Berbagi Jenis Lurik Tuban

Di daerah Tuban terdapat beberapa jenis lurik dengan berbagai coraknya, yaitu lurik anaman wareg (anyaman polos – Gb.98a,b), lurik klontongan (Gb.99a,b,c,d), batik lurik (Gb.101-106), lurik pakan tambah- an, disebut dengan istilah lurik kembangan (Gb.l08-117d) dan lurik talenan (Gb.ll8a,b,).

 Lurik anaman wareg
98a-corak-tuwuh-tuluh-watu-tuban98b-corak-sleret-blungkon99a-lurik-klontongan-corak-tumbar-pecahAnaman wareg, bahasa Jawa yang berarti anyaman polos. Lurik anyaman polos, baik bercorak lajuran (garis-garis) maupun bercorak cacahan (kotak-kotak), di daerah ini dianggap kurang bergengsi, kecuali bebe­rapa corak yang mengandung makna sakral misalnya corak tuwuh/tuluh watu (Gb. 98a). Pada umumnya jenis lurik ini dipakai untuk bakal klambi, (bahan pakaian – baha­sa Jawa) yaitu untuk sruwal (celana), baju, selendang, lurik klontongan (bahan untuk batik lurik) dan untuk keperluan lainnya seperti kain kasur, kain bantal dan lain- lainnya.

Kapas yang warna aslinya krem kecoklatan, disebut dengan istilah kapas lawo (kelelawar) karena warnanya yang menye- rupai warna kelelawar, dahulu ditenun dengan anaman zvareg untuk berbagai keperluan antara lain untuk kain kasur, bantal dan lain-lain. Namun kini dengan berbagai modifikasi, baik tata warna maupun corak seperti corak sleret blungko (Gb.98b), dipakai untuk busana yang cukup mendapat pasaran.

Lurik klontongan
99b-lurik-klontongan-corak-galaran99c-lurik-klontongan-corak-jangan-menirKlontongan yang bermakna kekosonganji- wa dan badan. Lurik klontongan (Gb.99a,b, c,&) adalah lurik anyaman polos la tar putih dengan berbagai corak lajuran (garis-garis) atau cacahan (kotak-kotak) yang kebanyak- an berwarna hitam, 99c-lurik-klontongan-corak-jangan-menirmeskipun adakalanya yang berwarna merah. Dipakai sebagai ber­bagai bahan dasar untuk pembuatan batik lurik (Gb.101-106). Lurik klontongan diang- gap masih kosong atau hampa, belum mempunyai makna dan identitas, karena belum mempunyai corak, nama dan makna. Corak lurik klontongan tertentu diperuntukan bagi bahan dasar corak lurik batik tertentu pula.

Empatjenis lurik klontongan gambar 99a,b, c,d.:

Gambar 99a – untuk batik lurik corak
krompol (Gb.101). Gambar 99b – untuk batik lurik corak
galaran kembang (Gb. 107). Gambar 99c – untuk batik lurik corak cuken (Gb.102), kijing miring (Gb.103).
Gambar 99d – untuk batik lurik corak ksatrian (Gb.105).

Batik lurik
101-batik-lurik-corak-krompol100-sketsa-pembuatan-teknik-lurik102Batik lurik adalah lurik klontongan yang di- batik. Diperoleh dengan menutupi bagian- bagian tertentu yang berwarna putih dari sehelai lurik klontongan dengan malam, me- nurut berbagai bentuk corak geometris ter­tentu, yang terdiri dari titik-titik halus atau garis-garis lurus (lihat sketsa Gb.100). Sesu- dah dicelup dengan warna merah mengku- du atau biru indigo dan kemudian malam- nya dilorod (dibuang dengan jalan mere- bus dan/ atau dikerok), maka akan didapat batik lurik dengan berbagai corak seperti co­rak: krompol (Gb.101), cuken (Gb.102), kijing miring (Gb.103), surna (Gb.104), kesatrian (Gb.105), tutul bang (Gb.106) dan galaran kembang (Gb.107).

Lurik pakan tambahan/lurik kembangan
Berlainan dengan di daerah Solo/Yogya, di mana lurik pakan tambahan dapat di kata- kan tidak lazim, di daerah Tuban kain de­ngan tehnik pakan tambahan masih di ker- jakan, disebut dengan istilah lurik kembang­an pakan (Gb.108-117d). Di samping ini di- buat pula lurik dengan tehnik floating warp yang dinamakan lurik kembangan lungsi an- tara lain dengan corak ular giding (Gb.ll7a). Di daerah Tuban lurik pakan tambahan masih

dibuat karena masih diperlukan, dipakai untuk upacara setempat. Kemungkiriu teknik pakan tambahan adalah pengaruh dari luar, seperti dari Bali, Sulawesi Sela- tan, Kalimantan Selatan dan daerah Su­matra. Daerah-daerah tersebut di atas ini memang terkenal dengan seni budaya tek­nik pakan tambahan (songket) yang cukup tinggi. Pada masa lampau hubungan da- gang antar daerah ini dengan Tuban cu­kup tinggi, di mana interaksi kebudayaan terjadi.

  • Lurikkemitir (Gb.115) dibuat dengan teh- nik yang khas, dengan cara dan kiat ter- tentu sewaktu menghani benang.
  • Sehelai lurik kembangan dapat dipakai baik oleh orang berumur maupun orang muda, sisi kain yang berpenampilan ge- lap dipakai oleh orang berumur dan sisi sebaliknya yang terang dipakai oleh orang muda.
  • Antara lain lurik corak kembang polo dan kembang pepe merupakan lurik dengan istilah kain simpenan yaitu disimpan sebagai kain pusaka.
  • Beberapa corak lurik kembangan yang masih dibuat antara lain: krompol (Gb.108), cuken (Gb.109), kembang pepe (Gb.110), kembang polo (Gb.Ill), laler menclok (Gb.112), bulu rambatpotong inten (Gb.113), corak kembang jati (Gb.114), kemintir/gemintir (Gb.115), bolongbuntu (Gb.116), ularguling ( (Gb. 117a), kembang manggar (Gb. 117b), ‘ intipyan (Gb.ll7c), batu rantai (Gb.ll7d).

Lurik talenan  
103104Lurik talenan dari perkataan ditali/ diikat, adalah lurik corak lajuran dan kotak-kotak ; di mana di antara benang-benang lungsi dan/ atau benang pakannya terdapat be- ; nang-benang ikat yang sangat sederhana. I Benang-benang ikat ini 105106bercorak garis-garis I pendek yang terputus-putus, dengan war- | na putih dan biru indigo. Kain lurik yang mempunyai benang ikat ini disebut dengan istilah talenan. Antara lain terdapat lurik dengan corak sleret talenan (Gb. 118a), di mana hanya 107108pada benang lungsinya saja terdapat benang ikat, yang umumnya di- peruntukkan bagi kaum pria. Lurik yang berpenampilan garis-garis terputus-putus baik ke arah vertikal (lungsi), maupun ke arah horisontal (pakan) yang disebabkan oleh 109benang ikat pada pakan maupun lungsinya, disebut dengan istilah lurik talenan/kentol (Gb.ll8b) dipakai oleh pria dan wanita. Kaum pria ada yang menamakan lurik talenan dengan sebutan lurik kentol.

Lurik usik
110111112-113-114Kain lurik usik adalah lurik yang benang pakannya terdiri dari benang tamparan istilah Tuban untuk benang plintir, (Gb.42), yang menjadikan lurik ini sangat kuat dan lurik-tuban0002lurik-tuban0003tebal. Karena itu umumnya kain usik dipa­kai untuk bekerja di ladang oleh kaum pria. Antara lain terdapat kain usik dengan nama Semarmendem (Gb.U9a). Semar (Gb.ll9b) adalah seorang dewa yang arif bijaksana, cerdas, berbudi luhur, berjiwa pengasuh dan pelindung serta mendambakan agar manusia berada dalam keadaan suasana sejahtera, damai dan terhindar dari segala macam musibah. Mendem yang arti harfiahnya mabuk, namun di sini kiasannya ada­lah sedemikian hanyutnya, gandrungnya Semar akan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian manusia. Salah satu penganan di Jawa Tengah ada yang dinama- kan Semar mendem yang menurut mereka bercita rasa sangat lezat menghanyutkan.

lurik-tuban0004lurik-tuban0005Di daerah Tuban benang tamparan tidak dipergunakan untuk memperkuat pinggiran kain, untuk itu mereka memasukkan dua helai benang di satu lobang sisir di bagian pinggiran kain. Pemakaian benang plintir disisipkan di antara benang pakan, dengan effek yang menarik seperti pada lurikpalen (Gb.59).

 

 

 

 

 

 

—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 99-111

Lurik Tuban

96Sesungguhnya Tuban pada masa lampau, antara abad ke-XII-XVI pernah i berjaya, diperintah para adipati yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Mojopahit (Abad ke-XIII-XV). Sejarah  Tuban mencatat bahwa sejak permulaan abad ke-XII Tuban sudah merupakan kota pelabuhan yang ramai disinggahi oleh berbagai kapal asing, antara lain oleh kapal – kapal dari Persia, India dan Cina, untuk mengadakan perdagangan tukar menukar.

Permulaan abad ke-XV seorang jendral dari negeri Cina bernama Cheng Ho yang beragama Islam mendarat di Tuban, diutus dengan tujuan untuk menguasai per­dagangan di kota-kota pesisir Jawa, seperti Semarang, Jepara, Rembang, Lasem dan Tuban. Nama panggilan setempat untuk Cheng Ho adalah Dampo Awang yang kuburannya masih dapat dilihat di daerah ini.

Sejak abad ke-XV kerajaan Islam Demak (± tahun 1400-1568) memegang peranan di sepanjang pesisir, karena itu kedatangan seorang jendral Islam nampaknya ditolerir, terbukti dengan banyaknya rumah khas arsitektur Cina di sepanjang pantai utara pulau Jawa.

Para pendatang ini membawa serta bermacam-macam barang kerajinan mereka masing-masing: kain Gujarat (patola) dan kain Coromandel (chintz) dari India, barang-barang keramik dan sutera dari Cina. Barang-barang tersebut dipertukarkan terutama dengan rempah-rempah, seperti:

pala, cengkeh, kayu cendana dari Indone­sia Bagian Timur (Ambon, Banda, Timor, dan lain-lain) serta lada, kapur barus, ka­yu manis dan hasil bumi lainnya antara la­in dari Sumatra dan Kalimantan.

Pada tahun ± 1513 orang Portugis dan kemudian pada ± tahun 1599 orang Belanda datang pula untuk berdagang rempah- rempah dan hasil bumi. Maka semakin ra- mai dan sibuk jualah pelabuhan Tuban, yang sekaligus menjadikan daerah ini makmur dan dikenal.

9495-97a-97bSementara itu kerajaan Hindu Mojopahit mulai abad ke-XV mengalami kemunduran, sedangkan kerajaan Islam Mataram yang didirikan Penembahan Senopati pa­da tahun 1586, mencapai kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Agung (tahun 1613-1645). Setelah menaklukan Mojopahit dan menguasai daerah-daerah perdagangan di pesisir utara pulau Jawa, termasuk Tuban, akhirnya diperintah oleh bupati kerajaan Mataram.

Belanda dengan VOC-nya setelah Tu­ban dikuasai oleh bupati kerajaan Islam Mataram, mengalihkan usaha perdagangannya ke Batavia (Jakarta sekarang).

Selanjutnya VOC berhubungan langsung dengan daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Bagian Ti­mur. Dengan berkurangnya kedatangan baik berbagai kapal asing maupun kapal- kapal daerah yang membawa berbagai rempah- rempah dan hasil bumi untuk dipertukarkan atau diperjual belikan, menja­dikan pelabuhan Tuban sepi dan tak berarti lagi. Dampak dari keadaan ini Tuban tidak lagi mengecap kemakmuran seperti sediakala dan akhirnya dilupakan orang.

Beberapa pendapat mengatakan, di Indo­nesia penanaman kapas/katun serta pekerjaan menenun sudah dikenal sejak awal abad Masehi dan kain lurik sudah dikenal masyarakat Jawa sebelum abad ke-XIV.

Dalam salah satu prasasti disebutkan telah ada benang (tukel) yang dicelup warna biru tarum (indigo) dan merah mengkudu (morinda citri) yang diperdagangkan.

Daratan Tuban yang merupakan daerah kurang subur ternyata cocok untuk ditanami kapas, yang oleh masyarakatnya diolah menjadi kain dengan selera dan gaya setempat, serta mempunyai keunikan tersendiri. Karena kekhasan kain Tuban inilah, daerah Tuban buat sementara orang masih dikenal.

Pembuatan sehelai kain di daerah Tuban sampai saat ini masih dikerjakan secara swa-sembada, dimulai dengan bertanam kapas oleh kaum pria. Pekerjaan selanjutnya, yaitu memetik bunga kapas, memintal, menenun, membuat pewarna, mencelup benang atau kain dan pemasarannya dilakukan oleh para wanita. Warna asli serat kapas di daerah ini di samping yang berwarna putih ada pula yang berwar­na krem kecoklatan, yang setelah di tenun mempuyai keunikan tersendiri.

Membuat pewarna dan mencelup indi­go dianggap pekerjaan sakral, karena itu orang tertentu saja yang boleh mengerjakannya, yaitu orang yang berwibawa dan yang sudah mantap serta sudah berumur. Pada umumnya orang yang terpilih adalah para istri pemuka agama (istilah setempat modin). Pencelupan dikerjakan oleh kaum wanita, bahkan dianggap tabu bagi kaum pria, karena akan mendatangkan berbagai jenis bala bagi mereka. Umumnya tanaman tarum/indigo ditanam mereka di pekarangan rumah masing-masing, kadangkala terlihat pula tanaman kapas.

Jenis-jenis kain yang dibuat adalah kain batik dan kain lurik. Pada umumnya berba­gai jenis kain ini untuk pemakaian setem­pat, meskipun akhir-akhir ini telah mendapat pasaran di luar daerah Tuban. Ada yang dibuat untuk taplak meja, plate mats, tas, bahkan berbagai busana seperti rompi, kemeja, jas dan berbagai jenis cindera mata lainnya.

Sebagaimana telah diungkapkan terdahulu dalam tulisan ini, di masa lampau di berbagai daerah sepanjang pesisir Jawa, mulai dari daerah Pekalongan sampai dae­rah Gresik, di samping membuat lurik anyaman polos, di beberapa daerah dibuat pula lurik dengan pakan tambahan. Saat ini yang masih membuat lurik anyaman po­los maupun lurik pakan tambahan dapat dikatakan hanya di daerah Tuban. Di dae­rah pesisir lainnya bertenun lurik sudah dapat dikatakan punah, dikarenakan pada umumnya daerah-daerah tersebut menga- lihkan kegiatannya ke berbagai bidang lain, yang dewasa lebih menguntungkan.

Di daerah Tuban pekerjaan lurik pakan tambahan sudah mulai langka, karena dalih-dalih yang pada umumnya juga terdapat pada daerah-daerah lainnya, yaitu tidak adanya minat dari generasi penerus untuk yang mereka anggap sudah kuno serta harga jual yang tidak seimbang de­ngan pekerjaannya. Banyak pula dari ge­nerasi muda ini sekarang meneruskan sekolahnya ke sekolah lanjutan dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Di samping itu tradisi dan selera pemakainya telah bergeser; konsumsi yang tadinya bersifat setempat, semakin bertambah terbatas disebabkan harga yang buat rakyat setempat dinilai cukup tinggi, maka kain ini sekarang tidak merupakan pakaian sehari-hari lagi, terdesak oleh kain buatan pabrik yang lebih murah dan bervariasi.

Sampai di mana pembuatan lurik Tu­ban dan batik Tuban akan bertahan, mengingat berbagai kendala yang telah disebut di atas hanya sejarahlah yang akan membuktikan. Dalam hal ini terutama pelestarian seni budaya kain Tuban tradisional yang akan turut menentukan.

Bukit-bukit kapur yang banyak terdapat di daerah ini telah berakibat didirikannya oleh pemerintah pabrik semen, yang memang dibutuhkan untuk pembangunan negara. Tentunya sudah dapat diperkirakan proyek ini akan banyak menyerap tenaga muda setempat. Dengan terciptanya kesempatan yang baru ini, yang menurut mereka lebih menarik, sudah dapat diduga bahwa hal akan mempunyai dampak terhadap kerajinan rakyat tradisional pada umumnya, dan khususnya kain lurik dan batik Tuban. Oleh karena itu sebagai warisan budaya bangsa, pelestariannya harus dilaksanakan.

 
—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 94-99

Jenderal. TNI. ANM. Basuki Rachmat

Jenderal. TNI. ANM. Basuki Rachmat1. Surat Perintah 11 Maret 1966.
Hari Jum’at 11 Maret 1966, sidang Kabinet Dwikora yang dipimpin oleh Presiden Soekarno dengan mendadak diskor, Presiden memerintahkan Wakil Perdana Menteri III (Waperdam III) Dr. Leimena untuk memimpin sidang. Setelah Waperdam menerima laporan dari Brigjen Amir Machmud Panglima Daerah Militer V/ Jakarta Raya, bahwa Presiden telah meninggalkan istana menuju Bogor, sidang dibuka kembali, Leimena berbicara singkat, sidang kabinet ditutup. Suasana kalut di luar istana ada demonstrasi mahasiswa. Ribuan mahasiswa mengepung istana, konon mereka didukung pasukan yang tanpa mengenakan identitas. Dalam suasana kalut itu Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi Mayjen Basuki Rachmat, memanggil Brigjen M. Jusuf, Menteri Perindustrian Dasar Mayjen Mursid Deputy II Men/ Pangad dan Brigjen Amir Machmud Pangdam V (Jayakarta) untuk membahas peristiwa yang baru terjadi. Presiden tergesa-gesa meninggalkan istana atas laporan ajudan senior dan komandan Pasukan Tjakrabirawa Brigjen Sabar. Beliau menilai strategi tidak kondusif dan keselamatan Presiden terancam oleh demonstrans dan pasukan tanpa identitas. Para perwira tinggi berkesimpulan bahwa situasi politik dan keamanan sangat labil yang menyebabkan Presiden merasa terancam keselamatannya dan dalam ketakutan yang luar biasa.
Peristiwa ini bisa menimbulkan kesan bahwa Angkatan Darat telah meninggalkan Presiden, Basuki Rachmat mengajak ketiga perwira itu untuk menemani Presiden di Bogor, dengan terlebih dulu memohon izin Menteri/ Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto yang tidak hadir dalam sidang kabinet, dalam pembicaraan dengan Jenderal Soeharto, panglima mengizinkan mereka pergi ke Bogor dengan pesan singkat, ”sampaikan salam hormat saya kepada Bapak Presiden dan sampaikan kesanggupan saya mengatasi keadaan, apakah Presiden memberikan kepercayaan kepada saya”.
Setelah mereka diterima oleh Presiden akhirnya Presiden memerintahkan untuk menyusun draf surat perintah kepada Jenderal Soeharto. Basuki Rachmat, M. Jusuf, Amir Machmud dan Sabar bekerja menyusun draf surat perintah Presiden. Sabar bertindak sebagai sekretaris menuliskan draf dan sekaligus mengetiknya, draf ini disampaikan kepada Presiden, yang sebelumnya telah memanggil para Wakil Perdana Menteri untuk hadir di Paviliun Presiden. Presiden memberikan draf tersebut kepada para Waperdam, dipersilahkan menanggapinya, hampir tidak ada tanggapan, Soebandrio mengatakan: ”kalau Presiden setuju, kami tidak bisa berbuat apa-apa”, bahkan Waperdam Leimena menyarankan agar ditanda tangani saja. Akhirnya Presiden Soekarno menandatangani draf surat perintah yang di ketik tanpa prosedur administrasi kepresidenan menjadi surat perintah resmi.
Peristiwa bersejarah ini tidak dapat dipisahkan dengan peran Basuki Rachmat, seorang Jenderal yang sangat dikenal oleh Presiden. Beliau mempercayai sebagai Sekretaris Penguasa Perang Pusat (Peperta) yang dipimpin oleh Presiden. Surat Perintah 11 Maret yang akronim populernya Super Semar, adalah kunci pembuka pintu perubahan tata kehidupan berbangsa dan bernegara dalam pelbagai bidang, melalui Surat Perintah 11 Maret 1966, Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta organisasi pendukungnya dalang kudeta 1965 di bubarkan.
Itulah peran utama Basuki Rachmat, sebagai pelaku utama lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966.
2. Masa kanak-kanak dan pendidikan.
Basuki Rachmat lahir dari lingkungan priyayi pamong praja, buah hati keluarga dari R. Soedarsono Somodihardjo, Camat Senori (Tuban) dan Suratin pendampingnya. Beliau lahir pada hari Senin Legi tanggal 14 November 1921, di tempat ayahnya berdinas Senori, sejak usia empat tahun ia telah menjadi piatu. Pada usia tujuh tahun ia masuk ke Sekolah Dasar H.I.S. (Hollands Inlands School) yaitu sekolah dasar khusus untuk para anak ambtenaan (Pegawai Negeri) di Tuban, ibu kota Kabupaten. Takdir telah tersurat, pada usia 14 tahun tatkala ia duduk di kelas empat H.I.S, ayahnya meninggal dunia pada tahun 1935, ia diboyong oleh bibinya Ibu Surowinoto ke Bojonegoro. Setamat H.I.S. ia melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebrig Lager Onderwijs, pendidikan rendah yang lebih diperluas) di Surabaya dan tamat pada tahun 1939, dari Surabaya melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru Hollands Inlands Kweekschool (H.I.K.) Muhammadyah Yogyakarta tamat pada tahun 1942. Satu bulan tentara Jepang menduduki Indonesia, pada awal pendudukan Jepang hampir semua sekolah masih ditutup, Basuki Rachmat belum sempat berdiri di depan kelas.
3. Propaganda mobilisasi.
Propaganda mobilisasi semula untuk dilatih menjadi militer demikian hebat. Basuki Rachmat tertarik, ia mendaftarkan diri dan mengikuti pendidikan militer di depo pendidikan prajurit (Renslitdi) di Magelang ia diangkat sebagai Lecho (pembantu prajurit) balalon Jepang, hampir selama dua tahun sebagai Lecho, dia terpilih untuk masuk sekolah perwira Tentara Pembela Tanah Air (PETA) setelah tentunya Osama Suirei No.44, Oktober 1943, pada tahun 1944 beliau masuk pendidikan calon Shodanco (komandan peleton) di Bogor, diangkat sebagai Shodanco dari Daidan (batalyon) Tentara PETA di Pacitan tugas pertamanya sebagai masuk calon prajurit tentara Peta, setelah Daidan terbentuk beliau ditugasi menjadi Shodanco Heiki Gakan (perwira bagian persenjataan dan peralatan), setelah proklamasi Peta dibubarkan, mantan Shodanco Basuki Rachmat berada di Maospati, sebuah kota kawedanan yang berada di jalan silang Surabaya – Surakarta dan Magetan, kota kecil ini penting karena disana ada pangkalan udara militer. Pemuda Basuki melatih pemuda-pemuda Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan diangkat sebagai pimpinannya. BKR Maospati adalah bagian dari BKR keresidenan Madiun dibawah pimpinan Sumantri mantan Shodanco Peta. Setelah terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, Basuki Rachmat membentuk batalyon TKR di Ngawi, kota kabupaten Maospati dan menjadi komandannya dengan pangkat Mayor, Batalyon Basuki Rachmat adalah satu batalyon dari Dwisir VI Narotama, di bawah pimpinan Kolonel Sungkono yang bermarkas di Surabaya. Sejak terjadinya awal pergolakan sampai pecahnya pertempuran Surabaya pada bulan November 1945, Basuki Rachmat memperkuat barisan pejuang, kompi demi kompi secara bergilir dilibatkan dalam pertempuran dikirim ke Surabaya. Setelah aksi militer Belanda I, tanggal 21 Juli 1947 Basuki Rachmat memindahkan batalyonnya ke daerah Bojonegoro, berkedudukan di Temoyang sebuah desa strategis yang terletak di jalan Surabaya – Bojonegoro dan Jombang – Babad, beberapa kali pihak Belanda berusaha merebut desa ini namun selalu gagal.
Setelah Reorganisasi dan Rasionalisasi TNI tahun 1948, batalyon Basuki Rachmat masuk jajaran Divisi I, Brigade I dibawah pimpinan Letkol Moh. Sudirman pada bulan September 1948, Basuki Rachmat sebagai komandan batalyon diperintahkan ke Magelang bersama-sama sejumlah para komandan batalyon dari Brigade untuk mengikuti briefing orientasi strategi baru TNI dalam mengantisipasi agresi militer Belanda yang kemudian dikenal dengan strategi atuisi, briefing ini dipimpin sendiri oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman. Seusai briefing, terdengar PKI melakukan pemberontakan di Madiun, beberapa daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur telah dikuasai oleh pasukan PKI. Bagi Basuki Rachmat dan kawan-kawannya yang berasal dari Jawa Timur, bagaimana mereka kembali ke kesatuan masing-masing. Perjalanan sangat riskan setiba di Ngawi bertemu dengan Sentot Iskandardinata, komandan batalyon sentot. Kota telah dikuasai oleh TNI, perjalanan dilanjutkan sampai di Cepu yang telah di rebut oleh kompi Subandono, sekalipun dalam perjalanannya dari Cepu, mobil nya di tembak pesawat Belanda akhirnya Basuki Rachmat tiba di markas komandannya di Temoyang. Setelah di umumkan oleh Presiden pada tanggal 15 Agustus 1949, Mayor Basuki Rachmat, Mayor Rukmito Hendraningrat, Kapten Sutarto Sigit ditunjuk sebagai anggota Local Joint Committee yang dipimpin Mayor Rukmito mengadakan perundingan dengan pihak Belanda di Bojonegoro. Setelah pengakuan kedaulatan pada bulan Juni 1950 Basuki Rachmat ditetapkan sebagai Kepala Staf dan Pejabat Brigade II/ Narotama Divisi I selanjutnya pada tahun 1953 diangkat sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorium V/ Brawijaya yang juga merangkap panglima dengan pangkat Letnan Kolonel, karena Panglimanya Kolonel Sudirman mantan komandan brigadenya di Bojonegoro diangkat sebagai Panglima Komando Daerah Pengamanan Sulawesi Selatan dan Tenggara (KPMSST) dari jabatan staf, KSAD Mayor Jenderal Bambang Sugeng, menunjuknya sebagai Atase Militer di Australia yang di jalaninya selama tiga tahun (1956-1959). Sekembali dari Australia Basuki Rachmat ditunjuk sebagai Asisten IV/ Logistik KSAD dan merangkap Sekretaris Penguasa Perguruan Tertinggi (Peperti) satu komando darurat militer yang di pimpin langsung oleh Presiden Soekarno, jabatan rangkap rupanya tidak mampu dipikulnya, kesehatan Basuki Rachmat merosot, akhirnya beliau dibebas-tugaskan dari jabatan Asisten IV/ Logistik Men/ Pangad, jabatan sebagai Sekretaris Peperti berakhir pada tahun 1961 setelah Peperti berubah menjadi KOTI Pemibar (Komando Operasi Tertinggi Pembebasan Irian Barat) setelah reorganisasi TNI tahun 1962, tepat pada saat perjuangan pembebasan Irian Barat, Basuki Rachmat diangkat sebagai Panglima Komando Daerah Militer VIII (KODAM VIII/ Brawijaya). Pada saat menjabat Pangdam VIII, banyak masalah sosial-politik yang dihadapinya Ofensif Revolusioner yang dilancarkan oleh PKI, seperti aksi sepihak yaitu penyerobotan tanah milik petani dan sejumlah demonstrasi yang menuntut Kabinet Nasakom dan pelbagai kampanye politik yang bernada anti TNI dan anti Pemerintah Daerah. Pada tanggal 27 September 1965, tatkala Basuki Rachmat sedang meninjau latihan Pos Komando (Posko) di Saradan (Madiun) di Surabaya terjadi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh ormas PKI. Kediaman Gubernur, pada waktu yang menjabat Gubernur Kolonel Wiyono, dikepung oleh masa PKI, demonstrasi di pelopori oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Para demonstrans yang ternyata tidak hanya wanita, menyerbu masuk rumah Gubernur. Benda-benda yang ada didalam gedung seperti meja, kursi, lukisan dirusaknya, mereka mencari Gubernur Wiyono dengan maksud akan diadili di depan masa mereka. Situasi Surabaya sangat menegangkan, Basuki Rachmat setelah menerima laporan peristiwa tersebut bergegas kembali ke Surabaya. Peristiwa ini dinilai sebagai peristiwa yang serius harus segera dilaporkan kepada Men/ Pangad Letjen. A. Yani. Kadar politiknya sangat tinggi, yang dinilai sebagai test case untuk menaksir kekuatan lawan PKI. Basuki Rachmat dikawal oleh Kapten Sugianto, Ajudan Gubernur Wiyono diterima Men/ Pangad pada tanggal 30 September malam, untuk melaporkan situasi politik yang mutakhiri di Jawa Timur. Men Pangad akan meneruskan laporan tersebut kepada Presiden, beliau memerintahkan supaya besok tanggal 01 Oktober 1965 menggunakan PDUK untuk menghadap Presiden.
Tanggal 01 Oktober 1965, setelah mendengar berita tentang kudeta Gerakan 30 S/ PKI langsung datang ke markas Kostrad dan melakukan kontak dengan staf Kodam memerintahkan agar komando diselamatkan dari situasi yang kritis. Tatkala menyaksikan sendiri satu batalyon dari jajaran Kodam VIII/ Brawijaya terlibat dalam peristiwa itu.
Basuki Rachmat berusaha menghubungi Komandan Batalyon 530 Mayor Bambang Supeno tidak berhasil, kontak berhasil dilakukan dengan Kapten Sukarbi, Wakil Komandan Batalyon II. Akhirnya pada sore hari Kapten Sukarbi membawa pasukannya masuk Makostrad, batalyon 530 minus 1 Kompi yang masuk jajaran tim.
Sementara itu Panglima Kostrad memerintahkan Brigjen Sabirin Muchtar sesepuh Batalyon tersebut menghubungi mereka. Sesudah Pangkostrad Mayor Jend. Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat pada tanggal 16 Oktober 1965 dengan pangkat Letnan Jenderal, Basuki Rachmat ditunjuk sebagai Deputy Khusus (Desus) Pangad merangkap jabatan Pangdam VIII/ Brawijaya. Tatkala Presiden Soekarno mereshuffle kabinet, menjadi Kabinet Dwikora yang disempurnakan pada Bulan Februari 1966, Basuki Rachmat diangkat sebagai Menteri Veteran dan Demobilisasi. Pada saat menjabat Menteri inilah Basuki Rachmat berperan dalam lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Tugas baru telah menanti Basuki Rachmat, Presiden Soeharto menunjuk Basuki Rachmat sebagai Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Pembangunan I (1968-1973). Tugas utama Departemen Dalam Negeri pada saat itu mempersiapkan Penentuan Pendapat Rakyat Irian Barat (Get & Free Choice) yang akan diselenggarakan pada tanggal 14 Juli 1969. Basuki Rachmat tidak menyaksikan hasil perjuangan Bangsa Indonesia yang berat dan lama yaitu utuhnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau meninggal dunia ketika memimpin rapat staf di Departemen Dalam Negeri. Pangkat Militernya dinaikkan secara Anumerta menjadi Jenderal TNI.
Atas jasa dan perjuangannya terhadap bangsa dan negara, Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 1/TK/1969 tanggal 9 Januari 1969.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1847

Pondok Pesantren Ash-Shomadiyah, Kabupaten Tuban

Pondok Pesantren ini berada di Kelurahan Kingking Keca- matan Tuban. Awal mula berdirinya Pondok Pesantren Ash- ShomadiyahMakam Agung ini sekitar tahun 1700-an Masehi oleh SyekhShomadiyah, seorang waliyullah yang berasal dari Morosemo dan makbarohnya ada di belakang masjid Makam Agung Tuban.

Konon, cikal bakal Pondok Pesantren Ash-Shomadiyah ini bermula ketika Mbah Shomadiyah yang selalu rutin shalat jama’ah maghrib dan isya’ di Masjid Agung, sebelah barat Alun- alun Tuban. Jalan yang dilalui Mbah Shomadiyah berjalan kaki ke masjid terdapat markas Belanda. Pada jam-jam sore itulah kegiatan kompeni bersenang-senang dengan membunyikan musik. Ketika Mbah Shomadiyah lewat, suara musik itu tiba-tiba tidak bunyi.

Begitu Mbah Shomadiyah sudah berlalu, suara musik bisa berbunyi lagi. Begitu kejadian berulang-ulang setiap petang terjadi. Akhirnya penguasa Belanda berupaya supaya Mbah Shomadiyah tidak melewati jalan tersebut, maka diupay^kan Mbah Shomadiyahpunya lahan dan masjid sendiri supaya tidak jalan lewat markas Belanda tersebut. Tempat itulah yang kini terkenal dengan nama kompleks Pondok Pesantren Makam Agung.

Lembaga pendidikan ini dahulunya hanya sebuah masjid kecil tempat pendiri Pondok Pesantren Makam Agung, SyekhShomadiyah mengajarkan ilmunya dan menggembleng masyarakat sekitar untuk shalat jamaah dan mengaji atau ta’lim.Mbah Shomadiyah mengasuh pondok pesantren ini hingga wafat dan kepengasuhan diteruskan oleh keturunannya.

Mbah Shomadiyah mempunyai lima orang putra, salah satu dari lima putra tersebut adalah H. Ma’ruf. Dari jalur H. Ma’ruf inilah menurunkan lima putra juga, yaitu : Badrul Jamal, Ya’qub, Basyar, Dahlan dan Shidiq. Ya’qub mempunyai putra bernama Fatiyah yangmempunyai putra Muhyiddin Faqih. Sedangkan Basyar berputrakan Sholih, yang menurunkan empat putra yaitu Ahmad Shifa’, Shofi Sholih, Adib Sholih, dan Afwah. Dahlan berputra Muhdi yang mempunyai putra Hamzah dan Hanafi. Sedangkan Shiddiq berputrakan Ali yang tinggal di Maibit.

Masa kejayaan Ponpes ash-Shomadiyah tidak terlepas dari figur KH. Ahmad Shifa’ Sholih atau Mbah Syifa’ (wafat tahun 2009). Beliau termasuk tokoh agama yang sangat disegani pada masanya. Pada masa kepemimpinan Mbah Syifa’ ini mulai dirintis dan difasilitasi pendirian lembaga pendidikan formal di lingkungan pesantren Shomadiyah, mulai dari memfasilitasi sarana gedung dan tanah untuk SDI dan SMP Mu’alimin, yang kemudian pada tahun 1992 berdiri Madrasah Aliyah ash-Shomadiyah, dan pada tahun 1996 berdiri tingkat MTs. Selain nama besar Mbah Syifa’, terdapat neme besar nama lain yang melegenda di lingkungan Ash-Shomadiyah yaitu KH. Syarif (Mbah Syarif). Mbah Syarif ini sangat terkenal dengan sikap ikhlas dan sederhananya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm.251-152

Makam Syekh Subakir, Kabupaten Tuban

Tidak ada yang tahu pasti dimana makam Syekh Subakir. Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat di Persia tahun 1462. Sedangkan yang ada di Indonesia dan diziarahi oleh masyarakat adalah situs-situs peninggalannya.Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa beliau wafat di pulau Jawa.Di pulau Jawa sendiri terdapat dua makam yang berbeda, makam pertama terletak di pemakaman Beji Benowo daerah pegunungan Tidar, Magelang, Jawa Tengah. Dan makam lainnya terletak di Tanjung Awar-Awar Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.

Syekh Subakir merupakan tokoh pertama Islam yang datang ke Pulau Jawa, sebelum kedatangan Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak maupun Syekh Maulana Magribi dan anggota Wali Songo lainnya. Syekh Subakir berdakwah di daerah Magelang Jawa Tengah, dan menjadikan Gunung Tidar sebagai pesantrennya.Masyarakat kala itu beranggapan bahwa Syekh Subakir ahli memasang tumbal atau jimat.

Dalam legenda yang beredar di Pulau Jawa dikisahkan, sudah beberapa kali utusan dari Arab yang datang ke tanah Jawa, untuk menyebarkan Agama Islam.Namun pada umumnya mengalami kegagalan. Penyebabnya masyarakat Jawa saat itu sangat memegang teguh kepercayaannya.Sehingga para ulama yang dikirim mendapatkan halangan yang sangat berat ajaran Agama Islam meskipun berkembang tetapi hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas.

Konon, Pulau Jawa masih merupakan hutan belantara yang sangat angker.Datanglah seorang Syekh dari Persia yang bernama Syekh Subakir. Angkernya pulau Jawa saat itu dipenuhi dengan jin jahat. Kedatangan Syekh Subakir ke pulau Jawa asal mulanya hanyalah ingin mensyiarkan Agama Islam. Namun, beliau mengetahui bahwa pulau Jawa masih labil. Banyak gempa di sana-sini. Bahkan Pulau Jawa terasa berguncang-guncang.Akhirnya, Syekh Subakir menaklukkan keganasan Pulau Jawa tersebut dengan mengalahkan jin-jin yang jahat.

Disamping itu, beliau menanam sebuah paku ghaib agar pulau Jawa tidak berguncang-guncang. Setelah paku ditanam, maka pulau Jawa sudah stabil.Konon ada tiga paku yang ditanam oleh Syekh Subakir.Salah satu paku ghaib tersebut konon berada di wilayah Magelang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Tuban Bumi Wali; The Spirit of Harmony, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, hlm.

Pondok Pesantren Langitan, Kabupaten Tuban

Pondok Pesantren Langitan adalah salah satu lembaga pen- didikan Islam tertua di Indonesia. Berdirinya lembaga ini jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu tepatnya pada tahun 1852, di Dusun Mandungan, Desa Widang, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kompleks Pondok Pesantren Langitan terletak di samping Bengawan Solo dan berada di atas areal tanah seluas kurang lebih 7 hektar.

Lokasi pondok berada kira-kira 400 meter sebelah selatan ibu- kota Kecamatan Widang, atau kurang lebih 30 km sebelah selatan ibukota Kabupaten Tuban, juga berbatasan dengan Desa Babat, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan dengan jarak kira-kira satu kilometer. Dengan lokasi yang setrategis ini Pondok Pesantren Langitan menjadi mudah untuk dijangkau melalui sarana angkutan umum, baik sarana transportasi bus, kereta api, atau sarana yang lain. Adapun nama Langitan itu adalah merupakan perubahan dari kata Plangitan, kombinasi dari kata plang (bahasa Jawa) berarti papan nama dan wetan (bahasa Jawa) yang berarti timur.

Memang di sekitar daerah Widang dahulu, tatkala Pondok Pesantren Langitan ini didirikan pernah berdiri dua buah plang atau papan nama, masing-masing terletak di timur dan barat. Kemudian di dekat plang sebelah wetan dibangunlah sebuah lembaga pendidikan ini, yang kelak karena kebiasaan para pengunjung menjadikan plang wetan sebagai tanda untuk memudahkan orang mendata dan mengunjungi pondok pesantren, maka secara alamiyah pondok pesantren ini diberi nama Plangitan dan selanjutnya populer men­jadi Langitan. Kebenaran kata Plangitan tersebut dikuatkan oleh sebuah cap bertuliskan kata Plangitan dalam huruf Arab dan berbahasa Melayu yang tertera dalam kitab “Fathul Mu’in” yang selesai ditulistangan oleh KH. Ahmad Sholeh, pada hari Selasa 29 Rabiul Akhir 1297 Hijriyah.

Lembaga pendidikan ini dahulunya adalah hanya sebuah surau kecil tempat pendiri Pondok Pesantren Langitan, KH. Muhammad Nur mengajarkan ilmunya dan menggembleng keluarga dan tetangga dekat untuk meneruskan perjuangan dalam mengusir kompeni (penjajah) dari tanah Jawa.KH. Muhammad Nur mengasuh pondok ini kira-kira selama 18 tahun (1852-1870 M), kepengasuhan pondok pesantren selanjutnya dipegang oleh putranya, KH. Ahmad Sholeh.

Setelah kira-kira 32 tahun mengasuh pondok pesantren Langitan (1870-1902 M.) akhirnya beliau wafat dan kepengasuhan selanjutnya diteruskan oleh putra menantu, KH. Muhammad Khozin. Ia sendiri mengasuh pondok ini selama 19 tahun (1902-1921 M.). Setelah beliau wafat matarantai kepengasuhan dilanjutkan oleh menantunya, KH. Abdul Hadi Zahid selama kurang lebih 50 tahun (1921-1971 M.), dan seterusnya kepengasuhan dipercayakan kepada adik kandungnya yaitu KH. Ahmad Marzuqi Zahid yang mengasuh pondok ini selama 29 tahun (1971-2000 M.) dan keponakan beliau, KH. Abdullah Faqih.

Perjalanan Pondok Pesantren Langitan dari periode ke periode selanjutnya senantiasa memperlihatkan peningkatan yang dinamis dan signifikan namun perkembangannya terjadi secara gradual dan kondisional. Bermula dari masa KH. Muhammad Nur yang merupakan sebuah fase perintisan, lalu diteruskan masa KH. Ahmad Sholeh dan KH. Muhammad Khozin yang dapat dikategorikan periode perkembangan. Kemudian berlanjut pada kepengasuhan KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Ahmad Marzuqi Zahid dan KH. Abdullah Faqih yang tidak lain adalah fase Pembaruan.

Dalam rentang masa satu setengah abad Pondok Pesantren Langitan telah menunjukkan kiprah dan peran yang luar biasa, berawal dari hanya sebuah surau kecil berkembang menjadi Pondok yang representatif dan populer di mata masyarakat luas baik dalam negeri maupun manca negara. Banyak tokoh-tokoh besar dan pengasuh pondok pesantren yang dididik dan dibesarkan di Pondok Pesantren Langitan ini, seperti KH.Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Syamsul Arifin (ayah KH. As’ad Syamsul Arifin) dan lain-lain.

Dengan berpegang teguh pada kaidah “Al-Muhafadhotu Alal QodimisSholeh Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah” (memelihara budaya- budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif), maka Pondok PesantrenLangitan dalam perjalanannya senantiasa melakukan upaya-upaya perbaikan dan kontektualisasi dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio kultural, khususnya dalam hal pendidikan dan manajemen.

Usaha-usaha ke arah pembaharuan dan modernisasi memang sebuah konsekwensi dari sebuah dunia yang modern. Namun Pondok Pesantren Langitan dalam hal ini mempunyai batasan- batasan yang kongkrit, pembaharuan dan modernisasi tidak boleh mengubah atau mereduksiorientasi dan idealisme pesantren. Sehingga dengan demikian Pondok Pesantren Langitan tidak sampai terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi, namun justru sebaliknya dapat menempatkan diri dalam posisi yang strategis, dan bahkan kadang-kadang dianggap sebagai alternatif. ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Tuban Bumi Wali; The Spirit of Harmony, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, hlm.248 -250

Situs Jati Gembol, Kabupaten Tuban

Situs Jati Gembol berada di Kecamatan Montong tepatnya di perbatasan antara Desa Pucangan dan Koro Kecamatan ‘ Merakurak. Ada juga yang menyebutnya sebagai jati kamplok. Lokasi jati gembol ini sangat dekat dengan jalan raya yaitu berada di samping kiri jalan dari arah Pucangan Montong dan pohonnnya pun bisa dilihat dari jalan raya.

Menurut legenda pohon jati itu adalah jelmaan dari pengembala yang di sabda oleh seorang wali karena jengkel dengan ulah si pengembala. Ketika jati tersebut akan ditebang si penggembala merangkul (bahasa Jawa, ngamplok) ke pohon jati tersebut guna menghalang-halangi maksud sang wali yang akan mengambil jati guna pembangunan masjid Demak.

Menurut salah seorang warga Pucangan Jati gembol itu dulunya berjumlah tiga batang, pada masa kecilnya tidak ada seorang pun yang berani menebang pohon jati tersebut. Konon jika di tebang pohon itu mengeluarkan darah seperti halnya manusia yang terluka.

Namun sekarang pohon itu hanya tinggal satu batang saja, itu pun bagian batang yang bawah sudah banyak yang diambili oleh orang- orang yang punya maksud-maksud tertentu, ada yang dipakai untuk jimat, untuk pesugihan maupun yang lainnya.Untuk mengambil sebagian batang pohon jati gembol tidak bisa sembarangan biasanya harus menunggu hari Jum’at Pahing terlebih dahulu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm. 244

Situs Watu Gajah, Kabupaten Tuban

Konon salah seorang dari putera mahkota Kerajaan Majapahit, putera Prabu Hayam Wuruk (Brawijaya IV), bernama Pangeran Sudimoro (yang sekarang dikenal dengan Pangeran Pengulu/Syekh Hasyim Alamuddin/Sunan Bejagung Kidul) pergi dari kerajaan karena ia tidak mau menjadi putera mahkota.

Ia senang menuntut Ilmu. Ia pergi ke Tuban mencari guru Ilmu Syari’at , Thoriqot, Haqiqot, dan Ma’rifat. Setelah sampai di Tuban, ia bertemu dengan Kanjeng Sunan Bejagung.Kemudian Pangeran Sudimoro mengaji kepada beliau.Sampai menjadi orang alim, yang pada akhirnya diambil menantu oleh Kanjeng Sunan dan ditetapkan menjadi kiai di Kasunanan Bejagung; sementara Sunan Bejagung uzlah di sebelah utara Kasunanan, suatu ladang yang penuh dengan tanaman petani.

Pada saat Pangeran Sudimoro masih mengaji di Kasunanan Bejagung Sang Pabu Hayam Wuruk berusaha mencarinya. Setelah mengetahui bahwa anaknya mengaji di padepokan Sunan Bejagung Tuban, maka Sang Prabu memerintahkan patihnya bernama Gajah Mada yang memiliki ilmu kadigjayan sangat tiriggi dan terkenal dengan ilmu Barat Ketigo, untuk mengajak sang putera mahkota (Pangeran Sudimoro) pulang ke Majapahit.

Berita tersebut didengar oleh Pangeran Sudimoro; ia menghadap kepada Sunan Bejagung.mohon agar beliau membantunya untuk menolak kehendak Sang Pabu Hayamwuruk. Sebab Pangeran Sudimoro ingin tetap menekuni ilmu agama Islam saja, tidak ingin menjadi raja.

Kehendak Pangeran Sudimoro tersebut dikabulkan oleh Sunan Bejagung, selanjutnya Sunan Bejagung menggaret tanah sekitar Padepokan Kasunanan Bejagung yang sampai sekarang dikenal dengan “Siti Garet” agar tentara Majapahit tidak bisa masuk Kasunanan. Ternyata setelah tentara Mahapahit akan masuk Kasunanan tidak bisa, akhirnya berhenti di arah selatan Kasunanan. Salah seorang santri melapor kepada Kanjeng Sunan bahwa di sebelah selatan Kasunanan banyak pasukan gajah dari Majapahit. Kanjeng Sunan mengatakan, “Tidak gajah, tetapi batu”.Seketika itu semua gajah menjadi batu, yang sampai sekarang dikenal dengan namaWatu Gajah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm. 245-247

Situs Mpu Supo, Kabupaten Tuban

Sebilah keris adalah hasil karya seniman pembuatnya. Jika keris itu tergolong adikarya (masterpiece), maka seniman pembuatnya diberi gelar empu. Tetapi keris selain terdiri atas bilahnya, juga harus dilengkapi dengan berbagai perabot yang terdiri atas: warangka, ukiran, mendak, selut, dan pendok. Masing- masing bagian itu juga dibuat oleh para seniman.Dalam dunia perkerisan, riwayat para empu hampir selalu merupakan kisah yang menarik, dan Salah satu besalen petilasan tempat pembuatan merupakan legenda keris Empu Supo di Desa Dermawuharjoh yang dituturkan turun menurun.

Dermawuharjo adalah sebuah desa yang memiliki kekayaan alam berupa sumber air panas belerang. Ketika kita memasuki Desa Dermawuharjo maka aroma belerang akan tercium begitu menyengat. Sumber air belerang yang masih keiuar sampai sekarang, pada jaman dahulu digunakan oleh para pembuat keris untuk marangi (mencuci) bilah keris yang sudah ditempa.Keris dapur Tuban sampai saat ini menjadi salah satu tipe keris yang diakui sebagai khasanah pu- saka nusantara.

Di Desa Dermawuharjo Kecamatan Grabagan terdapat petilasan Empu Supo, seorang yang ahli membuat keris pada masa transisi dari Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Demak. Menurut cerita lokal, Empu Supo kawin dengan Dewi Rasawulan, adik Sunan Kalijaga. Empu Supo berhasil menciptakan keris Sengkelat (simbol rakyat) yang mampu mengalahkan keris Condong Campur milik Prabu Brawijaya V.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Tuban Bumi Wali; The Spirit of Harmony, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, hlm. 245-247

Situs Dadung Awuk, Kabupaten Tuban

Terletak di Desa Ngepon Kecamatan Jatirogo,di desa ini ter- dapat situs yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Situs Dadung Awuk.Situs sosial budaya Dadung Awuk terletak di petak 93 RPH Ngepon, BKPH Sale Perhutani KPH Kebonharjo. Situs ini berbentuk batu besar dengan tinggi sekitar dua meter yang dililit akar pohon grasak serta beberapa batu yang bentuknya menyerupai sapi, kerbau, kambing dan binatang ternak lainnya. Lokasi ini juga ditetapkan Perhutani KPH Kebonharjo sebagai kawasan biodiversity

Menurut Juru kunci Kasdan (60) warga asli Desa Ngepon, Kecamatan Jatirogo, Tuban, sejarah situs Dadung Awuk konon bermula pada masa sekitar runtuhnya kerajaan Majapait dan awal kejayaan kerajaan Demak Bintoro yang dipimpin oleh Raden Patah. Pada masa itu para Sunan atau Wali sembilan juga tengah menyebarkan agama islam di tanah Jawa.

Alkisah, Sunan Ampel memerintah salah satu santrinya yang pilihan atau pinunjul untuk mengantarkan tabung bambu (bumbung) yang disumbat dengan daun lontar kepada Raden Patah.Sunan Ampel berpesan agar tidak boleh ada yang membuka bumbung itu selain Raden Patah. Nah, dalam perjalanan, sang murid pinunjul tergoda ingin mengetahui isi bumbung itu. Setelah sampai di daerah yang saat ini menjadi kawasan hutan Perhutani Kebonharjo petak 93 tersebut, gejolak hatinya tak dapat dibendung. Rasa ingin tahu isi bumbung itu semakin tinggi.

Mula-mula, ia mengintip isi bumbung itu. Tapi tak kelihatan benda apa yang ada di dalam. Tak dapat menahan rasa penasaran, sumbat bumbung yang berupa daun lontar itu pun dibukanya, dan apa yang terjadi?Ternyata dari bumbung keluar berbagai binatang, yaitu sapi, kerbau, kambing dan lainnya yang lantas berlarian masuk hutan. Terkejut, sang murid pinunjul itu pun kebingungan dan berusaha menangkap serta memasukannya kembali ke dalam bumbung.Ketika semakin masuk ke dalam hutan dalam kebing- ungannya itu, sang murid bertemu dengan Dadung Awuk, seseorang yang berkuasa di wilayah itu. Keduanya berselisih karena Dadung Awuk berpendapat bahwa binatang yang sudah masuk hutan di wilayahnya sudah menjadi miliknya. Sampai kemudian terjadi perkelahian hebat dan tak ada yang menang atau kaiah.

Singkat cerita, dengan kesaktian sang murid pinunjul, akhirnya Dadung Awuk dan semua binatang itu disabdakan menjadi batu. Namun setelah Dadung Awuk dan semua binatang berubah wujud menjadi batu, ia pun menyesal. Dalam penyesalannya, ia setiap hari memohon ampun kepada yang Tuhan Maha kuasa. Konon, sari kata “ampun” itu maka desa itu dinamakan Desa Ngepon.Sedangkan sumbat dari daun lontar menjadikan daerah itu banyak sekali ditumbuhi pohon lontar atau siwalan.Kirii, di sepanjang tepi jalan Bulu-Jatirogo banyak berjualan legen dan siwalan.

Sang murid pinunjul itu pun tak berani kembali ke Ampel dan akhirnya menetap di Desa Ngepon. Masyarakat memanggilnya Mbah Punjul dan akhirnya dimakamkan di tempat yang sekarang menjadi situs Mbah Punjul.Sampai saat ini, masyarakat sekitar masih melestarikan situs tersebut. 242-243