BATIK LOROG PACITAN

Sejarah Batik Lorog Pacitan

Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah penghasil batik tulis yang terkenal akibat karya dari dua orang wanita bersaudara keturunan Belanda yang bernama E. Coenraad dan M. Coenraad. Dua saudara ini datang dari Surakarta dan menetap di Pacitan. Mereka mendirikan perusahaan batik di Pacitan dengan tenaga kerja banyak dan berpengalaman. Produk dari Coenraad bersaudara umumnya banyak menggunakan warna batik tradisional gaya Jogja dan Solo, yaitu biru nilo dan cokelat soga. Motif yang digunakan juga sebagian besar ialah motif Eropa dan sedikit mencampurkan dengan motif Jawa. Motif yang diproduksi pada umumnya adalah motif bunga.

Sejauh ini bukti peninggalan nyata dari batik Coenraad bersaudara di Pacitan belum ditemukan sama sekali, misalnya seperti tepatnya dimana dibangunnya perusahaan batik Coenraad pada saat itu di Pacitan. Selain itu tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang sejarah batik di Pacitan yang dibawa oleh Coenraad bersaudara. Hal senada juga dituturkan oleh Ibu Retno Toni: “Batik Coenraad dulu yang pernah berjaya di Pacitan sampai sekarang belum ditemukan peninggalannya, Mbak. Sangat disayangkan sekali ya. Seharusnya jadi peer pemerintah untuk melestarikan peninggalan budaya.”

Selain itu masih sangat jarang literatur yang membahas secara detail dan lengkap tentang sejarah batik Pacitan yang dipelopori oleh Coenraad bersaudara. Kurangnya perhatian dari masyarakat akan peninggalan budaya yang sangat penting menjadikan salah satu alasan hilangnya pengetahuan tentang batik Coenraad bersaudara. Diharapkan dengan adanya hal ini, pemerintah menyediakan sarana untuk lebih menggali kembali tentang Coenraad bersaudara yang telah mengenalkan batik ke Kabupaten Pacitan.

Perkembangan Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1980 sedikit mengalami perubahan, perubahan yang menonjol adalah fungsi batik-batik yang diproduksi pada masa itu. Bergesernya penggunaan batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju baik pria maupun wanita. Motif , corak dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tektil yang ada di pasaran. Detail pada batik belum seberapa diperhatikan , hal ini disebabkan permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik yang berharga murah dan cepat pembuatannya. Pemerintah pada saat itu juga berperan dalam melatih dan mengembangkan batik Lorok, mulai dari pelatihan pewarnaan sampai pada kegiatan pameran.Permintaan batik untuk bahan baju semakin meningkat,utamanya permintaan dari pulau Bali.Namun pemasaran ke Bali surut drastis setelah pulau Bali diguncang bom.

img_3400Kabupaten Pacitan yang terletak di serangkaian Pegunungan Kidul juga mempengaruhi tentang keadaan masyarakat dan kebudayaannya. Batik Lorog Pacitan salah satu produk batik petani yang terus berkembang sejalan dengan arus perkembangan jaman. Sepeti halnya kebudayaan, motif pada batik Lorog berkembang secara bebas dan sangat beragam dengan mendapatkan pengaruh-pengaruh dari berbagai ragam hias yang berasal dari luar daerah Pacitan sebagai proses adanya interaksi antar daerah pembatikan.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1980-anPada awalnya para pengrajin batik Lorog memang membuat batik dengan motif-motif tradisional seperti motif Kawung, Sidoluhur, Parang Kusumo, dsb. Akan tetapi dalam perkembangan batik Lorog, motif-motif tradisional tersebut dibuat dan dipadukan dengan motif asli dari batik Pacitan dan untuk penamaannya tidak ada keterikatan sama sekali karena memang memberikan nuansa yang berbeda. Mengikuti perkembangan jaman akhirnya motif batik Lorog juga megikuti alur tren motif batik ke arah kontemporer tanpa menghilangkan ciri khasnya, yaitu tetap menggunakan proses-proses tradisional dan dengan proses pewarnaan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Perkembangan motif batik Lorog dapat diklasifikasikan menjadi beberapa fase periode, yaitu pada era 1980-1990, era 1990-2000 dan era 2000-2010. Perkembangan pada motif ini tentunya tidak bisa dihindari dari pengaruh daerah-daerah lain diluar Pacitan, yang lebih dulu mengalami perubahan pada segi pewarnaan warna-warni seperti Madura, Pekalongan, dan Tuban. Akibat dari adanya pengaruh daerah lain, tidak hanya segi pewarnaan saja yang mengalami perubahan akan tetapi motif dan juga pada saat teknik pembuatan.

  1. Era 1980-1990

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-bEra 1980-an, teknik pembuatan batik yang digunakan pembatik Lorog dari teknik kerikan beralih menggunakan teknik lorodan: proses menghilangkan lilin dengan air mendidih lalu kemudian dijemur.20 Selain proses pembuatan yang cukup rumit sehingga membutuhkan kesabaran yang lebih tinggi dibandingkan teknik lorodan, tidak mudahnya menemukan generasi penerus yang memiliki minat khusus dan ketekunan yang diperlukan untuk melestarikan batik Lorog dengan teknik kerikan, menjadi alasan tergantikannya teknik kerikan dengan teknik lorodan. Disisi lain, aspek pasar yang terbatas akan pengetahuan dan apresiasi konsumen umum terhadap batik dengan teknik kerikan menjadikannya sulit laku, apalagi jika dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Perubahan lain batik Lorog pada era 1980-an ialah bergesernya fungsi batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju yang digunakan baik pria maupun wanita. Motif dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tekstil seperti yang ada di pasaran. Lebih disayangkan lagi ialah detail motif batik tidak lagi menjadi tuntutan, mengingat permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik dengan harga murah dan cepat pembuatannya.21 Berikut penuturan Ibu Retno Toni :

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-a“Dulu sebelum 1980-an batik lorog ini dipakai untuk kain panjang seperti kemben, dan motifnya itu motif-motif kain panjang sehingga kalau dibuat baju itu tidak nyambung. Seiring dengan berjalan waktu pada tahun 1980-an ini masyarakat sudah jarang yang memakai kain panjang, lalu dibuatlah pada proses perwarnaan yang tidak lagi hitam putih tapi motifnya itu masih menggunakan motif kain panjang. Kemudian 1990-an mulai ada sedikit-sedikit motif sederhana yang sepertinya diambil dari motif-motif batik Madura. Dan juga permintaan pasar yang marak dengan batik tekstil yang proses pembuatannya cepat dan harganya murah mbak.”

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1990 an , masih seperti diera tahun 1980an . Motif sederhana, pembuatan relatif cepat, belum seberapa memperhatikan kwalitas batikan.Variasi motif sudah mulai berkembang hal ini disebabkan pengaruh dari batik-batik lain daerah.

Kemudian pada era 1990-an, batik Lorog sedikit mengalami perubahan dengan era sebelumnya, yaitu era 1980-an.  Perubahan desain batik Lorog yang mulai menggunakan warna batik pesisiran, seperti warna merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda mulai marak terjadi di era 1990-an. Meskipun dengan desain batik yang bermotif sederhana dengan proses pembuatan yang cepat, motif dan warna batik yang mulai berkembang akibat pengaruh batik dari daerah lain seperti Madura. Perubahan tersebut diikuti setelah Ibu Puri mendapatkan pelatihan dari pembatik Madura. Selain itu juga menyesuaikan dengan selera pasar pada saat itu dengan maraknya batik berwarna-warni. Pengaruh dari batik-batik dari daerah lain tentunya tidak menghilangkan dari gaya khas Pacitan sendiri, yaitu batik petani.22

  1. Era 1990-2000

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-aBatik Lorok Pacitan Indonesia di era 2000 an , sudah mulai menampakkan eksistensinya, pengrajin muda dan baru mulai bermunculan. Mereka rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali kedaerah dan ikut berpartisipasi dalam mengembangkan batik Lorok. Motif dan variasi batikan sudah mulai muncul dan beragam. Para seniman-seniman dengan senanghati mulai mendesain motif-motif batik yang baru. Salah satu even penting tahun 2002 diselenggarakannya lomba desain batik khas Pacitan dan tahun 2003diselenggarakannya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI. Batik Lorok hingga kini terus berkembang, menjadikan daerah Lorok yang semula tidak pernah terdengar oleh daerah luar sekarang sudah mulai diperhitungkan.Batik-batik yang bernuansa alamidengan detail yang halus sudah mulai bermunculan, seniman ( pendesain ), pembatik, berusaha keras untuk menyamakan mutu dan kwalitas batik Lorok dengan batik-batik dari lain daerah. Ditunjang dengan masuknya saran informasi yang mudah sehingga para pembeli tidak repot datang ke Lorok, mereka bisa mengakses lewat internet.

Keberadaan dari batik Lorog kian diminati oleh masyarakat pada era 1990-an meskipun dengan motif yang sederhana dengan proses pembuatan yang relatif cepat. Pembuatan batik Lorog menggunakan beberapa jenis kain sebagai bahan untuk membatik. Kain putih yang digunakan untuk membatik lebih dikenal dengan istilah mori atau cambric.23 Mori berasal dari bombyx mori, yaitu ulat sutera yang menghasilkan kain sutera putih. Istilah cambric artinya fine linen yaitu kain putih. Mori berasal dari kain katun, sutera asli maupun sutera tiruan. Mori dibagi menjadi empat golongan, yaitu:

  1. Mori Primissima,
  2. Mori Prima,
  3. Mori Biru,
  4. Mori Blaco.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-bPada pembuatan batik Lorog, ada beberapa jenis kain yang digunakan, yaitu: kain sanpolis primis (mori primissima), dan kain sanpolis prima (mori prima).24 Semakin maraknya batik di pasaran kala itu, juga membuat jenis kain yang digunakan oleh pembatik batik Lorog mengalami peningkatan kualitas, hal ini terlihat mulai digunakannya kain sutra sebagai bahan jenis kain untuk membatik. Akan tetapi, ketersediaan bahan baku kain untuk pembuatan batik tulis masih mengandalkan pasokan dari luar kota Pacitan, yaitu Kota Solo dan Jogja. Hanya pewarna alami yang dapat diperoleh dan menjadi stok sangat berlimpah karena terdapat di lingkungan sekitar para pembatik.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-cMeningkatnya jenis kain dengan bahan sutra pada era 1990-an dan juga proses pewarnaan alami membuat tampilan batik Lorog terkesan lembut. Jenis kain yang digunakan dan proses pewarnaan alami ini tentu saja berpengaruh pada tingkat harga, semakin mahal kain yang digunakan untuk bahan batik maka harganya juga semakin tinggi. Batik bahan sutra dan pewarnaan alami ini sekarang dapat dijumpai hampir di seluruh industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo. Masuk pada millenium baru, pada era 2000-an batik Lorog Pacitan mulai muncul dengan wajah baru. Hal ini dikarenakan beberapa pengrajin muda bermunculan. Pengrajin muda tersebut rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali ke daerah dan ikut pula berpartisipasi dan mengembangkan batik Lorog.

  1. Era 2000-2010Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 2010 sudah mulai menampakkan keindahan. Para pembatik muda ( ibu-ibu muda, remaja lulusan SLTA ) sudah mulai trampil membatik.Ada dua jenis batik yang dibuat di era tahun ini yaitu, batik pewarna alam dan batik klasik modern yang seperti pada gambar diatas. Batik klasik modern dibuat seperti layaknya batik Lorok tempo dulu, yaitu dengan cara pewarnaan menggunakan wedel ( nilo ) lalu dilorot , dibatik lagi, di soga lalu dilorot lagi. sentuhan modernnya berupa coletan warna merah ( rapid )dan pemberian warna kuning ( sol )pada bagian obyek tertentu. Desain batik juga dibuat lebih kontemporer mengikuti perkembangan jaman, namun tidak meninggalkan ciri khas batik lorok yang berupa motif flora dan fauna yang berada di lingkungan daerah Lorok Pacitan.Batik ini diproduksi oleh Batik Tengah Sawah Ngadirojo Pacitan, lokasi di Kec Ngadirojo 32 km kearah timur Pacitan.

    dscn1338

Berlanjut pada era 2000-an, pengaruh motif dan warna batik pesisiran dari Madura ditambah dengan pengaruh dari daerah lain, seperti Pekalongan dan Tuban menjadi dominan. Secara tidak langsung menjadikan batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya dan juga keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh batikbatik daerah lain. Hal inilah yang menjadikan kesempatan batik Lorog lebih dikenal di daerah lain di luar Pacitan. Selain itu perubahan secara drastis dari selera konsumen untuk menggunakan batik warna-warni sebagai pakaian sehari-hari menjadikan batik bermotif bebas dan berwarna aneka rupa semakin dicari-cari oleh konsumen.

dscn1343Batik Lorog Pacitan pada era 2000-2010-an memiliki dua jenis batik, yakni batik klasik modern dan batik pewarna alam. Yang lebih menonjol diantara dua jenis batik tersebut adalah batik klasik modern dimana batik tersebut dibuat mirip seperti batik Lorog tempo dulu pada tahun 1980-an. Pewarnaan yang dilakukan pada batik ini menggunakan wedel atau zat pewarna yang kemudian di lorod. Hal ini diulang beberapa kali sehingga memberikan sentuhan modern dengan warna merah dan kuning pada bagian tertentu.

dscn1554Beberapa pembatik muda mulai muncul seperti Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo, dengan kreasi dan inovasi yang mereka ciptakan untuk meramaikan dan tanpa disadari mereka ikut memajukan motif dan variasi yang beragam untuk batik Lorog. Selain itu, industri-industri baru juga mulai banyak yang bermunculan dan dapat dilihat dengan pesat industri batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya. Apreasiasi untuk motif-motif yang mulai bermunculan ini dengan ditunjang semangat para pembatik diwujudkan dengan adanya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI.

Kesuksesan batik Lorog pada tahun 2000-an, ternyata terus berkembang hingga dasawarsa 2010an. Pada tahun 2010 batik Lorog berhasil meraih dua prestasi pada ajang Lomba Desain Batik Tulis Khas Jawa Timur yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Batik dengan motif baru yang didesain oleh Bapak Budi Raharjo dan diproduksi oleh Ibu Retno Toni yang bernama motif Sawung Gerong berhasil menjadi juara 2 dan motif Peksi Gisik Lorog merebut juara 9.26 Hal tersebut merupakan suatu kebanggaan yang tersendiri untuk masyarakat Pacitan karena kini batik dari daerah mereka sudah diakui oleh daerah lain bahkan mungkin hingga nasional.

Perkembangan Industri Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Pada dasawarsa 1980-an, industri batik Lorog kian menyusut karena adanya derasnya produksi tektil bermotif batik yang lebih murah masuk ke Kabupaten Pacitan. Berubah fungsi batik yang dulunya sebagai kain panjang untuk para wanita maupun pria kecuali bilamana ada acara hajatan saja juga mempengaruhi surutnya industri batik Lorog pada saat itu. Selain itu kerajinan batik Lorog tidak seluruhnya mengalami alih tradisi secara mulus dari satu generasi ke generasi lain selanjutnya. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantara adalah; terputusnya tradisi di lingkungan masyarakat pembatik, kurangnya kecintaan dan kesadaran untuk menjunjung nilai budaya luhur serta tersainginya batik dengan berbagai bentuk motif yang bervariasi dengan latar warna yang cerah.

Pengrajin batik yang masih bertahan bekerja keras untuk memenuhi permintaan pasar dengan melakukan perubahan untuk mencoba menarik minat dari para pembeli, dengan melakukan inovasi pada motif batik karena fungsi batik pada saat itu dibuat untuk baju baik wanita maupun pria, maka corak dan warna batik disesuaikan selera pasar dengan memilih warna-warna yang cenderung lebih cerah. Batik Lorog mulai intensif menggunakan warna batik pesisiran yang terkenal akan kebebasannya berekspresi yaitu: merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda. Kondisi ini terjadi berlanjut pada tahun 1990-an.

Kondisi industri batik Lorog pada dasawarsa 1990-2000-an tidak jauh berbeda pada era sebelumnya. Hal ini dikarenakan permintaan pasar yang saat itu mengalami penurunan drastis akibat adanya batik cap dengan proses pembuatan yang cepat dan lebih diminati oleh para konsumen.

Pengaruh selera konsumen dan kondisi pasar pada saat itu sangat mempengaruhi pasang surutnya industri batik Lorog Pacitan. Perhatian dari pengrajin pada saat itu pula masih minim akibat kurangnya rasa semangat untuk melestarikan batik Lorog. Pada era pula hanya sedikit ditemukannya keterangan-keterangan yang menjelaskan secara detail bagaimana kondisi industri batik Lorog pada saat itu. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa industri batik Lorog yang selama kurang lebih dari 30 tahun dari era 1980-2000, masih mengalami ketertinggalan pasar daripada industriindustri di daerah lain.

Pada hakekatnya pembatik adalah seniman, sebagai seoerang seniman sedikit banyak memiliki sifat egois yang artinya ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dengan hasil karya orang lain. Sifat inilah yang mendorong para inovator batik Lorog seperti Ibu Puri, Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo untuk terus mengembangkan daya kreasinya tak sebatas kemampuan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah dihasilkannya, dan mereka terus berupaya berlomba menciptakan hal-hal yang baru. Perkembangan batik merupakan suatu usaha yang dapat diandalkan dan dikembangkan dengan tenaga kerja yang cukup potenisal. Lalu setelah di tahun 2000-2010, batik kemudian di produksi secara massal, industri batik mulai menampakkan eksistensinya dengan munculnya pengrajin muda dan mulai banyaknya industri-indsutri batik yang baru dibuka untuk meramaikan industri batik Lorog yang ada di Kecamatan Ngadirojo.

Ketersediaan modal merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pasang surut industri batik tulis Lorog Pacitan. Pada awal berdirinya pengrajin industri batik hanya menggunakan modal dari tabungannya sendiri, akan tetapi seiring semakin berkembangnya usaha tren batik yang sedang meningkat, pengrajin bisa mendapatkan   pendanaan dari pinjaman bank. Sementara itu ditinjau dari segi administrasi, sistem administrasi pada industri-industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan masih bersifat tradisional dilakukan secara sederhana dengan hanya melakukan pencatatan hasil pemasukan dan pengeluaran keuangan sendiri. Hal ini disebabkan sebagian besar industri belum memiliki struktur organisasi yang sudah tertata seperti adanya pimpinan, bagian administrasi, bagian produksi, dsb.

Salah satu kendala yang dialami pada industri batik Lorog ini adalah upaya promosi yang kurang dilakukan. Hal ini dikarenakan belum seluruh pengrajin dapat melakukan upaya promosi ke daerah-daerah lain di luar Kabupaten Pacitan. Kebanyakan pengrajin batik masih menggunakan motode getok tular atau dari mulut ke mulut. Sulitnya infrastruktur untuk menjangkau lokasi sentra batik Lorog yang terletak sekitar 40 km sebelah timur dari pusat Kota Pacitan juga mempengaruhi konsumen jika ingin langsung datang ke sentra batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Selain upaya promosi yang minim dilakukan para pengrajin, kendala pemasaran ini menyebabkan batik Lorog belum mampu menjangkau pasar yang jauh lebih luas. Gedung galeri yang dulunya berfungsi untuk mempromosikan berbagai macam produk-produk unggulan di Kabupaten Pacitan sebagai tempat promosi dan sentra oleh-oleh khas Pacitan termasuk batik Lorog, tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini sangat disayangkan karena perhatian pemerintah yang kurang untuk melakukan upaya melestarikan produk-produk unggulan khas Kabupaten Pacitan.
——————————————————————————————-

Unduh dari:
AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah 
Volume 3, No. 2,   Juli  2015

Suber Gambar: http://batiklorok.blogspot.co.id/

Seribu (1000) Barong

 

Seribu (1000) Barong Bikin Kagum Ribuan Penonton

1000. barongKabupaten Kediri sangat kaya dengan budaya, kreasi budaya ditampilkan Ratusan seniman Kabupaten Kediri yang tergabung dalam Tari seribu Barong mewarnai penutupan Pekan Budaya dan Pariwisata di Simpang Lima Gumul. Sabtu (22/6).

Atraksi 1(300 (seribu) Barong yang dimainkan oleh seribu seniman se Kabupaten Kediri berhasil mengundang kegakaguman ribuan penonton yang menyaksikan pertunjukan. Kekayaan budaya Kabupaten Kediri yang akrab dengan alam lingkungan pedesaan perlu terus dikembangkan sekaligus mengenalkan tradisi dan budaya yang adi luhung kepada Generasi Muda untuk mencintai budaya khas Kediri sehingga akan bangga menjadi warga Kabupaten Kediri.

1000 barongSalah seorang peserta tari seribu barong dari kecamaton Grogol (yang tidak mau disebut namanya) sangat bangga dapat berpartisipasi dalam kegiatan Pekan Budaya dan Pariwisata ini, sehingga dapat membantu pemerintah membangun kepariwisataan di Kabupaten Kediri untuk meningkatkan kunjungan wisata baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Banyak pengunjung yang memadati area Simpang Lima Gumal menyaksikan atraksi tari barong juga membawa berkah tersendiri bagi pedagang kaki lima dan tukang parkir memperoleh penghasilan yang lumayan untuk membantu kebutuhan keluarga. (hn- Kominfo)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah GEMA KELUD, Edisi 2 / April-Juni 2013 halaman 12

GLIPANG, Kabupaten Probolinggo

SEJARAH KESENIAN
Kesenian Glipang merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang tumbuh dan berkembang di daerah Kabupaten Probolinggo, tepatnya di Desa Pendil. Secara administratif, Desa Pendil termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Banyuanyar.
Ketinggian wilayah Banyuanyar mencapai 89 meter di atas permukaan air laut. Suhu udaranya berkisar 27°C sampai dengan 32° C. Dengan demikian, Banyuanyar termasuk dataran rendah.
Jarak antara pusat pemerintahan Banyuanyar dengan desa yang paling jauh mencapai 8 km. Sedangkan jarak antara Banyuanyar dengan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Timur (Surabaya) sekitar 113 km. Wilayah Banyuanyar terdiri dari tanah sawah (+ 1.784 hektar) dan ladang kering (+ 2.476 hektar). Jumlah desa yang ada di wilayah Kecamatan Banyuanyar sebanyak 14 desa, termasuk Desa Pendil.
Desa Pendil terletak di sebelah timur pusat pemerintahan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Desa Pendil sekitar 169.170 hektar. Ketinggian daerahnya mencapai 14 meter di atas permukaan air laut. Jarak Desa Pendil dengan pusat pemerintahan Kecamatan Banyuanyar sekitar 7 km. Sedangkan jarak Banyuanyar dengan Probolinggo sekitar 13 km.
Batas-batas wilayah Desa Pendil, yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pikatan. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Desa Alassapi. Sebelah Selatan berbatasan
dengan Desa Klenang Lor. Sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tarokan. Desa-desa yang berbatasan dengan Desa Pendil tersebut semuanya termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Banyuanyar.
Sifat kegotongroyongan pada masyarakat Desa Pendil masih tampak dalam kehidupan sehari-hari. Hidup rukun dan gotong royong merupakan sifat masyarakat pedesaan yang masih melekat di Desa Pendil. Sebagian besar penduduk Desa Pendil bermatapencahariaan sebagai petani dan pedagang.
Kecamatan Banyuanyar memiliki beberapa jenis kesenian tradisional yang hampir punah keberadaannya. Kesenian Glipang merupakan salah satu kesenian milik masyarakat Desa Pendil. Dan sekarang kesenian Glipang sudah diakui menjadi ciri khas kesenian Kabupaten Probolinggo. Kesenian Glipang ini memiliki corak dan nilai estetis tersendiri sebagai pancaran kebudayaan masyarakat tersendiri.
Kesenian Glipang ini berlatar belakang pada kebudayaan Madura yang beragama Islam. Pada waktu itu, sekitartahun 1912, banyak orang Madura melakukan migrasi lokal ke Pulau Jawa. Tepatnya di sepanjang pantai Pulau Jawa bagian timur. Alasan migrasi yang mereka lakukan itu adalah untuk mencari pekerjaan. Mereka ingin memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pak Saritruno termasuk orang yang melakukan migrasi tersebut, la kemudian menetap di Desa Pendil. Di Desa Pendil Pak Saritruno telah mendapat pekerjaan. Pekerjaan Pak Saritruno adalah sebagai mandor tebang tebu di Pabrik Gula Gending. Pada waktu itu Pabrik Gula Gending masih dikuasai Belanda. Jadi, Pak Saritruno bekerja di bawah kekuasaan Belanda. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai mandor tebang tebu, Pak Saritruno sering terjadi konflik. Hal ini disebabkan oleh tingkah laku para sinder Belanda. Mereka dianggap bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk pribumi.
Diperlakukan seperti itu, Pak Saritruno merasa tidak puas. Rasa kebangsaannya tergugah, la ingin melakukan perlawanan, la mengumpulkan orang-orang pribumi. Tujuannya untuk membentuk suatu perkumpulan. Sedangkan tujuan lainnya adalah untuk menyusun sebuah kekuatan untuk melawan penjajah Belanda. Mereka sangat jengkel terhadap tindakan penjajah Belanda. Tindakannya selalu sewenang- wenang terhadap bangsa pribumi. Kegiatan yang dikembangkan dalam perkumpulan ini adalah latihan ilmu bela diri pencak silat.
Pak Saritruno mengajarkan berbagai jurus silat. Awalnya, kegiatan latihan ini dilakukan secara sembunyi- sembunyi. Karena bila latihan bela diri itu dilakukan secara terang-terangan akan mengundang kecurigaan Belanda.
Untuk menghilangkan kecurigaannya, Pak Saritruno menciptakan musik. Musik yang diciptakannya itu digunakan untuk mengiringi gerak-gerak pencak silat. Sehingga kegiatannya seakan tampak seperti kegiatan seni.
Dari latar belakang inilah, maka terciptalah musik ciptaan Pak Saritruno. Musik yang diciptakan Pak Saritruno itu dinamakan musik Gholiban. Kata gholiban berasal dari bahasa Arab, artinya kebiasaan.
PakSaritruno menamakannya demikian, karena beliau tidak senang dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh Belanda. Akhirnya perkumpulan pencak silat itu lebih dikenal sebagai kesenian gholiban. Kata gholiban berubah
menjadi glipang. Hal ini dikarenakan pengaruh dari dialek orang Jawa. Karena penduduk asli Desa Pendil adalah Jawa. Maka, kata gholiban diucapkan gliban. Akhirnya, gliban menjadi glipang.
Dalam memilih alat musik Glipang, Pak Saritruno mengalami kesulitan. Penduduk Desa Pendil tidak mau menggunakan alat musik gamelan. Mereka menganggap alat musik gamelan merupakan alat musik yang kurang cocok dengan lingkungannya.
Akhirnya, Pak Saritruno memilih alat musik lain. Alat- alat musik tersebut adalah jidor, hadrah atau terbang, ketipung, dan terompet.
Bentuk kesenian Glipang, pada awalnya berbentuk jurus-jurus silat utuh. Dalam perkembangan selanjutnya dibuat sebuah tarian. Tarian ini dinamakan tari Kiprah Glipang. Tari Kiprah Glipang menggambarkan seorang pemuda pribumi yang gagah perkasa. Mereka melakukan uji ketangkasan bela diri. Pada tahun 1920-an, kesenian Glipang terkenal dengan tari Kiprah Glipangnya. Kesenian Glipang semakin lama semakin berkembang. Berkat kreativitas Pak Saritruno, terciptalah beberapa tarian, yaitu tari Baris Glipang, tari Papakan, dan tari Teri.
Oleh masyarakat pada waktu itu, kesenian Glipang banyak dimanfaatkan sebagai hiburan. Selain itu, kesenian Glipang dijadikan sebagai media dakwah tentang ajaran- ajaran agama Islam. Lagu-lagu yang dilantunkannya pun berisi tentang rukun Islam, rukun Iman, kebesaran Tuhan, dan tentang ajaran kebajikan lainnya. Ada hal yang menarik dalam pertunjukkan kesenian Glipang ini. Yaitu adanya tari Papakan dan tari Teri. Kedua
tarian ini merupakan tarian pasangan putra dan putri. Tetapi penari putri dimainkan oleh orang laki-laki. Mereka memakai tata rias dan busana putri.
Pada tahun 1935, Pak Saritruno meninggal dunia, karena sakit. Kedudukannya digantikan oleh Kartodirjo, menantunya. Mulai tahun 1950, kesenian Glipang di bawah kepemimpinan Pak Kartodirjo. Dengan mendapat dukungan dari Bu Asiah, istrinya atau putri dari Pak Saritruno, kesenian Glipang terus berkembang pesat. Bentuk tampilannya banyak dipengaruhi oleh kesenian ludruk. Agar seni pertunjukkan ini tetap jaya dan digemari masyarakat, akhirnya Pak Kartodirjo beserta para pengurusnya memberi variasi pertunjukkan. Pada awalnya hanya tari-tarian saja, lalu penyajiannya ditambah lawakan dan drama.
Cerita yang digunakan dalam drama tersebut berkisar tentang Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Islam. Selain itu, ceritanya kadang-kadang juga disesuaikan dengan perkembangan masyarakat saat itu. Misalnya menceritakan tentang pencurian dan perampokan. Judul ceritanya adalah “Banteng Solo”. Lakon ini menceritakan tentang pencurian dan perampokan. Pesan pada akhircerita, masyarakat diharapkan agar berhati-hati dan tenang dalam menghadapi situasi seperti ini. Kesenian Glipang benar-benar sangat digemari masyarakat. Baik masyarakat Pendil maupun di luar Desa Pendil. Bahkan terkenal sampai di luar wilayah kabupaten, seperti Pasuruan, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Sekitar tahun 1964, kesenian Glipang pentas di Banyuwangi. Tetapi naas bagi rombongan kesenian Glipang. Sepulang dari pentas itu kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Kendaraan yang ditumpanginya jatuh terperosok ke jurang. Akibat dari kecelakaan itu, Pak Kartodirjo meninggal dunia.
Sejak saat itulah perkumpulan kesenian Glipang bubar. Bahkan hampir mengalami kepunahan. Baru setelah pada tahun 1970-an, kesenian Glipang mulai bangkit kembali.
Bu Asiah dan Soeparmo, putranya, berupaya untuk mendirikan kembali. Berkat kerja keras Bu Asiah dan Soeparmo, kesenian Glipang mulai bangkit kembali. Mereka mulai mengadakan pementasan-pementasan. Soeparmo, selaku pimpinan perkumpulan seni Glipang, berusaha untuk menggali seni Glipang yang pernah jaya pada masa itu.
Saat itu kesenian Glipang belum mendapat perhatian dari pemerintah. Berkat kerja keras Soeparmo dan kawan- kawannya, mereka berhasil mengumpulkan orang-orang yang mempunyai jiwa seni. Mereka diajak untuk membentuk suatu wadah organisasi kesenian. Akhirnya berdirilah sebuah sanggar seni yang diberi nama Sanggar Andhika Jaya.
Kesenian Glipang semakin lama semakin berkembang. Tepatnya tanggal 5 Februari 1985, Sanggar Andhika Jaya secara resmi telah terdaftar di Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Timur, dengan nomor induk kesenian: 031/111.0416/104.28/1993.
Kini kesenian Glipang telah diakui sebagai seni asli daerah Probolinggo. Kesenian ini memiliki tarian khas, yaitu tari Kiprah Glipang. Karena tarian ini memiliki sejarah perjuangan.
Mulai tahun 1985, kesenian Glipang lebih leluasa untuk mengembangkan potensinya. Pementasan sering dilakukan di mana-mana, baik atas permintaan masyarakat maupun pemerintah. Maraknya perkembangan musik dangdut, karaoke, televisi, film, dan video, kesenian Glipang hampir tersisih. Masyarakat lebih banyak memilih hiburan musik dangdut, karaoke, film, dan video. .Untuk mengatasi persaingan ini, maka seni pertunjukkannya diselingi musik dangdut dan karaoke. Dengan demikian kesenian Glipang tidak lagi ditinggalkan masyarakat.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: “GLIPANG” Seni Tradisional Probolinggo/ Suyitno; Irvi Jaya, 2011. hlm. 1-7, (CB-D13/2011-694)

Wayang Thengul, Kabupaten Bojonegoro

Wayang Thengul.Wayang Thengul merupakan ikon kesenian tradisi wayang golek asli Kabupaten Bojonegoro dan sudah memperoleh pengakuan nasional, karena kesenian ini tumbuhkembangnya di kabupaten Bojonegoro. Kata Thengul dalam penuturan masyarakat berasal dari kata “methentheng” dan “methungul” yang artinya karena terbuat dari kayu berbentuk tiga dimensi, maka “dhalang” harus “methentheng” (tenaga ekstra) mengangkat dengan serius agar “methungul” (muncul dan terlihat penonton).

Teng (”methentheng”) dan Ngul (“menthungul ”), sampai pada saat ini di kabupaten Bojonegoro pertunjukan wayang thengul masih didukung oleh pelaku aktif 14 orang dalang yang tersebar di wilayah Kapas, Balen, Padangan, Sumberrejo, Kedungadem, sukosewu, Bubulan, Margomulyo,  dan kecamatan kanor yang berjarak  ± 40 Km dari Kota Bojonegoro para dhalang memiliki wilayah tanggapan (wilayah pentas). Pertunjukan wayang thengul Bojonegoro dipentaskan dalam acara yang berkaitan erat dengan hajat ritual upacara tradisional, ruwat dan nadzar.

Wayang ThengulWayang thengul yang berbentuk 3 dimensi ini, biasanya dimainkan dengan diiringi gamelan pelog/slendro. Wayang thengul ini memang sudah jarang dipertunjukkan lagi, namun keberadaannya tetap dilestarikan di Bojonegoro.  Para dhalang belajar secara otodidak dengan cara nyantrik (membantu sambil mempelajiri setiap pentas pada dalang senior), dan salingmengapresiasi permainan sesama dhalang wayang thengul maupun dari pertunjukan wayang kulit pada umumnya.

Wayang thengul Bojonegoro cenderung menggelar lakon-lakon wayang gedhog, bahkan beberapa lakon terkait dengan Serat Damarwulan yang sering dilakonkan dalam pertunjukan wayang klithik.

Tradisi pertunjukan wayang thengul di Bojonegoro nampaknya lebih dekat dengan ceritera Gedhog, Bangun Majapahit yaitu ceritera yang bersumber pada babad Majapahit, babad Demak. Dilihat dari perupaan dan visualisasi karakter tokoh dalam wayang thengul memiliki kedekatan karakter dengan tipologi yang tertuang dalam wayang gedhog dan wayang menak. Sehingga sangat wajar, wayang thengul lebih dekat dengan lakon wayang menak, lakon-lakon Panji serta ceritera para wali pada masa kerajaan Demak.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Profil Pariwisata Dan Budaya, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro

 

Musik pengiring Kesenian glipang

Kesenian glipang, kesenian asli tradisi Probolinggi ini kecuali disajikan dalam bentuk tari dan drama (sandiwara) juga diiringi musik dan vokal. Secara umum bisa dikatakan sebagai berikut, ciri-ciri dari penyajian keseni­an glipang. Pada pola penyajian keseni­an memiliki struktur tertentu dan tema tertentu, serta lagu-lagu yang dibawakan bernafaskan agama Islam.

Alat-alat nusik yang digunakan terdiri dari sebuah Jedhor, dua buah ketipung besar (lake’an dan bhine’an), tiga sampai lima terbang/kecrek. Pola permainan musik merupakan ansamble dari jedhor, terbang / kecrek dan vokal.

Bahasa yang digunakan dalam vokal/dialog adalah bahasa arab, Jawa dan Madura, unsur gerak kreativitas pribadi dari unsur – unsur gerak pencak silat. Tokoh-tokoh pelaku sesuai dengan lakon yang dibawakan.

 Alat musik yang digunakan.

Alat musik/karawitan glipang terdiri dari :

–     Dua buah ketipung besar.

Terdiri atas lake’an dan bhine’an, ditabuh tingkah meningkah (saling mengisi), ketipung laki-laki (lake’an) berfungsi memimpin dan memberikan tekanan-tekanan gerak.

–     Satu buah Jidhor.

memberikan tekanan-tekanan tertentu untuk semelehnya (konstan-nya) irama.

–    Tiga buah sampai lima buah terbang/keorek.

mengisi laga dengan cara memberikan suara diantara degupan.

Lagu-lagu yang dibawakan

–     Lagu Awayaro, sebagai lagu pembukaan menjelang penyajian tari kiprah glipang.

–    Pantun berlagu bebas, dibawakan secara bergantian pada penyajian tari pertemuan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm.2-5

Dramatari Topeng Jabung , Pembinaan Dan Pengembangan

gajah suraPertunjukan seni topeng telah mengakar pada budaya bangsa Indonesia sejak jaman dahulu. Dalam konteksnya yang berbeda-beda pertunjukan seni topeng telah dikenal sejak lama baik di daerah Aceh, Batak, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa , Timur, Madura, bahkan sampai-sampai ke Irian Jaya. Khususnya bagi daerah Jawa Timur, kesenian topeng telah dikenal sejak abad IX Masehi, dimulai dari kalangan kraton/istana yang kemudian sedikit demi sedikit mulai merembes ke masyarakat kelas bawah, dan akhirnya menjadi kesenian rakyat yang sangat populer.

Di dalam kitab Pararaton tertulis sbb.:

“Telas purwa wetaning Kauri, kaputer sawetaning Kauri sama awediring sira Ken Arok, mau ariwa-riwa ayun angadeg ratu…”

Artinya:

“Sudah dikuasailah daerah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu semuanya takut terhadap Ken Arok, mulailah Ken Arok menampakkan keinginannya untuk menjadi raja…”

Dengan kutipan di atas jelas bahwa daerah Singosari tersebut meliputi daerah sekitar timur Kawi itu. Desa Jabung terletak di Kecamatan Tumpang di bawah Kabupaten Malang, di daerah berdirinya Candi Jajagu yang didirikan untuk memperingati Wisnoe Wardhana, Candi Kidal untuk Anusapati dan Candi Singosari untuk Ken Dedes.

Tak dapat disangsikan lagi bahwa dramatari Topeng Jabung yang merupakan sisa-sisa seni pertunjukan tradisional pada abad-abad XI – XIV, abad kejayaan kerajaan Kehuripan, Kediri, Singosari, Daha, dan Majapahit itu, tentulah tidak saja hidup di Desa Ja­bung, tetapi pernah juga menyebar di desa-desa sekitarnya.

Sejalan dengan pasang surutnya kerajaan-kerajaan di Jawa Timur yang mendukung keberadaan dramatari Topeng Jabung, maka keberadaan dramatari Topeng Jabung pun mengalami kemunduran. Dominasi kerajaan yang berada di bawah pengaruh Islam telah menyebabkan memudarnya kejayaan Topeng Jabung.

Kevakuman yang berlangsung cukup lama telah membuat data dan dokumentasi teknis pertunjukan dramatari Topeng Jabung ini menjadi sulit dilacak. Tokoh-tokoh senior yang masih hidup, dan yang masih bisa ditemui untuk menceritakan pengalamannya tentang perkembangan Topeng Jabung tak banyak lagi. Tidak ditemuinya dokumentasi tertulis tentang naskah-naskah lakon yang pernah dimainkan, telah pula menyebabkan kesulitan dalam melacak jenis cerita dan judul lakon yang biasa dimainkan. Hal ini disebabkan setiap lakon hanya diturunkan turun- temurun secara lisan/hafalan kepada generasi yang di bawahnya.

Namun, dariberbagai usaha para pecinta seni, khususnya seni tari dan pertunjukan dan didukung oleh pemerintah, maka telah berhasil dihimpun berbagai data yang secara garis besarnya telah dapat menggambarkan bagaimana berlangsungnya pertunjukan dramatari Topeng Jabung tersebut. Hal ini tidak lepas dari bantuan para tetua desa, serta bekas-bekas penari yang masih hidup dan yang masih bisa dijumpai.

Masalah yang dihadapi sekarang ini adalah bagaimana mengenali dan mengembalikan teknis pementasan dan teknis tari Topeng Jabung sebagaimana bentuk permainan aslinya yang dulu. Kecenderungan pemanggungan drama tari Topeng Jabung yang sekarang telah banyak dipengaruhi gaya pementasan ludruk.

Tak dapat disangkal bahwa minat masyarakat untuk menonton ludruk sekarang ini telah menggeser minat masyarakat menonton pertunjukan Topeng Jabung. Hal ini menyebabkan pertunjukan dramatari Topeng Jabung menjadi semakin jarang dipertunjukkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur; Drs. Risman Marah, Drs. Supriyadi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan , Jakarta, 1993/1994.

Banteng Surontanu (Joko Sendhang)

(Sinopsis Cerita Ludruk Produksi Grup Karta Jaya, Karangmojo Jombang)
Pimpinan S. Kartorejo

Dua jin bernama jin Kebobang dan jin Wilawuk ingin membalas dendam kepada musuhnya yaitu jin Kebo Kicak yang dahulu merintangi kedua jin tersebut untuk menjadi raja Majapahit. Dalam upaya membalas dendam ter­sebut, kedua jin itu masuk ke dalam perut banteng yang bertapak kaki emas. Dahulu, Kebo Kicak membuang batu besar ke dalam sungai Brantas sehingga mengganggu tempat tinggal jin Kebobang dan jin Wilawuk. 

Suatu ketika, seorang pemuda bernama Joko Sendhang sedang berburu di hutan raya. Ia bertemu dengan seekor banteng yang pandai berbicara. Banteng itu terus menyembah ingin mengabdi kepada Joko Sendhang. Ban­teng ini adalah banteng yang bertapak kaki emas yang bernama Banteng Tracak Kencana. Joko Sendhang menerima pengabdian Banteng dan bersumpah sehidup-semati. Sejak itu pula Joko Sendhang bernama Banteng Surantanu. Joko Sendhang alias Banteng Surontanu pulang bersama banteng kesayangannya menghadap neneknya,Ki Ageng Tarup alias Joko Tarub. Di hadapan neneknya ini, Joko Sendhang alias Banteng Surontanu yang sudah dewasa itu menanyakan asal-usulnya, siapa ayahnya, dan siapa ibunya. Ki Ageng Tarub tak dapat mengelak lagi dan menerangkan bahwa ibu Banteng Surontanu adalah Dewi Nawangsih putra putri Dewi Nawangwulan. Dewi Nawang Wulan ini dahulu adalah istri Joko Tarub. Sekarang Dewi Nawangsih, ibu Banteng Surontanu, berada di kahyangan untuk melengkapi jumlah bidadari supaya menjadi empat puluh empat. Ayah Banteng Surontanu adalah Pangeran Lembu Peteng yang berada di istana Majapahit. Banteng Surontanu boleh menyusul ayahnya, tetapi harus lebih dahulu berguru ke Tebu Ireng. Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat diberikan oleh Ki Ageng Tarub kepada Ban­teng Surantanu supaya lebih terampil dalam pergaulan dengan orang-orang pandai. 

Di Tebu Ireng, Joko Sendhang (Banteng Surontanu) mendapat seorang guru bernama Kiyai Sumoyono. Suatu saat Tebu Ireng terkena penyakit besar. Penduduk banyak yang mati, sakit sore pagi mati, sakit pagi sore mati. Kiyai Sumoyono memanggil Banteng Surontanu dan mengatakan bahwa menurut bisikan gaib, wabah penyakit yang melanda bisa disembuhkan hanya dengan tetes darah Banteng Tracak Kencana. Banteng Surontanu tak dapat memenuhi permintaan gurunya untuk berkorban bagi kepentingan rakyat Tebu Ireng karena ia telah terikat sumpah dengan Banteng Tracak Kencana untuk sehidup semati. Oleh karena itu, Banteng Surontanu diusir dan tidak diakui lagi sebagai murid oleh Kiyai Sumoyono. 

Kiyai Sumoyono memanggil muridnya yang tersakti, yaitu Kebo Kicak yang menjadi Tumenggung di Desa Karang Kejambon, diperintahkan untuk menangkap dan menyembelih Banteng Tracak Kencana. Kebo Kicak menyanggupi permintaan gurunya karena tahu bahwa yang berada di perut Banteng Tracak Kencana adalah jin Kebobang dan jin Wilawuk, yaitu musuh besarnya sejak dahulu. Terjadilah perkelahian. Kedua murid seperguruan ini sama-sama saktinya dan satu persatu sekutu Banteng Surontanu maupun Kebo Kicak mati dalam perkelahian. Setiap kematian seorang sekutu menandai terjadinya nama suatu daerah di wilayah Tebu Ireng. Akhirnya perke­lahian terbuka satu lawan satu antara Kebo Kicak dan Banteng Surontanu. Banteng Surontanu dengan ilmu lari cepatnya dan Kebo Kicak dengan ilmu pembau (penciuman) yang sangat tajam bertarung mati-matian. Akhirnya kedua saudara seperguruan ini mati secara bersama-sama di sebuah telaga. Kiyai Sumoyono bersama rekan-rekannya Kiyai Pranggang memetik pelajaran dari kesalahan mendidik murid agar kelak tidak teijadi peristiwa

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk
di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.103

Pengertian Ludruk

Pembicaraan mengenai pengertian ludruk dan erat perkembangannya sangat diperlukan sebagai bahan untuk melandasi pembicaraan teoritis selanjutnya.

Menurut Pak Kibat, tokoh Besutan Malang
Ludruk sebagai nama dapat dicari makna etimologinya yang diperoleh dari berbagai informasi yang relevan. Informasi itu berasal dari dua informan tokoh seniman dan budayawan ludruk. Hal ini menunjukkan bahwa dalam penelitian ini dilakukan studi eksplorasi dan kajian buku bacaan.

Dari informasi yang diperoleh itu dapat dikatakan bahwa ludruk berasal dari kata-kata molo-molo dan gedrak-gedruk. Molo-molo berarti mulutnya penuh dengan tembakau sugi dan kata-kata, yang pada saat hendak keluar, tembakau sugi itu dimuntahkan dan keluarlah kata-kata yang membawakan kidung dan seterusnya berdialog, sedangkan gedrak-gedruk berarti kakinya menghentak pada saat menari di pentas.

Menurut Markaban Wibisono dan Kancil Sutrisno (2 tokoh ludruk RRI Surabaya)
Sehubungan dengan itu, ludruk berasal dari kata-kata gela-gelo dan gedrak-gedruk. Perkataan gela-gelo berarti bergeleng-geleng pada saat menari, dan perkataan gedrak-gedruk berarti menghentakkan kaki pada saat menari di pentas.

Bertolak dari kedua pendapat di atas; maka nama ludruk atau pengertian ludruk adalah gerak dan verbalisasi kata-kata. Gerak terutama tampak pada saat menari di pentas serta gerak-gerak lain yang menunjukkan bahwa ludruk termasuk dalam kategori seni yang menggunakan unsur gerak sedang verba­lisasi kata-kata pada mulanya terutama terlihat pada saat kidung dibawakan oleh seorang atau dua orang pengidung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk
di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.7

Ludruk dan Perkembangan

Menurut tulisan Bambang Andrias dan Dida Tukini (wartawan) dan Goprak Harsono (redaktur) pada majalah Topik No. 18 Thn, XIII, 18 Juli 1984

Era perkembangan bentuk ludruk ini dapat diklasifikasikan atau dibagi atas beberapa bentuk, yaitu bermula dari ludruk “Bandhan” yang sudah lahir abad XII— XV. Ludruk “Bandhan” ini mempertunjukkan sejenis pameran kekuatan dan kekebalan yang lebih bersifat magis dengan menitikberatkan pada pameran kekuatan batin. Sekitar abad XVI—XVII “Lerok” yang dipelopori oleh Pak Santik dari Jombang. Kata ‘lerok’ diperkirakan berasal dari kata ‘lira’ yaitu alat musik yang berbentuk seperti kecapai (cimplung siter) yang dipetik sambil bersenandung mengeluarkan isi hati. Saat itu Pak Santik menghias dirinya dengan cara mencorat-coret muka, memakai ikat kepala, dada telanjang, celana panjang berwarna hitam, serta memakai selendang sebagai “sampur” sebagai iringan musik atau gamelannya Pak Santik memakai mulutnya sendiri. Sampai tahun 1914 ciri khas ikat kepala harus berwarna merah.

Karena perubahan zaman, maka gendang mulai digunakan cimplung (semacam ketipung), dan jidor (tambur besar) mulai dipakai sejak tahun 1915. Sedangkan perbendaharaan kidung mengikuti irama parianyar, besakalan, kalongan, dan jula-juli.

Setelah permainan bertambah menjadi tiga orang timbullah nama ludruk “Besutan” yang diambil dari tokoh utama yang bernama Besut dan pemain lainnya bernama Asmonah (istri Besut) dan Paman Jamino. Pada tahun 1931 ludruk berubah menjadi ludruk sandiwara dengan tokoh yang semakin ber­tambah jumlahnya dengan mempertahankan ciri tarian remo, kidung (nyanyian lirik), dagelan (lawak) dan cerita.

Pada tahun 1937, dengan munculnya tokoh seniman ludruk Surabaya yang bernama Cak Durasim, ludruk mulai menggunakan legenda cerita rakyat dan dalam bentuk drama.

Menurut James L. Peacock (1968: 29 – 32)
Pertunjukan ludruk sebagai seni panggung telah ada sejak abad XIII zaman kerajaan Majapahit (L. Poerbokoesoemo Ludruk dari Segi Sejarah serta Perkembangannva, 1960) dengan sebuatan “ludruk bandan” dan “ludruk lirok”. Sedangkan ludruk sebagai pertunjukan telah tercatat pada tahun 1822 (Th. Pigeaud, Javaanse Volksvertoningen, 1938), yang menampilkan dua orang pelaku laki-laki: seorang pelawak yang membawakan cerita lucu dan seorang penari yang berdandan wanita.

Pada abat ke-20 terdapat suatu bentuk luduk bernama Besut yang ditandai dengan pelawak Besut yang menari, menyanyi (mengidung), dan berjenaka (melawak) dan seorang teledhek (penari) pria berdandan wanita (female impersonator) yang menari dan mengidung. Kira-kira tahun 1920 ludruk Besut mengalami beberapa elaborasi dengan mengubah dua pemain menjadi tiga tokoh pelaku cerita. Di sini Besut mencari istri, Asmunah, yang dimainkan oleh seorang impersonator wanita, dan paman Asmunah bernama Paman Jamino. Ludruk ini sekarang disebut ludruk Besutan. Kemudian pelaku keempat, yaitu Juragan Cekep sebagai pemeran orang kaya dalam kampung yang menjadi lawan Besut. Setelah debut Juragan Cekep ini lakon Besut lalu disebut Besep.

Pada tahun 1930 Cak Gondo Durasim mengorganisasi kelompok ludruk Surabaya dan menjadi suatu tipe ludruk yang baru yang disponsori Dr. Soetomo. Pada tahun 1942 tentara pendudukan Jepang menggunakan ludruk sebagai alat propaganda “Kemakmuran Asia Timur Raya” (Greater East Asia Co-Prosperity Sphere). Pada suatu ketika di bawah pengawasan Jepang, Durasim menampilkan permainannya dengan kidungan “pegupon omahe doro, urip melu Nipon tambah sengsara”, “pegupon: rumah burung merpati, hidup ikut Nipon bertambah sengsara”. Karena kidungan itu ia ditahan Jepang dan akhirnya meninggal pada tahun 1944. Kemudian setiap pertunjukan ludruk merupakan kebulatan dari genre: ngremo (tari kepahlawanan), dagelan ‘lawak’ selingan (sisipan), dan cerita.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.8

Kesenian Damarulan, Kabupaten Banyuwangi

Janger atau legong adalah kesenian tradisional yang berasal dari daerah Bali, dan yang dapat tumbuh dan berkembang serta digemari masyarakat Banyuwangi. Di Banyuwangi, bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Jawa Tengah cerita yang dipentaskan biasanya babad-babad Majapahit, Blambangan, dan sebagainya, sedangkan gamelan dan tata rias serta busananya tidak menin- galkan aslinya.

Sekitar tahun 1950, Banyuwangi mengalami per­tumbuhan kesenian ini sehingga hampir setiap desa memilikinya Lakon yang hampir selalu ditampilkannya, dan sangat digemari masyarakat, ialah cerita Damarulan Ngarit ‘Damar Wulan menya­bit rumput’ sehingga akhirnya kesenian itu lebih dikenal dengan nama damarulan. Damar Wulan adalah nama tokoh kerajaan Majapahit semasa pemerintahan ratu Kencana Wungu.

Dalam perkembangan akhir-akhir ini, damarulan banyak dan sering menampilkan cerita lain, seperti Sri Tanjung, Jaka Umbaran, Bantrang Surati, Agung Wilis, dan babad-babad tentang berdiri­nya mesjid Demak, bahkan kadang-kadang diambil dari cerita film. Kesenian tradisional damarulan makin banyak digemari, mungkin karena pertumbuhan serta peningkatan cipta seninya memenuhi selera daerah setempat.

Dalam pada itu, jenis kesenian yang dianggap sebagai sumbernya, yaitu legong atau janger, masih terdapat di beberapa tempat di Banyuwangi, walaupun pengge­marnya tidak banyak Kesenian tradisional damarulan termasuk drama. Walaupun cakapan dilakukan dalam bahasa Jawa Tengah, tetapi motif Bali masih dominan, terutama dalam hal tata rias, ta­ta busana, bentuk gerak tari, dan perangkat gamelan dengan laras­nya yang khas Bali.

Kita telah banyak mengenal gending irama Bali dengan rit­me yang lincah dari kombinasi nada yang merdu dan serasi itu, dan pada kesenian damarulan pun terdapat gending yang sama.

Pada kesenian legong atau janger, sarana peralatannya cukup besar, terutama perangkat gamelannya. Kesenian damarulan pun demikian pula. Perangkat gamelannya terdiri dari 12 macam gamelan, sedangkan tenaga penabuhnya ada 19 orang. Satu pe­rangkat gamelan damarulan terdiri dari :

a) Sebuah gamelan yang disebut pantus, yaitu gamelan sema­cam selenthem pada angklung banyuwangi, dan pemukulnya seorang, disebut pantus juga. Pantus sebagai pembawa gen­ding pada perangkat gamelan ini, mempunyai peranan pen­ting dalam penampilan cerita sehingga ia harus banyak penga­laman dalam hal pagelaran kesenian damarulan.

b) Gamelan yang disebut tempalan i,sebanyak tiga buah ter­diri dari dua tengahan dan satu peking, dan berfungsi mem­berikan pukulan yang berlawanan dengan tempalan 2.

c) Tiga gamelan tempalan 2, terdiri dari dua tengahan dan satu peking. Cara memukul tempalan 1 dan tempalan 2 ber­lawanan, mengikuti irama pantus, dan para penabuhnya duduk berhadapan

d) Dua buah calung, yaitu jenis gamelan semacam selenthem be­sar, bedanya masing-masing mempunyai wilahan yang hanya terdiri dari enam wilah. Cara memukulnya bersamaan me­ngikuti irama pantus yang memiliki 12 wilah.

e) Sebuah jubag, yaitu semacam selenthem besar, tetapi terdiri dari enam wilah dan tiap wilah terdiri dari wilahan yang rangkap. Dengan demikian alat pemukulnya pun rangkap dua. Cara memukulnya irama lambat atau satu-satu, meng- kuti irama pantus. Namun mengikuti pukulan yang tera­khir tiap birama seakan-akan mengikuti lagunya pada bagian belakang.

Kecek, yaitu alat ritmis terbuat dari lempengan semacam seng tebal, dua pasang, masing-masing disusun rangkap ber- bentuk lingkaran. Alat pemukulnya juga terbuat dari bahan yang sama, berbentuk sama pula, hanya tidak rangkap. Cara memukulnya dengan menggunakan tangan kanan dan kiri bergantian mengikuti irama, gendingnya berfungsi seba­gai sisipan pada iramanya, dan terutama untuk memperte­gas persamaan gerak tari pelaku yang sedang menari.«

g) Kethuk, yaitu alat yang hanya terdiri dari satu saja. Cara memukulnya dengan irama yang tidak tetap. Walaupun se­derhana, alat ini tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang.

h) Sebuah gong yang fungsinya sama dengan pada gamelan lain.

i) Dua buah gendang dengan dua orang pemukul juga, ber­fungsi membawa irama.

j) Reong, yaitu gamelan khas Bali, berupa deretan kempul yang memanjang sebanyak 12 buah dengan empat orang pemukul. Gamelan ini mengiringi irama gending dengan suara yang khas Bali.

Penampilan atau permainan damariilan di daerah Banyuwangi sama dengan cara penampilan janger atau legong di Bali. Pentas berupa panggung dengan latar belakang skerm dengan berbagai macam gambaran atau lukisan yang digunakan menurut kebu­tuhan cerita atau lakon.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan,