Legenda Beberapa Kampung yang Ada di kota Surabaya

Meskipun legenda tidak dapat dimasukkan dalam tulisan sejarah karena tidak miliki bukti-bukti atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan (sejarah semu), namun legenda yang menceritakan asal-usul suatu kampung ini banyak beredar di lingkungan masyarakat kampung, bahkan kadang-kadang menjadi kebanggaan dari warga kampung setempat, maka dalam penelitian ini dipandang perlu oleh peneliti untuk dikemukakan meskipun hanya secara garis besar saja.
Inti cerita dan dongeng dongeng yang berkembang tentang pembentukan Surabaya adalah persaingan cinta segitiga antara Pangeran Situbondo putra Adipati Cakraningrat dari Sampang yang cacat dengan Pangeran Jokotruno putra dari Adipati Kediri untuk dapat mempersunting Raden Ayu Probowati. Untuk menghindari raden Situbondo yang cacat, Raden Ayu Probowati mengajukan syarat berupa kesanggupan sang calon untuk membuka hutan (mbabad alas) agar dapat didirikan pemukiman sebanyak dan sebaik mungkin bagi warga Surabaya.
Cerita selanjutnya bermula dari kesanggupan Raden Situbondo untuk membuka hutan, maka ceritapun berawal di daerah kampung yang memakai nama wono (yang arti hutan) dan simo, yaitu singa atau harimau yang ditemukan pada hutan-hutan sebut. Rakyat di daerah Wonokromo dan Wonocolo percaya bahwa kampung- kampung yang mereka diami adalah hasil karya dari Raden Situbondo.
Disebutkan ketika Raden Situbondo membuka hutan, disuatu tempat ia menemukan tumpukan kulit kerang (kupang) yang menggunung, maka setelah selesai ika maka daerah itu dinamakan Kupang Gunung. Di tempat lain ia menemukan daerah yang banyak terdapat kerang yang tersusun rapi sekali menyerupai kerajaan, oleh karena itu daerah ini kemudian diberi nama Kupang Krajan.
Ketika membuka hutan, di salah satu tempat Raden Situbondo berhadapan muka dengan Joko Jumput, dan kemudian keduanya beradu kekuatan. Raden Situbondo kalah, bahkan hampir mati. Untuk nyelamatkan nyawanya Raden Situbondo pergi ke Kedung Gempol dan minum air di kedung itu . Nyawa Raden Situbondo akhirnya dapat diselamatkan, untuk itu daerah tersebut kemudian diberi nama Banyu Urip.
Dalam kaitannya dengan Kampung Banyu Urip ini, pada suatu ketika di daerah Raden Situbondo pernah bertemu dengan singa atau harimau jadi-jadian dari Jin Trung. Setelah singa jadi-jadian itu berhasil diusir maka tempat itu diberi nama Simo Katrungan. Perjalanan dilanjutkan lagi, ternyata tak seberapa jauh, pangeran bertemu lagi dengan singa yang sama. Singa itu ketakutan dan lari terbirit-birit (bahasa Jawa kesusu atau kewagean). Oleh karena itu tempat ini kemudian diberi nama Kampung Simo Kewagean.
Tak jelas akhirnya Raden Kusuma Ning Ayu Probowati menikah dengan siapa, yang agaknya disepakati adalah bahwa pesta perkawinannya dilaksanakan dengan upacara sederhana sambil membuka hutan yang terakhir, yaitu Wonokromo yang berarti hutan perkawinan.
Selain tokoh di atas tokoh lain yang banyak diceritakan dalam babad adalah tokoh Jayeng Rono dan Sawonggaling. Ada salah satu versi cerita tentang dongeng Jayengrono dan Sawonggaling yang dikaitkan dengan Raden Wijaya. Setelah tentara Tar-Tar dapat dikalahkan dan dihalau dari Ujung Gauluh, sebagai penghargaan Raden Wijaya mendirikan sebuah kraton di Surabaya untuk ditempati oleh wakilnya. Yang ditunjuk memimpin Ujung Galuh adalah Adipati Jayengrono. Lama kelamaan hubungan Surabaya Majapahit semakin renggang hingga Surabaya seakan berdiri sendiri. Hal ini berhasil dicapai karena Jayengrono berhasil menguasai ilmu buaya putih.
Alkisah pada suatu saat datanglah utusan dari Kerajaan Mataram yaitu Sawonggaling. Utusan ini adalah seorang sakti yang menguasai ilmu suro dari Kraton Surakarta. Sawonggaling diutus untuk menuntut Surabaya agar bersedia takhluk dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Tentunya hal ini tak dapat diterima oleh Jayengrono. la menantang dan disepakati untuk mengadu kesaktian masing-masing, pertarungan itu disepakati pula dilakukan pada malam Jumat Legi dan akan berlangsung di kali Mas, di sekitar Paneleh Kepatihan. Ternyata pertarungan yang berlangsung selama enam hari enam malam tak membawa hasil kalah maupun menang. Namun pada ketujuh keduanya meninggal kehabisan tenaga dan diarak untuk dipertontonkan kepada penduduk. Pertarungan tersebut membuat Kali Mas menjadi merah dan sisik kedua makhluk tersebut bertebaran di daerah sekitarnya, daerah itu kini dikenal sebagai daerah Semut (dari semut-semut yang mengerumuni sisik-sisik tadi) dan Jembatan merah. Tempat dimana kedua jasad tersebut digantungkan kini bernama Kramat Gantung.
Ada pula dongeng yang menceritakan tentang pembukaan daerah Keputran oleh salah seorang pengikut Raden Situbondo yang bernama Pangeran Joko Taruno. Dalam menjalankan tugasnya ia selalu didampingi oleh pengikut yang setia Savid Panjang.
Daerah yang menjadi tanggung jawab Pangeran Joko Taruno ini adalah Keputran sebelah Daerah itu semula banyak sekali hutannya, diantaranya adalah hutan pohon jambu, karena itu kampung yang berdiri di sana kemudian diberi nama Keputran Kejambon. Sedang daerah yang banyak mengandung tanah liat yang dipergunakan untuk membuat gerabah terutama kemaron (;njun) diberi nama Keputran Panjunan (Surabaya Post Juni 1983)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Muryadi [dkk], Penelitian: Perkembangan Kota Dan Dampaknya Terhadap Keberadaan Kampung Kuno Bernilai Historis Di Kota Surabaya.Surabaya: Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm. 19 -22 (CLp-D13/2001-353)

Kampung Ndersmo, Kawasan Pesantren Tua Surabaya

Membaca Qur’an di Kampung Ndersmo
Keseharian santri di kawasan pesantren tua Surabaya

Dari pintu gerbang kayu pondok pesantren kawasan Sidosermo, Surabaya, menyeruak belasan remaja dengan peci putih membawa kitab di dada. Pelajaran ngaji pagi itu berakhir saat matahari tak lagi hangat. Kekhusyukan ngaji berganti kesibukan mencuci dan membersihkan kamar.

Kampung Ndresmo, sebutan Suroboyoan untuk Sidosermo, hingga kini masih dikenal sebagai kampung pesantren sejak didirikan oleh Mas Sayyid Ali Akbar, tokoh agama asal Cirebon, sekitar 400 tahun lalu. Kini, tak kurang dari 20 pondok pesantren kecil dan besar bertebaran di perkampungan padat ini. Satu diantaranya adalah Pondok Pesantren At-Tauhid. Di sini, santri tidak saja belajar mengaji, namun juga punya kesempatan mendapatkan pendidikan umum di sekolah yang disediakan pengelola pondok.

Akses informasi ke dalam pondok pesantren juga beragam. Santri tidak saja fasih membaca kitab, namun juga membaca koran dan komik di waktu senggang. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia tak lagi berkutat pada kajian agama secara tradisional, pemahaman ilmu pengetahuan dan bahasa asing pun akan jadi bekal para santri untuk berdakwah nanti. mi naskah/foto : m ismuntoro

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mossaik, Oktober 2005, Surabaya, 2005, hlm. 12.

Kampung Ilmu, Surabaya

Kampung Ilmu Pusatnya Buku Bekas di Surabaya

Di  kalangan pelajar dan mahasiswa, terutama mereka yang haus ilmu pengetahuan atau rajin membaca di Surabaya, tentunya tahu pusat penjualan buku bekas di sepanjang trotoar stasiun Pasar Turi Jalan Semarang Surabaya. Pusat penjualan buku tersebut memang terkesan kumuh karena dijual oleh para PKL. Tapi dari pusat penjualan buku bekas inilah banyak terlahir intelektual-intelektual asal kota Surabaya. Maklum sejak tahun 1975, saat lapak-lapak PKL buku bekas ini didirikan, tempat ini banyak menjadi jujugan pelajar ataupun mahasiswa untuk mencari buku, yang bahkan tidak pernah ada di toko buku. Atau buku yang stoknya sudah tidak dijual lagi di toko buku besar sekalipun.

Di tengah sibuknya transaksi

Penjualan buku bekas di Jalan Semarang inilah, kenyamanan para pedagang buku sempat terusik oleh penggusuran yang terjadi pada tahun 2008. Namun berkat kegigihan mereka dalam memperjuangkan kepentingan bersama antara hak untuk hidup dan hak masyarakat untuk memperoleh pengetahuan dengan cara yang murah, akhirnya terjadilah sebuah perlawanan, yang akhirnya tercipta solusi dengan mengumpulkan pedagang pada satu tempat yang kemudian dinamakan Kampung Ilmu.

Di Kampung Ilmu yang letaknya masih di sekitar Jl. Semarang inilah para PKL penjual buku bekas dengan nyaman tetap bisa meneruskan usahanya. Dan di tempat ini pulalah, para penikmat buku, pelajar dan mahasiswa yang haus ilmu kembali bisa menemukan surganya dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan. Dan Surabaya tidak perlu berkecil hati lagi dengan kota lain seperti Jakarta yang punya kawasan Kwitang dan toko buku Jose Rizal Manua di Taman Ismail Marzuki yang menjadi rujukan orang menemukan buku bekas dan murah. Juga di Malang yang punya Jl. Sriwijaya dan Yogjakarta yang memiliki Shopping Center.

Lebih menarik lagi Kampung Ilmu yang didirikan tanggal 16 Maret 2008 ini, memiliki areal yang cukup tenang dan tepat untuk dijadikan sebuah tempat wisata baca. Karena di atas tanah seluas 2500 meter persegi ini juga disediakan rumah joglo yang bisa dijadikan tempat singgah sejenak atau sekadar membaca dan belajar.

Seperti dituturkan Ketua Paguyuban Pedagang Buku Kampung Ilmu, Budi Santoso. Pria kelahiran Surabaya 37 tahun lalu ini mengaku sudah menjadi pedagang buku bekas karena meneruskan usaha orang tuanya yang berdagang sejak pertama kali lapak-lapak buku bekas didirikan tahun 1975. Bapak dua anak yang mudah akrab dengan orang yang baru dikenal ini menceritakan, awal mula berdirinya Kampung Ilmu ini bermula dari peringatan pengosongan trotoar depan Stasiun Pasar Turi pada Januari 2008. Peringatan itu disampaikan langsung oleh Polwiltabes Surabaya yang didampingi petugas dari kecamatan dan satpol PP.

Dari peringatan pengosongan inilah pedagang mengadukan masalah ini pada DPRD Surabaya. Namun sejauh itu tidak ada solusi apapun dari DPRD. Namun dia dan para pedagang tidak menyerah begitu saja. Sama dengan semangat Surabaya tahun 1945, para pedagang berusaha melakukan perlawanan. Namun kali ini dengan menggunakan aksi damai, yakni minta pendapat orang atau masyarakat Surabaya yang lewat di Jl. Semarang untuk tanda tangan di atas kain sepanjang 300 meter. Mereka diminta memberikan tanggapannya soal penggusuran Jl. Semarang.

Dari bentangan spanduk 300 meter yang semakin hari terus ditandatangani dan ditangggapi masyarakat akhirnya didapatkan solusi bahwa pengosongan PKL buku bekas ini tidak bisa begitu saja dilenyapkan. Tetapi harus dilakukan relokasi PKL. Maka dari pemikiran itulah, Pemkot Surabaya kemudian menyediakan tanah kosong yang semula menjadi tempat penimbunan sampah di Jl. Semarang no 55 ini untuk merelokasi para pedagang buku bekas. Kemudian tempat inilah yang kemudian dinamakan Kampung IImu dan menjadi tempat wisata baca di Surabaya. “Nama Kampung Ilmu sendiri sebenarnya berasal dari pemikiran pada aspek social budaya dan pendidikan,” ujar Budi. Secara sosial Kampung Ilmu ini sebagai tempat para pedagang mencari nafkah. Kemudian, dari aspek budaya, Kampung Ilmu menjadi tempat pijakan masyarakat kelas menengah ke bawah yang masih banyak di Surabaya yang ingin mencari buku murah dengan harga terjangkau. Sedangkan unsur pendidikanya, tentunya di sinilah terjadi interaksi antara penjual dan pembeli ataupun orang yang menjual koleksi bukunya. Dengan harapan agar buku tersebut bisa dibeli orang sehingga orang bisa merawat dan meneruskan membaca bukunya. Atau secara tidak langsung terjadi transfer ilmu pengetahuan.

Tidak hanya sekadar aspek jual beli buku saja. Di Kampung Ilmu ini juga mulai didirikan tempat kursus Bahasa Inggris yang murah. Pengajarnya para pelajar St. Louis. Setiap sore juga digunakan untuk mengaji bagi anak-anak pedagang. Sehingga Kampung IImu mulai bergairah dan sarat dengan berbagai kegiatan yang bersifat edukatif.

“Memang secara ekonomi saat ini perkembangannya masih belum begitu bisa dirasakan pedagang. Jika dibandingkan dengan saat sebelum direlokasi, saat masih jualan di trotoar Stasiun Pasar Turi pendapatan kotor per hari bisa mencapai Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu dengan keuangan bersih per hari sekitar Rp 100 hingga Rp 150 ribu per hari. Saat ini pendapatan bersih hanya sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu, dengan keuntungan kotor hanya Rp 200 ribu hingga Rp150 ribu,” kata Budi.

Namun sekarang masih beruntung dibandingkan tahun pertama berjualan di Kampung Ilmu, atau sekitar tahun 2008 hingga pertengahan 2009. Saat itu nyaris pendapatan tidak ada. Pasalnya belum banyak masyarakat yang tahu keberadaan Kampung Ilmu. Mereka pikir PKL buku bekas sudah enyah. Sehingga para pedagang terpaksa harus bertahan dengan keadaan yang tidak pasti. Ibaratnya untuk makan mereka harus jual kalung, jual televisi dan perabotan lain yang bisa dijual.

Namun demikian bukan aspek ekonomi itu saja yang dikejar dengan berdirinya Kampung Ilmu ini. Lebih dari itu ada cita-cita dan harapan besar lainya yang lambat laun harus bisa dicapai oleh pemerintah kota dan masyarakat Surabaya atas kontribusi yang diberikan oleh Kampung IImu.

Di antaranya, Kampung Ilmu harus bisa menjadi salah satu ikon Surabaya sebagai salah satu wahana dan sarana pendidikan dengan biaya murah. Kampung Ilmu juga harus bisa menjadi proyek percontohan pengumpulan PKL. Mengurangi angka pengangguran dengan memberdayakan hal-hal yang ada di Kampung Ilmu. Dan yang tidak kalah pen ting adalah untuk menciptakan generasi intelektual-intelektual masa depan dari kalangan menengah ke bawah.

“Sampai saat ini di dalam Kampung Ilmu ada 84 pedagang. Jumlah itu sudah ada sejak berdiri dan tidak tambah dan tidak kurang. Bagi Pemkot Surabaya, jumlah itu sebaiknya tidak ditambah dulu. Bagi pedagang jumlah itu dirasa cukup, dan belum perlu untuk ditambah. Karena sangat pas dengan tempat dan membuat suasana lebih nyaman. Sehingga masih ada space kosong bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya,” tandas Budi. Sementara itu, Pemkot Surabaya sekarang tengah membuat bangunan baru untuk Kampung Ilmu, mengharapkan Kampung Ilmu dapat dikelola sendiri oleh pedagang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, edisi 52, Juli – Agustus 2009, hlm. 50