Batik Tulis Citaka Dhomas, Kediri

logo-citaka-dhomas-newBatik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad delapan belas atau awal abad sembilan belas. Semuanya bermula dari batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Kediri masuk dalam catatan sejarah batik. G.P. Rouffaer melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda.

Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

 Adi Wahyono, S.Pd., pria yang lahir di desa Menang 25 Oktober 1975 ini adalah perintis Perusahaan Rumah Batik Citaka Dhomas  yang beralamatkan di  Jalan Joyoboyo 415 desa Menang RT 01/ RW 03, tak jauh dari petilasan Joyo Boyo, di Menang, Pagu, Kediri. Email : citakadhomas@gmail.com, HP : 085 258 271 028. Rumah Batik Citaka Dhomas memiliki tenaga kerja, cukup mahir, detail motif yang mereka kerjakan cukup rumit (ujarnya Adi). Meski baru lima tahun membatik, Adi Wahyono sudah punya nama di Kediri. Pagelaran duta wisata Raka-Raki Jawa Timur kerap menggunakan batiknya. Sudah banyak pelanggan dari dalam dan luar kota.

Bagi Adi Wahyono, membatik bukanlah sesuatu yang baru, karena pengetahuan tersebut sudah merupakan ketrampilan warisan secara turun menurun didapat dari neneknya adalah seorang pembatik. Semenjak kecil tangannya sudah terampil menggoreskan canting di atas selembar kain. Dan ketrampilan terseut bertambah terasa dan semakin nyata; dengan bekal pendidikan seni rupa yang didapatnya dari UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Sebelumnya, Adi Wahyono bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan mebel, setelah sepuluh tahun bekerja; panggilan batin mendorongnya untuk melanjutkan tradisi membatik yang diwariskan turun-temurun dari nenek buyutnya; yang dikenal sebagai pembatik langganan kaum priyayi pada jaman dulu.

Corak Sejarah Batik Citaka Dhomas

Awalnya, Adi Wahyono dengan sarung batik pemberian sang nenek saat dia dikitan dulu. Walaupun sarung itu sudah rusak, sudah tinggal separuh. Namun masih tampak jelas motif batik pada sarung itu. Dia sangat suka dengan motifnya. Setelah dia pelajari lebih mendalam, barulah dia tahu kalau itu adalah motif adi luhung.

Dengan motif itulah dia mulai membuat batik. Kegemarannya menggali motif-motif  batik semakin memperkokoh namanya di antara para pembatik lokal di Jawa Timur. Pada tahun 2009, dia mendirikan Rumah Batik Tulis “Citaka Dhomas” dan mulai membatik secara profesional. Tak cukup puas dengan pengetahuan yang sebelumnya pernah dia miliki; Adi Wahyono juga memperdalam ilmu membatiknya pada seorang pembatik kenamaan dari di Bantul, Jogjakarta. Karena dedikasinya yang tinggi dalam membatik, namanya cukup dikenal di kalangan para pejabat lokal. Karya batiknya dihargai mahal karena memiliki nilai seni yang tinggi, dan dikerjakan dengan teknik membatik yang nyaris sempurna. Hal itu bisa kita lihat dari kualitas bahan, kerapian, detail dan keindahan warna. Batik Citaka Dhomas memiliki nilai lebih, motif – motif  batiknya tak lepas dari relief di  berbagai situs sejarah dan budaya di Kediri: Candi, patung, lingga yoni dan prasasti kuno.

Sebagai salah satu UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang ada di Kabupaten Kediri, Adi Wahyono dan Citaka Dhomasnya diberikan kesempatan untuk mengikuti even-even pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kesungguhannya menekuni seni kerajinan batik juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas. Dalam sebuah ajang lomba desain batik tingkat Kabupaten Kediri tahun 2010; Adi Wahyono berhasil meraih juara 1 untuk kategori fauna, Juara 2 untuk kategori flora dan Juara 2 untuk kategori bebas.

Pembatik muda umumnya menyukai motif  kontemporer, namun pembatik satu ini sangat  berbeda,  Batik- batik garapannya tergolong khas dan klasik. Hal ini dibuktikan dengan beberapa motif yang dibuatnya sebagian besar ide pemikarannya berasal diilhami dari situs situs sejarah dan budaya. Baik relief dan ornamen di candi, patung, lingga yoni serta berbagai gambar yang tampak di situs budaya dan bersejarah yang ada di Kediri. Adi Wahyono yang menangani sendiri batik Citaka Dhomas ini. Laki-laki yang bermukim ini turun tangan sendiri menuangkan gambaran batik dalam pikirannya ke sehelai kain dengan mengangkat kearifan lokal.

Rumah Batik Citaka Dhomas telah memiliki 10 motif pakem yang khas dan klasik. Diantaranya:

  • Motif batik Loka Moksa mengambil gambar lingga yoni di situs budaya petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo. Batik berwarna dasar coklat, diambil dari warna alam.
  • Motif batik Tunjung Sewu yang inspirasi motifnya dari Candi Surowono. Di dinding candi, dia menemukan relief teratai miring.
  • Motif batik ‘Sawung Tunjung Tejamaya’ menunjukkan beberapa simbol; ayam bekisar sebagai ikon Jawa Timur, Astadala dan gambaran relief ‘Surya Majapahit’ di dinding candi Tegowangi.
  • Motif batik Candrakapala, simbol kerajaan Kediri yang diperoleh dari prasasti Tangkilan.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna Sentetis

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-1

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-2batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-3batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-4Dari beberapa karya batik muncul di pasaran, saat diamati nampak batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-5batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-6kemiripan dengan motif  batiknya. Tidak masalah jika ada batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-7yang meniru batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-8batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-9motifnya, sebab batik karya Adi Wahyono dengan Citaka Dhomasnya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-10memiliki kekhasan tersendiri. Proses membatiknya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-11batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-12batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-13batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-14cukup detail. Awalnya, Adi berdiskusi dengan pakar sejarah. Setelah itu, dia melakukan riset. Mulai melakukan pengamatan relief-relief secara langsung, memotret hingga mencari referensi sejarahnya. Kemudian, dia menggali dari sisi batiknya. “Kalau dibuat batik ‘kan nggak mungkin gambar aslinya, istilahnya ada penggayaan,” ungkap suami Hidayati Sofiah ini.

Namun, ada satu yang tak bisa lepas dari Adi. Dia tak pernah meninggalkan bunga teratai dalam setiap karyanya. Dia merasa sudah berada pada rel yang akan terus dijalaninya, mengangkat budaya dan sejarah lokal.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna alam

 

 

 

batik_tulis_warna_alam1

batik_tulis_warna_alam4

batik_tulis_warna_alam5

batik_tulis_warna_alam6

batik_tulis_warna_alam10batik_tulis_warna_alam8

 

 

 

 

 

batik_tulis_warna_alam15

 

 

batik_tulis_warna_alam11

 

batik_tulis_warna_alam13

batik_tulis_warna_alam12

batik_tulis_warna_alam14

 

batik_tulis_warna_alam9

batik_tulis_warna_alam7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

——————————————————————————————-Rumah Batik Tulis Citaka Dhomas
http://batikcitakadhomas.com

Batik Suminar, Kabupaten/Kota Kediri

batik-suminar-mangga-2Kediri memiliki nilai sejarah yang tinggi karena adanya kerajaan Kediri, Kediri juga memiliki potensi alam dan potensi wisata. Potensi alam berupa tanaman pertanian, tanaman perkebunan, perikanan, Potensi wisata seperti Goa Selomangkleng, pegunungan Wilis, aliran Sungai Brantas, Pemandian Kuwak dan Dermaga Brantas.

Berangkat dari keberagaman potensi yang ada di Kediri tersebut, pada tahun 1992 dra. Suminarwati Sundoro menggagas pembuatan batik khas Kediri. Batik khas Kediri ide Ibu Suminarwati memiliki motif yang menarik digali dari sisi sejarah Kediri, peninggalan arkeologis, serta perkembangan masyarakat. Maka lahirlah “Busana Kediren”, berupa Batik Bolleches dengan nama motif garuda mukha dan teratai mekar dengan warna utama ungu cerah kebiruan atau nila, kuning dan merah soga.

Gaya motif batik bolleches Kediri lebih banyak dipengaruhi oleh motif batik pantai utara. Motif – motifnya sama sekali tidak terikat oleh pakem, coraknya lebih bebas dan seringkali bermotifkan pola gambar natural dan tematis, sementara warnanya cenderung dekat dengan corak warna batik madura dengan warna-warna yang lebih berani dan eksotis.

Tehnik Pembuatan Batik Suminar  sama dengan tehnik pembuatan batik pada umumnya, meliputi:

  • Moordating; proses melepas lapisan lilin dari kain katun dengan cara direbus selama ± 5 menit.
  • Memola membuat Gambar Pola; proses membuat pola diatas kain katun atau prissima dengan cara ngeblat (meniru/menjiplak) pola motif yang sudah ada, menggunakan pensil 2B atau canting.
  • Nyanting ; proses mengolesi malam yang telah dipanaskan menggunakan canting, pada kain yang telah dipola.
  • Nyolet; proses pemberian warna batik secara sporadis atau setempat-setempat misalnya, motif daun diberi warna hijau, ranting atau pohon warna coklat, bunga atau buah warna terang.
  • Nemboi atau nutup adalah proses memberi warna pada coletan yang sudah kering lalu ditemboi atau ditutup malam dengan canting yang berfungsi sebagai pembuatan blok pada kain.
  • Nyelup: proses memberi warna dasar kain batik, dengan jalan mencelupkan kain pada pewarna biasanya warna gelap.
  • Nglorot/Ngelungsur; proses melepas lapisan malam dengan cara merebus kain batik selama ± 10 menit dengan diberi serbuk soda abu untuk mempercepat proses lepasnya malam.
  • Pembilasan dan Pengeringan; setelah proses ngelungsur atau ngelorot , dilakukan proses membilas dengan air lalu di angin-anginkan.

Perkembangan Batik Suminar cukup baik, terbukti dengan adanya motif batik yang berjumlah ± 115, yang dimulai pada tahun 2004. Motif- motif batik tersebut bertema flora fauna dan sosial budaya yang ada di Kabupaten Kediri, sekaligus  mengangkat potensi alam dan pariwisata baik kabupaten maupun kota Kediri.

Proses Pemasaran Batik Suminar dan pengenalan ke masyarakat luas diupayakan dengan cara mulut ke mulut, internet, brosur, media elektronik dan media cetak.  Galeri dan butik yang dibuat digunakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas batik dan produk-produk yang dihasilkan oleh batik Suminar.   Upaya pemerintah sangatlah penting dalam memdukung perkembangan batik Suminar, hal ini terbukti dengan penyelenggaraan pelatihan dan pembinaan oleh DISKOPERINDAG kabupaten/kota.  Industri batik Suminar juga mengalami peningkatan, hal ini dibuktikan dengan adanya cabang cabang batik Suminar baik yang ada Kabupaten/kota di Jawa Timur, Bahkan membuka galeri-galeri Batik Suminar di Surabaya dan Jakarta bertujuan untuk memperkenalkan batik khas Kediri kepada masyarakat Indonesia.

Tahun 1992-2014 perkembangan Batik Suminar cukup baik dalam menonjolkan batik sebagai ikon daerah,  hal ini dibuktikan sejak motif pertama yang dibuat yaitu pada tahun 2003 hingga tahun 2014, tidak kurang dari 115 motif yang telah dihasilkan.  Motif-motif tersebut dibuat untuk Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri serta pesanan khusus pakaian pegawai-pegawai maupun putri Indonesia.

Motif dan makna batik Suminar umumya berorientasi pada keadaan lingkungan sekitar di wilayah kabupaten/kota Kediri sehingga menghsilkan suatu batik yang disebut batik Bolleches dan mempunyai warna-warna yang terang dan tidak terikat oleh pakem-pakem batik,  meliputi:

  • Flora/tumbuhan; Daun Dewa, Daun Pisang, Brambang Sekoto, Anggrek, Mangga Podang, Pring Sedapur, Kembang Polkadot, Godong Gedang Ontong (daun dan bunga pisang) , Teratai Ukel, Bambu Mini, Blarak Tanggung (daun kelapa Sedang), Anggrek Kangkung, Ron Telo (daun ketela), Petetan Beras kutah, Sulur seledri, Sekar Kantil (bunga kantil), Kangkung Seiket, Bunga Rambat, Garuda Teratai, daun Mangkok, Garuda Muka Suruhan, Teratai Mekar, Anggrek Truntum, Blarak Sempal (daun kelapa patah), Blarak Sempal Mini (daun kelapa patah mini), Vilokers, Ron Mawar Renteng (daun mawar berderet), Mawar melati, Semanggi Sulur, Sekar jagad Sekar renteng, Bunga Matahari, Daun Liar, Suruhan Ceplok, Anggrek Patrun, Villodendron, Kopi, Ron Kates, Pertiwi, Semanggi, Bunga Simpur Melati, Boketan, Seruni, Ron Kembar (daun kembar), Gemani, Bunga Dahlia, Podang Gunung, Buah Naga, Rosella, Anggur,
  • Fauna/hewan; Ikan Koi, Kupu Tapak Dara, Ulat Bulu, Suro lan Boyo, Ikan Cupang
  • Seni budaya; Kuda Lumping, Garuda Muka Kalpataru, Bangbangan Kediren, Pelem Garuda, Parangkeris Kuda Lumping, Kuda Lumping Kembar,
  • Wisata; Selomangkleng, Fenomena Kelud Erupsi, Anak Kelud, Kemilau SLG (Kemilau Simpang Lima Gumul), Barong, Parangsih SLG (Parangsih SLG Simpang Lima Gumul)
  • Sosial: RS Baptis kediri, keperawatan Pelem Garuda, Batik PSSI, Garuda Muka Mukti, Garuda Muka Liris, Garuda Muka Gemani, Garuda Muka Teratai Mekar, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Geragih, Genta, Garuda Muka Parangkeris, Sulur Awan, Sawunggaling.

Peran  Pemerintah kabupaten/kota Kediri untuk menonjolkan batik Suminar sebagai ikon daerah sangat besar. Dibuktikan dengan; melatih dan membina para pembatik, mengikutkan batik Suminar keberbagai macam acara baik lokal maupun internasional, mewajibkan para pegawai pemerintah daerah (pegawai kantor dan guru) dan anak-anak sekolah memakai pakaian batik pada hari rabu, kamis dan jumat.

——————————————————————————————-AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah ;  Volume 3, No. 3,  Oktober 2015
Novita Eka Ariana R , Yohanes Hanan Pamungkas
Perkembangan Motif Batik Suminar Sebagai Upaya Membangun Identitas Daerah Kediri Tahun 1992-2004
Jurusan Pendidikan Sejarah  Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya

Gethuk Gedang, Kediri

Kediri merupakan salah satu nama daerah yang terletak di Jawa Timur, kota kediri memang sudah sangat terkenal dengan berbagai macam jenis masakan khasnya. Salah satu masakan khas dari kota Kediri adalah Gethuk Gedang (gethuk pisang). Gethuk gedang memang berasal dari kota Kediri, namun makanan yang satu ini sudah tersebar luas dimana – mana hampir diseluruh wilayah di pulau jawa.

Olahan pisang dibungkus dengan daun pisang mirip lontong ini adalah salah satu aset kuliner Kediri yang sudah ada dari dahulu kala, meskipun belum diketahui mengenai asal-usul si manis dari Kediri ini, namun tradisi pembuatan dan pengolahan gethuk gedang diyakini sudah berlangsung secara turun-temurun dan diwariskan lintas generasi.

Gethuk gedang berasa manis legit dan sedikit asam, rasa ini semua merupakan rasa alami khas buah pisang, tanpa tambahan zat apapun termasuk gula dan bahan pengawet. Sehingga gethuk pisang hanya bisa bertahan selama dua hari pada suhu kamar atau sekitar empat sampai lima hari jika disimpan di dalam lemari pendingin.  Sedikit mengingatkan bagi yang ingin membeli getuk pisang dan rumah anda terlalu jauh, pertimbangkan masa bertahannya gethuk gedang yang hanya dua hari.

Makanan ringan yang satu ini selain memiliki rasa alami dari buah pisang yang merupakan bahan dasarnya, karena tanpa tambahan zat apapun, sehingga kandungan gizinyapun sesuai dengan kandungan pisang merupakan jenis bahan makanan rendah kolesterol, juga kaya akan kandungan sarat,  karbohidrat dan protein nabati.

Meskipun gethuk gedang ini sudah terkenal, namun masih banyak yang belum mengetahui proses dan cara pembuatannya. Berikut penjelasan tentang resep getuk pisang khas Kediri sederhana spesial asli enak. Membuat Getuk gedang yang merupakan makanan tradisional khas dan asli dari Kediri ini,  tidak sulit namun dalam memilih bahan harus tepat. Gehtuk gedang merupakan cemilan yang paling mudah dibuat, olahan ini dibuat dari bahan dasar pisang kepok yang manis dan kenyal. Gedang/Pisang yang dipilih adalah jenis pisang kepok yang berkualitas sangat baik dan juga masih segar. Mungkin berikut ini salah satu proses untuk membuat getuk pisang yang sangat enak.

Bahan :

  • buah pisang kepok segar dan matang yang berkualitas baik 2 kg,
  • garam dapur yang halus dan beryodium sebanyak 1 sendok teh,
  • vanili bubuk 1 sendok the,
  • 1 kg gula pasir .

Untuk pembungkus:

  • daun pisang secukupnya,
  • lidi  secukupnya ( dipotong lancip )

Cara membuat :

  1. Kukus pisang kepok sampai benar-benar matang dan empuk
  2. Kupas kulit pisang lalu dahaluskan
  3. Campurkan pisang yang sudah dihaluskan dengan gula pasir dan garam
  4. Tumbuk halus lagi hingga semua bahan tercampur rata
  5. Padatkan adonan selagi masih panas dan diamkan hingga menjadi dingin
  6. Ambil tiap satu lembar daun pisang lalu masukkan adonan getuk pisang secukupnya
  7. Gulung memanjang seperti lontong sambil dipadatkan kembali
  8. Semat dengan sapu lidi pada kedua ujungnya
  9. Kukus dalam kukusan panas selama 25-30 menit atau sampai matang dan kenyal
  10. Buka daun pisang yang membungkusnya lalu dipotong dan sajikan.

Kini Getuk pisang telah siap untuk disajikan,  akan kelihatan lebih menarik jika dihidanngkan dipiring pada waktu sore maupun pagi hari sambil ditemani teh dan kopi hangat, nikmati gedang ini selagi hangat, namun juga sedap saat disantap ketika sudah dingin.

 ——————————————————————————————-134N70 nulis DW
Nara sumber: Mak Katipah, Brenggolo, Plosoklaten, Kediri

SOTO BOK IJO – LEGENDA KULINER KEDIRI

soto-bok-ijoSoto Bok Ijo buat warga Kediri dan sekitarnya pasti mengenalnya, karena memang makanan yang satu ini sudah sangat terkenal sebagai salah satu pilihan kuliner di Kediri. Kuliner ini juga sudah melegenda, konon soto bok ijo ini sudah ada sejak tahun 1969, soto bok ijo atau juga sering disebut Soto Ayam Tamanan. Dikenal dengan sebutan Soto Bok Ijo karena lokasi berjualannya di sekitar Bok Ijo (Jembatan Hijau). Kini lokasinya sudah berubah menjadi pertigaan di samping Terminal Tamanan Kediri. Dan para penjual soto di Bok Ijo dipindahkan di samping terminal, hingga saat ini bisa ditemui berjejer warung-warung soto di samping terminal.
Soto Bok Ijo sendiri sebenarnya merupakan soto ayam biasa, atau bisa disebut soto Kediri. Karena soto ini memakai kuah yang bersantan, soto ini rasanya memang enak, namun porsinya sedikit sih, satu mangkok pasti kurang, cara penyajiannya memakai mangkok standart, tapi porsinya sedikit, irisan ayamnya juga gak banyak. Dalam penyajiaannya pelengkap soto antara lain adalah kol, kecambah, cabe rawit, jeruk nipis dan tentunya kecap disajikan secara terpisah. Jadi pembeli meracik soto sendiri sesuai selera.
Yang istimewa dan menjadi favorit adalah ayam bakar bumbu kecapnya, pembeli bisa memilih ayam bagian mana yang diinginkan, dan dibakar saat itu juga, jadi pembeli bisa menyantapnya panas-panas. Bumbu kecapnya benar-benar meresap, karena ayam yang dibakar memang telah dipotong-potong terlebih dahulu dan disusun pada tusuk besi, baru kemudian dibakar dan disajikan di dalam mangkok. Harganya bervariasi tergantung bagian mana yang kita pilih, ayam bakar ini dinikmati dengan soto, terasa sangat cocok sekali, dinikmati langsung tanpa sotopun juga enak.

———————————————————————————————134N70 nulis DW

 

Kue Pia Kering, Kediri

Kue Pia Kering Desa Tawang Kec. Wates

Kue yang satu ini anda pasti sudah kenal, karena rasa yang renyah, gurih dan manis dengan aroma rasa yang sangat nikmat sekali, apalagi kalau dinikmati dengan keluarga atau dengan teman serta handai tolan bersama-sama dan ditemani dengan minuman teh, sirup, soft drink atau kopi pada waktu pagi, siang atau sore hari.

 

Pia Wates.docx0001Kue Pia Kering ” MATAHARI ” Produksi Pak I^B Didik Desa Tawang Kecamatan Wates Kabupaten Kediri ini merupakan Industri Rumah Tangga (UKM) dibuat dari bahan Tepung Terigu, Minyak, Kacang Hijau, Gula dan Garam sedangkan bahan-bahan tersebut dibeli dari Toko di Kota Kediri. Pak Didik (45 tahun) memproduksi Kue Pia Kering ini dirumah dibantu oleh Istri, Anak dan tenaga kerja dari tetangga sekitarnya sejumlah 6 orang dengan gaji/upah borongan, Usaha ini dirintis sejak tahun 2005, usaha ini mewarisi dan melanjutkan usaha orang tua.

Pia Wates.docx0005Proses pembuatan kue Pia Kering ini memang agak rumit dan memerlukan keahlian serta ketelatenan. Pertama-tama membuat adonan ditangani oieh Pak Didik sendiri sedangkan untuk yang lainnya ditangani oleh Pekerja seperti Pembuatan Kacang Hijau sebagai isi kue Pia Kering, Pengopenan dan Pengemasan , sedangkan untuk pemasaran menuju ke tempat penjualan baik di Pasar, Toko, Warung dan Depot serta mengantar pesanan oleh tenaga kurir “Saya kalau ditanya berapa jumlah produksi setiap bulannya, bahan yang diperlukan apa lagi pendapatan atau laba dari produksi kue Pia Kering ini, rasanya sulit untuk menjelaskan bahkan tidak bisa memerincinya karena itu semua tergantung pesanan yang diterima “ujarnya.

Pia Wates.docx0002Pemasaran kue Pia Kering buatan Pak Didik pemasarannya ke Toko dan Pasar Lokal di Kabupaten Kediri dan Kota-Kota Sekitarnya, Kalimantan dan bahkan Singapura, karena kue Pia Kering ini tahan sampai dengan 30 hari walaupun tanpa menggunakan bahan pengawet, kue ini juga sudah mempunyai PIRT:215350601394. Sedangkan pengemasan untuk penjualan dengan cara kiloan atau kemasan mica isi 34 biji yang Pia Wates.docx0003ukuran kecil dijual dengan harga Rp. 6.000,- Tunggu apa lagi ? segera buktikan rasa dari Pia Kering Matahari produksi Bapak Didik dari Desa Tawang Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. (wk-kominfo)

Pia Wates.docx0004

 

 

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah GEMA KELUD, Edisi 2 / April-Juni 2013 halaman 36

Kerupuk Nadya Kaya Rasa, Kediri

Krupuk kediri.docxTidak bisa dipungkiri bahwa sebagian masyarakat Indonesia menyukai makanan berupa kerupuk, disamping rasanya renyah dan enak, harganya juga murah serta terjangkau, untuk itu jangan anggap enteng profesi perajin kerupuk. Kisah sukses Bapak TARYONO dari Desa Banjarejo Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri ini membuktikan bahwa keuntungan dari bisnis kerupuk tak seenteng produk kerupuk. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, pengusaha kerupuk ini mampu meraih omzet yang sangat besar setiiap bulan.

Pria yang satu ini punya keyakinann bahwa dengan usaha yang disokong doa, niscaya usaha apa pun akan menuai hasil memuaskan. Keyakinan ini mengantarkan TARYONO menjadi seorang perajin kerupuk cukup terkenal.

Memakai merek produksi ” Nadya Kaya Rasa” Taryono membuat aneka rasa kerupuk, seperti rasa udang, hasil produksi krupuk mentah ini diambil oleh pengusaha dari Kediri, Gurah, Pare, Tulungagung, Malang, Pasuruan, Brebes dan Jakarta.

Saat ini, Taryono mempekerjakan sekitar 50 karyawan, dengan sistim penggajian mingguan, ia mampu memproduksi hingga 7 sampai dengan 8 kwintal per hari. Layaknya pepatah padi yang semakin tua dan berisi justru semakin menunduk, begitu pula karakter Taryono. Meski sudah sukses, ia enggan disebut pengusaha sukses. “Saya belum layak disebut pengusaha sukses/’ ungkapnya merendah.

Komposisi kerupuk dibuat dari Tepung Tapioka, Garam, Bawang Putih, Udang, Bumbu Penyedap Rasa. Krupuk Nadya Kaya Rasa ini sudah mempunyai P-IRT Nomor 206350601643. Dengan harga jual Per-Kg Rp. 8.700,- minimum pembeli harus membeli 25 Kg. **

Contact Person: Bapak Taryono Desa Banjarejo Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri Nomor Telephone 0354-478772. HP 0816518202

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Majalah GEMA KELUD, Edisi 2 / April-Juni 2013 halaman 37

Seribu (1000) Barong

 

Seribu (1000) Barong Bikin Kagum Ribuan Penonton

1000. barongKabupaten Kediri sangat kaya dengan budaya, kreasi budaya ditampilkan Ratusan seniman Kabupaten Kediri yang tergabung dalam Tari seribu Barong mewarnai penutupan Pekan Budaya dan Pariwisata di Simpang Lima Gumul. Sabtu (22/6).

Atraksi 1(300 (seribu) Barong yang dimainkan oleh seribu seniman se Kabupaten Kediri berhasil mengundang kegakaguman ribuan penonton yang menyaksikan pertunjukan. Kekayaan budaya Kabupaten Kediri yang akrab dengan alam lingkungan pedesaan perlu terus dikembangkan sekaligus mengenalkan tradisi dan budaya yang adi luhung kepada Generasi Muda untuk mencintai budaya khas Kediri sehingga akan bangga menjadi warga Kabupaten Kediri.

1000 barongSalah seorang peserta tari seribu barong dari kecamaton Grogol (yang tidak mau disebut namanya) sangat bangga dapat berpartisipasi dalam kegiatan Pekan Budaya dan Pariwisata ini, sehingga dapat membantu pemerintah membangun kepariwisataan di Kabupaten Kediri untuk meningkatkan kunjungan wisata baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Banyak pengunjung yang memadati area Simpang Lima Gumal menyaksikan atraksi tari barong juga membawa berkah tersendiri bagi pedagang kaki lima dan tukang parkir memperoleh penghasilan yang lumayan untuk membantu kebutuhan keluarga. (hn- Kominfo)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah GEMA KELUD, Edisi 2 / April-Juni 2013 halaman 12

Konveksi Mukena dan Aneka Bordir "Amanah"

Konveksi Kediri2Konveksi Kediri1

Usaha konveksi ini digelutinya mulai dari l&BJI bawah yaitu les jahit menjahit dan bordir, kemudian  menjadi pegawai pada salah satu usaha konveksi besar di kota Tulung Agung, dan sedikit dari sedikit mempelajari, terus mengikuti cara metode usaha dan manajemen pemasaran yang dijalani perusahaan konveksi tersebut, setelah itu baru merintis usaha kecil kecilan secara mandiri mulai tahun 2006, dengan bahan produksi mulai 1 pis kain biasa yang hanya jadi sekitar 38 mukena dan 1 pis kain yang bagus jadi 13 mukena, tetapi sekarang perkembangannya sudah pesat, sekali membeli bahan sudah mencapai 1 box atau 100 pis.

Ibu Suwito (40 th) yang beralamat di Dusun Kromasan Desa Bendosari Kecamatan Kras Kabupaten Kediri ini melangkah awal dalam berusaha konveksi yang hasil produknya berupa Rukuh ( Mukena ), Sajadah dan aneka Bordir, dengan modal awal sebesar Rp. 1.000.000,- adapun jumlah pekerja tetap mulai dari 1 orang, 3 orang, 7 orang hingga sekarang menjadi 14 orang serta pekerja tambahan tidak tetap 28 orang. Dengan bidang kerjanya meliputi, Sobek (menyobek kain bahan), Sablon, Sepak (Bordir) dan menjahit serta pengemasan hasil produksi.

Pekerja di konveksi ini sebagian besar Ibu rumah tangga, baik dari desa Bendosari maupun dari desa sekitarnya sampai radius 8 Km. Pekerja digaji dengan sistim per bulan, rata-rata penghasilannya berkisar Rp. 800.000,- tentu saja ini merupakan tambahan penghasilan yang cukup lumayan bagi pekerjaan sampingan ibu-ibu rumah tangga guna membantu tambahan pendapatan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pemasaran hasil produksi diawali dari pemasaran dari rumah ke rumah, dan sekarang sudah mendapatkan pelanggan tetap di kota Bojonegoro, Tuban, Nganjuk, Surabaya, Jember, Brau Kalimantan Timur hingga pesanan dari Arab Saudi, dan pada 2 tahun terakhir ini melayani pesanan untuk Mukena Jama’ah Haji dari Kabupaten Kediri, dan pada tahun 2012 ini sejumlah 480 buah mukena. Disamping itu Ibu Suwito juga memasarkan hasilnya di salah satu lapak kawasan wisata Simpang Lima Gumul (SLG) serta di Pendopo Kabupaten Kediri pada acara Rapat Pleno Tim Penggerak PKK atau Dharma Wanita Kabupaten Kediri tiap bulan sekali serta mengikuti event pameran pembangunan yang digelar oleh Pemkab Kediri.

Tentu saja dengan kualitas yang baik dan selalu menjaga mutu hasil produksinya serta selalu mengikuti perkembangan mode, usaha konveksi ini tidak kesulitan mencari konsumen / pelanggan sehingga dapat berkembang dengan pesat.

Hasil produksi mukena ini ada 4 motif yaitu i dengan pengerjaan mulai dari 1 hari jadi 1 mukena, 1 hari jadi 2 mukena, 1 hari jadi 20 mukena, hal ini tergantung model serta motif yang dipilih atau dipesan oleh pelanggan. Dengan harga bervariasi mulai Rp. 24.000,- sampai dengan Rp. 240.000,- (*)

Disamping itu Ibu Suwito juga memasarkan hasilnya di salah satu lapak kawasan wisata Simpang Lima Gumul (SLG) serta di Pendopo Kabupaten Kediri pada acara Rapat Pleno Tim Penggerak PKK atau Dharma Wanita Kabupaten Kediri tiap bulan sekali serta mengikuti event pameran pembangunan yang digelar oleh Pemkab Kediri.

Tentu saja dengan kualitas yang baik dan selalu menjaga mutu hasil produksinya serta selalu mengikuti perkembangan mode, usaha konveksi ini tidak kesulitan mencari konsumen / pelanggan sehingga dapat berkembang dengan pesat.

Hasil produksi mukena ini ada 4 motif yaitu i dengan pengerjaan mulai dari 1 hari jadi 1 mukena, 1 hari jadi 2 mukena, 1 hari jadi 20 mukena, hal ini tergantung model serta motif yang dipilih atau dipesan oleh pelanggan. Dengan harga bervariasi mulai Rp. 24.000,- sampai dengan Rp. 240.000,- (*)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Majalah GEMA KELUD, Edisi 2 / April-Juni 2013 halaman 34

 

Telur Asin, Kabupaten Kediri

Telur Asin Sejahterakan Keluarga

Telur Asin merupakan salah satu makanan yang mengandung protein hewani yang cukup tinggi, dapat diandalkan untuk pemenuhan gizi masyarakat yang harganya relatif murah. Maraknya industri telur asin dipedesaan wilayah Kabupaten Kediri mendorong berkembangnya peternakan itik, yang berdampak pada meningkatnya pendapatan masyarakat.

 

Telur Asin0003Itik dikenal juga dengan istilah bahasa jawanya Bebek yang banyak dipelihara oleh para petani-petani di pedesaan, tinggal apa orientasinya dalam pelihara itik , untuk mendapatkan telur itik konsumsi, daging atau juga pembibitan ternak itik.

Pada awalnya Asih Wirianti yang lulusan SPMA Kediri bersama suaminya Koyari Kasianto hanya bertani di desanya Tegalan Kec. Kandat Kabupaten Kediri. Berbekal ilmu yang didapat waktu menempuh sekolah di SPMA Asih Wirianti yang di desanya dikenal dengan sebutan Bu Win mencoba untuk usaha telur asin yang pernah dipraktekkan pada waktu masih sekolah.

Telur Asin0001Usaha membuat telur asin diawali pada tahun 2003 yang setiap harinya membuat 150 butir dan dibawa ke Pasar Gudang Garam untuk dijual. Bu Win bertutur sebetulnya usaha ini coba-coba karena kebutuhan rumah tangga semakin hari semakin bertambah apalagi anak-anak sudah mulai sekolah maka dibutuhkan biaya banyak, dengan semangat dan kesabaran akhirnya bisa berkembang karena kami berfikir cari pekerjaan sulit berbekal ilmu yang didapat kita harus bisa menciptakan lapangan kerja produktif, mandiri dan berkelanjutan serta berwawasan lingkungan sekaligus berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat.

Telur Asin0002Pengembangan telur asin ini juga mernbantu program Pemerintah dalam usaha perbaikan gizi keluarga dan gemar makan telur bagi putra-putri Indonesia. Di Desa Tegalan ini ada ± 85 orang peternak itik dan pada tahun 2007 berdirilah kelompok ternak itik ” Tunas Harapan ” sehingga bahan baku telur itik sangat mudah didapatkan.

Di Desa Tegalan 80 % telur itik di full ditempatnya dalam satu minggu mencapai 90.000 butir telur yang dipasarkan ke Jakarta dan Kalimantan yang pengirimannya pada hari rabu dan hari sabtu. Produk telur asin Bu Win berlabel ” Berokah Abadi ” dan berharap usahanya bisa lebih maju dan berkembang untuk biaya sekolah anak-anaknya. (hn- Kominfo)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah GEMA KELUD, Edisi 2 / April-Juni 2013 halaman 35

MAYJEN TNI (PURN) Prof. Dr. Moestopo

Moestopo
R. Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur pada tanggal 13 Juni 1913. Pendidikan tertinggi yang ditempuh pada masa Belanda ialah STOVIT (Sekolah Dokter Gigi) yang diselesaikannya pada tahun 1937. Sesudah itu ia membuka prakatik sambil bekerja di STOVIT, bahkan pernah diangkat sebagai Wakil Direktur STOVIT.
Pada masa pendudukan Jepang, Moestopo mengikuti pelatihan tentara Pembela Tanah Air (Peta) angkatan kedua di Bogor, Jawa Barat. Selesai pelatihan, ia diangkat sebagai shudanco (komandan kompi) di Sidoarjo. Akan tetapi, kemampuan Moestopo melebihi kemampuan seorang shudanco. Oleh karena itu kemudian ia diangkat sebagai daidanco (komandan batalion) di Gresik.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari sesudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Jepang membubarkan kesatuan Peta, termasuk kesatuan Moestopo, dan senjata mereka dilucuti. Moestopo kemudian membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jawa Timur yang langsung dipimpinnya. Ia juga mengangkat dirinya sebagai Menteri Pertahanan At Interim Republik Indonesia. Tindakan itu dilakukannya agar dapat berunding dengan Komandan Tentara Sekutu dan Pimpinan Militer Jepang, yang oleh Jaksa Agung dikukuhkan dengan surat tertanggal 13 Oktober 1945, agar drg. Moestopo bertindak secara Menteri Pertahanan dan pelaksana tugas-tugas Menteri Pertahanan. Tindakan drg. Moestopo tersebut sangat menguntungkan bagi tetap tegaknya kedaulatan Republik Indonesia, karena sebagai Menteri Pertahanan ia menerima penyerahan kekuasaan Militer dan senjata dari Jepang.
Moestopo mempunyai andil yang besar dalam merebut senjata dari pasukan Jepang. Pada tanggal 1 Oktober 1945 para pemuda mengepung markas besar Jepang untuk merebut senjata. Moestopo meminta mereka menunda serangan sebab Jepang pasti akan membalas yang akan menyebabkan banyaknya jatuh korban. Ia segera menemui Mayor Jenderal Iwabe dan meminta senjata secara baik-baik. Iwabe menolak sebab ia pasti akan dipersalahkan oleh Sekutu. Hanya kepada Sekutulah Jepang harus menyerahkan senjata. Moestopo menegaskan bahwa ialah yang kelak akan mempertanggungjawabkan kepada Sekutu. Akhirnya Iwabe bersedia menandatangani surat penyerahan tersebut.
Moestopo menentang pendaratan pasukan Inggris yang mewakili Sekutu di Surabaya, walaupun Presiden Soekarno sudah menyampaikan pesan agar pendaratan itu tidak dihalang-halangi. Sambil berdiri dalam mobil dengan kap terbuka, ia berkeliling kota menyerukan rakyat agar melawan Inggris. Sebelum pasukan Inggris mendarat, Moestopo mengadakan perundingan dengan komandan Inggris, Brigjen Mallaby. Perundingan juga diadakan antara pihak Inggris dan pemerintah Jawa Timur. Inggris diizinkan menempati daerah pelabuhan. Akan tetapi, pada tanggal 27 Oktober, sehari sesudah kesepakatan itu dicapai, Inggris memasuki kota tanpa izin dan menduduki beberapa gedung. Akibatnya, pada tanggal 28 dan 29 Oktober berkobar pertempuran. Pasukan Inggris terdesak dan hampir hancur. Mereka meminta bantuan Presiden Soekarno untuk menghentikan pertempuran.
Sementara itu, Moestopo dan beberapa orang pasukannya berangkat ke Mojokerto untuk menyiapkan basis gerilya. Mereka ditangkap oleh pasukan Mayor Sabaruddin, bekas anak Moestopo dalam Peta. Moestopo dibebaskan, bahkan ia diantarkan ke Surabaya, tetapi yang lainnya dibunuh Sabaruddin. Moestopo langsung pergi ke tempat Presiden Soekarno sedang berunding dengan pihak Inggris. Ia dipensiunkan oleh Presiden dan diangkat sebagai Penasihat Agung Republik Indonesia.
Moestopo kemudian diserahi tugas sebagai Panglima Markas Besar Pertempuran Jawa Timur berkedudukan di Madiun. Pada waktu Angkatan Perang melaksanakan reorganisasi dan rasionalisasi, tahun 1948, Moestopo yang ketika itu berpangkat kolonel, diangkat sebagai Komandan Kesatuan Reserve Umum (KRU). Ia membawahi tiga KRU, salah satu di antaranya ialah KRU yang terdiri atas pasukan hijrah Siliwangi. Pada waktu PKI melancarkan pemberontakan di Madiun, Moestopo mengerahkan pasukan Siliwangi ini untuk menumpasnya.
Pada waktu agresi militer kedua Belanda, Moestopo bergabung dengan Panglima Tentara dan Teritorium Djawa (PTTD) Kolonel Nasution. Dalam pemerintahan militer yang dibentuk oleh Nasution, Moestopo diserahi tugas untuk urusan kesehatan.
Sesudah Perang Kemerdekaan berakhir, Moestopo diangkat menjadi Kepala Kesehatan Gigi Angkatan Darat. Pada tahun 1958 ia dikaryakan dalam jabatan Pembantu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan pada tahun 1961 dengan pangkat mayor jenderal, dikaryakan lagi sebagai Pembantu Menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP). Pada tahun 1962 Moestopo mendirikan Yayasan Universitas Prof. Dr. Moestopo yang menaungi Universitas Prof. Dr. Moetopo (Beragama) di Jakarta yang di kenal sebagai Kampus Merah Putih. Selain memimpin dan membina universitas tersebut, ia juga ikut mendirikan universitas/fakultas sebagai berikut :
a. Universitas Gajah Mada dan Fakultas Kedokteran Giginya.

b. Universitas Padjajaran (Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Publisistik dan Fakultas FIPPIA)

c. Universitas Indonesia (Fakultas Kedokteran Gigi)

d. Universitas Trisakti (Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas lain-lain)

e. Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta dengan 4 Fakultas yaitu, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Ilmu Komunikasi.

f. Universitas Sumatera Utara (Fakultas Kedokteran Gigi)

g. Turut membina Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Stovit)

h. Pendiri Pendidikan Berkelanjutan Ilmu Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), dengan 5 jurusan: Ortho, Opdent, Oral Surgery, Paedodontic, Prosthodontic.

i. Turut mendirikan dan memimpin Sekolah Lanjutan Oral Surgery Universitas Padjajaran Bandung.

j. Mendirikan Akademi Perawatan Gigi, Akademi Pertanian, Sekolah Teknik Gigi Menengah, Kursus Chair Side Assistence/Technik Gigi/Dental Hygienis, Yayasan Pendidikan Prof. Dr. Moestopo Bandung.

Mayor Jenderal Pur. Prof. Dr. Moestopo meninggal dunia pada tanggal 29 September 1986 di Bandung. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Ia menerima berbagai penghargaan; yang tertinggi ialah Bintang Mahaputra Utama RI dan Atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor : 068/TK/Tahun 2007 tanggal 6 November 2007.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=2049