Berbagi Jenis Lurik Tuban

Di daerah Tuban terdapat beberapa jenis lurik dengan berbagai coraknya, yaitu lurik anaman wareg (anyaman polos – Gb.98a,b), lurik klontongan (Gb.99a,b,c,d), batik lurik (Gb.101-106), lurik pakan tambah- an, disebut dengan istilah lurik kembangan (Gb.l08-117d) dan lurik talenan (Gb.ll8a,b,).

 Lurik anaman wareg
98a-corak-tuwuh-tuluh-watu-tuban98b-corak-sleret-blungkon99a-lurik-klontongan-corak-tumbar-pecahAnaman wareg, bahasa Jawa yang berarti anyaman polos. Lurik anyaman polos, baik bercorak lajuran (garis-garis) maupun bercorak cacahan (kotak-kotak), di daerah ini dianggap kurang bergengsi, kecuali bebe­rapa corak yang mengandung makna sakral misalnya corak tuwuh/tuluh watu (Gb. 98a). Pada umumnya jenis lurik ini dipakai untuk bakal klambi, (bahan pakaian – baha­sa Jawa) yaitu untuk sruwal (celana), baju, selendang, lurik klontongan (bahan untuk batik lurik) dan untuk keperluan lainnya seperti kain kasur, kain bantal dan lain- lainnya.

Kapas yang warna aslinya krem kecoklatan, disebut dengan istilah kapas lawo (kelelawar) karena warnanya yang menye- rupai warna kelelawar, dahulu ditenun dengan anaman zvareg untuk berbagai keperluan antara lain untuk kain kasur, bantal dan lain-lain. Namun kini dengan berbagai modifikasi, baik tata warna maupun corak seperti corak sleret blungko (Gb.98b), dipakai untuk busana yang cukup mendapat pasaran.

Lurik klontongan
99b-lurik-klontongan-corak-galaran99c-lurik-klontongan-corak-jangan-menirKlontongan yang bermakna kekosonganji- wa dan badan. Lurik klontongan (Gb.99a,b, c,&) adalah lurik anyaman polos la tar putih dengan berbagai corak lajuran (garis-garis) atau cacahan (kotak-kotak) yang kebanyak- an berwarna hitam, 99c-lurik-klontongan-corak-jangan-menirmeskipun adakalanya yang berwarna merah. Dipakai sebagai ber­bagai bahan dasar untuk pembuatan batik lurik (Gb.101-106). Lurik klontongan diang- gap masih kosong atau hampa, belum mempunyai makna dan identitas, karena belum mempunyai corak, nama dan makna. Corak lurik klontongan tertentu diperuntukan bagi bahan dasar corak lurik batik tertentu pula.

Empatjenis lurik klontongan gambar 99a,b, c,d.:

Gambar 99a – untuk batik lurik corak
krompol (Gb.101). Gambar 99b – untuk batik lurik corak
galaran kembang (Gb. 107). Gambar 99c – untuk batik lurik corak cuken (Gb.102), kijing miring (Gb.103).
Gambar 99d – untuk batik lurik corak ksatrian (Gb.105).

Batik lurik
101-batik-lurik-corak-krompol100-sketsa-pembuatan-teknik-lurik102Batik lurik adalah lurik klontongan yang di- batik. Diperoleh dengan menutupi bagian- bagian tertentu yang berwarna putih dari sehelai lurik klontongan dengan malam, me- nurut berbagai bentuk corak geometris ter­tentu, yang terdiri dari titik-titik halus atau garis-garis lurus (lihat sketsa Gb.100). Sesu- dah dicelup dengan warna merah mengku- du atau biru indigo dan kemudian malam- nya dilorod (dibuang dengan jalan mere- bus dan/ atau dikerok), maka akan didapat batik lurik dengan berbagai corak seperti co­rak: krompol (Gb.101), cuken (Gb.102), kijing miring (Gb.103), surna (Gb.104), kesatrian (Gb.105), tutul bang (Gb.106) dan galaran kembang (Gb.107).

Lurik pakan tambahan/lurik kembangan
Berlainan dengan di daerah Solo/Yogya, di mana lurik pakan tambahan dapat di kata- kan tidak lazim, di daerah Tuban kain de­ngan tehnik pakan tambahan masih di ker- jakan, disebut dengan istilah lurik kembang­an pakan (Gb.108-117d). Di samping ini di- buat pula lurik dengan tehnik floating warp yang dinamakan lurik kembangan lungsi an- tara lain dengan corak ular giding (Gb.ll7a). Di daerah Tuban lurik pakan tambahan masih

dibuat karena masih diperlukan, dipakai untuk upacara setempat. Kemungkiriu teknik pakan tambahan adalah pengaruh dari luar, seperti dari Bali, Sulawesi Sela- tan, Kalimantan Selatan dan daerah Su­matra. Daerah-daerah tersebut di atas ini memang terkenal dengan seni budaya tek­nik pakan tambahan (songket) yang cukup tinggi. Pada masa lampau hubungan da- gang antar daerah ini dengan Tuban cu­kup tinggi, di mana interaksi kebudayaan terjadi.

  • Lurikkemitir (Gb.115) dibuat dengan teh- nik yang khas, dengan cara dan kiat ter- tentu sewaktu menghani benang.
  • Sehelai lurik kembangan dapat dipakai baik oleh orang berumur maupun orang muda, sisi kain yang berpenampilan ge- lap dipakai oleh orang berumur dan sisi sebaliknya yang terang dipakai oleh orang muda.
  • Antara lain lurik corak kembang polo dan kembang pepe merupakan lurik dengan istilah kain simpenan yaitu disimpan sebagai kain pusaka.
  • Beberapa corak lurik kembangan yang masih dibuat antara lain: krompol (Gb.108), cuken (Gb.109), kembang pepe (Gb.110), kembang polo (Gb.Ill), laler menclok (Gb.112), bulu rambatpotong inten (Gb.113), corak kembang jati (Gb.114), kemintir/gemintir (Gb.115), bolongbuntu (Gb.116), ularguling ( (Gb. 117a), kembang manggar (Gb. 117b), ‘ intipyan (Gb.ll7c), batu rantai (Gb.ll7d).

Lurik talenan  
103104Lurik talenan dari perkataan ditali/ diikat, adalah lurik corak lajuran dan kotak-kotak ; di mana di antara benang-benang lungsi dan/ atau benang pakannya terdapat be- ; nang-benang ikat yang sangat sederhana. I Benang-benang ikat ini 105106bercorak garis-garis I pendek yang terputus-putus, dengan war- | na putih dan biru indigo. Kain lurik yang mempunyai benang ikat ini disebut dengan istilah talenan. Antara lain terdapat lurik dengan corak sleret talenan (Gb. 118a), di mana hanya 107108pada benang lungsinya saja terdapat benang ikat, yang umumnya di- peruntukkan bagi kaum pria. Lurik yang berpenampilan garis-garis terputus-putus baik ke arah vertikal (lungsi), maupun ke arah horisontal (pakan) yang disebabkan oleh 109benang ikat pada pakan maupun lungsinya, disebut dengan istilah lurik talenan/kentol (Gb.ll8b) dipakai oleh pria dan wanita. Kaum pria ada yang menamakan lurik talenan dengan sebutan lurik kentol.

Lurik usik
110111112-113-114Kain lurik usik adalah lurik yang benang pakannya terdiri dari benang tamparan istilah Tuban untuk benang plintir, (Gb.42), yang menjadikan lurik ini sangat kuat dan lurik-tuban0002lurik-tuban0003tebal. Karena itu umumnya kain usik dipa­kai untuk bekerja di ladang oleh kaum pria. Antara lain terdapat kain usik dengan nama Semarmendem (Gb.U9a). Semar (Gb.ll9b) adalah seorang dewa yang arif bijaksana, cerdas, berbudi luhur, berjiwa pengasuh dan pelindung serta mendambakan agar manusia berada dalam keadaan suasana sejahtera, damai dan terhindar dari segala macam musibah. Mendem yang arti harfiahnya mabuk, namun di sini kiasannya ada­lah sedemikian hanyutnya, gandrungnya Semar akan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian manusia. Salah satu penganan di Jawa Tengah ada yang dinama- kan Semar mendem yang menurut mereka bercita rasa sangat lezat menghanyutkan.

lurik-tuban0004lurik-tuban0005Di daerah Tuban benang tamparan tidak dipergunakan untuk memperkuat pinggiran kain, untuk itu mereka memasukkan dua helai benang di satu lobang sisir di bagian pinggiran kain. Pemakaian benang plintir disisipkan di antara benang pakan, dengan effek yang menarik seperti pada lurikpalen (Gb.59).

 

 

 

 

 

 

—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 99-111

Lurik Tuban

96Sesungguhnya Tuban pada masa lampau, antara abad ke-XII-XVI pernah i berjaya, diperintah para adipati yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Mojopahit (Abad ke-XIII-XV). Sejarah  Tuban mencatat bahwa sejak permulaan abad ke-XII Tuban sudah merupakan kota pelabuhan yang ramai disinggahi oleh berbagai kapal asing, antara lain oleh kapal – kapal dari Persia, India dan Cina, untuk mengadakan perdagangan tukar menukar.

Permulaan abad ke-XV seorang jendral dari negeri Cina bernama Cheng Ho yang beragama Islam mendarat di Tuban, diutus dengan tujuan untuk menguasai per­dagangan di kota-kota pesisir Jawa, seperti Semarang, Jepara, Rembang, Lasem dan Tuban. Nama panggilan setempat untuk Cheng Ho adalah Dampo Awang yang kuburannya masih dapat dilihat di daerah ini.

Sejak abad ke-XV kerajaan Islam Demak (± tahun 1400-1568) memegang peranan di sepanjang pesisir, karena itu kedatangan seorang jendral Islam nampaknya ditolerir, terbukti dengan banyaknya rumah khas arsitektur Cina di sepanjang pantai utara pulau Jawa.

Para pendatang ini membawa serta bermacam-macam barang kerajinan mereka masing-masing: kain Gujarat (patola) dan kain Coromandel (chintz) dari India, barang-barang keramik dan sutera dari Cina. Barang-barang tersebut dipertukarkan terutama dengan rempah-rempah, seperti:

pala, cengkeh, kayu cendana dari Indone­sia Bagian Timur (Ambon, Banda, Timor, dan lain-lain) serta lada, kapur barus, ka­yu manis dan hasil bumi lainnya antara la­in dari Sumatra dan Kalimantan.

Pada tahun ± 1513 orang Portugis dan kemudian pada ± tahun 1599 orang Belanda datang pula untuk berdagang rempah- rempah dan hasil bumi. Maka semakin ra- mai dan sibuk jualah pelabuhan Tuban, yang sekaligus menjadikan daerah ini makmur dan dikenal.

9495-97a-97bSementara itu kerajaan Hindu Mojopahit mulai abad ke-XV mengalami kemunduran, sedangkan kerajaan Islam Mataram yang didirikan Penembahan Senopati pa­da tahun 1586, mencapai kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Agung (tahun 1613-1645). Setelah menaklukan Mojopahit dan menguasai daerah-daerah perdagangan di pesisir utara pulau Jawa, termasuk Tuban, akhirnya diperintah oleh bupati kerajaan Mataram.

Belanda dengan VOC-nya setelah Tu­ban dikuasai oleh bupati kerajaan Islam Mataram, mengalihkan usaha perdagangannya ke Batavia (Jakarta sekarang).

Selanjutnya VOC berhubungan langsung dengan daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Bagian Ti­mur. Dengan berkurangnya kedatangan baik berbagai kapal asing maupun kapal- kapal daerah yang membawa berbagai rempah- rempah dan hasil bumi untuk dipertukarkan atau diperjual belikan, menja­dikan pelabuhan Tuban sepi dan tak berarti lagi. Dampak dari keadaan ini Tuban tidak lagi mengecap kemakmuran seperti sediakala dan akhirnya dilupakan orang.

Beberapa pendapat mengatakan, di Indo­nesia penanaman kapas/katun serta pekerjaan menenun sudah dikenal sejak awal abad Masehi dan kain lurik sudah dikenal masyarakat Jawa sebelum abad ke-XIV.

Dalam salah satu prasasti disebutkan telah ada benang (tukel) yang dicelup warna biru tarum (indigo) dan merah mengkudu (morinda citri) yang diperdagangkan.

Daratan Tuban yang merupakan daerah kurang subur ternyata cocok untuk ditanami kapas, yang oleh masyarakatnya diolah menjadi kain dengan selera dan gaya setempat, serta mempunyai keunikan tersendiri. Karena kekhasan kain Tuban inilah, daerah Tuban buat sementara orang masih dikenal.

Pembuatan sehelai kain di daerah Tuban sampai saat ini masih dikerjakan secara swa-sembada, dimulai dengan bertanam kapas oleh kaum pria. Pekerjaan selanjutnya, yaitu memetik bunga kapas, memintal, menenun, membuat pewarna, mencelup benang atau kain dan pemasarannya dilakukan oleh para wanita. Warna asli serat kapas di daerah ini di samping yang berwarna putih ada pula yang berwar­na krem kecoklatan, yang setelah di tenun mempuyai keunikan tersendiri.

Membuat pewarna dan mencelup indi­go dianggap pekerjaan sakral, karena itu orang tertentu saja yang boleh mengerjakannya, yaitu orang yang berwibawa dan yang sudah mantap serta sudah berumur. Pada umumnya orang yang terpilih adalah para istri pemuka agama (istilah setempat modin). Pencelupan dikerjakan oleh kaum wanita, bahkan dianggap tabu bagi kaum pria, karena akan mendatangkan berbagai jenis bala bagi mereka. Umumnya tanaman tarum/indigo ditanam mereka di pekarangan rumah masing-masing, kadangkala terlihat pula tanaman kapas.

Jenis-jenis kain yang dibuat adalah kain batik dan kain lurik. Pada umumnya berba­gai jenis kain ini untuk pemakaian setem­pat, meskipun akhir-akhir ini telah mendapat pasaran di luar daerah Tuban. Ada yang dibuat untuk taplak meja, plate mats, tas, bahkan berbagai busana seperti rompi, kemeja, jas dan berbagai jenis cindera mata lainnya.

Sebagaimana telah diungkapkan terdahulu dalam tulisan ini, di masa lampau di berbagai daerah sepanjang pesisir Jawa, mulai dari daerah Pekalongan sampai dae­rah Gresik, di samping membuat lurik anyaman polos, di beberapa daerah dibuat pula lurik dengan pakan tambahan. Saat ini yang masih membuat lurik anyaman po­los maupun lurik pakan tambahan dapat dikatakan hanya di daerah Tuban. Di dae­rah pesisir lainnya bertenun lurik sudah dapat dikatakan punah, dikarenakan pada umumnya daerah-daerah tersebut menga- lihkan kegiatannya ke berbagai bidang lain, yang dewasa lebih menguntungkan.

Di daerah Tuban pekerjaan lurik pakan tambahan sudah mulai langka, karena dalih-dalih yang pada umumnya juga terdapat pada daerah-daerah lainnya, yaitu tidak adanya minat dari generasi penerus untuk yang mereka anggap sudah kuno serta harga jual yang tidak seimbang de­ngan pekerjaannya. Banyak pula dari ge­nerasi muda ini sekarang meneruskan sekolahnya ke sekolah lanjutan dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Di samping itu tradisi dan selera pemakainya telah bergeser; konsumsi yang tadinya bersifat setempat, semakin bertambah terbatas disebabkan harga yang buat rakyat setempat dinilai cukup tinggi, maka kain ini sekarang tidak merupakan pakaian sehari-hari lagi, terdesak oleh kain buatan pabrik yang lebih murah dan bervariasi.

Sampai di mana pembuatan lurik Tu­ban dan batik Tuban akan bertahan, mengingat berbagai kendala yang telah disebut di atas hanya sejarahlah yang akan membuktikan. Dalam hal ini terutama pelestarian seni budaya kain Tuban tradisional yang akan turut menentukan.

Bukit-bukit kapur yang banyak terdapat di daerah ini telah berakibat didirikannya oleh pemerintah pabrik semen, yang memang dibutuhkan untuk pembangunan negara. Tentunya sudah dapat diperkirakan proyek ini akan banyak menyerap tenaga muda setempat. Dengan terciptanya kesempatan yang baru ini, yang menurut mereka lebih menarik, sudah dapat diduga bahwa hal akan mempunyai dampak terhadap kerajinan rakyat tradisional pada umumnya, dan khususnya kain lurik dan batik Tuban. Oleh karena itu sebagai warisan budaya bangsa, pelestariannya harus dilaksanakan.

 
—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 94-99

Lurik Tuban

96Sesungguhnya Tuban pada masa lampau, antara abad ke-XII-XVI pernah i berjaya, diperintah para adipati yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Mojopahit (Abad ke-XIII-XV). Sejarah  Tuban mencatat bahwa sejak permulaan abad ke-XII Tuban sudah merupakan kota pelabuhan yang ramai disinggahi oleh berbagai kapal asing, antara lain oleh kapal – kapal dari Persia, India dan Cina, untuk mengadakan perdagangan tukar menukar.

Permulaan abad ke-XV seorang jendral dari negeri Cina bernama Cheng Ho yang beragama Islam mendarat di Tuban, diutus dengan tujuan untuk menguasai per­dagangan di kota-kota pesisir Jawa, seperti Semarang, Jepara, Rembang, Lasem dan Tuban. Nama panggilan setempat untuk Cheng Ho adalah Dampo Awang yang kuburannya masih dapat dilihat di daerah ini.

Sejak abad ke-XV kerajaan Islam Demak (± tahun 1400-1568) memegang peranan di sepanjang pesisir, karena itu kedatangan seorang jendral Islam nampaknya ditolerir, terbukti dengan banyaknya rumah khas arsitektur Cina di sepanjang pantai utara pulau Jawa.

Para pendatang ini membawa serta bermacam-macam barang kerajinan mereka masing-masing: kain Gujarat (patola) dan kain Coromandel (chintz) dari India, barang-barang keramik dan sutera dari Cina. Barang-barang tersebut dipertukarkan terutama dengan rempah-rempah, seperti:

pala, cengkeh, kayu cendana dari Indone­sia Bagian Timur (Ambon, Banda, Timor, dan lain-lain) serta lada, kapur barus, ka­yu manis dan hasil bumi lainnya antara la­in dari Sumatra dan Kalimantan.

Pada tahun ± 1513 orang Portugis dan kemudian pada ± tahun 1599 orang Belanda datang pula untuk berdagang rempah- rempah dan hasil bumi. Maka semakin ra- mai dan sibuk jualah pelabuhan Tuban, yang sekaligus menjadikan daerah ini makmur dan dikenal.

9495-97a-97bSementara itu kerajaan Hindu Mojopahit mulai abad ke-XV mengalami kemunduran, sedangkan kerajaan Islam Mataram yang didirikan Penembahan Senopati pa­da tahun 1586, mencapai kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Agung (tahun 1613-1645). Setelah menaklukan Mojopahit dan menguasai daerah-daerah perdagangan di pesisir utara pulau Jawa, termasuk Tuban, akhirnya diperintah oleh bupati kerajaan Mataram.

Belanda dengan VOC-nya setelah Tu­ban dikuasai oleh bupati kerajaan Islam Mataram, mengalihkan usaha perdagangannya ke Batavia (Jakarta sekarang).

Selanjutnya VOC berhubungan langsung dengan daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Bagian Ti­mur. Dengan berkurangnya kedatangan baik berbagai kapal asing maupun kapal- kapal daerah yang membawa berbagai rempah- rempah dan hasil bumi untuk dipertukarkan atau diperjual belikan, menja­dikan pelabuhan Tuban sepi dan tak berarti lagi. Dampak dari keadaan ini Tuban tidak lagi mengecap kemakmuran seperti sediakala dan akhirnya dilupakan orang.

Beberapa pendapat mengatakan, di Indo­nesia penanaman kapas/katun serta pekerjaan menenun sudah dikenal sejak awal abad Masehi dan kain lurik sudah dikenal masyarakat Jawa sebelum abad ke-XIV.

Dalam salah satu prasasti disebutkan telah ada benang (tukel) yang dicelup warna biru tarum (indigo) dan merah mengkudu (morinda citri) yang diperdagangkan.

Daratan Tuban yang merupakan daerah kurang subur ternyata cocok untuk ditanami kapas, yang oleh masyarakatnya diolah menjadi kain dengan selera dan gaya setempat, serta mempunyai keunikan tersendiri. Karena kekhasan kain Tuban inilah, daerah Tuban buat sementara orang masih dikenal.

Pembuatan sehelai kain di daerah Tuban sampai saat ini masih dikerjakan secara swa-sembada, dimulai dengan bertanam kapas oleh kaum pria. Pekerjaan selanjutnya, yaitu memetik bunga kapas, memintal, menenun, membuat pewarna, mencelup benang atau kain dan pemasarannya dilakukan oleh para wanita. Warna asli serat kapas di daerah ini di samping yang berwarna putih ada pula yang berwar­na krem kecoklatan, yang setelah di tenun mempuyai keunikan tersendiri.

Membuat pewarna dan mencelup indi­go dianggap pekerjaan sakral, karena itu orang tertentu saja yang boleh mengerjakannya, yaitu orang yang berwibawa dan yang sudah mantap serta sudah berumur. Pada umumnya orang yang terpilih adalah para istri pemuka agama (istilah setempat modin). Pencelupan dikerjakan oleh kaum wanita, bahkan dianggap tabu bagi kaum pria, karena akan mendatangkan berbagai jenis bala bagi mereka. Umumnya tanaman tarum/indigo ditanam mereka di pekarangan rumah masing-masing, kadangkala terlihat pula tanaman kapas.

Jenis-jenis kain yang dibuat adalah kain batik dan kain lurik. Pada umumnya berba­gai jenis kain ini untuk pemakaian setem­pat, meskipun akhir-akhir ini telah mendapat pasaran di luar daerah Tuban. Ada yang dibuat untuk taplak meja, plate mats, tas, bahkan berbagai busana seperti rompi, kemeja, jas dan berbagai jenis cindera mata lainnya.

Sebagaimana telah diungkapkan terdahulu dalam tulisan ini, di masa lampau di berbagai daerah sepanjang pesisir Jawa, mulai dari daerah Pekalongan sampai dae­rah Gresik, di samping membuat lurik anyaman polos, di beberapa daerah dibuat pula lurik dengan pakan tambahan. Saat ini yang masih membuat lurik anyaman po­los maupun lurik pakan tambahan dapat dikatakan hanya di daerah Tuban. Di dae­rah pesisir lainnya bertenun lurik sudah dapat dikatakan punah, dikarenakan pada umumnya daerah-daerah tersebut menga- lihkan kegiatannya ke berbagai bidang lain, yang dewasa lebih menguntungkan.

Di daerah Tuban pekerjaan lurik pakan tambahan sudah mulai langka, karena dalih-dalih yang pada umumnya juga terdapat pada daerah-daerah lainnya, yaitu tidak adanya minat dari generasi penerus untuk yang mereka anggap sudah kuno serta harga jual yang tidak seimbang de­ngan pekerjaannya. Banyak pula dari ge­nerasi muda ini sekarang meneruskan sekolahnya ke sekolah lanjutan dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Di samping itu tradisi dan selera pemakainya telah bergeser; konsumsi yang tadinya bersifat setempat, semakin bertambah terbatas disebabkan harga yang buat rakyat setempat dinilai cukup tinggi, maka kain ini sekarang tidak merupakan pakaian sehari-hari lagi, terdesak oleh kain buatan pabrik yang lebih murah dan bervariasi.

Sampai di mana pembuatan lurik Tu­ban dan batik Tuban akan bertahan, mengingat berbagai kendala yang telah disebut di atas hanya sejarahlah yang akan membuktikan. Dalam hal ini terutama pelestarian seni budaya kain Tuban tradisional yang akan turut menentukan.

Bukit-bukit kapur yang banyak terdapat di daerah ini telah berakibat didirikannya oleh pemerintah pabrik semen, yang memang dibutuhkan untuk pembangunan negara. Tentunya sudah dapat diperkirakan proyek ini akan banyak menyerap tenaga muda setempat. Dengan terciptanya kesempatan yang baru ini, yang menurut mereka lebih menarik, sudah dapat diduga bahwa hal akan mempunyai dampak terhadap kerajinan rakyat tradisional pada umumnya, dan khususnya kain lurik dan batik Tuban. Oleh karena itu sebagai warisan budaya bangsa, pelestariannya harus dilaksanakan.

 
—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 94-99

Sego Becek, Nganjuk

nasi_becek_2Sego Becek (nasi becek) merupakan makanan tradisional dari Nganjuk, Jawa Timur, sego Becek khas Nganjuk, sebenarnya sudah lama menjadi buah bibir masyarakat sejak dulu. Bila di amati dari jenis masakan, bumbu dan bahannya makanan satu ini merupakan makanan jenis kare kambing atau gulai kambing. Walaupun hampir mirip dengan gulai kambing, namun Sego Becek ini memiliki cita rasa dan penyajian yang berbeda.

Penyajian

Keistimewaan kuliner khas nganjuk ini pada tampilannya, sego becek ini biasanya disajikan dengan nasi hangat dan di atasnya disertakan ragam trancam (semacam lalapan) yang terdiri dari irisan kobis, kecambah dan seledri, biasanya diletakkan di atas nasi. Juga disertakan beberapa tusuk daging yang sudah disate dicampurkan ke piring.

Baru setelahnya, bumbu kacang dan sambel kemiri dimasukkan. Terakhir kuah becek dituangkan dalam keadaan panas, tak hanya kuah tapi juga jeroan kambing seperti gajih (lemak) dan balungan (tulang belulang). Untuk sate kambing biasanya disajikan secara terpisah atau disajikan langsung di atas Sego Becek.

Cita Rasa Nasi Becek

Sego Becek ini memiliki cita rasa yang sangat khas, karena kuahnya menggunakan banyak jenis bumbu, seperti sere, lada, pala, kapulaga termasuk bawang merah dan putih. Belum lagi emponempon (rempahrempah) seperti kencur, jinten dan semua jenis bumbu dimasukkan menjadi satu. sehingga kuah memiliki rasa yang pas dan tidak terlalu menyengat. Isian daging pada kuah tersebut juga terasa empuk sehingga tidak terlalu susah untuk menyantapnya.

Selain itu, salah satu ciri khas dari Nasi Becek ini adalah perpaduan rasa kuah dan sate kambingnya. Sebelum tersaji Sate kambing ini sudah terlebih dahulu dibumbui dengan bumbu kacang, kecap dan irisan bawang merah. Sehingga bila dibandingkan dengan kuah Sego Beceknya akan menjadi dua rasa yang berbeda dan bila keduanya dipadukan akan menjadi satu rasa yang sangat khas. Sate kambing tak hanya sekedar pelengkap. Kelezatan sate kambing yang sudah dibumbui dengan bumbu kacang, kecap dan irisan bawang merah terasa berbeda.

Tempat Kuliner Nasi Becek

Bagi anda yang berkunjung ke Kota Nganjuk, Jawa Timur, tentu kurang lengkap bila belum menikmati makanan satu ini. Sego Becek ini merupakan salah satu makanan tradisional yang cukup terkenal di sana. Tempat penjualan kuliner Sego Becek ini tersebar di wilayah Nganjuk sehingga mudah di jumpai.

Pengolahan Nasi Becek

Proses pengolahan nasi becek, kuah Nasi Becek ini diolah dengan bumbu yang cukup lengkap mulai dari bumbu yang dihaluskan hingga bumbu rempah, sehingga cita rasa bumbunya sangat terasa di lidah kita saat menyantapnya. Selain itu ditambahkan dengan potongan daging kambing dan jeroan tentu membuat Sego Becek ini semakin nikmat.

 

nasi_becek_3Resep Nasi Becek Khas Nganjuk Lezat

Bahan :
• 500 gr daging kambing, atau boleh dicampur jeroan kambing, potong dadu
• 500 ml santan encer
• 3 sdm minyak, untuk menumis
• 1 btg serai, memarkan
• 3 lbr daun jeruk
• 1 btg kayu manis (sekitar 3 cm), panggang
• 300 ml santan kental

Bumbu halus :
• 1 sdt garam
• 1 sdt gula pasir
• 5 btr bawang merah
• 3 siung bawang putih
• 5 btr kemiri, sangrai
• 1 sdt ketumbar, sangrai
• 1 sdt merica
• 1 ruas jari jahe, bakar
• 1 ruas jari kunyit, bakar
• 1 ruas jari kencur, panggang
• 1 ruas jari lengkuas
• 5 lbr daun jeruk

Pelengkap :
• 2 sdm sambal cabai rawit
• 2 sdm irisan kucai
• 6 lbr kol, iris halus
• 100 gr tauge pendek
• 30 tusuk sate kambing bumbu kacang, siap saji
• 1 bh jeruk nipis
• 600 gr nasi putih

Cara membuat :

  1. Rebus daging dan jeroan kambing dengan santan encer hingga matang dan lunak.
  2. Tumis bumbu halus bersama serai, daun jeruk, dan kayu manis hingga harum. Masukkan ke dalam air rebusan, aduk.
  3. Masak dengan api sedang hingga bumbu meresap. Tambahkan santan kental, masak kembali sambil diaduk hingga mendidih kembali dan matang.
  4. Angkat.

Saran penyajian :
Taruh nasi di dalam mangkuk, tambahkan kol, tauge, daun kucai, dan sate kambing, siram dengan kuah beserta potongan daging dan jeroan. Tambah air jeruk dan sambal rawit. sajikan selagi panas.

Demikian pengenalan tentang “Sego Becek Makanan Tradisional Dari Nganjuk, Jawa Timur”. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang ragam kuliner tradisional Indonesia. Selamat mencoba resep dirumah Sego Becek khas nganjuk lezat ini.

—————————————————————————————Dian K, Pustakawan; Pusaka Jawatimuran Team

Batik Ndulit Sisik Bandeng Khas Gresik.

motip-batik-ndulit-sisikGresik ternyata juga memiliki Ikon batik dengan motif lokal khas daerah yang dinamakan “Batik Ndulit Sisik Bandeng Khas Gresik”. namun batik khas Gresik ini belum belem banyak diketahui masyarakat seperti daerah perbatikan pesisiran yang lain di kabupaten/kota di Jawa Timur. Sesuai dengan wilayahnya Gresik keberadaannya di wilayah pesisir utara Jawa Timur, sehingga para perajin batik lokal di Gresik dalam membuat batik mengikuti gaya dan pakem khas pesisir utara Jawa Timur. Ikon batik Gresik dengan motif lokal khas daerah di Gresik sekarang ini banyak bermunculan. Salah satunya adalah batik ndulit sisik bandeng khas Gresik.

Batik ndulit sisik bandeng ini ternyata sudah lama berkiprah di Jawa Timur, diperkirakan sejak akhir tahun 2010,  Usaha kecil menengah (UKM) ini, dikelola oleh Ibu Siti Zainubah Budiarty yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan panggilan akrab Bu Arti. Beliau mendirikan tempat usaha pembatikannya di Jalan Magetan Kecamatan Kebomas, Kompleks Perumahan Gresik Kota Baru.

Tergerak untuk melestarikan, meneruskan dan menjaga kekayaan budaya yang penuh dengan nilai seni dan pesan luhur. Keyakinan akan membuat sebuah karya batik leluhur merupakan proses panjang sebuah perenungan, penghayatan, pengamatan, termasuk peleburan jiwa kepada Sang Pencipta.  Satu tradisi warisan Walisongo yang hingga kini masih dilestarikan. Yaitu tradisi menggelar “Pasar Bandeng”. Tradisi ini pertama kali diadakan oleh Kanjeng Sunan Giri, hingga kini, masyarakat Gresik masih melestarikan warisan Kanjeng Sunan Giri yaitu dengan menjual kue Pudak dan penyelenggaraan “Pasar Bandeng”.  “Pasar Bandeng” digelar pada dua malam terakhir sebelum takbiran. Dengan ringkas cerita budaya masyarakat Gresik, maka Bu Arti menuangkannya dalam batik dulit khas Gresik, motif “SISIK BANDENG”.

Aktivitas produksi batik ndulit sisik bandeng kelolaan Bu Arti ini selalu ramai dari pesanan, meningkatnya pesanan terhadap batik lokal seperti batik Gresik ini, disebabkan peminat batik mulai melirik motif khas budaya lokal. Sehingga batik dulit Sisik Bandeng yang merupakan ikon baru batik khas kota Gresik, makin bersinar di tengah gempuran produk-produk dari negara lain. Batik dengan motif mengangkat produk lokal seperti sisik ikan bandeng, justeru makin diminati, karena mempertahankan nuansa tradisional. Tanpa bahan baku kimia,  menggunakan bahan pewarna alami yang disapat dari bagian tanaman yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumah.

Batik motip sisik bandeng yang kini menjadi salah satu ikon baru batik lokal khas Gresik, selain motipnya yang mengangkat ciri khas batik Gresik dan tetap mempertahankan nuansa tradisional, pewarnaan kain batik ini masih tetap mempertahankan pewarnaan alami tanpa menggunakan bahan kimia. Bahan pewarna alami tersebut didapat dari tumbuhan yang ada di wilayah Gresik seperti; daun jati, daun sirih, daun kenikir dan daun jambu. Dengan pewarnaan alami ini sehingga batik ndulit yang dihasilkan pun lebih natural dengan corak khas sisik bandeng. Terobosan ini, sengaja dilakukan agar kualitas produknya makin terjaga. Dengan bahan alamiah ini, produk batik buatanya, tidak menimbulkan alergi pada pemakai, dan nyaman dipakai oleh setiap orang.

Batik ini Dinamakan batik ndulit karena proses pewarnaannya dengan cara di dulit atau dioleskan dengan menggunakan kanvas dari batang rotan. Sementara inovasi penggunaan motif lokal sisik ikan bandeng diambil karena Gresik merupakan salah satu sentra penghasil ikan bandeng yang sudah cukup lama dikenal masyarakat pesisir utara Jawa Timur khususnya warga Surabaya dan sekitarnya. Batik dulit sisik bandeng yang merupakan salah satu produk batik unggulan, karya tangan terampilnya, yang kini mulai disuka warga. Sama dengan produk batik lainnya, pembuatan batik ndulit sisik bandeng ini pun diawali dengan pembuatan desain di atas kain putih dan dilanjutkan dengan proses canting.

  • Deasain, proses melukis dengan pensil pada lembaran kain putih polos, dengan cara menjiplak pola yang sudah ada
  • Nyanting, proses menorehkan malam atau lilin dengan menggunakan canting mengikuti pola batik/alur coretan pensil sisik bandeng yang terlukis di atas kain putih.
  • Ndulit, proses memberi warna motif desain dengan menggunakan kanvas dari rotan.
  • Nembok, proses menutup warna yang telah ditorehkan pada motif sisik bandeng, dengan menggunakan malam atau lilin.
  • Nglorot, proses menghilangkan malam dengan cara dicelupkan di dalam jambangan berisi air panas mendidih.
  • Selanjutnya proses pewarnaan total, selesai proses nglorot lalu kain dicuci bersih kemudian dicelup pada pewarna dan kemudian dikeringkan, dengan jalan hanya sekedar diangin-anginkan dihindarkan dari terpaan sinar matahari secara langsung, dengan maksud untuk menghindari warna tidak luntur dan tetap alami.

Batik ndulit sisik bandeng khas Gresik ini dijual dengan harga bervariasi tergantung kualitas kain. Batik ndulit sisik bandeng sudah mulai dipasarkan di beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur bahkan tersebar di kotakota besar Pulau Jawa. Di tengah kesuksesan memperkenalkan produk batik lokal khas daerah Gresik ini, demi kelangsungan usahanya sebagai usaha kecil menengah (UKM) Bu Arty… berharap adanya dukungan berbagai segi dari pemerintah daerah setempat.

Kegiatan kami ini juga merupakan  kegiatan  informasi, webblog ini sudah terbaca 155 negara semoga terebantu!

Suber:

By Arty – Griya Batik Gresik

Batik Jonegoroan

Kabupaten Bojonegoro dengan kondisi geografis dan potensi sumberdaya alamnya memiliki potensi besar bagi pengembangan kerajinan batik, khususnya batik yang memiliki motif khas Bojonegoro. Terlebih lagi dengan masih banyaknya potensi sumber daya manusia terutama kaum wanita. Berangkat dari pemikiran memberdayakan secara optimal kaum wanita untuk menekuni usaha mandiri, sehingga dapat menambah pendapatan keluarga. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro, pada tanggal 29 Desember 2009 menyelenggarakan festival desain motif batik khas Bojonegoro, Festival itu bertujuan untuk mengangkat potensi daerah Bojonegoro yang di goreskan dalam sebuah motif batik. Dalam penentuannya dipilih 9 karya yang ditetapkan sebagai “Motif Batik Khas Bojonegoro” selanjutnya dipopulerkan dengan nama “Batik Jonegoroan”. Diantaranya motif Rencak Thengul, Parang Lembu Sekar Rinambat, Sekar jati, Pari Sumilak, Sata Ganda Wangi, Parang Dahana Mungal, Jagung Miji Emas, Mliwis Mukti dan Gatra Rinonce.

Proses pembuatan batik Jonegoroan sama dengan proses pembuatan batik pada umumnya yaitu:

  1. Ngemplong adalah pengerjaan membatik tahap pertama terdiri dari beberapa tahapan, diawali mencuci kain mori untuk menghilangkan kanji yang biasanya terdapat pada kain yang baru. Pengeloyoran, memasukan kain mori ke minyak jarak atau minyak kacang dalam abu merang, agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna lebih tinggi. Setelah melalui proses tersebut, kain diberi kanji dan dijemur.
  2. Nyorek atau Memola; proses membuat pola diatas kain mori dengan cara meniru pola motif, disebut dengan ngeblat (menjiplak). Dilakukan secara langsung di atas kain dengan menggunakan pensil atau canting.
  3. Mbathik; proses menorehkan malam batik ke kain mori, dimulai dengan nglowang (menggambar garisgaris diluar pola) dan isen-isen (mengisi pola garis dengan berbagai macam bentuk). Dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian pada pola dengan cara memberi titik-titik (nitik).
  4. Nembok; proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dengan menggunakan lapisan malam yang tebal.
  5. Medel; proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang-ulang sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.
  6. Ngerok dan Mbirah; proses menghilangkan malam pada kain, dengan cara dikerok/dikelupas secara hati-hati dengan menggunakan lempengan logam, kemudian kain dicuci bersih, lalu dianginanginkan.
  7. Mbironi; proses menutupi warna biru dan isen-isen pola dengan menggunakan malam, selain itu ada proses ngrining mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu, dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.
  8. Menyoga; proses mencelupkaan kain ke dalam campuran warna coklat, yang didapat dari soga (kayu yang digunakan untuk mendapatkan warna coklat).
  9. Nglorot; merupakan proses akhir dalam pembuatan batik tulis maupun cap yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap ini, pembatik melepaskan seluruh malam (lilin) dengan cara memasukan kain kedalam air yang mendidih. Setelah diangkat, kain di bilas dengan air bersih dan kemudian diangin-anginkan hingga kering.

Perkembangan batik Jonegoroan pada saat ini sudah mulai menunjukan kemajuan, peran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam upaya mengenalkan batik Jonegoroan kepada mayarakat masyarkat amat penting.  Dengan cara mengikut sertakan batik Jonegoroan pada event pameran pada tingkat Provinsi dan nasional diharapkan batik Jonegoroan akan lebih dikenal lebih luas lagi.

  1. Tahun 209-2012 Batik Jonegoroan digagas oleh Mahfudhoh Suyoto pada Desember 2009. Memunculkan batik Jonegoroan mengacu pada kondisi geografis dan potensi sumber daya alam yang dimiliki Bojonegoro. Untuk menumbuhkan kreatifitas dan memberdayakan kaum perempuan di Kabupaten Bojonegoro. Selanjutnya, pada tanggal 29 Desember 2009 Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro mengadakan festival desain motif batik khas Bojonegoro dengan tema Kekayaan Alam Bojonegoro, diputuskan ada sembilan motif batik yang terpilih. Diantaranya motif Rencak Thengul, Parang Lembu Sekar Rinambat, Sekar jati, Pari Sumilak, Sata Ganda Wangi, Parang Dahana Mungal, Jagung Miji Emas, Mliwis Mukti dan Gatra Rinonce.
  2. Tahun 2012-2014 Batik Jonegoroan munculnya motif baru tepat di tahun 2012. Diantaranya motif Belimbimbing Lining Lima, Pelempelem Sumilar, Sekar Rosella Jonegoroan, Woh Roning Pisang dan Surya Salak Kartika. Idea ini diangkat dari Potensi yang beraneka ragam milik Kabupaten Bojonegoro, diantaranya kebun belimbing di Kecamatan Kalitidu dan kebun salak di Kecamata Kapas.

Kabupaten Bojonegoro saat ini memiliki empat belas macam motif Batik Jonegoroan. Semua itu tidak lepas dari peran pemerintah yang selalu memberikan inofasi dan semangat kepada masyarakat Bojonegoro. Semua ini tidak lepas dari peran masyarakat dalam hal ini adalah pengrajin batik.

Makna Simbolis Batik Jonegoroan

Tahun 2009 sampai 2012,  Batik Jonegoroan memiliki empat belas macam motif batik. Berikut sembilan motif batik Jonegoroan.

  • rancak-thengul-bojonegoroRancak Tengul, Wayang Thengul merupakan salah satu kesenian tradisional khas yang masih hidup dan berkembang di Kabupaten Bojonegoro, bentuk tiga dimensi terbuat dari kayu dengan asesoris kain sebagai busananya. Dasar cerita manak dan panji gunungan / kalpataru-nya juga berbahan kayu dan bulu burung merak. Rancak Thengul (bahasa jawa) mengandung arti seperangkat Wayang Thengul sebagai warisan tradisional di Kabupaten Bojonegoro akan selalu terjaga eksistensinya, menjadi ikon Bojonegoro, lebih dikenal dan digemari masyarakat luas dan sekaligus sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan salah satu warisan pusaka Budaya (cultural heritage).
  • parang-lembu-sekar-rinambatParang Lembu Sekar Rinambat Sapi yang ditambatkan dikandang membentuk barisan miring dengan kombinasi warna hitamputih menggambarkan dimasa mendatang Kabupaten Bojonegoro akan menjadi pusat penngembangan peternakan sapi. Parang lembu (bahasa jawa) deretan sapi yang ditambatkan membentuk barisan miring. Sekar Rinambat (bahasa jawa) bunga yang selalu merambat tanpa batas. Parang Lembu Sekar Rinambat bermakna, Kabupaten Bojonegoro dikenal harum akan peternakan sapinya sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar sekaligus dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
  • sekar-jati-bojonegoroSekar Jati Tanaman jati mulai dari akar, pohon dan daun dapat dimanfaatkan. Kayunya merupakan bahan meubelair dan kerajinan bubut kayu. Sekar (bahasa jawa) bunga, Jati (pohobn jati) sehingga bermakna tumbuh suburnya pohon jati di Kabupaten Bojonegoro selaras dengan berkembangnya sentra-sentra kerajinan kayu jati (meubel, bubut kayu, gembol) sebagai roda kemajemukan dan kreatifitas masyarakat.
  • pari-sumilak-bojonegoroPari Sumilak Kesuburan tanah (warna coklat) di bumi Angling Dharmo, sangat tepat kalau ditanami padi dan dibudidayakan secara maksimal sehingga dapat meningkatkan taraf hidup petani dan masyarakat Bojonegoro. Pari (bahasa jawa) padi. Sumilak (bahasa jawa) sudah mulai menguning dan siap panen, sehingga mempunyai makna padi yang sudah siap dipanen di semua wilayah Bojonegoro. Diharapkan ke depan Bojonegoro menjadi lumbung padi.
  • sata-ganda-wangiSata Ganda Wangi Sejak dahulu tembakau Bojonegoro sudah dikenal di seluruh nusantara, sehingga menjadi salah satu produksi unggulan selain kayu jati dan produk unggulan lainnya. Jenis tanah yang cocok untuk tanaman ini menghasilkan aroma khas/harum yang berbeda dengan daerah lain. Sata (bahasa jawa) tembakau. Ganda (bahas jawa) aroma. Wangi (bahasa jawa) harum, sehingga bermakna tembakau Bojonegoro memiliki aroma harum. Diharapkan nama Bojonegoro menjadi harum dan terkenal lewat tembakau sebagai salah satu potensinya.
  • parang-dahono-munggal-bojonegoroParang Dahana Manunggal Kayangan Api adalah salah satu objek wisataa andalan di Kabupaten Bojonegoro. Merupakan sumber api abadi terbesar di Asia Tenggara dan pernah menjadi tempat pengambilan api pada PON XV tahun 2000. Parang (bahasa jaawa) miring. Dahana (bahasa jawa) api. Mungal (bahasa jawa) menyala/berkobar, sehingga bermakna bentuk miring dari api yang menyala/berkobar sepanjang waktu. Simbul masyarakat Bojonegoro yang dinamis, semangat dan mampu memberikan cahaya bagi masyarakat disekitarnya.
  • jagung-miji-emas-bojonegoroJagung Miji Emas Jagung merupakan tanaman yang merakyat dan tumbuh subur di Kabupaten Bojonegoro. Hasil yang melimpah menggambarkan bahwa jugung juga dapat meningkatkan pendapatan sekaligus sebagai salah satu pengganti makanan pokok beras. Jagung miji (bahas jawa) berbiji. Emas memiliki makna tanamanjagung di Bojonegoro adalah yang terbaik, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sekaligus mengangkat nama Bojonegoro dengan hasil jagungnya.
  • mliwis-mukti-bojonegoroMliwis Mukti Mliwis putih adalah jelmaan Prabu Angling Dharmo (Raja Malowopati) yang menurut legenda kerajaannya dianggap pernah ada di daerah Bojonegoro. Mliwis (bahasa jawa) burung belibis jelmaan Prabu Angling Dharmo. Mukti (bahasa jawa) mulia, sehingga bermakna meliwis yang mulia/tinggi. Bukan sembarang mliwis karena jelmaan Raja yang dapat memotifasi masyarakat Bojonegoro untuk kerja keras, tekun dan ulet dalam berkarya guna mencapai kemakmuran.
  • gatra-rinonce-bojonegoroGatra Rinonce Visualisasi perpaduan RIG (Alat mengambil minyak) minyak dan gas bumi digambarkan sulur dan bunga, dimana satu dengan yang lainnya saling berhubungan dalam satu kesatuan bentuk. Warna hijau dan kuning melambangkan kemakmuran, kemmiliaan dan keindahan. Ga (gas), Tra (petra) minyak, Rinonce (bahasa jawa) ditata satu persatu, dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh dan indah sehingga bermakna adanya gas dan minyak bumi. Apabila dikelola dikelola dengan baik dan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian alam dan dimanfaatkan untuk keselamatan umat manusia, dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Lima/5 moptif baru yang bertemakan Agro Bojonegoro yang dikenalkan pada tahun 2012 sampai sekarang masih di buat oleh para pengrajin batik Jonegaran  antara lain

  • Belimbing Lining Lima Adalah penggambaran potensi belimbing yang ada di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Dimana buah belimbingtersebut berasa manis dan segar, dengan ukuran besar berwana kuning. Berbentuk bintang lima dan kalau terlihat dari samping bergaris lima, karena halus dan bersihnya kulit belimbing.
  • Pelem-pelem Sumilar Adalah motif mangga. Utamanya mangga jenis gadung yang manis dan segar dan sudah menjadi tanaman masyarakat manggaBojonegoro sejak dahulu dan sudah dikenal masyarakat diluar Bojonegoro, Utamanya kota-kota besar di Indonesia. Sekarang mangga Bojonegoro selalu ditunggu dan dinikmati buahnya oleh masyarakat, karenanya buah mangga Bojonegoro di ibaratkan selalu bersinar.
  • rosellaSekar Rosella Jonegoroan, gambaran tanaman Rosella yang berbuah merah, merupakan salah satu potensi agro wisata Bojonegoro. Jika diolah akan menjadi minuman segar dan menyehatkan dan ada rasa khas yang berbeda dengan daerah lain. Sehingga motif batik rosella dinamakan Sekar Rosella Jonegoroan.
  • pisangWoh Roning Pisang Adalah penggambaran motif pisang susu belirik, salah satu buah andalan budidaya masyarakat Bojonegoro. Disebut Woh Roning Pisang, karena keseimbangan antara daun dan buah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, hal tersbut sangat diperlukan dalam social kehidupan.
  • salakSurya Salak Kartika Adalah penggambaran buah salak, hasil budidaya masyarakat Bojonegoro, khususnya di Desa Wedi dan Desa Tanjungrejo Kecamatan Kapas. Salak memiliki rasa khas, rasa manis agak sedikit asam dan sedikit berair juga buahnya besar dan bersih.

Batik Jonegoroan Sebagai Ikon daerah Kabupaten Bojonegoro, yang baru lima tahun terakhir ini menggencarkan budaya membatik, dan mempunyai motif bertemakan sumber daya alam dan budaya Kabupaten Bojonegoro. Mampu menumbuhkan antusianme masyarakat, sehingga membuat pemerintah optimis akan besarnya tekat masyarakat yang akan menggeluti usaha batik.

Berbaga upaya Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam melestarikan  Batik Jonegaran meliputi:

  • Membuat Keputusan Nomor : 188/50/KEP/ 412.11/2010 tanggal 25 Februari 2010 tentang 9 (sembilan) Motif Batik Jonegoroan Kabupaten Bojonegoro. Langkah tersebut supaya batik Jonegoroan mendapat perlindungan dan mempunyai hak paten. Supaya batik Jonegoroan tetap lestari dan selalu dekat dengan masyarakat Bojonegoro.
  • Membuat peraturan kepada kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro yang mewajibkan berpakaian batik Jonegoroan pada hari kamis dan jumat. Peraturan tersebut terdapat pada Peraturan Bupati Bojonegoro Nomor 44 Tahun 2014 Pasal 33.16.
  • Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melaksanakan Pelatihan serta pendampingan supaya lebih banyak masyarakat yang menggeluti usaha batik teruta kaum perempuan.
  • Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro mengadakan pengawasan mutu untuk menjaga kualitas batik Jonegoroan. Karena pangsa pasar terbuka dan menyebabkan persaingan semakin ketat.
  • Sekolahsekolah di Bojonegoro satu minggu satu kali diharuskan memakai seragam batik khas Bojonegoro.
  • Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro berencana akan tetap menggelar lomba disain batik Jonegoroan dengan tema potensi daerah, untuk melahirkan motif baru batik Jonegoroan.
  • Mengikut sertakan Batik Jonegaran dalam pameran tingkat daerah maupun nasional, untuk mengenalkan produk batik Jonegoroan kepada masyarakat luas.
  • Di Bojonegoro Batik motif Jonegoroan bisa diperoleh di sentra pengrajin batik, juga bisa diperoleh di Show Room Dekranasda Disperindag Bojonegoro.

Batik modern lebih banyak digemari masyarakat saat ini dari pada  batik klasik. Hal ini dikarenakan batik modern memiliki banyak motif dan memiliki warna yang beragam. Dari kalangan remaja hingga orang tua banyak yang menyukai batik modern yang memiliki motif yang unik.  Bojonegoro dengan potensi alam yang dimiliki dapat memberikian inspirasi bagi masyarakat Bojonegoro untuk menciptakan karya seni dalam bentuk motif batik yang beraneka ragam. Sehingga  Batik Jonegaran diharapkan mampu menjawab dan memenuhi apa yang diinginkan oleh pasar.

——————————————————————————————-

Ryan Bajuri, Pusaka Jawatimuran Team

AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, Volume 3, No. 3,  Oktober 2015
Hanif at tanthowy, Septina Alrianingrum
Ragam Motif Batik Bojonegoro Sebagai Upaya Membangun Identitas Daerah  Di Bojonegoro Tahun 2009-2014 Universitas Negeri Surabaya
Sumber gambar
http://www.kanalbojonegoro.com
https://potensi-bojonegoro-matoh.blogspot.co.id

Batik Kediren

Kabupaten Kediri juga memiliki sentra batik berada wilayah Desa Sekoto Kecamatan Badas, Desa Besuk Kecamatan Gurah dan Desa Menang Kecamatan Pagu, Desa Semen Kecamatan Semen. Batik Kediri sebenarnya sudah mempunyai bentuk dan ciri khas tersendiri, namun batik tulis Kediri yang di kenal dengan sebutan “Batik Kediren” sampai saat ini tetap dikembangkan. Batik Kediren telah dirintis dan beredar di pasar perbatikan kurang lebih sekitar 30 tahun yang lalu.

Berkat kerjasama Pemerintah Kabupaten Kediri dengan para perajin batik, batik kediren bisa menampilkan identitasnya kembali, dan bisa memberikan manfaat pada semua pihak, khususnya dalam  pelestarian  sejarah,  budaya, maupun dalam usaha menciptakan lapangan kerja, sehingga kehadiran batik Kediren dalam kehidupan masyarakat menjadi penting, pada semua tatanan kehidupan masyarakat di Kediri.

Sejarah Batik Kediren

Tidak diketahui dengan pasti kapan munculnya batik di daerah Kediri, namun yang pasti sampai saat ini perkembangannya bisa terlihat dan dirasakan. Konon awalnya keberadaan batik di wilayah Kediri ini disekitar pinggiran sungai Brantas, hal tersebut bisa dimaklumi sebab sungai brantas merupakan sungai terbesar di Jawa Timur yang sejak zaman kuno mempunyai arti penting sebagai jalur perdagangan antar daerah di Jawa Timur. Karena adanya sungai Brantas sebagai sarana transportasi, sehingga Kabupaten Kediri pernah menjadi pusat perdagangan sekaligus menjadi lokasi bisnis perniagaan, termasuk perdagangan batik. Sehingga masyarakat sekitar aliran sungai brantas inilah yang mula-mula terpengaruh budaya dari luar Kediri. Sungai Brantas melewati beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur, diawali dari Desa Sumber Brantas kecamatan Bumiaji kota Batu, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan Surabaya-Sidoarjo.

Dengan meluasnya budaya gemar batik, sehingga batik kediren mengalami perubahan dan perkembangan, semula fungsi batik kediren semata-mata untuk kepentingan busana tradisi keraton saja, kemudian berkembang pada masyarakat biasa namun hanya digunakan saat melaksakan upacara adat,  kini batik sudah menjadi pakaian masyarakat umum. Perbedaan kondisi lingkungan dan letak geografis serta seni tradisi yang khas menimbulkan keragaman budaya, kondisi ini terlihat pada bentuk, bahan yang digunakan serta motif batik. Di zaman modern ini motif batik kediren berkembang dan banyak diciptakan motif-motif baru untuk mengantisipasi permintaan pasar.

 Motif Batik Kediren

Motif utama pada struktur pola batik Kediri merupakan gambaran keadaan geografis yang terdapat di wilayah Kediri dan sekitarnya, di antaranya:

  1. Motif flora/tumbuh-tumbuhan: bambu, sakura, pelem (mangga) podang, anggrek bulan, buah naga, bunga dahlia, seruni, rosella, ron kates (daun pepaya), brambang, daun mangkuk, daun pisang, daun ketela, bunga tunjung, daun sirih (suruh), anggur, bunga sepatu, pisang, mawar, melati, blarak (daun kelapa), kambil (kelapa), bunga matahari, markisa, teratai, jeruk, kantil, palem, kopi, nanas, dan lain-lain.
  2. Motif fauna/hewan: peksi/manuk (burung); (garuda, merak, gelatik, bangau), ayam, kupukupu, tupai, kijang, kera, ikan, dan lain-lain.
  3. Motif figuratif: manusia
  4. Motif geometris: garis, bidang,
  5. Motif pariwisata dan budaya: Gunung Kelud, Monumen SLG (Monumen Simpang Lima Gumul), Air Terjun Dolo, Pamuksan Sri Aji Jayabaya, relief Candi Tegowangi, relief Candi Surowono.

Sedangkan untuk motif isian, batik Kediri sebagian isiannya banyak menyerupai batik klasik, tetapi pada penerapannya serta istilah yang digunakan tidak semuanya sama, hal ini merupakan ide dan gagasan dari perajin batik.

batik-kediri-motif-kuda-kepang-11Berbagai bentuk dan gambaran yang mempengaruhi meliputi, kesejarahan, ragam seni dan budaya, kondisi wilayah, pariwisata dan produk unggulan Kabupaten Kediri menjadi sumber inspirasi, ide, dan gagasan bagi pengrajin batik kediren untuk menciptakan batik kediren yang berbeda dengan daerah pembatikan yang lainnya. Hal ini terlihat dari beberapa bentuk pola dan motif batik yang dibuat oleh masing–masing pengrajin batik kediren di wilayabatik-kediri-motif-kuda-kepangh Kediri diantaranya adalah:

  • motif batik sawung tunjung tejamaya dan motif batik padma loka moksa mendapat pengaruh dari aspek kesejarahan;
  • motif batik jaranan (kuda lumping) mengacu pada corak seni budaya daerah Kediri;
  • motif batik Gunung Kelud, Anak Gunung Kelud, Monumen SLG (Monumen Simpang Lima Gumul) dan pemandangan alam di wilayah Kediri menggambarkan tempat pariwisata di Kediri;
  • motif batik mangga podang dan nanas podang mengambil obyjek dari produk unggulan Kabupaten Kediri.

Sentra Batik Kediren

Sentra batik kedirbatik-kediri-motif-kuda-kepang-10en-pun kini juga sudah berkembang dan menyebar dibeberapa wilayah Kediri, pusat-pusat sentra batik tersebut meliputi, Desa Sekoto Kecamatan Badas, Besuk dan Dadapan Kecamatan Gurah, Menang Kecamatan Pagu, dan Mojo Kecamatan Mojo.

Pola Batik Kediren

Batik Kediren pola klasik masih diproduksi oleh perusahaan batik Citaka Dhomas meki hanya berdabatik-kediri-motif-kuda-kepang-11sarkan pesanan, dengan masih adanya konsumen yang tertarik terhadap pola batik kediren klasik ini, memicu perusahaan batik di Kediri menyediakan batik kediren pola klasik. Batik Kediren pola klasik biasanya dibuat dalam bentuk jarit (kain panjang), saat ini pola batik kediren klasik ini dipakai masyarakat pada acara-acara resmi, upacara adat, pernikahan, mitoni (masa hamibatik-kediri-motif-slg-1l usia tujuh bulan), dan upacara adat lainnya. Macam-macam batik kediren pola klasik kebanyakan pembuatannya ditentukan oleh pihak pemesan, beberapa pola tersebut di antaranya: pola wahyu tumurun, pola babon angrem, pola semen romo, pola sidoluhur, pola sidomukti, pola sidomulyo, dan lain-lain.

 

Batik Kediren pola kreasi merupakan inovasi baru hasil kreativitas batik-tulis-motif-slg-2individu pengrajin batik kediren, jadi sifatnya lebih pada karya pribadi, namun untuk menciptakan motif-motif batik kediren para pengrajin batik kediren masih mengacu pada bentuk kesejarahan, ragam seni budaya, kondisi wilayah, pariwisata dan produk unggulan Kabupaten Kediri.

Pola batik kreasi yang ada di Kediri menurut pembagian pola dibagi dalam tiga kelompok antara lain:

  • Batik pola sugesti alam, penggambaran wujud alam sekitar adalah bentuk sugesti/pengaruh dari lingkungan dan kehidupan sehari-hari di sekitar sehingga batik kreasi kediren mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri yang berbeda dengan daerah lain. Pola atau motif batik sugesti alam yang dibuat oleh pengrajin dan pengusaha batik Kediri, antara lain: motif batik bunga sakura, rosella, bunga sepatu, rumpun bambu, sawung tunjung, angsa, lung merak, mawar seronce, mangga podang, semongko sesigar, dhong suruh, teratai, dan lain-lain.
  • Motif batik kediren pola abstrak mengetengahkan beberapa elemen unsur-unsur seni, diwujudkan dalam motif batik (motif bebas/kontemporer).
  • Pola batik kediren bermotif pariwisata dan budaya mengetengahkan berbagai pariwisata dan budaya yang ada di wilayah Kabupaten Kediri, di antaranya: Gunung Kelud yang berada di Kecamatan Ngancar, Air Terjun Dolo yang berada di wilayah Kecamatan Besuki, Gereja Puh Sarang yang berada di Kecamatan Semen, Monumen Simpang Lima Gumul yang berada di Kecamatan Ngasem, Pamuksan Si Aji Joyoboyo dan Sendang Tirta Kamandanu di Desa Menang Kecamatan Pagu.

Teknik produksi Batik Kediren
Batik tulis ;
Batik semi tulis;
Batik cap;
Batik printing.

Pewarnaan Batik Kediren

  • Warna alam: menggunakan bahan-bahan yang di dapat dari alam, zat warna alam di ambil dari kulit kayu mahoni, kulit pohon mangga, daun mangga, daun jambu biji, kulit buah jolawe, dan lain-lain.
  • Warna sintetis Produksi batik Kediri pada umumnya menggunakan warna sintetis, seperti, Garam napthol, Indighosol, Campuran napthol dan indighosol – Remasol

————————————————————————————-134N70nulisDW; GELAR Jurnal Seni Budaya Volume 13 Nomor 1, Juli 2015

Mujiono
KEBERADAAN BATIK KEDIRI JAWA TIMUR
UPTD SMP Negeri 3 Wates Jl. Kediri No. 449, Wonorejo, Kediri, Jawa Timur

Batik Malangan

Sejarah batik ini belum diketahui secara pasti. namun sebenarnya sejak masa Kerajaan Singosari maupun Kerajaan Kanjuruhan, dimasa tersebut daerah Malang telah memiliki ciri khas batik. Batik Malang lebih tepatnya diawali sejak sebelum tahun 1900-an, yang menjadi patokan adalah saat upacara tradisional abad XIX. Di pedalaman Malang para pria dan wanitanya menggunakan batik khas Malangan, Batik tersebut selalu mempunyai motif Sidomukti Malang dengan hiasan kotak putih di tengah yang biasa disebut Modhang Koro. Motif ini dipakai sebagai udheng (ikat kepala laki-laki) dan sewek (kain panjang perempuan) dalam acara resmi untuk semua lapisan masyarakat.

Batik Malang biasa disebut Batik Malangan, batik Malang memang belum seterkenal batik daerah lain yang ada di Jawa Timur, namun keindahaan Batik Malang tidak kalah dengan daerah lain, baik dari corak batiknya sendiri yang khas dan unik, atau dari pewarnaannya. Dimasa kerajaan-kerajaan batik Malang memiliki motif-motif antara lain, Sawat Kembang Pring (motif bambu Jawa sakbarong), Dele Kecer (Kedelai tercecer) warna hijau-merah, batik-malang-motif-teratai-singokembang teratai singo (bunga teratai singa), kembang kopi (biji kopi terbelah) berwarna hitam, kembang Juwet (bunga juwet) warna biru-hijau, kembang tanjung (bunga tanjung, bulat tengah pinggir bergerigi) warna kuning-sawo matang, kembang jeruk (bunga jeruk) warna coklat, kembang manggar (kuncup bunga kelapa) warna putih-kuning, kembang mayang (bunga kelapa mekar), warna merah-kuning dan kembang padma (bunga teratai).

Batik Malangan belum begitu familiar bagi masyarakat, untuk mempertahankan warisan budaya ini. Selain mempertahankan motif batik ciri khas Malangan warisan leluhur,  pemerintah Malang bersama organisasi-organisasi terkait lainnya mengupayakan penggalian motif baru batik Malangan. Penggalian motif batik untuk menjadi ciri khas Malangan tersebut bisa didapat dari candi-candi peninggalan Kerajaan Kanjuruhan dari abad ketujuh. Salah satu motif yang menjadi ciri khas Malangan tersebut adalah motif bunga teratai. Batik Malangan memiliki tiga ciri pokok dan menjadi bagian dari tiga komponen pokok batik,

  • pertama motif dasarannya berupa motif candi badut. Dimana candi Badut merupakan peninggalan kerajaan Kanjuruhan pada 760 M.
  • kedua motifisen-isen, motif ini terdiri dari gambar Tugu Malang sebagai motif utama yang disampingnya terdapat rambut singa berwarna putih yangmerupakan lambang kabupaten Malang.
  • ketiga adalah motif hias batik ini sendiri, Di bagian ini terdapat bagian boket(hiasan pinggiran kain batik) untuk tumpal (isen-isenpada pinggiran kain) yang berisi tiga buah sulur bunga teratai yang berpola seperti rantai.

mlg-001-eBatik malangan juga memiliki motif unik yang khas yaitu motif Malang Kucecwara, motif ini memiliki filosofi yang mendalam yaitu terdapat simbol gambar Tugu Malang, Mahkota, Rumbai Singa, Bunga Teratai, Arca, dan Sulur-sulur serta isen isen belah ketupat.

 

  1. TUGU MALANG simbol kota Malang merupakan prasasti berdirinya kota tersebut. Juga sebagai perlambang keperkasaan dan ketegaran. Diharapkan pemakainya menjadi orang yang kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan.
  2. MAHKOTA simbolisisasi Mahkota Raja Gajayana yang pernah membawa Malang mencapai puncak kejayaannya. Diharapkan pemakainya bisa mencapai puncak kejayaan dalam hidupnya.
  3. RUMBAI SINGA:  melambangkan ikon kota malang yang berjuluk SINGO EDAN, yang melambangkan semangat  yang menyala-nyala dan pantang menyerah. Diharapkan pemakainya juga senantiasa memiliki sifat yang demikian.
  4. BUNGA TERATAI salah stu simbol kota malang, yang melambangkan keindahan juga kesuburan. Pada cerita kuno, bunga teratai merupakan bunga tempat Dewa Wishnu, dewa pemelihata alam, bertahta. Diharapkan pemakainya senantiasa subur makmur dan terpelihara jiwa dan raganya.
  5. ARCA perlambang kekayaan khasanah Kota Malang yakni candi Singosari yang pernah menghantarkan Malang menjadi salah satu kekuatan dunia di Nusantara pada masa silam.Diharapkan, pemakainya senantiasa berjaya.
  6. SULUR-SULUR: simbol bahwa kehidupan itu akan terus berlangsung, tumbuh dan berkembang. Ada sulur yang terhenti sebagai simbol bahwa kehidupan tidak kekal, namun, sebelum terhenti ada sambungan berikutnya. Yang menunjukkan bahwa manusia itu akan musnah, namun akan selalu berganti generasi yang baru Diharapkan pemakainya senantiasa bisa introspeksi diri bahwa manusia itu makhluk yang fana.
  7. ISEN-ISEN BELAH KETUPAT simbol dari relief candi Badut yang merupakan salah satu khasanah kekayaan budaya Kabupaten Malang. Belah ketupat memberi makna, pengakuan bahwa manusia tidaklah sempurna, sehingga sangat tidak pantas untuk menyombongkan diri. Diharapkan pemakainya bisa senantiasa introspeksi diri.

Batik malangan motif Malang Kucecwara ini telah ada hak patennya sehingga tidak bisa sembarangan diperbanyak.

Kini motif batik malangan sudah beragam, pengrajin Batik Malang pun sangat kreatif, Di samping motif batik Malangan yang tradisional, dikenal pula motif batik Malangan yang kontemporer atau baik-batik kreasi baru.batik-malang-motif-malang-tugu

Seperti motif batik Malangan Tugu,

 

batik-malang-motif-bunga-terataimotif batik Malangan teratai,

 

 

motif batik Malangan singa, dan motif batik Malangan ulat bulu,

 

motifnya ulat bulu berada di atas daun, dilengkapi telur ulat.

ulat-bulu

Kesemuanya adalah motif batik kreasi baru yang masih ada penciptanya dengan penggunaan Warna Batik Malang yang pada umumnya menggunakan coklat, hitam, merah, putih, kuning, hijau, dan biru. Selain itu juga ada satu gambar burung dan juga kupu-kupu.

Sentra kerajinan Batik Malang berada di Keluraha Samaan, Kecamatan Klojen Kota Malang, Jawa Timur.

Sumber:
Yenny Eta Widyanti 
Perlindungan Hukum Atas Motif Batik Malangan Sebagai Warisan Budaya Bangsa
Fak. Hukum Universitas Brawijaya

Masjid Qawiyudin, Wonokromo-Surabaya

Masjid Wonokromo0001Menelusuri Jejak Kerabat Sunan Gunung Jati di Wonokromo, Surabaya. Ramadan, Sepekan, dua Kali Kaji Fathul Qorib. Ada satu masjid tua di kawasan Wonokromo yang kerap luput dari liputan religi. Masjid Qawiyudin namanya. Terletak di tengah perkampungan Jagir Wonokromo, masjid tersebut masih kukuh berdiri.

Nilai kesejarahan tertera jelas di serambi masjid. Tertempel di pintu utama, sebuah plakat logam yang dikeluarkan Kementerian Agama menandakan berdirinya masjid, yakni 1786. Arsitekturnya cukup berbeda dengan masjid kebanyakan yang umumnya beratap kubah. Kon- struksi atap Masjid Qawiyudin bertumpuk-tumpuk, mirip sekali dengan pura.

Memasuki lingkungan masjid, terasa sekali atmosfer yang ber­beda. Rasanya tidak seperti berada di kompleks Wonokromo yang identik dengan macet plus perkam­pungan yang berjejal-jejal itu. Nuansa religi amat kental di kom­pleks masjid tersebut. Lalu lalang jamaah berkopiah yang keluar masuk masjid kerap terlihat.

Masjid Wonokromo0002Masjid Qawiyudin didirikan Mbah Qawiyudin. Dia adalah cucu Su- nan Gunung Jati dari Cirebon. Qawiyudin terpaksa melarikan diri ke wilayah Wonokromo ka- rena saat zaman penjajahan Be- landa, mereka yang termasuk Bani Basyaiban ditangkapi. Nah, Qawiyudin merupakan salah seorang anggota bani tersebut. Konon kabarnya, masjid tersebut didirikan dengan kayu-kayu yang dibawa langsung dari Cirebon. Kayu-kayu itu dikirim lewat laut, lantas dialirkan menyusuri Kalimas. Hingga kini, kayu-kayu tersebut masih tegak berdiri me- nyangga masjid.

Semula Masjid Qawiyudin ber­diri tepat di pintu air Jagir. Namun, karena Belanda membangun sudetan atau kali baru hingga ke laut, masjid tersebut dipindahkan ke kompleks yang sekarang. Di sekeliling masjid, ada banyak rumah. Namun, mereka masih berkerabat dengan Mbah Qawiyudin.

“Meskipun kuno dan bersejarah, masjid yang didirikan pada 1786  ini terlewat dari sorotan liputan. Padahal, bisa saya bilang, masjid ini tertua di Surabaya Selatan,” kata Wakil Ketua Takmir Masjid Qowiyudin Amir Hamzah” (Sabtu-20/7/13).

Dengan hidangan khas jamaah masjid, yakni kopi tubruk dalam cangkir kecil, malam itu sejumlah pengurus takmir bercerita soal keistimewaan masjid tersebut. Terutama saat Ramadan. Amir menceritakan, saat Rama­dan, frekuensi pengajian di masjid tersebut bertambah. Menjelang buka puasa, masjid mengadakan pengajian Fathul Qorib. Itu merupakan pengajian yang khusus membedah masalah fikih. Jamaah-nya adalah warga sekitar yang ingin memperdalam ilmu agama.

Kiai yang memberikan penga­jian itu khusus. Mereka didatangkan langsung dari kompleks Pesantren Sidoresmo. Pada Rama­dan kali ini, yang kebagian jatah adalah KH Ahmad Mashuri Toha dan KH Mas Sulaiman. “Ini tradisi yang kami jaga sejak bertahun-tahun lalu. Saat saya masih kecil, sudah ada pengajian semacam ini. Apalagi, masih ada hubungan kekerabatan dengan Sidoresmo,” ungkapnya. Sejumlah pengurus yang lain juga mengangguk soal pernyataan Amir malam itu.

Keutamaan lain, Masjid Qawiyudin di Jagir Wonokromo tersebut amat menjaga nilai-nilaiyang su­dah ditanamkan para leluhurnya. Persis di depan masjid, ada sebuah kubus semen setinggi setengah meter yang dikelilingi pagar besi. Persis di atasnya, tertancap besi setinggi 15 cm. Mungkin saking lamanya, besi tersebut cukup berkarat sehingga warnanya terlihat cokelat tua.

Warga kompleks masjid menyebutnya pandem. Itu adalah penunjuk waktu salat yang masih dipertahankan hingga kini. Kendati sudah ada teknologi untuk menentukan waktu, misalnya menentukan wak­tu zuhur, pengurus terkadang ma­sih memanfaatkannya. Yang me­reka inginkan adalah adanya kesamaan antara jam modern dan tanda-tanda alam tersebut.

Menurut penuturan Abdul Kholiq, imam rawatib di masjid itu, wak­tu salat di masjid itu kerap berbeda dengan Masjid Rahmat. “Ada selisih sedikit saja, kami tidak berani memulai salat. Sebab, hitungannya haram,” ungkap pria murah senyum tersebut.

Banyak nilai lain lagi yang dipegang teguh hingga kini. Salah satunya, masjid sama sekali menolak bantuan pemerintah. “Al- hamdulillah, dalam bentuk apa pun, kami tidak mau menerima. Kami tidak mau di belakang hari muncul masalah,” kata Amir.

Infak jamaah yang didapat ketika salat Jumat juga tidak disimpan di bank. Karena itu, hendahara takmir harus mengelolanya dengan penuh tanggung jawab. Amir me- ngatakan, bunga dari bank mirip sekali dengan riba. “Daripada ka­mi ragu-ragu, lebih baik kami me­ngelolanya sendiri,” ungkapnya.

Saat bulan Rajab, ada satu kegiatan rutin yang menjadi agen­da wajib di masjid tersebut. Yak­ni, mengadakan festival hadrah tingkat Jatim dalam rangka haul Mbah Qawiyudin. Karena itu, halaman masjid pun harus ber­jejal-jejal untuk menampung banyak peserta. (git/c6/end)

———————————————————————————–134N70nulisDW-Jawa pos, Selasa 23 Juli 2013, hlm. 1 dan 30

Masjid Tiban Macanbang, Kabupaten Tulungagung

Jin pun menyusup di antara para jamaah masjid tiban macanbang.

Arsip macanbangMasjid Tiban Macanbang penuh misteri. Tak diketahui, dibangun oleh siapa dan bagaimana proses kejadiannya. Seolah-olah, masjid tersebut bercokol di tempat itu setelah di jatuhkan dari langit. Tetapi benarkah kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah masjid?

Banyak kisah tentang masjid tiban. Rata-rata, berselimut misteri. Demikian halnya dengan Mas­jid Tiban Macanbang, yang terletak di salah satu sudut Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. “Masjid ini, tiba-tiba ada dan difungsikan sebagai tempat ibadah oleh warga,” jelas Dulgani (68).

Dulgani adalah seorang warga setempat yang memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Tiban Ma­canbang. Kedekatan tersebut, karena ia merupakan keturunan ke enam dari penemu pertama masjid itu. “Menurut nenek moyang kami, Masjid Tiban Macanbang ini ditemukan pada sekitar tahun 1600-ari oleh Sangidin,” kisah Dulgani mengungkap riwayat Masjid Tiban Ma­canbang.

Lebih jauh dikemukakan, Sangidin adalah nenek moyangnya. Sekaligus, merupakan cikal bakal Desa Macanbang. Selain itu, Sangidin juga merupakan salah seorang menantu Kyai Kasan Besari, Tegalsari, Ponorogo. Sekedar untuk diketahui, Kyai Kasan Besari sendiri merupakan guru pujangga besar Keraton Surakarta Hadiningrat, R Ngabehi Ronggowarsita.

arsip macanbang 0Ihwal ditemukannya Masjid Tiban Macanbang, terkait dengan sejarah babad daerah setempat. Seperti di­ketahui, sebelum Desa Macanbang seperti sekarang ini, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang sangat angker. Selain dihuni banyak binatang buas, juga dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang amat menyeramkan. Saking angkernya, tidak setiap manusia berani merambahnya. Ibaratnya, jalma mara, jalma mati. Artinya, siapa yang berani merambah hutan ini, hampir bisa dipastikan akan pulang tinggal nama.

Keadaan demikian, tak membuat nyali Sangidin ciut. Dengan keberaniannya, lelaki gagah berani yang juga menantu Kyai Kasan Besari ini membuka kawasan hutan tersebut, untuk kemudian dijadikan permukiman warga. “Ketika masih berupa hutan, namanya Alas Sumampir,” kisah Dulgani yang ditemui LIBERTY di Masjid Tiban Macanbang.

Dengan peralatan seadanya, Sangidin menebangi belantara hutan yang angker itu. Satu persatu, pohon-pohon di dalam hutan itu ditebang. Pekerjaan ini dilakukan selama berhari-hari. Nah, hingga satu hari mata Sangidin terbelalak, melihat sebuah masjid kuno tiba-tiba muncul di tengah hutan yang dibabatinya. Dalam perkembangan berikutnya, masjid itu kemudian lebih popular dengan sebutan Masjid Tiban Macan­bang.

arsip macanbang 1Sangidin tidak habis mengerti atas keberadaan masjid kuno itu. Ia juga heran, dan terus bertanya-tanya. Yang membuatnya bingung, siapa yang telah mendirikan masjid itu. Siapa pula yang akan menggunakan masjid yang berdiri di tengah hutan belantara seperti itu.

Apalagi, Sangidin melihat tak ada seorang pun warga yang bisa dilihatnya di sekitar masjid tersebut. “Ya, lantas siapa yang membangun masjid ini, dan siapa pula yang akan menggunakannya masjid di tengah belantara hutan yang hanya dihuni binatang-binatang buas dan bermacam makhluk halus ini,” demikian , kira-kira Sangidin bertanya-tanya.

ARTISTIK
Arsitektur Masjid Macanbang sendiri tampak artistik. Tanpa kubah, juga tanpa menara. Atapnya seperti kebanyakan bangunan joglo. Hanya saja bersusun tiga. Sepintas, seperti masjid-masjid kuno yang dibangun pada zaman Kesultanan Demak.

Memang, masjid tiban Macan­bang sendiri sudah mengalami beberapa kali renovasi. Tetapi serangkaian renovasi yang pernah dilaku­kan, tidak sampai merombak total bentuk aslinya. “Sejak dulu, ya se­perti ini. Bentuk aslinya, sengaja dipertahankan sedemikian rupa,” ujar Dulgani.

Teras masjid, berupa balai-balai. Arsitektur bangunannya juga joglo. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan balai-balai tersebut sebagai tempat untuk selamatan atau kenduri. Di setiap Rabu pertama di bulan Sapar, digelar tradisi Rabu Wekasan. “Tradisi ini, sebenarnya merupakan salah satu bentuk tasyakuran masyarakat ‘jelas Dulgani.

Bukan hanya tasyakuran saparan saja yang digelar di Masjid Tiban Ma­canbang. Tasyakuran serupa juga di­gelar pada bulan-bulan lainnya. Di antaranya, bulan Ruwah, Maulud dan menyambut tahun baru Islam. Pada bulan-bulan demikian, masyarakat datang berbondong-bondong ke masjid itu dengan membawa makanan dari rumah untuk dikendurikan bersama.

Di masjid, juga terdapat bebera pa benda kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Kuning. Benda-benda yang dimaksud, antara lain berupa mimbar tempat berkhotbah, dampar un­tuk tadarusan, kentongan serta bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih bisa didapati. Hanya saja, un­tuk mimbar tempat ber­khotbah dan dampar untuk tadarusan, warnanya sudah tidak asli lagi. Kesannya, baru dicat dengan warna hijau.

Yang jelas, ada semacam kepercayaan dari beberapa warga setem­pat, bahwa kadang-kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah di masjid itu. “Memang, tidak semua orang bisa melihat dan merasakan hal ini. Tetapi setidak-tidaknya, hal demikian pernah dirasakan dan dilihat oleh beberapa jemaah,” ungkap beberapa warga sekitar Masjid Macanbang.

MAKAM
Bukan hanya masjid kuno itu saja yang ditemukan cikal bakal Desa Macanbang ini, ketika membedah Alas Sumampir. Ia juga menemukan sebuah kompleks makam. Lokasinya, persis di belakang masjid tiban. Salah satu makam yang ditemukannya itu, hingga kini dipercaya masyarakat setempat sebagai Ma­kam Sunan Kuning.

Siapa sebenarnya Sunan Kuning ini? Menurut Dulgani, yang juga juru kunci makam itu, Sunan Kuning adalah calon menantu Sunan Ampel. “Tetapi, beliau keburu meninggal dunia, sebelum benar-benar bersanding dengan putri Sunan Ampel,” jelasnya.

Kematian Sunan Kuning, bukan tanpa kisah. Meski kisah tersebut belum tentu kebenarannya, namun masyarakat terlanjur mempercayainya. Dalam kisahnya disebutkan, satu ketika Sunan Kuning tertarik oleh kecantikan dan kemolekan salah seorang putri Sunan Ampel. Tak ada penjelasan, siapa nama pu­tri Sunan Ampel yang dimaksud.

Yang pasti, kemudian Sunan Ku­ning berterus kepada Sunan Ampel akan rasa ketertarikannya itu. Dan ternyata, Sunan Ampel tidak keberatan, jika memang Sunan Kuning hendah memperistri salah seorang putrinya. Hanya saja, ada syarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi oleh Sunan Kuning. Syarat yang dimaksud, intinya Sunan Kuning baru bisa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di alas Lodoyo Blitar.

Demi wanita pujaan hatinya, Sunan Kuning bertekad memenuhi syarat yang diminta calon mertuanya. Ia pun berangkat melabrak musuh-musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo. Sayangnya, lawannya lebih tangguh. Sunan Kuning pun asor ing jurit (kalah), hingga menemui kematiannya. Bagaimana hingga jasadnya dimakamkan di Desa Macanbang, memang tidak ada penjelasan.

Yang jelas, Makam Sunan Kuning nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Menurut Dulgani, hampir setiap hari peziarah itu selalu ada. Hanya saja, jumlahnya tidak pasti. Di hari-hari tertentu, memang terjadi lonjakan peziarah. Ledakan pengunjung ini, biasa terjadi pada malam Jumat Legi atau pada tanggal 1 Suro. Para pe­ziarah itu datang dari berbagai pen- juru daerah untuk ngalab berkah.

Makam Sunan Kuning dan para pengikutnya sendiri berada dalam sebuah bangunan cungkup. Untuk menziarahinya, seseorang harus melalui sebuah pintu khusus. Di- katakan pintu khusus, karena tinggi pintu cungkup tersebut tidak lazim. Saking tidak lazimnya, peziarah ha­rus membungkuk untuk bisa melewati pintu tersebut. Tetapi bukan tanpa maksud, jika pintu isa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo, cungkup Makam Sunan Kuning dibuat sedemikian rupanya.

Menurut Dulgani, ada makna tersendiri di balik laku jongkok seo­rang peziarah yang ingin ngalab berkah, atau mengais karomah di Makam Sunan Kuning. “Laku jong­kok bagi peziarah Makam Sunan Ku­ning ini, di antaranya mengandung makna penghormatan. Ya, penghor­matan terhadap leluhur yang telah sumare dalam keabadiannya itu sendiri tentunya,” jelas Dulgani.•Emte

——————————————————————————-134N70nulis DW-LIBERTY, 1-10 September 2009.