GLIPANG, Kabupaten Probolinggo

SEJARAH KESENIAN
Kesenian Glipang merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang tumbuh dan berkembang di daerah Kabupaten Probolinggo, tepatnya di Desa Pendil. Secara administratif, Desa Pendil termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Banyuanyar.
Ketinggian wilayah Banyuanyar mencapai 89 meter di atas permukaan air laut. Suhu udaranya berkisar 27°C sampai dengan 32° C. Dengan demikian, Banyuanyar termasuk dataran rendah.
Jarak antara pusat pemerintahan Banyuanyar dengan desa yang paling jauh mencapai 8 km. Sedangkan jarak antara Banyuanyar dengan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Timur (Surabaya) sekitar 113 km. Wilayah Banyuanyar terdiri dari tanah sawah (+ 1.784 hektar) dan ladang kering (+ 2.476 hektar). Jumlah desa yang ada di wilayah Kecamatan Banyuanyar sebanyak 14 desa, termasuk Desa Pendil.
Desa Pendil terletak di sebelah timur pusat pemerintahan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Desa Pendil sekitar 169.170 hektar. Ketinggian daerahnya mencapai 14 meter di atas permukaan air laut. Jarak Desa Pendil dengan pusat pemerintahan Kecamatan Banyuanyar sekitar 7 km. Sedangkan jarak Banyuanyar dengan Probolinggo sekitar 13 km.
Batas-batas wilayah Desa Pendil, yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pikatan. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Desa Alassapi. Sebelah Selatan berbatasan
dengan Desa Klenang Lor. Sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tarokan. Desa-desa yang berbatasan dengan Desa Pendil tersebut semuanya termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Banyuanyar.
Sifat kegotongroyongan pada masyarakat Desa Pendil masih tampak dalam kehidupan sehari-hari. Hidup rukun dan gotong royong merupakan sifat masyarakat pedesaan yang masih melekat di Desa Pendil. Sebagian besar penduduk Desa Pendil bermatapencahariaan sebagai petani dan pedagang.
Kecamatan Banyuanyar memiliki beberapa jenis kesenian tradisional yang hampir punah keberadaannya. Kesenian Glipang merupakan salah satu kesenian milik masyarakat Desa Pendil. Dan sekarang kesenian Glipang sudah diakui menjadi ciri khas kesenian Kabupaten Probolinggo. Kesenian Glipang ini memiliki corak dan nilai estetis tersendiri sebagai pancaran kebudayaan masyarakat tersendiri.
Kesenian Glipang ini berlatar belakang pada kebudayaan Madura yang beragama Islam. Pada waktu itu, sekitartahun 1912, banyak orang Madura melakukan migrasi lokal ke Pulau Jawa. Tepatnya di sepanjang pantai Pulau Jawa bagian timur. Alasan migrasi yang mereka lakukan itu adalah untuk mencari pekerjaan. Mereka ingin memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pak Saritruno termasuk orang yang melakukan migrasi tersebut, la kemudian menetap di Desa Pendil. Di Desa Pendil Pak Saritruno telah mendapat pekerjaan. Pekerjaan Pak Saritruno adalah sebagai mandor tebang tebu di Pabrik Gula Gending. Pada waktu itu Pabrik Gula Gending masih dikuasai Belanda. Jadi, Pak Saritruno bekerja di bawah kekuasaan Belanda. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai mandor tebang tebu, Pak Saritruno sering terjadi konflik. Hal ini disebabkan oleh tingkah laku para sinder Belanda. Mereka dianggap bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk pribumi.
Diperlakukan seperti itu, Pak Saritruno merasa tidak puas. Rasa kebangsaannya tergugah, la ingin melakukan perlawanan, la mengumpulkan orang-orang pribumi. Tujuannya untuk membentuk suatu perkumpulan. Sedangkan tujuan lainnya adalah untuk menyusun sebuah kekuatan untuk melawan penjajah Belanda. Mereka sangat jengkel terhadap tindakan penjajah Belanda. Tindakannya selalu sewenang- wenang terhadap bangsa pribumi. Kegiatan yang dikembangkan dalam perkumpulan ini adalah latihan ilmu bela diri pencak silat.
Pak Saritruno mengajarkan berbagai jurus silat. Awalnya, kegiatan latihan ini dilakukan secara sembunyi- sembunyi. Karena bila latihan bela diri itu dilakukan secara terang-terangan akan mengundang kecurigaan Belanda.
Untuk menghilangkan kecurigaannya, Pak Saritruno menciptakan musik. Musik yang diciptakannya itu digunakan untuk mengiringi gerak-gerak pencak silat. Sehingga kegiatannya seakan tampak seperti kegiatan seni.
Dari latar belakang inilah, maka terciptalah musik ciptaan Pak Saritruno. Musik yang diciptakan Pak Saritruno itu dinamakan musik Gholiban. Kata gholiban berasal dari bahasa Arab, artinya kebiasaan.
PakSaritruno menamakannya demikian, karena beliau tidak senang dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh Belanda. Akhirnya perkumpulan pencak silat itu lebih dikenal sebagai kesenian gholiban. Kata gholiban berubah
menjadi glipang. Hal ini dikarenakan pengaruh dari dialek orang Jawa. Karena penduduk asli Desa Pendil adalah Jawa. Maka, kata gholiban diucapkan gliban. Akhirnya, gliban menjadi glipang.
Dalam memilih alat musik Glipang, Pak Saritruno mengalami kesulitan. Penduduk Desa Pendil tidak mau menggunakan alat musik gamelan. Mereka menganggap alat musik gamelan merupakan alat musik yang kurang cocok dengan lingkungannya.
Akhirnya, Pak Saritruno memilih alat musik lain. Alat- alat musik tersebut adalah jidor, hadrah atau terbang, ketipung, dan terompet.
Bentuk kesenian Glipang, pada awalnya berbentuk jurus-jurus silat utuh. Dalam perkembangan selanjutnya dibuat sebuah tarian. Tarian ini dinamakan tari Kiprah Glipang. Tari Kiprah Glipang menggambarkan seorang pemuda pribumi yang gagah perkasa. Mereka melakukan uji ketangkasan bela diri. Pada tahun 1920-an, kesenian Glipang terkenal dengan tari Kiprah Glipangnya. Kesenian Glipang semakin lama semakin berkembang. Berkat kreativitas Pak Saritruno, terciptalah beberapa tarian, yaitu tari Baris Glipang, tari Papakan, dan tari Teri.
Oleh masyarakat pada waktu itu, kesenian Glipang banyak dimanfaatkan sebagai hiburan. Selain itu, kesenian Glipang dijadikan sebagai media dakwah tentang ajaran- ajaran agama Islam. Lagu-lagu yang dilantunkannya pun berisi tentang rukun Islam, rukun Iman, kebesaran Tuhan, dan tentang ajaran kebajikan lainnya. Ada hal yang menarik dalam pertunjukkan kesenian Glipang ini. Yaitu adanya tari Papakan dan tari Teri. Kedua
tarian ini merupakan tarian pasangan putra dan putri. Tetapi penari putri dimainkan oleh orang laki-laki. Mereka memakai tata rias dan busana putri.
Pada tahun 1935, Pak Saritruno meninggal dunia, karena sakit. Kedudukannya digantikan oleh Kartodirjo, menantunya. Mulai tahun 1950, kesenian Glipang di bawah kepemimpinan Pak Kartodirjo. Dengan mendapat dukungan dari Bu Asiah, istrinya atau putri dari Pak Saritruno, kesenian Glipang terus berkembang pesat. Bentuk tampilannya banyak dipengaruhi oleh kesenian ludruk. Agar seni pertunjukkan ini tetap jaya dan digemari masyarakat, akhirnya Pak Kartodirjo beserta para pengurusnya memberi variasi pertunjukkan. Pada awalnya hanya tari-tarian saja, lalu penyajiannya ditambah lawakan dan drama.
Cerita yang digunakan dalam drama tersebut berkisar tentang Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Islam. Selain itu, ceritanya kadang-kadang juga disesuaikan dengan perkembangan masyarakat saat itu. Misalnya menceritakan tentang pencurian dan perampokan. Judul ceritanya adalah “Banteng Solo”. Lakon ini menceritakan tentang pencurian dan perampokan. Pesan pada akhircerita, masyarakat diharapkan agar berhati-hati dan tenang dalam menghadapi situasi seperti ini. Kesenian Glipang benar-benar sangat digemari masyarakat. Baik masyarakat Pendil maupun di luar Desa Pendil. Bahkan terkenal sampai di luar wilayah kabupaten, seperti Pasuruan, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Sekitar tahun 1964, kesenian Glipang pentas di Banyuwangi. Tetapi naas bagi rombongan kesenian Glipang. Sepulang dari pentas itu kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Kendaraan yang ditumpanginya jatuh terperosok ke jurang. Akibat dari kecelakaan itu, Pak Kartodirjo meninggal dunia.
Sejak saat itulah perkumpulan kesenian Glipang bubar. Bahkan hampir mengalami kepunahan. Baru setelah pada tahun 1970-an, kesenian Glipang mulai bangkit kembali.
Bu Asiah dan Soeparmo, putranya, berupaya untuk mendirikan kembali. Berkat kerja keras Bu Asiah dan Soeparmo, kesenian Glipang mulai bangkit kembali. Mereka mulai mengadakan pementasan-pementasan. Soeparmo, selaku pimpinan perkumpulan seni Glipang, berusaha untuk menggali seni Glipang yang pernah jaya pada masa itu.
Saat itu kesenian Glipang belum mendapat perhatian dari pemerintah. Berkat kerja keras Soeparmo dan kawan- kawannya, mereka berhasil mengumpulkan orang-orang yang mempunyai jiwa seni. Mereka diajak untuk membentuk suatu wadah organisasi kesenian. Akhirnya berdirilah sebuah sanggar seni yang diberi nama Sanggar Andhika Jaya.
Kesenian Glipang semakin lama semakin berkembang. Tepatnya tanggal 5 Februari 1985, Sanggar Andhika Jaya secara resmi telah terdaftar di Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Timur, dengan nomor induk kesenian: 031/111.0416/104.28/1993.
Kini kesenian Glipang telah diakui sebagai seni asli daerah Probolinggo. Kesenian ini memiliki tarian khas, yaitu tari Kiprah Glipang. Karena tarian ini memiliki sejarah perjuangan.
Mulai tahun 1985, kesenian Glipang lebih leluasa untuk mengembangkan potensinya. Pementasan sering dilakukan di mana-mana, baik atas permintaan masyarakat maupun pemerintah. Maraknya perkembangan musik dangdut, karaoke, televisi, film, dan video, kesenian Glipang hampir tersisih. Masyarakat lebih banyak memilih hiburan musik dangdut, karaoke, film, dan video. .Untuk mengatasi persaingan ini, maka seni pertunjukkannya diselingi musik dangdut dan karaoke. Dengan demikian kesenian Glipang tidak lagi ditinggalkan masyarakat.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: “GLIPANG” Seni Tradisional Probolinggo/ Suyitno; Irvi Jaya, 2011. hlm. 1-7, (CB-D13/2011-694)

Musik pengiring Kesenian glipang

Kesenian glipang, kesenian asli tradisi Probolinggi ini kecuali disajikan dalam bentuk tari dan drama (sandiwara) juga diiringi musik dan vokal. Secara umum bisa dikatakan sebagai berikut, ciri-ciri dari penyajian keseni­an glipang. Pada pola penyajian keseni­an memiliki struktur tertentu dan tema tertentu, serta lagu-lagu yang dibawakan bernafaskan agama Islam.

Alat-alat nusik yang digunakan terdiri dari sebuah Jedhor, dua buah ketipung besar (lake’an dan bhine’an), tiga sampai lima terbang/kecrek. Pola permainan musik merupakan ansamble dari jedhor, terbang / kecrek dan vokal.

Bahasa yang digunakan dalam vokal/dialog adalah bahasa arab, Jawa dan Madura, unsur gerak kreativitas pribadi dari unsur – unsur gerak pencak silat. Tokoh-tokoh pelaku sesuai dengan lakon yang dibawakan.

 Alat musik yang digunakan.

Alat musik/karawitan glipang terdiri dari :

–     Dua buah ketipung besar.

Terdiri atas lake’an dan bhine’an, ditabuh tingkah meningkah (saling mengisi), ketipung laki-laki (lake’an) berfungsi memimpin dan memberikan tekanan-tekanan gerak.

–     Satu buah Jidhor.

memberikan tekanan-tekanan tertentu untuk semelehnya (konstan-nya) irama.

–    Tiga buah sampai lima buah terbang/keorek.

mengisi laga dengan cara memberikan suara diantara degupan.

Lagu-lagu yang dibawakan

–     Lagu Awayaro, sebagai lagu pembukaan menjelang penyajian tari kiprah glipang.

–    Pantun berlagu bebas, dibawakan secara bergantian pada penyajian tari pertemuan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm.2-5

Kesenian Glipang, Kabupaten Probolinggo

Kesenian Glipang berkembang dan dikenal di wilayah Kabupaten Probolinggo serta juga didaerah sekitarnya, diantaranya Kabupaten Lumajang, Kabupa­ten Jember, serta Kotamadya Probolinggo oleh karena kesenian Glipang ini meru pakan kesenian tradisional yang sangat digemari oleh rakyat di daerah Kabupa­ten Probolinggo dan daerah sekitarnya seperti Jember, Lumajang dan Pasuruan, maka jenis kesenian ini sangat populer di daerah-daerah tersebut dikalangan rakyat khususnya dikalangan anak-anak rnuda.

Sebagaimana jenis kesenian tradisional lainnya yang terdapat di pro­pinsi Jawa Timur yang mnsing-masing memiliki ciri-ciri khusus sehingga antara yang satu dapat dibedakan dengan yang lainnya, maka jenis kesenian Glipang ini dalam penampilannya mempunyai ciri tersendiri yang akan diuraikan dalam penjelasan selanjutnya dan juga mempunyai unsur pesona khusus, sehingga ditengah-tengah derasnya arus pengaruh kebudayaan asing yang kado.ngkala memukau masyarakat kita, kesenian Glipang di Jawa Timur ini masih bertahan hidup dengan ketegaran yang lcokoh bahkan menunjukkan gejala semakin meluasnya perkembangan seni Glipang khususnya Tari dan Musik Glipang setelah memperoleh penanganan Kantor Wilayah Dopartemen Pendidikan dan Kebudayaan Fropinsi Jawa Timur serta pemerintah daerah setempat.

Pengertian tentang Kesenian Glipang

Kesenian Glipang ialah suatu jenis kesenian pertunjukan, yang membawakan lakon-lakon tertentu (pertunjukan berlakon) yang biasanya dipergelarkan atau diselenggorakan semalam suntuk ; thema lakon atau ceritera berkisar atau bernafaskan ceritera-ceritera agama Islam antara lain tentang kejayaan Islam, ceritera tentang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Istilah Glipang belum dapat dipastikan tentang asal usulnya demikian juga tentang arti kata glipang yang tepat ; namun menurut penjelasan dari bebere.pa sumber yang banyak menangani kesenian glipang ini, istilah gli­pang berasal dari istilah atau kata bahasa Arab “goliban”, yang mengandung makna tentang suatu kebiasaan kegiatan yang selalu dilakukan oleh parasanteri dipondoknya dalam kehidupannya sehari-hari.

Manfaat kesanian glipang

Dalam kehidupan sehari-hari nasyarakat Probolinggo, kesenian glipang sebagaimana telah diuraikan pada awal tulisan ini tetap semarak sebagai suatu jenis kesenian yang digemari rakyat. Kesenian glipang sering ditampilkan pada acara-acara rescpsi bersih desa, panen raya, hajatan keluarga dan sebagainya. Jelaslah bahwa kesenian glipang dapat dinanfaatkan sebagai suatu sosio drama, untuk menyanpaikan pesan-pesan pembangunan yang nenjadi program pemerintah, untuk menciptakan suasana persatuan dan kesatuan di kalangan rakyat dan secara khusus melestarikan warisan seni budaya yang memiliki nilai-nilai luhur*

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

 

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm. 1-2 Dan 5

Madakaripura, Kabupaten Probolinggo

Misteri Madakaripura, Misteri Paguron Desa Negarejo

Embek, embek, embek…! Setiap hari Jum’at apalagi pada Sukra Manis begitu orang Jawa menyebut hari Jum’at Legi. Pasti terdengar suara kambing mengembik dari arah hutan kecil. Itulah yang berlangsung sejak dulu hingga kini di satu dukuh bernama Krajan di desa Negarareja, kecamatan Lumbang, Probolinggo. Darah mengucur selalu di sana, menetes ke tanah makam kuna di hutan itu. Daging kambing itu pun dibagi-bagikan ke setiap orang yang ikut hadir, ikut mengharap “berkah” dari “Mbah Sujud” yang dimakamkan. Kuburan tua inilah yang sejak lama disebut “Pegu ron”. Tempat berguru!

SIAPA yang disebut sebagai Embah atau Eyang Sujud, masyarakat setempat sendiri hanya mampu samar-samar menceritakan. Eyang Sujud itulah orangnya yang pertama membuka, babad alas mendirikan desa yang berpusat di dukuh Krajan ini. “Mulai kakek-nenek kami sudah disebut Mbah Sujud dan Lemah (tanah) Peguron,” begitu warga dukuh bersaksi. Yang jelas ternyata tidak hanya warga setempat sendiri yang pada hari Jum’at sengaja melak-sanakan upacara di tanah Peguron, tapi juga ada saja yang sengaja datang dari luar daerah Probolinggo. Khususnya mereka yang tergolong “pinter”, tergolong orang Jawa yang su­ka “ilmu”, tahu bahwa ada “yoni” di petilas­an Mbah Sujud.

Pokokipun tiyang pundi-pundi katah ingkang namu” (Pokoknya orang dari mana-mana ada saja yang ke sana), tutur bangga mbah Sahat, nenek tua yang tetap sehat wa­lau usia hampir 100 tahun dan masih meladeni siapa saja yang ingin dipijat. Cerita mbah Sa­hat, dulu terlalu sering orang datang “nyepi” ke Peguron untuk memperoleh kesaktian. Masih ingat si nenek ketika masa mudanya sering melihat langsung orang yang sedang mencoba kadigdayan, kesaktian mereka yang diperoleh dari Peguron. Bacok-membacok, tapi nyatanya tak ada luka sedikit pun di badan mereka. Yang hancur hanyalah pakai­an, baju dan sarung robek tak karuan. Dulu, beberapa pendekar ikut menjaganya. Supaya perampok, pencuri dan orang-orang jahat lainnya tidak ikut nyepi di kuburan Peguron. Ketika zaman revolusi itulah Peguron amat penuh dengan para pejuang kita yang nyepi cari kekebalan. Ternyata menurut cerita, me­reka jadi tak mempan peluru oleh tembakan para tentara Belanda. “Saya jadi awet sehat, tetap diberi umur panjang ini juga karena tak melupakan ke sana,” mengaku mbah Sahat.

Si Kuru lan Si Lemu
Ini kisah yang terjadi berabad-abad silam. Ada 2 lelaki bersaudara sedang bersaing mencari kesempurnaan hidup, untuk menda­patkan tempat tertinggi di sorga nanti. Yang sulung bernama Si Kuru sebab kurus-kering kurang makan, sedang adiknya Si Lemu yang berbadan gemuk. Si Kuru setiap harinya ber­puasa terus, kalau makan hanya dedaunan yang masuk ke perut. Itu pun dilakukan ha­nya demi kelangsungan hidupnya. Sedang Si Lemu memakan apa saja yang dapat dima­kan, asal tidak merugikan orang lain. Kedua­nya selama bertahun-tahun memang dikenal paling suka memberikan pertolongan apa saja terhadap masyarakat. Juga, selalu memba­ngun keperluan keagamaan.

Di usia menjelang kematiannya, Dewa da­tang mencoba. Seekor harimau putih disuruh mendatangi kedua bersaudara itu. “Saya la­par, sudah lama tidak mendapatkan daging segar,” ucap si harimau yang bertubuh besar, sambil mengaum menakutkan, nampak gigi dan taringnya. “Apa tidak salah memilih saya yang kering,” jawab Si Kuru gerqetar, keri­ngat dingin mengalir dari seluruh tubuhnya. “Tapi kalau Dewa memang menentukan saya yang jadi korban, saya pun menurut,” lanjutnya. Harimau itu mengaum, lantas mengangguk-angguk mengatakan bahwa Si Kuru merupakan salah satu contoh manusia yang mulia. Ketika harimau itu ganti berta­nya ke Si Lemu, langsung pula manggut- manggut memuji kemuliaan jiwanya. Sebab Si Lemu langsung bersedia menjadi korban.

Kedua bersaudara itu mendengar janji ba­kal masuk sorga. Tapi tetap penasaran belum mendapat kepastian siapa di antara keduanya yang lebih tinggi derajatnya di sorga, nanti. Si Kuru lantas menggugat Dewa, selekasnya di­beri jawaban. Begitulah, lalu ada petunjuk Lengkapnya  supaya keduanya bertapa, menyongsong kematian, mengakhiri kehidupan dengan sem­purna. Si Kuru memilih di puncak satu bukit. Si Lemu di dalam hutan. Sebab konsentrasi­nya maka keduanya tetap duduk bersila sela­ma berminggu-minggu, tanpa makan, mi­num dan tidur. Percuma saja berbagai binatang dan mahluk halus menggoda, memba­ngunkannya. Tiba-tiba saja puncak bukit jadi hangus, terbakar. Dari panas badan Si Kuru yang menuntut Dewa agar selekasnya roh di­rinya melayang menuju sorga. Memang dika­bulkan. Si Kuru terbang lebih dulu masuk ke Nirwana.

Beberapa lama kemudian barulah Si Lemu menyusul, memang tiba waktu sebenarnya meninggal dunia sebab usia, sebab raga tak loiasa lagi bertahan. Di Nirwana, Si Kuru ma­sih belum puas. Tetap bertanya ke Dew ; siapa sebenarnya yang lebih tinggi derajat di dalam kehidupan sorganya. Dewa pun lalu menyuruh menyaksikan sendiri pada tempat bekas yang mereka gunakan bertapa. Siapa lebih tinggi derajat, maka bekas tempat ber­tapa, petilasannya didatangi peziarah. Sebab

ketika hidupnya Si Kuru lebih sering memin­ta pada Dewa dibanding Si Lemu. Maka se­bagai gantinya peziarah yang datang memin­ta di petilasan Si Lemu oleh Dewa dikabul­kan. Nah, sejak itulah makam alias petilasan Si Lemu didatangi orang. Sedang petilasan Si Kuru semakin jarang didatangi, akhirnya di­lupakan, dan dimana bekasnya, orang zaman kini tidak bisa lagi menunjukkan. Petilasan Si Lemu sebaliknya semaian dikenal sebagai makam Mbah Sujud alias Mbah Ujud. Sebab disitulah orang berziarah bersujud, lantas permintaannya berwujud, terlaksana.

Gending Punggung Gunung
Ketika kedua bersaudara itu “muksa” me­nuju Nirwana, konon, dari kerajaan para De­wa terdengar alunan gending-gending de­ngan tetabuhan gamelan Lokananta. Cerita­nya, seperangkat gamelan maupun sejumlah wayang kulit kadang menampakkan diri di punggung gunung kecil yang berada di atas pedukuhan Krajan. Untuk melihatnya di zaman kini memang terbilang langka, sebab haruslah orang yang mencapai “ilmu” tinggi.

Namun bagi masyarakat awam, sejumlah wayang kulit itu bisa dilihat sewaktu-waktu di sana. Sebagai sejumlah batu biasa, tapi kalau dibayang-bayangkan, kok, menyerupai wayang. Makanya disebut Watu Wayang.

Watu Wayang sepertinya sengaja berha­dapan dengan puncak Bukit Pesantren yang berada di wilayah kabupaten Pasuruan. Ya, dari kedua puncak itu bila maifmelihat ke ba­wah yang terletak di antara keduanya, se­buah sungai penuh batu mengalir ke arah uta­ra. Itulah Kali Laweyan yang mengalir menu­ju Laut Jawa sepanjang perbatasan kabupa­ten Probolinggo dan Pasuruan. Melewati Pamotan, Klampok, Tongas lalu bermuara di Tambakrejo. Bening pada musim kemarau, berwarna coklat dan gemuruh di musim huj­an seperti saat ini. Kalau ada warga desa memberikan “sesaji” di tepi sungai, pada po­hon-pohon besar, pada batu yang punya “yoni”. Maka ayam-ayam dari seberang sana pun tergiur pada ceceran nasi. Terbang, me­lompat dari batu ke batu, lalu ikut member­sihkan sisa “selamatan”. Gabruk, gabruk, ga- bruk…! Antar jago yang belum saling kenal beradu jago. Kukuruyuk…! Yang menang, memang jagonya jago, sombong, menenga­dahkan kepala ke langit.

Gajahmada?
Menyusur sungai kecil Laweyan ke arah hulu, menentang arus sejauh lebih sejam me­langkahkan kaki, ternyata sampailah kita ke obyek wisata yang kini mulai didatangi turis asing. “Madakaripura”, itulah air terjun yang legendaris. Konon, di situlah dulu mahapatih Gajahmada tapa kungkum, bertapa dengan berendam air untuk memperoleh kesaktian. Beberapa warga desa setempat mempercayai bahwa tokoh yang dikatakan sebagai Mbah Ujud, Mbah Sujud atau Si Lemu inilah pula yang pernah menjadi patih terkenal Majapa­hit yaitu Gajahmada. Lho…V. “Duka ‘nggih, menawi lare sekolah mboten percados” (En­tah ya, bila anak sekolah tidak mempercayainya), ungkap beberapa petani yang sedang si­buk menggaru sawan di lereng bukit ke Li­berty. Katanya pula, dulu hanya masyarakat setempat yang mengenal nama Madakaripu­ra. Tapi kemudian semua pun mulai datang dari jauh, mengunjungi. Mada adalah singkatan dari Gajahmada. Kari, akhir, maksudnya Gajahmada di usia tua. Pura, tempat bersemedi. Ya, dikisahkan akhirnya Sidang Sapta Prabu yang dulu sung­kan dan takut pada Gajahmada, berani ter­ang-terangan menyalahkan Gajahmada yang menimbulkan perang Bubat itu. Sidang Sapta Prabu merupakan penasehat prabu Hayamwuruk yang terdiri dari 7 orang raja-ratu mu­lai dari orangtua Hayamwuruk, mertua, suami adiknya dan seterusnya. Semuanya merupakan raja-ratu yang masih berkaitan darah dengan Hayamwuruk sendiri. Namun selama bertahun-tahun kalah wibawa dengan Gajahmada. Dalam Perang Bubat itu Dyah Pitaloka putri Sunda yang amat cantik dan di­cintai Hayamwuruk terpaksa melakukan bu­nuh diri demi membela ayahnya yang tersing­gung merasa dihina Gajahmada.

Gajahmada tersinggung hatinya mengha­dapi Sapta Prabu dalam sidang yang menya­lahkan kebijaksanaannya hingga terjadi Per­ang Bubat. Saat itu sang mehapatih memang telah mulai berusia lanjut. Lantas sering minta cuti untuk pulang ke tempat asalnya di Pro­bolinggo, alasannya sakit-sakitan. Di tempat kelahirannya ia memang melakukan tapa kungkum. Dalam Kidung Sundayana diceri­takan Sapta Prabu memerintahkan prajurit- prajurit Majapahit pergi ke Madakaripura untuk menangkap tokoh yang pernah meng­ukir zaman keemasan Majapahit itu. Rumah Gajahmada dikepung. Ketika mereka masuk ke dalam, ternyata Gajahmada “muksa”. Le­nyap, pergi ke sorga. Itulah salah satu versi akhir hayat sang mahapatih. “Dadosipun, ni- ki kenging percados kenging mboten, swargi sinuwun Gajahmada tapanipun inggih ‘teng Madakaripura, inggih ‘teng Peguron” (Jadi, boleh percaya boleh pula tidak, mendiang Gajahmada itu bertapa di Madakaripura maupun di Peguron), tutur petani tua itu, ya­kin.

Pilihlah Air Panguripan !
Memasuki celah bukit mendekat Madaka­ripura kalau tak mau berbasah kuyup, bisa menyewa payung dan membeli tas kresek un­tuk menyimpan bawaan pengunjung yang tak ingin ikut basah. Ya, walau tak ikut man­di di air Madakaripura, sebab air terjun itu di­percaya punya khasiat, siapa pun yang masuk ke ce lah menuju lokasi Madakaripura pasti­lah berbasah kuyup bila tanpa payung. Ya, di celah itulah berlangsung hujan abadi. Tetap hujan walau musim kemarau, apalagi di mu­sim hujan seperti sekarang. Hujan ini meru­pakan cipratan-cipratan air dari atas, dari se­kian asal Madakaripura sebagai air terjun. Ya, kalau mau tahu ternyata terdapat 7 air terjun. Mana paling “ampuh”, paling punya “daya” yang menyembuhkan berbagai pe­nyakit. membuat awet muda, lekas dapat jo­doh, keinginan terkabul dst. Dari yang terbesar itulah jadi nama Lawey­an. sungai berbatu yang “misterius” pula di desa Negarareja khususnya dukuh Krajan. Mengapa masyarakat Kraja punya “pun­den” . punya beberapa batu dan pohon yang “diuri-uri”. Banyak kisahnya. Di antaranya, pohon Kepuh besar itu memang bukan sem­barang pohon yang tumbuh di tepi Kali La­weyan. Dulu sebelum tumbuh besar yaitu pa­da tempat tumbuhnya telah ada Kepuh be­sar. Suatu ketika angin meniup begitu ken­cang. Roboh, menimpa puluhan bocah kecil yang tengah mandi, bermain. Tetapi, aneh­nya tak seorang bocah pun cedera. Anehnya kepala-kepala para bocah muncul di antara dahan dan rantingnya. Mereka semuanya ja­di bisu untuk sekian hari. Bisa buka mulut, bi­cara, setelah beberapa “orangtua” melaksanakan “selamatan”. Ternyata begitu alasan “orangtua”, pohon roboh ke sungai merupa­kan peringatan dari sang danyang. Mengapa memberi “sesaji” dilupakan.

Hingga kini yang tak dilupakan oleh setiap “KK” Krajan yang terdiri dari 118 KK. tutur carik Roya’i, maka di setiap hari Jum’at di se­tiap rumah membuat “krupuk” dari ubi. Mengasyikkan untuk disuguhkan tamu. Kru­puk itu digoreng, tak kenyang-kenyang juga walau semeja dihadapi oleh 4 orang. Kriyak- kriyuk, mengawani kopi panas dan kepulan rokok. Embek, embek, embek…. Pasti ada kambing dijadikan “korban” di tengah hutan dukuh Krajan. Dan, ruang-ruang tamu ru­mah warga dukuh itu punya hiasan dinding khas: kambing, ukiran dari kayu. (Ayiek Narifuddin)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, 1720,16-28 FEBRUAR11990 TH. XXXVII, hlm. 26 sambung 94

Upacara Cuplak Pusar Masyarakat Tengger

Biasanya setelah bayi berumur lima atau 7 hari pusarnya mengering dan terlepas. Kejadian ini diperingati dengan suatu upacara. Upacara ini dilakukan dengan “kekerik”, yang bertujuan untuk melepaskan segala kotoran dari leluhurnya, dan supaya mendapatkan keselamatan. Mantera yang dibacakan diantaranya sebagai berikut:

“getih abang, getih putih diselameti dina iki dadi kabeh nylameti getihe.” Sajian yang disediakan ada lima macam, yaitu jenang merah, putih, kuning, hitam dan hijau. Dukun menerima sajian-sajian dan uang sekedar­nya. Tali-tali ari-arinya ditanam di dalam rumah dan selama lima hari di­beri penerangan pelita.

Pada upacara kekerik ini diadakan suatu sajian yang lebih lengkap. Pada waktu upacara itu ayah, ibu dan bayinya me­makai benang lawe yang telah dimanterai oleh Dukun. Dengan demikian keselamatan akan diperolehnya dan pertalian diantara ayah, ibu dan anak akan menjadi abadi. Tali benang lawe harus dipakai sampai rusak dengan sendirinya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 28

Air Terjun Madakaripura, Kabupaten Probolinggo

INDAHNYA AIR TERJUN MADAKARIPURA

Propinsi Jawa Timur, memang cukup banyak obyek wisata yang menarik. Dengan keindahan panoramanya, keanekaragaman keseniannya, peninggalan sejarahnya serta kekayaan baharinya, yang kini terus digali serta dikembangkan. Selain itu, beberapa atraksi wisatanya yang dimiliki juga mempunyai kekhasan tersendiri. Gunung Bromo sebagai idola panorama wisata bagi Jawa Timur kini semakin dipercantik, lengkap dengan berbagai akomodasi serta obyek wisata lain yang cukup menunjang.

Seperti halnya obyek wisata air terjun Madakaripura yang indah dan alami. Untuk menuju Gunung Bromo, dari Kota Kabupaten Probolinggo lewat Tosari alangkah senangnya terlebih dahulu untuk menikmati keindahan pemandangan Air Terjun Madakaripura.

Air terjun Madakaripura yang terletak di desa Tersono, Kecamatan Lumbang Kabupaten Daerah Tingkat II Probolinggo, berada pada ketinggian 620 m dari permukaan air laut dengan memiliki tujuh air terjun. Disini keindahan air terjun Madakaripura menjadi obyek wisata kedua setelah gunung Bromo.

Untuk menuju ke lokasi air terjun ini, sekarang tak begitu sulit. Jalan menuju obyek tersebut, kini tampak mulus, pembangunan pembenahan jalan tersebut menghabiskan dana sekitar Rp 2,2 milyar. Setidaknya, kini terasa semakin siap untuk menerima wisatawan baik untuk wisatawan mancanegara maupun nusantara.

Sekarang, berbeda dengan yang dahulu, Apabila dahulu untuk menuju ke lokasi air terjun harus menempuh jalan setapak naik turun penuh dengan bahaya. Namun, kini wisatawan begitu mudah untuk sampai di Siling I sebagai pemberhentian terakhir, hanya cukup berjalan di atas plengsengan sejauh 1 km saja. Dengan demikian jika terjadi banjir sudah tidak membahayakan lagi bagi pengunjung.

Bahkan Pemda Kabupaten Probolinggo, kini terus melakukan pembenahan di segala bidang, termasuk beberapa perlengkapan lain. Pembenahan yang dilakukan ini, memang untuk membuat kerasan para wisatawan yang datang di tempat wisata air terjun Madakaripura tersebut. Dan tak lama lagi, direncanakan ada angkutan khusus untuk menuju Siling I yakni berupa angkutan wisata.

Air terjun Madakaripura yang merupakan tempat moksanya Patih Gajah Mada pada zaman Majapahit, sangat perlu dan cukup menarik untuk dikunjungi wisatawan, karena mempunyai berbagai keindahan dan kemisteriusan, bahkan disana terdapat air kehidupan.

Menurut keyakinan masyarakat sekitar, jika mandi di air itu selain akan awet muda juga dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Tetapi benar dan tidaknya silahkan mencobanya. Disamping kemisteriusan pada air terjun tersebut, ada pula misteri yang lain, dimana di lokasi ini terdapat tiga buah gua yang belum dapat diungkap mengenai sejarahnya.

Hal ini semakin menambah cantiknya air terjun tersebut. Sejarah menyebutkan di gua itulah sebagai tempat semedi Sang Patih, dan di tempat itu pulalah Sang Palih Gajah Mada mencetuskan Sumpah Palapanya yang sudah kita kenal, melalui buku sejarah. Air terjun Madakaripura yang berada di sekitar hutan lindung milik perhutani, pengelolaannya maupun hasilnya menjadi tanggung jawab bersama antara Pemda dengan Perhutani. Disana jika pada malam Jumat legi akan lebih banyak pengunjungyang datang, bahkan kadang-kadang nampak antrian panjang untuk dapat kesempatan mandi di situ. Pasalnya, obyek wisata air terjun yang juga menjadi perhatian cukup besar Pemda Tingkat I Jatim dan memiliki ketinggian 100 m, konon menurut kisahnya, tempat ini dulunya menjadi tempat meditasi Patih Gajah Mada beserta pengikutnya. Pesona tersebut diwarnai dengan gemerciknya suara air, satwa sekitarnya serta teduhnya pepohonan yang membuat para wisatawan kerasan dan ingin kembali lagi.

Namun untuk mendekat ke air terjun itu lidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus mematuhi peraturan yang ada. Misalnya para pengunjung hanya diberikan waktu mulai pukul 10.00 sampai dengan pukul 14.00 WIB. Karena dikhawatirkan ada ranting atau batu jatuh dari ketinggian tebing.

Di dekat obyek air terjun ini terdapat pula peguron, palung Gajah Mada, dan tempat ini paling banyak dikunjungi wisatawan Cina, dimana tempat itu merupakan makam seorang guru Patih Gajah Mada. (Gus Dur) *****

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  MIMBAR JATIM, EDISI: 153 MEI-JUNI 1993.