite Penelitian Pendidikan.

Tahun1948-1955, selama 8 tahun Beliau dipercaya sebagai Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Islam Indonesia (PGII) yang sekretarisnya waktu itu dipegang oleh KH. E.Z. Muttaqin. dan selanjutnya beliau menjadi penasehat tetapnya.

Tahun 1951-1953, Di Kementrian Agama, KH Imam Zarkasyi menjadi Kepala Bagian Perencanaan Pendidikan Agama pada Sekolah Dasar Kementerian Agama.

Tahun 1953, Imam Zarkasyi menjabat sebagai Kepala Dewan Pengawas Pendidikan Agama.

Tahun 1957, Imam Zarkasyi menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (MP3A) Departemen Agama, Anggota Badan Perencana Peraturan Pokok Pendidikan Swasta Kementerian Pendidikan.

Tahun 1959, Imam Zarkasyi diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi anggota Dewan Perancang Nasional (Deppernas).

Tahun 1962, dalam percaturan internasional, Imam Zarkasyi pernah menjadi anggota delegasi Indonesia dalam peninjauan ke negara-negara Uni Soviet.

Tahun 1972, Imam Zarkasyi mewakili Indonesia dalam Mu’tamar Majma’ Al-Bunuth al-Islamiyah (Mu’tamar Akademisi Islam se-Dunia), ke-7 yang berlangsung di Kairo. Di samping itu, ia juga menjadi Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat.

Sebagai aktivis dibidang pendidikan, sosial dan politik kenegaraan, Imam Zarkasyi juga ulama yang produktif dalam tulis-menulis. Beliau banyak meninggalkan karya ilmiah hingga saat ini masih dapat dinikmati. Sesuai dengan niatan beliau saat dibukanya KMI tahun 1936, beliau berkata: “Seandainya saya tidak berhasil mengajar dengan cara ini, saya akan mengajar dengan pena.”

Di antara karya tulis yang di hasilkan Imam Zarkasyi adalah Senjata Penganjur dan Pemimpin Islam, Pedoman Pendidikan Modern, Kursus Agama Islam. Ketiga buku tersebut ditulis bersama KH Zainuddin Fannanie. Selanjutnya ia menulis Ushuluddin (pelajaran Aqo’id atau Keimanan), Pelajaran Fiqih I dan II, Pelajaran Tajwid, Bimbingan Keimanan, Qowaidul imla’, Pelajaran Bahasa Arab I dan II berikut kamusnya, Tamrinat I, II dan III, beserta kamusnya dan buku-buku pelajaran lainnya. Selain itu Imam Zarkasyi juga menulis beberapa petunjuk teknik bagi para santri dan guru di Pondok Darussalam Gontor dalam berbagai masalah yang berkaitan dengan pendidikan di pesantren tersebut, termasuk metode mengajar beberapa mata pelajaran. Buku-buku karangan beliau hingga kini masih dipakai di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dan pondok-pondok pesantren alumni Gontor serta beberapa sekolah agama.

30 April 1985 pukul 21.00 WIB beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Madiun. pada umur 84 tahun beliau meninggalkan seorang istri dan 11 orang putra-putri.

Yaitu : KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. (Alumni al-Azhar University Cairo dan salah seorang Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor), 2). Hj. Siti Khuriyyah Subakir (Alumni Mu’alimmat Muhammadiyah Yogyakarta), 3). Hj. Dra. Siti Rosyidah (Alumni IKIP Negeri  Yogyakarta), guru SMA-SPG Negeri Ponorogo, Dosen ISID Gontor), 4) Drs. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A (Alumni Darul Ulum Cairo, Pudek I Fak. Ushuluddin ISID Gontor), 5). Dra. Hj. Annisah Fatimah Tijani (Alumni IAIN Sunan Kalijogo, Direktris Mu’alimmat Al Amin Madura), 6). Siti Farid Ismail (Alumni PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Bidan SRSU Ponrorogo). 7) Dra. Maimunah Alamsyah (Alumni IAIN Sunan Ampel. Dosen STIE Banjarmasin. 8). H. DR Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, MA (Alumni College University of the Punjab Pakistan , Pengasuh Pondok Putri Mantingan, Dosen ISID Gontor). 9) H. Hamid Fahmi Zarkasyi, MA Ed (Alumni Institut of Educatioan an Research University of the Punjab University Lahore), 10). Drs. Nasrullah Zainul Muttaqin (Alumni SASDAYA UGM Yogyakarta, Dosen ISID Gontor). 11) Ir. Muhammada Ridho, MM (Alumni FTP Yogyakarta).

Karya tulis yang dihasilkan:

1.   Senjata Penganjur

2.   Pedoman Pendidikan Modern

3.   Kursus bahasa Islam (No 1,2,3 tersebut ditulis bersama KH Zainuddin Fanani)

Adapun buku-buku yang beliau tulis sendiri adalah :

4.   Ushuluddin (Pelajaran ‘Aqaid/Keimanan)

5.   Pelajaran Fiqh I dan II

6.   Pelajaran Tajwid

7.   Bimbingan Keimanan

8.   Qowa’idul Imla’

9.   Pelajaran Huruf Al Qur’an I dan II

Dan dibantu oleh Ustadz Imam Subani, beliau menyusun buku:

10. Pelajaran Bahasa Arab I dan II (beserta Kamusnya)

11. .At-tamrinat jilid I, II, III (beserta kamusnya)

12. I’rabu Amtsilati-Al Jumal,  jilid I &  II.=S1Wh0T0=

K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, Kabupaten Ponorogo

Abdullah-Syukri-Zarkasyi19 September 1942, K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi [Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi MA] Beliau Lahir di Gontor, Ponoroga, Jawa Timur, Indonesia. Putra pertama dari KH. Imam Zarkasyi salah seorang Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Tahun 1954, Beliau Menamatkan Sekolah Dasar di desa Gontor.

Tahun 1960, menamatkan Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor.

Tahun 1964, sebagai Pengurus HMI Cabang Ciputat – Jakarta.

Tahun 1965, melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga mendapatkan gelar Sarjana Muda.

Tahun 1971, sebagai Pengurus HPPI (Pelajar Islam) Cairo.

Tahun 1975, sebagai Pengurus PPI Den Hag – Belanda, tour ke Belgia – Jerman – Perancis(1975).

Tahun 1976, meraih gelar Lc. didapat dari Al Azhar University Kairo, Mesir.

Tahun 1978, Kemudian melanjutkan studi di lembaga yang sama hingga meraih gelar MA.

Tahun 1985 – sekarang, sebagai Pimpinan Pondok Modern Gontor.

Tahun 1986, International Visit Program ke Amerika Serikat, London selama 1 bulan.

Tahun 1989, Seminar Bahasa Arab di Brunei Darussalam.

Tahun 1999 – sekarang, menjabat Ketua Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren Jawa Timur; Ketua Forum Silaturrahmi Umat Islam Ponorogo serta Ketua MP3A Depag (Majlis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama. Dewan Penasehat MUI Pusat.

Tahun  1991 dan 2000, Comparative Study ke Pakistan.

Tahun 1997, Study Tour ke Thailand bersama 20 guru Gontor.

Tahun 1999, Aligarh University India. Kunjungan ke Malaysia, Universitas Antar Bangsa (IIU).

Ketua Majlis Ulama Indonesia Kab. Ponorogo.

Tahun 2005, meraih gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Karya Tulis yang telah dihasilkan:

  1. Pokok-Pokok Pikiran untuk  Perubahan Pendidikan Nasional
  2. Refleksi dan Rekonstruksi Pendidikan Islam: Model Pendidikan Pesantren Ala Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo
  3. Menggali Sumber Keuangan Madrasah : Strategi dan Teknik
  4. Pengelolaan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo
  5. Pengelolaan Pendidikan dan Pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo
  6. Pola Pendidikan Pesantren Sebuah Alternatif
  7. Strategi dan Pola Manajemen Pendidikan Pesantren
  8. Optimalisasi Peran Sektor Pendidikan dalam Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia
  9. Etika Bisnis dalam Islam dan Relevansinya Bagi  Aktivitas Bisnis di Dunia Pendidikan Pesantren: Studi Kasus Pondok Modern Darussalam Gontor
  10. Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Modern Gontor
  11. Optimalisasi Peran Sektor Pendidikan dalam Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia: Pengalaman Pondok Modern Darussalam Gontor
  12. Pendidikan Pesantren di Era Modern
  13. Peran Agama dan Budaya Islam dalam Mendorong Perkembangan Iptek: Iptek di  Pondok Modern Darussalam Gontor

=S1Wh0T0=

Reog Tulungagung

Reog Tulungagung ini merupakan gubahan tari rakyat, yang menggambarkan arak-arakan prajurit pasukan Kedhirilaya tatkala mengiring pengantin “Ratu Kilisuci” ke gunung Kelut, untuk menyaksikan dari dekat hasil pekerjaan Jathasura, sudahkah memenuhi persyaratan pasanggirinya atau belum. Dalam gubahan tari reog ini barisan prajurit yang berarak diwakili oleh enam orang penari.

Yang ingin dikisahkan dalam tarian tersebut yalah, betapa sulit perjalanan yang harus mereka tempuh, betapa berat beban perbekalan yang mereka bawa, sampai terbungkuk-bungkuk, terseok-seok, menuruni lembah-lembah yang curam, menaiki gunung-gunung yang terjal. Sesampainya di puncak gunung, bagaimana mereka mengelilingi kawah seraya melihat melongok-longok ke dalam, kepanikan mereka, ketika “sang puteri” terjatuh masuk kawah, disusul kemudian  dengan pelemparan batu dan tanah yang mengurug kawah tersebut, sehingga Jathasura yang terjun menolong “sang puteri” tewas terkubur dalam kawah, akhirnya kegembiraan oleh kemenangan yang mereka capai.

Semua adegan itu mereka lakukan melalui simbol-simbol gerak tari yang ekspresif mempesona, yang banyak menggunakan langkahlangkah kaki yang serempak dalam berbagai variasi, gerakan-gerakan lambung badan, pundak, leher dan kepala, disertai mimik yang serius, sedang kedua tangannya sibuk mengerjakan dhugdhug atau tamtam yang mereka gendong dengan mengikatnya dengan sampur yang menyilang melalui pundak kanan. Tangan kiri menahan dhugdhug, tangan kanannya memukul-mukul dhugdhug tersebut membuat irama yang dikehendaki, meningkahi gerak tari dalam tempo kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat. Demikian kaya simbol-simbol yang mereka ungkapkan lewat tari mereka yang penuh dengan ragam variasi, dalam iringan gamelan yang monotoon magis, dengan lengkingan selompretnya yang membawakan melodi terus-menerus tanpa putus, benar-benar memukau penonton, seakan-akan berada di bawah hipnose.

Busana penari adalah busana keprajuritan menurut fantasi mereka dari unit reog yang bersangkutan. Di Tulungagung dan sekitar, bahkan sampai di luar daerah kabupaten Tulungagung, sekarang sudah banyak bersebaran unit-unit reog sejenis, dan mereka memiliki seleranya masing-masing dalam memilih warna. Unit-unit yang terdiri dari golongan muda usia, biasanya memilih warna yang menyala, merah misalnya.

Sebuah unit reog dari desa Gendhingan, kecamatan Kedhungwaru, kabupaten Tulungagung, beranggotakan orang-orang dewasa, bahkan tua-tua. Mungkin karena kedewasaannya itu mereka  sengaja memilih warna hitam sebagai latar dasar busananya, sedang atribut-atributnya berwarna cerah. Busana itu terdiri atas:

  1. baju hitam berlengan panjang, bagian belakang kowakan untuk keris. Sepanjang lengan baju diberi berseret merah atau kuning, juga di pergelangan.
  2. Celana hitam, sempit, sampai di bawah lutut. Di samping juga diberi berseret merah memanjang dari atas ke bawah.
  3. kain batik panjang melilit di pinggang, bagian depan menjulai ke bawah. Sebagai ikat pinggang digunakan setagen, kemudian dihias dengan sampur berwarna.
  4. ikat kepala berwarna hitam juga, diberi iker-iker (pinggiran topi) tetapi berbentuk silinder panjang bergaris tengah 3 cm, dililitkan melingkari kepala. Warnanya merah dan putih.
  5. Atribut-atribut yang dipakai:
  • kacamata gelap atau putih;
  • sumping di telinga kanan dan kiri;
  • epolet di atas pundak, dengan diberi hiasan rumbai-rumbai dari benang perak;
  • sampur untuk selendang guna menggendong dhugdhug;
  • kaus kaki panjang.

Busana yang dikenakan oleh unit reog dari golongan muda usia, tidak jauh berbeda, hanya warna mereka pilih yang menyala, di samping hiasan-hiasan lain yang dianggap perlu untuk “memperindah” penampilan, misalnya rumbai-rumbai yang dipasang melingkar pada iker-iker, pada kaki kiri dipasang gongseng, yaitu gelang kaki yang bergiring-giring.

Tentang gamelan yang mengiringi dapat dituturkan sebagai berikut. Keenam instrumen dhugdhug, sebangsa kendhang atau ketipung, tetapi kulitnya hanya sebelah, ‘yang ditabuh oleh penarinya sendiri, terbagi menurut fungsinya: dhugdhug kerep, dhugdhug arang, timbang-timbangan atau imbalan, keplak, trentheng, dan sebuah lagi dipukul dengan tongkat kecil disebut truthong. Di luar formasi ini ditambah dengan tiga orang pemain tambahan sebagai pemukul kenong, pemukul kempul, dan peniup selompret. Kenong dan kempul secara bergantian menciptakan kejelasan ritma, dan selompret meinbuat melodi lagu-lagu yang memperjelas pergantian-pergantian ragam gerak.

Berbeda dengan Reog Tulungagung yang ada di desa Gendhingan, pada reog sejenis di desa Ngulanwetan, kabupaten Trenggalek, si penabuh kenong tidak menganlbil tempat kumpul bersama kedua rekannya penabuh, melainkan ikut di arena, walaupun tidak menari, hanya mondarmandir, atau berjalan keliling, atau menyelinap di antara keenam penarinya, sembari memukul kenong yang diayunkan ke depan dan ke belakang ia pun mengenakan busana serupa dengan busana penari, hanya dengan warna lain, dan tahpa iker-iker pada ikat kepalanya.

Lagu-lagu pengiringnya dipilih yang populer di kalangan rakyat, misalnya Gandariya, Angleng, Loro-loro, Pring-padhapring, Ijo-ijo, dan lain-lain. Terdapat kecenderungan pada reog angkatan tua, (khususnya yang ada di desa Gendhingan), untuk menggunakan irama lambat dan penuh perasaan, yang oleh angkatan mudanya agaknya kurang disukai. Mereka, angkatan muda ini, lebih senang menggunakan irama yang “hot”, sesuai dengan gejolak jiwanya yang “dinamik”. Dalam hal ini AM Munardi menuliskan tanggapannya sebagai berikut:

Legendanya tarian itu mengiring temanten. Memang peristiwa ritual kita pada masa lampau tidak terlepas dari existensi tari. Sampai sekarang Reog Kendhang (Reog Tulungagung) juga sering ditampilkan orang dalam kerangka pesta perkawinan ataupun khitanan. Dalam perkembangan akhir-akhir ini kemudian dipertunjukkan dalum pawai-pawai besar untuk memeriahkan hari-hari besar nasional.Untuk kepentingan yang akhir inilah kemudian orang membuat penampilan tari Reog Kendhang identik dengan “drum-band” . Maka gerak-gerik yang semula dirasa refined dan halus, cenderung dibuat lebih keras dan cepat. Derap-derap genderang ditirukan dengun pukulan-pukulan dhogdhog. Terompet bambu-kayu semacam sroten itu pun ditiup dengan lagu-lagu baru. Akibatnya musik diatonis itu pun di paksakan dalam nada-nada pelog pentatonis.

Dalam timbre yang tak mungkin berkwalitas sebuah drum-band modern, maka cara seperti itu menjadi berkesan dangkal. Pada suatu kesempatan menonton pertunjukan Reog Kendhang di desa Gendhingan, kecamatan Kedhungwaru, Tulungagung, maka terasa benarlah bahwa proses penampilan Reog Kendhang yang pada umumnya dipopulerkan oleh para remaja itu cenderung menuju ke pendangkalan. Penampilan oleh para penari golongan tua di desa tcrsehut tcrasa benar bobotnya. Geraknya yang serba tidak tergesa-gesa lebih memperjelas pola tari yang sesungguhnya cukup refined. Kekayaan pola lantainya terasa benar menyatu dengan lingkungan.

Memperbandingkan Reog Kendhang di Gendhingan ini dengan Reog Kendhang para remaja pada umumnya menjadi sernakin jelas adanya keinginan untuk tampilnya garapan-garapan baru, tetapi tidak dimulai dengan pendasaran yang kokoh. Ya, kadang-kadang orang terlaiu ccpat mengidentikkan arti “dinamika” dengan gerak yang serba keras dan cepat.

Seperti halnya dengan rekannya Reog Dhadhak merak di Panaraga, maka sebagai tontonan rakyat, Reog Tulungagung (Reog Kendhang) pun tidak akan kehilangan peranannya sebagai penghibur atau pemeriah suasana di mana saja warga desa mempunyai hajat. Perkawinan, khitanan, kelahiran, tingkeban, bersih desa, musim panen, dan lain sebagainya.

Mungkin sekarang tidak selaris dulu, sebelum musik pop berirama dangdut merajai pasaran di mana-mana. Namun pada hajat-hajat yang masih ada hubungannya dengan kepercayaan yang bersifat sakral atau yang masih mempunyai sifat-sifat tradisi maka, kesenian reog masih diperlukan. Dalam perarakan pengantin misalnya, maka fungsi reog Kendhang tidak saja sebagai pengiring yang memeriahkan suasana atau sekadar menghibur semata-mata, melainkan bahkanpun sebagai penjaga keselamatan mempelai laki-laki yang diarak. Mungkin ini sisa-sisa kepercayaan legendarik, bahwa reog dulunya  atau sang pengantin “Ratu Kilisuci”. Kepercayaan itu menjadi naluri yang masih terus dipelihara, walaupun tinggal sepercik upacara simbolik belaka atau hanya tiru-tiru.

Tetapi yang jelas, apakah itu upacara atau pun tiru-tiru, tiap-tiap hajat selalu mengharapkan keselamatan, dalam hajatan ini terutama keselamatan perkawinan kedua mempelai tentunya. Jadi reog berfungsi sebagai penolak bala, begitulah kira-kira. Formasi perarakan itu tersusun demikian, paling depan sang pengantin laki-laki. Memang, biasanya pengantin laki-lakilah yang diarak, yaitu ketika menuju ke rumah pengantin perempuan calon isteri. Pengantin laki-laki itu diapit oleh sanak keluarga dekat atau handaitolan yang akrab, di belakang mereka beberapa lapis pengarak inti, lalu menyusul barisan reog kendhang. Lebih dulu keenam penari dhogdhog dalam formasi berpasangan dua-dua, lalu ketiga penabuh gamelan lainnya: dua di muka, yaitu peniup selompret dan penabuh kenong, di belakang mereka penabuh gong (atau kempul). Gong (atau kempul) ini digantungkan pada sebuah standar yang dinamakan gayor, dipikul oleh dua orang pembantu. Di belakang barisan reog menyusul para pengiring lainnya.

Terdapat dua orang lain, seolah-olah berada di luar formasi perarakan itu. Yang salu membawa boneka ayam jantan (jago), terbuat dari kayu yang disengkelit di bawah ketiaknya. Ia mengenakan ikat kepala jilidan berwarna merah, baju merah, celananya pun merah. Namanya “Jaka Pangkon”. Tidak diketahui pasti asal-usul nama itu, tetapi merupakan bagian dari upacara perarakan pengantin. Kawanya membawa “iyan” (= nyiru, atau tampah, bentuknya bujur sangkar, tempat pendingin nasi yang baru dientas dari nanakan), dan “ilir” (= kipas, bentuknya pun bujur sangkar, tapi lebih kecil: garan pemegangnya di pinggir, jadi modelnya semacam bendera). Mereka berdua berjalan bebas. Kadang-kadang di samping perarakan, kadang-kadang di muka, mondar-mandir saling berpapasan. Setiap kali pemegang iyan dan ilir memukulkan ilirnya pada iyan sehingga berbunyi “blek-blek-blek”, maka setiap kali pula si Jaka Pangkon mengeluarkan suara lantang menirukan keluruk ayam jantan: “cukukeruyuk”, yang disambut gegap gempita oleh pengiring-pengiring lainnya. Sementara gamelan reog terus berbunyi dengan lagu-lagu yang dilengkingkan oleh selompret yang nada larasnya agak-agak sumbang, tetapi justeru mengasyikkan, sedang penarinya menari sembari memukul irama dhogdhog.

Di tempat lain perarakan itu diatur lain lagi, “jaka Pangkon” tidak ditampilkan. Maka keenam penari menari di luar formasi barisan. Mereka kadang-kadang berada di samping, tiga di sebelah kanan, tiga di sebelah kiri. Lalu maju mendahului pengantin menari di depan, saling berpapasan, beralih tempat  pendek kata menggunakan arena sekitar pengantin untuk menari. Bagi mereka yang percaya kepada mistik, hal tersebut adalah untuk menjauhkan sang penganten dari gangguan dari luar, tidak disebutkan apa, tetapi yang jelas paling tidak dibebaskan dari gangguan anak-anak yang banyak berduyun-duyun menyaksikan perarakan dari depan atau dari samping di tepi jalan yang dilewati.

Pada hajat-hajat lain yang tidak memerlukan perarakan, maka Reog Kendhang menggunakan halaman rumah yang punya hajat untuk arena pertunjukan. Penontonnya bebas, ada yang berjongkok. ada yang berdiri, mengelilingi membuat suatu lingkaran, atau bentuk tapal kuda untuk memberi kesempatan kepada yang punya rumah dan tamu-tamunya ikut menyaksikan. Di luar hajat warga masyarakat desa, sering juga Reog Tulungagung atau Reog Kendhang dikerahkan secara massal, terdiri atas beberapa unit, untuk memeriahkan pawai-pawai dalam rangka hari-hari nasional seperti Hari Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Raya ldul Fitri, atau peresmian gedung ini itu, pekan ini itu, dan lain-lain.

Bahkan sejak jaman kolonial Hindia Belanda pun kegiatan demikian sudah dilakukan, misalnya peringatan jubileum pemerintahan ratu Belanda Wilhelmina, hari pertunangan dan perkawinan puterinya Juliana, dan sebagainya. Di samping yang diselenggarakan oleh rakyat warga desa sendiri, biasanya dalarn satu keluarga turun-temurun, Reog Tulungagung atau Reog Kendhang diselenggarakan pula di sekolah-sekolah, dilakukan oleh murid-murid di bawah asuhan guru atau seorang pelatih/pembina yang piawai di bidang pereogan. Tetapi kegiatan mereka merupakan bagian dari kegiatan olah seni, pemupukan bakat seni, dan penarnpilan mereka di depan umum hanya terbatas yang khusus dalarn rangka peringatan-peringatan resmi oleh pemerintah atau intern sekolah sendiri, atau dalam pekan-pekan kesenian.

Dengan kegiatan-kegiatan di sekolah ini, nyatalah, bahwa Reog Tulungagung mempunyai masa depan yang cerah, karena mampu merebut apresiasi yang merata ke seluruh lapisan masyarakat: tua, muda, laki perempuan (karena penari-penari perempuan sudah bermunculan pula), golongan atas, tengah, bawah, kaum elit, kaum rakyat, pendeknya semua. Dengan demikian Reog Tulungagung akan lebih pesat laju perkembangannya dibandingkan dengan rekannya di Panaraga, Reog Dhadhakmerak.

Dengan konstatasi ini, mungkinkah kelak Reog Panaraga akan kalah lalu, untuk kemudian secara lambat laun punah? Hal ini melihat kenyataan tidak adanya kaderisasi lewat sekolah-sekolah. Kiranya hanya rakyat daerah Panaraga sendirilah yang tahu jawabannya. Kembali kepada pertanyaan semula, sejak kapankah adanya Reog Tulungagung? Untuk menjawabnya, baiklah kita kutip pernyataan AM Munardi dalam salah satu artikelnya: Menurut Jaap Kunst dalam “Hindu-Javanese Musical Instruments”, arti Reog sama dengan Dhogdhog, yaitu bentuk kendhang dengan membran pada satu sisi saja. Kendhang semacam ini memang dipakai sebagai perlengkapan pokok dari tarian tersebut (Reog Tulungagung, S.Tm.). Bahkan sampai sekarang instrumen kendhang yang terbesar di antara enam kendhang yang dipakai dalam tarian itu disebut juga “Dhogdhog”.

Bentuk instrumen musik semacam ini sudah terlukis pada relief candi Penataran (abad XIV) dan berbagai kota di istana Majapahit. Dalam bentuknya yang agak berbeda, tetapi dalam deretan penari (pemain musik) pada relief Prambanan yang mirip dengan susunan penari Reog masa kini, menimbulkan dugaan bahwa tarian semacam ini sudah lama sekali dikenal di Indonesia. Selanjutnya Munardi menyatakan, bahwa kalau toh ada pengaruh invasi barat, mengingat kostumnya yang mirip-mirip kostum serdadu kumpeni Belanda, atau kalau ada pengaruh prajurit Bugis jaman perang Trunajaya, mengingat ikat kepalanya yang berbentuk dhesthar tinggi dengan dilingkari iker-iker yang mirip-mirip ikat kepala saudara-saudara kita di Sulawesi Selatan, atau kalau sebagai ganti dhogdhog semula digunakan kenthongan bambu, seperti konon yang terjadi pada Reog Kendhang di Trenggalek, namun ….. , setidak-tidaknya prototype tarian itu sudah ada sejak sebelum abad VII (Sic!). Setiap jaman orang mcngisi tema dan atributnya, sehingga terjadilah bentuk seperti sekarang ini.

Dengan ungkapan-ungkapan Munardi tersebut, kiranya menambah kejelasan bagi kita akan kedudukan Reog Tulungagung ini. Yaitu, bahwa secara fisik (corak) maupun idial (karakter) tidak ada kaitannya saran sekali dengan Reog Panaraga. Lebih jelas lagi kalau kita perhatikan tiadanya kesamaan motif dalam penciptaan kedua jenis kesenian rakyat tersebut. Lahirnya Reog Panaraga sama sekali tidak didasarkan pada motif dalam penciptaan kedua jenis kesenian rakyat tersebut. Lahirnya Reog Panaraga sama sekali tidak didasarkan pada motif penciptaan tari (versi Kutu), sebaliknya Reog Tulungagung adalah benar-benar ciptaan komposisi tari. Kalau pun terdapat unsur-unsur yang seolah-olah mengaitkan yang satu dengan yang lain, maka unsur-unsur itu iyalah, bahwa keduanya menggunakan nama yang sama: reog, dan tema yang sama pula: Panji.

Tentang nama reog dapat kita kembalikan kepada arti yang sebenarnya, yaitu kata sinonim (atau nama jenis lain) dari “kendhang” atau “dhoghog”. Baik Reog Panaraga maupun Reog Tulungagung menggunakan “kendhang” (atau “dhogdhog”, atau “reog”) sebagai unsur music pengiringnya yang pokok. Ternyata kesenian “reog” di Pasundan, (dalam karangan ini tidak dibicarakan), yang seperti adanya sekarang tidak mempunyai persamaan bentuk dan karakter dengan kedua rekannya “reog” di Jawa Timur itu pun menggunakan “dhogdhog” sebagai unsur musik pengiringnya yang pokok.

Tentang tema Panji sebenarnya tidak ada relevansinya bagi Reog Panaraga, sebab sejak semula Reog Panaraga memang tidak pernah menggunakan tema Panji (Versi Kutu). Tema Panji itu baru kemudian ditampilkan oleh Ki Ageng Mirah untuk menghilangkan tema yang khas versi Kutu tersebut. Tetapi bagi Reog Tulungagung, mungkin memberi perspektif yang lebih luas untuk penciptaan komposisi tan baru atas dasar pola lama yang sudah berabad-abad umurnya, dan terus dipelihara turun-temurun. Maka lahirlah Reog Tulungagung. Untuk membedakan dari Reog Panaraga, maka Reog Tulungagung disebut “Reog Kendhang”. Reog Panaraga disebut “Reog Dhadhakmerak”. Untuk Reog Kedhiri tersedia nama sebutan “Reog Jaranan”.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm.102  – 114.

Pondok Gontor

Pondok Moderen Gontor

DIDJAWA TIMUR, kira5 40 km. kearah Selatan dari kota Madiun terletaklah sebuah desa jang djauh dari keramaian, tapi selalu sibuk dim. lingkungannja jaitu desa Gontor. Desa jang djauh dari keramaian, tapi sebenarnja amat penting artinja bagi dunia pendidikan pada chususnja. Sebab pondok moderen Gontor adalah tempat mendidik pemuda3 dalam mempeladiari dan memperdalam Ilmu Pengetahuan Agama Islam jang moderen disamping pengetahuan3 umum lainnja. Pondok Moderen Gontor berdiri diatas tanah seluas 3 HA. Didalam tanah jang seluas Itu didirikan Asrama, Masdjid2, Ruang Beladjar, Ruang Rekreasi dll.
Pondok Gontor dikatakan sebagai Pondok Moderen, sebab semua mata peladjaran jang diberikan kepada murid2nja itu diatur menurut sistim sekolah jang moderen dan djuga mem¬pergunakan metodik dan didaktik jang moderen pula. Pondok Moderen Gontor selalu memperhatikan dan mengingat perkembangan2 dalam sistim pendidikan dan pengadjaran jang sedang berlaku dewasa ini. Djadi teranglah bahwa apa jang dikatakan Moderen itu adalah bukan fahamnja dalam agama Islam, tapi moderen dlm. arti sistim pendidikan dan pengadjarannja.

Nama Pondok Moderen bukanlah na¬ma asli jang diberikan oleh pendirinja. Pondok itu sedjak mula2 didirikan adalah bernama “Daarus Salaam” jang mengandung arti “Kampung Damai”. Tapi lama kelamaan, setelah mengalami berbagai kemadjuan dan kesempurnaan dan pada zaman moderen ini pula Pondok itu tidak luput mengikutinja sehingga sampai achirnjs orang2 mena¬makan bawa Pondok Gontor adalah sebuah Pondok Moderen, jaitu sebagai balai pendidikan dan pengadjaran agama Islam Moderen.
Disamping Pondok Moderen sebenarnja masih terdapat pula pondok3 jang lain jang berdjumlah 3 pondok jang ketjil3 jaitu Pondok Deresan, Tegalsari dan Pondok Ngabar. Dan ketiga Pondok itu adalah merupakan Pondok penampungan dari Pondok Moderen Gontor tsb.

SEDJARAH BERDIRINYA.
P ADA ACHIR abad ke-19 disebuah desa jang bernama Gontor itu berdirilah sebuah Pondok atau Pesantren jang selalu terpelihara baik. Dengan adanja pondok atau pesantren itu, orang2 jang berdiam disekitarnja merasa damai dan tentram dalam hidupnja serta mereka selalu patuh kepada aga- manja. Tapi suasana jang tentram dan baik itu segeralah berganti dengan kebobrokan disebabkan oleh suasana politik pendjadjahan jang pada waktu itu lebih bersifat memetjah belah dalam kehidupan masarakat pada umumnja. Dengan adanja politik pendjadjahan itu pula penghidupan masarakat sudah barang tentu tidak bertambah madju, tapi malahan semakin mundur. Hal ini disebabkan oleh makin djauhnja orang3 dari adjaran agama Islam jang baik itu.

Politik pendjadjahan menimbulkan rusaknja achlak ummat jang sebelum- nja hal itu tidak pernah terdjadi. Dan demikianlah, melihat keadaan masara¬kat jang makin memburuk itu, tampillah seorang Kiai keturunan Pondok itu jatu Raden Santoso Anom Ba&ari. Ia menjadari dan menginsafi akan kemunduran masarakatnja. Maka didorong oleh rasa tjinta dan tanggungdjawab serta kewadjibannja sebagai manusia, ia menjelidiki sebab3 kemunduran itu. Ia mentjari djalan kearah mana jang baik demi kemadjuan pendidikan agama dan peladjarannja. Dan setelah semua sebab2 kemunduran itu diselidiki dan ditjari maka siaplah untuk dilak¬sanakan. Inisiatip dan pikiran R. Santoso Anom Basari ini kemudian dilandjut- kan oleh keturunan3nja jang kemudian disebut “Trimurti” jaitu K.R.H. Sahal, R.H. Zainuddin Hananie dan K.R.H. Imam Zarkasji. Mereka bertiga itu ke¬mudian mendirikan dan membangun kembali Pondok atau Pesantren pada th. 1926. Faktor2 jang mendorong didirikannja kembali Pondok itu antara lain jalah Rasa Kewadjiban kepada Allah dan untuk melandjutkan dan menjempurnakan usaha Bapak3 dan Ula ma jang terdahulu dalam menjiarkan pengetahuan dan kebudajaan Islam pa¬da chususnja. Dan mengingat pula hadjat atau kepentingan Ummat Islam kepada pemimpin2 dan ulama3 jang djudjur dan tjakap. Dan semuanja itu adalah guna melaksanakan keselamatan bangsa chususnja dan kebahagiaan ummat manusia pada umumnja.
Pada th. 1926 itu pula mulai didiri¬kan Sekolah Rendah, dan 10 tahun kemudian didirikan Sekolah Menengah (Tsahawijah) dan Sekolah Menengah Atas jang berbentuk Sekolah Guru Atas jang memberikan peladjaran Agama dan pengetahuan umum. Tidak lama kemudian setelah didirikan Seko¬lah Menengah dan Sekolah Menengah Atas, maka Sekolah Rendah itu dipisah¬kan untuk berdiri sendiri. Dengan demikian maka Pondok itu hanja tinggal Sekolah Menengah dan Sekolah Menengah Atas sadja. Tahun 1940 sampai th. 1945 didirikan tingkat jang lebih tinggi lagi ialah B I Agama dan Bahasa Arab. Maksud ini ialah guna mentju- kupi kekurangan tenaga pengadjar pada Madrasah3 Tsanawijah Atas. Dan tjita2 selandjutnja nanti dalam Pondok Moderen ini akan didirikan Universita Islam, tapi hal ini sampai demikian djauh masih dalam rentjana sementara menunggu pembiajaan.

PENDIDIKAN DI PONDOK MODERN

PENDIDIKAN jang ada di Pondok Moderen Gontor ini ialah bersifat „Pendidikan Kemasyarakatan”. Peladjar3 berlatih memperhatikan dan mengerdjakan hal3 jang akan ditemui nan- tinja dalam masjarakat. Semua pela- djar dididik agar dalam dirinja tertanam rasa tjinta berkorban demi kepen¬tingan masjarakat. Disamping itu, pe ladjar2 djuga dididik dalam keseder¬hanaan, baik kesederhanaan dalam tindakan2 maupun kehidupan masjarakat se hari2 dalam lingkungannja. Mereka djuga diberi kebebasan, kemerdekaan seluas mungkin, tapi dengan tidak me ningggalkan tanggudjawab jang dibebankan kepada mereka. Untuk menanamkan rasa tanggungdjawab ini maka di Pondok Moderen Gontor dibentuk pula Organisasi peladjar dan Organisasi Kepanduan. Organisasi peladjar ini dipimpin sendiri oleh peladjar’ jang dipilih setjara pemilihan umum.
Dalam organisasi Kepanduan di Pondok Moderen ini mengandung maksud agar mereka mendjadi Kader, sehingga nantinja dapat memimpin kepanduan dimagjarakat. Kedua organisasi itu adalah bertanggungdjawab atas segala perkara Jang berhubungan dengan kemadjuan, gerak-gerik serta disiplin seluruh peladjar.

MENDAPAT PERHATIAN LUAR BIASA.

USAHA dan pendidikan serta sistim Pondok Moderen ini ternjata mendapat perhatian jang luar biasadari Kaum Muslimin diseluruh Indonesia chususnja. Pemuda2 jang bermaksud datang beladjar di Pondok ini dariberbagai kota Indonesia, dari Sumatra, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dari Djawa sendiri serta dari kota» lainnja. Pada th. 19C1tertjatat 1250 peladjar jang beladjar di Pondok Moderen. Dan dalam tahun 1062 djuralah itu makin berlipat lagi, sehingga oleh kurangnja tempat dalam Asrama itu maka terpaksalah merekabanjak jang ditolak untuk beladjar di Pondok Moderen. Semua peladjar di Pondok Moderen ini tinggal di Asrama jang telah disediakan. Untuk mengatasi kekurangan tempat dalam menampung peladjar’ jang minatnja besar itu, maka pada waktu ini sedang diusahakan
djalan keluarnja jaitu dengan didirikannja Asrama’. Di Pondok Moderen sampai saat ini ada 10 buah Asrama jang masingmempunjai nama sendiri jaitu seperti Pondok Irak, Darul Kutub, Pondok 17 Agustus dll.

BAHASA DAN PARA DOSEN.

SUATU HAL jang tidak boleh dikesampingkan ialah segi pentingnja Bahasa jang dipergunakan dalam pen- didikan Pondok Moderen ini. Apalagi kalau kita ingat bahwa Pondok Mode- ren adalah tempat pendidikan Agama Islam. Barang tentu bahasa jang dipa- kai adalah Bahasa Arab. Dan mengingat. akan faedah dan kepentingan bahasa Arab inilah, maka bahasa ini didjadikan bahasa pengantar dalam mata peladjaran Agama dan bahasa pergaulan se hari’ dikalangan peladjar2 serta dipakai dlm. tjeramah2  jg. sering diada- kan. Kesemuanja itu telah berdjalan dengan lantjar dalam Pondok Moderen,
karena metode mengadjarkan bahasa Arab dalam Pondok itu adalah merupakan metode jang moderen, metode jang langsung. Apa lagi mengingat bahwa peladjar’nja semua berdiam di Asrama dilingkungan Pondok itu. Ketjuali bahasa Arab bahasa lainnja jang diutamakan ialah Bahasa Inggris. Dalam Pondok Moderen diadakan pembagian kias jaitu : Klas jang setingkat dengan SR-VI tahun dan mata peladjaran jang diadjarkan masih merupakan peladjaran Umum. Kemudian kias jang lain jaitu Kias Experimen Kias ini dibagi dalam Klas I, III, V dan VI. Dalam Kelas Experimen ini hanja diadjarkan bahasa inggris, Baha¬sa Arab aan Ilmu Agama f’iqih, Ha¬dis, Tafsir dan Hukum Agama.Sebagai tenaga’ pengaujar dan pen¬didik aiau Dosen’ tertjatat antara lain dari Al Aznar University jaitu Al Uztaz Hasan Monamad Hasan Al iSajuni dan Ai Ustaz Aii Al Khinani. Kedua Dosen ini didatangkan atas bantuan Peme¬rintah Mesir.

LULUSAN PONDOK BANJAK JANG DJADI PE¬MIMPIN TERKEMUKA.

PEMUDA’ jang telah lulus dari Pon- dok Moderen Gontor ini sudah ba¬njak sekali jang terdjun kedalam ma- sjarakat. Diantara lulusan Pondok Moderen ada jang mendjadi Anggauta Parlemen dan Anggauta Konstituante dan pernah djuga ada jang mendjadi delegasi Pemerintah R.I. keluar negeri. Dan bagi mereka jang mampu sudah banjak jang meneruskan peladjarannja kc Universita’ Negeri Mesir (Cairo University & Al Azhar University, Mesir). Kita pasti tahu Siapa itu K.H. Idham Chalid jang pernah memegang djabat- an penting dalam pemerintahan R. I. jaitu sebagai Wakil Perdana Menteri II. Beliau itu djuga keluaran dari Pondok Moderen Gontor. Dan berkat pen- didikannja di Pondok Moderen ini pula maka pada th. 1959 K.H. Idham Chalid mendapat gelar Doctor HC. dari Al Azhar University.

Demikianlah, sekilas tentang Pondok Moderen Gontor di Djawa Timur, se-buah Lembaga Pendidikan dan Penga djaran Agama Islam Moderen. Pondok Moderen jang sekarang sudah mendapat subsidi Pemerintah ini masih terus berusaha madju dan penuh rentjana2 kearah kesempurnaan dan mempunjai harapan jang gemilang dihari depan bagi bangsa dan Tanah Air Indonesia chususnja dan bagi Umat Manusia pada umumnja.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Jussi Sukerdi . Gema Islam, No. 32, 15 Mei 1963/ 21 Zulhidjah 1382, Hlm. 24-25

Kerajinan Reog

Bertahan Hidup di Bawah Reog

Siang itu Sarju duduk menghadap beberapa pekerjanya yang tengah mengerjakan pesanan kepala singa yang akan dikirim minggu depan ke Jawa Barat. Tidak seperti hari biasanya, Sarju yang tepat duduk berada di belakang display usahanya itu tidak lagi dapat mengarahkan pekerjanya yang tengah membuat peralatan reog. Karena penyakit stroke yang dideritanya sejak satu bulan lalu, Sarju memang tidak dapat berbicara, untuk berjalan menuju tempat usahanya saja, dia harus dibopong oleh beberapa anggota keluarganya.

Untungnya Sarju masih memiliki menantu yang juga mencintai kesenian reog, sekaligus terampil membuat peralatan reog. Kini usahanya dijalankan oleh menantunya, Supriyanto, dibantu enam karyawan tetapnya. Sarju adalah salah satu pengusaha peralatan reog di Ponorogo yang hingga kini masih tetap eksis mengembangkan usahanya.

Tempat usaha di samping kediamannya, di JI raya Ponorogo Purwantoro, di Desa Carat Sumoroto, Keeamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, itu masih terlihat ramai pembeli yang meneari aksesoris reog seperti kaos, eelana panjang, eambuk keeil dan topeng kecil, atau miniatur kepala reog, dan sebagainya.

Supriyanto menjelaskan, aktif di perkumpulan reog selama kurang lebih 35 tahun dan sempat berkeliling dunia untuk bermain pertunjukan reog, menginspirasi mertuanya untuk memproduksi peralatan reog sendiri, seiring dengan semakin terkenalnya seni reog. Pertimbangan tenaga karena usianya sudah semakin tua, Sarju pada 1994 memulai membuka usaha memproduksi peralatan reog beserta aksesoris pendukungnya.

Sedikit demi sedikit perlengkapan reog yang diproduksi Sarju seperti peralatan . musik reog, dadak, topeng, barongan, topeng bujang ganom dan busana reog laris diserap pasar dari dalam maupUn luar negeri seperti Arab, Amerika, Australia dan Rusia.

Untuk satu paket peralatan reog dengan kualitas biasa, Sarju menjual dengan harga Rp 24 juta. Sementara untuk paket dengan kualitas super, perlengkaan reog dijual  dengan harga Rp 30 juta. “Paket super itu dengan lebar dadak yang lebih besar berukuran 2,25 meter dengan berat 25 kilogram dan tampilan kepala singa yang lebih seram,” katanya.

Penjualan peralatan reog akan meningkat hingga 30 persen menjelang waktu-waktu tertentu seperti menjelang bulan Agustus dan bulan Muharam.

BahanAlam

Pembuatan perlengkapan seni reog sebagian besar memanfaatkan bahan-bahan alami seperti kayu. Kayu biasanyadimanfaatkan untuk membuat kepala singa, topeng, dadak dan alat penyangga genongan. “Untuk kepala singa dan topeng, kayu yang dipakai biasanya kayu dadap, sementara untuk dadak menggunakan rotan dan bambu,” kat;a Supriyanto. Selain menggunakan kayu, beberapa bagia perlengkapan reog lainnya menggunakan bagian tubuh binatang, seperti ekor kambing atau sapi untuk rambut topeng, bulu merak untuk menghiasi dadak, dan kulit macan. untuk kepala singa.

Supriyanto mengaku seringkali merasa kesulitan untuk mendapatkan beberapa jenis tubuh binatang, seperti rambut ekor sapi untuk rambut topeng, bulu merak untuk dadak, atau kulit macan untuk kepala reog. “Kadang untuk mengantisipasi terbatasnya bahan kulit macan, kami gunakan kulit sapi yang digambar motif kulit macan,” katanya.

Tapi khusus untuk bulu merak, dia sengaja khusus mendatangkan dari India, karena kualitas kulit merak India lebih bagus dari warna dan motif. Bulu merak tersebut biasanya didatangkan pada bulan November Desember, karena saat itu merupakan musim rontok bulu merak. Dia juga mendatangkan dalam jumlah besar, agar dapat dijadikan stok untuk kebutuhan selama satu tahun.

Keluarga besar Sarju memang terkenal sebagai keluarga pecinta reog. Dua orang putranya membantu membesarkan usaha pembuatan peralatan reog, sementara tiga menantu laki-Iakinya juga turut membantu, termasuk Supriyanto. Beberapa di antara putra dan menantunya juga masih aktif di perkumpulan-perkumpulan reog di Ponorogo.

Karena itu dia termasuk paling getol yang menolak klaim bahwa reog milik Malaysia. “Reog Ponorogo adalah kesenian asli lokal Ponorogo, bukan Malaysia,” tuturnya. (*)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  TEROPONG, Edisi 51, Mei- Juni 2010, hlm. 35

Reog

TARIAN SENSASIONAL DARI PONOROGO

Kepala berbentuk singa dengan sayap-sayap terbuat dari bulu merak terlihat melenggak-lenggok dan berputar-putar mengikuti irama gendang. Sementara di depannya tampak sekelompok orang mengenakan kostum hitam-hitam berusaha menggoda singa agar erus menari. Itulah figur sentral dari sebuah kesenian

Reog asal Ponorogo, Jawa Timur yang hingga kini masih tetap menarik untuk disaksikan. Reog adalah sebuah tarian spektakuler yang diperagakan oleh beberapa penari dengan kostum berwarna warn i dan diiringi oleh musik gamelan yang meriah . Tarian ini biasanya dilakukan di halaman terbuka seperti taman ataupun jalanan . Se lain tarian tradisional, Reog oleh sekelompok orang biasanya juga dipadukan dengan pertunjukkan magis yang diharapkan dapat menarik perhatian penonton .

Salah satu tokoh sentra l yang selalu menjadi perhatian para penonton adalah topeng kepala macan yang sebelah pinggirnya dihiasi bulu merak bersayap lebar. Bisanya orang mengenal topeng tersebut dengan sebutan Dhadhak Merak yang konon beratnya mencapai 40 hingga 100kg dan dibawa oleh satu orang yang berjalan maju mundur ataupun berputar-putar. Karena kepala macan ini melambangkan sosok pahlawan, maka sang penari, Warok yang mengenakannya bisanya juga memiliki ·kekuatan magis.

REOG ADALAH SEBUAH TARIAN SPEKTAKULER YANG DIPERAGAKAN OLEH BEBERAPA PENARI DENGAN KOSTUM BERWARNA WARNI DAN DIIRINGI OLEH MUSIK GAMELAN YANG MERIAH

Selain itu, ia juga harus memiliki susunan gigi serta leher yang kuat untuk bisa menggoyang-goyangkan topeng Dadak Merak dengan giginya. Bahkan terkadang juga harus menggendong seorang wanita yang dianggap mewakili Ratu Ragil Kuning. Atau kadang, ia harus mendemonstrasikan keahlian dan kekuatannya sambil menggendong penari bertopeng lain, tanpa mengurangi mutu gerakan tariannya yang terlihat fantastis dan penuh semangat.

Dhadhak Merak atau yang biasa dikenal dengan sebutan Singabarong, biasanya diperagakan sebagai tarian selamat datang kepada para tamu yang dihormati, atau sebagai atraksi yang lengkap dengan segala atributnya seperti yang memerankan sebagai Prabu Kelana Sewandono dan para penari pengikutnya yang disebut sebagai Bujangganong.

Bujangganong adalah seorang pahlawan dengan muka yang buruk rupa, mengenakan topeng berwarna merah, berhidung panjang, berambut awut-awutan dan bergigi taring. Para penari ini bisanya dilengkapi dengan kuda-kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit binatang. Mereka melambangkan sosok prajurit pengawal raja Kelana Sewandono.

Orang -orang yang dikenal sebagai Warok dalam kesenian ini, diyakini memiliki talenta khusus, yang diperoleh melalui latihan bertahun-tahun. Salah satu keunikan dari pertunjukkan Reog adalah para penari yang terdiri dari pemuda-pemuda yang berdandan seperti perempuan. Mereka disebut sebagai Gemblak yaitu orang yang biasa menemani warok, yang selama jadwal pertunjukkan masih berlangsung mereka dilarang mendekati wanita.

 

Sejarah

Kesenian Reog Ponorogo sebenarnya tarian ini sudah dikenal sejak jaman kebudayaan Hindu di Jawa Timur. Ceritanya berhubungan dengan legenda Kerajaan Ponorogo (kira-kira 70km arah Tenggara Solo). Raja Ponorogo yang berkuasa ketika itu adalah, Kelono Soewandono, sangat terkenal dengan kemahirannya bertempur dan kekuatan magisnya.

Bersama Patihnya, Bujanganom, mereka diserbu oleh, Singabarong, Raja Singa dari hutan Kediri yang dibantu oleh bala tentaranya, pasukan Singa dan Merak. Sebenarnya mereka sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Kediri untuk menikahi Dewi Ragil Kuning, sang ratu kerajaan.

Kemudian terjadilah pertempuran dahsyat antara para prajurit perkasa dengan kekuatan-kekuatan magisnya. Pasukan merak berterbangan naik turun sambil mengepakkan sayapnya demi membantu para singa-singa Barong. Bujanganom dengan cemeti

ajaibnya yang dibantu oleh para Warok dengan kostum hitam tradisionalnya berusaha mengalahkan sang Raja Singa beserta para pengikutnya .

Singkat cerita, Raja Ponorogo tersebut dapat menaklukkan mereka dan melanjutkan perJalanannya menuju Kediri. Singa Barongpun lalu mengikuti arakarakkan mereka, sementara pasukan Merak berada dekat dengan Singa Barong seraya membentangkan ekor mereka sehingga terlihat seperti sebuah kipas yang indah.

Sementara ada versi lain yang menceritakan, bahwa sebenarnya kesenian tarian Reog ini merupakan petunjuk dari raja Majapahit yang menikahi seorang ratu berkebangsaan Cina. Kekuatan sang raja kemudian digambarkan takluk oleh kecantikan sang putri. Apapun versi cerita aslinya, tarian Reog hingga kini tetap menjadi sebuah atraksi dan kesenian yang sangat populer. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga sampai ke mancanegara.()

CARAKAWALA,September 2004, hlm. 12

Warok dan Reog Ponorogo

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo
Ada yang Mermlih Profesi

 
KESENIAN reog yang lahir sejak 501 tahun lalu, dalam perkembangannya, terus men gal ami perubahan tanpa .menghilangkan eiri yang dikandungnya. Termasuk daya magis yang miliki para warok seakan-akan semakin luntur, terbawa arus modemisasi. Benarkan demikian?

Memang tidak bisa dihindari dan disalahkan, jika ada para dedengkot reog termasuk warok, naik dan bergulat di pentas politik dan pemerintahan. Mereka kemungkinan juga mempunyai pandangan masa depan tanpa meninggalkan darah seninya yang sudah melekat itu. Namun demikian masih ada yang tetap di jalur semula untuk memperdalam ilmu keguruan yang akan diseberluaskan ke beberapa anak cucunya.

“Menurut kami sangat wajar dan tak ada masalah jika para warok memilih untuk menjabat dalam perint!! h.an. Asalkan kepribadian dan darah dagingnya masih tetap sebagai warok,” jelas sallih seorang tokoh warga.

Namun, tambah tokoh tadi, jika sudah menduduki jabatan dan lupa dengan statusnya, itu sudah keterlaluan dan sangat disayangkan “Malah dan politiknya dapat dijadikan greget untuk memajukan kesenian yang telah kesohor ini,” papamya.

Seperti yang dialarni Mbah Mardi Kutu, warok dari Jetis sekaligus.cucu dari Ki Ageng Kutu atau Demang Suryongalan jni, contohnya tetap eksis dan kukuh. Bahkan dirinya rela untuk melepas jabatan sebagai Kades untuk “mendapatkan” diri sebagai. Warok dengan peguron saja.

Boleh dibilang, Mbah Mardi Kutu seorang warok sejati yang menginginkan  kehidupannya betul~betul sebagai warok. Bukan sebagai warokan. Sementara Mbah Wo Kucing sendiri juga lebih banyak ngopeni ilmu yang sudah didapatkan dalam pengembaraannya semasa masih muda.

Dengan memilih ilmu kapribaden, yakni mengenai ketuhanan untuk hubungan sesama manusia dirinya juga telah bergabung dengan ilmu kejawen, Purwo Ayu Mardi Utomo. Sehingga harapnya apa yang selamadidapatkan tidak akan sia-sia dan hilang begitu saja Sehingga anak cucunya kelak bisa meneruskan sebagai warisan leluhur.

“Saya sendiri juga punya harapan seni reog terutama waroknya bisa terus berkembang,” jelas Mbah Wo Kucing ketika ditemui disela-sela acara pun cak Grebeg Suro belum lama ini.

Sementara pihak Pemda sendiri juga terus berpacu untuk mengangkat kesenian reyog. Tak ketinggalan kehidupan para warok yang boleh.dikatakan agak tersisih, kurang perhatian.Lebih banyak tercurah dengan reog yang akan ditawarlam sebagai produk kesenian lokal ke tingkat internasional.

“Kalau dulu reog kita angkat Imtuk memperkenalkan ke event lnteruasional, sekarang ini rnempunyai tni lp n bagaimana kesenian yang ada tidak berkonotasi negatif dimata pernirsa,” jelas Bupati Drs Markum Singodimedjo saat dijurnpai Memorandum di pringgitan agung. Menurut Bupati yang mulai kesengsem seni tayub ini, reog sudah waktunya untuk aja.pg promosi.

Khusus penari jatilan yang kini mu, l&-i- diperankan oleh ‘Perempuan, me.tiurutnya hanya berpedoman pada pakem yang ada. Sehingga rianti talc ada- salah tafsir yang macarn-macam dengan status penari jatilan yang dulu dilakukan laki-Iaki. “Kalau diperankan perempuan kan lebih luwes”.

Untuk memperkaya dan melestari kan kesenian reog, saat iill di setiap desalkelurahan diwajibkan mempunyai grup reog. Berikut pe,nari yang terdiri dari dadak merak plus barongpnnya, perangkat baju Klono Sewandono, jatilan: pujangganong dan para warok pengiring serta penabuhnya.(budi s/habis)

Reog, Kerajinan

Bertahan Hidup di Bawah Reog
Siang itu Sarju duduk menghadap beberapa pekerjanya yang tengah mengerjakan pesanan kepala singa yang akan dikirim minggu depan ke Jawa Barat. Tidak seperti hari biasanya, Sarju yang tepat duduk berada di belakang display usahanya itu tidak lagi dapat mengarahkan pekerjanya yang tengah membuat peralatan reog. Karena penyakit stroke yang dideritanya sejak satu bulan lalu, Sarju memang tidak dapat berbicara, untuk berjalan menuju tempat usahanya saja, dia harus dibopong oleh beberapa anggota keluarganya.

Untungnya Sarju masih memiliki menantu yang juga mencintai kesenian reog, sekaligus terampil membuat peralatan reog. Kini usahanya dijalankan oleh menantunya, Supriyanto, dibantu enam karyawan tetapnya. Sarju adalah salah satu pengusaha peralatan reog di Ponorogo yang hingga kini masih tetap eksis mengembangkan usahanya.

Tempat usaha di samping kediamannya, di Jl. raya Ponorogo Purwantoro, di Desa Carat Sumoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, itu masih terlihat ramai pembeli yang meneari aksesoris reog seperti kaos, celana panjang, cambuk kecil dan topeng kecil, atau miniatur kepala reog, dan sebagainya.

Supriyanto menjelaskan, aktif di perkumpulan reog selama kurang lebih 35 tahun dan sempat berkeliling dunia untuk bermain pertunjukan reog, menginspirasi mertuanya untuk memproduksi peralatan reog sendiri, seiring dengan semakin terkenalnya seni reog. Pertimbangan tenaga karena usianya sudah semakin tua, Sarju pada 1994 memulai membuka usaha memproduksi peralatan reog beserta aksesoris pendukungnya.

Sedikit demi sedikit perlengkapan reog yang diproduksi Sarju seperti peralatan, musik reog, dadak, topeng, barongan, topeng bujang ganom dan busana reog laris diserap pasar dari dalam maupun luar negeri seperti Arab, Amerika, Australia dan Rusia.

Untuk satu paket peralatan reog dengan kualitas biasa, Sarju menjual dengan harga Rp 24 juta. Sementara untuk paket dengan kualitas super, perlengkaan reog dijual  dengan harga Rp 30 juta. “Paket super itu dengan lebar dadak yang lebih besar berukuran 2,25 meter dengan berat 25 kilogram dan tampilan kepala singa yang lebih seram,” katanya.

Penjualan peralatan reog akan meningkat hingga 30 persen menjelang waktu-waktu tertentu seperti menjelang bulan Agustus dan bulan Muharam.

Bahan Alam
Pembuatan perlengkapan seni reog sebagian besar memanfaatkan bahan-bahan alami seperti kayu. Kayu biasanyadimanfaatkan untuk membuat kepala singa, topeng, dadak dan alat penyangga genongan. “Untuk kepala singa dan topeng, kayu yang dipakai biasanya kayu dadap, sementara untuk dadak menggunakan rotan dan bambu,” kat;a Supriyanto. Selain menggunakan kayu, beberapa bagia perlengkapan reog lainnya menggunakan bagian tubuh binatang, seperti ekor kambing atau sapi untuk rambut topeng, bulu merak untuk menghiasi dadak, dan kulit macan. untuk kepala singa.

Supriyanto mengaku seringkali merasa kesulitan untuk mendapatkan beberapa jenis tubuh binatang, seperti rambut ekor sapi untuk rambut topeng, bulu merak untuk dadak, atau kulit macan untuk kepala reog. “Kadang untuk mengantisipasi terbatasnya bahan kulit macan, kami gunakan kulit sapi yang digambar motif kulit macan,” katanya.

Tapi khusus untuk bulu merak, dia sengaja khusus mendatangkan dari India, karena kualitas kulit merak India lebih bagus dari warna dan motif. Bulu merak tersebut biasanya didatangkan pada bulan November Desember, karena saat itu merupakan musim rontok bulu merak. Dia juga mendatangkan dalam jumlah besar, agar dapat dijadikan stok untuk kebutuhan selama satu tahun.

Keluarga besar Sarju memang terkenal sebagai keluarga pecinta reog. Dua orang putranya membantu membesarkan usaha pembuatan peralatan reog, sementara tiga menantu laki-lakinya juga turut membantu, termasuk Supriyanto. Beberapa di antara putra dan menantunya juga masih aktif di perkumpulan-perkumpulan reog di Ponorogo.

Karena itu dia termasuk paling getol yang menolak klaim bahwa reog milik Malaysia. “Reog Ponorogo adalah kesenian asli lokal Ponorogo, bukan Malaysia,” tuturnya. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel dinukil Tim Pusaka Jawatimuran  dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TEROPONG, Edisi 51, Mei- Juni 2010, hlm. 35