Sejarah Batik Jombang

Batik Jombang Baru Berkembang Pada Tahun 2000-An.

motif_batik_jmbg_1Tahun 1944, Sekolah Rakyat Perempuan pakaian sekolahnya masih memakai sarung dan kebaya batik (zaman penjajah Belanda). Pada masa itu di desa Candi Mulyo kota Jombang banyak ibu-ibu dan remaja yang mempunyai ketrampilan membatik. Batik yang dihasilkan pada masa itu diberi nama Batik Pacinan  bermotif kawung dengan warna merah bata dan hijau daun.  (Ibu Hajah Maniati, pemilik kedai batik “Sekar Jati Setar”) Namun pada masa penjajahan Jepang batik di Jombang menghilang, disebabkan oleh sulitnyanya mendapatkan bahan baku serta berkurangnya pengrajin batik.

motif_batik_jmbg_2Tahun 1993, Ibu Hj. Maniati bersama puterinya mempunyai pemikiran dan keinginan untuk membangkitkan dan melestarikan kembali tradisi membatik di kota Jombang (Surya, 2005). Untuk mewujudkan keinginan serta pemikiran tersebut Ibu Hj. Maniati bersilaturahmi ke kerabat yang lulus dari IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau maktab keguruan) bidang pengkhususan kraftangan. Ibu Hj. Maniati mengajukan permohonan izin ke Kepala Desa (Kepala Kampung) mengumpulkan ibu-ibu PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) dan remaja guna membicarakan pelatihan (workshop) membatik, dan Kepala Desa menyambut baik atas gagasan. Maka Ibu Hj. Maniati, Ibu-ibu PKK dan para remaja mulai belajar membatik dengan jenis batik jumput (batik ikat) dan hasilnya tak sia-sia cukup memuaskan, sehingga semangat untuk membatik cukup tinggi.

motif_batik_jmbgTahun 2000 Ibu Hj. Maniati dipanggil oleh Dinas Perindustrian Kabupaten Jombang untuk membicarakan pelatihan/kursus/workshop, tepatnya tanggal  8-10 Februari 2000 Ibu Hj. Maniati beserta puterinya mengikuti kursus Batik Tulis Warna Alami di Surabaya yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. Dari hasil kursus ini Ibu Hj. Maniati beserta puterinya dan ibu-ibu PKK semakin rajin membatik.

Tahun 2000 di bulan Desember Ibu Hj. Maniati meresmikan usaha batik dengan nama “SEKAR JATI STAR” di desa Jatipelem. Pada waktu yang sama Bapak Bupati (ketua daerah/DO) memutuskan untuk mengadakan kursus membatik di desa Jatipelem dengan peserta dari perwakilan wilayah kecamatan se-kabupaten Jombang.

Pada tanggal 16 Desember 2004, Ibu Hj. Maniati mendapat izin usaha tetap dari pemerintah dengan nama “BATIK TULIS SEKAR JATI STAR” dengan nomor SIUP: 00423/13-19/SIUP-K/IX/2004. Saat ini untuk memenuhi permintaan pasar, Ibu Hj. Maniati menjual batik dalam bentuk kemeja pria (baju lengan panjang untuk lelaki). Untuk kemeja batik berbahan standar dijual Rp. 150,000.00, sedangkan untuk bahan sutra Rp. 300,000.00 (Surya, 2005). Selain itu beliau juga melayani pesanan dan yang pesan boleh membawa contoh. Untuk melayani hal tersebut Ibu Hj. Maniati mempunyai 27 orang tenaga kerja.  Untuk mengembangkan batik Jombang, berbagai usaha dilakukan oleh Ibu Hj. Maniati. Mulai dari mendirikan kedai sampai ke koperasi.

Pada awalnya motif  batik Jombang menggunakan motif alam sekitar, dengan motif bunga melati, tebu, cengkeh, pohon jati dan lain sebagainya. Setiap motif yang diciptakan biasanya diberi nama, seperti cindenenan, peksi/burung hudroso, peksi manya dan turonggo seto (kuda putih). Selanjutnya Ibu Hj. Maniati bersama Ibu Bupati kabupaten  Jombang (isteri Bupati/DO), bersepakat bahawa Motif Batik Tulis Khas Jombang diambil dari salah satu Relief Candi Arimbi yang terletak di desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Candi Arimbi merupakan candi peninggalan kerajaan Majapahit.

Tahun 2005, Bupati Jombang mengharuskan  semua para pegawai di kabupaten Jombang untuk memakai baju batik motif khas Jombang. Dimana baju tersebut bermotif batik warna merah, motifnya lakar simetris dan ada cecekan. Cecek adalah kata Jawa yang bererti titik. Titik adalah bahagian terpenting dari batik. Kata batik sendiri berasal dari kata “tik” yang bererti “titik”.

Batik Jombang menggunakan motif dengan khas paten relief Candi Rimbi, model candi yang melambangkan pintu gerbang masuk Kerajaan Majapahit. Sedang motif yang dikembangkan berupa motif tawang dan kaning dengan warna dasar yang menekankan pada kehijauan dan kemerahan. Semua memiliki khas candi peninggalan Majapahit dan warnanya pun memakai dasar merah dan hijau yang merupakan warna khas Jombang, (Ibu Kusmiati Slamet).

Selain Ibu Hj. Maniati batik Jombang juga dikembangkan oleh Ibu Kusmiati Slamet. Dengan modal awal Rp 2 juta, tahun 2002 mulailah Ibu Kusmiati Slamet dari Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang mengambil tenaga kerja dari para tetangganya sendiri (sekitar rumahnya) untuk membuat berbagai model dan motif batik dengan khas paten relief Candi Rimbi. Awalnya, prakarsa ini muncul atas dorongan tetangga yang ingin mencari kesibukan dengan belajar membuat batik dengan motif khas Kerajaan Majapahit. Alasannya, karena Jombang dulunya merupakan daerah pecahan Mojokerto, nenek moyangnya sama-sama berasal dari Majapahit.

Pekerjaan dilakukan dengan sistem borongan sesuai keperluan yang diinginkan. Jika pesanan ramai, dalam sehari bisa melibatkan 20 tenaga kerja dengan hasil batikan antara 35 sampai 40 lembar kain. Hari demi hari, pekerjaan membatik pun terus berkembang dan kian banyak pembeli dari daerah-daerah sekitar yang memakai produk Kusmiati. Lalu munculah inisiatif untuk memberi label/brand pada batiknya. Melalui kesepakatan dengan pihak keluarga, akhirnya batik Kusmiati diberi merk “LITABENA”. Litabena diambilkan dari sebahagian dari nama keempat anaknya yang sudah besar. Li dari nama Lilik, Ta dari nama Rita, Be dari nama Benny, dan Na dari nama Nanang. Ibu Kusmiati Slamet berharap dengan nama itu usaha batiknya dapat berkembang menjadi besar. Pada saat ini produk batik LITABENA telah beredar sampai ke Jakarta, Kalimantan, Palembang dan Lampung.

Untuk mengembangkan batik Jombang, Pemerintah Jombang mengadakan workshop batik di Jombang. Berkat bantuan dari pemerintah dan didorong dengan semangat besar, batik Ibu Kusmiati Slamet menjadi berkembang dan terkenal tidak hanya di kalangan pemerintahan namun telah berkembang ke luar negeri. Sekarang Ibu Kusmiati Slamet telah membuat batik pesanan dari Bank Jawa Timur, Dinas Sosial dan Dinas Perikanan berupa baju-baju pegawai. Di samping itu, setiap bulan mendapat pesanan 30 lembar sajadah ke negara Iraq dan mengirim bed cover ke Taiwan sebanyak 2,200 lembar setiap tiga bulan sekali. Kini produksinya mencapai 500-600 yard setiap bulan.

 MOTIF KHAS BATIK JOMBANG

Motif khas batik Jombang adalah tumpalan berbentuk segitiga yang sudah divariasi dan diberi nama BATIK JOMBANGAN. Batik Jombangan yang telah diproduksi sudah ada di Muzium Batik Pekalongan, Jawa Tengah.

PROSES BATIK

Proses batik Jombang secara umum masa dengan proses batik di daerah-daerah lain di Indonesia. Proses batik Jombang diantaranya adalah menggunakan teknik batik tulis  batik skrin/printing, dan batik ikat. Kain yang digunakan juga beragam, seperti kain katun, ATBM, sutra, primisima.

FUNGSI BATIK JOMBANG

Seperti guna kain batik pada umumnya, batik Jombang juga digunakan untuk pakaian harian, terutama untuk baju atau pakaian-pakaian rasmi. Kain batik di Jombang termasuk kain yang mempunyai nilai harga yang mahal, sehingga kain batik tidak digunakan sebagai pakaian untuk kerja kasar ataupun sebagai pakaian tidur. Secara khusus batik Jombang digunakan untuk uniform para pegawai di Jombang setiap hari Jumat ataupun Sabtu. Mulai 2006/2007 digunakan juga untuk para Pelajar Tingkatan1 dan Tingkatan 4, pada hari Rabu dan Kamis.

KEDAI BATIK

Salah satu contoh kedai batik di Jombang yang aktif memasarkan kain batik khas Jombang atau BATIK JOMBANGAN. Kedai batik SEKAR JATI STAR adalah milik Ibu Hj. Maniati di desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

——————————————————————————————-Karsam. Batik Tulis Jombangan, Jawa Timur

Tari Jaran Goyang, Kabupaten Banyuwangi

Sejarah Tari Jaran Goyan

jaran-goyang-1Tari Jaran Goyang adalah tari yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi yang dalam bentuk penyajian serta iringannya memiliki ciri khas berbeda dengan tari yang berasal dari daerah lain. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 yang diciptakan oleh group LKN Pandan, Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Tahun 1969 tari jaran goyang di revitalisasi oleh bapak Sumitro Hadi seorang seniman Banyuwangi yang memiliki banyak karya tari hingga pada masa sekarang. (Bpk. Sumitro Hadi, 2 Maret 2016). Tari ini merupakan tari yang diciptakan dari sumber ilham tari Seblang dan Gandrung sehingga gerakan-gerakannya hampir sama dengan tari Seblang dan Gandrung. Jaran goyang terdiri dari kata jaran ‘kuda’, dan goyang ‘goyang, bergerak’. Dalam hubungan ini, apabila tiba-tiba terjadi seorang gadis menjadi tidak sadar karena “guna-guna”seorang jejaka dari jarak jauh, dikatakan bahwa gadis itu terkena jaran goyang.

Tari jaran goyang merupakan tari pergaulan pemuda pemudi yang menceritakan tentang cinta kasih pemuda pemudi. Namun di dalam kisah cinta tersebut terdapat rasa sakit hati seorang pemuda karena cintanya tidak di balas dengan baik, akibat ditolak cintanya maka sang pemuda sakit  hati sehingga muncul niat buruk sang pemuda untuk menggunakan aji jaran goyang. Aji jaran goyang adalah semacam pelet yang biasanya digunakan untuk menghipnotis seseorang agar tergila-gila. Akibat pellet yang telah mengenai sang pemudi maka posisi yang tergila-gila terbalik sang pemudi merayu-rayu menjadi tergila-gila kepada pemuda tersebut.  Akhirnya sang pemuda menerima cinta si gadis, dan mereka menjadi saling suka. Oleh karena itu tari ini merupakan tari berpasangan pemuda pemudi.

Tari ini berdurasi 7 menit, yang struktur penyajiannya dibagi menjadi, bagian awal muncul penari perempuan, bagian kedua muncul penari laki-laki dengan adegan sang pemuda menggoda si gadis tetapi sang gadis menolak, kemudian masuk adegan penggunaan aji  Jaran Goyang sebagai pelet untuk mendapatkan cinta sang gadis, setelah itu sang gadis tergila-gila bergantian mengejar sang pemuda yang terakhir akhirnya keduanya saling cinta dan selesai. Tari ini dalam musiknya terdapat lirik lirik lagu dengan menggunakan bahasa osing yang menjadi ciri khas tari Banyuwangi. Rias dan kostum dalam tari ini yaitu menggunakan rias cantik untuk penari putri dan untuk penari putra menggunakan rias putra alus.

Dalam riasnya tari ini tidak mengalami perkembangan dengan selalu menggunakan rias cantik, tetapi untuk kostum penari putri banyak mengalami perkembangan, pada tahun 1969 penari menggunakan kostum sederhana tetapi dalam perkembangan zaman dan selera masyarakat setiap penampilan dikreasikan dengan tetap berpedoman pada kostum awal terciptanya tari Jaran Goyang. Tari ini ditampilkan dalam acara hajatan seperti pernikahan, khitanan, dan kesenian janger, dalam kesenian janger tari ini tidak selalu ditampilkan tetapi biasanya ada sesuai dengan permintaan tuan rumah yang menyelenggarakan hajatan. Tempat pertunjukan Tari Jaran Goyang juga mengalami penyempurnaan yaitu sekarang sering ditampilkan dalam gedung pada saat penutupan acara acara resmi serta acara agung seperti penyambutan Bupati di Kabupaten Banyuwangi, di lapangan pada saat acara Hari Jadi Banyuwangi, serta di panggung tertutup.

Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang

Bentuk penyajian Tari Jaran Goyang menurut bapak Sumitro Hadi (wawancara 2 Maret 2016) sebagai sesepuh dan penari tari Jaran Goyang pada tahun 1966 serta pimpinan Sanggar Tari Jingga Putih di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi. Beliau menuturkan bahwa bentuk penyajian tari Jaran Goyang versi dulu memiliki durasi cukup panjang jika dibandingkan dengan tari lain di daerah Banyuwangi yaitu selama 12 menit sedangkan tari-tari lain khususnya di Kabupaten Banyuwangi yang biasanya hanya memiliki durasi yang tidak lebih dari 10 menit. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 oleh group LKN Pandan. Tari Jaran Goyang pada versi dulu sangat sederhana, untuk gerak pada Tari Jaran Goyang mengambil gerak-gerak dalam tari yang sudah ada sebagai dasarnya yaitu dalam tari Gandrung, tetapi kemudian dikembangkan dan dikreasikan kembali.

Bentuk penyajian tari Jaran Goyang sangat sederhana, dengan gerakan yang diulang-ulang. Pada mulanya tari ini dibawakan oleh lebih dari satu pasang penari yang terdiri dari penari perempuan dan penari laki laki tetapi terdapat beberapa pasang penari dan tidak dibatasi jumlah maksimal penarinya. Bentuk penyajian pada masa dahulu yaitu pada saat satu pasang penari pertama muncul pada bagian awal, kemudian disusul pasangan-pasangan yang lain menari pada bagian akhir waktu gending ugo-ugo dimainkan, sehingga menjadikan durasinya lebih lama yaitu selama 12 menit jika dibandingkan dengan tari lain khususnya di Kabupaten Banyuwangi. Bentuk penyajian tari Jaran Goyang pada masa itu terdiri dari: gerak, desain lantai, musik iringan, tata rias, dan busana, dan tempat pertunjukan. Elemen-elemen pendukung tari Jaran Goyang pada masa dahulu tidak terlalu banyak dan terkesan sangat sederhana. Berikut ini adalah elemen-elemen pendukung pada tari Jaran Goyang antara lain :

  1. Gerak

Gerak tari Jaran Goyang didasarkan pada gerak ngrayung dan ngeber untuk penari perempuan yang dilakukan berulang-ulang. Geraknya masih bersifat sederhana. Untuk gerakan tangan dan kaki berubah-ubah tidak terpaku pada satu pola gerakan. Sedangkan untuk penari laki-laki didasarkan pada gerak bapang yang juga dilakukan berulang-ulang. Adapun gerak tangan dan kaki yang harus menyesuaikan dengan suasana dalam tiap adegan, karena dalam bentuk penyajian tarian ini tidak hanya mengandalkan gerakan penarinya saja melainkan sangat tergantung dengan ekspresi penari dalam membawakan cerita dalam tari ini, sehingga ada beberapa gerakan yang merupakan bagian dari akting penari perempuan maupun penari laki.

  1. Berikut adalah gerakan dasar tari Jaran Goyang untuk penari perempuan tahun 1969 Gerakan Sagah yaitu dilakukan dengan posisi badan mendhak kaki membentuk huruf T menyudut, arah badan kesamping kiri untuk sagah kiri dan jika sagah kanan arah badan kekanan. Gerakan ini menggambarkan perasaan sedih yang menangis karena sang pemuda menolak cintanya. Dengan kedua tangan njimpit sampur yang menutup separuh wajah, dan duduk bersimpuh.
  2. Gambar gerakan untuk penari laki-laki sebagai berikut: Gerakan yang dilakukan dengan tangan posisi bapang dan dan kaki tanjak kanan yaitu kaki kanan telapaknya menyudut lebih kedepan dari kaki kiri. Gerakan Langkah Telu yaitu langkah tiga-tiga dengan telapak kaki dipantulkan sambil diangkat.
  1. Iringan

Iringan atau musik dalam tari Jaran Goyang sangat sederhana. Selain itu iringan yang digunakan adalah musik eksternal yaitu music atau bunyi yang dihasilkan dari alat-alat musik pengiring seperti saron, kendang, triangle (kluncing), kenong, dan biola. Untuk alat musik yang digunakan menggunakan gamelan khas Banyuwangi dengan nada slendro. Durasi iringan tari Jaran Goyang pada masa dahulu lebih lama

selama 12 menit karena diulang-ulang (wawancara dengan Bapak Sumitro Hadi, 4 Maret 2016).

  1. Desain Lantai

(hasil wawancara dengan Ibu Sri Uniati, 14 Maret 2016). Beliau mengungkapkan untuk desain lantai tari Jaran Goyang pada masa dahulu tidak memiliki pola khusus., karena penari hanya menari di atas panggung yang membentuk garis sejajar dan diagonal. Tari Jaran Goyang ditarikan berpasangan dan jumlah pasangan penari tidak ditentukan sehingga tidak ada pola lantai yang baku dalam penyajiannya.

Gambar pola lantai di atas merupakan pola lantai baku dalam tari Jaran Goyang yang jika ditarikan oleh 3 pasang penari. Selanjutnya pola lantai dapat dikembangkan oleh penata tari sesuai dengan keinginan, kapasitas panggung, serta jumlah pasangan penarinya.

  1. Tata Rias dan Busana

Tari Jaran Goyang pada masa dahulu rias yang digunakan sangat sederhana dan tidak terlalu mencolok. Mamakai rias, busana, serta perlengkapan yang seadanya. Rias yang digunakan adalah rias cantik untuk penari perempuan. Busana yang dipakai penari perempuan pada saat itu adalah kebaya model kutubaru, dengan bawahan menggunakan jarik dengan motif gajah oling atau kain polos, serta sampur. Untuk rias

kepala menggunakan sanggul bali. Sedangkan penari laki-laki rias yang digunakan adalah rias putra biasa dan tidak mencolok. Dalam tata rias di daerah Kabupaten Banyuwangi untuk setiap tarian tidak menggunakan rias karakter, tetapi menggunakan rias secara umum baik laki-laki maupun perempuan. Sedangkan busana untuk penari laki-laki adalah menggunakan udeng, baju lengan panjang, celana dengan

panjang selutut, sampur yang diselempangkan, serta jarik motif gajah oling.

  1. Tempat Pertunjukan

Tempat pertunjukan tari Jaran Goyang dahulunya di acara hajatan, dan acara tahunan yaitu dalam memperingati hari kemerdekaan RI di desa Gladag Kabupaten Banyuwangi. Tempat pertunjukannya tidak hanya dilakukan di dalam ruangan tertutup tetapi juga dilakukan di ruang terbuka seperti teras rumah, atau halaman rumah warga. Karena pada saat itu menyesuaikan dengan acara yang diselenggarakan dan dimana terlaksanannya sebuah acara tersebut.

Perkembangan Tari Jaran Goyang

Sebagai tari rakyat asli Kabupaten Banyuwangi, Tari Jaran Goyang hidup dan berkembang di Desa Gladag. Tari Jaran Goyang telah mengalami perkembangan dalam beberapa periode yaitu pada tahun 1969, tahun 1990, tahun 2010 sampai 2016. Tiga (3) periode tersebut telah mengalami perkembangan yang terjadi dalam berbagai aspek, mulai dari gerak, desain lantai, iringan, rias dan busana, dan tempat pertunjukan.

——————————————————————————————-Nungky Retno Palupi (Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa Dan Seni)Perkembangan Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang Di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi Dari Tahun 1969-2016. Universitas Negeri Yogyakarta 2016

Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

batik-sayu-wiwit-banyuwangi-41Sejarah pengembangan batik di Banyuwangi dimulai pada tahun 1980-an. Sentra batik pertama yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi adalah terletak di daerah Temenggungan. Awalnya, pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengirim beberapa orang dari kelurahan Temenggungan untuk belajar membatik. Sampai saat ini yang mampu bertahan hanya dua orang yaitu Soedjojo Dulhaji pendiri UD. Sayu Wiwit dan Ana Nemy pemilik UD. Sri Tanjung.

Berawal dari keadaan tersebut, pada tahun 1995 Soedjojo Dulhaji mencoba mengumpulkan para pengrajin batik dalam satu wadah dengan nama “Kelompok Kerja Pembatik”. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan potensi yang ada, baik dari segi pelestarian serta pengembangan batik Gajah Oling, serta untuk menghindari munculnya kejenuhan baik bagi para pengrajin itu sendiri maupun calon pembeli. Usaha tersebut semakin lama menunjukan kemajuan yang baik serta adanya respon dari masyarakat, maka pada tahun 1997 Bapak Soedjojo Dulhaji mendaftarkan usaha tersebut ke Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dan setelah itu usaha tersebut mendapatkan nama PT. Sayu Wiwit dengan No. SIUP: 0100/ 13-6/ PK/ III/ 1997, dengan spesialisasi tiga jenis produk, yaitu: batik tulis, batik cap, dan batik printing. Sejak  Soedjojo Dulhaji meninggal dunia, sanggar batik dikelola oleh Fonny Meilyasari (anak Bapak Soedjojo). Hanya saja, Ibu Fonny tidak memiliki ketrampilan membatik sehingga mengikuti magang di pembatik di Solo selama 2 minggu. Tujuannya adalah ingin menambah pengetahuan tentang teknik membatik yang benar dari daerah lain.

batik-sritanjung-banyuwangiNama Sayu Wiwit merupakan nama pahlawan wanita Banyuwangi yang kemudian digunakan sebagai nama dari sanggar batik tersebut. Tujuan didirikannya sanggar batik Sayu Wiwit adalah untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat khususnya penduduk kelurahan Temenggungan, serta menciptakan lapangan kerja bagi ibu-ibu dan remaja putus sekolah khususnya bagi mereka yang pernah mengikuti latihan kursus ketrampilan membatik dengan memacu dan memberikan motivasi untuk berproduksi kemudian menampung produksinya dan mengupayakan pemasarannya (Purwoko, 2011:35). Usaha  yang dilakukan oleh pendiri sanggar batik mendapatkan tanggapan yang positif dari Pemerintah Daerah Tingkat II Banyuwangi, Departemen Perindustrian, Departemen Tenaga Kerja. Perkembangan perusahaan batik Sayu Wiwit dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sehingga usahanya semakin maju.

 

Dinamika Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

  1. Proses Produksi dan Bahan Baku yang Digunakan

Proses produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit tidak jauh berbeda dengan proses produksi batik di tempat lain. Proses pembuatan batik tidak mengalami perubahan dari awal didirikan hingga sekarang ini. Proses pembuatan batik terdiri atas beberapa tahap, yaitu membatik, mewarna, menghilangkan malam, dan mencuci kain batik. Semua proses produksi batik masih bersifat tradisional karena semua masih dikerjakan dengan menggunakan tangan. Selain batik tulis yang digambar dengan menggunakan canting, Sanggar Batik Sayu Wiwit juga memproduksi batik cap, mengecap kain dilakukan dengan blok yang terbuat dari tembaga bertangkai pegangan dari kayu yang di sisi dalamnya berbentuk motif batik.

Sejak awal didirikannya industri batik Sayu Wiwit pada tahun 1995, produksi batik hanya berupa batik tulis. Namun untuk mengantisipasi minimnya jumlah pembatik dan mempercepat waktu produksi, pemilik Sanggar Batik Sayu Wiwit melakukan strategi dengan menambah alat batik cap agar hasil produksi batik dapat bertambah dalam waktu yang relatif singkat. Batik cap diproduksi Sanggar Batik Sayu Wiwit sejak tahun 2000.

  1. Variasi Motif

Sanggar Batik Sayu Wiwit pada awalnya hanya memproduksi motif batik Gajah Oling. Motif batik Gajah Oling merupakan perpaduan antara gambar atau ornamen kupu-kupu, batang, daun, dan bunga melati. Motif batik Gajah Oling merupakan batik yang mempunyai tingkat kesulitan yang paling tinggi dalam proses pembuatannya. Pada perkembangan selanjutnya, Sayu Wiwit menambah produksi motif batik tulis yaitu motif batik Kangkung Setingkes dan motif batik Paras Gempal. Konsumen juga dapat memesan kain batik dengan motif lain dengan langsung datang ke sanggar tempat pembuatan batik Sayu Wiwit dengan membawa desain batik yang diinginkan.

Beberapa hasil pengembangan motif Gajah Oling yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit antaralain :

1) motif Kembang Kates
2) motif Teratai
3) motif Zig-Zag
4) motif Gunung
5) Anas Garis
6) Gelombang Cinta
7) Kantil
8) Semanggi
9) Anggur
10) Ukiran

  1. Aktivitas Pemasaran

Pemasaran pada industri kerajinan batik Sayu Wiwit pada awalnya hanya dilakukan di rumah produksi. Para konsumen datang langsung ke tempat produksi untuk membeli batik dan dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik. Selain itu biasanya ada pula yang dibawa oleh pedagang pengecer untuk dipasarkan kembali di luar daerah Banyuwangi. Seiring berkembangnya usaha kerajinan batik, pada awal tahun 2011 usaha kerajinan batik Sayu Wiwit membuka showroom yang diberi nama Umah Batik Sayu Wiwit. Sebelumnya para calon pembeli harus berjalan kaki terlebih dahulu ketika akan membeli batik, setelah didirikannya Umah Batik Sayu Wiwit akan memudahnya para pembeli untuk datang. Showroom juga digunakan sebagai sarana promosi agar para calon pembeli tertarik untuk datang ke tempat penjualan batik.

Pemasaran hasil produksi sanggar batik Sayu Wiwit tidak hanya disalurkan melalui showroom yang dimilikinya, namun untuk meningkatkan penjualan Sayu Wiwit melakukan strategi promosi yang lain. Saluran promosi yang digunakan Sanggar Batik Sayu Wiwit melalui media periklanan. Kegiatan periklanan yang dilakukan Sanggar Batik Sayu Wiwit melalui pemasangan iklan di surat kabar, spanduk, maupun penyiaran radio.

  1. Dampak Industri Batik Terhadap Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

Perkembangan industri batik di Kelurahan Temenggungan mempengaruhi dan merubah kondisi masyarakat sekitar, khususnya pada karyawan industri kerajinan batik. Melalui keberadaan industri batik di Kelurahan Temenggungan, timbul pergeseran lapangan kerja yang lama ke bidang usaha yang baru. Beralihnya profesi ke bidang industri membuat taraf kehidupan ekonomi masyarakat dalam segi pendapatan menjadi meningkat. Keadaan tersebut memacu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tidak hanya kebutuhan pokok sehari-hari melainkan juga kebutuhan lain yang bersifat sekunder. Kebutuhan sekunder yang dimaksud adalah barang-barang elektronik seperti televisi dan sarana transportasi seperti sepeda dan kendaraaan bermotor.

Dampak ekonomis dari pendirian industri kerajinan batik adalah adanya penghasilan tambahan bagi masyarakat yang terlibat dalam industri batik, dalam hal ini adalah pengusaha, pengrajin, dan pengecer. Beralihnya masyarakat yang bekerja di luar industri menjadi kerja industri disebabkan oleh faktor keadaan sosial ekonomi. Sementara biaya hidup semakin meningkat sedangkan mereka tidak dapat hanya mengandalkan gaji yang diperoleh dan yang bermata pencaharian sebagai tukang rumah atau buruh tani tidak memperoleh gaji secara tetap.

Secara sosial ada beberapa dampak yang dirasakan oleh para pengrajin, diantaranya adalah semakin erat hubungan antar tenaga kerja atau karyawan perusahaan. Keeratan hubungan antar tenaga kerja timbul karena kebiasaan para pengrajin melakukan pekerjaan bersamasama di sanggar karya milik perusahaan. Setiap kehidupan masyarakat selalu terjadi adanya interaksi sosial. Tanpa adanya interaksi sosial, maka tidak mungkin ada kehidupan bersama.

  1. Usaha Pelestarian Batik

Seiring dengan perkembangan zaman, hingga saat ini banyak tumbuh berkembang pengrajin batik menyebar hampir di seluruh wilayah Kecamatan maupun Kabupaten Banyuwangi, hal tersebut dikarenakan adanya dukungan positif dari semua pihak terhadap keberadaan batik Banyuwangi diantaranya Kebijakan Pemerintah Daerah dalam upaya pengembangan batik di Banyuwangi serta pemakaian batik khas daerah untuk seragam Dinas maupun Sekolah pada hari dan acara tertentu.

Kelestarian batik ikut terjaga ketika adanya peraturan yang dibuat pemerintah kabupaten Banyuwangi sejak 2009, yang mewajibkan semua pegawai pemerintah daerah dan pegawai negeri sipil di Banyuwangi untuk menggunakan seragam batik dengan motif Gajah Oling pada setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Selain itu, juga untuk pemakaian busana khas Banyuwangi yaitu Jebeng dan Thulik (Duta Wisata dan Kebudayaan Banyuwangi) pada Thulik, batik motif Gajah Oling dipakai pada udeng tongkosan dan sembong sedang, sedangkan pada Jebeng batik Gajah Oling digunakan sebagai kain panjang.

Pemerintah sendiri memiliki beberapa program untuk kembali mengenalkan Batik Banyuwangi kepada masyarakat karena kekayaan budaya dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembangunan di Banyuwangi, dan batik menjadi salah satu produk kebudayaan yang termasuk dalam seni kerajinan rakyat.

——————————————————————————————-Rara Sonia Estiningtiyas, Sumardi. Bambang Soepeno. Dinamika Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit Di Kelurahan Temenggungan Kecamatan Kota Banyuwangi 1995─2014.
Universitas Jember (UNEJ)

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Batik “Manggur” kota Probolinggo

Dengan ditetapkannya tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, hampir seluruh daerah di Indonesia berlomba lomba untuk mengembangakan kreasi batiknya mulai dari motif, produk batik yang bervariasi serta proses dalam pembuatan batik itu sendiri. Probolinggo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang juga turut andil dalam menciptakan beberapa karya seni batik. Usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Malikha terletak di Jl. Kyai haji Sulthon Dusun Subur Kelurahan Triwung Kidul Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Siti Malikha  merupakan salah satu pengrajin dan pemilik usaha batik di kota Probolinggo dengan ciri khas motif “Manggur” (Mangga Anggur) pada kerajinan batiknya. Usaha batik “Manggur” semakin eksis dengan beberapa motif lainnya yang semakin banyak diantaranya adalah motif batik “Wayang Manggur” dan motif batik ”Manggur”.  Namun kedua motif ini perlu dikembangkan agar lebih bervariasi lagi khususnya dalam penyusunan komposisi motif batik.

Bentuk Desain Motif Batik “Manggur”
Probolinggo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki karakteristik batik seperti beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para perajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Probolinggo memiliki beberapa kawasan wisata indah yang tersebar di berbagai daerah, salah satunya adalah  wisata candi Lawang Kedaton yang terletak di desa Andung Biru kecamatan Tiris. Peninggalan sejarah ini sangat terkenal akan reliefnya yang menceritakan  sejarah pada jaman dulu. Candi ini terbuat dari batu andesit serta ukuran candi  6 meter persegi dan pembuatannya yang tertera pada bibir tangga tertulis 1292 Saka atau 1370 M.  Candi ini menjadi sumber inspirasi pembuat batik dalam menciptakan karya seni. Bentuk Desain Motif pada Usaha Batik “Manggur” Probolinggo perlu dikembangkan agar lebih memliki variasi dan penyusunan motif yang lebih baik.

Motif Batik Mangur “Wayang Manggur”        
Dalam relief ini menceritakan kakimpoi arjunawiwaha, yaitu cerita tentang arjuna yang  bertapa mencari senjata sakti. pada saat bertapa diutuslah  dua  bidadari cantik untuk menggoda arjuna oleh paradewa, bidadari ini merayu arjuna dengan segala cara tetapi arjuna tidak bergeming dari yoganya, relief pada candi kedaton ini yang menjadi sumber inspirasi pembuat batik “Wayang Manggur”.

Batik “Manggur”
Manggur merupakan singkatan antara buah mangga dan anggur yang merupakan ikon dari Probolinggo Buah yang banyak digemari ini menjadi inspirasi para pengrajin batik dalam membuat karya batik khususnya usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Maikha. Terdapat beberapa motif batik yang dimiliki oleh usaha batik “Manggur” tetapi tetap menggunakan buah mangga dan anggur sebagai ciri khas dari motif itu, baik berupa isian motif ataupun motif utama.

Motif Batik Mangur “Kali Banger”
batik-mangur-kali-bangurKali Banger merupakan salah satu sungai yang ada di kota Probolinggo. Nama Kali Banger berasal dari cerita rakyat yang mengisahkan tentang Minak Jinggo dan Damarwulan yang bertarung sehingga darah dari pertarungan tersebut mengalir ke sungai dan mengakibatkan bau (banger) pada sungai tersebut.

 

Motif Batik Mangur “Angin Gending”
Angin Gending merupakan salah satu angin yang hanya terjadi di kecamatan Gending kabupaten Probolinggo.  Angin ini telah menjadi ciri khas tersendiri dan menjadi inspirasi untuk membuat motif angin Gending.

Motif Batik Mangur “Seribu Taman”  
Batik seribu taman merupakan batik unggulan dari usaha batik “Manggur”. Motif yang menggambarkan tentang bermacam- macam tanaman kota yang ada di sepanjang jalan Probolinggo membuat batik ini banyak digemari karena motifnya yang menarik.

Sebagian besar motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” terinspirasi dari cerita pada jaman dulu dan kejadian-kejadian yang pernah terjadi di Probolinggo. Seperti terciptanya motif Kali Banger yang terinspirasi dari cerita pertarungan Minak Jinggo dan Damarwulan, motif Angin Gending yang berasal dari kecamatan Gending, motif Wayang Manggur yang terinspirasi oleh relief candi Lawang Kedaton, dan masih banyak lainnya. Namun dari semua motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” Probolinggo, tak lepas dari ciri khas motifnya yaitu mangga dan anggur atau Manggur baik itu sebagai motif pengisi maupun motif utama.

——————————————————————————————-Indah Novitasari, Fera Ratyaningrum (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Desain Motif Di Usaha Batik “Manggur” Probolinggo. Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016, 309–316

Batik “Manggur” kota Probolinggo

Dengan ditetapkannya tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, hampir seluruh daerah di Indonesia berlomba lomba untuk mengembangakan kreasi batiknya mulai dari motif, produk batik yang bervariasi serta proses dalam pembuatan batik itu sendiri. Probolinggo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang juga turut andil dalam menciptakan beberapa karya seni batik. Usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Malikha terletak di Jl. Kyai haji Sulthon Dusun Subur Kelurahan Triwung Kidul Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Siti Malikha  merupakan salah satu pengrajin dan pemilik usaha batik di kota Probolinggo dengan ciri khas motif “Manggur” (Mangga Anggur) pada kerajinan batiknya. Usaha batik “Manggur” semakin eksis dengan beberapa motif lainnya yang semakin banyak diantaranya adalah motif batik “Wayang Manggur” dan motif batik ”Manggur”.  Namun kedua motif ini perlu dikembangkan agar lebih bervariasi lagi khususnya dalam penyusunan komposisi motif batik.

Bentuk Desain Motif Batik “Manggur”
Probolinggo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki karakteristik batik seperti beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para perajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Probolinggo memiliki beberapa kawasan wisata indah yang tersebar di berbagai daerah, salah satunya adalah  wisata candi Lawang Kedaton yang terletak di desa Andung Biru kecamatan Tiris. Peninggalan sejarah ini sangat terkenal akan reliefnya yang menceritakan  sejarah pada jaman dulu. Candi ini terbuat dari batu andesit serta ukuran candi  6 meter persegi dan pembuatannya yang tertera pada bibir tangga tertulis 1292 Saka atau 1370 M.  Candi ini menjadi sumber inspirasi pembuat batik dalam menciptakan karya seni. Bentuk Desain Motif pada Usaha Batik “Manggur” Probolinggo perlu dikembangkan agar lebih memliki variasi dan penyusunan motif yang lebih baik.

Motif Batik Mangur “Wayang Manggur”        
Dalam relief ini menceritakan kakimpoi arjunawiwaha, yaitu cerita tentang arjuna yang  bertapa mencari senjata sakti. pada saat bertapa diutuslah  dua  bidadari cantik untuk menggoda arjuna oleh paradewa, bidadari ini merayu arjuna dengan segala cara tetapi arjuna tidak bergeming dari yoganya, relief pada candi kedaton ini yang menjadi sumber inspirasi pembuat batik “Wayang Manggur”.

Batik “Manggur”
Manggur merupakan singkatan antara buah mangga dan anggur yang merupakan ikon dari Probolinggo Buah yang banyak digemari ini menjadi inspirasi para pengrajin batik dalam membuat karya batik khususnya usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Maikha. Terdapat beberapa motif batik yang dimiliki oleh usaha batik “Manggur” tetapi tetap menggunakan buah mangga dan anggur sebagai ciri khas dari motif itu, baik berupa isian motif ataupun motif utama.

Motif Batik Mangur “Kali Banger”
batik-mangur-kali-bangurKali Banger merupakan salah satu sungai yang ada di kota Probolinggo. Nama Kali Banger berasal dari cerita rakyat yang mengisahkan tentang Minak Jinggo dan Damarwulan yang bertarung sehingga darah dari pertarungan tersebut mengalir ke sungai dan mengakibatkan bau (banger) pada sungai tersebut.

 

Motif Batik Mangur “Angin Gending”
Angin Gending merupakan salah satu angin yang hanya terjadi di kecamatan Gending kabupaten Probolinggo.  Angin ini telah menjadi ciri khas tersendiri dan menjadi inspirasi untuk membuat motif angin Gending.

Motif Batik Mangur “Seribu Taman”  
Batik seribu taman merupakan batik unggulan dari usaha batik “Manggur”. Motif yang menggambarkan tentang bermacam- macam tanaman kota yang ada di sepanjang jalan Probolinggo membuat batik ini banyak digemari karena motifnya yang menarik.

Sebagian besar motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” terinspirasi dari cerita pada jaman dulu dan kejadian-kejadian yang pernah terjadi di Probolinggo. Seperti terciptanya motif Kali Banger yang terinspirasi dari cerita pertarungan Minak Jinggo dan Damarwulan, motif Angin Gending yang berasal dari kecamatan Gending, motif Wayang Manggur yang terinspirasi oleh relief candi Lawang Kedaton, dan masih banyak lainnya. Namun dari semua motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” Probolinggo, tak lepas dari ciri khas motifnya yaitu mangga dan anggur atau Manggur baik itu sebagai motif pengisi maupun motif utama.

——————————————————————————————-Indah Novitasari, Fera Ratyaningrum (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Desain Motif Di Usaha Batik “Manggur” Probolinggo. Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016, 309–316

Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Motif batik mangrove yang dibuat oleh Ibu Lulut diambil dari bentuk beragam mangrove, mulai dari daun, bunga, sampai untaian buah. Selain dari beragam mangrove, inspirasi motif juga berasal dari  makhluk yang hidup di sekitar mangrove, seperti ikan, kepiting, dan udang. Motif Batik mangrove ini telah mempunyai ribuan pakem-pakem yang telah dibuat oleh Ibu Lulut, yang selanjutnya desain motif dikembangkan menjadi beberapa jenis motif sesuai pakem yang ditetapkan. Beberapa motif batik yang telah di buat oleh Ibu Lulut Sri Yuliani sebagai pemberdaya Batik Mangrove antara lain:

Motif Batik Mangrove Rungkut Surabaya

  • Motif Bruguiera Gymnorhiza

Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah ornamen tumbuhan yang berupa daun dan buah Bruguiera Gymnorhiza. Ornamen isen yang terdapat pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah gelembung air.

  • Motif Callophyllum inophyllum

Ornamen utama pada motif Callophyllum inophyllum adalah ornamen tumbuhan Callophyllum inophyllum. Penggambaran motif Callophyllum inophyllum ditampilkan berupa buah, bunga dan daun Callophyllum inophyllum secara utuh yang dihiasi dengan sulur-sulur. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Callophyllum inophyllum adalah ornamen tumbuhan yang berupa buah Callophyllum inophyllum. Ornamen isen yang terdapat pada motif Callophyllum inophyllum adalah gelembung air dan titik- titik hujan.

  • Motif Angry Puffu Fish

Ornamen utama pada motif Angry Puffu Fish adalah ornamen binatang. Penggambaran motif Angry Puffu Fish ditampilkan berupa ikan gembung secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Angry Puffu Fish adalah ornamen tumbuhan yang berupa ekosistem bawah air yaitu terumbu karang. Ornamen isen yang terdapat pada motif Angry Pufffu Fish adalah gelembung air, gelombang, dan joging track. Isen-isen gelembung air terdapat pada ornamen tumbuhan (terumbu karang) pada ornamen tambahan. Sedangkan isen-isen joging track dan gelombang terdapat pada bagian latar motif.

  • MotifGobie Fish

Ornamen utama pada motif Gobie Fish adalah ornamen binatang. Penggambaran motif Gobie Fish ditampilkan berupa ikan gobie secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Gobie Fish adalah ornamen tumbuhan yang berupa ekosistem bawah air yaitu terumbu karang. Ornamen isen yang terdapat pada motif Gobie Fish adalah biji bogem, gelembung air danjoging track. e. MotifBlue Jelly Ornamen utama pada motif Blue Jelly adalah keindahan bawah laut yang distilir, yaitu ubur-ubur. Penggambaran motif Blue Jelly ditampilkan berupa ubur- ubur secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Blue Jelly adalah ornamen tumbuhan yang berupa terumbu karang. Terumbu karang disini digambarkan dalam dua bentuk, yaitu terumbu karang yang menyerupai kerang dan terumbu karang yang menyerupai tanaman dalam air. ornamen isen yang terdapat pada motif Blue Jelly adalah biji bogem, gelembung air, dan joging track.

Warna BatikMangrove Rungkut Surabaya.

Warnawarna yang digunakan pada Batik Mangrove ada bermacammacam. Namun, warna yang terdapat di Batik Mangrove ini memiliki ciri khas yang berbeda dari batik yang lainnya. Berikut ini penjelasan tentang warna batik Mangrove:

  • Warna khas Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Warna-warna yang terdapat pada batik mangrove adalah hijau, kuning, coklat, merah muda, orange, biru, hitam, dan ungu. Selain itu, warna merah pada batik mangrove adalah merah muda atau merah merona, tidak ada warna merah menyala.

  • Warna asli Tanaman Mangrove

Pembuatan pewarna alami asli dari beberapa tanaman mangrove, warna-warna yang dihasilkan adalah coklat kehijauan, coklat muda, hijau kekuningan. Warna yang dihasilkan dari pewarna alami mangrove Sonneratia Caseolaris adalah warna coklat kehijauan. Warna coklat muda dihasilkan dari buah Cerbera Manghas dan warna hijau kekuningan dari daun Cerbera Manghas.

Perkembangan warna Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Warna-warna khas batik mangrove mulai dari pertama kali dibuat hingga sekarang tidak ada perkembangan warna. Hanya saja hingga saat ini belum ada warna merah menyala yang dihasilkan dari pewarnaan alami mangrove. Tidak adanya perkembangan ini menyebabkan batik mangrove memiliki ciri khas warna tersendiri, berbeda dari batik yang lainnya.

  • Asal warna dari pewarna alami mangrove

Asal warna dari pewarna alami yang digunakan pada batik mangrove adalah buah, bunga, dan daun yang berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan beberapa bahan pewarna alami yang lainnya sehingga menghasilkan warna khas batik mangrove Rungkut Surabaya. Warna merah pada batik mangrove dihasilkan dari kelopak dan kulit buah Bruguiera Ghimnorhyza, kulit cabai merah, dan secang. Warna kuning dari Caloptropis Gigantea, getah nyamplung atau Calophyllum inophyllum, kunyit, dan batu gambir. Warna Hijau dihasilkan dari Caloptropis Gigantea dan Indigo dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna orange dari Caloptropis Gigantea, kelopak dan kulit buah Bruguiera Ghymnorhiza dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna biru dari Indigo dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna ungu dari bunga jeruju atau Acanthus ilicifolius dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna coklat dari caping bogem atau Sonneratia alba dan kulit Nypa frutican dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna hitam dari buah bintaro atau Cerbera manghas dan alur atau Saudea maritima dan bahan pewarna alami yang lainnya.

Proses pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya.

Proses pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya secara sekilas sama dengan proses pembuatan batik pada umumnya, namun ada beberapa perbedaannya. Perbedaan proses pembuatan Batik Mangrove dengan batik yang lainnya berada pada lilin dan canting yang digunakan. Berikut ini penjabaran dari bahanbahan, peralatan, dan langkah-langkah membatik di Batik Mangrove Rungkut Surabaya :

Bahan pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Bahan yang digunakan untuk membatik di Batik Mangrove Rungkut Surabaya hampir sama dengan peralatan membatik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada malam dan pewarna yang digunakan. Pada batik mangrove menggunakan malam kuning dan malam putih yang diolah kembali agar lebih bersih dan pewarna yang digunakan pewarna alami dari tumbuhan mangrove.

  1. Malam

Malam yang digunakan pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah malam kuning dan malam putih. Malam yang berwarna kuning memiliki sifat liat dan kenyal. Sifat tersebut sangat cocok digunakan untuk menutupi bagian pola yang diharapkan agar terlihat rapat. Malam kuning mampu menutupi permukaan media secara utuh dan sempurna. Malam yang digunakan pada batik mangrove ini adalah malam kuning dan putih yang telah diolah kembali agar menghasilkan malam yang bersih dan berkualitas.

  1. Pewarna alami

Pewarnaan alam diperoleh dari bahan-bahan alami, antara lain kunyit (menghasilkan warna kuning), daun jati (menghasikan warna hijau), dan kulit buah manggis (menghasilkan warna ungu). Pewarna alami yang digunakan pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah pewarna alami yang berasal dari buah, bunga, dan daun dari tumbuhan mangrove dan dicampur dengan beberapa pewarna alami lainnya.

 

  1. Peralatan pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui peralatan membatik yang digunakan pada proses membatik di Griya Karya Tiara Kusuma “Batik Mangrove” hampir sama dengan peralatan membatik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada canting yang digunakan. Pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya canting yang digunakan adalah canting elektrik dengan cucuk tunggal dan memiliki tombol pengatur suhu. Canting elektrik terdiri dari tiga bagian utama, antara lain: bak penampung lilin atau malam, tangkai pemegang, dan alat kontrol suhu yang berfungsi mengontrol suhu canting.

  1. Langkah-langkah pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui langkah-langkah pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan batik pada umumnya. Perbedaan proses pembuatan Batik Mangrove dengan batik yang lainnya berada pada proses pewarnaan danproses pelorodan. Proses pewarnaan dan pelorodan pada batik mangrove memiliki beberapa tahapan. Berikut ini langkahlangkah pewarnaan dan pelorodan dalam pembuatan Batik Mangrove :

  1. Pewarnaan Menurut Mifzal (2012:76), setelah proses pemalaman selesai, tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalahpewarnaan. Tujuan pewarnaan ini adalah untuk member dan mengubah warna pada kain batik. Pewarnaan juga bertujuan untuk menambah keindahan pada batik. Pencoledan adalah proses pemberian warna secara langsung pada bidang-bidang motif di mana ini relatif sempit yang dibatasi malam sehingga tidak efektif bila dicelup. Proses pewarnaan pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya menggunakan teknik pewarnaan mencolet menggunakan kuas dengan berbagai ukuran. Bahan pewarna yang digunakan adalah bahan pewarna alami mangrove.
  2. Pelorodan Nglorod ini adalah langkah untuk melarutkan malam pada permukaan kain. Hal ini dilakukan di atas bejana yang berisi air panas mendidih. Untuk mempermudah proses pelarutan malam dari permukaan kain maka pada air mendidih itu dicampurkan zat kimia tertentu. Proses pelorotan pada Batik Mangrove memiliki beberapa tahapan, yaitu:
  3. Tahap satu adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan kanji dan air dingin.
  4. Tahap kedua adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan tawas,
  5. Tahap ketiga adalah tahap mencelupkan kain kedalam air mendidih hingga malam luntur seluruhnya.
  6. Tahap keempat adalah tahapan mencelupkan kain kedalam larutan tawas kedua.
  7. Tahap kelima adalah tahap mencelupkan kain kedalam air bersih.
  8. Tahap keenam adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan kanji yang telah dimasak di air mendidih dan di tuangkan ke dalam ember.

 Motif Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Batik Mangrove telah memiliki ribuan motif pakem yang telah dibuat. Beberapa motif pakem diantaranya yaitu motif Bruguiera Gymnorhiza, motif Callophyllum Inophyllum, motif Angry Puffu Fish, motif Gobie Fish, dan motif Blue Jelly. Pada motif-motif pakem Batik Mangrove terdapat ornamen utama, ornamen tambahan, dan ornamen isen batik. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980: 212) mengenai motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan yang mempunyai motif yang berirama dan khas. Motif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Menurut unsur-unsurnya motif batik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu ornamen motif dan ornamen isen batik. Ornamen motif batik dibedakan lagi atas ornamen utama dan ornamen tambahan kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Menurut unsurunsurnya motif batik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu ornamen motif dan ornamen isen batik. Ornamen motif batik dibedakan lagi atas ornamen utama dan ornamen pengisi bidang atau ornamen tambahan. Jadi pada motif batik  terdapat ornamen utama, ornamen tambahan, dan ornamen isen batik. Ornamen motif–motif yang terdapat pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah motif-motif yang berasal dari alam sekitar hutan mangrove, mulai dari buah, bunga, dan daun tanaman mangrove serta binatang yang ada di ekosistem hutan mangrove mulai dari ikan, kepiting, kupu-kupu, dan lainlain.

Motif Bruguiera Gymnorhiza

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Bruguiera Gymnorhiza berbentuk ornamen tumbuhan buah dan daun Bruguiera Gymnorhiza. Bentuk buah dan daun Bruguiera Gymnorhiza dibuat lebih dominan dan memiliki makna. Sesuai dengan pendapat Wulandari (2011:105), ornamen utama adalah suatu corak yang menentukan makna motif tersebut. Pemberian nama motif batik tersebut didasarkan pada perlambangan yang ada pada ornamen utama ini. Ornamen tambahan pada motif Bruguiera Gymnorhiza berbentuk daun, bunga, dan buah Bruguiera Gymnorhiza. Bentuk daun, bunga dan buah Bruguiera Gymnorhiza untuk pola tambahan dibuat lebih kecil dari pada motif utamanya. Sesuai dengan pendapat Susanto, Ornamen pengisi ini bentuknya lebih kecil dan lebih sederhana, Ornamen isen pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Bruguiera Gymnorhiza adalah gelembung air yang terinspirasi dari gelembung air di ekosistem mangrove. Sesuai dengan pendapat Lisbijanto (2013: 49), isen yaitu motif pengisi sebagai unsur pelengkap dalam motif batik. Unsur isen antara lain titik, garis, garis lengkung, dan lain sebagainya.

Motif Callophyllum Inophyllum

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Callophyllum Inophyllum berbentuk ornamen tumbuhan buah, bunga, dan daun Callophyllum Inophyllum. Ornamen tambahan pada motif Callophyllum Inophyllum berbentuk daun, bunga, dan buah Callophyllum Inophyllum yang dibuat lebih kecil dari ornamen utamanya. Ornamen isen pada motif Callophyllum Inophyllum adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Callophyllum Inophyllum adalah gelembung air dan titiktitik hujan yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Angry Puffu Fish

Ornamen utama pada Batik Mangrove motifAngry Puffu Fish berbentuk ornamen binatang yaitu ikan gembung. Sesuai dengan pendapat Susanto, binatang yang sering digambarkan dalam ornamen seni berupa lembu, kijang, gajah, singa atau harimau (Susanto, 1980:274). Ornamen tambahan pada motif Angry Puffu Fish berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang yang dibuat lebih kecil dari ornament utamanya. Ornamen isen pada motif Angry Puffu Fish adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Angry Puffu Fish adalah gelembung air, gelombang, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Gobie Fish

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Gobie Fish berbentuk ornamen binatang yaitu ikan gobie. Ornamen tambahan pada motif Gobie Fish berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang. Ornamen isen pada motif Gobie Fish adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Gobie Fish adalah gelembung air, biji bogem, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Blue Jelly

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Blue Jelly berbentuk ornamen binatang yaitu ubur-ubur. Ornamen tambahan pada motif Blue Jelly berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang. Ornamen isen pada motif Blue Jelly adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Blue Jelly adalah gelembung air, biji bogem, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Warna Batik Mangrove Rungkut Surabaya

a) Warna khasmbatik mangrove warna-warna yang digunakan pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah warna merah muda, ungu, biru, hijau, orange, kuning, coklat, dan hitam. Sesuai dengan pendapat Hamzuri (1994:32) ada beberapa macam warna yang diterapkan pada batik yaitu warna hijau, jingga, biru, ungu, dan kuning.

b) Perkembangan warna batik mangrove Warna pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak mengalami perkembangan, namun hingga saat ini masih belum ditemukan warna merah yang menyala, yang ada warna merah merona. Warna khas Batik Mangrove Rungkut Surabaya yaitu warna merah.

c) Asal warna dari pewarna alami mangrove Asal dari pewarna alami batik mangrove berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan pewarna alami lainnya. Beberapa tanaman mangrove yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami adalah Bruguiera Gymnorhiza, jeruju atau Acanthus ilicifolius, indigo , Caloptropis Gigantea, bogem atau Sonneratia alba, Nypa Frutican, bintaro atau Cerbera manghas dan alur atau Saudea maritime. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980:70), zat warna alam yaitu zat warna dari bahan alam, dari tumbuhan dan binatang. Warna asli yang dihasilkan dari tanaman mangrove adalah warna coklat kehijauan, coklat muda, dan hijau kekuningan. Warna-warna tersebut dihasilkan dari tanaman Sonneratia Casiolaris dan Cerbera Manghas.

 Proses Pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

a) Alat dan bahan pembuatan batik mangrove

Proses pembuatan Batik Mangrove peralatan yang dibutuhkan sedikit berbeda. Perbedaan tersebut karena disetiap pembuatan batik ditempat yang satu dengan yang lainnya memiliki ciri khasnya masingmasing, namun tetap hampir sama sesuai dengan pakem pembuatan batik paada umumnya. Sesuai pendapat Wulandari (2011:143), perlengkapan membatik tidak banyak mengalami perubahan. Perbedaan perlengkapan pada proses pembuatan batik Mangrove ada pada canting yang digunakan. Canting yang digunakan pada Batik Mangrove adalah jenis canting elektrik. Secara sepintas canting elektrik tidak jauh berbeda dengan canting biasa pada umumnya. Yang membedakan adalah cucuk yang ada pada canting elektrik dapat diganti sesuai dengan kebutuhan, serta pada canting elektrik terdapat alat pengatur temperature. Sesuai dengan pendapat Mifzal, (2008:20), seiring perkembangan zaman, sekarang sedang dikembangkan inovasi baru berupa canting elektronik.

Pada Batik Mangrove menggunakan malam kuning dan malam putih. Alasan menggabungkan malam kuning dan malam putih adalah ingin menghasilkan batik dengan penggabungan malam kuning dan putih. Sesuai dengan pendapat Suroso (2010:26) Malam kuning mampu menutupi permukaan media secara utuh dan sempurna. Sedangkan Malam putih biasa disebut dengan paraffin. Kesan efek retak yang terdapat pada malam putih tersebut dapat dijadikan sebagai motif abstrak. Berdasarkan pendapat Suroso tersebut penggabungan malam kuning dan putih akan menghasilkan malam yang dapat menutup dengan rapat namun juga dapat member sedikit efek retakan. Pencampuran malam kuning dan malam putih yang ada pada Batik Mangrove juga melalui tahap penyaringan, agar malam yang dihasilkan hanyalah malam yang berkualitas, bersih, dan siap digunakan tanpa harus menyaring lagi pada proses mencanting.

Pada Batik Mangrove menggunakan bahan pewarna alami. Bahan pewarna alami yang digunakan adalah bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan pewarna alami lainnya. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980:70), Zat warna alam yaitu zat warna dari bahan alam, dari tumbuhan dan binatang. Pada Batik Mangrove, pewarna alami yang digunakan berasal dari bunga, daun, dan buah tanaman mangrove. Beberapa tanaman mangrove yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami adalah Sonneratia Alba, Bruguierra Gymnorhiza, Nypa Frutican, Caloptropis Gigantea, dan sebagainya.

b) Langkah-langkah pembuatan batik mangrove

Langkah-langkah pembuatan batik pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak jauh berbeda dengan langkah-langkah pembuatan batik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada proses pewarnaan dan proses pelorodannya. Proses pewarnaan pada Batik Mangrove dilakukan dengan dua cara yaitu dengan teknik pencelupan dan pencoledan. Sesuai dengan pendapat Mifzal (2012:76), teknik pewarnaan batik pada batik tulis ada dua, yaitu pencelupan dan pencoledan.

Proses pelorotan dilakukan dalam beberapa tahapan antara lain, tahap 1 memasukkan kain kedalam larutan kanji yang telah dicampur dengan air dingin, tahap 2 memasukkan kain kedalam larutan tawas yang telah dicampur dengan air dingin, tahap 3 memasukkan kain kedalam air mendidih hingga seluruh malam telah terlepas dari kain, tahap 4 memasukkan kain kedalam larutan tawas untuk yang kedua kalinya, tahap 5 memasukkan kain kedalam bak air bersih, dan tahap 6 memasukkan kain kedalam larutan kanji yang telah dicampur dengan air panas. Sesuai dengan pendapat Anshori (2011:45), nglorod ini adalah langkah untuk melarutkan malam pada permukaan kain. Hal ini dilakukan di atas bejana yang berisi air panas mendidih. Setelah proses pelorodan, langkah selanjutnya adalah menjemur dengan cara diangin-anginkan.

——————————————————————————————-
Eny Kurniawati, Yulistiana. Batik Mangrove Rungkut Surabaya (Universitas Negeri Surabaya). e-Journal, Vol. 04, No. 01, Th. 2015, Edisi Yudisium Periode Pebruari 2015, Hlm. 37-45