Ngekak Sangger

Ngekak Sangger ,,Ngekak Sangger merupakan sebuah tradisi  Upacara adat pengantin desa Legung, kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Madura. Tradisi ini masih beralku dan dilaksanakan, sampai sekarang.

Dalam upacara pernikahan, sebelum calon mempelai pria dipersilakan memasuki tempat upacara, terlebih dulu pihak calon mempelai wanita meminta bayaran berupa kesanggupan pihak calon mempelai pria untuk melakukan Tayub/Tandhang.

Kemudian calon mempelai pria dipersilakan masuk dengan cara berjalan jongkok menuju tempat upacara akad nikah. Upacara akad nikah dilakukan sesuai ajaran agama Islam yang dipimpin oleh seorang penghulu. Setelah pelaksanaan upacara akad nikah.

Acara selanjutnya sebuah prosesi adat yang disebut ngekak Sangger, yaitu mempelai pria diwajibkan merangkai bilah-bilah bambu untuk alas tempat tidur,  mempelai pria terlebih dulu harus diuji keterampilannya, yang kelak merupakan bekal dalam mengarungi hidup berumah tangga serta dalam melindungi keluarganya.

Arti Penganten Ngekak Sangger, dengan pengertian bahwa pernikahan bukanlah sekedar pertautan kedua mempelai, namun dimaknai sebagi masuknya penganten pria dalam ikatan keluarga besar sang isteri, seperti halnya sangger.

Sangger adalah sebuah rangkain yang terdiri dari bilah-bilah bambu yang rapi tersusun dalam satu ikatan. Dalam simbol tersebut sangger mempunyai maknauntuk mendidik penganten pria untuk selalu arif dan tertip, memegang sopan santun sejajar dengan kerabat si Istri. Dilambangakan seperti dalam rangkaian Sangger.

 

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 330

 

Tahapan Upacara perkawinan Ngekak Sangger

PENGANTIN LEGUNGTahapan-tahapan dalam upacara perkawinan Ngekak Sangger di Legung, Kabupaten Sumenep, Madura:

Ngen-angenan atau Khabar; adalah suatu usaha orang tua anak laki-laki dewasa (baligh) yang mencarikan pasangan hidup (istrai) untuk anaknya, dengan jalan meminta bantuan kepada seorang perantara yang disebut dengan Pangadek..

Arabas Pagar; adalah tugas seorang pangadek mencari informasi/ keterangan calon penganten apakah sang calon yang dituju sudah atau belum tunangan.

Abakalan atau tunangan; setelah tugas pangadek  selesai dan si calon dinyatakan masih belum memiliki tunangan dan pihak orang tua serta calon pengantin laki-laki sudah cocok dengan pasangannya, maka tahap selanjutnya adalah Abakalan atau tunangan.

Nyabak Jajan atau Lamaran

BHAN – GHIBAN, adalah prosesi pihak keluarga (rombongan)  calon mempelai laki-laki berkunjung ke calon mempelai wanita, dengan membawa seperangk atalat-alat keperluan wanita seperangkat pakaian, seperangakat peralatan kecantikan dan perhiasan (bagi yang mampu), serta bermacam makanan dan kue..

Balessan atau Tongebbhan, setelah menerima pemberian maka pihak keluarga calon mempelai wanita membalas dengan memberi seperangkat keperluan calon laki-laki serta berbagai macam masakan atau makanan. Setelah proses tersebut berlangsungnya, maka mulai saat itu si gadis atau paraban sudah menjadi bakal  atau tunangan calon laki-laki.

Tradisi Sebelum Upacara Perkawinan

Menjelang hari-hari perkawinan, kedua mempelai mengadakan persiapan-persiapan diantaranya: 

  • Mamapar gigi, memperindah bentuk gigi (meratakan gigi).
  • Pingitan, calon pengantin wanita dipingit dengan orang tua supaya tidak diperbolehkan keluar pekarangan rumah bahkan takut terkena sarapat alias e rok-torok yaitu kerasukan roh halus.
  • Ijab Kabul, ( akad nikah ) untuk mengikuti sunnah Rasul, pelaksanaan di rumah mempelai perempuan.
  • Demar Kambheng, tradisi yang dilakukan oleh sesepuh wanita yang dituakan berpakaian serba tertutup, membawa kendi berisi air beserta dhamar kambhang (lampu minyak) untuk dituangkan sedikit demi sedikit sepanjang perjalanan yang akan dilalui oleh para tamu dan sepanjang perjalanan tidak boleh membalas teguran/sapaan orang membisu. setelah selesai maka sesepuh tadi kembali ke rumah pengantin wanita dan meletakkan dhamar kambhang di kamar si penganten. Prosesi ini dimaksudkan sebagai pembuka jalan demi keselamatan bagi kedua mempelai dalam melaksanakan upacara perkawinan. Acara ini dilaksanakan sehari menjelang pelaksanaan upacara perkawinan adat dengan bertempat di rumah penganten wanita.

Upacara Penganten Adat “ngekak sangger

  • Rombongan keluarga mempelai laki-laki membawa bermacam-macam berangkat menuju rumah mempelai wanita dengan diiringi musik saronen atau musik Hadrah bisa juga kedua kelompok musik tersebut mengiringi bersama-sama dengan aturan bergantian penampilannya.
  • Didalam iring-iringan ini Pengantin Pria seperti seorang raja menaiki Jaran Serek (kuda hias) mengenakan busana penganten yang belum lengkap.
  • Tiba didepan rumah mempelai wanita, rombongan mempelai pria akan disambut oleh seorang laki-laki dari keluarga mempelai wanita.
  • Selanjutnya Pangadek sebagai wakil bicara keluarga pengantin pria yanga menghadapi, dalam proses tersebut terjadi dialog dengan kata-kata kiasan atau parsemon yang intinya minta ijin.
  • Setelah pangadek sudah mendapat ijin dari pihak wakil keluarga mempelai wanita tadi, maka pengantin pria dipersilahkan masuk serambi rumah.
  • Di serambi depan rumah akan terdapat satu buah Sangger yang untaiannya lepas satu persatu. Dalam upacara adat ini penganten pria dituntut harus mengikat atau merangkai kembali untaian Sangger seperti semula, disinilah puncak proses dari upacara adat penganten tersebut dilaksanakan.
  • Selanjutnya penganten pria akan bebenah dengan memakai hiasan penganten lengkap untuk bersiapa-siap menjemput penganten wanita pada acara penganten ngarak dengan berkeliling kampung di desanya sebagai tanda memberitahukan kepada masyarakat bahwa mereka resmi menempuh hidup baru dalam rumah tangga.

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 330

Asta Gumuk, Sumenep

Ilmu belum sempurna sebelum injak Asta Gumuk, Kiai Ali Barangbang dikenal sebagai ulama yang istimewa. Suatu hari, ia sempat memukul anak seorang raja, hingga membuat raja marah dan diminta mengajari kera untuk mengaji. Berkat keilmuannya, si kera pun bisa mengaji. Selain itu, ada anggapan ilmu seseorang belum sempurna sebelum ziarah ke makamnya.

Asta Gumuk0001Di Desa Kalimo’ok, Kecamatan Kalianget, tepatnya di sebelah timur Lapangan Terbang Trunojoyo, , terdapat makam atau orang Madura biasanya menyebutnya asta, yakni makam Kiai Ali Barangbang. Mengapa dikatakan Barangbang, karena makam itu terletak di Dusun Barangbang. Ada juga yang menyebutnya dengan Asta Gumuk, yang artinya makam yang terletak di tanah yang tinggi.

Kiai Ali Barangbang mempuyai silsilah dari Syekh Maulana Sayyid Jakfar, As Sidik atau dikenal dengan Sunan Kudus yang mempunyai keturunan Pangeran Katandur yang mempunyai empat anak yaitu : Kiai Hatib Paddusan, Kiai Hatib Sendang, Kiai Hatib Rajul, dan Kiai Hatib Paranggan.

Dari putra pertamanya yang bernama Kiai Hatib Paddusan inilah Kiai Ali Barangbang dilahirkan. Semasa hidupnya, penyiar agama Islam yang wafat 1092 H ini dikenal seba­gai seorang ulama besar yang sangat disegani. Bahkan raja Sume­nep juga pernah berguru kepadanya.

Menurut legenda, Kiai AIi mempu­nyai kelebihan di luar nalar, yakni bisa mengajari kera berbicara bah­kan sampai bisa mengaji. Diceritakan pada waktu itu, Sumenep pemerintahannya masih berbentuk kerajaan. Salah seorang raja mempu­nyai anak yang dititipkan kepada Kiai Ali untuk belajar mengaji. Ringkas cerita, pada saat belajar mengaji putra raja tersebut dipukul oleh Kiai Ali. Setelah itu putra raja pulang dan mengadukan sikap Kiai Ali pada sang ayahnya.

Asta Gumuk0002Mendengar itu, jelas raja sangat marah namun raja tidak langsung menghukum Kiai Ali. Ia lalu memerin- tahkan sang prajurit untuk memanggil Kiai Ali dan menanyakan alasan putranya sampai dipukul. Tanpa rasa takut Kiai Ali menjawab bahwa sebenarnya dia tidak berniat memu­kul putra raja melainkan kebodohanlah yang dipukulnya agar kebodohan itu tidak menemani putra ra­ja. Mendengar jawaban tersebut raja tersinggung putranya di anggap bodoh. Dengan marah raja lantas mengatakan hal yang sangat mustahil. Raja mengatakan bahwa jika memang K Ali bisa membuat orang pintar dengan memukul maka Kiai Ali boleh pulang membawa kera den­gan syarat harus bisa mengajari kera tersebut mengaji.

Ringkasnya, kera dibawa oleh Kiai Ali ke rumahnya. Dan setiap malam Kiai Ali mengajak kera itu untuk memancing bersamanya sehingga pada suatu malam tepatnya malam ke 39, Kiai Ali memberikan tali tambang yang terbuat dari sabut kelapa kepada si kera dengan cara mengikatkan pada jarinya lalu dibakarnya.

“Hai kera jika sampai pada jarimu api ini saat kunyalakan dan terasa panas di tanganmu maka teriaklah dengan mengatakan panas!” perintah Kiai Ali. Dan, setelah semua dilakukan, saat itulah kera bisa berbicara dan akhirnya sang kera bisa mengaji. Tiba saatnya sang kera un­tuk pulang ke keraton dan menunjukkan kemampuan mengajinya pa­da raja. Di keraton Kiai Ali mengadakan pertemuan besar dengan raja dan disaksikan oleh para punggawa kerajaan sekaligus mengadakan pesta. Setelah semua berkumpul, kemudian sang kera di beri Alquran dan betapa terkejutnya sang raja beserta para punggawa yang hadir ketika melihat dan mendengar kera mengaji dengan indah. Setelah selesai mengaji Kiai Ali melemparkan pisang kepada kera dan berkata “Ilmu Kalah Sama Watak” yang dalam bahasa maduranya “Elmo Kala ka Bebethe”. Dan raja pun ikut berbicara bahwa barang siapa yang menuntut ilmu tidak menginjak tanah Brangbang maka ilmunya dianggap kurang sempurna atau tidak syah.

Cerita Kiai Ali mungkin kedengarannya seperti legenda dan sulit dinalar akal sehat. Namun, entah karena legenda itu atau yang lainnya, makam Kiai Ali sampai sekarang tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah. Mereka datang dengan berbagai tujuan dan keperluan. Mulai yang urusan datang dengan tujuan keilmuan hingga yang soal urusan kelancaran rejeki.

Supriyadi asal Situbondo misalnya sudah beberapa bulan berada di Asta Gumuk. Ia tidak tahu sampai kapan berada di situ sebab belum ada semacam wisik yang memintanya pergi. Sebelum berada di Asta Gumuk, lelaki ini memang dikenal sebagai seorang pengelana yang berpindah dari makam ke makam. Ia mengaku terpesona dengan ke­mampuan yang pernah dimiliki K. Ali karena itu ia ingin menyerap karomahnya.

Selain itu, Supriyadi yakin adanya kepercayaan bahwa ilmu seseorang belum sempurna jika belum menginjakkan kakinya di Asta Gumuk. Karena alasan itulah lantas ia mengunjungi makam Kiai Ali yang cukup termashur di di Sumenep tersebut.

Suhabi, jurukunci makam Asta Gumuk yang sudah menjaga ma­kam ini sejak lima tahun lalu men­gaku para peziarah yang datang tidak saja sebatas dari Madura. Tapi, banyak juga yang datang dari Jawa, khususnya yang berasal dari daerah tapal kuda, seperti Situ­bondo, Probolinggo, dan Pasuruan. Mereka bisa datang secara rombon- gan maupun perorangan.

Namun, sayangnya menurut Su­habi, Asta Gumuk yang memiliki luas area sekitar 100 m X 150 m ini bagian atasnya belum beratap. “Ma­kam Kiai Ali memang tidak diberi atap karena beliau tidak mau, sebab pernah diberi tapi roboh disapu angin. Begitu seterusnya, setiap kali diberi atap selalu roboh. Karena itu­lah lantas ada kepercayaan bahwa makam beliau tidak mau diberi atap,” ujar Suhabi.

Jika makam Kiai Ali tidak bersedia diberi cungkup, tidak demikian yang bagian depannya. Bagian ini menurut Suhabi perlu diberi atap agar orang yang berziarah tidak kehujanan bila musim penghujan seperti begini. Satu-satunya tempat berteduh di tempat itu memang hanyalah mushola kecil dan tempat parkir yang ukurannya juga tidak terlalu besar sehingga tidak mencukupi jika kebetulan orang yang datang dalam jumlah yang besar. Karena itulah pihak-pihak terkait Su­menep perlu memperhatikan tem­pat ini. RUD

Liberty, 11-20 Pebruari 2010, hlm. 72-73

Asta Juruhan, Sumenep

Asta  Juruhan Jujukan Para Usahawan, Tempatnya cukup jauh, namun tidak mengurangi niat orang yang ingin ziarah ke tempat ini. Tiap hari puluhan, bahkan pada hari-hari tertentu jumlahnya mengalami lonjakan yang datang ke makam ini. Konon, telah para para usahawan yang telah sukses setelah lelaku di Asta Juruhan. ASTA JURUHAN0001Asta Juruhan letaknya cu­kup jauh dari Kota Sumenep, sekitar 30 KM. Tepatnya berada di Desa Ju­ruhan, Kecamatan Batu- putih, Sumenep. Namun, letaknya yang jauh tak mengurangi niat orang-orang yang ingin berziarah ke tempat ini. Baik yang berasal dari sekitar Sumenep, maupun yang ber­asal dari Madura. Seperti Situbondo, Probolinggo, maupun Surabaya. Jurukunci Asta Juruhan, H. Fatah menyebutkan bahwa peziarah dari luar Madura banyak yang berasal dari daerah Tapal Kuda. Kemungki- nan ini karena daerah Tapal Kuda memang banyak orang Maduranya yang merantau atau tinggal menetap di sana. Jadi mereka seperti mem- punyai hubungan bathin dengan asal-usul atau kampung leluhurnya. Perlu diketahui, bahwa dulu bah­kan hingga saat ini, Sumenep de­ngan Situbondo dan sekitarnya bisa ditempuh melalui jalur laut sehingga memotong waktu yang lama jika di­tempuh dengan jalur darat lewat Su­rabaya. Hal seperti ini tentu saja bisa dilakukan jika cuaca sedang bersahabat sehingga tidak membahayakan pelayaran. Segala hajat sebenarnya bisa disampaikan di Makam Juruhan. Mulai urusan jodoh, ingin sembuh dari su- atu penyakit, atau urusan bisnis. Berhasil tidaknya suatu hajat seseorang, kata si jurukunci, semua tergantung dari niat orang yang punya hajat itu. Jika memang niatnya tulus dan iklas, katanya, tidak ada keinginan yang tidak terkabulkan. ASTA JURUHAN0002Namun, H. Fatah mengungkapkan bahwa semua doa dan permintaan hendaknya ditujukan kepada Allah SWT. Makam yang berada di tempat tersebut katanya hanya sebagai perantara saja. H. Fatah mengibaratkan bahwa seperti orang yang hendak bertemu dengan seorang pejabat tinggi, hendaknya ia melewati perantara. Sebab, tanpa perantara niscaya keinginan berte­mu itu tidak akan terkabulkan. Siapa sebenarnya jasad yang di- kuburkan di tempat itu, sehingga makamnya sangat dihormati banyak orang? H. Fatah menyebutkan bah­wa orang yang dimakamkan disitu adalah seorang waliullah yang masih mempunyai hubungan dengan salah seorang sunan yang ada di Kudus, Jawa Tengah. Nama waliullah itu adalah Raden Patah, namun tidak sama dengan Raden Patah yang pernah memimpin Kasultanan Demak Bintaro. Menurut H. Fatah, Asta Juruhan meski didatangi orang dari berbagai golongan dan tujuan, namun yang paling banyak adalah para usahawan yang mulai merintis bidang usahanya. Mereka datang ke Asta Juruhan untuk memberikan back up pada bisnis yang sedang dijalaninya. ASTA JURUHAN0003Seperti kebanyakan tempat ziarah lainnya, peziarah yang datang biasanya membawa bunga setaman. Setelah sampai di depan makam, peziarah biasa langsung berdoa sendiri atau dibantu-jurukunci untuk membacakan ayat-ayat tertentu dalam Alquran. Uniknya, selain itu ada semacam nadzar yang jika apa yang menjadi keinginannya terkabulkan akan membawa bantal guling untuk di tempatkan di makam itu. Jurukunci makam tidak tahu secara pasti kenapa banyak orang yang bernadzar seperti itu. Sejak dulu yang memang sudah seperti itu. “Mungkin karena mereka melihat bantal serta gulingnya ada di sekitar makam sejak sebelum-sebelumnya, lantas peziarah yang baru seperti menjadi makium jika itu dianggap sebagai syaratnya,” ungkap Jurukunci. Banyaknya bantal berserta gulingnya yang berada di tempat itu seolah menjadi pertanda bahwa me­mang banyak para peziarah yang berhasil setelah melakukan ziarah di Asta Juruhan. Dan, itu tidak hanya diiyakan jurukunci makam, tapi para peziarah yang baru pertama kalinya datang. Mereka rata-rata sudah mendengar keberhasilan seseorang atau orang-orang dekatnya setelah ziarah di Asta Juruhan. Keunikan lain Asta Juruhan ada­lah banyaknya tangor (pengikat hi­dung sapi) yang digantungkan di atasnya. Bahkan di depan makam, banyak pendagang yang menjualnya seperti sebagai persyaratan ziarah. “Tangor ini bukan sebagai per­syaratan, namun untuk dibawa pu­lang dan dipakaikan ke sapi ternak- nya setelah didoakan di tempat ini,” ucap salah penjual tangor yang ada di depan Asta Juruhan. Bahkan, sejak Sumenep banyak dilanda kasus sapi yang meninggal secara mendadak, Asta Juruhan menjadi jujukan para peternak. Konon, ini adalah salah satu upaya spi­ritual agar hewan ternak mereka se­lalu dalam keadaan sehat. Tentu saja usaha ini dilakukan setelah mere­ka melakukan tindakan pencegahan dengan menjaga kebersihkan kadang serta tidak memberikan makan sapi dengan rumput-rumput yang baru saja terkena pupuk kimia. “Sejak dulu sebenarnya para peternak yang ingin sapinya sehat dan berkembang biak dengan baik melakukan doa di tempat ini. Na­mun, sejak ramai-ramai adanya sapi yang meninggal dengan misterius di Kecamatan Dungkek, memang semakin banyak para peternak, khususnya dari Pulau Giliyang yang ke sini,” ucap jurukunci. Ritual yang dilakukan di Asta Ju­ruhan agar hewan ternak bebas penyakit adalah dengan menaruh tongar di dekat makam selama beberapa malam sembari menaburkan bunga dan mengucapkan niat dalam hati. Setelah itu tongar bisa lang­sung dibawa pulang, namun lebih afdolnya katanya ditinggal selama semalam di tempat itu dan baru diambil pada esok harinya. Konon, usaha ini tidak saja dilakukan para peternak sapi yang ada di Madura, tapi juga di wilayah Tapal Kuda, se­perti Situbondo. • RUD •

LIBERTY,  21-28 Pebruari 2010, hlm. 70-71

Upacara Nadar, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur

Upacara Nadar, di Pinggirpapas Kabupaten-Sumenep-Madura-Jawa Timur

Masyarakat Pinggirpapas Kabupaten Sumenep dipulau Madura, setiap tahun pada musim garam menyelenggarakan sebuah yang diadakan sebanyak tiga kali/tahap. Upacara tersebut dalam bahasa Maduranya dikenal dengan istilah ( bahasa halus ) atau dalam sebutan yang agak kasar nyadar. Makna dari istilah nadar ialah niat, jadi upacara nadar rnaksudnya upacara pelepas niat. Melepas niat atau nadar karena keberhasilan mengusahakan garam, hal ini mengingat usaha garam/membuat garam merupakan mata pencaharian pokok bagi masyarakat Pinggirpapas,

Maksud_PenyeLenggaran Upacara

Tujuan pokok masyarakat Pinggirpapas mengadakan upacara nadar ialah memperingati serta sebagai rasa terima kasih atas jasa Syekh Anggasuta yang menurut kspercayaar mereka adalah merupakan orang pertarna yang menemukan cara pembuatan garam. Maksud lain dari diselenggarakannya upacara nadar tersebut ialah untuk mendoakan arwah para leluhur mereka (embah Anggasuta, embah Kabasa, embah Dukon dan embah Bangsa masing-masing bersama isteri) agar supaya diterima oleh Allah, sehingga mendapat tempat yang layak seperti – Nabi Muhammad, dengan demikian maka anak cucunya akan men dapat barokah dari Allah.

Waktu Penyelenggaraan Upacara.

Upacara pertama diselenggarakan pada waktu mulai pernbuatan garam, yaitu pada sekitar bulan Juli, Pada bulan Juli biasanya sudah ada tanda-tanda tibanya musim kemarau atau musim nemor, Musim nemor dalam bahasa daerah (Madura) artinya musim angin dari arah timur ( Te-mor ) yang kering. Dengan mulai datangnya musim kemarau, maka masyara­kat Pinggirpapas bersiap-siap untuk memulai membuat garam. Sebagai perwujudan dari rasa syukur serta memohon keselamatan maka diselenggarakanlah upacara nadar tahap pertama.

Tanggal/waktu yang dipilih untuk menyelenggarakan upacara nadar pertama tersebut ialah paling awal tanggal 13 dan paling akhir tanggal 19 tahun hijriah.  Penanggalan tahun hijriah dipergunaka sebagai dasar penentuan waktu, karena masyarakat Madura umumnya dan masyarakat Pinggirpapas khususnya adalah merupakan pemeluk Agama Islam yang taat. Pelaksanaan nadar tidak boleh diadakan tanggal 12 ka­rena tanggal tersebut ialah tanggal kelahiran Nabi Muhammad.

Upacara nadar selalu diadakan pada hari Jum1at dan Sabtu. hari Jum’at.ialah acara nyekar (menabur bunga) dimakam leluhur mereka, dilakukan antara jam 17.00 sampai jam 17.30 ( tidak boleh melewati waktu maghrib ). Upacara nadar ( sebagai upacara pokok ) diselenggara­kan pada hari Sabtu pagi, mulai jam 07,30 sampai jam 08,30*

Upacara nadar tahap kedua mengambil waktu satu bulan sesudah upacara nadar tahap pertama, cara penentuan hari dan tanggal sama ( hari Jum’at dan Sabtu antara tanggal 13 sampai dengan tanggal 19 penanggalan tahun hijriah ). Upacara tahap ketiga agak berbeda dengan upacara-upacara nadar tahap-tahap sebelumnya (tahap pertama dan kedua), disamping lokasi dan acara yang berbeda, juga dalam hal waktu ada sedikit perbedaan yang hal ini disesuaikan – dengan bentuk kegiatannya,

Penentuan hari dan tanggal sama dengan upacara tahap pertama dan kedua hanya bulannya berbeda, upacara tahap ke­tiga diadakan satu bulan setelah upacara tahap kedua. Pada upacara nadar tahap ketiga ini tidakada acara nyekar ( menabur bunga ) ke buju’ ( kuburan ), maka acara pada sore hari tidak ada. Acara baru dimulai pada malam hari, yaitu membaca layang ( ceritera yang ditembangkan atau dilagukan ) Jati Sara dan Purnana Sembah yang berlangsung dari jam 19.00 sal pai dengan jam 02,00. Pada pagi harinya mulai jam 07.00 sampai jam 08.00 – diadakan rosulan ( selamatan ) ditempat ( rumah ) embah – Anggasuta, dan embah Dukon (tempat membaca kedua layang – tersebut ).

Malam menjelang acara nadar (Jurn’at menjelang Saptu) peserta upacara sibuk memasak untuk selamatan pagi harinya. Memasak serta mempersiapkan segala keperluan selamatan mengambil tempat di­desa Kebondadap, dengan menumpang dirumah beberapa penduduk, desa Kebondadap, tempat menumpang ini untuk setiap ta­hun tetap sama ( tidak berganti tempat ). Upacara pokok nadar tahap pertama dan kedua yang berrupa selamatan diselenggarakan dikomleks buju’ gubang, Se­lamatan diadakan disebuah lapangan yang cukup luas didepai kompleks makam, tempatnya agak terlindung dari sinar mata- hari pagi karena berada dibawah sebuah pohon asam yang cu­kup besar. Upacara nadar tahap ketiga disebut juga upacara bungkoan, bungko dalam bahasa Madura artinya rumah jadi upa­cara bungkoan artinya upacara yang diselenggarakan dirumah, Mernang upacara nadar ketiga ini tidak diselenggara­kan di buju Gubang sebagaimana upacara nadar pertama dan kedua, melainkan diadakan didesa Pinggirpapas sendiri.

Mereka menyiapkan keperluan upacara (memasak) dilakukan dirumah mereka masing-masing, sedangkan acara pokok (mem­baca layng pada Jum’at malam dan rosulan atau selamatan pada Sabtu pagi) diselenggarakan ditempat kediaman embah Anggasuta dan embah Dukon. Kegiatan upacara nadar ketiga ( baik membaca layang Jati Suara dan Purnama Sembah maupun selamatan ) diadakan diserambi dan halaman rumah, ( rumah yang dahulu sebagai tempat tinggal embah Anggasuta dan embah Dukon). Dengan selesainya acara selamatan nadar ketiga, maka berakhirlah seluruh upacara nadar, Tempat Penyelenggaraan Upacara.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Upacara Tradisional Dalam Kaitannya Dengan Peristiwa Alam Daerah Jawa Timur.  Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan daerah, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Surabaya,  1983-1984. hlm. 81-105

Ojung, Kabupaten Sumenep – Madura

1 Nama dan Waktu Permainan.

OJUNG001Ojung adalah permainan rakyat di Madura yang hanya tersisa di beberapa daerah di pantai Utara bagian Timur Pulau Madura, yaitu di Desa Aeng Merra, Kecamatan Batopote, Kabupaten Sumenep – Madura-Jawa Timur. Permainan rakyat tradisional ini ber­sifat religius-magis .

Dua orang pemuda yang saling pukul memukul memakai alat pemu­kul ikatan rotan dengan perlengkapan perlindungan yang sederhana pada bagian tubuh yang vital, itulah “Ojung”.

2 Waktu /Peristiwa Permainan.

Permainan “Ojung” ini yang kami observasi merupakan bagian dari pada upacara meminta turunnya hujan, yang diselenggarakan di desa Aeng Merra Kecamatan Batopote, Kabupaten Sumenep. Jarak dari Sumenep sekitar 23 km. Ojung terdapat pula di desa-desa Tengedan, Juru wan, Batopote Daya di Kecamatan Batopote dan di beberapa desa Kecamatan Gappora. Semuanya di daerah Sumenep. Dilain tempat di Madura tidak ada. Daerah-daerah tersebut merupa­kan daerah kering, kurang hujan dan minus.

Apabila sudah waktunya nembara musim hujan tetapi hujan yang jatuh hanya sekali, lalu melta tidak hujan lagi, sehingga bibit tanaman jagung yang sudah ditanam, sangat kekurangan air, pada saat itulah lalu diselenggarakan upacara “rokad”. Selamatan Tumpengan minta hujan oleh penduduk desa Aeng Merra dengan berpusat di sumur sepenang cangka pohon pinang yang bercabang.

Sumur tersebut merupakan sumur tua yang banyak membantu pen­duduk desa yang membutuhkan air. Sumur tersebut dikuras dengan upacara rokad dan dalam rangka rokad tersebut diadakan nangga ojung menyelenggarakan Ojung.

Ojung pada saat itu dianggap bagian tak terpisahkan daripada upa­cara rokad minta turunnya hujan.

Upacara ini diselenggarakan pada siang hari sekitar pukul 15.00 wib oleh seluruh penduduk desa Aeng Merra di akhir musim kemarau atau di awal musim hujan.

3. Latar Belakang Sosial Budayanya.

Daerah Aeng Merra adalah daerah kering, kurang hujan se­hingga merupakan daerah minus. Mata pencaharian penduduk adalah bertani. Bagian terbesar tanah pertaniannya terdiri dari ladang. Air merupakan kebutuhan pokok bagi usaha pertaniannya dan untuk air minum penduduk desa beserta ternak-ternaknya. Di musim ke­marau, untuk kebutuhan air minum dirinya dan ternaknya, mereka adakalanya mencarinya sampai berkilo-kilo meter jauhnya dari desa- nya. Untuk kebutuhan makan minum ternaknya lebih diutamakan dari pada pemiliknya.

Jarang sekali terdapat tontonan hiburan, sehingga kalau terdapat atau diselenggarakan suatu permainan atau hiburan, sudah cukup

mengundang bagian terbesar dari penduduk desa tersebut untuk me­lihatnya. Ada juga yang memanfaatkan untuk berjualan makanan Begitu pula waktu diselenggarakan rokad yang di dalamnya ter­dapat permainan Ojung. Sehari semalam upacara diselenggarakan waktu sebagian warga desa Aeng Merra mempersiapkan segala se­suatunya untuk upacara di sekitar sumur se penang cangka sudah ba­nyak penduduk desa membanjirinya.

Sebagian ada yang berjualan, sebagian ada yang hanya melihat-lihat, dan ada yang semalam suntuk tidak tidur untuk mojja mohon ke­pada Tuhan agar hujan bisa turun.

Pada akhir musim kemarau ada tanah ladang mereka yang sudah diolah, disiapkan kalau hujan mulai turun mereka sudah siap me­nanamnya. Begitulah setelah hujan mulai turun, bibit jagung mulai ditanam, tetapi kemudian hujan tidak jatuh lagi ke bumi, maka mere­ka segera menyelenggarakan rokad yang disertai dengan permainan Ojung di sekitar se penang cangka.

Karena alasan-alasan yang bersifat sakral ini, maka bagian terbesar dari pemudanya yang segar bugar secara sukarela memasuki arena „Ojung yang merupakan bagian dari upacara meminta turunnya hujan. Pemuda-pemuda tersebut telah menyiapkan diri dengan latihan- latihan sebelumnya dengan dipimpin oleh pemain-pemain Ojung yang sudah tua dan berpengalaman.

Permainan Ojung yang berkaitan dengan upacara minta turunnya hujan ini, tidak menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang* Tetapi karena ditonton oleh banyak penduduk desanya, tentu saja para pemuda peserta pemain Ojung berusaha bermain sebaik-baiknya dan berkeinginan menjadi jagoannya.

Bagi penduduk desa Aeng Merra, Ojung selain dianggap bagian sakral daripada upacara rokad minta turunnya hujan, sekaligus juga sebagai tontonan yang menarik.

Mereka memberi semangat kepada jago-jagonya, yang sekaligus adalah mungkin termasuk keluarganya. Makin seru permainannya, makin tebal harapan penduduk desa tersebut akan terkabulnya per­mohonan mereka, yaitu hujan akan segera turun secara tetap, untuk menghidup-suburkan tanamannya.

Serunya permainan Ojung dan luka-luka memar atau berdarah se­bagai tumbal yang meyakinkan mereka bahwa permohonan mereka akan terkabul. Konon katanya dahulu, kalau permainan Ojung

sebut sampai pada puncaknya, para pemain sering tidak sadar lagi (trance). Karena itu dalam permainan ini ada babuto yaitu orang yang bertindak sebagai pelerai, sekaligus sebagai wasitnya atau kalau dulu haruslah seseorang yang dianggap memiliki kekuatan magis. Seusai permainan tersebut, para pemain peserta kembali ke kehidup­an yang akrab, tak ada perasaan dendam dan bersama dengan seluruh penduduk desa, mereka terpusat pada harapan akan terkabulnya permohonan mereka, yaitu turunnya hujan agar ladang-ladang serta sawah-sawah serta kebutuhan air bagi ternak dan dirinya terpenuhi seluruhnya.

Latar Belakang Sejarah Perkembangannya.

Menurut Pak Ma, selaku informan (60 tahun lebih) dan meru­pakan jago tua ojung di desa Aeng Merra dan desa sekitarnya, me­ngatakan waktu ia masih kecil sudah sering menonton Ojung. Me­nurut juju Hiya buyutnya permainan Ojung sudah berlangsung se­jak dahulu. Yaitu diselenggarakan setiap akhir musim kemarau, waktu hujan tak kunjung jatuh ke bumi, maka diselenggarakanlah rokad yang disertai dengan permainan Ojung.

Hal ini untuk menghindari jangan sampai penghuni desariya laep kelaparan

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa daerah Batopote, ada­lah daerah kering, kurang hujan dan daerahnya minus. Karena ke­mudian ada juga penduduk desa Aeng Merra yang memiliki sumur, maka kelompok Ojung itu tidak saja dimainkan di sumur desa se penang cangka, tetapi juga menyertai upacara rokad di sumur-su- mur penduduk yang lain. Artinya para pemain Ojung e tangga diundang penduduk desa yang memiliki sumur sendiri tanpa diba­yar. Sebab penduduk pemilik sumur pribadi tersebut akan mem- fungsi sosialkan sumurnya bagi penduduk di sekitar tempat ting­galnya. Namun demikian upacara rokad utama bagi seluruh pen­duduk desa yaitu yang berpusat di sumur desa “se penang cangka”

Selain desa Batopote, dulu katanya, “Ojung” hampir ada diseluruh daerah pantai utara dan timur Kabupaten Sumenep. Da­hulu banyak penduduk asal dari daerah Sumenep ini yang berimi­grasi ke Jawa, terutama ke daerah bekas Keresidenan Bondowoso. Sejak jaman “rato” (kerajaan) dulu, katanya “Ojung” sudah ada.

Batopote dulu pernah menjadi kerajaan, dan pada waktu itu “0-jung” sudah sering dipertandingkan antara desa yang memiliki permainan tradisional tersebut.

Pertandingan antara jago-jago “Ojung” itu diselenggarakan setahun sekali, di saat akhir musim kemarau.

Hadiahnya konon tak seberapa, tetapi jago-jago yang membawa ke-menangan ke desanya membawa kebanggaan dan kehormatan bagi desanya. Sehingga seluruh desa merayakan dan mengelu-elukan jago “O/m «g “-n ya yang menang.

Hal ini membawa akibat pada permainan “Ojung” itu sendiri yang memang sudah bersifat sakral, tetapi karena dipertandingkan maka kekuatan-kekuatan magic hitam maupun “magic putih” ikut serta memainkan peranan. Tiap-tiap kelompok pemain Ojung dari setiap desa selalu didampingi oleh orang yang ahli memainkan “kekuatan magis” tersebut. Terjadilah pertarungan “kekuatan magis” sebelum bertanding, waktu bertanding dan setelah bertanding. Karena pertan- dingan itu membawa pengaruh yang jelek dan adakalanya dapat menimbulkan “Carok” (perkelahian), maka setelah bangsa Indonesia Merdeka, pertandingan tersebut dihapuskan. Kini “Ojung” kembali ke fungsinya yaitu merupakan bagian sakral dari pada upa-cara “rokad” minta hujan. Malah permainan “Ojung” sekarang hanya tersisa di daerah Kecamatan Batopote dan Gappora. Di lain tempat di Madura sudah tidak ada lagi. Di lain tempat di Jawa Timur terda- pat jenis permainan yang mirip, yaitu di Tulungagung dan Trenggalek dengan sebutan “Tihan” sedangkan di Lumajang dikenal sebagai “Sampyong”.

Tetapi masing-masing mempunyai latar belakang sosial budayanya sendiri.

>. Peserta.

Jumlah pemain “ojung” tidak pasti berapa, tergantung pada – kesediaan para pemuda desanya masing-masing. Hanya saja jumlah

pemainnya harus genap dan pasangan-pasangannya harus “se sagan- ding” (sebanding). Usia para pemainnya sekitar tujuh belas tahun ke
atas, dan hanya terdiri dari para pemuda saja.

Mereka adalah para pemuda tahi yang sehat, tangguh karena sudah terlatih untuk bermain “Ojung”. Bagi mereka, ikut melaksanakan

bermain “Ojung” merupakan kewajiban moral untuk kepentingan seluruh penduduk desanya. Pemain “Ojung” dilarang bagi wanita sebab selain permainan ini berbahaya, juga karena para pemainnya tidak boleh memakai baju, artinya bagian dadanya terbuka. Perala­tannya terdiri dari alat pemukul yang terbuat dari ikatan beberapa batang rotan.

Panjang alat pemukul tersebut sekitar 1 meter. Setiap peserta mem­bawa alat pemukulnya sendiri, yang nanti diperiksa oleh “babuto”. Selain itu, untuk dipakai sebagai alat pelindung kepala yang disebut “bukot” yaitu alat pelindung yang dibuat dari anyaman daun kelapa, kemudian dibungku’s Karung goni (rangkap satu)diikat dengan tali se­hingga membundar dan di bagian muka diberi tali temali pelindung, sebab bagian muka tersebut terbuka untuk dapat melihat sasaran. Sebelum “bukot” dipasang, bagian kepala peserta sudah dibungkus dengan selembar sarung. Sehingga bagian kepala peserta mendapat perlindungan cukup tebal.

Selembar sarung yang lain diikatkan di bagian lengan kiri peserta, untuk digunakan sebagai perisai. Sedangkan selembar sarung yang lain diikatkan di bagian luar celana pendeknya (sekaligus juga me­rupakan celana dalamnya) untuk mempertebal perlindungan pada alat vitalnya.

Iringan Permainan

Perlengkapan yang lain ialah lapangan seluas 9 m2untuk arena permainan. Selama permainan “Ojung” berlangsung, iringan gamelan yang disebut “okol” terus menggema.

Perangkat gamelan disebut “okol” tersebut terdiri dari sebuah gam­bang tua dart sebuah “dung-dung” (semacam kendang). Sayang seka­li waktu permainan “Ojung” tersebut berlangsung tanpa diiringi ga­melan sebab kedua alat tersebut, dari tua usianya, sudah rusak dan sedang dibuatkan yang baru.

Menurut penjelasannya, suara gambang yang mengiramakan lagu-la­gu daerah pedesaan Madura Timur, hampir-hampir tak terdengar ka­rena disaingi oleh bunyi “dung-dung” yang bertalu-talu memberi se­mangat kepada peserta.

Jalan Permainan

Permainan “Ojung” dimulai pukul 15.00 wib. (setelah sembah­yang Ashar) dan setelah upacara rokad berakhir.

“Babuto” kemudian maju ke arena, memilih pasangan yang akan ber­tanding, yang diperkirakan “se seganding” (sebanding). Pasangan ter­sebut kemudian memasang perlengkapannya dibantu oleh pemuda- pemuda yang lain. Perlengkapan yang merupakan alat pelindung diri itu diperiksa oleh “Babuto”, apakah sudah dipakai dengan baik dan kuat oleh setiap peserta. Alat pemukulnya pun diperiksa pula. Sete­lah siap, kedua pemain “Ojung” itu dibawa ke arena. Keduanya ke­mudian duduk berjongkok saling memungkiri dengan “babuto” ada di tengah-tengah mereka. Kedua pemain duduk berjongkok dengan memegang

alat pemukulnya, sambil membaca do’a.

Setelah itu “babuto” yang bertindak sebagai wasit dan pe­misah, menyuruh kedua pemain tersebut berdiri sambil berhadapan. Kedua alat pemukul pemain dipegang ujungnya dengan tangan kanan oleh “babuto” sambil memberi nasehat-nasehat, mengingatkan pada peraturan-peraturan permainan, jangan mengikuti nafsu marah, da­lam permainan ini harus sungguh-sungguh, tak ada yang kalah dan yang menang sebab merupakan rokkadda somor menta’ o jari” (sela­matan minta turunnya hujan). Ucapan-ucapan “babuto” bersifat humor, sehingga sering menimbulkan gelak tawa para penonton. Apabila “babuto” melepaskan pegangan pada ujung alat pemukul para pemain dan memberikan aba-aba permainan dimulai, maka ke­dua pemain tersebut mulai saling pukul memukul, siasat menyiasati mencari peluang untuk melancarkan pukulan-pukulannya kepada lawan, diiringi sorak

sorai penonton.

 

Dalam peraturan permainan, dilarang’pemain mempergunakan alat pemukulnya untuk menusuk lawannya, memukul bagian perut kebawah, apalagi menusuk muka. Yang diperkenankan hanya memu­kul bagian perut ke atas. Apabila “babuto” melihat adanya perma­inan tak seimbang atau serunya permainan sudah mengarah keluapan hawa-nafsu atau bila ada alat pemukul salah seorang pemain yang jatuh, maka “babuto” segera memisahkan kedua pemain tersebut. Kedua ujung alat pemain (alat pemukulnya) dipegang lagi, lalu de­ngan ucapan-ucapan jenaka “babuto” mengadu lagi kedua pemain tersebut.

 

Bekas pukulan yang mengenai tubuh (umumnya di bagian lengan atas dan punggung) sering kali tidak hanya membekas saja, tetapi berdarah. Konon menurut penjelasannya, dulu waktu dipertanding­kan, di mana “kekuatan-kekuatan magis” ikut pula memainkan pe­rannya, maka sering bekas pukulan lawannya tidak tersembuhkan sampai berbulan-bulan. Tetapi bagi pemain yang memperoleh per­lindungan dari seorang yang “kuat daya magisnya” maka bekas lu­ka pukulan lawannya, begitu permainan usai, hanya diusap dengan telapak tangan berair dari pelindungnya, bekas luka tersebut segera lenyap tanpa bekas. Dengan permainan “kekuatan magis”, sering terjadi alat pemukulnya patah, kehilangan kekuatan untuk memu­kul kena pukul lalu pingsan, alat pemukulnya jatuh, semuanya ini bila terjadi dianggap kalah (dalam pertandingan). Selama permainan berlangsung, suara gamelan “okol” terus bergema lebih-lebih suara “dung-dung” terus bertalu-talu. Dalam upacara “rokad”, permainan “Ojung” setiap pasang paling lama hanya berlangsung setengah jam. Sebelum waktu sembahyang Ma- grip, permainan sudah selesai.

8. Peranannya Masa Kini.

Permainan “Ojung” ini hanya tersisa di beberapa desa keca­matan Batopote dan Gappora, tidak seperti dahulu yang meliputi daerah pantai utara dan timur Kabupaten Sumenep. Menurut Pak Ma, hal itu karena “Ojung” tak dipertandingkan lagi, juga karena ada perasaan “lako” (takut) ngeri melihatnya dari sementara anggota masyarakat, juga karena para pemuda desa banyak yang berkecimpung dalam usaha pertembakauan.

Adanya Radio-Transistor dan TV yang telah masuk desa dan juga adanya larangan dari alat-alat negara pada permainan “Ojung” di luar upacara rokad karena sering megakibatkan terjadinya “Carok, akibatnya “Ojung” tidak populer lagi, sehingga hanya tersisa di be­berapa tempat saja yang masih berpegang teguh pada

adat kebiasaan leluhurnya.

Tanggapan Masyarakat

Selain itu ada tanggapan dari kalangan agama, bahwa “Ojung” dilarang oleh agama. Tanggapan ini perlahan-lahan pengaruhnya ma­kin meluas di kalangan masyarakat, sekalipun kalau ada permainan “Ojung” boleh ada hanya sekedar sebagai “syarat” dari suatu rang­kaian upacara permintaan turunnya hujan. Kengerian melihat akibat permainan ini anggota masyarakat menganggap “Ojung” tidak cocok lagi dalam kehidupan sekarang. Pengaruh kalangan agama yang meng­arahkan untuk minta turunnya hujan cukup dengan melakukan sem­bahyang bersama memohon kepada Tuhan agar hujan segera turun. Adanya sumber mata pencaharian baru yang menyibukkan yaitu mengusahakan penanaman tembakau dan adanya televisi serta radio transistor, semuanya ini merupakan faktor yang tak menguntungkan bagi kelestarian permainan “Ojung”, ditambah lagi dengan adanya larangan dari alat-alat negara terhadap “Ojung” yang tidak berkaitan dengan selamatan “rokad” minta turun hujan. Kata Pak Ma Lesu, buktinya kalau ada “Ojung” setelah “rokad”, orang jarang sekali “se nangga” (yang mengundang), pemain-pemainnya tambah lama tambah berkurang. Demikian penjelasan Pak Ma, jago tua “Ojung” dari tiga jaman yang sekarang mencoba-coba peruntungannya dalam usaha tani tembakau.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH, hlm. 32-140

Ajam sap-sap, Kabupaten Sumenep

Bentuk dan Waktu Permainan

AYAM SAP-SAP001Ajam sap-sap berarti ayam dilombakan jauh terbangnya, pasangan ayam betina yang dibawa ke laut dengan perahu, sejauh 300 meter dari pantai, kemudian dilepaskan terbang ke arah daratan. Permainan rakyat ini hanya terdapat di daerah kecamatan Ambunten, di desa-desa Campor Timur, Campor Barat dan Bellu’ Ares, jarak 25 km dari kota Sumenep. Desa-desa tersebut adalah desa pesisir utara Kabupaten Sumenep yang tak jauh letaknya dari daerah Slopeng, yang dijadikan obyek Pariwisata karena bukit-bukit pasir putihnya yang indah. Di lain mpat di Madura tidak terdapat permainan rakyat yang serupa ini. usat permainan Ajam sap-sap ini adalah di desa Campor Timur yang memiliki pantai landai dan berpasir putih. Di pantai itu pula perlombaan Ajam sap-sap diselenggarakan. Desa-desa Campor Barat dan Bellu’ Ares tidak memiliki daerah pantai yang sebaik daerah Campor Timur, sehingga mereka mempergunakan juga pantai Campor Timur tersebut sebagai tempat perlombaan Ajam sap-sap-nya. Ketiga desa tersebut letaknya berdekatan satu dengan yang lain.

Permainan Ajam sap-sap ini diselenggarakan pagi hari di musim kemarau, waktu laut tidak bergelombang besar dan begitu pun angin dari darat ke laut tidak kencang. Keadaan yang demikian ini adalah keadaan yang sangat baik, sehingga ayam yang dilepas dari atas pera­hu di lautan dapat terbang tinggi dan hinggap jauh di darat. Demikianlah, sepasang-demi sepasang ayam-ayam tersebut dilepas, di­lombakan jauh terbangnya, hingga keadaan laut dan angin tidak me­mungkinkan lagi untuk terus diselenggarakannya permainan tersebut. Tentang penentuan hari perlombaan tidak terikat, tergantung pada persetujuan bersama dan juga tergantung pada keadaan alam yang memungkinkan.

Latar Belakang Sosial Budaya.

Telah dijelaskan di atas bahwa ketiga desa penggemar Ajam sap-sap tersebut terletak di daerah pesisir Utara Kecamatan Ambun- ten Kabupaten Sumenep.

Daerahnya dilihat dari kondisi pertaniannya, termasuk daerah sedang sekalipun ladang-ladangnya untuk bisa ditanami tergantung pada hujan.

Selain sumber mata pencahariannya dari pertanian Tane-penggir se- reng tapi sebagian penduduknya juga merangkap bermata pencaha­rian sebagai nelayan. Dengan dua sumber mata pencaharian tersebut, hidup ketiga penduduk-desa tersebut agak terjamin. Selain itu, hampir setiap keluarga memelihara ternak sapi dan unggas terutama ayam.

Penduduk ketiga desa tersebut tidak padat, rata-rata setiap desanya berpenduduk sekitar seribu orang. Semua penduduknya beragama Islam dan hampir seluruhnya adalah merupakan penduduk suku Madura.

Lembaga pendidikan di desa-desa tersebut hanya terdiri dari SD Negeri dan Madrasah. Sebagaimana penduduk Madura lainnya, mereka masih kuat memeluk dan melaksanakan ajaran agamanya.

Adat-istiadat leluhurnya masih kuat juga dijalankan, terutama di ka­langan penduduk pedesaan. Penduduk desa-desa tersebut masih me: laksanakan rokad tase (sedekah laut) dan nyalameddi disa (menye- lamati desa yang sama dengan upacara bersih desa). Pengaruh ulama besar sekali terhadap sikap penduduk pedesaan Ma­dura. Di daerah Sumenep, seringkah magis masih mempunyai peran­an dalam bidang-bidang kehidupan masyarakat, lebih-lebih dalam suatu permainan yang dilombakan. Paling tidak menta rat-sarat min­ta bantuan doa kepada Kyai atau Dukun agar menang. Ada yang ber­puasa atau nyeppe mengasingkan diri untuk nyare jajana mencari jayanya agar menang. Selain magis memegang peranan dalam perma­inan ini, juga dijadikan obyek perjudian.

Menurut Suparto (40 tahun), permainan ini sudah berlangsung sejak dahulu. Asal permainan ini dari penduduk desa Campor Timur. Dulu, secara tidak sengaja, waktu dilangsungkan rokad tase, dilaku­kan selamatan untuk yang baureksa laut selain membawa kepala sapi dan saji-sajiari serta bunga-bungaan, juga ada yang membawa ayam sebagai pelengkap rokad. Rupa-rupanya ada seekor ayam yang ter­lepas dari pengikatnya, lalu terbang nyapsap ke darat. Melihat kejadian tersebut yang sekaligus tampak merupakan hal yang menarik, maka mulailah pada hari-hari berikutnya beberapa orang mencoba mengulangi kejadian tersebut. Dengan membawa beberapa ekor ayam jantan dan betina, orang-orang itu berperahu ke tengah laut dan melepaskannya ke arah darat. Ayam-ayam tersebut ada yang tercebur ke laut, ada yang terbang jauh ke darat sekalipun menen­tang angin. Agaknya yang banyak berhasil sampai jauh ke darat dan tampak terbang bagus sekali, ialah ayam-ayam betina. Mulailah mereka memilih jenis ayam betina muda (ayam pandara’an) yang memenuhi syarat-syarat, agar dapat terbang jauh ke darat. Atas dasar dari pengalaman dengan mengadakan percobaan berkali- kali akhirnya didapati jenis ayam yang baik untuk ikut dalam lomba Ajam sap-sap.

Mereka juga penggemar melihat ‘Kerapan Sapi’. Tapi karena biaya pemeliharaan dan penyelenggaraannya agak sulit dan mahal, sedang­kan sapi bagi mereka adalah sebagai pembantu utamanya untuk per­taniannya, maka permainan Ajam sap-sap-lah yang dijadikan obyek hiburan yang menarik dan meriah. demikianlah, perlombaan Ajam sap-sap yang selain

merupakan tontonan hiburan yang meriah dan mengasyikkan, merupakan permain­an masyarakat yang memperluas pergaulan, juga dikaitkan dengan usaha menternakkan jenis ayam kampung yang baik. Seperti halnya tanaman jagung, yang bagian terbesar petani Madura masih tetap menanam jenis jagung Madura yang sekalipun kecil- kecil tapi enak rasanya, katanya. Begitu pula dalam menternakkan ayam, mereka tetap menternakkan ayam kampung jenis terbaik, katanya, dagingnya enak serta tahan penyakit.

Dalam perkembangannya lebih lanjut, perlombaan permainan Ajam sap-sap adakalanya diselenggarakan antara beberapa anggota masya­rakat sedesa (perorangan), adakalanya diselenggarakan oleh seluruh warga desa, adakalanya merupakan perlombaan antar tiga desa ter­sebut.

Di samping perlombaan yang diusahakan secara perorangan sering­kah diusahakan oleh perkumpulan-perkumpulan ajam sap-sap atau bersifat arisan. Kalau secara umum menyeluruh dikenal dengan Kambrat Kalau ada perlombaan ajam sap-sap, pantai desa Campor Timur berubah menjadi ramai sekali, laki-laki, perempuan, tua muda, anak-anak membanjirinya. Ada yang ikut serta melombakan ayam­nya, ada yang hanya menonton, ada yang berjualan dan ada pula yang menjadikan permainan tersebut sebagai arena perjudian gelap.

Hadiah bagi pemenangnya tak seberapa berharga. Misalnya saja dalam perlombaan yang diselenggarakan secara arisan, hadiah bagi pemenang pertama hanya sebatang rokok kretek. Jadi J;ujuan utama permainan ini adalah semata-mata sebagai hiburan rakyat. Apalagi bila diselenggarakan kambrat ajam sap-sap diramaikan dengan gamel­an sronen, makin ramailah pantai yang biasanya sunyi lenggang, ka­rena memang agak jauh dari lokasi perkampungan. Sayang sekali, permainan rakyat yang murah meriah ini sekarang di­larang oleh alat negara setempat, karena alasan dijadikan arena judi.

Peserta dan Perlengkapan Permainan

Peserta dari permainan ini, adalah ayam itu sendiri. Ayam yang ikut dilombakan haruslah ayam yang baik. Yaitu dipilih ayam betina yang masih pandara’an (yang masih perawan), berbulu halus lunak (abulu lemmes), sopet rapet supit rapat, nyan-menyanan rap?fbagian tubuh di bagian ekor rapat, Bunto keneop (ekor merunduk) dan sesesse sapokol (sisik kaki sepikul tak putus). Selain itu jugasesse selbi (sisik belakang kaki ada tonjolannya) yaitu di bagian kette (kaki bagian belakang) yang katanya jaja (jaya sakti), musuh yang terbang di depannya bisa jatuh. Ayam tersebut pantang diberi makan nasi, makanannya khusus yaitu beras jagung diaduk dengan merah telur sehari dua kali. Minumnya sehari sekali yaitu air masak. Selain itu diberi ramuan jamu tradisional, antara lain racegan (campuran) kapu- laga, enggu dan sebagainya. Pemeliharaannya secara khusus dengan kandang tersendiri, sebab ayam tersebut dipantang digauli ayam jan­tan. Artinya ajam sap-sap tersebut tidak untuk ayam telur, malah tak diharapkan untuk bertelur, agar kuat. Mengapa tidak dipilih ayam jantan saja, jawabnya karena tidak dapat terbang jauh dan tak selin­cah ayam betina.

Tentang berapa pasang ayam yang dilombakan, hal ini tergan­tung pada bentuk pertandingan. Kalau usaha perorangan, tentu ti­dak banyak. Tapi kalau kambrat bisa mencapai tujuh puluh ekor ayam (35 pasang). “Sa’ocolan” (sekali lepas) hanya sepasang ajam sap-sap yaitu dua ekor ayam. Bila tujuh puluh ekor yang ikut berlom­ba, maka tak dapat diselesaikan sehari, sebab kondisi alam yang baik (cuaca, angin, gelombang) hanya berlangsung beberapa jam, yaitu jam 07.00 — 09.00 pagi hari. Selain itu seusai permainan, mereka kembali kekewajibannya masing-masing yaitu ke ladang, ke pasar, dan ke laut. Perlengkapan permainan selain ayam yang akan dilom­bakan juga diperlukan beberapa perahu untuk membawa ayam-ayam tersebut ke laut, pattok (tunggak bambu) di laut untuk batas pengo- colati (pelepasan) seutas tali panjang sebagai batas hinggap minimal (ompal) dan seutas tali pengukur untuk mengukur sejauh mana ayam hinggap di tanah setelah terbang di atas laut.

Biasanya ayam yang terbang dan hinggap ke tanah terus diam tak beranjak, sehingga mudah mengukurnya dan menangkapnya.

Jalan permainan dan Iringan Gamelan.

Sehari sebelumnya ayam-ayam di daftar pada panitia. Pemilik harus membawa ayamnya untuk dilihat dan diperiksa oleh panitia, aPa memenuhi syarat. Juga ditulis siapa pemiliknya, berapa ekor ayam yang diikutkan dalam perlombaan ini dan nama-nama ayam Peserta. Ayam-ayam peserta tersebut di beri nama seperti : se seset

capung, se pelor sipeluru, se gapper si kupu-kupu dan sebagainya Yang disebut panitia adalah terdiri dari Ketua (yang ahli ayam dan peraturan permainan) yang bertindak pula sebagai wasit permainan dibantu dua orang penjaga garis dan beberapa orang yang meneliti tempat pertama jatuhnya ayam yang juga sebagai pembantu peng­ukur.

Peserta-peserta pada hari perlombaan diundi dan diberi nomor. Sehingga baru pada hari perlombaan tersebut pemilik-pemilik ayam tersebut tahu lawan ayam-ayamnya. Pengambilan nomor undian dilaksanakan pagi-pagi sebelum perlombaan dimulai. Sekira jam 07.00 pagi, dimana keadaan cuaca, angin dan gelombang dalam kea­daan baik untuk kondisi perlombaan, maka perlombaan dimulai. Sebelumnya wasit dan penjaga garis memeriksa perlengkapan, misal­nya apa tali sudah dipasang di tempatnya, apa perahu-perahu dengan awak perahunya sudah siap. Tali batas minimal hinggap direntang­kan di batas tertinggi air/ombak laut pasang saat itu. Juga direntang­kan tali batas penonton, agar para penonton tak memasuki arena per­lombaan yang mungkin menakutkan ayam dan menyulitkan panitia Setelah semuanya siap, ayam dibawa pemiliknya atau orang keper­cayaannya masing-masing naik perahu ke laut, menuju ke patokan sebagai g&ris pelepasan ayam.

Sampai di patokan,perahu ditempatkan menyilang, satu sisi mengha­dap ke darat dan sepasang ayam sesuai dengan nomor undiannya, disiapkan untuk dilepaskan, hanya menunggu tanda dari wasit di darat. Sebelumnya, sebagai syarat kakimasing – masing ayam dicelupkan dalam air laut disertai doa untuk menang. Setelah ada tanda dari wasit di darat untuk dilepaskan, maka kedua ayam yang sudah dihadapkan ke jurusan darat itu dilemparkan ke udara setinggi mungkin, agar bisa langsung terbang tinggi ke darat. Cara memegang, kemudian melepaskan dan melemparkan ayam ke udara dengan muka tetap menghadap ke darat, adalah membutuh­kan keahlian tersendiri. Apalagi dilepaskan di atas perahu yang se­dikit oleng oleh ombak. Salah melepaskan, bisa saja ayam tidak ter­bang ke darat, malah ke laut lepas atau mengarah tidak pada jurusan yang telah ditetapkan (ada batas lebar arena yaitu selebar +100 me­ter). Bila ayam terbang dan jatuh di laut ada sampan atau perahu yang sudah siap menolongnya.

Kondisi angin yang baik di musim kemarau waktu pagi ialah angm sepoi-sepoi basa berhembus dari darat ke laut. Dengan keadaan angu”»

demikian ayam dapat merentangkan sayapnya, terbang tinggi dan dapat hinggap di daratan jauh dari tepi pantai batas air laut. Apalagi ayam yang sudah terlatih baik, gaya terbangnya indah sekali dan jauh. Jarak antara patokan di laut ke tali batas air laut pasang di pan­tai dalam keadaan angin dan cuaca baik kira-kira 300 meter. Ayam yang menang tidak ditentukan oleh batas cepatnya sampai di darat. Tapi kemenangan itu ditentukan oleh jauhnya ayam hinggap dari tali batas air laut pasang di dalam arena. Tempat ayam hinggap pertama diberi tanda. Setelah pasangan pertama selesai ditentukan siapa pemenangnya, kemudian disusul pasangan yang dua “Saocolan” (sekali lepas) hanya terdiri dari sepasang (dua ekor) ayam saja. Sering beberapa pasang ayam dibawa sekaligus ke laut. Di dalam perahu itu ikut serta pembantu wasit untuk menyaksikan pasangan-pasangan ayam tersebut dilepaskan. Di dalam perlombaan “kambrat”, peserta adakalanya sampai mencapai 70 ekor ayam. Tentu saja tidak dapat diselesaikan pagi hari itu (dari jam 07.00 — 09.00 pagi), tapi dilanjut­kan sampai beberapa hari. “Kambrat” tidak sering diadakan, paling ticak setahun sekali. Tapi perlombaan dengan “sistim arisan” dise­lenggarakan tiap hari minggu pagi. Uang arisannya sendiri hanya Rp. 250,— sedangkan hadiah pertama hanya sebatang rokok kretek saja. Konon katanya pemenang kedua dan ketiga hanya sebatang rokok dibagi dua. Hadiah bagi perlombaan kambrat juga tidak ba­nyak, hanya sebungkus rokok kretek bagi pemenang pertama. Pe­sertanya ditarik uang pendaftaran. Sistim perlombaannya untuk menentukan pemenang-pemenangnya, sama dengan Kerapan Sapi. Kelompok yang menang diadu sama pemenangnya, sedangkan kelom­pok yang kalah, diadu sama kalahnya. Urutan pemenang ialah juara pertama, kedua, ketiga dari kelompok menang dan juara pertama, kedua, ketiga dari kelompok kalah. Hadiahnya memang tidak mema­dai dengan biaya pemeliharaannya.

Permainan ini hanya semata-mata merupakan hiburan bagi rakyat. Sebab dalam hari-hari perlombaan tersebut, arena dibanjiri oleh rakyat yang menonton, tidak hanya dari tiga desa tempat permainan ayam sap-sap itu saja, tapi juga berasal dari desa-desa lain. Ada yang sekedar melihat saja, ada yang memanfaatkan untuk berjualan dan ada juga yang menjadikan permainan tersebut-sebagai arena judi pGlap– Sebab judi dengan taruhan dalam permainan ini dilarang oleh emerintah mau pun Kepala Desanya. Apabila pada hari-hari tidak

libur diselenggarakan perlombaan ini, maka terjadilah hal-hal yang negatif, yaitu banyak murid sekolah yang membolos, tidak masuk sekolah, hanya untuk menonton perlombaan tersebut. Dalam perlombaan yang diselenggarakan dengan cara “kambrat” permainan ini diramaikan dengan “Sronen” (semacam klarinet) se­buah atau dua, “kennong”, sebuah vkote’an” (sebangsa kenong) sebuah “maksor” (carcar, keprra’), kendang kecil dan kendang besar masing-masing sebuah dan gong besar dan kecil masing-masing juga sebuah, “Sronen” yang lengkap dengan peralatan seperti tersebut di atas terdiri dari 10 orang pemain. Peniup “Sronen” berfungsi juga se­bagai “se ngejung” (penyanyi). Lagu-lagunya khas Madura seperti “girowan’^ong-nengnong”, “tengka’jaran” dan sebagainya. Dalam perlombaan yang bersifat “arisan”, jarang mendatangkan “sronnen”. Jadi “sronnen” bersifat meramaikan saja. Bukan merupa­kan bagian dari perlengkapan permainan “ajam sap-sap”.

Peranannya Masa Kini dan Tanggapan Rakyat/Masyarakat.

Permainan “ajam sap-sap” yang menurut pengakuan penduduk desa Campor Timur adalah asli dari desa tersebut yang kemudian menjalar banyak penggemarnya di desa-desa tetangganya yaitu Cam­por Barat dan Bellu’ Ares. Permainan ini berfungsi sebagai hiburan bagi penduduk desa yang agak jauh (25 km) dari keramaian kota, jauh dari hiburan-hiburan lain sebab di desa tersebut tidak ada per­kumpulan-perkumpulan kesenian hiburan, tidak ada yang memiliki TV, dan terbatas penduduk yang memiliki Radio Transistor. Kehaus­an ini ditumpahkan waktu diselenggarakan perlombaan permainan ajam sap-sap. Penduduk yang menontonnya tumpah ruah, tidak ha­nya dari Campor Timur, tapi dari desa-desa sekitarnya yang juga haus hiburan.

Memang permainan “ajam sap-sap” bagi mereka adalah sebagai salah satu pemuasan kebutuhan jiwa dan rohaniahnya di tempat pemukim­an mereka yang jauh dari kota. Fungsi yang lain adalah sebagai usaha memperluas pergaulan,”nyare kanca” (mencari teman) kata mereka, karena memang ada inter-action sosial antar warga desa sedesa dan antar warga desa dengan warga desa yang lain. Selain itu, permainan ini kata sementara penduduk, dapat diusahakan guna menggalakkan usaha peternakan ayam. Kalau ada sementara orang yang menyalah gunakan permainan ini untuk berjudi gelap, hal itu bukan kehendak bagian besar penduduk desa tersebut. Banyak penduduk yang me­nyayangkan kebijaksanaan alat-alat negara setempat yang melarang permainan “ajam sap-sap” ini, yang merupakan hiburan rakyat yang sangat digemarinya. Hilanglah hiburan satu-satunya, karena larang­an tersebut.

Mereka berharap agar permainan “ajarn sap-sap” tersebut masih bisa diselenggarakan lagi. Kesalahan segelintir orang, mengapa mesti bagian terbesar dari penduduk harus menanggungnya, ini tidak adil Pak, kata Pak Suparto yang rupa-rupanya menyelami kemenyesalan hati rakyatnya atas larangan permainan “ajam sap-sap” itu.

PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 115-123

Tukar Kue Apem, Kabupaten Sumenep

Kue Apem001Tukar Kue Apem di Awal Ramadha.

Desa Parsanga; Kecamatan Kota Sumenep, Madura, menyimpan tradisi “tukar menukar” apen di awal bu­lan puasa. Bagi orang Parsanga tradisi ini titfek akan pernah hilang. Tradisi ini tetap lestari di zaman ini sebab diang­gap sakral dan bisa membawa berkah, bisa mempererat tali silaturahmi sep­erti yang diajarkan oleh agama Islam.

Namun warga Parsanga tidak mau jika tradisi itu disebut sebagai tukar menukar apen, tapi mereka lebih suka disebut sebagi tradisi saling memberi apen, dengan maksud agar sama-sama bisa merasakan kenikmatan dan keakraban dalam bertetangga.

“Tradisi ini bukan sekadar tukar menukar apen, tapi menitikberatkan pada tradisi Islam, yakni bersilatur-rahmi yang memang diajarkan dalam Islam,” terang tokoh Parsanga, Moh. Reno, kepada Suara Desa.

Di samping melakukan tukar menukar kue apem, mereka juga berbondong-bondong membawa apem olahannya ke surau-surau atau langgar terdekat atau kepada orang yang dianggap sesepuh di kampung itu, seperti para guru ngaji di desa itu. “Untuk mendapatkan berkah dari para pinisepuh mereka para ibu rumah tangga mengan­tarkan sebagian apen miliknya ke langgar-langgar atau surau terdekat,” terang Reno.

Tentu bisa dibayangkan betapa ban­yaknya apen di langgar saat itu. Itulah yang ada di benak kita, tapi tunggu dulu, apen-apen yang ada di rumah para guru ngaji itu tidak akan habis jika dimakan sendiri. Apen itu dibagikan lagi ke para santri ngaji dan sebagian juga diantar­kan ke masjid-masjid yang nantinya akan dihidan­gkan ke para ja­maah sholat Tarawih pertama di bulan puasa. “Inilah salah satu keunikannya awal puasa di Desa Parsanga, Keca­matan Kota Sumenep,” terang Bagus Junaedy, pemerhati budaya Sumenep asal Desa Kacongan.

Bagi orang – orang yang ingin tahu tentang tradisi “tukar menukar” ap-endi ujung timur Pulau Madura ini, masyarakat Parsanga sangat wellcome. Bahkan apen di Parsanga tidak hanya bisa didapat pada saat awal bulan puasa saja. Siapa yang ingin memanjakan lidah, ingin marasakan kue “berkah”, bundar berwarna putih yang ter­buat dari tepung beras, bisa mampir kapan saja.

Parsanga hingga kini sudah dike­nal dengan sebu­tan Kota Apen yang  masih hidup, yang ten­tu sulit dicari di desa-desa lain di Sumenep. “Tra­disi tukar apen sulit dicari di desa lainnya, bahkan bisa dibilang Parsanga hanya satu-satunya di Sume­nep,” tambah Bagus Junaedy. (Alan)

Mulai Langka, Perlu Promosi

Kue Apem002KUE Apem bagi masyarakat Sumenep sudah tak asing lagi. Sebab kue apen jajanan khas Sumenep. Kue yang sangat digemari oleh masyarakat Sumenep ini dimakan untuk sarapan pagi.

Kue ini bahan-bahannya terbuat dari tepung beras, santan kelapa. Sementara sausnya berbahan gula merah, jahe, kayu manis dan jangan lupa harus ada daun pandan sebagai pengharum. Selain rasanya nikmat, kue apem dipercaya dapat menghilangkan rasa letih setelah bekerja seharian lantaran kandungan gula merah, jahe dan kayu manis, yang berfungsi untuk menghangatkan badan.

Desa Parsanga adalah salah satu daerah di Sumenep yang tetap bertahan menjual kue apen. Di sekitar kota jarang, bahkan sudah tidak ditemukan penjual kue apem. Jajanan ini sudah langka dan sulit sekali ditemukan di kota ujung timur Pulau Madura. Untung saja daerah Parsanga masih tetap menjual kue khas Madura ini. Bermunculannya variasi kue dengan bermacam rasa mem­buat apen sedikit tergeser.

Padahal kue ini sangat digemari dan patut dilestarikan. Kalaupun bisa, kue apen harus diperkenalkan kepada warga luar kota agar mereka tahu bahwa di Sumenep masih memiliki jajanan khas. Apen yang lezat sangat cocok untuk memanjakan lidah semua orang sehingga perlu dipromosikan.

Kini penjual apen hanya tinggal beberapa saja. Selain itu, ja­janan ini hanya dapat kita temukan di pagi hari. Menjelang siang, kue apen sudah habis terjual. Pantauan Suara Desa yang menjual apen hingga sore hari hanya tinggal seorang saja.

Barang kali para penggemar kuliner ini tertarik mencoba kue khas Sumenep ini? Monggo datang dan mampir ke Kota Apen di Parsanga Kecamatan Kota Sumenep, dijamin tidak akan mengecewakan, (lan)

SUARA DESA, Edisi 05, 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 53

Tahu Pentol Cinta, Kabupaten Sumenep

Maski Meraup Untung dari Tahu Pentol Cinta

tahu pentol cinta001USAHA tidak akan sia-sia jika dijalani dengan landasan keyakinan dan kesabaran. Seperti halnya Maski (38), ibu dua anak yang kini duduk dibangku kelas satu dan kelas tiga SMA. Maski memiliki kegigihan dan keuletan dalam bekerja.

Sebelum menemukan bisnis yang dijalaninya sekarang ini, Maski awalnya berjualan makanan ringan seperti kucur, rujak, kerupuk nasi. Lambat laun, Maski memiliki ide untuk membuat pentol tahu. Ia merintis usaha pentol tahu selama tiga tahun. Kini, bisnis yang ditekuninya itu berkembang pesat dan membawa keuntungan besar bagi Maski dan keluarganya.

Keberhasilan Maski tidak hanya dirasakan sendiri, Maski memiliki rasa sosial terhadap lingkungan sekitarnya. Maski turut membantu masyarakat sekitar yang tidak memiliki usaha kerja dengan cara membangun keterampilan usaha kerja baru membuat pentol tahu.

Dari sinilah tercipta simbiosis mutualisme dengan masyarakat sekitar. Pentol tahu buatan Maski mendapatkan hati dimasyarakat kota Sumenep, Madura. Pelanggannya berdatang an dari kalangan pelajar, mahasiswa hingga pegawai kantoran. Selain rasanya yang memikat lidah, juga karena tem patnya yang bernuansa santai.

Rahasia kelezatan pentol tahu ini dari cara pembuatannya yang sederhana. Maski menuturkan proses pembuatan pentol tahu menghabiskan 6-8 papan tahu bahkan sampai 150 papan perhari. Cara pembuatannya pun praktis sesuai dengan bahannya yang murah dan terjangkau. “Bahan-bahannya antara lain tahu sebagai bahan pokok, tepung terigu, tepung kanji, bawang dan masako sebagai penyedap rasa,” kata Maski.

Kini, Maski bisa menikmati keun tungan dengan nominal rupiah yang terus bertambah. “Dari bisnis kecil- kecilan ini penghasilan yang saya dapatkan perhari kurang lebih se puluh juta. Dengan jumlah karyawan sebanyak 31 orang, dan rata-rata or­ang sekitar sini,” ungkap Maski be berapa lalu.

tahu pentol cinta002Dari pendapatan perhari, Maski bisa memberi gaji pada setiap karyawan berkisar antara tiga puluh sampai lima puluh ribu rupiah perhari. “Bergantung pada cara kerja dan batas waktu yang tersedia dengan jam kerja pukul 05.00-12.00, setelah itu istirahat dan mulai bekerja kembali 19.00-23.00,” lanjut Maski.

Warung pentol cinta ini yang bertempat di Jalan Raya Gapura, Desa Poja, Kabupaten Sumenep kian hari kian banyak didatangi pelanggan. Menyinggung soal nama warung pentol miliknya, Maski menceritakan warungnya dinamai dengan nama pentol Maspuja.

Maspuja berasal dari penggalan nama pemilik warung “Mas” yang dipadukan dengan nama Desa Poja yang diplesetkan menjadi Puja. Akan tetapi, pentol “Maspuja” justru lebih dikenal dengan sebutan pentol cinta kerena rasa khasnya yang menjadikan orang yang mencicipinya jatuh cinta atau ketagihan untuk mencicipinya kembali. «mgg-Ina Herdiyana

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, EDISI 68, TAHUN VII MEI 2012, hlm. 44

Parsanga, Perguruan Agama Islam di Kabupaten Sumenep

Di suatu daerah di dekat desa Sumur Songo (Parsanga) di Sumenep ada datang seorang pengajar agama Islam, la memberi pelajaran agama Islam kepada rakyat di Sumenep. Apabila seorang murid (santri) telah dianggap dapat melakukan rukun agama Islam, maka ia lalu diberi mandi air dengan dicampuri rupa-rupa bunga yang harum baunya.

Melakukan pekerjaan mandi secara demikian oleh orang Madura dinamai ” e dhudhus” artinya diberi “adus” artinya diberi mandi Dari sebab itu, maka itu tempat disebut orang “desa Padhusan” (desa tempat orang diberi mandi). Itu desa Padusan letaknya sekarang menjadi kampung Padusan desa Pamoiokan kota Sumenep.

Guru yang memberi pelajaran agama disebut orang “Sunan Padusan”. Ia asal turunan Arab, akan tetapi telah memakai nama Jawa yaitu Raden Bandara Diwiryopodo. Ia punya ayah bernama Usman haji, anak dari raja Pandita alias Sunan Lembayung Padal dan yang seorang bernama Rahmatullah yaitu Raden Rachmad Sunan Ampel (di Surabaya) yang pula beristri seorang puteri Cina yaitu saudara muda dari puteri Cempa permaisuri daru raja Majapahit yang penghabisan. Sunan Ampel tadi mempunyai beberapa orang anak, diantarauya seorang anak perempuan yang bernama Nyai Maloko yang bersuami Usman Haji yang tersebut di atas yaitu ayah dari Sunan Padusan.

Oleh karena agama Islam itu sangat digemari oleh rakyat Sumenep maka Kudho Panule alias Pangeran Setyodiningrat III lalu memeluk agama islam dan Sunan Padusan itu dipungut menjadi anak mantunya. Tempat tinggal dari sunan Padusan itu bermula ada di desa Padusan (Sumenep) kemudian pindah ke Batuputih yang disebut orang keraton Batuputih, sekarang jadi desa Batuputih Kidul, Batuputih Daya dan Batuputih kenek, Kecamatan Batuputih,

Kawedanan Batang-Batang. Anaknya laki-laki yaitu Raden Alio Begonondo dikawinkan dengan anak perempuan dari Raden Banyak Wide, sedang anak laki-laki dari Raden Ario Banyak Wide dikawinkan dengan anak perempuan dari pepatih Joyosingo.

Keraton Sumenep sejak Pangeran Setyodiningrat III ada di desa Banasare Kecamatan Rubaru Kawedanan Ambunten. Pangeran Setyodiningrat III bermula berkeraton di tempat tersebut di atas, akan tetapi kemudian berpindah ke desa Lapataman Kecamatan Dungkek Kawedanan Batang-Batang.

Keraton Lapataman itu juga disebut orang Keraton Tamansare. Juga Pangeran Setyodiningrat III membikin tempat pertahanan di desa Kalimo’ok Kecamatan Kalianget Kawedanan Sumenep. Kemudian ini tempat dibuat tempat pertahanan oleh orang- orang Portugis sewaktu memerintah di kepulauan Madura pun pula oleh orang Belanda. Sisa rumah pertahanan orang-orang Portugis itu sehingga sekarang masih ada. Pada jaman Pemerintah Belanda itu rumah dipakai untuk menahan orang-orang yang sakit gila.

Pangeran Setyodiningrat mulai memerintah Sumenep sekira di dalam tahun 1415 Masehi. Diwaktu ia memegang tampuk pemerintahan sering-sering ia mendapat gangguan dari orang-orang Bali akan tetapi senantiasa pengganggu-pengganggu itu dapat diusir.

Pada suatu ketika Pangeran Setyodiningrat III kedatangan musuh dari Negeri Cina yang bernama Dempo Awang (Dempo Abang) (sebetulnya Sampo Cawan). Itu musuh mempunyai kendaraan kapal layar yang dapat berlayar di laut, diatas gunung dan diantara bumi dan langit. Di dalam berperang dengan Dempo Awang, Pangeran Setyodiningrat III mengendarai kuda pusakanya yang bernama Mega Remeng, sedang musuhnya mengendarai kapal layarnya.

Sebagaimana telah diceritakan di atas, maka Pangeran Setyodiningrat III taat pada petuah ayahnya, lari dengan naik kudanya terbang diantara bumi dan langit yang dikejar oleh musuhnya yang mengendarai perahu layar.

Setelah ia pada suatu saat mendengar suara dari pamannya (Adirasa) yang berkata : “Pukul !!! maka ia menahan kekang kudanya dengan keras sehingga kepala dari itu kuda menoleh ke belakang, lalu ia sendiri menoleh ke belakang sambil memukulkan cemetinya yang mengenai kendaraan musuhnya, sehingga hancur dan semua isinya jatuh ke tanah menjadi bangkai.

Menurut ceritera orang kejadian itu ada dialasnya kota Semarang. Sisa-sisa dari kapalnya Dempo Awang itu ada sehingga sekarang di kota Semarang juga kuburan dari Dempo Awang (Sampo Cawan) tadi.

Juga sebagian kecil dari pecahnya kapal itu jatuh di sungai Kecamatan Sokabana (Sokowono) Kawedanan Ketapang, Kabupaten Sampang. Sampai sekarang itu sungai dinamai sungai Dempo Awang dan jembatan Propinsi yang ada disitu disebut jembatan Dempo Awang (Dempo Abang).

Pula di suatu pesisir selatan di sebelah Kamal (Kabupaten Bangkalan) ada jatuh pecah- pecahan dari itu kapal dengan perkakas piring dari Dempo Awang itu. Sehingga sekarang itu tempat dinamai desa Tanjungpiring dan di sana terdapat batu lebar yang disebut orang asal kayu pecahan dari kapal itu yang kemudian hari menjadi sarangnya ikan tiram, sehingga menjadi batu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sejarah Permulaan Jadinya Pulau Madura, 4 Maret 1951 hlm. 19- 20