PERAJIN ROTAN MALANG

IMAM BUDIONO, PERAJIN ROTAN MALANG
Mengikuti Selera Mode Pelanggan
Rotan0003PARA tukang tampak asyik bekerja. Jemari-jemari tangannya tampak begitu terampil dan cekatan merajut belahan rotan maupun yang berbentuk sintetis pada sebuah kerangka yang akan dibentuk kursi atau meja. Kegiatan rutin para tukang ini setiap hari selalu menghiasi rumah yang sekaligus dijadikan tempat pembuatan mebel rotan milik Imam Budiono di Jl. Pahlawan 249A, Balerejo, Blimbing, Malang. Selain untuk kegiatan pembuatan mebel, di ruang sebelah yang berlantai dua juga digunakan sebagai showroom hasil karyanya.
Selama ini rotan dikenal sebagai bahan baku industri mebel serta furniture seperti kursi, meja, dan beragam perangkat rumah tangga lainnya. Namun di tangan seorang Imam Budiono, 49 tahun, bahan baku rotan dan sintetisnya bisa ‘disulap’ menjadi beragam kreasi berkualitas ekspor. Tak hanya mebel dari bahan rotan, tapi juga asesoris lain juga dikerjakannya. Bermula dari usaha coba-coba di kota Probolinggo tahun 1986 akhirrnya membuahkan hasil sebagai pengusalia mebel rotan di Malang. Imam Budiono merintis usahanya di Probolinggo saat itu mengambil produk mebel milik orang lain lantas dijualnya. Cam ini diubahnya karena kurang menguntungkan, lantas dia membeli mebel sisa ekspor di pabrik mebel lalu dijual lagi dan laris manis. Di Probolinggo ia menyewa toko yang diberi nama Tiban Jaya dan dijadikan nama usahanya sampai sekarang. Nama Tiban Jaya diambil dari nama masjid yang berada di depan tokonya di Probolinggo saat itu. Orang-orang di sana menyebut masjid tiban, karena konon tempat ibadah itu tiba-tiba ada dan tak ada yang tahu siapa yang membangun.
Rotan0004Hijrah ke Malang, kini Imam Budiono bisa dibilang pengusaha mebel rotan sukses. Kesuksesannya diawali tahun 2007 ketika ia ingin mencoba membuat mebel rotan sendiri walau sebenarnya ia tidak pernah tahu bagaimana cara membuat mebel rotan. ‘Terus terang saya tidak punya keahlian membuat mebel rotan. Saya hanya bisa mendesain lantas para tukang saya yang mengerjakan. Untuk membuat sendiri saya tidak bisa, jadi saya hanya mengarahkan tukang saja,” ujar lulusan STM (sekarang SMK) jurusan mesin ini.
Walau Imam Budiono mengaku tidak bisa membuat sendiri mebel-mebel itu, tapi dia adalah pencetus ide atau pembuat desain. Kadang ide desain itu didapatnya dari browsing internet, dari tayangan televisi atau bahkan pemesan yang membawa desain sendiri, “Pokoknya prinsip saya mengikuti selera mode pelanggan. Desain itu tak melulu mebel tapi bisa juga asesoris seperti kursi besar untuk kolam renang pigora atau wadah buah dan lain-lain. Bahkan pintu dan jendela rumah saya beri anyaman rotan sintetis. Hasilnya luar biasa, punya nilai lebih dibanding hanya pintu polosan. Ini hasil kreasi lain, untuk memberi kesan beda saja,” tuturnya.
Rotan0001Sejak awal berdiri, Imam Budiono dibantu empat orang, dan sekarang berkembang menjadi 32 karyawan. Kini, pemasaran mebel rotan buatan Imam Budiono disamping sudah menjangkau seluruh Jawa Timur juga di luar Pulau Jawa, “Kebanyakan pelanggan yang beli pada kami dijual lagi, j bahkan mungkin ada juga yang diekspor. Alhamdulillah setiap hari kami produksi terns dan selalu habis karena pelanggan setiap tahun bertambah. Bahkan untuk memberi kepuasan bagi pelanggan yang membawa model sendiri kami pun siap membuatnya berdasar gambar dan ukurannya,” jelas ay all dua anak ini.
Sebagai pengusaha mebel rotan, Imam Budiono termasuk orang baik hati. Sebab, ia menerapkan marketing kepercayaan kepada semua pelanggan yang kulakan padanya, yaitu barang laku baru bayar. Artinya, para pelanggan yang membeli dan menjual kembali mebel dari Imam Budiono bisa
dibilang tidak mengeluarkan modal dan cara membayarnya pun suka-suka. “Kadang ada juga yang benar-benar tidak bisa membayar walau barang sudah laku. Jika dia memang tidak mampu membayar, saya akan ikhlas. Namun kalau ada unsur nakal dan tak mau bayar, seterusnya tidak boleh mengambil barang lagi,” kata dia.
Imam Budiono yakin dalam berbisnis prinsipnya bisa menyenangkan orang lain. Dengan prinsip ini maka rezeki akan terus mengalir. “Semua rezeki diatur oleh Allah SWT. Insya Allah dalam bekerja sebisa mungkin menyenangkan orang lain, sehingga hubungan kekeluargaan akan terjalin erat. Ikatan emosional ini sebetulnya mahal harganya, karena bisa menambah persaudaraan,” prinsip Imam Budiono.
Rotan0002Tentang rahasia keberhasilannya mengelola kerajinan rotan dan sintetis ini, Imam Budiono mengaku tak jauh dari prinsip disiplin kerja, jujur dan tepat janji. Soal janji Imam Budiono sangat hati-hati. Kalau tidak tepat waktu, dia berusaha telepon dan memberitahukannya tentang kesulitan yang dihadapi. Bila terjadi komunikasi timbal balik, praktis hubungan kerja lancar. Apalagi peluang mebel rotan yang digelutinya ke depan sangat menjanjikan. “Alhamdulillah hasil produksi saya sudah cukup dikenal di Malang. Sehingga mebel-mebel untuk keperluan hotel yang banyak bertebar di Malang ini juga banyak yang pesan ke saya pungkasnya.Byan

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:majalah SAREKDA Jawa Timuran/edisi; 020/2014/halaman 34-35

Kerajinan Kuningan, Kabupaten Bondowoso

Dari Sampah Diubah jadi Berkah
Kerajinan Kuningan Bondowoso0002BONDOWOSO tak hanya menawarkan keindahan kawah Ijen, tapi juga terdapat kerajinan yang sangat terkenal yaitu kerajinan kuningari yang sudah menjadi komoditas ekonomi Bondowoso. Keistimewaan produk kuningari Bondowoso ini adalah kadar mengkilatnya yang lebih awet, tanpa pengolahan tambahan, warna kuningnya dapat bertahan lebih lama. Berbagai macam barang dibuat dari kuningan ini, seperti peralatan rumah tangga, suvenir, hiasan interior rumah, tempat bunga, guci, tempat menyirih, relief lukisan ataupun berbagai macam miniatur binatang.
Kerajinan Kuningan Bondowoso0003Salah satu perajin kuningan itu ada¬lah UD Rizky, terletak di Raya Situbondo 6, Desa Cindogo, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso. Menurut Lina, pemilik UD Rizky, usahanya merupakan warisan dari orangtuanya dan merupakan generasi ketiga. UD Rizky bisa dibilang salah satu perajin yang sanggup bertahan untuk waktu cukup lama, berdiri sejak tahun 1960-an. Awal pembuatannya berkonsentrasi pada perangkat gamelan Jawa, selanjutnya produksinya berkembang hingga sekarang menjadi beragam jenis. Lina bersama suaminya di UD Rizky berkecimpung di usaka kerajinan kuningan tahun 2000. Bahkan, hasil karyanya sempat diekspor ke Italia, lewat Bali. Begitu ada peristiwa Bom Bali, maka usaha ekspor pun ikut terhenti.
Kerajinan Kuningan Bondowoso0001Bahan baku kerajinan kuningan berasal dari sampah berupa rongsokan yang sudah tak terpakai. Dari pengepul rongsokan, Lina beli bahan baku saat ini antara Rp 45 ribu Rp 48 ribu setiap kilogram. “Setiap kami mengecor, membutuhkan sekitar 1,5 – 2 kuintal rongsokan kuningan. Kalau bahan lagi sulit dan mahal, kami mengecor setiap sebulan sekali. Para pekerja di tempat kami yang berjumlah sepuluh orang, begitu usai mengecor pekerjaan selebihnya fokus pada finishing. Begitu finishing selesai, pengecoran dimulai lagi tutur Lina.
Harga hiasan yang dipajang di showroom UD Rizky berkisar mulai dari Rp 150 ribu – Rp 4.000.750. Kecenderungan pembeli memang tergan- tung musim, kadang yang laris model binatang atau hiasan. “Untuk bulan- bulan seperti ini, saat orang banyak mengadakan hajatan perkawinan, maka yang laris manis adalah tempat siraman atau hiasan kursi. Begitu juga pembelinya, tak terbatas dari Bondowoso saja tetapi hampir seluruh kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta
Jogjakarta pernah membeli di tempat kita,” jelas Lina.
Kini, perajin kuningan di Bondowoso ini banyak yang gulung tikar. Kalau dulu jumlahnya puluhan, kini tinggal lima perajin saja. Itu pun tiga perajin berada di Desa Cindogo, dan dua lagi di desa seberang, yaitu Desa Jurangsapi. Semakin jarangnya perajin kuningan ini, keluhannya semua hampir sama, yaitu mahalnya harga bahan baku. “Kendalanya memang pada bahan baku, dulu harganya hariya Rp 8000/kg, sekarang Rp 48.000/kg/’ tutur Lina.”
Wurita Andaningsih/Fery Wardata

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Majalah SAREKDA Jawa Timur/edisi 021/2014 halaman 32-33

TAS Pelepah Palem

Pelepah Palem ‘Disulap’ Jadi Tas Cantik

Banyak material alam yang tumbuh di sekeliling kita kurang dimanfaatkan banyak orang, padahal jika diolah dengan baik, benda yang awalnya dinilai tak berguna atau limbah, bisa jadi benda bernilai tinggi.

Tas Pelepah Palm0001
PELEPAH palem, salah satunya, di kota besar seperti Surabaya banyak tumbuh khususnya di taman kota, perumahan mewah dan jalan-jalan protokol. Seperti kebanyakan pohon pohon kelapa yang telah tua, palem menggugurkan pelepahnya sehingga menggangu keindahan kota. Kondisi ini ternyata menggugah seorang mahasiswa jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif, Universitas Surabaya (Ubaya) untuk memanfaatkan sisa tanaman palem untuk dikelolah menjadi produk yang bermanfaat dan bisa dipakai semua kalangan.
“Saya lihat di depan rumah saya, dan dibeberapa ruas jalan, banyak pelepah pohon palem yang tergeletak dan dibuang di tempat sampah atau dibakar, saya berfikir mungkinkan limbah ini dikelolah,” kata Maureen Florencia Dharmawan di Gedung International Village Kampus II Ubaya Tenggilis Surabaya, Selasa (12/8). Karena penasaran, Florencia lantas mengambil beberapa sample pelepah palem yang ada di sekitar rumahnya untuk diteliti tekstur, keunikan, dan kekuatannya. Florencia pun mencari referensi tentang po¬hon palem. Setelah diamati diketahui tanaman yang mirip pohon kelapa ini, mempunyai kualitas pelepah yang bisa dimanfaatkan, karena memiliki tekstur garis-garis vertikal yang unik. “Warna cokelat alaminya juga bagus,” katanya.
Mulailah mahasiswa asli Surabaya itu mencoba membuat benda yang sesuai dengan karakteristik pelepah palem. Tas dipilih menjadi benda pertama yang dibuat, karena dianggap mudah dan banyak manfaatnya. “Untuk awal, saya memilih membuat tas, karena banyak manfaatnya, bisa digunakan untuk kuliah, jalan-jalan, atau pergi ke acara resmi seperti pesta perkawinan dan ulang tahun,” tutur mahasiswi berkacamata ini di hadapan sejumlah awak media.

Tas Pelepah Palm0002

Jenis Palem
Untuk membuat tas cantik ini, Florencia membutuhkan tiga jenis pohon yakni palem raja atau Palem Sadeng yang banyak ditanam berasal dari Kuba, yakni Roystone regia, R.buringuena, dan R.elata. Palem ini juga dikenal dengan nama royal palm. Ciri tanaman ini bentuk batangnya kokoh, dengan tinggi mencapai 25 meter lebih. Biasanya ditanam sebagai penghias pinggir jalan.
Selanjutnya palem putri, palem yang ini mirip palem raja ini sering dijumpai di pinggir jalan. Perbedaan antara palem raja, dan palem putri terletak pada warna daunnya lebih hijau dan lebih lebar. Palem ini didatangkan dari Madagaskar.
Terakhir yakni palem ekor tupai termasuk salah satu jenis palem endemik,yaitu di daerah pantai timur laut Queensland. Habitatnya terutama di daerah hutan yang lebat dengan curah hujan yang cukup. Di tempat asalnya, orang menamakannya “black palm” (palem hitam). Di Indonesia para pencita tumbuhan lebih mengenalnya sebagai palem ekor tupai.
“Ketiganya saya manfaatkan sebagai bahan dasar untuk membuat tas-tas ini saya membuat eksperimen dengan merendamnya dengan cuka atau memasaknya” ujar alumni SMA Kr Petra 5 ini bersemangat.
Proses Membuat Tas
Bahan pendukung selain pelepah palem agar menjadi sebuah tas yang unik antara lain karton, kain, lem epoksi, dan kulit. Bahan-bahan pendukung ini didesain sedemikian rupa hingga saling menya tu membentuk tas yang berkesan natural, eksotis, edgy dan bertekstur garis-garis keras sebagaimana karakter. “Saya tidak perlu banyak me- ngubah, karena karakter pelepahnya sudah sangat kuat,” ujarnya Florencia.
Cukup lama Florencia bereksperimen hingga akhirnya didapat cara untuk membuat pelepah palem raja lebih putih dia merendamnya dalam pemutih pakaian selama sehari. Sementara untuk membuat pelepah palem putri lebih gelap dia rendam dengan natrium hidrok- sida (NaOH).
Sementara warna alami dari palem ekor tupai dinilai sudah cukup bagus sehingga tidak perlu diberi tambahan pewarna. Setelah mendapat tiga warna pelepah, Maureen melanjutkannya dengan mem¬buat motif tas menggunakan kertas karton 2 mm. Dia terinspirasi dari Art Deco untuk membuat desain berunsur geometri.
Ada tiga jenis tas yang dibuat, yakni Clutch yang diberi nama Clurcy bag dengan desain rantai sebagai handle nya, Lalu tas tablet yang diberi nama tabby dengan desain lebih besat dan terdapat tempat menyimpan tab maksimal 8 inci. Terakhir, tas jinjing bernama Lola bag dengan desain paling besar dan bergaya serut sebagai pembuka bagian dalamnya.
“Satu tas ini saya buat sekitar dua minggu,”kata bungsu dari dua bersaudara ini menjelaskan.
Dari beragam proses yang dialami, paling lama saat eksperimen warna pelepah palem serta menyusunnya dalam pola yang sudah dibuatnya. “Pelepahnya kalau kering agak menyusut, jadi potongan-potongannya tidak pas dengan pola, nanti akan jelek,”ungkapnya.
Ia optimis karyanya ini bisa diterima pasar lcarena masih baru, eksotik dan natural Hanya saja, dia masih perlu menyempurnakan dengan mencoba mencari desain lain yang terkesan lebih santai Banyak yang meminta tasnya tidak terlalu kaku. Jadi, saat ini saya sedang mencari bahan-bahan yang lebih elastis dan bisa ditempeli pelepah palem “katanya. (hjr) A
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 38-39

Gerabah, Kabupaten Pacitan

Gerabah Wong Ndeso Lebih Indah

GERABAHTak benar kalau hasil produk­si wong ndeso itu berkuali­tas rendah. Ini dibuktikan pengrajin gerabah Desa Purwosari, Pacitan yang berhasil membuat gerabah lebih halus dan lebih indah sehingga dengan mutu produk yang lebih berkelas banyak diminati pembeli yang datang dari berbagai daerah di luar Pulau Jawa.

Dibanding produksi dari pabrik yang memanfaatkan teknologi tinggi, para pengrajin gerabah desa ini mampu mempertahankan karyanya dengan meningkatkan ketrampilannya melalui pendidikan dan pelatihan. Menurut mantan Kades Purwosari, Sriono pihaknya sering mendatangkan pelatih dari Kasongan, Bantul Yogya dan Bayat untuk mendidik warganya agar mampu memproduksi gerabah lebih bagus baik dari sisi disain mau­pun kualitas produk.

“Untuk meningkatkan daya saing, kita pernah kita mendatangkan tenaga pelatihan dari Kasongan Bantul Yogya dan Bayat untuk memberikan ilmu­nya. Sekarang hasilnya bisa kita lihat, gerabah Purwosari tak kalah kelasnya dengan gerabah daerah lain,” katanya.

Kepala Desa Purwoasri Andi Rahmanto mengatakan kreatifitas warga diteruskan dengan bantuan program PNPM yang berusaha menjadikannya sebagai daerah tujuan wisata. Sebuah gerai dibangun dan di dalamnya telah diisi produk kerajinan gerabah yang disedikan bagi pembeli dating dari luar daerah. “Dengan adanya bantuan PNPM Pariwisata sekarang sudah punya gerai, bahkan sudah ada pengisian barang. Untuk

tamu atau pembeli dari luar kota bisa langsung datang ke gerai kami,” pintanya.

Kerajinan gerabah di Desa Pur­wosari adalah kaum perempuan. Menurut seorang pengrajin Sulastri (39), di tangan wanita, sebuah karya akan terlihat lebih artistik karena di­kerjakan lebih cermat penuh dengan sentuhan rasa seni tinggi. “Dibuatnya secara tradisional dengan tangan dan perasaan hati untuk membentuk karya seni bercita rasa tinggi”, jelas Sulastri.

Selain lebih indah, gerabah Pur­wosari turut memberi andil dalam meningkatkan kesejahteraan ke­luarga, sebab setiap rumah di desanya dipastikan memiliki usaha gerabah sebagai mata pencaharian utama selaian bertani. “Setiap rumah mempunya usa­ha ini sebagai mata pencaharian,” kata Sulastri.

LEDRE002Di tangan Sulastri, ta­nah liat disulap menjadi cobek, anglo, penutup wajan, pot, patung dengan beragam ornamennya serta bentuk-bentuk lainnya yang berbahan baku tanah. Hasil karyanya pun dijual dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp 1000 sampai Rp 700 ribu/buah. “Saya cu­ma bikin mentahan lalu saya kirim ke pengepul untuk di bakar’, terang Sulastri. Untuk penghasilan per bulan dari barang yang saya setorkan ke pengepul sekitar Rp 500.000, itupun tergantung banyaknya yang saya setor. Apalagi kalau musim penghujan tidak ada matahari, jelas produksi kami menurun,” tuturnya.

Tak kalah penting sebagai penunjang usaha para pengrajin yang semuanya wanita telah didirikan koperasi wanita “Maju Asri”. Meski masih berumur jagung, koperasi yang mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jatim Soekarwo kategori,” Bekerja Sangat Baik Tahun 2009″ telah memiliki om-set diatas seratus juta. Selain gerabah, Purwosari juga menghasilkan genteng pres untuk memenuhi kebutuhan warga Pacitan.

PERAJIN gerabah di Desa Purwosari, Pacitan menghasilkan karya lebih indah. yang dari tahun ke tahun semakin me­ningkat. Di sisi lain, produsen genteng pres sulit untuk memenuhi permintaan lokal, karena terkendala faktor cuaca, bahan baku serta peralatan yang ma­sih kurang.

Menurut Turijan (50) dia mem­bangun usaha genteng pres di De­sa Purwoasri Dusun Padi Kec. Ke-bonagung Pacitan sejak 1982 dan sampai sekarang masih menjadi penopang ekonominya. Setiap bulan dia mendapat dua kali pemesanan dengan harga Rp 900/buah. “Kalau musim panas, hasilnya bisa maksimal, tetapi jika musim hujan, jumlah produksinya turun,” terangnya.

Untuk bisa memenuhi kebutuhan lokal, kami sangat memerlukan alat yang memadai maupun sistim pe­ngeringan yang optimal. Dengan tambahan alat pres ini diharapkan produksinya meningkat. “Permintaan saya adanya bantuan cetakan genteng, sebagian sudah ada yang dapat ban­tuan dari instansi terkait, namun belum semua dapat,” terang Turijan. (awi)

Suara Desa, Edisi 05, 15 Juni -15 Juli 2012

Kulit Kerang Menjadi uang, Kabupaten Gresik

Kulit kerang menjadi barang bernilai rupiah ditangan  Hj. Fadilah Mubarok. Dengan keterampilannya menata kulit kerang sedemikan rupa, hasil kreasinya bisa menghasilkan omzet jutaan rupiah. Maka, tidak keliru jika wanita ini bisa mengubah kulit kerang menjadi uang.

BISNIS kulit kerang tidak bisa dianggap sepele. Dari barang yang remeh, wanita yang lebih dikenal dengan nama Hj. Mubarok ini tergolong berhasil meraup banyak keuntungan. Tapi, keberhasilan itu tidak begitu saja dia dapatkan. Kisah per juangannya berawal dari tahun 1983. Mes ki hidup berkecukupan karena dibe sarkan dari ayah yang mengabdi sebagai polisi tidak lantas membuat Hj. Mubarok ber pangku tangan.

Sejak kecil Hj. Mubarok sudah menunjukan bakat menjadi wira swasta dengan berjualan kue-kue buatan ibunya. Setelah menikah dengan pria yang dicintainya, H. Mubarok, Hj. Mubarok terdorong untuk giat bekerja membantu suami mengepulkan asap dapur.

Muncul lah ide membuat souvenir dari kulit kerang seperti korden, bros, kapal dll. “Dulu masih buat merak-merakan dari kulit kerang, dijual di pasir putih,” kata wanita yang harus membagi konsentrasi saat berjual an di lokasi wisata Pasir Putih Situbondo karena menjaga anak-anaknya yang masih kecil. Satu buah souvenir merak dulunya dijual seharga Rp 250 dan kini harganya sudah menjadi Rp 5000 per buah.

Usaha itu dia lakoni dengan penuh ketelatenan. Setiap kali ada ide, wanita ‘yang sudah memiliki anak sejak usia 16 tahun ini langsung mengaplikasikannya dengan cangkang-cangkang kerang. Model dari karyanya terus berkembang dan menurut pengakuan Hj. Mubarok, peminatnya tidak pernah sepi.

Asbak, gantungan kunci, variasi piring  beraneka bentuk, tempat shampo, tempat sabun cair, tirai kerang dan lainnya sanggup menawarkan keindahan interior rumah. Tempat tisu, botol sabun cair dan wastafel merupakan barang yang paling banyak diminati pembeli. “Pasir Putih tempat wisata, dulu orangnya juga masih awam, jadi enaknya buat kerang. Tahu kalau enak, kerja saya jadi semangat,” urai nenek 4 cucu yang tinggal di Jalan Raya Pasir Putih Pandasari, Situbondo.

Makin Banyak Pesanan

Bisnis Hj. Mubarok yang dinamai UD. Putra Tenang ini makin berkembang, menyusul dengan santernya nama Hj. Mubarok dalam kerajinan kulit kerang. Pesanan pun datang dari penjuru daerah. Souvenir buatan ibu dua anak ini lebih banyak diburu untuk dijual kembali atau untuk diikutkan pameran di Jakarta.

Sebut saja toko-toko souvenir di kawasan obyek wisata Pasir Putih Situbondo yang sudah menjadi pelanggannya, termasuk toko- toko di kawasan wisata Bali, Pantai Pangandaran, Pantai Popoh, Jakarta, dan lainnya.

Wanita asal Gresik ini juga punya pelanggan dari Chili, Korea dan negara lain. “Kalau misternya yang dari Chili ke sini, dia pilih-pilih barang terus saya kirim lewat cargo di Bali,” ujar Hj. Mubarok yang sempat tertawa malu saat ditanya apakah bisa berkomunikasi menggunakan bahasa asli Chili.

Harga yang ditawarkan untuk kerajin arinya bermacam-macam. Dinding ke rang ukuran 2,10 meter x 1,60 meter har ganya Rp 250 per sentimeter atau sekitar Rp 3,5 juta hingga 4 juta, sedangkan meja kerang seharga Rp 2,5 juta, untuk meja ukuran 50 sentimeter harganya Rp 1,5 juta.

Harga jual produknya ini juga bergan tung pada jenis kerang yang digunakan. Guna memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah, wanita yang sudah naik haji dua kali dari hasil bisnis kerajinan kulit kerang ini tidak bisa mengerjakannya seorang diri. Kini dia sudah dibantu oleh 30 orang karyawan.

Karyawannya lebih banyak menangani dibagian produksi mu lai dari pemotongan hingga menyusun kulit kerang. Hj. Mubarok juga masih aktif membuat kerajinan sekaligus mengontrol hasil kerja karyawannya. Anaknya kini telah mengikuti jejaknya menjadi pengrajin kulit kerang.

Belakangan ini rumah yang juga work­shop Hj. Mubarok terlihat makin sibuk. Pasalnya, dia mendapat order salah satu hotel di Kuta, Bali untuk mengisi inte­rior 203 kamar yang seluruhnya terbuat dari kulit kerang Mulai dari handle pintu, rak televisi, kursi, dinding kamar, tempat tisue, botol sabun hingga wastafel terbuat dari kulit kerang. Bisa dibayangkan sendiri berapa omzet yang dia kantongi, “rr

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, EDISI 74 TAHUN VII NOVEMBER 2012

Pande Besi “Jimbir”, Kabupaten Nganjuk

Di Tengah Pesatnya Alat Modern, Pande Besi “Jimbir” Tetap Eksis

Adalah Mujiono. Pria hampir setengah abad ini memang patut menjadi teladan bagi kaum muda sekarang ini. Bagaimana tidak. Meski jaman sudah berbeda sangat jauh dengan apa yang awal-awal ditekuninya, namun lelaki asal Dusun Jimbir Desa Sugiwaras Kecamatan Prambon ini tetap eksis dengan keahliannya.

Yakni menjadi pande besi. Hingga saat ini, Mujiono tetap melakukan aktivitasnya membantu petani khususnya. Yakni membuat alat-alat pertanian seperti cangkul, arit, singkal dan rotary pada traktor pembajak. Keahlian yang diwarisinya secara turun menurun, konon diperoleh dari almarhum ayahnya, Yahmin. Menurut sejarah, pande besi Jimbir ini sudah ada sekitar tahun 1938.

Kala itu almarhum Yahmin masih menggunakan prasarana sangat sederhana dan secara tradisonal. Itu dilakoni juga oleh Mujiono yang mengaku mulai belajar sebagai pande besi saat masih duduk di bangku kelas tiga SD. “Waktu itu, hanya memakai pemanas arang dengan menekan alat peniup api. Kemudian berlanjut belajar memegang alat hingga dapat memahat baja dan besi,menjadi tajam serta bisa dimanfaatkan,” kenang bapak dua anak ini.

Seiring perkembangan jaman, alat tradisional yang dipakainya, berangsur beralih ke prasarana lebih modern. Yakni memanfaatkan energi listrik untuk memperlancar dan mempercepat pekerjaan sehingga dapat memuaskan pelanggan. “Karena pelanggan semakin banyak, kalau masih tradisional akan memakan waktu lama dan tidak bisa memenuhi keinginan pelanggan,” ujar Mujiono yang mengaku mengaku bangga dan senang karena dengan kemampuannya dapat mencukupi ekonomi keluarga.

Bahan baku yang digunakan, sejak dahulu sampai sekarang masih tetap sama yaitu besi baja dan arang. Alatnya pun juga tetap sama, yakni penjepit, alat pemukul dan lain-lain. Untuk bahan baku besi baja Mujiono belanja lansung dari Kediri maupun Surabaya. Sementara bahan baku berupa arang sudah ada kiriman dari rekan rekannya yang dapat membuat arang.

Dalam sehari dengan dibantu empat orang temannya, Mujiono mampu menyelesaikan sekitar 40 cangkul dengan upah rata-rata sekitar Rp 18.000 setiap cangkulnya. Setiap hari, bengkel pande besinya dipenuhi oleh pelanggan yang datang dari Kecamatan Pace, Prambon, Tanjunganom, Ngronggot dan Mrican. “Kami punya motto: ‘Kerja cepat mutu tinggi’. Sehingga banyak pelanggan yang puas dengan hasil produk kami,” imbuh Mujiono sembari berharap jika ada bantuan dana dari Pemerintah dapatnya dana tersebut memang tepat sasaran, (mbs)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: DERAP Ajuk Ladang, Edisi 180 Th. 2008.

Kerajinan Clay, Mojokerto

Suparlik, Kades Tanjungan, Mojokerto, Tularkan Bikin Kerajinan

Suparlik, Kades Tanjungan, Kecamatan Kemlagi Mojokerto, getol menularkannya membuat kerajinan kepada ibu-ibu PKK dan karang taruna di desanya. Selain itu mengisi waktu, juga untuk tambahan menutup kebutuhan dapur “Hasil kerajinan tersebut dapat dijual mulai harga *Rp 1.500 sampai dengan Rp 20 ribu, “kata Suparlik, sambil menunjukkan karyanya.

Kerajinan clay berasal dari bahan tepung beras, tepung maizena, bensoat, dan lem sebagai perekat ini. Dari bahan-bahan itu dapat dibuat berbagai jenis kerajinan tangan, seperti gantungan kunci, tempat pensil, bros, jepit dan pigura. Menurut Suparlik, pembuatannya dilakukan secara berkelompok maupun perorangan, bisa dikerjakan di balai desa atau dibawa pulang ke rumah.

Hasil kerajinan kita jual melalui pameran baik di Mo­jokerto maupun di luar wilayah Mojokerto. Jika ada pesanan banyak maka akan dibuat bersama-sama. Namun j iga tidak ada, cukup menitipkan hasil kerajinan ke koperasi,” kata Suparlik, beberapa waktu lalu. Menurutnya, pembuatan kerajinan clay sangat mudah. Selain semua bahan mudah di­cari juga mudah membuatnya dan tidak membu­tuhkan waktu yang lama. Semua bahan dicampur kemudian dibentuk sesuai keinginan dan diberi warna. Kemudian hasilnya dikeringkan dengan cara diangin-angin selama dua jam.

“Setelah kering, kemudian dipernis agar hasil­nya bagus dan terhindar dari jamur. Satu jenis , hasil kerajinan tidak membutuhkan waktu hingga satu hari cukup beberapa jam saja, hanya menung­gu kering saja yang lama. Untuk jenis dan bentuk, dari kreasi kita sendiri. Biasanya kita cari dari gambar-gambar yang ada di sekitar,” kata Kades yang murah senyum ini.

Desa Tanjungan terletak di wilayah Utara Sun­gai Brantas dan dikenal memiliki obyek wisata Waduk Tanjungan. Selain menjadi kepala desa, ia aktif membina ibu-ibu tim pengerak PPK dan rem­aja Karang Taruna di desanya. Pembuatan keraji­nan clay dilakukan sejak tahun 2009 lalu. (bdh)

Sentra Perak Pulo

Desa Pulo Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang sejak puluhan tahun lalu menjadi pusat industri perhiasan emas dan perak. Pemerintah Kabupaten Lumajang telah memberikan apresiasi bagi warga Pulo, karena di daerah ini  bertumbuh kembang usaha – usaha kreatif dalam pembuatan perhiasan emas dan perak.

Di kawasan Pulo inilah, sekarang telah menjadi sentra kerajinan UKM yang sudah mendapatkan perhatian para wisatawan. Selain itu, Perak Pulo menjadi andalan bagi kalangan pengusaha di Bali. Mereka telah mengirimkan banyak pesanan untuk pembuatan perhiasan perak.

Tingginya pesanan ini, karena hasil karya dan kreatifitas pengrajin perak Pulo diakui memiliki daya seni yang tingggi dan banyak diminati para wisatawan dari manca negara

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, Edisi 2011, Lumajang, 2011,07

Gerabah Tegaldlimo Nyaris Mendunia

Perajin gerabah di Dusun Sumberdadi Desa Tegaldlimo, Kec. Tegaldlimo, Banyuwangi” nyaris mendunia, kalau saja Samsuri masih hidup. Bapak dua anak ini, memiliki talenta tinggi bidang gerabah, apalagi sejak kecil dia hidup di lingkungan masyarakat pembuat gerabah ditambah ilmu teknik pembuatan gerabah yang di­peroleh selama mengikuti pendidikan dan pelatihan di Kasongan, Yogaya dan Bali.

Ilmunya ditularkan kepada tetang­ganya yang setiap hari hanya membuat gerabah secara tradisional. Bentuk kendi, cobek, gentong adalah produk warga desa yang dibuat sejak kakek dan nenek moyang warga Sumberdadi. Meskipun sudah terampil, namun pen­dapatan warga tetap tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari, padahal di daerah lain, seperti Kasongan, justru warganya makmur karena gerabah. “Banyak warga desa yang saat ini diajari bapak, tetapi se­telah suami saya meninggal sudah tidak ada lagi yang menekuni seni gerabah ini,” ujar Boinah (55) istri Samsuri.

Dalam satu desa ini, semua pendu­duknya adalah perajin gerabah. Seti­ap musim kering, rumah warga penuh dengan cobek, kendil, gentong dan produk tanah lainnya. “Ini adalah pe­kerjaan utama warga desa, apalagi jika musim panas tiba,” ujarnya.

Usaha untuk meningkatkan keahlian warga desa ini diawali Samsuri yang membuat motif, disain dan bentuk yang beragam sesuai dengan perkembangan seni gerabah baik di Bah, Jakarta, Sura­baya maupun Yogyakarta. Gerabah di ta­ngan Samsuri lebih cantik, indah penuh ornamen bunga, hewan maupun garis-garis yang menghiasinya.Kualitasnya juga semakin dijaga, selain lebih tebal, proses pembakarannya ju­ga semakin bagus begitu pula dengan ukurannya sangat bervariasi.

“Seluruh warga desa di sini meng­gunakan tanah liat menjadi gerabah, tetapi hanya suami dan saya sendiri yang membuat gerabah dengan model dan bentuk yang dikembangkan sesuai tuntutan pasar gerabah,” ujar Boinah.

Namun sesaat Samsuri mengajari warga desa untuk meningkatkan krea-tifitasnya, jutsru dia meninggal ketika gerabah ini sudah masuk ke pasaran yang luas. Boinah mengakui, berkat il­mu yang diajarkan suaminya, dia bisa membuat gerabah dengan model, di­sain, ukuran yang lebih indah dan me­narik.

“Saya tidak pernah belajar, tetapi suami saya dengan sabar mengajari saya sehingga gerabah yang saya buat ini jauh berbeda dengan buatan warga lain,” ujarnya.

Gerabah Boinah, bisa dipakai vas bunga, gentong kecil dan besar. Di ba­gian luar dindingnya juga sudah dihiasi dengan ornamen yang cukup bagus de­ngan bentuk yang beragam, mulai dari ornamen bunga, ular naga, tokek, katak, anjing, kambing, kelinci dan lainnya, se­hingga dengan kreasi barunya itu, harga gabah produk Sumberdadi naik daun da­ri berharga ribuan menjadi puluhan sam­pai ratusan ribu.

Meski    sudah dihargai tinggi, di kalangan   kolektor   gerabah,   produk Sumberdadi  ini  masih  lebih  murah dibanding dari daerah lain yang mejadi sentral gerabah Gentong besar setinggi 1,70 meter berdiamter 1 meter hanya dijual Rp   100   ribu, begitu pula vas bunga setinggi 1 meter berornamen hewan naga hanya dijual Rp 75 ribu/buah Menurut Boinah, dalam sepuluh hari dia mampu membuat 15 gerabah ukuran besar dan dalam satu bulan dia sudah bisa mengirim satu truk gerabah ukuran kecil dan besar ke Bali. Beberapa pedagang ge­rabah dari kota lainnya juga sering mem­borong produksinya

“Tetapi pada musim penghujan ini, pro­duksinya tidak sebanyak musim panas, ka­rena proses, pembakarannya sulit kalau ada hujan,” ujarnya

Perempuan yang sudah menjanda 2 ta­hun ini mengakui, gerabahnya tidak bisa berkembang sesuai permintaan pasar, karena dia tidak memiliki ketrampilan bi­dang finishingiya.

Teknik pengecatan dan jenis cat yang digunakan tidak dikuasasi dengan baik, sehingga produk gerabahnya dijual sete­ngah jadi dan para pembeli di Bali yang akan memperoleh untung besar setelah gerabah itu diberi warna yang lebih ar­tistik.

Gerabah Tegaldlimo saat ini sudah mu­lai ditinggal perajinnya Anak-anak Boi­nah tidak satu juga yang mau mewarisi ilmu dan ketrampilan membuat gerabah, begitu pula anak-anak desa lainnya. Anak-anak muda desa ini lebih suka bekerja di sektor lain, seperti merantau, menjadi buruh tani, atau buruh di kota dibanding harus menjadi pengrajin gerabah.

“Mereka menganggap gerabah tidak lagi memberi harapan hidup yang lebih baik,” tutur Boinah. Kondisi ini didukung sikap pemerintah yang sudah menutup mata terhadap kera­jinan gerabah yang tinggal menunggu waktunya untuk mati. Bantuan pelatihan tidak pernah dibe­rikan, apalagi bantuan pinjaman yang su­dah bertahun-tahun tidak pernah diluncurkan untuk menambah modal perajin gerabah.

“Kalau tidak segera diatasi, gerabah desa ini akan musnah, sebab tidak ada lagi yang mau        mengerjakannya saat ini masih bisa dilihat banyak gerabah  di  rumah-rumah karena masih ada kaum perempuan tuanya, tetapi sebentar lagi, jika mereka sudah meninggal dapat dipastikan kerajinan gabah ini juga turut dikubur oleh zaman,” jelas Boinah.(yib)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  SUARA DESA, Edisi 03, 15 April-15 Mei 2012  15

Pengrajin Tas dan Souvenir dari Kain

Berawal sekedar hobi, akhimya menjadi mata pencaharian. Sosok ibu dengan 3 (tiga) anak lelaki, Titik Winarti , kelihatan energik mengelola usaha membuat tas dan souvenir dari kain yang digeluti lebihkurang sudah 11 tahun. Saat mulai usaha masih menggunakan tenaga kerja tidak terlalu banyak. Namun usaha mulai sedikit berkembang, tenaga kerja mulai bertambah sesuai bertambahnya order. Tenaga kerja yang membantu sudah berganti-ganti dari anak-anak putus sekolah serta tuna daksa. Dengan memberdayakan tenaga kerja tersebut itulah merupakan tugas sampingan yang mulia dari pengusaha home industri tas dan souvenir dari bahan kain yang menggunakan ruangan depan serta samping rumahnya yang tidak terlalu besar mempunyai nama Tiara Handycraft.

Dengan jumlah pekerja kurang lebih 15 orang, ibu tiga anak ini, setiap hari tiada mengenallelah membimbing anak asuhnya agar menjadi orang yang mandiri tidak tergantung pada belas kasihan orang lain . Tenaga kerja tersebut merupakan anak-anak putus sekolah dari Yayasan Bina Remaja Bojonegoro dan anak-anak cacat fisik dari Yayasan Bina Daksa Suryatama Bangil. Berkat ketekunannya membimbing tenaga kerja tersebut hanya dalam waktu selama kurang lebih 3 bulan sudah banyak anakanak yang mahir diambil oleh perusahaan-perusahaan garmen besar yang membutuhkan tenaga kerja terampil dan ada pula yang kembali ke desa mereka masing-masing untuk mengembangkan usaha sejenis didesa.

Dalam memberikan bimbingan. ibu Titik melakukannya secara sukarela dan ikhlas tanpa memungut biaya maupun mendapat bantuan dari dinas sosial. Ada suatu kepuasan bathin yang tidak dapat dinilai apabila ada anak-anak didiknya ditampung/diminta oleh perusahaan-perusahaan garmen maupun telah dapat membuka usaha sendiri di desanya. Dengan adanya pembimbingan tenaga kerja secara cuma-cuma tersebut. maka Tiara Handycraft sudah banyak menerima Piagam penghargaan dari Dinas Sosial Tingkat Propinsi maupun dari Pemerintah Kotamadya Surabaya.

Usaha handycraft yang bersifat sosial ini . Titik Winarti . juga dibantu pengelolaannya oleh suami tercinta. Yudha Darmawan. Kadang-kadang secara bergantian atau bersama berkunjung ke Denpasar, Pulau Bali untuk menerima orderdari pengusaha asing berupa tas sesuai permintaan atau souvenir khusus yang layak jual di negeri asalnya, semisal dari negeri “samba” Brazil. Selain order tersebut, dari pelangganipemesan lokal juga ada pemesanan untuk souvenir perkawinan, cinderamata atau tas-tas khusus.

Pada tahun anggaran 2002, Tiara Handycraf mendapat bantuan modal kerja dari PT.PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur sebesar Rp. 7,5 juta.  Bantuan Modal Kerja tersebut dipergunakan untuk menambah saran a peralatan yang dapat meningkatkan dan mempercepat hasil produksi. Sebagai Mitra Binaan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, untuk kelanjutan pembinaan pada tahun 2003, Tiara Handycraftikut Pameran di Jeddah (Saudi Arabia) selama tujuh hari, dengan hasil pejualan cukup lumayan, dan ada permintaan dari pengusaha setempat beberapa produk.

Dalam perkembangan usahanya ternyata permintaan bukan terbatas pada produksi tas atau souvenir, kadangkadang juga per1engkapan rumah tangga, perlengkapan mulai bayi sampai orang dewasa, dan produk-produk untuk even tertentu.

Tiara Handycraft saat ini telah mempunyai omset senilai 8 sampai 10 juta rupiah perbulan , dan produkproduknya telah dieksport antara lain ke Brazil dan Spanyol. **(son)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Infodis Edisi III/2004, hlm. 25.