Upacara Temanten Kucing Ds. Pelem Kec. Campurdarat Kab. Tulungagung  

 

200712021418513Desa Pelem adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Campurdarat, yaitu wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Adapun letak geografis desa Pelem adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara              : Desa Wates

Sebelah Selatan           : Desa Perhutanan

Sebelah Timur             : Desa Pojok

Sebelah Barat              : Desa Campurdarat

Luas areanya 525 hektar yang terbagi dalam lima dusun yaitu Dusun Sumberjo, Dusun Pelem, Dusun Tambak, Dusun Jambudan Dusun Bangak. Jumlah penduduk Desa Pelem seluruhnya 8.212 orang, dengan rincian laki-laki 4.114 orang dan perempuan 4.098 orang.

 Sejarah Upacara Temanten Kucing

Asal muasal ritual manten kucing itu mempunyai sejarah panjang, yang hingga sekarang masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Dahulu, di desa pelem hidup seorang demang yang dikenal dengan sebutan Eyang Sangkrah. Ia adalah sosok linuwih dalam ilmu kejawen. Eyang Sangkrah memiliki seekor kucing condromowo (bulunya tiga warna) jantan dengan sepasang mata istimewa. Upacara ritual “Temanten Kucing” dirintis ratusan tahun silam. Awalnya, daerah Pelem dilanda kemarau panjang yang membuat warga kebingungan mendapatkan air. Sebagai seorang pemimpin desa, Eyang Sangkrah merasa bertanggungjawab atas nasib penduduknya. Berbagai ritual untuk memohon hujan dilakukan, tapi air tidak kunjung turun.

Eyang Sangkrah merasa kehabisan cara. Eyang Sangkrah, tokoh yang membabat Desa Pelem, suatu ketika mandi di telaga Coban. Dia mengajak serta seekor kucing condro mowo piaraannya. Sepulang Eyang Sangkrah memandikan kucing di telaga, tak lama berselang, di kawasan Desa Pelem turun hujan deras. Karuan saja, warga yang sudah lama menunggu-nunggu turunnya hujan tak bisa menyembunyikan rasa memandikan kucing condro mowo”. Ketika Desa Pelem dijabat Demang Sutomejo pada 1926, desa ini kembali dilanda kemarau panjang. Saat itulah, Eyang Sutomejo mendapat wangsit untuk memandikan kucing di telaga. Maka, dicarilah dua ekor kucing condro mowo. Lalu, dua ekor kucing itu dimandikan di telaga Coban. Dan, beberapa hari kemudian hujan mulai turun.

 

Pelaksanaan Upacara Temanten Kucing

Dalam upacara ini, sepasang kucing jantan dan kucing betina dipertemukan menjadi pasangan pengantin. Prosesi “Temanten Kucing” diawali dengan mengirab sepasang kucing jantan dan betina ,kucing warna putih yang dimasukkan dalam keranji.

Dua ekor kucing itu dibawa sepasang „pengantin‟ laki-laki dan wanita. Di belakangnya, berderet tokoh-tokoh desa yang mengenakan pakaian adat Jawa. Sebelum dipertemukan, pasangan “Temanten Kucing” dimandikan di telaga Coban. Secara bergantian, kucing jantan dan kucing betina dikeluarkan dari dalam keranji.

Lalu, satu per satu dimandikan dengan menggunakan air telaga yang sudah ditaburi kembang. Usai dimandikan, kedua kucing diarak menuju lokasi pelaminan. Di tempat yang sudah disiapkan aneka sesajian itu, pasangan kucing jantan dan betina itu „dinikahkan‟. Sepasang laki-laki dan perempuan yang membawa kucing, duduk bersanding di kursi pelaminan. Sementara dua temanten kucing berada di pangkuan kedua laki-laki dan wanita yang mengenakan pakian pengantin itu. Upacara pernikahan ditandai dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan sesepuh desa setempat.

Tak lebih dari 15 menit, upacara pernikahan pengantin kucing usai. Lalu, prosesi “Temanten Kucing” dilanjutkan dengan pagelaran seni tradisional Tiban dan pagelaran langen tayub.

 Maksud dan Tujuan Upacara Temanten Kucing

Berkaitan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat Desa Pelem Kecamatan Campursarat Kabupaten Tulungagung, Upacara Temanten Kucing yang selama ini dilakukan mempunyai tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu Upacara Temanten Kucing yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Pelem digunakan sebagai sarana bagi masyarakat yang berharap agar Tuhan menurunkan hujan.

 Nilai – Nilai Yang Terkandung di Dalam Upacara Temanten Kucing

Nilai-nilai yang perlu dikembangkan dalam upacara Temanten Kucing adalah :

1) Nilai Religius. Nilai religius itu tampak dengan jelas, karena pada dasarnya Upacara Temanten Kucing bertujuan untuk mengharapkan agar Tuhan menurunkan hujan. Sedangkan Upacara Temanten Kucing sebagai medianya.

2) Nilai Gotong Royong. Dalam sistem nilai budaya orang Indonesia gotong-royong merupakan suatu hal yang tidak asing lagi, terutama pada masyarakat pedesaan. Praktek gotong-royong mewarnai hampir semua kegiatan dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana kodratnya bahwa t. Dalam kaitnnya dengan Upacara Temanten Kucing praktek gotong-royong tampak mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan upacara. Upacara Temanten Kucing yang bersifat fisik hampir semuanya dilakukan dengan cara gotong-royong.

3) Nilai Persatuan. Dalam Upacara Temanten Kucing rasa persatuan tampak sekali diperlihatkan oleh warga masyarakat Desa Pelem. Rasa persatuan ini tampak terjalin dengan baik antara sesama warga masyarakat. Tanpa adanya persatuan diantara warga masyarakat tidak mungkin Upacara Temanten Kucing dapat berjalan dengan baik. Bukti lain adanya nilai persatuan adalah pada waktu upacara selamatan. Dimana warga masyarakat berkumpul disuatu tempat untuk mengucapkan rasa syukur dan makan brekat/ambeng secara bersama-sama. Hal yang demikian menunjukkan keterikatan rasa solidaritas dan persatuan antara sesame warga masyarakat.

4) Nilai Seni dan Keindahan. Hal ini tampak jelas pada saat warga masyarakat mengarak Temanten Kucing. Warga masyarakat memakai pakaian adat Jawa. Yang laki-laki menggunakan beskap dan yang perempuan menggunakan kebaya. Di samping itu nilai seni dan keindahan itu juga tampak pada berbagai macam kesenian yang disajikan seperti kesenian Langen Tayub dan Tiban.

——————————————————————————————-Rita Hajati,  Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Upacara Temanten Kucing Di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung.  Universitas Nusantara PGRI Kediri. 2016.

 

Masjid Tiban Macanbang, Kabupaten Tulungagung

Jin pun menyusup di antara para jamaah masjid tiban macanbang.

Arsip macanbangMasjid Tiban Macanbang penuh misteri. Tak diketahui, dibangun oleh siapa dan bagaimana proses kejadiannya. Seolah-olah, masjid tersebut bercokol di tempat itu setelah di jatuhkan dari langit. Tetapi benarkah kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah masjid?

Banyak kisah tentang masjid tiban. Rata-rata, berselimut misteri. Demikian halnya dengan Mas­jid Tiban Macanbang, yang terletak di salah satu sudut Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. “Masjid ini, tiba-tiba ada dan difungsikan sebagai tempat ibadah oleh warga,” jelas Dulgani (68).

Dulgani adalah seorang warga setempat yang memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Tiban Ma­canbang. Kedekatan tersebut, karena ia merupakan keturunan ke enam dari penemu pertama masjid itu. “Menurut nenek moyang kami, Masjid Tiban Macanbang ini ditemukan pada sekitar tahun 1600-ari oleh Sangidin,” kisah Dulgani mengungkap riwayat Masjid Tiban Ma­canbang.

Lebih jauh dikemukakan, Sangidin adalah nenek moyangnya. Sekaligus, merupakan cikal bakal Desa Macanbang. Selain itu, Sangidin juga merupakan salah seorang menantu Kyai Kasan Besari, Tegalsari, Ponorogo. Sekedar untuk diketahui, Kyai Kasan Besari sendiri merupakan guru pujangga besar Keraton Surakarta Hadiningrat, R Ngabehi Ronggowarsita.

arsip macanbang 0Ihwal ditemukannya Masjid Tiban Macanbang, terkait dengan sejarah babad daerah setempat. Seperti di­ketahui, sebelum Desa Macanbang seperti sekarang ini, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang sangat angker. Selain dihuni banyak binatang buas, juga dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang amat menyeramkan. Saking angkernya, tidak setiap manusia berani merambahnya. Ibaratnya, jalma mara, jalma mati. Artinya, siapa yang berani merambah hutan ini, hampir bisa dipastikan akan pulang tinggal nama.

Keadaan demikian, tak membuat nyali Sangidin ciut. Dengan keberaniannya, lelaki gagah berani yang juga menantu Kyai Kasan Besari ini membuka kawasan hutan tersebut, untuk kemudian dijadikan permukiman warga. “Ketika masih berupa hutan, namanya Alas Sumampir,” kisah Dulgani yang ditemui LIBERTY di Masjid Tiban Macanbang.

Dengan peralatan seadanya, Sangidin menebangi belantara hutan yang angker itu. Satu persatu, pohon-pohon di dalam hutan itu ditebang. Pekerjaan ini dilakukan selama berhari-hari. Nah, hingga satu hari mata Sangidin terbelalak, melihat sebuah masjid kuno tiba-tiba muncul di tengah hutan yang dibabatinya. Dalam perkembangan berikutnya, masjid itu kemudian lebih popular dengan sebutan Masjid Tiban Macan­bang.

arsip macanbang 1Sangidin tidak habis mengerti atas keberadaan masjid kuno itu. Ia juga heran, dan terus bertanya-tanya. Yang membuatnya bingung, siapa yang telah mendirikan masjid itu. Siapa pula yang akan menggunakan masjid yang berdiri di tengah hutan belantara seperti itu.

Apalagi, Sangidin melihat tak ada seorang pun warga yang bisa dilihatnya di sekitar masjid tersebut. “Ya, lantas siapa yang membangun masjid ini, dan siapa pula yang akan menggunakannya masjid di tengah belantara hutan yang hanya dihuni binatang-binatang buas dan bermacam makhluk halus ini,” demikian , kira-kira Sangidin bertanya-tanya.

ARTISTIK
Arsitektur Masjid Macanbang sendiri tampak artistik. Tanpa kubah, juga tanpa menara. Atapnya seperti kebanyakan bangunan joglo. Hanya saja bersusun tiga. Sepintas, seperti masjid-masjid kuno yang dibangun pada zaman Kesultanan Demak.

Memang, masjid tiban Macan­bang sendiri sudah mengalami beberapa kali renovasi. Tetapi serangkaian renovasi yang pernah dilaku­kan, tidak sampai merombak total bentuk aslinya. “Sejak dulu, ya se­perti ini. Bentuk aslinya, sengaja dipertahankan sedemikian rupa,” ujar Dulgani.

Teras masjid, berupa balai-balai. Arsitektur bangunannya juga joglo. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan balai-balai tersebut sebagai tempat untuk selamatan atau kenduri. Di setiap Rabu pertama di bulan Sapar, digelar tradisi Rabu Wekasan. “Tradisi ini, sebenarnya merupakan salah satu bentuk tasyakuran masyarakat ‘jelas Dulgani.

Bukan hanya tasyakuran saparan saja yang digelar di Masjid Tiban Ma­canbang. Tasyakuran serupa juga di­gelar pada bulan-bulan lainnya. Di antaranya, bulan Ruwah, Maulud dan menyambut tahun baru Islam. Pada bulan-bulan demikian, masyarakat datang berbondong-bondong ke masjid itu dengan membawa makanan dari rumah untuk dikendurikan bersama.

Di masjid, juga terdapat bebera pa benda kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Kuning. Benda-benda yang dimaksud, antara lain berupa mimbar tempat berkhotbah, dampar un­tuk tadarusan, kentongan serta bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih bisa didapati. Hanya saja, un­tuk mimbar tempat ber­khotbah dan dampar untuk tadarusan, warnanya sudah tidak asli lagi. Kesannya, baru dicat dengan warna hijau.

Yang jelas, ada semacam kepercayaan dari beberapa warga setem­pat, bahwa kadang-kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah di masjid itu. “Memang, tidak semua orang bisa melihat dan merasakan hal ini. Tetapi setidak-tidaknya, hal demikian pernah dirasakan dan dilihat oleh beberapa jemaah,” ungkap beberapa warga sekitar Masjid Macanbang.

MAKAM
Bukan hanya masjid kuno itu saja yang ditemukan cikal bakal Desa Macanbang ini, ketika membedah Alas Sumampir. Ia juga menemukan sebuah kompleks makam. Lokasinya, persis di belakang masjid tiban. Salah satu makam yang ditemukannya itu, hingga kini dipercaya masyarakat setempat sebagai Ma­kam Sunan Kuning.

Siapa sebenarnya Sunan Kuning ini? Menurut Dulgani, yang juga juru kunci makam itu, Sunan Kuning adalah calon menantu Sunan Ampel. “Tetapi, beliau keburu meninggal dunia, sebelum benar-benar bersanding dengan putri Sunan Ampel,” jelasnya.

Kematian Sunan Kuning, bukan tanpa kisah. Meski kisah tersebut belum tentu kebenarannya, namun masyarakat terlanjur mempercayainya. Dalam kisahnya disebutkan, satu ketika Sunan Kuning tertarik oleh kecantikan dan kemolekan salah seorang putri Sunan Ampel. Tak ada penjelasan, siapa nama pu­tri Sunan Ampel yang dimaksud.

Yang pasti, kemudian Sunan Ku­ning berterus kepada Sunan Ampel akan rasa ketertarikannya itu. Dan ternyata, Sunan Ampel tidak keberatan, jika memang Sunan Kuning hendah memperistri salah seorang putrinya. Hanya saja, ada syarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi oleh Sunan Kuning. Syarat yang dimaksud, intinya Sunan Kuning baru bisa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di alas Lodoyo Blitar.

Demi wanita pujaan hatinya, Sunan Kuning bertekad memenuhi syarat yang diminta calon mertuanya. Ia pun berangkat melabrak musuh-musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo. Sayangnya, lawannya lebih tangguh. Sunan Kuning pun asor ing jurit (kalah), hingga menemui kematiannya. Bagaimana hingga jasadnya dimakamkan di Desa Macanbang, memang tidak ada penjelasan.

Yang jelas, Makam Sunan Kuning nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Menurut Dulgani, hampir setiap hari peziarah itu selalu ada. Hanya saja, jumlahnya tidak pasti. Di hari-hari tertentu, memang terjadi lonjakan peziarah. Ledakan pengunjung ini, biasa terjadi pada malam Jumat Legi atau pada tanggal 1 Suro. Para pe­ziarah itu datang dari berbagai pen- juru daerah untuk ngalab berkah.

Makam Sunan Kuning dan para pengikutnya sendiri berada dalam sebuah bangunan cungkup. Untuk menziarahinya, seseorang harus melalui sebuah pintu khusus. Di- katakan pintu khusus, karena tinggi pintu cungkup tersebut tidak lazim. Saking tidak lazimnya, peziarah ha­rus membungkuk untuk bisa melewati pintu tersebut. Tetapi bukan tanpa maksud, jika pintu isa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo, cungkup Makam Sunan Kuning dibuat sedemikian rupanya.

Menurut Dulgani, ada makna tersendiri di balik laku jongkok seo­rang peziarah yang ingin ngalab berkah, atau mengais karomah di Makam Sunan Kuning. “Laku jong­kok bagi peziarah Makam Sunan Ku­ning ini, di antaranya mengandung makna penghormatan. Ya, penghor­matan terhadap leluhur yang telah sumare dalam keabadiannya itu sendiri tentunya,” jelas Dulgani.•Emte

——————————————————————————-134N70nulis DW-LIBERTY, 1-10 September 2009.

Masjid Tiban Macanbang, Kabupaten Tulungagung

Jin pun menyusup di antara para jamaah masjid tiban macanbang.

Arsip macanbangMasjid Tiban Macanbang penuh misteri. Tak diketahui, dibangun oleh siapa dan bagaimana proses kejadiannya. Seolah-olah, masjid tersebut bercokol di tempat itu setelah di jatuhkan dari langit. Tetapi benarkah kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah masjid?

Banyak kisah tentang masjid tiban. Rata-rata, berselimut misteri. Demikian halnya dengan Mas­jid Tiban Macanbang, yang terletak di salah satu sudut Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. “Masjid ini, tiba-tiba ada dan difungsikan sebagai tempat ibadah oleh warga,” jelas Dulgani (68).

Dulgani adalah seorang warga setempat yang memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Tiban Ma­canbang. Kedekatan tersebut, karena ia merupakan keturunan ke enam dari penemu pertama masjid itu. “Menurut nenek moyang kami, Masjid Tiban Macanbang ini ditemukan pada sekitar tahun 1600-ari oleh Sangidin,” kisah Dulgani mengungkap riwayat Masjid Tiban Ma­canbang.

Lebih jauh dikemukakan, Sangidin adalah nenek moyangnya. Sekaligus, merupakan cikal bakal Desa Macanbang. Selain itu, Sangidin juga merupakan salah seorang menantu Kyai Kasan Besari, Tegalsari, Ponorogo. Sekedar untuk diketahui, Kyai Kasan Besari sendiri merupakan guru pujangga besar Keraton Surakarta Hadiningrat, R Ngabehi Ronggowarsita.

arsip macanbang 0Ihwal ditemukannya Masjid Tiban Macanbang, terkait dengan sejarah babad daerah setempat. Seperti di­ketahui, sebelum Desa Macanbang seperti sekarang ini, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang sangat angker. Selain dihuni banyak binatang buas, juga dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang amat menyeramkan. Saking angkernya, tidak setiap manusia berani merambahnya. Ibaratnya, jalma mara, jalma mati. Artinya, siapa yang berani merambah hutan ini, hampir bisa dipastikan akan pulang tinggal nama.

Keadaan demikian, tak membuat nyali Sangidin ciut. Dengan keberaniannya, lelaki gagah berani yang juga menantu Kyai Kasan Besari ini membuka kawasan hutan tersebut, untuk kemudian dijadikan permukiman warga. “Ketika masih berupa hutan, namanya Alas Sumampir,” kisah Dulgani yang ditemui LIBERTY di Masjid Tiban Macanbang.

Dengan peralatan seadanya, Sangidin menebangi belantara hutan yang angker itu. Satu persatu, pohon-pohon di dalam hutan itu ditebang. Pekerjaan ini dilakukan selama berhari-hari. Nah, hingga satu hari mata Sangidin terbelalak, melihat sebuah masjid kuno tiba-tiba muncul di tengah hutan yang dibabatinya. Dalam perkembangan berikutnya, masjid itu kemudian lebih popular dengan sebutan Masjid Tiban Macan­bang.

arsip macanbang 1Sangidin tidak habis mengerti atas keberadaan masjid kuno itu. Ia juga heran, dan terus bertanya-tanya. Yang membuatnya bingung, siapa yang telah mendirikan masjid itu. Siapa pula yang akan menggunakan masjid yang berdiri di tengah hutan belantara seperti itu.

Apalagi, Sangidin melihat tak ada seorang pun warga yang bisa dilihatnya di sekitar masjid tersebut. “Ya, lantas siapa yang membangun masjid ini, dan siapa pula yang akan menggunakannya masjid di tengah belantara hutan yang hanya dihuni binatang-binatang buas dan bermacam makhluk halus ini,” demikian , kira-kira Sangidin bertanya-tanya.

ARTISTIK
Arsitektur Masjid Macanbang sendiri tampak artistik. Tanpa kubah, juga tanpa menara. Atapnya seperti kebanyakan bangunan joglo. Hanya saja bersusun tiga. Sepintas, seperti masjid-masjid kuno yang dibangun pada zaman Kesultanan Demak.

Memang, masjid tiban Macan­bang sendiri sudah mengalami beberapa kali renovasi. Tetapi serangkaian renovasi yang pernah dilaku­kan, tidak sampai merombak total bentuk aslinya. “Sejak dulu, ya se­perti ini. Bentuk aslinya, sengaja dipertahankan sedemikian rupa,” ujar Dulgani.

Teras masjid, berupa balai-balai. Arsitektur bangunannya juga joglo. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan balai-balai tersebut sebagai tempat untuk selamatan atau kenduri. Di setiap Rabu pertama di bulan Sapar, digelar tradisi Rabu Wekasan. “Tradisi ini, sebenarnya merupakan salah satu bentuk tasyakuran masyarakat ‘jelas Dulgani.

Bukan hanya tasyakuran saparan saja yang digelar di Masjid Tiban Ma­canbang. Tasyakuran serupa juga di­gelar pada bulan-bulan lainnya. Di antaranya, bulan Ruwah, Maulud dan menyambut tahun baru Islam. Pada bulan-bulan demikian, masyarakat datang berbondong-bondong ke masjid itu dengan membawa makanan dari rumah untuk dikendurikan bersama.

Di masjid, juga terdapat bebera pa benda kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Kuning. Benda-benda yang dimaksud, antara lain berupa mimbar tempat berkhotbah, dampar un­tuk tadarusan, kentongan serta bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih bisa didapati. Hanya saja, un­tuk mimbar tempat ber­khotbah dan dampar untuk tadarusan, warnanya sudah tidak asli lagi. Kesannya, baru dicat dengan warna hijau.

Yang jelas, ada semacam kepercayaan dari beberapa warga setem­pat, bahwa kadang-kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah di masjid itu. “Memang, tidak semua orang bisa melihat dan merasakan hal ini. Tetapi setidak-tidaknya, hal demikian pernah dirasakan dan dilihat oleh beberapa jemaah,” ungkap beberapa warga sekitar Masjid Macanbang.

MAKAM
Bukan hanya masjid kuno itu saja yang ditemukan cikal bakal Desa Macanbang ini, ketika membedah Alas Sumampir. Ia juga menemukan sebuah kompleks makam. Lokasinya, persis di belakang masjid tiban. Salah satu makam yang ditemukannya itu, hingga kini dipercaya masyarakat setempat sebagai Ma­kam Sunan Kuning.

Siapa sebenarnya Sunan Kuning ini? Menurut Dulgani, yang juga juru kunci makam itu, Sunan Kuning adalah calon menantu Sunan Ampel. “Tetapi, beliau keburu meninggal dunia, sebelum benar-benar bersanding dengan putri Sunan Ampel,” jelasnya.

Kematian Sunan Kuning, bukan tanpa kisah. Meski kisah tersebut belum tentu kebenarannya, namun masyarakat terlanjur mempercayainya. Dalam kisahnya disebutkan, satu ketika Sunan Kuning tertarik oleh kecantikan dan kemolekan salah seorang putri Sunan Ampel. Tak ada penjelasan, siapa nama pu­tri Sunan Ampel yang dimaksud.

Yang pasti, kemudian Sunan Ku­ning berterus kepada Sunan Ampel akan rasa ketertarikannya itu. Dan ternyata, Sunan Ampel tidak keberatan, jika memang Sunan Kuning hendah memperistri salah seorang putrinya. Hanya saja, ada syarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi oleh Sunan Kuning. Syarat yang dimaksud, intinya Sunan Kuning baru bisa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di alas Lodoyo Blitar.

Demi wanita pujaan hatinya, Sunan Kuning bertekad memenuhi syarat yang diminta calon mertuanya. Ia pun berangkat melabrak musuh-musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo. Sayangnya, lawannya lebih tangguh. Sunan Kuning pun asor ing jurit (kalah), hingga menemui kematiannya. Bagaimana hingga jasadnya dimakamkan di Desa Macanbang, memang tidak ada penjelasan.

Yang jelas, Makam Sunan Kuning nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Menurut Dulgani, hampir setiap hari peziarah itu selalu ada. Hanya saja, jumlahnya tidak pasti. Di hari-hari tertentu, memang terjadi lonjakan peziarah. Ledakan pengunjung ini, biasa terjadi pada malam Jumat Legi atau pada tanggal 1 Suro. Para pe­ziarah itu datang dari berbagai pen- juru daerah untuk ngalab berkah.

Makam Sunan Kuning dan para pengikutnya sendiri berada dalam sebuah bangunan cungkup. Untuk menziarahinya, seseorang harus melalui sebuah pintu khusus. Di- katakan pintu khusus, karena tinggi pintu cungkup tersebut tidak lazim. Saking tidak lazimnya, peziarah ha­rus membungkuk untuk bisa melewati pintu tersebut. Tetapi bukan tanpa maksud, jika pintu isa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo, cungkup Makam Sunan Kuning dibuat sedemikian rupanya.

Menurut Dulgani, ada makna tersendiri di balik laku jongkok seo­rang peziarah yang ingin ngalab berkah, atau mengais karomah di Makam Sunan Kuning. “Laku jong­kok bagi peziarah Makam Sunan Ku­ning ini, di antaranya mengandung makna penghormatan. Ya, penghor­matan terhadap leluhur yang telah sumare dalam keabadiannya itu sendiri tentunya,” jelas Dulgani.•Emte

——————————————————————————-134N70nulis DW-LIBERTY, 1-10 September 2009.

AYAM lodho, Kabupaten Tulungagung

Lodho Tulungagung.AYAM lodho adalah salah satu masakan tradisional yang berasal dari Tulungagung, tapi ada juga yang menyebutnya sebagai makanan khas Trenggalek. Bahkan, ada juga yang bilang, masakan ini mirip dengan opor ayam, tapi bedanya pada citarasanya yang pedas,
Di Tulungagung ayam lodho bisa dinikmati di Resto Sumber Rejeki, milik Bu Hj Khasnan, tepatnya di J1 Jayeng Kusuma atau berada persis di depan gang Tapan I, Tulungagung. Model penyajiannya di resto ini memakai sistem paket prasmanan, Satu paket bisa dinikmati 5-6 orang, harganya pun bisa terjangkau kantong yaitu Rp 100 ribu. Satu paket prasmanan ini berisi satu centhing nasi gurih, satu ekor ayam bumbu lodho ditambah lalapan dan sambal. “Kalau hari libur, kami bisa menghabiskan sekitar 125 ekor ayam kampung/’ kata Mbak Dwi, pramusaji Warung Sumber Rejeki.
Ayam lodho biasa menggunakan ayam kampung. Menurutnya, ini dimaksudkan agar rasanya lebih gurih dan enak. Keunikan olahan ayam lodho ini terletak pada kuah santan yang kental sehingga rasanya gurih, enak dengan aksen pedas cabe plus aroma ayam ba- kar yang wangi. Hampir setiap hari, waning yang telah buka sejak beberapa tahun lalu itu selalu ramai disinggahi pembeli, khususnya penikmat kuliner pedas, mulai pagi hingga malam. Tidak hanya warga setempat dan ma- syarakat luar daerah yang kebetulan sedang berkunjung ke Tulungagung.
Proses pengolahan ayam lodho pun mem- butuhkan waktu yang cukup lama. Tahap awal, ayam kampung dicuei bersih, setelah itu dibakar di atas arang tanpa bumbu hingga matang. Setelah dibakar ayam direbus hingga empuk dalam campuran santan, cabe rawit, dan rempah-rempah. Soal rasa, ciri khas ayam lodho adalah pedas. Walau harga cabe mahal, pemilik resto tidak berani mengurang- iirya, karena ini adalah ciri kliasnya.
Lodho Tulungagung.1Dalam penyajiannya, ayam lodho ini dihidangkan dengan sepiring nasi gurih dan urapan. Aro¬ma ayam lodho yang harum berpadu dengan kuah santan yang gurih, plus daging ayam yang empuk, memang pas dinikmati dengan nasi gurih.
Nasi gurih adalah nasi yang terbuat dari olahan beras dan santan. Rasanya gurih dan nikmat bila disajikan hangat-hangat. Urap- urap adalah olahan sayuran yang direbus terlebih dahulu dan disajikan bersama parutan kelapa bercitarasa pedas. Kehadiran urap-urap ini sangat penting untuk menyeimbangkan asupan daging ayam yang masuk ke dalam tubuh. Rasanya, lidah tidak berhenti bergoyang ketika rasa gurih dari nasi, pedas dari ayam, dan segar dari urap-urap berpadu di mulut.
Bila dilihat sekilas, bentuk visual ayam lodho itu mirip dengan opor ayam. Akan tetapi, keduanya memiliki perbedaan dari segi bumbu yang digunakan. Ayam lodho menggunakan bumbu khas berupa merica dan pala, sedangkan opor ayam tidak menggunakan dua bumbu itu. Cara pengolahan daging ayamnya pun berbeda. Ayam untuk lodho hams dipanggang terlebih dahulu, sedangkan proses ini tidak perlu dilakukan untuk ayam opor.
Warna kuning pada masakan ayam lodho diperoleh dari kunyit dan cabe merah. Sedangkan citarasa itu diperoleh dari cabe, merica, dan pala yang menciptakan sensasi pedas yang khas. Selain dari bumbu, citarasa yang khas juga diperoleh dari daging ayam yang dipanggang terlebih dahulu sebelum direbus bersama kuah. Perpaduan antara kuah, racikan bumbu yang pas, dan ayam panggang yang gurih menciptakan citarasa yang lezat dan sukar dilupakan.
Hem, selamat menikmati dan siap-siap berkeringat. ■Sumaryati/Truly Purnama Sari

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Majalah SAREKDA Jawa Timur/edisi 021/2014 halaman 41

Ponpes Menara Al Fattah, Kabupaten Tulungagung

Ponpes Menara Al Fattah.jpg ........Dalam perkembangannya, madrasah yang dirintis KHR.AbdulFattah menjadi cikal bakal ponpes tertua di wilayah Mangunsari, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Dan kini dikenal dengan nama Ponpes Menara. Berikut laporannya? 

AWALNYA KHR. Abdul Fattah mendirikan Ma­drasah, masjid, dan menara sebagai sarana ibadah bagi umat Islam di sekitar Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, pada sekitar tahun 1354 H.

Dikatakan KH. Ibnu Katsir Siroj (71), salah seorang pengasuh Ponpes Menara, bahwa terbentuknya pesantren bermula dari madrasah yang dikenal dengan nama Madrasah Bundar. Madrasah ini berdiri tahun 1354 H, dalam proses pembangunannya terdapat keunikan tersendiri, yang berkaitan dengan karomah sang pendiri. Yakni pembangunan gedung madrasah ini hanya membutuhkan waktu 40 hari. Anehnya, konstruksi bangunan atap tembok tanpa menggu- nakan otot besi, maklum pada waktu itu otot besi tergolong langka sehingga beberapa lonjor bambu dijadikan otot bangunan.

Sementara itu, bangun­an tersebut sebagai gambaran terhadap kehidupan ahli ta- rekat bahwa ke- hidupannya harus melaksanakan sebagaimana ibarat bangunan ma­drasah ini. Terlihat dari bentuk luarnya persegi sedang dalamnya bulat (bundar), sedang atasnya mlenthu, maron mengkurep, kekep mengkurep makutho dhuwur, bulan bintang sembilan, dan lengser.

Seiring waktu, kegiatan ma­drasah ini beralih fungsi yang semula memakai metode pendi- dikan klasikal (perpaduan antara pengetahuan umum dan ilmu agama) seperti halnya kegiatan diniyah di lingkungan ponpes, menjadi ponpes sepenuhnya. “Akan tetapi santri juga ada yang khusus menghafal Alquran dan kitab kuning saja tanpa mondok, ada juga yang nyambi kuliah di lembaga pendidikan yang berada di luar ponpes,” kata KH. Ibnu Katsir Siroj ketika ditemui posmo menjelang salat magrib.

Simbol terse­but mengandung makna falsafahhidup, yaitu bagian luar berbentuk persegi bahw manusia hidup di dunia ini harus mampu menempatkan diri, jiwa raganya yang sesuai dengan tempatnya. Bagian dalam berbentuk bulat bahwa manusia harus mempunyai prinsip kebenaran sebagai falsafah hidup untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagian atas mlethu bahwa manusia harus memiliki cita- cita dan semangat hidup yang tinggi dan semakin tinggi.

Ma­ron mengkurep bahwa manusia harus berpegang teguh dengan perkara dunia akhirat. Kekep mengkurep bahwa manusia ha­rus mempunyai keahlian dan pengetahuan, mampu dan siap pakai. Makutho duwur bahwa manusia harus mempunyai jiwa ketauhidan. Bulan bahwa manu­sia harus mampu memberikan manfaat dan berguna bagi ma- syarakat sekitar.

Bintang sembilan bahwa ma­nusia harus menghiasi pribadinya dengan akhlak yang mulai laksana wali songo. Dan, lengser manusia harus serbaguna dan dapat berguna bagi orang lain.

Kuliah Subuh

Pondok yang terletak di Jalan Abd. Fatah Gg Menara, Tulungagung ini dihuni 250 santri putra dan putri dari berbagai daerah. Bagi warga Tulungagung dan sekitarnya, keberadaan Ponpes Menara Al Fattah Mangunsari sudah tak asing lagi. Selain cukup kesohor dengan jamaah kuliah subuhnya, sehari-hari juga untuk tempat menimbah ilmu agama.

Ponpes ini juga memiliki santri nonmukim yang lumayan banyak. “Sebut saja jamaah kuliah subuh yang mencapai 500 jamaah,” imbuhnya. Sementara itu, alumni Ponpes Mangunsari juga sudah tersebar luas seantero negeri untuk mengembangkan ilmunya di masyarakat.

“Usai salat subuh para santri mengaji kitab Tafsifal Ibris, Tan­bighul Ghofilin, Bulughul Mahram, Riyadus Sholihin, Daqoiqul Akbar, Bahjatul Wasail, Minahus Saniyah, Irsyadul ‘Ibad, Tafsiriyah’ serta Yasin,” ujar KH. Ibnu Katsir Siroj.

Ditambahkan Kiai Katsir Siroj-santri biasa memanggilnya bahwa Tanbighul Ghofilin menjadi kegiatan rutin pengajian setiap-Ahad sebagai pengingat bagi umat Islam agar tidak lalai. “Makna Tanbighul Ghofilin ini berarti mengingatkan orang- orang yang lalai,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kiai Katsir Siroj mengatakan bahwa santri juga mewarisi amaliah yang biasa dilakukan KHR. Abdul Fattah, yakni Rotibul Haddad, yang merupakan aurat dari Syekh Abdullah bin Alawi bin al Haddad. Selain sebagai amaliah yang langsung diturunkan Kiai Fattah, cfijelaskan Kiai Katsir Siroj bahwa amaliah ini sebagai cara untuk bertawasul kepada Allah SWT agar lebih mendekatkan diri kepada-Nya. “Selain mendapatkan berkah dari Kiai Fattah selaku pewaris amaliah, kegiatan yang digelar setiap Jumat ini juga sebagai sarana Taqarrub llallah,” pungkasnya. ® HUDA

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Posmo, EDISI 550, 2 Desember 2009, hlm. 10

Legenda Rawa Pening, Kabupaten Tulungagung

Pada zaman dahulu Tulun­gagung merupakan sebuah daerah yang kerapkali dilanda banjir, bahkan sebelum berganti nama menjadi Tulunga­gung, nama kabupaten yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia ini bernama Ngrawa karena sebagian wilayahnya masih berupa rawa-rawa yang teramat luas.

Salah satu rawa yang terkenal di Tulungagung adalah Rawa Pening. Konon wilayah Rawa Pening ini berada tidak jauh dari Gua Song Gentong. Bicara tentang Rawa Pening tentunya tidak terlepas den­gan pusaka Kabupaten Tulun­gagung yang bernama Tombak Kiai Upas. Berdasarkan legenda yang ada di masyarakat Tulungagung terjadinya Rawa Pening ini disebabkan karena ada seorang anak kecil yang merupakan jelmaan dari naga baru klinthing yang telah dipotong lidahnya oleh ayahnya. Anak kecil tersebut mengadakan sayembara beru­pa barang siapa yang mampu mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.

Sebenarnya sayembara tersebut diadakan oleh si anak kecil yang merupakan jelmaan dari Naga Baru Klinthing tadi yang merasa jengkel karena ulah warga sekitar tidak ada yang mau memberinya makan. Dari sekian banyak warga yang mau memberinya bantuan berupa makanan hanyalah seorang nenek-nenek.

Setelah selesai menghabiskan makanan yang diberikan oleh nenek-nenek tersebut si bocah kecil tadi berpesan agar nenek tersebut menyediakan lesung dan entong kayu jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Mendengar permintaan anakkecil tersebut sebenarnya ne­nek tua itu merasa bingung karena untuk apa lesung dan entong kayu itu sebab pada waktu itu masih musim kemarau. Namun karena menuruti apa kata hatinya nenek terse­but akhirnya menyiapkan apa saja yang diminta oleh anak kecil tadi.

Sesudah mewanti-wanti ne­nek yang membantunya tadi si anak jelmaan dari Baru Klinting tadi bergegas ke lapagan desa untuk memberi pelajaran war­ga desa yang sombong dan tidak peduli terhadap orang lain. Saat di lapangan tadi anak kecil tadi menancapkan sebatang lidi dan berujar barang siapa yang mampu mencabut lidi tersebut, maka dia boleh mengambil nyawanya. Namun apabila orang yang bersangkutan tidak mampu mencabut lidi, maka orang tersebut haruslah memberikan makanan kepadanya. Akhirnya makanan kian menumpuk banyak kare­na tidak ada satu pun yang mampu mencabutnya. Karena rnelihat banyak kegagalan warga pun merasa marah dan meminta kepada anak kecil tadi untuk mencabut lidi terse­but.

Sebenarnya sebelum men­cabut lidi tersebut anak kecil tadi telah berkata bahwa akan terjadi sesuatuyang buruk apa­bila dia mencabut lidi tersebut. Namun karena amarah telah merasuk di hati para warga, maka tidak ada jalan lain bagi dia selain mencabut lidi tersebut. Ketika lidi tercabut muncullah air mancur pada tempat lidi ditancapkan tadi yang kian lama kian membesar.

Karena tidak mepersiapan akan datangnya banjir, maka semua warga desa tadi meninggal karena tenggelam. Namu kesekian banyak penduduk desa tadi yang selamat adalah nenek tua yang membantu si Baru Klinting nenek tersebut selamat dengan menggunakan lesung sebagai perahunya dan entong kayu sebagai pengayuhnya seperti apa ya katakan oleh Baru Klintin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: ZULY  posmo, 740-13 Agustus 2013

 

Tiban, Kabupaten: Kediri, Trenggalek, Tulungagung dan Blitar

Permainan Tiban masih bisa dinikmati di Kabupaten : Kediri, Trenggalek, Tulungagung dan Blitar (Jawa Timur).

T I B A NNama Permainan.

Istilah “Tiban” berasal dari kata dasar “tiba” bahasa Jawa yang berarti “jatuh”. “Tiban mengandung arti timbulnya sesuatu yang tidak diduga semula, tidak diketahui bagaimana, Suatu analogi : “sumur tiban” = sumur yang semula tiada, suatu ke­tika tiba-tiba ada. Dukun tiban = seseorang yang mendadak menjadi dukun, mahir dalam segala jampi-jampi, padahal sebelumnya orang biasa saja. Dalam konteksnya dengan peristiwa di desa Purwokerto tersebut, maka tiban di sini menunjuk kepada hujan yang jatuh de­ngan sekonyong-konyong, tahu-tahu ada begitu saja, seolah-oleh jatuh dari langit.  yang dalam percakapan sehari-hari disebut udan tiban, udan = hujan”.  Latar Belakang Sosial Budaya.

Kapan timbulnya permainan tiban tidak dike­tahui. Yang pasti, menurut informan, sudah beberapa generasi, jauh lebih dini. Hal ini dikaitkan dengan cerita yang menuturkan asal mula terjadinya Tiban itu sendiri. Jauh di masa lampau, demikian dikisahkan, entah kapan, da­taran lembah Brantas yang terapit oleh gunung Wilis dan Kelud sangatlah subur. Usaha pertanian menghasilkan panen yang sangat berlimpahan setiap tahun. Dan penduduk pun menjadi kaya raya. Tetapi manusia adalah manusia dengan segala kelemahannya. Keka­yaan materiil- yang berlimpahan ternyata membuat manusia lambat laun lupa diri, dan akhirnya dikuasai oleh rasa egoisme yang menjadi- jadi. Timbul persaingan pribadi antara satu dengan yang lain, yang sering kali berubah menjadi permusuhan, hingga menumbuhkan pe­rasaan tak aman lagi dalam hati masing-masing.

Orang dulu masih percaya benar akan kekuatan-kekuatan ma­gis, yang mampu memberikan kekebalan orang untuk menguasai dan sekaligus pun untuk perisai diri terhadap “kejahatan” lawannya ber­saing. Demikianlah rasa keguvuban dan kerukunan semula menjadi langka, dan orang sudah berprasangka buruk terhadap sesamanya. Pada suatu ketika datang musibah yang menimpa daerah yang subur makmur itu. Musim kemarau berkepanjangan. Hujan tak per­nah kunjung tiba. Sawah ladang menjadi kering, panen pun gagal. Timbul kelaparan dan penyakit. Banyak ternak dan penduduk yang mati.

Kepala desa Purwokerto (Ngimbang sekarang, kecamatan Ngadiluwih, sebelah selatan kota Kedir)i, orangnya tua dan saleh lagi baik hati. Melihat penduduknya menderita, ia tidak sampai hati. Maka dilakukannya “tapa pepe”, yakni pertapa dengan menjemur diri di bawah terik matahari. Maksudnya memohon pengampunan kepada Tuhan bagi rakyatnya, agar dibebaskan dari penderitaan, dan desa Purwokerto diberi hujan, agar pulih kembali kesuburan tanah­nya seperti semula.

Sudah berhari-hari ia melakukan “tapa pepe”, namun Tuhan rupanya belum mengabulkan. Diteruskannya tapanya dengan tekun dan khidmat, tiada putus asa. Penduduk sekitar yang melihatnya menjadi iba, tergerak hatinya untuk solider ikut melakukan tapa pepe. Lambat laun menyusul juga yang lain-lain, seorang demi se­orang, akhirnya menjadi banyak.

Pada suatu hari, seperti dalam mimpi, sang Kepala desa men­dengar suara nyaring membisikkan peringatan, bahwa manusia telah berbuat dosa karena berpaling dari Tuhan untuk memuja kebendaan dan bernafsu memperoleh kekuasaan dengan mengandalkan kekuatan kekebalan. Kembalilah kepada Tuhan, dan manusia akan selamat tan­pa kekebalan sebab kekebalan itu sendiri pun dosa, karena hanya mengundang musuh dan mengingkari kekuasaan Tuhan. Tebuslah dosa dengan menyiksa diri dan mengorbankan darah ma­nusia menitik ke bumi.

Suara itu lenyap. Sang Kepala desa menyudahi tapanya diikuti oleh yang lain. Sejak itu ia memeras otak untuk mencari jalan apa yang harus dilakukan untuk memenuhi tebusan dosanya, dosa ma­nusia. Mengorbankan darah manusia, bagaimana caranya ? Tetapi yang didengarnya dalam tapanya, menitikkan darah manusia ke bumi dengan menyiksa diri.Tiba-tiba tahulah ia hikmah kata-kata itu. Maka diperintahkannya anak buahnya dan orang-orang yang te­lah ikut melakukan tapa pepe untuk membuat beberapa cambuk dari “sada aren” yang kuat dengan ujungnya sengaja dibuat kasar dengan simpul-simpul kecil dari potongan sada aren pula, sehingga mirip kawat berduri layaknya. Dalam pada itu disampaikan maksudnya dengan cambuk itu sebagai sarana penebus dosa.

Pada suatu hari penduduk desa Purwokerto digemparkan oleh tamasya mengerikan yang belum pernah mereka saksikan selamanya- Di halaman yang luas di muka rumah pak Kepala desa, pak  Kepala desa sendiri bersama beberapa orang lainnya menyiksa diri dengan melecut-lecutkan cambuk sada aren ke punggung dan dada masing-masing yang tiada berbaju itu. Babak belur luka memar memenuhi dada dan punggung, tetapi tak setitik pun darah menetes. Ternyata dengan melecuti badan sendiri, tidak memenuhi harapan. Maka pak Kepala desa mengubah cara. Mereka berpasang-pasangan dan saling melecut, dengan demikian lecutan lebih keras menimpa dan mengucurkan darah. Demikianlah tamasya itu berlangsung cukup lama, darah pun sudah banyak bercucuran di tanah namun rupanya mereka belum berniat menyudahi, bahkan ulah mereka semakin gila seperti keranjingan layaknya.

Tiba-tiba terjadi mujijat. Cuaca mendung, hawa pun terasa semakin sejuk, dan akhirnya turun hujan lebat seperti tercurahkan dari langit. Lecut-melecut berhenti. Semua bersyukur. Waktu itu bertepatan dengan tibanya bulan Suro. Dengan peristiwa mengesankan tersebut penduduk desa Purwokerto (Ngimbang namanya kemudian), pada tiap-tiap bulan Suro atau kalau musim kemarau panjang, memperingati dan merayakan dengan membuat tradisi upacara Tiban.

Latar Belakang Sejarah Perkembangan.

Setelah Tiban menjadi tradisi dari tahun ke tahun, maka lambat laun mengalami perkembangan dan perubahan dalam pelaksanaan Peraturan permainan diadakan demi keamanan dan kejujuran bagi para pelakunya, sehingga pelaksanaannya tidak dilakukan secara serampangan asal jadi saja, melainkan harus mengikuti ketentuan-ketentuan obyektif yang sudah dimufakati bersama. Misalnya jarak antara yang melecut dan yang dilecut harus sedepa, tidak boleh jauh, karena lecutan dari jauh sangat berbahaya. Barangkali untuk mengon-trol jarak ini, para pelaku diharuskan mengenakan kain panjang yang dililitkan di pinggang sebagai sabuk, dengan simpulnya di depan, se-hingga pelaku yang mendapat giliran melecut dapat memegang ujung kain lawannya yang terjumbai dengan tangannya yang satu. Tetapi hal ini tidak selalu dipatuhi, mungkin karena sudah rutin, pelaku masing-masing sudah dapat mengatur dan menjaga sendiri jarak yang sudah ditentukan.

Karena “Tiban” pun menjadi suatu upacara ritual, maka untuk lebih memantapkan sifat-sifat kesakralannya, orang lalu menambah­kan hal-hal yang dipandang sebagai suatu kelengkapan sesuatu upacara, yaitu saji-sajian (Jawa = sajen) berikut segala perinciannya, dan lain-lain. Salah satu kelengkapan upacara khusus untuk Tiban ialah disiapkan sebelangan dhawet semacam air cendol, yang pada akhir upacara disirat-siratkan ke atas sampai habis, sebagai prasemon lam­bang turunnya hujan. Upacara tiban memang dimaksudkan sebagai upacara minta hujan. Sementara kelompok tiban yang lain ada juga yang mengambil sebagian dhawet untuk diberikan kepada para pe­laku untuk diminum.

Peserta dan Pelaksana.

Jumlah peserta dalam permainan tiban tidak tetap. Sebab di­lakukan secara berpasang-pasangan, paling sedikit tentunya dua orang tetapi hal demikian tidak pernah terjadi. Biasanya puluhan orang yang datang. Maka singkat atau lamanya permainan bergantung ke­pada kecil atau besarnya jumlah peserta. Semuanya laki-laki dewasa antara 20 — 40 tahun. Di samping itu masih ada seorang wasit yang memimpin jalan­nya permainan, dan dua orang pelandang sebagai pembantunya. Katiganya termasuk sebagai dedengkot tiban maka usianya pun rata- rata lebih dari 40 tahun dan menguasai benar-benar seluk beluk per­mainan “tiban” sampai mendetail. Karenannya kewibawaan mereka pun cukup besar. Hal ini diperlukan untuk memelihara sportifitas dalam permainan.

Selain orang-orang yang tampil di depan layar tersebut, masih terdapat kelompok lain yang bekerja di belakang layar yaitu penabuh gamelan, biasanya 4 orang seorang penggendang, seorang penggam- bang, dan dua orang pemain thongthongan. Karena tiban pada hakekatnya permainan upacara minta hu­jan, yang erat hubungannya dengan dunia pertanian, maka perserta- nya adalah petani, dengan segala tradisi kepercayaan dan struktur kehidupan masyarakat yan& komunal. Maka karakter yang menonjol pada permainan tiban ialah sifat-sifat nya yang loyal, guyub, rukun, toleran dan sportif. Sifat komunal ini tidak saja dibawakan antara sesama warga satu desa saja, melainkan meluas antara warga desa yang satu dengan yang lain­nya, bahkan sampai-sampai keluar melibat daerah yang lebih besar lagi. Bukan hal yang luar biasa, apabila suatu ketika kita menyaksi­kan orang-orang dari berbagai daerah, dalam hal ini sudah barang ten­tu daerah Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Blitar, bertemu di satu arena permainan.

Tempat, Peralatan dan Perlengkapan lain-lain.

Untuk tempat dilakukan tiban, diperlukan adanya sebuah arena, dapat berupa tanah lapangan atau halaman, atau sebuah pang­gung terbuka. Pada awal mulanya memang digunakan tanah lapangan atau halaman yang luas. Untuk arenanya sendiri cukup dengan ukuran kira-kira 5×5 meter persegi, atau tepatnya sebuah lingkaran dengan radius 3 meteran, selebihnya untuk penonton. Karena sifatnya yang konumal dan tiban pada dasarnya bukan suatu tontonan, maka batas antara penonton dan pemain sebenarnya tidak ada. Arena dibuat sen­diri oleh penonton yang berdiri atau berjongkok paling depan yang membentuk sebuah lingkaran. Kalau toh diperlukan sebuah panggung maka panggung itu dibuat setinggi 1,25 meter, dan ukuran luasnya 5×5 meter persegi seperti tersebut di atas.

Alat permainan yang pokok ialah cambuk, atau istilah setem­pat pecut, terbuat dari sada aren. Bahan ini mudah didapat karena daerahnya memang kaya akan pohon aren atau enau ini. Proses pembuatannya seikat lidi aren terdiri atas ±15 batang lidi yang terpilin menjadi satu. Dibeberapa bagian diberikan suli, yaitu pengikat terbuat dari anyaman kulit pelepah aren itu sendiri,atau dari kulit bambu yang teranyam halus. Untuk satu cambuk diperlukan 3 ikat yang dipilin lagi menjadi satu, sehingga kita mendapatkan sebuah eambuk yang kuat, lentur, dilengkungkan sejadi-jadinya tidak akan Patah, dan dapat dilecutkan secepat kilat dengan mudah. Dari tengah sampai ujungnya dipasang simpul-simpul kecil dari potongan lidi sehingga cambuk itu pada bagian ujung nampak seperti kawat uri. Untuk mericegah hal-hal yang tidak diharapkan, cambuk di­capkan oleh panitia. Tidak diijinkan pemain membawa cambuknya s° Tentang busana sebenarnya tidak ada ketentuan yang mengikat, terserah kepada selera masing-masing, tetapi badan bagian atasharus telanjang. Namun terdapat kelompok tiban yang dalam upacara ritualnya semua mengenakan baju dan celana komprang berwarna hitam, dengan kain panjang batik yang dililitkan sebagai ikat pinggang -sebagai simpulnya di muka dan kedua ujungnya menjulur ke bawah. Sebagai tutup kepala mereka mengenakan udheng ikat kepala bukan dhesthar blangkon. Kalau permainan dimulai, maka mereka baru membuka bajunya masing-masing.

Iringan / Tetabuhan.

Instrumen yang digunakan untuk mengiringi permainan “tiban” berupa sebuah gambang, sebuah kendhang besar, dan sebuah thongthongan (kadang pun dua : besar dan kecil). Gambang adalah sejenis alat gamelan, terbuat dari bahan kayu, berupa bilahan sebanyak 18 buah, tersusun berurutan dari nada yang rendah sampai nada yang tinggi. Nada rendah ditandai dengan bilah tipis panjang, nada tinggi dengan bilah tebal pendek. Di antaranya terdapat nuansa-nuansa nada-nada yang tersusun berurutan mulai yang rendah sebelah kiri (bilah tipis panjang) ke kanan semakin me-ninggi (bilah semakin tebel memendek). Bilah-bilah tersebut tersusun berjajar bertopang pada kotak resonansi, yang bentuknya memanjang sesuai dengan ukuran bilah-bilanya. Sepasang alat penabuhnya terbuat dari bahan kayu atau tanduk, berbentuk bundar pipih bergaris tengah ± 6 sentimeter, pada pinggirnya dililitkan kain atau benang lawe. Akhirnya diberi bertangkai sepanjang +-30 sentimeter.

Dalam permainan tiban, peranan gambang membawakan sebaris lagu yang pendek, yang selalu diulang-ulang, dengan tehnik pukulan yang improvisataris. Peranan gendhang memberikan jiwa pada gerakan-gerakan tertentu yang dibawakan oleh setiap pemain. Tetapi karena kendhang-nya semacam kendhang ghede, (yang biasa digunakan untuk mengiringi gendhing-gendhing gedhe di Jawa Tengah), maka suaranya tidak selantang kendhang yang berukuran lebih kecil. Hal ini memang sengaja dibuat demikian, karena iringan tetabuhan adalah sekunder. Perhatian penonton harus dipusatkan kepada permainan Tibannya, bukan pada iringannya.

Suatu instrumen lagi ialah thongthongan, terbuat dari seruas bambu yang diberi garis lubang di satu sisinya. Ketika memain­kannya, thongthongan dipukul secara ritmis, dan tangan yang mahir mampu membuat suara yang cukup bervariasi. Lebih lagi kalau meng­gunakan dua thongthongan, yang karena ukurannya berbeda menge­luarkan nada bunyi yang berbeda pula, maka variasi tersebut dapat diperkaya. Ketiga jenis instrumen, yang sayup-sayup membawakan alunan musik yang sederhana melatarbelakangi permainan tiban demikian itu ternyata mampu menimbulkan bermacam-ragam perasaan yang menyatu : sendu, gembira, dan ngeri, namun sekaligus menarik.

Jalan Permainan

Jika demikian akan dimulai, maka iringan tetabuhan pun sege­ra berbunyi. Sementara itu tampil dua orang pelandang, masing- masing, menempati sisi yang berhadapan. Mereka memanggil jago ma­sing-masing sedang seorang membantu mencatat nama dan daerah tempat tinggal, (jaman dulu pencatatan demikian tidak dilakukan). Kedua jago tampil, saling bersalaman, dan wasit menyerahkan sebuah cambuk seorang, tiap jago memilih sendiri sekian cambuk yang disiap kan, kemudian dipertimbangkan berapa kali lecutan dilakukan ber­dasarkan kedudukan ranking (junior atau senior) serta kondisi pisik kedua jago masing-masing. Sekalipun sudah ada peraturan permain­an yang sudah sama-sama di ketahui, namun masih juga diperingat­kan oleh wasit bagian-bagian badan mana yang boleh dilecut, mana yang tidak. Sasaran lecut ialah punggung dan badan bagian depan di atas pusar. Daerah larangan ialah bagian pusar ke bawah, dan kepala. Setelah dilakukan “sut”, yaitu mengundi dengan mengadu jari untuk menentukan siapa yang melecut dulu, maka mulailah permainan.

Paling menarik kalau yang bertanding senior lawan senior yang masing-masing telah memiliki tehnik menyerang dan bertahan yang sempurna, sehingga kadang-kadang lama juga menunggu kesem­patan untuk melecutkan cambuknya tepat mengenai sasaran. Setiap lecutan yang jatuh, kena atau tidak, pihak menyerang lalu me­neriakkan “jailaaak!” sebagai isyarat pergantian giliran, pihak penye- rang kini menjadi pihak yang bertahan. Istilah jailaak tidak diketa­hui lagi apa artinya dan dari mana asalnya.

Meskipun permainan tiban dilihat dari lahiriahnya bersifat “sadistis”, namun tidak seorangpun dari peserta yang menampilkan diri sebagai seorang sadis penuh dendam amarah.Semua menampakkan wajah yang cerah, bersenyum sekalipun lecutan mengena menimbulkan rasa nyeri. Memang ada kalanya wajahnya bersungguh-sungguh, yaitu pihak penyerang, tetapi kesungguh-sung-guhannya itu untuk konsentrasi pikiran mencari sasaran dan saat yang tepat. Sebaliknya pihak lawannya siap menerima lecutan den-ngan senyum ngece mengejek, dan wiraga gaya gerakan yang meng-goda. Tetapi begitu lecutan jatuh, begitu pula wajah yang bersungguh-.sungguh berubah menjadi cerah, sedang yang terkena lecutan, meski-pun kena tepat, masih berjogedan, seolah-olah ingin menyatakan,”aku tidak merasakan apa-apa”.

Dengan ulah demikian, kesan sadisme seolah-olah tertawarkan (neutralized), lebih lagi kalau kedua pelandang yang sudah lanjutusia itu pun ikut berjcgedan mengikuti irama gamelan dengan gaya yang kocak, maka suasana menjadi lebih meriah.

Demikian seterusnya sampai batas berapa lecutan yang diten-tukan selesai. Maka jago-jago yang habis bertarung saling bersalaman lagi dan mundur digantikan oleh pasangan yang lain berikutnya. Dan permainan berulang lagi.

Setiap akhir penampilan, kedua, pelandang dan wasit secara bersama mengadakan penilaian untuk menentukan siapa pemenang-nya. Mereka yang lebih banyak terkena lecutan, yang tampak jelas dari bekas-bekasnya/dinyatakan kalah. Namun pernyataan kalah me-nang ini tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang bersifat lomba. Tiban adalah permainan, bahkan permainan yang mengarah kepada upacara ritual. Jadi tidak dilombakan untuk memperebutkan hadiah misalnya. Landasan prinsipnya ialah rasa kebanggaan. Kebanggaan karena menjadi tumbal demi kesejahteraan bersama. Boleh dikatakan semacam kebanggaan seorang martir.

 

Peranan Sekarang.

Zaman semakin maju dan banyak mengubah struktur kehidupan di segala bidang. Selera manusia berubah. Kebutuhan manusia pun dengan sendirinya ikut berubah juga. Ilmu pengetahuan dan menyingkirkan kepercayaan yang dianggap tak-temunalar (ira- sionil). Namun demikian upacara ala tiban minta hujan tetap dipeli­hara kaum petani di pedesaan di daerah Tulungagung, Trenggalek, Kediri dan Blitar.

Hanya untuk tidak ketinggalan jaman, kelompok kelompok tiban sekarang sering bermain untuk mengisi acara-acara tertentu, misalnya untuk suguhan tamu negara, untuk pariwisata, peringatan hari-hari nasional dan upacara lainnya seperti yang diurai­kan di bagian awal tulisan ini. Jelasnya, di samping peranannya yang lama sebagai inti upacara minta hujan yang sudah klasik itu, masih berperan lagi sebagai sarana hiburan, dalam hal ini tiban benar-benar berfungsi sebagai permainan yang sesungguhnya dalam arti kata yang murni.

Tanggapan Masyarakat

Bagaimana tanggapan masyarakat, kiranya tidak perlu diurai­kan panjang lagi. Jelas masyarakat tetap menyukai, tidak saja masya­rakat di lingkungan sendiri, bahkan masyarakat dari luar daerah yang jauh-jauh pun. Tidak berlebih-lebihan agaknya kalau dikatakan,bah­wa tiban mampu menjadi permainan kebanggaan nasional. 53-63

Megengan, Kabupaten Magetan, Bangkalan, Gresik, Tulungagung

Megengan Tradisi Perekat Silaturahmi, ragam tradisi megengan tumbuh semarak di masyarakat sebagai bentuk akulturasi Isla dan budaya lokal.

MEGENGANSalah satu pengaruh Islam di lingkungan masyarakat Islam Jawa adalah tradisi megeng-an. Megengan sering diartikan ritual mapag atau menjemput tanggal satu Bulan Ramadlan. Secara harfiyah megengan berasal dari kata “megeng” yang berarti menahan diri dari semua perbuatan yang mendatangkan dosa. Itu sebabnya, secara filosofis megengan bermakna sebagai media permohonan maaf atas segala dosa para leluhur, sekaligus sebagai momentum mengenang dan meng­hormati atas segala kebajikannya.

Dan yang lebih penting lagi, megengan merupak­an pernyataan sikap dengan diiringi keihlasan tinggi untuk mapag kedatangan Bulan Suci Ramadlan. Itu sebabnya, warga muslim selalu sibuk menyiapkan diri dengan melakukan berbagai ritual selama tujuh hari menjelang Puasa Ramadlan.

Tradisi megengan di setiap daerah banyak ragam­nya, tetapi membersihkan diri, membersihkan masjid, dan ziarah kubur adalah jamak dilakukan masyarakat. Doa dengan menggelar kenduri bersama di masjid juga mewarnai ritual megengan sebagai ungkapan rasa bersyukur atas kedatangan Ramadlan.

MEGENGAN 0Warga Desa Tamanarum, Kec. Parang, Magetan, setiap menyambut bulan suci selalu mengadakan ro’an atau kerja bakti membersihkan masjid kuno dan sarean(makam) pendiri masjid. Masjid kuno di Desa Tamanarum adalah peninggalan KH Imam Nawawi. Dilihat dari pahatan mustaka melati dan wuwungnya persis dengan makam KGRay Maduretno istri Adipati Maospati Rangga Prawirodirdjo III, yang berangka 1810. Ini bisa diartikan masjid di desa ini usianya sama dengan berdirinya Kabupaten Magetan.

“Seperti biasanya kita menyambut Bulan Suci Ro-madhan ini dengan membersihkan masjid, karena akan digunakan untuk sholat taraweh dan kegiatan selama romadhan. Lemari- lemari tempat penyim­panan kitab-kitab dan al-Qur’an kuno juga kita ber­sihkan, selesai masjid kita kerja bakti membersihkan makam,” jelas KH Hamid, Pengasuh masjid At Taqwa yang juga keturunan dari KH Imam nawawi ini.

Biasanya selesai membersihkan masjid dan makam, malam harin­ya dilaksanakan kirim doa kepada keluarga yang sudah meninggal, kemudian   dilanjutkan   dengan

selamatan “Ambengan”(membawa tumpengan atau makan satu ember penuh yang di penuhi berbagai jenis menu dan jajan) di bawa ke masjid, dan di makan bersama- sama di se­rambi masjid.

MEGENGAN001“Tradisi seperti ini adalah sim­bol kebersamaan yang tercipta sejak mbah kita dulu, tidak ada unsur apa-apa dalam pelaksanaannya, ya kar­ena tradisi saja, kami melakukannya sebatas ngeluri budaya, karena kalau tradisi seperti kerja bakti ini tidak sering kita adakan akhirnya akan ter­bangun sifat individualis seperti yang ada di kota- kota besar” kata Lanjar Karni, Kepala Desa Tamanarum.

Soal membersihkan makam, ma­syarakat Bangkalan lebih unik, sebab makam keluarga tidak hanya dibersi­hkan tetapi batu nisannya diperbaiki dan dicat dengan warna warni yang mencolok, seperti kuning, merah, hijau, biru dan lainnya. “Ka­lau rumah kita yang masih hidup dibersih­kan dan dipercantik, maka makam keluarga kita yang sudah wafat juga perlu dirawat kein­dahannya,” kata Mail warga Bangkalan.

Makam para wali juga menjadi jujugan masyarakat sesaat sebelum Bulan Puasa tiba. Makam Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Malik Ibrahim, Sunan Drajat dan Sunan

Bonang dan puluhan sunan lain­nya selalu ramai diziarahi. “Menjelang Ramadlan jumlah peziarah lebih ban­yak dari hari-hari biasa, “kata Hasyim pegawai Makam Sunan Drajat.

Megengan dalam makna lain ada­lah media perekat antar umat Islam. Tali persaudaraan terikat kuat kar­ena didasari hati, pikiran dan jiwa yang saling bersilaturrahmi. “Dengan megengan yang sangat sederhana mendatangkan hikmah yang besar,” ungkap Asrori Kepala Desa Tiudan Kecamatan Gondang .

Menurut Asrori yang juga sebagai Ketua AKD Kabupaten Tulungagung tradisi megengan di desanya setiap tahun ditandai dengan membuat jajanan seperti apem,pisang,bahkan tumpengan yaitu nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya seperti ayam lodho,sambal goreng kentang,dan tempe,urap-urap,ke timun,kelapa goreng alias srondheng.

Dia menjelaskan makanan khas yang selalu mengisi acara megengan adalah pembagian kue apem dan pi­sang. Uniknya di daerah Tulungagung hanya dua jenis kue itu yang dibagikan antara tetangga.” Ini tentu mengandung makna atau filosofi tersendiri dibalik penggunaan kue apem dan pisang raja dalam acara megengan,” bebernya. Kue apem bila disatukan dengan pi­sang raja akan berbentuk payung. Pi­sang berfungsi sebagai penyanggah dan kue apem sebagai payungnya. “Payung itu sendiri melambangkan perlindungan dari segala rintangan dan halangan selama menja­lankan ibadah di Bulan Suci Ramadan,” jelasnya Ada juga yang bilang kalau kue apem ini be­rasal dari perkataan Arab “afwan” yang be­rarti “maaf. Meminta maaf dan memberi maaf sebelum Ramadlan tiba memang lebih baik di­banding setelah berpuasa sebulan penuh.

Megengan berarti juga acara saling mem­beri ransum ( nasi beserta sayur ayam ) kepada para sanak saudara dan orang tua. Dalam hal ini megengan bukan sekedar ung­kapan syukur dan gembira atas da­tangnya bulan Ramadhan, namun sekaligus sebagai ajang mempere­rat silaurrahmi dan persaudaraan. Ada sebuah pepatah jawa yang men­gatakan ” pager mangkok luwih kuat tinimbang pager tembok ” yang artin­ya saling memberi hadiah makanan ( arti dari mangkok) adalah lebih kuat menjaga tali persaudaraan. Islam di Jawa tumbuh subur berkat akulturasi dengan tradisi yang berkembang di Jawa, sehingga khazanah keislaman berupa tradisi megengan ini tetap hidup dan menghidupi pembentukan masyarakat yang saling menghargai dan mencintai sesama.(Sum, Sak)

SUARA DESA,  Edisi 05, 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 59

Sri Bintang Pamungkas, Kabupaten Tulungagung

Sri Bintang Pamungkas25 Juni 1945, di Tulungagung, Jawa Timur lahir Sri Bintang Pamungkas dari pasangan ayah seorang hakim, Moenadji Soerjohadikoesoemo, dan ibu Soekartinah.

Tahun 1964, Setelah lulus dari SMA Negeri I, Surakarta,.

Tahun 1966-1968, sebagai anggota Komisi Pendidikan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa.

Tahun 1967-1979, Masa mahasiswanya diisi dengan kegiatan ekstra. Di ITB, menjadi Ketua Biro Pendidikan Himpunan Mahasiswa Mesin

Tahun 1971. Ia lulus , Bintang masuk jurusan Teknik Penerbangan ITB untuk mengejar cita-citanya menjadi insinyur yang bisa membuat pesawat terbang namun karena tak ada industri pesawat, sehingga ketika melanjutkan belajar ke jenjang master di University of Southern California, Amerika, ia berbelok ke Teknik Industri. Belum sampai selesai kuliahnya, beasiswanya habis. Daripada menganggur, Bintang belajar manajemen bisnis.

 

Tahun 1971, bekerja di pabrik perakitan sepeda motor Honda milik Astra, PT Federal Motor. Di sini ia bertahan sampai tahun 1974, terakhir sebagai engineering manager.

Tahun 1972 – 1974, sewaktu bekerja di pabrik tadi Bintang juga merangkap menjadi konsultan di Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi UI, dan menjadi staf pengajar tetap di Fakultas Teknik UI sampai sekarang.

Tahun 1974 – 1977, di samping itu, Bintang bekerja sebagai instruktur pada Program Perencanaan Nasional.

Tahun 1975, Bintang menulis buku “Getaran Mekanis”

 

Tahun 1979, ia melanjutkan studi di Teknik Industri, Universitas Southern Carolina dan memperoleh gelar master (MSISE) (master of science in industrial system engineering).

 

Tahun 1984, Bintang tertarik belajar ekonomi, dan atas bantuan Georgia Institute of Technology ia bisa mengikuti program doktor di Iowa State University. ia meraih doktor PhD
Bintang telah mengajar beberapa mata kuliah di Teknik Industri UI, termasuk Proses Manufaktur, Corporate Finance, dan Pengantar Ekonomi. Minat penelitiannya ‘adalah di bidang Ekonomi Industri dan bidang Manajemen Keuangan.

 

Dari 1985-1987,  menjadi ahli senior di Yayasan Bina Pembangunan. Ketika ICMI berdiri, ia ditunjuk menjadi Majelis Musyarokah Indonesia dan terpilih menjadi anggota Dewan Pakar.

Tahun 1986, Bintang adalah anggota senior Ikatan Sarjana Teknik dan Manajemen Industri.

Tahun 1986 – 1991 menjadi konsultan senior PT Summa International.

Tahun 1989, Bintang menulis buku “Metode Numerik”.

Tahun 1990, Bintang menulis buku  “Manajemen Industri”.

Tahun 1992, Bintang menulis buku “Teknik Sistem”.

Tahun 1993, menjelang pemilu, Bintang masuk ke PPP. Hebatnya, ketika itu nama Bintang langsung populer. Padahal ia bukan kader PPP. “Saya ini bukan kader PPP.  Bintang tak mau setengah-setengah dengan pilihannya, masuk PPP bukan tanpa cita-cita. Karena melihat umat Islam kurang maju, kurang daya pukulnya. Bintang bercita-cita agar PPP menjadi partai yang besar. Untuk itu Bintang mengaku sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Baik istri maupun keenam anaknya sudah diajaknya bicara.

Tahun 1993, menjadi anggota Dewan Arbitrase Indonesia,  sebagai keaktifannya berorganisasi di dunia usaha.

Tahun 1994, Bintang menulis buku “rancangan Pokok-pokok Pikiran Sri-Bintang”  sepanjang 3 jilid .

tahun 1995, Tak jelas kenapa dalam Muktamar ICMI, Bintang tak terpilih lagi menjadi anggota Dewan Pakar. Bisa jadi karena ia dituduh menghina Presiden RI.

Sejak terjun ke politik praktis tingkat nasional, Bintang memilih, berjuang untuk demokrasi dan kesejahteraan rakyat. Sasaran perjuangan saat ini adalah menegakkan hal-hal yang dianggap harus berjalan dalam sebuah negara demokrasi. Misalnya, masalah tak berfungsinya, menurut penilaian Bintang, lembaga perwakilan rakyat. “Jangan dikira kalau ada pengaduan kemudian akan diselesaikan oleh DPR. Nonsense. Kalau ada image bahwa DPR itu telah membela rakyat, itu bohong,” kata bekas anggota DPR-RI ini. Bintang sadar yang dilakukannya sekarang adalah pilihan yang mengandung risiko.

“pamungkas” berarti “terakhir”( Jawa), sehingga orang mengira Sri Bintang Pamungkas adalah anak terakhir. Ternyata bukan itu maksudnya, Lahirnya bayi yang kemudian dinamakan Pamungkas. “diharapkan menandai perang yang terakhir yang terjadi di Indonesia, sehingga penjajahan selesai,” tutur si empunya nama.=S1Wh0T0=